Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PEB
1

Konsep Anatomi Fisiologi


1.1 Anatomi

1.2 Fisiologi
1.2.1 Perubahan Fisiologi Wanita Hamil
Segala perubahan fisik dialami wanita selama hamil berhubungan dengan beberapa
sistem yang disebabkan oleh efek khusus dari hormon. Perubahan ini terjadi dalam
rangka persiapan perkembangan janin, menyiapkan tubuh ibu untuk bersalin,
perkembangan payudara untuk pembentukan/produksi air susu selama masa nifas.
(Salmah dkk, 2006, hal.47)
a. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen
dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya
disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus.Pada bulan-bulan pertama
kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng.Pada kehamilan 4
bulan uterus berbentuk bulat dan pada akhir kehamilan kembali seperti semula,
lonjong seperti telur. (Wiknjosastro, H, 2006, hal. 89)
Perkiraan umur kehamilan berdasarkan tinggi fundus uteri :
1) Pada kehamilan 4 minggu fundus uteri blum teraba
2) Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar seperti telur bebek fundus uteri
berada di belakang simfisis.
3) Pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa, fundus uteri 1-2 jari
di atas simfisis pubis.
4) Pada kehamilan 16 minggu fundus uteri kira-kira pertengahan simfisis dengan
pusat.
5) Kehamilan 20 minggu, fundus uteri 2-3 jari di bawah pusat.
6) Kehamilan 24 minggu, fundus uteri kira-kira setinggi pusat.
7) Kehamilan 28 minggu, fundus uteri 2-3 jari di atas pusat.
8) Kehamilan 32 minggu, fundus uteri pertengahan umbilicus dan prosessus
xypoideus.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

9) Kehamilan 36-38 minggu, fundus uteri kira-kira 1 jari di bawah prosessus


xypoideus.
10)Kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali kira-kira 3 jari di bawah
prosessus xypoideus. (Wiknjosastro, H, 2006. Hal. 90-91 dan Mandriwati, G.
A. 2008. Hal. 90).
Vagina
Vagina dan vulva juga mengalami perubahan akibat hormon estrogen sehingga
tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide).Tanda ini disebut tanda
Chadwick. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai
terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu.Namun akan
mengecil setelah plasenta terbentuk, korpus luteum ini mengeluarkan hormon
estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini akan diambil alih oleh
plasenta. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal .95)
Payudara
Payudara akan mengalami perubahan, yaitu mebesar dan tegang akibat hormon
somatomammotropin, estrogen, dan progesteron, akan tetapi belum
mengeluarkan air susu. Areola mammapun tampak lebih hitam karena
hiperpigmentasi. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
Sistem Sirkulasi
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke
plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang
membesar pula.Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologik
dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah akan
bertambah kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan
cardiac output yang meninggi kira-kira 30%. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96).
Sistem Respirasi
Wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh rasa sesak
nafas.Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas karena usus tertekan
oleh uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga diafragma kurang
leluasa bergerak. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96)
Traktus Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea) karena hormon
estrogen yang meningkat.Tonus otot traktus digestivus juga menurun.Pada
bulan-bulan pertama kehamilan tidak jarang dijumpai gejala muntah pada pagi
hari yang dikenal sebagai moorning sickness dan bila terlampau sering dan
banyak dikeluarkan disebut hiperemesis gravidarum. (Wiknjosastro, H. 2006.
Hal. 97)
Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang
membesar sehingga ibu lebih sering kencing dan ini akan hilang dengan makin
tuanya kehamilan, namun akan timbul lagi pada akhir kehamilan karena bagian
terendah janin mulai turun memasuki Pintu Atas Panggul. (Wiknjosastro, H.
2006. Hal. 97)
Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruh hormon Melanophore Stimulating Hormone (MSH) yang dikeluarkan
oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi,
pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Namun Pada kulit perut

dijumpai perubahan kulit menjadi kebiru-biruan yang disebut striae livide.


