Anda di halaman 1dari 18

SI DAN IDENTIFIKASI Acetobacter sp.

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Nurhesti Febriyani
B1J008039
2
5
Ferry Frendy S.

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bakteri asam asetat termasuk dalam family Acetobacteriaceae yang dikarakteristikkan
oleh kemampuannya mengoksidasi etanol menjadi asam asetat. Bakteri-bakteri asam asetat
mencakup genus-genus Acetobacter, Acidomonas, Asaia, Glucanocetobacter, Gluconobacter,
Kozakia, Swaminathania, dan Saccharibacter. Beberapa spesies Acetobacter kini dimasukkan
dalam Glucanocetobacter karena diketahui mampu menghasilkan selulosa. Bakteri ini dapat
diisolasi dari buah, bunga, makanan terfermentasi, minuman,vinegar maupun limbah
(Hidayat,2010).
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus
empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH 3COOH, CH3COOH, atau
CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak
berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C ( Lancaster, 2002).
Berbagai pendekatan yang dapat dilakukan untuk memperoleh mikroorganisme dari
lingkungan adalah pendekatan shotgun dan pendekatan objective. Pendekatan shotgun yaitu
sampel mikroorganisme dapat dikoleksi dari berbagai habitat seperti materi tanaman, hewan,
tanah, limbah, aliran air, dan habitat buatan manusia. Pendekatan objective yaitu pengambilan
sampel diarahkan pada tempat spesifik yang sesuai untuk kehidupan mikroorganisme tertentu.
Isolat-isolat dengan sifat tertentu kemudian dipilih dan dipisahkan dari mikroorganisme tertentu.
Teknik ini disebut isolasi. Isolasi yaitu suatu usaha untuk memisahkan suatu jenis
mikroorganisme dari campurannya sehingga diperoleh kultur murni (Ryandini et al., 2005).
Karakterisasi terbagi dalam beberapa tahap yaitu klasifikasi dan identifikasi. Klasifikasi
merupakan pengelompokan mikroba ke dalam kelompok. Teori identifikasi bakteri merupakan
perbandingan antara yang tidak diketahui dan yang diketahui. Tingkat keakuratan dari
identifikasi bergantung pada ketelitian kerja preparasi seperti pembuatan media, pembuatan
reagen dan pewarnaan, dan ketelitian dalam melakukan, mengamati, dan menatat berbagai uji.

Ketika suatu organisme tidak dapat diidentifikasi atau seperti spesies asing, kita dapat menduga
mungkin kultur tersebut tidak murni, atau kita sudah membuat kesalahan (error) dalam observasi
dan pencatatan. Identifikasi karakteristik suatu organisme dapat dilakukan dengan 2 metode
pendekatan yaitu konvensional (mikrobiologis) dan pendekatan molekuler. Penetapan nama
ilmiah internasional yang tepat terhadap mikroba didasarkan pada sistem penamaan Binomial
Nomenklatur Carolus Linnaeus (Ketchum, 1984) .
Perbedaan antara karakterisasi untuk klasifikasi dan identifikasi tidak terletak pada
banyaknya uji yang dilakukan, tetapi pada hasil dari uji tersebut. Pernyataan ini tidak
sepenuhnya benar, karena kebanyakan taksonomi saat ini mendukung konsep yang menyatakan
bahwa untuk klasifikasi, bobot yang sama harus diberikan terhadap masing-masing karakter atau
ciri. Hubungan antar strain dapat dihitung dan diekspresikan sebagai kemiripan dari karakter
pisitif (Ketchum, 1984), atau dengan menjumlahkan antara ciri-ciri yang positif dan yang
negatif. Hasil dari perbandingan ini dapat dianalisa secara laborat melalui perhitungan atau lebih
mudah dengan menggunakan komputerisasi. Namun, untuk tujuan identifikasi kita memberikan
bobot yang tinggi untuk beberapa karakter karena mempunyai nilai perbedaan yang sangat besar,
dan memberikan bobot yang kecil untuk yang lain, atau bahkan tidak samasekali untuk karakter
tertentu.
Acetobacter sp. merupakan bakteri gram negatif yang termasuk dalam bakteri asam
cuka (BAC). Habitat Acetobacter ini sangat luas dan beragam termasuk dalam lingkungan, dan
berbagai produk fermentasi. Acetobacter sering dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan industri
(Tannock et al., 1999).
B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi Acetobacter sp. hasil
isolasi dengan pendekatan mikrobiologis.

