Anda di halaman 1dari 70

BAB I.

PENDAHULUAN

Timah merupakan suatu logam yang telah lama memegang peranan penting
dalam kehidupan manusia. Sejak abad ke- 10 sebelum Masehi, orang telah
mengenal perunggu berupa hasil paduan antara logam timah dan tembaga 1 yang
dipakai untuk berbagai macam keperluan. Dalam Kitab Injil perjanjian lama,
timah disebut sebagai logam yang bernilai dan disebut dengan nama Bedil,
sedangkan pengarang India kuno menyebut timah dengan nama Trapu ,2,3
sekitar akhir abad ke- 12 ditemukan cadangan mineral timah yang terbesar di
Eropa.4,5
Timah murni dihasilkan pertama kali di Cina dan Jepang sekitar 1800 tahun
SM. Pada jaman Kerajaan Romawi, timah telah digunakan baik sebagai
perunggu ataupun bahan lainnya, misalnya untuk melapisi bejana tembaga. Pada
kurun waktu tersebut sebagian besar timah yang digunakan berasal dari
daerah Cornwall, Inggris dan berlanjut sampai abad ke 19. Timah dan
paduannya juga telah memberi ciri bagi berkembangnya beberapa daerah
secara geografis yaitu Cina, Indochina, Indonesia, India, Timur Tengah, Afrika
Utara dan Eropa.
Belum diperoleh bukti sejarah yang menunjukkan cara tertua untuk
mengekstraksi logam timah. Di Cornwall, Inggris, dapat dibuktikan bahwa
timah didapat dari bijih murni yang dilebur menggunakan kayu bakar dalam
lubang tanah, dan kemudian dilakukan pengendapan. Setelah cadangan bahan
baku di Eropa makin menipis dan mulai tersedianya armada angkutan laut,
bahan baku yang berasal dari benua lain menjadi sumber utama.
Pertambangan timah di Indonesia dimulai dalam abad ke 18. Sejak 1815,
penambangan di Bangka dilaksanakan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Penambangan di Belitung dimulai pada 1815, dan sembilan tahun kemudian
Billiton Maatschappij memperoleh konsesinya. Perusahaan ini kemudian
meluaskan usahanya ke P. Singkep melalui anak perusahaannya, Singkep Tin
Maatschappij, yang pada 1887 memperoleh konsesi untuk penambangan timah
di Singkep dan daerah lapas pantainya. Semula Billiton Maatschappij
merupakan pemegang konsesi tunggal, tetapi sejak 1923 usaha penambangan
diteruskan oleh NV Gemeenschappelijke mijnbouwmaatschappij Billiton yang
merupakan perkongsian antara perusahaan tersebut dengan pemerintah;
dengan terbentuknya perusahaan baru itu Singkep Tin Maatschappij-pun
menukar namanya jadi Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (SITEM) .

Selama Perang Dunia ke II, penambangan timah dilaksanakan oleh perusahaan


Jepang
Mitsubishi
Kogyoga
Kaisha.
Setelah
itu
kegiatan
NV
Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton dilanjutkan lagi hingga
1953, yaitu pada saat tahun konsesinya berakhir. Perpanjangan konsesi
diperoleh untuk selama jangka waktu lima tahun berikutnya.
Dalam 1958 semua kegiatan pertambangan timah berada di bawah pengawasan
dan ketatalaksaan Biro Urusan Perusahaan Tambang Negara (BUPTAN). Tiga
tahun kemudian, 1961, dibentuklah Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang
Timah Negara. Badan ini mengelola semua kegiatan pertambangan timah di
Pulau Bangka, Belitung dan Singkep. Melalui reorganisasi yang dilaksanakan
pada 1968, kegiatan pertambangan timah tercakup dalam sebuah perusahaan
negara penambangan timah, yaitu PN Timah. 6
Di Indonesia endapan timah tersebar di wilayah Pulau Bangka dan Belitung.
Jumlah cadangan timah Indonesia menurut United States Geological Survey
(USGS) adalah 800.000 ton. Penambangan timah dilakukan oleh 2 perusahaan
besar, yaitu PT Timah Tbk yang merupakan perusahaan BUMN dan PT Koba Tin
yang merupakan perusahaan swasta. Saat ini PT Timah melakukan penambangan
timah dilepas pantai sekitar P.Bangka dan Belitung dengan menggunakan kapal
keruk, sedangkan kegiatan penambangan timah darat oleh PT Koba Tin
dilakukan di P.Bangka dengan menggunakan alat-alat mekanis atau giant
monitor.
Sejak penetapan otonomi daerah, pemerintah daerah Bangka
Belitung telah mengijinkan beroperasinya sekitar lebih dari selusin perusahaan
lokal untuk melakukan penembangan pasir timah sampai dengan peleburan,
mengunakan teknologi dari Cina.
Timah berperan sebagai bahan baku utama dan penunjang pada sektor industri.
Kemajuan di berbagai sektor industri mengakibatkan perlunya pengembangan
industri besar yang menghasilkan bahan baku dengan kualitas atau mutu yang
lebih baik. Timah banyak digunakan pada industri solder, industri baterai, plat
timah (tin plate), bahan kimia (chemicals), industri gelas kaca dan lain-lain.
Oleh karena banyaknya kebutuhan akan logam timah dalam beberapa industri,
maka dalam sektor perdagangan/pemasaran timah memerlukan strategi dalam
pemasarannya.
Logam timah diperkenalkan sebagai logam yang ramah lingkungan ( green metal)
seperti dipromosikan oleh Tin Technology Ltd (sebelumnya dikenal sebagai
ITRI-International Tin Research Institute) sebagai satu satunya lembaga
riset internasional yang dibiayai oleh baik produsen timah maupun industri hilir
pengguna logam timah. Logam ini dikenal tidak beracun bila kontak dengan

berbagai jenis makanan, sehingga kemasan makanan yang berlapis timah


dipakai sebagai salah satu pilihan untuk industri pengawetan makanan dalam
kaleng.

Masalah lingkungan terutama dalam penggunaan senyawa organotimah, perlu


dipertimbangkan dengan berkembangnya teknologi termasuk penggunaan
masing-masing senyawa organotimah serta kepentingan dari senyawa-senyawa
tersebut. Beberapa penelitian senyawa-senyawa organotimah memperlihatkan
bahwa pengurangan bahaya keracunan dalam jangka panjang dapat dicapai,
tambahan pula penggunaan senyawa ini mempunyai kelebihan yaitu organotimah
pestisida terdegradasi menjadi bentuk senyawa timah yang tidak berbahaya
(inorganik).7

BAB II KETERDAPATAN, PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN

Timah terdapat di alam dalam bentuk timah (IV) oksida yang dikenal dengan
nama mineral kasiterit serta sejumlah kecil ada dalam mineral stanit
(SnS2.Cu2S.Fe S) dan mineral tealit (SnS.PbS)8 . Timah diperkirakan terdapat
dalam bumi sebanyak 4x1030 ton dan dalam air laut sebesar 0,003 g / ton air
laut. Logam timah dapat diperoleh dengan jalan mereduksi mineral timahnya.
Bijih timah hampir tersebar di
seluruh dunia terutama di negaranegara yang termasuk ke dalam
daerah mineralisasi seperti Amerika
Selatan, Australia, Asia Tenggara
dan Eropa. Di Asia Tenggara jalur
timah terbanyak terdapat dari
wilayah Cina Selatan, Myanmar,
Thailand, Malaysia, dan berlanjut ke
Indonesia. Berdasarkan perkiraan,
cadangan sumber timah di Indonesia berkisar sekitar 28.150.000 ton. Negara
pengekspor logam timah di dunia di antaranya : Malaysia, Bolivia, Indonesia,
Thailand, Cina, Nigeria dan Kongo.9

2.1

Geologi

Secara geologi mineral kasiterit dapat ditemukan dalam bentuk deposit primer
dan sekunder10,11. Deposit primer (veins deposit) umumnya terdapat pada
lapisan batuan granit dan batuan malih yang berasosiasi dengan kuarsa.
Sedangkan deposit sekunder berasal dari endapan primer yang telah
mengalami pelapukan dan hasil perombakannya diendapkan di suatu tempat
yang tidak jauh. Deposit sekunder (alluvial deposit) umumnya terdapat di aluralur sungai baik di darat maupun di lepas pantai. Produksi timah dunia
sebagian besar berasal dari deposit sekunder ini.

Gambar- Peta sabuk timah Asia Tenggara


Endapan timah di Indonesia terletak pada jalur timah terkaya di dunia. Jalur
itu membujur dari Cina Selatan, Birma, Thailand, Malaysia dan berlanjut ke
Indonesisa. Timah di Indonesia ditemukan di Bangka, Belitung dan Singkep dan
selain itu juga di daratan Sumatera Tengah (Bangkinang). Dilaporkan, timah
ada pula di Kepulauan Anambas-Natuna dan P. Karimata. 12
Pencarian bijih timah tidak pernah terhenti. Sejak 1965, tahap demi tahap
eksplorasi terus ditingkatkan. Kini telah terkumpul data geologi yang makin
sempurna dari kepulauan timah yang sudah diketahui, termasuk perairan
sekitarnya.
Batuan tertua di kepulauan timah berumur Permokarbon, berupa batuan
endapan yang mengalami pemalihan. Batuan itu tersingkap di P. Singkep. Di
Bangka dan Belitung, batuan tertua terdiri dari batuan endapan malih yang
berumur Permokarbon hingga Trias. Batuan tersebut diterobos oleh granit
biotit yang diperkirakan sebagai penyebab terbentuknya endapan timah yang
ada sekarang ini. Batuan endapan di Bangka dan Belitung umumnya terlipat
kuat dengan jurus umumnya berarah timur-barat dan kemiringan yang curam;
di Pemali jurus berubah arah menjadi baratlaut-tenggara.

Endapan timah primer terdapat pada batuan granit dan daerah sentuhan, dan
pada batuan endapan malih dengan jenis pertama terutama terdapat di Tikus,
di bagian baratlaut Pulau Belitung. Endapan terdiri dari kanta kuarsa yang
mengandung kasiterit dan wolframit dengan jumlah kadar yang dapat
dimanfaatkan sebesar 0,4%.
Endapan timah primer di Kelapakampit merupakan jenis yang khas. Hal ini
disebabkan karena terdapat sebagai urat bidang lapisan, dan terhampar
mengikuti jurus batuan sedimen, dengan demikian arahnya dapat diramalkan.
Selain itu, berkemiringan curam dan umumnya bergabung dengan mineral
bersulfida ataupun bersifat magnet. Di Bangka jenis endapan yang terpenting
terdapat di Pemali dan Tempilang. Di tempat yang pertama keterdapatannya
sebagai jejaring (stockwork) dan greisen dalam granit dan urat turmalin
kasiterit yang membujur sejajar dengan sentuhan atau di dekatnya. Ditinjau
dari segi kemungkinannya, endapan timah primer yang terdapat pada batuan
sedimen di Bangka dan Belitung masih dapat diusahakan.

Gambar- Anjungan kapal keruk timah


Endapan timah jenis yang lain ialah endapan sekunder. Ini berasal dari endapan
primer yang telah mengalami pelapukan, dan hasil perombakannya kemudian
diendapkan di suatu tempat yang tidak jauh. Endapan ini dibedakan dalam dua
jenis, yaitu endapan eluvium dan aluvium. Nama setempat bagi endapan
pertama ialah kulit yang terdapat pada lereng bukit atau di legih (pemisah
air). Nama setempat bagi yang kedua adalah kaksa yang terdapat di dasar
lembah.

Umumnya butiran kasiterit halus pada endapan kaksa telah mengalami


pengangkutan dan diendapkan di bagian hilir lembah. Oleh karena itu, endapan
timah sekunder yang ditemukan di lepas pantai, umumnya mengandung kasiterit
berbutir halus. Dalam eksplorasi laut, penyigian (pensurvaian) geofisika
dangkal berlangsung secara terinci di daerah yang luas. Pemboran telah
mencapai jarak yang cukup jauh dari pantai hingga ke daerah daerah terpencil.
2.2 Penambangan
Penambangan bijih timah dilakukan dengan beberapa metode seperti
penambangan terbuka (open cut mining) yang banyak dipakai untuk deposit
primer dan pengerukan (dredging) ataupun penambangan semprot (hidraulic
mining) yang khusus dipakai untuk penambangan sekunder. Sistem
penambangan timah di Indonesia seperti yang dilakukan oleh PT Tambang
Timah menggunakan metode tambang semprot dan pengerukan (Gambar 2.1). 12
Metode tambang semprot merupakan sistem penambangan yang terdiri dari
serangkaian kegiatan yaitu pelepasan dan penguraian material di tempat
(insitu) dengan menggunakan air bertekanan tinggi, kemudian hasilnya yang
berupa lumpur (slurry) dipompakan ke instalasi pencucian untuk memperoleh
konsentrat berkadar tinggi. Peralatan utama yang diperlukan dalam metode ini
terdiri atas: pompa semprot, pompa lumpur dan pasir, peralatan konsentrasi
bijih yang biasanya berupa palong (sluice box), dan sarana penunjang lainnya
(bandar, dam , dan sumuran).

Gambar- Metode penambangan semprot


Metode pengerukan adalah suatu sistem penambangan yang dilakukan di
daerah perairan sungai, pantai, lepas pantai atau pada daerah daratan yang
berair dengan menggunakan kapal keruk sebagai alat penggaliannya. Dilihat
dari tipe medan operasionalnya, tipe kapal keruk yang dipakai terdiri dari jenis
kapal keruk laut, kapal keruk darat, dan kapal keruk amfibi. Sedangkan dilihat
dari cara kerjanya terdiri dari jenis mesin gali mangkok, mesin gali isap, grabe
7

dredge dan dipper dredge. Bagian-bagian dari mesin gali mangkok adalah
ponton, tangga (ladder), peralatan konsentrasi, peralatan penggerak tangga,
penggerak mangkok, (main drive), dan pembangkit listrik. Perbedaan utama
antara kapal keruk mangkuk dan isap adalah pada peralatan pengambilan bijih,
pada kapal keruk mangkok berupa sederetan mangkok-mangkok, sedangkan
pada kapal keruk isap berupa cutter dan pompa isap.

Gambar- Kegiatan penambangan di kapal keruk


PT Tambang Timah menggunakan armada kapal keruk dengan bermacam
kapasitas mangkok mulai dari 7 sampai dengan 24 cuft dan kecepatan
beroperasi sampai dengan 28 keruk per menit. Armada yang sangat handal
dapat beroperasi sampai beberapa kilometer dari lepas pantai dan mampu
beroperasi sampai kedalaman kurang lebih 50 meter di bawah permukaan laut,
dan mampu menggali lebih dari 3,5 juta m 3 material setiap bulannya. Setiap
kapal keruk biasanya mempunyai tim berjumlah lebih dari 100 operasionalpersonel yang bekerja non-stop terbagi atas 3 shift dalam 24 jam sepanjang
tahun. Untuk konsentrasi lebih lanjut, bijih hasil penambangan berkadar di
atas 30% timah, dipindahkan ke mesin pencucian perusahaan dengan kapal
tongkang.
Mekanisme sistem pengontrolan terhadap cadangan besar, serta kepemilikan
armada terbanyak di dunia dengan penggunaan sistem komputer dan satelit
komunikasi telah dapat meminimalisasikan biaya penambangan timah di PT
Tambang Timah. Penggunaan sistem operasi dan produksi ini telah dapat
menjamin kelancaran sistem pengoperasian peleburan timah menjadi lebih
efisien.

