Anda di halaman 1dari 37

STANDAR MINIMUM PELAYANAN INTENSIVE CARE UNIT

Tingkat pelayanan ICU harus diseuaikan dengan kelas rumah sakit. Tingkat pelayanan ini
ditentukan oleh jumlah staf, fasilitas, pelayanan penunjang, jumlah dan macam pasien yang
dirawat.
Pelayanan ICU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :
1. Resusitasi jantung paru.
2. Pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator sederhana
3. Terapi oksigen
4. Pemantauan EKG, pulse oksimetri terus menerus
5. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral
6. Pemeriksaaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruh
7. Pelaksanaan terapi secara titrasi
8. Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai dengan kondisi pasien
9. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat-alat portabel selama transportasi pasien
gawat
10. Kemampuan melakukan fisioterapi dada

A. Klasifikasi atau stratifikasi pelayanan ICU


1. Pelayanan ICU primer (standar minimal)
Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolan resusitatif segera untuk pasien sakit
gawat, tunjangan kardio-respirasi jangka pendek, dan mempunyai peran penting dalam
pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang beresiko. Dalam
ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa
jam.
Kekhususan yang harus dimiliki :
a. Ruangan tersendiri ; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruangan
perawatan lain.
b. Memiliki kebijaksanaan/kriteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.
c. Memiliki seorang dokter spesialis anestesiologi sebagai kepala.

d. Ada dokter jaga 24 (dua puluh empat) jam dengan kemampuan melakukan resusitasi
jantung paru (A, B, C, D, E, F).
e. Konsulen yang membantu harus selalu dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat.
f. Memiliki jumlah perawat yang cukup dan sebagian besar terlatih.
g. Mampu dengan cepat melayani pemeriksaan laboratorium tertentu (Hb. Hematokrit,
elektrolit, gula darah dan trombosit), roentgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi.

2. Pelayanan ICU sekunder


Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi, yang mendukung
peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan, misalnya kedokteran umum, bedah,
pengelolaan trauma, bedah saraf, bedah vaskuler dan lain-lainnya. ICU hendaknya mampu
memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama melakukan dukungan/bantuan hidup lain
tetapi tidak terlalu kompleks.
Kekhususan yang harus dimiliki :
a. Ruangan tersendiri ; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruangan
perawatan lain.
b. Memiliki ketentuan / kriteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.
c. Memiliki konsultan yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan.
d. Memiliki seorang kepala ICU, seorang dokter konsultan intensive care, atau bila tidak
tersedia oleh dokter spesialis anestesiologi , yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan
dokter jaga yang minimal mampu melakukan resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar
dan bantuan hidup lanjut).
e. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat sama dengan
1:1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus-kasus
lainnya.
f. Memiliki lebih dari 50% perawat bersertifikat terlatih perawatan / terapi intensif atau
minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.
g. Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu
melakukan pemantauan invasif dan usaha-usaha penunjang hidup.
h. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, roentgen, kemudahan diagnostik dan
fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.
i. Memiliki ruangan isolasi atau mampu melakukan prosedur isolasi.

3. Pelayanan ICU tersier (tertinggi)


Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU, memberikan pelayanan yang
tertinggi termasuk dukungan / bantuan hidup multi-sistim yang kompleks dalam jangka
waktu yang terbatas. ICU ini melakukan ventilasi mekanis pelayanan dukungan / bantuan
renal ekstrakorporal dan pemantuan kardiovaskuler invasif dalam jangka waktu yang terbatas
dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik. Semua pasien yang masuk ke dalam
unit harus dirujuk untuk dikelola oleh spesialis intensive care.
Kekhususan yang harus dimiliki :
a. Memiliki ruangan khusus tersendiri didalam rumah sakit.
b. Memiliki kriteria penderita masuk, keluar dan rujukan.
c. Memiliki dokter sepesialis yang dibutuhkan dan dapat dihubungi, datang setiap saat
diperlukan.
d. Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi konsultan intensive care atau dokter ahli konsultan
intensive care yang lain yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang
minimal mampu resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut).
e. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat sama dengan
1: 1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus-kasus
lainnya.
f. Memiliki lebih dari 75% perawat bersertifikat terlatih perawatan / terapi intensif atau
minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.
g. Mampu melakukan semua bentuk pemantauan dan perawatan / terapi intensif baik noninvasif maupun invasif.
h. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, roentgen, kemudahan diagnostik dan
fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.
i. Memiliki paling sedikit seorang yang mampu dalam mendidik tenaga medik dan paramedik
agar dapat memberikan pelayanan yang optimal pada pasien.
j. Memiliki prosedur untuk pelaporan resmi dan pengkajian. (sampai disini).
k. Memiliki staf tambahan yang lain, misalnya tenaga administrasi, tenaga rekam medik,
tenaga untuk kepentingan ilmiah dan penelitian.

4. Prosedur pelayanan perawatan / terapi (ICU)


Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU:

a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa


dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.
b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan pelaksanaan
spesifik problema dasar.
c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan
oleh :
1) Penyakit
2) Latrogenik
d. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang nyawanya pada saat itu bergantung pada
fungsi alat / mesin dan orang lain.

5. Indikasi masuk dan keluar ICU


Suatu ICU mampu menggabungkan teknologi tinggi dan keahlian khusus dalam bidang
kedokteran dan keperawatan gawat darurat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit
kritis. Keadaan ini memaksa diperlukannya mekanisme untuk membuat prioritas pada sarana
yang terbatas ini apabila kebutuhan ternyata melebihi jumlah tempat tidur yang tersedia di
ICU.
Dokter yang merawat pasien mempunyai tugas untuk meminta pasiennya dimasukkan ke ICU
bila ada indikasi segera memindah ke unit yang lebih rendah bila kondisi kesehatan pasien
telah memungkinkan. Kepala ICU bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi perawatan
pasien di ICU. Bila kebutuhan masuk ICU melebihi tempat tidur yang tersedia, Kepala ICU
menentukan berdasarkan prioritas kondisi medik, pasien mana yang akan dirawat di ICU.
Prosedur untuk melaksanakan kebijakan ini harus dijelaskan secara rinci untuk tiap ICU.
Harus tersedia mekanisme untuk mengkaji ulang secara retrospektif kasus-kasus dimana
dokter yang merawat tidak setuju dengan keputusan kepala ICU.

6. Kriteria masuk
ICU memberikan pelayanan antara lain pemantauan yang canggih dan terapi yang intensif.
Dalam keadaan penggunaan tempat tidur yang tinggi, pasien yang memerlukan terapi intensif
(prioritas satu-1) didahulukan rawat ICU dibandingkan pasien yang memerlukan pemantauan
intensif (prioritas dua-2) dan pasien sakit kritis atau terminal dengan prognosis yang jelek
untuk sembuh (prioritas tiga-3). Penilaian obyektif atas beratnya penyakit dan prognosis
hendaknya digunakan untuk menentukan prioritas masuk pasien.
a. Pasien prioritas 1 (satu)

Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif
seperti dukungan / bantuan ventilasi, infus obat-obat vasoaktif kontinyu, dan lain-lainnya.
Contoh pasien kelompok ini antara lain, pasca bedah kardiotoraksik, atau pasien shock septic.
Mungkin ada baiknya beberapa institusi membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU, seperti
derajat hipoksemia, hipotensi dibawah tekanan darah tertentu. Pasien prioritas 1 (satu)
umumnya tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang diterimanya.
b. Pasien prioritas 2 (dua)
Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari ICU. Jenis pasien ini beresiko
sehingga memerlukan terapi intensif segera, karenanya pemantauan intensif menggunakan
metoda seperti pulmonary arterial catheter sangat menolong. Contoh jenis pasien ini antara
lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung, paru, atau ginjal akut dan berat atau yang
telah mengalami pembedahan major. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi
yang diterimanya, mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah.
c. Pasien prioritas 3 (tiga)
Pasien jenis ini sakit kritis, dan tidak stabil dimana status kesehatannya sebelumnya, penyakit
yang mendasarinya, atau penyakit akutnya, baik masing-masing atau kombinasinya, sangat
mengurangi kemungkinan kesembuhan dan/atau mendapat manfaat dari terapi di ICU.
Contoh-contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastatik disertai penyulit
infeksi, pericardial, temponade, atau sumbatan jalan napas, atau pasien menderita penyakit
jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pasien-pasien prioritas 3
(tiga) mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut, tetapi usaha terapi
mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi kardiopulmoner.
d. Pengecualian
Jenis pasien berikut umumnya tidak mempunyai kriteria yang sesuai untuk masuk ICU, dan
hanya dapat masuk dengan pertimbangan seperti pada keadaan luar biasa, atas persetujuan
Kepala ICU. Lagi pula pasien-pasien tersebut bila perlu harus dikeluarkan dari ICU agar
fasilitas yang terbatas tersebut dapat digunakan untuk pasien prioritas 1, 2, 3 (satu, dua, tiga).
1) Pasien yang telah dipastikan mengalami brain death. Pasien-pasien seperti itu dapat
dimasukkan ke ICU bila mereka potensial donor organ, tetapi hanya untuk tujuan menunjang
fungsi-fungsi organ sementara menunggu donasi organ.
2) Pasien-pasien yang kompeten tetapi menolak terapi tunjangan hidup yang agresif dan
hanya demi perawatan yang aman saja. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan perintah
DNR. Sesungguhnya pasien-pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan canggih
yang tersedia di ICU untuk meningkatkan kemungkinan survival-nya.
3) Pasien dalam keadaan vegetatif permanen.
4) Pasien yang secara fisiologis stabil yang secara statistik resikonya rendah untuk
memerlukan terapi ICU. Contoh-contoh pasien kelompok ini antara lain, pasien pasca bedah

vaskuler yang stabil, pasien diabetic ketoacidosis tanpa komplikasi, keracunan obat tetapi
sadar, concusion, atau payah jantung kongestif ringan. Pasien-pasien semacam ini lebih
disukai dimasukkan ke suatu unit intermediet untuk terapi definitif dan /atau observasi.

7. Kriteria keluar
a. Pasien prioritas 1 (satu)
Pasien prioritas 1 (satu) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak
ada lagi, atau bila terapi telah gagal dan prognosis jangka pendek jelek dengan kemungkinan
kesembuhan atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh-contoh hal terakhir
adalah pasien dengan tiga atau lebih gagal sistim organ yang tidak berespons terhadap
pengelolaan agresif.
b. Pasien prioritas 2 (dua)
Pasien prioritas 2 (dua) dikeluarkan bila kemungkinan untuk mendadak memerlukan terapi
intensif telah berkurang.
c. Pasien prioritas 3 (tiga)
Pasien prioritas 3 (tiga) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak
ada lagi, tetapi mereka mungkin dikeluarkan lebih dini bila kemungkinan kesembuhannya
atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh dari hal terakhir antara lain adalah
pasien dengan penyakit lanjut (penyakit paru kronis, penyakit jantung atau liver terminal,
karsinoma yang telah menyebar luas, dan lain-lainnya yang telah tidak berespons terhadap
terapi ICU untuk penyakit akutnya, yang prognosis jangka pendeknya secara statistik rendah,
dan yang tidak ada terapi yang potensial untuk memperbaiki prognosisnya.
Dengan mempertimbangkan perawatannya tetap berlanjut dan sering merupakan perawatan
khusus setara pasien ICU, pengaturan untuk perawatan non-ICU yang sesuai harus dilakukan
sebelum pengeluaran dari ICU.
d. Pengkajian ulang kerja
Setiap ICU hendaknya membuat peraturan dan prosedur-prosedur masuk dan keluar, standard
perawatan pasien, dan kriteri outcome yang spesifik. Kelengkapan-kelengkapan ini
hendaknya dibuat tim multidisipliner yang diwakili oleh dokter, perawat dan administrator
rumah sakit, dan hendaknya dikaji ulang dan diperbaiki seperlunya berdasarkan keluaran
pasien (outcome) dan pengukuran kinerja yang lain. Kepatuhan terhadap ketentuan masuk
dan keluar harus dipantau oleh tim multidisipliner, dan penyimpangan-penyimpangan
dilaporkan pada badan perbaikan kualitas rumah sakit untuk ditindak lanjuti.

B. Prasarana

1. Lokasi
Dianjurkan satu komplek dengan kamar bedah dan kamar pulih, berdekatan atau mempunyai
akses yang mudah ke Unit Gawat Darurat, laboratorium dan radiologi.

2. Disain
Standar ICU yang memadai ditentukan disain yang baik dan pengaturan ruang yang adekuat.
Bangunan ICU merupakan :
a. Terisolasi
b. Mempunyai standar tertentu terhadap :
1) Bahaya api
2) Ventilasi
3) AC
4) Exhausts fan
5) Pipa air
6) Komunikasi
7) Bakteriologis
8) Kabel monitor
c. Lantai mudah dibersihkan, keras dan rata
1) Area pasien :
a) Unit terbuka 12 16 m2 / tempat tidur
b) Unit tertutup 16 20 m2 / tempat tidur
c) Jarak antara tempat tidur : 2 m
d) Unit terbuka mempunyai 1 tempat cuci tangan setiap 2 tempat tidur
e) Unit tertutup 1 ruangan 1 tempat tidur cuci tangan
Harus ada sejumlah outlet yang cukup sesuai dengan level ICU. ICU tersier paling sedikit 3
outlet udara-tekan, dan 3 pompa hisap dan minimal 16 stop kontak untuk tiap tempat tidur.
Pencahayaan cukup dan adekuat untuk opservasi klinis dengan lampu TL day light 10
watt/m2. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan personil. Disain
dari unit juga memperhatikan privasi pasien.

2) Area kerja meliputi :


a) Ruang yang cukup untuk staf dan dapat menjaga kontak visual perawat dengan pasien.
b) Ruang yang cukup untuk memonitor pasien, peralatan resusitasi dan penyimpanan obat
dan alat (termasuk lemari pendingin).
c) Ruang yang cukup untuk mesin X-Ray mobile dan mempunyai negatif skop.
d) Ruang untuk telpon dan sistem komunikasi lain, komputer dan koleksi data, juga tempat
untuk penyimpanan alat tulis dan terdapat ruang yang cukup resepsionis dan petugas
administrasi.
3) Lingkungan
Mempunyai pendingin ruangan / AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai
dengan luas ruangan. Suhu 22o 25o kelembaban 50 70%.
4) Ruang Isolasi
Dilengkapi dengan tempat cuci tangan dan tempat ganti pakaian sendiri.
5) Ruang penyimpanan peralatan dan barang bersih
Untuk menyimpan monitor, ventilator, pompa infus dan pompa syringe, peralatan dialisis,
alat-alat sekali pakai, cairan, penggantung infus, troli, penghangat darah, alat hisap, linen dan
tempat penyimpanan barang dan alat bersih.
6) Ruang tempat pembuangan alat / bahan kotor
Untuk menyimpan monitor, ventilator, pompa infus dan pompa syringe, peralatan dialisis,
alat-alat sekali pakai, cairan, penggantung infus, troli, penghangat darah, alat hisap, linen dan
tempat penyimpanan barang dan alat bersih.
7) Ruang perawat
Terdapat ruang terpisah yang dapat digunakan oleh perawat yang bertugas dam pimpinannya.
8) Ruang staf Dokter
Tempat kegiatan organisasi dan administrasi termasuk kantor Kepala bagian dan staf, dan
kepustakaan.
9) Ruang Tunggu keluarga pasien
10) Laboratorium
Harus dipertimbangkan pada unit yang tidak mengandalkan pelayanan terpusat.

