Anda di halaman 1dari 19

Ali Bin Abi Thalib

Jika hidup itu merupakan pembelajaran, itu benar adanya, hingga Rasulullah
pun bernah bersabda "Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat", Kehidupan banyak
memberikan pengajaran berharga terutama untuk hati dan jiwa, hingga masingmasing manusia akan beragam mendapati inti dari pelajaran yang diajarkan oleh
kehidupan itu sendiri.
Kawan-Kawan disini saya telah mengepostkan beberapa kisah Tauladan
Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Semoga apa yang beliau lakukan/perbuat akan
menjadikan cerminan bagi kita semua, dan semoga setelah membaca kisah-kisah
tersebut akan menjadikan diri kita menjadi hamba Allah yang lebih baik. Amiin.
Ali Bin Abi Thalib lahir sekitar 13 Rajab. Ali Bin Abi Thalib merupakan
salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad.
Menurut Islam Sunni, Ali Bin Abi Thalib adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur
Rasyidin. Sedangkan Syi'ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah
pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni
tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam,
sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali Bin Abi
Thalib adalah sepupu dari Nabi Muhammad S.A.W, dan setelah menikah dengan
Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Nabi Muhammad S.A.W.
Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin
Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin
Hasyim, bin Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, 'Uqail, Ja'far
dan Ummu Hani. Dengan demikian, jelaslah, Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua
ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat

Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang
mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah
Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah
salah satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah
salah seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Saw.
Dia pula-lah yang telah mendidik Nabi Saw, dan menanggung hidupnya, setelah
meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas
jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya,
Abu Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal
dunia, Rasulullah Saw yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya,
meletakkannya dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak
atas ibunya. Dan bersabda:
"Semoga Allah SWT memberikan balasan yang baik bagi ibu asuhku ini.
Engkau adalah orang yang paling baik kepadaku, setelah pamanku dan almarhumah
ibuku. Dan semoga Allah SWT meridhai-mu."
Inilah 10 falsafah hidup beliau, yang tentunya masih banyak lagi jika kita
pernah membaca sejarah kehidupan beliau.
Zzzzzzzzzzzzzzzzz

Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang terkemuka di kalangan umat Islam sekaligus
sepupu Nabi Muhammad yang menjadi khalifah (khulafaur rosyidin) setelah
kekhalifhan Utsman bin Affan. Ali adalah sosok yang cerdas dan tampan. Ali lahir
pada tahun kedua puluh sebelum kenabian, tumbuh berkembang dalam didikan rumah
tangga kenabian, dialah orang pertama yang masuk Islam dari golongan anak kecil.
Sejak kecil Ali telah berada dalam didikan Rasulullah SAW, sebagaimana
dikatakannya sendiri: "Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku
menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti
induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari karakternya yang mulia dan aku
menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah".
Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab.
Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian
Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan) dan ada juga yang
menyebutkan tahun ke dua puluh sebelum kenabian. Muslim Syi'ah percaya bahwa
Ali dilahirkan di dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih
diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang
berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Ali bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar
yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus
yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy
Mekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW
memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).
Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim,
bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin
Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, 'Uqail, Ja'far dan Ummu
Hani.
Dengan demikian, jelaslah, Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua ibu-bapaknya.
Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat Mekkah.
Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang mulia,
penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah
Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah
salah satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah
salah seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Saw.
Dia pula-lah yang telah mendidik Nabi Saw, dan menanggung hidupnya, setelah
meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas
jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya,
Abu Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal
dunia, Rasulullah Saw yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya,
meletakkannya dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak
atas ibunya.
Kehidupan Awal
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau
tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi
kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan
menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu
Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari
kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.
Ali adalah anak bungsu dari kedua orang tuanya, selain Ja'far, Uqail dan Thalib. Saat
Abu Thalib mengalamai krisis ekonomi karena kekeringan yang melanda, seperti
yang dialami oleh orang-orang Quraisy, Rasulullah saw menyarankan kepada kedua
pamannya: Hamzah dan Abbas untuk turut membantu meringankan beban
saudaranya, Abu Thalib, dengan menanggung biaya hidup anaknya. Maka keduanya
pun memenuhi permintaan tersebut. Mengetahui hal itu, Abu Thalib berkata kepada
kedua saudaranya tersebut,: "Ambillah siapa yang kalian ingini, namun tinggalkanlah
Uqail, untuk tetap aku didik." Uqail adalah anak yang paling disayangi oleh Abu

