Anda di halaman 1dari 13

Dislokasi Persendian dan Fraktur pada Lengan

Kelompok C6
Tutor: dr. Ridwan
Mahasiswa-Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510, Indonesia

Abstrak
Manusia memiliki kerangka. Kerangka adalah gabungan tulang-tulang yang saling
bersambungan satu sama lain. Di dalam kerangka terdapat tulang, sendi, dan otot yang
bergerak aktif. Tulang mempunyai salah satu fungsi yaitu membuat tubuh manusia bisa
berdiri tegak, selain itu juga berfungsi untuk melindungi organ-organ dalam tubuh. Dislokasi
Glenohumeral merupakan keluarnya caput humerus dari tempatnya yaitu glenoid yang
terletak pada bahu. Sendi adalah sambungan antar tulang dan otot merupakan alat untuk
bergerak, otot ini melekat pada tulang melalui tendon. Dislokasi dapat dibedakan berdasarkan
penyebabnya yaitu dislokasi congenital,spontan dan traumatic. Berdasarkan tempatnya
dibedakan menjadi 4 yaitu dislokasi anterior, posterior, inferior, superior. Fraktur 1/3 Distal
Os Radius atau Fraktur Colles merupakan patahan pada bagian radius yang berdekatan
dengan pergelangan tangan hal ini dikarenakan karena seorang menahan beban.
Kata kunci : Dislokasi Glenohumeral, Fraktur Colles, otot
Abstract
Human have a skeleton. Skeleton is a joint bones are interconnected with each other. Within
the skeleton there are bones, joints, and muscles that move actively. Bones provide support
for our bodies and also protect the visceral organs in the body. Joints is articulation between
bones and muscles are also necessary for movement, themusclesattached
tobonesbytendons..Glenohumeral dislocation is the discharge head of the humerus of the
place is located on the shoulder glenoid . Dislocations can be distinguished based on the
cause is congenital dislocation , spontaneous and traumatic . Based on the place is divided
into four , namely dislocation anterior , posterior , inferior , superior . 1/3 Distal Radius
Fractures Os or Colles fracture is a fracture in the radius of which is adjacent to the wrist
this is because as a weight-bearing.
Keywords : Glenohumeral dislocation , fracture Colles, muscles

Pendahuluan
Dislokasi, Frakur dan cedera merupakan hal yang sering terjadi apabila seseorang
mangalami kecelakaan. Kecelakan tersebut dapat menimbulkan cedera dari ringan hingga
1

berat. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai dislokasi Glenohumeral, Fraktur pada 1/3
distal Os Radius dan cedera lengan bawah akibat seorang jatuh dari tangga dan tidak dapat
menggerakan lengannya. Mahasiswa kedokteran dituntut untuk mengetahui anatomi dari
tangan mulai dari tulang, sendi dan otot otot yang terdapat pada tangan. Saat terjadi
kecelakaan banyak hal yang akan terjadi pada tangan tersebut seperti dislokasi, Dislokasi ini
dapat membuat tulang berubah dari posisi semula. Dislokasi ini harus kita ketahui jenisnya
karena memiliki banyak jenis begitu pula dengan patah tulang atau dalam istilah keokteran
dikenal dengan fraktur. Dislokasi dan Fraktur ini dapat menyebabkan syaraf terjepit,
pembuluh darah pecah, pembuluh darah terjepit maupun tulang keluar dari kulit. Hal tersebut
menyebabkan masalah terutama dalam menggerakan lengannya. Maka dari itu didalam
makalah ini akan dibahas lebih dalam tentang dislokasi, fraktur dan juga cedera pada otot
lengan bawah.
Hubungan Antartulang ( Artikulasi / Persendian )
Antartulang dalam tubuh berhubungan satu dengan yang lain agar dapat melakukan
fungsinya dengan baik. Hubungan antartulang itu disebut persendian (artikulasi).
Berdasarkan keleluasaan gerakan yang dihasilkan, ada tiga jenis persendian, yaitu sinartrosis,
sinfibrosis, dan diartrosis.1
Sinartrosis
Sinartosis adalah persendian yang tidak dapat digerakkan. Ada dua tipe utama
sinartrosis, yaitu suture dan sinkondrosis. Suture atau sinostosis adalah hubungan antartulang
yang dihubungkan dengan jaringan ikat serabut padat, contohnya pada tengkorak.
Sinkondrosis adalah persendian oleh tulang rawan (kartilago) hialin, contohnya hubungan
antara epifisis dan diafisis pada tulang dewasa
Amfiartrosis atau Sinfibrosis
Amfiartrosis atau Sinfibrosis adalah persendian yang dihubungkan oleh tulang rawan
(kartilago), jaringan ikat serabut, dan ligamen sehingga memungkinkan terjadi sedikit
gerakan.

