Anda di halaman 1dari 24

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kurang Energi Kronis


Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil adalah kekurangan gizi pada ibu
hamil yang berlangsung lama (beberapa bulan atau tahun) (Departemen Kesehatan
RI, 1999). Menurut Depkes RI (1994) pengukuran LILA pada kelompok wanita
usia subur adalah salah satu cara untuk mendeteksi dini yang mudah dan dapat
dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok berisiko
Kekurangan Energi Kronis (KEK). Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK)
adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita
KEK ( Arismas,2009). Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan
dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut : a.Berat badan ibu
sebelum hamil < 42 kg. b.Tinggi badan ibu < 145 cm. c.Berat badan ibu pada
kehamilan trimester III < 45 kg. d.Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil <
17,00 e.Ibu menderita anemia (Hb < 10 gr %) (Weni, 2010).
2.1.1 Pengukuran Status Gizi
2.1.1.1 Pengukuran LILA
Ada beberapa cara untuk dapat digunakan untuk mengetahui status
gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama
hamil, mengukur LILA, mengukur kadar Hb. Bentuk adan ukuran
masa jaringan adala masa tubuh. Contoh ukuran masa jaringan adala
LILA, berat badan, dan tebal lemak. Apabila ukuran ini rendah atau
kecil, menunjukan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan

protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Pertambahan


otot dan lemak di lengan berlangsung cepat selama tahun pertama
kehidupan (Arisman,2009).
Lingkaran Lengan Atas (LILA) mencerminkan tumbuh kembang
jaringan lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan
tubuh. Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein yang
biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil dengan
resiko melahirkan BBLR bila LILA < 23,5 cm (Wirjatmadi B, 2007).
Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang
menderita Kurang Energi Kronis. Ambang batas LILA WUS dengan
risiko KEK di Indonesia adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari
23.5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut
mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi
lahir rendah ( Arisman, 2007)
a.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalan pengukuran LILA
1. Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku
lengan kiri.
2. Lengan harus dalam posisi bebas.
3. Lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau
kencang.
4. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau
sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya tidak rata (Arisman,
2007).

b.Cara Mengukur LILA


1. Tetapkan posisi bahu dan siku
2. Letakkan pita antara bahu dan siku.
3. Tentukan titik tengah lengan.
4. Lingkaran pita LILA pada tengah lengan.
5. Pita jangan telalu ketat.
6. Pita jangan terlalu longgar.
7. Cara pembacaan skala yang benar. (Arisman, 2007)
2.1.1.2 Pengukuran Berat Badan
Berat badan merupakan ukuran antropometris yang paling banyak
digunakan karena parameter ini mudah dimengerti sekalipun oleh
mereka yang buta huruf ( Arisma, 2009). Berat badan adalah satu
parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh
sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan yang mendadak,
misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunya nafsu makan
atau menurunnya jumlah makan yang dikonsumsi. Pada prinsipnya
ada dua macam timbangan yaitu beam (lever)balance scales dan
spring scale. Contoh beam balance ialah dancing, dan spring scale
adalah timbangan pegas. Karena pegas mudah melar timbangan jenis
spring scsle tidak dianjurkan untuk digunakan berulang kali, apalagi
pada lingkungan yang bersuhu panas.
Berat badan ideal ibu hamil sebenarnya tidak ada rumusnya, tetapi
rumusannya bisa dibuat yaitu dengan dasar penambahan berat ibu
hamil tiap minggunya yang dikemukakan oleh para ahli berkisar

antara 350-400 gram, kemudian berat badan yang ideal untuk


seseorang agar dapat menopang beraktifitas normal yaitu dengan
melihat berat badan yang sesuai dengan tinggi badan sebelum hamil,
serta umur kehamilan sehingga rumusnya dapat dibuat. Dengan
berbekal

