Anda di halaman 1dari 21

TUGAS TERSTRUKTUR

BUDIDAYA PANTAI DAN LAUT


BUDIDAYA KEPITING BAKAU
Dosen Pengampuh
Ir. Hastiadi Hasan, M.M.A.

DI SUSUN OLEH :
IBNU YURAYAMA

131110149

NURUL SUCI AFSARI

131110186

MIZAN

131110084

ROBIANSYAH

131110257

M. HERMAWANSYAH
JUMADI

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
PONTIANAK
2016

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanawataala karena


berkat rahmat dan karunia-nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas terstruktur
mata kuliah Budidaya Pantai dan Laut berupa makalah Budidaya Kepiting Bakau
ini pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam

penyusunan

tugas

terstruktur

ini

menyampaikan

ucapan

terimakasih kepada, maka dari itu pada kesempatan ini sekaligus disampaikan
ucapan terima kasih kepada
1. Ir. Hastiadi Hasan, M.M.A. selaku dosen pengampuh dalam mata kuliah
budidaya pantai dan laut yang telah memberikan bimbingan dan arahan
dalam penyelesaian tugas ini.
2. Teman seperjuangan yang telah banyak dibantu memberikan masukan, dan
dorongan serta pihak-pihak lainya yang tidak dapat kami sebutkan satu per
satu.dalam penyelesaian tugas terstruktur ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan tugas tersturktur berupa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak demi perbaikan
dimasa yang akan datang.

Pontianak, Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................
i
DAFTAR ISI....................................................................................................
ii
BAB I.

PENDAHULUAN...........................................................................

Latar Belakang........................................................................................
Tujuan Penulisan.....................................................................................
Manfaat....................................................................................................

1
2
2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................


2.1 Klasifikasi Kepiting Bakau.....................................................................
2.2 Morfologi................................................................................................
2.3 Habitat.....................................................................................................
2.4 Siklus Hidup Kepiting.............................................................................
2.5 Kebiasaan Makan....................................................................................
2.5 Ciri-ciri....................................................................................................
2.6 Reproduksi..............................................................................................
2.7 Distribusi Kepiting Bakau.......................................................................

3
3
3
3
4
5
6
6
7

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................


3.1 Teknik Budidaya Kepiting.......................................................................
3.1.1 Syarat Ketentuan Lokasi..............................................................
3.1.2 Desaign dan kontruksi tambak....................................................
3.1.3 Pemilihan benih kepiting bakau..................................................
3.1.4 Pengangkutan benih kepiting bakau............................................
3.1.5 Penebaran benih kepiting bakau..................................................
3.1.6 Pemeliharan kepiting bakau........................................................
3.1.7 Pemberian pakan kepiting bakau.................................................
3.1.8 Pemanenan kepiting bakau..........................................................
3.1.9 Pasca panen kepiting bakau.........................................................

8
8
8
8
9
9
10
10
11
11
11

BAB IV. PENUTUP.......................................................................................


