Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

DENGAN FRAKTUR MAKSILOFASIAL

A. Pengertian Fraktur Maksilofasial


Fraktur ialah hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan keras tubuh (Grace
and Borley, 2007). Berdasarkan anatominya wajah atau maksilofasial dibagi menjadi
tiga bagian, ialah sepertiga atas wajah, sepertiga tengah wajah, dan sepertiga bawah
wajah. Bagian yang termasuk sepertiga atas wajah ialah tulang frontalis, regio supra
orbita, rima orbita dan sinus frontalis. Maksila, zigomatikus, lakrimal, nasal,
palatinus, nasal konka inferior, dan tulang vomer termasuk ke dalam sepertiga tengah
wajah sedangkan mandibula termasuk ke dalam bagian sepertiga bawah wajah
(Kruger, 1984). Fraktur maksilofasial ialah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang
pembentuk wajah.

B. Etiologi Fraktur Maksilofasial


Fraktur maksilofasial dapat diakibatkan karena tindak kejahatan atau
penganiayaan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga dan industri, atau
diakibatkan oleh hal yang bersifat patologis yang dapat menyebabkan rapuhnya
bagian tulang (Fonseca, 2005).

C. Lokasi Anatomis Fraktur Maksilofasial


1. Fraktur Sepertiga Bawah Wajah (Fonseca, 2005)
Mandibula termasuk kedalam bagian sepertiga bawah wajah.
Klasifikasi fraktur berdasarkan istilah:
a. Simple atau Closed : merupakan fraktur yang tidak menimbulkan luka
terbuka keluar baik melewati kulit, mukosa, maupun membran
periodontal.

b. Compound atau Open : merupakan fraktur yang disertai dengan luka luar
termasuk

kulit,

mukosa,

maupun

membran

periodontal

yang

berhubungan dengan patahnya tulang.


c. Comminuted : merupakan fraktur dimana tulang hancur menjadi serpihan.
d. Greenstick : merupakan fraktur dimana salah satu korteks tulang patah,
satu sisi lainnya melengkung. Fraktur ini biasa terjadi pada anak-anak.
e. Pathologic : merupakan fraktur yang terjadi sebagai luka yang cukup
serius yang dikarenakan adanya penyakit tulang.
f. Multiple : sebuah variasi dimana ada dua atau lebih garis fraktur pada
tulang yang sama tidak berhubungan satu sama lain.
g. Impacted : merupakan fraktur dimana salah satu fragmennya terdorong ke
bagian lainnya.
h. Atrophic : merupakan fraktur yang spontan yang terjadi akibat dari
atropinya tulang, biasanya pada tulang mandibula orang tua.
i. Indirect : merupakan titik fraktur yang jauh dari tempat dimana terjadinya
luka.
j. Complicated atau Complex : merupakan fraktur dimana letaknya
berdekatan

dengan

jaringan

lunak

atau

bagian-bagian

lainnya,

bisa simpleatau compound.


Klasifikasi Fraktur Mandibula berdasarkan lokasi anatominya:
1.

Midline : fraktur diantara incisal sentral.

2.

Parasymphyseal : dari bagian distal symphysis hingga tepat pada garis


alveolar yang berbatasan dengan otot masseter (termasuk sampai gigi molar
3).

3.

Symphysis : berikatan dengan garis vertikal sampai distal gigi kaninus.

4.

Angle : area segitiga yang berbatasan dengan batas anterior otot masseter
hingga perlekatan poesterosuperior otot masseter (dari mulai distal gigi molar
3).

5.

Ramus : berdekatan dengan bagian superior angle hingga membentuk dua


garis apikal pada sigmoid notch.

6.

Processus Condylus : area pada superior prosesus kondilus hingga regio


ramus.

7.

Processus Coronoid : termasuk prosesus koronoid pada superior mandibula

8.

hingga regio ramus.


Processus Alveolaris : regio yang secara normal terdiri dari gigi.

2. Fraktur Sepertiga Tengah Wajah


Sebagian besar tulang tengah wajah dibentuk oleh tulang maksila, tulang
palatina, dan tulang nasal. Tulang-tulang maksila membantu dalam pembentukan tiga
rongga utama wajah : bagian atas rongga mulut dan nasal dan juga fosa orbital.
Rongga lainnya ialah sinus maksila. Sinus maksila membesar sesuai dengan
perkembangan maksila orang dewasa. Banyaknya rongga di sepertiga tengah wajah
ini menyebabkan regio ini sangat rentan terkena fraktur.
Fraktur tulang sepertiga tengah wajah berdasarkan klasifikasi Le Fort :
1.

