Anda di halaman 1dari 45

1

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jagung (Zea mays L.) ialah tanaman semusim yang dimanfaatkan bijinya
sebagai bahan pangan dan non pangan. Jagung merupakan sumber karbohidrat
yang banyak di konsumsi oleh masyarkat Indonesia setelah padi dan gandum.
Produksi jagung di Indonesia masih di bawah dari jumlah permintaan. Pada tahun
2015 produksi jagung meningkat, hal itu di karenakan adanya upaya pemerintah
untuk meningkatkan produksi jagung dengan progam subround. Berdasarkan data
badan pusat statistik (2015) produksi jagung pada tahun 2015 diperkirakan
sebanyak 19,83 juta ton pipilan kering, mengalami kenakian sebesar 0,82 juta ton
(4,34%) di bandingkan tahun 2014.
Permintaan akan jagung dari tahun ketahun yang semakin besar ini
dikarenakan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Pola pikir mereka yang
mulai keluar dari mengkonsumsi padi dan mulai beralih ke jagung, hal itu di
karenakan pola hidup mereka yang mulai berubah. Selain untuk dikonsumsi,
jagung merupakan bahan utama dalam pembuatan pakan ternak. Untuk memenuhi
kebutuhan akan permintaan jagung maka diupayakan untuk melakukan budidaya
jagung yang mempunyai hasil produksi tinggi, salah satu cara yaitu dengan
menggunakan varietas unggul. Varietas unggul ini di dapat dari hasil pemuliaan
yang mempunyai sifat lebih baik, baik dari segi produksi maupun ketahanannya.
Dalam upaya menciptakan varietas unggul, perlu adanya teknik-teknik khusus
agar hasil yang didapatkan dapat mampu bersaing dengan varietas yang sudah
terlebih dahulu ada. Varietas unggul ini didapatkan dari hasil persilangan dari 2
tetua jantan dan betina yang mempunyai sifat unggul tersendiri yang disebut juga
dengan hibrida. Dari persilangan ini diharapkan kedua sifat yang unggul pada
kedua tetua tersebut dapat terekspresi pada F1. Maka dari itu perlu adanya studi
khusus untuk memperdalam ilmu tentang pemuliaan tanaman jagung. Selain
membentuk varietas unggul, benih jagung perlu ada teknik khusus untuk menjaga
kualitas benih agar dapat tumbuh dengan optimal. Dalam upaya menjaga kualitas
benih, perlu adanya dilakukan beberpa step pengujian, seperti uji kadar air, uji
kemurnian uji daya tumbuh dll.

PT Syngenta Seed Indonesia merupakan salah satu perusahaan unggul yang


berperan penting dalam penyedian benih unggul di Indonesia. Dengan melakukan
magang kerja di PT Syngenta Seed Indonesia ini akan mampu menambah
wawasan tentang proses penyediaan benih mulai dari buididaya sampai dengan
pengepakan. Selain itu , diharapkan dapat mengetahui cara-cara perusahan dalam
menyelasaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam upaya penyediaan benih
unggul.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari magang kerja ini adalah untuk mempelajari secara
langsung bagaimana proses dalam memproduksi jagung dari awal budidaya
sampai akhir. Menambah wawasan dan keahlian mahasiswa dalam dunia kerja
serta mahasiswa dapat mengimplementasi ilmu yang telah didapatkan selama
perkuliahan dalam magang kerja di PT Syngenta Seed Indonesia.
1.3 Manfaat
Manfaat dari kegiatan magang ini adalah, mahasiswa yang terkait dengan
kegiatan magang akan mendapatkan ilmu, informasi, keterampilan dan
pengalaman kerja yang terkait dengan proses pembenihan, khususnya pembenihan
jagung hibrida di PT. Sygenta Seed Indonesia.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Tanaman Jagung
Tanaman jagung merupakan jenis tanaman semusim yang termasuk jenis
tanaman rerumputan atau graminae. Jagung merupakan tanaman hari pendek,
jumlah daunnya ditentukan pada saat inisisai bunga jantan, dan dikendalikan oleh
genotipe, lama penyinaran dan suhu (nuning et al, 2007). Taksomnomi dari
tanaman jagung dapat diklasifikasikan sebagai berikut: kingdom: plantae,
division: spermatophyta, subdivision: angiospermae, klas: monocotyledone, ordo:
poales, family: poeceae (graminae), genis: zea, spesies: zea mays l. (iriany et al,
2002).
Akar jagung tergolong kedalam jenis akar serabut, yang dibagi menjadi tiga
macam yakni (a) akar seminal, (b) akar adventif dan (c) akar penyangga. Akar
seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Akar adventif
adalah akar yang semula berkembang dari tiap buku di ujung mesokotil, kemudian
set akar adventif berkembang secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku,
semuanya berada dibawah permukaan tanah. Akar penyangga adalah akar
advebtif yang muncul pada dua atau tiga buku diatas permukaan tanah.
Perkembangan akar pada tanaman jagung tergantung pada jenis varietas,
pengolahan tanah, sifat fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah dan pemupukan.
Batang tanaman jagung memiliki bentuk yang beruas-ruas dengan jumlah ruas
yang bervariasi antar 10-40 ruas. Bentuk dari batang tanaman jagung pada
umumnya tidak memliki cabang, berbentuk silindris. Pada terdapat tunas yang
akan berkembang menjadi tongkol, yang merupakan bentuk dari hasil produksi
tanaman jagung. Daun pada tanaman jagung mempunyai bentuk tulang sejajar
dengan bentuk ujung daun yang meruncing. Jumlah dari daun jagung sama
dengan jumlah ruas dari batang jagung. Menurut Paliwal, (2000) tanaman jagung
di daerah tropis mempunyai jumlah relatif lebih banyak dari pada di daerah yang
mempunyai iklim sedang.
Pada umumnya tanaman jagung hanya mempunyai satu atau dua tongkol pada
satu pohon, tergantung dari varietas. Tongkol jagung terselimuti oleh daun
kelobot. Pada varietas yang mempunyai jumlah tongkol dua, tongkol yang terlebih

dahulu terbentuk adalah tongkol bagian atas, dan mempunyai ukuran yang lebih
besar dari pada tongkol yang kedua.
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung
Secara umum tanaman jagung dapat tumbuh pada daerah yang mempunyai
ketinggian 0-1.300 m dpl dan hidup baik di daerah panas maupun dingin.
Tanaman jagung mempunyai daya adaptasi baik pada daerah tropis seperti di
Indonesia. Tanaman jagung akan mampu berproduksi baik di daerah dataran
rendah maupun di dataran tinggi.
Tanaman jagung membutuhkan air sekitar 100-140 mm/bulan. Oleh karena itu
penanaman harus memperhatikan curah hujan dan penyebarannya. Curah hujan
yang dikehendaki adalah antara 1000-2500 mm/tahun, dengan penyinaran
matahari penuh. Suhu yang di kehendaki jagung untuk dapat tumbuh secara
optimum yakni antara 23-270C. Faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan
jagung dalah intensitas cahaya, hal itu dikarenakan tanaman jagung merupakan
tanaman yang membutuhkan cahaya penuh dalam mengahsilkan produksi.
Menurut Fanindi et al. (2010) menyatakan tingkat intensitas cahaya di bawah
optimum dapat menurunkan jumlah daun. Daun merupakan organ tanaman yang
mampu melakukan fotosintesis, dengan rendahnya jumlah daun maka fotosintat
yang dihasilkan juga berkurang yang akan mengakibatkan produksi menurun.
Tanah yang dikehendaki untuk pertumbuhan tanaman jagung yaitu tanah yang
gembur, subur dan kaya akan unsur hara, aerasi dan drainase yang baik, kaya akan
bahan organik dan memiliki kemasaman tanah (pH) 5,6-7,5 (Rochani, 2007).
Jagung membutuhkan tanah yang gembur dan mempunyai unsur hara yang tinggi
karena tanaman jagung membutuhkan unsur hara N, P, K dalam jumlah yang
tinggi untuk dapat memproduksi dengan baik.
Jenis akar tanaman jagung adalah akar serabut, dan mempunyai jenis perkaran
yang dangkal, hal itu mengakibatkan jagung tidak cocok ditanam di daerah yang
memiliki kemiringan tempat yang terjal. Menurut Murni dan Arif (2008) tanah
dengan kemiringan kurang dari 8% dapat dilakukan untuk budidaya tanaman
jagung.

2.3 Teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida


Jagung hibrida merupakan benih yang berasal dari hasil persilangan dua galur
murni (inbred). Perakitan benih jagung hibrida melalui persilangan dari galur/
plasma nutfah superior dengan karakter dengan karakter agronomi ideal akan
mengahasilkan galur yang memiliki daya gabung yang baik (Balitbang Pertanian,
2013).
Langkah- langkah dalam pembentukan galur unggul dasarnya terdiri dari
empat tahap, yaitu (1) pembentukan galur- galur murni yang stabil dengan vigor
tinggi, (2) pengujian daya gabung dan penampilan galur- galur murni tersebut, (3)
penggunaan galur- galur murni terpilih dalam pembentukan hibrida yang lebih
produktif, serta (4) perbaikan daya hasil serta ketahanan terhadap hama dan
penyakit (Balitbang Pertanian, 2013).
2.3.1 Pembentukan galur murni (Inbrida)
Inbrida sebagai tetua hibrida memiliki homozigositas yang tinggi. Benih
jagung inbrida diperoleh melalui penyerbukan sendiri (selfing) sampai beberapa
generasi atau melalui persilangan antar saudara (fillsib dan halfsib). Inbrida dapat
dibentuk dari varietas bersari bebas atau hibrida dan inbrida lain dengan melalui
seleksi tanaman dan tongkol selama silang diri. Seleksi dilkukan berdasarkan
bentuk tanaman yang baik dan sifat ketahanan terhadap hama dan penyakit utama.
Pembentukan inbrida dari inbrida lain dilkukan dengan cara menyilangkan dua
inbrida yang disebut seleksi kumulatif, atau persilangan galur dengan populasi.
Inbrida hasil persilangan ini dapat digunakan sebagai populasi dasar dalam
pembentukan galur. Galur dapat diperbaiki dengan menggunakan galur lain atau
populasi donor gen yang tidak terdapat dalam galur yang akan diperbaiki.
Perbaikan galur juga dapat dilakukan dengan cara silang balik atau backcross
beberapa kali sehingga karakter galur yang diperbaiki muncul kembali dan
ditambah dengan karakter dari galur donor. Dalam pembentukan inbrida perlu
diperhatikan antara kemajuan seleksi dengan pencapaian homozigositas.
Persilangan antar saudara dalam pembentukan inbrida akan memperlambat fiksasi
allel yang merusak dan memberi kesempatan seleksi lebih luas. Untuk
memperoleh inbreeding yang sama dengan satu generasi penyerbukan sendiri
diperlukan tiga generasi persilangan sekandung (fullsib) dan enam generasi

