Anda di halaman 1dari 19

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

JAKARTA
PRESENTASI KASUS
FIMOSIS
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Departemen Ilmu Bedah
Rumah Sakit Tentara TK II dr. Soedjono, Magelang
Pembimbing:
Kolonel dr. Dadiya, Sp.B
Disusun Oleh:
Ita Masitoh Ardi
1420221158

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RUMAH SAKIT TENTARA TK II DR. SOEDJONO, MAGELANG
PERIODE 17 OKTOBER23 DESEMBER 2016

FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA


RUMAH SAKIT TENTARA TK II DR. SOEDJONO, MAGELANG
PERIODE 17 OKTOBER23 DESEMBER 2016
LEMBAR PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS
FIMOSIS
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Departemen Ilmu Bedah
Rumah Sakit Tentara TK II dr. Soedjono, Magelang

Disusun Oleh:
Ita Masitoh Ardi
1420221158

Telah Disetujui Oleh Pembimbing

Pembimbing : Kolonel dr. Dadiya, Sp.B


Tanggal

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulisan presentasi kasus ini dapat diselesaikan. Presentasi
Kasus ini berjudul Fimosis.
Penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak sehingga
penyusunan Presentasi Kasus ini dapat berjalan dengan lancar dan dengan rendah hati
disampaikan rasa terima kasih kepada Kolonel dr. Dadiya, Sp.B sebagai pembimbing
penulis dalam penyusunan presentasi kasus ini.
Penulis menyadari bahwa hasil laporan yang dituliskan di dalam Presentasi
Kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mohon maaf apabila
terdapat banyak kekurangan pada pada laporan ini. Untuk itu, penulis mengharapkan
adanya kritik dan saran yang membangun ke arah penyempurnaan dalam
penulisannya dan berharap kiranya presentasi kasus ini dapat bermanfaat.
Magelang, November 2016

Penulis

BAB II
LAPORAN KASUS
II.1 Identitas Pasien
Nama

: An. DSW

Usia

: 3 tahun 9 Bulan

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Kedungdari, Magelang

Agama

: Islam

Tanggal Masuk RS

: 21 November 2016

Tanggal Keluar RS

: 23 November 2016

Bangsal

: Edelwais, kamar B2

II.2 Anamnesis (Subyektif)


A. Keluhan utama
Pasien datang dengan keluhan ujung penis menggelembung.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik Bedah RST dr. soedjono pada tanggal 14
November 2016 dengan keluhan ujung penis pasien menggelembung pada saat buang
air kecil. Keluhan tersebut sudah disadari oleh orang tua pasien sejak sebulan yang
lalu, keluhan hilang timbul. Orang tua pasien juga memperhatikan aliran urin pasien
mengecil sejak seminggu yang lalu. Keluhan kesulitan BAK (-), nyeri dan perih saat
BAK (-), ujung penis yang bengkak dan kemerahan (-), urin yang bercampur darah
atau nanah (-) demam (-).
Keluhan sakit ditempat lain tidak ada. Riwayat trauma (-), setelah pasien
buang air kecil pasien sering tidak membersihkan penisnya dan langsung memakai
celana.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien menderita vitiligo sejak setahun yang lalu
Penyakit bawaan : Disangkal
Asma

: Disangkal

Alergi

: Disangkal

Operasi

: Disangkal

Sesak nafas, mudah lelah, dan kebiruan: Disangkal


E. Riwayat Penyakit Keluarga
Hipertensi

: Disangkal

DM

: Disangkal

Trauma

: Adik pasien pernah tertabrak motor dan cedera pada

bagian kepala.
Operasi

: Disangkal

Alergi

: Disangkal

F. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah pasien umum. Ayah dan ibu pasien bekerja sebagai
wiraswasta.
II.3 Pemeriksaan Fisik (Obyektif)
Keadaan umum

: Sakit berat

Kesadaran

: Compos mentis/ GCS: E4 V5 M6

Vital sign

- Tekanan darah : 120/80


- Nadi
: 98x/mnt
- RR
: 20x/mnt
- SpO2
: 97%
- Suhu
: 36C
Status generalis
- Kepala/ leher:
o Normocephal, terdapat bercak hipopigmentasi pada

region frontal.
Mata:

Konjungtiva

Jejas

(-/-),

Hematom

(-/-),

Konjungtiva Anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)


o

Pelpebra

Pupil

Refleks cahaya

: Edema (-/-), Hematom (-/-)


