Anda di halaman 1dari 20

Bagian Ilmu Radiologi

JOURNAL READING

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

MEDIASTINAL GERM CELL TUMOR IMAGING

Oleh:
Aprilini Fitrisia
Pembimbing:
dr. Dompak S.H, Sp.Rad

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Pada Bagian Ilmu Penyakit Radiologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
2013

GAMBARAN TUMOR SEL GERMINAL MEDIASTINUM

Tumor sel germinal paling sering terjadi pada gonad, namun pada sedikit kasus yang
terjadi bisa juga ditemukan pada extragonad, biasanya di dalam atau garis tengah. Beberapa
variasi tumor sel germinal extragonad telah diketahui. Mediastinum merupakan lokasi
extragonad paling sering. Pada orang dewasa, lebih dari 10-15% dari tumor mediastinum
merupakan tumor sel germinal, pada anak-anak, 25% dari tumor mediastinum adalah tumor sel
germinal. Tumor sel germinal tersebut berasal dari sisa-sisa sel germinal dalam mediastinum.
Gambar massa mediastinum yang digambarkan di bawah ini.

Tumor mediastinal anterior dengan gambaran halus batas tegas dengan atenuasi yang heterogen
terkait dengan nodul intratumor kalsifikasi.

Contrast-enhanced axsial CT scan menunjukkan massa mediastinum anterior dengan batas yang
tidak jelas, yang infiltrasi lemak mediastinum. Biopsi jarum CT mengungkapkan seminoma
mediastinum.

Pasien dengan masa mediastinum anterior terletak asimetris. Tomogram garis lateral (tidak
terlihat di gambar ini) menunjukan batas tegas yang baik, meredam masa secara keseluruhan;
sonogram menunjukan masa dengan halus, echotexture yang seragam. Pasien tidak menjalani
operasi dan hasil temuan dari beberapa tahun menunjukkan sedikit perubahan.
Tumor sel germinal mungkin bisa jinak dan ganas. Variasi jinak meliputi teratoma jinak
dan teratodermoids. Tumor ganas termasuk seminoma dan tumor nonseminomatous (teratoma
maligna). Tumor Nonseminomatous diklasifikasikan lebih lanjut sebagai teratocarcinomas,
koriokarsinoma, karsinoma embrional, dan sinus atau endodermal tumor. Sekitar 80% dari tumor
sel germinal mediastinum adalah jinak, frekuensi tingkat kejadian yang sama pada pria dan
wanita. Tumor ganas dominan pada pria, rasio pria dan wanita adalah 9:1. Tumor sel germinal
jinak yang disebut teratoma atau dermoid jika secara umum padat. Beberapa tumor dominan
kistik yang dikenal sebagai kista epidermoid atau dermoid. Kebanyakan pasien adalah pria
berusia antara 20-40 tahun.
Sekitar sepertiga dari pasien tidak menunjukkan gejala. Gejala akan timbul terkait dengan
ukuran lesi. Kadar Human chorionic gonadotropin (HCG) meningkat pada 7-18% pasien, tapi
kadar alpha-fetoprotein (AFP) biasanya pada tingkat normal. Penyebaran metastasis mencakup
kelenjar getah bening regional, paru-paru, dan tulang. Neoplasma ini sangat bersifat
chemosensitive dan radiosensitive, dan angka kelangsungan hidup 5 tahun lebih dari 75% sangat
jarang terjadi.
Tumor sel germinal ganas dibagi lagi menjadi seminoma dan teratoma ganas (tumor
nonseminomatous). Seminoma merupakan tumor sel germinal mediastinal kedua yang tersering.
Gambaran pencitraan dari seminoma biasanya besar, batas tepi tegas masa homogen. Masa
mediastinum anterior dengan opasitas atau atenuasi jaringan lunak yang menunjukkan
peningkatan kontras minimal. Terjadi kalsifikasi yang luar biasa. Karsinoma embrional,
endodermal tumor sinus, koriokarsinoma, dan kombinasi dari tipe histologis ini merupakan
tumor sel germinal nonseminomatous. Lesi ini terjadi hampir pada seluruh pria..
Kombinasi radioterapi dan kemoterapi merupakan pilihan terapi, dengan angka
kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 50%. Pasien-pasien ini memiliki resiko keganasan
2

