Anda di halaman 1dari 7

Gerak Refleks dan Struktur Lapisan Epidermis Manusia

Kelompok C6
Tutor: dr. Ridwan
Mahasiswa-Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510, Indonesia

Abstrak
Gerak refleks merupakan gerakan yang terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa
disadari terlebih dahulu. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara
otomatis terhadap rangsangan. Refleks merupakan respon dari suatu rangsang berupa
perubahan kondisi lingkungan yang diterima oleh reseptor. Gerak refleks ini ada yang
monosinaps dan ada yang polisinaps. Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang
melapisi seluruh bagian tubuh, membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya.
Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam gangguan dan
rangsangan luar. Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari
epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel.
Epidermis melekat erat pada dermis karena secara fungsional epidermis memperoleh zat-zat
makanan dan cairan antar sel dari plasma yang merembes melalui dinding-dinding kapiler
dermis ke dalam epidermis. Epidermis memiliki lima lapisan kulit dan empat sel epidermis
Kata Kunci: Gerak refleks, Lapisan Epidermis
Abstract
Reflex is a movement that happens without the will or unconsciously influenced beforehand.
Reflex runs very fast and occurs automatically in response to stimuli. Reflex is a response to
a stimuli such as changing environmental conditions received by receptors. This reflex is
nothing monosinaps and there are polisinaps. The skin is the largest organ that covers the
entire body, wrap the meat and organs in it. The skin has the function of protecting the body
from a variety of disorders and external stimuli. The epidermis is the outer layer of skin is
thin and avascular. Stratified epithelium consists of flattened horns, contains cells
melanocytes, Langerhans and Merkel. The epidermis is firmly attached to the dermis as a
functional epidermis obtain nutrients and fluids between cells from plasma seeping through
the walls of the capillaries in the dermis to the epidermis. The epidermis has five layers of the
skin and the four cells of the epidermis
Keywords: Reflex, Epidermis Layer
Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk hidup yang tersusun dari berbagai macam organ dengan
struktur yang kompleks dan sebagian besar tubuh tersusun oleh tulang dan otot. Tulang dan
1

otot pada tubuh manusia ialah penyumbang massa tubuh yang paling besar.1 Tulang dan otot
memiliki fungsinya masing-masing di dalam tubuh yaitu tulang berfungsi untuk menopang
dan melindungi organ dalam manusia serta tempat melekatnya otot sedangkan otot berfungsi
sebagai alat penggerak tubuh yang bekerja sama dengan tulang.2 Pada bagian paling luar dari
tubuh, terdapat kulit yang melapisi tubuh yang letaknya berlekatan dengan otot. Kulit
berfungsi melindungi tubuh manusia dari luka dan berbagai penyakit. Selain itu kulit juga
memiliki fungsi untuk merasa, meraba dan juga menjaga suhu tubuh.3 Kulit sendiri memiliki
susunan lapisan yang terbagi menjadi epidermis, dermis dan subkutan.
Rumusan masalah pada tinjauan pustaka ini sesuai dengan skenario yang ada adalah
seorang laki-laki lengan bawahnya bagian volar tergores kawat timbul garis kemerahan tanpa
mengeluarkan darah tapi terasa perih. Oleh karena itu pada tinjauan pustaka ini akan lebih
dibahas mengenai lapisan-lapisan kulit dan juga refleks-refleks yang dapat terjadi pada
manusia.
Tujuan dari penulisan tinjauan pustaka ini adalah agar pembaca dapat memahami
lapisan-lapisan yang menyusun kulit pada manusia dan jenis-jenis refleks yang ada.
Skenario
Seorang laki-laki pekerja proyek bangunan, berusia 25 tahun datang berobat ke
puskesmas dengan keluhan lengan kanan bawah bagian volar tergores kawat sehingga timbul
garis kemerahan dengan panjang kira-kira 5cm, tanpa mengeluarkan darah namun terasa
perih. Hal ini baru terjadi hari ini. Pada pemeriksaan fisik tekanan darah, jantung, dan paru
dalam batas normal.
Struktur Kulit
Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh yang memiliki fungsi utama untuk
melindungi tubuh dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan
ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme seperti pembentukan lapisan tanduk secara
terus-menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang sudah mati), respirasi dan pengaturan
suhu tubuh, produksi sebum dan keringat, dan pembentukan pigmen melanin untuk
melindungi kulit dari bahaya sinar ultraviolet matahari, sebagai peraba dan perasa, serta
pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar.4 Kulit menyumbang 10% dari massa tubuh.
Secara anatomi, kulit terdiri dari dua lapisan utama (lihat gambar 1) yaitu lapisan epidermis
(lapisan luar/kulit ari), dan dermis (lapisan dalam/kulit jangat). Selain kedua lapisan itu ada
satu lapisan lagi yaitu lapisan hipodermis/subkutan (jaringan lemak bawah kulit). Lapisan
2