: bulat, isokori, 3mm/3mm
:

langsung

+/+,

tidak

langsung +/+

Hidung: Bentuk normal, deviasi hidung (-), sekret (-), jejas (-)
Telinga: Betuk normal, jejas (-), sekret (-)
Mulut : Mukosa hiperemis (-), jejas pada rongga mulut (-)
Leher : Jejas (-), faring hiperemis (-), pembesaran KGB (-),
deviasi trakea (-)
Thorax:
o Paru
Inspeksi

: Simetris, retraksi dada (-/-), jejas

(-)
Palpasi

taktil fremitus (n/n)


Perkusi
: Sonor
Auskultasi
: Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing

(-/-)
Jantung
Inspeksi
Palpasi

: Pengembangan paru yang tertinggal (-),

: Ictus cordis tidak tampak


: Ictus cordis teraba, ictus cordis tidak

kuat angkat, terdapat di ICS 5 linea midclavicularis


sinistra
Perkusi
: tidak ada pelebaran batas jantung
Auskultasi
: BJ1- BJ2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:
o Inspeksi
: Jejas (-), sikatrik (-), massa (-)
o Auskultasi
: Bising usus (+) normal
o Palpasi
: Supel, nyeri tekan (-)
o Perkusi
: Timpani (+)
Ekstremitas:
o Superior
:
Akral dingin (-/-)
Sianosis (-/-)
Capillary refill <2 detik
Terdapat edema dan deformitas pada regio antebrachii
sinistra.

Inferior
:
Akral dingin (-/-)
Sianosis (-/-)
Oedem (-/-)
Capillary refill <2 detik
Status lokalis:
Organ genitalia : tidak tampak jejas, edem dan kemerahan

(-), tampak Ostium Uretra Eksternum tertutup prepusium,


prepusium sulit diretraksi (+). Skrotum dalam batas normal,
testis +/+.

II.4 Assesment
Fimosis
DD: Parafimosis
Balanopostitis
II.5 Planning
Planning Diagnosis
- Pemeriksaan laboratorium
o Darah lengkap (WBC, RBC, HB, HT, PLT, MCV, MCH, MCHC)
o CT/BT

Planning terapi:
o Inf RL 16 TPM
o Inj Ketorolac
o Inj Ceftriaxon
o Pro Sirkumsisi

IV
IV

3x30 mg
2x250mg

Planning edukasi:
o Rencana operasi (Pro Sirkumsisi)
o Puasa pro op mulai pukul 24.00 WIB
Planning monitoring:

o Monitor keluhan pasien dan keadaan umum pasien


Hasil laboratorium tanggal 21 November 2016
Parameter
WBC
Lym
Mid
Gra
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDW
PLT

Laporan Operasi

Hasil
6,0
4,3
0,9
6,3
4,84
13,2
36,4
75,0
27,3
36,4
15,4
267

Normal Range
4,0-10,0
1,0-5,0
0,1-1,0
2,0-8,0
3,00-6,00
12,0-16,0
35,0-45,0
81,0-101,0
27,0-33,0
31,0-35,0
10,0-16,0
150-400

Follow Up (22 November 2016)


Subyektif

Obyektif

Assesment

Planning

Nyeri pada Vital sign:


bekas
Nadi: 85x/mnt
operasi
Respirasi:
berkurang
20x/menit
Nyeri BAK
Suhu: 36 C
(-)
Status Lokalis :
Demam (-)
luka dibiarkan
terbuka ditutup
sehelai kassa.
Perdarahan (-),
edem (-)

Fismosis Post
Operasi
Sirkumsisi
H+1

Inf RL 16 tpm
Parasetamol syr
250mg
Inj Ceftriaxone 2x
250mg
Topikal
Gentamicin

Follow Up 23 November 2016


Subyektif
Obyektif
Nyeri pada Vital sign:
bekas
Nadi: 85x/mnt
operasi
Respirasi:
berkurang
20x/menit
Nyeri BAK
Suhu: 36 C
(-)
Status Lokalis :
Demam (-)
luka dibiarkan
terbuka ditutup
sehelai kassa.
Perdarahan (-),
edem (-)