II. MATERI DAN METODE


A. MATERI
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah inkubator, jarum ose, tabung reaksi,
cawan petri, pembakar spirtus, mikroskop, timbangan analitik, sprayer alkohol, pipet ukur, pipet
tetes, filler, erlenmeyer, gelas ukur, label, gunting, kain kasa, kapas, wraper, gelas objek, tissue
dan pisau.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah buah nanas, air kelapa, gula,
ZA, cuka, akuades, media indole, alkohol 70%, reagen tetramethy-D-phenylenediamine
dihydrocloride, reagen H2O2, satu set pewarna Gram dan spirtus, media yaitu: media selektif HS
Herstin Schramm dengan komposisi Glukosa 2%, Asam asetat 0,115%, Pepton 0,5%, Yeast
extract 0,5%, Na2HPO4 0,27% dan MgSO47H2O 0,05%. Media YEPDA dengan komposisi Agar
20 gr/L, Yeast extract 5 gr/L, Pepton 10 gr/L dan Dextrose 20 gr/L. Media Carr dengan
komposisi Yeast extract 30 gr/L, Agar 20 gr/L, Broomcresol green, etanol 20 ml, dan akuades
1000 ml. Media Frateur dengan komposisi Yeast extract 10 gr/L, Agar 20 gr/L, etanol 20 mL,
CaCo3 20 gr/L dan Akuades 1000 mL. Dan media YEPDA semisolid komposisinya sama dengan
Media YEPDA tetapi media ini ditambah akuades 1000 mL. Media SIMA dengan komposisi
Tripton 20 gr, Peptone 6,1 gr, Akuades 1000 mL, Agar 3,5 gr, Sodium tiosulfat 0,2 gr dan
Ferrous amonium sulfat 0,2 gr.
B. METODE
1. Preparasi Nanas

Nanas dikupas, dipotong.


Dimasukan kedalam toples yang telah berisi akuades 400 mL dan gula 10%.
Toples ditutup dengan kain kasa, dan dibiarkan selama 3 hari.
Nanas dibiarkan terfermentasi secara alami.
2. Isolasi Acetobacter sp. Dari nanas yang telah terfermentasi

Nanas yang telah mengalami fermentasi secara alami diswab kemudian diencerkan samapai 10-4
dengan akuades.
b. Masing-masing pengenceran diambil sebanyak 1 mL dan dimasukan ke dalam media HS.
a.

c.

Inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 30oC.


3. pembuatan kultur murni Acetobacter sp.

a.

Pilih salah satu koloni tunggal yang memiliki karakter paling mirip dengan koloni Acetobacter
sp. Kemudian memurnikan koloni yang dipilih dengan teknik streak quadrant pada media
YEPDA cawan.
b. Inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 30oC.
4. pembuatan stok kultur murni Acetobacter sp.
a.

Koloni tunggal yang didapatkan kemudian diinokulasikan pada media YEPDA miring dan
dilabeli tiap isolate yang didapat.
b. Inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 30oC.
c. Kultur isolate disimpan pada refrigenerator pada suhu 50oC.
5. identifikasi Acetobacter sp.
a. Pengamatan bentuk koloni
1.

Pengamatan bentuk koloni dapat diamati saat dilakukan kultur murni menggunakan metode
streak kuadran.
2. Koloni yang terbentuk diamati bentuk, margins, ukuran, dan warna koloninya dll.
b. Pewarnaan Gram dan pengamatan morfologi sel
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Stok isolate diambil menggunakan ose kemudian diulaskan pada object glass dan difiksasi.
Ditetesi dengan Crystal Violet dan ditunggu selama 60 detik lalu dicuci kering anginkan.
Ditetesi dengan Iodine dan ditunggu selama 60 detik lalu dicuci kering anginkan.
Ditetesi dengan etanol 96% sampai tetesannya bening lalu dicuci kering anginkan.
Diamati dengan Safranin dan ditunggu selama 45 detik lalu dicuci kering anginkan.
Diamati dengan mikroskop Gram positif akan berwarna biru keunguan dan Gram negatif
berwarna merah.

c.

