Anda di halaman 1dari 52

TUGAS MAKALAH

PERENCANAAN KEUANGAN
(Manajemen Persediaan)

DISUSUN OLEH

Nama
NIM

:
:

Clara .S.T. Putri

(2013-66-042)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS PAPUA
MANOKWARI
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan karunia-Nya, sebab hanya karena anugrah-Nya lah
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang
diberikan oleh dosen Mata Kuliah Perencanaan Keuangan. Adapun tema dari
makalah ini adalah Manajemen Persediaan. Selain itu, penyusun juga menyadari
bahwa makalah ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Maka
oleh karena itu ribuan terima kasih penyusun hanturkan kepada semua pihak yang
telah membantu penyusun dalam menyusun makalah ini.
Penyusun juga mengharapkan agar segala daya dan upaya yang telah
diberikan dalam penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Namun, penyusun juga menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan
untuk perbaikan makalah ini.

Manokwari, 01 Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iii

DAFTAR TABEL..................................................................................................iv
BAB I. PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1.......................................................................................................................La
tar Belakang.................................................................................................1
1.2.......................................................................................................................Ru
musan Masalah.............................................................................................2
1.3.......................................................................................................................Tu
juan Makalah................................................................................................3
1.4.......................................................................................................................M
anfaat Makalah.............................................................................................3
BAB II. PEMBAHASAN......................................................................................4
2.1.......................................................................................................................Pe
ngertian Manajemen Persediaan..................................................................4
2.2.......................................................................................................................Je
nis-jenis Manajemen Persediaa....................................................................5
2.3.......................................................................................................................M
anfaat Manajemen Persediaan......................................................................12
2.4.......................................................................................................................Fu
ngsi-fungsi Persediaan.................................................................................13
2.5.......................................................................................................................Fa
ktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Persediaan..................................15
2.6.......................................................................................................................Pa
ndangan Beberapa Bagian Dalam Perusahaan Tentang
Tingkat Persediaan.......................................................................................16
2.7.......................................................................................................................Pe
ngaturan Dan Teknik Pengontrolan Persediaan...........................................20

BAB III. PENUTUP..............................................................................................46


3.1.......................................................................................................................Ke
simpulan.......................................................................................................46
3.2.......................................................................................................................Sa
ran.................................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................48

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Cost Of Reaordering atau Biaya Pemesanan.......................................24
Gambar 2. Pemakaian Persediaan dan Siklus Pemesanan Kembali......................26
Gambar 3. Carrying Cost atau Biaya Pemeliharaan.............................................26
Gambar 4. Penggabungan Biaya Pemesanan dan Biaya Pemeliharaan

ii

(total cost)...........................................................................................28
Gambar 5. Contoh Distribusi Item Persediaan Perusahaan...................................43

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penentuan Kuantitas Pemesanan Yang Paling Optiman..........................31
Tabel 2. Pola Pemesanan Persediaan Perusahaan X..........................................36
Tabel 3. Pola Pemesanan Yang Optimal................................................................38
Tabel 4. Nilai atau Ratio Co/i Pola Pemesanan Yang Biasa Dilakukan.................39
Tabel 5. Ratio Co/i Dengan Pola Pemesanan Yang Optimal..................................39

BAB I
PENDAHULUAN

iii
iv

1.1. Latar Belakang


Sejalan dengan laju perkembangan yang terus berkembang di
Indonesia, maka banyak bermunculan perusahaan, baik perusahaan kecil
maupun perusahaan besar. Tujuan utama suatu perusahaan yaitu
memperoleh

laba seoptimal

mungkin

dan mengawasi

berjalannya

perusahaan serta berkembangnya perusahaan, maka hal yang perlu


dilakukan oleh suatu perusahaan adalah mengoptimalkan segala kegitan
dalam perusahaan tersebut, baik itu produksi, pemasaran maupun
penjualannya

dan

mengadakan

penilaian

terhadap

persediaan

dan

pengaruhnya terhadap laba perusahaan. Biasanya keberhasilan suatu


perusahaan dilihat dari segi financialnya, yaitu seberapa besar laba yang
diperoleh dari hasil usahanya dan persediaan bagi kebanyakan perusahaan
merupakan salah satu modal kerja yang sangat penting didalam suatu
perusahaan, dimana prosedurnya terus menerus mengalami perubahan dan
perputaran.
Persediaan merupakan investsi yang paling besar dalam aktiva lancar
untuk sebagian perusahaan industri. Persediaan diperlukan untuk dapat
melakukan proses produksi, penjualan secara lancar, persediaan bahan
mentah dan barang dalam proses diperlukan untuk menjamin kelancara
untuk proses produksi, sedangkan barang jadi harus selalu tersedia sebagai
buffer stock agar kemungkinan perusahaan memungkinkan perusahaan
memenuhi permintaan yang di timbulkan.
Dalam suatu perusahaan, pelaporan mengenai persediaan sangat
penting bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan, persediaan
merupakan salah satu dari beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi
perusahaan yang secara terus menerus diperoleh, diproduksi dan dijual.
Masalah yang umum dihadapi perusahaan ialah dalam mengelolah
persediaan, persediaan itu harus dilaksanakan sebaik mungkin sehingga
tidak mengalami hal-hal yang mengganggu jalannya operasi perusahaan.
Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk
memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi

kesalahan dalam pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan


kesalahan dalam menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh. Jika
persediaan akhir dinilai terlalu rendah dan mengakibatkan harga pokok
barang yang dijual terlalu rendah, maka pendapatan bersih akan mengalami
peningkatan. Begitu juga dengan lamanya persediaan yang tersimpan
digudang akan mempengaruhi biaya sehingga kemungkinan akan terjadinya
kerusakan yang mengakibatkan kerugian dan kemungkinan juga persediaan
akan kadaluarsa sehingga tidak laku dipasar.
Dalam rangka meminimalkan kebutuhan operating cash maka
perputaran persediaan atau inventory turnover harus diperbesar karena
1
dengan semakin cepatnya perputaran persediaan berarti semakin kecil modal
yang harus diinvestasikan dalam persediaan.
Kepentingan-kepentingan dari sudut finansial seringkali bertolak
belakang dengan kepentingan perusahaan untuk menyediakan persediaan
dalam jumlah yang cukup besar guna mengurangi resiko kehabisan barang
dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan produksi. Oleh karena itu perusahaan
harus menetapkan suatu jumlah optimal dari persediaan agar dapat
mengurangi pertentangan kesalahan dalam memanage persediaan yang ada
di dalam perusahaan.
Dari penjelasan diatas, maka dapat diketahui bahwa persediaan sangat
penting artinya bagi perusahaan. Dalam hal ini penyusun merasa tertarik
untuk lebih mengetahui dan memahami bagaimana persediaan dimanage
secara benar yang diterapkan dalam suatu perusahaan agar membawa
manfaat yang baik dalam pencapaian laba yang diinginkan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penyusun merumuskan
permasalahan dalam makalah adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari manajemen persediaan dan fungsinya ?
2. Apa saja jenis-jenis manajemen persediaan ?
3. Apa manfaat manajemen persediaan ?
2

4. Apa fungsi fungsi dari persediaan ?


5. Apa saja faktor yang mempengaruhi tingkat persediaan ?
6. Bagaimana pandangan beberapa bagian dalam perusahaan tentang
tingkat persediaan ?
7. Bagaimana penganturan dan teknik pengontrolan persediaan ?
1.3. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memahami
konsep dari manajemen persediaan yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Mengetahui biaya yang timbul akibat adanya piutang.
2. Mengetahui pengertian dari manajemen persediaan dan fungsinya.
3. Mengetahui jenis-jenis manajemen persediaan.
4. Mengetahui manfaat manajemen persediaan.
5. Mengetahui fungsi fungsi dari persediaan.
6. Mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat persediaan.
7. Mengetahui pandangan beberapa bagian dalam perusahaan tentang
tingkat persediaan.
8. Mengetahui penganturan dan teknik pengontrolan persediaan.
1.4. Manfaat Makalah
1. Bagi Penyusun
a. Memgaplikasikan ilmu yang diperoleh selama menuntut ilmu di
bangku

kuliah,

memberikan

sumbangan

pemikiran

serta

pemecahan.
b. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah perencanaan keuangan.
2. Bagi Mahasiswa Lain
Makalah ini merupakan sumbangan atau tambahan keperpustakaan
serta refrensi bagi mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Manajemen Persediaan

Persediaan (inventory) adalah bahan-bahan atau barang (sumberdayasumber daya organisasi) yang disimpan yang akan dipergunakan untuk
memenuhi tujuan tertentu, misalnya : untuk proses produksi atau perakitan,
untuk suku cadang dari peralatan, maupun untuk dijual. Walaupun
persediaan hanya merupakan suatu sumber dana yang menganggur, akan
tetapi dapat dikatakan tidak ada perusahaan yang beroperasi tanpa
persediaan.
Persediaan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi
perusahaan dagang dan perusahaan industry serta perusahaan jasa. Tanpa
adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada keadaan bahwa
perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan para
pelanggannya sehingga kontinuitas perusahaan dapat teranggu karena
sumber utama pendapatan perusahaan berasal dari penjualan persediaan. Ini
berarti perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh
keuntungan yang seterusnya didapatkan.
Istilah persediaan memberikan pengertian yang berbeda-beda tetapi
pada dasarnya maksud dan tujuannya adalah sama. Menurut C. Rolln
Niwwonger, Philip E. Fess dan Carl S. Wareen : istilah persediaan
(inventories) merupakan barang dagangan yang disimpan untuk dijual
dalam operasi perusahaan dan merupakan barang yang terdapat dalam
proses produksi atau yang disimpan untuk tujuan itu.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam buku Standar Akuntansi
Keuangan :
1

Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal)

Dalam proses produksi (dalam kegiatan usaha normal)

Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supllies) untuk digunakan


proses produksi atau pemberian jasa.
Persediaan mempunyai arti dan peranan yang penting dalam suatu

perusahaan. Persediaan barang dagangan yang secara terus menerus dibeli


4

dan dijual yang merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi
perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industry.
Penjualan barang dagangan merupakan sumber utama penghasilan bagi
perusahaan, karena sebagian besar sumber perusahaan tertanam dalam
persediaan.
2.2. Jenis-Jenis Manajemen Persediaan
Freddy Rangkuti dalam bukunya Manajemen Persediaan Aplikasi di
Bidang Bisnis (2002;8&15) menjelaskan jenis-jenis Persediaan terdiri dari
2 karakteristik :
1. Jenis-jenis Persediaan menurut Fungsi antara lain :
a

Bacth Stock/Lot Size Inventory, yaitu persediaan yang diadakan


karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barangbarang dalam jumlah yang lebih besar yang dibutuhkan pada saat
itu. Jadi, dalam hal ini pembelian atas pembuatan yang dilakukan
dalam jumlah besar sedangkan penggunaan atau pengeluarannya
dalam jumlah kecil. Terjadinya persediaan karena pengadaan
barang atau bahan yang dilakukan lebih banyak lagi yang
dibutuhkan. Keuntungan yang akan diperoleh dari adanya Bacth
Stock/Lot Size Inventory ini adalah :
1

Memperoleh potongan harga pada harga pembelian

Memperoleh efisiensi produksi (manufacturing economic)


karena adanya operasi (production run) yang lebih lama.