Gambar- Kegiatan gali dan muat bijih timah


Penambangan dengan
Cara pendulangan
Tambang semprot
Tambang
konvensiona
l
Tambang Semprot
Tambang
terbuka

Tambang kontrak
Karya

Tambang besar

Tambang mobil
Tambang mekanis
Tambang terbuka kecil tanpa jenjang
Yang teratur)
Open cast

Tambang terbuka dengan jenjang


yang
Teratur (Tambang Pemali)

METODE

Kapal Keruk Darat


Pengerukan

Kapal Keruk Laut


Kapal Keruk Ampibi

Tambang dalam

(Tambang dalam di Kapal Kampit)

Gambar 2.1 : Metode penambangan timsh di PT Timah Tbk


2.3 Pengolahan Timah
Bijih timah yang didapat dari hasil penambangan memiliki kadar timah yang
rendah karena terdapat banyak pengotor ikutan (impurities / gangue). Kadar
timah dalam bijih timah mentah dapat ditingkatkan kadarnya melalui
serangkaian unit operasi yang terdiri dari kominusi (penghancuran dan
penggilingan), pengayakan, klasifikasi, pencucian bijih, heavy-fluid separation,
jigging, tabling, flotasi dan pemisahan magnetik. Melalui cara kominusi, mineral
kasiterit yang masih berbentuk bongkahan dihancurkan dari mineral pengotor
lainnya yang menempel. Kominusi berlangsung dalam tiga tahap yaitu:
penghancuran primer, penghancuran sekunder dan penggilingan, selain itu
dilakukan juga proses pengayakan dan klasifikasi untuk membantu
menghasilkan produk mineral yang berukuran tertentu serta berguna pula
untuk proses pemisahan.12-14
Proses pengolahan bijih timah pada dasarnya dimaksudkan untuk mendapatkan
konsentrat timah yang siap untuk dilebur yaitu dengan kadar timah minimal 70
%. (Gambar 2.2) Ada beberapa tahapan yang biasa dilakukan untuk
memperoleh konsentrat timah yang dimaksud yaitu:
Pra konsentrasi (konsentrasi pendahuluan)
Konsentrasi basah
Konsentrasi kering
Konsentrasi pendahuluan dilakukan di lokasi tambang dengan cara konsentrasi
gaya berat. Peralatan utama yang dipakai berupa palong dan jig. Tujuan
dilakukannya konsentrasi pendahuluan ini adalah untuk membersihkan bijih
timah dari mineral pengotor yang sebagian besar terdiri dari kuarsa (SiO 2).
Hasil proses prakonsentrasi berupa mineral berat yaitu: ilmenit, zirkon,
monasit, dan xenotim dengan kandungan timah yang diperoleh lebih besar dari
20 %. Selanjutnya pra-konsentrat yang berasal dari lokasi-lokasi penambangan
dikirim ke pusat pencucian untuk ditingkatkan lagi kadar timahnya hingga
mencapai lebih dari 70 %. Pada dasarnya proses peningkatan kadar ini dapat
dibagi menjadi dua jenis yaitu konsentrasi basah dan konsentrasi kering.
Proses ini bertujuan untuk memperoleh konsentrat kasiterit sebanyak mungkin
dengan kadar timah yang memenuhi persyaratan peleburan.

10

Gambar- Pengisian bunker material untuk peleburan

11

Bijih timah

air

Impahan (overflow)

PENANDON BIJIH
ORE BIN
AYAKAN, 3mm
BEND SCREEN
-3mm

+3mm

SIKLON
30% sollid
Aliran bawah
(underflow)
HARZ JIG
Kompartemen
A B C D

AYAKAN, 3mm
BEND SCREEN

konsentrat
A

+3mm

-3mm
KLASIFAYER
HIDRAULIK

>70% Sn

Aliran bawah

INDECKER

PENGERING PUTAR
konsentrat

ampas

MEJA GOYANG

konsentrat
PELEBURAN

amang

ampas

PROSES KERING

Ampas akhir

Gambar 2.2 Bagan alir konsentrasi proses basah12

12

amang

PENGERING
PUTAR

AYAKAN GETAR
-40 mesh

-40 mesh

-40 mesh
ELEVATOR MANGKOK

PEMISAH TEGANGAN
TINGGI,HTS

SATUAN
PEREMUK
ampas

konsentrat
PEMISAH MAGNETIK

ampas

GUDANG BIJIH TIMAH


KADAR RENDAH (<70% Sn

konsentrat

MEJA GOYANG
KERING

ampas

amang

DIBUANG

DITUMBUK

konsentrat
GUDANG BIJI TIMAH
KADAR TINGGI (>70% Sn

Gambar 2.3 Bagan alir konsentrasi proses kering 12

13

Amang
(dari proses pencucian)
POMPA
HIDROSIKLON

Aliran bawah

limpahan

WILLOUGHBY WASHER
BAK PENAMPUNG
kasar

halus

LANCHUTE
ampas

HYDROSIZER
kasar

konsentrat

sedang

halus
Diproses seperti
Ukuran sedang

LANCHUTE

BAK PENAMPUNG

konsentrat

ampas

PENGERING
BAK PENAMPUNG

MEJA GOYANG

PEMISAH TEGANGAN TINGGI


konsentrat

amang

ampas

Bukan konduktor

konduktor

PENGERING

3-DISC RAPID MAGNETIC


SEPARATOR

limbah
Diproses seperti
konsentrat

Produk-1 Produk-2 Produk-3 Produk-4 Produk-5 Produk-6 Bukan magnit

ilmenit

RAPID MGNETIC
SEPARATOR

RAPID MAGNETIC
SEPARATOR

McLEAN MAGNETIC
SEPARATOR

Magnit kuat

Magnit lemah

magnit

Magnit lemah

magnit

ilmenit

Cb - Ta

Cb - Ta

struverit

struverit

Bukan magnit
kasiterit

14

3-DISC RAPID MAGBETIC


SEPARATOR

Produk-1 Produk-2

Produk-3 Produk-4 Produk-5 Produk-6

Bukan magnit

Garnet + xenotim

game
t

MEJA GOYANG KERING

gamet

xenotim

RAPID MAGNETIC
SEPARATOR

xenotim

monasit

McLEAN MAGNETIC
SEPARATOR

magnit

Bukan magnit

monasit

zirkon

Gambar 2.4 Bagan alir pemisahan mineral yang terkandung dalam amang
hasil pencucian bijih timah12
BAB III PELEBURAN DAN PEMURNIAN
3.1 Proses Peleburan Timah
Apabila konsentrat timah dengan kadar tertentu (lebih dari 70 %) telah
diperoleh, maka dapat segera dikirim ke pabrik peleburan untuk dijadikan
logam timah. Secara sederhana proses peleburan oksida timah mengikuti
reaksi sebagai berikut :
SnO2 + C

Sn + CO 2

Konsentrat timah tersebut dicampur dengan karbon (dalam bentuk antrasit)


kemudian dilebur untuk menghasilkan timah cair. Batukapur ditambahkan
berperan sebagai bahan imbuh (fluks). Sebagian besar peleburan timah di
dunia dilakukan dengan menggunakan tanur pantul. Campuran konsentrat timah
yang akan diolah dimasukkan ke dalam tanur bersama-sama dengan reduktor
padat (karbon) dan bahan imbuh yang kemudian dipanaskan selama 15 jam pada
suhu sekitar 1300-1400C menghasilkan leburan timah kasar dan terak yang
disadap secara terpisah. Logam kasar hasil peleburan ini harus dimurnikan
kembali untuk mencapai kadar yang diinginkan. Di Indonesia dan Malaysia

15

timah cair dicedok ke dalam ketel besi pada suhu 300C untuk membuang
pengotor besi dan oksida lainnya. Tahap pemurnian ini masih berlanjut melalui
tahap kristalisasi untuk mendapatkan timah dengan kemurnian yang lebih
tinggi, terutama untuk menurunkan kandungan timbalnya. Pada proses
pemisahaan listrik (electro refining), logam timah dicetak dalam bentuk
tertentu dan berfungsi sebagai anoda yang diletakkan berhadapan dengan
katoda dalam larutan elektrolit asam, kemudian dialirkan arus searah sehingga
timah murni akan mengendap pada katoda. Metode ini mampu menghasilkan
logam timah dengan kemurnian 99,99%. Sedangkan terak yang masih
mengandung timah dan besi dilebur kembali pada peleburan tahap kedua untuk
menghasilkan paduan timah-besi yang juga dikembalikan sebagai umpan
peleburan tahap pertama. Peleburan terak ini dapat diulang kembali untuk
mendapatkan perolehan timah sebanyak mungkin, sebelum dibuang sebagai
terak akhir yang mengandung besi. Semakin tinggi kadar besi dalam timah yang
disadap makin banyak sanga (dross) yang dihasilkan. Untuk mencegah hal itu
maka dianjurkan agar timah yang terbentuk segera dapat dikeluarkan dari
dalam dapur sebelum terbentuknya fasa campuran terak-logam. Dengan
demikian, timah cair tersebut akan lebih sedikit mengandung besi
dibandingkan dengan timah cair yang disadap pada saat umpan telah melebur.
Timah logam murni itu sendiri berwarna putih keperakan, berat jenis 7,3
g/cm2, serta mempunyai sifat konduktifitas panas dan listrik yang tinggi
dengan kekerasan yang rendah. Dalam keadaan normal (13 - 160C), logam ini
bersifat mengkilap dan mudah di bentuk.
3.2 Peleburan PT Tambang Timah
Mentok, terletak dipinggir Barat Laut Pulau Bangka, telah terbukti sebagai
lokasi pengoperasian peleburan timah terbesar di Dunia. Tepatnya pada tahun
1967 kapasitas mesin pencucian mengalami kenaikan, di samping itu dari tujuh
tanur peleburan akan menaikkan kapasitas menjadi 50,000 ton per tahun.

16

Gambar- Kegiatan di peleburan timah


Berdekatan dengan pengoperasian peleburan terdapat pusat pencucian yang
mengumpulkan konsentrat timah dari darat dan lepas pantai yang dihasilkan
dari operasi penambangan. Dengan menggunakan proses yang lebih intensif
konsentrat timah dinaikkan menjadi sekitar 74% Sn.
Peleburan di Mentok menghasilkan cairan kasar timah yang kemudian
dimurnikan di tempat pemurnian. Sisa dari pemurnian, seperti dross
didaurulang.

Gambar- Petugas memeriksa ikatan balok timah siap ekspor


Logam timah dengan kualitas Bangka, dengan kandungan timah minimun sebesar
99.93% Sn dan Mentok dengan kandungan timah minimum sebesar 99.88% Sn
(Tabel 3.1), merupakan produksi utama dari kedua perusahaan. Dengan
menggunakan crystallizers, proses selanjutnya menghasilkan Bangka LL ( Low

17

Lead) dengan kadar timbal telah dikurangi menjadi 0,02%, 0,01% atau 0,05%
(derajat kemurnian maksimum) (Tabel 3.2, 3.3). Timah juga memproduksi
logam timah dengan kemurnian tinggi yang dikenal dengan nama "four nine"
(99.99% Sn).

Tabel 3.1
Spesifikasi analisa logam timah (dalam %)
.

Fe
(max)
As
(max)
Pb
(max)
Cu
(max)
Bi
(max)
Sb
(max)
Co + Ni (max)
Al
(max)
Cd
(max)
Zn
(max)
S
(max)
Sn
(max)
Guaranteed

BANKA
0.007
0.017
0.036
0.009
0.004
0.005
0.005
0.001
0.001
0.001
99.920
99.9+

MENTOK
0.010
0.027
0.043
0.035
0.006
0.006
0.005
0.001
0.001
0.001
99.980
99.85

KOBA
0.007
0.017
0.036
0.010
0.004
0.005
0.005
not specified
0.001
0.001
0.001
99.910

TIN SHOT
0.009
0.017
0.035
0.010
0.004
0.005
0.005
0.001
0.001
99.9

Gambar- Berbagai bentuk produk peleburan timah

18

Tabel 3.2

Spesifikasi analisa logam timah low lead


(dalam %)
KOBA
50
100
ppm
ppm

200
ppm

Fe (max)
As (max)

0.007
0.017

0.007
0.017

0.007
0.017

Pb (max)
Cu (max)
Bi (max)
Sb
(max)
Co+Ni (max)
Al (max)
Cd (max)
Zn (max)
S (max)
Sn (max)

0.005
0.010
0.004
0.005

0.010
0.010
0.004
0.005

0.005
0.001
0.001
0.001
99.91
0

0.005
0.001
0.001
0.001
99.910

BANKA
50
ppm

100
ppm

200
ppm

0.007
0.017

0.007
0.017

0.007
0.017

200
ppm - L
Fe
0.004
0.017

0.020
0.010
0.004
0.005

0.005
0.009
0.004
0.005

0.010
0.009
0.004
0.005

0.020
0.009
0.004
0.005

0.020
0.009
0.004
0.005

0.005
0.001
0.001
0.001
99.910

0.005
0.001
0.001
0.001
99.920

0.005
0.001
0.001
0.001
99.920

0.005
0.001
0.001
0.001
99.920

0.005
0.001
0.001
0.001
99.920

99.9+

99.9+

99.9+

99.9+

Guaranteed

Tabel 3.3
Jenis dan bentuk logam timah produksi PT TIMAH
JENIS
Normal
Ingot
25 3 kg
Banka LL :
200 ppm
100 ppm
50 ppm
Banka
Mentok
Koba

Small ingot
17 3 kg

BENTUK
Tin Anode
35 3 kg

Tin Shot
Big Ingot
Dia. 3 35 3 kg
4mm

19

Bahan Imbuh

Konsentrat
Timah (> 70% Sn)

Karbon padat
Debu (60% Sn)

PELEBURAN TAHAP 1
TANUR TETAP, 1360 C
Timah cair
<0,1% Fe

Gas buang

BAG HOUSE

Terak
(20% Sn+ 20% Fe)

LIQUASI
Timah
cair

Sanga
(Sn +2%Fe)
PEMURNIAN

KRISTALISER

Timah murni
(min. 99,85% Sn)

Karbon padat
+bahan imbuh

Hardhead
Gas buang

PELEBURAN TAHAP II
TANUR TETAP, 1450 C

Terak
(Fe+Sn)

Dibuang (< 1% Sn) atau


Dilebur kembali pada
Peleburan Tahap II

Gambar 4.1 Bagan alir peleburan bijih timah12

20

BAB IV PENGUSAHAAN TIMAH


4.1

Kondisi Umum

Sebagai cadangan aluvial, bijih timah dengan kadar terrendah 0,01% Sn telah
dapat ditambang secara ekonomis kerena relatif sederhananya tahap
penambangan dan pencucian dan semakin efisiennya operasi pengukuran.
Dengan kadar di atas 70 % Sn, konsentrat timah yang dihasilkan baik oleh PT
Timah Tbk maupun PT Koba Tin dibawa kepeleburan timah di Mentok dan Koba
untuk dilebur dan dimurnikan menjadi logam timah. Pada tahun 2003 total
produksi konsentrat yang dihasilkan oleh kedua perusahaan tersebut adalah
71.694 ton, sedangkan total produksi logam timah adalah 66.283 ton. Dari
pabrik peleburan timah di Mentokdan Koba dihasilkan berbagai produk (Tabel
4.1) menunjukkan produksi dari masing-masing perusahaan pada tahun 2003.
Perkembangan terakhir di tahun 2009, untuk untuk mencegah adanya
penambangan secara liar, pemerintah mengijinkan dibentuknya konsorsium
peleburan timah lokal seperti PT Bangka-Belitung Timah Sejahtera yang
diharapkan dapat menghasilkan logam timah dari tambangnya sendiri. Pada
kenyataannya, dari kapasitas melebur bijih sebanyak 2000 ton per bulan hanya
tersedia 20-30% bahan baku, sehingga keberlanjutan operasi peleburannya
menjadi tidak menentu.

