Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan adalah pertambahan teratur semua komponen suatu organisme.
Dengan demikian, pertambahan ukuran yang diakibatkan oleh bertambahnya air
atau karena deposit lipid bukan merupakan pertumbuhan sejati. Multiplikasi sel
adalah konsekuensi pertumbuhan. Pada organisme bersel satu, multiplikasi
menghasilkan pertambahan jumlah organisme yang membentuk populasi atau
kultur.
Pertumbuhan mikroorganisme lebih ditunjukkan oleh adanya peningkatan
jumlah mikroorganisme dan bukan peningkatan ukuran sel individu. Pada
dasarnya ada dua macam tipe pertumbuhan, yaitu pembelahan inti tanpa diikuti
pembelahan sel sehingga dihasilkan peningkatan ukuran sel (misalnya pada
mikroorganisme koenositik) dan pembelahan inti diikuti pembelahan sel sehingga
dihasilkan peningkatan jumlah sel serta pembesaran ukuran sel diikuti
pembelahan membentuk dua progeni yang kurang lebih berukuran sama (Pratiwi,
2008).
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa hal yang melatarbelakangi
praktikum pengukuran pertumbnuhan mikroorganisme

ini adalah untuk

mengetahui bagaimana cara mengukur pertumbuhan mikroorganisme, dan dapat


mengetahui metode-metode yang digunakan dalam melakukan pertumbuhan
mikroorganisme

serta

mampu

mengetahui

bahwa

dalam

pertumbuhan

mikroorganisme itu terdapat waktu generasi yang biasanya ditentukan dalam fase
log dalam suatu pertumbuhan mikroorganisme. Selain itu praktikum ini juga
untuk mengasah ketelitian dalam menghitung pertumbuhan bakteri.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui metode-metode yang biasa digunakan dalam pengukuran
pertumbuhan mikroorganisme.
2. Mengetahui fase pertumbuhan mikroorganisme.

3. Mengetahui

faktor-faktor

mikroorganisme.

yang

mempengaruhi

pertumbuhan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan diartikan sebagai penambahan dan dapat dihubungkan
dengan penambahan ukuran, jumlah bobot, massa, dan banyak parameter lainnya
dari suatu makhluk hidup. Penambahan ukuran atau massa suatu sel individual
biasanya terjadi proses pendewasaan (maturasi) dan perubahan ini pada umumnya
bersifat sementara (temporer) untuk kemudian dilanjutkan dengan proses
multiplikasi dari sel tersebut. Multiplikasi terjadi dengan cara pembelahan sel.
Pertumbuhan umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan
lingkungan.

Apabila

kondisi

makanan

dan

lingkungan

cocok

untuk

mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang


relatif singkat dan sempurna (Dwidjoseputro, 2003).
Ciri khas reproduksi bakteri adalah pembelahan biner (binary fussion),
dimana dari satu sel bakteri dapat dihasilkan dua sel anakan yang sama besar.
Interval waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri atau untuk
populasi menjadi berjumlah dua kali lipat dikenal sebagai waktu generasi.
Mayoritas bakteri memiliki waktu generasi berkisar antara 1-3 jam. Waktu
generasi untuk spesies bakteri tertentu juga tidak sama pada semua kondisi. Waktu
generasi sangat tergantung pada cukup tidaknya nutrisi di dalam media
pertumbuhan serta sesuai tidaknya kondisi fisik yang mendukung pertumbuhan
(Pratiwi, 2008).
Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu generasi, yaitu:
1. Tahapan pertumbuhan mikroorganisme, misalnya seperti tersebut di atas yang
menyatakan bahwa satu sel bakteri menjadi dua sel bakteri memerlukan
rentang waktu yang berbeda ketika 128 sel bakteri menjadi 256 sel.
2. Takson mikroorganisme (jenis, spesies, dll), misalnya bakteri E. coli dalam
saluran pencernaan manusia maupun binatang umumnya mempunyai waktu
generasi 15-20 menit, sedangkan bakteri lain (misalnya, Salmonella typhii)
mempunyai waktu generasi berjam-jam (Purwoko, 2002).