Contohnya

sendi

antara

tulang

betis

dan

tulang

kering.

Diartrosis
Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan gerakan tulang-tulang secara
leluasa. Misalnya sendi engsel pada lutut dan siku serta sendi peluru pada pangkal paha dan
lengan atas. Ujung tulang yang membentuk persendian (diartrosis) bersifat khas, yaitu
berbentuk bonggol, sedangkan ujung yang lain membentuk lekukan yang sesuai ukuran

bonggol. Setiap permukaan sendi dilapisi dengan tulang rawan hialin dan dibungkus dengan
selaput sinovial yang membentuk minyak sinovial. Minyak sinovial atau minyak sendi ini
berfungsi untuk melicinkan gerakan. Diartrosis meliputi beberapa macam persendian.
Berdasarkan arah gerak yang ditimbulkannya, diartrosis dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis dan macam sendi yang dijelaskan sebagai berikut.
Pembagian sendi berdasarkan letaknya, sendi engsel (articulatio ginglymus) adalah
sendi yang memungkinkan terjadinya gerakan ke satu arah. Sendi pelana(articulatio sellaris)
adalah persendian yang memungkinkan gerakan ke dua arah. Sendi putar adalah persendian
tulang menimbulkan gerak rotasi. Sendi geser adalah persendian yang gerakannya hanya
menggeser, kedua ujung agak rata dan tidak berporos. Sendi geser disebut juga sendi kepat
atau sendi avoid. .Sendi luncur adalah persendian tulang yang memungkinkan terjadinya
gerakan badan melengkung ke depan, ke belakang atau memutar. Sendi peluru (articulatio
globoidea) adalah persendian tulang yang gerakannya paling bebas di antara persendian yang
lain, yaitu dapat bergerak ke segala arah. Sendi elipsoid / kondiloid (articulatio ellipsoidea)
memiliki bonggol dan ujung-ujung tulangnya tidak membulat, tetapi sedikit oval. Gerakan
yang dihasilkan lebih terbatas dibandingkan dengan sendi peluru.
Dislokasi Glenohumeral
Dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat
menimbulkan deformitas.2 Hal ini terjadi pada saat Caput humerus keluar dari soket
(Glenoid). Maka dislokasi ini berfokus pada sendi glenohumeral atau yang kita kenal dengan
sendi bahu.3
Dislokasi menurut penyebabnya dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Dislokasi congenital, terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2. Dislokasi spontan atau patologik, akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar
sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan
tulang yang berkurang
3. Dislokasi traumatic, kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan
mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena
mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat
mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur
sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.4
3

Dislokasi pada bahu dapat digolongkan menjadi empat macam berdasarkan posisinya yaitu:
Dislokasi anterior

