Anda di halaman 1dari 12

Bayu Alfian

HOME
MAKALAH PERENCANAAN EKOWISATA YANG BERKELANJUTAN
POSTED BY : ANAK BONE JUMAT, 22 JULI 2011
Abstark

Indonesia sebagai negara megabiodiversity nomor dua di dunia, telah dikenal


memiliki kekayaan alam flora dan fauna yang sangat tinggi. Para explorer dari
dunia barat maupun timur jauh telah mengunjungi indonesia pada abad ke lima
belas yang lalu. Perjalanan eksplorasi yang ingin mengetahui keadaan telah
dilakukan oleh marcopollo, Washington, Wallacea, Weber, Junghuhn dan Van
Steines dan masih banyak yang lain merupakan perjalanan antar pulau dan
antar benua yang penuh dengan tantangan. Para adventner ini melakukan
perjalanan ke alam yang merupakan awal dari perjalanan ekowisata
(ecotourism). Meskipun telah banyak hasil studi dan definisi para ahli
memberikan pengertian tentang ecotourism, namun menurut Fandeli, (2000),
pemakaian istilah ekowisata lebih populer dibanding dengan terjemahan yang
seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme, yang pada tahun 1990 oleh
the ecotourism society didefinisikan sebagai bentuk perjalanan wisata
bertanggung jawab ke area alami dan berpetualang, yang dilakukan untuk tujuan
konservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan untuk kesejahteraan
penduduk setempat. Keragaman sudut pandang para ahli menyangkut definisi
dan pengertian ekoturisme cukup dinamis dan positif sepanjang dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan disiplin ilmu ekoturisme itu sendiri.
Walaupun dari segi keilmuan belum final, setidaknya Avenzora, (2003) telah
merangkum berbagai definisi ecotourism yang ada dalam satu terminologi tiga
pola yaitu: (1) berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dari konsep yang
ditawarkan, (2) Berorientasi pada sumberdaya wisata yang digunakan, dan (3)
berorientasi pada bentuk-bentuk kegiatan wisata yang diselenggarakan. Definisi
dan pengertian ecotourism di atas, sekedar memberikan pemahaman bahwa
dinamika ekowisata sebagai bidang ilmu telah diminati oleh banyak kalangan
khususnya scholars.

1. Jasa Pelayanan Sebagai Produk Ekowisata


Secara umum produk jasa pelayanan berbeda dengan produk manufaktur, sebab
jasa pelayanan terdiri dari tindakan dan interaksi yang merupakan kontak sosial
secara langsung antara produsen dan konsumen. Sedangkan produk manufaktur
tidak terdapat kontak langsung dan bukan merupakan kontak sosial, Schroeder
(2007).

Untuk memahami lebih dalam mengenai jasa pelayanan secara umum, di bawah
ini ditampilkan tabel perbedaan antara produk manufaktur dan produk Jasa
pelayanan:
Perbedaan Antara Produk Manufaktur dan Jasa pelayanan
Produk Manufaktur Produk Jasa Pelayanan
Produk dapat terlihat (Tangible) Produk tak terlihat (intagible)
Kepemilikan dialihkan pada saat pembelian Kepemilikan pada umumnya tidak
dialihkan
Produk dapat dijual kembali Tidak mungkin dijual kembali
Dapat didemonstrasikan sebelum dibeli Tidak ada sebelum dibeli
Dapat disimpan dalam persediaan Tidak dapat disimpan
Produksi mendahului konsumsi Produksi dan konsumsi terjadi secara serentak
Produksi dan konsumsi dapat dipisahkan dalam lokasi Produksi dan lokasi harus
terjadi pada lokasi yang sama
Produk dapat dipindahkan Produk tidak dapat dipindahkan (meskipun produsen
dapat)
Penjual memproduksi Pembeli mengambil bagian langsung dalam proses
produksi dan benar-benar dapat melakukan sebagian produksi
Produk dapat dieksport Jasa tidak dapat diekspor, tapi sistem pelayanan jasa
dapat
Bisnis diorganisasi berdasarkan fungsi, dengan penjualan dan produksi terpisah
Penjualan dan produksi tidak dapat dipisahkan secara fungsional
Sumber: Richard Norman, service management; Strategy and Leadership in the
Service
Membandingkan jasa layanan seperti yang disampaikan pada tabel di atas
dengan jasa layanan sebagai produk ekowisata, tentunya nyaris memiliki
kemiripan secara umum, namun secara spesifik dapat berbeda. Apabila Jasa
layanan ekowisata berorientasi pada wisata masal, maka masuk pada kategori
jasa yang bercirikan interkasi dan pelayanan yang rendah dengan intensitas
tenaga kerja yang rendah, dan bersifat padat karya. Namun apabila jasa layanan
ekowisata berorientasi pada wisata terbatas dan minat khusus, maka sangat
menuntut
Membandingkan jasa layanan seperti yang disampai profesionalitas dengan
tingkat derajat interaksi dan pelayanan yang tinggi, sehingga menurut Schroeder
(2007), jasa tersebut bersifat customization.