hematologi yang terjadi bersamaan yang tidak berhubungan dengan kemoterapi. Gambaran
pencitraan yang luas masa mediastinum anterior mungkin terdiri dari area hemorrhage dan
nekrosis yang luas. Bagian lemak disekitarnya biasanya dilenyapkan.[1,2,3,4,5,6,7,8,9,10]
Pilihan Pemeriksaan
Computed tomography (CT) scan merupakan pilihan modalitas pencitraan pada evaluasi
lesi mediastinum. CT scan merupakan modalitas yang sangat baik untuk menentukan lokasi
tumor mediastinum, serta hubungannya dengan struktur yang berdekatan. Hal ini juga berguna
untuk membedakan massa yang terorganisasi di mediastinum atau yang melewati batas atas
mediastinum dari paru-paru atau struktur lainnya. CT scan mungkin membantu untuk
membedakan variasi atenuasi jaringan, dan sangat akurat untuk membedakan cairan, lemak,
kalsifikasi, dan kista dari tumor padat. CT dapat digunakan untuk mengukur derajat vaskularisasi
tumor mediastinum.
Radiografi konvensional masih memiliki peran utama dalam diagnosis awal dari massa
mediastinum.
Ultrasonografi lebih terdepan, khususnya di kelompok usia anak-anak , dan itu sangat sensitif
dalam membedakan kista dari massa mediastinum yang solid.
Echocardiography merupakan alat yang sangat penting untuk membedakan tumor yang berasal
dari pericardium / atau miokardium dari tumor lainnya.
Gaambaran Radionuklida dapat memberikan diagnosis spesifik jaringan terdekat fungsi untuk
tumor endokrin, seperti karsinoid mediastinum, kelainan jaringan tiroid dan / atau jaringan
paratiroid, dan pheochromocytomas.
Angiography kadang-kadang diperlukan untuk mengevaluasi kelainan vaskular anterior
mediastinum dan atau aneurisma dan untuk membedakannya dari tumor mediastinum lainnya.
[11,12,13,14,15,16,17,18,19,20]

Keterbatasan Teknik
CT scan dapat bersifat invasif, dan mungkin diperlukan sedasi atau anestesi umum yang
mungkin diperlukan pada pasien muda. Selain itu, CT memberikan dosis radiasi kepada pasien.
Pasien mungkin alergi terhadap media kontras iodinasi, yang harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien dengan gagal ginjal.
Gambaran dari massa mediastinum anterior pada rontgen foto thoraks tidak spesifik, dan
diagnosis banding banyak. Perbedaan antara lesi jinak dan ganas mungkin tidak dapat
ditunjukkan. Kalsifikasi halus dan erosi tulang bisa tidak ditemukan pada radiografi. Massa awal
dengan efusi pleura dan perikardial mungkin tidak terdeteksi. Lemak mungkin bisa dikaburkan
oleh perdarahan tumoral atau ruptur, dan diagnosis salah dari lesi ganas mungkin dapat
3

dilakukan vaskularisasi tumor mediastinum tidak dapat dinilai pada radiografi konvensional.
Rontgen thoraks posteroanterior standar (PA) mungkin susah dilakukan pada pasien sakit, dan
pada anak kecil, massa mediastinum anterior dapat dikaburkan pada pemeriksaan radiografi
anteroposterior (AP) dengan pembesaran mediastinum.
Ultrasonografi tergantung pada operator, dan akses ke mediastinum anterior mungkin sulit
dikarenakan tulang dada dan paru-paru.
Angiography bersifat invasif dan dapat menimbulkan risiko morbiditas kecil.
Meskipun pemindaian radionuklida lebih spesifik untuk jaringan dibanding modalitas pencitraan
lainnya, hasil positif palsu dapat ditemukan, dan dapat terjadi pada variasi keadaan normal,
peradangan, dan neoplastik.