Ada empat macam fase pertumbuhan mikroorganisme, yaitu fase lag, fase log
(fase eksponensial), fase stasioner, fase kematian.
Fase lag, merupakan fase adaptasi yaitu fase penyesuaian mikroorganisme
pada suatu lingkungan baru. Ciri fase lag adalah tidak adanya peningkatan jumlah
sel, yang ada hanyalah peningkatan ukuran sel. Lama fase lag tergantung pada
kondisi dan jumlah awal mikroorganisme dan media pertumbuhan. Bila sel-sel
mikroorganisme diambil dari kultur yang sama sekali berlainan, maka yang sering
terjadi adalah mikroorganisme tersebut tidak mampu tumbuh dalam kultur.
Fase log (fase eksponensial), merupakan fase dimana mikroorganisme tumbuh
dan

membelah

pada

kecepatan

maksimum,

tergantung

pada

genetika

mikroorganisme, sifat media, dan kondisi pertumbuhan. Sel baru terbentuk


dengan laju konstan dan massa yang bertambah secara eksponensial. Hal yang
dapat menghambat laju pertumbuhan adalah bila satu atau lebih nutrisi dalam
kultur habis, sehingga hasil metabolisme yang bersifat racun akan tertimbun dan
menghambat pertumbuhan. Untuk mikroorganisme aerob, nutrisi yang membatasi
pertumbuhan biasanya adalah oksigen.
Fase stasioner, pada fase ini pertumbuhan mikroorganisme berhenti dan terjadi
keseimbangan antara jumlah sel yang membelah dengan jumlah sel yang mati.
Pada fase ini terjadi akumulasi produk buangan yang toksis. Pada sebagian besar
kasus, pergantian sel terjadi dalam fase stasioner ini. Terdapat kehilangan sel yang
lambat karena kematian diimbangi oleh pembentukkan sel-sel baru melalui
pertumbuhan dan pertumbuhan dengan nutrisi yang dilepaskan oleh sel-sel yang
mati karena mengalami lisis.
Fase kematian, pada fase ini jumlah sel yang mati meningkat. Faktor
penyebabnya adalah ketidaktersediaan nutrisi dan akumulasi produk buangan
yang toksik.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.
Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi faktor fisik, faktor kimia, dan
faktor pertumbuhan organik.

Faktor Fisik
1. Temperatur
Temperatur menentukan aktivitas enzim yang terlibat dalam aktivitas kimia.
Peningkatan temperatur sebesar 10C dapat meningktakan aktivitas enzim sebesar
dua kali lipat. Pada temperatur yang sangat tinggi akan terjadi denaturasi protein
yang tidak dapat balik (irreversible), sedangkan pada temperatur yang sangat
rendah aktivitas enzim akan berhenti. Pada temperatur pertumbuhan optimal akan
terjadi kecepatan pertumbuhan optimal dan dihasilkan jumlah sel yang maksimal.
2. pH
pH merupakan indikasi konsentrasi ion hidrogen. Peningkatan dan penurunan
konsentrasi ion hidrogen dapat menyebabkan ionisasi gugus-gugus dalam protein,
amino, dan karboksilat. Hal ini dapat menyebabkan denaturasi protein yang
mengganggu pertumbuhan sel. Kebanyakan bakteri tumbuh subur pada pH 6,5 7,5.
3. Tekanan Osmotik
Osmosis merupakan perpindahan air melewati membrane semipermeabel
karena ketidakseimbangan material terlarut dalam media. Dalam larutan hipotonik
air akan masuk ke dalam sel mikroorganisme; sedangkan dalam larutan hipertonik
air akan keluar dari dalam sel mikroorganisme sehingga membran plasma
mengkerut dan lepas dari dinding sel (plasmolisis), serta menyebabkan sel secara
metabolik tidak aktif.
4. Oksigen
Berdasarkan kebutuhan oksigen, dikenal mikroorganisme yang bersifat aerob
dan anaerob. Mikroorganisme aerob memerlukan oksigen untuk bernafas,
sedangkan mikroorganisme anaerob tidak memerlukan oksigen untuk bernafas.
Adanya oksigen pada mikroorganisme anaerob justru akan menghambat
pertumbuhannya. Energi pada mikroorganisme anaerob dihasilkan dengan cara
fermentasi.
5. Radiasi
Sumber utama radiasi di bumi adalah sinar matahari yang mencakup cahaya
tampak (visible light), radiasi UV (ultraviolet), sinar inframerah, dan gelombang
radio. Radiasi yang berbahaya untuk mikroorganisme adalah radiasi pengionisasi
(ionizing radiation), yaitu radiasi dari panjang gelombang yang sangat pendek dan
berenergi tinggi yang dapat menyebabkan atom kehilangan elektron (ionisasi).