Uji penggunaan Oksigen

1. Stok isolate diinokulasikan dengan teknik inokulasi tusuk pada media YEPDA semisolid.
2. Inkubasi selama 2 x 24 jam.
3. Diamati dengan koloni bakteri. Bakteri bersifat aerob bila koloni terbentuk diatas dan bersifat
anaerob bila terbentuk dibawah.
d. Uji oksidase
1. Stok bakteri diambil dengan menggunakan jarum ose dan diulaskan pada objek glass dan ditutup
dengan tissue.

2.

Ditetesi dengan reagen tetramethyl-D-phenylenediamine dihydrocloride. Hasil positif ditandai


dengan terbentuknya warna biru marun tidak melebihi 10 detik.

e.

Uji katalase

1. Stok isolate diambil menggunakan ose dan diulaskan pada objeck glass.
2. Ditetesi dengan reagen H2O2.
3. Diamati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 10x. Hasil positif jika terbentuk
gelembung gas.
f.

Uji oksidasi etanol

1.
2.
3.
4.
5.

Stok isolat diinokulasikan pada media Carr.


Diinkubasi pada suhu 300C selama 2 x 24 jam.
Oksidasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi media menjadi kuning.
Inkubasi ditambah selama 4 x 24 jam pada suhu 300C.
Terjadi overoksidasi etanol ditandai dengan kembalinya warna media menjadi warna awalnya.

g. Uji motilitas
1. Stok isolat ditanam pada media SIMA.
2. Diinkubasi pada suhu 300C selama 2 x 24 jam.
3. Diamati motilitas dari pertumbuhan bakteri yang terbentuk.
h. Uji indole
1.
2.
3.
4.

Bakteri uji ditumbuhkan pada media Indole sebanayk 1 ose.


Diinkubasi pada suhu 370C selama 2 x 24 jam.
Bakteri uji ditetesi Cofacs
Hasil positif jika terbentuk kompleks warna pink.

i.

Uji penggunaan CaCO3

1. Stok isolat diinokulasikan pada media Frateur


2. Diinkubasi pada suhu 30oC selama 4 x 24 jam
3. Hasil yang didapat adalag terbentuknya zona jernih di sekitar koloni bakteri karena bakteri
memanfaatkan CaCO3 sebagai sumber Karbon.
6. pengujian isolat yang didapat untuk pembentukan lapisan polisakarida atau nata.
Air kelapa disaring dan dipanaskan sampai mendidih.
Saat mendidih ditambahkan gula 2,5% dan ZA 0,25% dan Cuka 0,75%. Dihomogenkan.
Diangkat, dituang kedalam botol yang telah disterilisasi dan didinginkan.
Diinokulasikan kultur isolat yang didapat pada air kelapa yang telah ditambah gula, ZA dan cuka.
Diinkubasi pada suhu 30oC selama 2 minggu.
Diamati terbentuk tidaknya lapisan nata pada air kelapa.

7. Penentuan Spesies Media Pendekatan Homologi


Menentukan persen homologi dengan rumus:
%Homologi = X 100%

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1. Gambar Isolasi Acetobakter sp.

2. Gambar Hasil Kultur Murni Acetobacter sp.

3. Gambar Hasil Stok Kultur Murni Acetobacter sp.

4. Gambar Identifikasi Acetobacter sp.

Hasil dari pengujian


Hasil Pengujian Acetobacter sp.
No
1
2
3
4
5
6
7

Uji yang dilakukan


Pewarnaan Gram
Uji penggunaan O2
Uji Oksidase
Uji Katalase
Uji Oksidasi Etanol
Uji Motilitas
Uji Indole

Bakteri uji
Acetobacter sp.
Acetobacter sp.
Acetobacter sp.
Acetobacter sp.
Acetobacter sp.
Acetobacter sp.
Acetobacter sp.

