Anda di halaman 1dari 6

BAB I

1.1

Latar Belakang Permasalahan


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular
yang disebabkan virus Dengue melalui perantara nyamuk Aedes aegypti.
Biasanya ditandai dengan demam tinggi yang timbul mendadak selama 2-7
hari, disertai adanya manifestasi perdarahan.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat jumlah kasus
Demam Berdarah Dengue pada tahun 2009 mencapai sekitar 150 ribu. Angka
ini cenderung stabil pada tahun 2010, sehingga kasus DBD di Indonesia belum
bisa dikatakan berkurang. Demikian juga dengan tingkat kematiannya, tidak
banyak berubah dari 0,89 pada tahun 2009 menjadi 0,87 pada pada 2010. Ini
berarti ada sekitar 1.420 korban tewas akibat DBD pada 2009 dan sekitar 1.317
korban tewas pada tahun berikutnya.
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
pada tahun 2004 terdapat 182 kasus, dengan jumlah kematian 10 orang. Angka
ini menurun pada tahun 2005 yaitu 142 kasus dengan jumlah kematian 7 orang.
Akan tetapi, 2 tahun ke depan angka tersebut meningkat pesat yaitu 160 kasus
pada tahun 2006 dan 429 kasus pada tahun 2007. Tahun 2008, jumlah kasus
DBD di Kabupaten Boyolali secara keseluruhan tercatat sebanyak 381 kasus,
sementara tahun 2009 jumlahnya turun menjadi 326 kasus. Pada tahun 2010
jumlah kasus meningkat yaitu sebanyak 403 kasus dan di awal tahun 2011
yaitu bulan Januari dan Februari sudah tercatat 22 kasus.
Untuk di wilayah Kecamatan Ngemplak khususnya di desa Manggung
sebanyak 1 kasus dari 76 kasus di kecamatan Ngemplak. Tahun 2009 sebanyak
1 kasus dari 48 kasus di kecamatan Ngemplak. Pada tahun 2010 terdapat
peningkatan kasus DBD di desa Manggung yaitu sebanyak 5 kasus dari 68
kasus di kecamatan Ngemplak. Sampai Februari 2011 kejadian kasus DBD di
Kecamatan Ngemplak yang tercatat ada 4 kasus.
Sebagaimana diketahui cara pencegahan/pemberantasan DBD yang dapat
dilakukan adalah dengan memberantas vektor (nyamuk penularnya), karena
vaksin untuk mencegah dan obat untuk membunuh virusnya belum tersedia.

Cara yang paling sederhana memberantas vektor yaitu dengan


pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN-DBD).
Sedangkan untuk membasmi penularan penyakit yang cenderung meluas,
mencegah KLB serta menekan angka kesakitan dan kematian yaitu dengan
pemberantasan vektor menggunakan penyemprotan insektisida (fogging focus).
Kriteria dilakukannya fogging yaitu : 1) bila ditemukan kasus DBD lain
dan/atau (2) ditemukan 3 penderita panas tanpa sebab yang jelas, dan
ditemukan jentik nyamuk DBD 5% dari seluruh rumah yang diperiksa.
Prioritas kegiatan pemberantasan nyamuk di desa / kelurahan sesuai
dengan tingkat kerawanannya yaitu :
a. Daerah Endemis/Rawan I :
3 tahun berturut-turut ada kasus DBD. Tindakan yang harus dilaksanakan:
1. Penyuluhan

3. Abatisasi selektif

2. Fogging massal

4. Pemantauan Jentik Berkala

b. Sporadis/Terjangkit/Rawan II :
Ada kasus tetapi tidak tiap tahun. Tindakan yang harus dilaksanakan:
1. Penyuluhan
2. Abatisasi selektif
3. Pemantauan Jentik Berkala
c. Potensial/Rawan III
Kasus 0 HI > 5 %. Tindakan yang harus dilaksanakan :
1. Penyuluhan
2. Pemantauan jentik berkala
d. Bebas :
Ketinggian > 1000 M. < 1000 M. HI = < 5 %. Kasus indigenous ialah kasus
yang berasal dari sini. Tindakan yang harus dilaksanakan:
1. Penyuluhan
2. Pemantauan jentik berkala

BAB II
2

2.1

Permasalahan di Masyarakat
Berdasarkan surat pemberitahuan dari Rumah Sakit Islam Surakarta pada
bulan Mei 2011 terdapat 1 (satu) penderita yang dirawat di RS tersebut selama
5 hari karena Demam Dengue. Penderita adalah seorang laki-laki berusia 40
tahun yang tinggal di Desa Manggung, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Selain
itu, ada 2 (dua) penderita yang dirawat di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta
selama 4 hari karena Demam Berdarah Dengue dengan penderita yang satu
sampai keadaan Dengue Syok Syndrome (DSS).
Menindaklanjuti surat pemberitahuan tersebut, Puskesmas Ngemplak
yang memiliki daerah cakupan pelayanan kesehatan di daerah tersebut telah
melakukan penyelidikan epidemiologi Demam Berdarah Dengue di sekitar
daerah tempat tinggal penderita tersebut dengan house indeks sebesar 62,5%
kemudian hari berikutnya dilakukan fogging (penyemprotan).