Pada level rendah radiasi pengionisasi ini dapat mengakibatkan mutasi yang
mungkin mengarah pada kematian, sedangkan pada level tinggi pengaruh radiasi
bersifat letal (Pratiwi, 2008).
Faktor Kimia
Selain

air, unsur

penting

yang

dibutuhkan

untuk

pertumbuhan

mikroorganisme adalah unsur kimia, antara lain karbon, nitrogen, sulfur, fosfor,
dan unsur kelumit (misalnya Cu, Zn, dan Fe).
Karbon merupakan unsur penting dalam setiap makhluk hidup. Setengah
berat kering suatu bakteri adalah karbon. Kemoheterotrof mendapatkan sebagian
besar karbon dari sumber energi yang diperoleh, seperti protein, karbohidrat, dan
lemak. Sedangkan kemoautotrof dan fotoautotrof mendapatkan unsure karbon dari
CO2.
Beberapa unsur lain juga diperlukan oleh bakteri untuk sintesis materi
seluler, yaitu nitrogen dan sulfur untuk sintesis protein; nitrogen dan fosfor untuk
sintesis DNA, RNA, dan ATP. Molekul ATP sangat penting untuk penyimpanan
dan transfer energi kimia di dalam sel. Kandungan nitrogen kurang lebih 14 %
berat kering suatu sel bakteri, sedangkan sulfur dan fosfor sekitar 4 % (Radji dan
Biomed, 2002).
Faktor Pertumbuhan Organik
Termasuk di dalamnya nutrisi yang terdapat dalam media pertumbuhan.
Semua bentuk kehidupan, dari mikroorganisme sampai kepada manusia,
mempunyai persamaan dalam hal persyaratan nutrisi tertentu dalam bentuk zat-zat
kimiawi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan fungsinya yang normal.
Pengamatan-pengamatan berikut ini melukiskan hal tersebut dan juga
menampakkan keragaman yang sangat besar dalam hal tipe nutrisi yang dijumpai
di antara bakteri.
1.
2.
3.
4.

Semua organisme hidup membutuhkan sumber energi.


Semua organisme hidup membutuhkan karbon.
Semua organisme hidup membutuhkan nitrogen.
Semua organisme hidup membutuhkan belerang (sulfur).

5. Semua organisme hidup membutuhkan beberapa unsur logam, natrium,


kalium, kalsium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga, dan kobalt untuk
pertumbuhannya yang normal.
6. Semua organisme hidup membutuhkan vitamin (senyawa organik khusus
yang penting untuk pertumbuhan) dan senyawa-senyawa seperti vitamin.
7. Semua organisme hidup membutuhkan air untuk fungsi-fungsi metabolik
(Pelczar dan Chan, 1988).
Sebagian besar berat kering mikroorganisme adalah bahan organik yang
mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, fosfor, dan sulfur.
Selain itu, ion-ion anorganik seperti kalium, natrium, besi, magnesium, kalsium,
dan klorida diperlukan untuk memfasilitasi katalis enzimatik dan untuk
mempertahankan gradien kimia pada membran sel.
Sebagian besar bahan anorganik berupa makromolekul yang dibentuk oleh
ikatan anhidrida antar unsur-unsur pembangunnya. Sintesis ikatan anhidrida
memerlukan energi-energi kimia, yang dihasilkan oleh dua ikatan fosfodiester
dalam ATP (adenosine trifosfat). Untuk mempertahankan komposisi sitoplasma
yang relatif konstan selama pertumbuhan dalam berbagai lingkungan kimia
ekstrasel, diperlukan energi tambahan yang dihasilkan dari gaya gerak proton.
Gaya gerak proton adalah energi potensial yang dapat dihasilkan dari aliran proton
melewati membran. Pada eukariot, membran mungkin merupakan bagian dari
mitokondrion atau kloroplas. Pada prokariot, membran adalah membran
sitoplasma sel.
Untuk tumbuh, suatu organisme memerlukan semua unsur dalam bahan
organiknya dan seluruh ion pelengkap yang diperlukan untuk proses kerja dan
katalisis. Selain itu, harus ada sumber energi untuk menghasilkan gaya gerak
proton dan memungkinkan terjadinya sintesis makromolekular. Kebutuhan zat
makanan dan sumber energi metabolik pada mikroorganisme sangat beragam.
Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dengan dua cara, yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara
langsung dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Pengukuran menggunakan bilik hitung (counting chamber)