Davis (Dalam fennell, 2002) mendefinisikan produk pariwisata yaitu; Tourism


products might more appropriately be viewed. as services, instead of goods,
because tourism is an experiential phenomenon that brings people and places
together over defined periods of time. Hampir senada dengan pendapat diatas,
Wahab, (1989) memberikan batasan tentang Produk wisata sebagai jasa-jasa
pelayanan yang berbeda dengan produk jasa lain yang ada dipasaran, bersifat
kaku (rigit) dan karena belum menjadi kebutuhan pokok maka bersaing dengan
produk jasa lainnya.
Sedangkan Pendit, (1999) menyampaikan produk wisata adalah segala bentuk
pelayanan yang disajikan bagi kebutuhan wisatawan, berupa benda-benda
pariwisata yang bersifat material maupun non-material.
Implikasi definisi diatas menegaskan dua hal penting dalam rangka
pengembangan ekowisata dari perspektif jasa pelayanan yaitu pertama, produk
ekowisata disebut sebagai jasa pelayanan (service) terpadu. pelayanan
dimaksud secara implisit dapat terlihat dari multiple-mission yang diemban oleh
pembangunan pariwisata di Indonesia (lihat; Nirwandar 2007), diantaranya
tourism sebagai industri diharapkan akan mampu menyediakan jasa layanan
alam dan lingkungan (supply of environmental service) tanpa mengubah fungsi
dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat lokal (local needs). Kedua, produk
ekowisata disebut sebagai jasa pelayanan dalam rangka menciptakan kepuasan
(demand) experiential of phenomenal bagi wisatawan yang berkunjung ke
tempat-tempat wisata. implikasi pertama (supply), sebagai faktor prasyarat yang
harus tersedia agar atribut pelayanan dapat terwujud, Seperti faktor saranaprasaranan, faktor obyek dan daya tarik wisata alam, serta faktor kenyamanan,
syahadat (2006). Sedangkan implikasi yang kedua, menunjukan bahwa kepuasan
wisatawan menjadi prioritas dalam penyajian jasa layanan ekowisata,
diindikasikan sebagai experiential of phenomenal, yang oleh fennell, (2002)
disebut kebutuhan psikologis pengunjung.
Mempertimbangkan apa yang disampaikan yoeti, (2008) bahwa ekowisata ibarat
memiliki pisau bermata dua karena menyelaraskan antara kepentingan bisnis
dengan misi konservasi sumberdaya alam dan sosial, sebetulnya
menggambarkan tingginya tingkat kesulitan manajemen ekowisata dalam hal
jasa pelayanan. Kasus dampak negatif yang ditimbulkan, berupa pencemaran
ekosistem air sebagai akibat perilaku pengunjung wisata alam di Taman
Nansional Gunung Gede Pangrango (Sawitri dkk, 2004), kurang memadainya jasa
pelayanan transportasi bagi perkembangan pariwisata di Daerah Istimewa
Yokjakarta (sari dkk, 2002), adalah bukti nyata bahwa penanganan jasa
pelayanan ekowisata masih perlu mendapat perhatian serius.
2. Pengguna dan penyedia Jasa Layanan Ekowisata
Ketika kita tengah menikmati sebuah jasa layanan, misalkan di salah satu
restoran kelas menengah keatas, biasanya kita membaca sebuah tulisan
pemberitahuan Apabila anda tidak puas dengan pelayanan kami, silahkan
hubungi nomor telepon ini ......... atau penyampaian secara lisan oleh karyawan