Thalib. Maka Abbas mengambil Thalib, Hamzah mengambil Ja'far dan Rasulullah
saw mengambil Ali.
Adalah Nabi Saw bagi anak keponakannya, Ali KW, bertindak sebagai bapak,
saudara, teman, dan guru pendidik. Dan Ali pun menerima beliau pengganti kedua
orang tua, dan keluarganya. Sehingga ia pun terdidik dalam didikan Nabi Saw. Ia
Merupakan keturunan puncak keluarga Hasyimiah, yang darinya terlahir kemuliaan,
kedermawanan, sifat pemaaf, ksaih sayang dan hikmah yang lurus.
Seperti diriwayatkan, ia tumbuh menjadi anak yang cepat matang. Di wajahnya
tampak jelas kematangannya, yang juga menunjukkan kekuatan, dan ketegasan. Saat
ia menginjak usia pemuda, ia segera berperan penuh dalam dakwah Islam, tidak
seperti yang dilakukan oleh pemuda seusianya. Contoh yang paling jelas adalah
keikhlasannya untuk menjadi tameng Rasulullah Saw saat beliau hijrah, dengan
menempati tempat tidur beliau. Ia juga terlibat dalam peperangan yang hebat, seperti
dalam perang Al Ahzab, dia pula yang telah menembus benteng Khaibar. Sehingga
dia dijuluki sebagai pahlawan Islam yang pertama.
Sifat-sifat Ali bin Abi Thalib
Imam Ali adalah seorang dengan perawakan sedang, antara tinggi dan pendek.
Perutnya agak menonjol. Pundaknya lebar. Kedua lengannya berotot, seakan sedang
mengendarai singa. Lehernya berisi. Bulu jenggotnya lebat. Kepalanya botak, dan
berambut di pinggir kepala. Matanya besar. Wajahnya tampan. Kulitnya amat gelap.
Postur tubuhnya tegap dan proporsional. Bangun tubuhnya kokoh, seakan-akan dari
baja. Berisi. Jika berjalan seakan-akan sedang turun dari ketinggian, seperti
berjalannya Rasulullah Saw. Seperti dideskripsikan dalam kitab Usudul Ghaabah fi
Ma'rifat ash Shahabah: adalah Ali bin Abi Thalib bermata besar, berkulit hitam,
berotot kokoh, berbadan besar, berjenggot lebat, bertubuh pendek, amat fasih dalam
berbicara, berani, pantang mundur, dermawan, pemaaf, lembut dalam berbicara, dan
halus perasaannya.
Jika ia dipanggil untuk berduel dengan musuh di medan perang, ia segera maju tanpa
gentar, mengambil perlengkapan perangnya, dan menghunuskan pedangnya. Untuk
kemudian menjatuhkan musuhnya dalam beberapa langkah. Karena sesekor singa,
ketika ia maju untuk menerkam mangsanya, ia bergerak dengan cepat bagai kilat, dan
menyergap dengan tangkas, untuk kemudian membuat mangsa tak berkutik.
Tadi adalah sifat-sifat fisiknya. Sedangkan sifat-sifat kejiwaannya, maka ia adalah
sosok yang sempurna, penuh dengan kemuliaan. Keberaniannya menjadi perlambang
para kesatria pada masanya. Setiap kali Ali menghadapi musuh di medan perang,
maka dapat dipastikan Ali akan mengalahkannya.

Seorang yang takwa tak terkira, tidak mau masuk dalam perkara yang syubhat, dan
tidak pernah melalaikan syari'at. Seorang yang zuhud, dan memilih hidup dalam
kesederhanaan. Ali makan cukup dengan berlaukkan cuka, minyak dan roti kering
yang ia patahkan dengan lututnya. Dan memakai pakaian yang kasar, sekadar untuk
menutupi tubuh di saat panas, dan menahan dingin di kala hawa dingin menghempas.
Penuh hikmah, adalah sifatnya yang jelas. Dia akan berhati-hati meskipun dalam
sesuatu yang ia lihat benar, dan memilih untuk tidak mengatakan dengan terus terang,
jika hal itu akan membawa mudharat bagi umat. Ia meletakkan perkara pada
tempatnya yang tepat. Berusaha berjalan seirama dengan rekan-rekan pembawa panji
dakwah, seperti keserasian butiran-butiran air di lautan.
Ali bersikap lembut, sehingga banyak orang yang sezaman dengannya melihat ia
sedang bergurau, padahal hal itu adalah suatu bagian dari sifat kesempurnaan yang
melihat apa yang ada di balik sesuatu, dan memandang kepada kesempurnaan. Ali
menginginkan agar realitas yang tidak sempurna berubah menjadi lurus dan
meningkat ke arah kesempurnaan. Gurauan adalah 'anak' dari kritik. Dan ia adalah
'anak' dari filsafat.
Ali terkenal kefasihannya. Sehingga ucapan-ucapannya mengandung nilai-nilai sastra
Arab yang jernih dan tinggi. Baik dalam menciptakan peribahasa maupun hikmah. Ia
juga mengutip dari redaksi Al Quran, dan hadits Rasulullah Saw, sehingga menambah
benderang dan semerbak kata-katanya. Yang membuat dirinya berada di puncak
kefasihan bahasa dan sastra Arab.
Ali sangat loyal terhadap pendidiknya, Nabi-nya, juga Rabb-nya. Serta berbuat baik
kepada kerabatnya. Amat mementingkan isterinya yang pertama, Fathimah az Zahra.
Dan ia selalu berusaha memberikan apa yang baik dan indah kepada orang yang ia
senangi, kerabatnya atau kenalannya.
Ia berpendirian teguh, sehingga menjadi tokoh yang namanya terpatri dalam sejarah.
Tidak mundur dalam membela prinsip dan sikap. Sehingga banyak orang yang
menuduhnya bodoh dalam politik, tipu daya bangsa Arab, dan dalam hal
melembutkan sikap musuh, sehingga kesulitan menjadi berkurang. Namun,
sebenarnya kemampuannya jauh di atas praduga yang tidak benar, karena ia tahu apa
yang ia inginkan, dan menginginkan apa yang ia tahu. Sehingga, di samping
kemanusiaannya, ia seakan-akan adalah sebuah gunung yang kokoh, yang
mencengkeram bumi. Itu emua adalah cermin dari percaya dirinya, keimanannya, dan
keyakinanya terhadap Rabb-nya, lantas bagaimana mungkin ia menjadi lembek?
Ali dengan teguh menolak sikap yang tidak sesuai dengan kebenaran, atau syari'ah,
atau akhlak atau kemuliaan. Jiwanya yang mulia menolak untuk menipu seorang
gubernur yang senang berkuasa, dan yang menghamburkan kekayaan umat untuk