4.1 Kesimpulan..............................................................................................

13
13

1.1
1.2
1.3

DAFTAR PUSTAKA

........................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kepiting bakau (scylla sp) merupakan salah satu komoditas perikanan yang
hidup di perairan pantai, khususnya di hutan-hutan bakau (mangrove). Dengan
sumber daya hutan bakau yang membentang luas di seluruh kawasan pantai
nusantara, maka tidak heran jika indonesia dikenal sebagai pengeskpor kepiting
yang cukup besar dibandingkan dengan negara-negara produsen kepiting
lainnya. potensi kepiting di Indonesia yang sangat memungkinkan. Indonesia
dikenal sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan luas
perairan laut sekitar 5,8 juta kilometer persegi atau 75% dari total wilayah
Indonesia (Irmawati. 2005).
Wilayah laut tersebut di taburi lebih dari 17.500 pulau dan dikelilingi garis
pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan terpanjang didunia setelah kanada.
Di sepanjang pantai tersebut kurang lebih 1,2 juta Ha memiliki potensi sebagai
lahan tambak, yang digunakan untuk mengelola tambak udang baru 300.000 Ha,
sisanya masih belum dikelola. Maka dari itu peluang untuk membangun budidaya
kepiting masih terbuka lebar. Dan salah satu daerah yang memiliki potensi
tersebut adalah Kalimantan Barat (Rosmaniar, 2008).
Kepiting sangat banyak diminati oleh masyarakat dikarenakan daging
kepiting tidak hanya lezat tetapi juga menyehatkan karena banyak mengandung
nutrisi yang penting bagi kehidupan dan kesehatan. Selain itu juga kepiting juga
memiliki ekonomis tinggi, salah satunya adalah kepiting bakau (scylla sp).
Kepiting bakau (Scylla sp) merupakan salah satu komoditas perikanan yang
hidup diperairan payau, khususnya di hutan-hutan mangrove. Dengan sumber
daya mangrove yang membentang luas diseluruh kawasan pantai nusantara, maka
tidak heran Indonesia dikenal sebagai pengekspor keping yang cukup besar.
Kepiting bakau mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, baik dipasar
domestik maupun mancanegara. Dikarenakan nilai ekonomis kepiting yang terus
meningkat, banyak para petani membudidayakan kepiting ditambak. Tetapi

sayangnya prospek bisnis yang menjanjikan ini belum mendapakan perhatian


untuk pembudidaya yang ada di Kalimantan Barat. Karena kepiting merupakan
nilai ekonomis penting yang menjanjikan dan belum mendapatkan perhatian bagi
pembudidaya.
1.2

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari tentang
kepiting bakau agar kedepan bisa lebih memahami bagaimana seluk beluk tentang
/ tatacara budidaya kepiting bakau.

1.3

Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah adalah untuk memberikan
informasi tentang molusca kepiting bakau sehingga dapat bermanfaat bagi penulis
sendiri dan para pembaca sekalian atau yang memerlukannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Klasifikasi kepiting Bakau

Adapun klasifikasi kepiting bakau adalah sebagai berikut :


Phylum

: Arthropoda

Classis

: Crustacea

Ordo

: Decapoda

Familia

: Portunidae

Genus

: Scylla

Spesies

: scyllaserrata

2.2.

Morfologi
Kepiting bakau (Scylla sp) memiliki ukuran lebar karapas lebih besar dari

pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaannya agak licin. Pada dahi antara
sepasang matanya terdapat enam buah duri dan disamping kanan serta kirinya
terdapat sembilan buah duri. Kepitng bakau jantan mempunyai sepasang capit
yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat dari pada panjang karapasnya,
sedangkan kepiting bakau betina relatif lebih pendek. Selain itu, kepiting baku
juga memiliki 3 pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang. Kepiting bakau
berjenis kelamin jantan ditandai dengan abdoment bagian bawah berbentuk
segitiga meruncin, sedangkan pada betina kepiting bakau melebar (Soim 1994).
Berdasarkan lebar karapasnya, tingkat perkembangan kepiting dapat
dibagi menjadi tiga kelompok :
1. Kepiting juwana, lebar karapas 20 mm-80 mm
2. Kepiting menjelang dewasa, lebar karapas 70 mm-150 mm
3. Kepiting dewasa, lebar karapas 150 mm-200 mm
3

2.3.