persilangan saudara tiri (halfsib). Seleksi selama pembentukan galur dan


persilangan sendiri lebih terbatas, yaitu dalam batas-batas genotip tanaman S0
yang menyerbuk sendiri (Moentono, 1998). Seleksi selama pembentukan galur
sangat efektif dalam memperbaiki sifat-sifat galur inbrida, dan berfungsi
mengeleminasi galur-galur yang mempunyai sifat menyimpang dari keinginan
pemulia tanaman.
2.3.2 Pembentukan hibrida
Hibrida silang tunggal adalah hibrida dari persilangan antara dua galur murni
yang tidak berhubungan satu sama lain. Silang tunggal yang superior
mendapatkan kembali vigor dan produktivitas yang hilang saat penyerbukan
sendiri dan akan lebih vigor dan produktif dibandingkan dengan tetuanya
(Balitbang Pertanian, 2013).
Di samping memiliki hasil yang tinggi, hibrida silang tunggal lebih seragam
dan produksi benihnya relatif lebih mudah dibandingkan dengan hibrida silang
tiga galur dan silang ganda.
2.3.3 Daya gabung murni
Faktor utama yang menentukan keunggulan hibrida adalah daya gabung galur
murni. Daya gabung umum merupakan penampilan rata-rata galur murni dalam
berbagai kombinasi hibrida, sedangkan daya gabung khusus menunjukkan
penampilan galur murni dalam suatu kombinasi hibrida dibandingkan dengan
kombinasi lainnya. Untuk membuat hibrida dibutuhkan tetua yang mempunyai
daya gabung khusus yang baik (Balitbang Pertanian, 2013).
2.3.4 Heterosis
Heterosis merupakan sifat yang unggul dan melebihi dari tetuanya. Pada
keturunan F1, sifat heterosis ini dibutuhkan karena merupakan syarat dari benih
jagung hibrida. Sifat ini didapatkan dari penggabungan inbred A dan inbred B
yang masing-masing mempunyai sifat unggul tersendiri. Dari sifat unggul tersebut
kemudian disatukan dan terekspresi gen-gen yang dominan pada keturunan F1.
Keturunan hasil persilangan dua galur murni akan menampakkan peningkatan
vigor melampaui galur-galur tetuanya (Balitbang Pertanian, 2013).

2.4

Tahapan Produksi Benih Jagung Hibrida

Menurut Syukur dan Rifianto (2013) teknik budiddaya jagung untuk benih,
yaitu:
2.4.1 Persiapan lahan
1. Isolasi
Lahan yang akan digunakan harus terisolasi dengan baik, hal itu
dikarenakan untuk menjaga kemurnian dari benih yang akan dihasilkan. Isolasi
ada dua cara, yaitu isolasi waktu, yang berhubungan dengan waktu penanaman
dengan tanaman jagung varietas lain yaitu sekitar 30 hari, dan yang kedua yaitu
isolasi jarak, jarak minimal lokasi penanaman jagung minimal 400 m dari
jagung varietas lain.
2. Pengolahan tanah
Untuk mendapatkan hasil produksi yang tinggi dalam budidaya tanaman
jagung salah satunya dengan pengolahan lahan yang baik dan benar, yaitu
dibajak dan digaru. Dengan dilakukannya pengolahan tanah, maka akan
memperbaiki sifat tanah dan akan mengoptimalkan pertumbuhan dan
perkembangan akar. Pada tiap 4 meter di buat got yang tujuannya untuk jalur
irigasi dan drainase. Kegiatan pengolahan tanah ini sebaiknya dilakukan
minimal 15 hari sebelum tanam. Tujuan lain dari pengolahan tanah yaitu
memutus rantai hama dan penyakit yang kemungkinan tersimpan didalam
tanah.
3. Kebutuhan benih
Pada produksi benih jagung hbrida, ada dua jenis benih yang digunakan
yakni, benih jantan dan benih betina. Kebutuhan benih ini harus terkontrol
karena jika benih yang di berikan kepada petani mitra (jika pihak perusahaan
melakukan mitra) berlebihan, maka kemungkinan bessar benih tersebut akan
disalah gunakan oleh petani demi medapat keuntungan. Kebutuhan benih
jantan dan betina pada lahan satu hektar yaitu 3 kg/ha benih jantan dan 9 kg/ha
benih betina.

2.4.2 Penanaman
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanaman yaitu split tanam antara
jantan dan betina, perbandingan populasi jantan dengan betina, jarak tanam dan
jumlah benih perlubang.
Cara penanaman benih jagung:

pemisahan waktu tanam, dimana benih jantan ditanam terlebih dahulu dan
diberi tanda patok berbendera, baru 6 hari kemudian benih betina ditanam.
Perbedaan waktu tanam ini dilakukan agar benih jantan lebih cepat dalam
pembungaan dan untuk mencegah jagung betina menyerbuk sendiri (selfing),

Perbandingan jumlah populasi jantan dan betina adalah 1:4,

Jarak tanam antar betina 75 x 25 cm, dan jarak baris betina dengan jantan
adalah 50 cm,

Lahan ditugal dengan kedalaman 5 cm, kemudian benih dimasukkan satu


benih satu lubang dan ditutup lagi dengan abu atau sekam.

2.4.3 Pemeliharaan
Pemeliharaan

tanaman

ini

meliputi

pemupukan,

pengairan,

dangir,

pembumbunan, roguing, cabut bunga (detaseling), babat jantan, dan pengendalian


hama penyakit.
1. Pemupukan
Pupuk yang digunakan adalah campuran antara Urea: SP-36: KCL dengan
perbandingan dosis per hektar adalah 280: 210: 35. Pemupukan dilakukan dengan
tiga kali aplikasi berturut-turut adalah pada umur 0 hst dengan dosis 70: 140: 35
per hektar yang diaplikasi dengan tugal dengan jarak 5 cm dari lubang dan
ditutupi lagi. Umur 15 hst dengan dosis Urea: SP-36 adalah 70: 70 kg/ha yang
diaplikasikan dengan cara ditugal 10 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi. Umur
45 hst dengan dosis Urea sebanyak 140 kg/ha yang diaplikasikan dengan cara
digejik pada jarak 10 cm dari lubang tanam dan ditutup kembali (Syukur dan
Rifianto, 2013)
Pengaplikasian pupuk pada tanaman jagung lebih baik dilihat dari kandungan
hara dalam tanah, hal itu lebih efisien. Adapun metode yang dapat dilakukan
dalam mengefisiensi penggunaan pupuk adalah dengan melihat kebutuhan pupuk

berdasarkan warna daun. Alat yang dapat mendeteksi kebutuhan pupuk pada
tanaman jagung dengan melihat warna daun yaitu leaf color chart (BWD).
2. Pengairan
Pengairan sebaiknya dilakukan dengan cara melihat kebutuhan air tanaman
jagung. Jika dilihat dari syarat tumbuh tanaman jagung, kebutuhan air tanaman
jagung yakni 100-140 mm/bulan. Air merupakan unsur yang sangat penting dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Air berfungsi sebagai pelarut
unsur hara dan yang memudahkan dalam penyerapan unsur hara. Menurut Syukur
dan Rifianto (2013) pengairan dilakukan setiap kali selesai dilakukannya
pemupukan, yakni pada 3, 15, 30 dan 45 hst.
3. Dangir dan pembumbunan
Pendangiran merupakan usaha dalam mengurangi keberadaan gulma dalam
lahan budidaya. Tujuan dilakukannya pendangiran yaitu untuk mengurangi
persaingan unsur yang dibutuhkan tanaman budidaya. Menurut Syukur dan
Rifianto (2013) pendangiran sebaiknya dilakukan sebelum dilakukan pemupukan,
hal itu dikarenakan untuk meminimalisir terjadinya persaingan dalam penyerpan
unsur hara.
Pembumbunan dilakukan untuk memperbaiki siklus redoks dalam tanah serta
membantu mengoptimalkan pertumbuhan akar tanaman jagung. Fungsi lain dari
pembumbuna yaitu untuk memperkuat tegakan tanaman jagung.
4. Roguing
Roguing adalah kegiatan membunag tanaman yang bersifat menyimpang dari
tanaman yang diharapkan. Ini dapat dilihat antara lain dengan ciri-ciri sebagai
berikut: penampilan yang terlalu subur dengan daun yang lebar, warna pangkal
batang merah, serta warna bunga merah. Perlakuan ini dilakukan baik pada
tanaman jantan maupun betina. Roguing berfungsi untuk menjaga kemurnian
induk sebagai penghasil benih, dan dilakukan dengan kontrol setiap minggu
(Syukur dan Rifianto, 2013)
5. Cabut bunga (Detaseling)
Detaseling adalah mencabut bunga jantan tanaman betina saat tanaman
berumur 40-50 hst. Pencabutan bunga jantan pada tanaman betina ini dilakukan
untuk mencegah tanaman budidaya tersebut melakukan silang sendiri (selfing).

10

Pekerjaan ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.00 wib dan diulangi lagi
sebanyak 7-10 hari sampai benar-benar tidak ada lagi bunga jantan pada tanaman
betina. Syarat yang harus diperhatikan adalah jangan membiarkan kuncup bunga
jantan pada tanaman betina mekar dan pollen sudah pecah, karena akan
menyebabkan selfing (Syukur dan Rifianto, 2013).
6. Babat jantan
Tanaman jantan harus dibabat untuk menjaga kerahasiaan perusahaan bilal
proses serbuk silang sudah selesai dan untuk menghindari tercampurnya tongkol
jantan pada saat panen. Hal ini dapat dilihat dengan ciri-ciri rambut pada tongkol
jagung sudah kering dan berwarna kecoklatan. Kegiatan ini cukup dilakukan
sehari pada umur 65 hst (Syukur dan Rifianto, 2013).
7. Pengendalian hama dan penyakit
Hama utama yang biasanya dijumpai pada pertanaman jagung adalah lalat
bibit, penggerek batang dan tongkol. Khusus untuk pencegahan serangan hama
lalat bibit (terutama pada daerah endemik lalat bibit), dapat dilakukan dengan
pemberian carbofuran bersamaan dengan penanaman benih dalam lubang tanam,
takaran 10-15 kg (produk)/ha. Pengendalian hama penggerek batang dilakukan
jika ada gejala serangan hama, untuk itu dapat diberikan carbofuran melalui pucuk
tanaman dengan takaran 10 kg produk/ha (3-4 butir/tanaman) (Balitbang
Pertanian, 2013).
Penyakit utama pada tanaman jagung adalah bulai

yang disebabkan oleh

Peronosclerospora maydis, P. maydis. Gelaja yang khas yaitu daun mengalami


klorosis dengan ciri warna daun jagung kuning keputihan memanjang sejajar pada
tulang daun. Untuk mengatasi yaitu dengan melakukan salinitas lahan dan rotasi
tanaman. Untuk mencegah penyebaran dari penyakit tersebut yaitu dengan
melakukan pencabutan tanaman yang terserang penyakit.
2.5

Teknologi Pengolahan Benih Jagung

2.5.1 Panen
Pada proses pemanenan ini sebaiknya dilakukan ketika pada saat masak
fisiologis karena dengan memanen pada saat jagung sudah masak fisiologis dapat
memperoleh mutu dari benih jagung yang bagus. Ketika pemamenan dilakakukan
sebelum masak fisiliogis, maka akan didapatkan mutu benih yang kurang