21

Di masa lalu, menyadari akan adanya pola kebijakan dalam perdagangan timah,
banyak negara produsen timah membentuk berbagai kerjasama internasional
dalam sektor pengembangan yang menghasilkan produk baru yang efektif dan
efisien. Hasilnya lebih mengembangkan kualitas sehingga pemasaran produk
akhir logam timah, mendapat nilai tambah dan kemajuan teknologi di beberapa
industri dapat diantisipasi. Jika penurunan timah tidak dikendalikan maka
dapat mengakibatkan merosotnya harga logam timah secara drastis seperti
tahun 1986, akibat kelebihan pasokan terutama dari para produsen diluar
badan timah (non Association Tin Producing Countries-ATPC). Asosiasi ini
sendiri sudah bubar tahun 2002, karena dinilai tidak efektif lagi dalam
mengendalikan produksi timah. Selain itu, adanya kecenderungan menurunnya
intensitas penggunaan timah, karena adanya material subtitusi dan proses daur
ulang timah yang berpengaruh terhadap perkembangan industri pertimahan.
Sehingga bagi negara penghasil timah, dituntut bekerjasama dengan industri
hilir pengguna timah untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang teknologi
yang berkaitan dengan penggunaan timah. Oleh karena itu, perlu diadakan
pemantauan mengenai perkembangan timah, baik dari segi penambangan,
pengolahan, pemanfaatan dan pemasaran.

22

4.2

Cadangan

Endapan timah ditemukan di kepulauan Bangka, Belitung, Singkep dan Karimun,


serta daerah lepas pantai (Laut Pangkol, Semelut, Kelambui, Sampur dan
Kundur). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tim kajian komoditas
mineral timah (KKMT) tahun 1992, tercatat bahwa cadangan timah di
Indonesia seluruhnya berjumlah 857.000 ton, masing-masing dari PT Timah
sekitar 702.935 ton Sn, PT Koba Tin sebesar 68.020 ton Sn dan dari PT
Gunung Kikara Mining sekitar 86.045 ton Sn. Sementara itu, pada tahun 1991
Kelompok Sumber Daya Mineral, Direktorat Sumber Daya Mineral
bekerjasama dengan Bakosurtanal mencatat bahwa jumlah cadangan timah
tersebut sekitar 2,32 juta ton bijih yang terdiri dari 895.000 ton cadangan
terindikasi, sisanya sebesar 1,43 juta ton adalah cadangan tereka. Apabila
diteliti dari ke dua data statistik di atas, dapat disimpulkan bahwa data yang
dicatat oleh KKMT merupakan cadangan terindikasi. Oleh karena itu, cadangan
timah seluruhnya yang berjumlah 2,32 juta ton dapat dipakai sebagai data
cadangan timah Indonesia. Sebagian besar endapan timah tersebut merupakan
endapan aluvial.
4.3

Produksi Timah Indonesia

Produksi timah Indonesia saat ini selain dihasilkan oleh dua perusahaan besar
yaitu PT Timah dan PT Kobatin, juga diproduksi dari perusahaan lokal yang
diijinkan beroperasi oleh pemerintah daerah setempat, dengan lokasi kegiatan
di pulau Bangka dan pulau Belitung serta dilepas pantai sekitarnya dalam
bentuk konsentrat. Konsentrat timah tersebut selanjutnya diolah dipeleburan
timah Mentok dengan kadar timah (Sn) sekitar 99,9 %.
Produksi logam dan konsentrat PT Timah tahun 1993 masing-masing sebesar
26.462 ton dan 28.349 ton, meningkat menjadi 39.030 ton dan 37.076 ton
tahun 1999. Selanjutnya produksi logam dan konsentrat timah dari PT Timah
ini menunjukkan peningkatan kembali, menjadi 45.905 ton dan 43.948 ton pada
tahun 2003. Produksi logam dan konsentrat timah PT Koba Tin pada tahun
1993 terdiri dari produksi logam timah 7.616 ton tahun 1999. Tahap
selanjutnya produksi logam timah PT Koba Tin meningkat kembali menjadi
20.378 ton dan konsentrat timah 27.746 ton. Jika ditinjau secara keseluruhan
produksi logam timah PT Timah dan PT Koba Tin tahun 1993 sebesar 34.081
ton, meningkat menjadi 66.283 ton tahun 2003, sedangkan rencana produksi
nasional Indonesia tahun 2009 sebesar 100.000 ton logam timah akan
mengalami kendala akibat tindakan pihak keamanan terhadap praktek

23

penambangan liar. Produksi konsentrat timah PT Timah dan PT Koba Tin tahun
1993 sebesar 38.501 ton, meningkat menjadi 71.694 ton tahun 2003 dengan
jumlah produksi tertinggi yang dapat dicapai pada tahun 2002 sebesar 88.142
ton (Tabel 4.1).
Tabel 4.1
Produksi Timah 1990 2003

Tahu Produksi Produksi (ton)


n
PT Timah
Logam Konsent
r
a
t

PT Koba Tin
Logam
Konsen
trat

Total
Logam
Konsen
trat

1990
1991
1992
1993

1.400
1.300
1.600
1.500

26.465

28.349

7.616

10.152

34.081

30.390
30.415
37.000
38.501

1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003

1.765
2.070
1.555
2.410
2.124
2.215
2.142
2.223
2.315
2.362

35.686
37.416
40.337
42.620
43.418
39.030
35.550
38.081
43.528
45.905

33.981
38.829
42.143
44.105
43.714
39.030
37.076
40.050
55.038
43.948

7.916
7.079
8.428
10.416
10.247
10.679
11.579
15.715
23.927
20.378

10.556
9.416
11.305
14.055
13.848
14.685
15.604
21.328
33.104
27.746

43.962
44.495
48.765
53.036
53.665
49.709
47.129
53.796
67.455
66.283

44.537
48.245
53.448
58.160
57.562
53.715
52.680
61.378
88.142
71.694

Penambangan timah tahun 2000, antara lain berasal dari penambangan timah
dengan kapal keruk 17.750 ton, dan penambangan timah darat 22.300 ton.
Penambangan timah darat ini meningkat 11% dibandingkan tahun 1999. Hal ini
disebabkan oleh berlakunya ijin baru kepada mitra usaha tambang darat untuk
melakukan pembelian bijih timah dari pendulangan masyarakat, dan PT Koba
Tin melebur sebagian bijih timahnya pada PT Timah Tbk. Sebagian besar
produksi timah Indonesia di ekspor ke berbagai negara seperti Jepang,
Amerika Serikat, Singapura, Korea dan lain-lain.

4.4 Produksi Timah Dunia

24

Sekitar 60 % produksi bijih timah dunia dihasilkan oleh negara-negara


produsen penghasil timah yang bergabung dalam Association of Tin Producing
Countries (ATPC) yakni Australia, Bolivia, Indonesia, Malaysia, Nigeria,
Thailand, Zaire dan Cina (Cina baru bargabung dalam ATPC sejak bulan Juni
tahun 1994). Negara-negara penghasil timah non ATPC adalah Brazilia, Peru,
Portugal, Vietnam. Besarnya produksi timah masing-masing negara sangat
dipengaruhi oleh kondisi pasaran harga logam timah yang melemah sejak tahun
1980. Asosiasi ini telah berakhir pad tahun 2002.
Indonesia adalah negara penghasil bijih timah terbesar di kelompok ATPC
sejak tahun 1990, menggeser kedudukan Malaysia. Saat ini diperkirakan
negara penghasil timah yang terbesar adalah Cina dan Indonesia.
4.5

Konsumsi

Timah digunakan sebagai bahan baku atau bahan penunjang diberbagai industri
kaleng, tinplate, solder, pewter, babbit, alat-alat listrik (kawat), alat-alat
dapur, pipa dan fitting besi-baja, industri aki (baterai), elektronika dan lainlain. Jenis timah yang di pakai sebagai bahan baku dan bahan penolong
tersebut berupa timah batangan dan timah hasil daur ulang ( scrap).
Konsumsi timah pada tahun 1990 meningkat dari 1.400 ton menjadi 1.555 ton
tahun 1996 (11,07 %), selanjutnya meningkat kembali menjadi 2.124 ton tahun
1998 dan 2.362 ton tahun 2003. Jika ditinjau dari laju pertumbuhannya, maka
produksi logam dan konsentrat timah menunjukkan kecenderungan yang
berfluktuasi dengan laju pertumbuhan rata-rata 10,3 % dan 13,5 % per tahun.
Sedangkan konsumsi timah juga menunjukkan kecenderungan berfluktuasi,
dengan laju pertumbuhan rata-rata 5,7 % per tahun .
Konsumsi timah tahun 2002 dari beberapa industri adalah sebesar 2.350 ton
dimana industri solder mendominasi penggunaan timah sebesar 1.420 ton,
industri plat timah sebesar 600 ton, industri gelas kaca sebesar 50 ton, dan
industri baterai 40 ton (Tabel 4.2).

25

Tabel 4.2
Konsumsi Timah Indonesia Berdasarkan Jenis Industri Tahun 2002
Nama Perusahaan

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Jenis Industri

Jumlah
Ton

PT
PT
PT
PT
PT
PT
PT
PT
PT
PT
PT

Dae Gil Indonesia


Latinusa
Indomas Asia
Sinasah Solder Indonesia
Noorsahi Tama
Cakrawala Sakti
Asaflux Solder
Patri Bintang
Prima Ama Solder
Gamitama Battery
Multimaly
Niaga
Mitratama
PT Asahimas Flat Glass
PT Muliaglass
PT Ropicor Vtorindo Sejak

Solder
Pelat timah
Pengecer
Solder
Solder
Solder
Solder
Solder/pengecer
Solder
Battery
Solder

960
600
240
120
60
60
60
60
40
40
40

Gelas/Kaca
Gelas/kaca
Solder

30
20
20

Penjualan logam timah tahun 1996 sebesar 41.400 ton dengan nilai Rp 607,90
milyar (terdiri dari penjualan dalam negeri dan ekspor), menurun menjadi
34.106 ton dengan nilai Rp 1.636,9 milyar. Selama periode 1996 sampai dengan
2000, penjualan dalam negeri timah dan ekspor hampir relatif stabil dengan
jumlah tertinggi pada tahun 1998 sebesar 52.794 ton (Dirjen Pertambangan
Umum, 2000).

4.6

Perkembangan Pemakaian Timah di Dalam Negeri

Perkembangan pemakaian logam timah di dalam negeri sejak tahun 1979 dapat
di lihat pada Tabel 4.3 berikut di bawah ini.

26

Tabel 4.3
Konsumsi logam timah di dalam negeri (dalam metrik ton)
TIN %
PLATE
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993

123,5
410
600
670
390
520
570
660
670

11,5
35,2
67,4
49,5
27,8
40,4
45,2
39,4
43,5

SOLDER %

BABBIT %

PEWTER %
3,4
4,6
4,9
5,2
15,8
4,2

LAINLAIN
8,1
8,9
10,5
173,6
14,1
17,7

197,6
204,7
246,4
230,5
204
1322,
8
790
341,4
147,5
539,5
905
525
552
644
698

50,7
61,1
65,1
41,5
56
88,5

170,9
106,3
102,9
122,1
88,9
92,1

43,8
31,7
27,2
22
24,4
6,2

13,3
15,3
18,6
28,6
57,4
62,8

73,8
29,3
16,6
39,8
64,6
40,8
43,8
38,4
45,3

77,8
95,6
59,8
53,7
41
73
50

7,3
8,2
6,7
4,0
2,9
5,7
4

73,5
149,1
74,1
77,4
42
49
37
63
1,3

%
2,1
2,7
2,8
31,3
3,9
1,2

JUM
LAH
389,9
335,2
378,4
554,8
364,4
1495,4

6,9
12,8
8,3
5,7
3
3,8
2,9
3,8
0,1

6
169,5
9,4
13,4
23
120
52
309
170

0,6
14,5
1,1
1
1,6
9,3
4,1
18,4
11

1070,8
1165,6
890,8
1354
1401
1287
1261
1676
1539,3

Dari Tabel 4.3 terlihat pada pemakaian timah di dalam negeri sejak tahun
1984 hampir tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti, padahal laju
pertumbuhan ekonomi Indonesia selama Pembangunan Jangka Panjang Pertama
sudah mencapai rata-rata 6,8 % per tahun.
Penggunaan logam timah untuk pelat timah pada umumnya dikonsumsi oleh
industri kemasan. Dalam hal ini, PT timah menyediakan kebutuhan timah setiap
tahun untuk kebutuhan produksi PT Pelat Timah Nusantara (PT Latinusa).
Konsumsi tinplate dalam negeri sejauh ini mengalami peningkatan yang berarti.
Konsumsi timah solder di dalam negeri digunakan pada beberapa industri,
diantaranya industri elektronika, industri kendaraan bermotor, industri kabel
lstrik dan telepon, industri lampu dari logam, industri kemasan makanan dan
minuman (kaleng) dan lain-lain.
Berdasarkan data persentase pemakainya, sektor industri elektronika
menguasai 2/3 dari total kebutuhan pemakaian solder. Timah solder dalam
industri elektronika digunakan untuk pembuatan komponen radio, audio/stereo,
televisi dan alt elektronika sejenis. Diperkirakan kebutuhan timah solder akan
mengalami peningkatan antara 5 sampai 6 % per tahun, terutama dengan
adanya peningkatan pemakaiannya pada industri elektronika. Perkembangan