Hasil

Uji CaCO3

Acetobacter sp.

Hasil Pengamatan bentuk Koloni


Ukuran
Bentuk
Elevasi
Permukaan
Margins
Karakteristik

moderat
circular
raised
kasar
entire
opaque
B. PEMBAHASAN

Hasil yang kelompok kami dapat adalah seperti dalam tabel, tetapi ada perbedaan dari
beberapa referensi dengan hasil uji kelompok kami. Bakteri Acetobacter sp. trmasuk bakteri
Gram negatif, hidupnya bersifat aerob obligat, tidak melalukan fermentasi alkohol, berbentuk
bulat lonjong sampai batang pendek. Tumbuh baik pada pH 3,5-4,3 dan suhu 25-30 oC, dapat
mengoksidase etanol dan menghasilkan asam asetat dan mempunyai kemampuan overoksidizer
yaitu kemampuan merubah asam asetat menjadi CO2 dan H2O dalam media, apabila gula dalam
media fermentasi telah habis (Mandel, 2004). Metabolismenya menghasilkan enzim katalase
(Ley and Frateur, 1974). Untuk uji indole hasilnya adalah positif dimana terbentuk warna merah
pada larutan lapisan reagen. Dan uji CaCO 3 seharusnya positif karena media Frateur merupakan
media murni bagi Acetobacter sp (Maal et al, 2010).
Dari perhitungan %Homologi jenis bekteri yang paling mendekati adalah Acetobacter
aceti yaitu 62,5%. Dan dari uji-uji yang dilakukan hasilnya hampir sama dengan kriterian atau
hasil yang didapat oleh Acetobacter aceti (Maal et al, 2009).
Acetobacter adalah sebuah genus bakteri penghasil asam asetat, ditandai dengan
kemampuannya mengubah etanol (alkohol) menjadi asam asetat (asam cuka) dengan bantuan
udara. Ada beberapa bakteri dari golongan lain yang mampu menghasilkan asam asetat dalam
kondisi tertentu, namun semua anggota genus Acetobacter dikenal memiliki kemampuan ini.
Bakteri-bakteri Acetobacter dikenal penting secara komersial, antara lain karena dapat digunakan
dalam produksi cuka (dengan sengaja mengubah etanol pada anggur menjadi asam asetat namun
dapat juga merusak anggur, dengan menghasilkan asam asetat atau etil asetat, yang merusak rasa
anggur tersebut. Pertumbuhan Acetobacter pada anggur dapat dicegah dengan sanitasi yang

efektif, pemisahan udara dari anggur secara sempurna, maupun penggunaan secukupnya sulfur
dioksida sebagai pengawet pada anggur. Di laboratorium, Acetobacter dikenali dengan mudah
dengan pertumbuhan koloninya di medium yang mengandung 7% etanol, dan ditambahi kalsium
karbonat secukupnya untuk memburamkan medium sebagian. Ketika koloni tersebut membentuk
asam asetat yang cukup, kalsium karbonat kemudian melarut sehingga terbentuk daerah bening
yang jelas pada medium (Madigan and Martinko, 2005).
Enumerasi dan Isolasi Acetobacter sp.
Seperti dijelaskan di atas kelompok Acetobacter dapat ditemukan pada buah-buahan
yang mengalami pembusukan seperti anggur, kurma, kelapa bahkan nanas dan juga beberapa
menggunakan dari produksi vinegar dari beberapa jenis substrat (Mall, 2009). Tetapi pada
praktikum ini kami mengunkan nanas. Nanas memiliki rasa yang khas, manis, segar,
mengandung gula, vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh (Mulyohardjo, 1984). Pada
kulit buah nanas juga mengandung sukrosa, riboflavin, thiamin dan beragam mineral (Hulme,
1971) dan A. xylinum juga bnyak terdapat pada buah nanas, karena bakteri tersebut dapat tumbuh
baik pada media yang mengandung sukrosa sebagai sumber energi (Lapuz et al, 1967).
Preparasi sampel ini mengunkan nanas, nanas dikupas kemudian di belah atau dipotongpotong. Selanjutnya nanas di masukan kedalam toples yang berisi gula dan akuades, ditutup
menggunkan kain kasa dan dibiarkan mengalami fermentasi secara alami. Pada proses ini gula
digunakan sebagai sumber karbon dan paling banyak dibutuhkan pada saat fase pertumbuhan
(Gaman and Sherrington, 1994). Penutupan digunakan kain kasa bertujuan memberikan oksigen
kedalam toples karena sifat bakteri tersebut aerob obligat yang artinya dapat tumbuh optimal
dengan adanya oksigen (Holt et al, 1974).
Selanjutnya adalah isolasi Acetobacter yaitu diambil 1 mL cairan nanas dicampurkan
dengan 9 mL akuades steril, kemudian dilakukan pengenceran hingga mencapai pengenceran 104. Dari pengeceran 10-1sampai dengan 10-4 suspensi diambil diambil 0,1 mL dan diinokulasikan
kedalam media Herstin-Schramm dilanjutkan dengan inkubasi. Isolasi ini bertujuan untuk
mendapatkan kultur murni.
Untuk identifikasi sebelumnya bakteri dari hasil isolasi diambil dan di streak kuadran
pada media YEPDA cawan dan diambil dari pengenceran 10-4. Dilanjutkan dengan inkubasi.
Pada proses ini bakteri yang dihasilkan sebelum dilakukan identifikasi biasanya bakteri dibuat