Radiografi
Radiografi thorak standar biasanya merupakan prosedur pencitraan pertama yang
dilakukan pada seorang individu dengan gejala yang mengacu pada thorax (lihat gambar di
bawah).

Tumor mediastinal anterior dengan gambaran halus batas tegas dengan atenuasi yang heterogen
terkait dengan nodul intratumor kalsifikasi.

Gambaran kerucut dari mediastinum superior memperlihatkan tumor mediastinum anterior


berbatas tegas dengan nodul kalsifikasi intratumoral menunjukkan teratodermoid mediastinum.
Perhatikan juga kalsifikasi curveliner.

Tumor mediastinal anterior berbatas tegas dengan atenuasi seragam. Pada operasi, dermoid
mediastinum akan terdiagnosis. Perhatikan tanda hilus-overlay, menunjukkan masa mediastinum
anterior atau posterior.

Tomogram konvensional Lateral memperlihatkan atenuasi seragam, masa mediastinal anterior


dengan gambaran halus berbatas tegas dan tanpa kalsifikasi.

Masa mediastinal superior berbatas tegas dan berlobulasi tapi halus daengan atenuasi seragam.

Pasien dengan biopsy membuktikan dermoid mediastinal anterior meluas melewati kedua sisi
dari garis tengah.
6

Radiografi thorak Posteroanterior (kiri) dan lateral (kanan) memperlihatkan biopsy yang
membuktikan dermoid mediastinum posterior.
Kebanyakan massa mediastinum anterior bersifat asimptomatik, kebanyakan masa jinak,
yang ditemukan secara kebetulan pada radiografi thorax PA dan lateral. Gambaran radiograf
sering didapatkan untuk keadaan yang tidak berhubungan dengan tumor sel germinal. Foto
toraks lateral dapat menunjukkan lokasi masa yang melewati kompartemen mediastinum, itu
memberikan petunjuk mengenai keadaan patologi, dan membatasi sejumlah kelainan dari
diagnosis banding. Informasi ini, dikombinasikan dengan usia pasien, jenis kelamin, dan
dihubungkan dengan temuan klinis menjadi alat radiologi untk menentukan pilihan yang tepat
dari teknik diagnostic lebih lanjut.
Pada radiografi thoraks, tumor jinak terlihat sebagai masa, massa mediastinum anterior
yang terbatas atau berbatas tegas. Kalsifikasi bisa terlihat pada lebih dari 26% kasus. Lesi ganas
memiliki gambaran yang kurang tegas dari lesi jinak. Mereka memiliki tepi yang tidak jelas, dan
mereka dapat mengobsitasi daerah lemak anatara pembuluh darah utama dan pericardium,
sternum dapat terkikis, dan dapat terjadi lesi yang berhubungan dengan paru dan tulang, dan
limfadenopati mediastinal dapat digambarkan. Kalsifikasi terjadi kurang dari 1% pada
mediastinal anterior ganas.
Tingkat kepercayaan
Meskipun kemajuan besar dalam pencitraan cross-sectional, foto toraks konvensional
tetap menjadi peran utama dalam diagnosis awal massa mediastinal. Hal ini membantu klinisi
untuk menentukan tindak lanjut berikutnya dalam penyelidikan pasien dengan massa
mediastinum. Gambaran radiografi dengan batas tegas dapat membantu menegaskan ketika masa
mediastinal anterior asimptomatik dengan kalsifikasi terdeteksi.
Radiografi standar pada dada tersedia secara universal, noninvasive, dan murah, dan juga
memberikan radiasi dosis rendah, dan gambaran yang mudah untuk ditafsirkan.
7

Kesalahan positif / negatif


Seperti halnya studi pencitraan anatomi lainnya, gambaran massa mediastinum anterior tidak
spesifik, dengan diagnosis diferensial yang luas (lihat gambar di bawah). Diferensiasi antara lesi
jinak dan ganas mungkin tidak dapat dilakukan. CT lebih tinggi untuk menunjukkan gambaran
kalsifikasi dan obliferasi area lemak, limfadenopati mediastinal, dan erosi tulang. Kebanyakan
pasien dengan massa mediastinum anterior yang dievaluasi lebih lanjut dengan cross-sectional
pencitraan.