(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
j. Metabolisme dalam Kehamilan
Pada wanita hamil Basal Metabolik Rate (BMR) meningkat hingga 15-20
%.Kelenjar gondok juga tampak lebih jelas, hal ini ditemukan pada kehamilan
trimester akhir.Protein yang diperlukan sebanyak 1 gr/kg BB perhari untuk
perkembangan badan, alat kandungan, mammae, dan untuk janin, serta disimpan
pula untuk laktasi nanti.Janin membutuhkan 30-40 gr kalsium untuk
pembentukan tulang terutama pada trimester ketiga.Dengan demikian makanan
ibu hamil harus mengandung kalsium, paling tidak 1,5-2,5 gr perharinya
sehingga dapat diperkirakan 0,2-0,7 gr kalsium yang tertahan untuk keperluan
janin sehingga janin tidak akan mengganggu kalsium ibu. Wanita hamil juga
memerlukan tambahan zat besi sebanyak 800 mg untuk pembentukan
haemoglobin dalam darah sebagai persiapan agar tidak terjadi perdarahan pada
waktu persalinan. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 98)
k. Kenaikan Berat Badan
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan adaptasi ibu
terhadap pertumbuhan janin. Perkiraan peningkatan berat badan adalah 4 kg
dalam kehamilan 20 minggu, dan 8,5 kg dalam 20 minggu kedua (0,4 kg/minggu
dalam trimester akhir) jadi totalnya 12,5 kg. (Salmah, Hajjah.2006. Hal.60-61)
2. Konsep Preeklamsi Berat
2.1 Definisi/deskripsi
2.1.1 Pre eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin
dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menjukkan
tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya
biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih. (Nanda, 2012)
2.1.2 Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai
dengan proteinuria (Prawirohardjo, 2008).
2.1.3 Pre eklamsi adalah timbulanya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat
kehamilan setelah usia 20 minggu atau segera setelah persalinan (Mansjoer dkk,
2006).
2.2 Etiologi
Penyebab preeklamsi sampai sekarang belum di ketahui secara pasti,tapi pada penderita
yang meninggal karena preeklamsia terdapat perubahan yang khas pada berbagai
alat.Tapi kelainan yang menyertai penyakit ini adalah spasmus arteriole, retensi Na dan
air dan coogulasi intravaskulaer.
Walaupun vasospasmus mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi
vasospasmus ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai preeklamsi.
Sebab pre eklamasi belum diketahui,
2.2.1 Vasospasmus menyebabkan :
a. Hypertensi
b. Pada otak (sakit kepala, kejang)
c. Pada placenta (solution placentae, kematian janin)
d. Pada ginjal (oliguri, insuffisiensi)
e. Pada hati (icterus)
f. Pada retina (amourose)
2.2.2 Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab preeklamsia yaitu :
a. Bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan
molahidatidosa
b. Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan

c. Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam


uterus
d. Timbulnya hipertensi, edema, protein uria, kejang dan koma.
2.2.3 Factor Perdisposisi Preeklamsi
a. Molahidatidosa
b. Diabetes melitus
c. Kehamilan ganda
d. Hidrocepalus
e. Obesitas
f. Umur yang lebih dari 35 tahun
2.3 Tanda dan gejala (manifestasi klinik)
a. Penambahan berat badan yang berlebihan, terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa
kali.
b. Edema terjadi peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.
c. Hipertensi (di ukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit)
1) TD > 140/90 mmHg atau
2) Tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg
3) Diastolik>15 mmHg
4) Tekanan diastolic pada trimester ke II yang >85 mmHg patut di curigai sebagai
preeklamsi
d. Proteinuria
1) Terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam urin 24 jam atau pemeriksaan kuwalitatif
+1 / +2.
2) Kadar protein > 1 g/l dalam urine yang di keluarkan dengan kateter atau urine porsi
tengah, di ambil 2 kali dalam waktu 6 jam.
2.3 Patofisiologi
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan
hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ , termasuk ke utero
plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya proses pre eklampsia.
Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan timbulnya hipertensi
arterial.Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas dari
sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat mengakibatkan kerusakan organ
tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat sebagai pemicu timbulnya gangguan
pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth
Retardation.