11

bermutu. Menurut Sudjana et al, (1991), pemanenan benih pada tingkat


kemasakan yang rapat sangatlah penting dalam mendapatkan mutu benih awal
yang tinggi dan daya simpan benih yang panjang.
2.5.2 Pengolahan setelah panen
Setelah jagung dipanen kemudian dilakukan serangkaian proses dimana untuk
proses ditujukan untuk mempertahankan mutu benih yang siap untuk disimpan
dan dipasarkan.
1. Pengupasan
Pengupasan ini dilakukan dengan cara memisahkan kelobot dengan tongkol
jagung. Pengupasan ini dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan kadar air pada
jagung agar mempunyai daya simpan yang lebih lama dan lebih resisten terhadap
hama dan penyakit gudang. Pada saat jagung sudah dipisahkan dengan
kelobotnya, pengeringan dan pengangkutan jagung tersebut lebih mudah. Jagung
yang sudah dikelupas akan memudahkan dalam melakukan penyortiran, menurut
warna tekstur dan kecacatan fisik dari tongkol jagung. Menurut Firmansyah et al.
(2006) tongkol yang menunjukkan tipe simpang misalnya berbeda warna, tekstur,
maupun cacat karena hama dan penyakit tidak dijadikan benih.
2. Pengeringan
Metode pengeringan pada jagung dapat dilakukan dengan cara alami maupun
buatan. Secara tradisional, pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran di
lantai jemur yang terkena langsung paparan sinar matahari. Penjemuruan ini
dilakukan sampai kadar air jagung turung pada nilai 9-11%. Selain itu,
pengeringan jagung dapat juga dilakukan dengan mesin pengering dengan
pengaturan suhu antara 38- 43 0C, sehingga kadar air turun menjadi 12- 13%, hal
ini dilakukan untuk menjaga kualitas benih agar tetap baik (AAK, 1993).
3. Pemipilan
Setelah dilakukan pengringan, jagung dalam bentuk tongkol kemudian di
lakukan pempilan. Metode yang digunakan dalam pemipilan ini ada dua, yakni
secara manual dan dengan bantuan mesin tergantung dari jumlah produksi. Pada
dasarnya pemipilan ini sama dengan perontokan gabah, yakni proses dimana
dilakukan pemisahan biji dari tongkol jagung. Biji jagung melekat pada
tongkolnya, maka perlu pemisahan antara biji dengan tongkol (AAK, 1993).

12

Pada proses pemipilan ini sangat tergantung pada kadar air jagung. Jika kadar
air jagung terlalu tinggi, maka biji tanaman akan mudah rusak dan jika kadar air
terlalu kering, maka biji jagung akan mudah retak (Firmansyah et al. 2006).
4. Penyortiran dan penggolongan
Setelah pemipilan selesai maka selanjutnya adalah dilakukan penyortiran.
Penyortiran ini mempunyai peran yang sangat penting untuk menjaga kualitas
benih. Penyortiran ini merupakan proses pemisahan biji jagung dari sisa-sisa
tongkol, biji kecil, biji hampa, biji pecah, dan kotoran (kerikil, benda lain selain
biji dll) akibat dari proses sebelumnya. Penyortiran ini sangat bermanfaat untuk
menghindari atau menekan serangan jamur dan hama selama penyimpanan dan
juga dapat memperbaiki sirkulasi udara (AAK, 1993).
Penggolongan benih sendiri dimaksudkan untuk menggolongkan biji sesuai
dengan ukuran. Penyeragaman biji ini sangat bermanfaat pada saat penanaman
dengan menggunakan mesin tanam.
5. Perlakuan benih
Untuk mengamankan benih yang diproduksi maka perlu dilakukan suatu
perlakuan untuk meningkatkan daya simpan, dan ketahanan benih terhadap faktor
lingkungan di sekitar tempat penyimpanan.
Beberapa teknik perlakuan yang umum dilakukan pada benih yaitu:
a. Fungisida
Perlakuan ini bertujuan untuk mencegah serangan jamur di tempat
penyimpanan dan mencegah serangan jamur atau soil borne pathogen lain
saat benih ditanam. Fungisida yang biasa digunakan adalah yang
menggunakan bahan aktif fluodioxonil, dan metalaxil.
b. Insektisida
Pengaplikasian insektisida pada benih jagung ini bertujuan untuk
mencegah benih jagung dari serangan hama gudang saat disimpan.
c. Pelapisan benih
Proses pelapisan benih ini bertujuan untuk:

Untuk memicu keseragaman kecambah yang bervigor baik meski dalam


kondisi pertanaman dengan sedikit cekaman,

13

Mengefisiensi pemberian fungisida atau kimia lain agar tidak mudah


hilang terutama bila pemberian dilakukan pada dosis rendah,

Dan melindungi benih dari kelembaban yang berlebihan saat


penyimpanan (Burris, 1994).

6. Pengepakan
Pengepakan ini dilakukan setelah benih yang diproduksi mendapatkan label
sertfikat dari balai sertifikasi benih. Label diberikan setelah benih jagung lulus
dari uji laboratorium. Label yang diberikan biasanya label dengan warna ungu
(benih pokok) dan warna biru (benih sebar). Pengepakan ini bertujuan untuk
mempermudah dalam pengangkutan dan pengalokasian benih ke konsumen.
Bahan yang digunakan dalam pengepakan biasanya berasal dari karung goni,
plastik, kertas, alumunium maupun kaleng. Penyimpanan dengan bahan-bahan
tersebut dapat membantu mempertahankan kestabilan mutu benih. Menurut
Robiin (2007) baik kemasan yang baik tahan terhadap keusakan, tidak mudah
sobek, memiliki kekuatan terhadap tekanan, mudah diperoleh dan tahan lama.
7. Penyimpanan
Manajemen penyimpanan benih merupakan hal yang penting untuk
diperhatikan karena apabila tidak sesuai standar maka benih dapat mengalami
deteriorasi (kemunduran mutu benih). Aspek yang perlu diperhatikan dalam
penyimpanan

yaitu, suhu ruangan, kelembaban, kondisi

biotik

tempat

penyimpanan seperti ada tidaknya serangga atau hewan lain yang dapat merusak
benih dalam penyimpanan.
Menurut Rahayu et al, (2011), ruang penyimpanan juga harus bersih, kering
dan rapat untuk menghidari adanya hama gudang dan tikus. Tumpukan kemasan
benih disusun dalam rak-rak benih dengan rapi sehingga memudahkan
pengawasan dan pengambilan.

14

3. METODE DAN PELAKSANAAN


3.1
Tempat dan Waktu
Kegiatan magang kerja akan dilaksanakan di PT. Syngenta Seed Indonesia
yang berlokasi di Jl. Keraton industri raya no. 4 Pasuruan Jawa Timur. Magang
kerja akan dilaksanakan antara Bulan Juli sampai dengan Bulan Oktober 2016.
3.2 Metode Pelaksanaan
Bentuk pelaksanaan kegiatan ini ialah magang kerja di PT. Syngenta Seed
Indonesia, Tbk. Dengan metode yang digunakan meliputi :
1. Observasi lapang
Observasi keadaan umum di PT. Syngenta Seed Indonesia, Tbk. Yang
meliputi: lokasi, struktur organisasi, jumlah tenaga kerja, dan kegiatan produksi
benih jagung hirida yang dilakukan.
2. Partisipasi aktif
Keikutsertaan dalam setiap kegiatan managemen budidaya yang meliputi :
pengorganisasian pekerja, pengolahan pasca panen dan teknik produksi benih
jagung hibrida.
3. Diskusi dan wawancara
Diskusi dan wawancara merupakan bentuk pelaksanaan praktik kerja langsung
untuk memperoleh penjelasan dan pemahaman dari kegiatan yang dilakukan serta
memperoleh keterangan dari pihak instansi mengenai hal-hal yang ingin diketahui
dan dibutuhkan yang berkaitan dengan tujuan praktik, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
4. Pengumpulan data
Pengumpulan data dari magang kerja meliputi :
a. Pengumpulan data primer
Data primer dapat diperoleh dengan carapraktik kerja serta pengamatan
langsung yang sesuai dengan aktivitas yang sedang berlangsung di PT Syngenta
Seed Indonesia Pasuruan Jawa Timur,serta diskusi dan wawancara aktif mengenai
teknik produksi benih nduk tanaman pada tanaman jagung hibrida.
b. Pengumpulan data sekunder

15

Data sekunder diperoleh dari data luar seperti literature-literature yang memuat
tentang tanaman jagung atau segala sesuatu yang menyangkut proses produksi
benih induk tanaman jagung..
3.3

Jadwal Kegiatan

Kegiatan magang kerja dilakukan selama minimal 3 bulan dengan ketentuan 5


hari aktif (8 jam kerja / hari). Penyusunan kegiatan yang akan dilakukan pada saat
magang di PT. Syngenta Seed Indonesia dicantumkan pada tabel berikut ini :
Tabel 1. Rencana Kegiatan Magang Kerja di PT. Syngenta Seed Indonesia
No

Kegiatan

Minggu ke1

Pengenalan Perusahaan
1

Lokasi perusahaan
Struktur organisasi
Sinkronisasi Jadwal
Praktek di Lapang
a. Praktek magang kerja dan
diskusi dengan pembimbing
lapang
b. Mempelajari teknologi produksi dan pengolahan benih jagung

Persiapan lahan
Penanaman
Perawatan
Panen
Pasca panen dan prosesing

3
4
5

Penyusunan laporan mingguan


Pengumpulan data primer dan
sekunder
Penyusunan laporan magang

10

11

12

16

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Profil perusahaan
Syngenta merupakan perusahaan besar yang bergerak di bidang pembenihan
dan perlindungan tanaman yang berasal dari Swiss. Syngenta berasal dari dua kata
yaitu Syn berasal dari bahasa Yunani yang mencerminkan sinergi dan sintesa
intregasi dan konsolidasi kekuatan. Sedangkan genta menyangkut kemanusiaan
dan individu, berasal dari bahasa latin gensyang berarti untuk menyebut orangorang atau komunitas, sehingga Syngenta memiliki arti sebagai perusahaan
dengan komitmen menyatukan orang-orang untuk mencapai satu tujuan
bersama.
Awal berdirinya Syngenta bermula dari penggabungan beberapa perusahaan
yang telah ada sebelumnya. Syngenta pertama kali diprakasai oleh Johan Rudolf
Geigy-Gemuseus yang berbisnis bahan kimia pada tahun 1758 di Swiss yang
kemudian didirikannya Sandox pada tahun 1876, Ciba pada tahun 1884, dan
Imperial Chemical Industries (ICI) pada tahun 1926. Pada tahun 1970 Ciba dan
Geigy bergabung menjadi Ciba-Geigy, dan pada tahun 1993 ICI pecah menjadi
Zeneca. Selanjutnya, Ciba dan Sandox bergabung menjadi Novartis pada tahun
1996, sedangkan Zenneca dan Astra terjadi merger menjadi Astra Zeneca pada
tahun 1999.
Zeneca Agrochemical dan Novartis Agribusiness merupakan perusahaan
dengan bidang yang berbeda yang kemudian bergabung dengan nama Syngenta
pada tahun 2000. Dengan bersatunya dua perusahaan ini, maka semakin kuat
pondasi Syngenta untuk berinovasi dalam penyediaan merk-merk dan berbagai
solusi untuk rantai penyedia dan juga petani. Syngenta tercatat di The Swiss Stock
Exchange (SYNN) dan New York Stock Exchange (SYT) dengan berbasis
pembangunan berkelanjutan.
4.1.2 Production and processing technology (PPT)
Secara umum organisasi dalam perusahaan terbagi menjadi 3 bagian besar
yakni Research dan Development, Production, dan Marketing. Di PT. Syngenta

17

Seed Indonesia terdapat 1 bagian yang berada diantara R&D dengan Produksi
yang disebut dengan PPT (Production and Processing Technologi).