persediaan stok kultur murni, tetapi yang paling utama adalah diamati bentuk koloninya.
Selanjutnya dilanjutkan dengan beberapa uji untuk memperkuat dari identifikasi Acetobacter sp.
tersebut.

Identifikasi Acetobacter sp.


Untuk melakukan identifikasi dilakukan beberapa uji yaitu uji pewarnaan Gram, uji
penggunaan O2, uji katalase, uji oksidase, uji oksidasi etanol, uji CaCO3, uji motilitas dan uji
indole.
Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik pewarnaan yang paling
penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, ulasan
bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan
yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna
safranin atau air fuchsin. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark
Hans Christian Gram (18531938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk
membedakan antara Pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Bakteri yang terwarnai
dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram
Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya
akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan
kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat
pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna
merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya
((Madigan and Martinko, 2005). Hasil yang didapat adalah Gram positif.
Uji penggunaan O2
Faktor lingkungan yang paling sensitif dan berpengaruh terhadap pertumbuhan
mikroorganisme khususnya bakteri adalah keberadaan Oksigen. Contohnya, beberapa

mikroorganisme dapat tumbuh hanya jika ada O2 yang disebut aerob obligat. Fakultatif anaerob
dapat tumbuh jika tidak ada O2 tetapi dapat tumbuh lebih baik bila ada O2. Anaerob obligat
dapat tumbuh tanpa menggunakan O2, sedangkan mikroorganisme yang membutuhkan sedikit
O2 disebut mikroaerofilik.
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa bakteri yang diujikan tumbuh pada
permukaan medium. Oleh karena itu, bakteri yang diuji bersifat fakultatif anaerob. Hal ini sesuai
dengan pustaka bahwa bakteri spesies Acetobacter sp. memiliki sifat fakultatif anaerob (Paco et
al., 2003).
Uji Oksidase
Uji oksidase menunjukan hasil yang positif, padahal seharunya negatif. Karena begitu
reagen ditetesi tidak terjadi perubahan warna dalam waktu kurang dari 10 detik menjadi biru
marun. Dikarenakan Acetobacter tidak mengadung oksidase meskipun dilakukan uji lanjutan dan
hasilnya menjadi ciri dari Acetobakter termasuk bakteri oksidase negatif (Maal, 2010).
Uji Katalase
Katalase merupakan enzim yang mengandung besi yang dapat menguraikan hidrogen
peroksida (H2O2) menjadi air dan oksigen. Hidrogen peroksida dibentuk bakteri aerobik selama
metabolisme aerobik. Uji katalase bertujuan untuk mengetahui perbedaan kuantitas oksigen yang
dilepaskan, diduga berkaitan dengan tebal tipisnya selaput lendir yang menyelimuti permukaan
sel. Tebal tipisnya selaput lendir akan mempengaruhi penetrasi H 2O2 ke dalam sel. Isolat yang
diperoleh berdasarkan praktikum menunjukkan sifat katalase negatif yaitu ditandai dengan tidak
terbentuknya gelembung gas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lengkey et al. (2009) juga
menyebutkan bahwa Acetobacter bersifat katalase positif. Katalase mengkatalis pemecahan H 2O2
membebaskan oksigen sebagai gas dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
2H2O2 2H2O + O2
Mikroorganisme yang menghasilkan hidrogen peroksida, akumulasi senyawa tersebut
menyebabkan kematian organisme kecuali kalau organisme tersebut mampu mendegradasi
secara enzimatis. Senyawa ini dihasilkan ketika organismeaerob, anaerob fakultatif dan
mikroaerofilik menggunakan jalur respirasi aerob dimana O2 merupakan aseptor elektron
terakhir, selama degradasi karbohidrat untuk produksi energi (Lay,1993). Proses respirasi