hipodermis terletak dibawah dermis dan tersusun atas banyak lemak. Lapisan ini berfungsi
sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas tubuh.
Lapisan epidermis dan aksesori-aksesorinya (rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar
keringat) berasal dari lapisan ektoderm embrio sedangkan lapisan dermis berasal dari lapisan
mesoderm embrio.4, 5

Gambar 1. Struktur kulit6


Epidermis
Epidermis merupakan lapisan paling luar dari kulit manusia. Epidermis sendiri
memiliki lapisan-lapisan yang dari luar ke dalam dapat diurutkan mejadi Stratum corneum,
Stratum lucidum, Stratum granulosum, Stratum spinosum, stratum germinativum/basale.
(lihat gambar 2)

Gambar 2. Epidermis6
Startum
corneum
terdiri

atas

beberapa

lapis sel pipih

yang

mati,

memiliki

tidak

inti, tidak mengalami proses metabolisme, tidak berwarna, dan sangat sedikit mengandung
air. Lapisan ini sebagian besar tersusun oleh keratin yaitu jenis protein yang tidak larut dalam
3

air dan sangat resisten terhadap bahan-bahan kimia. Lapisan ini sangat berkaitan dengan
fungsi kulit untuk memproteksi tubuh dari pengaruh luar. Lapisan ini karena merupakan sel
mati, nantinya akan melepaskan diri pada saat digosok ketika mandi dan akan digantikan oleh
lapisan dibawahnya (proses regenerasi). Permukaan dari startum corneum dilindungi oleh
lapisan pelindung lembab tipis yang bersifat asam yang disebut mantel asam kulit. 4,7
Sedangkan stratum lucidum ialah lapisan yang terletak dibawah stratum corneum. Lapisan ini
merupakan lapisan yang tipis, jernih, mengandung eleidin, berwarna kuning, dan sangat
tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki. Lapisan ini berfungsi untuk mengganti
stratum corneum.4
Selanjutnya lapisan yang berada dibawah stratum lucidum yaitu stratum granulosum.
Lapisan ini tersusun dari sel-sel keratinosit yang berbentuk poligonal, berbutir kasar, dan
berinti mengkerut. Dalam sitoplasma sel pada stratum granulosum juga terdapat organel yang
disebut granula lamelar (Odland body). Organel ini mengandung lemak dan enzim, yang
kemudian akan dilepaskan ke dalam ruang intraseluler di antara sel-sel stratum granulosum
dan stratum corneum yang berfungsi sebagai pertahanan bagi epidermis.4,6
Lalu dibawah stratum granulosum, terdapat stratum spinosum atau lapisan sel prikel
(runcing) yang berasal dari gambaran seperti paku yang dihasilkan oleh jembatan-jembatan
intraselular (desmosom) yang menghubungkan sel-sel yang berdekatan. Sel-sel Langerhans
tersebar di antara stratum spinosum. Sel-sel ini merupakan modifikasi dari makrofag yang
berasal dari sumsum tulang dan bermigrasi ke epidermis. Sel-sel ini merupakan pertahanan
imunologis garis terdepan dalam melawan antigen dari luar dan berperan dalam penangkapan
dan penyajian antigen tersebut kepada limfosit-limfosit yang imunkompeten, sehingga
respons imun dapat ditingkatkan.4,6
Yang terakhir lapisan paling dalam dari epidermis yaitu stranum germinativum yang
merupakan lapisan yang tersusun atas sel-sel yang selalu membelah dan membentuk sel-sel
yang selalu membelah dan membentuk sel-sel baru ke arah luar. Pigmen melanin yang
memberi warna pada kulit seseorang terbentuk di lapisan ini. Di lapisan ini paling banyak
terlihat adanya proses mitosis sel-sel.6,7
Selain lapisan-lapisan tersebut, di epidermis juga terdapat kelengkapan (aksesori)
epidermis. Aksesori-aksesori tersebut seperti kelenjar keringat ekrin, kelenjar keringat
apokrin, rambut, kelenjar sebasea, dan kuku.
Dermis
4