2.4 Patway (diagram)

2.5 Komplikasi
Tergantung derajat pre-eklampsianya, yang termasuk komplikasi antara lain atonia uteri
(uterus couvelaire), sindrom HELLP (Haemolysis Elevated Liver Enzymes, Low Platelet
Cown), ablasi retina, KID (Koagulasi Intra Vaskular Diseminata), gagal ginjal,
perdarahan otal, oedem paru, gagal jantung, syok dan kematian.
Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut kronisnya insufisiensi uteroplasental,
misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas.
2.6 Prognosis
Kematian ibu antara 9.8%-25.5%, kematian bayi 42.2% -48.9%.4
2.7 Penanganan Medis
Pada penderita yang sudah masuk ke rumah sakit dengan tanda-tanda dan gejala-gejala
preeklamsi berat segera harus di beri sedativa yang kuat untuk mencegah timbulnya
kejang-kejang.
2.7.1 Sebagai tindakan pengobatan untuk mencegah kejang-kejang dapat di berikan:
a. Larutan sulfas magnesikus 40% sebanyak 10 ml (4 gr) disuntikan intramuskulus
bokonh kiri dan kanan sebagai dosis permulaan dan dapat di ulang 4 gr tiap 6
jam menurut keadaan. Tambahan sulfas magnesikus hanya diberikan bila
diuresis baik, reflek patella positif, dan kecepatan pernafasan lebih dari 16 per
menit. Obat tersebut selain menenangkan, juga menurunkan tekanan darah dan
meningkatkan diuresis.
b. Klopromazin 50 mg intramuskulus.
c. Diazepam 20 mg intramuskulus

d. Digunakan bila MgSO4 tidak tersedia, atau syarat pemberian MgSO4 tidak
dipenuhi. Cara pemberian: Drip 10 mg dalam 500 ml, max. 120 mg/24 jam. Jika
dalam dosis 100 mg/24 jam tidak ada perbaikan, rawat di ruang ICU.
2.7.2 Sebagai tindakan pengobatan untuk menurunkan tekanan darah:
a. Anti hipertensi
b. Tekanan darah sistolis > 180 mmHg, diastolis > 110 mmHg. Sasaran pengobatan
adalah tekanan diastolis < 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan
menurunkan perfusi plasenta.
c. Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
d. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-obat
antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang biasa
dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan
tekanan darah.
e. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi
secara sublingual atau oral. Obat pilihan adalah nifedipin yang diberikan 5-10
mg oral yang dapat diulang sampai 8 kali/24 jam.
2.7.3 Kardiotonika
Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi
cepat dengan cedilanid D.
Penggunaan obat hipotensif pada pre-eklamsia berat diperlukan karena dengan
menurunnya tekanan darah kemungkinan kejang dan apolpeksia serebri menjadi
lebih kecil. Apabila terdapat oliguria, sebaiknya penderita diberi glukosa 20%
secara intravena. Obat diuretika tidak si berikan secar rutin
2.8 Penatalaksanaan Keperawatan
2.8.1 Prinsip penatalaksanaan pre-eklampsia
a. Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah
b. Mencegah progresifitas penyakit menjadi eklampsia
c. Mengatasi atau menurunkan risiko janin (solusio plasenta, pertumbuhan janin
terhambat, hipoksia sampai kematian janin)
d. Melahirkan janin dengan cara yang paling aman dan cepat sesegera mungkin
setelah matur, atau imatur jika diketahui bahwa risiko janin atau ibu akan lebih
berat jika persalinan ditunda lebih lama.
2.8.3 Penanganan konservatif
Untuk mencegah kejadian pre eklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang
tentang dan berkaitan dengan:
a. Diet makanan
Makanan tinggi protein tinggi karbohidrat, cukup vitamin, dan rendah lemak.
Kurangi garan apabila berat badan bertanbah atau edema. Makanan berorientasi
pada empat sehat lima sempurna. Untuk meningkatkan jumlah portein dengan
tambahan sau butir telur stiap hari.
b. Cukup istirahat
Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti bekerja dan disesuaikan
dengan kmampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin
sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.
c. Pengawasan antenatal ( hamil)
Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke
tempat pemeriksaan.
d. Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar
semua wanita hamil memeriksakan diri sejak hamil muda.
e. Mencari pada setiap pemeriksaan tanda-tanda preeklampsia dan mengobatinya
segera apabila ditemukan.

f. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas


apabila setelah dirawat tanda-tanda preeklampsia tidak juga dapat dihilangkan.
2.8.2 Penatalaksanaan preeklamsi ringan
a. Kehamilan kurang dari 37 minggu. (Saifuddin et al. 2002)
Lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
1. Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks, dan kondisi janin.
2. Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia
dan eklampsia.
3. Lebih banyak istirahat, tidur miring agar menghilangkan tekanan pada vena
cava inferior, sehingga meningkatkan aliran darah balik dan menambah
curah jnatung.
4. Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam).
5. Tidak perlu diberi obat-obatan.
6. Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit :
7. Diet biasa
8. Pantau tekanan darah 2 kali sehari dan urin (untuk proteinuria) sekali sehari.
9. Tidak perlu diberi obat-obatan.
10. Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis,
atau gagal ginjal akut.
11. Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan :
12. Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat.
13. Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan
janin, serta gejala dan tanda-tanda preeklampsia berat;
14. Jika tekanan diastolik naik lagi, rawat kembali.Jika tidak ada tanda-tanda
perbaikan, tetap dirawat. Lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan
janin.
15. Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan
terminasi kehamilan. Jika tidak rawat sampai aterm.
16. Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai PE berat.
b. Kehamilan lebih dari 37 minggu
1. Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan
oksitosin atau prostaglandin.
2. Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan
prostaglandin atau kateter Foley atau lakukan seksio sesarea.
2.8.3 Penatalaksanaan Preeklampsia Berat
a. Tujuannya : mencegah kejang, pengobatan hipertensi, pengelolaan cairan,
pelayanan suportif terhadap penyulit organ yang terlibat dan saat yang tepat
untuk persalinan. (Angsar MD, 2009; Saifuddin et al. 2002):
1. Tirah baring miring ke satu sisi (kiri).
2. Pengelolaan cairan, monitoring input dan output cairan.
3. Pemberian obat antikejang.
4. Diuretikum tidak diberikan secara rutin, kecuali bila ada edema paru-paru,
payah jantung. Diuretikum yang dipakai adalah furosemid.
5. Pemberian antihipertensi
6. Masih banyak perdebatan tentang penetuan batas (cut off) tekanan darah,
untuk pemberian antihipertensi. Misalnya Belfort mengusulkan cut off yang
dipakai adalah 160/110 mmHg dan MAP 126 mmHg. Di RSU Soetomo
Surabaya batas tekanan darah pemberian antihipertensi ialah apabila tekanan
sistolik 180 mmHg dan/atau tekanan diastolik 110 mmHg.
7. Pemberian glukokortikoid
8. Pemberian glukokortikoid untuk pematangan paru janin tidak merugikan ibu.
Diberikan pada kehamilan 32 34 minggu, 2 x 24 jam. Obat ini juga
diberikan pada sindrom HELLP.