Diagnosis Banding. Mediastinum yang melebar pada anak-anak dengan leukemia limfatik akut
yang disebabkan oleh limfadenopati mediastinum.

Diagnosis Banding. Rontgen dada menunjukkan limfadenopati mediastinum yang luas akibat
limfoma non-Hodgkin.

Diagnosis Banding. Rontgen dada Posteroanterior menunjukkan massa yang merupakan


kelanjutan dari aortic knob. Temuan pada contrast enhanced CT dapat mengkonfirmasi bahwa
masa adalah aneurisma aorta (tidak ditampilkan).

Diagnosis Banding. Radiografi dada dan CT scan Posteroanterior (atas kiri) dan lateral (atas
kanan) pada mediastinal (kiri bawah dan tengah) dan bone window (kanan bawah) menunjukkan
Askin tumor dengan kerusakan tulang.
Computed Tomography
Massa mediastinum anterior yang jinak biasanya digambarkan oleh CT scan dengan tepi
tegas, berlobulasi, berkapsul, massa campuran padat dan kistik. Lesi biasanya meluas ke 1 sisi
garis tengah. Pada 13% dari pasien dengan massa mediastinum anterior, tumor meluas ke
kompartemen mediastinal tengah dan posterior. Daerah kista yang sering tampak multilocular
dan berbatas tipis ditemukan lebih dari 88% kasus (lihat gambar di bawah).

Contrast-enhanced axial pada CT scan menunjukkan massa mediastinum anterior dengan batas
tidak teratur dengan infiltrasi lemak mediastinum. Biopsi jarum dengan panduan CT dapat
menunjukkan seminoma mediastinal.

Contrast-enhanced axial CT scan pada mediastinum pada laki-laki usia 56-tahun menunjukkan
tumor peningkatan infiltrasi tumor. Perhatikan efusi pleura. Biopsi mengkonfirmasi tumor sel
germinal tipe sarcomatous.

10

Radiografi thorak posteroanterior dan nonenhanced CT scan pada mediastinum diperoleh dari
laki-laki berusia 18 tahun menunjukkan tumor besar meliputi mediastinum anterior tengah dan
posterior.
Tumor didominasi kistik pada 80% kasus. Sekitar 50-73% dari tumor jinak memiliki
kandungan lemak, dan 25-50% tumor yang mengalami kalsifikasi. Lapisan lemak dan cairan
ditemukan lebih dari 11% pasien, efusi pleura bisa ditemukan lebih dari 17% kasus, dan efusi
pericardial bisa ditemukan pada 5%.
CT berguna untuk membedakan teratoma mediastinal rupture dari yang tidak rupture.
Gejala parah (nyeri dada atau hemoptisis) lebih sering ditemukan pada pasien dengan tumor
ruptur (71%) dibandingkan pada pasien dengan tumor yang tidak ruptur. Teratoma mediastinal
ruptur, komponen internal secara umum homogen, sedangkan dengan tumor yang tidak ruptur,
masing-masing kompartemen internal massa menunjukkan atenuasi homogen. Temuan CT lain
pada tumor rupture termasuk masa yang mengandung lemak di parenkim paru yang berdekatan,
konsolidasi,atau atelektasis pada parenkim paru yang berdekatan, efusi perikardial, dan efusi
pleura.
Teratoma matur pada mediastinum biasanya ditunjukkan pada CT sebagai masa
mediaistinal anterior heterogenus meliputi area jaringan lunak, cairan, lemak, atau atenuasi
kalsium, atau kombinasi dari semuanya. Area kistik yang mengandung cairan, lemak, dan
kalsifikasi sering terjadi. Lesi kistik tanpa lemak atau kalsium terlihat pada 15% tumor.tingkat
lemak dan cairan, dianggap sangat spesifik untuk diagnosis teratoma mediastinal matur namun
jarang. CT merupakan pillihan teknik pencitraan pada evaluasi lesi ini.