Pada pengukuran ini, untuk bakteri digunakan bilik hitung Petroff


Hausser,

sedangkan

untuk

mikroorganisme

eukariot

digunakan

hemositometer. Keuntungan menggunakan metode ini adalah mudah, murah,


dan cepat, serta bisa diperoleh informasi tentang ukuran dan morfologi
mikroorganisme. Sedangkan kerugiannya adalah populasi mikroorganisme
yang digunakan harus banyak (minimum berkisar 106 CFU/ml), karena
pengukuran dengan volume dalam jumlah sedikit tidak dapat membedakan
antara sel hidup dan sel mati, serta kesulitan menghitung sel yang motil.
2. Pengukuran menggunakan electronic counter
Pada pengukuran ini, suspensi mikroorganisme dialirkan melalui lubang
kecil (orifice) dengan bantuan aliran listik. Elektroda yang ditempatkan pada
dua sisi orifice mengukur tahanan listrik (ditandai dengan naiknya tahanan)
pada saat bakteri melalui orifice. Pada saat inilah sel terhitung. Keuntungan
metode ini adalah bisa diperoleh dengan lebih cepat dan lebih akurat, serta
dapat menghitung sel dengan ukuran besar. Sedangkan kerugiannya adalah
metode ini tidak bisa digunakan untuk menghitung bakteri karena adanya
gangguan debris, filamen, dsb, serta tidak dapat membedakan antara sel hidup
dan sel mati.
3. Pengukuran dengan plating technique
Metode ini merupakan metode penghitungan jumlah sel tampak (visible)
dan didasarkan pada asumsi bahwa bakteri hidup akan tumbuh, membelah,
dan memproduksi satu koloni tunggal. Satuan penghitungan yang dipakai
adalah CFU (Colony Forming Unit) dengan cara membuat seri pengenceran
sampel dan menumbuhkan sampel pada media padat. Pengukuran dilakukan
pada plate dengan jumlah koloni berkisar 25 250 atau 30 -300.
Keuntungan metode ini adalah sederhana, mudah, dan sensitif karena
menggunakan colony counter sebagai alat hitung dan dapat digunakan untuk
menghitung mikroorganisme pada sampel makanan, air, ataupun tanah.
Sedangkan kerugiannya adalah harus digunakan media yang sesuai dengan
penghitungannya yang kurang akurat karena satu koloni tidak selalu berasal
dari satu individu sel.
4. Pengukuran menggunakan teknik filtrasi membran (membrane filtration
technique)

Pada metode ini sampel dialirkan pada suatu sistem filter membran dengan
bantuan vacuum. Bakteri yang terperangkap selanjutnya ditumbuhkan pada
media yang sesuai dengan jumlah koloni dihitung. Keuntungan metode ini
adalah dapat menghitung sel hidup dan sistem penghitungannya langsung.
Sedangkan kerugiannya adalah tidak ekonomis.
Metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara tidak langsung
dapat dilakukan dengan:
1. Pengukuran kekeruhan / turbidity
Bakteri yang bermultiplikasi pada media cair akan menyebabkan media
menjadi

keruh.