Assesment
Fismosis Post
Operasi
Sirkumsisi
H+2

Planning
Inf RL 16 tpm
Parasetamol syr
250mg
Inj Ceftriaxone 2x
250mg
Topikal
Gentamicin
BLPL

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI PENIS
Penis terdiri dari tiga komponen utama : bagian distal (glans atau kepala),
bagian tengah (corpus atau shaft) dan bagian proksimal (root). Pada bagian kepala
terdapat glans dan sulkus koronaria, yang ditutup oleh foreskin (virtual sac),
permukaan bagian dalam dilapisi oleh membran halus. Glans bersifat kenyal, dan
berbentuk konus, serta terdiri dari meatus, corona dan frenulum. Meatus urethralis
vertikal dan berlokasi pada apeks, dimana muncul frenulum, . glans corona
merupakan lipatan lingkaran pada dasar glans. Pada permukaan glans terdapat empat
lapisan anatomi: lapisan membran mukosa, termasuk epitelium dan lamina propria,
korpus spongiosum dan korpora kavernosa. Tunika albuginea memisahkan kedua
struktur ini, penile atau pendulous urethra terletak ventral didalam korpus dan glans;
sementara korpus spongiosum yang erektil mengelilinginya.Pemotongan transversal
dari shaft akan menampilkan kulit, dartos dan fascia ganda yang disebut dengan
penile fascia, albuginea dan korpus kavernosum.
Komponen anatomi utama dari penis adalah korpus, glans dan preputium.
Korpus terdiri dari korpora kavernosa (jaringan rongga vaskular yang dibungkus oleh

tunika albuginea) dan di bagian inferior terdapat korpus spongiosum sepanjang uretra
penis. Seluruh struktur ini dibungkus oleh kulit, lapisan otot polos yang dikenal
sebagai dartos, serta lapisan elastik yang disebut Buck fascia yang memisahkan penis
menjadi dorsal (korpora kavernosa) dan ventral (korpus spongiosum).
Kulit glans penis tersusun oleh pelapis epitel tatah berlapis tanpa keratin
sebanyak lima hingga enam lapis, setelah sirkumsisi bagian ini akan membentuk
keratin. Glans dipisahkan dengan korpus penis oleh balanopreputial sulcus pada
aspek dorsal dan lateral dan oleh frenulum pada regio ventral. Kelenjar sebaseus pada
penis dikenal sebagai kelenjar Tyson dan bertanggungjawab atas produksi smegma.
Uretra terbagi atas tiga bagian : prostatik (segmen proksimal pendek yang
dikelilingi oleh prostat), membranosa atau bulbomembranosa (memanjang dari kutub
bawah prostat hingga bulbus korpus spongiosum) dan penil (yang melewati korpus
spongiosum). Secara histopatologi, pelapis epitel uretra adalah tipe transisional di
bagian proksimal (prostatik), stratified squamous pada bagian distal yang
berhubungan dengan fossa navicularis dan stratified atau epitel pseudostratified
kolumnar bersilia pada kanal. Metaplasia skuamosa pada epitel umumnya disebabkan
oleh pengobatan dengan preparat estrogen. Struktur kelenjar yang berhubungan
dengan uretra adalah kelenjar intraepitelial dari lakuna Morgagni (kelenjar intraepitel
silindris selapis), Kelenjar Littre (Kelenjar musinus tubuloacinar sepanjang korpus
spongiosum), dan bulbouretral atau kelenjar Cowper (mucous acinar pada profunda
membran uretra).
Drainase limfatik penis terdapat pada nodus superfisial dan profunda. Di
bagian sentral beranastomosis diantara pembuluh-pembuluh limfe yang menghasilkan
drainase bilateral.

FIMOSIS
Definisi
Fimosis adalah suatu kelainan dimana prepusium penis yang tidak dapat di
retraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. Fimosis dialami oleh
sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adhesi alamiah antara prepusium
dengan glans penis.1,4
Etiologi
Fimosis dapat timbul kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan tingkat
higienitas alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit
preputium (balanoposthitis kronik)3, atau penarikan berlebihan kulit preputium
(forceful retraction)8. Pada fimosis kongenital umumya terjadi akibat terbentuknya
jaringan parut di prepusium yang biasanya muncul karena sebelumnya terdapat
balanopostitis. Apapun penyebabnya, sebagian besar fimosis disertai tanda-tanda
peradangan penis distal.3
Sedangkan fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir biasanya terjadi karena
ruang di antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini
menyebabkan prepusium menjadi melekat pada glans penis, sehingga sulit ditarik ke
arah proximal. Apabila stenosis atau retraksi tersebut ditarik dengan paksa melewati
glans penis, sirkulasi glans dapat terganggu hingga menyebabkan kongesti,
pembengkakan, dan nyeri distal penis atau biasa disebut parafimosis3.