Fraktur Le Fort tipe I (Guerins)


Fraktur Le Fort I (gambar 2.4) merupakan jenis fraktur yang paling sering
terjadi, dan menyebabkan terpisahnya prosesus alveolaris dan palatum durum.
Fraktur ini menyebabkan rahang atas mengalami pergerakan yang
disebut floating jaw. Hipoestesia nervus infraorbital kemungkinan terjadi
akibat dari adanya edema.

2.

Fraktur Le Fort tipe II


Fraktur Le Fort tipe II (gambar 2.5) biasa juga disebut dengan fraktur
piramidal. Manifestasi dari fraktur ini ialah edema di kedua periorbital,
disertai juga dengan ekimosis, yang terlihat seperti racoon sign. Biasanya
ditemukan juga hipoesthesia di nervus infraorbital. Kondisi ini dapat terjadi
karena trauma langsung atau karena laju perkembangan dari edema.

Maloklusi biasanya tercatat dan tidak jarang berhubungan dengan open bite.
Pada fraktur ini kemungkinan terjadinya deformitas pada saat palpasi di area
infraorbital dan sutura nasofrontal. Keluarnya cairan cerebrospinal dan
epistaksis juga dapat ditemukan pada kasus ini.

Gambar 1.1

3.

Fraktur Le Fort II (Fonseca, 2005)

Fraktur Le Fort III


Fraktur ini disebut juga fraktur tarnsversal. Fraktur Le Fort III (gambar 2.6)
menggambarkan adanya disfungsi kraniofasial. Tanda yang terjadi pada kasus
fraktur

ini

ialah

remuknya

wajah

serta

adanya

mobilitas

tulang

zygomatikomaksila kompleks, disertai pula dengan keluarnya cairan


serebrospinal, edema, dan ekimosis periorbital.

Gambar 1.2

Fraktur Le Fort III (Fonseca, 2005)

3. Fraktur Sepertiga Atas Wajah


Fraktur sepertiga atas wajah mengenai tulang frontalis, regio supra orbita,
rima

orbita

dan

sinus

frontalis.

Fraktur

tulang

frontalis

umumnya

bersifat depressed ke dalam atau hanya mempunyai garis fraktur linier yang dapat
meluas ke daerah wajah yang lain.

4. Fraktur Dentoalveolar (Fonseca, 2005; Andreasen et al., 2007)


Fraktur dentoalveolar sering terjadi pada anak-anak karena terjatuh saat
bermain atau dapat pula terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Struktur
dentoalveolar dapat terkena trauma yang langsung maupun tidak langsung. Trauma
langsung biasanya dapat menyebabkan trauma pada gigi insisif sentral maksila
karena berhubungan dengan posisinya yang terekspos.
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan fraktur dentoalveolar ialah
oklusi yang abnormal, adanya overjet lebih dari 4mm, inklinasi gigi insisal ke arah
labial, bibir yang inkompeten, pendeknya bibir atas, dan bernafas lewat hidung.
Kondisi tersebut dapat dilihat pada individu dengan kelainan maloklusi kelas II divisi
I Angle, atau pada orang dengan kebiasaan buruk menghisap ibu jari.

Gambar 2.7

Fraktur Dentoalveolar Disertai Avulsi Pada Gigi

Klasifikasi Klinis Traumatic Dental Injuries (TDI) yang diadaptasi dari World
Health Organization (WHO) pada Application of international classification of
disease to dentistry and stomatology dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.1
Klasifikasi Trauma Pada Jaringan Keras Gigi dan Pulpa
Kode
Trauma
Kriteria
N.502.50 Infraksi Email

Fraktur yang tidak menyeluruh pada email


tanpa hilangnya substansi gigi (retak).

