Anda di halaman 1dari 51

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN LENGKAP
FITOKIMIA

OLEH :
NAMA

: MUHAMMAD ICHSAN

NIM

: N 111 10 277

KELOMPOK

: VI (ENAM)

GOLONGAN

: JUMAT

ASISTEN

: NURUL MUKHLIZA

MAKASSAR
2012

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Saat ini, orang cenderung kembali ke alam (back to nature).
Terutama dalam hal pengobatan. Hal ini disebabkan karena

dengan

menggunakan bahan-bahan dari alam efek samping yang tidak diinginkan


dapat dihindari sekecil mungkin, terutama bila dibandingkan dengan
penggunaan bahan-bahan sintesis kimia.
Di berbagai Negara penyakit dan cara pengobatannya dengan
bahan alam itu berbeda satu sama lain akan sifat dan penilaiannya,
sesuai dengan keanekaragaman tempat, waktu dan keadaannya. Atas
dasar berbagai kenyataan tersebut di atas, maka dapat diambil
kesimpulan, bahwa di Indonesia pun sejak dahulu kala pasti telah ada
ilmu pengobatan asli.
Berbagai bahan kimia yang terkandung dalam tumbuhan dapat
diekstraksi untuk dijadikan bahan baku berbagai jenis obat makanan dan
kosmetik. Pemanfaatan potensi bahan obat yang berasal dari alam di
Indonesia kini mulai berkembang karena adanya kesadaran yang semakin
tinggi akan penggunaan bahan-bahan yang berasal dari alam

Sebagai mahasiswa farmasi yang lebih banyak tahu obat-obatan


maka mengenal asal, habitat, spesies dan sifat spesifikasinya merupakan
hal yang sangat penting. Pengetahuan yang cukup dalam mengenai
berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat obat, baik bentuk simplisia,
morfologi secara umum, kegunaan, cara ekstraksi, isolasi dan identifikasi
komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia merupakan hal yang
perlu diketahui oleh seorang mahasiswa Farmasi. Pengetahuan ini dapat
digunakan sebagai salah satu jalan untuk memberikan penjelasan kepada
masyarakat dalam fungsinya sebagai Drug Informer nantinya setelah
terjun ke masyarakat.
Melihat hal tersebut sehingga kita sebagai farmasis harus
mengetahui cara mengekstraksi yang baik dan benar untuk menghasilkan
bahan obat dari alam yang nantinya akan dijadikan precursor awal obat
tradisional dan bisa juga dijadikan obat semi sintesis.

I.2 Maksud dan Tujuan


I.2.1 Maksud
Mengetahui dan memahami cara-cara ekstraksi dan identifikasi
komponen kimia yang terkandung dari sampel herba Meniran (Phyllanthus
niruri) dengan metode tertentu.

I.2.2 Tujuan
Mengekstraksi komponen kimia yang terdapat dalam herba
Meniran (Phyllanthus niruri) dengan menggunakan metode maserasi,
mengidentifikasinya dengan metode kromatografi lapis tipis.
I.3 Prinsip Percobaan
I.3.1 Prinsip Penyiapan Sampel
Pembuatan simplisia dari herba Meniran (Phyllanthus niruri) yang
dimulai dari pengumpulan sampel tanaman lalu disortasi basah untuk
membersihkannya dari benda asing, kemudian pencucian dengan air
mengalir, perajangan, pengeringan dan sortasi kering, dan penyimpanan
simplisia sebagai tahap akhir.
I.3.2 Prinsip Ekstraksi
Penyarian simplisia berdasarkan proses difusi dan osmosis yang
terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi di dalam dan di luar sel.
Cairan penyari akan menembus dinding sel dan melarutkan komponen
kimia dalam rongga sel, karena adanya perbedaan konsentrasi di dalam
dan di luar sel maka akan terjadi difusi dimana zat aktif bersama cairan
penyari akan keluar menembus dinding sel. Demikian seterusnya hingga
terjadi keseimbangan konsentrasi di dalam dan di luar sel.

I.3.3 Prinsip Rotavapor


Penguapan

cairan penyari/pelarut yang berdasarkan perbedaan

titik uap antara kompoen kimia dengan pelarut yang berlangsung pada
suasana vakum dan penguapan terjadi karena adanya pemanasan yang
dipercepat oleh putaran labu alas bulat dimana tekanan diturunkan
sehingga cairan penyari akan menguap pada suhu 5 10 oC di bawah titik
didihnya. Dengan pompa vakum larutan penyari akan menguap masuk
kekondensor dan terkondensasi menjadi molekul cair pelarut murni yang
ditampung dalam labu penampung.
I.3.4 Prinsip Ekstraksi Cair-Padat
Pemisahan komponen senyawa kimia dari ekstrak herba Meniran
(Phyllanthus niruri) dengan menggunakan pelarut non-polar (n-heksan)
dimana akan diperoleh ekstrak yang larut pelarut non-polar dalam bentuk
cair dan ekstrak yang tidak larut non-polar dalam bentuk padat, sehingga
terjadi pemisahan berdasarkan prinsip like dissolve like .
I.3.5 Prinsip Kromatografi Lapis Tipis
Pemisahan komponen kimia berdasarkan adsorpsi dan partisi,
yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fae gerak (eluen),
komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap
adsorben terhadap komponen kimia tidak sama dan karena adanya
perbedaan kelarutan dalam eluen maka kecepatan elusi komponen kimia
berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya sehingga terjadi pemisahan.