Dermis merupakan lapisan jaringan ikat yang merupakan bagian terbesar dari kulit.
Dermis dan epidermis saling mengikat melalui penjolan-penjolan epidermis ke bawah (rete
ridge) dan penjolan-penjolan dermis ke atas (dermal papilae). Lapisan dermis tersusun dari
sebagian besar serat kolagen dan sebagiannya lagi merupakan serat elastin. 5 Di dalam dermis
terdapat pembuluh darah dan pembuluh limfe yang mengandung sel imunokompeten seperti
sel makrofag, sel mast, dan limfosit dan juga tedapat fibroblas, saraf dan reseptor sensoris.
Fibroblas membentuk matriks jaringan ikat pada dermis dan biasanya letaknya berdekatan
dengan serat-serat kolagen dan elastin. Sedangkan sel mast merupakan sel penghasil sekret
khusus dan terdapat di seluruh dermis, tetapi lebih banyak terdapat di sekitar pembuluh darah
dan aksesori dermis. Selanjutnya makrofag merupakan sel fagositik yang berasal dari
sumsum tulang, dan berperan sebagai pengumpul debris sel kotoran dan bahan
ekstraselular.5,6,8
Refleks
Refleks merupakan kejadian involunter yang tidak dapat dikendalikan oleh kemauan
manusia. Tindakan refleks merupakan gerakan motorik involunter atau respons sekretorik
yang diperlihatkan jaringan terhadap stimulus sensorik, contohnya seperti menarik diri,
bersin, mengedip, dll. Jalur-jalur saraf yang berperan dalam melakukan aktivitas refleks
disebut dengan lengkung refleks. Jalur-jalur ini dinamakan lengkung refleks karena bila
disusun gambar bagan urutan peristiwa yang terjadi mulai dari reseptor, neuron aferen,
medulla spinalis sebagai saraf pusat, neuron eferen dan efektor akan membetuk seperti jalur
yang melengkung. Reseptor yaitu ujung distal dendrit yang menerima stimulus peka terhadap
suatu rangsangan. Neuron aferen (sensoris) yaitu yang melintas sepanjang neuron sensorik
sampai ke medula spinalis yang dapat menghantarkan impul ke susunan saraf pusat. Saraf
pusat yaitu tempat integrasi dimana masuknya sensoris dan dianalisa kembali ke neuron
eferen. Neuron eferen (motorik) adalah yang melintas sepanjang akson neuron motorik
sampai ke efektor yang akan merespon impuls eferen dan menghantarkan impuls ke perifer
sehingga menghasilkan aksi. Efektor sendiri dapat berupa otot rangka, otot jantung, ataupun
otot polos kelenjar yang merespon.9
Berdasarkan sistem saraf yang dilaluinya refleks terbagi menjadi dua yaitu refleks
somatik yaitu refleks yang terjadi pada otot rangka dan refleks otonom yaitu refleks yang
terjadi pada otot jantung, otot polos, dan sel kelenjar. Refleks somatik berdasarkan jumlah
sinapsnya dibagi menjadi tiga yaitu monosinaps, bisinaps, polisinaps. Refleks monosinaps
yaitu yang melalui satu sinaps dan dua neuron yaitu neuron aferen dan satu neuron eferen
5