Gambar 1. Dislokasi Anterior3


Dislokasi Posterior

Gambar 2. Dislokasi Posterior3


Dislokasi Inferior

Gambar 3. Dislokasi Inferior3


4

Dislokasi superior, Mekanisme cedera pada dislokasi bahu superior, caput humerus
terdorong keatas melewati rotator cuff. Dislokasi superior sangatlah jarang dan dapat terjadi
akibat tekanan yang extrem kearah atas pada lengan yang adduksi.
Otot
Otot ialah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi. Otot
terdiri dari serabut silindris yang mempunyai sifat yang sama dengan sel dari jaringan lain. 5
Pada manusia, otot dapat digolongkan lagi menjadi tiga bagian besar yang masing-masing
memiliki fungsi khusus.Otot tersebut ialah otot rangka, otot polos, dan otot jantung.
Otot rangka adalah otot lurik, bekerja sebagai volunteer dan melekat pada rangka.
Otot rangka adalah spesialisasi kontraksi pada tubuh yang letaknya melekat pada tulang.
Kontraksi otot rangka menyebabkan tulang tempat otot tersebut melekat bergerak, yang
memungkinkan tubuh melaksanakan barbagai aktivitas motorik.Setiap serabut otot itu
bergaris melintang karena adanya gambaran selang-seling antara warna muda dan tua.
Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris, dengan lebar berkisar antara
10 mikron sampai 100 mikron, setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian
perifer.
Otot polos adalah otot yang tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat
ditemukan pada dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada
dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius dan sistem
sirkulasi darah. Serabut otot berbentuk spindle dengan nukleus sentral yang terelongasi,
serabut inti berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah) sampai 0,5
mm pada uterus ibu hamil, dan kontraksinya kuat dan lamban.
Otot jantung adalah otot lurik, involunter dan hanya di temukan pada jantung: Serabut
terelongasi dan membentuk cabang dengan satu nukleus sentral, panjangnya berkisar antara
85 mikron sampai 100 mikron dan diameternya sekitar 15 mikron, diskus terinterkalasi
adalah sambungan kuat khusus pada sisi ujung yang bersentuhan dengan sel-sel otot tetangga,
kontraksi otot jantung kuat dan berirama.6

Susunan Otot Extermitas Superior yaitu otot Axioappendicular Anterior terdiri dari m.
pectoralis major, m. pectoralis minor, m. subclavius, m. serratus anterior. Otot
axioppendicular posterior superficalis terdiri dari m. trapezius dan m. lattisimus dorsi.
Sementara itu otot axioppendicular posterior profunda terdiri dari m. levator scapulae
dan m. rhomboideus minor dan major. Otot scapulohumeral terdiri dari m. deltoideus, m.
supraspinatus, m. infraspinatus, m. teres minor, m. teres major, m. subscapularis.
Otot lengan atas terdiri dari otot fleksor yaitu m. biceps brachii, m. brachialis, m.
coracobrachialis. Sementara itu otot ekstensor terdiri dari m. triceps brachii. Otot lengan
bawah terdiri dari otot fleksor dan ekstensor, otot fleksor mempunyai tiga lapisan. Lapisan
pertama terdiri dari m. pronator teres, m. flexor carpi radialis, m. palmaris longus, m. flexor
carpi ulnaris. Lapisan kedua terdiri dari m. flexor digitorum sublimis. Lapisan ketiga terdiri
dari m. flexor digitorum profundus, m. flexor pollicis longus, dan m. pronator quadratus.
Fungsi Sistem Muskular
Terdapat tiga fungsi utama dari otot, yaitu: pergerakan, penopang tubuh, dan produksi
panas. Otot mengahasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat, selain itu otot
juga menopang rangka dan dapat mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi duduk
maupun berdiri. Kontraksi otot secara metabolis akan menghasilkan panas yang dapat
mempertahankan suhu normal tubuh.
Fraktur 1/3 Distal Os Radius atau Fraktur Colles.
Fraktur radius distal adalah salah satu dari macam fraktur yang biasa terjadi pada
pergelangan tangan. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan
yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. 4
Umumnya terjadi karena jatuh dalam keadaan tangan menumpu badan. Bila seseorang
terjatuh dengan tangan menjulur maka tangan akan menjadi kaku dan kemudian
menyebabkan tangan memutar dan menekan lengan bawah.Abraham Colles adalah orang
yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius distalis pada tahun 1814 dan sekarang
dikenal dengan nama fraktur Colles.
Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi
terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan
menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan
persendian pergelangan tangan.5 Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal,
6

radial dan supinasi. Gerakan ke arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus
styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian distal ke dorsal dan gerakan ke arah radial
menyebabkan subluksasi sendi radioulnar distal