dihasilkan H2O dan O2 yang menerima dua pasang elektron dan NADH. Kadang-kadang elektron
diterima oleh oksigen kurang dari dua pasang yang akan menghasilkan anion superoksidasi dari
hiodrogen peroksida dalam jumlah kecil.
e- H2O- O2
O2 O2- H H2O H2O2
Anion radikal hidrogen peroksida
superoksida hidroperoksil
O2- + O2- 2H+ H2O2 + O2
Superoksida
H2O2 + H2O2 dismutase 2H2O + O2
Katalase
Uji Oksidasi Etanol
Penggunaan media Carr dalam uji oksidasi etanol dengan komposisi seperti diatas
dimana setelah inkubasi 2 x 24 jam atau 48 jam media akan menunjukan perubahan menjadi
kuning ini menandakan bakteri isolat memproduksi asam asetat (Maal, 2009). Dan apabila
inkubasi dilanjutkan atau ditambah 4 x 24 jam bakteri ini ini akan menunjukan overoksidizer
yaitu kemampuan merubah asam asetat menjadi CO2 dan H2O (Mandel, 2004). Hasil dari
kelompok kami adalah negatif.
Uji Motilitas
Uji motilitas yang dilakukan pada praktikum menunjukkan hasil yang positif untuk
bakteri uji, dari hasil ini diketahui bahwa bakteri uji mempunyai kemampuan untuk motil.
Pengamatan motilitas bakteri di dalam suspensi cairan digunakan khusus untuk bakteria yang
dikulturkan dalam media broth karena tidak dapat tumbuh dengan baik pada media padat (agar).
Hasil pengamatan berbeda dengan pustaka. Menurut Lengkey et al. (2009), bakteri asam cuka
golongan Acetobacter memiliki ciri motil. Oleh karena itu, bakteri yang diuji ini kemungkinan
adalah bukan spesies Acetobacter melainkan bakteri asam cuka lainnya.
Uji Indole