yang langsung berhubungan pada saraf pusat, contohnya refleks regang. Sedangkan refleks
bisinaps yaitu yang melalui dua sinaps dan tiga neuron. Refleks bisinaps ini merupakan
persarafan timbal balik (reciprocal innervation). Dan yang terakhir yaitu refleks polisinaps
merupakan refleks yang menggunakan banyak interneuron. Refleks ini terbagi menjadi dua
yaitu refleks fleksor (withdrawl reflex) dan stretch flexor reflex. Refleks fleksor ialah refleks
polisinaps yang terdiri atas kontraksi dari otot fleksor dan relaksasi dari otot ekstensor pada
bagian tubuh yang mendapat rangsang. Refleks fleksor ini terjadi sebagai respon terhadap
rangsangan berbahaya dan biasanya menyakitkan pada kulit atau jaringan subkutan dan otot.
Respons berupa kontraksi otot fleksor dan penghambatan otot ekstensor sehingga bagian
yang terkena rangsang tertekuk dan ditarik dari stimulus. Ketika stimulus yang kuat
diterapkan pada anggota tubuh, respon tidak hanya mencakup fleksi dan penarikan anggota
badan itu tetapi juga perpanjangan ekstremitas yang berlawanan. 10 Sedangkan stretch flexor
reflex adalah saat perangsangan akan menghasilkan respon gerakan fleksi-extensi extremitas.
Contoh dari refleks ini adalah refleks menggaruk yaitu seperti ketika semut berjalan di kulit,
maka kita akan refleks untuk menggaruk di tempat asal semut tersebut awalnya.9, 11
Kesimpulan
Tubuh manusia tersusun dari otot, tulang, sendi, organ, dan komponen-komponen
kompleks lainnya yang pada bagian paling luar tepatnya diluar dari otot yaitu dilapisi oleh
kulit. Kulit memiliki fungsi utama yaitu untuk melindungi tubuh dari rangsangan luar tubuh.
selain itu kulit juga memiliki fungsi lain yaitu mengatur suhu tubuh,sebagai alat peraba dan
perasa, dll. Untuk itu kulit terbagi atas lapisan-lapisan yang memiliki komponen
penyusunnya dan fungsinya masing-masing. Gerak refleks yang terjadi pada manusia pun
terbagi menjadi berbagai macam yang salah satunya berdasarkan jumlah sinapsnya terbagi
menjadi refleks monosinap, bisinaps, dan polisinaps. Pada skenario diatas, kulit yang tergores
hanya lapisan epidermis sehingga tidak mengeluarkan darah karena lapisan epidermis
manusia itu asvaskular namun tetap terasa perih. Dan juga gerak refleks yang mungkin terjadi
adalah gerak refleks polisinaps.

Daftar Pustaka
1. Mardiana D. Buku pintar nyeri tulang dan otot. Jakarta: Erlangga; 2011. h. 14.
2. Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo; 2010. h. 31-3.

3. Khairina R, Yudo SH. Tubuh. Diterjemahkan dari Erler I. Mein korper. Bandung:
Penerbit Mizan; 2010. h. 10.
4. Tranggono RI, Latifah F. Buku pegangan ilmu pengetahuan kosmetik. Jakarta:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; 2007. h. 11-3.
5. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2010. h. 96-7.
6. Safitri A. Dermatologi. Edisi 8. Diterjemahkan dari Brown RG, Burns T. Lecture
notes on dermatology. Jakarta: Erlangga; 2011. h. 1-8.
7. Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo; 2008. h. 25-8.
8. Utami IS. Bebas masalah kulit. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2013. h. 5-6.
9. Muttaqin A. Pengantar asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem persarafan.
Jakarta: Salemba Medika; 2008. h. 22-4.
10. Rhoades RA, Bell DR. Medical physiology: principles for clinical medicine. Third
edition. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2009. h. 100.
11.

Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama; 2009. h. 338-9.