Anda di halaman 1dari 18

TUGAS TERSTRUKTUR

BUDIDAYA PANTAI DAN LAUT


BUDIDAYA KEPITING BAKAU
Dosen Pengampuh
Ir. Hastiadi Hasan, M.M.A.

DI SUSUN OLEH :
IBNU YURAYAMA

131110295

NURUL SUCI AFSARI

131110186

MIZAN

131110084

ROBIANSYAH

131110257

M. HERMAWANSYAH
JUMADI

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
PONTIANAK
2016

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanawataala karena


berkat rahmat dan karunia-nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas terstruktur
mata kuliah Budidaya Pantai dan Laut berupa makalah Budidaya Kepiting Bakau
ini pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam

penyusunan

tugas

terstruktur

ini

menyampaikan

ucapan

terimakasih kepada, maka dari itu pada kesempatan ini sekaligus disampaikan
ucapan terima kasih kepada
1. Ir. Hastiadi Hasan, M.M.A. selaku dosen pengampuh dalam mata kuliah
budidaya pantai dan laut yang telah memberikan bimbingan dan arahan
dalam penyelesaian tugas ini.
2. Teman seperjuangan yang telah banyak dibantu memberikan masukan, dan
dorongan serta pihak-pihak lainya yang tidak dapat kami sebutkan satu per
satu.dalam penyelesaian tugas terstruktur ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan tugas tersturktur berupa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak demi perbaikan
dimasa yang akan datang.

Pontianak, Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................
i
DAFTAR ISI....................................................................................................
ii
BAB I.

PENDAHULUAN...........................................................................

Latar Belakang........................................................................................
Tujuan Penulisan.....................................................................................
Manfaat....................................................................................................

1
2
2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................


2.1 Klasifikasi Kepiting Bakau.....................................................................
2.2 Morfologi................................................................................................
2.3 Habitat.....................................................................................................
2.4 Siklus Hidup Kepiting.............................................................................
2.5 Kebiasaan Makan....................................................................................
2.5 Ciri-ciri....................................................................................................
2.6 Reproduksi..............................................................................................
2.7 Distribusi Kepiting Bakau.......................................................................

3
3
3
3
4
5
6
6
7

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................


3.1 Teknik Budidaya Kepiting.......................................................................
3.1.1 Syarat Ketentuan Lokasi..............................................................
3.1.2 Desaign dan kontruksi tambak....................................................
3.1.3 Pemilihan benih kepiting bakau..................................................
3.1.4 Pengangkutan benih kepiting bakau............................................
3.1.5 Penebaran benih kepiting bakau..................................................
3.1.6 Pemeliharan kepiting bakau........................................................
3.1.7 Pemberian pakan kepiting bakau.................................................
3.1.8 Pemanenan kepiting bakau..........................................................
3.1.9 Pasca panen kepiting bakau.........................................................

8
8
8
8
9
9
10
10
11
11
11

1.1
1.2
1.3

BAB IV. PENUTUP.......................................................................................


4.1 Kesimpulan..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

13
13

........................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kepiting bakau (scylla sp) merupakan salah satu komoditas perikanan yang
hidup di perairan pantai, khususnya di hutan-hutan bakau (mangrove). Dengan
sumber daya hutan bakau yang membentang luas di seluruh kawasan pantai
nusantara, maka tidak heran jika indonesia dikenal sebagai pengeskpor kepiting
yang cukup besar dibandingkan dengan negara-negara produsen kepiting
lainnya. potensi kepiting di Indonesia yang sangat memungkinkan. Indonesia
dikenal sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan luas
perairan laut sekitar 5,8 juta kilometer persegi atau 75% dari total wilayah
Indonesia (Irmawati. 2005).
Wilayah laut tersebut di taburi lebih dari 17.500 pulau dan dikelilingi garis
pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan terpanjang didunia setelah kanada.
Di sepanjang pantai tersebut kurang lebih 1,2 juta Ha memiliki potensi sebagai
lahan tambak, yang digunakan untuk mengelola tambak udang baru 300.000 Ha,
sisanya masih belum dikelola. Maka dari itu peluang untuk membangun budidaya
kepiting masih terbuka lebar. Dan salah satu daerah yang memiliki potensi
tersebut adalah Kalimantan Barat (Rosmaniar, 2008).
Kepiting sangat banyak diminati oleh masyarakat dikarenakan daging
kepiting tidak hanya lezat tetapi juga menyehatkan karena banyak mengandung
nutrisi yang penting bagi kehidupan dan kesehatan. Selain itu juga kepiting juga
memiliki ekonomis tinggi, salah satunya adalah kepiting bakau (scylla sp).
Kepiting bakau (Scylla sp) merupakan salah satu komoditas perikanan yang
hidup diperairan payau, khususnya di hutan-hutan mangrove. Dengan sumber
daya mangrove yang membentang luas diseluruh kawasan pantai nusantara, maka
tidak heran Indonesia dikenal sebagai pengekspor keping yang cukup besar.
Kepiting bakau mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, baik dipasar
domestik maupun mancanegara. Dikarenakan nilai ekonomis kepiting yang terus
meningkat, banyak para petani membudidayakan kepiting ditambak. Tetapi