Pada prngujian indole hasil yang didapat adalah positif dengan terbentuknya cincin
berwarna pink. Pada pengujian dengan reagen Kovacs, terbentuknya indol ditandai dengan
terbentuknya warna merah pada lapisan larutan reagen. Pada pengujian dengan reagen Erhlich,
terbentuknya indol ditandai dengan terbentuknya warna merah ungu dibawah lapisan eter. Pada
pengujian dengan reagen Salkowski, terbentuknya indol ditandai dengan terbentuknya warna
merah pada media, sedangkan Pada pengujian dengan reagen Coles dan Onslow, terbentuknya
indol ditandai dengan terbentuknya warna merah ungu pada kapas penutup tabung reaksi
(Barrow et al, 1993).
Uji CaCO3
Uji CaCO3 yang dihasilkan oleh kelompok kami adalah negatif dan ditemukan belatung
pada media. Uji CaCO3 mengunakan media frateur yang mengandung CaCO 3 sebanyak 20 gr,
dimana CaCO3 ini berfungsi sebagai sumber karbon bagi bakteri tersebut. Pemanfaatan CaCO 3
sebagai sumber karbon oleh bakteri ditandai dengan terbentuknya zona jernih disekitar koloni
bakteri (Maal et al, 2010).
Pembuatan Nata de Coco
Nata de Coco berasal dari bahasa spanyol yang berarti krim. Nata diterjemahkan ke
dalam bahasa latin sebagai natare yang berarti terapung-apung. Nata dapat dibuat dari
air kelapa, santan kelapa, tetes tebu (molases), limbah cair tebu, atau sari buah nanas
melon, pisang, jeruk, jambu biji, strawberry. Nata yang dibuat dari air kelapa disebut
nata de coco (Anonim, 2007)
Beberapa tahap kegiatan dalam pembuatan nota terdiri dari tiga tahap yaitu tahap
preparasi, tahap inokulasi, fermentasi, dan pengendalianya, serta tahap permanen dan
pasca fermentasi. Tahap preparasi terdiri dari: penyaringan, penambahan gula pasir
dan amonium sulfat (ZA), perebusan, penambahan cuka, pendinginan. Penyaringan
dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau benda-bendaasing yang tercampur
dengan air kelapa, seperti misalnya sisa sabut. Penambahan gula pasir dan ZA dapat saat
air kelapa
dipanaskan, ambil larutkan hingga merata. Homogenitas larutan ini juga sangat
menentukan kualitas nata yang dihasilkan. Perebusan dilakukan dengan menggunakan

dandang. Setelah mendidih, rebusan pertahankan selama 5-10 menit, untuk meyakinkan
bahwa mikrobia kontaminasi bahan mati. Pendinnginan paling baik dilakukan dengan
cara membiarkan cairan dalam nampan selama satu malam. Hal ini sekaligus untuk
mengecek ada tidaknya kontaminasi yang tumbuh pada cairan. Setelah dingin cairan
tersebut diberi bibit nata (Pambayun, 2002).
Pemberian bibit atau inokulasi dilakukan apabila campuran air kelapa, gula, ZA, dan
asam sulfat telah benar-benar menjadi dingin. Bila pemberian bibit dilakukan pada
waktu cairan air kelapa masih dalam keadaan panas atau hangat, maka bibit akan
mengalami kematian. Fermentasi adalah suatu proses pengubahan senyawa yang
terkandung didalam abstrak oleh mikroba, misalnya senyawa gula menjadi bentuk lain,
baik merupakan proses memecahkan maupun proses pembentukan dalam situasi aerob
maupun anaerob. Jadi proses fermentasi dapat terjadi proses katabolisme maupun
anabolisme (Misaryarta 2007).
Acetobacter yang biasanya banyak digunakan dalam produksi nata adalah A. xylinum .
A. xylinum adalah bakteri yang memiliki kemampuan menghasilkan Nata de Coco. Nata de
Coco merupakan selulosa yang menjerap air sehingga tampak seperti jelli yang kompak, kenyal,
jernih. Nata de Coco banyak dikonsumsi sebagai makananpencuci mulut (desert) dan sebagai
makanan diet rendah kalori (Seumahu et al, 2005). Nata yang dihasilkan boleh dibilang gagal ini
dikarenakan pada setelah penuangan nata mengalami goncangan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A . KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Pendekatan mikrobiologis yang digunakan untuk identifikasi Acetobacter sp. adalah pewarnaan
Gram, uji indole, uji penggunaan oksige, uji katalase, uji oksidase, uji motilitas, uji oksidasi
2.

etanol dan uji CaCO3.


Karakteristis dari Acetobacter sp. termasuk bakteri Gram negatif, hidupnya bersifat aerob
obligat, tidak melalukan fermentasi alkohol, berbentuk bulat lonjong sampai batang pendek .
Tumbuh baik pada pH 3,5-4,3 dan suhu 25-30 oC, dapat mengoksidase etanol dan menghasilkan
asam asetat dan mempunyai kemampuan overoksidizer yaitu kemampuan merubah asam asetat
menjadi CO2 dan H2O dalam media, apabila gula dalam media fermentasi telah habis.
Metabolismenya menghasilkan enzim katalase . Untuk uji indole hasilnya adalah positif dimana
terbentuk warna merah pada larutan lapisan reagen. Dan uji CaCO3 seharusnya positif karena

media Frateur merupakan media murni bagi Acetobacter sp.