3
b

Adanya penghematan dalam biaya pengangkutan

Fluctuation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk


menghadapi

fluktuasi

permintaan

konsumen

yang

dapat

diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan


untuk dapat memenuhi permintaan konsumen. Apabila tingkat
permintaan menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau tidak
tetap dan fluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan

yang dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan


naik turunnya permintaan tersebut.
c

Anticipation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk


menghadapi

fluktuasi

permintaan

yang

dapat

diramalkan

berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan


untuk menghadapi penggunaan/penjualan atau permintaan yang
meningkat. Disamping itu, menurut Rangkuti Freddy dalam buku
Manajemen Persediaan, anticipation stock juga dimaksudkan
5
untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan
sehingga tidak mengganggu jalannya produksi atau untuk
menghindari kemacetan produksi.
2

Jenis-Jenis Persediaan Menurut Cara Pengolahannya Dan Posisi Barang


Ada tiga bentuk utama dari persediaan perusahaan yaitu persediaan
bahan mentah, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang
jadi.

Sekalipun

ketiga

macam persediaan

ini

biasanya

tidak

diperlihatkan secara terpisah dalam neraca perusahaan, tetapi


pemahaman atas ciri dari masing-masing macam persediaan tersebut
adalah merupakan suatu faktor yang sangan penting.
a. Persediaan bahan mentah / baku (Raw Material Stock)
Persediaan bahan mentah merupakan persediaan yang dibeli
oleh perusahaan untuk diproses menjadi barang setengah jadi dan
akhinya barang jadi atau produk akhir dari perusahaan. Dalam
beberapa hal di mana perusahaan industri memproduksi barangbarang yang sangat kompleks, maka persediaan bahan mentah
mungkin terdiri dari barang-barang setengah jadi ataupun barang
jadi yang sudah diproses oleh perusahaan lain, misalnya
perusahaan mobil akan membeli ban atau radio yang merupakan
kelengkapan dari mobil yang diproduksinya dari perusahaan lain.
Semua perusahaan industri harus mempunyai persediaan bahan

(dalam bentuk apapun) karena hal tersebut mutlak diperlukan


dalam produksi yang dilakukan. Adapun jumlah bahan mentah
yang harus dipertahankan oleh perusahaan akan sangat tergantung
pada :
a. Lead time (waktu yang dibutuhkan sejak saat pemesanan
sampai dengan bahan diterima)
b. Jumlah pemakaian
c. Jumlah investadi dalam persediaan, dan
d. Karakteristik fisik dari bahan mentah yang dibutuhkan
Apabila perusahaan ingin berproduksi secra lancar maka
faktor lead time harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya
mengingat adanya tenggang waktu antara saat pemesanan dengan
saat penerimaan barang, sehingga dengan adanya pengaturan yang
6
baik maka jumlah persediaan yang ada akan selalu cukup untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan produksi. Dengan perkataan lain,
perusahaan harus menetapkan suatu jumlah minimum untuk saat
pemesanan bahan sehingga pada saat bahan tersebut diterima
jumlah

persediaan

masih

tetap

berada

pada

titik

yang

memungkinkan perusahaan berproduksi secara normal.


Frekuensi atau jumlah pemakaian bahan mentah juga
mempengaruhi tingkat persediaan. Semakin sering atau semakin
banyak suatu bahan digunakan dalam proses produksi maka akan
semakin besar jumlah persediaan bahan tersebut yang dibutuhkan
oleh perusahaan. Selanjutnya, sebagai tambahan atas faktor lead
time dan frekuensi atau jumlah pemkaian, maka jumlah investasi
yang dibutuhkan dalam persediaan juga memegang peranan yang
penting dalam menentukan tingkat persediaan. Untuk bahan-bahan
yang harganya murah seperti misalnya paku atau sekrup, maka
faktor lead time dan jumlah pemakaian tidak akan terlalu banyak
membutuhkan perhatian. Pemesanan bahan-bahan tersebut secara
periodik dalam jumlah yang cukup besar sudah dapat menjamin

kelancaran proses produksi. Sebaliknya, untuk bahan-bahan mentah


yang berharga mahal, maka faktor lead time dan frekuensi
pemakaian harus mendapat perhatian yang lebih besar karena
jumlah modal yang akan diinvestasikan dalam persediaan yang
mahal ini adalah cukup besar.
Faktor lain yang juga mempengaruhi tingkat persediaan
bahan mentah adalah karakteristik fisik dari bahan mentah itu
sendiri, seperti misalnya besar kecilnya ukuran bahan atau apakah
bahan tersebut mudah rusak atau tidak.untuk bahan-bahan mentah
yang mudah rusak janganlah dipesan dalam jumlah yang besar
(sekalipun harganya murah) karena hal tersebut tentu saja akan
merugikan, misalnya karena bahan mentah tersebut sudah rusak
sebelum saatnya digunakan dalam proses produksi.
Keempat faktor tersebut di atas perlu diperhatikan secara baik
dan dipertimbangkan dengan seksama dalam menentukan jumlah
7
persediaan bahan mentah yang harus dipertahankan dalam
perusahaan. Kebutuhan masing-masing bahan mentah dalam proses
produksi haruslah dapat dipenuhi, namun pada saat yang sama
harus juga dipertimbangkan faktor biaya, sehingga jumlah modal
yang diinvestasikan dalam persediaan bahan mentah tidak terlalu
tinggi. Semua fihak dalam perusahaan, terutama manajer bagian
produksi dan bagian pembelian harus menyadari keuntungankeuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya perubahan atau
pembatasan

jumlah

persediaan

selama

hal

tersebut

tidak

menganggu kelancaran jalannya proses produksi perusahaan.


b. Persediaan barang setengah jadi atau barang-barang dalam proses
(Works in Process/Progress)
Persedian barang dan proses terdiri dari keseluruan barangbarang yang digunakan dalam proses produksi tetapi masih
membutuhkan proses lebih lanjut untuk menjadi barang yang lebih

siap untuk dijual (barang jadi). Tingkat penyelesaiaan suatu barang


dalam proses sangat terngantung pada panjang serta kompleksnya
proses produksi yang dilaksanakan. Misalnya untuk sampai pada
barang jadi dibutuhkan sebanyak 50 macam proses dari bahanbahan mentah dan barang dalam proses dimana masing-masing
proses membutuhkan waktu dua hari, maka hal ini berarti barang
8
tersebut berada dalam proses produksi untuk jangka waktu yang
cukup lama (100 hari). Demikian pula halnya apabila proses
produksi sangat kompleks sekalipun adanya beberapa macam
proses saja yang dibutuhkan tetapi penyelesaiannya pun akan
membutuhkan waktu yang sangat lama. Denga demikiana dapat
dilihat adanya hubungan yang langsung antra jumlah barang yang
ada dalam proses dengan panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk
memproses bahan mentah sampai menjadi barang jadi yang siap
untuk dipasarkan. Dengan perkataan lain, semakin panjang
production cycle (jangka waktu produksi), semakin besar jumlah
persediaan barang dalam proses.
Besarnya

persedian

barang

dalam

proses

ini

akan

menyebakan semakin besarnya biaya-biaya persedian karena modal


yang terikat di dalma persediaan tersebut semakin besar, di mana
besarnya modal in i berkaitan langsung dengan lambatnya
perputaran persediaan.
Manajemen proses produksi yang efisien akan dapat
mengurangi
demikmikian

persedian
akan

barang

dalam

memperbesar

proses,

inventory

dan
turnover

dengan
serta

mengurangi jumlah minimum kebutuhan oprating cash.


Persedian barang dan proses adalah merupakan jenis
persedian yang paling tidak likuid kAarena akan cukup sulit bagi
perusahaan untuk dapat menjual barang-barang yang masih dalam
bentuk setengah jadi. Karakteristik lainnya adalah bahwa barang
dalam proses merupakan suatu bentuk peningkatan nilai. Karena

denga adanya proses trasformasi dari bahan mentah menjadi barang


jadi, memlalui barang produksi, dibutuhkan denga adanya
tambahan biaya tenaga kerja, bahan mentah lain dan bahan
pembantu serta biaya overhead. Tambahan-tambahan biaya tersebut
tentu saja menyebabkan jumlah investasi dalam persedian
meningkat. Perusahaan harus tetap berusaha untuk memperbesar
tingkat perputaran barang dalam proses agar dapat menutup dengan
segera biaya-biaya bahan mentah, tenaga kerja dan biaya-biaya
produksi tidak langsung (overhead) yang telah dikorbankan dalam
proses produksi.

c. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods)