N.502.50 Fraktur
EmailFraktur dengan adanya kehilangan
(uncomplicatedfraktur substansi gigi pada email, tanpa
mahkota)
melibatkan dentin.
N.502.51 Fraktur Email-DentinFraktur dengan adanya kehilangan
(uncomplicatedfraktur substansi gigi dengan melibatkan email
mahkota)
dan dentin, namun tidak melibatkan pulpa.
N.502.52 ComplicatedFraktur
Mahkota

Fraktur yang melibatkan email dan dentin,


dan menyebabkan tereksposnya pulpa.

N.502.53 Fraktur Akar

Fraktur yang melibatkan email, dentin, dan


pulpa. Fraktur akar dapat diklasifikasikan
lagi berdasarkan berpindahnya bagian
koronal gigi.

N.502.54 Uncomplicatedfraktur
akar-mahkota

Fraktur yang melibatkan email, dentin, dan


sementum namun tidak menyebabkan
tereksposnya pulpa.

N.502.54 Complicatedfraktur
akar-mahkota

Fraktur yang melibatkan email, dentin,


sementum, dan juga menyebabkan
tereksposnya pulpa.

Tabel 2.2
Klasifikasi Trauma Pada Tulang Pendukung Gigi
Kode
Trauma
Kriteria
N.502.40 ComminutionSoket Hancur dan tertekannya soket alveolar.
Alveolar Maksila
Kondisi ini ditemukan bersamaan dengan
intrusif dan luksasi lateral gigi.
N.502.60 ComminutionSoket Hancur dan tertekannya soket alveolar.
Alveolar Mandibula Kondisi ini ditemukan bersamaan dengan
intrusif dan luksasi lateral gigi.
N.502.40 Fraktur dinding soketFraktur yang melibatkan
alveolar maksila
bagian fasial atau oral.

dinding soket

N.502.60 Fraktur dinding soketFraktur yang melibatkan


alveolar mandibula bagian fasial atau oral.

dinding soket

N.502.40 Fraktur
prosesusFraktur pada prosesus alveolaris dimana
alveolaris maksila
dapat atau tidak melibatkan soket alveolar.
N.502.60 Fraktur
prosesusFraktur pada prosesus alveolaris dimana
alveolaris mandibula dapat atau tidak melibatkan soket alveolar.
N.502.42 Fraktur Maksila

Fraktur dimana melibatkan maksila atau


mandibula dan juga prosesus alveolaris.
Fraktur tersebut dapat atau tidak melibatkan
soket alveolar.

N.502.61 Fraktur Mandibula

Fraktur dimana melibatkan maksila atau


mandibula dan juga prosesus alveolaris.
Fraktur tersebut dapat atau tidak melibatkan
soket alveolar.

D. Penatalaksanaan Pasien Fraktur Maksilofasial (Fonseca, 2005; Hupp et al.,


2008)
1. Konservatif : immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur.
2. Operatif : dengan pemasangan traksi, pen, screw, plate, wire (tindakan arch
barr)

Survey awal digunakan untuk melihat kondisi sistemik pasien dan prioritas
perawatan pasien berdasarkan luka, tanda-tanda vital, dan mekanisme
terjadinya luka. Advance Trauma Life Support (ATLS) yang dianjurkan
oleh American College of Surgeon ialah perawatan trauma ABCDE.
A: Airway maintenance with cervical spine control/ protection
1.

Menghilangkan fragmen-fragmen gigi dan tulang yang fraktur.

2.

Memudahkan intubasi endotrakeal dengan mereposisi segmen fraktur


wajah untuk membuka jalan nafas oral dan nasofaringeal.

3.

Stabilisasi sementara posisi rahang bawah ke arah posterior dengan


fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan obstruksi jalan
nafas atas.

B: Breathing and adequate ventilation


1.

Stabilisasi sementara posisi fraktur rahang bawah ke arah posterior


dengan fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan obstruksi
jalan nafas pada pasien yang sadar.

C: Circulation with control of hemorrhage


1.

Kontrol perdarahan dari hidung atau luka intraoral untuk meningkatkan


jalan nafas dan mengontrol perdarahan.

2.

Menekan dan mengikat perdarahan pembuluh wajah dan perdarahan di


kepala.

3.

Menempatkan pembalut untuk mengontrol perdarahan dari laserasi


wajah yang meluas dan perdarahan kepala.

D: Disability: neurologic examination


1.

Status neurologis ditentukan oleh tingkat kesadaran, ukuran pupil, dan


reaksi.

2.