I.3.6 Prinsip Penampakan Noda


I.3.6.1 UV 254 nm
Lempeng akan berfluoresensi sedangkan sampel akan
tampak berwarna gelap. Penampakan pada UV 254 nm adalah
karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indicator
fluoresensi pada lempeng.
I.3.6.2 UV 366 nm
Noda akan berfluoresensi dan lempeng akan berwarna
gelap. Penampakan noda pada lampu UV karena adanya daya
interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh
auksokrom.
I.3.6.3 H2SO4 10%
Prinsip penampakan berdasarkan kemampuan asam sulfat
yang berisi reduktor dalam merusak gugus kromofor dari zat aktif
simplisia, sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah
yang lebih panjang (UV-VIS) sehingga noda tampak , warna coklat
kehitaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 Teori umum


II.1.1 Klasifikasi Tanaman
Kingdom

: Plantae

Super Divisi : Spermatophyta


Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Subkelas

: Rosidae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Phyllanthus

Spesies

: Phyllanthus niruri .L

Kunci determinasi:
1b, 2b, 3b, 4b, 6a.34b.37a.Euphorbiaceae
II.1.2 Deskripsi tanaman
Meniran merupakan tumbuhan semak dengan tinggi 20-60 cm.
Meniran termasuk dalam tanaman semusim yang masa hidupnya tidak
lebih dari satu tahun. Batangnya berbentuk bulat dan merupakan batang
basah dengan tinggi kurang dari 50 cm. Daunnya merupakan daun

tunggal yang sepintas terlihat seperti daun majemuk menyirip genap.


Dikatakan daun tunggal sebab pada setiap satu tangkai daun terdiri dari
daun yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong yang pada tiap
ketiak daunnya muncul bunga yang dapat berkembang menjadi buah.
Buahnya berbentuk bulat kecil. Akarnya berupa akar tunggang berwarna
putih kecoklatan.
Kegunaan
Herba meniran berkhasiat sebagai obat kuning, malaria, haid
berlebihan, dan jerawat.
Tahap penyiapan sampel
Simplisia adalah bahan alamiah (bahan tumbuhan, bahan hewani,
atau bahan mineral yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan. (4)
Syarat simplisia yang baik, yaitu: (4)
1. Harus bebas serangga, fragmen hewan, kotoran hewan.
2. Tidak boleh menyimpang dari bau, warna.
3. Tidak boleh mengandung lender, cendawan, atau menunujukkan
tanda-tanda pengotor lainnya.
4. Tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun.
5. Kadar abu yang tidak larut asam maksimal 2%.

Adapun tahap-tahap penyiapan sampel adalah : (4)


1. Pengambilan bahan baku
Kadar zat aktif dalam simplisia dipengaruhi oleh bagian
tanaman,

umur

tanaman,

waktu

panen

dan

teknik

pengumpulan.Perlu untuk diketahui pada saat umur berapa dan


kapan tumbuhan komponen aktifnya mencapai maksimum, untuk
tumbuhan yang berfotosintesis waktu panen biasanya pukul 10.0012.00, sedangkan untuk tanaman yang mengandung minyak atsiri
biasanya pada pagi hari.
2. Sortasi basah
Untuk membersihkan tanaman dari benda-benda asing
(tanah, rumput, batu, dsb) dan memisahkan bagian tanaman dari
bagian yang tidak diinginkan.
3. Pencucian dengan air mengalir
Untuk menghilangkan tanah dan pengotor lain yang melekat
pada bagian simplisia.
4. Perajangan
Untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan
penggilingan.
5. Pengeringan
Untuk mendapatkan simplisia yang tidah mudah rusak,
sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama dengan

megurangi kadar air dan menghentikan proses enzimatik akan


dicegah.
6. Sortasi kering
Untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian
tanaman yang tidak diinginkan dan pengotor-pengotor lain yang
masih ada dan masih tinggal pada simplisia kering.
7. Penyimpanan dan pemeriksaan mutu
Ekstraksi
Ekstraksi adalah penyarian komponen kimia atau zat-zat aktif dari
bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis hewan termasuk biota
laut. Komponen kimia yang terdapat pada tanaman, hewan dan beberapa
jenis ikan pada umumnya mengandung senyawa-senyawa yang mudah
larut dalam pelarut organic. Pelarut organic yang paling umum digunakan
untuk mengekstraksikan komponen kimia dari sel tanaman adalah
methanol, etanol, kloroform, heksan, eter, aseton, benzene dan etil asetat.
Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman
adalah pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut
organic di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan
proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara
konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. (4)

Jadi tujuan dari ekstraksi adalah untuk menarik bahan atau zat-zat
yang dapat larut dalam bahan yang tidak larut dengan menggunakan
pelarut cair. (4)
Jenis Ekstraksi
Jenis ekstrasksi bahan alam yang sering dilakukan adalah (4):
a. Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampel
langsung dipanaskan dengan pelarut; dimana umumnya digunakan
untuk sampel yang mempunyai bentuk dan dinding sel yang tebal.
b. Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Dimana
untuk

maserasi

dilakukan

dengan

cara

merendam

simplisia,

sedangkan soxhlet dengan cara cairam penyari dipanaskan dan uap


cairan penyari naik ke kondensor kemudian terjadi kondensasi dan
turun menyari simplisia.
Perkolasi (3,4)
Perkolasi

adalah

cara

penyarian

yang

dilakukan

dengan

mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.


Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain : gaya berat,
kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya
kapiler dan daya gesekan (friksi).
Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang
digunakan untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum, larutan

zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari/perkolat, sedang sisa
setelah dilakukannnya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi.
Kecuali dinyatakan lain, perkolasi dilakukan sebagai berikut : 10
bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang
cocok dibasahi dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, lalu
dimasukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam.
Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap
kali ditekan hati-hati, dituangi dengan cairan penyari secukupnya sambil
cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan
penyari. Lalu perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam.
Cara perkolator lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi
karena :
1. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang
terjadi dengan larutan yang konsentasinya lebih rendah, sehingga
meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
2. Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran
tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler
tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan
batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari,
maka cara perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. Dalam proses

perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang


maksimal.
Bentuk perkolator ada 3 macam yaitu perkolator berbentuk tabung,
perkolator berbentuk paruh dan perkolator berbentuk corong. Pemilihan
perkolator bergantung pada jenis serbuk simplisia yang akan disari.
Serbuk kina yang mengandung sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak
baik bila diperkolasi dengan alat perkolasi yang sempit, sebab perkolat
akan segera menjadi pekat dan berhenti mengalir. Pada pembuatan
tingtur dan ekstrak cair, jumlah cairan penyari yang diperlukan untuk
melarutkan zat aktif. Pada keadaan tersebut, pembuatan sediaan
digunakan perkolator lebar untuk mempercepat proses perkolasi.
Maserasi (3,4)
Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama beberapa hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya.
Metode