restoran, misalnya; mohon maaf bapak/ibu, kalau ada yang kurang dalam
pelayanan ini tolong beritahukan kami.
Tulisan maupun penyampaian lisan tersebut tentunya memiliki tujuan khusus,
baik bagi pengguna jasa layanan maupun penyedia jasa yaitu, pertama;
penyedia jasa ingin meyakinkan kepada pengguna jasa bahwa produk yang
ditawarkan berkualitas baik, dengan dibuktikan adanya garansi. kedua, secara
psikologis agar pengguna jasa merasa nyaman karena diikutsertakan dalam
menentukan proses produksi jasa layanan yang sedang berlangsung. Ketiga,
sebagai evaluasi formatif bagi internal manajemen penyedia jasa.
Contoh kasus diatas mengilustrasikan bagaimana intervensi terhadap perilaku
konsumen dilakukan secara tidak langsung. Peluang yang diharapkan terjadi
adalah diagnosa mengukur selera konsumen berupa cita rasa, kenyamanan, dan
kepuasan terhadap produk jasa layanan yang ditawarkan pemilik rumah makan.
Dalam konteks jasa layanan ekowisata, kasus serupa dapat dilakukan dengan
metode yang berbeda. Misalkan seperti yang dicontohkan Fennell (2002), dalam
mendiagnosa selera calon wisatawan, maka terlebih dahulu penyedia jasa
ekowisata harus melakukan komunikasi intens dengan calon wisatawan, agar
dapat mengetahui kebutuhan seperti apa yang diperlukan selama melakukan
perjalanan wisata. Mengetahui keterkaitan antara permintaan dengan resources
and supply sudah diingatkan oleh hall dan Stephen (dalam Avenzora, 2003),
bahwa harus mampu mengenali human demand as a participation, dan human
demand as a desire to engage in recreation.
Untuk mengenali recreation of demand, oleh sebagian literatur telah
memperkenalkan demand typology, mulai dari potential demand, induced
demand dan actual demand, hingga suppressed demand, subtitution of demand,
dan redicection demand. Sedangkan untuk mengenali supply of resources ,
Avenzora (2003) mendefinisikan sebagai: suatu ruang tertentu dengan batasbatas tertentu yang mengandung elemen-elemen ruang tertentu yang dapat :
(1) menarik minat orang untuk berekreasi, (2) menampung kegiatan rekreasi,
dan (3) memberikan kepuasan orang berekreasi Dari sudut pandang psikologis,
Ahola (dalam Fennell, 2002) memberikan pandangan, alasan kebutuhan
wisatawan untuk bepergian yaitu: (i) untuk mencari pemuasan batin
(kebanggaan), dan (ii) melarikan diri dari rutinitas keseharian (penghindaran).
Dua kekuatan motivasional ini secara simultan mempengaruhi pilihan perjalanan
seseorang.
Pilihan-pilihan tersebut bahkan sudah terpola kedalam bentuk-bentuk karakter
keinginan wisatawan (demand typology), seperti yang disampaikan avenzora
(2008), sebagai berikut:
Venture-someness : adalah wisatawan ingin mencari dan menggali, untuk
cenderung menjadi pengunjung pertama pada tujuan wisata.

Peleasure-seeking: adalah wisatawan ingin mendapatkan kenyamanan dalam


segala hal selama perjalanan, baik transportasi perjalanan, jasa hotel maupun
wisata hiburan
Impassivity: adalah wisatawan yang cepat dalam pengambilan keputusan
dengan tanpa perencanaan
Self-confidence: adalah wisatawan yang memiliki percaya diri untuk melakukan
sesuatu yang berbeda. Hal ini tercermin ketika menentukan kegiatan wisata
ditempat tujuan akan selalu berbeda.
Planfulness: adalah wisatawan yang melakukan perencanaan perjalanan lebih
awal, dengan mempertimbangkan program-program wisata sebelumnya.
Masculinity: adalah wisatawan yang selalu berorientasi pada aksi perjalanan
yang penuh tantangan
Intelektualisme: adalah wisatawan yang memilih tujuan wisata sejarah dan
budaya, meskipun harus membayar mahal.
People orientation: adalah wisatawan yang berorientasi pada menjalin hubungan
sosial dengan orang-orang yang mereka kunjungi.