Gambar 4. Fraktur Os Radius 1/3 Distal7


Struktur Tulang
Adapun tulang pembentuk regio ekstremitas superior yaitu: Scapula, Clavicula,
Humerus, Radius, Ulna, carpal, Metacarpal, Phalangs.
Scapula (tulang belikat)
Dalam anatomi manusia, tulang belikat atau scapula adalah tulang yang
menghubungkan humerus (tulang lengan atas) dan clavicula (tulang selangka).
Clavicula (tulang selangka)
Dalam anatomi manusia, tulang selangka atau clavicula adalah tulang yang
membentuk bahu dan menghubungkan lengan atas pada batang tubuh.
Humerus (Tulang Lengan Atas)
Batang humerus terletak di antara batas atas pectoralis penyisipan besar proksimal
dan distal ridge supracondylar.5 Ini merupakan tengah tiga perlima dari seluruh humerus.
Bagian anterior tuberositas semakin besar meluas ke anterior punggungan yang berakhir pada
fosa coronoid distal. Aspek posterior yang lebih besar terus tuberositas sebagai lateral distal
ridge yang berakhir di supracondylar lateral punggungan. Melds tuberositas yang lebih kecil
menjadi medial terletak punggung bukit yang membentuk punggungan supracondylar medial
distal.
Deltoideus Tuberculum yang membentuk lateral keunggulan hanya proksimal ke
midshaft. Batang humerus memiliki posterior, sebuah anterolateral, dan anteromedial
permukaan.kanal yang meduler berakhir humerus proksimal ke olecranon fosa.
7

Anatomi humerus memiliki implikasi yang penting untuk internal dan eksternal fiksasi
Lengan dibagi menjadi kompartemen anterior dan posterior oleh fasia septae.
Compartmentcontains posterior otot trisep, saraf radialis beteen panjang dan lateral kepala
trisep. Anterior atau flexorcompartment berisi fleksor dari siku, biceps brachii dan brakialis,
dan coracobrachialis. The brakialis telah mendapat pasokan dua saraf-satu dari
muskulokutaneus dan lain dari saraf radialis.
Radius (Tulang Pengumpil) & Ulna (Tulang hasta)
Radius (tulang pengumpil), letaknya bagian lateral, sejajar dengan ibu jari. Di bagian
yang berhubungan humerus dataran sendinya berbentuk bundar yang memungkinkan lengan
bawah dapat berputar atau telungkup.
Ulna (tulang hasta), yaitu tulang bawah yang lengkungannya sejajar dengan jari
kelingking arah ke siku mempunyai taju yang disebut prosesus olekrani, gunanya ialah
tempat melekatnya otot dan menjaga agar siku tidak membengkok kebelakang.
Carpal, Metacarpal dan Phalangs
Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal ireguler yang tersusun dalam
dua baris,setiap baris berisi empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal dari sisi ibu jari
dalam posisi anatomis terdiri dari tulang berikut ini, Navikular (skafoid), dinamakan
demikian karena bentuknya menyerupai perahu, Lunatum dinamakan demikian karena
bentuknya seperti bulan sabit, Trikuetral (triangular), dinamakan demikian memiliki tiga
sudut, Pisiform, yang berarti kacang, dinamakan demikian karena ukuran dan bentuknya
menyerupai kacang.
Barisan tulang karpal distal terdiri dari Trapesium, sebelumnya disebut tulang
multangular besar karena permukaannya yang banyak, Trapezoid, berukuran lebih kecil,
tetapi multi-sisi, Kapitatum, dinamakan demikian karena kepala tulang yang bulat dan besar,
Hamatum, berarti kait, dinamakan demikian karena ada tonjolan menyerupai kait, yang
meluas pada sisi medial pergelangan tangan.
Tangan (metacarpus)
Terdiri dari tulang pipa pendek, tersusun dari lima tulang metacarpal. Semua tulang
metakarpal sangat serupa, kecuali untuk ukuran panjang metacarpal pertama pada ibu jari.
Setiap tulang metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan
8