kepentingan hamba nafsunya. Ia tidak tidak peduli dengan orang yang membenci,
atau orang yang memusuhinya.Ali adalah sifat orang yang kuat, baik dalam
kepribadiaannya, pendapatnya dan dalam memegang kebenaran.
Ali tidak bersifat lembek, namun ia lebih mementingkan persatuan umat. Karena
orang-orang yang ikut bersidang saat itu sedang berada dalam kubu-kubu yang saling
berbeda pendapat. Maka ia memilih untuk keluar dari kondisi terburuk menuju
kondisi yang buruk. Ia telah menegaskan hal itu, dan memberi peringatan kepada para
pengikutnya. Namun ternyata orang-orang yang berada di sekitarnya tenggelam
dalam perdebatan tanpa ujung dan pertikaian tanpa henti. Sehingga terjadilah
peristiwa-peristiwa yang memilukan.
Rasa kasih sayang dalam hatinya-lah yang mendorong dirinya untuk bersikap lunak
dan tidak keras. Hal itu ia lakukan karena ingin menyelamatkan orang lain, sehingga
ia rela meletakkan dirinya dalam bahaya. Ia rela untuk menebus nyawa orang yang ia
kasihi, atau kelompok orang yang beriman, atau beberapa orang yang sedang diincar
oleh musuh, dengan nyawanya. Sehingga diapun bersikap lunak, dan meminta jalan
yang lebih baik. Agar kasih sayang mengalahkan kecemburuan, kecintaan
mengalahkan kekerasan, dan menjauhkan orang-orang yang ia sayangi dari
kebinasaan. Orang yang membaca apa yang ia pinta kepada Zubair bin Awwam dan
Thalhah bin Abdullah, niscaya akan mengetahui bahwa keduanya telah
mengkhianatinya, dan memeranginya. Maka iapun mengecam keduanya, dengan
kecaman seorang penyayang terhadap orang yang ia sayangi. Ia mengingatkan
keduanya tentang janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan kebersamaan mereka
dalam menegakkan kalimat Allah SWT.
Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan
menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur
sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah
tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah
bersama Abu Bakar.
Kehidupan di Madinah
Perkawinan
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri
kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi
menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang serumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an Muhammad
(setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain.

Pernikahan dengan Fatimah az-Zahra


Putra Ali melalui Fatimah:

Hasan bin Ali, yang digelari al-Mujtaba

Husain bin Ali, yang digelari asy-Syahid

Muhsin bin Ali, yang meninggal waktu masih dalam kandungan.

Putri Ali melalui Fatimah

Zainab binti Ali, yang dijuluki Zainab al-Kubra

Ummu Kultsum, menikah dengan Umar bin Khattab.

Zaid bin Umar.

Pernikahan dengan Umamah binti Zainab


Umamah merupakan anak dari Abi Al Aa'sh dan Zainab binti Muhammad, kakak
perempuan dari Fatimah az-Zahra, setelah meninggalnya Fatimah, Umamah
kemudian menikah dengan Ali dan sampai meninggalnya pada tahun 66 H / 685
Masehi tidak memiliki anak seorangpun.
Pernikahan dengan Ummu Banin binti Hizam
Ummu Banin merupakan anak dari Hizam bin Khalid, memiliki 5 anak laki-laki,
yaitu:

Jafar bin Ali, syahid di Karbala pada 10 Oktober 680

Abdullah bin Ali, syahid di Karbala pada 10 Oktober 680

Utsman bin Ali, syahid di Karbala pada 10 Oktober 680

Umar bin Ali, syahid di Karbala pada 10 Oktober 680

Abbas bin Ali

Pernikahan dengan Laila binti Mas'ud

Ubaidullah bin Ali

Abu Bakar bin Ali

Pernikahan dengan Khawlah binti Ja'far al-Hanafiah

Muhammad Abu Abdullah bin Ali, lebih dikenal dengan Muhammad bin alHanafiah, meninggal tahun 67 H.

Pernikahan dengan Al-Sahba' binti Rabi'ah

Umar bin Ali

Pernikahan dengan Asma binti Umais


Asma menikah pertama kali dengan Ja'far bin Abu Thalib, kemudian setelah
meninggalnya Ja'far, ia menikah dengan Abu Bakar, memiliki seorang anak, yang
kemudian menjadi anak angkat dari Ali bin Abi Thalib, yang bernama Muhammad
bin Abu Bakar. Setelah meninggalnya Abu Bakar, Asma binti Umais kemudian
menikah dengan Ali bin Abi Thalib, dan memiliki dua anak laki-laki, yaitu:

Yahya bin Ali

Muhammad al-Ashgar bin Ali, syahid di Karbala pada tanggal 10 Oktober 680

Julukan
Ketika Muhammad mencari Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Bagian atas
pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Muhammad
pun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, "Duduklah wahai
Abu Turab, duduklah." Turab yang berarti debu atau tanah dalam bahasa Arab.
Julukan tersebut adalah julukan yang paling disukai oleh Ali.
Pertempuran yang Diikuti pada Masa Nabi SAW

Perang Badar
Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah
Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi.
Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi
semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda
sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika
memerangi Amar bin Abdi Wud . Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama
dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum
Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut
sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang
sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak
mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda:
"Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri,
dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan
baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".

Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut.


Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu
menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh
yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah
menjadi dua bagian.
Peperangan lainnya
Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi
Muhammad untuk menjaga kota Madinah.
Setelah Nabi Wafat
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib,
perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi'ah berpendapat
sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah
bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan
Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk
membaiat Abu Bakar.
Menurut riwayat dari Al-Ya'qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu
peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan
ibadah haji ( Hijjatul-Wada'), malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di
suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama "GHADIR KHUM." Hari itu
adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di
depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib. Dalam khutbahnya
itu antara lain beliau berkata : "Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka
Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui
kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya"
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul
Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai'at-an Ali
bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang
meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat
yang terbanyak adalah Ali mem-bai'at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu
enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam
ummat. Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan
Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa
kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.
Keislaman Ali bin Abi Thalib ra. dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi
Khalifah

Ali binAbi Thalib ra. masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang
mengatakan delapan tahun, dan ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Dikatakan
bahwa beliau adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Namun yang shahih
adalah beliau merupakan bocah yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana halnya
Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah
budak yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar ra adalah lelaki merdeka yang
pertama kali masuk Islam. Ali bin Abi Thalib ra. Memeluk Islam dalam usia muda
disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah saw. Yaitu pada saat penduduk
Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah saw. mengambilnya dari
ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah saw. Dan ketika Allah
mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta
ahli bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib, segera memeluk Islam.
Adapun keislaman yang bermanfaat dan menyebar manfaatnya kepada manusia
adalah keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq Diriwayatkan dari Ali bahwa ia berkata,
Aku adalah orang yang pertama kali masuk Islam. namun sanadnya tidak shahih.
Telah diriwayatkan juga haditshadits yang semakna dengan ini yang diriwayatkan
oleh Ibnu Asakir, namun kebanyakan dari hadits itu adalah munkar dan tidak shahih,
wallahu alam.
Muhammad bin Kaab al-Qurazhi berkata, Wanita pertama masuk Islam adalah
Khadijah, kaum lelaki pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar dan Ali , hanya
saja Abu Bakar menyatakan keislamannya sementara Ali menyembunyikannya.
Menurut saya, Yang demikian itu karena ia takut kepada ayahnya, kemudian
ayahnya memerintahkannya supaya mengikuti dan membela keponakannya. Ali
turut berhijrah setelah Rasulullah saw. keluar dari kota Makkah. Rasulullah saw.
menugaskannya untuk memberaskan hutang piutang beliau dan mengembalikan
barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah
melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah saw.
mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif .
Ibnu Ishaq dan penulis sejarah lainnya menyebutkan, Rasulullah saw.
mempersaudarakannya dengan diri beliau sendiri. Telah diriwayatkan banyak hadits
tentangnya tapi tidak shahih, karena sanadnya dhaif. Dan sebagian matannya sangat
ganjil, dalam sebuah matan disebutkan, Engkau adalah saudaraku, pewarisku,
khalifah setelahku, dan sebaik-baik amir sepeninggalku. Hadits ini maudhu (palsu)
dan bertentangan dengan hadits-hadits yang shahih dalam kitab Shahihain dan kitabkitab hadits lainnya. Beliau ikut serta dalam perang Badar dan beliau memiliki jasa
yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan
Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang
panji setelah Mushab bin Umair. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq.
Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang
pemberani mereka yang sangat populer, yakni Amru bin Abdi Wud al-Amiri. Beliau
juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiatur Ridhwan. Beliau juga

mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang
luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan.
Allah member kemenangan lewat tangannya. Dan dalam peperangan ini beliau
berhasil menewaskan Mirhab al-Yahudi. Beliau juga turut serta dalam Umrah Qadha.
Pada saat itulah Rasulullah saw. berkata kepadanya, Engkau bagian dariku dan aku
adalah bagian darimu. Adapun kisah yang banyak diceritakan oleh para qushshash
(tukang cerita) bahwa beliau pernah bertarung melawan jin di sumur Dzatul ilmi,880
sebuah sumur di dekat Juhfah, adalah kisah yang tidak ada asal-usulnya. Kisah itu
termasuk kisah yang diada-adakah oleh orang-orang jahil dan tukang cerita, janganlah
terpedaya dengannya. Beliau juga mengikuti penaklukan kota Makkah, peperangan
Hunain dan ath-Thaif. Beliau berperang dengan gagah berani lalu beliau berumrah
bersama Rasulullah saw. dari al-Jiranah. Ketika Rasulullah saw. berangkat ke Tabuk,
beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. la berkata kepada
Rasulullah saw., Wahai Rasulullah saw. apakah engkau membiarkan aku bersama
kaum wanita dan anak-anak? Rasulullah saw. berkata kepadanya, Tidakkah engkau
ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak
ada nabi setelahku.
Rasulullah saw. mengutusnya sebagai amir dan hakim di negeri Yaman bersama
dengan Khalid bin al-Walid. Kemudian beliau menyusul Rasul pada haji wada ke
Makkah dengan membawa onta korban beliau. la bertahallul sebagaimana
tahallulnya. Rasulullah saw. dan memberinya bagian dari hewan korban beliau. Lalu
ia tetap mengenakan kain ihramnya bersama Rasulullah saw. dan menyembelih
hewan korban bersama beliau setelah menyelesaikan manasik haji. Ketika Rasulullah
saw. sakit, al-Abbas berkata kepadanya, Tanyalah kepada Rasulullah saw. , siapakah
yang berhak meme-gang kepemimpinan setelah beliau? Ali berkata, Demi Allah
aku tidak akan menanyakannya kepada beliau, sebab apabila beliau melarangnya dari
kita maka orang-orang tidak akan menyerahkannya kepada kita selama-lamanya.
Hadits-hadits yang shahih dan jelas menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak
mewasiatkan jabatan kekhalifahan kepadanya ataupun kepada selainnya. Bahkan
beliau mengisyaratkan dengan menyebut Abu Bakar. Beliau member isyarat yang
dapat dipahami dan sangat jelas sekali maksudnya. Seperti yang telah kami sebutkan
dalam juz sebelumnya, alhamdulillah.
Adapun kebohongan yang dilontarkan oleh orang-orang jahil dari kalangan Syiah
dan tukang cerita yang bodoh bahwa Rasulullah saw. telah mewasiatkan jabatan
kekhalifahan kepada Ali jelas merupakan sebuah kedustaan dan kebohongan yang
sangat besar yang menjerumuskan mereka ke dalam kesalahan yang sangat besar
pula. Seperti tuduhan para sahabat telah berkhianat dan bersepakat menggagalkan
wasiat Rasulullah saw. dan menahannya dari orang yang telah diberi wasiat. Lalu