3. Acetobacter yang dihasilkan adalah jenis Acetobacter aceti dengan nilai Homologi 62,5%.
B. SARAN
Perlu kehati-hatian dan ketelitian dalam melakukan perlakuan sehingga didapat hasil
yang sesuai dengan referensi yang ada, begitu juga tingkat sterilisasi perlu diperhatikan agar
perlakuan tidak mengalami kontaminan. Dan juga dalam perlakuan pembuatan nata usahakan
mengikuti perlakuan yang sesuai dan benar.

V. DAFTAR PUSTAKA
Anonim .2007. Membuat Nata de coco. http://www.smallcrab.com .
Desember 2010.

diakses tanggal 16

Barrow, G.I. and Feltham, R.K.A. 1993. Cowan and Steels Manual for the Identification of Medical
Bakteria Third Edition. Australia: Cambridge University Press.
Effendi, M.S. 2002. Kinetika Fermentasi Asam Asetat (Vinegar) oleh Bakteri Acetobacter B 127 dari
Etanol Hasil Fermentasi Limbah Cair Pulp Kakao. Peneliti dan staf pengajar Fakultas Teknik
Jurusan Teknologi Pangan Universitas Pasundan.
Gaman, P.M. dan Sherrington, K.B. 1981. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Yogyakarta:
Gadjahmada Universyti Press.
Hidayat,
N.
2010.
Isolasi
Bakteri
Asam
Asetat
Penghasil
Selulosa.
http://permimalang.wordpress.com/2010/10/19/Isolasi-bakteri-asam-asetat-penghasilselulosa.
diakses tanggal 16 Desember 2010.
Holt, J.G, Krieg, N.R., Peter, H.A., Jame, S., and William, T. Bergeys Manual of Determinative
Bacteriology. http://foamykumbucha.com/14_html diakses 16 Desember 2010.
Hulme,A.C. 1971. The Biochemistry of Fruits and Their Pruducts. Vol. 2. Academic. Press. London.
Kadere1, T.T., Miyamoto, T., Oniang`o1, R.K., Kutima1, P.M. and Njoroge1, S.M. 2008. Isolation and
identification of the genera Acetobacter and Gluconobacter in coconut toddy (mnazi).
Department of Food Science and Technology, Jomo Kenyatta University of Agriculture and
Technology (JKUAT), P.O. Box 62000, Nairobi. Animal Food Functions Laboratory, Faculty of
Agriculture, Okayama University, Japan.
Ketchum, P. A. 1984. Microbiology. John wiley & sons, USA.
Lancaster, M. 2002. Green Chemistry, an Introductory Text, Cambridge: Royal Society of Chemistry).
Lapuz, M.M., Golardo, E.G., & Palo, M.A. 1967. The Organism Culture Requirements.
Characteristics and Identity. The Philippine J. Science. The AVI Publishing Company, Inc.
Conecticut.
Lay, B. W. 1993. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Lengkey, H. A. W., R. L. Balia, I. Togoe, B. A. Tasbac, M. Ludong. 2009. Isolation and identification of
acetic acid bacteria from raw poultry meat. Biotechnology in Animal Husbandry. 25 (5-6) : 10711077.
Ley,J.D. and Frateur, J. 1974. Genus Acetobacter. Bejering. 1889:126-277. Dalam R.E, Buchanan dan
N.E. Gibson (Ed) Bergeyes Manual of Determinatif Bacteriology, eight Edition. The Williams
and Wilkins Co. Baltimore.
Madigan, MT; Martinko J; Parker J (2005). Brock Biology of Microorganisms (edisi ke-10th Edition).
Lippincott Williams & Wilkins.
Maal, K.B. and Shafiee, R. 2009. Isolation and Identification of an Acetobacter Strain from Iranian
White-Red Cherry with High Acetic Acid Productivity as a Potential Strain for Cherry Vinegar
Production in Food and Agriculture Biotechnology. World Academy of Science, Engineering and
Technology. Iran.