distal tulang karpal pergelangan tangan. Sebuah batang, dan sebuah kepala terpilih yang
berartikualsi dengan sebuah tulang falang, atau tulang jari, kepala tulang metacarpal
membentuk buku jari yang menonjol pada tangan. Tulang-tulang jari disebut phalangs.
Terdiri dari tulang pipa pendek yang banyaknya 14 buah dibentuk dalam 5 bagian tulang
yang berhubungan dengan metakarpalia perantaraan.Tulang tunggalnya lebih sering disebut
tulang
Falang. Setiap jari memiliki tiga tulang, yaitu tulang phalangs proksimal, medial, dan
phalangs distal.Ibu jari hanya memiliki tulang phalangs proksimal, dan medial.
Jenis Jenis Jaringan ikat
Jaringan ikat terdiri atas komponen yang telah dibicarakan: serat, sel, dan substansi
dasar, meskipun cukup bervariasi di struktur histologis.Jaringan ikat terdiri dari suatu
matriks yang berfungsi menghubungkan dan mengikat sel dan organ dan pada
akhirnya akan memberikan sokongan kepada tubuh. Hal itu berujung pada

penggunaan nama atau klasifikasi untuk berbagai jenis jaringan ikat.8


Jaringan Ikat Umum
Terdapat 2 golongan jaringan ikat umum: longgar dan padat.Jaringan Ikat ini biasanya
menunjang jaringan epitel, membentuk lapisan yang membungkus pembuluh darah dan limfe,
serta mengisi ruang antara serabut otot dan saraf. Jaringan ikat longgar juga ditemukan pada
stratum papilare di dermis, hipodermis, lapisan rongga peritonium, dan rongga pleura, di
kelenjar dan di membran mukosa (membran basah yang melapisi organ berongga) yang
menyokong sel-sel epitel.
Jaringan ikat longgar yang terkadang disebut jaringan areolar, memiliki semua
komponen utama jaringan ikat (sel, serat, dan substansi dasar) dalam proporsi yang kira-kira
setara. Sel yang terbanyak ditemukan adalah fibroblas dan makrofag, tetapi jenis lain sel
jaringan ikat juga dijumpai. Serat kolagen, elastin, dan retikular juga terdapat di jaringan ini.
Dengan substansi dasar dalam jumlah sedang, jaringan ikat longgar memiliki konsistensi
halus, bersifat fleksibel, dipendarahi dengan baik, dan tidak terlalu resistan terhadap stress.
Jaringan Ikat Padat teradaptasi untuk memberikan ketahanan dan proteksi. Jaringan
ini memiliki komponen yang sama seperti komponen jaringan ikat longgar, tetapi selnya lebih
sedikit dan serat kolagennya lebih banyak di substansi dasar. Jaringan ikat padat kurang
fleksibel dan jauh lebih tahan terhadap stres ketimbang jaringan ikat longgar. Jaringan
9