maserasi

digunakan

untuk

menyari

simplisia

yang

mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari,


tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin.
Maserasi umumnya dilakukan dengan cara : memasukkan simplisia
yang sudah diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10
bagian ke dalam bejana maserasi yang dilengkapi pengaduk mekanik,
kemudian ditambahkan 75 bagian cairan penyari ditutup dan dibiarkan

selama 5 hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya sambil


berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari, disaring kedalam dalam bejana
penampung, kemudian ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari
lagi secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi hingga diperoleh sari
100 bagian. Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang
terlindung dari cahaya selama 2 hari, endapan yang terbentuk dipisahkan
dan filtratnya dipekatkan.
Keuntungan

cara

penyarian

dengan

maserasi

adalah

cara

pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah


diusahakan.
Kerugian

cara

maserasi

adalah

pengerjaannya

lama

dan

penyariannya kurang sempurna.


Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya :
1. Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan
lemah, yaitu pada suhu 40 50 oC. Cara maserasi ini hanya dapat
dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan.
Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain :
b.

Kekentalan

pelarut

berkurang,

berkurangnya lapisan-lapisan batas.

yang

dapat

mengakibatkan

c.

Daya

melarutkan

cairan

penyari

akan

meningkat,

sehingga

pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan


pengadukan.
d.

Koefisien

difusi

berbanding

lurus

dengan

suhu

absolut

dan

berbanding terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan


berpengaruh pada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif
akan meningkat bila suhu dinaikkan.
2. Maserasi dengan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus- menerus, waktu
proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
3. Remaserasi
Cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi
dengan cairan penyari pertama, sesudah dienaptuangkan dan diperas,
ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua
4. Maserasi melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan
penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu
mengalir kembali secara berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan
melarutkan zat aktifnya. Keuntungan cara ini :
a.

Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas.

b.

Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam,

sehingga akan memperkecil kepekatan setempat.

c.

Waktu yang diperlukan lebih pendek.

5. Maserasi melingkar bertingkat


Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan
secara sempurna, karena pemindahan massa akan berhenti bila
keseimbangan telah terjadi. Masalah ini dapat diatas dengan maserasi
melingkar bertingkat.
Soxhletasi (3,4)
Soxhletasi

merupakan

penyarian

simplisia

secara

berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan hingga menguap, uap


cairan penyari terkondensasi menjadi molekul cairan oleh pendingin balik
dan turun menyari simplisia di dalam klonsong dan selanjutnya masuk
kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa siphon, proses ini
berlangsung hingga proses penyarian zat aktif sempurna yang ditandai
dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa siphon tersebut atau
jika diidentifikasi dengan KLT tidak memberikan noda lagi.
Keuntungannya : cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan
lebih pekat. Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan, tanpa
menambah volume cairan penyari. Kerugiannya : larutan dipanaskan
terus-menerus, sehingga zat aktif yang tidak tahan pemanasan kurang
cocok.

Metode soxhlet bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara


panas namun proses ekstraksinya secara dingin, sehingga metode
soxhlet digolongkan dalam cara dingin.
Sampel atau bahan yang akan diekstraksi terlebih dahulu
diserbukkan dan ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam klonsong
yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa (tinggi sampel dalam
klonsong tidak boleh lebih dari pipa sifon). Selanjutnya labu alas bulat diisi
dengan cairan penyari yang sesuai kemudian ditempatkan di atas water
bath atau heating mantel dan diklem dengan kuat kemudian klonsong
yang telah diisi sampel dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan
dengan klem dan cairan penyari ditambahkan untuk membasahkan
sampel yang ada dalam klonsong (diusahakan tidak terjadi sirkulasi).
Setelah itu kondensor dipasang tegak lurus dan diklem pada statif dengan
kuat. Aliran air dan pemanas dilanjutkan hingga terjadi proses ekstraksi
zat aktif sampai sempurna (biasanya 20 25 kali sirkulasi). Ekstrak yang
diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan pada alat rotavapor.
Refluks (3,4)
Metode refluks merupakan metode berkesinambungan dimana
cairan penyari secara kontinu akan menyari zat aktif di dalam simplisia.
Cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut
dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke dalam labu alas

bulat

sambil

menyari

simplisia,

proses

ini

berlangsung

secara

berkesinambungan dan dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam.


Keuntungan metode refluks :
-

Cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan


secara langsung diperoleh hasil yang lebih pekat.

Serbuk simplisia disari oleh cairan penyari yang


murni, sehingga dapat menyari zat aktif lebih banyak.
Simplisia yang biasa diekstraksi dengan cara ini adalah simplisia

yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan


mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah/biji dan herba.
Serbuk simplisia atau bahan yang akan diekstraksi secara refluks
ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan
ditambahkan pelarut organik misalnya metanol sampai serbuk simplisia
terendam kurang lebih 2 cm diatas permukaan simplisia, atau 2/3 dari
volume labu kemudian labu alas bulat dipasang kuat pada statif pada
water bath atau heating mantel lalu kondensor dipasang pada labu alas
bulat yang dikuatkan dengan klem pada statif. Aliran air dan pemanasan
(water bath) dijalankan sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan.
Setelah 4 jam dilakukan penyaringan filtratnya ditampung dalam wadah
penampung dan ampasnya ditambah lagi pelarut dan dikerjakan seperti
semula, ekstraksi dilakukan sebanyak 3 4 jam. Filtrat yang diperoleh

