Anda di halaman 1dari 24

Konjungtivitis Trakoma

Pembimbing :
dr. Wahid Heru Widodo, Sp.M
Disusun Oleh:
Fikrianisa Safrina G4A014117
Aqmarina Rachmawati G4A014118

SMF ILMU PENYAKIT MATA


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

KONJUNGTIVA

Anatomi
Konjungtiva adalah membran
mukosa yang transparan tipis
yang membungkus permukaan
posterior kelopak mata
(konjungtiva palpebra) dan
permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris).

HISTOLOGI
Sel epitel superfisial sel goblet
mukus dispersi air mata.
Sel epitel basal pigmen.
Stroma konjungtiva dibagi
menjadi satu lapisan adenoid
(superfisial) jaringan limfoid

dan satu lapisan fibrosa


(profunda melekat pada
lempeng tarsus dan tersusun
longgar

PERDARAHAN & PERSARAFAN


Arteri konjungtiva berasal dari
arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis yang saling
beranastomis dengan bebas.

Vena konjungtiva akan


mengikuti pola arterinya
membentuk jaring-jaring
vaskular.
Konjungtiva menerima
persarafan dari percabangan
(oftalmik) pertama N.V.

FISIOLOGI
Fungsi

Pertahanan
spesifik & NonSpesifik

Menghasilkan
airmata

Rendahnya suhu
Sel
goblet

Penghasil
Musin

Cyrpts of
henle

Kelenjar
Manz,

Kelenjar
Assesorius
Lakrimalis

Krause
Wolfring.

Definisi

Konjungtivitis trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis


folikular kronik yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis
serotip A, B, Ba, dan C.(Ilyas et al., 2010).

Epidemiologi
Di seluruh dunia,
diperkirakan 229 juta
orang di 53 negara
tinggal di daerah endemik
trakoma

15-20% kebutaan pada


masyarakat dunia.

Trakoma yang
membutakan terdapat
pada banyak daerah di
Afrika, beberapa daerah
di Asia, diantara suku
aborigin Australia, dan di
Brazil Utara.

Etiologi
Sumber utama infeksi
sekret mata pasien yang
terinfeksi
dengan
Faktor
Risiko
Penyakit:
trakoma.
Stadium
inflamasi
1. Iklimaktif
kering
dan
trakoma
intense dan
berdebu
folikel trakoma.
2. Usia
Stadium aktif ini umumnya
3. Status
Ekonomi
muncul
pada
anak-anak.
4. Kondisi
lingkungan
Proses
penularan
ini tidak
melibatkan hewan
sebagai resevoir.

CHLAMYDIA TRACHOMATIS
Serotypes C trachomatis A, B, Ba dan C.
Bakteri gram negatif berbentuk lonjong yang secara
khusus menginfeksi sel epitel batang
Parasit interseluler

C trachomatis merupakan bakteri intraseluler obligat, salah satu dari spesies klamidia
yang menyerang manusia. Klasifikasi Jones:

1. Blinding trachoma, yang merupakan trakoma hiperendemik. Trakoma ini disebabkan


oleh C trachomatis serotip A, B, Ba, dan C.
2. Nonblinding trachoma, yang disebabkan oleh C trachomatis serotip A, B, Ba, dan C.
Bedanya, trakoma ini tidak disertai dengan infeksi bakteri sekunder dan biasanya terdapat
pada daerah yang memiliki kondisi higienis dan sosioekonomis yang lebih baik.
3. Paratrachoma, yang disebabkan C trachomatis serotip D-K. Paratrakoma ini berupa
konjungtivitis inklusi.

patomekanisme
Infeksi C. Trachomatis Serotipe
A-D

RESPON IMUN

HISTOLOGI
Folikel dominan berisi sel limfosit B &
sel limfosit T (CD8+) pada daerah
parafolikuler.
Diantara folikel infiltrat inflamasi
berisi sel plasma, sel dendritik,
makrofage, dan leukosit PMN.
Reinfeksi knjungtiva, jaringan
kolagen normal yaitu tipe II-III
tergantikan oleh kolagen tipe V dan
IV & atrofi sel epitel disertai
kehilangan sel goblet scarring

(IMMUNOESCAPE)
1. C trachomatis berada di
dalam intrasel
menghindar sistem
pertahanan
2. Sel yang telah terinfeksi,
down regulated ekspresi
MHC-I menurunkan
kemungkinan terdeteksi sel T
sitotoksik.
3. Menghambat fusi lisosom
di dalam sel

GENETIK

Alel MHC-II yang


mampu memicu gen
tumor nekrosis faktor

Penegakkan Diagnosis (Anamnesis)


Pada infeksi awal
(masa aktif):
mata merah,
iritasi
sekret
mukopurulen.
Kelopak mata
bengkak
inflamasi
bertambah
nyeri dan fotofobia
Tonjolan di sekitar
celah kelopak
pasien
benjolan di depan
telinga yang nyeri
bila ditekan.

