Anda di halaman 1dari 6

PARADIGMA SEHAT

I.

PENDAHULUAN

Arah pembangunan menuntut reformasi total kebijakan pembangunan di segala bidang. Tuntutan
reformasi bidang kesehatan, karena masih ada ketimpangan hasil pembangunan kesehatan antar
daerah dan golongan, derajat kesehatan masyarakat masih tertinggal dibandingkan negara
tetangga, serta kurang kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Perubahan
transisi demografis, epidemiologis, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran membuka
cakrawala baru dalam memandang proses hidup, sehat, sakit dan mati. Globalisasi, kebijakan
perdagangan bebas, kemajuan informasi dan telekomunikasi, transportasi, perubahan lingkungan,
sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan dan upaya kesehatan. Tuntutan demokratisasi,
menuntut pemberdayaan dan kemitraan dalam pembangunan kesehatan. Untuk itu perlu meninjau
kembali kebijakan pembangunan kesehatan, pemahaman konsep sehat-sakit, serta determinan
penyebab penyakit atau masalah kesehatan yang multi faktorial, telah menggugurkan paradigma
pembangunan kesehatan selama ini yang mengutamakan kuratif dan rehabilitatif.
II. DASAR PEMIKIRAN PARADIGMA SEHAT
UU Nonor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa Kesehatan adalah keadaan sehat,
baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomis Selain itu, diperolehnya derajat kesehatan yang setinggitingginya adalah suatu hak yang fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama,
politik yang dianut dan tingkat sosial ekonominya.
o

o
o
o
o
o
o

Sehat adalah Hak Asasi Manusia, artinya sehat merupakan sesuatu yang sangat essensial
dalam diri manusia yang perlu dipertahankan dan dipelihara. Hal ini terkandung maksud hak
dan kewajiban bagi setiap individu atau warga negara untuk mendapatkan dan mengupayakan
kesehatan bagi dirinya, keluarga, dan lingkungannya.
Sehat merupakan suatu investasi untuk kehidupan yang produktif. Sehat bukan sesuatu
yang konsumtif, tetapi prasyarat agar hidup menjadi berarti, sejahtera dan bahagia.
Health is not everything, but without health everything is nothing.
Sehat merupakan faktor utama yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) disamping pendidikan dan pendapatan ekonomi. Karenanya perlu dipelihara dan
ditingkatkan kualitasnya.
Sehat merupakan karunia Tuhan yang perlu disyukuri. Mensyukuri karunia adalah dengan
perkataan, perasaan, dan perbuatan. Bersyukur dengan perbuatan adalah memelihara dan
berupaya untuk meningkatkannya.
Upaya memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah lebih efektif dari pada mengobati
penyakit. Karenanya upaya peningkatan dan pencegahan perlu lebih ditekankan, tanpa
mengesampingkan upaya penyembuhan dan pemulihan.
Derajad kesehatan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan,
dan keturunan. Faktor lingkungan dan perilaku mempunyai kontribusi sangat besar terhadap
kualitas derajad kesehatan. Faktor lingkungan dan perilaku terkait banyak sektor diluar
kesehatan, sehingga pembangunan semua sektor perlu memperhatikan dampaknya di bidang
kesehatan.
Adanya transisi demografi, epidemiologis, tantangan global dan regional, perkembangan
IPTEK, desentralisasi, serta maraknya demokratisasi di segala bidang, mendorong perlunya
meninjau kebijakan yang ada serta merumuskan paradigma baru di bidang kesehatan.

Paradigma sehat adalah perubahan sikap dan orientasi atas mindset :


1. Dari pola pikir yang memandang kesehatan sebagai kebutuhan yang bersifat pasif, menjadi
sesuatu yang bersifat aktif, yang harus diupayakan. Kesehatan merupakan kebutuhan dirinya
yang harus diupayakan oleh dirinya sendiri bersama keluarga dan lingkungannya. Paradigma
sehat menjadi nilai yang sangat penting dan sangat mendasar dari setiap langkah dan tindak
individu untuk bersikap aktif mencari dan berupaya untuk kepentingan dirinya.
(Kebutuhan/Need Keperluan/ Demand)