11

Lesi ganas memiliki batas yang tidak jelas dan tidak teratur, yang menginfiltrasi lemak
mediastinum.[21,22]
Tingkat kepercayaan
Computed tomography (CT) scan merupakan pilihan modalitas pencitraan pada evaluasi
lesi mediastinum. CT scan merupakan modalitas yang sangat baik untuk menentukan lokasi
tumor mediastinum, serta hubungannya dengan struktur yang berdekatan. Hal ini juga berguna
untuk membedakan massa yang terorganisasi di mediastinum atau yang melewati batas atas
mediastinum dari paru-paru atau struktur lainnya. CT scan mungkin membantu untuk
membedakan variasi atenuasi jaringan, dan sangat akurat untuk membedakan cairan, lemak,
kalsifikasi, dan kista dari tumor padat. CT dapat digunakan untuk mengukur derajat vaskularisasi
tumor mediastinum.
CT scan lebih baik dibanding studi pencitraan cross-sectional lain, yang mengungkapkan
invasi lokal struktur yang berdekatan dengan massa atau metastasis intrathoracic yang
ditemukan.
Kesalahan positif / negatif
Walaupun CT sangat sensitif dalam mendiagnosis massa di mediastinum anterior, tingkat
kespesifikasinya rendah dalam hal membedakan lesi jinak dari lesi ganas dan dalam
mengklarifikasikan variasi tipe histologi dari lesi ganas (lihat gambar di bawah).

Diagnosis Banding. Contrast-enhanced CT mediastinum anterior memperlihatkan sedikit massa


minimal pada mediastinum anterior. Pada operasi, di diagnosis thymoma ganas.

12

Contrast-enhanced CT mediastinum anterior memperlihatkan sedikit massa minimal pada


mediastinum anterior. Pada operasi, di diagnosis thymoma ganas.

Penggambaran Resonansi Magnetic.


Perkembangan lanjutan dari MRI telah menghasilkan peningkatan kualitas gambar dan
penurunan waktu akuisisi. MRI sebagian besar digunakan sebagai tambahan dari CT scan dalam
evaluasi tumor mediastinum. Pada pelaksanaannya, MRI memberikan informasi tambahan
mengenai sifat, lokasi, dan luasnya penyakit.
MRI menunjukkann massa dengan intensitas sinyal heterogen, dan lebih sensitif
dibandingkan CT dalam menggambarkan infiltrasi struktur yang berdekatan dengan obliterasi
area lemak. Hal ini dilakukan sebagai studi tambahan.
CT lebih akurat dibanding MRI dalam mendeteksi tumor mediastinum, tetapi MRI lebih
baik daripada CT untuk mengevaluasi penyebaran melalui kapsul tumor, sama baiknya dalam
mendeteksi infiltrasi area lemak mediastinum yang berdekatan.
MRI merupakan pemeriksaa akurat, teknik noninvasi dalam evaluasi syndrome vena cava
superior dan atau mediastinum dan obstruksi vena thorak inlet yang disebabkan oleh tumor
mediastinal.[23,24]
Tingkat kepercayaan
MRI tidak memerlukan radiasi pengion, dengan kapasitas multiplanarnya, membuat MRI
menjadi modalitas terbaik untuk diagnosis awal dari massa mediastinum dan untuk evaluasi
follow up terapi. Gambaran vaskular lebih tinggi dibanding CT scan dan dapat lebih baik dalam
menggambarkan hubungan antara massa mediastinum yang teridentifikasi dugaan dengan
struktur vaskular intrathoracic yang berdekatan. MRI bisa digunakan untuk membedakan antara
dugaan massa mediastinaldan abnormalitas, seperti aneurisma aorta.
Agen kontras MRI bisa digunakan ketika matrial kontras teriodinasi menjadi
kontraindikasi. MRI memberikan informasi lengkap dari area subcarinal dan aortopulmonary,
sama baiknya dengan aspek inferior dan mediastinum pada level diafragma. MRI lebih diminati
13

dibanding CT scan dalam mengevaluasi invasi atau perluasan tumor, khususnya tumor yang
tidak terlihat berkaitan dengan jantung. Selain itu, MRI lebih unggul daripada CT dalam
mendeteksi massa yang mengenai rongga dada atau terjadi pada tingkat thoracoabdominal.
Kesalahan positif / negatif
Seperti halnya dengan pencitraan cross-sectional modalitites lainya, MRI tidak berkaitan
secara spesifik dengan diagnosis jaringan massa mediastinum anterior. Diagnosis banding dari
massa mediastinum anterior sangat luas, dan diagnosis false-positif dapat terjadi.