2.2

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Dilakukan pemberantasan vektor di Desa Manggung Kec. Ngemplak,
Boyolali di mana daerah tersebut termasuk daerah endemis / rawan I yaitu tiga
tahun berturut-turut mulai dari tahun 2009 sampai 2011 terdapat kasus DBD.
Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan pemberantasan vektor
yaitu :
a. Pemetaan lokasi yang dilakukan fogging
b. Pemberitahuan kepada Kepala Puskesmas / Kepala Desa / RT / RW untuk
menginformasikan kepada masyarakat agar :

Menutup pintu dan jendela setelah fogging kurang lebih 30 menit

Menutup / menyimpan makanan dalam almari

Mengeluarkan hewan peliharaan

Mematikan nyala api / kompor

Melakukan gerakan 3M untuk membasmi jentik


Pemberantasan

vektor

yang

dilakukan

yaitu

fogging

dengan

menggunakan bahan bakar premium sebanyak 30 liter, solar 60 liter dan

insektisida 3 liter. Selain itu juga dilakukan penyuluhan tentang pencegahan


dan pemberantasan sarang nyamuk terhadap masyarakat di desa Manggung.
BAB III
3.1

Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Sabtu, 4 Juni 2011
Waktu

: 08.00 12.00 WIB

Tempat

: di Desa Manggung, Ngemplak, Boyolali

Pelaksana

: 7 orang ( Bp. Sis Nugroho, 4 orang petugas foging, dr. Nur


Nahdloh F dan dr. Ipsyana Kemala A. )

Metode

: menggunakan alat foging (lihat lampiran).

Sasaran

: Fogging dilakukan pada 123 rumah dari 125 rumah, 2 tempat


ibadah yang berada di desa Manggung, Ngemplak, Boyolali

Kendala

: ada masyarakat yang tidak mau rumahnya di fogging.


BAB IV

4.1

Monitoring dan Evaluasi


Kesimpulan
Dari hasil pemberantasan vektor dengan fogging yang telah dilakukan,
dapat disimpulkan bahwa :
a. Sebagian besar masyarakat di desa Manggung menyetujui rumah dan
sekitarnya untuk dilakukan fogging.
Saran
a. Menggalakkan kembali gerakan 3M (menguras bak mandi atau tempat
penampungan air yang lain 2x dalam seminggu, mengubur barang-barang
bekas atau tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan genangan air dan
menaburkan bubuk Abate dengan dosis 10 gram/100 liter air di bak mandi
atau tempat penampungan air).
b. Menggalakkan gerakan pemasangan kelambu pada kamar tidur.

c. Menggalakkan gerakan tidak menggantung baju bekas pakai di kamar.


d. Membagikan bubuk abate secara gratis kepada warga masyarakat
masyarakat, serta memberikan penyuluhan mengenai cara peggunaannya.
e. Memberikan penyuluhan kesehatan kepada warga masyarakat tentang
penyakit demam berdarah dengue.
f. Memberikan pengertian kepada warga masyarakat, bila sakit segera periksa
ke dokter atau puskesmas terdekat.
g. Pemberian ikan pemakan jentik pada bak mandi.
LAMPIRAN
Dokumentasi Kegiatan Pemberantasan Vektor dengan cara Fogging
di Desa Manggung, Ngemplak, Boyolali

Alat yang digunakan untuk fogging di


Desa Manggung, Ngemplak, Boyolali.

Salah satu kampung yang difogging

Petugas fogging sedang melakukan pengisian bahan bakar dan pelaksanaan fogging
di Desa Manggung, Ngemplak, Boyolali

dr. Ipsyana dan dr. Nur bersama petugas


Hewan peliharaan yang dikeluarkan dari saat melakukan fogging di depan rumah
kandang saat dilakukan fogging
mantan penderita Demam Dengue

dr. Ipsyana dan dr. Nur bersama petugas Bersama tiga petugas setelah kegiatan
saat melakukan fogging di samping fogging selesai
rumah mantan penderita Demam Dengue