2. Kesehatan bukannya sesuatu yang konsumtif, melainkan investasi. Karena kesehatan


menjamin adanya SDM yang produktif secara sosial dan ekonomi. (Kesehatan sebagai
konsumtif investasi)
3. Semula kesehatan bersifat penanggulangan yang sifatnya jangka pendek, kedepan kesehatan
adalah bagian upaya pengembangan SDM yang berjangka panjang. (Jangka pendek ke
treatment Jangka panjang ke pengembangan SDM).
4. Pelayanan kesehatan bukan hanya pelayanan medis yang melihat bagian-bagian yang sakit
saja, tetapi adalah pelayanan kesehatan yang purna, yang memandang manusia sebagai
manusia seutuhnya. (Pelayanan medis pelayanan kesehatan)
5. Pelayanan kesehatan tidak lagi terpecah-pecah (fragmented), tetapi menjadi terpadu
(integrated). (Terpecah-pecah/fragmented Terpadu /integrated)
6. Kesehatan bukan hanya jasmani atau fisik, tetapi juga mencakup mental dan sosial. (Sehat
jasmani Sehat jasmani, rohani, sosial)
7. Fokus kesehatan bukan hanya penyakit, tetapi tergantung pada permintaan pasar. (Fokus
pada penyakit segmen pasar)
8. Sasaran pelayanan kesehatan bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga masyarakat
swasta. (Sasaran masyarakat umum/public juga masyarakat swasta /private)
9. Kesehatan bukan hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi menjadi urusan swasta dan
masyarakat. (Urusan pemerintah juga urusan swasta dan masyarakat)
10. Biaya yang ditanggung oleh pemerintah bagi keperluan publik (a.l: pemberantasan penyakit
menular, penyuluhan, dll), sedangkan yang lain perlu ditanggung bersama dengan pengguna
jasa. (Subsidi pemerintah Pengguna jasa).
11. Biaya kesehatan dari pembayaran setelah pelayanan menjadi pembayaran dimuka dengan
model Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). (Biaya setelah pelayanan
Biaya di muka dg JPKM)
12. Kesehatan bukan hanya berfungsi sosial, tetapi dapat berfungsii ekonomi. (Berfungsi sosial
Juga berfungsi ekonomi)
13. Pengaturan kesehatan dari centralistik, menjadi desentralistik.(Sentralisasi Desentralisasi)
14. Kesehatan bukan lagi pengaturan dari atas (top down), melainkan dari bawah (bottom up).
(Dari atas /top down Dari bawah /bottom up)
15. Bukan lagi birokratis, tetapi enterpreuner. (Biroktatis Enterpreuner)
16. Peran masyarakat bukan lagi sekedar berperan serta, tetapi sebagai mitra. (Peranserta
Kemitraan)
Pentingnya PARADIGMA SEHAT untuk lebih meningkatkan upaya kesehatan yang bersifat
proaktif, dan merupakan pembangunan kesehatan dalam jangka panjang mampu mendorong
masyarakat bersikap mandiri untuk menjaga kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran lebih
tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. Hal ini sebagai
landasan pemberdayaan individu, keluarga, dan masyarakat menuju kemandirian.
III. PARADIGMA SEHAT SEBAGAI LANDASAN PEMBANGUNAN KESEHATAN
Paradigma sehat sebagai landasan pembangunan kesehatan antara lain:
o Paradigma Sehat adalah: cara pandang, pola pikir, model pembangunan kesehatan yang
melihat masalah kesehatan saling berkait dan mempengaruhi dengan banyak faktor yang
bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan
perlindungan kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit dan pemulihan kesehatan.
o Secara makro, paradigma sehat berarti pembangunan semua sektor harus memperhatikan
dampaknya di bidang kesehatan, minimal memberi sumbangan dalam pengembangan
lingkungan dan perilaku sehat.
o Secara mikro, paradigma sehat berarti pembangunan kesehatan harus menekankan pada
upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif.
o Paradigma sehat adalah bagian pembangunan peradapan dan kemanusiaan secara
keseluruhan. Perubahan mental dan watak atau mindset dalam pembangunan.
o Paradigma Sehat, dengan sebutan Gerakan Pembangunan yang berwawasan kesehatan,
dicanangkan oleh Presiden R.I. pada tanggal 1 Maret 1999.
Dasar-dasar pembangunan kesehatan dengan nilai kebenaran sebagai landasan untuk berfikir
atau bertindak dalam pembangunan kesehatan, yang meliputi

Dasar Perikemanusiaan: Setiap upaya kesehatan harus berlandaskan perikemanusiaan


yang dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, berbudi luhur dan memegang teguh etika profesi.
Dasar Pemberdayaan dan Kemandirian: Setiap orang dan masyarakat besama pemerintah
berperan, berkewajiban, bertanggung jawab, untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan perorangan, keluarga dan lingkungannya. Setiap upaya kesehatan harus mampu
membangkitkan dan mendorong peran serta masyarakat, berlandaskan pada kepercayaan
atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta bersendikan kepribadian bangsa.
Dasar Adil dan Merata: Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang
sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setingi-tingginya, tanpa memandang suku,
golongan, agama, dan status sosial ekonominya.
Dasar Pengutamaan dan Manfaat: Penyelenggaraan upaya kesehatan bemutu, mengikuti
perkembangan IPTEK, utamakan pendekatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, serta dilaksanakan secara professional, sesuai kebutuhan dan kondisi
daerah, berhasil guna dan berdaya guna, untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat,
dilaksanakan penuh tanggung jawab, sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan.