Trauma periorbital dapat menyebabkan luka pada okular secara langsung


maupun tdak langsung yang dapat dilihat dari ukuran pupil, kontur, dan

respon yang dapat mengaburkan pemeriksaan neurologis pada pasien


dengan sistem saraf pusat yang utuh.
3.

Menentukan perubahan pupil pada pasien dengan perubahan sensoris


(alkohol atau obat) yang tidak berhubungan dengan trauma intrakranial.

E: Exposure/ enviromental control


1.

Menghilangkan gigi tiruan, tindikan wajah dan lidah.

2.

Menghilangkan lensa kontak.

Penilaian Glasgow Coma Scale (Hupp et al., 2008)


Pada umumnya, Glasgow coma scale (GCS) digunakan untuk memeriksa
kesadaran yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan
neurologis pada saat pertama kali terjadi trauma maksilofasial. Ada tiga
variabel yang digunakan pada skala ini, yaitu respon membuka mata, respon
verbal, dan respon motorik. Nilai GCS ditentukan berdasarkan skor yang
diperoleh berdasarkan tabel berikut.

Tabel 2.3
Glasgow Coma Scale (GCS)
Glasgow Coma Scale
Buka mata spontan

Nilai
4

Buka
mata
bila 3
dipanggil
/
ada
Respon Membuka Mata
rangsangan suara
(E)
Buka mata bila ada 2
rangsang nyeri
Tidak
ada
reaksi 1
dengan
rangsangan
apapun
Komunikasi verbal baik,5
jawaban tepat
Respon Verbal

Bingung, disorientasi 4
waktu, tempat, dan

orang

(V)

Kata-kata tidak teratur

Suara tidak jelas

Tidak
ada
reaksi 1
dengan
rangsangan
apapun
Mengikuti Perintah
6

Respon Motorik
(M)

Dengan
rangsangan
nyeri, dapat mengetahui
tempat rangsangan
Dengan
rangsangan
nyeri, menarik anggota
badan
Dengan
rangsangan
nyeri, timbul reaksi
fleksi abnormal
Dengan
rangsangan
nyeri, timbul reaksi
ekstensi abnormal
Dengan
rangsangan
nyeri, tidak ada reaksi

5
4
3
2
1

Penilaian ini dilakukan terhadap respon motorik (1-6), respon verbal (1-5), dan
respon membuka mata (1-4), dengan interval GCS 3-15. Berdasarkan beratnya,
cedera kepala dikelompokkan menjadi :
(1) Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14-15
(2) Cedera kepala sedang dengan nilai GCS 9-13
(3) Cedera kepala berat dengan nilai GCS sama atau kurang dari 8
Glasgow Coma Scale ditujukan untuk menilai koma pada trauma kepala dan
sebagian tergantung pada respon verbal sehingga kurang sesuai bila diterapkan pada
bayi baru lahir, bayi, dan anak kecil. Oleh karena itu, diajukan beberapa modifikasi
untuk anak. Anak dengan kesadaran normal mempunyai nilai 15 pada GCS, nilai 1214 menunjukkan gangguan kesadaran ringan, nilai 9-11 berkorelasi dengan koma

moderat sedangkan nilai dibawah 8 menunjukkan koma berat. (The Paediatric


Accident and Emergency Research Group, 2008)

Tabel 2.4
Glasgow Coma Scale Modifikasi Untuk Bayi dan Anak
Glasgow Coma Scale
Nilai
Berceloteh,
bersuara,5
berkata-kata
seperti
biasanya

Respon Verbal
(V)

Rewel, Bingung
4
Menangis bila ada 3
rangsangan
nyeri,
berkata-kata tidak jelas
Merintih
bila
ada 2
rangsang
nyeri,
bersuara tidak jelas
Tidak
dengan
apapun

ada
reaksi 1
rangsangan

E. Pemeriksaan Radiografis (Hupp et al., 2008)


Pada pasien dengan trauma wajah, pemeriksaan radiografis diperlukan
untuk memperjelas suatu diagnosa klinis serta untuk mengetahui letak fraktur.
Pemeriksaan radiografis juga dapat memperlihatkan fraktur dari sudut dan
perspektif yang berbeda.
Pemeriksaan radiografis pada mandibula biasanya memerlukan foto
radiografis panoramic view, open-mouth Townes view, postero-anterior view,
lateral oblique view. Biasanya bila foto-foto diatas kurang memberikan informasi
yang cukup, dapat juga digunakan foto oklusal dan periapikal.
Computed Tomography (CT) scans dapat juga memberi informasi bila
terjadi trauma yang dapat menyebabkan tidak memungkinkannya dilakukan
teknik foto radiografis biasa. Banyak pasien dengan trauma wajah sering