sayangnya prospek bisnis yang menjanjikan ini belum mendapakan perhatian


untuk pembudidaya yang ada di Kalimantan Barat. Karena kepiting merupakan
nilai ekonomis penting yang menjanjikan dan belum mendapatkan perhatian bagi
pembudidaya.
1.2

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari tentang
kepiting bakau agar kedepan bisa lebih memahami bagaimana seluk beluk tentang
kepiting bakau baik segi morfologi, klasifikasi, habitat, repoduksi dan teknik
budidaya kepiting bakau itu sendiri.

1.3

Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah adalah untuk memberikan
informasi tentang molusca kepiting bakau sehingga dapat bermanfaat bagi penulis
sendiri dan para pembaca sekalian atau yang memerlukannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi kepiting Bakau


Adapun klasifikasi kepiting bakau adalah sebagai berikut :
Phylum

: Arthropoda

Classis

: Crustacea

Subclassis

: Malacostraca

Superord

: Eucaridae

Ordo

: Decapoda

Familia

: Portunidae

Genus

: Scylla

Spesies

: Scylla sp. S. serrata, s. tranquebarica,


S.paramamosain, S.Olivacea

2.2 Morfologi
Kepiting bakau (Scylla sp) memiliki ukuran lebar karapas lebih besar dari
pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaannya agak licin. Pada dahi antara
sepasang matanya terdapat enam buah duri dan disamping kanan serta kirinya
terdapat sembilan buah duri. Kepitng bakau jantan mempunyai sepasang capit
yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat daripada panjang karapasnya,
sedangkan kepiting bakau betina relatif lebih pendek. Selain itu, kepiting baku
juga memiliki 3 pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang. Kepiting bakau
berjenis kelamin jantan ditandai dengan abdoment bagian bawah berbentuk
segitiga meruncin, sedangkan pada betina kepiting bakau melebar (Soim 1994).
3

2.3 Habitat
Habitat kepiting bakau sebagian besar berada di hutan-hutan bakau
perairan Indonesia. Spesies ini adalah spesies khas yang berada di kawasan bakau.
Kepiting bakau yang masih berupa juvenil lebih suka membenamkan diri ke
dalam lumpur sehingga jarang terlihat di daerah bakau. Juvenil kepiting bakau
lebih menyukai tempat-tempat terlindung, seperti alur-alur air laut yang menjorok
ke daratan, saluran air, di bawah batu, di bentangan rumput laut dan di sela-sela
akar pohon bakau (Kanna 2002). Hutan mangrove adalah daerah yang umumnya
banyak dihuni kepiting bakau (Kordi 1997). Daerah berlumpur dan tepian muara
sungai juga banyak ditemukan kepiting (Arriola 1940 diacu dalam Kasry 1985).
Kepiting bakau tidak jarang tertangkap di luar bakau (Mossa et al. 1985 diacu
dalam Rusdi 2010).
2.4 Siklus Hidup Kepiting
Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya
saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting
betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina
memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa
bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat
(bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan
ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen). Jumlah telur yang dibawa
tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa puluhan
hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah
beberapa

hari

kemudian

menjadi

larva

(individu

baru)

yang

dikenal

dengan zoea. Ketika melepaskan zoea ke perairan, sang induk menggerakgerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah lepas dari
abdomen.