Persedian barang jadi adalah merupakan persediaan barangbarang yang telah diselesai diproses oleh perusahaan, tetapi masih
belum terjual. Perusahaan-perusahaan industri yang beroprasi
bedasarkan pesanan mempunyai peesediaan barang jadi yang relatif
kecil. Akan tetapi dalam pem bahasan ini, tinjauan ditekankan pada
perusahaan-perusahaan industri yang memproduksi secara massal.
Dalam

perusahaan

seperti

ini,

barang-barang

tersebut

diproduksikan berdasarkan antisipasi terhadap volume penjualan


sehingga persediaan barang jadi sangat ditentukan oleh ramalanramalan penjualan, proses produksi, serta jumlah investasi dalam
persediaan barang jadi tersebut.
Skedul produksi searah usntuk dapat menyediakan barang
jadi yang dapat memenuhi forecasting atau ramalan penjualan yang
disampaikan oleh bagian pemasaran. Bilamana estinasi pen jualan
tinggi, maka jumlah persediaan barang jadi juga akan bertambah
besar, demikian pula sebaliknya apabila ramalan penjualan rendah
maka jumlah persediaan barang jadi pun akan semakin kecil.
Skedul produksi yang diatur sedemikian rupa sehingga cukup
untuk menutup estimasi-estimasi permintaan terhadap produk

perusahaan tampa adanya kelebihan persediaan yang terlalu besar


akan dapt meminimalkan biaya-biaya oprasi perusahaan. Di dalam
praktek kehidupan perusahaan, biasanya ada sejumlah tertentu
persedian yang selalu dipertahankan atau dinamkan juga safety
stock (persediaan pengaman/minimum) sebagi persiapan untuk
memenuhi tambahan permintaan yang tiak diduga sebelumnya,
ataupun sebagai persediaan bilaman terjadi kemacetan-kemacetan
10
dalam proses produksi.
Usaha-usaha untuk mengoptimalkan persedian barang jadi
akan dapat tercapai apabila perusahaan dapat membuat estimasi
penjualan yang realitis serta skedul produksi yang baik. Kalau
diperhitungkan secara teliti maka seringkalai terdapat trade off
antara jumlah modal yang diinvestasikan dalam barang jadi dengan
biaya produsi per unit produk. Tidak jarang dijumpai bahwa
kuantitas produksi yang paling efisien (biaya produksi per unit
yang paling rendah) adalah lebih besar dari jumlah yang
dibutuhkan untuk memenuhi semua ranmalan penjualan yang akan
dilakukan nantinya. Lebih murahnya biaya produksi per unit dalam
hal ini adalah karen biaya-biaya tetap dapat dialokasikan ke dalam
lebih banyak produk. Sekalipun demikian, tidak boleh dilupakan
bahwa dengan semakin besanya persediaan berarti semakin banyak
modal yang akan terikat dalam persediaan. Trade-off ini harus
diperhitungkan denga baik dalam rangka menentukan jumlah
optimal produksi, dan teknik-teknik kuantitatif dalam penutupan
jumlah optimal produksi dapat dibaca dalam sebagian besar
literatu-literatur

tentang

menajemen

oprasi

dan

produksi

perusahaan.
Pertimbangan terakhir sehubungan dengan jumlah persediaan
barang jadi dalam perusahaan adalah tingkat likuiditasnya.
Semakin likuid dan tidak cepat rusak keadaan suatu barang jadi,
maka semakin besar jumlah persediaan barang jadi yang dapt

dipertahankan dalam perusahaa. Untuk produk-produk khusus yang


membutuhkan biaya penyimpanan yang cukup besar haruslah
diperhatikan secara teliti agar jumlahnya tidak terlalu besar.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa setiap jenis persediaan
memiliki karakteristik tersendiri dan cara pengelolaan yang berbeda.
Persediaan

ditujukan

untuk

mengantisipasi

kebutuhan

permintaan.

Permintaan ini meliputi: persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan
barang jadi atau produk akhir yang menjadi bagian keluaran produk
perusahaan.
11

2.3. Manfaat Manajemen Persediaan

Dalam menejemen persediaan sudah tentu ada manfaatnya, berikut


merupakan manfaat dari manajemen persediaan.
1. Memanfaatkan Diskon Kuantitas
Diskon kuantitas diperoleh jika perusahaan membeli dalam kuantitas
yang besar.Perusahaan membeli melebihi kebutuhan sehingga ada yang
disimpan sebagai persediaan.
2. Menghindari Kekurangan Bahan (Out Of Stock).
Jika pelanggan datang untuk membeli barang dagangan, kemudian
perusahaan tidak mempunyai barang tersebut, maka perusahaan
kehilangan

kesempatan

untuk

memperoleh

keuntungan.Untuk

menghindari situasi tersebut, perusahaan harus mempunyai persediaan


barang jadi.
3. Manfaat Pemasaran.
Jika perusahaan mempunyai persediaan

barang dagangan yang

lengkap, maka pelanggan/calon pelanggan akan terkesan dengan


kelengkapan barang dagangan yang kita tawarkan. Reputasi perusahaan
bisa meningkat.Di samping itu jika perusahaan selalu mampu
memenuhi keinginan pelanggan pada saat dibutuhkan maka kepuasan
pelanggan semakin baik, dan perusahaan semakin untung.

4. Peningkatan Tingkat Pelayanan


Pelanggan tidak hanya meminta kecepatan pengantaran tetapi juga
ketepatan,

kepercayaan,

pengapalan.Pengintegrasian

dengan

dan

macam-macam

penjualan

meningkatkan

pengetahuan pelanggan akan preferensi pengepakan dan pengiriman,


dan memungkinkan otomatisasi untuk memenuhi instruksi; indetifikasi
12
dari daerah distribusi untuk dibagi antara beberapa pelanggan atau grup
dan mudah untuk menyortir dari staging area dan pergerakan stok. Hal
ini menjamin bahwa produk yang benar berada ditempat yang benar
pada waktu yang tepat. Tingkat pelayanan tertinggi dapat menyediakan
pelanggan sehubungan dengan respons yang cepat terhadap permintaan
atau perubahan persyaratan dimana hal ini akan meningkatkan kepuasan
pelanggan.
5. Pengontrolan Persediaan yang Lebih Baik
Fleksibilitas dari distribusi dan penyimpanan barang-barang secara
menyeluruh

memungkinkan

perusahaan

untuk

memantau

dan

mengontrol persediaan sesuai dengan bisnis mereka. Akses yang instan


terhadap data-data yang kritis meliputi ketersediaan peresediaan, jumlah
yang ada, jumlah yang harus diorder lagi dan biaya yang dapat
diketahui pada saat itu juga terhadap persediaan untuk direspons secara
cepat dalam rangka pengambilan keputusan, sistem dengan kemampuan
mengelolah beberapa lokasi yang berbeda-beda memungkinkan
manajemen dari gudang-gudang yang berbeda-beda dan penelusuran
persediaan melalui lot, secara seri atau menggunakan level.
2.4. Fungsi- Fungsi Persediaan
Fungsi persediaan yaitu untuk menghindari keterlambatan barang,
hilangnya barang dan dengan adanya persediaan, maka operasional
perusahaan dapat terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen
dapat terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen dapat dilakukan
dengan sebaik-baiknya.

Menurut Freddy Rangkuti dalam buku Manajemen Persediaan Aplikasi di


Bidang Bisnis, fungsi utama persediaan yaitu :
1. Fungsi Decoupling.
Fungsi Decoupling adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan
dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.
13
Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan
sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan
waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar
departemen-departemen dan proses-proses individual perusahaan
terjaga kebebasannya. Persediaan barang jadi diperlukan untuk
memenuhi

permintaan

produk

yang

tidak

pasti

dari

para

langganan.Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi


permintaan konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan
disebut Fluctuations Stock.
2. Fungsi Economic Lot Sizing.
Fungsi Economic Lot Sizing. Persediaan Lot Size ini perlu
mempertimbangkan

penghematan-penghematan

atau

potongan

pembelian., biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan


sebagainya. Hal ini disebabkan karena perusahaan melakukan
pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan
biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa
gudang, investasi, resiko, dan sebagainya).
3. Fungsi Antisipasi.
Fungsi

Antisipasi.

Apabila

perusahaan

menghadapi

fluktuasi

permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasarkan


pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman.Dalam
hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (Seasional
Inventories).

Selain fungsi-fungsi diatas, menurut Herjanto (1997:168) terdapat enam


fungsi penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan
perusahaan antara lain:
1. Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau
barang yang dibutuhkan perusahaan.
2. Menghilangkan resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga
harus dikembalikan.
3. Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
4. Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman
14
sehingga perusahaan tidak akan sulit bila bahan tersebut tidak tersedia
dipasaran.
5. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan
kuantitas (Quantity Discount).
6. Memberikan pelayanan kepada langganan dengan tersediaanya barang
yang diperlukan.
2.5. Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Persediaan
Secara umum besar-kecilnya inventory tergantung pada beberapan faktor :
1. Lead time, yaitu lamanya masa tunggu material yang dipesan datang.
2. Frekuensi penggunaan bahan selama 1 periode, frekuensi pembelian
yang tinggi menyebabkan jumlah inventory menjadi lebih kecil untuk 1
periode pembelian
3. Jumlah dana yang tersedia
4. Daya tahan material
Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan adalah:
1. Bahan baku, dipengaruhi oleh : perkiraan produksi, sifat musiman
produksi, dapat diandalkan pemasok, dan tingkat efisiensi penjadualan
pembelian dan kegiatan produksi.
2. Barang dalam proses, dipengaruhi oleh: lamanya produksi yaitu waktu
yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk ke proses produksi
sampai dengan saat penyelesaian barang jadi.
3. Barang jadi, persediaan ini sebenarnya merupakan masalah koordinasi
produksi dan penjualan.

2.6. Pandangan Beberapa Bagian Dalam Perusahaan Tentang Tingkat


Persediaan
Dari pembahasan didepan tentang beberapa persediaan maka dapat
15
dilihat adanya kemungkinan konflik antara bagian yang satu dengan yang
lainnya dalam perusahaan. Konflik antara masing-masing atau fungsi dalam
perusahaan

harus

dapat

diatasi

agar

tujuan

perusahaan

untuk

memaksimalkan kekayaan pemilik dapat tercapai.