ultrasonografi
Ultrasonografi dulunya digunakan untuk membedakan massa padat dari kistik pada
tempat yang berbeda selain mediastinum. Namun, perannya lebih ditingkatkan, dan sekarang
digunakan untuk membedakan massa seperti di mediastinum anterior (lihat gambar di bawah).
Ultrasonograms dapat membantu dalam menentukan hubungan antara massa dan struktur yang
berdekatan. Studi-studi ini lebih berguna dalam evaluasi massa yang terkait dengan jantung,
contohnya kelainan vaskular.

Sonogram mediastinum yang didapat dari area parasternal kanan dari ruang interkostalis anterior
menunjukkan massa echogenicity yang seragam dengan peningkatan akustik posterior.

14

Sonogram mediastinum diperoleh melalui tonjolan suprasternal yang menggambarkan tumor


yang tidak jelas dengan pola gema heterogen. Pada operasi, di diagnosis sebagai masa
mengandung focus kecil kalsifikasi.

Pasien dengan massa mediastinum anterior yang letaknya asimetris. Tomogram linear lateral
(tidak ditunjukkan di sini) memberikan gambaran massa berbatas tegas dengan atenuasi
seragam, sonogram menunjukkan massa yang lembut, dan echotexture seragam. Pasien tidak
menjalani operasi, dan temuan pada tindak lanjut selama beberapa tahun menunjukkan sedikit
perubahan.
Umumnya, tingkat akurasi dan informasi lengkap yang diberikan oleh CT scan, MRI, dan
scan radionuklida, teknik ultrasonografi umumnya tidak digunakan sebagai pilihan utama dalam
evaluasi tumor dan kista mediastinal. [25]
Tingkat kepercayaan
Selain untuk membedakan ukuran karakteristik topografi massa mediastinum,
ultrasonografi juga memberikan gambaran struktur internal dari tumor, temuan ultrasonografi
dapat menunjukkan diagnosis spesifik dan lokasi tumor ketika gambaran klinis jelas.
Kesalahan positif / negatif
Ultrasonografi tetap tergantung pada operator, dan mediastinum anterior tidak dapat
diakses karena tertutup rongga tulang dada. Seperti halnya modalitas pencitraan cross-sectional
lain, diagnosis jaringan mungkin tidak dapat dilakukan, karena adanya diagnosis banding massa
mediastinal baik solid, kistik, dan kompleks yang meluas.

Pencitraan Nuklir
Scan radioiodine digunakan dalam mengidentifikasi massa mediastinum anterior pada
tingkat rongga dada, seperti perluasan substernal dari goiter tiroid servikalis. Di Karena tumor
sel germinal dan abnormalitas tiroid mungkin bisa muncul bersamaan sebagai massa