Pada fase
sikatrikal:
menyebabkan
kelopak mata
menekuk ke
dalam
bulu mata akan
mengarah ke
dalam mata.
pengihatan
terganggu

Fase ini tidak


tahapan
sepanjang jalur
linier dari
patogenesis
penyakit; kedua
fase dapat hidup
berdampingan
pada pasien yang
sama.
Faktor risiko
lingkungan kering,
ada riwayat
keluhan yang
sama atau
trakoma di
lingkungan sekitar

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Visus
2. Pemeriksaan dengan Binocular Loupes (Pembesaran 2,5x) dan
pencahayaan yang cukup dibutuhkan (Palpebra, bulu mata, konjungtiva,
kornea) atau dengan slitlamp
3. Flouresence test

Normal konjungtiva berwarna pink,


halus, tipis dan transparan. Terdapat
pembuluh darah yang berjalan secara
vertikal pada seluruh area konjungtiva
tarsal.

Stadium Trakoma berdasarkan WHO


TF Trachomatous inflammation-Folikular
Adanya 5 atau lebih folikel pada bagian
pada konjungtiva tarsal
Folikel berbentuk bulat, bengkak,dan pucat
bila dibandingkan dengan daerah
konjungtiva disekitarnya. Dapat berwarna
putih, abu atau kuning. Folikel minimal
berdiameter 0,5 mm

TI Trachomatous Inflammation-intense
Munculnya penebalan inflamasi di
konjungtiva tarsal hingga mencapai 50% atau
lebih dari pembuluh darah dalam tarsal yang
normal.
Konjungtiva tarsal berwarna merah, kasar,
dan menebal. Terdapat banyak folikel pada
sebagian atau total yang menutupi
penebalan konjungtiva

TS Trachomatous Scarring
Munculnya scarring pada konjungtiva
tarsal. Ditandai dengan adanya garis
atau pita putih pada konjungtiva tarsal.
Scarring berupa fibrosis difuse

TT Trachomatous trichiasis
Minimal 1 bulumata yang
mengiritasi bolamata

CO Corneal Opacity
Corneal Opacity di yang turut mengenai
pupil.
Batas pupil menjadi kabur. Terdapat
penurunan penglihatan, visus dapat
dibawah 0,3.

Pannus pada Konjungtivitis Trakoma

Sikatriks pada tarsus superior dan Herberts


Pits

Uji fluoresensi untuk mengetahui defek epitel kornea. Ditetesi dengan fluorosens warna
kuning kemudian dibilas dengan NaCl akan berubah menjadi hijau. Untuk lebih jelas
diamati dengan slitlamp memakai warna biru. Atau digunakan kertas fluoresens yang
diletakkan yang diletakan di sakus lakrimal dan pasien disuruh berkedip-kedip,
kemudian diambil dan diamati.

Pemeriksaan Penunjang
1. Kerokan konjungtiva, yang dengan pewarnaan giemsa dapat ditemukan badan inklusi
Halbert staedter Prowazeki

2. Tes serologis tes fiksasi komplemen dan microimmunoflourecense, polymerase chain


reaction (PCR) , direct fluorescent antibody assay (DFA) dan enzyme immunoassay (EIA)
3. Kultur sel

Penatalaksanaan

KOMPLIKASI & PROGNOSIS


KOMPLIKASI
Rekurent infeksi scarring dan
deformitas palpebraentropion
trikiasis
penurunan penglihatan dan
kebutaan

PROGNOSIS
Bergantung pada
Tingkat keparahan penyakit
saat proses pengobatan
dimulai,
ketepatan penanganan dan
pengobatan,
resiko dari reinfeksi.
Pasien yang pada tahap dini
telah terdiagnosis prognosis
yang baik.
scarring kornea telah
muncul prognosis akan
menjadi lebih buruk

Terimakasih