Berdasarkan tipologi diatas maka dapat ditarik beberapa kesamaan karakter


wisatawan sebagai berikut:
1. Keinginan untuk mendapatkan kepuasan menjadi sesuatu yang prioritas.
2. Keinginan untuk mendapatkan kenyamanan selama perjalanan menuju
destinasi sampai kembali pulang
3. Keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang berarti dalam hidup.

Kesamaan karakter keinginan diatas, disebut sebagai bentuk harapan untuk


memenuhi kebutuhan (lihat: Fennell, 2002), yaitu perkiraan atau keyakinan
tentang sesuatu yang akan diterima melalui berbagai informasi (kotler, 1997).
Dalam konteks sebagai konsumen ekowisata, ciri khas karakter tersebut yang
membedakan antara ekowisatawan dengan wisatawan pada umumnya.
Berkaitan dengan kualitas layanan, seorang ekowisatawan tidak hanya sekedar
menuntut kenyamanan dalam perjalanan menuju destinasi, kegiatan di destinasi,
perjalanan pulang dari destinasi. Akan tetapi lebih dari pada itu adalah, esensi
berpetualang, menghadapi tantangan dan rintangan alam liar, memburu
keunikan, merupakan sesuatu kebutuhan yang harus terpenuhi dalam
pelayanan.
Pada sisi lain, pemenuhan kebutuhan agar sesuai harapan, harus diimbangi oleh
ketersediaan faktor-faktor supply yang berhubungan dengan atribut jasa

pelayanan (hannah and krp, 1991), seperti yang disampaikan Coper et.al (1993)
dalam mahadewi (2008) yaitu:
Atraksi (Attraction), yaitu semua atraksi yang menarik wisatawan kesuatu
tempat, baik atraksi alam maupun budaya
Akessibilitas (Accessibilities), kemudahan mencapai destinasi, yang meliputi
tersedianya transportasi (frekuensi, kenyamanan, dan keamanan), izin masuk
DTW dan kemudahan mendapatkan informasi.
Amenitas atau fasilitas (Amenities), tersedianya akomodasi, rumah makan, agen
perjalanan.
Ancillary services, yaitu bentuk dari wadah organisasi pariwisata, seperti dmo
(destination marketing/management organozation)

Apabila pemenuhan kebutuhan wisatawan tidak terpenuhi oleh atribut pelayanan


yang disediakan, atau tidak terjadi keterkaitan yang sinergis antara recreation
demand dan resources suplply, maka yang akan terjadi adalah terciptanya
kesenjangan-kesenjangan, antara jasa yang diharapkan dengan jasa yang
dirasakan, antara penyampaian jasa dengan penjabaran jasa, antara persepsi
manajemen dengan penjabaran jasa, pada level kualitas jasa yang ditawarkan,

Hal ini dapat terjadi karena tiga faktor, yaitu tidak adanya komitmen total
manajemen terhadap kualitas jasa, kekurangan sumberdaya dan karena adanya
kelebihan permintaan.3) Gap antara kualifikasi spesifikasi kualitas jasa dan
penyampaian jasa; kesenjangan ini terjadi disebakan oleh karyawan kurang
terlatih, beban kerja melampaui batas, tidak dapat memenuhi strandar kinerja
yang ditetapkan.(4) Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal;
harapan dan janji penyedia jasa tidak sesuai kenyataan. (5) Gap antara jasa
yang dirasakan dan jasa yang di harapkan; gap ini terjadi apabila wisatawan
mengukur kinerja organisasi dengan cara yang berlainan, atau bisa juga keliru
mempersepsikan kualitas jasa tersebut.
3. Manajemen Pelayanan Jasa Ekowisata
Mewujudkan keterkaitan antara permintaan recreation dengan resources and
supply dalam konteks jasa pelayanan ekowisata, maka mutlak dirumuskan
terlebih dahulu sebuah rancangan proses produksi, dengan mempertimbangkan
empat elemen produksi jasa, Schoroeder (2007), yaitu: Wisatawan,
Manusia/operator, strategi dan sistem, seperti dalam gambar 2. dibawah:

Rancangan Proses Produksi

Sumber: Schoroeder (2007). (telah dimodivikasi)