Organisasi Perusahaan

Research and Development

Production

Marketing

R and D berperan menguji dan mengembangkan produk-produk yang


dibutuhkan pasar (marketing) dalam jangka panjang dan berkelanjutan.
Sedangkan fungsi team production adalah untuk memproduksi benih hibrida yang
telah diuji oleh team R&D dan PP dengan standart mutu tertentu. Dalam proses
pengembangan, produksi dan pemasaran jagung hybrid melewati beberapa tahap
atau yang disebut siklus hidup (Product life cycle) yakni :

R and D

6.1

PPT

6.2

10

11

12

Production and Marketing

PLC 1 sampai dengan 6.2 meruupakan tahap pengujian yang dilakukan oleh
team R&D dan team PPT. pengujian dilakuan disemua wilayah pemasaran oleh
team R&D. Sedangkan team PPT melakukan mengujian di wilayah produksi.
Diharapkan jenis yang yang diproduksi merupakan jenis Unggul dari segala
aspek.
PPT berperan melakukan 4 jenis pengujian penting yaitu :
1. Parent test pada PLC 4-6.1
Parent test dilakukan untuk menguji galur yang sudah didapatkan dari R and
D, salah satu kegiatan yang ada pada parent test ini adalah pengamatan flowering
atau Nicking. Pengamatan ini penting untuk pembuatan split planting dan Rasio.
Dalam parent test menggunakan bedengan sepanjang 5 meter dan jarak tanam 70
x 20 cm.
2. Micro Pilot pada PLC 6.2
Micro pilot merupakan percobaan dalam skala kecil bagi galur yang sudah
melalui pengujian dan pengamatan di parent test. Micro pilot ini penting
dilakukan sebelum benih digunakan untuk produksi benih F1. Dalam micro pilot,

18

percobaan dilakukan menggunakan bedengan 10 meter dengan jarak tanam 60 x


18 cm.
3. Pilot Production pada PLC 6.2.
Galur yang lolos pengujian di micro pilot akan di uji kembali pada skala
produksi di berbagai kondisi lahan dan daerah produksi (multilokasi). Pilot
produksi ini dilakukan ditingkat grower atau petani akan tetapi tidak seluas lahan
produksi benih F1. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara benar kondisi
aktual dilapang baik itu pertumbuhan tanaman maupun biaya produksi. Apabila
galur tersebut memiliki sifat yang superior akan tetapi apabila biaya produksi
terlalu tinggi maka PPT tidak akan menaikkan galur tersebut pada fase selanjutnya
atau tidak akan dirilis untuk dipasarkan ke konsumen.
4. Process research pada PLC >7
Procces Research dilakukan pada skala yang lebih luas atau pada lahan yang
sesungguhnya. Tujuan dari PR adalah untuk meningkatkan produktvitas dari
jenis-jenis yang sudah diproduksi berdasarkan dengan permasalahan yang ada,
misal uji jarak tanam, uji pemupukan, uji hama dan penyakit, uji pengairan dan
lain-lain. Hasil dari PR ini akan digunakan untuk mengevaluasi POT (Paket of
Technologi).
4.1.3 Micro pilot test
Micro pilot merupakan percobaan yang dilakukan untuk melihat potensi yang
dimiliki dari hybrid yang akan rilis maupun yang sudah rilis baik itu dari segi
hasil, ketahanan, daya adaptasi dll. Percobaan yang dilakukan pada micro pilot
adalah perlakuan split dan ratio planting. Kedua perlakuan tersebut dilakukan
untuk mengetahui split dan ratio planting mana yang paling cocok untuk jenis
hybrid tersebut yang berhubungan dengan hasil yang akan diperoleh.
Micro pilot dilakukan pada fase 6.2, micro pilot ini bertujuan untuk menguji
dan memverifikasi hasil percobaan dari parent test dan menyeleksi galur-galur
terbaik yang tepat untuk dilanjutkan dalam F1. Dalam percobaan micro pilot
panjang bedengan yang digunakan adalah 10 m dengan jarak tanam 60 x 18 cm.

19

4.2 Pembahasan
4.2.1 Tahapan micro pilot
Pada pelaksanaan percobaan micro pilot ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan untuk menunjang data hasil agar lebih konkrit. Tahapan-tahapan
tersebut secara garis besar sama dengan kegiatan yang ada pada divisi produksi
yakni persiapan lahan sampai dengan panen. Tetapi pada percobaan micro pilot,
ada beberapa tambahan yang tidak dilakukan pada bagian produksi, antara lain
pengamatan penyakit, penagamatan karakterisasi pada fase vegetative dan
generative dan yang terakhir yaitu pengamatan setelah panen. Untuk lebih
jelasnya tentang tahapan-tahapan yang dilakukan pada percobaan micro pilot akan
dijabarkan dibawah ini.
4.2.1.1 Persiapan lahan
Persiapan lahan ialah kegiatan menyiapkan lahan yang sesuai dengan jenis
tanaman budidaya untuk mendapatkan pertumbuhan secara optimal. Pada
persiapan lahan jagung ini memiliki cara dan tahapan sendiri. Hal yang harus
dilakukan adalah pembersihan lahan, pengolahan tanah, pembuatan got keliling
(untuk irigasi dan drainase), pemasangan tagging dan pembuatan bedeng. Dalam
mempersiapkan lahan, pada percobaan micro pilot sama dengan kegiatan
budidaya jagung biasa yakni lahan yang telah ditanamai tanaman jagung
didiamkan selama 2 minggu (bero). Menurut Syukur dan Rifanto (2013) tujuan
dari pemberoan yaitu untuk memutus rantai hama dan penyakit yang
kemungkinan tersimpan dalam tanah. Fungsi dari bero ini untuk mengistirahatkan
lahan agar fungsi tanah sebagai pendukung tumbuhnya tanaman kembali normal.
Setelah diberokan selama 2 minggu tersebut maka sisa panen yang jatuh pada
proses budidaya sebelumnya akan tumbuh dan gulma juga mulai tumbuh, untuk
mengatasi hal tersebut maka dilakukan pembersihan lahan. Pembersihan lahan ini
berfungsi untuk membuang gulma atau tanaman yang tidak diinginkan sehingga
kemungkinan adanya tanaman lain/ varietas lain yang tidak dikehendaki tidak
tumbuh pada lahan percobaan tersebut. Dalam melakukan pembersihan lahan
terdapat dua cara yaitu dengan cara mekanis seperti menggunakan mesin babat
atau besik, dan dengan cara kimiawi yaitu dengan cara penyemprotan herbisida
(gramoxone).

20

Gambar 1. Pemberoan lahan


(Sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
Berikut ini adalah tahapan yang dilakukan dalam persiapan lahan:
1. Pengolahan lahan
Pengolahan lahan adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan
kesuburan tanah pada lahan agar kondisi lahan/tanah sesuai dengan tanaman
budidaya dalam mendapatkan pertumbuhan secara optimal. Secara umum, ada
3 macam sistem dalam pengolahan lahan yang biasa digunakan dalam proses
budidaya tanaman yakni, pengolahan lahan sempurna, pengolahan lahan
minimum dan tanpa olah tanah. Pengolahan lahan sempurna yaitu pengolahan
lahan yang meliputi seluruh kegiatan pengolahan lahan, yakni dimulai dari
pembukaan lahan, pembajakan, pemupukan dan rotary. Biasanya pada
pengolahan lahan sempurna, pembajakan lahan menggunakan mesin dan
dilakukan secara menyeluruh dalam satu hamparan lahan tersebut. Pengolahan
lahan minimum yaitu pengolahan lahan yang hanya meliputi pembalikan lahan
(bedengan yang akan ditanami) tidak secara menyeluruh, biasanya dalam
pembalikan tanahnya hanya dilakukan secara manual yakni menggunakan
cangkul. Sedangkan tanpa pengolahan yaitu hanya meliputi penyemprotan
gulma tanpa adanya pembalikan tanah.
Lahan yang digunakan dalam percobaan micro pilot adalah lahan bekas
tanaman jagung pada percobaan sebelumnya, maka dari itu perlu adanya
pengolahan lahan. Pengolahan lahan yang diterapkan dalam percobaan micro
pilot yaitu pengolahan lahan secara sempurna. Menurut Widiatmoko dan
Supartoto (2002), menyatakan bahwa sistem olah tanah sempurna dapat
memberikan hasil pada tanaman jagung yang lebih baik dari pada sistem lain.
Pembalikan tanah dilakukan pada kesluruhan lahan yang akan dipakai untuk
percobaan micro pilot. Tujuan dari pengolahan tanah yaitu untuk memperbaiki

21

sifat tanah dan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan akar dari


tanaman budidaya. Manfaat dari pengolahan lahan yaitu dapat memutus siklus
hidup hama dan penyakit sisa dari tanaman sebelumnya yang kemungkinan
terdapat dalam tanah.

Gambar 2. Pengolahan lahan


( Sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
2. Ploting
Ploting merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melihat kemampuan
suatu lahan dalam mendukung proses budidaya. Kegiatan ploting ini meliputi
beberapa aspek sumber daya yaitu:
a. aspek lahan meliputi bentuk lahan, kemiringan dana rah lereng, kondisi
permeabilitas, drainase, faktor khusus (adanya batuan dan kerikil,
potensi banjir dan salinitas) dan kondisi permukaan lahan;
b. aspek tanah meliputi jenis tanah, kedalaman tanah, sifat fisik tanah dan
kemasaman tanah (pH);
c. kondisi erosi meliputi jenis dan tingkat erosi, potensi erosi;
d. aspek tanaman;
e. aspek iklim meliputi rata-rata curah hujan pada area tersebut, jumlah
bulan basah dan bulan kering dalam setahun, kelembapan udara.
Tujuan dari ploting lahan pada percobaan micro pilot adalah untuk mengetahui
dan membagi lahan untuk percobaan yang di lakukan agar antara satu
hamparan dengan yang lain mempunyai 5 aspek sumber daya yang sama.
Ploting akan mempengaruhi dalam berhasil tidaknya proses percobaan yang di
lakukan. Dengan adanya ploting lahan, kemungkinan pengaruh dari luar selain
perlakuan lebih kecil terjadi, dikarenakan kemungkinan besar lahan yang
memiliki 5 aspek yang sama maka sifat biologis, kimia, fisiologis tanah

22

tersebut mempunyai kesamaan. Sehingga data yang didapatkan dalam proses


percobaan akan lebih falid.