Habitat dan Penyebaran


Habitat kepiting bakau sebagian besar berada di hutan-hutan bakau

perairan Indonesia. Spesies ini adalah spesies khas yang berada di kawasan bakau.
Kepiting bakau yang masih berupa juvenil lebih suka membenamkan diri ke
dalam lumpur sehingga jarang terlihat di daerah bakau. Juvenil kepiting bakau
lebih menyukai tempat-tempat terlindung, seperti alur-alur air laut yang menjorok
ke daratan, saluran air, di bawah batu, di bentangan rumput laut dan di sela-sela
akar pohon bakau (Kanna 2002). Hutan mangrove adalah daerah yang umumnya
banyak dihuni kepiting bakau (Kordi 1997). Daerah berlumpur dan tepian muara
sungai juga banyak ditemukan kepiting (Arriola 1940 diacu dalam Kasry 1985).
Kepiting bakau tidak jarang tertangkap di luar bakau (Mossa et al. 1985 diacu
dalam Rusdi 2010).
Kepiting bakau memiliki sebaran geografis yang sangat luas, meliputi pantai
Timur Afrika, India, Srilangka, Indonesia, Filipina, Thailand, Cina, Taiwan,
Jepang, Papua Nugini, Australia dan pulau-pulau di utara Selandia Baru. Kepiting
bakau ditemukan di daerah air payau dan sebagian besar tertangkap di wilayah
pesisir Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya)
(Sulistiono et al. 1994 diacu dalam Asmara 2004). Penyebaran kepiting bakau
yang luas menyebabkan timbulnya daerah yang menjadi pusat pengusahaan
kepiting bakau. Hal ini berhubungan dengan habitat kepiting yang masih baik.
Daerah-daerah yang dimaksud, antara lain terdapat di selatan Jawa (Cilacap),
utara Jawa (Tanjung Pasir, Pamanukan), barat Sumatera (Bengkulu, Riau), timur
Kalimantan (Kota Baru, Pasir, Balikpapan), Sulawesi (Teluk Bone, Teluk Kolono,
Kendari), Nusa Tenggara Barat (Teluk Waworada, Teluk Bima) dan Irian Jaya
(Teluk Bintuni, Biak Numfor) (Asmara 2004).
2.4.

Tingkah Laku dan Kebiasaan Kepiting Bakau


Secara umum tingkah laku dan kebiasaan kepiting bakau yang dapat

diamati adalah sebagai berikut :

Suka berendam dalam lumpur sering berada didasar (bentic) dan membuat
lubang pada dinding atau pematang tambak pemeliharaan. Dengan mengetahui
kebiasaan ini, maka kita dapat merencanakan atau mendesain tempat
pemeliharaan sedekimian rupa agar kemungkinan lolosnya kepiting yang
dipelihara

sekecil

mungkinmerugikan

usaha

penanganan

hidup

dan

budidayanya. Karena sifatnya yang saling menyerang ini akan menyebabkan


kelulusan hidup rendah dan menurunkan produktifitas tambak. Sifat
kanibalisme yang paling dominan ada pada kepiting jantan, oleh karena itu
budidaya monokultur pada produksi kepiting akan memberikan kelangsungan
hidup lebih baik.
Moulting atau berganti kulit. Sebagaiman jenis crustacea, maka kepiting juga
mempunyai sifat seperti crustacean yang lain, yaitu moulting atau berganti
kulit. Setiap berganti kulit kepitig akan mengalami pertumbuhan besar karapas
maupun beratnya. Umumnya pergantian kulit akan terjadi sekitar 18 kali mulai
dari stadia awal sampai dewasa. Selama proses ganti kulit, kepiting
memerlukan energi dan gerakan yang cukup kuat, maka bagi kepiting dewasa
yang mengalami perlu tempat yang cukup luas.
Pertumbuhan akan terlihat lebih pesat pada saat masih muda, hal ini berkaitan
dengan frekuensi pergantian kulit pada saat stadia awal tersebut.Periode dan
tipe ganti kulit penting artinya dalam melakukan pola usaha budidaya yang
terkait dengan desain dan kontruksi wadah, tipe budidaya dan pengelolaannya.
Kepekaan terhadap polutan. Kualitas air sangat berpengaruh terhadap
ketahanan hidup kepiting. Penurunan mutu air dapat terjadi karena kelebihan
sisa pakan yang membusuk, bahan pencemar, serta adanya bahan-bahan logam
berat, dll. Bila kondisi kepiting lemah, misalnya tidak cepat memberikan reaksi
bila dipegang dan perutnya kosong bila dibelah, kemungkinan ini akibat dari
menurunya mutu air. Untuk menghindari akibat yang lebih buruk lagi,
selekasnya pindahkan kepiting ke tempat pemeliharaan lain yang kondisi
airnya masih segar.
2.5.