Gambar diatas menjelaskan tentang konsep keterkaitan antara masing-masing
elemen dalam segitiga jasa yaitu, wisatawan yang berada ditengah sebagai
pusat yang harus mendapatkan jasa pelayanan dari manusia/karyawan. Strategi
adalah pandangan atau filosopi yang digunakan untuk menuntun segala aspek
pelayanan jasa, serta sistem adalah fisik dan prosedur yang digunakan. Garis
yang menghubungkan masing-masing elemen menggambarkan beberapa
interpretasi yakni; garis dari wisatawan ke strategi, menunjukan bahwa strategi
menempatkan wisatawan terlebih dahulu, dengan menemukan kebutuhan
wisatawan yang sebenarnya. Manajemen harus mengidentifikasi apa yang
menjadi harapan wisatawan untuk mendisain jasa layanan, Schroeder (2007);
apa yang diinginkan wisatawan?, bagaimana mengkomunikasikannya?, apakah
yang ditawarkan adalah sesuatu yang unik?, Avenzora (2003); (1) Apa dan
berapa banyak yang dapat diberikan, (2) kapan dapat diberikan, dan (3) kepada
siapa dapat diberikan.
Garis dari wisatawan ke sistem menunjukan bahwa sistem (prosedur dan
peralatan) sesuai dengan harapan wisatawan. Kenyamanan dalam perjalanan
menuju dan pulang dari destinasi, dan rasa aman selama beraktifitas di
destinasi, tak ketinggalan pula menciptakan momentum pembuktian kebenaran
antara fakta destinasi dilapangan dengan promosi pada iklan atau brosur, atau
yang telah dikomunkasikan sebelumnya, yang Kesemuanya harus dirancang
dalam sistem pelayanan terpadu.
Garis dari wisatawan ke manusia/karyawan menunjukan bahwa setiap karyawan
memberikan pelayanan yang terbaik kepada wisatawan, baik operator maupun
manejer program. Pada fase ini, menurut Muntasib (2009), Kualitas SDM
karyawan sangat menentukan kualitas produk pelayanan ekowisata. Kemampuan
interpreter dan guide yang terlatih adalah bagian dari proses operasi jasa
layanan yang membuktikan kinerja organisasi penyedia jasa.
Konsep yang berhubungan dengan segitiga jasa seperti penjelasan diatas,
memberikan suatu cara berfikir yang menarik tentang operasi jasa. Selain
bermanfaat untuk merancang sistem jasa layanan, juga dapat digunakan untuk
mendiagnosa masalah jasa dan menemukan penyebab timbulnya pelayanan
yang buruk.
Setiap pelayanan jasa ekowisata disampaikan dalam suatu siklus jasa, siklus
tersebut diawali dari titik di mana wisatawan pertama kali berhubungan dengan
sistem pelayanan jasa. Dimulai dari pra-perjalanan, perjalanan menuju destinasi,
kegiatan di destinasi, perjalanan pulang dari destinasi dan tahap rekoleksi. Albert
(dalam Schroeder, 2007) menekankan gagasan saat-saat kebenaran (moments
of truth) adalah setiap saat di mana wisatawan berhubungan dengan sistem
pelayanan dalam siklus pelayanan jasa. Pengelolaan saat-saat kebenaran
dengan baik untuk menciptakan suatu pengalaman pelayanan yang positif
adalah intisari manajemen jasa.

Penutup
Standarisasi pelayanan jasa ekowisata dewasa ini sudah sangat dibutuhkan oleh
lembaga-lembaga yang dipercayakan sebagai operator dalam mengelola obyek
wisata alam pada kawasan konservasi dan hutan lindung. Setidaknya dengan
memiliki pedoman yang standar, diharapkan akan merangsang tumbuhnya
indusri-industri ekowisata.