beberapa

rumus

ideal

tentang

berat

badan,

dapat

kembangkan menjadi rumus berat badan ideal untuk ibu hamil yaitu
sebagai berikut : Dimana penjelasannya adalah BBIH adalah Berat
Badan Ideal Ibu Hamil yang akan dicari. BBI = ( TB 110) jika TB
diatas 160 cm (TB 105 ) jika TB dibawah 160 cm. Berat badan ideal
ini merupakan pengembangan dari (TB-100) oleh Broca untuk orang
Eropa dan disesuaikan oleh Katsura untuk orang Indonesia. UH adalah
Umur kehamilan dalam minggu. Diambil perminggu agar kontrol
faktor resiko penambahan berat badan dapat dengan dini diketahui.
0.35 adalah Tambahan berat badan kg per minggunya 350-400 gram
diambil nilai terendah 350 gram atau 0.35 kg . Dasarnya diambil nilai
terendah adalah penambahan berat badan lebih ditekankan pada
kualitas (mutu) bukan pada kuantitas (banyaknya) (Supriasa, 2002).
2.1.1.3 Pengukuran Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan
yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui
dengan tepat. Disamping itu tinggi badan merupakan ukuran kedua
yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap
tinggi badan , faktor umur dapat dikesampingkan. Ibu hamil pertama
sangat membutuhkan perhatian khusus.

Pengukuran tinggi badan bermaksud untuk menjadikanya sebagai


bahan menentukan status gizi. Status gizi yang ditentukan dengan
tinggi badan tergolong untuk mengukur pertumbuhan linier.
Pertumbuhan linier adalah pertumbuhan tulang rangka, terutama
rangka extrimitas (tungai dan lengan). Untuk tinggi badan peranan
tungkai yang dominan. Pengukuran tinggu badan orang dewasa, atau
yang sudah bisa berdiri digunakan alat microtoise (baca: mikrotoa)
dengan skala maksimal 2 meter dengan ketelitian 0,1 cm. Apabila
tidak tersedia mikrotoise dapat digunakan pita fibreglas (pita tukang
jahit pakaian) dengan bantuan papan data dan tegak lurus dengan
lantai. Pengukuran dengan pita fibreglass seperti ini harus menggukan
alat bantu siku-siku. Persyaratan tempat pemasangan alat adalah
didinding harus datar dan rata dan tegak lurus dengan lantai. Dinding
yang memiliki banduk di bagian bawah (bisanya pada lantai keramik)
tidak bisa digunakan. Hal yang harus diperhatikan saat pemasangan
mikrotoise adalah saat sudah terpasang dan direntang maksimal ke
lantai harus terbaca pada skala 0 cm.
A.Cara Pengukuran Berdiri membelakangi dinding dimana
microtoie terpasang dengan posisi siap santai (bukan siap militer),
tangan disamping badan terkulai lemas, tumit, betis, pantat, tulang
belikat dan kepala menempel di dinding. Pandangan lurus ke depan.
Sebagai pegukur harus diperiksa ketentuan ini sebelum membaca hasil
pengukuran. Tarik microtiose ke bawah sampai menempel ke kepala.
Bagi terukur yang berjilbab agak sedikit ditekan agar pengaruh jilbab

10

bisa diminimalisir. Untuk terukur yang memakai sanggul harus


ditanggalkan lebih dahulu atau digeser ke bagia kiri kepala. Saat
pengkuran, sandal, dan topi harus dilepas. Baca hasil ukur pada posisi
tegak lurus dengan mata (sudut pandang mata dan skala microtoise
harus sudut 90 derajat). Apabila terukur lebuh tinggi dari Pengukur,
maka pengukur harus menggunakan alat peningi agar posisi baca
tegak lurus. Bacaan pada ketelitian 0,1 cm, artinya apabila tinggi
terukur 160 cm, harus ditulis 160,0 cm (koma nol harus ditulis).
Tinggi badan kurang dari 145 cm atau kurang merupakan salah satu
risti pada ibu hamil. Luas panggul ibu dan besar kepala janin mungkin
tidak proporsional, dalam hal ini ada dua kemungkinan yang terjadi:
a. Panggul ibu sebagai jalan lahir ternyata sempit dengan janin/kepala
tidak besar.
b. Panggul ukuran normal tetapi anaknya besar/kepala besar. Pada
kedua kemungkinan itu, bayi tidak dapat lahir melalui jalan lahir
biasa, dan membutuhkan operasi Sesar.
2.1.1.4 Indeks Masa Tumbuh
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia
18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain
mempunyai

resiko

penyakit-penyakit

tertentu,

juga

dapat

mempengarui produktif kerja. Laporan FAO /WHO/UNU tahun 1985


menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa
ditentukan oleh Body Mass Index (BMI).