C. Peralatan
1. Jumlah dan macam peralatan bervariasi tergantung tipe, ukuran dan fungsi ICU dan harus
sesuai dengan beban kerja ICU, diseuaikan dengan standar yang berlaku.
2. Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat.
3. Peralatan dasar meliputi :
a. Ventilator
b. Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas
c. Alat Hisap
d. Peralatan akses vaskuler
e. Defibrilator dan alat pacu jantung
f. Alat pengatur suhu pasien.
g. Peralatan drain thorax.
h. Pompa infus dan pompa syringe
i. Peralatan portable untuk transportasi
j. Tempat tidur khusus.
k. Lampu untuk tindakan
l. Continous Renal Replacement Therapy
Peralatan lain (seperti peralatan hemodialisa dan lain-lain) untuk prosedur diagnostik dan
atau terapi khusus hendaknya tersedia bila secara klinis ada indikasi dan untuk mendukung
fungsi ICU.
Protokol dan pelatihan kerja untuk staf medik dan para medik perlu tersedia untuk
penggunaan alat-alat termasuk langkah-langkah untuk mengatasi apabila terjadi malfungsi.

D. Monitoring Peralatan (Termasuk peralatan portable yang digunakan untuk transportasi


pasien).

1. Tanda bahaya kegagalan pasokan gas.


2. Tanda bahaya kegagalan pasokan oksigen.

Alat yang secara otomatis teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan pasokan oksigen,
yang selalu terpasang di ventilator.
3. Pemantauan konsentrasi oksigen.
Diperlukan untuk mengukur konsentrasi oksigen yang dikeluarkan oleh ventilator atau sistim
pernafasan.
4. Tanda bahaya kegagalan ventilator atau diskonsentrasi sistim pernafasan.Pada penggunaan
ventilator otomatis, harus ada alat yang dapat segera mendeteksi kegagalan sistim pernafasan
atau ventilator secara terus menerus.
5. Volume dan tekanan ventilator.
Volume yang keluar dari ventilator harus terpantau. Tekanan jalan nafas dan tekanan sirkuit
pernafasan harus terpantau terus menerus dan dapat mendeteksi tekanan yang berlebihan.
6. Suhu alat pelembab (humidifier)
Ada tanda bahaya bila terjadi peningkatan suhu udara inspirasi.
7. Elektrokardiograf
Terpasang pada setiap pasien dan dipantau terus menerus.
8. Pulse oximeter.
Harus tersedia untuk setiap pasien di ICU.
9. Emboli udara
Apabila pasien sedang menjalani hemodialisis, plasmapheresis, atau alat perfusi, harus ada
pemantauan untuk emboli udara.
10. Bila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan untuk mengukur variabel fisiologis lain
seperti tekanan intra arterial dan tekanan arteri pulmonalis, curah jantung, tekanan inspirasi
dan aliran jalan nafas, tekanan intrakranial, suhu, transmisi neuromuskular, kadar CO2
ekspirasi

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang
perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang tinggi. Tindakan keperawatan yang
cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan
yang cepat ditunjang data yang merupakan hasil observasi dan monitoring yang kontinu oleh
perawat. Tingkat kesibukan dan standar perawatan yang tinggi membutuhkan manajemen
ICU dan peralatan teknologi tinggi yang menunjang.
Secara umum, Manajemen itu memiliki ciri-ciri : adanya tujuan yang ingin dicapai, adanya
sumber daya, upaya penggerakan sumber daya, adanya orang yang menggerakan sumber
daya (manajer), adanya proses perencanaan pengorganisasian penggerakan pelaksanaan
pengarahan dan pengendalian. Begitu pun manajemen yang ada di rumah sakit terutama di
ruang ICU, kita sebagai seorang perawat juga harus betul-betul memahami seperti apa tugastugas dan tanggung jawab masing-masing pelaksana kesehatan, mengetahui seperti apa
layaknya ruang ICU dan masih banyak lainnya.
Atas dasar hal tersebut maka kami mengangkat judul Manajemen Ruang Intensive Care
Unit (ICU).

B.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas , maka rumusan masalahnya adalah :


1.
C.

Bagaimana manajemen rumah sakit khususnya di ruang intensive care unit (ICU) ?
TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai salah satu tugas mata kuliah
manajemen kesehatan dan untuk mengetahui serta memahami manajemen rumah sakit
khususnya di ruang intensive care unit (ICU).
D.

MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat yang ingin kami capai dalam penulisan makalah ini adalah untuk
memberikan informasi kepada para pembaca mengenai seperti apa manajemen di ruang ICU.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.

DEFINISI MANAJEMEN SECARA UMUM

Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan,


usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi
lainnya agar rnencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Dari defenisi di atas terlihat bahwa Stoner telah menggunakan kata "proses", bukan "seni".
Mengartikan manajemen sebagai "seni" mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan
atau keterampilan pribadi. Sedangkan suatu "proses" adalah cara sistematis untuk melakukan
pekerjaan. Manajemen didefenisikan sebagai proses karena semua manajer tanpa harus
rnemperhatikan kecakapan atau ketrampilan khusus, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan
yang saling berkaitan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
Begitupun proses yang terjadi di rumah sakit . Rumah sakit adalah salah satu subsistem
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan dua jenis pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan
pelayanan administrasi, olehnya itu diperlukan suatu manajemen yang dapat menunjang
pelaksanaan pemberian pelayanan tersebut. Tidak hanya mencakup manajemen rumah sakit
secara umum,namun setiap bagian dari rumah sakit itupun juga memiliki structural dan
proses manajemen yang berbeda-beda.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen merupakan
kerjasama dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuantujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengawasan (controlling).
B.

DEFINISI MANAJEMEN ICU

Perawatan intensif care unit merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu
untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan
penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan
observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang perawatan
umum memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan
organ umumnya paru mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasienpasien dengan penyakit kritis (Adam & Osbone, 1997).
C.

TUJUAN PELAYANAN ICU

Adapun tujuan pelayanan yang dilakukan di ruang intensive care unit antara lain sebagai
berikut :
a.

Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kematian atau cacat.

b.

Mencegah terjadinya penyulit

c.
Menerima rujukan dari level yang lebih rendah & melakukan rujukan ke level yang
lebih tinggi
d.

Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien

e.
Mengurangi angka kematian pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan
pasien
D.

JENIS-JENIS ICU

Menurut fungsinya intensive care unit (ICU) dibagi menjadi beberapa unsur yaitu :
a.

ICU Khusus

Dimana pasien dirawat dengan payah dan akut dari satu jenis penyakit. Adapun contohnya
yaitu :
1)
ICCU (Intensive Coronary Care Unit) yaitu ruang untuk pasien yang dirawat dengan
gangguan pembuluh darah Coroner.
2)
Respiratory Unit yaitu ruang untuk pasien yang dirawat dengan mengalami gangguan
pernafasan.
3)

Renal Unit yaitu ruang untuk pasien yag dirawat dengan gangguan gagal ginjal.

b.

ICU Umum

Dimana pasien dirawat dengan sakit payah akut di semua bagian RS. Menurut umur, ICU
anak & neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa.
E.

SYARAT - SYARAT RUANG ICU

1. Letaknya di sentral RS dan dekat dengan kamar bedah serta kamar pulih sadar ( Recovery
Room)
2. Suhu ruangan diusahakan 22-25 oC, nyaman , energi tidak banyak keluar.
3. Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar
4. Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.
5. Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus
6. Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi.

7. Petugas maupun pengunjung memakai pakaian khusus bila memasuki ruangan isolasi.
8. Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk mengobservasi
pasien
F.

INDIKASI MASUK ICU

a.

Prioritas 1

Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yang memerlukan terapi intensif dan agresif
seperti Gangguan atau gagal nafas akut , Gangguan atau gagal sirkulasi, Gangguan atau gagal
susunan syaraf , Gangguan atau gagal ginjal .
b.

Prioritas 2

Pemantauan atau observasi intensif secara ekslusif atas keadaan-keadaan yang dapat
menimbulkan ancaman gangguan pada sistem organ vital Misalnya Observasi intensif pasca
bedah operasi : post trepanasi, post open heart, post laparatomy dengan komplikasi,
Observasi intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil , dan Observasi pada pasca bedah
dengan penyakit jantung.

c.