Alat

yang

digunakan

untuk

pengukuran

adalah

spektrofotometer atau kolorimeter dengan cara membandingkan densitas


optik (optically density, OD) antara media tanpa pertumbuhan bakteri dan
media dengan pertumbuhan bakteri.
2. Pengukuran aktivitas metabolik
Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa jumlah produk metabolik
tertentu, misalnya asam atau CO2, menunjukkan jumlah mikroorganisme yang
terdapat di dalam media. Misalnya pengukuran produksi asam untuk
menentukan jumlah vitamin yang dihasilkan mikroorganisme.
3. Pengukuran berat sel kering (BSK)
Metode ini umum digunakan untuk mengukur pertumbuhan fungi
berfilamen. Miselium fungi dipisahkan dari media dan dihitung sebagai berat
kotor. Miselium selanjutnya dicuci dan dikeringkan dengan alat pengering
(desikator) dan ditimbang beberapa kali hingga mencapai berat konstan yang
dihitung sebagai berat sel kering (BSK) (Pratiwi, 2008).
BAB III
METODE KERJA
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum pengukuran pertumbuhan mikroorganisme ini dilaksanakan
pada hari Selasa, 10 April 2012, pukul 10.00 12.00 WITA dan hasil pengamatan
dilakukan pada hari Rabu, 11 April 2012, pukul 07.00 08.00 WITA, bertempat
di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman, Samarinda.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
-

Erlenmeyer
Pipet volume
Tabung reaksi
Cawan petri
Hockey stick
Lampu Bunsen
Hot plate
Magnetic stirrer
Bluetip
Mikropipet
Laminar air flow cabinet
Inkubator
Botol semprot
Alat vortex
Rak tabung
Beaker glass

3.2.2 Bahan
- Alkohol 70 %
- Ragi Haan
- NaCl 0,9 %
- Korek api
- Alumunium foil
- Kertas label
- Aquades
- Tissue
- Karet gelang
- Alkohol 96 %
- Media GYP
- Media GYPA

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Pertumbuhan Mikroorganisme pada Durasi 0
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Disterilkan tangan menggunakan alkohol 70 %.
3. Dipanaskan mulut botol tempat bluetip, lalu

ambil

bluetip

dengan menggunakan mikropipet.


4. Dibuka tutup tabung yang berisi campuran ragi haan dan NaCl 0,9 %,
lalu panaskan mulut tabung.
5. Diambil campuran sebanyak 0,5 ml dengan menggunakan bluetip, lalu
masukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi media GYP, dishaker sampai
homogen.
6. Diganti bluetip dengan yang baru, dan panaskan cawan petri.
7. Diambil GYP sebanyak 0,5 ml dengan menggunakan bluetip, lalu
masukkan ke dalam cawan petri.
8. Diambil media GYPA, lalu tuangkan ke dalam cawan petri yang berisi
GYP sampai menutupi dasar permukaan cawan petri.
9. Dihomogenkan dengan angka 8.
10. Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.
11. Diamati dan hitung jumlah koloni.
3.2.2 Pertumbuhan Mikroorganisme pada Durasi 15
1. Dishaker GYP selama 15 menit.
2. Diambil bluetip dengan menggunakan mikropipet.
3. Dipanaskan pinggiran erlenmeyer yang berisi media GYP.
4. Diambil media GYP sebanyak 0,5 ml dengan menggunakan bluetip, lalu
masukkan ke dalam cawan petri.
5. Diambil media GYPA, lalu tuangkan ke dalam cawan petri yang berisi
6.
7.
8.
3.2.3
1.
2.
3.
4.

GYP sampai menutupi dasar permukaan cawan petri.


Dihomogenkan dengan angka 8.
Diinkubasikan pada suhu 37C selama 24 jam
Diamati dan hitung jumlah koloni.
Pertumbuhan Mikroorganisme pada Durasi 30
Dishaker GYP selama 15 menit.
Diambil bluetip dengan menggunakan mikropipet.
Dipanaskan pinggiran erlenmeyer yang berisi media GYP.
Diambil media GYP sebanyak 0,5 ml dengan menggunakan bluetip, lalu

masukkan ke dalam cawan petri.


5. Diambil media GYPA, lalu tuangkan ke dalam cawan petri yang berisi
GYP sampai menutupi dasar permukaan cawan petri.
6. Dihomogenkan dengan angka 8.

7. Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.


8. Diamati dan hitung jumlah koloni.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Pertumbuhan Mikroorganisme
No

Gambar

Waktu

Jumlah

(menit)

(CFU/mL)

1.

2.

15

3.

30

4.2 Perhitungan
4.2.1 Perhitungan durasi 0
CFU / ml =

rata rata jumlah koloni per petri


volume suspensi biakan yang disebarkan
0
0,5

x 10-1

= 0 CFU / ml

x df

4.2.2 Perhitungan durasi 15


CFU / ml =

rata rata jumlah koloni per petri


volume suspensi biakan yang disebarkan
0
0,5

x df

x 10-1

= 0 CFU / ml
4.2.3 Perhitungan durasi 30
CFU / ml =

rata rata jumlah koloni per petri


volume suspensi biakan yang disebarkan
0
0,5

x df

x 10-1

= 0 CFU / ml

4.3 Pembahasan
Pertumbuhan merupakan proses perubahan bentuk yang semula kecil
kemudian menjadi besar. Pertumbuhan menyangkut pertambahan volume dari
individu itu sendiri. Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan
makanan dan juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok
untuk mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan
waktu yang relatif singkat dan sempurna.
Pada mikroorganisme, pertumbuhan individu (sel) dapat berubah langsung
menjadi pertambahan populasi. Sehingga batas antara pertumbuhan sel sebagai
individu serta kesatuan populasi yang kemudian terjadi kadang-kadang karena
terlalu cepat perubahannya, sulit diamati dan dibedakan. Pada pertumbuhan
populasi bakteri misalnya, merupakan penggambaran jumlah sel atau massa sel
yang terjadi pada saat tertentu. Kadang-kadang didapatkan bahwa konsentrasi sel

sesuai dengan jumlah perunit volume, sedang kerapatan sel adalah jumlah materi
perunit.
Secara umum fase-fase pertumbuhan mikroorganisme adalah sebagai
berikut:
1. Fase lag (fase masa persiapan, fase adaptasi, adaptation phase)
Pada fase ini laju pertumbuhan belum memperlihatkan pertumbuhan
eksponensial, tetapi dalam tahap masa persiapan. Waktu yang diperlukan
pada fase ini digunakan untuk mensintesa enzim. Sehingga mencapai
konsentrasi yang cukup untuk melaksanakan pertumbuhan eksponensial. Fase
ini berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung dari jenis
mikroorganisme serta lingkungan yang hidup.
2. Fase tumbuh dipercepat (fase logaritma, fase eksponensial, logaritma phase)
Pada setiap akhir persiapan sel mikroorganisme akan membelah diri. Masa ini
disebut masa pertumbuhan, yang setiap selnya tidak sama dalam waktu masa
persiapan. Sehingga secara berangsur-angsur kenaikan jumlah populasi sel
mikroorganisme ini mencapai masa akhir fase pertumbuhan mikroorganisme.
3. Fase stasioner
Pengurangan sumber nutrien serta faktor-faktor yang terkandung di dalam
jasadnya sendiri, maka sampailah puncak aktivitas pertumbuhan kepada titik
yang tidak bisa dilampaui lagi, sehingga selama fase ini, gambaran grafik
seakan mendatar. Populasi jasad hidup di dalam keadaan yang maksimal
stasioner yang konstan.
4. Fase kematian
Pada fase ini, jumlah sel yang mati meningkat. Faktor penyebabnya adalah
ketidaktersediaan nutrisi dan akumulasi produk buangan.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.
Faktor-faktor tersebut meliputi faktor fisik, faktor kimia, dan faktor pertumbuhan
organik.
-

Faktor fisik, meliputi:


Temperatur
pH
Tekanan osmotik
Oksigen
Radiasi

Faktor kimia, meliputi:


Karbon
Nitrogen
Sulfur
Fosfor
Unsur kelumit (misalnya Cu, Zn, dan Fe)
Faktor pertumbuhan organic
Termasuk di dalamnya nutrisi yang terdapat dalam media pertumbuhan.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk
pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa
molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel.
Dalam pengukuran pertumbuhan mikroorganisme ada dua metode yang
digunakan, yaitu metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara
langsung dan tidak langsung. Metode langsung dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu pengukuran menggunakan bilik hitung (counting
chamber), pengukuran menggunakan electronic counter, pengukuran dengan
plating technique, dan pengukuran dengan menggunakan teknik filtrasi
membran (membrane filtration technique). Sedangkan metode pengukuran
pertumbuhan mikroorganisme secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
cara: pengukuran kekeruhan / turbidity, pengukuran aktivitas metabolik, dan
pengukuran berat sel kering (BSK).
Pada praktikum pengukuran pertumbuhan mikroorganisme ini terdapat
perlakuan khusus yaitu divortex, pengshakeran, dan menghomogenkan bahan
dengan angka 8. Masing-masing perlakuan tadi memiliki fungsi. Fungsi
dilakukannya vortex adalah untuk menghomogenkan bahan, dalam hal ini
ragi haan dan NaCl 0,9 %. Sementara itu fungsi pengshakeran dimaksudkan
agar bahan tercampur merata. Sedangkan fungsi menghomogenkan dengan
angka 8 pada cawan petri adalah untuk menghomogenkan bahan yang ada di
dalamnya dan agar bahan yang ada di dalamnya tidak tumpah akibat
penghomogenan bahan.
Pada praktikum kali ini, praktikan tidak mendapatkan hasil pengamatan
yang signifikan. Hal itu disebabkan karena sama sekali tidak ada

mikroorganisme yang tumbuh pada media yang disediakan. Setelah


diinkubasikan selama 24 jam, tidak ada koloni mikroba yang tumbuh.
Kegagalan hasil praktikum yang diperoleh ini disebabkan oleh faktor
kesalahan yang dilakukan praktikan. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1. Saat menginkubasi cawan petri di dalam inkubator tidak dibalik,
padahal menurut prosedur harus diinkubasi secara terbalik.
2. Kurangnya ketelitian praktikum dalam melaksanakan praktikum.
3. Praktikan kurang menjaga kesterilan alat-alat yang digunakan dalam
praktikum.
GYP merupakan suatu media yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri
Saccharomyces cerevisiae.
GYPA merupakan medium campuran dari medium GYP dengan ragi haan,
di mana juga digunakan sebagai medium pertumbuhan bakteri.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan

praktikum

yang

dilakukan

mengenai

pengukuran

pengukuran

pertumbuhan

pertumbuhan mikroorganisme dapat ditarik kesimpulan:


1. Metode-metode

yang

digunakan

dalam

mikroorganisme yaitu: pengukuran menggunakan lempeng hitung


(counting chamber), pengukuran menggunakan electronic counter,
pengukuran dengan plating technique, pengukuran menggunakan teknik
filtrasi membran, pengukuran kekeruhan/turbidity, pengukuran aktivitas
metabolic dan pengukuran berat sel kering (BSK).
2. Ada empat macam fase pertumbuhan mikroorganisme, yaitu fase lag, fase
log (fase eksponensial), fase stasioner, dan fase kematian.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme
diantaranya faktor fisik yang meliputi temperatur, pH, tekanan osmotik,
dan cahaya. Faktor kimia meliputi karbon, oksigen, trace elements, dan

faktor pertumbuhan organik, termasuk nutrisi yang terdapat dalam media


pertumbuhan.
5.2 Saran
Praktikan diharapkan lebih cermat, teliti, dan berhati-hati dalam
melakukan praktikum sehingga memperkecil atau bahkan meminimalisir faktorfaktor kesalahan yang mungkin terjadi agar hasil praktikum yang diperoleh lebih
maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan: Jakarta.
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Ul Press:
Jakarta.
Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Dasar Farmasi. Erlangga: Jakarta.
Purwoko, T. 2002. Fisiologi Mikroba. EMS: Jakarta.
Radji,

M dan M. Biomed. 2002. Buku Ajar Mikrobiologi Panduan


Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta.

LAMPIRAN

Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Durasi 0

Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Durasi 15

Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Durasi 30

Anda mungkin juga menyukai