Siklus Hidup Kepiting

Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya
saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting
betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina
memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa
bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat
(bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan
ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen). Jumlah telur yang dibawa
tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa puluhan
hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah
beberapa

hari

kemudian

menjadi

larva

(individu

baru)

yang

dikenal

dengan zoea. Ketika melepaskan zoea ke perairan, sang induk menggerakgerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah lepas dari
abdomen.

Larva

kepiting

selanjutnya

hidup

sebagai

plankton

dan

melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat
tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007). Daur hidup kepiting
meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva ataujuvenil, anakan dan
dewasa. Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004).
Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada
kepiting. Di kepala terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar
dan di ujung kaki-kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoea ini juga terdiri dari
4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain
lagi. Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton
(Nontji, 2002). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa larva kepiting
hanya mengkonsumsi fitoplankton beberapa saat setelah menetas dan segera
setelah itu lebih cenderung memilih zooplankton sebagai makanannya (Umar,
2002). Keberadaan larva kepiting di perairan dapat menentukan kualitas perairan
tersebut, karena larva kepiting sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan
(Sara, dkk., 2006).
Selain itu kepiting ini juga mengalami beberapa proses pergantian
kulit (moulting). Setiap proses tubuhnya akan tumbuh menjadi lebih besar. Selama
siklus hidupnya kepiting bakau menempati dua macam habitat yaitu air payau

masa juvenil (kepiting muda) sampai dewasa, dan air laut pada masa pemijahan
sampai megalova.

Gambar siklus hidup


2.6.

Kebiasaan Makan
Kanna (1991) mengemukakan bahwa pakan yang diberikan untuk kepiting

berupa potongan-potongan daging ikan, cumi-cumi, maupun daging udang, dan


ukuran pakan juga disesuaikan dengan kemampuan kepiting untuk mencengkram
pakan. Kepiting tergolong pemakan segala (omnivora) dan pemakan bangkai
(scavenger). Sedangkan larva kepiting memakan plankton. Kepiting tergolong
hewan nocturnal, pada saat siang hari keping cendrung membenamkan diri atau
bersembunyi didalam lumpur.
2.7.

Ciri-ciri
Deskripsi kepiting bakau menurut Rosmaniar (2008), Famili portumudae

merupakan famili kepiting bakau yang mempunyai lima pasang kaki. Pasangan
kaki kelima berbentuk pipi dan melebar pada ruas terakhir. Karapas pipi atau
cagak cembung berbentuk heksagonal atau agak persegi. Bentuk ukuran bulat
telur memanjang atau berbentuk kebulatan, tapi anterolateral bergigi lima sampai
sembilan buah. Dahi lebar terpisah dengan jelas dari sudut intra orbital, bergigi
dua sampai enam buah, bersungut kecil terletak melintang atau menyerong.

Pasangan kaki terakhir berbentuk pipih menyerupai dayung. Terutama ruas


terakhir, dan mempunyai tiga pasang kaki jalan.
Kepiting bakau Scylla serrta memiliki bentuk morfologi yang bergerigi,
serta memiliki karapas dengan empat gigi depan tumpul dan setiap margin
anterolateral memiliki sembilan gigi yang berukuran sama. Kepiting bakau
memiliki capid yang kuat dan terdapat beberapa duri (Motoh 1979 dan Perry
2007).
2.8.