11

Di Indonesia istilah Body Mass Index diterjemahkan menjadi


Indekx Masa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sederhana untuk
memantau status gizi orang dewasa khusunya yang berkaitan dengan
kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat
badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan
hidup lebih panjang. Berat badan dilihat dari Quatelet atau Body Mass
Index (IMT). Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering
dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat badan lahir
rendah. Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau
terjadi kesulitan dalam persalinan. Indeks massa tubuh (IMT)
merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh
orang dewasa (Arisman, 2009).
Penilaian

Indeks

Masa

Tumbuh

diperoleh

dengan

memperhitungkan berat badan sebelum hamil dalam kilogram dibagi


tinggi badan dalam meter kuadrat (Yuni, 2009). Rumus ini hanya
cocok diterapkan pada mereka yang berusia antara 19-70 tahun,
berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet atau binaragawan.
Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan IMT
Status Gizi
KKP I
KKP II
KKP III
Normal
Obesitas I
Obesitas II
Obesitas III
(Arisman, 2009)

IMT
< 16
16,0 -16,9
17,0 - 18,4
18,5 - < 25
25 - 29,9
30 40
>40

12

2.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kurang Energi Kronis Pada


Ibu Hamil
2.1.2.1 Faktor Sosial Ekonomi
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan
seseorang adalah tingkat sosial ekonomi (FKM UI, 2007). Ekonomi
seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan
dikonsumsi sehari-harinya. Seseorang dengan ekonomi yang tinggi
kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gzi yang dibutuhan
tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu hamil
semakin terpantau (Weni, 2010). Sosial ekonomi merupakan
gambaran tingkat kehidupan seseorang dalam masyarakat yang
ditentukan dengan variabel pendapatan, pendidikan dan pekerjaan,
karena

ini

dapat

mempengaruhi

aspek

kehidupan

termasuk

pemeliharaan kesehatan (Notoatmodjo, 2006).


2.1.2.2 Pendidikan
Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan
diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah
kepada terbentuknya kepribadian peserta didik (Umar, 2005). Faktor
pendidikan mempengaruhi pola makan ibu hamil, tingkat pendidikan
yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan atau informasi tentang gizi
yang dimiliki lebih baik sehingga bisa memenuhi asupan gizinya
(FKM UI, 2007).
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia

13

melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan ibu adalah


pendidikan formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai
ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi
dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam
masing-masing klasifikasi (Depdikbud, 1997).
2.1.2.3 Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu perbuatan atau melakukan sesuatu yang
dilakukan untuk mencari nafkah guna untuk kehidupan (Kamus Besar
Indonesia, 2008). Ibu yang sedang hamil harus mengurangi beban
kerja yang terlalu berat karena akan memberikan dampak kurang baik
terhadap kehamilannya (FKM UI, 2007). Kemampuan bekerja selama
hamil dapat dipengaruhi oleh peningkatan berat badan dan perubahan
sikap (Benson Ralph C, 2008). Kriteria pekerjaan dapat dibedakan
menjadi buruh/pegawai tidak tetap, swasta, PNS/ABRI, tidak
bekerja/ibu rumah tangga (Nursalam, 2001). Resiko-resiko yang
berhubungan dengan pekerjaan selama kehamilan termasuk :
1.

Berdiri lebih dari 3 jam sehari.

2.

Bekerja pada mesin pabrik terutama jika terjadi banyak getaran


atau

membutuhkan

upaya

yang

besar

untuk

mengoperasikannya.
3.

Tugas-tugas fisik yang melelahkan seperti mengangkat,


mendorong dan membersihkan.

4.

Jam kerja yang panjang (Curtis Glade B, 1999 ).