15

mediastinum anterior, scan radioiodin bisa membantu untuk mengkonfirmasi atau mengeliminasi
keterlibatan jaringan tiroid.
Indium-111 octreotide dan scan pentetreotide dapat membantu dalam membedakan tumor
sel germinal dari carcinoids mediastinum. Seperti tumor neuroendokrin, lain carcinoids memiliki
reseptor somatostatin dan bisa digambarkan dengan analog somatostatin seperti (octreotide,
pentetreotide) ditandai ke radioisotop yang tepat. Single-emisi foton CT (SPECT) dan
peningkatan teknik deteksi subtraction.
Limfadenopati mediastinum anterior sarkoid dapat dibedakan dari tumor sel germinal
dengan menggunakan scanning radionuklida. Gallium-67-avid adalah penyakit sarkoid telah
dilaporkan dalam lebih dari 90% dari kasus keterlibatan paru.
Melalui peningkatan pada pencitraan fisiologis dari kelenjar getah bening mediastinum
dengan fluorodeoxyglucose (FGD) positron emission tomography scanning (PET), modalitas ini
sekarang menyediakan tingkat akurasi diagnostic yang lebih baik dibanding gambaran anatomi
yang didapatkan dari CT scan atau MRI.
Saat ini, strategi pencitraan yang menggunakan FDG-PET dan CT scan tampaknya
menjadi cara yang paling akurat, noninvasive, dan biaya-efektif untuk menilai status nodul pada
pasien dengan kanker paru non small cell. Penggunaan FDG-PET dalam pencitraan dan
pengklasifikasian derajat dari tumor sel germinal belum diselidiki lebih lanjut.[26,27]
Kesalahan positif / negatif
Penyerapan teknesium-99m perteknetat dan radioiod yang tidak spesifik untuk jaringan
tiroid, dan serapan dapat terjadi pada mukosa ektopik lambung pada kista dupllikasi dan Barret
esophagus. Penyerapan Gallium-67 dapat terjadi pada fokus neoplastik, inflamasi, dan infeksi.
Hasil FDG-PET tidak spesifik, dan temuan bisa berkorelasi dengan presentasi klinis dan temuan
pencitraan lainnya.

Angiography
Angiografi konvensional digunakan untuk membedakan massa mediastinum dari
kelainan pembuluh darah dan menunjukkan hubungan antara massa yang telah diketahui dan
struktur vaskular yang berdekatan. MRI dan MR arteriografi cukup memuaskan dalam
menentukan massa di daerah ini.
Tingkat kepercayaan
Angiografi bersifat invasif, tetapi masih dianggap sebagai standar kriteria dalam
pencitraan jantung dan pembuluh darah besar. MR arteriografi dan CT angiography semakin
sering digunakan dalam peran ini.

16

Kesalahan positif / negatif


Hasil negatif palsu dapat terjadi dalam kasus yang melibatkan aneurisma yang
berhubungan dengan trombus laminar intraluminal. Sensitivitas dan spesifisitas angiografi dalam
diagnosis aneurisma aorta adalah masing-masing 85% dan 95%.

17

REFERENSI
1. Giron J, Fajadet P, Sans N, et al. Diagnostic approach to mediastinal masses. Eur J
Radiol. Mar 1998;27(1):21-42. [Medline].
2. Luketich JD, Ginsberg RJ. The current management of patients with mediastinal
tumors. Adv Surg. 1996;30:311-32. [Medline].
3. Rosado-de-Christenson ML, Templeton PA, Moran CA. From the archives of the
AFIP. Mediastinal germ cell tumors: radiologic and pathologic correlation.
Radiographics. Sep 1992;12(5):1013-30. [Medline].
4. Shields TW. Overview of primary mediastinal tumors and cysts. In: Shields TW, et
al, eds. General Thoracic Surgery. Vol 2. Philadelphia, PA: Lippencott, Williams &
Wilkins;. 2000: 2105-9.
5. Strollo DC, Rosado-de-Christenson ML. Tumors of the thymus. J Thorac Imaging.
Jul 1999;14(3):152-71. [Medline].
6. Strollo DC, Rosado de Christenson ML, Jett JR. Primary mediastinal tumors. Part
1: tumors of the anterior mediastinum. Chest. Aug 1997;112(2):511-22. [Medline].
[Full Text].
7. Takeda S, Miyoshi S, Ohta M, et al. Primary germ cell tumors in the mediastinum:
a 50-year experience at asingle Japanese institution. Cancer. Jan 15
2003;97(2):367-76. [Medline].
8. Virgo KS, Johnson FE, Naunheim KS. Follow-up of patients with thoracic
malignancies. Surg Oncol Clin N Am. Apr 1999;8(2):355-69. [Medline].
9. Weidner N. Germ-cell tumors of the mediastinum. Semin Diagn Pathol. Feb
1999;16(1):42-50. [Medline].
10. Whooley BP, Urschel JD, Antkowiak JG, Takita H. Primary tumors of the
mediastinum. J Surg Oncol. Feb 1999;70(2):95-9. [Medline].
11. Chhieng DC, Lin O, Moran CA, et al. Fine-needle aspiration biopsy of
nonteratomatous germ cell tumors of themediastinum. Am J Clin Pathol. Sep
2002;118(3):418-24. [Medline].
12. Das DK, Pant CS, Rath B, et al. Fine-needle aspiration diagnosis of intra-thoracic
and intra-abdominallesions: review of experience in the pediatric age group. Diagn
Cytopathol. Aug 1993;9(4):383-93. [Medline].
13. Shabb NS, Fahl M, Shabb B, et al. Fine-needle aspiration of the mediastinum: a
clinical, radiologic, cytologic, and histologic study of 42 cases. Diagn Cytopathol.
Dec 1998;19(6):428-36. [Medline].
14. Singh HK, Silverman JF, Powers CN, et al. Diagnostic pitfalls in fine-needle
aspiration biopsy of the mediastinum. Diagn Cytopathol. Aug 1997;17(2):121-6.
[Medline].
15. Yang GC, Hwang SJ, Yee HT. Fine-needle aspiration cytology of unusual germ cell
tumors of the mediastinum: atypical seminoma and parietal yolk sac tumor. Diagn
Cytopathol. Aug 2002;27(2):69-74. [Medline].
18