2Rencana asuhan klien dengan Penyakit Kista Ovarium


2.1 Data Biografi
2.2 Riwayat Kesehatan
2.2.1 Keluhan Utama : biasanya klirn dengan preeklamsia mengeluh demam, sakit kepala,
2.2.2 Riwayat kesehatan sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri
epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur
2.2.3 Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial,
hipertensi kronik, DM
2.2.4 Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta
riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia sebelumnya
2.2.5 Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun
selingan
2.2.6 Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh
karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya
2.2.7 Riwayat Kehamilan
a. Riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan
dengan eklamsia sebelumnya.
2.2.8 Riwayat KB
Perlu ditanyakan pada ibu apakah pernah / tidak megikuti KB jika ibu pernah ikut
KB maka yang ditanyakan adalah jenis kontrasepsi, efek samping. Alasan
pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi) serta lamanya menggunakan
kontrasepsi.
2.3 Pola aktivitas sehari-hari
2.3.1 Aktivitas
a. Gejala
:
Biasanya pada pre eklamsi terjadi kelemahan, penambahan berat badan atau
penurunan BB, reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-.
b. Tanda:
Pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka
2.3.2 Sirkulasi
a. Gejala
:
Biasanya terjadi penurunan oksegen.
b. Abdomen
Gejala :
Inspeksi :
Biasanya Perut membuncit sesuai usia kehamilan aterm, apakah adanya sikatrik
bekas operasi atau tidak ( - )
Palpasi :
Leopold I :
Biasanya teraba fundus uteri 3 jari di bawah proc. Xyphoideus teraba massa
besar, lunak, noduler
Leopold II :
Teraba tahanan terbesar di sebelah kiri, bagian bagian kecil janin di sebelah
kanan.
Leopold III :
Biasanya teraba masa keras, terfiksir
Leopold IV :
Biasanya pada bagian terbawah janin telah masuk pintu atas panggul
Auskultasi :
Biasanya terdengar BJA 142 x/1 regular
2.3.3 Eliminasi
a. Gejala :
Biasanya proteinuria + 5 g/24 jam atau 3 pada tes celup, oliguria

2.3.4 Makanan / cairan


a. Gejala :
Biasanya terjadi peningkatan berat badan dan penurunan , muntah-muntah
Tanda :
Biasanya nyeri epigastrium,
2.3.5 Integritas ego
a. Gejala :
Perasaan takut.
b. Tanda :
Cemas.
2.3.6 Neurosensori
a. Gejala :
Biasanya terjadi hipertensi
b. Tanda :
Biasanya terjadi kejang atau koma
2.3.7 Nyeri / kenyamanan
a. Gejala :
Biasanya nyeri epigastrium, nyeri kepala, sakit kepala, ikterus, gangguan
penglihatan.
b. Tanda :
Biasanya klien gelisah,
2.3.8 Pernafasan
a. Gejala :
Biasanya terjadi suara nafas antara vesikuler, Rhonki, Whezing, sonor
b. Tanda :
Biasanya ada irama teratur atau tidak, apakah ada bising atau tidak.
2.3.9 Keamanan
Gejala :
Apakah adanya gangguan pengihatan, perdarahan spontan.
2.3.10Seksualitas
Gejala :
Status Obstetrikus

2.4 Pemeriksaan Fisik


2.4.1 Keadaan Umum :
2.4.2 Kesadaran :
2.4.3 Pemeriksaan Fisik (Persistem)
2.4.4 Sistem pernafasan
2.4.5 Sistem cardiovaskuler
a. Inspeksi :
Apakah Adanya sianosis, kulit pucat, konjungtiva anemis.
b. Palpasi :
Tekanan darah :
Nadi :
Leher :
Apakah ada bendungan atau tidak pada Pemeriksaan Vena Jugularis, jika ada
bendungan menandakan bahwa jantung ibu mengalami gangguan. Edema
periorbital yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam Suhu dingin
c. Auskultasi :
Untuk mendengarkan detak jantung janin untuk mengetahui adanya fotal
distress, bunyi jantung janin yang tidak teratur gerakan janin melemah.
2.4.6 System reproduksi
a. Dada