14

2.1.2.4 Pendapatan
Penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain
maupun pihak sendiri dari pekerjan atau aktivitas yang kita lakukan
dan dengan dinilai sebuah uang atas harga yang berlaku pada saat ini.
Pendapatan seorang dapat dikatakan meningkat apabila kebutuhan
pokok seorangpun akan meningkat. Suatu kegiatan yang dilakukan
untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak
ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang
mengatur.
Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain
tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan
makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan sumber daya lahan dan
pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar
akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama
untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Tingkat
pendapatan dapat menentukan pola makan. Pendapatan merupakan
faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan.
Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang
diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar
pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah,
sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya (FKM UI, 2007).
2.1.2.5 Faktor Jarak Kelahiran
Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2
tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat

15

mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak
akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya
lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun.
Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas
janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu
tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri
(ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan
setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka
akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang
dikandung (Baliwati, 2006).
Berbagai penelitian membuktikan bahwa status gizi ibu hamil
belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan sebelumnya, oleh
karena itu belum siap untuk kehamilan berikutnya (FKM UI, 2007).
Selain itu kesehatan fisik dan rahim ibu yang masih menyusui
sehingga dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil. Ibu hamil dengan
persalinan terakhir 10 tahun yang lalu seolah-olah menghadapi
kehamilan atau persalinan yang pertama lagi. Umur ibu biasanya lebih
bertambah tua. Apabila asupan gizi ibu tidak terpenuhi maka dapat
mempengaruhi KEK pada ibu hamil. Kriteria jarak kelahiran dibagi
menjadi 2, yaitu :
1. Resiko rendah ( 2 tahun sampai < 10 tahun).
2. Resiko tinggi (< 2 tahun atau 10 tahun) (Rochjati P, 2003)

16

2.1.2.6 Faktor Paritas


Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan
dengan jumlah anak yang dilahirkan. Paritas juga merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas
merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi.
Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali
atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui keadaan :
1.

Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.

2.

Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.

Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :


1.

Paritas rendah (< 4x kelahiran).

2.

Paritas tinggi ( 4x kelahiran).

2.1.2.7 Pengetahuan Tentang Gizi Ibu Hamil


KEK pada ibu hamil dipengaruhi oleh pengetahuan ibu tentang
jumlah makanan dan pengetahuan tentang anggota keluarga yang
diprioritaskan untuk memperoleh makanan. Status gizi ibu hamil
dipengaruhi oleh pengetahuan ibu. KEK dipengaruhi oleh jumlah
konsumsi energi protein yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Gizi Ibu
hamil hendaknya diketahui oleh ibu hamil agar mereka mengerti
kebutuhan gizi apa saja yang harus dipenuhi selama kehamilannya.
Begitu pula dengan kebutuhan zat besi dan asam folat yang baik untuk
perkembangan janin. Zat besi dapat diperoleh dengan memeriksakan
kehamilannya ke pelayanan kesehatan dengan pemberian Tablet
Tambah Darah yang harus dikonsumsi sekali setiap harinya.

17

2.2 Anemia Pada Ibu Hamil


2.2.1 Definisi Anemia
Anemia adalah tingkat kekurangan zat besi yang paling berat dan
terjadi bila konsentrasi hemoglobin (Hb) jauh dibawah ambang batas yang
ditentukan. Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar (Hb) dalam darahnya
kurang dari 12 gr%. Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu
dengan kadar Hb di bawah 10 gr% pada trimester I dan trimester II (Hyder,
2002)
Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat
gizi, jenis pengobatannya relatif mudah bahkan murah. Kurangnya zat besi
(Fe) dalam tubuh pada ibu hamil karena perdarahan menahun atau berulang
di semua bagian tubuh. Faktor resiko defisiensi zat besi (Fe) terjadi pada ibu
hamil karena cadangan besi dalam tubuh lebih sedikit sedangkan
kebutuhannya lebih tinggi yaitu antara 1-2 mg zat besi (Fe) secara normal
(Puspasari, 2008).
2.2.2 Klasifikasi anemia dalam kehamilan
Menurut Mochtar (1998) klasifikasi anemia dalam kehamilan adalah
sebagai berikut:
a. Anemia defisiensi besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah. Pengobatannya yaitu bagi wanita hamil, tidak hamil dan dalam
laktasi yang memerlukan asupan zat besi dianjurkan untuk diberikan
tablet besi. Untuk menegakkan diagnosa anemia defisiensi besi dapat