ISU STRATEGIS :
Hasil analisis situasi kesehatan dapat disimpulkan bahwa isu strategis yang dihadapi adalah :
1. Kerjasama Lintas Sektor :
Sebagian besar masalah kesehatan, terkait berbagai kebijakan sektor lain. Sehingga perlu
melibatkan sektor terkait untuk kerjasama lebih effektif dalam pembangunan berwawasan
kesehatan, termasuk pembiayaan, pemerintahan dan pembangunan daerah, ketenagaan,
pendidikan, perdagangan dan sosial budaya.
2. Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan
Mutu SDM kesehatan ditentukan oleh nilai-nilai moral dan etika profesi yang dianut dan
diterapkan, serta selalu meningkatkan profesionalisme dengan mengikuti dan menguasai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi/mutakir. Mutu SDM kesehatan
sangat menentukan keberhasilan upaya dan manajemen kesehatan, untuk antisipasi pasar
bebas diberbagai bidang baik aspek teknis maupun manajerial.
3. Pemberdayaan Masyarakat :
Pemberdayaan atau kemandirian masyarakat dalam upaya kesehatan sangat diharapkan,
dengan meningkatkan kemitraan yang setara, terbuka dan saling menguntungkan, dalam
upaya pembudayaan perilaku hidup sehat, penetapan kaidah hidup dan promosi kesehatan.

4. Mutu dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan.


Persebaran sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS, sarana kesehatan lainnya, sarana
penunjang) yang semakin merata ke seluruh wilayah, namun belum diikuti peningkatan mutu
pelayanan. Mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi berbagai faktor input (sarana fisik,
tenaga profesional, obat, alat kesehatan, sarana penunjang lainnya), proses pemberian
pelayanan, kompensasi yang diterima dan komunikasi yang baik antara pemberi pelayanan
dengan pengguna serta masyarakat untuk memenuhi harapan pengguna.
5. Pengutamaan dan Sumber Daya Pembiayaan Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan mengutamakan pemeliharan dan peningkatan kesehatan serta pencegahan.
Keterbatasan dana pemerintah dan masyarakat, sebagai ancaman bagi kelangsungan
program serta pencapaian derajat kesehatan yang optimal, sehingga perlu peningkatan
sumber daya pembiayaan dari sektor publik terutama kegiatan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan serta pencegahan. Upaya penyembuhan dan pemulihan perlu lebih rasional,
berhasil dan berdaya guna, dan perlu menciptakan sistim pembiayaan pra upaya dengan
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Upaya meningkatkan peran sektor swasta dan
pemberdayaan kemandirian swasta, sehingga sumber daya ada dapat dimafaatkan secara
optimal.
PARADIGMA SEHAT sebagai paradima pembangunan kesehatan, yang mendorong perubahan
tentang dasar-dasar, visi dan misi pembangunan kesehatan, yang mampu menghadapi tantangan
pembangunan kesehatan, yakni perubahan pada dinamika kependudukan, kemajuan ilmu dan
teknologi, globalisasi, perubahan lingkungan dan demokratisasi, serta harus dapat mengantisipasi
pelbagai perubahan yang terjadi pada masa depan untuk terwujudnya INDONESIA SEHAT.
IV. VISI PEMBANGUNAN KESEHATAN