Epidemiologi
Berdasarkan data epidemiologi, fimosis banyak terjadi pada bayi atau anakanak hingga mencapai usia 3 atau 4 tahun. Sedangkan sekitar 1-5% kasus terjadi
sampai pada usia 16 tahun.8

Patogenesis
Normalnya hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris
yang dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul didalam prepusium dan
perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans penis. Ereksi penis yang terjadi
secara berkala membuat prepusium menjadi retraktil dan dapat ditarik ke proksimal.
Pada saat usia 3 tahun, 90% prepusium sudah dapat di retraksi.1
Pada kasus fimosis lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga tidak
bisa ditarik mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat. Kadang hanya
tersisa lubang yang sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini, akan terjadi
fenomena balloning dimana prepusium mengembang saat berkemih karena desakan
pancaran urine yang tidak diimbangi besarnya lubang di ujung prepusium. Bila
fimosis menghambat kelancaran berkemih, seperti pada balloning maka sisa-sisa urin
mudah terjebak di dalam prepusium. Adanya kandungan glukosa pada urine menjadi
pusat bagi pertumbuhan bakteri. Karena itu, komplikasi yang paling sering dialami
akibat fimosis adalah infeksi saluran kemih (ISK). ISK paling sering menjadi indikasi
sirkumsisi pada kasus fimosis7.
Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu BAK yang akan
mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran-kotoran pada glans penis sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi pada daerah glans penis dan prepusium (balanitis)
yang meninggalkan jaringan parut shingga prepusium tidak dpat ditarik kebelakang 7.

Pada lapisan dalam prepusium terdapat kelenjar sebacea yang memproduksi


smegma. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan prepusium. Letak kelenjar
ini di dekat pertemuan prepusium dan glans penis yang membentuk semacam
lembah di bawah korona glans penis (bagian kepala penis yang berdiameter paling
lebar). Di tempat ini terkumpul keringat, debris/kotoran, sel mati dan bakteri. Bila
tidak terjadi fimosis, kotoran ini mudah dibersihkan. Namun pada kondisi fimosis,
pembersihan tersebut sulit dilakukan karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke
belakang. Bila yang terjadi adalah perlekatan prepusium dengan glans penis, debris
dan sel mati yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan.7
Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini
terjadi

peradangan

pada

permukaan

preputium

dan

glans

penis.

Terjadi

pembengkakan kemerahan dan produksi pus di antara glans penis dan prepusium.
Meski jarang, infeksi ini bisa terjadi pada diabetes.3
Macam-macam Fimosis
a)

Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir sebenarnya

merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja.Kulit


preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang
pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan
faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara
glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium
terpisah dari glans penis.
b)

Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis)

timbul kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene) alat
kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful
retraction) pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan
ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.
Manifestasi Klinis

Fimosis menyebabkan gangguan aliran urin berupa sulit kencing, pancaran


urine mengecil, menggelumbungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan
menimbulkan retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan
terjadinya infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau
infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopositis).1,3
Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orang tuanya karena ada benjolan
lunak di ujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma di
dalam sakus prepusium penis. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa prepusium dan
glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada di dalamnya1.
Tanda dan Gejala
a)

Kulit penis anak tidak bisa ditarik ke arah pangkal ketika akan dibersihkan.

b)

Anak mengejan saat buang air kecil karena muara saluran kencing diujung
tertutup. Biasanya ia menangis dan pada ujung penisnya tampak
menggembung.

c)

Air seni yang tidak lancar, kadang-kadang menetes dan memancar dengan
arah yang tidak dapat diduga.

d)

Kalau sampai timbul infeksi, maka si anak akan mengangis setiap buang air
kecil dan dapat pula disertai demam.

e)

Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat


mulai miksi yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut
disebabkan oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam
ruangan yang dibatasi oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui
muaranya yang sempit.

f)
g)