18

dilakukan dengan anamnesa. Kebutuhan zat besi pada wanita hamil


yaitu rata-rata mendekati 800 mg.
b. Anemia megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam
folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B 12.
c. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang,
membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan
pemeriksaan diantaranya darah tepi lengkap, pemeriksaan fungsi
ekternal dan pemeriksaan retikulasi.
d. Anemia hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan oleh penghancuran atau
pemecahan sel darah merah yang lebih cepat pembuatannya. Gejala
utama dengan kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan serta
gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
2.2.3 Kebutuhan zat besi pada ibu hamil
a. Zat besi
Zat besi merupakan bagian dari molekul hemoglobin, ketika tubuh
kekurangan zat besi (Fe), produksi hemoglobin akan menurun.
Penurunan hemoglobin sebetulnya akan terjadi jika cadangan zat besi
(Fe) dalam tubuh sudah benar-benar habis. Kebutuhan zat besi (Fe)
pada ibu hamil terjadi peningkatan, dimana asupan kurang atau
rendah, sehingga tidak mencukupi tingkat yang dibutuhkan yang
menimbulkan anemia (Thirukkanesh, 2010).

19

Kebutuhan Fe pada ibu hamil yaitu dianjurkan kombinasi 60 mg


besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Depkes
RI, 2002). Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata
mendekati 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari sekitar 300 mg
diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan
untuk meningkatkan massa maternal. Selama kehamilan dengan
perhitungan 288 hari ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak
100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita
hamil (Hasanah, 2007; Simon, 1995)
Faktor resiko terjadinya anemia akibat dari kekurangan zat besi
(Fe) lebih banyak pada wanita dibandingkan laki-laki. Cadangan besi
dalam tubuh wanita lebih sedikit sedangkan kebutuhan per harinya
justru lebih tinggi. Seorang wanita dalam sehari akan kehilangan
sekitar 1-2 mg zat besi melalui ekskresi secara normal. Pada saat haid,
kehilangan zat besi bisa bertambah hingga 1 mg (Hyder, 2002).
b. Mengkonsumsi tablet zat besi (Fe)
Tablet

zat

besi

(Fe)

adalah

tablet

untuk

suplementasi

penanggulangan anemia gizi yang setiap tablet mengandung fero


sulfat 200 mg atau setara 60 mg besi elemental dan 0.25 mg asam
folat. Pelayanan pada ibu hamil baik pada K1 maupun K4 ibu hamil
akan dibekali dengan tablet zat besi (Puspasari, 2008).
Konsumsi suplemen zat besi (Fe) sebaiknya dilakukan secara hatihati sesuai dengan dosis yang dianjurkan, karena asupan zat besi (Fe)
secara berlebihan tidak dibenarkan tetapi dapat menimbulkan

20

gangguan kesehatan. Mengkonsumsi suplemen zat besi (Fe) dapat


menimbulkan mual, nyeri lambung, konstipasi, ataupun diare sebagai
efek sampingnya. Untuk mengatasinya dengan mengkonsumsi
setengah dosis yang ditingkatkan secara berlahan-lahan sampai
mencapai dosis yang dianjurkan (Purwaningsih, 2006).
2.2.4 Efek anemia pada ibu hamil
a. Efek anemia pada ibu hamil yaitu sebagai berikut :
1) Trimester I : anemia dapat mengakibatkan abortus, missed
abortus dan kelainan kongenital
2) Trimester II : mengakibatkan persalinan prematur, perdarahan
antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia
aintrauterin sampai kematian, berat badan bayi lahir rendah,
gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa
mengakibatkan kematian.
3) Trimester III : merupakan saat inpartu anemia dapat
menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder. Janin
akan lahir dengan anemia dan persalinan dengan tindakan yang
disebabkan karena ibu cepat lelah. Setelah post partum anemia
dapat menyebabkan atonia uteri, tensio placenta, perlukaan
sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpurolis dan gangguan
involusio uteri.
b. Akibat kekurangan zat besi (Fe) Pada ibu hamil yaitu sebagai
berikut :