Bagian-bagian atau fungsi dalam perusahaan yang terlibat dalam
konflik tersebut, adalah: pembelanjaan atau finansial, pemasaran produksi
dan pembelian.
1

Bagian pembelanjaan
Tanggung jawab utama manajer keuangan adlah menjamin
adanya menajemen persediaan yang efisien. Manajemen persediaan
yang efesien akan turun memberikan kontribusi terhadap wealth
maximization (maksimisasi kekayaan) dari pemilik perusahaan.
Dengan demikian, manajer keuangan haruslah memonitor keseluruan
aktiva secara berlebih-lebihansehingga tujuan yang dimaksudkan diatas
dapat tercapai. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa kedudukan atau
fungsi manajer keuangan dalam hubungannya dengan tingkat
persediaan mempertahankannya pada tingkat yang serendah mungkin
agar jumlah modal yang tertanam dalam persediaan tersebut tidak
terlalu besar.
Manajer keuangan berkepentingan atas segala jenis persediaan
(bahan mentah, barang dalam proses, dan barang Jadi) dan sesuai
dengan fungsinya maka dapat dikatakan bahwa manajer keuangan
bertugas sebagai orang yang mengawasi fungsi-fungsi yang lain,
misalnya bagaian pembelian dan produksi sangat berkepentingan

dengan

persediaan

bahan

mentah;

bagian

produksi

sangat

berkepentingan dengan persedian barang dalam proses, serta bagian


pemasaran dan bagian produksi secara besama-sama berkepentingan
terhadap jumlah persediaan barang jadi. Kedudukan manajer keuangan
dalam hal ini haruslah dapat bekerja sama dengan manajer-manajer
lainnya untuk menentukan berapa jumlah dari masing-masing jenis
persediaan agar proses operasi perusahaan dapat berjalan dengan lancar
dan pada saat yang sama biaya-biaya juga bisa ditekan.
2

Bagian pemasaran
Bagaimana pemasaran sangat berkepentingan dengan jumlah
persediaan barang jadi yang siap untuk dijual. Manajer perusahaan akan
menyukai adanya persediaan barang-barang jadi yang cukup besar
16
untuk menjamin terpenuhinya semua permintaan terhadap produk
perusahaan dengan segera. Efektivitas bagian pemasaran seringkali
dinilai atas dasar volume penjualan yang dapat dilakukan. Sangat sering
sekali dijumpai bahwa denga tingginya volume penjualan yang dapat
dilakukan. Sangat sering dijumpai bahwa dengan tingginya volume
penjualan yang dapt dilakukan maka perusahaan akan memberikan
suatu imbalan atau bonus, sehingga adalah wajar apabila bagian
pemasaran selalu berusaha untuk menjamin bahwa tidak ada satupun
penjualan yang tidak dapat dilakukan karena kurang atau habisnya
persediaan. Dengan demikian maka dapat dikatakan manajer pemasaran
akan berusaha untuk mempertahankan jumlah persediaan barang jadi
yang cukup besar sehingga mengurangi resiko kehabisan barang.
Faktor pokok yang menentukan rencana produksi perusahaan
adalah didasarkan pada adanya ramalan penjualan yang diberikan oleh
bagian pemasarn, dan telah pula disinggumg bahwa manajer keuangan
serta manajer produksi harus menganalisa ketepatan dari ramalan
penjualan tersebut. Hal ini akan dapat menjamin bahwa bilaman
rencana-rencan produksi tersebut dijalankan maka akan dapat

dihasilkan suatu jumlah persediaan yang dapat memenuhi forecasting


penjualan tadi. Manajer keuangan haruslah berhati-hati dalam menilai
forecasting penjualan dari bagian pemasaran untuk dapat menyakinkan
diri bahwa angka-angka forecasting tersebut cukup wajar. Di samping
itu manajerkeuangan jika harus mempertimbangkan bahwa bilamana
biaya-biaya Karen kehabisan barang jauh lebih besar dari pada biaya
investasi maka sebaiknya mempertahankan jumlah persediaan agak
besar.
3

Bagian Produksi
Kepen tingan utama bagian produksi ditunjukan pada persediaan
bahan mentah dan bahan dalam proses. Tindakan-tindakan manajer
produksi sehubungan dengan tingkat persediaan secara langsung
mempengaruhi jumlah persedian barang jadi dalam perusahaan.
17
Tanggung jawab utamanya adalah untuk menjamin bahwa rencanarencana produksi diterapkan sesuai dengan apa yang direncanakan
sehingga dapat mengihasilkan jumlah barang jadi yang diinginkan.
Penilaian-penilaian yang dilakukan terhadap bagian produksi
tidak hanya menyangkut masalah ketepatan dalam menyelesaikan
proses produksi tetapi juga atas usaha-usahanya untuk menekan biaya
per unit produksi serendah mungkin. Untuk menjamin tersedianya
jumlah barang jadi yang diinginkan maka sudah tentu manajer produksi
menginginkan jumlah persediaan bahan mentah yang besar agar tidak
ada kemungkinan terhen tinya proses produksi karena bahan-bahan
mentah yang dibutuhkan tidak mencukupi.
Akan tetapi menajer keuangan yang memandang persediaan
sebagai

suatu

bentuk

investasi

akan

selalu

berusaha

untuk

mempertahankan jumlah persediaan bahan-bahan mentah ( terutama


yang berharga mahal ) pada suatu tinggkat yang dianggap wajar.
Salah satu cara yang dapat digunakan oleh manajer produksi
untuk menekan biaya per unit produk adalah dengan jalan memproduksi

dalam jumlah banyak sehingga mesin-mesin dapat dioprasikan secara


efektif di mana hal ini pada akhirnya tentu saja akan dapat menekan
biaya per unit produk. Akan tetapi kebijaksanaan seperti ini tentu saja
akan menimbulkan persediaan barang jadi yang besar atau berlebihlebihan dimana hal ini akan dipandang sebagai suatu keadaan yang
merugikan oleh manajer keuangan karena persedeiaan yang lebih besar
berarti adanya tambahan investasi dalam persediaan yang lebih besar
berarti adanya tambahan investasi dalam persedeiaan.
Dengan mempertimbangkan keseluruan factor tersebut diatas
18
maka haruslah ditentukan jumlah optimal barang yang diproduksikan
untuk menjamin jumlah barang jadi yang dapat memenuhi permintaan
yang diramalkan oleh bagian pemasaran, dan pada saat yang sama tetap
berusaha untuk menekan biaya-biaya produksi.
4

Bagian Pembelian
Bagian pembelian berkepentingan dengan jumlah tersedianya
bahan mentah karena tanggung jawabnya adalah menjamin tersedianya
bahan mentah yang dibutuhkan dalam proses produksi dalam jumlah
yang tepat dan waktu yang tepat.
Perlu ditekankan disni bahwa disamping menjamin ketepatan baik
jumlah maupun waktu penyediaan bahan mentah yang dibutuhkan,
bagian pembelian juga bertanggung jawab untuk melakukan pembelian
bahan mentah pada tingkat harga yang serendah mungkin karena
mengingat bahwa biaya bahan mentah yang dibeli merupakan
komponen pemnting dalam penentuan biaya per unit produksi. Atas
dasar pertimbangan-pertimbangan biaya ini maka sudah sewajarnya
apabila bagian pembelian berusaha untuk melakukan pembelian bahanbahan mentah yang dibutuhkan secara bijaksana dan hati-hati.
Dapat diperkirakan bahwa apabila bagaian pembelian diberikan
berjalan sendiri maka akan dilakukan pembelian bahan-bahan mentah
yang jauh lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan karena hal tersebut

akan dapat terjamin persediaan bahan-bahan pada saat dibutuhkan sertra


untuk mendapatkan potongan-potongan dari pembelian yang dilakukan
dalam jumlah besar. Oleh kjarena itu, manajer keuangan harus meneliti
apakah penghematan-penghematan yang diperoleh dari pembelian
dalam jumlah yang besar tersebut dapat menutup atau lebih besar dari
tambahan biaya yang harus ditanggung dalam investasi marginal
persediaan bahan mentah.

2.7. Penganturan dan Teknik Pengontrolan Persediaan


Berapa metode yang production oriented untuk pengawasan persediaan.
Sekalipun konsep ini bukan melulu tentang masalah keuangan akan tetapi
19
oleh karena tersebut tidak bisa dipisahkan dari atau didalamnya terdapat
unsur-unsur biaya, maka akan sangat penting bagi manajer keuanagan
perusahaan untuk mengerti paling tidak dasar-dasar perhitungan yang
digunakan penganturan dan teknik pengontrolan persediaan meliputi tiga hal
pokok, yaitu:
1

Metode EOQ ( Economic Order Quantity )


Salah satu alat yang seringkali digunakan dalam penentuan
jumlah optimal kuantitaspemesanan persediaan adalah apa yang sering
disebut denga istilah ecomomic order quantity atau lebih dikenal
lagi denga EOQ model diu mana model ini akan sangat tepat sekali
digunakan untuk pengontrolan item per4sediaan dalam kelompok A.
Dalam penerapanya, model EOQ mempetimbangkan baik biayabiaya oprasi maupun biaya-biaya finansial serta menentukan kuantitas
pemesanan yang akan meminimumkan biaya-biaya persediaan secara
keseluruhan. Dengan demikian model EOQ tidak hanya menentukan
jumlah pemesanan yang optimal tetapi yang lebih penting lagi adalah
yang menyangkut aspek finansial dari keputusan-keputusan tentang
kuantistas pemesanan tersebut.
Ada dua jenis biaya yang diperhitungkan dalam penggunaan
EOQ, yaitu biaya pemesanan dan biaya pemeluharaan barang. Baik

biaya pemesanan maupun biaya pemeliharaan yang diperhitungkan


disni hanya meliputi biaya yang bersifat variabel saja, artinya biayabiaya yang berubah sesuai dengan perubahan kuantitas barang yang
dipesan, sedangkan biaya yang bersifat tetap (tidak berubah sesuai
dengan kuantitas pemesanan) tidak akan mempengaruhi atau tidak
relevan dalam pengambilan keputusan untuk dua atua lebih alternatife.
Biaya pemesanan adalah biaya-biaya yang berubah sesuai dengan
frekuensi pemesanan, misalnya apabila ditetapkan bahwa biaya untuk
satu kali pemesanan adalah Rp 500,00 maka biaya untuk 5 kali
pemesanan adalah Rp 2.500,00 (5 Rp 500,00) sedangkan biaya
20
pemeliharaan adalah biaya yang berubah sesuai dengan nilai persediaan
rata-rata di gudang, misalnya ditentukan biaya pemeliharaan sebesar
16% dari nilai rata-rata persediaan maka untuk persediaan seharga Rp
150.000,00akan dikeluarkan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.200,00
( 16% x 150.000,00 /2 ), demikain seterusnya.
Adapun biaya-biaya yang termasuk dalam biaya pemesanan dan
biaya pemeliharaan adalah sebagai berukit:
a

Biaya pemesanan
1) Biaya-biaya administrasi dalam pembuatan surat pemesanana
2) Biaya-biaya pembongkaran dan pemasukan barang ke dalam
gudang
3) Biaya pembuatan laporan penerimaan barang
4) Biaya-biaya untuk memeriksa kesesuaian antara barang yang
dipesan dengan barang yang diterima
5) Biaya-biaya

pengeriman

dan

pembuatan

check

untuk

pembayaran, dan
6) Biaya-biaya auditing dari pembayaran yang dilakukan.
Biaya-biaya pemesanan ini akan semakin kecil dengan
semakin besarnya kuantitas barang yang dipesan dalam setiap kali
pemesanan karena hal ini berarti semakin sedikitnya frekuensi
pemesanan.

Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan adalah biaya-biaya yang berubah sesuai
dengan perubahan nilai persediaan dimana perhitungannya
dinyatakan dalam prosentase dari nilai rata-rata persediaan. Biaya
ini akan besar dengan bertambah besarnya nilai persediaan (hal ini
berarti semakin sedikitnya frekunsi pemesanan). Adapun biayabiaya yang termasuk dalam kategori biaya pemeliharaan adalah:
21
1) Biaya penyimpanan atau sewa gedung
2) Biaya asuransi
3) Cadangan (biaya yang disisihkan) untuk kemungkinan
rusaknya barang dalam persediaan
4) Biaya obsolescene, dan
5) Biaya atas modal yang terikat dalam persediaan.
Penerapan model EOQ ini didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu:
1) Jumlah total kebutuhan bahan per tahun sudah diketahui
dengan pasti
2) Pesanan barang yang dilakukan oleh perusahaan dapat segera
dipenuhi oleh supplier sehingga tidak terdapat tenggang waktu
atau lead time antara saat pemesanan dengan penerimaan
barang. Dengan demikian, setelah diadakan pembagian biaya
ke dalam kelompok seperti di atas (biaya pemesanan dan biaya
pemeliharaan) maka total biaya dalam model EOQ adalah
merupakan penjumlahaan antara biaya pemesanan dan biaya
pemeliharaan, atau
TC= Cr + Cc
Keterangan :
TC = Total Cost (total biaya)
Cr = Cost of reordering (biaya pemesanan per tahun)
Cc = Carryng cost (biaya pemeliharaan per tahun)

Dalam kenyataan yang sesungguhnya, biasanya penerimaan


barang memerlukan beberapa hari setelah barang tersebut
dipesan. Untuk menghindari resiko kehabisan bahan maka
perusahaan

pada

umumnya

menetapkan

suatu

jumlah

persediaan sebagai safety stock atau persediaan minimum


yang harus selalu ada dalam perusahaan yang jumlahnya
sangat tergantung pada tingkat perputaran penjualan atau
22
jumlah pemakaiannya serta jangka waktu yang dibutuhkan
sejak bahan dipesan sampai dengan saat diterimanya bahan
tersebut oleh perusahaan.
3) Biaya pemesanan atau cost of recording (Cr) adalah konstan
sepanjang tahun. Misalnya diketahui biaya untuk setiap kali
pemesanan atau cost of order (Co) adalah Rp 500,00 maka 12
kali pemesananan biayanya adalah:
Cr = 12 x Co
= 12 X Rp 500,00 = Rp 6.000,00
4) Biaya pemeliharaan per tahun atau Cc

adalah merupakan

prosentase yang tetap (i) dari nilai rata-rata persediaan, dan nilai
rata-rata persediaan adalah merupakan hasil perkalian antara
kuantitas dalam setiap kali pemesanan (Q) dengan harga per unit
dari produksi yang dibeli (Cu) dibagi dengan (2)
5) Supplier tidak memberikan potongan tunai pada pembeli, jadi
harga untuk setiap unit barang yang dibeli adalah sama tanpa
memandang kuantitas barang yang dibeli dalam setiap kali
pemesanan. Apabila asumsi ini dihilangkan maka perusahaan
harus menentukan berapa penghematan-penghematan yang
dapat diperoleh dengan adanya potongan yang ditawarkan dan
apakah penghematan tersebut cukup besar untuk menutup
bertambahnya biaya pemeliharaan atau Cc. Di samping itu,

perubahan kuantitas yang dibeli untuk setiap kali pemesanan


tentu saja tergantung kepada ada tidaknya fasilitas untuk
menyimpan tambahan persediaan tersebut serta yang lebih
penting lagi menyangkut masalah biaya atas modal yang
tertanam dalam persediaan.
6) Jumlah pemakaiaan bahan perbulan atau setiap periode adalah
tetap. Misalnya diketahui kebutuhan per tahun adalah sebesar
9.00 unit maka kebutuhan per bulannya adalah sebesar 750 unit.
Denga perkataan lain jumlah pemakaiaanya adalah tetap dan
tidak terpengaruh oleh musim.
Dengan adanya keenam asumsi di atas maka dapat dilihat
bahwa Cr akan semakin kecil dengan semakin besarnya kuantitas
yang dipesan untuk setiap kali pemesanan. Apabila diketahui
kebutuhan bahan per tahun sebesar 9.00 unit maka kebutuhan
23
tersebut dapat dipenuhi dengan beberapa kali pemesanan, misalnya
18 kali pemesanan @500 unit, 12 kali pemesanan @750 unit, 6 kali
pemesanan @1.500 unit, dan seterusnya. Kalau ditetapkan biaya
untuk setiap kali pemesanan atau cost of ordering (Co) sebesar Rp
500,00 maka Cr untuk pemesanan di atas adalah masing-masing
sebesar:
18 Rp500,00

= Rp 9.000,00

12 Rp 500,00 = Rp 6.000,00
6 Rp 500,00 = Rp 3.000,00
Gambar 1.
Cost Of Reordering Atau Biaya pemesanan
Biaya
pemesanan
(000)

Kuantitas setiap kali pemesanan (Q)

Gambar di atas merupakan ilustrasi perubahan Cr dengan


meningkatkan kuantitas bahan yang dipesan dalam setiap kali
pemesanan. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa Cr akan
24
semakin menurun dengan semakin besarnya kuantitas yang dipesan
untuk setiap kali Pemesanan, maka tidak demikian halnya dengan
C atau biaya pemeliharaan karena jumlah biaya pemeliharaan akan
semakin bertambah besar dengan semakin meningkatnya kuantitas
yang dipesan untuk setiap kali pemesan.
Jumlah rata-rata persedian dalam unit untuk pola pemesanan
seperti di atas masing-masing sebesar

250 unit (18 kali

pemesanan) 375 unit (12 kali pemesanan) dan 750 unit (6 kali
pemesanan. Apabila ditetapkan C atau harga per unit sebesar
Rp.1.000,00 dan biaya pemeliharaan per unit (i)sebesar 1,6% maka
biaya pemeliharaan per

tahun atau C adalah masing-masing

sebesar :
Untuk 18 kali pemesanan a 500 unit =
1,6

( 500 Rp 1.000 )
=Rp 4.000,00
2

Unntuk 12 kali pemesanan a 750 unit =

1,6

(750 Rp 1.000)
=Rp6.000,00
2

Untuk 6 kali pemesanan a 1.500 unit =


1,6

(1.500 Rp 1.000)
=Rp12.000,00
2

Biaya pemeliharaan diambil di ambil dari nilai rata-rata persediaan


karena didepan sudah diasumsikan bahwa persediaan tersebut
digunakan dalam tingkat yang konstan sehingga jumlah investasi
dalam persediaan akan bergerah dari titik yang tertinggi dalam
setiap kali pemesanan sampai dengan titik (0) dan setelah sampai
titik nol tersebut kebutuhan bahan akan dipesan lagi sehingga
jumlah investasi dalam persediaan akan kembali lagi ke titik
semula atau yang tertinggi dan begitu seterusnya (tidak ada lead
time). Dengan demikian jumlah rata-rata persediaan adalah sama
25
dengan jumlah kuantitas yang dipesan dibagi dengan (2).
Gambar 2.
Pemakaian Persediaan dan Siklus Pemesanan
Kembali

Gambar dari pemakaian bahan dan siklus pemenuhan kembali


persediaan disajikan dalam gambar 2. Berdasarkan hasil perhitungan
biaya pemeliharaan atau C atas nilai rata-rata persediaan di depan

maka dapat digambarkan pola perubahaan biayanya yang terlihat


pada gambar 3.
Gambar 3.
Biaya
pemesanan
(000)

Carrying Cost Atau Biaya Pemeliharaan

Kuantitas setiap kali pemesanan (Q)

Dengan menggabungkan Gambar 1 Dan 3 (gambar biaya


pemesaan dan biaya pemeliharaan) maka akan dapat dilihat total cost
26
yang terendah yaitu pada titik pertemuan anatra C r dan Cc. Dengan
perkataan lain, total cost yang terendah akan dicapai dalam titik di
mana Cr = Cc.
Garis total cost mula-mula menurun dan kemudian naik
dengan semakin besarnya kuantitas barang yang dipesan dalam
setiap kali pemesanan.
Kuantita pemesanan, OA yang tercapai pada titik pertemuan
antara Cr dan Cc, atau pada titik minimum total cost, B adalah
merupakan kuantitas pemesanan yang paling optimal atau EOQ.
Economic order quantity atau EOQ sebesar 750 unit dapat pula
dihitung dengan menganalisa factor total cost yang dalam hal ini
adalah : TC = Cc + Cr. Oleh karna sudah diasumsikan bahwa
kuantitas yang dipesan adalah sama untuk setiap kali pemesanan
maka rata-rata persediaan adalah Q : 2, diman Q adalah kuantitas

setiap kali pemesanan. Nilai rata-rata persediaan dapat diperoleh


dengan jalan mengalikan hasil diatas dengan harga per unit bahan
yang dibeli. (Cu): Nilai rata-rata persediaan
= (kuantitas setiap kali pemesanan: 2) harga per unit

Q
(C )
2 u

Kalau prosentase tetap biaya pemeliharaan dari nilai rata-rata


persediaan dinyatakan dengan, I maka total pemeliharaan.
C c=

Q
(C )(i )
2 u

Faktor kedua dalam total cost dalah biaya pemesanan atau C r.


Cr dapat diperoleh dengan jalan mengalikan frekuensi pemesanan
dengan biaya setiap kali pemesanan. Apabila total kebutuhan
dinyatakan dengan D, dan Q adalah jumlah atau kuantitas untuk
setiap kali pemesanan maka frekuensi pemesanan dalam setahun
adalah:
D
Frekuensi pemesanan=
Q

27

Kalau selanjutnya ditentukan bahwa Co adalah biaya untuk


setiap kali pemesanan, maka Co dapat dihitung sebagai berikut :
Cr = Frekuensi pemesanan biaya setiap kali pemesanan
Cr =

D
(C )
Q 0

Dengan demikian total cost TC = Cc + Cr akan dapat ditulis


sebagai berikut :

TC=

Q
D
CU i )+ (C 0)
(
2
Q
Gambar 4.