VISI pembangunan kesehatan dirumuskan sebagai INDONESIA SEHAT 2010 Gambaran


masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai yaitu: masyarakat, bangsa dan negara
yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat,
memiliki kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,
serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah Republik Indonesia.
MISI
1. Menggerakkan Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan.
Untuk optimalisasi hasil serta konstribusi positif pembangunan terhadap kesehatan, di
berbagai bidang harus diupayakan masuknya wawasan kesehatan sebagai asas pokok
program pembangunan, dimana penanggungjawab program pembangunan memasukan
pertimbangan-pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan pembangunannya.
2. Mendorong Kemandirian Masyarakat Untuk Hidup Sehat
Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintan dan
swasta, untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka. Perilaku yang sehat dan
kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu
sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan, penting mendorong kemandirian
masyarakat untuk hidup sehat
3. Memelihara dan Meningkatan Pelayanan Kesehatan Bermutu, Merata, dan Terjangkau.
Salah satu tanggungjawab sektor kesehatan adalah menjamin tersedianya pelayanan
kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau oleh masyarakat, dengan mengikut sertakan
sebesar-besarnya peran serta aktif masyarakat dan pelbagai potensi swasta.
4. Memelihara dan meningkatan kesehatan Individu, keluarga, masyarakat dan lingkungan
Tugas utama sektor kesehatan adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan segenap
warga negaranya, yakni setiap individu, keluarga dan masyarakat Indonesia, tanpa
meninggalkan upaya menyembuhkan penyakit dan atau memulihkan kesehatan penderita,
serta terciptanya lingkungan yang sehat lebih diprioritaskan.
STRATEGI
a. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan
Wawasan Kesehatan sebagai azas Pembangunan Nasional
Paradigma Sehat sebagai Komitmen gerakan nasional
Sistem yang mendorong promotif dan preventif dalam kesehatan komprehensif
Sosialisasi internal dan eksternal
Restrukturisasi dan revitalisasi infrastruktur yang terkait dengan rencana desentralisasi.
b. Profesionalisme
Pemantapan manajemen sumber daya manusia
Pemantapan aspek ilmu dan teknologi, iman dan takwa serta etika profesi
Penajaman konsep profesionalisme kedokteran dan kesehatan
Penciptaan aliansi strategis dengan pihak yang turut memainkan peranan mewujudkan visi
indonesia Sehat
c. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
Komitmen dan pencanangan JPKM bersama gerakan Paradigma Sehat
Dukungan Peraturan Perundang-undangan, dan sosialiasasi internal dan eksternal
Intervensi pemerintah terutama dalam inisiasi penghimpunan dana awal
Kebijakan yang memberi keleluasaan pengelolaan secara tanggung jawab
d. Desentralisasi
Keseimbangan dan sinergi azas-azas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan
Penegasan jenis dan peringkat kewenangan.
Kejelasan pedoman pengelolaan dengan indikator/parameter kinerja kota/kabupaten sehat,
evidence based analysis digunakan sebagai landasan penetapan program
Pemberdayaan : kemampuan / kapasitas untuk menerapkan desentralisasi
Sistem dan kebijakan SDM yang mendukung, Infrastruktur lintas sektoral yang menunjang
Mekanisme pengendalian yang amdal
POKOK PROGRAM KESEHATAN

Sesuai keadaan masalah dan kecenderungan yang dihadapi serta memperhatikan arah, tujuan
dan sasaran serta kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan, pada
dasarnya lebih mengutamakan upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan serta
memperhatikan pula ketersediaan sumber daya kesehatan di masa depan, maka programprogram pembangunan kesehatan dikelompokan dalam pokok-pokok program yang
pelaksanaannya dilakukan secara terpadu dengan pembangunan sektor lain yang terkait dengan
dukungan masyarakat. Diharapkan bahwa kebijakan Paradigma Sehat akan melandasi setiap
kebijakan dan pokok-pokok program saat ini dan yang akan datang, yang sangat penting
diupayakan pada setiap kesempatan pelaksanaan kegiatan dalam mendorong kemandirian
masyarakat.
INDIKATOR
1. Lingkungan yang diharapkan adalah lingkungan yang kondunsif bagi terwujudnya keadaan
sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang
memadai, perumahan dan permukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan
kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong dengan
memelihara nilai-nilai budaya bangsa.
2. Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 adalah perilaku proaktif untuk memelhara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman
penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.
3. Masyarakat mempunyai kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu.
Pelayanan kesehatan yang tersedia adalah pelayanan yang berhasil guna dan berdaya guna
yang tersebar secara merata diseluruh Indonesia. Dan terwujudnya derajat kesehatan
masyarakat yang optimal yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.

V. VISI DAN MISI RENCANA STRATEGIS DEPKES TAHUN 2010 2014.


Visi yang ingin dicapai Depkes adalah Masyarakat Yang Mandiri dan Berkeadilan.
Misi DepKes, yaitu
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk
swasta dan masyarakat madani,
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang
paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan,
3. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, serta
4. Menciptakan tata kelola keperintahan yang baik.
6 Rencana Strategi Tahun 2010 2014, yaitu:
1.
Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam
pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global
2.
Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis
bukti,: dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif
3.
Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan
social kesehatan nasional
4.
Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan
bermutu
5.
Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan
serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan
dan makanan
6.
Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan
berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab.
Referensi :
1. Paradigma Sehat, Buku Analisa Kasus melalui Pendekatan Keluarga, Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah, tahun 2004
2. http://www.depkes.go.id/index.php/profil/visimisi.html