menyerahkannya kepada orang lain tanpa alasan dan sebab. Setiap mukmin yang
beriman kepada Allah dan RasulNya, meyakini bahwa Dienul Islam adalah haq pasti
mengetahui batil-nya kedustaan ini. Karena para sahabat adalah sebaik-baik manusia
setelah para nabi. Mereka adalah generasi terbaik umat ini yang merupakan umat
terbaik di dunia maupun di akhirat berdasarkan nash al-Quran serta berda-sarkan
ijma salaf dan khalaf, alhamdulillah.
Adapun cerita yang disampaikan oleh orang-orang awam tukang cerita di pasar-pasar
tentang wasiat-wasiat yang khusus diberikan kepada Ali dalam hal adab (etika),
akhlak, adab makan dan minum, adab berpakaian, seperti cerita mereka, Wahai Ali,
janganlah pakai imamah (sorban) sambil duduk. Wahai Ali, janganlah pakai celanamu
sambil berdiri. Wahai Ali, janganlah memegang tiang pintu. Dan janganlah duduk di
depan pintu. Janganlah menjahit pakaian yang sedangeng kau kenakan. Dan wasiatwasiat sejenis-nya. Semua itu adalah cerita kosong yang tidak ada asal-usulnya.
Bahkan termasuk dusta, bohong dan palsu.
Kemudian, ketika Rasulullah saw. wafat, Ali termasuk salah seorang yang
memandikan, mengkafani dan mengebumikan jenazah Rasulullah saw. Ketika Abu
Bakar ash-Shiddiq dibaiat menjadi khalifah pada hari Saqifah, Ali termasuk salah
seorang yang berbaiat di masjid, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya.885
Abu Bakar ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib ra. sama seperti para
umara dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan mentaati Abu Bakar
merupakan kewajibannya dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika
Fathimah wafat enam bulan setelah Rasulullah saw. ketika itu ia kurang puas terhadap
beberapa keputusan Abu Bakar disebabkan warisan yang tidak ia peroleh dari
ayahnya. Ia belum mengetahui nash khusus dalam masalah ini bagi para nabi, yakni
mereka tidak mewariskan harta warisan kepada sanak famili.
Ketika hal itu sampai kepadanya ia me-minta kepada Abu Bakar agar mengangkat
suaminya sebagai pengawas sedekah (harta warisan) tersebut, akan tetapi Abu Bakar
menolaknya. Maka ia terus memendam ketidakpuasan terhadap Abu Bakar seperti
yang telah kami jelaskan terdahulu. Maka Ali berusaha mengambil hati istrinya.
Setelah Fathimah wafat, Ali memperbaharui kembali baiatnya kepada Abu Bakar
ash-Shiddiq Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar
wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib ra. termasuk salah seorang sahabat
yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif
kepadanya. Disebutkan bahwa Umar memintanya menjadi qadhi (hakim) pada masa
kekhalifahannya. Beliau menyertai Umar bersama para tokoh dari kalangan sahabat
ke negeri Syam dan menghadiri khutbah Umar di al-Jabiyah.
Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyarawah kepada enam
orang sahabat, salah seorang di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib ra. Lalu mereka

menetapkan dua orang calon, yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi
khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman.
Sebagai Khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan
kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke
Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak
mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali
berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa
beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya
Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara
yang berbeda-beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa
pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah
sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat
Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan
Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah,
dan Ummul mu'minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut
dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan
waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan
sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih
hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman
Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga
menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan
terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan
kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.
Nash Wasiat Ali bin Abi Thalib
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penya-yang, ini
adalah wasiat Ali bin Abi Thalib ra., bahwasanya dia bersaksi tiada ilah yang berhak
disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya. Dan bahwasanya Muhammad
adalah hamba dan utusanNya. Yang telah mengutusnya dengan membawa hidayah
dan dien yang haq agar mengatasi segala agama walaupun orang-orang musyrikin
benci. Kemudian setelah itu, sesungguhnya shalatku, ibadahku (yakni penyembelihan
korban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu
bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk seorang
muslim.