21

1) Anemia Gizi
Anemia gizi adalah kekurangan kadar (Hb) dalam darah
yang disebabkan karena kekurangan zat besi yang (Fe) diperlukan
untuk pembentukan haemoglobin. Sebagian besar anemia terjadi
pada ibu hamil karena kekurangan zat besi (Fe) yang disebut
anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi (Muryanti,
2006).
Anemia gizi besi dapat terjadi karena kandungan zat besi
(Fe) yang berasal dari makanan yang dikonsumsi ibu hamil tidak
mencukupi kebutuhan dimana makanan yang kaya akan kandungan
zat besi (Fe) seperti makanan sumber hewani (daging, ikan) serta
makanan yang mengandung sumber nabati (sayuran hijau), serta
meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi (Fe) yaitu pada masa
hamil. Kebutuhan zat besi (Fe) meningkat karena zat besi (Fe)
diperlukan untuk pertumbuhan janin serta untuk kebutuhan ibu
sendiri (Hyder, 2002).
2) Anemia defisiensi zat besi (Fe)
Anemia defisiensi zat besi (Fe) merupakan anemia yang
terjadi karena kebutuhan zat besi (Fe) untuk erithopoetic tidak
cukup, biasanya ditandai dengan eritrosit mikrositik, kadar besi
serum rendah, satu rasi transferin mengurang dan tidak adanya zat
besi (Fe) pada sumsum tulang dan tempat cadangan zat besi (Fe)
yang lain. Pemeriksaan dan pengawasan haemoglobin dapat
dilakukan dengan menggunakan alat Sahli. Berkurangnya kadar

22

haemoglobin pada wanita hamil menurut WHO adalah, normal (11


gr%), anemia ringan (10-11 gr%), anemia sedang (7-0 gr%),
anemia berat (<7 gr%) (Hyder, 2002).
Pada ibu hamil jika terjadi anemia defisiensi zat besi (Fe)
dapat menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan,
meningkatnya risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR <2,5 kg). Pada anemia berat, bahkan dapat
menyebabkan kematian ibu atau bayinya, untuk itu dibutuhkan
suatu penangganan defisiensi zat besi (Fe) melalui pencegahan
dengan memberikan tablet zat besi (Fe) pada ibu hamil yang
dibagikan pada waktu memeriksakan kehamilan, dimana suplemen
tablet besi (Fe) merupakan salah satu cara yang paling efektif
meningkatkan kadar zat besi (Fe) dalam jangka pendek (Hyder,
2002).
2.2.5 Kadar Hemoglobin
a. Pengertian
Hemoglobin adalah protein majemuk yang tersusun atas protein
sederhana yaitu globin dan radikal prostetik yang berwarna, yang
disebut heme. Protein ini terdapat dalam butir-butir darah merah dan
dapat dipisahkan daripadanya dengan cara pemusingan. Berat
molekulnya yang ditentukan dengan ultrasentrifuge sebesar 68.000,
merupakan protein pertama yang diperoleh dalam bentuk hablur
(Hyder, 2002). Hemoglobin merupakan protein pembawa oksigen
dalam darah. Tiap liter darah mengandung kira-kira 150 gr