dikumpulkan dan dipekatkan dengan alat rotavapor, kemudian dilakukan


pengujian selanjutnya.
Destilasi Uap Air (3)
Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk
simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi
pada tekanan udara normal. Pada pemanasan biasa kemungkinan akan
terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk mencagah hal tersebut maka
penyarian dilakukan dengan destilasi uap.
Dengan adanya uap air yang masuk, maka tekanan kesetimbangan
uap zat kandungan akan diturunkan menjadi sama dengan tekanan
bagian di dalam suatu sistem, sehinggga produk akan terdestilasi dan
terbawa oleh uap air yang mengalir. Destilasi uap bukan semata-mata
suatu proses penguapan pada titik didihnya, tetapi suatu proses
perpindahan massa ke suatu media yang bergerak. Uap jenuh akan
membasahi permukaan bahan, melunakkan jaringan dan menembus ke
dalam melalui dinding sel, dan zat aktifakan pindah ke rongga uap air
yang aktif dan selanjutnya akan pindah ke rongga uap yang bergerak
melalui antar fase. Proses ini disebut hidrodifusi.
Ekstraksi Cair-cair (3,4)
Ekstraksi cair-cair biasa juga disebut sebagai metode corong pisah.
Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah dilarutkan
dalam cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang pertama, akan

terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran akan memiliki


kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya disebut fase) dan
setelah beberapa waktu dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua
lapisan. Waktu yang diperlukan untuk tercapainya kesetimbangan
biasanya dipersingkat oleh pencampuran keduanya dalam corong pisah.
Pelarut yang mudah menguap tidak dicampur dengan fase air yang
panas (atau bahkan hangat). Hal ini dapat menyebabkan peningkatan
tekanan uap sangat besar yang dihasilkan sehingga tutup corong pisah
terbang dan isinya tersemprot keluar. Hal ini dapat juga terjadi dengan
cairan dingin jika terjadi reaksi eksotermis missal pencampuran asam dan
basa, pengenceran asam-asam kuat.
Beberapa fase organik mudah membentuk emulsi dengan fase air,
khususnya jika terdapat partikel kecil atau terbentuk oleh pengendapan.
Kelarutan senyawa tidak bermuatan dalam satu fase pada suhu tertentu
tergantung pada kemiripan kepolarannya dengan fase cair, menggunakan
prinsip "like dissolve like". Molekul bermuatan yang memiliki afinitas tinggi
terhadap cairan dengan sejumlah besar ion bermuatan berlawanan dan
juga dalam kasus ini menarik yang berlawanan"misalnya senyawa asam
akan lebih larut dalam fase air yang basa daripada yang netral atau asam.
Ratio konsentrasi senyawa dalam kedua fase disebut koefesien partisi K.
Senyawa yang berbeda akan mempunyai koefesien partisi yang berbeda,
sehingga jika satu senyawa sangat polar, koefesien partisi relatifnya ke
fase polar lebih tinggi daripada senyawa nonpolar.

Penyarian merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi


dalam dua pelarut yang tidak bercampur.
C1
Kd =
C2
Jika koefisien distribusinya sangat besar (lebih dari 1000),
penyarian sekali dengan corong pisah telah memungkinkan hampir semua
senyawa terlarut telah tersari. Walaupun demikian penyarian akan lebih
efektif jika larutan penyari dibagi dalam beberapa bagian kecil dari
penyarian sekali dengan semua penyari yang tersedia.
Kromatografi Lapis Tipis (5,6)
Pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT), zat penjerap merupakan
lapisan tipis serbuk halus yang dilapiskan pada lempeng kaca, plastik atau
logam secara merata. Kromatogradi lapis tipis adalah suatu metode
analisi yang digunakan untuk memisahkan suatu canmpuran senyawa
secara cepat dan sederhana. Prinsipnya didasarkan atas paritsi dan
adsorpsi.
Dengan memakai KLT, pemisahan senyawa yang amat berbeda
seperti senyawa organik alam dan senyawa organik sintetik, kompleks
anorganik-anorganik dan bahan ion anorganik dapat dilakukan beberapa
menit dengan alat yang harganya tidak terlalu mahal.

Pada kromatografi kolom merupakan proses yang lambat, yang


membutuhkan penyerap relatif dalam jumlah yang besar demikian pula
cuplikan yang digunakan, sedangkan dalam kromatografi lapis tipis hanya
membutuhkan penyerap dan cuplikan dalam jumlah yang sedikit dan
noda-noda yang terpisahkan dilokalisir pada plat seperti pada lembaran
kertas. Setelah pemisahan mudah diperoleh senyawasenyawa yang
terpisah

secara

individu

yaitu

dengan

jalan

menggeruknya

dan

mengumpulkan tiap-tiap lapisan dalam mana lapisan tersebut dirap.


Adsorben yang paling banyak digunakan dalam KLT adalah
silikagel dan aluminium oksida. Silika gel umumnya mengandung zat
tambahan kalsium sulfat untuk mempertinggi daya lekatnya. Zat ini
digunakan untuk adsorben universal untuk kromatografi senyawa netral,
asam dan basa.
Pemisahan komponen suatu senyawa yang dipisahkan dengan
kromatografi lapis tipis tergantung pada jenis pelarut, zat penyerap
dengan sifat daya serap masing-masing komponen. Komponen yang
terlarut akan terbawa oleh fase diam (penyerap) dengan kecepatan
perpindahan yang berbeda-beda. Perbandingan kecepatan bergeraknya
komponen terlarut dalam fase gerak (pelarut) adakah dasar untuk
mengidentifikasi komponen yang dipisahkan, perbandingan kecepatan ini
dinyatakan dalam Rf (Rate of Flow), dengan persamaan :
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai R f adalah :


-Pelarut
Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase gerak. Kemurnian dari pelarut
yang digunakan sebagai fase gerak dalam KLT adalah sangat penting
dan bila campuran pelarut digunakan maka perbandingan yang dipakai
harus betul-betul diperhatikan.
-Bahan pengembang (jenis dan ketebalan lapisan)
Tebal dan keratan dari lapisan penyerap. Meskipun dalam praktiknya
tebal lapisan tidak dapat dilihat pengaruhnya, tetapi perlu diusahakan
tebal lapisan yang rata. Ketidakrataan akan menyebabkan aliran pelarut
menjadi tidak rata pula dalam daerah yang kecil dari plat.
-Konsentrasi
Jumlah cuplikan yang digunakan. Penetesan culikan dalam jumlah yang
berlebihan memberikan tendensi penyebaran noda-noda dengan
kemungkonan terbentuknya ekor dan efek tak keseimbangan lainnya
hingga akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan pada harga-harga
Rf.
-Arah serabut kertas

Arah dalam mana pelarut bergerak diatas plat. (Metode aliran penaikan
yang hanya diperhatikan, karena cara ini yang paling umum meskipun
teknik aliran penurunan dan mendatar juga digunakan).