Penggabungan Biaya Pemesanan dan Biaya Pemeliharaan


(Total Cost)

Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa Q yang optimal atau EOQ


tercapai pada titik dimana Cc = Cr, sehingga untuk penentuan jumlah
kuantitas pemesanan yang optimal dapat pula ditulis sebagai berikut:
Q
D
Cu i )= (C0 )
(
2
Q
Q2
( C i )=DC 0
2 u
Cu iQ2 =2 DC 0
Q 2=

Q=

2 DC 0
Cu i

2 DC 0
Cu i

Q yang optimal berarti sama dengan EOQ.

28

Dari formula tersebut terlihat bahwa EOQ akan meningkat


apabila total kebutuhan D dan biaya untuk setiap kali pemesanan Co
bertambah besar dan sebaloknya EOQ akan menurun apabila harga
per unit Cu dan presentase biaya pemeliharaan i meningkat.
Dalam contoh yang digunakan di depan dietahui bahwa:
D

= 9.000 unit

Co = Rp

500,00

Cu = Rp 1.000,00
i

= 1,6 %
EOQ=

2 9.000 500
1.000 1,6
9.000 .000
16

562.500
= 750 unit.
Untuk memperoleh total cost yang paling minimal maka
29
perusahaan harus memesan sebesar 750 unit untuk setiap kali
pemesanan. Jumlah frekuensi pemesanan dalam setahun = 9.000 :
750 = 12 kali atau rata-rata setiap bulan ( 360 : 12 ) = 30 hari atau 1
bulan sekali.
Nilai rata-rata persediaan berdasarkan pola pemesanan di atas
adalah sebesar :
750 Rp 1.000,00
=Rp 375.000,00
2
Total

cost

untuk

berdasarkan EOQ adalah :

kebijaksanaan

pemesanan

persediaan

TC=Cc +C r

Q
D
CU i ) + (C 0)
(
2
Q

750
9.000
( 1.000 ) (1,6 )+
( Rp500,00)
2
750

TC=Rp6.000,00+ Rp 6.000,00=Rp 12.000,00

Dari perhitungan tersebut di atas juga dapat dilihat bahwa


EOQ tercapai pada titik di mana Cc = Cr.
Untuk lebih menjelaskan hasil yang dicapai di atas
perhitungkan total cost dapat pula dilakukan dengan jalan
membandingkan total cost dari frekuensi pemesanan yang berbeda
yang dilakukan dalam setahun. Perhitungan total cost untuk masingmasing frekuensi pemesanan tersebut dapat dilihat dalam table 1.

Tabel 1.
Penentuan Kuantitas Pemesanan yang Paling Optimal ( EOQ )
A

(1)

(2)

1
6
10
12
15
18
20

9.000
1.500
1.000
750
600
500
450

C
(3)
Rp
500,00
500,00
500,00
500,00
500,00
500,00
500,00

D
E
(1) x (3) (2) : 2
(4)
(5)
Rp
Rp
500,00 4.500
3.000,00
750
5.000,00
500
6.000,00
375
7.500,00
300
9.000,00
250
10.000,00
225

F
(6)
Rp
16,00
16,00
16,00
16,00
16,00
16,00
16,00

Keterangan :
A
B
C
D
E

:
:
:
:
:

Frekuensi pemesanan
Kuantitas setiap kali pesan
Biaya setiap kali pesan ( Co )
Total biaya pemesanan per tahun ( Cr )
Rata-rata persediaan

G
H
5x6
(4) + (7)30
(7)
(8)
Rp
Rp
72.000,00 72.500,00
12.000,00 15.000,00
8.000,00 13.000,00
6.000,00 12.000,00
4.800,00 12.300,00
4.000,00 13.000,00
3.600,00 13.000,00

F
G
H

: i, per unit dalam Rp ( biaya pemeliharaan )


: Total biaya pemeliharaan per tahun ( Cc )
: Total cost
Dari table di atas kembali dapat dilihat bahwa EOQ akan

tercapai pada titik pemesanan sebesar 750 unit setiap kali pesan
dengan setiap frekuensi pemesanan dala setahun sebanyak 12 kali
dan total biaya (yang terendah) sebesar Rp 12.000,00.
Berdasarkan tabel di atas dapat pula di ketahui bahwa i, dapat
saja tidak dinyatakan dalam prosentase dari nilai rata-rata persediaan
tetapi dalam rupiahnya. Dari contoh yang diberikan di depan
diketahui bahwa biaya pemeliharaan per unit bahan adalah sebesar
Rp 16,00 (1,6% x Rp 1.000,00), dengan demikian EOQ dapat
langsung dicari sebagai berikut:
EOQ=

2 9.000 500
16
9.000 .000
16

562.500
31
= 750 unit.
a

Potongan Harga
Bagaimanakah pola yang diterapkan dalam konsep EOQ
dapat digunakan untuk menetukan apakah perusahaan harus
mengambil potongan harga yang ditawarkan oleh supplier?
Untuk lebih jelasnya maka digunakan lagi contoh yang sudah
diberikan di depan dimana:
D

= 9.000 unit

Co = Rp

500,00

Cu = Rp 1.000,00

= 1,6 %
Dari perhitungan yang sudah dilakukan di muka diketahui

bahwa EOQ adalah sebesar 750 unit. Kalau misalnya supplier


menawarkan potongan harga sebesar 0,5% apabila perusahaan
mau membeli atau memesan sebesar dua kali lipat dari
pembelian berdasarkan kuantitas EOQ ( 2 x 750 unit ), apakah
perusahaan harus menerima tawaran tersebut?
Untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dengan adanya
potongan harga yang ditawarkan oleh supplier maka haruslah
diperhitungkan semua pengaruhnya atas persediaan perusahaan.
Penghematan yang langsung diperoleh karena adanya
potongan harag tersebut adalah:
Penghematan langsung

DdCu

dimana d adalah discount atau potongan yang berikan.


Oleh karna sudah diketahui bahwa d = 0,005, D = 9.000 unit,
dan Cu = Rp 1.000,00 maka penghematan yang dapat langsung
diperoleh dengan adanya potongan harga tersebut adalah:
9.000 0,005 Rp 1.000,00 = Rp 45.000,00

32

Selanjutnya karena jumlah kuantitas yang dipesan dalam


setiap kali pemesanan bertambah besar maka berarti frekuensi
pemesanan akan semakin kecil. Dengan demikian jumlah biaya
pemesanan akan lebih kecil dari jumlah yang semula, yaitu
sebesar:
Penghematan

biaya pemesanan=

D
D
(C )
( C )
C 0 KQ 0

DC 0
1
(1 )
Q
K

dimana Q adalah economical order quantity, dan k adalah


prosentase peningkatan kuantitas dalam setiap kali pemesanan
yang ada dalam contoh di atas adalah 200% atau dua kali lipat:
Penghematan

biaya pemesanan=

9.000 Rp 500,00
1
(1 )
750
2

Rp3.000,00
Dengan demikian jumlah total penghematan yang dapat
diperoleh dengan adanya potongan harga yang ditawarkan
kepada perusahaan adalah merupakan hasil penjumlahan antara
penghematan langsung atas potongan harga dan penghematan
atas biaya pemesanan:
Rp 45.000,00 + Rp 3.000,00 = Rp 48.000,00
Akan tetapi harus diingat bahwa dengan semakin besarnya
kuantitas yang dipesan dalam setiap kali pemesanan maka aka
nada biaya lain yang bertambah besar, yaitu biaya pemeliharaan
karena jumlah investasi dalam persediaan bertambah besar. 33
Dengan diambilnya potongan harga maka jumlah kuantitas
dalam setiap kali pemesanan adalah kQ atau 200% x 750 unit =
1.500 unit, dan jumlah rata-rata persediaan kQ : 2 atau 750 unit.
Dengan demilian, nilai rata-rata persediaan setelah adanya
potongan harga sebesar 0,005 atau 0,55 adalah:
750 (99,5% 1.000,00 ) = Rp 746.250,00
Biaya pemeliharaan:
Cc = 1,6% Rp 746.250,00 = Rp 11.940,00
Biaya pemeliharaan sebelum adanya potongan harga adalah:

QC u i 750 Rp 1.000,00 1,6


=
=Rp 6.000,00
2
2

Peningkatan biaya pemeliharaan adalah sebesar :


Rp 5.940,00 (Rp 11.940,00 Rp 6.000,00)
Dengan demikian, penghematan bersih setelah adanya
potongan harga sebesar 0,5% adalah sebesar Rp 42.060 (Rp
48.000,00 Rp 5.940,00), dan berdasarkan hasil perhitungan
tersebut maka potongan harga yang ditawarkan tersebut dapat
diambil oleh perusahaan karena lebih menguntungkan.
b

Kebijaksaan Persediaan Dalam Hal Tidak Diketahuinya Biaya


Pemesanan dan Biaya Pemeliharaan
Biaya

pemesanan

dan

biaya

pemeliharaan

yang

diperhitungkan dalam konsep EOQ cukup sulit untuk ditentukan


karena banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi kedua
biaya tersebut sangat tidak menentu, apakah hal tersebut akan
sangat mengurangi nilai dari analisa yang dikemukakan dalam
34
model EOQ diatas, atau apakah model tersebut masih berguna
sebagai

pedoman

dalam

manajemen

persediaan?