Larva

kepiting

selanjutnya

hidup

sebagai

plankton

dan

melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat
tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007). Daur hidup kepiting
meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva ataujuvenil, anakan dan
dewasa. Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004).

Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada
kepiting. Di kepala terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar
dan di ujung kaki-kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoea ini juga terdiri dari
4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain
lagi. Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton
(Nontji, 2002). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa larva kepiting
hanya mengkonsumsi fitoplankton beberapa saat setelah menetas dan segera
setelah itu lebih cenderung memilih zooplankton sebagai makanannya (Umar,
2002). Keberadaan larva kepiting di perairan dapat menentukan kualitas perairan
tersebut, karena larva kepiting sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan
(Sara, dkk., 2006).
Selain itu kepiting ini juga mengalami beberapa proses pergantian
kulit (moulting). Setiap proses tubuhnya akan tumbuh menjadi lebih besar. Selama
siklus hidupnya kepiting bakau menempati dua macam habitat yaitu air payau
masa juvenil (kepiting muda) sampai dewasa, dan air laut pada masa pemijahan
sampai megalova.

Gambar siklus hidup


2.5 Kebiasaan Makan
Kanna (1991) mengemukakan bahwa pakan yang diberikan untuk kepiting
berupa potongan-potongan daging ikan, cumi-cumi, maupun daging udang, dan

ukuran pakan juga disesuaikan dengan kemampuan kepiting untuk mencengkram


pakan. Kepiting tergolong pemakan segala (omnivora) dan pemakan bangkai
(scavenger). Sedangkan larva kepiting memakan plankton. Kepiting tergolong
hewan nocturnal, pada saat siang hari keping cendrung membenamkan diri atau
bersembunyi didalam lumpur.
2.6 Ciri-ciri
Deskripsi kepiting bakau menurut Rosmaniar (2008), Famili portumudae
merupakan famili kepiting bakau yang mempunyai lima pasang kaki. Pasangan
kaki kelima berbentuk pipi dan melebar pada ruas terakhir. Karapas pipi atau
cagak cembung berbentuk heksagonal atau agak persegi. Bentuk ukuran bulat
telur memanjang atau berbentuk kebulatan, tapi anterolateral bergigi lima sampai
sembilan buah. Dahi lebar terpisah dengan jelas dari sudut intra orbital, bergigi
dua sampai enam buah, bersungut kecil terletak melintang atau menyerong.
Pasangan kaki terakhir berbentuk pipih menyerupai dayung. Terutama ruas
terakhir, dan mempunyai tiga pasang kaki jalan.
Kepiting bakau Scylla serrta memiliki bentuk morfologi yang bergerigi,
serta memiliki karapas dengan empat gigi depan tumpul dan setiap margin
anterolateral memiliki sembilan gigi yang berukuran sama. Kepiting bakau
memiliki capid yang kuat dan terdapat beberapa duri (Motoh 1979 dan Perry
2007).
2.7 Reproduksi
Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya
saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting
betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina
memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa
bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat
(bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan
ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).
Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa
spesies

dapat

membawa

puluhan

hingga

ribuan

telur

ketika

terjadi

pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari kemudian menjadi larva
(individu baru) yang dikenal dengan zoea. Ketika melepaskan zoea ke perairan,
6

sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat


dengan mudah lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai
plankton dan melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu
agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007).
2.8 Distribusi Kepiting Bakau
Kepiting bakau memiliki sebaran geografis yang sangat luas, meliputi pantai
Timur Afrika, India, Srilangka, Indonesia, Filipina, Thailand, Cina, Taiwan,
Jepang, Papua Nugini, Australia dan pulau-pulau di utara Selandia Baru. Kepiting
bakau ditemukan di daerah air payau dan sebagian besar tertangkap di wilayah
pesisir Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya)
(Sulistiono et al. 1994 diacu dalam Asmara 2004). Penyebaran kepiting bakau
yang luas menyebabkan timbulnya daerah yang menjadi pusat pengusahaan
kepiting bakau. Hal ini berhubungan dengan habitat kepiting yang masih baik.
Daerah-daerah yang dimaksud, antara lain terdapat di selatan Jawa (Cilacap),
utara Jawa (Tanjung Pasir, Pamanukan), barat Sumatera (Bengkulu, Riau), timur
Kalimantan (Kota Baru, Pasir, Balikpapan), Sulawesi (Teluk Bone, Teluk Kolono,
Kendari), Nusa Tenggara Barat (Teluk Waworada, Teluk Bima) dan Irian Jaya
(Teluk Bintuni, Biak Numfor) (Asmara 2004).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Teknik Budidaya Kepiting
3.1.1 Syarat ketentuan lokasi
Tambak pemeliharaan kepiting diusahakan mempunyai kedalaman
0,8-1,0 meter dengansalinitas air antara 15-30 ppt.Tanah tambak berlumpur
dengan tekstur tanah liat berpasir (sandyclay) atau lempung berliat (silty
loam) dan perbedaan pasang surut antara 1,5-2 meter.Disamping syarat
seperti tersebut diatas, pada prinsipnya tambak pemeliharaan bandeng
maupun udang tradisional dapat digunakan sebagai tempat pemeliharaan
kepiting.
Faktor