Uji Pendahuluan
Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah
penapis senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman. Cara ini
digunakan

untukmendeteksi

senyawa

tumbuhan

berdasarkan

golongannya. Sebagai informasi awaldalam mengetahui senyawa kimia


apa yang mempunyai aktivitas biologi dari suatutanaman. Informasi yang
diperoleh dari pendekatan ini juga dapt digunakan untukkeperluan sumber
bahan yang mempunyai nilai ekonomi lain seperti sumber tannin,minyak
untuk industri, sumber gum, dll. Metode yang telah dikembangkan
dapatmendeteksi adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, senyawa
fenolat, tannin,saponin, kumarin, quinon, steroid/terpenoid.(9)
1. Alkaloid
a. Pengertian alkaloid
Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yangterbesar.
Pada

umumnya

alkaloid

menccakup

senyawa

bersifat

basa

yangmengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam

gabungan, sebagaibagian dari system siklik. Alkaloid seringkali beracun


bagi manusia danbanyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang
menonjol yang digunakansecara luas dalam bidang pengobatan.Alkaloid
biasanya tanpa warna,seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk
Kristal tetapi hanyasedikit yang berupa cairan ( misalnya nikotina pada
suhu kamar ).Prazat alkaloid yang paling umu adalah asam amino,
meskipunsebenarnya biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit. Secara
kimia,alkaloid merupakan suatu golongan heterogen. Ia berkisar dari
senyawasederhana
maculatum

seperti

koniina,

sampaipentasiklik seperti

yaitu

alkaloid

estrikhnina

utama

yaitu

Conium

racun

kulit

strychnos.(9)
Alkaloid, sekitar 5500 telah di ketahui, merupaan golongan zat
tumbuhan sekunder yang terbesar. Tidak ada satu pun istilah alkaloid
yangmemuaskan tetapi pada umumnya alkaloid mencakup senyawa
bersifat basamengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam
gabungan sebagaibagian dari sistem siklik. Alkaloid sering kali beracun
bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang
menonjol jadi digunakansecara luas dalam bidang pengobatan.Uji
sederhana tetapi yangsama sekali tidak satu sempurna, untuk alkaloid
dalam daun atau buah segaradalah rasa pahitnya di lidah. (9)
Misalnya, alkaloid kinina adalah zat yangdikenal paling pahit dan
pada konsentrasi molar 1x 10 membeikan rasa pahit yang berarti.Prazat
3

alkaloid yang paling umum adalah asam amino, meski pun sebenarnya,

biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit. Secara kimia, alkaloid


merupakan suatu golongan heterogen. Ia berkisar dari senyawa
sederhana seperti kinina, yaitu alkaloid utama conium maculatum, sampai
kestruktur pentasiklik seperti strikhnina , yaitu racun kulit Strychnos.
Amina tumbuhan (misalnya meskalina) dan basa Purina dan pirimidina
(misalnya kafeina) kadang-kadang digolongkan sebagai alkaloid dalam
arti umum.Banyak alkaloid bersifat terpenoid dan beberapa (misalnya
solanina alkaloid steroid kentang, Solanum tuberosum) sebaiknya
ditinjau dari segi biosintesissebagai terpenoid termodifikasi. Yang lainnya
terutama berupa senyawa aromatic ( misalnya kolkhisina, alkaloid tropolon
umbi crocus musim gugur) yang mengandung gugus basa sebagai gugus
rantai samping. Banyak sekali alkaloid yang khas pada suatu suku
tumbuhan atau beberapa tumbuhan sekerabat. Jadi nama alkaloid sering
kali diturunkan dari sumber tumbuhan penghasilnya, misalnya alkaloid
Atropa atau alkaloid tropana, dan sebagainya.(8)
Sebagian

besar

alkaloid

alami

yang

bersifat

sedikit

asam

memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagent Mayer


(larutan kalium mercuri iodida); reagent Wangner (larutan Iodida dalam
Kalium Iodida); dengan larutan asam tanat,reagent Hager (saturasi
denganasam pikrat); atau dengan reagent Dragendroff (larutan Kalium
BismuthIodida). Endapan ini berbentuk amorf atau terdiri dari kristal dari
berbagaiwarna.

Cream

(Mayer),Kuning

(Hager),coklat

kemerah

merahan (Wagnerdan Dragendroff). Caffein dan beberapa alkaloid tidak

menimbulkan reaksi pengendapan. Ketelitian harus dimulai dari ekstraksi


alkaloid yang diujikarena bahan akan membentuk endapan dengan
protein. sebagian dari proteinakan membuat tidak larut dari bahan yang
telah diekstrak oleh proses epaporasi atau mungkin disebabkan filtrate
yang terbongkar. Jika ekstrak aslitelah dikonsentrasi ke konsentrasi
rendah akan membentuk ekstrak alkaloidyang bebrbentuk basa dengan
pertolongan suatu pelarut organik kemudiandimasukan dalam larutan
asam encer (misalnya : Tartarat),larutan haus bebasdari protein dan siap
untuk dilakukan uji alkaloid.(9)
b. Pereaksi Alkaloid
Untuk pereaksi Dragendrof dibuat dua larutan persediaan : (1) 0,6g
bismutsubnitrat dalam 2 ml HCl pekat dan 10 ml air ; (2) 6 g Kalium
iodidedalam 10 ml air. Larutan persediaan ini dicampur dengan 7 ml HCl
pekat dan15 ml air. Untuk menyemprot kertas dengan pereaksi
iodoplatinat, 10 mllarutan platina klorida 5% dicampur dengan 240 ml
Kalium iodide 2% dandiencerkan dengan air sampai 500 ml. untuk
menyemprot pelat, campurkan 10ml platina klorida 5%, 5 ml HCl pekat,
dan 240 ml Kalium iodide 2%.(9)
c. Klasifikasi alkaloid
Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranyabahwa
alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal

tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer,


alkaloiddikelompokkan sebagai:
1) Alkaloid Sesungguhnya
Alkaloid

sesungguhnya

adalah

racun,

senyawa

tersebut

menunjukkanaktivitas phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali


bersifat basa; lazimmengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ;
diturunkan dari asam amino; biasanya terdapat aturan tersebut adalah
kolkhisin dan asam aristolokhatyang bersifat bukan basa dan tidak
memiliki cincin heterosiklik dan alkaloidquartener, yang bersifat agak asam
daripada bersifat basa.
2) Protoalkaloid
Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana
nitrogendan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik.
Protoalkaloiddiperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang
bersifat basa.Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok
ini. Contoh,adalah meskalin, ephedin dan N,N-dimetiltriptamin.
3) Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino.
Senyawabiasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam
khas ini,yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin(kaffein).(9)
2. Fenol

Senyawa asam fenolat ada hubungannya dengan lignin terikat


sebagaiester atau terdapat pada daun di dalam fraksi yang tidak larut
dalam etanol; ataumiungkin terdapat dalam fraksi yang larut dalam etanol,
yaitu sebagai glikosidasederhana.
Deteksi asam fenolat dan lignindalam jaringan tumbuhan Lignin
ialahpolimer fenol yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan, yang
bersama

selulosa,menyebabkan

kekakuan

dan

kekokohan

batang

tumbuhan. Lignin terutama terdapatpada tumbuhan berkayu karena


sampai 30% bahan organic pepohonan terdiri atas zatini. Bila dioksidasi
dengan nitrobenzene, lignin menghasilkan tiga aldehida fenolsederhana
yang ada kaitannya dengan asam fenolat tumbuhanumum.(8)
3. Tanin
Tanin

terdapat

luas

dalam

tumbuhan

berpembuluh,

dalam

angiospermaeterdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasanya,


tanin dapat bereaksidengan protein membentuk kepolumer mantap yang
tidak larut dalam air. Dalamindustri, tanin adalah senyawa yang berasal
dari tumbuhan, yang mampumengubah kulit hewan yang mentah menjadi
kulit siap pakai karenakemampuanya menyambung silang protein.
Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim
sitoplasma,tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakanya,
maka reaksipenyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein
lebih sukar dicapaioleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya,

sebagian besar tubuhan yangbanyak bertanin dihindari oleh hewan


pemakan tumbuhan karena rasanya yangsepat. Kita menganggap salah
satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialahsebagai penolak hewan
pemakan tumbuhan.
Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar tidak
meratadalam dunia tumbuhan. Tanin terkondensasi hampir terdapat
semesta di dalampaku-pakuan dan gimnosperae, serta tersebar luas
dalam angiospermae, terutamapada jenis tumbuhan berkayu. Sebaliknya,
tanin yang terhidrolisiskan penyebaranya terbatas pada tumbuhan
berkeping dua. (8)
4. Flavonoid
Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang
sekalidijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan.
Disamping itu,
sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda
kelas.Penggolongan jenis flavonoid dalam jaringan tumbuhan mula mula
didasarkan pada telaah sifat kelarutan dan reaksi warna. Kemudian diikuti
dengan pemeriksaan ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis secara
kromatografi.(8)
5. Steroid dan Triterpenoid

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari


enamsatuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon
C30 asiklik,yaitu skualena. Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang
kurangnya empatgolongan senyawa : triterpena sebenarnya, steroid,
saponin dan glikosida jantung.Kedua golongan yang terakhir sebenarnya
triterpena atau steroid yang terutamaterdapat sebagai glikosida.
Sterol

adalah

triterpena

yang

kerangka

dasarnya

system

cincinsiklopentana perhidrofenantrena. Dahulu sterol terutama dianggap


sebagaisenyawa satwa (sebagai hormone kelamin, asam empedu, dll),
tetapi pada tahun tahun terakhir ini makin banyak senyawa tersebut yang
ditemukan dalam jaringantumbuhan.(8)
6. Kuinon
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar
sepertikromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil
yangberkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon karbon. Untuk
tujuanidentifikasi, kuinon dapat dipilah menjadi empat kelompok :
benzokuinon,naftokuinon, antrakuinon, dan kuinon isoprenoid. Tiga
kelompok pertamabiasanya terhidroklisasi dan bersifat senyawa fenol
serta mungkin terdapat in vivodalam bentuk gabungan dengan gula
sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol.
Untuk memastikan adanya adanya suatu pigmen termasuk kuinon
ataubukan, reaksi warna sederhana masih tetap berguna. Reaksi yang

khas ialahreduksi bolak balik yang mengubah kuinon menjadi senyawa


tanwarna, kemudianwarna kembali lagi bila terjadi oksidasi oleh udara. (8)

II.2 Uraian Bahan


1. Aquadest (10)
Nama Resmi

: Aqua Destillata

Nama Lain

: Air suling, aquadest

RM/BM

: H2O/18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: Sebagai larutan partisi

2. Etanol (10)
Nama Resmi

: Alkohol, etanol

Nama Lain

: Air suling, aquadest

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa

Kelarutan

: sangat mudah larut dalam air, dalam chloroform


P, dan dalam etet P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari


cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api.