Aku wasiatkan kepadamu hai Hasan, juga kepada seluruh putera-puteri, istri-istriku
dan siapa saja yang sampai kepadanya wasiatku ini agar bertakwa kepada Allah dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Berpegang teguhlah kalian seluruhnya dengan tali Allah dan janganlah berpecah
belah, sesungguhnya aku mendengar Abul Qasim s|i bersabda, Sesungguhnya
mendamaikan dua pihak yang berselisih lebih utama daripada banyak ibadah shalat
dan puasa.
Perhatikanlah hak-hak karib kerabatmu, sambunglah tali silaturahim dengan mereka
niscaya Allah akan meringankan hisabmu. Jagalah hak-hak anak yatim! Jangan
sampai mulut mereka tidak berisi makanan (jangan sampai mereka kelaparan).
Janganlah mereka terlantar di hadapan kalian. Peliharalah hak-hak tetanggamu,
sesungguhnya nabi kalian telah berwasiat agar berbuat baik kepada tetangga. Beliau
senantiasa mewasiatkannya se-hingga kami mengira beliau akan memberi hak waris
bagi tetangga. Jagalah hak-hak al-Quran, janganlah kalian didahului orang lain
dalam mengamal-kannya. Jagalah ibadah shalat, karena shalat adalah tiang agama
kalian. Jagalah hak-hak rumah Rabb kalian (masjid), janganlah sampai kosong
selama kalian masih hidup. Sesungguhnya apabila kalian meninggalkannya niscaya
kalian tidak akan dihiraukan. Peliharalah ibadah bulan Ramadhan. Karena berpuasa
pada bulan Ramadhan adalah perisai dari api neraka. Peliharalah jihad fi sabilillah
dengan harta dan jiwa raga kalian. Jagalah pembayaran zakat, karena zakat dapat
memadamkan kemarahan Ar-Rabb. Jagalah hak-hak orang yang dilindungi oleh nabi
kalian, janganlah mereka dizhalimi dihadapan kalian. Jagalah hak-hak sahabat nabi
kalian, sesungguhnya Rasulullah saw. telah mewasiatkan agar menjaga hak-hak
mereka. Jagalah hak-hak kaum faqir miskin, berilah mereka dari sebagian rezeki
kalian. Jagalah hak-hak budak yang kalian miliki, karena itulah pesan terakhir yang
disampaikan oleh Rasulullah saw. beliau bersabda, Aku mewasiatkan agar kalian
memperhatikan dua manusia yang letnah, yakni wanita dan budak-budak yang kalian
miliki.
Jagalah ibadah shalat, jagalah ibadah shalat, janganlah kalian takut terhadap celaan
orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan agama Allah niscaya kalian akan
terhindar dari kejahatan orang-orang yang bermak-sud jahat kepadamu dan ingin
berlaku semena-mena terhadapmu. Berkatalah kepada manusia dengan perkataan
yang baik seperti yang telah Allah perintahkan kepadamu. Janganlah kalian
tinggalkan amar maruf nahi mungkar, jika tidak maka orang-orang yang jahat
akan berkuasa atas kalian sehingga doa kalian tidak dikabulkan. Hendaklah kalian
saling menyambung ikatan dan saling memberi, dan hindarilah saling membelakangi,
saling memutus hubungan dan berpecah belah. Bertolongtolonganlah kamu dalam
kebaikan dan ketakwaan, janganlah bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan
pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Mahakeras siksaNya.

Semoga Allah menjaga kalian dari dan semoga Allah menjaga nabi kalian di tengahtengah kalian, aku ucapkan selamat berpisah wassalamu alaikum iva rahmatullah.
Wafat
Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak
stabil, pasukan beliau di Iraq dan di daerah lainnya membang-kang perintah beliau,
mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin
memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa
tahkim penduduk Syam menyebut Muawiyah sebagai amir. Seiring bertambahnya
kekuatan penduduk Syam semakin lemah pula kedudukan penduduk Iraq. Padahal
amir mereka adalah Ali bin Abi Thalib ra. sebaik-baik manusia di atas muka bumi
pada zaman itu, beliau yang paling taat, paling zuhud, paling alim dan paling takut
kepada Allah. Namun walaupun demikian, mereka meninggalkannya dan
membiarkannya seorang diri. Padahal Ali telah memberikan hadiah-hadiah yang
melimpah dan harta-harta yang banyak. Begitulah perlakuan mereka terhadap beliau,
hing-ga beliau tidak ingin hidup lebih lama dan mengharapkan kematian.
Karena banyaknya fitnah dan merebaknya pertumpahan darah. Beliau sering berkata,
Apakah gerangan yang menahan peristiwa yang dinanti-nanti itu? Mengapa ia
belum juga terbunuh? Kemudian beliau berkata, Demi Allah, aku akan mewarnai
ini sembari menunjuk jenggot beliau- dari sini! -sembari menunjuk kepala beliau.
Kronologis Terbunuhnya Ali
Ibnu Jarir dan pakar-pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij
berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin Amru yang dikenal dengan sebutan Ibnu
Muljam al-Himyari al-Kindi sekutu Bani Jaba-lah dari suku Kindah al-Mishri, alBurak bin Abdillah at-Tamimi dan Amru bin Bakr at-Tamimi. Mereka mengenang
kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib ra. yang membunuh teman-teman mereka di
Nahrawan, mereka memo-hon rahmat buat teman-teman mereka itu. Mereka berkata,
Apa yang kita lakukan sepeninggal mereka? Mereka adalah sebaik-baik manusia dan
yang paling banyak shalatnya, mereka adalah penyeru manusia kepada Allah. Mereka
tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan agama Allah.
Bagaimana kalau kita tebus diri kita lalu kita da tangi pemimpin-pemimpin yang sesat
itu kemudian kita bunuh mereka sehingga kita membe-baskan negara dari kejahatan
mereka dan kita dapat membalas dendam atas kematian teman-teman kita.
Ibnu Muljam berkata, Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib ra.!
Al-Burak bin Abdillah berkata, Aku akan menghabisi Muawiyah bin Abi Sufyan.
Amru bin Bakr berkata, Aku akan menghabisi Amru bin al-Ash. Merekapun
berikrar dan mengikat perjanjian untuk tidak mundur dari niat semula hingga masingmasing berhasil membunuh targetnya atau terbunuh. Merekapun mengambil pedang