Gambar 3. Plotting lahan


(sumber: anonymous, 2016)
3. Beddeng sistem
Tanaman jagung merupakan jenis tanaman yang sangat rentan terhadap
keadaan stress genangan. Maka dalam proses budidaya tanaman jagung perlu
adanya budidaya dengan sistem bedeng, begitupun pada percobaan micro pilot
perlu adanya sistem bedengan. Fungsi dari bedengan sendiri yaitu untuk
menghindari tanaman tergenang. Bedengan dibuat dengan panjang 10 meter
dan lebar bedengan 90 cm dengan jarak antar bedengan sekitar 75 cm . Pada
bagian tepi lahan diberi bedengan yang mengelilingi lahan percobaan. Fungsi
dari pemberian bedengan tersebut adalah untuk penanaman tanaman border.
Tanaman yang digunakan sebagai border yaitu tanaman jagung dengan varietas
hibrida (jagung F1).

Gambar 4. Bedengan
(Sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
4. Pemasan tagging
Pemasangan tagging berfungsi untuk mempermudah dalam memberikan
informasi kepada orang lain. Dalam tagging sudah berisi tentang informasi
pada bedengan tersebut ditanami jenis varietas, ratio dan split planting yang

23

akan digunakan. Selain itu dengan pemberian tagging juga mempermudah kita
dalam melakukan pengamatan dan pengelolaan data. Dengan adanya tagging
setidaknya dapat meminimalisir terjadinya kesalahan dalam melakukan
penelitian.
Tata letak dari pemasangan tagging ini sudah diatur oleh pihak PPT yakni
oleh supervisor. Pemasangan tagging ini tidak serta merta asal pasang,
melainkan harus menggunakan rancangan acak. Supervisorlah yang mengatur
tentang rancangan acak yang akan digunakan.

Gambar 5. Tagging MPT


(sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
4.2.1.2 Persiapan Benih
Benih yang akan ditanam dalam percobaan micro pliot di tentukan oleh bagian
PO (process order). Setelah PO keluar baru sampel benih akan diproses untuk
menjadi ready seed dan dikirim ke divisi PPT. Dalam proses percobaan ini
terdapat 2 benih jagung yang berbeda yakni induk jantan dan betina. Maka untuk
mengurangi terjadinya kesalahan penanaman sebaiknya kedua benih tersebut
dipisahkan dan diberi keterangan pada wadah kedua benih tersebut. Kebutuhan
benih pada proses percobaan ini secara garis besar sama dengan produksi benih
hibrida, benih yang dibutuhkan yaitu 1:5 dengan arti 1 untuk benih jantan dan 5
untuk benih betina dari kebutuhan benih total (tergantung varietas). Benih yang
diterima oleh divisi ppt kemudian ditreatment dengan menggunakan beberapa
bahan kimia seperti cruiser, polycot, fenamidon dan ridomil. Setelah itu
didiamkan kurang lebih selama 15 menit agar bahan kimia tersebut kering.
Pemberian bahan kimia ini bertujuan untuk mencegah benih terserang hama dan
penyakit pada saat ditanam. Menurut Burris (1994) pemberian treatment pada

24

benih ini bertujuan untuk mencegah serangan jamur di tempat penyimpanan dan
mencegah serangan jamur atau soil borne pathogen lain saat benih ditanam dan
untuk mencegah benih jagung dari serangan hama gudang saat di simpan.

Gambar 6. persiapan benih


(sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
4.2.1.3 Penanaman
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan tanam, yakni jarak
tanam, split planting, ratio planting dan yang paling penting adalah letak tanam
jantan dan betina harus tepat. Untuk mempermudah dalam penandaan barisan
antara jagung jantan dengan betina, maka menggunakan tagging dengan
keterangan M1 (male 1) dan M2 (male 2) sebagai penanda barisan jagung jantan.
Dimana pada penanaman jantan dalam 1 bedengan terdapat perbedaan waktu dan
tata letak. Penanaman jantan dilakukan dengan pola zigzag yakni pada barisan
kanan itu M1 dengan waktu penanaman lebih dahulu dari pada M2 dan barisan
kiri adalah M2. Pada percobaan micro pilot, perlakuan yang dilakukan adalah
perlakuan split dan ratio planting. Perlakuan ini untuk melihat potensi dari
tanaman jantan untuk menyerbuki dan berapa split dan ratio paling cocok untuk
varietas tersebut. Pertama penanaman diawali dengan menanam tanaman border,
tanaman border ini menggukan tanaman jagung F1. Fungsi dari tanaman border
sendiri yaitu untuk mencegah atau meminimalisir tanaman terjadinya pengaruh
dari luar selain perlakuan yang diterapkan pada tanaman percobaan. Penanaman
tanaman border ini dilakukan 3 hari sebelum tanam varietas yang akan diuji
coba. Kemudian dilakukan penanaman varietas yang diuji pada lahan percobaan.
Penanaman dilakukan berdasarkan ratio dan split planting yang dilakukan.
biasanya ratio yang digunakan adalah 6:1:(+1) dengan split planting 0-5-7.
Artinya penanaman dilakukan dengan menanam tanaman betina terlebih dahulu

25

sesuai letak yang telah ditentukan sebanyak 6 baris. 5 hari kemudian tanaman
jantan ditanam pada baris dengan tagging M1 dan 7 hari setelahnya menanam
tanaman jantan yang kedua yakni pada barisan yang ada tagging M2. Menurut
Fauziah dan Kumalasari (2011), penanaman secara split digunakan untuk
sinkronisasi antara bunga induk jantan dan bunga induk betina.

(a)

(b)

Gambar 7. Kegiatan penanaman: a) penanaman tanaman jantan,ga b) penanaman


percobaan micro pilot. (sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
Pembuatan lubang tanaman juga harus diperhatikan, Karena jika terlalu dalam
dalam pembuatan lubang dalam penanaman, maka benih akan membutuhkan
waktu yang lama untuk tumbuh. Kedalaman lubang tanam yang disarankan adalah
5 cm. Pembuatan lubang tanam dapat menggunakan tugal, holler dan alat planter.
Supaya lebih efektif, lebih baik menggunakan holler karena lebih effisien waktu
dan tenaga kerja. Tetapi jika dilihat dari segi keefektifan, maka penggunaan alat
planter lebih efektif karena selain membuat lubang, alat ini juga dapat langsung
menanam. Gunakan sarung tangan yang ringan (contoh: lateks) dan masker untuk
mencegah keracunan dari kandungan pestisida yang ada dipermukaan benih
jagung.
4.2.1.4 Perawatan Tanaman
Secara garis besar, perawatan tanaman yang dilakukan pada percobaan micro
pilot sama dengan perawatan yang dilakukan pada bagian produksi yakni tentang
pemupukan, pembumbunan (pendangiran) dan pemeberian irigasi. Perawatan
yang dilakukan pada beberapa varietas yang diuji ini berpacu pada POT yang
telah dibuat oleh bagian PPT.

26

1. Pemupukan
Pemupukan merupakan kegiatan penambahan nutrisi dalam tanah yang
tujuaannya untuk mengoptmalkan hasil dari tanaman tersebut. Pupuk yang
diaplikasikan pada tanaman jagung di lahan adalah Urea, KCl, Phonska dan
pupuk cair. Pemupukan dilakukan pada beberapa tahap sesuai dengan
kebutuhan tanaman. Pemupukan pertama dilakukan sebagai pupuk dasar yakni
dengan mengaplikasikan Phonska dan Urea dengan dosis 250 kg/ha dan 100
kg/ha. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 20-25 hst
dengan pupuk Phonska dan Urea dengan masingmasing dosis 250 kg/ha dan
100 kg/ha. Pemupukan ketiga dilakukan pada tanaman berumur 40-45 hst
dengan jenis pupuk Urea dan KCL dengan dosis 250 kg/ha dan 50 kg/ha.
Pengaplikasian pupuk cair dilakukan pada saat tanaman berumur 15, 25, 35 hst.
Tabel 1. Jenis, dosis dan waktu pemberian pupuk yang diterapkan.
Umur tanaman
Jenis pupuk
7-12 hst
20-25 hst
40-45 hst
Urea/za

100 kg/ha

150 kg/ha

250 kg/ha

Phonska

250 kg/ha

250 kg/ha

KCL

50 kg/ha

50 kg/ha

Total

350 kg/ha

400 kg/ha

300 kg/ha

Pengaplikasian pupuk ini dengan cara ditugal dan diuruk, hal ini dilakukan
untuk agar pupuk yang diaplikasikan diserap oleh tanaman lebih optimal.
Karena kita ketahui sifat dari beberpa pupuk mudah tercuci dan menguap.
Menurut Syukur dan Rifanto (2013), pengaplikasian pupuk pada tanaman
jagung dilakukan sebanyak 3 kali dan cara pengaplikasian yang tepat yaitu
dengan cara digejik pada jarak 10 cm dari lubang tanam dan ditutup kembali.

27

(a)

(b)

Gambar 8. Proses pemupukan: a) proses pencampuran pupuk, b) proses


pemupukan.(sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
2. Thining
Thinning/ penjarangan merupakan suatu tindakan pengurangan populasi
untuk memberi ruang tumbuh bagi tanaman yang tersisa. Pada percobaan
micro pilot penjarangan dilakukan dengan menyisakan tanaman sesuai dengan
ketentuan jumlah populasi pada suatu percobaan. Thinning dilakukan karena
pada proses penanaman pada satu lubang tanam dimasukkan benih lebih dari 1,
hal itu dilakukan untuk mencegah adanya benih yang tidak tumbuh sehingga
dapat terecoveri oleh tanaman lain. Penjarangan dilakukan pada tanaman yang
mempunyai ciri pertumbuhan yang kurang dan menyisakan tanaman yang
mempunyai pertumbuhan yang baik untuk disisakan. Pada percobaan micro
pilot populasi yang ditentukan dalam 1 bedengan yakni sebanyak 56 tanaman.
Penjarangan dilakukan secara bertahap yani pada umur 12, dan 21 hst.
Penjarangan sebaiknya dilakukan pada saat tanaman jagung masih dalam masa
generative, karena dapat meningkatkan hasil dan mutu benih yang didapatkan.
Menurut eddowes (1969) dalam Khiramat et al. menyatakan pengurangan
setengah dari populasi mulai dari 150.000-175.000 tanaman perhektar, sebelum
bunga mekar (anthesis) dapat meningkatkan jumlah dan ukuran pada tongkol.
Selain itu, pengurangan populasi ini juga berfungsi untuk mencegah persaingan
antar tanaman, meminimalisir pengaruh dari faktor luar selain perlakuan,
mengurangi tingkat serangan hama dan penyakit, dan memberi ruang tumbuh
yang lebih optimal bagi tanaman. Dengan melakukan thinning maka data yang
didapatkan dari pengamatan lebih konkrit.