menerima atau mendapatkan CT-scan untuk menilai gangguan neurologi, selain


itu CT-scan dapat juga digunakan sebagai tambahan penilaian radiografi.
Pemeriksaan radiografis untuk fraktur sepertiga tengah wajah dapat
menggunakan Waters view, lateral skull view, posteroanterior skull view,
dan submental vertex view.

F. Perawatan Fraktur Maksilofasial (Hupp et al., 2008)


Hasil yang diharapkan dari perawatan pada pasien fraktur maksilofasial
adalah penyembuhan tulang yang cepat, normalnya kembali okular, sistem
mastikasi, dan fungsi nasal, pemulihan fungsi bicara, dan kembalinya estetika
wajah dan gigi. Selama fase perawatan dan penyembuhan, penting untuk
meminimalisir efek lanjutan pada status nutrisi pasien dan mendapatkan hasil
perawatan dengan minimalnya kemungkinan pasien merasa tidak nyaman.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, prinsip dasar pada bedah yang harus
dipersiapkan sebagai penunjuk untuk perawatan fraktur maksilofasial ialah :
reduksi fraktur (mengembalikan segmen-segmen tulang pada lokasi anatomi
semula) dan fiksasi segmen-segmen tulang untuk meng-imobilisasi segmensegmen pada lokasi fraktur. Sebagai tambahan, sebelum tindakan, oklusi
sebaiknya sudah direstorasi dan infeksi pada area fraktur sebaiknya di cegah dan
dihilangkan terlebih dahulu.
Waktu perawatan fraktur tergantung dari banyak faktor. Secara umum,
lebih cepat merawat luka akan lebih baik hasilnya. Penelitian membuktikan
bahwa semakin lama luka dibiarkan terbuka dan tidak ditangani, semakin besar
kemungkinan untuk terjadinya infeksi dan malunion.
Perawatan fraktur dengan menggunakan intermaxillary fixation (IMF)
disebut juga reduksi tertutup karena tidak adanya pembukaan dan manipulasi
terhadap area fraktur secara langsung. Teknik IMF yang biasanya paling banyak
digunakan ialah penggunaan arch bar.

Gambar 2.12 Jenis Teknik Maxillomandibular fixation wiring Arch bar

Perawatan fraktur dengan reduksi terbuka ialah perawatan pembukaan dan


reduksi terhadap area fraktur secara langsung dengan tindakan pembedahan. Reduksi
terbuka dilakukan bila diperlukan reduksi tulang secara adekuat. Indikasi perawatan
reduksi terbuka ialah berpindahnya segmen tulang secara lanjut atau pada
fraktur unfavorable, seperti fraktur angulus, dimana tarikan otot masseter dan
medialis pterygoid dapat menyebabkan distraksi segmen proksimal mandibula.

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA FRAKTUR


MAKSILOFASIALIS

A. Pengkajian
1. Primary Survey
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret
akibat kelemahan reflek batuk. Jika ada obstruksi maka lakukan :
Chin lift / jaw trust
Suction / hisap
Guedel airway
Intubasi trakhea dengan leher ditahan (imobilisasi) pada posisi netral.
b. Breathing
Kelemahan

menelan/

batuk/

melindungi

jalan

napas,

timbulnya

pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi
/aspirasi, whezing, sonor, stidor/ ngorok, ekspansi dinding dada.
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
d. Disability
Menilai kesadaran dengan cepat,apakah sadar, hanya respon terhadap
nyeri atau atau sama sekali tidak sadar.
e. Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera
yang mungkin ada, jika ada kecurigan cedera leher atau tulang belakang,
maka imobilisasi in line harus dikerjakan