Prioritas 3

Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai harapan kecil untuk
penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini mugkin memerlukan terapi intensif
untuk mengatasi penyakit akutnya, tetapi tidak dilakukan tindakan invasife Intubasi atau
Resusitasi Kardio Pulmoner. NB : Pasien prioritas 1 harus didahulukan dari pada prioritas 2
dan 3.
G.

INDIKASI KELUAR ICU

Adapun indikasi keluar ICU antara lain sebagai berikut :


a.

Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil.

b.

Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien.

c.

Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator.

d.

Pasien mengalami mati batang otak.

e.

Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir)

f.

Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pulang paksa)

g.
Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan tempat
penuh.

BAB III
STRUKTURAL MANAJEMEN ICU
Intensive care unit (ICU) adalah suatu kesatuan perawatan dan aktivitas medis yang
beroperasi mandiri dalam suatu rumah sakit dan didalamnya fasilitas sumber daya manusia,
keterampilan profesional, piranti teknis dan ruang yang memadai. Bagian ini di gunakan
untuk merawat pasien gawat akibat pembedahan, trauma dan penyakit kritis, yang dengan
terapi intensif dan terapi penunjang fungsi vital kehidupan (life support) dapat harapkan
sembuh dan menjalanui hidup normal kembali.
A. Text Box: Kepala ICUBAGAN STRUKTURAL INTENSIVE CARE UNIT (ICU)

Text Box: Staf Medis

Text Box: Kepala perawat

Text Box: Ahli giziText Box: Staf perawatText Box: Dokter yang sedang pendidikan
spesialisText Box: Dokter ahli

Text Box: Ahli radiologi

Text Box: Rekam MedikText Box: Ahli TeknikText Box: Tenaga Analis Obat

1.

Kepala ICU

Tanggung jawab penatalaksanaan medis dan administrasi dibebankan pada seorang dokter
yang bekerja full time atau minimal 50 % waktu kerjanya dicurahkan untuk memberikan
pelayanan intensif dan secara fisik dapat dihubungi dan tidak terikat kewajiban lain yang
menyita waktu dan kedudukannya sebagai kepala ICU . Kepala ICU hanya memiliki
tanggung jawab medis dan administratif untuk bagian yang dibawahinya, dan posisi ini
sebaiknya tidak dirangkap dengan tanggung jawab sebagai atasan di bagian atau fasilitas lain
di rumah sakit tersebut. Kepala ICU bertanggungjawab atas pelayanan yang dilakukan
bersama profesi terkait baik yang menjadi penanggungjawab pasien sebelum dirujuk ke ICU
maupun bersama profesi yang memberi konsultasi dan atau yang ikut melakukan
perawatan/terapi. Kepala ICU sebaiknya seorang yang telah mendalami spesialisasi
anestesiologi, ilmu penyakit dalam, bedah , ilmu kesehatan anak atau bagian lain dan pernah
menjalani pelatihan dan pendidikan formal di bidang kedokteran perawatan intensif.
2.

Staf medis

Kepala ICU dibantu oleh dokter yang ahli di bidang perawatan intensif. Jumlahnya dihitung
menurut jumlah tempat tidur di bagian itu, jumlah pergantian kerja tiap hari , jumlah hari
kerja per minggu dan sebagai fungsi dari beban kerja klinis, riset dan pendidikan. Untuk
menjamin kelangsungan kerja, ICU dianjurkan setidaknya mempekerjakan 4 orang dokter
yang ahli di bidang perawatan intensif tiap 6 - 8 tempat tidur.
Staf medis bertugas melaksanakan dan mengkoordinir rencana perawatan/terapi bersama
dokter yang memasukkan pasien dan konsultan lain, serta menampung dan menyimpulkan
opini yang berbeda dari konsultan-konsultan tersebut sehingga tercapai pelayanan dan
pendekatan yang terkoordinir pada pasien dan keluarga. Untuk tujuan tersebut mereka perlu
mengatur visite harian untuk memberitahukan rencana terapi dan perawatan. Pada acara ini
semua staf sebaiknya dilibatkan. Dokter pemilik/perujuk pasien sebaiknya datang setiap hari
untuk mengetahui hasil diskusi, saran-saran dan perkembangannya. Anggota staf medis ICU
bertanggungjawab atas perawatan medis dan administratif pasien yang dirawat di unit
tersebut. Mereka merumuskan kriteria masuk dan keluar serta bertanggungjawab atas
protokol diagnostik dan terapi guna standarisasi perawatan di bagian tersebut.

v Setiap dokter dan perawat yang bekerja di ICU wajib


1)
Memperdalam pengetahuannya dengan mengikuti perkembangan ilmu dari
kepustakaan, seminar, lokakarya dsb.
2)
Secara berkala mengikuti pendidikan kedokteran berkelanjutan/pendidikan keperawatan
dalam bidang intensive care.
3.

Bagian staf keperawatan

Untuk staf keperawatan dalam ruang ICU terdiri atas :


a.

Kepala Perawat

Kepala perawat ICU adalah Perawat anestesi (D III atau sederajat) atau perawat yang telah
mendapat pelatihan dan pendidikan di bidang perawatan atau terapi intensif sekurangkurangnya 6 bulan atau perawat yang telah membantu pelayanan di ICU minimal 1 tahun.
Dalam menjalankan tugasnya kepala perawat dibantu oleh seorang wakil kepala perawat
yang sewaktu-waktu bisa menggantikannya.
Kepala perawat harus mampu menjaga kelangsungan pendidikan bagi staf perawat. Kepala
perawat dan wakilnya sebaiknya tidak dilibatkan dalam aktivitas keperawatan rutin.
b.

Staf Perawat

Perawat ruang intensif adalah perawat yang telah mendapat pelatihan dan pendidikan di
bidang perawatan atau terapi intensif sekurang-kurangnya 6 bulan atau perawat yang telah
bekerja pada pelayanan di ICU minimal 1 tahun. Setiap perawat yang bertugas di ICU harus
memiliki kualifikasi tertentu, memahami fungsi ICU ,tata kerja dan peralatan yang digunakan
untuk menjaga mutu pelayanan, mencegah timbulnya penyulit dan mencegah kerusakan pada
alat-alat canggih/mahal.
Jumlah perawat yang dibutuhkan adalah (rasio jumlah perawat terhadap pasien) adalah Ideal
= 1:1 , Optimal = 1:2, Minimal = 1:3.
Pelayanan perawatan dilaksanakan 24 jam terus-menerus dan pengaturan tenaganya dibagi
dalam 3 shift jaga. Pada setiap shift ditunjuk perawat penanggungjawab dan dilakukan serah
terima pasien. Untuk setiap penderita sebaiknya ditunjuk seorang perawat yang
bertanggungjawab mengenai perawatan, penyediaan alat-alat medik dan obat-obatan.
Perawat yang sedang menjalani pelatihan bidang perawatan intensif dan keperawatan gawat
darurat harus dilatih dan di bawah pengawasan staf perawat terlatih. Mereka tidak dapat
penuh menggantikan staf perawat reguler.
4.

Ahli Fisioterapi

Untuk setiap 12 tempat tidur harus tersedia seorang ahli fisioterapi yang bekerja 7 hari dalam
seminggu.
5.

Ahli Radiologi

Ahli radiologi sebaiknya dapat dihubungi setiap waktu dalam 24 jam. Interpretasi hasil
pemeriksaan oleh radiolog harus tersedia setiap waktu.
6.

Ahli Gizi

Harus dapat dihubungi setiap waktu selama jam kerja normal.


7.

Tenaga analis obat

ICU sebaiknya mempunyai seorang analis yang tugasnya memeriksa pengadaan obat.
8.

Ahli Teknik

Perawatan kalibrasi dan perbaikan peralatan teknis di bagian ini perlu ditangani dengan
cermat.oleh seorang ahli tehnik, yang tersedia 24 jam.
9.

Tenaga Administrasi

Untuk setiap 6 tempat tidur sebaiknya disediakan seorang tenaga administrasi yang
mengurusi administrasi pasien, dokumen medis, laboratorium dan lain-lain.
10. Tenaga Kebersihan
Di ICU sebaiknya tersedia grup bagian kebersihan yang khusus. Mereka perlu mengetahui
protokol pencegahan infeksi dan bahaya dari peralatan medis.