23

hemoglobin. Kadar hemoglobin adalah jumlah K3Fe (CN)6 akan


diubah menjadi methemoglobin yang kemudian diubah menjadi
hemoglobin sianida (HiCN) oleh KCN dengan batas ambang berat
bila Hb < 8 gr/dl, anemia ringan jika Hb > 8 11 gr/dl dan normal
pada ibu hamil Hb > 11 gr/dl (Hyder, 2002).
Kadar hemoglobin pada darah dikatakan anemia apabila kadar Hb
dasar pada pria <13 gr/%, wanita < 12 gr/% dan pada ibu hamil < 11
gr/%. Gangguan medis yang paling umum ditemui pada masa hamil,
mempengaruhi sekurang kurangnya 20% wanita hamil. Wanita
hamil memiliki insiden komplikasi puerperal yang lebih tinggi, dari
pada wanita hamil dengan nilai hematology normal. Dikatakan anemia
bila kadar Hb pada wanita hamil trimester I < 11 gr/dl, trimester II <
10,5 gr/dl dan trimester III < 10 gr/dl (Hasanah, 2007).
Kadar Hb ibu hamil terjadi jika produksi sel darah merah
meningkat, nilai normal hemoglobin (12 sampai 16 gr/%) dan nilai
normal hematokrit (37% sampai 47%) menurun secara menyolok.
Penurunan lebih jelas terlihat selama trimester kedua, saat terjadi
ekspansi volume darah yang cepat. Apabila nilai hematokrit turun
sampai 35% atau lebih, wanita dalam keadaan anemia (Hasanah,
2007).
Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak
kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam
kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Dari kehamilan 8 minggu sampai
40 hari postpartum, kadar Hb, jumlah eritrosit dan nilai hematokrit,

24

ketiganya turun sehingga kehamilan sampai 7 hari postpartum. Setelah


itu ketiga nilai meningkat pada dan pada 40 hari postpartum mencapai
angka yang kira-kira sama dengan diluar kehamilan. Batas terendah
untuk kadar Hb dalam kehamilan nilai 10 gr/dl, bila kurang dari itu
disebut anemia dalam kehamilan. Menurut klasifikasi WHO kadar Hb
untuk ibu hamil ditetapkan menjadi tiga kategori yaitu Normal (> 11
gr/%), anemia ringan (8-11 gr/%) dan anemia berat (< 8 gr/% )
(Gaventa, 2001).
2.2.6 Mengukur kadar Hb
Untuk mengetahui status gizi ibu hamil dengan mengukur kadar Hb
dalam darahnya, bila kurang dari 11 gr% maka ibu hamil tergolong anemia.
Hal ini juga menyebabkan gangguan nutrisi yang salah satunya berakibat
berat bayi yang dilahirkan kurang dari normal. Pada pemeriksaan dan
pengawasan haemoglobin dapat dilakukan dengan mengunakan metode
sachli yang dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan
trimester III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan
sebagai berikut (Manuaba, 2001) : a) Hb 11 gr% : tidak anemia, b) Hb 910gr% : anemia ringan, c) Hb < 9 gr%.: anemia Hb < 7 gr%.
2.2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu
hamil
2.2.7.1 Umur
Umur adalah usia ibu yang secara garis besar menjadi indikator
dalam kedewasaan dalam setiap pengambilan keputusan yang
mengacu pada setiap pengalamannya. Umur sangat berpengaruh pada

25

kepatuhan ibu mengkonsumsi tablet Fe (zat besi), dimana semakin


muda umur yang ibu hamil maka dapat menyebabkan ketidaksiapan
ibu dalam menerima sebuah kehamilan yang berdampak pada
terjadinya gangguan selama kehamilan misalnya akan terjadi anemia
(Depkes RI, 2001).
Usia seorang perempuan dapat mempengaruhi emosi selama
kehamilannya. Usia antara 20-30 tahun merupakan periode yang
paling aman untuk melahirkan. Sebab pada usia tersebut fungsi alat
reproduksi dalam keadaan optimal. Sedangkan pada umur kurang dari
20 tahun kondisi masih dalam pertumbuhan, sehingga masukan
makanan banyak dipakai untuk ibu yang mengakibatkan gangguan
pertumbuhan janin. Di negara berkembang sekitar 10-20% bayi
dilahirkan dari ibu dengan usia remaja (Depkes RI, 2001).
2.2.7.2 Pendidikan
Tingkat rendahnya pendidikan erat kaitannya dengan tingkat
pengertian tentang zat besi (Fe) serta kesadarannya terhadap konsumsi
tablet zat besi (Fe) untuk ibu hamil. Keadaan defisiensi zat besi (Fe)
pada ibu hamil sangat ditentukan oleh banyak faktor antara lain
tingkat pendidikan ibu hamil. Tingkat pendidikan ibu hamil yang
rendah mempengaruhi penerimaan informasi sehingga pengetahuan
tentang zat besi (Fe) menjadi terbatas dan berdampak pada terjadinya
defisiensi zat besi (Grossman, 1999).