27

industri elektronika sampai dengan semester I tahun 1994 mengalami


kenaikkan sebesar 63 % bila dibandingkan dengan perioda yang sama pada
tahun 1993.
Dalam industri kendaraan bermotor, timah digunakan untuk pembuatan
bagian/part kendaraan bermotor dan perakitan mobil.
Pada industri kabel listrik dan telepon, timah digunakan dalam pembuatan
komponen peralatan wiring hardness, kabel dan peralatan sejenis.
Timah solder juga digunakan dalam industri kemasan, terutama sebagai pelapis
dalam pembuatan kaleng makanan dan minuman. Dalm penggunaannya ada
ketentuan untuk industri kemasan (kaleng) untuk memakai jenis lead-free
solder.
Dilihat dari kebutuhan solder eks-impor dalam 4 tahun terakhir ini dengan
total kebutuhan sekitar 340 mton akan membuka peluang bagi industri solder
dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini tentunya dapat
dilakukan dengan meningkatkan produksi masing-masing industri solder dalam
negeri dengan tidak mengabaikan mutu produk yang dihasilkan sehingga dapat
bersaing dengan produk solder impor/luar negeri dalam hal mutu, fleksibilitas
jenis produk, harga dan waktu penyerahan. Dengan adanya kecenderungan
peningkatan dalam pemakaian solder, diharapkan prospek industri solder di
dalam negeri akan secara langsung membaik dalam beberapa tahun mendatang,
yang secara langsung juga akan meningkatkan konsumsi timah di dalam negeri.
PT Timah secara rutin memenuhi kebutuhan timah untuk industri solder dalam
penjualan berskala besar maupun kecil, diantaranya kepada PT Jati Uwung
Logam, PT Asaflux & Solder, PT Noor Sakti Utama, PT Dae Jindo Metal, PT
Industri Patri Bintang, PT Lawang Timah Perkasa dan lain-lain.
Dalam beberapa tahun terakhir ini kebutuhan timah dalam industri kimia tidak
mengalami peningkatan yang berarti walaupun sektor ini tidak terancam oleh
barang substitusi. tin chemical banyak digunakan dalam industri perkayuan
sebagai bahan pengawet kayu, tin compound SnCl 4, pewarna keramik dan lainlain yang umumnya masih diimpor dari luar negeri. Diharapkan pada masa
mendatang kebutuhan tin chemical dapat disupply oleh produksi dalam negeri
dan dapat meningkatkan seiring dengan berkembangnya jumlah industri
pengolahan kayu, furniture dan keramik di dalam negeri.
Penggunaan lain dari logam timah adalah untuk tin elektroplating,tin-zinc
coating dan tin-nickel elektrodeposited coating yang banyak dijumpai dalam
peralatan/bahan bangunan dan furniture accessories yang dimanfaatkan

28

sebagai bahan pelapis pada peralatan kantor, peralatan rumah tangga, kuncikunci, pegangan pimtu dan lain-lain. Dilihat dari jumlah pemakaiannya masih
tergolong sedikit dan diperlukan pengembangan lebih lanjut sejalan dengan
pengembangan pada sektor industri lainnya.
Penggunaan logam timah lainnya adalah untuk pewter, yaitu sebagai bahan
baku kerajinan (handicraft) seperti hiasan-hiasan rumah tangga,
accessories/perhiasan, tropi/piala, hiasan kaligarafi, cinderamata dan lain-lain.
Saat ini di Indonesia masih relatif kecil, hal ini selain disebabkan oleh para
pengrajin dalam negeri yang masih terbiasa menggunakan perak dan kuningan
sebagai bahan baku utamanya, juga diperlukan dukungan berupa kebijaksanaan
Pemerintah. Dilihat dari segi harga, pewter ini lebih murah dibandingkan
dengan perak dan kuningan. Selain itu, pewter memiliki sifat-sifat mekanik
yang hampir sama dengan bahan-bahan tersebut dan mudah dibentuk serta
melalui proses peleburan dengan titik lebur lebih rendah dibandingkan dengan
perak dan kuningan.

4.7

Ekspor dan Impor

Ekspor Indonesia tahun 1990 sebesar 26.340 ton, meningkat 14.740 ton
menjadi sebesar 41.080 ton dengan nilai US $ 233.621,960 tahun 1997.
Kemudian tingkat ekspor timah ini menurun menjadi 32.000 ton bernilai US $
176.441,28 tahun 2000 terhadap 1998. Selanjutnya ekspor timah meningkat,
menjadi 54.987 ton tahun 2003. Dengan demikian tingkat perkembangan
ekspor timah selama kurun waktu 1990 sampai dengan 2003 menunjukkan
keadaan yang berfluktuasi dengan laju pertumbuhan rata-rata 10,7 % per
tahun dan tingkat ekspor yang tertinggi dicapai pada tahun 2002 sebesar
62.031 ton. Keadaan ekspor timah meningkat, karena permintaan ( demand)
dari negara pengimpor terhadap timah pada umumnya akan cenderung
meningkat.
Ekspor bahan atau barang dari timah tahun 1994 sebesar 102 ton dengan nilai
US $ 239.321, meningkat menjadi 973 ton dengan nilai US $ 3.849.269 tahun
1998. Jumlah impor bahan/barang dari timah sebesar 2.746 ton bernilai US $
1.580.068 tahun 1994, kemudian jumlah impor bahan/barang dari timah
menunjukkan peningkatan menjadi 15.387 ton dengan nilai US $ 75.398.194
tahun 2000.15

29

Tabel 4.4
Jumlah dan Nilai Ekspor Timah 1990 2003
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003

Jumlah (ton)
26.340
24.250
27.900
18.000
22.300
42.300
39.850
41.080
50.670
38.350
32.000
55.652
62.031
54.987

Nilai (US$)
153.295.000
129.717.100
126.522.395
239.995.395
247.477.295
233.621.960
280.509.120
207.906.590
176.441.280
233.738.400
260.530.200
266.576.976

30

Tabel 4.5
Jumlah Ekspor Dan Impor Mineral Logam 1994 2000
(Ton)
Bahan Galian
EKSPOR
A. Mineral logam :
Bijih timah
B. Bahan/barang dari
mineral logam :
Balok timah
Bahan/barang dari
timah
IMPOR
A. Mineral logam :
Timah putih
B. Bahan/barang dari
mineral logam :
Balok timah
Bahan/barang dari
timah

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

22

37.758

22.328
102

39.667
46

46.312
-

49.908
-

52.100
973

61

20

399

25

93

30

14
2.746

5
79

9
-

19
-

24
274

29
-

48
15.387

Tabel 4.6
Nilai Ekspor Dan Impor Mineral Logam 1994 2000
(US $)
Bahan Galian
EKSPOR
C. Mineral logam : timah
putih
D. Bahan/barang dari mineral
logam :
Balok timah
Bahan/barang dari timah

IMPOR
C. Mineral logam :
Timah putih
D. Bahan/barang dari mineral
logam :
Balok timah
Bahan/barang dari timah

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

12.298

476.644

118.142.
153
239.321

39.667
46

46.312
-

49.908
-

52.100
973

61

20

399

25

93

30

2.746

5
79

9
-

19
-

24
274

29
-

48
15.387

31

BAB V ASPEK EKONOMI


5.1 Harga Timah
Harga timah ditentukan oleh pasar internasional dengan beberapa faktor yang
mempengaruhi seperti pelepasan stock timah Amerika Serikat, produk daur
ulang/sekrap timah, produksi tambang inkonvensional di Indonesia yang telah
mengalami perluasan yang signifikan.
Harga timah cenderung terus menurun ini disebabkan karena tidak dipatuhinya
kuota oleh beberapa produsen timah, serta semakin berkembangnya
penggunaan material subtitusi seperti plastik dan alumunium. Perkembangan
harga timah dunia selama tahun 1997 2002 menunjukkan kecenderungan
menurun. Pada tahun 1997, di pasar London (LME) harga timah sekitar US $
2,50/pound atau 5000/ton. Sedangkan pada tahun 2002 di psar yang sama
turun hingga US $ 3540/ton. Sementara di pasar lain, seperti di New York
tercatat US $ 3760 (New York Market) dan US $ 3960 (New York
Composite) dan Kuala Lumpur sekitar US $ 3560/ton.15,16

32

Pada pertengahan tahun 2002, pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih


timah dan menunjuk PT Timah, PT Koba Tin dan pemerintah daerah Bangka
Belitung untuk memelihara pengaturan penjualan timah dan berusaha
mengontrol dampak lingkungan dari kegiatan penambangan skala kecil. Agar

33

kegiatan penambangan bijih timah tetap efektif dibutuhkan pasar yang siap
untuk menampung seluruh produksi tambang skala kecil. PT Timah dan Koba Tin
saat ini membeli seluruh persediaan bijih timah dari penambangan skala kecil.
Penambangan bijih timah dimulai tahun 2000, dan kemungkinan akan terus
berlanjut pada tingkat yang signifikan sampai akhir tahun 2004. Untuk
menanggulangi harga timah yang terus menurun, kemungkinan adanya
penimbunan
konsentrat timah oleh PT Timah dan Koba Tin.

5.2

Potensi Pasokan

Cadangan timah sebagian besar terdapat di daerah Afrika bagian barat,


Amerika di Alaska, Asia Bagian Tenggara, Australia, Bolivia, Cina, dan Rusia.
Jumlah total cadangan timah dunia kurang lebih sebesar 11 juta ton. Jumlah
tersebut dengan tingkat produksi sekarang ini dapat menyokong kebutuhan
timah sampai abad 21.
Total produksi timah untuk tahun 2000 adalah sebesar 265 ribu ton, jumlah
tersebut meningkat dari produksi tahun sebelumnya yang berjumlah sekitar
249 ribu ton. Produksi yang terbesar dilakukan oleh negara Cina dengan
tingkat produksi 90 ribu ton, diikuti oleh Peru sebesar 65 ribu ton, dan
Indonesia sebesar 61 ribu ton. Produksi ketiga negara tersebut merupakan
80% dari total produksi timah dunia. Besar cadangan timah beserta produksi
timah untuk masing-masing negara dapat dilihat pada Tabel 5.1

Tabel 5.1
Cadangan dan Produksi Timah
No.

Negara

Reserves

Produksi
34

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Amerika Serikat
Australia
Bolivia
Brazil
China
Indonesia
Malaysia
Peru
Portugal
Rusia
Thailand
Vietnam
Other Countries
Total

20.000
110.000
450.000
540.000
1.700.000
800.000
1.000.000
710.000
70.000
300.000
170.000
NA
180.000
6.050.000

Reserves
base
40.000
300.000
900.000
2.500.000
3.500.000
900.000
1.200.000
1.000.000
80.000
350.000
200.000
NA
200.000
11.170.000

2002

2003

6.270
15.200
13.000
80.000
54.000
4.200
65.400
1.000
2.900
1.100
4.700
1.000
248.770

9.000
13.200
14.000
90.000
61.000
4.500
65.000
1.100
2.000
2.000
2.500
1.000
265.300

China merupakan produsen timah terbesar dunia yang mengekpor 60% dari
total produksinya. China mengkonsumsi timah kurang lebih sebesar 48 ribu
ton. Konsumsi timah dalam negeri diramalkan akan meningkat secara perlahan
untuk beberapa tahun kedepan karena meningkatnya permintaan akan timah
dari sektor elektronik. Di Peru penambangan timah hanya dilakukan oleh
Minsur SA. Konsentrat timah yang dihasilkan 60% diekspor ke Amerika
Serikat, sedangkan 35% -nya dikapalkan ke Eropa.
Timah biasanya digunakan untuk solder elektrik, metal container, suku cadang
kendaraan bermotor dan sebagainya. Jepang merupakan negara pengimpor
timah terbesar untuk kemudian timah tersebut diolah menjadi pelat timah.
Harga rata-rata timah menurun 7% pada tahun 2002. Pada bulan Januari
harganya $2.81/pound mencapai puncaknya pada bulan Juli yaitu $3,09/pound
pada akhir tahun $3,02/pound. Dibandingkan dengan logam yang lain harga
timah cenderung untuk menurun sebagai akibat dari penurunan permintaan
pada industri manufaktur timah.
5.3 Perkiraan Kebutuhan Timah
Timah merupakan mineral logam yang dipergunakan untuk pembuatan perunggu.
Pada masa sekarang ini timah banyak digunakan untuk pembuatan pelat timah,

35

elektronoka, bahan kimia dan material. Negara yang banyak menggunakan


timah untuk industrinya adalah negara Cina dan negara Eropa Barat.
Kondisi yang terjadi pada timah adalah harga yang luar biasa kuat dengan
supply yang relatif ketat. Permintaan yang cenderung tetap stock timah
relatif rendah. Berdasarkan Platts Metals Week harga rata-rata pada bulan
Mei 2004 adalah $ 5,92/pound, 3% diatas harga bulan April dan 79% diatas
bulan Mei 2003. Harga timah akan terus berlanjut naik untuk tiap bulannya
pada tahun 2004, dan akan tetap kuat setidaknnya sampai awal tahun 2002.
Permasalahan terjadi pada supply timah yang mengetat. Hal tersebut
dikarenakan 3 tambang timah di Bolivia yang akan tetap ditutup sejak awal
bulan Mei 2004. Kondisi tersebut berpengaruh sekitar 35% dari total produksi
timah (atau 4.000 ton per tahun). Selain itu produksi dari tambang timah di
Australia turun lebih dari 80% kuartal pertama tahun 2004 karena penutupan
tambang timah Renison Bell (Tasmania) dan masalah produksi di Malborough
Resources NL (New South Wales) dan Sons of Gwalia (Wastern Australia).
Kenaikan produksi di China sepertinya tidak begitu berpengaruh pada supply,
kenaikan tingginya produksi domestik digunakan untuk konsumsi internal.
China sekarang mengungguli negara Eropa Barat sebagai konsumen timah
terbesar. Konsumsi timah China diperkirakan sebesar 81.000 ton pada tahun
2004 atau meningkat 10% dibandingkan tahun 2003. Sedangkan konsumsi
negara Eropa Barat diperkirakan hanya sebesar 76.000 ton pada tahun 2004,
atau meningkat 2% dibanding tahun sebelumnya.
Di China, Yunnan Tin Corp. mengumumkan tidak ada kenaikan produksi walaupun
harga timah tinggi dan tingginya kebutuhan dalam negeri. Kapasitas produksi
Yunnan Tin Corp. sebesar 26.000 ton/tahun. Selain itu juga diumumkan langkah
strategis untuk pengembangan kedepan, termasuk investasi dalam jumlah
besar pada eksplorasi dan proses produksi. 75% konsentrat timah Yunnan Tin
Corp. dipatuhi oleh tambangnya sendiri.
Di Australia Bluestone Nominees Pty.Ltd. mengumumkan bahwa diharapkan
persiapan pengalihan dari Renison Bell Mine dapat selesai Juni dan operasi
dapat dimulai bulan Oktober 2004, dengan antisipasi produksi awal konsentrat
timah sebesar 5.000 ton per tahun. Dengan ditambah deposit yang sudah ada
di Collingwood ( Queensland) yang diharapkan produksinya 3000 ton per tahun,
total produksi Bluestone mendekati 10.000 ton per tahun sampai akhir tahun
2005.