Untuk

menjawab pertanyaan tersebut maka di bawah ini akan diberikan


contoh yang sederhana.
Contoh:
Perusahaan X membutuhkan tiga jenis bahan dalam
proses produksi yang dilakukannya. Jumlah kebutuhan per tahun
untuk masing-masing bahan serta harga per unit dan pola
pemesanan yang dilakukan selama ini disajikan dalam Tabel 2.
Dengan kebijaksanaan pemesanan persediaan seperi Tabel
2 menghasilkan nilai rata-rata persediaan terbesar sebesar
Rp21.750,00. Dapatkah perusahaan mengurangi nilai rata-rata

persediaan tanpa mengurangi jumlah frekuensi pemesanan per


tahunyang sebanyak 27 kali? Atau dapatkah perusahaan
mempertahankan frekuensi pemesanan sebanyak 27 kali tetpai
dengan mengubah jumlah pemesanan untuk masing-masing item
sehingga jumlah investasi atau nilai rata-rata persediaan
dikurangi? Untuk menjawab pertanyaan di atas marilah kita
telusuri analisa berikut ini.
Total cost untuk masing-masing item persediaan seperti
sudah disajikan di depan: TC = Cc + Cr.
Tabel 2.
Pola Pemesanan Persediaan Perusahaan X
Kebutuhan
Frekuensi
Nilai
Item Per tahun Harga Pemesanan persediaan
Rata(D)
Per tahun untuk setiap
per
rata
kali pemesanan Persedia
Unit (Cu)
an
A
B
C

20.000
10.000
15.000

TC=

Rp
8,00
4,00
6,00

5
10
12
27

Rp
32.000,00
4.000,00
7.500,00

Rp
16.000,00
2.000,00
3.750,00

35
27.750,00

QC ui DC 0
+
2
Q

Economic order quantity untuk masing-masing item dapat


ditentukan dengan formula sebagai berikut:
Q=

2 DC 0
Cu i

Formula TC tersebut dapat pula ditulis sebagai berikut:

( )(

TC=

Cu i
2

2 DC o
DC o
+
Cu i
2 DC o
Cu i

DC o Cu i
DC o Cu i
+
2
2

2 DC o C u i
( 2 Co i)( DC u )
Total cost yang minimum untuk ketiga item persediaan adalah:
TC=( 2C o i DC u ) A + ( 2 Co i DC u ) B+ ( 2 Co i DC u ) C
Apabila diasumsikan bahwa biaya untuk setiap kali
pemesanan Co dan prosentase tetapbiaya pemeliharaan, i adalah
sama untuk ketiga produk yang dipesan, maka untuk ketiga item
tersebut adalah:
TC m = 2C o i ( DC u ) A+ ( DC u ) B+ ( DC u ) C

Nilai dari

DC u

36

dapat dihitung sebagai berikut:

Item

Cu

DCu

DC u

A
B
C

20.000
10.000
15.000

Rp 8,00
Rp 4,00
Rp 6,00

Rp
160.000,00
Rp
40.000,00
Rp
90.000,00

400
200
300

Total

DC u

900

Apabila jumlah pemesanan per tahun seperti yang sel;ama ini


dilakukan sebanyak 27 kali dan jumlah atau frekuensi tersebut
ingin dipertahankan serta jumlah dari DCu adalah 900 maka
jumlah pemesanan untuk masing-masing item persediaan yang
akan menimimumkan total cost adalah:
Item

Bobot

Pertahun

Pemesanan

Total frekuensi
Pemesanan

Per tahun

400
900

27

= 12 kali

200
900

27

= 6 kali

300
900

27

= 9 kali

Total frekuensi pemesanan

= 27 kali

Setelah mengetahui frekuensi pemesanan untuk masing-masing


item persediaan berdasarkan perhitungan di atas maka nilai ratarata persediaan untuk item tersebut dapat dihitung seperti dalam
Tabel 3.
Tabel 3.
Pola Pemesanan yang Optimal
Item

A
B
C

Kuantitas
Nilai
Pemesanan
Setiap
Nilai
rata-rata
Cu
D
per
kali
persediaan Persediaan
Tahun
Pesan
Rp
Rp
Rp
20.000 12 kali 1.666,6 8,00 13.333,37 6.666,67
7
37
4,00
6.666,67 3.333,33
10.000 6 kali
1.666,6
6,00 10.000,00 5.000,00
15.000 9 kali
7
1.666,6
7
27 kali

15.000,00

Berdasarkan hasil perhitungan dalam tabel 10.4 tampak


bahwa jumlah nilai rat-rata persediaan dapat diturunkan sebesar
Rp 6.750,00yaitu dari Rp 21.750,00 menjadi Rp 15.000,00.
Modal sebesar Rp 6.750,00 yang tadinya terikat dalam
persediaan sekarang dapat digunakan untuk aktivitas-aktivitas

perusahaan yang lain sehingga dapat memperbesar tingkat


penghasilan perusahaan secara keseluruhan
Di samping hal di atas, penggunaan EOQ dalam
manajemen persediaan juga mempunyai impilasi finansial yang
lain. Formula EOQ yang sudah disajikan di depan anda dapat
pula ditulis sebagai berikut:
Q=

2 DC
Cui

2 D Co
Cu i

Q 2=

2 D Co
Cu i

C o Q2 C u
=
i
2D
Apabila biaya pemesanan dan biaya pemeliharaan untuk
masing-masing item, A, B dan C adalah sama atau berimbang
38
satu sama lain maka ratio C o/i untuk masing-masingitem juga
sama atau tidak jauh berbeda satu sama lain. Dengan pola
pemesanan seperti yang dilakukan oleh perusahaan selama ini,
yaitu A 5 kali, B 10 kali, dan C 12 kali maka ratio tersebut
sangat berbeda satu sama lain seperti yang terlihat dalam Tabel
10.5
Tabel 4.
Nilai Atau Ratio Co/i Dengan Pola Pemesanan yang Biasa
Dilakukan
Kebutuhan
Item Per tahun
(D)
A
20.000
B
10.000

Kuantitas
Frekuensi
Cu
Setiap kali
Pemesanan
Pesan
5
4.000
Rp 8,00
10
1.000
Rp 4,00

Q 2 Cu C o
=
2D
i
Rp 3.200,00
Rp 200,00

15.000

12

1,250

Rp 6,00

Rp

312,50

Untuk mengetahui berapa ratio Co/i dengan pola pemesanan


yang optimal, A 12 kali, B 6 kali, dan C9 kali, maka
perhitungannya dapat dilihat di bawah ini:
Tabel 5.
Ratio Co/i Dengan Pola Pemesanan yang Optimal
Item
A
B
C

Kebutuhan Frekuensi Kuantitas


per tahun pemesanan setiap kali
Cu
(D)
pesan
20.000
12 kali
1.666,67 Rp 8,00
10.000
6 kali
1.666,67 Rp 4,00
15.000
9 kali
1.666,67 Rp 6,00

Q 2 Cu C o
=
2D
i
Rp 555,56
Rp 555,56
Rp 555,56

Dari hasil perhitungan dalam Tabel 10.6di atas tampak


bahwa dengan pola pemesanan yang optimal yang sudah di
hitung di muka ratio Co/i untuk masing-masing item persediaan
adalah sama.
Sepanjang total frekuensi pemesanan per tahun adalah
sebanyak 27 kali maka tidak ada lagi pola pemesanan yang lebih
optimal dari pola seperti di atas.
Penedekatan ini akan sangat berguna bagi manajer
keuangan karena hal tersebut memberikan suatu pedoman
39
baginya untuk mengetahui apakah ada dana yang dapat
dibebaskan dengan jalan mengatur persediaan sedemikian rupa.
Rata-rata investasi dalam masing-masing persediaan seharusnya
kurang lebih proporsional dengan akar ( ) dari kuantitas bahan
yang dipesan dalam setiap kali pemesanan dikalikan dengan
harga per unit (DCu). Dengan membandingkan jumlah
persediaan yang actual (polapemesanan yang dilakukan) dengan
standar optimal yang dihitung berdasarkan (DCu) maka
manajer keuanagn akan dapat mengatahui atau mengidentifisir

dalam item yang mana modal yang terlalu banyak atau berlebihlebihan di investasikan.
Singkatnya, pendekatan dengan menggunakan model EOQ
ini dapat digunakan oleh manajer keuangan untuk menentukan
apakah investasi modal perusahaan dalam persediaan dilakukan
secara berlebih-lebihan. Selanjutnya, apabila permintaan D,
adalah sama atau konstan sepanjang tahun maka sekalipun tanpa
mengetahui biaya pemesanan dan biaya pemeliharaan, manajer
keuangan dapat mengetahui cara di atas untuk meminimumkan
investasi dalam persediaan. Hal ini di sebankan karena
kebijaksanaan pemesanan yang optimal haruslah proporsional
dengan DCu. Pemesanan dengan pola DCu akan menjamin
bahwa investasi dalam masing-masing item persediaan juga
akan proporsional dengan DCu . Berdasarkan pola pemesanan
yang seperti ini maka ratio C o/i

untuk masing-masing item

persediaan akan sama satu dengan yang lainnya, dan tidak ada
lagi pola pemesanan yang paling optimal yang dapat dicapai
sepanjang total frekuensi pemesanan tidak berubah.
2. Recorder Point
40
Apabila perusahaan sudah menghitung kuantitas pemesanan yang
paling optimal atau EOQ, maka selanjutnya haruslah ditentukan saat
pemesanan dari masing-masing item persediaan atau yang lebih dikenal
dengan istilah reorder point. Dalam contoh di depan diasumsikan
bahwa pemesanan akan diterima segara sesudah diadakan pemesanan,
tetapi dalam kenyataan seringkali dibutuhkan beberapa hari sejak saat
barang dipesan sampai dengan saat diterimanya pemesanan tersebut.
Dengan perkataan lain, ada lead time antara saat pemesanan dan saat
diterimanya pemesanan.
Kalau di depan sudah dikatakan bahwadalah konstan, maka
reorder point dapat ditentukan sebagai berikut:

Reorder point = Lead time X kuantitas pemakaian per hari. Ratarata pemakaian per hari dapat ditentukan dengan jalan membagi total
kebutuhan per tahun dengan jumlah hari dalam setahun atau lebih tepat
lagi dengan jumlah hari kerja per tahun. Untuk memudahkan
perhitungan maka di sini diasumsikan bahwa hari kerja dan jumlah hari
dalam setahun adalah sama, yaitu 360 hari. Dengan demikian jumlah
pemakaian per hari untuk contoh EOQ yang diberikan di depan adalah
25 unit (9.000 : 360). Apabila diketahui bahwa lead time adalah selama
4 hari, maka order point atau titik pemesanan kemabali akan dilakukan
pada saat jumlah persediaan dalam perusahaan sebesar:
Reorder point = 4 x 25 unit = 100 unit.
Pemesanan kembali yang dilakukan pada saat persediaan dalam
perusahaan berjumlah 100 unitberarti bahwa bahan yang dipesan
tersebutakan diterimapada saat persediaan dalam perusahaan berjumlah
nol. Perhitungan di atas tentu saja didasarkan pada lead time serta
kuantitas pemakaiaan per hari yang tidak berubah-ubah atau tetap.
Untuk menghindari resiko kehabisan bahan maka biasanya
perusahaan menetapkan suatu jumlah persediaan minimum yang selalu
41
ada dalam perusahaan atau disebut juga dengan istilah safety stock.
Dalam hal adanya safety stock ini maka titik pemesanan kembali akan
dilakukan pada saat persediaan dalam perusahaan berada pada jumlah
yang sama dengan pemakaian selama lead time ditaabah dengan safety
stock.
Contoh:
Perusahaan X dalam contoh di depan menetapkan jumlah safety
stock sebesar 100 unit dan diketahui pula bahwa lead time selama 4 hari
serta kuantitas pemakaian per hari adalah 25 unit.
Reorder point untuk keadaan tersebut adalh:
Reorder point

safety stock + kebutuhan selama lead time

100 Unit + (4 x 25 unit) = 200 unit.

Dengan adanya persediaan minimum atau safety stock dalam


perusahaan maka jumlah rata-rata investasi dalam persediaan pun akan
berubah. Dari contoh yang diberikan di depan diketahui bahwa:
EOQ =