Kegunaan

: untuk sortasi basah

3. Heksan (10)
Nama Resmi

: Heksana

Nama Lain

: Heksan

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, stabil, sangat mudah


terbakar

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: sebagai eluen

4. Etil asetat (10)


Nama Resmi

: Etil asetat

Nama Lain

: Etil asetat

RM

: CH3CO.O.C2H5

Pemerian

: Cairan, tidak berwarna, bau khas

Kelarutan

: larut dalam 15 bagian air, dapat bercampur


dengan etanol (95%)P dan dengan eter P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: Sebagai eluen

5. Metanol (10)
Nama Resmi

: Metanol

Nama Lain

: Metanol

RM

: CH3OH

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas

Kelarutan

: dapat bercampur dengan air, membentuk cairan


jernih tidak berwarna

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: sebagai larutan penyari

6. Butanol (10)
Nama Resmi

: Butanol

Nama Lain

: Butanol

RM

: C4H9OH

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna

Kelarutan

: dapat bercampur dengan alkohol P

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: sebagai larutan partisi

7. Bismut Subnitrat (10)


Nama Resmi

: Bismut subnitras

Nama Lain

: Bismut Subnitrat

Pemerian

: Serbuk hablur renik, putih, tidak berbau, tidak


berasa, berat.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air dan pelarut organik,


larut sempurna dalam asam klorida P dan asam
nitrat P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari


cahaya

Kegunaan

: bahan reagen dragendorf

8. KI (10)
Nama Resmi

: Kalium Iodidum

Nama Lain

: Kalium Iodida

RM

: KI/166,00

Pemerian

: Hablur heksahedral, transparan tidak berwarna,


opak dan putih, atau serbuk butiran putih,
higroskopik.

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut


dalam air mendidih, larut dalam etanol (95%)P,
sangat mudah larut dalam gliserol P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: bahan reagen dragendorf, meyer

9. Iodin (10)
Nama Resmi

: Iodum

Nama Lain

: Iodin

RM

: I/126,91

Pemerian

: keping atau putih, berat mengkilap, seperti


logam, hitam kelabu, bau khas.

Kelarutan

: Larut dalam lebih kurang 3500 bagian air. Dalam


13 bagian etanol (95%)P dan lebih kurang 80

bagian gliserol P dan dalam lebih kurang 4


bagian karbondisulfida P, dan larut dalam
kloroform P.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: bahan reagen wagner, meyer

10. Asam Asetat anhidrat (10)


Nama Resmi

: Acidum Asetat

Nama Lain

: Asam Asetat

RM

: CH3COOH

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa


asam, tajam

Kelarutan

: dapat bercampur dengan air, dengan etanol


95%P dan dengan gliserol P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: bahan reagen liebermann buchard

11. Asam sulfat pekat (10)


Nama Resmi

: Acidum Sulfuricum

Nama Lain

: Asam Sulfat

RM/BM

: H2SO4/98,07

Pemerian

: Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak


berwarna,

jika

ditambahkan

dengan

air

menimbulkan panas.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: bahan reagen liebermann buchard

BAB III
METODE KERJA

III. 1 Alat dan Bahan


III. 1. 1 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah cutter, gunting, kamera digital,
parang, alumunium foil, wadah ekstraksi (toples), tabung reaksi, pipet
tetes, pipet skala, cawan porselen, rotavapor, kertas saring, timbangan
analitik, sendok tanduk, corong pisah, pelat KLT GF254, chamber KLT,
penyemprot KLT, pipa kapiler, lampu UV 254 & 366.
III. 1. 2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah air, alkohol, sampel (herba


Meniran), penyari (metanol), pelarut organik (heksan, butanol, metanol),
eluen (heksan, etil asetat, asam sulfat 10%).
III. 2 Cara Kerja
III. 2. 1 Pengambilan sampel
Sampel berupa daun tumbuhan Meniran (Phyllanthus niruri) yang
diambil

di

halaman

kampus Universitas Hasanuddin Tamalanrea,

Makassar, Propinsi Sulawesi Selatan. Herba diambil pada saat sore hari
(pukul 16.00-17.00) dengan mengambil semua bagian tumbuhan kecuali
akar.
III. 2. 2 Pengolahan sampel
Herba Meniran dicuci bersih kemudian dikeringkan dengan cara
diangin-anginkan pada tempat yang tidak terkena cahaya matahari
langsung. Kemudian setelah kering, di potong-potong kecil untuk
kemudian diekstraksi.
III. 2. 3 Ekstraksi
1. Ditimbang sampel sebanyak 150 gram
2. Dimasukkan sampel yang telah ditimbang ke dalam wadah
3. Dimasukkan pelarut metanol sampai seluruh ekstrak terendam,
dengan terlebih dahulu mengukur banyak pelarut yang digunakan (2,5
L)

4. Ditutup wadah dengan alumunium foil


5. Didiamkan sampai terbentuk larutan ekstrak pekat
6. Disaring larutan ekstrak dengan kain saring
7. Dikeringkan larutan ekstrak dengan rotavapor
III. 2. 4 Partisi
1. Timbang ekstrak sebanyak 1 gram
2. Masukkan ekstrak yang telah ditimbang ke dalam tabung reaksi
3. Larutkan ekstrak dengan air sebanyak 2 ml
4. Masukkan heksan ke dalam larutan ekstrak sebanyak 6 ml, diamkan
sampai larutan yang bagian atas jenuh
5. Ambil larutan yang bagian atas masukkan ke dalam vial
6. Ulangi pengerjaan no. 4 & 5 sampai 3 kali
7. Larutkan ekstrak heksan yang telah terkumpul di vial diuapkan hingga
tertinggal ekstrak
8. Lakukan hal yang sama dengan pengerjaan no. 4-7 dengan mengganti
heksan dengan butanol
III. 2. 5 Penyiapan lempeng KLT dan Sampel
1. Aktifkan lempeng KLT pada oven dengan suhu 105-110C selama 1
jam.
2. Gunting lempeng sesuai dengan ukuran yang diinginkan
3. Tandai batas bawah dan batas atas
4. Larutkan sampel dengan pelarut yang cocok sampai diperoleh
kepekatan yang sesuai

5. Masukkan fase gerak/eluen ke dalam chamber hingga kira-kira


setinggi batas bawah lempeng
6. Jenuhkan chamber dengan indiktor kertas saring
III. 2. 6 Identifikasi KLT
1. Totolkan masing-masing larutan ekstrak metenol, heksan, dan butanol
pada batas bawah di titik yang berbeda dengan menggunakan pipa
kapiler. Ulangi sampai sampel yang ditotolkan cukup jumlahnya.
2. Masukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan eluen
3. Biarkan lempeng terelusi sampai batas atas, kemudian angkat dan
keringkan
4. Amati noda yang muncul dengan menggunakan penampak noda
lampu UV 254 & 366 serta dengan menyemprot H2SO4 10%
III.3 Reaksi Uji Pendahuluan
III.3.1 Reaksi Uji Mayer