36

Di Spanyol Goldtech Mining Corp. memperoleh daerah seluas 12.500 acre dari
Solid Resources Ltd. Yang sebelumnya juga memproduksi timah. Goldtech
telah berkomitmen untuk melakukan program pengeboran dengan dana $
600.000. Spanish Institute Of Mine mengidentifikasi bahwa sumber daya yang
tersisa didaerah tersebut sebesar 3,5 juta ton.
Konferensi di Cologne, Jerman menghasilkan beberapa catatan sebagai berikut
:
1.

2.

3.

4.

5.4

Pasar timah global telah bergeser dari masa krisis selama 20 tahun dengan
harga timah yang rendah, menjadi masa sebelum terjadinya tin crash
tahun 1985.
Timah sepertinya merupan logam terpanas pada London Metal Exchange
(LME) pada tahun 2004. Dengan Stok yang rendah pada LME, diramalkan
akan segera jatuh, timah merupakan pandasi yang terkuat pada LME.
Penggunaan timah akan meningkat pada dekade pertama sejak tahun 2000.
Dengan digunakannya timah sebagai solder oleh negara barat,
kebutuhannya akan meningkat 90.000 ton pada tahun 2004.
Investasi yang sangat kecil pada tambang timah pada 10 20 tahun yang
lalu dan tambang-tambang kecil berkontribusi sebesar 45 50 % pada
produksi total pada tahun 2003.
Proyeksi Produksi, Penjualan dalam Negeri, dan Ekspor Timah

Seperti telah diketahui perkembangan pemasaran timah di Indonesia selain


diperoleh dari data dan analisis perkembangan pemasaran timah, juga
dipengaruhi oleh kemungkinan adanya barang-barang substitusi, perkembangan
teknologi, situasi perdagangan, perubahan politik dan lain-lain.
Proyeksi konsumsi timah dunia, menurut ITRI (International Tin Research
Institute), pada tahun 2004 konsumsi timah dunia untuk solder mencapai
sebesar 86.500 ton, Tin Plate 79.000 ton, alloys & alloys Coating 47.750 dan
PVC Stabilizers 22.000 ton. Menurut ITRI jumlah konsumsi timah dunia akan
meningkat pada tahun 2005 menjadi sebesar 304.330 ton, bahkan pada tahun
2010 menjadi sebesar 366.000 ton.
Proyeksi konsumsi timah Indonesia pada tahun 2005 sebesar 2.174 ton, jika
dibandingkan dengan konsumsi timah menurut ITRI, maka kontribusi konsumsi
timah Indonesia sebesar 0,84% dari konsumsi timah dunia pada tahun 2005.
Produksi timah Indonesia pada tahun 2005 sebesar 61.620 ton sedangkan
konsumsi timah dunia 304.330 ton, maka kemungkinan Indonesia masih

37

mempunyai peluang meningkatkan pemasaran timah pada masa mendatang. Hal


ini dapat tercapai jika disertai dengan harga timah yang membaik dan situasi
perekonomian yang membaik pula.

Tabel 5.1
Proyeksi Produksi, Konsumsi Dan EksporLogam Timah Indonesia
2004 2014
(Ton)
TAHUN

PRODUKSI

PENJUALAN

EKSPOR

2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014

58.753
60.251
61.750
63.248
64.747
66.245
67.743
69.242
70.740
72.239
73.737

2.150
2.174
2.198
2.222
2.247
2.271
2.295
2.319
2.344
2.368
2.392

54.724
56.445
58.167
59.889
61.611
63.332
65.054
66.776
68.498
70.220
71.941

PRODUKSI
TIMAH
KONSENTRAT
66.740
68.914
71.089
73.264
75.439
77.614
79.788
81.963
84.138
86.313
88.487

Dalam tahun 2002, kelebihan pasokan timah yang diperkirakan berlanjut


dalam tahun 2003. Timah yang berasal dari penambang skala kecil di
Indonesia, telah membanjiri pasar dan jumlahnya lebih banyak daripada
pengurangan jumlah ekspor timah di China. Perkiraan harga untuk tahun 2004
adalah US $ 4.500 dan untuk tahun 2005 adalah US $ 4.600. Perkiraan
produksi timah PT Koba Tin tahun 2003 sebesar 20.116 ton Sn, tahun 2004
sebesar 21.206 ton Sn dan tahun 2005 sebesar 19.985 ton Sn (PT Koba Tin,
2003).
5.5 Pengaruh Perkembangan Teknologi
Logam timah sampai saat ini sebagian besar masih digunakan untuk pelat timah
dan solder. Perkembangan teknologi terutama di negara-negara maju seperti
Prancis, Inggris, Jerman, Jepang dan Amerika telah berkembang dengan
pesat, dan industri hilirnya menunjukkan kecenderungan menurunkan intensitas
penggunaan timah hal ini ternyata berkaitan dengan material subtitusi timah
serta proses daur ulang.

38

Sebagai gambaran dari kondisi tersebut diantaranya adalah dalam industri


kemasan makanan maupun produk industri hilirnya, negara-negara maju
cenderung berusaha melepaskan ketergantungan terhadap penggunaan timah,
dan menggantikannya dengan plastik, alumunium dan sebagainya. Selain itu
meningkatnya proses daur ulang terhadap sekrap timah akan mengurangi
permintaan logam timah primer yang umumnya diproduksi oleh negara-negara
berkembang. Kecenderungan penurunan intensitas penggunaan logam timah
tersebut, akan berakibat negatif dan menjadi kendala besar terhadap para
produsen timah dalam pengembangan produksinya di masa mendatang.

5.6 Pengaruh Perdagangan Bebas dan Blok-Blok Perdagangan


Seperti telah diketahui salah satu usaha dalam rangka mencoba mengatasi
kemelut perdagangan diantaranya disebabkan oleh situasi telah membagi
negara-negara dalam blok-blok proteksi yang hampir dilakukan oleh setiap
negara, baik melalui tarif maupun non tarif adalah pembentukan suatu porum
persetujuan perdagangan umum tentang tarif dan perdagangan ( general
agreement on tarifs and trade). Di bidang NRBPS (Natural Resources base
Procedures), negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) yang
merupakan negara-negara penghasil sumber daya alam dengan potensi sangat
besar, seperti hasil-hasil tambang dalam perundingan tersebut berusaha untuk
memperjuangkan untuk memperoleh kesempatan ekspor yang lebih luas, serta
dihapuskannya hambatan-hambatan di bidang ini, baik melalui group negosiasi
dalam tarif maupun non tarif.

Khususnya terhadap perkembangan industri termasuk untuk komoditi tambang


timah. Perkembangan pertimahan dunia masih dominan dibutuhkan oleh negara
maju, dengan berbagai bentuk proteksinya.
5.7 Pengaruh Perubahan Politik Dan Ekonomi Dunia

39

Dalam dekade 1980-an sampai dengan awal dekade 1990-an telah terjadi
berbagai perubahan baik politik maupun ekonomi di beberapa kawasan di dunia
antara lain di Eropa Timur, Timur Tengah, di negara-negara maju dan di
kawasan Asia Pasifik. Perubahan-perubahan itu ternyata berdampak cukup
besar terhadap perkembangan ekonomi dunia secara keseluruhan, yang
akhirnya berdampak juga terhadap perkembangan industri-industri logam.
Dengan merosotnya perekonomian di kawasan ini telah berdampak lebih jauh,
yaitu lumpuhnya sektor perindustrian termasuk diantaranya sektor industri
hulu hilir pemakai logam timah. Menurut beberapa pengamat ekonomi
diperkirakaan kawasan di Pasifik merupakan kawasan yang mempunyai prospek
cukup baik, dan produk industri negara-negara di kawasan Asia Pasifik akan
mempunyai keungulan komparatif dibandingkan produk dari kawasan lainnya,
kawasan di Pasifik dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, diperkirakan
permintaan timah dikawasan ini akan meningkat.

5.8 Timah sebagai Salah Satu Potensi Mineral Indonesia


Sebagaimana sudah dikemukakan bahwa Indonesia mempunyai berbagai macam
jebakan Mineral. Namun, hanya beberapa saja yang jumlahnya cukup besar.
Timah, misalnya sejak sebelum perang, cadangannya paling cukup besar,
walaupun secara keseluruhan cadangan timah Indonesia hanya 8% dari
cadangan timah dunia. Nikel dapat dikategorikan sebagai cukup besar,
walaupun tidak merupakan urutan teratas. Jika dibandingkan dengan cadangan
dunia, Indonesia memiliki nikel sebanyak 15%. Ekpslorasi logam dasar di Papua
telah pula memberikan hasil, bahwa sejauh ini Grasberg yang terletak di
Ertsberg di pegunungan Jaya Wijaya, Papua merupakan tambang emastembaga terbesar di dunia dari satu lokasi penambangan. Cadangan tembaga
Indonesia mencakup 5% dari cadangan tembaga dunia.

Indonesia, memiliki jenis mineral yang lumayan (lihat Tabel 5.3) tetapi
jumlahnya hanya satu saja yang dapat digolongkan sebagai terbesar di dunia,
yaitu timah.15

40

Tabel 5.3
Potensi, Cadangan, dan Mineral Utama
(Tahun 2003)
Komoditas

Logam
Emas
Perak
Timah
Tembaga
Nikel
Batubara

Sumber daya
(ton)

3.299,94
31.333,61
924.792,13
7.635.023,23
979.370.000,00
57.847.400.000

Cadangan
(ton)

Produksi
2003
(ton)

3.041,31
14.716,46
411.353,50
40.638.336,90
576.271.488,00
6.981.620.000

141.019
285.206
66.284
1.005.837
4.395.427
114.610.122

Umur
Tambang
(tahun)
21,6
51,6
6,2
40,4
13,1
60,9

41

BAB VI PENGUNAAN DAN ASPEK LINGKUNGAN

6.1 Penggunan Timah


Logam timah digunakan untuk berbagai macam keperluan :

Pelapis timah (tinning)


Solder dan bahan paduan (fusible alloys)
Logam putih (white metal), babbit, logam anti gesekan (anti friction
metal) dan timah tempaan (wrought tin)
Perunggu (bronze), kuningan (brass) dan copper-base alloys lainnya
Pelat timah (tin plate) dan terneplate
kimia timah (tin chemical) yang dibedakan dalam inorganic
compoundsdan organition compounds,
Lain-lain seperti oksida timah (tin oxide), tepung timah (tin powder),
pewter dan logam perhiasan (costume jewellery)

Berdasarkan pengamatan statistik rata-rata lima tahun yang dilakukan CRU


Internasional Ltd. Untuk tahun 1990-1994, komposisi penggunaan logam timah
di dunia secara umum adalah pelat timah 29,82%, solder 31,58%, bahan kimia
15,79% dan lain-lain 22,81%.
Komposisi penggunaan logam timah di masing-masing negara berbeda-beda
tergantung dari perkembangan ekonomi industri dan kemajuan teknologi
negara bersangkutan.
Sejak tahun 1990-an konsumsi logam timah untuk pelat timah mengalami
penurunan yang cukup tajam, rata-rata penurutan 1,7 %/tahun. Hal ini
disebabkan antara lain oleh karena :
1. Subtitusi kemasan makanan/minuman yang semula menggunakan tin plate
dengan alumunium dan plastik (di Amerika Serikat saat ini 97 % kemasan
minuman menggunakan alumunium).
2. Kemajuan teknologi saat ini yang telah memungkinkan memproduksi tin
plate dengan lapisan timah yang lebih tipis.
3. Persepsi lingkungan yang mengharuskan kemudahan re-cycling sampahsampah kemasan.

42

4. Perubahan pola hidup dimana microwave-oven telah digunakan secara


meluas dilingkungan rumah tangga yang mengurangi kebutuhan akan
tempat/wadah makanan dari metal.
Di Amerika dan Eropa, tuntutan undang-undang yang membatasi kadar logam
berat (Pb, Cd, Hg, Cr, Ni) pada kemasan makanan diperkirakan akan senantiasa
meningkat dari tahun ke tahun ke arah kualitas yang paling tinggi (20 -50 ppm
Pb).
Di bidang industri, penggunaan timah terbesar saat ini adalah solder
(menggeser kedudukan pelat timah) dikarenakan perkembangan industri
elektronika yang sangat pesat yang memerlukan high tin solder (khususnya di
Asia). Laju peningkatan pemakaian solder memang agak lambat dikarenakan
kemajuan teknologi yang memungkinkan miniaturisasi komponen dan papan
sirkuit elektronik serta pengembangan model surface mounted units.
Di bidang otomotif, perubahan disain radiator dan pemakaian alumunium
radiator menggantikan radiator tembaga ataupun kuningan juga membatasi
penggunaan solder.

Penggunaan timah untuk perunggu dan paduan bantalan ( bearing alloys)


cenderung menurun sementara penggunaan timah untuk tinning dan pewter
relatif stabil. Di Malaysia dan Thailand penggunaan timah untuk pewter
mengalami peningkatan sejalan dengan program pengembangan pariwisata, di
Thailand konsumsi timah untuk pewter pernah mencapai 500 mt/tahun.

43

Sejalan dengan berkembangnya teknologi maka penggunaan timah tidak hanya


terbatas sebagai bahan pembentuk perunggu namun juga dipakai secara luas di
industri. Dewasa ini timah dipakai di industri sebagai solder, bahan pelapis
untuk pengalengan makanan, bahan paduan dalam logam timbal, pelapis kaca,
fungisida, insektisida, katalis, penstabil panas dalam polimer dan lain-lain

Timah pasti dikonsumsi oleh setiap rumah tangga setiap-harinya. Semakin


tinggi
disposable
income/pembelanjaan,
meningkatkan
permintaan
pasar/kebutuhan akan konsumen barang dengan cepat dalam skala yang lebih
besar lagi. Kebutuhan pasar akan timah di Asia Tenggara bertambah terus
sekitar 8 persen setiap tahunnya.