3.1.2

yang

perlu

dipertimbangkan

dalam

pemilihan

lokasi

pemeliharaan kepiting, antara lain :


1. Air yang digunakan bebas dari pencemaran dan jumlahnya cukup.
2. Tersedia pakan yang cukup dan terjamin kontinyuitasnya.
3. Terdapat sarana dan prasarana produksi dan pemasarannya.
4. Tenaga yang terampil dan menguasai teknis budidaya kepiting.
Desain dan Konstruksi Tambak
Apabila perlakuan terhadap kepiting selama masa pemeliharaan
kurang baik, seperti : mutu air kurang diperhatikan, makanan tidak
mencukupi maka pada saat kepiting tersebut mencapai kondisi biologis
matang telur akan berusaha meloloskan diri, dengan jalan memanjat
dinding/pagar atau dengan cara membuat lubang pada pematang. Untuk
menghindari hal tersebut, maka konstruksi pematang dan pintu air perlu
diperhatikan secermat mungkin. Pada pematang dapat dipasang pagar kere
bambu atau dari waring, hal ini akan mengurangi kemungkinan lolosnya
kepiting. Pemasangan pagar kere bambu atau waring pematang yang kokoh
(lebar 2-4 meter) dilakukan diatas pematang bagian pinggir dengan
ketinggian sekitar 60cm. Pada tambak yang pematangnya tidak kokoh,
pemasangan pagar dilakukan pada kaki dasar pematang dengan tinggi

3.1.3

minimal 1 meter
Pemilihan Benih Kepiting Bakau

Kesehatan benih merupakan satu diantara factor yang menunjang


keberhasilandalam usaha penggemukan kepiting. Oleh sebab itu pemilihan
dan pengelolaan benihharus benar dan tepat. Kesehatan benih juga bisa
dilihat dari kelengkapan kaki-kakinya.Hilangnya capit akan berpengaruh
pada kemampuan untuk memegang makanan yang dimakan serta
kemampuan sensorinya. Walaupun pada akhirnya setelah ganti kulit maka
kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini memerlikan waktu, belum lagi
adanya sifat kanibalisme kepiting, sehingga kepiting yang tidak bisa jalan
karena sedang ganti kulit sering menjadi mangsa kepiting lainnya. Untuk itu
maka harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih lengkap. Benih
kepiting yang kurang sehat warna karapas akan kemerah-merahan dan pudar
serta pergerakannya lamban.
3.1.4 Pengangkutan Benih Kepiting Bakau
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan perubahan
lingkungan namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan
kematian dalam jumlah banyak atau mengurangi sintasan. Pengangkutan
benih sebaiknya dilakukan sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar
matahari. Terekposenya benih kepiting kedalam sinar matahari bisa
menimbulkan dehidrasi Yang pada akhirnya cairan dalam tubuh kepiting
akan keluar semuanya sehingga menyebabkan kematian. Tingginya
kematian benih setelah sampai tempat tujuan biasanya disebabkan karena
benih yang dibeli memang sudah lemah akibat sudah di tampung beberapa
hari oleh pedagang pengumpul. Biasanya kemsatian kepiting terjadi setelah
hari ke-4 dalam penampungan tanpa air. Wadah yang dipakai dalam
pengakutan kepiting sebaiknya tidak menyebabkan panas dan letakkan
kepiting dalam posisi hidup. Wadah sterofoam dengan panjang 1 m dan
lebar 60 m dapat menyimpan benih sebanyak 100-150 ekor.
Untuk benih yang diiikat, lakukan penyiraman sebanyak 2-3 kali
penyiraman dengan air berkadar garam 10-25 ppt, selama pengangkutan 5-6
3.1.5