28

3. Penyiangan/pengendalian gulma
Gulma mempunyai potensi dapat menurunkan hasil panen hingga 50%
maka dari itu perlu adanya penyiangan. Penyiangan merupakan kegiatan
menghilangkan tumbuhan yang tidak diinginkan, untuk menghindari/
meminimalisir terjadinya persaingan hara, mineral dan sinar matahari sehingga
memperkecil dari potensi serangan hama dan penyakit. Tujuan dari penyiangan
yaitu untuk meminimalisir tingkat persaingan antara tanaman budidaya dengan
tanaman lain. Fungsi dari penyiangan yaitu memperkecil serangan hama,
efisiensi penggunaan pupuk dan air, melancarkan sirkulasi udara, serta
meningkatkan hasil. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pengendalian
gulma harus dilakukan secara tepat yakni tepat waktu, jenis dan cara. Waktu
yang dianjurkan dalam pengndalian gulma pada percobaan micro pilot yaitu
sebelum tanam pada saat pengolahan lahan sampai dengan 7 hst, atau setelah
tanam antara 0-3 hst, umur 7-12 hst menggunakan herbisida selektif dengan
merek dagang calaris dengan dosis 1,5 liter/Ha dan terakhir pada umur 35-45
hst dengan menggunakan herbisida kontak dengan merek dagang gramaxone
dengan dosis 1,5 liter/Ha atau secara manual dengan diwatun.
4. Pembumbunan dan pendangiran
Pembumbunan merupakan pembalikan tanah pada sekitar tegakan tanaman
budidaya, dalam hal ini adalah tanaman jagung. Fungsi dari pendangiran yaitu
untuk menopang tumbuh tegaknya tanaman agar tidak mudah roboh,
meperlancar siklus redoks sehingga penyerapan unsur hara dalam tanah lebih
optimal dan juga meminimaslisir terjadinya kehilangan unsur hara akibat
penguapan. pembumbunan dilakukan secara manual dengan menggunakan
cangkul pada setiap baris tanaman. Yakni dengan membalik tanah sekitar
tanaman dan membunbun tanah tersebut pada batang tanaman jagung dengan
tinggi bumbun sekitar 5 cm. Menurut POT yang diterpakan oleh perusahaan,
sebaiknya pembumbunan dilakukan setelah diaplikasikannya pupuk.

29

Gambar 9. Proses pendangiran dan pembumbunan


(sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
Pendangiran merupakan usaha dalam mengurangi gulma atau tanaman lain
selain selain tanaman budidaya yang ada dilahan. Fungsi dari pendangiran
yaitu untuk mengurangi persaingan dalam penyerapan unsur hara, mineral dan
faktor lain yang mendukung tumbuh kembangnya tanaman budidaya. Menurut
Syukur dan Rifanto (2013) pendangiran sebaiknya dilakukan sebelum
pengaplikasian pupuk, hal itu dikarenakan untuk meminimalisir terjadinya
persaingan dalam penyerapan unsur hara. Waktu pendangiran yang tepat yang
diterapkan pada percobaan micro pilot adalah sebelum tanam pada saat
pengolahan lahan, setelah tanam pada saat umur tanaman 0-3 hst dan umur 712 hst dengan menggunakan jenis herbisida selektif yakni dengan merek
dagang calaris dengan dosis 1,5 ltr/ha.
5. Irigasi
Irigasi merupakan kegiatan pemenuhan air untuk memenuhi kebutuhan air
bagi tanaman. Fungsi dari pemberian irigasi yaitu menjaga kelembaban tanah
sehingga mendukung pertumbuhan tanaman berkaitan dengan pengambilan
unsur hara dalam tanah dan proses metabolism tanaman, katalis proses imbibisi
benih untuk tumbuh, mempermudah penguraian dan penyerapan pupuk oleh
tanaman. Dalam pemberian air irigasi harus dimonitoring, hal itu karena jika
air telah melebihi ambang batas bagi tanaman jagung akan menyebabkan
tanaman tersebut strees, selain itu apabila terlalu lembab maka penyebaran
hama dan penyakit akan semakin tinggi. Pemberian irigasi harus sesuai dengan
kebutuhan yang dibutuhkan tanaman tidak kurang dan tidak berlebihan.
Pada proses percobaan micro pilot, pemberian irigasi dilakukan sebanyak 5
kali yakni, sebelum tanam, setelah pemupukan, pembungaan (polinasi),
pengisian kernel dan sebelum panen (jika air memadai). Hal ini sesuai dengan
pernyataan Purwono dan Hartono (2005) bahwa jagung membutuhkan air yang

30

cukup banyak terutama pada saat pertumbuhan awal, pembungaan dan


pengisian biji/kernel. Seperti yang kita tahu bahwa tanaman jagung merupakan
tanaman yang tidak begitu suka terhadap keadaan tergenang air, maka dalam
memberikan air irigasi harus sesuai dengan kebutuhan dan sebaiknya jangan
sampai air menggenang. Menurut Tusi dan Bustomi (2009), suhu yang terlalu
panas dan pemberian air yang kurang mengakibatkan tanaman jagung tidak
tumbuh secara optimal. Apabila pertumbuhan jagung tidak optimal, maka akan
mempengaruhi terhadap hasil dan mutu yang didapatkan. Selain irigasi, sistem
drainase pada lahan juga harus terjaga.

(a)

(b)

Gambar 10. Proses irrigasi (sumber: dokumentasi pribadi, 2016)


6. Pengendalian Hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit merupakan usaha perlindungan tanaman
dengan cara pengelolaan OPT sehingga tidak menyebabkan kerusakan dan
kerugian

secara

ekonomis.

Tujuannya

bukan

untuk

memberantas/

memusnahkan tetapi untuk menekan populasi OPT sampai pada tingkat yang
tidak menyebabkan kerugian. Pengendalian OPT dilakukan dengan berbagai
teknik pengendalian yang ada, sejak awal budidaya hingga pasca panen.
Teknik yang digunakan dalam pengendalian OPT harus 5 tepat, yakni tepat
sasaran, tepat waktu, tepat pengaplikasian, tepat cara, dan tepat dosis.
Pada percobaan micro pilot, pengendalian OPT dilakukan secara kimiawi
yaitu menggunakan pestisida. Pestisida yang digunakan yaitu alika yang
merupakan insektisida racun kontak dan lambung berebentuk pekatan suspensi
dan amistartop yang merupakan fungsida sistemik dan zat pengatur tumbuh
berebentuk pekatan. Dalam pengaplikasian pestisida, pelaku (orang yang
mengaplikasikan) harus dipastikan memakai alat pelindung diri yang benar dan

31

sesaui dengan ketentuan, hal itu dilakukan untuk meminimalisir terjadinya


kejadian yang tidak diinginkan seperti keracunan dll. Dalam pengaplikasian
kedua pestisida tersebut sudah diatur dalam POT waktu dan dosis
pengaplikasian. Berikut adalah jenis, waktu dan dosis pengaplikasian pestisida
pada percobaan micro pilot:
Table 2. jenis, waktu dan dosis pengaplikasian pestisida pada percobaan
micro pilot
Jenis pestisida
Umur tanaman
Dosis/Ha lahan
Alika

Amistartop

Pupuk daun

15 hst

150 ml/Ha

21 hst

400 ml/Ha

15 hst

250 ml/Ha

35 hst

250 ml/Ha

15 hst

500 ml/Ha

25 hst

500 ml/Ha

35 hst

500 ml/Ha
500 ml/Ha

45 hst
4.2.1.5 De tasseling

Detasseling merupakan pencabutan bunga jantan pada tanaman betina. Arti lain
dari detasseling yaitu fase menghilangkan bunga jantan pada tanaman betina
dengan cara dicabut untuk mendapatkan kemurnian benih. Fase ini dilakukan pada
saat umur tanaman memasuki 55 hst atau sesuai keadaan di lahan dan jenis
varietas yang dibudidayakan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kemurnian
benih jagung dan mencegah jagung melakukan selfing melainkan hanya serbuk
sari dari tanaman jagung jantan yang menyerbuki rambut tongkol betina. Menurut
Syukur dan Rifianto (2013) Syarat yang harus diperhatikan adalah jangan
membiarkan kuncup bunga jantan pada tanaman betina mekar dan pollen sudah
pecah, karena akan menyebabkan selfing. Waktu yang tepat untuk melakukan
kegiatan detasseling yakni pada saat bunga jantan pada tanaman betina masih
dibungkus oleh 2-3 helai daun. Pencabutan bunga jantan ini disarankan dilakukan
sampai pukul 09.00 karena jika lebih dari jam 09.00 dikhawatirkan serbuk sari
dari bunga jantan akan pecah. Selain itu pencabutan bunga jantan juga disarankan
dengan mengikut sertakan 2-3 helai daun yang menutupi bunga, hal itu

32

mempermudah dan mempercepat pengerjaan, selain itu dengan mengikutkan 2-3


helai daun akan meningkatkan berat jagung karena hasil fotosintat akan fokus
tertuju pada tongkol jagung.

Gambar 11. Proses detasseling


(sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
4.2.1.6 Babat jantan
Babat jantan merupakan kegiatan pemanenan tanaman jantan setelah fungsi
dari tanaman jantan sebagai penyuplai pollen kepada tanaman betina selesai.
Menurut Syukur dan Rifanto (2013), babat jantan dilakukan pada saat rambut
pada tongkol jagung sudah kering dan berwarna kecoklatan. Ciri dari tongkol
yang sudah tersebuki adalah warna rambut tongkol coklat dan layu. Fungsi dari
pembabatan tanaman jantan yaitu untuk mencegah tercampurnya tongkol dari
tanaman jantan dengan tanaman jagung betina. Keuntungan dari babat jantan yaitu
memperlncar sirkulasi udara pada lahan tersebut, sehingga tanaman tidak mudah
terserang penyakit, mengurangi tingkat persaingan dalam penyerapan unsur hara
dan menjaga kemurnian benih ketika panen.
Pada percobaan micro pilot babat jantan dilakukan pada saat umur tanaman 7585 hst atau bunga jantan (tassel) sudah kering dan rambut (silk) sudah layu.
Tujuan dari babat jantan yaitu untuk mengurangi persaingan antara tanaman
jantan dengan tanaman betina sehingga bisa melancarkan sanitasi dan
menghindarkan penularan penyakit tanaman serta mempercepat proses penuaan
dan pengisian pada tanaman betina.

33

Gambar 12. Proses babat jantan


(sumber: Syngenta, 2016)
4.2.1.7 Panen
Sebelum panen dilakukan, terlebih dahulu yang disiapkan adalah karung yang
disertai tagging sebagai wadah hasil pemanenan. Tagging yang ditulis harus
sesuai dengan perlakuan serta ulangan yang ada pada lahan. Hal yang dilakukan
dalam dalam persiapan panen adalah menulis tagging, penulisan tagging ini
menggunakan mika berwarna kuning dipotong sesuai keperluan kemudian
diikatkan pada karung. Informasi yang berada dimika antara lain jenis perlakuan,
ulangan dan kode wilayah lahan yang akan dipanen. Setelah selesai diikat pada
karung, kemudian karung tersebut dikelompokkan sesuai dengan perlakuan dalam
lahan. Pengelompokkan ini bertujuan untuk mempermudah dalam mencari dan
membagi waktu dilahan.
Panen dilakukan pada saat tongkol jagung sudah masak fisiologis (bisa dilihat
dari warna, kekerasan dan kadar air). Menurut Sudjana et al, (1991), pemanenan
benih pada tingkat kemasakan yang rapat sangatlah penting dalam mendapatkan
mutu benih awal yang tinggi dan daya simpan benih yang panjang. Sebelum di
petik, kelobot dibuka terlebih dahulu satu persatu. Kemudian ditentukan kelas
tongkol dari masing-masing perlakuan, kemudian proses pemanenan dilakukan.
Pemanenan ini dilakukan oleh orang yang sudah pengalaman dan kepercayaan
dari pihak PPT. Tongkol hasil pemanenan dimasukkan kedalam karung yang telah
disediakan yang sesuai dengan perlakuan dan ulangan. Jumlah dari hasil tongkol

34

di tulis pada tagging yang ada pada karung yang bertujuan untuk mengetahui
potensi hasil tongkol dari perlakuan tersebut. Setelah pemanenan selesai
kemudian hasil dikumpulkan di base camp untuk pengamatan setelah panen.