BAB IV
PEMBAHASAN
A.

STANDAR KUALIFIKASI INTENSIVE CARE UNIT

Ruangan ICU merupakan suatu unit di RS yang dibandingkan dengan ruagan lain, banyak
perbedaan ,tingkat pelayanannya. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh jumlah staf,
fasilitas, pelayanan penunjang ,jumlah dan macam pasien yang dirawat, untuk itu harus
ditunjang oleh tenaga yang memenuhi kualifikasi standart ICU.

Pelayanan ICU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :


1.

Resusitasi jantung paru

2.

Pengelolaan jalan nafas termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator sederhana

3.

Terapi oksigenasi

4.

Pemamtauan EKG ,pulse oximetri terus menerus

5.

Pemberian nutrisi enteral dan panenteral

6.

Pelaksanaan terapi secara titrasi

7.

Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai kondisi pasien

8.
Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat alat portabel selama transportasi
pasien gawat
9.

Kemampuan melakukan fisioterapi dada

B.

SARANA DAN PRASARANA

1.

Lokasi

Dianjurkan satu komplek dengan kamar bedah dan kamar pulih sadar dan berdekatan atau
mempunyai akses yang mudah ke unit gawat darurat,laboratorium dan radiologi.
2.

Desain

Standart ICU yang memadai ditentukan desain yang baik dan pengaturan ruang yang adekuat.
Adapun bangunan ICU Sebaiknya terisolasi dan mempunyai standart tertentu terhadap
Bahaya Api, Ventilasi, AC, Pipa air, Komunikasi, Bakteorologis, Exhausts fan, Kabel
monitor, dan Lantai mudah dibersihkan ,keras dan rata.
3.

Area pasien

a)

Unit terbuka 12-16 M2/pertempat tidur

b)

Unit tertutup 16 20 m2 pertempat tidur

c)

Jarak antara TT : 2 m

d)

Unit terbuka mempunyai 1 tempat cuci tangan, setiap 2 TT

e)

Unit tertutup 1 ruangan terdiri 1 tempat tidur dan 1 tempat cuci tangan.

f)

Harus ada sejumlah outlet yang cukup sesuai dengan level ICU

g)
Pencahayaan cukup dan adekuat untuk observasi khusus dengan lampu TL 10 watt /
m2. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan petugas, desain dari
unit memperhatikan privasi pasien.
4.

Area Kerja meliputi :

a)

Ruang yang cukup untuk staf dan menjaga kontak visual perawat dengan pasien.

b)
Ruang yang cukup untuk memonitor pasien peralatan resusitasi dan penyimpanan obat
dan alat (lemari pendingin)
c)

Ruang yang cukup untuk X-Ray mobil dan mempunyai tekanan negatif.

d) Ruang untuk telpon dan sistem komunikasi lain seperti komputer, koleksi data, alat
untuk penyimpanan alat tulis.
5.

Lingkungan

Mempunyai pendingin / AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai dengan luas
ruangan . Suhu 220 250.
6.

Ruang Isolasi

Dilengkapi dengan tempat cuci tangan dan tempat ganti pakaian sendiri.
7.

Ruang Penyimpanan Peralatan dan Barang Bersih.

Untuk penyimpanan monitor, ventilator, pompa infus dan pompa syringe, peralatan dialisi,
alat-alat hisap, linen dan tempat penyimpanan barang dan alat bersih.
8.

Ruang Tempat Pembuangan Alat atau Bahan Kotor.

a)
Ruang untuk membersihkan alat-alat, pemeriksaan urine, pengosongan dan
pembersihan pispot dan botol urine.
b)

Desain untuk menjamin tidak ada kontaminasi

9.

Ruang Perawat

Terdapat ruang terpisah yang dapat digunakan oleh perawat yang bertugas dan kepala
ruangan.
10. Ruang Staf Dokter.
11. Ruang Tunggu Keluarga Pasien.
12. Laboratorium yang terpusat.
C.

PERALATAN YANG HARUS TERSEDIA

1.

Jumlah dan macam peralatan yang ada, sesuai dengan tipe ICU sekunder.

2. Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat yaitu ada program
kalibrasi dan pemeliharaan alat , ada buku pemakaian alat serta pemeliharaan alat, ada
protap-protap pemakaian kalibrasi dan pemeliharaan alat-alat.
3.

Untuk di ICU sendiri sekarang terdapat peralatan dasar, yang meliputi :

a)

Ventilator.

b)

Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas seperti :

Alat hisap atau suction.

Peralatan akses vaskuler.

Peralatan monitor unvasif dan non invasif

Defibrilator dan alat pacu jantung

Alat pengatur suhu pasien.

Peralatan drain thorak.

Pompa infus dan pompa syringe

Peralatan portable untuk transportasi.

Tempat tidur khusus

Lampu untuk tindakan.

Ruang Hemodialisa juga tersedia untuk mendukung fungs ICU

4. Monitoring Peralatan.
Hal-hal yang sangat vital sangat ditekankan pada pemantauannya termasuk peralatan yang
digunakan untuk transportasi pasien yaitu :

Mengerti dan tahu tentang tanda bahaya kegagalan pasokan gas

Mengerti trentang kegagalan pasokan oksigen ,maka alat yang secara otomatis
teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan pasokan oksigen yang selalu terpasang di
ventilator

Pemantauan konsentrasi oksigen :Semua petugas diruang ICU diharapkan mengetahui


tentang bahaya kegagalan ventilator atau diskonsentrasi sistem pernafasan.Pada pengguna
ventilator otomatis,harus ada alat yang didapat segera mendeteksi kegagalan sistem
pernafasan atau ventilator secara terus menerus

Volume dan tekanan ventilator terpantau secara akurat dan berkesinambungan.


Harus memantau suhu alat pelembab (humidifier) apabila terjadi peningkatan suhu
udara inspirasi.

Terpasang alat elektro kardiograf pada setiap pasien dan dapat dipantau terus menerus

Harus tersedia pulse oksimetri pada setiap pasien ICU

Apabila ICU memungkinkan apabila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan untuk
mengukur variabel visiologis lain seperti tekanan intra arterial dan tekanan pulmunalis, curah
jantung, tekanan intra karnial, suhu, transmisi neuromuskular,kadar CO2 respirasi.

BAB V
PENUTUP
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dengan melihat tinjauan teori, dan pembahasannya
maka kami dapat mengemukakan kesimpulan makalah ini sebagai berikut :
A.

KESIMPULAN

Dari hasil uraian makalah ini dimana penulis telah merangkum tinjauan teoritis dan tinjauan
kasus, serta pembahasan dari keduanya maka dapat diuraikan bahwa Perawatan intensif
merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk di kembangkan di
Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang
potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan Observasi ketat
dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang perawatan umum
Ruangan ICU adalah suatu unit di RS yang dibandingkan dengan ruagan lain, banyak
perbedaan ,tingkat pelayanannya. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh jumlah staf,
fasilitas, pelayanan penunjang ,jumlah dan macam pasien yang dirawat, untuk itu harus
ditunjang oleh tenaga yang memenuhi kualifikasi standart ICU.

B.

SARAN

Adapun saran kami dalam penulisan makalah ini yaitu kami berharap dengan adanya makalah
ini, dapat dipergunakan sebagai mana mestinya sehingga dapat dijadikan acuan perawat
dalam mengatur atau memanage tugas-tugasnya dalam pemberian pelayanan keperawatan di
rumah sakit khusunya pada bagian intensive care unit (ICU) dan juga sebagai acuan dalam
peningkatan pendidikan dan pengetahuan dalam pemberian pelayanan kesehatan demi
terciptanya kualitas dan mutu pelayanan kesehatan yang optimal.