jam.
Penebaran Benih Kepiting Bakau
Pada lokasi penghasil kepiting tangkapan dari alam, pada musim
benih untuk budiadaya tradisional petani hanya mengandalkan benih
9

kepiting yang masuk secara alami pada saat pasang surut air. Setelah
beberapa bulan mulai dilakukan panen selektif dengan memungut kepiting
yang berukuran siap jual. Dapat juga kepiting yang sudah mencapai ukuran
tersebut dilepas kembali ke dalam petak pembesaran untuk memperoleh
ukuran atau kegemukan yang lebihbesar.
Pada budidaya polikultur dengan ikan bandeng, ukuran benih kepiting
dengan berat 20-50gram dapat ditebar dengan kepadatan 1000-2000
ekor/Ha, dan ikan bandeng gelondongan yangberukuran berat 2-5 gram
ditebar dengan kepadatan 2000-3000 ekor/Ha. Pada budidaya sistem
monokultur benih kepiting dengan ukuran seperti tersebut diatas ditebar
3.1.6

dengan kepadatan 5000-15000 ekor/Ha.


Pemeliharan Kepiting Bakau
Penempatan karamba dalam petak tambak disarankan diletakkan
didekat pintumasuk/keluar air. Posisi karamba sebaiknya menggantung
berjarak 15 cm dari dasar perairan yang tujuannya agar sisa pakan yang
tidak termakan jatuh ke dasar perairan tidak mengendap didalam keramba.
Diusahakan seminggu 2 kali karamba dipindah dari posisi semula hal ini
bertujuan agar terjadi sirkulasi/pergantian air. Kegiatan dalam pemeliharaan
setelah penebaran dilakukan Pemberian pakan rucah lebih diutamakan
dalam bentuk segar sebanyak 5 -10% dariberat badan danndiberikan 2 kali
sehari yaitu pagi dan sore/malam hari. Penggantian air dilakukan bila terjadi
penurunan kualitas air. Sampling dilakukan setiap 5 hari untuk mengetahui
perkembangan pertumbuhan dan kesehatan kepiting. Dengan pengelolaan
pakan yang cermat,cocok dan tepat jumlah maka dalam tempo 10 hari

3.1.7

pertumbuhan kepiting bisa diketahui.


Pemberian pakan kepiting bakau
Berbagai jenis pakan seperti : ikan rucah, usus ayam, kulit sapi, kulit
kambing, bekicot,keong sawah, dll. dari jenis pakan tersebut, ikan rucah
segar lebih baik ditinjau dari fisik maupun kimiawi dan peluang untuk
segera dimakan lebih cepat karena begitu ditebar tidak akan segera dimakan
oleh kepiting. Pemberian pakan pada usaha pembesaran hanya bersifat
suplemendengan dosis sekitar 5%. Lain halnya pada usaha kepiting bertelur
dan penggemukan, pemberian
10

pakan harus lebih diperhatikan dengan dosis antara 5-15% dari erat
kepiting yang dipelihara. Kemauan makan kepiting muda biasanya lebih
besar, karena pada periode ini dibutuhkan sejumlah makanan yang cukup
banyak untuk pertumbuhan dan proses ganti kulit. Kemauan makan akan
berkurang pada saat kepiting sedang bertelur, dan puncaknya setelah telur
3.1.8

keluar sepertinya kepiting berpuasa.


Pemanenan kepiting Bakau
Pemeliharaan kepiting di karamba dapat dilakukan selama 15 hari,
tergantung pada ukuran benih dan laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan
oleh jenis pakan yang diberikan dan kualitas air tambak. Untuk memanen
kepiting digunakan alat berupa seser baik untuk tujuan pemanenan total
maupun selektif. Pelaksanaan panen harus dilakukan oleh tenaga terampil
untuk menangkap dan kemudian mengikatnya. Selain itu tempat dan waktu
penyimpanan sebelum didistribusikan kepada konsumen menentukan
kesegaran dan laju dehidrasi karena kehilanganberat sekitar 3 - 4%dapat