Payudara : Dikaji apakah ada massa abnormal, nyeri tekan pada payudara.
b. Genetalia
Inspeksi : adakah pengeluaran pervaginam berupa lendir bercampur darah,
adakah pembesaran kelenjar bartholini / tidak.
c. Abdomen
Palpasi : untuk mengetahui tinggi fundus uteri, letak janin, lokasi edema, periksa
bagian uterus biasanya terdapat kontraksi uterus
2.4.7 Sistem integument perkemihan
a. Periksa vitting udem biasanya terdapat edema pada ekstermitas akibat gangguan
filtrasi glomelurus yang meretensi garam dan natrium, (Fungsi ginjal menurun).
b. Oliguria
c. Proteinuria
2.4.8 Sistem persarafan
a. Biasanya hiperrefleksi, klonus pada kaki
2.4.9 Sistem Pencernaan
a. Palpasi : Abdomen adanya nyeri tekan daerah epigastrium (kuadran II kiri atas),
anoreksia, mual dan muntah.
2.5 Pemeriksaan penunjang
2.5.1 Darah lengkap
2.5.2 Serum elektrolit
2.5.3 Sumber lain mengatakan Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur
2 kali dengan interval 6 jam. Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream
( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar
hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya >
7 mg/100 ml ( Suyono, 2002).
2.5.4 Berat
badan
:
peningkatannya
lebih
dari
1
kg/minggu
Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak
USG
;
untuk
mengetahui
keadaan
janin
NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin ( Surjadi, 1999).
3. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
3.1 Diagnosa 1: Nyeri Akut berhubungan dengan agen cedera fisik
Definisi: Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul
secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan
(Asosiasi Studi Nyeri Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari
ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan
dengan durasi kurang dari 6 bulan.
3.1.1 Batasan karakteristik
Laporan secara verbal atau non verbal
Fakta dari observasi
Posisi antalgic untuk menghindari nyeri
Gerakan melindungi
Tingkah laku berhati-hati
Muka topeng
Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri sendiri
Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir,
penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau
aktivitas, aktivitas berulang-ulang)
Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan

nafas, nadi dan dilatasi pupil)


Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke
kaku)
Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh kesah)
Perubahan dalam nafsu makan dan minum
3.1.2 Faktor yang berhubungan
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)
3.2 Diagnosa 2: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan Ketidakmampuan dalam memasukkan/mencerna makanan karena faktor
biologi.
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi metabolik
3.2.1 Batasan Karakteristik
Berat badan 20% atau lebih dibawah reantang berat badan ideal
Bising usus hperaktif
Diare
Gangguan sensasi rasa
Kehilangan rambut berlebihan
Cepat kenyang setelah makan
Kelemahan otot penguyah
3.2.2 Faktor yang Berhubungan
Faktor biologis
Faktor ekenomi
Gangguan psikologis
Ketidakmampuan makan
Kurang asupan makanan
Ketidakmampuan mencerna makanan
3.3 Diagnosa 3: Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons otonom.
3.3.1 Batasan Karakteristik
Agitas
Gelisah
Insomnia
Distres
Gelisah
Gugup
Gemetar
Tremor
Suara bergetar
3.3.2 Faktor yang berhubungan
Ancaman kematian
Hereditas
Hubungan intrapersonal
Konflik nilai
Krisis sosial
Krisis situasi
Perubahan status kesehatan
3.4 Perencanaan
Diagnosa 1: Nyeri Akut berhubungan dengan agen cedera fisik

3.4.1 Tujuan dan Kriteria hasil:


Setelah dilakukan perawatan tidak terjadi nyeri atau ibu dapat mengantisipasi
nyerinya
Kriteria Hasil
Ibu mengerti penyebab nyerinya
Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya
Intervensi
1. Kaji tingkat intensitas nyeri pasien

1.