26

2.2.7.3 Pekerjaan
Banyak ibu-ibu bekerja mencari nafkah, baik untuk kepentingan
sendiri maupun keluarga. Faktor bekerja saja nampak belum berperan
sebagai timbulnya suatu masalah pada ibu hamil, tetapi kondisi kerja
yang menonjol, aktifitas yang berlebih dan kurangnya istirahat saat
bekerja berpengaruh pada kurangnya zat besi. Selain itu penyediaan
makanan dari perusahaan tempat ibu hamil bekerja yang tidak sesuai
dengan kebutuhan gizi ibu hamil akan berisiko kekurangan anemia
gizi, jika hal ini terjadi dalam waktu panjang (Grossman, 1999).
2.2.7.4 Pendapatan
Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas
maupun kualitas makanan sehingga ada hubungan yang erat antara
pendapatan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi (Fe) pada
ibu hamil. Pendapatan yang kurang dapat mempengaruhi daya beli ibu
hamil dalam membeli bahan makanan yang dibutuhkan selama
kehamilan, Hal ini berdampak pada asupan makan yang kurang dan
berisiko terjadinya anemia gizi selama kehamilan (Simonn, 1995).
2.2.7.5 Pengetahuan Ibu Hamil
Pengetahuan merupakan hasil dari akibat proses penginderaan
terhadap suatu obyek baik meliputi penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang atau
terbentuknya praktek. Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata

27

perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari


pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui wawancara
dengan alat bantu kuisioner yang menanyakan tentang isi materi yang
ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman
pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita
sesuaikan dengan tingkatan (Puspasari, 2008).
2.2.7.6 Paritas
Salah satu yang mempengaruhi anemia adalah jumlah anak dan
jarak antara kelahiran yang pendek. Di Negara yang sedang
berkembang terutama didaerah pedesaan, ibu-ibu yang berasal dari
tingkat sosial ekonomi yang rendah dengan jumlah anak yang banyak
dan jarak kehamilan pendek serta masih menyusui untuk waktu yang
panjang tanpa memperhatikan gizi saat laktasi akan sangat berbahaya
bagi kelangsungan hidup anak dan sering menimbulkan anemia pada
ibu hamil (Gaventa, 2001).
Jumlah anak yang dilahirkan wanita selama hidupnya sangat
mempengaruhi kesehatan. Kelahiran yang pertama disertai bahaya
komplikasi yang agak tinggi atau kematian ibu dan anak dibandingkan
dengan kelahiran yang kedua atau ketiga, terutama karena kelahiran
pertama menunjukan kelemahan-kelemahan fisik atau ketidak
normalan keturunan ibu. Kelahiran kedua atau ketiga pada umumnya
lebih aman dari pada kelahiran keempat, kematian ibu, bayi lahir mati
dan angka kematian bayi meningkat. Angka kematian bayi dan anak

28

semakin meningkat dengan kelahiran anak kelima dan setiap anak


yang menyusul sesudahnya.
2.2.7.7 Infeksi dan Penyakit
Zat besi merupakan unsur penting dalam mempertahankan daya
tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit. Menurut penelitian,
orang dengan kadar HB < 10 gr/dl memiliki kadar sel darah putih
(untuk melawan bakteri) yang rendah pula. Seseorang dapat terkena
anemia karena meningkatnya kebutuhan tubuh akibat kondisi
fisiologis (hamil, kehilangan darah karena kecelakaan, pasca bedah
atau menstruasi), adanya penyakit kronis atau infeksi (infeksi cacing
tambang, malaria, TBC, diare, gastritis, dll).