(a)

(b)

Gambar 13. Dokumentasi panen: a) proses pemanenan, b) wadah untuk hasil


panen.
(sumber: dokumentasi pribadi, 2016)
4.2.1.8 Pasca panen
Pasca panen merupakan kegiatan yang dilakukan setelah budidaya dilahan
selesai, dengan tujuan mempertahankan sifat dari hasil panen yang didapatkan
agar tetap terjaga kualitasnya baik secara fisiologis, morfologis dan biologis. Hasil
dari pemanenan ditimbang dan kemudian dikeringkan secara konvensional dengan
menggunakan sinar matahari. Pengeringan ini masih dalam bentuk tongkol dan
berada pada wadah yang telah terdapat tagging. Pengeringan dilakukan hingga
kadar air tongkol mencapai 11% atau kurang lebih selama 5 hari, kemudian
dilakukan pemipilan.
Pemipilan merupakan pemisahan kernel dari janggel jagung. Pemipilan
dilakukan pada kadar air sudah mencapai 11%. Sebelum pemipilan dilakukan,
hasil dari panen dijemur terlebih dahulu secara konvensional. Yakni dengan
menggunakan sinar matahari sampai kadar air mencapai 11%. Jika lebih besar
dari ketentuan kadar air yang ada, maka akan banyak kernel yang pecah pada saat
dilakukan proses pemipilan. Menurut Firmansyah et al. (2006) menyatakan jika
kadar air jagung terlalu tinggi, maka biji tanaman akan mudah rusak dan jika
kadar air terlalu kering, maka biji jagung akan mudah retak. Pemipilan dilakukan
dengan menggunakan mesin pipil yang mempunyai kapasitas/ daya tamping kecil
secara umum mesin ini dinamakan mesin selep. Proses pemipilan ini dilakukan

35

dengan memasukkan satu persatu dari semua ulangan. Hasil dari proses pemipilan
tersebut dimasukkan kembali kedalam wadah karung semula yang ada tagging
perlakuan dan ulangan, hal itu dilakukan karena untuk menghindari tercampurnya
hasil dari setiap perlakuan dan ulangan. Karena hasil dari pemipilan akan
ditimbang untuk melihat hasil berupa berat kernel, yang berfungsi untuk melihat
akumulasi persentase berat dari tongkol kedalam bentuk kernel.
4.2.1.11 Pengamtan Micro Pilot test
1. Pengamatan populasi awal (Germinasi)
Germinasi merupakan persentase daya berkecambah suatu benih dalam
kondisi yang optimal. Proses germinasi sangat tergantung pada beberpa factor,
antara lain air, oksigen, suhu dan cahaya. Keempat faktor tersebut sangat
berpengaruh dalam pemecahan masa dormansi benih. Pada percobaan micro
pilot pengamatan populasi awal dilakukan dengan melihat persentase daya
berkecambah, keserempakan waktu perkecambahan dan keseragaman tanaman.
Pengamatan ini dilakukan karena apabila pada saat awal perkecambahan telah
mengalami kegagalan atau tidak sesuai ketentuan maka proses percobaan akan
diulangi lagi dari awal. Selain itu, pengamatan germinasi ini berfungsi untuk
mengetahui persentase daya berkecambah varietas yang diuji pada media
sesungguhnya/keadaan lapang sesungguhnya. Ketentuan yang ditetapkan oleh
PT. Syngenta Seed Indonesia adalah 98% pada daya berkecambah, dan apabila
tidak sesuai ketentuan tersebut, maka varietas tersebut perlu dikaji ulang.
2. Pengamtan hama dan penyakit
Untuk mengetahui ketahanan dari varietas yang diuji pada percobaan micro
pilot maka dilakukan pengamatan penyakit. Pada pengamatan ini kita melihat
jenis penyakit yang menyerang pada setiap baris dari tanaman yang diuji.
Pengamatan ini dilakukan dengan melihat gejala yang nampak secara fisiologi
pada tanaman tersebut. Kemudian gejala tersebut dianalisis dengan literature
yang telah disiapkan oleh pihak PPT. Dalam pengamatan ini kita mencatat
tingkat serangan yang terjadi pada varietas yang diuji. Dalam penentuan
tingkat serangan sudah ditentukan dalam buku panduan pengamatan. Tingkat
serangan yang terjadi dipersentasikan dan ditulis pada buku pengamatan
berdasarkan ketentuan rating. Pada tingkat serangan < 30 % = 1, 30%-80% = 5

36

dan > 80% = 9. Fungsi dari rating ini mempermudah kita dalam mencatat dan
menyampaikan informasi. Salah satu penyakit yang penting bagi tanaman
jagung adalah penyakit bulai. Penyakit ini disebabkan oleh jenis spesies
Peronosclerospora maydis.
Penyakit bulai merupakan salah satu jenis penyakit yang belum bisa
ditanggulangi dan hanya bisa diantisipasi untuk meminimalisir tingkat
serangan. Pada saat ini para produsen benih jagung sangat kuwalahan dalam
menanggulangi serangan dari penyakit bulai. Dilihat dari laporan bagian
produksi, jagung yang banyak terserang penyakit bulai adalah jagung yang
berperan sebagai tanaman jantan, dan jarang sekali tanaman betina yang
terserang penyakit tersebut. Apabila penyebaran penyakit ini tidak ditangani
dengan baik akan menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Maka dari itu
setiap percobaan yang dilakukan oleh perusahan tersebut dilakukan
pengamatan penyakit bulai, salah satunya pada percobaan micro pilot. Pada
umur 21 hst pada percobaan micro pilot dilakukan pengamatan penyakit bulai.
Pengamatan ini dilaksanakan pada pagi hari, hal itu dikarenakan pada pagi hari
pengamatan penyakit bulai lebih mudah karena sudut dari penyinaran matahari
masih condong dan itu memudahkan mata kita dalam mengamati tanaman yang
terserang tidak tegak lurus dengan tanaman. Teknik dari pengamatan ini adalah
menghitung jumlah tanaman jantan yang terserang penyakit pada setiap
percobaan dan ulangan. Kita menyisir satu persatu baris dari tanaman jantan
pada percobaan micro pilot dan dicatat berapa jumlah tanaman yang terserang
dengan melihat percobaan, ulangan dan baris dari tanaman jantan tersebut.
3. Pengamatan karakteristik
Pengamatan yang dilakukan selanjutnya pada micro pilot yaitu karakterisasi.
Pengamatan karakterisasi ini bertujuan untuk melihat perbedaan karakter dan
yang dimiliki oleh varietas tersebut dibandingkan dengan varietas lain.
Pengamatan ini bertujuan untuk menyeleksi galur-galur yang mempunyai sifat
unik dan mampu bersaing dalam pemasaran. Pengamatan karakteristik ini
meliputi penampakan fisiologi dari tanaman tersebut. Pengamatan karakterisasi
ini dilakukan pada fase generative, dan vegetative. Pengamatan yang dilakukan
pada saat fase generative yaitu flowering dengan menghitung jumlah bunga

37

jantan dan betina yang sudah pecah dan keluar. Pengamatan ini dilakukan
setiap hari selama semua bunga jantan (tassel) dan betina (silk) sudah pecah
dan keluar semua. Selain itu, pada fase generative juga dilakukan pengamatan
antara lain bentuk daun, diameter daun, warna buku, tinggi tanaman, warna
batang dan warna ruas tanaman.
Pengamatan karakterisasi yang dilakukan pada fase vegetative yaitu warna
daun ketika panen, jumlah tongkol yang berdaun pada ujung tongkolnya,
jumlah tanaman yang tidak keluar tongkol, jumlah tanaman yang roboh (akibat
dari akar tanaman, batang dan faktor luar tanaman seperti alam dan manusia),
jumlah tanaman yang bertongkol ganda pada satu buku, panjang klobot
penutup tongkol. Pengamatan ini dilakukan berdasarkan buku panduan yang
ada. Pada buku panduan pengamatan juga sudah ditentukan tentang penilaian
pengamatan berdasarkan rating. Misal seperti warna daun, pada buku panduan
pengamatan warna hijau =1, warna kuning = 5 dan warna kemerahan = 9.
4. Pengamatan pembungaan
Pengamatan yang dilakukan pada fase generatif antara lain yaitu
pengamatan pembungaan (nicking). Nicking merupakan sinkronisasi antara
munculnya bunga betina dengan bunga jantan. Sampling nicking ini penting
karena untuk mengevaluasi tentang teknologi yang telah diterapkan sudah tepat
atau perlu perbaikan. Hal ini bertujuan untuk pembuatan POT yang akan
datang, dengan melihat hasil produksi sekarang dan tekhnologi yang diterapkan
saat ini. Sampel yang digunakan dalam nicking ini adalah 2 jantan dan 1 betina
dengan

masing-masing

ulangan

dengan

masing-masing

ulangan

menggunakan 50 tanaman sebagai sampel. Metode yang digunakan yaitu


dengan menandai tanaman menggunakan tali rafia yang berbeda warna antar
sampel, kemudian dilakukan pengamatan sampai bunga jantan dan betina
muncul semua. Ketentuan waktu pengamatan dalam pengaman pembungaan
adalah dengan melakukan pengamatan setiap hari dengan waktu pengamatan
yang sama dan dilakukan sampai proses pembungaan selesai. Kriteria
penghitungan bunga jantan (tassel) dan bunga betina (silk) yaitu pada bunga
jantan panjang tassel yang pecah minimal 5 cm jika kurang maka tidak
dihitung dan pada bunga betina, rambut yang keluar yang masuk dalam kriteria

38

perhitungan yaitu dengan panjang minimal 2 cm. Kemudian di rata-rata untuk


mengetahui apakah keluarnya silking bersamaan dengan tassel yang siap
membuahi (pecah). Pengamatan flowering ini berfungsi sebagai menentukan
split planting kedepannya. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan waktu
yang sama untuk memfalidkan data yang diperoleh
5. Pengamtan panen
a. Jumlah tongkol
Perhitungan jumlah tongkol dilakukan pada saat panen bertujuan untuk
mengetahui potensi hasil dalam satu batang tanaman jagung. Jumlah tongkol
yang didapatkan kemudian dicatat pada tagging yang ada pada wadah yang
disediakan. Penghitungan jumlah tongkol pada saat panen ini berfungsi untuk
memudahkan pengambilan data tentang jumlah yang didapatkan pada saat
panen, serta dengan menghitung jumlah tongkol pada saat panen memudahkan
kita dalam mengestimasi hasil produksi dalam satuan hektar.
b. Penimbangan dan pengecekan kadar air (MC)
Setelah hasil panen datang, kemudian dilakukan penimbangan dan
pengecekan kadar air. Penimbangan dilakukan berdasarkan perlakuan dan
ulangan, kemudian dicatat hasil dari penimbangan. Hasil dari penimbangan
tersebut akan dikonversikan pada potensi hasil yang kemungkinan besar
didapatkan pada luasan lahan per hektar, setelah itu dilakukan pengukuran
kadar air. Pengukuran kadar air dilakukan pada 1 ulangan saja. Setiap
perlakuan diambil sampel jagung secukupnya kemudian dipipil menggunakan
alat pipil atau secara manual. Kemudian dimasukkan ke alat pengukur kadar air
untuk mengukur kadar air awal setelah panen. Pengukuran kadar air ini
menggunakan alat yang bernama pattern 2100.
c.