masing-masing sambil menyebut nama sahabat yang menjadi targetnya. Mereka


sepakat melakukannya serempak pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Kemudian
ketiganya berangkat menuju tempat target masing-masing.
Adapun Ibnu Muljam berangkat ke Kufah. Setibanya di sana ia menyembunyikan
identitas, hingga terhadap teman-temannya dari kalangan Khawarij yang dahulu
bersamanya. Ketika ia sedang duduk-duduk bersama beberapa orang dari Bani Taim
ar-Ribab, mereka mengenang teman-teman mereka yang terbunuh pada peperangan
Nahrawan. Tiba-tiba datanglah seorang wanita bernama Qatham binti Asy-Syijnah,
ayah dan abangnya dibunuh oleh Ali pada peperangan Nahrawan. La adalah wanita
yang sangat cantik dan populer. Dan ia telah mengkhususkan diri beribadah dalam
masjid jami. Demi melihatnya Ibnu Muljam mabuk kepayang. Ia lupa tujuannya
datang ke Kufah. Ia meminang wanita itu. Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu
dirham, seorang khadim, budak wanita dan membunuh Ali bin Abi Thalib ra. untuk
dirinya. Ibnu Muljam berkata, Engkau pasti mendapatkannya, demi Allah tidaklah
aku datang ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali.
Lalu Ibnu Muljam menikahinya dan berkumpul dengannya. Kemudian Qathami
mulai mendorongnya untuk melaksanakan tugasnya itu. Ia meng-utus seorang lelaki
dari kaumnya bernama Wardan, dari Taim Ar-Ribab, untuk menyertainya dan
melindunginya. Lalu Ibnu Muljam juga menggaet seorang lelaki lain bernama Syabib
bin Bajrah al-Asyjai al-Haruri. Ibnu Muljam berkata kepadanya, Maukah kamu
memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat? Apa itu? Tanyanya. Membunuh Ali!
Jawab Ibnu Muljam. Ia berkata, Celaka engkau, engkau telah mengatakan perkara
yang sangat besar! Bagaimana mungkin engkau mampu membunuhnya? Ibnu
Muljam berkata, Aku mengintainya di masjid, apabila ia keluar untuk mengerjakan
shalat subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil maka kita
merasa puas dan kita telah membalas dendam. Dan bila kita terbunuh maka apa yang
tersedia di sisi Allah lebih baik dari-pada dunia. Ia berkata, Celaka engkau,
kalaulah orang itu bukan Ali tentu aku tidak keberatan melakukannya, engkau tentu
tahu senioritas beliau dalam Islam dan kekerabatan beliau dengan Rasulullah saw.
Hatiku tidak terbuka untuk membunuhnya.
Ibnu Muljam berkata, Bukankah ia telah membunuh teman-teman kita di
Nahrawan?
Benar! jawabnya. Marilah kita bunuh ia sebagai balasan bagi teman-teman kita
yang telah dibunuhnya kata Ibnu Muljam. Beberapa saat kemudian Syabib
menyambutnya. Masuklah bulan Ramadhan. Ibnu Muljam membuat kesepakatan
dengan teman-temannya pada malam Jumat 17 Ramadhan. Ibnu Muljam berkata,
Malam itulah aku membuat kesepakatan dengan teman-temanku untuk membunuh
target masing-masing. Lalu mulailah ketiga orang ini bergerak, yakni Ibnu Muljam,
Wardan dan Syabib, dengan menghunus pedang masing-masing. Mereka duduk di
hadapan pintu yang mana Ali biasa keluar dari-nya. Ketika Ali keluar, beliau