menyebabkan kematian.
3.1.9 Pasca Panen Kepiting Bakau
Salah satu hal yang menguntungkan dalam penanganan kepiting
setelah dipanen adalah kemampuannya bertahan hidup cukup lama pada
kondisi tanpa air. Namun demikian,penanganan yang kurang baik tetap saja
akan menurunkan kondisi kesehatannya dan dapat menyebabkan kematian.
Apabila kepiting setelah dipanen langsung dimasukkan kedalam
keranjang dengan mengikat capit, kaki jalan dan kaki renangnya yang
merupakan alat gerak yang cukup kuat, maka kepiting tersebut akan saling
capit satu dengan yang lainnya. Kondisi demikian akan menimbulkan
kerusakan secara fisik pada tubuh kepiting dan mempengaruhi kondisi
fisiologis yang akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi
keadaan tersebut kepiting yang baru ditangkap harus segera diikat sebelum
dimasukkan ke dalam keranjang.
Cara pengikatan kepiting yang baru ditangkap dapat dilakukan seperti
dibawah ini:
1. Pengikatan kedua capit dan seluruh kaki-kakinya.
2. Pengikatan capitnya saja dengan satu tali.
3. Pengikatan masing-masing capit dengan tali terpisah.

11

Tali pengikat dapat menggunakan tali rafia atau jenis tali lainnya yang
cukup kuat. Setelah kepiting diikat, baik pengikatan capitnya saja maupun
pengikatan seluruh kaki-kakinya akan mempermudah penanganan dan
pengangkutannya
Penanganan kepiting yang telah disusun dalam keranjang yang perlu
mendapat perhatian ialah tetap menjaga suhu dan kelembaban.Usahakan
suhu tidak lebih tinggi dari 26C dan kelembaban yang baik adalah 95%.
Cara yang dapat dilakukan untuk menjaga suhu dan kelembaban ideal bagi
kelangsungan hidup kepiting selama dalam pengangkutan ialah : Celupkan
kepiting ke dalam air payau (salinitas 15-25) selama kurang lebih 5 menit
sambil digoyang-goyangkan agar kotoran terlepas. Setalah kepiting disusun
kembali di dalam wadah. tutuplah wadah dengan karung goni basah.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa para pembudidaya kepiting
bakau dalam membudidayakanya harus dengan sistem yang sudah ada. Budidaya
kepiting bakau sangat mudah diterapakn oleh para pembudidaya karena teknik
budidayanya tidak begitu sulit mulai dari pemilihan lokasi, desain konstruksi
tambak, pemilihan benih, pengangkutan benih,penebaran benih, pemaliharan,
pemanenan, dan sampai pasca panen.

12

Kepiting bakau pada saat ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi tidak
hanya didalam negeri bahkan bias diekspor ke luar negeri. Dalam hal ini kepiting
bakau juga dapat meningkatkan hasil perikanan.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 1992. Pemeliharaan kepiting. Kanisius. Yogyakarta.


BBPMHP. 1995. Petunjuk Teknis Tentang Pengolahan kepiting Bakau dan
Rajungan. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.
Ghufron, Kardi. 1997. Budidaya Kepiting dan Ikan Bandeng. Dahara Prize.
Semarang.
https://www.scribd.com/doc/17521189/BUDIDAYA-KEPITING-BAKAU,
diakses 2 Oktober 2016
Irmawati. 2005. Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau Scylla sp Di Kawasan
Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, Lembaga
Penelitian

UNHAS, (Online),

(http://www.unhas.ac.id,

diakses 15 November 2012).


Juwana, S. 2004. Penelitian Budi Daya Rajungan dan Kepiting: Pengalaman
Laboratorium dan lapangan, Prosiding Simposium Interaksi Daratan
dan Lautan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
13

Kanna, Iskandar. 1991.Budidaya Kepiting Bakau. Kanisius. Yogyakarta


Purwaningsi S, DKK. 2005. Pengaruh Lama Pentimpanan Daging Rajungan Dan
Keping Rebus Pada Suhu Kamar. Buletin Teknologi Hasil Perikanan.
Vol VIII Nomor 1 Tahun 2005
Surahman, Winarno. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik.
Tarsito : Bandung.
Soim, Ahmad. 1994. Pembesaran Kepiting. Swadaya. Jakarta.

14