tersebut dikenal sebagai jaringan ikat padat ireguler bila serat-serat kolagennya tersusun
berupa berkas-berkas tanpa adanya orientasi tertentu. Serat kolagen membentuk anyaman 3dimensi di jaringan ikat yang tidak teratur dan tahan terhadap stress dari segala arah. Jaringan
ikat padat ireguler sering ditemukan berdekatan dengan jaringan ikat longgar. Kedua tipe
jaringan ikat tersebut sering tumpah tindih satu sama lain dan pembedaan antara keduanya
sering kali acak.
Berkas kolagen jaringan ikat padat regular tersusun menurut pola tertentu dengan
serat kolagen yang tersusun dengan orientasi linear fibroblas sebagai respons terhadap stres
berkepanjangan dalam arah yang sama. Susunan ini tahan sekali terhadap daya tarikan.
Tendon dan ligamen adalah contoh yang paling umum untuk jaringan ikat padat
regular. Struktur silindris panjang ini melekatkan komponen sistem muskuloskeletal; karena
banyaknya serat kolagen, tendon tampak berwarna putih dan tidak dapat diregangkan.
Jaringan ini terdiri atas himpitan berkas-berkas kolagen yang sejajar, dan dipisahkan oleh
sedikit substansi dasar antarsel. Fibrositnya mengandung inti panjang yang sejajar terhadap
serat dan sedikit lipatan sitoplasma yang meliputi bagian berkas kolagen. Sitoplasma fibrosit
ini jarang terlihat dengan pulasan H&E tidak hanya karena jumlahnya yang sedikit, tetapi
juga karena terpulas dengan warna yang sama seperti seratnya. Sejumlah ligamen, seperti
ligamenta flava columna vertebrae, juga mengandung sejumlah besar berkas serat elastin
yang sejajar.
Berkas kolagen tendon memiliki ukuran yang bervariasi dan diselubungi oleh jaringan
ikat longgar yang mengandung pembuluh darah dan saraf. Namun, secara keseluruhan tendon
kurang mendapat pendarahan dan perbaikan tendon yang rusak berjalan sangat lambat. Di
luar, tendon dikelilingi oleh selubung jaringan ikat padat iregular. Pada tendon tertentu,
selubung ini terdiri atas dua lapisan, dan keduanya dilapisi sel-sel sinovial gepeng yang
berasal dari mesenkim. Satu lapisannya melekat pada tendon, dan lapisan lain melapisi
struktur di dekatnya. Rongga di antara kedua lapisan ini mengandung cairan kental (mirip
dengan cairan sendi sinovial) yang terdiri atas air, protein, hialuronat, dan GAG lainnya.
Sekresi sinovial ini bekerja sebagai pelumas yang memungkinkan mulusnya pergeseran
tendon di dalam selubungnya.
Jaringan Retikular
10

Jaringan ikat retikuler adalah nama lain untuk serat retikuler yang merupakan bagian
penting dari struktur jaringan. Sel-sel yang dibangun dengan serat retikuler adalah fibroblast
yang juga dikenal sebagai sel retikuler. Serat retikuler terbuat dari kolagen dan glikoprotein.
Serat ini sangat tipis dan hampir tidak terlihat di bagian histologis. Namun, dapat dilihat
secara mikroskopis setelah impregnasi dengan noda perak. Ini afinitas serat retikuler untuk
perak noda dikenal sebagai argyrophilia. Serat retrikular juga diresapi dengan reaksi PAS
karena glikoprotein yang ada di dalamnya. Serat retikuler juga merupakan bentuk dari
kolagen tipe III. Jaringan menyusun sendiri untuk sel dalam berbagai organ seperti sumsum
tulang, kelenjar getah bening, limpa dan hati. Serat retikuler adalah bagian dari sebagian
besar dari jaringan ikat dan selalu serat dominan. Jaringan ini membentuk kerangka struktural
untuk sel organ di banyak organ dan jaringan.
Jaringan Mukosa
Jaringan mukosa terutama ditemukan di tali pusat (korda umbilikalis) dan jaringan
janin. Jaringan mukosa memiliki banyak substansi dasar yang terutama terdiri dari atas asam
hialuronat, yang membuatnya menjadi jaringan mirip jeli yang mengandung sedikit serat
kolagen dengan sebaran fibroblas. Jaringan mukosa merupakan komponen utama tali pusat,
yang disebut Whartons jelly. Bentuk jaringan ikat serupa juga ditemukan di dalam pulpa gigi
yang masih muda.
Mekanisme Kerja Otot
Otot rangka melakukan kerja otot yaitu kontraksi dan relaksasi. Akibat dari aktivitas
kontraksi dan relaksasi ini, akan timbul pergerakan pada rangka tubuh. Otot tidak pernah
bekerja sendiri, walaupun hanya untuk melakukan gerak paling sederhana. Misalnya saja saat
mengambil pensil, memerlukan gerakan jari dan ibu jari, pergelangan tangan, siku, bahu dan
mungkin juga batang tubuh ketika membungkuk ke depan. Setiap otot harus berkontraksi dan
setiap otot antagonis harus rileks untuk menghasilkan gerakan yang halus. Kerja harmonis
otot-otot disebut koordinasi otot.9
Tentu saja, kerja otot tidak lepas dari peran saraf. Otot dipersarafi oleh 2 serat saraf
pendek yaitu saraf sensorik dan saraf motorik. Saraf sensorik yang membawa impuls dari otot
menuju ke saraf pusat, sementara saraf motoik membawa impuls ke serat otot dari saraf pusat
untuk memicu kontraksi otot. Korpus sel dari sel-sel saraf motorik terdapat dalam komu
anterior substansia grisea dalam medula spinalis.10
Kontraksi Otot