16. Geibel A, Kasper W, Keck A, et al. Diagnosis, localization and evaluation of


malignancy of heart and mediastinal tumors by conventional and transesophageal
echocardiography. Acta Cardiol. 1996;51(5):395-408. [Medline].
17. Jeung MY, Gasser B, Gangi A, et al. Imaging of cystic masses of the mediastinum.
Radiographics. Oct 2002;22 Spec No:S79-93. [Medline].
18. Mathews VP, Broome DR, Smith RR, et al. Neuroimaging of disseminated germ
cell neoplasms. AJR Am J Roentgenol. Jun 1990;154(6):1299-304. [Medline].
19. Moeller KH, Rosado-de-Christenson ML, Templeton PA. Mediastinal mature
teratoma: imaging features. AJR Am J Roentgenol. Oct 1997;169(4):985-90.
[Medline].
20. Takao H, Shimizu S, Doi I, Watanabe T. Primary malignant melanoma of the
anterior mediastinum: CT and MR findings. Clin Imaging. Jan-Feb 2008;32(1):5860. [Medline].
21. Boiselle PM. MR imaging of thoracic lymph nodes. A comparison of computed
tomography and positron emission tomography. Magn Reson Imaging Clin N Am.
Feb 2000;8(1):33-41. [Medline].
22. Choi SJ, Lee JS, Song KS, Lim TH. Mediastinal teratoma: CT differentiation of
ruptured and unrupturedtumors. AJR Am J Roentgenol. Sep 1998;171(3):591-4.
[Medline].
23. Kaga K, Nishiumi N, Iwasaki M, Inoue H. Thoracoscopic diagnosis and treatment
of mediastinal masses. Usefulness of the Two Windows Method. J Cardiovasc Surg
(Torino). Feb 1999;40(1):157-60. [Medline].
24. Erasmus JJ, McAdams HP, Donnelly LF, Spritzer CE. MR imaging of mediastinal
masses. Magn Reson Imaging Clin N Am. Feb 2000;8(1):59-89. [Medline].
25. Serna DL, Aryan HE, Chang KJ, et al. An early comparison between endoscopic
ultrasound-guided fine-needleaspiration and mediastinoscopy for diagnosis of
mediastinal malignancy. Am Surg. Oct 1998;64(10):1014-8. [Medline].
26. Bachmann J, Ernestus K, Werner T, Garnier Y, Mallmann P, Pietsch C. Detection of
primary choriocarcinoma in the mediastinum by F-18 FDG positron emission
tomography. Clin Nucl Med. Aug 2007;32(8):663-5. [Medline].
27. Rubello D, Rampin L, Nanni C, Banti E, Ferdeghini M, Fanti S, et al. The role of
18F-FDG PET/CT in detecting metastatic deposits of recurrent medullary thyroid
carcinoma: a prospective study. Eur J Surg Oncol. May 2008;34(5):581-6.
[Medline].

19