2. Jelaskan penyebab nyerinya

2.

3. Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan


3.
nafas dalam bila HIS timbul

4. Bantu ibu dengan mengusap/massage pada4.


bagian yang nyeri

Rasional
Ambang nyeri setiap orang berbeda ,dengan
demikian akan dapat menentukan tindakan
perawatan yang sesuai dengan respon pasien
terhadap nyerinya.
Ibu dapat memahami penyebab nyerinya
sehingga bisa kooperatif
Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi
, terjadi vasodilatasi pembuluh darah, expansi
paru optimal sehingga kebutuhan 02 pada
jaringan terpenuhi
Untuk mengalihkan perhatian pasien

Diagnosa 2: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan Ketidakmampuan dalam memasukkan/mencerna makanan karena faktor biologi.
3.4.2 Tujuan dan kriteria hasil
Setelah dilakukan perawatan nafsu makan meningkat atu normal
Kriteria hasil
BB meningkat atau normal
Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi
Kekuatan menggenggan
Intervensi
1. Kaji adanya alergi makanan

1.

Rasional
Untuk mengetahui apakah pasien ada alergi
makanan

2. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake


2.
Fe
3.

Intake fe dapat meningkatkan kekuatan tulang


substansi gula dapat meningkatkan energi pasien

3. Berikan substansi gula

Untuk memenuhi status gizi pasien

4.

4. Berikan makanan yang terpilih


dikonsultasikan dengan ahli gizi)

(sudah
5.

5.

Catatan harian makanan dapat mengetahui


asupan nutrisi pasien

5. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan


makanan harian

Diagnosa 3: Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan


3.4.3 Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
Ibu tampak tenang
Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan
Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang
Intervensi
1. Tingkat kecemasan ibu

1.

2. Jelaskan mekanisme proses persalinan2.

Rasional
Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi
dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat
diperlukan tindakan medikamentosa
Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan

dapat mengurangi emosional ibu yang maladaptive.


3.
3. Gali dan tingkatkan mekanisme
koping ibu yang efektif
4. Beri support system pada ibu

Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping


yang dimiliki ibu efektif
4.

Ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi


keadaan yang sekarang secara lapang dada asehingga
dapat membawa ketenangan hati

4 Daftar Pustaka
Chapman, Vicky. (2006). Asuhan Kebidanan Persalinan & Kelahiran.Jakarta :EGC
Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI. (2006). Pedoman Pengelolaan Hipertensi dalam
Kehamilan di Indonesia, edisi (2). Kelompok Kerja Penyusun
Manuaba, Ida Bagus Gede. (2010). Ilmu Penyakit Kandungan dan KB.Jakarta :EGC
Manjoer, Arif, dkk. (2009). Kapita Selekta Edisi Ketiga Jilid Ketiga.Jakarta : Media
Aesculapius
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Ed rev, Jakarta: Rineka Cipta
Prawirohardjo, S. (2008). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.Jakarta : YBP
Prawirohardjo, S. (2008).Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP
Robert J. M.(2007). Carl A Hubel Oxydative Stress in Preeclampsia. AJOG, 190: 117 8
Sofoewan S.(2007). Preeklampsia Eklampsia di Beberapa Rumah Sakit di Indonesia,
patogen. Dasar Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran danKesehatan esis, dan
kemungkinan pencegahannya. MOGI, 27; 141 151.
Syaifudin.(2006). Anatomi Fisiologi.EGC. Jakarta.
Yusmardi.(2010). Perbandingan Kadar Asam Folat Serum MaternalPreeklampsia Berat
dengan Kehamilan Normal. Tesis Bagian Obgyn FK USU : RSUP Haji Adam Malik

Banjarmasin, ...........................2016

Preseptor akademik,

Preseptor klinik,

(................................................................
.)

(................................................................
.)