Daftar Pustaka
Anonim, 2000. Faktor Daya Tarik Obyek Sumber Daya Alam Sekawasan Sesuai
Permintaan Pasar Dalam Meningkatkan Kunjungan Wisata Di Jawa Tengah
http://www.balitbangjateng.go.id/kegiatan/penelitian2008/c2__pariwisata.pdf.
Diakses 2 desember 2009
Avenzora, R. 2003a. Perencanaan Pengembangan Pariwisata Alam Nasional Di
Kawasan Hutan: Wissenchaftlichesplannung VS Leidbildsplannung. Makalah
disampaikan Dalam Lokakarya Pembahasan Draf Rencana Pengembangan
Pariwisata alam Nasional di Kawasan Hutan Oleh Ditjen PHKA, Departemen
Kehutanan; Hotel Salak Bogor, 30 desember 2003.
Avenzora, R. 2003b. Ekoturisme: Evaluasi Konsep. Media Konservasi, Jurnal Ilmiah
Bidang Konservasi sumberdaya Alam Hayati dan Lingkungan. Vol. VIII/Nomor 2,
Juni 2003. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.
Avenzora, R. 2003c. Rekreasi Perkotaan : Sebuah Tantangan. Media Konservasi,
Jurnal Ilmiah Bidang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Lingkungan, Vol.
VIII/Nomor 3, Desember 2003. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas
Kehutanan IPB.
At, M., Susdiyanti, T., Septiana, W, 2004. Pengembangan Interpretasi Elang Jawa
(Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) Dalam Kegiatan Ekowisata Di Resort
Cikaniki Taman Nasional Gunung Halimun. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Nusa
Sylva, Vol. 4 Nomor 2, Desember 2004.
Anaz, S. 2007. Pengaruh Kualitas Jasa Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen
Pada Wisata Bahari Lamongan. http://one.indoskripsi.com/content/pengaruhkualitas-jasa-pelayanan-terhadap-kepuasan-konsumen-pada-wisata-baharilamongan, Diakses 2 Desember 2009
Basuni, S. 2001. Ekoturisme, Manajemen Konservasi dan Otonomi Daerah. Jurnal
Media Konservasi Vol. VII, Nomor 2, Juni 2001. Jurusan Konservasi Sumberdaya
Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.
Dawy, M. 2004. Pengembangan Ekowisata Di Daerah Aliran Sungai Maiting
Kabupaten Tana Toraja. Jurnal Bumi Kita, Lingkungan Hidup Dan Pengelolaan
Sumberdaya Alam. UMPAR Pres. Sulawesi Selatan.

Erna ferrinadewi, 2008.