MAKALAH
KEGAWATDARURATAN
Tentang
Menejemen di ICU dan Personil di ICU
(Untuk Memenuhi Tugas Kegawatdaruratan dr. Trianto Saudin)

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU


KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga
penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Kegawatdaruratan tentang menejemen di ICU
dan Personil yang ada di ICU.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan
dosen mata kuliah kegawatdaruratan yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian
makalah.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami
nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami
nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik
Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.2

Rumusan msalah

1.3

Tujuan.2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi

2.2 Pengelola ICU

2.3 Falsafah ICU

2.4 Perrsonil ICU

BAB III PNUTUP


3.1 Kesimpulan

12

3.2 Saran dan Kritik 12


Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan Intensive Care Unit (ICU).
Saat ini pelayanan di ICU tidak terbatas hanya untuk menangani pasien pasca-bedah saja
tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari satu
disfungsi/gagal organ. Kelompok pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar
Operasi, Ruang Perawatan, ataupun kiriman dari Rumah Sakit lain. Ilmu yang diaplikasikan
dalam pelayanan ICU, pada dekade terakhir ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga
telah menjadi cabang ilmu kedokteran tersendiri yaitu Intensive Care Medicine. Meskipun
pada umumnya ICU hanya terdiri dari beberapa tempat tidur, tetapi sumber daya tenaga
(dokter dan perawat terlatih) yang dibutuhkan sangat spesifik dan jumlahnya pada saat ini di
Indonesia sangat terbatas. Critical Care Medicine menjadi bagian yang penting dalam sistem
kesehatan yang modern. Intensive care mempunyai 2 fungsi utama: yang pertama adalah
untuk melakukan perawatan pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi reversible life
thretening organ dysfunction, yang kedua adalah untuk mendukung organ vital pada pasienpasien yang akan menjalani operasi yang kompleks elektif atau prosedur intervensi dan risiko
tinggi untuk fungsi vital. Critical care medicine adalah multidisiplin ilmu. Ilmu-ilmu yang
berkompetensi termasuk bedah, interna, anestesi, neurologi, dan neurosurgery termasuk
subspesialis. Peranan perawat juga penting, perawat ICU harus diberikan pelatihan khusus.
Di Amerika Utara, profesi seperti terapis respirasi memberikan evolusi terhadap critical care.
Profesional ini mempunyai kemampuan manajemen ventilator, penggunaan obat-obatan
inhalasi, pengeluaran 3 sekret respirasi. Spesialis lainnya termasuk farmasi, nutrisionis,
pekerja sosial, fisioterapis. Untuk dapat memberikan pelayanan prima dan manajemen yang
efektif dan efisien, maka ICU harus dikelola sesuai suatu standar yang bukan saja dapat
digunakan secara nasional tetapi juga dapat mengikuti perkembangan terakhir dari Intensive
Care Medicine. Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia (IDSAI) dan Perhimpunan Dokter Intensive Care
Indonesia (PERDICI) memandang perlu untuk meninjau ulang standar pelayanan ICU yang
telah dibuat pada tahun 1992 yang kemudian dicetak ulang tahun 1995. Tinjau ulang standar
ini disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta konsep ICU di masa datang.
Beberapa komponen ICU yang spesifik yaitu (1) pasien yang dirawat dalam keadaan kritis,
(2) desain ruangan dan sarana yang khusus, (3) peralatan berteknologi tinggi dan mahal, (4)
pelayanan dilakukan oleh staf yang profesional dan berpengalaman dan mampu
mempergunakan peralatan yang canggih dan mahal.
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah, dengan staf
khusus dan perlengkapan yang khusus, yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi
pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa
atau potensial mengancam jiwa dengan prognosis dubia. ICU menyediakan kemampuan dan
sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsifungsi vital dengan
menggunakan keterampilan staf medik, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam
pengelolaan keadaan-keadaan tersebut.
1.2

Tujuan

Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kegawatdaruratan tentang konsep dasar ICU dari dr. Triyanto Saudin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Definisi

Bawah ini adalah definisi dari kata manajemen :


Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner Manajemen adalah suatu proses
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota
organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumny. Menurut Mary Parker Follet Manajemen
adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan
keterampilan khusus.
Menejemen ICU adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan
pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada
pada ruangan ICU untuk mencapai tujuan menyelamatkan jiwa pasien.

2.2

Yang Perlu Diperhatikan dalam ICU

1. Indikasi yang Benar


Pasien yang dirawat di ICU adalah yang memerlukan:
a. Pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan, sehingga
dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan terapi titrasi.
b. Pemantauan kontinu terhadap pasien-pasien dalam keadaan kritis yang dapat
mengakibatkan terjadinya dekompensasi fisiologis.
c. Intervensi medis segera oleh tim intensive care.

2. Kerja Sama Multidisipliner dalam Masalah Medis Kompleks


Dasar pengelolaan pasien ICU adalah pendekatan multidisiplin dengan
tenaga kesehatan dari beberapa disiplin ilmu terkait yang dapat memberikan
kontribusinya sesuai dengan bidang keahliannya dan bekerja sama dalam

tim, dengan dipimpin dengan seorang intensivist sebagai ketua tim.

3. Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Pasien


Kebutuhan pasien ICU adalah tindakan resusitasi yang meliputi dukungan
hidup untuk fungsi-fungsi vital seperti airway (fungsi jalan pernafasan),
breathing (fungsi pernafasan), circulation (fungsi sirkulasi), brain (fungsi otak), dan fungsi
organ lain, dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif.

4. Peran Koordinasi dan Integrasi dalam Kerja Sama Tim


Dengan mengingat keadaan pasien seperti yang tersebut dalam butir 2 dan 4 di atas, maka
pembagian kerja tim multidisiplin adalah sebagai berikut:
a. Dokter yang merawat pasien sebelum masuk ICU melakukan evaluasi pasien sesuai
bidangnya dan memberi pandangan atau usulan terapi.
b. Intensivist, selaku ketua tim, melakukan evaluasi menyeluruh, mengambil kesimpulan,
memberi instruksi terapi dan tindakan secara tertulis dengan mempertimbangkan usulan
anggota tim lainnya.
c. Ketua tim berkonsultasi pada konsultan lain dengan mempertimbangkan usulan-usulan
anggota tim.

5. Hak dan Kewajiban Dokter


Setiap dokter dapat memasukkan pasien ke ICU sesuai dengan indikasi masuk ke ICU,
karena keterbatasan jumlah tempat tidur ICU maka berlaku asas prioritas dan indikasi masuk.

6. Sistem Manajemen Peningkatan Mutu Terpadu


Demi tercapai koordinasi dan peningkatan mutu pelayanan di ICU, diperlukan tim kendali
mutu yang anggotanya terdiri dari beberapa disiplin ilmu, dengan tugas utamanya memberi
masukan dan bekerja sama dengan staf struktural untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan
ICU.

7. Kemitraan Profesi

Kegiatan pelayanan pasien di ICU di samping multidisiplin juga interprofesi, yaitu profesi
medik, profesi perawat, dan profesi lain agar dicapai hasil optimal maka perlu ditingkatkan
mutu SDM secara berkelanjutan, menyeluruh dan mencakup semua kelompok profesi.

8. Efektivitas, Keselamatan, dan Ekonomis


Unit pelayanan ICU mempunyai ciri biaya tinggi, teknologi tinggi, multi
disiplin dan multi profesi berdasarkan atas efektivitas, keselamatan, dan
ekonomis.

9. Kontinuitas Pelayanan
Untuk efektivitas, keselamatan dan ekonomisnya pelayanan ICU, maka
perlu dikembangkan unit pelayanan tingkat tinggi (High Care Unit = HCU).
HCU fungsi utamanya menjadi unit perawatan-antara bangsal rawat dan
ICU. Di HCU tidak diperlukan peralatan canggih seperti ICU, yang diperlukan utamanya
adalah kewaspadaan yang lebih tinggi.

2.3

Pengelola ICU dilakukan oleh intensivist

Seorang intensivist adalah seorang dokter yang memenuhi standar


kompetensi sebagai berikut:
A.
Terdidik dan bersertifikat sebagai seorang spesialis intensive care medicine (KIC,
Konsultan Intesive Care) melalui program pelatihan danpendidikan yang diakui oleh
perhimpunan profesi yang terkait.
B.
Menunjang kualitas pelayanan di ICU dan menggunakan sumber daya ICU secara
efisien.
C.