Timah dalam solder


Ledakan permintaan konsumen terhadap barang elektronik khususnya sangat
kuat di Asia, dan pada inti setiap kamera, telepon seluler, komputer, TV dan
radio ada sebuah papan sirkuit yang menggunakan solder timah. Kepedulian
akan
keamanan
dan
lingkungan
telah
mengarahkan
banyak
perusahaan/produsen untuk berpindah ke solder timah 90%.
Timah dalam pelat timah
Penggunaan pelat timah dalam kemasan makanan dan minuman kaleng
merupakan bahan pengemas dan penyimpanan yang tahan lama, aman dan dapat
diandalkan. Sementara permintaan pasar atas kaleng pelat timah di Amerika
dan Eropa telah terpenuhi, potensi pertumbuhan/perkembangan di Asia
sangatlah besar. Di beberapa bagian wilayah Asia masa kini, konsumsi kaleng

44

timah perkapita ada pada level yang setara dengan kurang dari satu persen
jumlah konsumsi kaleng timah di Barat. Kaleng timah juga hemat energi,
mengkonsumsi setengah energi dari yang dibutuhkan untuk membuat kontainer
PET dan energi yang lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk membuat kaleng
aluminium.
Penyolderan bergelombang/wave soldering
Beberapa pembuat/produsen barang konsumen listrik menggunakan teknik
yang baru dikembangkan ini. Pembuat/produsen TV merupakan salah satu
contohnya. Timah Dalam Bahan Kimia Industri kimia adalah konsumen timah
yang berkembang dengan pesat. Permintaan pasar yang terkuat adalah untuk
industri rumah tangga dan cat, plastik serta non-besi untuk digunakan dalam
industri mesin (antara lainnya, tembaga, perunggu dan perunggu fosfor).
Contoh dari aplikasi komersial termasuk pelapisan kawat tembaga (copperwire) dan kabel dan pembuatan bentuk/potongan
Timah dalam makanan
Selama lebih dari 100 tahun, makanan olahan dalam kaleng adalah bagian yang
signifikan dalam pengadaan pangan manusia, mulai dari makanan bayi hingga
makanan mewah. Kenyataan bahwa setiap hari lebih dari 300 juta kaleng
makanan dikonsumsi manusia setiap harinya, merupakan salah satu bukti bahwa
timah merupakan bahan pengemas
makanan olahan yang aman. Tidak ada
keharusan mencantumkan label Berbahaya Jika Ditelan pada bahan kemasan
timah, karena logam timah dianggap tidak membahayakan. Timah tidak hanya
dipakai sebagai bahan amalgam penambal gigi, tetapi juga menjadi bahan
campuran dalam berbagai jenis obat.
Timah dalam air minum dan di udara
Badan-badan regulasi yang bertanggung jawab mengamankan air minum bagi
warga negara dan warga dunia tidak melihat perlunya mengatur penggunaan
timah dalam ketentuan-ketentuan mereka. Tidak seperti seng, tembaga,
timbal, dan merkuri, yang mudah bereaksi dengan unsure-unsur dalam tanah
dan larut dalam air sehingga menimbulkan pencemaran, timah adalah logam
yang sangat stabil (inert). Timah tidak larut dalam air pada derajat keasaman
yang ekstrim sekalipun, sehingga timah tidak akan mencemari lingkungan hidup
kita, termasuk air minum dan udara yang kita hirup. Karena itu Badan
Kesehatan Dunia (WHO) tidak pernah mencantumkan timah dalam daftar
bahan pencemar anorganik primer.

45

Pembuatan lampu bohlam


Timah merupakan bagian yang sangat penting dari setiap pembuatan lampu
pijar dan lampu TL/neon. Untuk mensuplai 190 juta konsumen domestik/dalam
negeri dan memajukan pasaran ekspor, industri pembuatan lampu bohlam
Indonesia mempunyai kapasitas tahunan sekitar lebih dari 550 juta buah. 6

Material timah
Timah juga telah dipakai sebagai pengganti peluru timah hitam yang biasa
dipakai pada musim berburu ataupun dalam olahraga menembak. Penggunaan
timah telah dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh
percikan potongan logam timbal yang sebelumnya dipakai sebagai bahan baku
peluru. Peluru senapan angin, maupun peluru yang dipakai oleh kalangan militer
sedang dikembangkan agar penggunaan timah yang mempunyai berat jenis lebih
rendah dapat berfungsi sama sebagai pengganti timbal, berupa bahan komposit
timah.
6.2

Penggunaan Senyawa Kimia Timah

Pertama kali penelitian senyawa organotimah dilakukan oleh Sir Edward


Frinkland (1825-1899), dengan mensintesa senyawa di iodo diethylstannate
(dietiltimah di iodid) dan tahun 1859 tetra ethyl stannate (tetra etitimah).
Setelah itu bermacam-macam senyawa organotimah telah disintesa. Pada saat
sekarang ini, banyak laboratorium melakukan penelitian-penelitian tentang
pembuatan senyawa organotimah serta memperlihatkan penggunaannya yang
potensial. Pemanfaatan senyawa ini dimulai pada tahun 1940, yaitu pada
industri plastik yang penggunaannya mulai berkembang, namun sifat splastik ini
mempunyai kelemahan; tidak tahan panas dan cahaya, yang akan terdegradasi
menjadi mudah pecah atapun berubah warna. Penelitian-penelitian telah
dilakukan untuk mencari senyawa-senyawa yang berfungsi sebagai penstabil,
yang kemudian ditemukan bahwa senyawa organotimah tertentu mempunyai
sifat itu. Hal ini dikembangkan terutama pada akhir tahun 1940 dan 1950 di
Eropa.
Penemuan yang berarti yaitu pada tahun 1955, telah ditemukan senyawa
oktiltimah sebagai stabiliser yang tidak beracun dan dapat digunakan pada
bahan PVC untuk kemasan makanan yang sampai sekarang telah digunakan
sebagai senyawa organotimah dengan jumlah terbesar.

46

Sifat biosida dari turunan senyawa organotimah telah dipelajari sejak tahun
1950 oleh Internasional Tin Research Institute (ITRI). Senyawa biosida
terkuat adalah trialkiltimah dan triariltimah yang telah digunakan secara
komersial.
Trifeniltimah digunakan sebagai fungisida dengan sifat phototoxicing yang
rendah dan trifeniltimah asetat telah digunakan secara komersial pada
pertanian untuk melindungi tanaman kentang melawan Phytophtora infestans
dan kemudian trifeniltimah hidroksida juga dipasarkan untuk kegunaan yang
sama.
Senyawa lain yang digunakan untuk pengawet kayu, cat antifouling, desinfektan
dan algicidal treatment untuk bahan bangunan. Konsumsi senyawa organotimah
semakin bertambah dari 10.000 ton (1965), 30.000 - 35.000 ton (1980) dan
sekarang diperkirakan 55.000 ton/tahun. Hal ini dapat dilihat dengan variasi
kegunaannya maka senyawa ini telah diproduksi secara manufaktur dalam
industri.
Dalam hal PVC stabilizer, kegunaan senyawa organotimah yang tidak berbahaya
telah digunakan untuk kemasan makanan seperti gelas yang tembus cahaya dan
dapat dilihat di supermarket. Pembahasan secara rinci telah dipublikasikan
oleh para ahli dari Internasional Tin Research Institute, Blunden, et. al. 17,18
and Smith et. al.19
Senyawa-senyawa organotimah sudah banyak digunakan dengan luas seperti
pada Tabel 6.1.

47

Tabel 6.1
Penggunaan senyawa organotimah dalam industri
PEMANFAATAN KEGUNAAN
SENYAWA YANG DIGUNAKAN
PVC Stabiliser
Stabiliser
Dialkiltimah
di-isooktil
thioglikolat
terhadap panas (alkil=metil,
butil,
oktil
2dan cahaya
butoksikarboniletil)
dialkiltin
maleat
(alkil=metil, butil, oktil) mono-alkiltimah
tri isooktiltioglikolat (alkil=metil, butil,
oktil, 2-butoksi-karboniletil)
dibutiltimah diasetat dibutiltimah dioktoat dibutiltimah dilaurat

Busa Poliuretan Katalis


Silikon RTV
Esterifikasi

Gelas

Peternakan
Pengawetan Kayu

Pertanian

Cat anti fouling

asam
butanestannonik;
dibutiltimah
diasetat; dibutiltimah oksida

Katalis

Prekursor
lapisan
diatas gelas

dimetiltimah
diklorida;
butiltimah
untuk triklorida; metiltimah triklorida
Sn02

Fungisida

Fungisida
Insektisida
Mitisida
Biosida

dibutiltimah dilaurat; bis (tributiltimah)


oksida;
tributiltimah
naftenat;
tributiltimah fosfat
trifeniltimah
asetat;
trifeniltimah
hidroksida,;
trisikloheksiltimah
hidroksida ; bis (trineofiltimah) oksida
trifeniltimah
florida; bis
tributiltimah
klorida; polimer

klorida;
trifeniltimah
(tributiltimah) oksida;
florida;
tributiltimah
tributiltimah akrilat

Pelindung bahan Fungisida


(batu,
kulit, Algisida
kertas, dll)
Bakterisida

bis (tributiltimah) oksida; tributiltimah


bensoat

Moth proofing of Insektisida


textiles
Antifeedant
Designfektan
Bakteriostat

trifeniltimah klorida; trifenil hidroksida;


tributiltimah bensoat

48

PVC stabiliser
Senyawa organotimah dalam PVC digunakan dalam konsentrasi 0.5 20%.
Stabiliser bersatu dengan PVC resin untuk diproses bersama lubricant atau
inpact modifier atau ditambahkan sebelum proses untuk PVC manufaktur.
Senyawa organotimah ini terbanyak dikonsumsi sebagai PVC stabiliser
karena industri PVC berkembang dengan pesat sejak tahun 1940. Penggunaan
PVC ini sangat luas karena :
Harganya relatif murah dibandingkan dengan material lainnya
Dapat digunakan dalam berbagai bentuk
Mempunyai sifat mekanik, elektronik dan kimia yang baik
Penggunaan PVC additif secara efisien
Proses teknologi yang telah dikembangkan khusus untuk PVC
Pabrik PVC hanya mengkonsumsi sedikit energi
Walaupun PVC ini mempunyai banyak kelebihan dari material lainnya, namun ada
sifat PVC yang kurang menguntungkan diantaranya, tidak tahan panas dan sinar
ultraviolet (UV). PVC rata-rata tahan pada temperatur maksimum 180-200 0 C
yang akan mengakibatkan material menjadi lunak begitu pula dengan sinar UV,
PVC cenderung akan berubah warna.
Pada umumnya senyawa organotimah dapat digunakan tersendiri atau campuran
dari 2 atau lebih macam senyawa organotimah. Senyawa yang digunakan secara
komersial adalah Sn (II) Stearat yang dikenal sebagai Non Toxic Additivies
for PVC Food Containers.
Pada umumnya senyawa stabiliser dapat dibagi dalam 2 grup yaitu senyawa
yang mengandung ikatan Sn-S yang dikenal paling efektif sebagai stabiliser
panas dan yang mengandung ikatan Sn-O sebagai stabiliser cahaya. Untuk
keperluan ini biasanya diperlukan campuran kedua jenis stabiliser tersebut
diatas.
Ada beberapa kondisi yang dapat dilihat apabila senyawa organotimah
digunakan sebagai PVC stabiliser :
Senyawa organotimah tanpa S dapat digunakan sebagai cahaya
stabiliser, akan baik digunakan untuk out door.
Sifat-sifat daya racun yang rendah dan sulit larut dalam air membuat
senyawa organotimah baik untuk penggunaan food contact misalnya

49

dioktiltimah
maleat,
metiltimah
tioglikolat,
monobutiltimah
sesquisulfida.
Senyawa organotimah adalah tipe stabiliser yang efektif digunakan
untuk PVC grade yang cocok dengan komposisi tambahan lainnya seperti
oli, plastiliser, pewarna, dll.
Bahan PVC dengan menggunakan senyawa organotimah sebagai stabiliser ini
telah digunakan di berbagai bidang yaitu :
Bahan bangunan seperti atap transparan, dinding, rangka jendela, pipapipa air, dll.
Pengepakan, botol, lembaran-lembaran, dll.
Penggunaan lain seperti kartu kredit, gramafone, vinil untuk dekorasi
dinding, dll.
Sistem antifouling
Bagian bawah kapal-kapal besar selalu terendam dalam air laut sehingga akan
mengakibatkan tumbuhnya organisme pada dasar kapal tersebut yang nantinya
akan merusak bagian tertentu yang mungkin akan mengakibatkan kebocoran.
Untuk mencegah tumbuhnya organisme tersebut adalah dengan cara meracuni
organisme tersebut. Senyawa triorganotimah telah memperlihatkan
efektifitasnya terhadap pencegahan pertumbuhan organisme tersebut.
Penggunaan ini tidak hanya pada kapal-kapal saja, tapi juga mencakup kapal
selam, radar atau peralatan sonar. Penempelan organisme secara alami dapat
dipengaruhi beberapa faktor yaitu lokasi geografi, temperatur air, kedalaman
serta salinitas.
Pelekatan organisme ini dilakukan oleh komunitas bakteri, diatomea, protozoa
dan alga spons yang selanjutnya diikuti oleh barnakles, ganggang, cacingcacing, keong atau sponge. Pertumbuhan organisme di atas akan mengakibatkan
hal yang serius misalnya mengakibatkan kerusakan yang diikuti oleh korosi.
Metoda yang paling efektif dalam menangani hal tersebut diatas adalah
dengan melapisi sistem dengan biosida yang akan mencegah pertumbuhan
organisme tersebut pada konsentrasi yang rendah dan aman terhadap alat-alat
tersebut, namun tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Pelindian pun harus
berlangsung lama dan pelapisan harus kuat sehingga tidak mengakibatkan
korosi. Metoda tersebut telah dilakukan, yaitu dengan cara membandingkan
bahan yang telah dilapisi dengan bahan yang tidak dilapisi.

50

Senyawa organotimah sebagai antifouling telah dipatenkan pada tahun 1943,


tributil dan trifeniltimah banyak digunakan sebagai anti fouling saat ini karena
efektifitasnya terhadap bermacam-macam organisme dan daya racun yang
rendah terhadap manusia.
Dibawah ini dapat dilihat perbandingan jenis-jenis anti fouling terhadap
pertumbuhan ganggang dan barnades.

Tabel 6.2
Perbandingan aktifitas biosida pada antifouling
AKTIFITAS RANGE
SENYAWA
ALGAE
BARNACLE
R3SnX
0,01 5
0,1 1
Cu2O
1 50
1 10
R3PbX
*)
0,1 1
0,1 1
RHfX
*)
0,1 1
0,1 1
*) Karena alasan lingkungan, senyawa Pb dan Hg tidak diizinkan untuk
digunakan

Anti fouling yang menggunakan organotimah atau senyawa lain dapat dibagi
dalam 3 sistem ; konvensional, elastomerik dan sistem polimer. 20
Pada konvensional, biasa digunakan Cu2O atau organotimah sebagai bahan anti
fouling yaitu dengan diaplikasikan secara langsung pada metal di dasar kapal.
Senyawa ini tidak berwarna maka dapat digunakan pada cat-cat putih atau
warna pucat.
Senyawa organotimah ini biasanya mudah digunakan yaitu mudah bersatu
dengan kebanyakan organik binder seperti vinil atau akrilik polimers, epoksi
atau alkil resin dan bahan karet. Yang paling banyak digunakan adalah senyawa
turunan tributiltimah oksida (TBTO) dan tributiltimah fluorida.
Pada sistem elastomerik adalah pencampuran dengan karet yang biasa
digunakan pada peralatan sonar.
Sistem polimer adalah sistem organometalik polimer dimana bahan biosida
ditempelkan pada rantai polimer. Biosida grup terlepas apabila kontak dengan
air, sehingga akan mengurangi penglarutan dan proteksi yang lebih lama.
Polimer yang telah dibuat adalah tributiltimah akrilat dan metakrilat.
Sistem polimer ini dikomersialisasi di Eropa dan Jepang pada tahun 1970-an.