11

Kontraksi otot dapat terjadi akibat impuls saraf. Impuls saraf yang sifatnya elektrik,
dihantar ke sel-sel otot secara kimiawi oleh sambungan otot-saraf. 10 Impuls sampai ke
sambungan otot-saraf yang mengandung gelembung-gelembung kecil asetikolin yang
kemudian akan dilepaskan ke dalam ruang antara saraf dan otot (celah sinaps). Ketika
asetikolin yang dilepaskan menempel pada sel otot, ia akan menyebabkan terjadinya
depolarisasi dan aktivitas listrik akan menyebar ke seluruh sel otot.
Proses ini kemudiaan diikuti dengan pelepasan ion Ca2+ (kalsium) yang berada diantara
sel otot. Ion kalsium akan masuk ke dalam otot dan kemudian mengangkut troponin dan
tropomiosin ke aktin, sehingga posisi aktin berubah. Impuls listrik yang menyebar akan
merangsang kegiatan protein aktin dan miosin hingga keduanya akan bertempelan
membentuk aktomiosin. Aktin dan miosin yang saling bertemu akan menyebabkan otot
memendek dan terjadilah peristiwa kontraksi. Kejadian ini akan menyebabkan pergeseran
filamen (sliding filamen) yang berujung pada peristiwa kontraksi.

Kesimpulan
Dislokasi Glenohumeral, fraktur 1/3 distal os radius, cedera otot lengan bawah
merupakan penyebab dari seorang tidak dapat menggerakan lengannya dengan kemungkinan
ada saraf terjepit, pembuluh darah terjepit maupun ada pembuluh darah yang pecah sehingga
diperlukan penanganan yang tepat dengan tenaga ahli yang dapat mengembalikan tulang
humerus kembali ketempatnya serta mengobati cidera yang terdapat pada tulang maupun
pada otot.

Daftar Pustaka
12

1. Diunduh

dari

http://www.sentra-edukasi.com/2011/07/hubungan-antartulang-

artikulasi.html pada tanggal 26 Maret 2016.


2. Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-3.Jakarta: EGC; 2011.h.1046.
3. http://www.ahlibedahorthopedic.com/artikel-186-dislokasi-sendi-bahu.html

diakses

pada tanggal 24 maret 2016.


4. Arif M. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan.
Jakata: Salemba Medika; 2008.h.82.
5. Pearce E. Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta: EGC; 2005.
6. Solane E. Sistem rangka. Dalam: Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC ;2004.h.92-6.
7. himafisiofk-uh.blogspot.com diakses pada 26 maret 2016
8. Mescher AL. Histologi dasar junqueira teks & atlas. Edisi 12. Jakarta: EGC; 2006. h.
100-5.
9. Watson R. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Ed 10. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2002.
10. Cambrigde Communication Limited. Anatomi fisiologi: sistem lokomotor dan
penginderaan. Ed 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.13.

13