Mendarmabaktikan lebih dari 50% waktu profesinya dalam pelayanan ICU.

D.
Bersedia berpartisipasi dalam suatu unit yang memberikan pelayanan 24 jam/hari, 7
hari/seminggu.
E.

Mampu melakukan prosedur critical care biasa, antara lain:

1.

Mempertahankan jalan napas termasuk intubasi trakeal dan ventilasi mekanis.

2.

Punksi arteri untuk mengambil sampel arteri.

3.

Memasang kateter intravaskular dan peralatan monitoring, termasuk:

i.

Kateter Arteri

ii.

Kateter Vena Perifer

iii.

Kateter Vena Sentral (CVP)

iv.

Kateter Arteri Pulmonaris

4.

Pemasangan kabel pacu jantung transvenous temporer

5.

Resusitasi kardipulmoner

6.

Pipa torakostomi

F.

Melaksanakan dua peran utama:

1.

Pengelolaan pasien

Mampu berperan sebagai pemimpin tim dalam memberikan pelayanan di ICU,


menggabungkan dan melakukan titrasi layanan pada pasien berpenyakit kompleks atau
cedera termasuk gagal organ multi-sistem. Intensivist memberi pelayanan sendiri atau dapat
berkolaborasi dengan dokter pasien sebelumnya. Mampu mengelola pasien dalam kondisi
yang biasa terdapat pada pasienm sakit kritis seperti:

Hemodinamik tidak stabil.

Gangguan atau gagal napas, dengan atau tanp menggunakan tunjangan ventilasi
mekanis.

Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi intrakranial.

Gangguan atau gagal ginjal akut.

Gangguan endokrin dan atau metabolik akut yang mengancam nyawa.

Kelebihan dosis obat, reaksi obat atau keracunan obat.

Gangguan koagulasi.

Infeksi serius.

Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi.

2. Manajemen unit Intensivist berpartisipasi aktif dalam aktivitas-aktivitas manajemen unit


yang diperlukan untuk memberi palayanan-pelayanan ICU yang efisien, tepat waktu dan
konsisten pada pasien. Aktivitasaktivitas tersebut meliputi antara lain:
a. Triace, alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien.
b. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan unit.

c. Partisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjuatan temasuk


supervisi koleksi data.
d. Berinteraksi seperlunya dengan bagian-bagian lain untuk
menjamin kelancaran jalannya ICU. Untuk keperluan ini, intensivist secara fisik harus berada
di ICU atau rumah sakit dan bebas dari tugas-tugas lainnya.
G. Mempertahankan pendidikan yang berkelanjutan di bidang critical care medicine:
1.
Menjaga agar pengetahuannya selalu mutakhir dengan mengikuti perkembangan ilmu
dari perpustakaan, membaca literatur, seminar, lokakarya dan sebagainya.
2.
Secara berkala mengikuti pendidikan kedokteran berkelanjutan/ pendidikan
keperawatan dalam bidang intensive care.
3.

Menguasai standar untuk unit critical care dan standard of care, di bidang critical care.

Setiap petugas yang bekerja di ICU harus memiliki kualifikasi tertentu, memahami fungsi
ICU, tata kerja dan peralatan yang dipergunakan untuk menjaga mutu pelayanan yang tinggi,
mencegah timbulnya penyulit, dan mencegah kerusakan pada alat-alat canggih/mahal.
Petugas baru harus mendapat orientasi tentang hal-hal tersebut di atas titik. Petugas lama
harus mengikuti penyegaran berkala tentang hal-hal tersebut di atas.
H. Ada dan bersedia untuk berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas
interdisipliner. Untuk menjamin mutu pelayanan yang efektif, efisien, manusiawi, dan
memuaskan diperlukan evaluasi kinerja ICU secara berkala (bulanan dan tahunan). Materi
laporan/ evaluasi meliputi:
1. Jumlah pasien yang dirawat.
2. Masa rawat tinggal (average length of stay).
3. Case Fatality Rate untuk penyakit-penyakit tertentu.
4. Skor dari Revisie Trauma Score.
5. Mortalitas (Standardized Mortality Rasio).
6. Nosocomial infection rate.
7. Readmission.
2.4

Klasifikasi atau Stratifikasi Pelayanan ICU

a. Pelayanan ICU Primer (Standar Minimal)


Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolaan resusitatif segera untuk pasien sakit
gawat, tunjangan kardio-respirasi jangka pendek, dan mempunyai peran penting dalam
pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang berisiko. Dalam

ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa
jam. Kekhususan yang harus dimiliki:
1) Ruangan tersendiri; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruang
perawatan lain.
2) Memiliki kebijaksanaan/criteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.
3) Memiliki seorang dokter spesialis anestesiologi sebagai kepala.
4) Ada dokter jaga 24 jam (dua puluh empat jam) dengan kemampuan melakukan resusitasi
jantung paru (A, B, C, D, E, F).
5) Konsulen yang membantu harus selalu dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat.
6) Memiliki perawat yang cukup dan sebagian besar terlatih.
7) Mampu dengan cepat melayani pemeriksaan laboratorium tertentu (Hb, Hematokrit,
elektrolit, gula darah dan trombosit), rontgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi.

b. Pelayanan ICU Sekunder


Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi, yang mendukung
peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan, misalnya kedokteran umum, bedah,
pengelolaan trauma, bedah saraf, bedah vaskular dan lain-lainnya. ICU hendaknya mampu
memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama dan melakukan dukungan/bantuan hidup
lain tetapi tidak terlalu kompleks. Kekhususan yang harus dimiliki:
1) Ruangan tersendiri; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruang
perawatan lain.
2) Memiliki kebijaksanaan/kriteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.
3) Memiliki konsultan yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan.
4) Memiliki seorang kepala ICU, seorang dokter intensive care, atau bila tidak tersedia oleh
dokter spesialis anestesiologi, yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan dokter jaga
yang minimal mampu melakukan resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan
hidup lanjut).
5) Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien: perawat sama dengan
1:1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus-kasus
lainnya.
6) Memiliki lebih dari 50% perawat bersertifikat terlatih perawat/terapi intensif atau minimal
berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.

7) Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu
melakukan pemantauan invasif dan usaha-usaha penunjang hidup.
8) Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, rontgen, kemudahan diagnostik dan
fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.
9) Memiliki ruangan isolasi atau mampu melakukan prosedur isolasi.

c. Pelayanan ICU Tersier (Tertinggi)


Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU, memberikan pelayanan yang
tertinggi termasuk dukungan/bantuan hidup multi-sistem yang kompleks dalam jangka waktu
yang tak terbatas. ICU ini melakukan ventilasi mekanis, pelayanan dukungan/bantuan renal
ekstrakorporal dan pemantauan kardiovaskular invasif dalam jangka waktu yang terbatas dan
mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik. Semua pasien yang masuk ke dalam unit
harus dirujuk untuk dikelola oleh spesialis intensive care. Kekhususan yang harus dimiliki:
1. Memiliki ruangan khusus tersendiri di dalam rumah sakit.
2. Memiliki kriteria penderita masuk, keluar, dan rujukan.
3. Memiliki dokter spesialis yang dibutuhkan dan dapat dihubungi untuk
datang setiap saat diperlukan.
4. Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi konsultan intensive care atau
dokter ahli konsultan intensive care yang lain yang bertanggung
jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu
melakukan resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan
hidup lanjut).
5. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien 1:1 untuk pasien dengan
ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus kasus lainnya.
6. Memiliki lebih dari 75% perawat bersertifikat terlatih perawatan/terapi
intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.
7. Mampu melakukan semua bentuk pemantauan dan perawatan/terapi
intensif baik non-invasif maupun invasif.
8. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, rontgen, kemudahan
diagnostik dan fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.