Iritasi pada penis


Fimosis kongenital seringkali menimbulkan fenomena ballooning, yakni
kulit preputium mengembang saat berkemih karena desakan pancaran air seni
tidak diimbangi besarnya lubang di ujung preputium. Fenomena ini akan
hilang dengan sendirinya, dan tanpa adanya fimosis patologik, tidak selalu
menunjukkan adanya hambatan (obstruksi) air seni. Selama tidak terdapat
hambatan aliran air seni, buang air kecil berdarah (hematuria), atau nyeri

preputium, fimosis bukan merupakan kasus gawat darurat.


h)

Jika fimosis menyebabkan hambatan aliran air seni, diperlukan tindakan


sirkumsisi (membuang sebagian atau seluruh bagian kulit preputium) atau
teknik bedah plastik lainnya seperti preputioplasty (memperlebar bukaan
kulit preputium tanpa memotongnya). Indikasi medis utama dilakukannya
tindakan sirkumsisi pada anak-anak adalah fimosis patologik.

Tata Laksana
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada
penderita fimosis, karena akan menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung
prepusium sebagai fimosis sekunder. Fimosis yang disertai balanitis xerotika
obliterans dapat dicoba diberikan salep deksametasone 0,1% yang dioleskan 3 atau 4
kali. Diharapkan setelah pemberian selama 6 minggu, prepusium dapat retraksi
spontan. 1
Bila

fimosis

tidak

menimbulkan

ketidaknyamanan

dapat

diberikan

penatalaksanaan non-operatif, misalnya seperti pemberian krim steroid topikal yaitu


betamethasone selama 4-6 minggu pada daerah glans penis. 7

Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya ujung


prepusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis
merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balanitis atau postitis
harus diberi antibiotika dahulu sebelum dilakukan sirkumsisi. 1
Fimosis yang harus ditangani dengan melakukan sirkumsisi bila terdapat
obstruksi dan balanopostitis. Bila ada balanopostitis, sebaiknya dilakukan sayatan
dorsal terlebih dahulu yang disusul dengan sirkumsisi sempurna setelah radang
mereda.
Secara singkat teknik operasi sirkumsisi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Setelah penderita diberi narkose, penderita di letakkan dalam posisi supine.
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan antiseptik kemudian dipersempit dengan
linen steril. Preputium di bersihkan dengan cairan antiseptik pada sekitar glans penis.
Preputium di klem pada 3 tempat. Prepusium di gunting pada sisi dorsal penis sampai
batas corona glandis. Dibuat teugel pada ujung insisi. Teugel yang sama dikerjakan
pada frenulum penis. Preputium kemudian di potong melingkar sejajar dengan korona
glandis. Kemudian kulit dan mukosa dijahit dengan plain cut gut 4.0 atraumatik
interupted. 5
Hati- hati komplikasi operasi pada sirkumsisi yaitu perdarahan. Pasca bedah
penderita dapat langsung rawat jalan, diobservasi kemungkinan komplikasi yang
membahayakan jiwa penderita seperti perdarahan.Pemberian antibiotik dn analgetik. 5
Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat fimosis, yaitu :
Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih
Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian terkena infeksi
sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.
Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
Penarikan prepusium secara paksa dapat berakibat kontriksi dengan rasa nyeri dan
pembengkakan glans penis yang disebut parafimosis.
Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis.
Timbul infeksi pada saluran air seni (ureter) kiri dan kanan, kemudian menimbulkan
kerusakan pada ginjal.

Fimosis merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker penis.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Purnomo, Basuki B. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ketiga. Malang : Fakultas


Kedokteran Universitas Brawijaya. 2011 : 14, 236-237

2.

Price, SW dan Wilson, LM. Patofisiologi. Edisi 6. Volume 1. Jakarta : EGC. 2005

3.

Robbins dkk. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 2. Hariawati Hartono. Jakarta:
EGC. 2004

4.

Rudolph. Abraham M. Kelainan Urogenital. A. Samik Wahab, Sugiarto. Buku Ajar


Pediatri Rudolph. Edisi 20. Volume 2. Jakarta : EGC. 2006

5.

Sjamsuhidajat R,dan Jong W.D. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004

6.

Snell, Richard S. Anatomi Klinik Snell.Ed 6. Jakarta : EGC. 2006

7.

Santucci, Richard A. Phimoss, Adult Circumcision, and Buried Penis, available at


http://emedicine.medscape.com/article/442617-treatment.