III.3.2 Reaksi Uji Dragendorf

III.3.3 Reaksi Uji Wagner

III.3.4 Reaksi Hidrolisis Saponin

III.3.5 Reaksi Uji Steroid

III.3.6 Reaksi Uji Flavanoid

III.3.7 Reaksi Uji Tanin dan Polifenol

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM
IV.1 Hasil Praktikum
IV.1 1 Hasil Ekstraksi
Jenis

Berat
Pelarut

Ekstraksi
Maserasi

Volume
ekstrak

Metanol

65 g

IV.1.2 Kromatogram
UV 255

UV 366

H2SO4 10%

1,65 L

Nilai Rf
Heksan:
Rf =

3,25
=0,59
5,5

Butanol:
Rf =

3,75
=0,68
5,5

Metanol:
Rf =

3,25
=0,59
5,5

BAB V
PEMBAHASAN

Meniran merupakan tanaman yang tumbuh merambat di hutanhutan di daerah pegunungan. Tersebar mulai dari negri Cina, Himalaya,
Asia Tenggara, Australia, New Caledonia, dan Pulau Asia Psifik.
Meniranbisa berupa semak, merambat naik, atau merambat mendatar.
Batang berkayu bulat, bercabang, warna hijau. Daun tunggal, lonjong,
warna putih kehijauan. Bunga di ketiak daun, mahkota bentuk corong,
warna putih. Buah kecil, bulat telur, warna hijau.
Meniranberkhasiat untuk stomakik (meningkatkan nafsu makan);
Karminatif (menghilangkan rasa nyeri kolik akibat gas); Antispasmodik
(menghilangkan nyeri akibat spasme atau kram); Antitusif (menahan

batuk); Emenagog (memperlancar haid apabila telat bulan bukan karena


hamil).
Pemilihan metode maserasi karena maserasi merupakan metode
yang paling aman. Menurut sebuah pustaka, Meniranmengandung
senyawa polifenol yang rentan terhadap panas sehingga tidak bagus
menggunakan metode soxhlet karena dapat merusak senyawa Polifenol
pada pulasari.
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada
temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke
dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya
perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel.
Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh
cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). Peristiwa
tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan
di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan
pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang
diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.
Pada saat pengeringan ekstrak digunakan alat Rotavapor untuk
mempercepat pengeringan. Prinsip Rotavapor yaitu pemisahan ekstrak
dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran
dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5-10 C di bawah titik
didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan.

Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik
ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan
pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung.
Prinsip Penampakan Noda
Pada UV 254 nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel
akan tampak berwarna gelap.Penampakan noda pada lampu UV 254 nm
adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator
fluoresensi yang terdapat pada lempeng. Fluoresensi cahaya yang
tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen
tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke
tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula
sambil melepaskan energi.
Pada UV 366 nm noda akan berflouresensi dan lempeng akan
berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah
karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor
yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Fluoresensi
cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh
komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi
dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan
semula sambil melepaskan energi. Sehingga noda yang tampak pada
lampu UV 366 terlihat terang karena silika gel yang digunakan tidak
berfluororesensi pada sinar UV 366 nm.

Prinsip penampakan noda pereaksi semprot H2SO4 10% adalah


berdasarkan kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam
merusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia sehingga panjang
gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang (UV menjadi
VIS) sehingga noda menjadi tampak oleh mata.
Dari percobaan KLT, profil KLT yang didapatkan tidak bagus karena
ekstrak butanol yang ditotolkan lebih tinggi terelusi daripada metanol yang
lebih nonpolar daripada butanol. Kesalahan yang terjadi mungkin pada
eluen yang tidak cocok atau partisi yang kurang baik.

BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan sampel daun Menirandiekstraksi
menggunakan metode maserasi dengan pelarut 1650 ml dan berat
simpliasia 65 g. Hasil rendamen sebanyak 1.715 g. Pada proses partisi
menggunakan metode ekstraksi cair-cair, dan dianalisis dengan KLT yang
menggunakan eluen nonpolar heksan : etil asetat (3:1) dan nilai Rfnya
sebesar 0.89

VI.2 S a r a n
Sebaiknya untuk pengujian selanjutnya untuk sampel yang sama
dilakukan pengujian dengan menggunakan variasi metode yang lebih
beragam, sebagai bahan perbandingan. Dapat pula dilakukan uji
pendahuluan sehingga dapat diketahui bagaimana cara menentukan
senyawa-senyawa primer pada tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Steenis, C. G. G. J. van., (1988),Flora : Untuk Sekolah Di


Indonesia, PT Pradnya Paramitha, Jakarta, 272.
2. Ditjen POM., (1995),Farmakope Indonesia, Depkes RI, Jakarta, 7.
3. DEPKES RI., (1989), Sediaan Galenik, Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta, 10-28, 30.
4. Gritter J.R., James, M.B., (1991), Pengantar Kromatografi,
Penerbit ITB, Bandung, 6, 83, 107, 109
5. Tim

Dosen,

Laboratorium

(2011),

Penuntun

Farmakognosi

Praktikum

Fitokimia,

Fitokiomia

Farmasi,

I,

Universitas

Hasanuddin, Makassar.
6. Ahmad, (2006), Anti Inflammatory Activities of Nigella sativa Linn
(Kalongi, blackseed), (Online), http://lailanurhayati.multiply.com/jour
nal. Diakses 15 Maret 2008.
7. Guether, E., (2006), Minyak Atsiri, Jilid I, (diterjemahkan oleh
Ketaren. S.), Universitas Jakarta, Jakarta.

Gambar alat ekstraksi:

Alat destilasi

Refluks

Soxhlet

b
c
d

Keterangan :
a. pendingin
e

b. mantel
c. pipa samping
d. sifon
e. labu alas bulat

Alat Soxhket