750 unit

Cu

Rp 1.000,00

1,6%

Dengan adanya safety stock sebesar 100 unit maka rata-rata investasi
dalam persediaan adalah:

EOQ
C u+(safety stock Cu )
2

750
Rp1.000,00+(100 Rp 1.000,00)
2

= Rp 475.000,00.
Biaya pemeliharaan Cc setelah adanya safety stock adalah:
1,6% x Rp 475.000,00 = Rp 7.600,00
Biaya pemeliharaan sebelum adanya safety stock adalah:
750
Rp 1.000,00 1,6 =Rp 6.000,00
2

42

Dengan demikian, safety stock sebesar 100 unit akan menambah


biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.600,00 sehingga menjadi Rp 7.600,00.
3. Sistem ABC
Sebagian besar perusahaan industri sering kali mempuinyai
persediaan yang terdiri dari berbagai-bagai item. Item-item tersebut
sebagian berharga murah, item-item yang lainnya berharga cukup mahal
sehiungga membutuhkan jumlah investasi yang cukup besar.
Dari sudut pandang yang lain, ada beberapa item persediaan
perusahaan yang tidak mahal tetapi tingkat perputarannya sangat rendah

sekali sehingga hal tersebut pun membutuhkan jumlah investasi yang


besar pula. Sekalipun ada item-item persediaan yang berharga cukup
mahal tetapi karena tingkat perputarannya cepat, maka jumlah investasi
dapat ditekaan sedemikaian rupa sehingga tidak terlalu besar.
Perusahaan-perusahaan

yang

banyak

meiliki

item

dalam

persediaan haruslah menganalia masing-masing item persedian


tersebutn untuk dapat memperkirakan jumlah investasi dalam masingmasing item. Hasil-hasil riset telah membuktikan bahwa distribusi
untuk masing-masing item persediaan didalam sebagian besar
perusahaan indusatri adalah seperti yang tampak dalam gambar 5.
Gambar 5.
Contoh Distribusi Item Persediaan Perusahaan
Prosentase
distribusi total
investasi dalam
persediaan

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa sekitar 20% dari itemitem persediaan membutuhkan investasi sebesar 90% sedeangkan sisa
43
persediaan sebesar 80% membutuhkan investasi lebih kurang sebesar
10% dari total investasi dalam persediaan. Berdasarkan data seperti ini
maka dikembangkan pendekatan ABC dalam system kontrol persediaan
(inventory control).
Perusahaan yang menggunakan pendkatan A, B, dan C membagi
item-item per4sediaan dalam tiga kelompok, yaitu: A, B, dan C. item A
merupakan persediaan yang membutuhkan investasi yang terbesar,
dalam gambar diatas persediaan (kelompok A) yang sebesar 20%
membutuhkan investasi sebesar 90% dari total investasi dalam
persediaan. Item-item ini merupakan item yang termahal dan
perputarannya sangat lambat.

Kelompok

merupakan

item-item

persediaan

yang

membutuhkan investasi nomor dua terbesart dalam gambar 5, item ini


berjumlah sekitar 30% dan membutuhkan investasi sekitar 8%,
sedangkan item C yang biaanya terdiri dari item-item yang jumlahnya
paling besar tetapi membutuhkan investasi yang paling kecil. Dalam
Gambar 10.1 diatas item ini berjumlah sekitat 50% dan membutuhkan
investasi lebih kurang 2% dari total investasi dalam persediaan.
Dengan membagi itemn persediaan ke dalam kelompok A, B, dan
C maka akan kemungkinan perusahaan akan untuk menentukan bentuk
dan prosedur pengawasan yang dibutuhkan. Kontrol untuk item A harus
lebih intensif mengigat besarnya modal yang diinvestasikan dalam
kelompok ini, dimana pengguna formula-formula statistik ataupun
formula yang sederhana seperti economic order quantity ( EOQ )
akan sangat tepat untuk pengontrolan item-item dalam kelompok A ini.
Pengontrolan dalam item-item B dan C tidak seintensif yang
dibutuhkan dalam kelompok A, sekalipun demikian bukan berarti kedua
item tersebut diabaikan.
Haruslah disadari bahwa penggunaan system ABC dalam
pengontrolan persediaan tidak dapat diterapkan secara iniversal karena
ada beberapa item persediaan yang tidak terlalu mahal tetapi salah satu
item terpenting dalam proses produksi serta tidak dapat diperoleh
44
dengan mudah, maka untuk item yang seperti ini memerlukan suatu
perhatian khusus. Item-item tersebut haruas diperlakukan sebagai
persediaan kelompok A sekalipun dengan menngunakan dasar
pemikiran yang diberikan di atas item tersebut akan dimaksudkan ke
kelompok B ataupun C. Walaupun tidak sempurna pendekatan dengan
menggunakan sistem ABC ini merupakan metode yang cukup baik
dalam penentuan tingkat pengontrolan untuk masing-masing item
persediaan perusahaan.
4. Safety Stock

Safety stock atau persediaan pengamanan tambahan yang diadakan


untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan
bahan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Bab ini membahas beberapa aspek dari manajemen persediaan.
Persediaan membutuhkan suatu jumlah investasi yang besar dalam sebagian
besar perusahaan industry, dan oleh karena itu diperlukan adanya
manajemen persediaan yang efisien.
Manajer keuangan tidak hanya berkepentingan dengan persediaan
bahan mentah, tetapi juga dengan jenis-jenis persediaan yang lainnya, yaitu
persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Jumlah
persediaan haruslah dimonitor untuk menjamin tidak adanya jumlah
investasi yang berlebih-lebihan.
Bagian

pemasaran

perusahaan

akan

lebih

senang

untuk

mempertahankan jumlah persediaan dalam jumlah besar, terutama


persediaan barang jadi, untuk menjamin kelancaran prose penjualan serta
45
mengurangi resiko kehabisan barang.
Manajer produksi yang sangat berkepentingan dengan persediaan
bahan mentah dan persediaan barang dalam proses akan lebih menyukai
adanya jumlah yang cukup besar dari persediaan-persediaan tersebut
untukmenjamin kelancaran proses produksi. Tindakan-tindakan dari manajer
produksi ini secara langsung mempengaruhi tingakat persediaan barang jadi.
Bagian pembelian yang sangat berkepentingan dengan jumlah bahan
mentah dalam persediaaan akan selalu berusah untuk menjamin adanya
persediaan bahan mentah yang cukup besar.

Adanya pandangan atau kepentingan yang berbeda satu sama lain dari
masing-masing bagian dalam perusahaan atas jumlah persediaan yang ingin
dipertahankan haruslah dapat dikompromikan untuk dapat terciptanya
manajemen persediaan yang efisien. Dalam hal ini, manajer keuangan akan
bertindak sebagai penengah dari kepentingan-kepentingan yang berbeda
tadi, dan tentu saja keputusan-keputusan yang diambilnya harus didasarkan
pada pertimbangan cost and benefit atau untung ruginya bagi perusahaan.
Pengontrolan

persediaan

dengan

menggunakan

system

ABC

ditunjukkan untuk mengetahui item-item mana dalam perusahaan yang


46
harus mendapatkan perhatian yang paling banyak. Hal tersebut dapat dicapai
dengan jalan membagi masing-masing item persediaan ke dalam kelompok
A, B, dan C. item A merupakan persediaan yang kuantitasnya terkecil tetapi
membutuhkan investasi yang terbesar, item B berada di tengah-tengah baik
dari segi kuantitas maupun investasinya, sedangkan item C merupakan item
persediaan dengan kuantitas terbesar tetapi mebutuhkan investasi yang
paling kecil.
Salah satu teknik pengontrolan persediaan yang paling banyak
digunakan adalh economic order quantity atau EOQ. Dengan teknik EOQ
ini berarti perusahaan dapat menekan biaya persediaan (biaya pemesanan
dan biaya pemeliharaan) dengan jalan memesan bahan-bahan yang
dibutuhkan atas dasar pola pemesanan yang paling optimal. Dengan
diketahuinya EOQ serta dengan pertimbangan adanya lead time tertentu
dalam pemesanan bahan maka perusahaan dapat menetukan titik pemesanan
kembali atau order point.
3.2. Saran
Manajer keuangan yang melihat persediaan sebagai suatu investasi yang
akan

mengikat

modal

perusahaan,

haruslah

menyadari

dan

mempertimbangkan hubungan yang timbul antara persediaan dengan


piutang bilaman dia bermaksud mengambil keputusan-keputusan yang
berkenan dengan produksi-penjualan. Manajer keuangan haruslah selalu

memperhatikan agar investasi dalam persediaan tidak berlebih-lebihan


sehingga jumlah persediaan dapat dipertahankan dalam jumlah yang sekecil
mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Brigham, Eugene F. Dan Joel F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan.Jakarta:
Erlangga.
Ervita, Safitri & Abdul Aziz. 2013. Manajemen Keuangan. Palembang:
CitraBooks
Hanafi, M.B.A. Dr. Mamduh M. 2004. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
47
James, dkk (2009) Pengantar Akuntansi Adaptasi Indonesia. Salemba empat,
Jakarta
Keown, dkk (2008). Manajemen Keuangan. Edisi kesepuluh. Indeks, Indonesia
Manullang. 2005. Pengantar Menejemen Keuangan. Jokjakarta: Andi
Syamsuddin, M.A., Drs. Lukman. 2007. Manajemen Keuangan Perusahaan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.

48