51

Dalam sistem ini ada beberapa keuntungan yaitu :


Proporsional, selama biosida ini digunakan sebanding pada ketebalan
Kecepatan erosi terkontrol
Pecahan-pecahan dari cat dapat terkontrol
Penggunaan yang efisien
Selalu mempunyai permukaan yang aktif
Dipolis pada daya erosi yang tinggi
Penggunaan dengan cara ini sangat intensif dimana dapat mengurangi biaya 10
15%.
Bidang pertanian
Senyawa organotimah pertama kali dikomersialisasikan pada bidang pertanian
(1960-an) yaitu trifeniltimah asetat (Brestan, Hoesch K.G) dan trifeniltimah
hidroksida (Duter, Phillips, Puphar N.V) yang saat ini dipergunakan secara luas
serta hanya senyawa organotimah yang digunakan di Indonesia sebagai
fungisida. Senyawa organotimah yang ketiga adalah trisikloheksiltimah
hidroksida (Plictran, Dow Chemicals) untuk membunuh serangga pada tanaman
apel, pear dan jeruk.
Senyawa-senyawa organotimah mempunyai keuntungan yaitu toxisitas yang
rendah dan dapat terdegradasi menjadi monoorganotimah dan inorganotimah
yang tidak berbahaya. Beberapa penelitian telah digunakan yang menyatakan
bahwa senyawa organotimah ini sangat berguna untuk mencegah hama pada
tanaman 21-25. Penggunaan peptisida dengan menggunakan bahan kimia
diperuntukkan untuk menghindari hama pada musim panen 26.
Senyawa organometalik mempunyai peranan penting dalam mengkontrol panen
karena wabah hama dalam beberapa tahun ini misalnya senyawa organomerkuri
digunakan sebagai fungisida pada penanaman biji cereal dan ini diperkirakan
digunakan sekitar 3000 ton / tahun (1985).
Dalam bidang pertanian bermacam-macam senyawa telah dibuat dan biasanya
diuji keefektifannya melalui :
Bermacam-macam hama serangga dengan cara disemprot atau dimakan
melalui makanan serangga
Bermacam-macam hama jenis tanaman yang merugikan melalui uji agaragar ataupun pada tanaman

52

Beberapa spesies pada woods growing di rumah kaca, uji untuk tanah,
dll.

Bahan pengawet kayu


Kayu dengan berbagai jenis adalah bahan yang banyak dimanfaatkan oleh
manusia untuk berbagai macam kegunaan seperti bahan bangunan, pagar, kapal,
pengepakan dan sebagainya. Namun bahan ini sangat mudah diserang oleh
organisme seperti jamur, serangga dan juga bakteri. Dengan demikian perlu
adanya perlakuan terhadap kayu tersebut untuk mencegah kerusakan yang
disebabkan organisme tersebut.
Beberapa senyawa seperti seng klorida, pentakhlorofenol dan lain-lain telah
dikenal secara efektif dapat melindungi kayu dalam waktu yang lama namun
perlindungan kayu oleh senyawa tertentu akan terbatas pada serangan
organisme tertentu pula.
Senyawa-senyawa trialkiltimah telah dikenal secara komersial dapat
melindungi kayu, namun senyawa-senyawa turunannya dapat pula melindungi
kayu terhadap organisme spesifik seperti jamur biru ( blue stain) yang dapat
merusak keindahan kayu dengan memberi warna biru, serta jamur adalah media
yang baik bagi kumbang penggerek yang akan merusak kayu dengan cara
membolongi kayu. Jamur biru ini sangat senang tumbuh pada kayu di Indonesia,
karena keadaan iklim Indonesia yang menunjang yaitu kelembabannya serta
curah hujan yang tinggi.
Beberapa penelitian telah dilakukan tes efektifitas senyawa trietil dan
tributil, R3SnX (R=etil, butil) dimana X grup tidak memperlihatkan pengaruh
toxisitas. Tributiltimah oksida dan tributil naftalena telah digunakan secara
komersial untuk bahan pengawet kayu yang sebelumnya dilakukan penelitianpenelitian 27-37.
Kebanyakan senyawa organotimah sebagai biosida tidak larut dalam air, namun
beberapa penelitian dilakukan untuk mendapatkan formula senyawa yang larut
dalam air sehingga akan mengurangi kemungkinan biaya perlakukan 38 serta
mengurangi kemungkinan bahaya kebakaran 39-40.
Ada beberapa cara dalam aplikasi senyawa organotimah yaitu :
1. Vakum ganda
2. Vakum

53

3. Penyemprotan
4. Perendaman
5. Pengecatan
Senyawa tributiltimah aktif melawan gram positif bakteri serta dikombinasi
dengan bahan lain yang melawan gram negatif dapat menghasilkan disinfektan
yang digunakan untuk membunuh kuman seperti di lantai-lantai rumah sakit
atau lapangan-lapangan olahraga. Senyawa-senyawa yang biasa digunakan
adalah campuran tributiltimah benzoat dan formaldehida. Bahan lain adalah
campuran bis(tributiltimah)okida dengan quarternary amonium halida (misalnya
SCP31, SCP desinfektan AB) yang digunakan untuk mencegah biodeteroisasi
untuk bermacam-macam bahan.

Lain-lain
Pada tahun 1980-an penelitian menunjukkan penggunaan senyawa dialkiltimah
dapat digunakan sebagai obat terapi kanker. Senyawa kompleks diorganotimah
dikhlorida dengan N-donor ligand, mengandung trans organik group dan cis
halogen yang ditempelkan pada platinum obat anti tumor, cis Pt (NH 3)2 Cl2 yang
aktif didalam P388 limfositik leukimia tumor pada tikus terutama untuk R=etil
dan ligand 23,41 fenantrolin 41.
Komersial lainnya, senyawa dialkiltimah dapat digunakan sebagai pembunuh
cacing parasit pada ayam, bahkan tanpa membahayakan binatang itu sendiri.
Senyawa yang efektif yaitu dibutil dilaurate sebagai bahan aktif pada 3
formula yaitu, Tinostat, Polystat dan normal (Salisbury Laboratories).
Seperti bahan pengawet kayu, senyawa organotimah telah diteliti yaitu sifat
biosida/fungisida dan menonjol pada gugus gugus senyawa trialkil timah. 41-44
Senyawa diorganotimah yang banyak digunakan sebagai pencampur dalam busa
poliuretan dapat mencemari lingkungan terutama dalam pembuangan, sebagai
limbah padat, namun daya racun dapat hilang selama adanya pembakaran
dimana senyawa organotimah akan terurai pada temperatur tersebut.
Penggunaan lain seperti disinfektan, penguat gelas, obat-obatan untuk jenis
unggas, namun penggunaannya sedikit.

6.3

Aspek Lingkungan

54

Dalam bahasan lingkungan ini dibahas aspek lingkungan penggunaan senyawa


kimia timah dalam 2 bagian yaitu :
Sumber dari aktifitas penggunaan
Interaksi lingkungan

Sumber aktifitas penggunaan


Senyawa organotimah telah digunakan di berbagai industtri. Dalam
mempelajari aspek lingkungan, senyawa ini dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu
yang mempunyai sifat biologi dan yang tidak mempunyai sifat biologi. Biosida
yang digunakan diperkirakan 30% dari konsumsi seluruh organotin yang harus
diperhatikan karena sumber terbesar yang mencemari lingkungan senyawa
organotimah dalam industri dapat dilihat pada Tabel 6.3.

No
1.
Pertanian
2. Anti fouling
3. industri
gelas
4. PVC
5. Pabrik kertas
6. Pengawet kayu

Tabel 6.3
Pencemaran senyawa organotimah
METODE
PENCEMARAN
Penyemprotan tanaman
Udara, tanah, air
Penyemprotan cat
Udara, air
Pelapisan gelas dengan Udara
organotimah
Pelindihan dari PVC
Air
Penipisan kertas
Air
Penyemprotan tanaman
Udara, tanah, air

PVC stabiliser
Dalam penggunaan stabiliser, yang mungkin mencemari lingkungan adalah emisi
selama proses leaching (pelarutan) dari produk PVC (misalnya pipa atau botol).
The U.S National Institute menyarankan nilai ambang batas (TLV) 0,1 mg/m 3
udara (dihitung sebagai Sn) di tempat bekerja. Sebenarnya ini juga ada
kemungkinan dari pembahasan vinil khlorida yang juga beracun dari proses
PVC. Pelarutan senyawa organotimah telah diteliti dimana sangat tergantung
pada rantai alkil pada stabiliser. Apabila PVC terdegradasi, senyawa-senyawa
organotimah dikonsumsi menjadi senyawa inorganik timah dan senyawa

55

tersebut mungkin akan dilepas ke udara. Walaupun secara teori organotimah


dapat terlarut dari udara ke air tanah, tapi jumlah ini sangat sedikit dan PVC
akan terdistribusi dalam konsentrasi yang sangat rendah sehingga dapat
dikatakan tidak begitu mencemari lingkungan.
Bahan pengawet kayu
Senyawa tributiltimah melindungi kayu dari pertumbuhan jamur dan serangga
yang dapat diaplikasikan 1-3% larutan dalam pelarut organik misalnya kerosin.
Pelarutan senyawa organotimah untuk proses pengawetan kayu telah diteliti
bahwa kayu dengan pengawet kayu senyawa organotimah aman digunakan
sebagai bahan interior.
Toxisitas senyawa tributiltimah telah dipelajari secara rinci 41.

Bidang pertanian
Dalam bidang pertanian senyawa organotimah digunakan dengan cara
penyemprotan pada waktu panen. Kemungkinan pencemaran yang ada adalah
dari sisa panen, kontaminasi dengan tanah sekitarnya dan juga air yang
mengalir.
Secara komersial ada 5 tipe yang digunakan yaitu :
Trifeniltimah asetat, trifeniltimah hidroksida, trisikloheksiltimah hidroksida,
bis(tris(2-metil 2-fenilpropi)timah)oksida dan 1-trisikloheksil stannil 1,2,4triarole. Selama ini hanya trifeniltimah asetat yang banyak digunakan di
Indonesia.
Dalam penggunaannya senyawa organotimah digunakan dengan cara
penyemprotan, dalam hal ini sisa-sisa senyawa organotimah akan menempel
pada tanaman atau buah-buahan dan kontaminasi akan terjadi di tanah dan air
disekitarnya.
World Health Organization mengumumkan bahwa senyawa trifeniltimah
adalah senyawa yang aman untuk di gunakan di bidang pertanian dan jumlah
yang dapat termakan oleh manusia adalah pada konsentrasi 0 0,0005 mg/kg
berat badan. Sedangkan untuk senyawa trisikloheksiltimah hidroksida adalah 0
0,007 mg/kg berat badan.
Sedangkan bis(2-metil 2-fenil propiltimah)oksida dikenal dengan nama
Verdex di USA yaitu 0 0,3 mg/kg berat badan.

56

Senyawa trifeniltimah untuk perlakuan tanaman berkembang secara


pesat karena adanya angin ataupun hujan dan terdegradasi oleh udara ataupun
adanya sinar, tabel 4 menunjukkan proses kecepatan penurunan kadar senyawa
organotimah pada tanaman kentang.
Tabel 6.4
Proses kecepatan penurunan kadar organotimah pada tanaman kentang.
Jumlah hari setelah Sisa senyawa organotimah pada daun tanaman
aplikasi
kering
Digunakan 0,34 kg/ha
Digunakan 0,34 kg/ha +
6 x 0,36 kg/ha
1
0,17
0,92
2
0,40
0,69
3
0,34
0,56
4
0,29
0,51
5
0,23
0,45
6
0,21
0,40
7
0,20
0,37
8
0,19
0,34
9
0,18
0,30
10
0,18
0,29

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa residu pada triphenil


hidroksida, asesat dan khlorida dan bermacam-macam makanan seperti
kentang, wortel atau sugarbelt maksimum ditemukan tidak lebih dari 0,1
mg/kg. Dan ini akan sangat berkurang apabila dicuci.
Interaksi lingkungan
Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan senyawa organotimah
telah jelas yaitu dari industri ataupun dari penggunaannya itu sendiri yang
mungkin juga akan terserap dalam bentuk makanan.
Kemungkinan besar terserap oleh tanah aaupun sedimen telah dipelajari yang
berhubungan dengan kesuburan tanah 45, dimana 10 100 ppm tributiltimah
oksida dapat diterima untuk mikroorganisme pada kesuburan tanah. Pada
hewan yang hidup di air, dilaporkan 3 mg/l dalam air laut dapat diterima untuk
organisme seperti algae, plankton, protozoa ataupun ikan. Namun hewan laut
yang mungkin akan menjadi makanan manusia.

57

Keuntungan senyawa organotimah sebagai bahan biosida yaitu terhadap


pengaruh lingkungan dengan adanya degradasi. Degradasi ini dapat
menghilangkan pengaruh senyawa organik menjadi senyawa inorganik seperti
dibawah ini :
R4Sn

R3SnX

R2SnX22

RSnX3SnX4

Kehilangan senyawa organik grup ini akan mengurangi sifat biosida (adanya
racun), hal ini sangat berguna terutama untuk penggunaan dalam bidang
pertanian.
Degradasi ini akan sangat dipengaruhi oleh radiasi ultraviolet, pelepasan
biologi (biological cleavage) dan juga pelepasan kimia (chemical cleavage).
Disamping degradasi alam seperti diatas, degradasi dapat pula diakibatkan
karena perlakuan panas misalnya 2000C akan memutuskan rantai Sn-C.
6.4 Toksisitas
Dari hasil-hasil penelitian, daya racun logam timah tidak begitu berbahaya
sehingga disebut sebagai green metal, akan tetapi racun senyawa organotimah
sangat komplek. Senyawa-senyawa organotimah terutama yang bersifat
biosida dengan rumus RnSnX4-n dimana n=3 atau R3SnX mempunyai LD50
tercantum pada Tabel 6.5.
Pada senyawa tipe R3SnX, yang paling aktif di alam ada 3 grup misalnya seri
tri-n-alkiltimah, senyawa trimetiltimah mempunyai sifat yang tinggi terhadap
serangga dan mamalia, trietiltimah adalah senyawa yang beracun untuk bakteri
gram negatif dan tributiltimah beracun bagi gram positif dan jamur.
Penambahan rantai n menurunkan sifat biosida sehingga trioktiltimah dapat
dikatakan tidak beracun untuk mahluk hidup. Sifat biosida yang juga penting
adalah daya racun senyawa turunan tributil dan trifenil dengan
trisikloheksiltimah untuk organisme air laut yang nantinya senyawa-senyawa ini
dapat digunakan sebagai bahan anti fouling.
Dari hasil penelitian sifat biosida senyawa triorganotimah akan tergantung
sekali kepada sifat aktif yang berinteraksi dengan asam amino tertentu.
Beberapa senyawa tributiltimah bereaksi dengan jenis protein tertentu dan
mengakibatkan keracunan seperti dua mol trietiltimah khlorida bereaksi
dengan hemaglobin pada kukcing atau tikus dan salah satunya bereaksi dengan
histionine.