Penentuan kelas tongkol


Penentuan kelas tongkol ini dilakukan pada sesaat sebelum tongkol dipetik.

Cara pengamatan yaitu dengan mengambil sampel secara acak yang dapat
mewakili sebanyak 5 sampel pada setiap perlakuan dan ulangan. Kelobot dari
tongkol dibuka kemudian dilakukan penentuan kelas tongkol pada perlakuan
tersebut berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh bagian PPT.

39

Penentuan kelas tongkol ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan dalam


melakukan perlakuan pada varietas tersebut.
6. Pengamtan pasca panen
a. Foto
Setelah selesai dilakukan penimbangan dan pengecakan kadar air, kemudian
dilakukan pembandingan jumlah tongkol dengan tongkol yang berfungsi
sebagai check. Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan menata semua tongkol
pada kain hitam dan putih. Pada kain hitam, tongkol ditata dari kelas tongkol
yang paling bagus hingga paling rendah (jelek), kemudian dibagian samping
diberi penggaris, bagian bawah diberi keterangan jenis varietas, ulangan dan
baris. Setelah ditata rapi kemudian di foto dengan sudut pengambilan tegak
lurus dengan objek. Setiap barisan berisi 14 tongkol tanaman jagung.
Sedangkan pada kertas putih ditata 1 baris yang berisi 6 tongkol tanaman
jagung yang diuji dan 1 tongkol tanaman yang berperan sebagai check. 1
tongkol tanaman yang diuji diptong, untuk mengetahui warna janggel.
Kemudian dibagian samping barisan diberi penggaris dan dibagian bawah
diberi keterangan jenis varietas, perlakuan dan ulangan. Kemudian
didokumentasi. Pengambilan dokumentasi harus sejelas mungkin dan tegak
lurus dengan objek pengujian. Fungsi dari kegiatan adalah sebagai data
pendukung dan penguat/ bukti konkrit dari data hasil yang diperoleh.
b. Pengamatan tongkol
Setelah kegiatan yang ada dilapang selesai dan tanaman telah dipanen maka
dilanjutkan pengamatan setelah panen. Pengamatan yang dilakukan setelah
panen yaitu pengamatan dari hasil yang diperoleh. Pengamatan yang dilakukan
setelah panen antara lain bentuk tongkol, panjang tongkol, diameter tongkol,
warna janggel, warna kernel, jumlah kernel dalam satu tongkol, penyakit pada
tongkol, jumlah tongkol yang ditemukan kernel pecah, bentuk kernel, dan berat
setelah dipipil.
Pada pengamatan bentuk tongkol, panjang tongkol, diameter tongkol, warna
janggel, penyakit pada tongkol dilakukan secara bersamaan. Teknik dari
pengamatan yaitu dengan menata semua tongkol hasil panen setiap perlakuan,
kemudian diamati secara fisiologis. Pada bentuk tongkol, panjang tongkol

40

diameter tongkol dan warna janggel dilakukan dengan cara metode sampling,
yakni mengambil 5 sampel secara acak kemudian diamati setiap tongkol. Hasil
dari pengamatan tersebut dirata-rata kemudian dicatat hasil. Pada pengamatan
penyakit yang terdapat pada tongkol, kita harus menghitung berapa tongkol
yang terserang penyakit dalam satu ulangan dan perlakuan tersebut begitu pula
pada jumlah kernel yang pecah.
c. Rendemen
Rendemen merupakan perbandingan berat jagung pada saat masih dalam
bentuk tongkol dengan bentuk pipilan. Pengamatan rendemen dilakukan
setelah jagung melewati proses pemipilan. Cara mengukur rendemen yaitu
dengan menimbang jagung yang sudah dalam bentuk pipilan berdasarkan
perlakuan dan hanya menggunakan 1 ulangan saja. Hasil dari penimbangan
jagung dalam bentuk piplan tersebut kemudian dibandingkan dengan berat
pada waktu jagung masih dalam bentuk tongkol, kemudian dilihat berapa besar
kehilangannya. Pengamatan rendemen ini perlu diamati karena dengan melihat
rendemen kita dapat mengetahui berapa besar rendement berat dan apakah
masih menguntungkan jika diproduksi untuk menjadi benih hibrida.

41

5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Terdapat 3 divisi yang menentukan lanjut tidaknya suatu perusahaan, yakni
research dan development, produksi dan marketing dan ada 1 divisi yang berperan
penting dalam menjembatani ketiga divisi tersebut yaitu divisi PPT (production
and processing technology). Peran dari PPT sendiri yaitu menguji dan menyeleksi
galur dari RnD sampai dengan benih tersebut siap untuk diproduksi. Dalam divisi
PPT ada percobaan yang dilakukan setiap tahunnya yakni, parent test, micro pilot
test, pilot production dan proses research. Divisi PPT lah yang mempunyai tugas
untuk membuat POT (paket of technology) yang merupakan acuan bagian
produksi dalam proses budidaya varietas yang dibudidayakan.
Kegiataan yang dilakukan pada divisi PPT secara garis besar sama dengan
bagian Produksi yaitu mulai dari persiapan lahan sampai dengan pasca panen,
tetapi ada beberapa perbedaan dalam melakukan budidaya tanaman jagung.
Perbedaan tersebut antara lain yaitu luasan lahan budidaya, thinning/ penjarangan,
pengamatan germinasi, karakterisasi, pengamatan setelah panen, dll. Dalam
melaksanakan berbagai pengamatan tersebut, pihak PPT telah mempunyai
standart tersendiri. Standart tersebut tertulis dalam bentuk buku panduan
pengamatan dan penulisan. Adanya standart dari PT. Syngenta seed Indonesia,
memudahkan kita dalam menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang
mengolah data, dan meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pengolahan data.
5.2 Saran
Proses budidaya yang dilakukan oleh PT. Syngenta Seed Indonesia dalam
mendapatkan benih hibrida sudah sangat bagus dan memenuhi standart yang
ditetapkan oleh pemerintah. Pelaksanaan teknik budidaya jagung yang dilakukan
sudah sesuai tahapan proses dan rekomendasi yang telah ditentukan untuk
mendapatkan benih yang berkualitas. Tetapi masih perlu adanya pengawasan yang
lebih ketat dalam proses budidaya jagung agar meminimalisir terjadinya
penyimpangan dan ketidak sesuaian dengan POT dalam hal pelaksanaannya.

42

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Yogyakarta. Kanisius.
Badan pusat statistik. 2015. Angka Ramalan II Tahun 2015. Produksi Tanaman
Pangan. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Balitbang Pertanian. 2013. Teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida. Pusat
Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor
Burris, J. S. 1994. Film Coating Perspctive. Seed World. 12: 36-40
Fanindi, A. Prawiradiputra, B. R. Dan Abdullah, L. 2010. Pengaruh Intensitas
Cahaya Terhadap Produksi Hijauan Dan Benih Kalopo (Calopogonium
mucunoides). Balai Penelitian Ternak, Bogor. JITV 15(3): 205-214.
Fauziah koes, Oom Kumalasari. 2011. Pengaruh Waktu Tanam Induk Betina
Terhadap Produktivitas dan Mutu Benih Jagung Hibrida. Balai Penelitian
Serealia. Maros.
Firmansyah, U. I. Saenong, B. Abidin. Suarni, Y. Sinuseng. 2006. Proses
Pascapanen Untuk Menunjang Perbaikan Produk Biji Jagung Berskala
Industri dan Ekspor. Laporan hasil penelitian tanaman serealia. Maros.
Iriany. R.N., M. Yasin, H.G dan M.A. Takdir. 2002. Asal, Sejarah, Evolusi dan
Taksonomi Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serelia. Maros. 115.
Khan. K, Muhammad. I, zubair. S, bashir. A, abdul. A. and hassan. S. 2003. Grain
Stover Yield of Corn With Varying Time of Plant Density Reduction. Central
crops research institute. Pirsabak. Nowshera (NWFP). Pakistan. Bio sci. 6
(19): 1641-1643
Moentono, M. D. 1998. Pembentukan dan Produksi Benih Varietas Hibrida
Jagung. Puslitbangtan, Bogor. Bogor.
Paliwal, R.L. 2000. Tropical Maize Morphology. In: Tropical Maize: Improvment
and Production. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Rome. p 13-20.
Purwono dan hartono, R. 2005. Bertanam jagung unggul. Penebar swadaya.
Jakarta.
Rahayu, S. Wanita, Y. P. Kobarsih, M. 2001. Penyimpanan Benih Padi
Menggunakan Berbagai Jenis Pengemas. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Yogyakarta. Yogyakarta. 15(1): 38-39.

43

Robiin. 2007. Perbedaan Bahan Kemasan dan Periode Simpan Dang


Pegaruhnya Terhadap Kadar Air Benih Jagung Dalam Ruang Simpan
Terbuka. Buletin Teknik Pertanian. 12(1): 81-91
Rochani, S. 2007. Bercocok Tanam Jagung. Azka press. 59 hal.
Sudjana, A. A. Rifin, M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin teknik. Badan Penelitian
Tanaman Bogor. Bogor.
Syukur, M. dan Rifianto, A. 2013. Jagung. Penebar Swadaya: Jakarta.
Tusi. A dan R.A. bustomi .R. 2009. Aplikasi irigasi defisit pada tanaman jagung.
Department of agriculture engginering. Faculty of agriculture. University of
lampung. Bandar lampung. Lampung. 4 (2): 120-130.

44

Lampiran 1. Biodata Mahasiswa


Biodata Mahasiswa :

Nama

: Yusuf Nugroho

NIM

: 135040201111199

Tempat, Tanggal Lahir

: Jember, 07 November 1994

Agama

: Islam

Universitas

: Brawijaya, Malang

Program Studi

: Agroekoteknologi

Jurusan

: Budidaya Pertanian

Minat

: Pemuliaan Tanaman

Alamat Asal

: Desa Wringintelu, Kec. Puger, Kab. Jember


Jawa Timur.

No. HP

: 087712728477

No. HP Orang Tua

: 081336722911

Email

: nugrohoyusuf14@gmail.com

Alamat di Malang

: Jl. Piranha Atas, Gg IV, No.126, Lowokwaru,


Kota Malang

Tempat Magang Kerja

: PT. Syngenta Seed Indonesia

Alamat Tempat Magang

: Jl Raya Kraton Industri No 4, Kabupaten Pasuruan


Jawa Timur

45

Lampiran 2. Denah Lokasi