http://paul02583.files.wordpress.com/2008/05/ma06010402.pdf. Diakses 2
desember 2009
Engel, J.F., Blackwell, R.D., Miniard, P.W. 1994. Perilaku Konsumen Jilid 1. Binarupa
Aksara, Jakarta.
Fennell, D.A. 2002. Ecotourism programme Planning. CABI Publishing is a Division
of CAB International
Fitriani, L., Prasetyo, L.B., soekmadi, R. 2004. Kajian Pengembangan ekowisata
Pulau-pulau Kecil Kawasan Bungus teluk Kabung, Kota Padang. Jurnal
Pascasarjana Vol. 27 Nomor 1 Januari 2004, Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Halim, H.S., Tarumingkeng, R.C., Kartodihardjo, H., Sekartjakrarini, S. 2006.
Penerapan Konsep Ekowisata Untuk meningkatkan Daya Saing Pariwisata Pesisir
Di Kabupaten Pandeglang. Jurnal Forum Pascasarjana, Volume 29 Nomor 2 April
2006, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kolter, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, perencanaan, Implementasi
dan Pengendalian (Edisi Kedelapan Terjemahan Arcella Ariwati Hermawan),
Jakarta: Salemba Empat
Muntasib, E.K.S.H., Mulyadi, K. 1997. Manajemen Wisata Alam Dan Kelestarian
Badak Jawa Di Taman nasional Ujung Kulon. Jurnal Media Konservasi Edisi Khusus.
Muntasib, E.K.S.H. 2009. Materi Matakuliah Perencanaan Pelayanan Ekowisata.
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian
Bogor.
Manafe, A.M. 2008. http://atanaamah.files.wordpress.com/2008/02/artikel-5rocky.pdf. Diakses 2 desember 2009
Natalisa, D. 2007. Survey Kepuasan Pelanggan. Jurnal Penelitian manajemen Dan
Bisnis Sriwijaya, Vol. 5 Nomor 9, Juni 2007. UNSRI
http://digilib.unsri.ac.id/download/jurnal%20mm%20vol%205%20no
%209%20artikel%201%20diah%20nataliza.pdf. Diakses 2 Desember 2009
Tebaiy, S., Kusumastanto, T., Purwanto, J., 2005. Kajian pengembangan Ekowisata
Mangrove Berbasis masyarakat Di Taman Wisata Teluk Youteva, Jayapura, Papua.
Jurnal Forum Pascasarjana, Volume 28 Nomor 2 April 2005, Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.
Rakatama, A. 2008. Kontribusi Aktifitas wisata Alam Di Taman nasional Way
Kambas Terhadap Perekonomian Setempat. Jurnal Penelitian & Sosial Ekonomi
Kehutanan Vol. 8 Nomor 1, Maret 2008. Badan Penelitian Dan Pengembangan
Kehutanan, Departemen Kehutanan.
Sawitri, R., Heryanto, N.M.,Santosa, H. 2004. Pengaruh Kegiatan Wisata Alam
Terhadap Kelestarian Lingkungan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Vol. 1 (3) 2004: 326 -336, Bogor
Indonesia.
Syahadat, E. 2006. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kunjungan Wisatawan Di
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), Jurnal Penelitian & Sosial
Ekonomi Kehutanan Vol. 3 Nomor 1 Maret 2006, Hal. 1-16, Bogor Indonesia.
Sunari., Alikodra, H.S., Mudikdjo, K., Dahuri, R. 2005. Model Kebijakan Daerah
Dalam Pengembangan Ekowisata: Studi Kasus Di Kabupaten Indramayu. Jurnal
Forum Pascasarjana, Vol. 28 Nomor 4 Oktober 2005, Hal. 357-365, Sekolah
Pascasarjanan Institut Pertanian bogor.
Schroeder, R.G. 2007. Manajemen Operasi; Pengambilan Keputusan Dalam Suatu
Fungsi Operasi. Edisi ketiga Jilid 1. IKAPI, Jakarta.
Sangpikul, A., Batra, A. 2007. Ecotourism: Knowladge, Attitude and Travel
Experience Of Thai Youths. Journal Of Houspitality, Leisure, Sport And Tourism
Education Vol. 6 No. 1
Pratiwi, S., Alikodra, H.S., Sekartjakrarini, S., Kartodihardjo, H, 2008. Analisis
Ekowisata Di taman nasional Gunung Halimun. Jurnal Forum Pascasarjana, Vol.
31 Nomor 3 Juli 2008, Hal. 153-162, Sekolah Pascasarjanan Institut Pertanian
bogor.
Pratomo, 2006. Formulasi Strategi Pengembangan Ekowisata Di Taman nasional
Gunung gede Pangrango. Ekologia, Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar Dan Lingkungan
Hidup Vol. 6 nomor 1, april 2006.
Purnamasari, Q., Muntasib, E.K.S.H., Indrawan A, Kajian pengembangan produk
Wisata Alam Berbasis Ekologi Di Wilayah Wana Wisata Curug Cilember (WWCC),
Kabupaten Bogor. Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. XI Nomor 1, Januari-Juni
2005.
Pendit, N.S. 1999. Ilmu Pariwisata, sebuah Pengantar Perdana. PT. Pradnya
Paramita, Jakarta.
Utami, W. 2008. Relationship Effort Dan Kualitas Layanan Sebagai Strategi
Penguat Relationship Outcomes
http://paul02583.files.wordpress.com/2008/05/mar06010103.pdf. Diakses 2
Desember 2009
Share This

Related Posts :
Back to Home Makalah Perencanaan Ekowisata Yang Berkelanjutan
Leave a Reply
Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

NEXT
WELCOME TO MY BLOG
BLOGGER TEMPLATES

Get Your Own Hi5 Scroller Here


FOLLOW ME ON TWITTER

PENGUNJUNG
free counters
Free counters
Diberdayakan oleh Blogger.
BLOG ARCHIVE
2014
2013
2012
2011
Desember
November
Oktober
September
Juli
Makalah Sanitasi Lingkungan
Makalah Perkembangan Ekonomi Kabupaten Bone
Raja-Raja Bone
Teori Konsentris (TEORI PERENCANAAN)
Makalah Perencanaan Ekowisata Yang Berkelanjutan

- Copyright 2013 Bayu Alfian -Dark Amaterasu Template- Design by


YONDARKNESS -Original by Blog Johanes-