membangunkan orang-orang untuk shalat sembari berkata, Shalat.shalat! Dengan


cepat Syabib menyerang dengan pedang-nya dan memukulnya tepat mengenai leher
beliau. Kemudian Ibnu Muljam menebaskan pedangnya ke atas kepala beliau. Darah
beliau mengalir mem-basahi jenggot beliau . Ketika Ibnu Muljam menebasnya, ia
berkata, Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik
teman-temanmu, hai Ali! Ia membaca firman Allah:
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya. (AlBaqarah: 207).
Ali berteriak, Tangkap mereka! Adapun Wardan melarikan diri namun berhasil
dikejar oleh seorang lelaki dari Hadhramaut lalu membunuhnya. Adapun Syabib,
berhasil menye-lamatkan diri dan selamat dari kejaran manusia. Sementara Ibnu
Muljam berhasil ditangkap. Ali menyuruh Jadah bin Hubairah bin Abi Wahab untuk
mengimami Shalat Fajar. Ali pun dibopong ke rumahnya. Lalu digiring pula Ibnu
Muljam kepada beliau dan dibawa kehadapan beliau dalam keadaan dibelenggu
tangannya ke belakang pundak, semoga Allah memburukkan rupanya. Ali berkata
kepadanya, Apa yang mendorongmu melakukan ini? Ibnu Muljam berkata, Aku
telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari. Aku memohon kepada Allah
agar aku dapat membunuh dengan pedang ini makhlukNya yang paling buruk!
Ali berkata kepadanya, Menurutku engkau harus terbunuh dengan pedang itu. Dan
menurutku engkau adalah orang yang paling buruk. Kemudian beliau berkata, Jika
aku mati maka bunuhlah orang ini, dan jika aku selamat maka aku lebih tahu
bagaimana aku harus memperlakukan orang ini!
Pemakaman Jenazah Ali bin Abi Thalib
Setelah Ali wafat, kedua puteranya yakni al-Hasan dan al-Husein memandikan
jenazah beliau dibantu oleh Abdullah bin Jafar. Kemudian jenazahnya dishalatkan
oleh putera tertua beliau, yakni al-Hasan. Al-Hasan bertakbir sebanyak sembilan kali.
Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah, karena kekhawa-tiran kaum
Khawarij akan membongkar makam beliau. Itulah yang masyhur. Adapun yang
mengatakan bahwa jenazah beliau diletakkan di atas kendaraan beliau kemudian
dibawa pergi entah ke mana perginya maka sungguh ia telah keliru dan mengada^ada
sesuatu yang tidak diketahuinya. Akal sehat dan syariat tentu tidak membenarkan hal
semacam itu. Adapun keyakinan mayoritas kaum Rafidhah yang jahil bahwa makam
beliau terletak di tempat suci Najaf, maka tidak ada dalil dan dasarnya sama sekali.
Ada yang mengatakan bahwa makam yang terletak di sana adalah makam alMughirah bin Syubah . Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dari al-Hafizh Abu
Nuaim dari Abu Bakar Ath-Thalahi dari Muhammad bin Abdillah al-Hadhrami alHafizh Muthayyin, bahwa ia berkata, Sekiranya orang-orang Syiah menge-tahui

makam siapakah yang mereka agung-agungkan di Najaf niscaya mereka akan lempari
dengan batu. Sebenarnya itu adalah makam al-Mughirah bin Syubah.
Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Hasan bin Ali, ia berkata, Aku
mengebumikan jenazah Ali di kamar sebuah rumah milik keluarga jadah. Abdul
Malik bin Umair bercerita, Ketika Khalid bin Abdullah meng-gali pondasi di rumah
anaknya bernama Yazid, mereka menemukan jenazah seorang Syaikh yang terkubur
di situ, rambut dan jenggotnya telah memutih. Seolah jenazah itu baru dikubur
kemarin. Mereka hendak membakarnya, namun Allah memalingkan niat mereka itu.
Mereka membungkusnya dengan kain Qubathi, lalu diberi wewangian dan dibiarkan
terkubur di tempat semu-la. Tempat itu berada dihadapan pintu al-Warraqin setelah
kiblat masjid di rumah tukang sepatu. Hampir tidak pernah seorang pun bertahan di
tempat itu melainkan pasti akan pindah dari situ.
Diriwayatkan dari Jafar bin Muhammad ash-Shadiq, ia berkata, Jenazah Ali
dishalatkan pada malam hari dan dimakamkan di Kufah, tem-patnya sengaja
dirahasiakan, namun yang pasti di dekat gedung imarah (istana kepresidenan).
Ibnu Kalbi berkata, Turut mengikuti proses pemakaman jenazah Ali pada malam itu
al-Hasan, al-Husain, Ibnul Hanafiyyah, Abdullah bin Jafar dan keluarga ahli bait
beliau yang lainnya. Mereka memakamkannya di dalam kota Kufah, mereka sengaja
merahasiakan makam beliau karena kekhawa-tiran terhadap kebiadaban kaum
Khawarij dan kelompok-kelompok lainnya.
Tanggal Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib
Ali ra, terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40
H. Ada yang mengatakan pada bulan Rabiul Awwal. Namun pendapat pertama lebih
shahih dan populer.Ali ditikam pada hr Jumat 17 Ramadhan tahun 40 H, tanpa ada
perselisihan. Ada yang mengatakan beliau wafat pada hari beliau ditikam, ada yang
mengatakan pada hari Ahad tanggal 19 Ramadhan. Al-Fallas berkata, Ada yang
mengatakan, beliau ditikam pada malam dua puluh satu Ramadhan dan wafat pada
malam dua puluh empat dalam usia 58 atau 59 tahun.
Ada yang mengatakan, wafat dalam usia 63 tahun.940 Itulah pendapat yang masyhur,
demikian dituturkan oleh Muhammad bin al-Hanafiyah, Abu Jafar al-Baqir, Abu
Ishaq as-Sabii dan Abu Bakar bin Ayasy. Sebagian ulama lain mengatakan, wafat
dalam usia 63 atau 64 tahun. Diriwayatkan dari Abu jafar al-Baqir, katanya, Wafat
dalam usia 65 tahun. Masa kekhalifahan Ali lima tahun kurang tiga bulan. Ada yang
mengatakan empat tahun sembilan bulan tiga hari. Ada yang mengatakan empat tahun
delapan bulan dua puluh tiga hari, semoga Allah meridhai beliau.