58

Daya racun terhadap manusia


Hanya sedikit penelitian yang menunjukkan keracunan senyawa ini terhadap
manusia. Namun setiap penggunaan diperlukan adanya petunjuk keselamatan
kerja seperti instruksi penggunaan termasuk penggunaan pemakaian yang
disarankan. Namun demikian dalam beberapa kasus dapat juga terjadi
kecelakaan yang juga disebabkan karena kecerobohan.
Pengaruh daya racun terhadap manusia dapat dilihat pada tabel 6.6.
Pencegahan
Dalam mencegah terjadinya keracunan oleh senyawa organotimah, beberapa
petunjuk perlu dilakukan di manufaktur. Penyimpanan dan pembuangan senyawa
organotimah ini memerlukan perhatian yang khusus.
Pemantauan perlu dilakukan sehingga konsentrasi tidak lebih dari 0,1 mg/m 3 di
udara. Bagi yang bekerja terus menerus, perlu adanya pemeriksaan kesehatan
secara rutin. Pengumuman tentang bahayanya senyawa ini perlu disebarluaskan
terutama bagi yang bekerja sehari-hari. Penyimpanan senyawa ini harus pada
kontainer yang baik seperti stainless steel ataupun tank yang dilapisi oleh
sintetik resin.
Pembuangan senyawa ini harus memenuhi undang-undang yang berlaku, namun
diusahakan sejauh mungkin kontak dengan pusat kehidupan. Cara lain senyawa
organotimah dapat terdekomposisi menjadi senyawa inorganik dengan reaksi
oksidasi yaitu menggunakan KMnO4, serta karbon aktif dapat menyerap
senyawa organotimah dari air. Jumlah yang besar dari senyawa organotimah
dapat dihilangkan dengan cara pembakaran.
Organisasi dunia telah terbentuk yaitu Organization Environmental Programme
(ORTEP) Association, yang bermaksud menunjang data-data secara teknikal
maupun ilmiah dalam bidang lingkungan terhadap senyawa organo timah 46.

59

Tabel 6.5
Acute oral LD values for some organotin compounds
Compound
LD50a mg/kg
Test animal
m = mouse
r = rat
Tetrabutyltin
> 4000
r
Bis(tributyltin)oxide
148-234
r
Tributyltin fluoride
200
r
Tributyltin acetate
125-380.2
r
Tripropyltin oxide
120
r
Triphenyltin fluoride
486
m
Tripenyltin chloride
118-135
r
Tripenyltin hydroxide
108-360
r
Tripenyltin acetate
125-491
r
Tricyclohexyltin hydroxide
235-540
r
Fenbutatin oxide
2630
r
1-tricyclohexylstannyl-1,2,4631
r
triazole
dioctyltin-S,S
1200-2100
r
bis(isooctylthioglycolate)
4500
r
Dioctyltin maleate
500-1037
r
Dibutyltin isooctylthioglycolate
487-520
r
Dibutyltin oxide
109.7
m
Dibutyltin diacetate
175-1600
r
Dibutyltin dilaurate
575-1370
r
Methyltin trichloride
920-1700
r
Methyltin
200 (LD100)
r
tri(isooctyltioglycolate)
2200
r
Ethyltin trichloride
4000
r
Butyltin trichloride
2400-3800
r
Butanestannonic acid
3400-4000
r
Octyltin trichloride
Octyltin
tri(isooctylthioglycolate)

A range indicates highest and lowest

60

Compound

Triphenyltin acetate

Triphenyltin acetate

Triphenyltin acetate

Triphenyltin acetate

Triphenyltin acetate
Triphenyltin chloride

Bis(tributyltin)oxide

Tabel 6.6
Pengaruh Senyawa Organotimah Terhadap Manusia
Description of exposure
Effects

Number
and sex of
workers
1 M
Spraying sugar beets with aqueous Violent headaches, unconsciousness
triphenyltin acetate solution for 2
hours
2 M
Formulating fungicidal spray solution Vomiting, shortness of breath, glyosuria in
based on triphenyltin acetate
one case; violent headache, nausea, vomiting,
epigastric pain in the other
48M
Weighing and bagging a commercial Irritation of skin, mucous membaranes,
pesticide based on triphenyltin acetate conjunctivate
(8 hours/day for 2-10 days)
2 M
Aerial spraying of triphenyltin acetate Dyspepsia, severe diarrhoea, blurred vision,
based pesticide
liver damage in one case : hearthburn,
blurred vision, diarrhoea, coughing and
hyperglycaemia in the other
1 M
Loading plane with triphenyltin acetate Skin irritation, dizziness, headache, nausea,
based pesticide
fatigue, chronic hepatitis
1 F
Drenched with hot slurry containing Severe burns death
triphenyltin chloride whilst working in
organotin manufacturing plant
45Construction of sonar domes using Irritation of eyes and upper respiratory

61

Bis(tributyltin)oxide

-F

Tributiltin chloride -and


dibutyltin
dichloride
Trimethyltin chloride 2 M
and
dimethyltin
dichloride
Trimethyltin chloride 6 M
and
dimethyltin
dichloride

rubber containing bis(tributyltin)oxide. tract


Air concentrations 0.1-0 mg/m3 (as tin
metal)
Spray painting with latex paint Irritation of eyes and nasal mucosa
containing bis(tributyltin)oxide
Employed in organotin manufacturing Dermatitis
plant
Vapours released into workplace during
operation of pilot plant for synthesis
of dimethiyltin from metallic tin and
monochloromethane
Cleaning
a
cauldron
containing
trimethyltin and dimethyltin chlorides.
Exposed to vapour and liquid whilst
allegedly wearing protective equipment
(Max 9 x 10 minutes over 3 days)

Mental confusion, with generalised epileptic


seizures. Complete recovery following
removal from exposure
Cerebral oedema with initial symptoms of
headaches, tinnitis, deafness, disorientation
and in most severe cases, respiratory
depression requiring ventilator assistance.
1 mortality, 2 still under treatment after 3
years, 3 clinically healthy

62

6.5 Daur Ulang Timah


Hampir sepertiga dari semua logam timah yang diproduksi dunia saat ini
dipakai untuk membuat pelat baja berlapis timah (pelat timah) bagi industri
makanan dan minuman, serta kebutuhan kemasan lainnya. Hal ini terutama
karena sifat timah yang mudah didaur-ulang. Di berbagai bagian di dunia,
kemasan dari timah dikumpulkan secara terpisah untuk memudahkan proses
daur ulang. Kemasan dari pelat timah yang relatif mudah dipisahkan dari
tumpukan sampah dengan menggunakan magnet. Dalam proses daur ulang,
timah akan dipisahkan kembali menjadi produk baru.

63

DAFTAR PUSTAKA
1. Abel, E.W., Comprehensive of Inorganic Chemistry, First Edition, London,
Pergamon Press (1973).
2. Dunne, W.T., Tin in Your Industry, Malaysia: The Tin Industry Board,
(1959).
3. Bannet, B., Inorganic Chemistry, second Edition, Toronto, Mc Graw Hill,
(1978).
4. Palmer, W.G., Experimental of Inorganic Chemistry, London, Canbridge at
University Press (1976).
5. Smith, V.H., Organotin Stabilizer, Greenford, Middlesex, England, The Tin
Reseach Institute (1959).
6. Brochure PT Timah.
7. Pettinato, L.P., and Sherman, L.R., A Study of The Degradation of
Tributyltins in Aqueous Solution by Differential Pulse Polarography, Micro
Chemical Journal, 47, 96-99 (1993).
8. Simon and Schusters, Guide to Rock and Minerals, Italy: A Fireside Book,
(1978).
9. Departemen Pertambangan dan Energi Republik Indonesia, Timah, dalam
buku Tahunan dan Informasi Pertambangan Umum, tahun 1991/1992
10. Indonesian Mining Association Newsletter, Vol 10, No 112 , September
(1995).
11. Hamspire, W.B., and Killmeyer, A.J., Recent Development in Application of
Tin, dalam Journal of Mineral, Metal and Material Society (1995).
12. Yusuf, R., Pramusanto, Tahli, L., Bahan Galian Logam, Timah, Direktorat
Jenderal Pertambangan Umum, Puslitbang Teknologi Mineral, (1996).
13. Oesberger, R., the Separation of Heavy Metals from Boreground by
Panning, Bangka , PT Tambang Timah, (1970).
14. Yusuf, R., Processing of Tin and Its Association Minerals in PT Tambang
Timah, Malaysia : Interim Report (1993).
15. Soedjoko, T.S. Kajian Proyeksi Produksi Mineral dan Batubara, Laporan
Interim, Tim Kajian, Direktorat Pengusahaan Mineral dan Batubara, dengan
PT Aram Prakarsa Inforindo (2004).
16. Harian Kompas, Sabtu 30 Oktober 2004
17. Blunden, S.J., and Evans, C.J., Organization Compounds, International Tin
Research Institute, Publication No. 711.
18. Blunden, S.J., Cusack, P.A and Hill, R., The Industrial Uses of Tin
Chemicals, The Royal Society of Chemistry, London (1985).
19. Davies, A.G., and Smith, P.J., Tin, Conprehensive Organometallic Chemistry,
The Synthesis, Reactions and Structure of Organometallic Compounds,

64

Willemson, S.G, Stone, F G A, and Abel, E.W editors, International Tin


Research Institute Publication No. 618 (1982).
20.Brochure, TBT Copolymer : Anti fouling Paints. The Facts, The Organotin
Environmetal Programme Association (ORTEP) and The Marine Painting
Forum (1992).
21. Sugaranam, B., The Currently Used Organotin Plant Protection Agent,
International Tin Research Institute, Publication No. 607, Part. 1.
22.Smith, F.E., Organotins in Kenyan Agriculture, International Tin Research
Institute Publication No. 607, Part 2.
23.Haynes, S., Organotins as Anti Feedant and Feeding Deferrents,
International Tin Research Institute, Publication No. 607, Part 3.
24.King, S., Peropal A New Organotin Miticide, International Tin Research
Institute publication No. 607, Part 4.
25.Coles, A. M., Organotin Compounds Used in Agriculture, Tin and its Uses,
12 (1984).
26.Crowe, A.J., Organotin Compounds in Agriculture Since 1980, Fungisidal,
Bactericidal and Herbicidal Proportions, International Tin Research
Institute, Publication No. 679.
27.Blunden, S.J., Hill, R.H., Bis (Tributyltin) Oxide as a Wood Preservative,
its Chemical Nature in Timber, International Tin Research Institute No.
698, Applied Organometallic Chemistry, (1088) 2, 251-256, 1988.
28.Schweinfurth, H. and Ventur, D., TBTO and TBTA-State and Effective
Biocides for Wood Preservation, The Chemistry of Wood Preservation,
Thompson, CBE Editor, The Royal Society of Chemistry, London.
29.Crowe, A.J., Smith, P.J., Tributyltin Wood Preservative International Tin
Research Institute, Publication No. 559.
30.Cockcroft, R., Organotins in Wood Preservations, Tin and its Uses, 12
(1983).
31. International Tin Research Institute, Annual Report, 3 (1981).
32.Kuthubutheen, A.J. Salahudin, Y. and Kumar Das, V.G, Effects of Two
Triorganotin (IV) Compounds on Rubber Wood Biodeterioration, Chemistry
and Technology of Sillicon and Tin, Proceeding of The First Asian Network
for Analytical and Inorganic Chemistry International Chemical Conference
on Silicon and Tin, Kumar Das, V.G., et. al Editors, Oxfords University
Press, 289 (1992).
33.Hill, R. and Kill Meyer, Chemical and Biological Invertigation of Organotin
Compounds as Wood Preservative, American Wood Preservative
Association (1988).
34.Yap. C.K., Organotin Compounds as Wood Preservatives, Timber Digest No.
88 (1988).

65

35.Hill, R., and Smith, P.J., A Laboratory Evaluation of Symmetrical and


Insymetrical Triorganotin, Journal of Wood Preservation, 3, No. 2, pp. 77
(1983).
36.Crowe, A.J., Hill, R., Smith, P.J., Laboratory evaluation of Tributyltin
Compounds as Wood Preservatives, The International Journal of Wood
Preservation, No. 3 119-124, (1979).
37.Hill, R. Chapman A.H., Samuel, A., Mannerk and Morton, G., Biological and
Chemical Observation of The Early Fungal Colonization of TBTO, Treated
Swedish Redwood Stakes, International Biodetenoration, 21, No. 2, 113
(1985).
38.Blunden, S.J., Chapman, A.H, Crowe A.J., Smith, P.J., The Preparation of
Some Water Soluble Tributyltin Biocide, International Tin Research
Institute, Publication No. 552.
39.Tin Times, The International Tin Research Institute, Technological News
Sheets.
40.Shcherbakov, V.I. and Frolova, S.M., N. Tributyltin Mesylimide a New
Water Soluble Fungicide, Applied Organometallic Chemistry, 143 147
(1993).
41. Grant, C., and Bravery, A.F., Laboratory Evaluation of Algicidal Biocides for
Use on Constructional Materials, Use of the Vermiculite and Technique to
Evaluate Toxic Washes Surface Coating and Surface Treatment,
International Biodeteroriation, 21 No. 4, 285 (1985).
42.Richardson, B.A., Control of Biological Growths, Stone Industries, No. 2, 2
(1973).
43.Richardson, B.A., Stone Deteroriation and its Remedial Treatment, BP
News Sheet, No. 153 (1978).
44.Whiteley, P. and Bravery, A.F., Masonry Paints and Cleaning Methods for
Walls Affected by Organic Growth, J. Oil Col Chem Assoc, (1982) 25-27.
45.Bollen, W.B. and Tin C.M., Tin and its Uses 94, 13 (1974).
46.Toxicology and Analytic of The Tributyltins The Present Status,
Proceeding of a Workshop Organized by Organotin Environmental
Programme (ORTEP) Association, Berlin (1986).

66

TIMAH di
Indonesia
(Sumber dan
Pemanfaatan)
Oleh :
Siti Rochani dan Pramusanto

67

Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara

68

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB. I

PENDAHULUAN

BAB. II

KETERDAPATAN, PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN


2.1. Geologi
2.2. Penambangan
2.3. Pengolahan Timah

Hal.

BAB. III PELEBURAN DAN PEMURNIAN


3.1. Proses Peleburan Timah
3.2. Peleburan di PT. Tambang Timah
BAB. IV

PENGUSAHAAN TIMAH
4.1. Kondisi Umum
4.2. Cadangan
4.3. Produksi Timah Indonesia
4.4. Produksi Timah Dunia
4.5. Konsumsi
4.6. Perkembangan Produksi Timah di Dalam Negeri
4.7. Ekspor Impor

BAB. V

ASPEK EKONOMI
5.1. Harga Timah
5.2. Potensi Pasokan
5.3. Perkiraan Kebutuhan Timah
5.4. Proyeksi Produksi, Penjualan Dalam Negeri dan Ekspor
Timah
5.5. Pengaruh Perkembangan Teknologi
5.6. Pengaruh Perdagangan Bebas
5.7. Pengaruh Politik dan Ekonomi Dunia
5.8. Timah sebagai salah satu potensi mineral Indonesia

69

BAB. VI

PENGGUNAAN dan ASPEK LINGKUNGAN


6.1. Penggunaan Timah
6.2. Penggunaan Senyawa Kimia Timah
6.3. Aspek Lingkungan
6.4. Toksisitas
6.5. Daur Ulang Timah
DAFTAR PUSTAKA

70