9. Memiliki paling sedikit seorang yang mampu dalam mendidik tenaga medik dan
paramedik agar dapat memberikan pelayanan yang optimal pada pasien.
10. Memiliki prosedur untuk pelaporan resmi dan pengkajian.
11. Memiliki sifat tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi, tenaga rekam medik,
tenaga untuk kepentingan ilmiah dan penelitian.
d. Prosedur Pelayanan Perawatan/Terapi ICU
Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU:
a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam jiwa dan
dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.
b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan pelaksanaan
terapi spesifik terhadap problema dasar.
c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan
oleh: PenyakitIatrogenik
d. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang nyawanya pada saat itu bergantung pada
fungsi alat/mesin dan orang lain.

2.5

Kriteria Prioritas Pasien Masuk ICU

Pasien Prioritas 1 (Satu)

Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif
seperti dukungan/bantuan ventilasi, infus obat-obat vasoaktif kontinu, dan lain-lainnya.
Contoh pasien kelompok ini antara lain pascabedah kardiotoraksik, atau pasien shock septic.
Mungkin ada baiknya beberapa institusi membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU, seperti
derajat hipoksemia, hipotensi di bawah tekanan darah tertentu. Pasien prioritas 1 (satu)
umumnya tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang diterimanya.

Pasien Prioritas 2 (Dua)

Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari ICU. Jenis pasien ini berisiko
sehingga memerlukan terapi intensif segera, karenanya pemantaun intensif menggunakan
metode seperti pulmonary arterial catheter sangat menolong. Contoh jenis pasien ini antara
lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung, paru, atau ginjal akut dan berat atau yang
telah mengalami pembedahan major. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi
yang diterimanya mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah.

Pasien Prioritas 3 (Tiga)

Pasien jenis ini sakit kritis, dan tidak stabil di mana status kesehatan sebelumnya, penyakit
yang mendasarinya, atau penyakit akutnya,baik masing-masing atau kombinasinya, sangat
mengurangi kemungkinan kesembuhan dan atau mendapat manfaat dari terapi di ICU.
Contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastase disertai penyulit infeksi,
pericardial tamponade, atau sumbatan jalan napas, atau pasien menderita penyakit jantung
atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pasien-pasien prioritas 3 (tiga)
mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut, tetapi usaha terapi mungkin
tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi kardiopulmoner.

2.6

Personil ICU

1.

Dokter ICU

Dokter ICU memiliki sertikat pelatihan dan sertifikat profesional, istimewa dan dipercaya
diberbagai rumah sakit, menyediakan pengawasan dan intervensi yang sesuai untuk
keselamatan pasien. Beberapa program memperkerjakan dokter secara penuh, namun ada
juga yang menggunakan dokter dengan jadwal rotasi. Program ini juga menyediakan dokter
spesialis tambahan untuk perawatan maupun teleconference. Dokter disini berperan untuk
menyediakan berbagai layanan, misalnya melakukan konsultasi dengan multidisipliner
melalui kamera, mendiskusikan intervensi yang tepat dengan terapis pernafasan,
mengidentifikasi pasien yang sudah dapat dipindahkan dari ICU, atau memberikan perintah
pengobatan. Perangkat lunak tanda kewaspadaan memberikan isyarat visual yang
memungkinkan dokter untuk merespon secara proaktif setiap munculnya masalah. Kerjasama
tim sangat penting dilakukan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan keberhasilan dari
program ICU. Direktur medis harus mampu memiliki gaya kepemimpinan yang kuat untuk
membangun dan memperkuat hubungan kerja jika ingin mencapai hasil perawatan yang
optimal.

2.

Perawat ICU

Perawat ICU seringkali memantau pasien ICU 24 jam sehari selama 7 hari seminggu. Banyak
pusat ICU memiliki staf dengan pengalaman yang tinggi yaitu memiliki lebih dari 15 tahun
pengalaman dalam merawat pasien kritis. Alasan beberapa perawat tertarik pada ICU adalah
untuk mengurangi stres fisik dan emosional secara signifikan dalam memenuhi tuntutan
untuk berada di dekat pasien secara terus menerus. Alasan lainnya adalah tertarik untuk
mencoba tantangan dalam menyediakan perawatan bagi pasien dengan metode baru dan
menikmati adanya proses perubahan. Syarat syarat perawat yang dapat menjadi tim ICU
adalah minimal memiliki 5 tahun pengalaman dalam perawatan kritis pasien dewasa
( pengalaman disini tidak hanya mencakup perawatan kritis tetapi dapat juga pengalaman
dalam perawatan trauma, neurogy/neurosurgical, medical surgical, kardiologi, cardio
surgery), memiliki sertifikat CCRN atau CCRN-E, memiliki sertifikat pelatihan basic life

support atau cardiac life support, sarjana dibidang ilmu keperawatan sesuai spesialisasi yang
dibutuhkan, memiliki keterampilan dalam kepemimpinan, dan kemampuan berkomunikasi
massa untuk meningkatklan layanan kepada pengguna jasa.

3.

Staf lain pada ICU

Anggota lain tim ICU termasuk sebagai staf pendukung yang sangat berperan dalam
memasukkan data, manajemen telepon, dan kualitas pemantauan. Staf pendukung mungkin
memiliki berbagai latar belakang, termasuk pengalaman sebelumnya sebagai sekretaris unit,
asisten keperawatan, atau mahasiswa keperawatan yang mencari kerja paruh waktu. Seperti
pada staf perawat, staf pendukung ini harus memiliki komitmen pada keunggulan dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan untuk mencapai keberhasilan. Sumber daya
manusia yang berkompeten dalam melakukan manajemen sistem perangkat lunak komputer
dan menunjukkan akurasi dalam memasukkan data dapat digunakan untuk mendukung
pengambilan keputusan klinis secara tepat. Sebuah komponen yang penting untuk
keberhasilan program ICU adalah kemitraan antara staf dokter, perawat dan staf pendukung
dengan sistem informasi layanan departemen.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa ciri pasien di ICU adalah gangguan multi organ
yang perlu mendapatkan bantuan. Berarti didalam mengelola pasien pasti melibatkan
berbagai disiplin keilmuan dan berbagai profesi (perawat, fisiotherapist, farmasist dlsb).
Namun tidak berarti bahwa cara pengelolaannya secara rame rame tidak menentu, artinya
setiap profesi dan keahlian memberikan pengobatan sendiri2 dengan tujuannya sendiri2
(artinya berorientasi pada organ yang terpisah). Sistem pengelolaan demikian disebut sebagai
MULTIDISCIPLINE MULTIMANAGEMENT yang akan mengakibatkan
POLYPHARMASI, dan jelas akan merugikan pasien. Sistem pengelolaan yang benar adalah
MULTIDISCIPLINE ONE MANAGEMENT, rtinya secara tim yang mencakup berbagai
disiplin keilmuan dan profesi namun dibawah satu komando dari komandan yaitu intensivist.
Seorang intensivist bekerja secara terus menerus berdasar data dari hasil pemantauan pasien
yang bisa berubah setiap saat. Pedoman lain yang digunakan ialah asupan dari berbagai
disiplin dan profesi yang dituangkan dalam bentuk panduan (GUIDELINE), kesepakatan
(CONSENSUS) atau standard berbasiskan bukti (evidence base). Dengan demikian akan
terhindar dari pengelolaan yang multimanagement. Sebagai seorang komandan dalam tim,
intensivist dituntut mengerti benar dasar keilmuannya (INTENSIVE CARE MEDICINE)
serta pemimpin yang bisa mengelola anggota tim yang terdiri dari berbagai disiplin dan
profesi.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat
diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ernesater, A. et all (2009). Telenurses Experience of Working with Computerized

2.
Decision Support : Supporting, Inhibiting, and Quality Improving. Journal of Advance
Nursing, 65, 1074-1083.
3.
Feied, C.F. et all (2004). Impact of Informatic and New Technologies on emergency
Care Environment. Topics in Emergency Medicine, 26, 119-127.
4.
Goran, S.F. (2010). A Second Set Of Eyes : An Introduction to Tele-ICU. Critical Care
Nurse, 30, 46-55.
5.
Jones, C.R. et all (2008). Networking Learning a Relational Approach Weak and
Strong Ties. Journal of Computer Assisted Learning, 24, 90-102.

Anda mungkin juga menyukai