2. Secondary Survey
Pengkajian sekunder meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis dapat meggunakan format AMPLE (Alergi, Medikasi, Post
illnes, Last meal, dan Event/ Environment yang berhubungan dengan
kejadian). Pemeriksaan fisik dimulai dari kepala hingga kaki dan dapat
pula ditambahkan pemeriksaan diagnostik. Untuk memperoleh pengkajian
yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan pendekatan PQRST jika
pasien merasakan nyeri yang sangat kuat, yaitu :
P

: Paliatif (yang memberatkan / meringankan penyakit)

: Qualitas (seberapa besar keluhan tersebut)

: Regio (daerah/lokasi yang dirasakan)

: Skala ( tingkat kegawatan dari pada keluhan tersebut)

:Timing (keluhan yang dirasakan bagaimana contoh mendadak,


selang-seling

3. Riwayat penyakit, Keluhan Utama dan Pemeriksaan Klinis (Fonseca,


2005; Hupp et al., 2008)
Lima pertanyaan yang harus diketahui untuk mengetahui riwayat penyakit
pasien penderita fraktur maksilofasial ialah:
1. Bagaimana kejadiannya?
2. Kapan kejadiannya?
3. Spesifikasi luka, termasuk tipe objek yang terkena, arah terkena, dan alat
yang kemungkinan dapat menyebabkannya?
4. Apakah pasien mengalami hilangnya kesadaran?
5. Gejala apa yang sekarang diperlihatkan oleh pasien, termasuk nyeri,
sensasi, perubahan penglihatan, dan maloklusi?
Evaluasi menyeluruh pada sistem, termasuk informasi alergi, obat-obatan,
imunisasi tetanus terdahulu, kondisi medis, dan pembedahan terdahulu yang
pernah dilakukan.

Jejas pada sepertiga wajah bagian atas dan kepala biasanya menimbulkan
keluhan sakit kepala, kaku di daerah nasal, hilangnya kesadaran, dan mati rasa
di daerah kening.
Jejas pada sepertiga tengah wajah menimbulkan keluhan perubahan
ketajaman penglihatan, diplopia, perubahan oklusi, trismus, mati rasa di
daerah paranasal dan infraorbital, dan obstruksi jalan nafas.
Jejas pada sepertiga bawah wajah menimbulkan keluhan perubahan oklusi,
nyeri pada rahang, kaku di daerah telinga, dan trismus.

Gambar 2.8

Perubahan Oklusi dan Laserasi Gingiva Serta Mukosa

Pemeriksaan klinis pada struktur wajah terpenuhi setelah seluruh


pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan jantung dan paru, fungsi neurologis,
dan area lain yang berpotensi terkena trauma, termasuk dada, abdomen, dan
area pelvis.
Evaluasi pada wajah dan kranium secara hati-hati untuk melihat adanya
trauma seperti laserasi, abrasi, kontusio, edema atau hematoma. Ekimosis di
periorbital, terutama dengan adanya perdarahan subkonjungtiva, merupakan
sebagai indikas dari adanya fraktur zigomatikus kompleks dan fraktur rima
orbita.

Pemeriksaan neurologis pada wajah dievaluasi secara hati-hati dengan


memeriksa penglihatan, pergerakan ekstraokular, dan reaksi pupil terhadap
cahaya.
Pemeriksaan mandibula dengan cara palpasi ekstraoral semua area inferior
dan lateral mandibula serta sendi temporomandibular. Pemeriksaan oklusi
untuk melihat adanya laserasi pada area gingiva dan kelainan pada bidang
oklusi. Untuk menilai mobilisasi maksila, stabilisasi kepala pasien diperlukan
dengan menahan kening pasien menggunakan salah satu tangan. Kemudian
ibu jari dan telunjuk menarik maksila secara hati-hati untuk melihat mobilisasi
maksila.

Gambar Pemeriksaan Mobilisasi Maksila (Hupp et al., 2008)


Pemeriksaan regio atas dan tengah wajah dipalpasi untuk melihat adanya
kerusakan di daerah sekitar kening, rima orbita, area nasal atau zigoma. Penekanan
dilakukan pada area tersebut secara hati-hati untuk mengetahui kontur tulang yang
mungkin sulit diprediksi ketika adanya edema di area tersebut. Untuk melihat adanya
fraktur zigomatikus kompleks, jari telunjuk dimasukan ke vestibula maksila
kemudian palpasi dan tekan kearah superior lateral.

B. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa Pre Operasi :
1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan pada tonjolan tulang
3. Hambatan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, program pembatasan
gerak
Diagnosa Post Operasi :
1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Risiko Infeksi ditandai dengan factor risiko prosedur pembedahan
3. Risiko cedera ditandai dengan factor risiko anestesi

C. Intervensi
Pre Operasi
No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

(NOC)
Nyeri Akut berhubungan dengan Setelah

dilakukan

agens cedera fisik (mis., abses, selama

...x..

asuhan

jam

Intervensi
(NIC)
keperawatan Analgesic Administration

diharapkan

nyeri

amputasi, luka bakar, terpotong, berkurang dengan kriteria hasil :

1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan


derajat nyeri sebelum pemberian obat

mengangkat berat, prosedur bedah, NOC:

2. Cek riwayat alergi terhadap obat

trauma, olahraga berlebihan)

3. Pilih analgesik yang tepat atau kombinasi

Pain Level
1. Melaporkan gejala nyeri berkurang
2. Melaporkan lama nyeri berkurang
3. Tidak tampak ekspresi wajah
kesakitan
4. Tidak gelisah
5. Respirasi dalam

dari

analgesik

(narkotik,

(dewasa: 16-20 kali/menit)

normal

dari

satu

jika

diperlukan
4. Tentukan

batas

lebih

analgesik

yang

non-narkotik,

atau

diberikan
NSAID)

berdasarkan tipe dan keparahan nyeri


5. Tentukan rute pemberian analgesik dan
dosis untuk mendapat hasil yang maksimal
6. Pilih rute IV dibandingkan rute IM untuk
pemberian analgesik secara teratur melalui
injeksi jika diperlukan

7. Evaluasi efektivitas pemberian analgesik


setelah
observasi

dilakukan

injeksi.

efek

samping

Selain

itu

pemberian

analgesik seperti depresi pernapasan, mual


muntah, mulut kering dan konstipasi.
8. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali
2

Kerusakan

integritas

kulit Setelah

berhubungan dengan tekanan pada selama


tonjolan tulang

dilakukan
...x..

asuhan

jam

keperawatan NIC

diharapkan

dapat

menjaga integritas kulit dengan kriteria

Pressure Management
1. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan

hasil :
NOC :
Tissue Integrity : Skin and Mucous

kering
2. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap

dua jam sekali


3. Monitor kulit akan adanya kemerahan
4. Monitor aktivitas dan mobilasasi pasien
Hemodyalis akses
5. Monitor status nutrisi pasien
1. Integritas kulit yang baik bisa (sensasi,
Insision site care
elastisitas,
temperature,
hidrasi, 1. Membersihkan, memantau dan meningkatkan
Membranes,

pigmentasi)
2. Tidak ada luka/lesi pada kulit
3. Perfusi dengan baik
4. Mampu
melindungi
kulit

proses penyembuhan pada luka yang ditutup


dan

mempertahankan kelembaban kulit dan

dengan jahitan, klip atau straples


2. Monitor proses kesembuhan area insisi
3. Bersihkan area sekitar jahitan atau staples,
menggunakan lidi kapas steril

perawatan alami

4. Gunakan preparat antiseptic, sesuai program


5. Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai
atau biarkan luka tetap terbuka (tidak dibalut)

Hambatan
berhubungan

mobilisasi
dengan

program pembatasan gerak

fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan


nyeri, selama ... x ... jam, diharapkan klien
meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi

sesuai program
NIC :
Bantuan Perawatan Diri : Berpindah

dengan kriteria hasil:

1. Ajarkan dan bantu pasien dalam proses

NOC :

berpindah dari suatu tempat ke tempat lain


2. Ajarkan teknik ambulansi dan teknik

Mobilitas

berpindah yang aman


3. Bantu pasien selama proses berpindah,

1. Menunjukkan kemampuan bergerak

gunakan sabuk penyokong bila perlu

secara bertujuan dalam lingkungan


sendiri secara mandiri dengan atau
tanpa alat bantu
2. Mampu memanfaatkan kemampuan otot
untuk bekerja bersama secara volunteer
dalam menghasilkan gerakan yang
bertujuan
3. Menunjukkan kemampuan tulang untuk
menyokong tubuh dan memfasilitasi
pergerakan

Terapi Latihan Fisik ; Mobilitas Sendi


1. Kaji kebutuhan belajar pasien
2. Ajarkan gerakan-gerakan sederhana kepada
pasien untuk menggerakkan daerah
persendian

Pengaturan Posisi
1. Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana

postur dan mekanika tubuh yang benar saat


melakukan aktivitas serta cara penggunaan
2.
3.
4.
5.

alat bantu mobilitas


Bantu mengatur posisi pasien
Ubah posisi pasien minimal setiap dua jam
Berikan penguatan positif selama aktivitas
Awasi seluruh upaya mobilitas pasien

Post Operasi
No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

(NOC)
(NIC)
Nyeri Akut berhubungan dengan agens Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Analgesic Administration
cedera fisik (mis., abses, amputasi, ...x.. jam diharapkan nyeri berkurang
luka bakar, terpotong, mengangkat dengan kriteria hasil :
berat,

prosedur

olahraga berlebihan)

bedah,

trauma, NOC:
Pain Level
1. Melaporkan gejala nyeri berkurang
2. Melaporkan lama nyeri berkurang

Intervensi

1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan


derajat nyeri sebelum pemberian obat
2. Cek riwayat alergi terhadap obat
3. Pilih analgesik yang tepat atau kombinasi dari
analgesik lebih dari satu jika diperlukan
4. Tentukan analgesik yang diberikan (narkotik, non-

3. Tidak

tampak

kesakitan
4. Tidak gelisah
5. Respirasi dalam

ekspresi

wajah

narkotik, atau NSAID) berdasarkan tipe dan


keparahan nyeri

batas

5. Tentukan rute pemberian analgesik dan dosis

normal

untuk mendapat hasil yang maksimal

(dewasa: 16-20 kali/menit)

6. Pilih rute IV dibandingkan rute IM untuk


pemberian analgesik secara teratur melalui injeksi
jika diperlukan
7. Evaluasi efektivitas pemberian analgesik setelah
dilakukan injeksi. Selain itu observasi efek
samping pemberian analgesik seperti depresi
pernapasan, mual muntah, mulut kering dan
konstipasi.
8. Monitor
2

Risiko Infeksi

vital

sign

sebelum

dan

sesudah

selama .... x .... jam, diharapkan infeksi tidak

pemberian analgesik pertama kali


NIC Label :
Infection Control (Kontrol Infeksi)

terjadi dengan kriteria hasil :

1.

Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

NOC

2.

Pertahankan teknik isolasi.

3.

Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan.

4.

Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan

Setelah diberikan asuhan keperawatan

Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control

kperawatan.
5.

Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung.

6.
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. Jumlah leukosit dalam batas normal

Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan


alat.

7.

Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing


sesuai dengan petunjuk umum.

Infection Protection (Proteksi terhadap Infeksi)

Risiko Cedera

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama .... x .... jam, diharapkan tidak terjadi
cedera dengan kriteria hasil :
NOC :

1.

Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.

2.

Monitor hitung granulosit, WBC.

3. Pertahankan teknik isolasi k/p.


NIC:
Environmental Management: Safety
1. Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien
2. Jauhkan pasien dari lingkungan yang berbahaya
3. Pasang safety rail pada bed pasien

Fall Prevention Behaviour


Personal safety behavior
1. Pada bed pasien terpasang safety rail
2. Jauhkan pasien dari tindakan berisiko
seperti api, benda tajam, dan lain
sebagainya

Fall Prevention
1. Kaji kelemahan kognitif/fisik pasien yang dapat
meningkatkan potensi untuk jatuh
2. Kaji perilaku dan factor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi risiko jatuh
3. Edukasi anggota keluarga tentang factor-faktor
yang dapat menyebabkan pasien jatuh dan cara

keluarga menangani kejadian tersebut

DAFTAR PUSTAKA
Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Diagnosa NANDA
NIC NOC jilid 3. Jogjakarta: Mediaction
Armis, dr., Trauma Sistema Muskuloskeletal, FK-UGM: Yogyakarta.
Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th Edition.
United States of America: Elsevier.
Mithcell, R.N. (2008). Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. Jakarta:EGC
Moorhead, Sue. et al. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC). Fifth Edition.
United States of America: Elsevier.
Prasetiyono A. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. Indonesian journal of
oral and maxillofacial surgeons. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50.
Sjamsuhidajat & Wim De Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC: Jakarta.