Reproduksi
Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya

saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting
betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina
memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa
bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat
(bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan
ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).
Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa
spesies

dapat

membawa

puluhan

hingga

ribuan

telur

ketika

terjadi

pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari kemudian menjadi larva
(individu baru) yang dikenal dengan zoea. Ketika melepaskan zoea ke perairan,
sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat
dengan mudah lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai
plankton dan melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu
agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Teknik Budidaya Kepiting


3.1.1 Syarat ketentuan lokasi
Fakrtor utama yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi budidaya
kepiting yaitu tersedianya sumber air baik syarat maupun jumlahnya, tipe dan
struktur tanah yang baik, tersedianya pakan yang cukup, dekat dengan sarana dan
prasarana produksi, pasar yang baik, dan tersedianya tenaga lapang yang terampil.
Tambak pemeliharaan kepiting diusahakan mempunyai kedalaman 0,8-1,0
meter dengan salinitas air antara 15-30 ppt. Tanah tambak berlumpur dengan
tekstur tanah liat berpasir (sandyclay) atau lempung berliat (silty loam) dan
perbedaan pasang surut antara 1,5-2 meter.
Tanah yang cocok untuk budidaya kepiting adalah tanah yang memiliki
fungsi terutama untuk penahan air, karena fungsi ini berhubungan dengan fungsi
tanah dasar dan tanah pematang tambak. Tanah yang baik untuk penahan air
adalah tanah berlumpur dengan tekstur liat berpasir (sandy clay) atau lempung
berliat (silty loam). Selain sebagai penahan air tanah tambak juga berfungsi
sebagai tempat hidup dan sumber unsur hara bagi banyak organisme yang menjadi
sumber pakan bagi kepiting.
3.1.2

Desain dan Konstruksi Tambak


Apabila perlakuan terhadap kepiting selama masa pemeliharaan kurang

baik, seperti : mutu air kurang diperhatikan, makanan tidak mencukupi maka pada
saat kepiting tersebut mencapai kondisi biologis matang telur akan berusaha
meloloskan diri, dengan jalan memanjat dinding/pagar atau dengan cara membuat
lubang pada pematang. Untuk menghindari hal tersebut, maka konstruksi
pematang dan pintu air perlu diperhatikan secermat mungkin. Pada pematang
dapat dipasang pagar kere bambu atau dari waring, hal ini akan mengurangi
kemungkinan lolosnya kepiting.
Pemasangan pagar kere bambu atau waring pematang yang kokoh (lebar 24 meter) dilakukan diatas pematang bagian pinggir dengan ketinggian sekitar 60
cm. Pada tambak yang pematangnya tidak kokoh, pemasangan pagar dilakukan
pada kaki dasar pematang dengan tinggi minimal 1 meter.
9

3.1.3

Pemilihan Benih Kepiting Bakau


Kesehatan benih merupakan satu diantara factor yang menunjang

keberhasilandalam usaha penggemukan kepiting. Oleh sebab itu pemilihan dan


pengelolaan benihharus benar dan tepat. Kesehatan benih juga bisa dilihat dari
kelengkapan kaki-kakinya. Hilangnya capit akan berpengaruh pada kemampuan
untuk memegang makanan yang dimakan serta kemampuan sensorinya. Walaupun
pada akhirnya setelah ganti kulit maka kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini
memerlikan waktu, belum lagi adanya sifat kanibalisme kepiting, sehingga
kepiting yang tidak bisa jalan karena sedang ganti kulit sering menjadi mangsa
kepiting lainnya. Untuk itu maka harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih
lengkap. Benih kepiting yang kurang sehat warna karapas akan kemerah-merahan
dan pudar serta pergerakannya lamban.
3.1.4 Pengangkutan Benih Kepiting Bakau
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan perubahan
lingkungan namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan kematian
dalam jumlah banyak atau mengurangi sintasan. Pengangkutan benih sebaiknya
dilakukan sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar matahari. Terekposenya
benih kepiting kedalam sinar matahari bisa menimbulkan dehidrasi Yang pada
akhirnya cairan dalam tubuh kepiting akan keluar semuanya sehingga
menyebabkan kematian. Tingginya kematian benih setelah sampai tempat tujuan
biasanya disebabkan karena benih yang dibeli memang sudah lemah akibat sudah
di tampung beberapa hari oleh pedagang pengumpul. Biasanya kemsatian kepiting
terjadi setelah hari ke-4 dalam penampungan tanpa air. Wadah yang dipakai dalam
pengakutan kepiting sebaiknya tidak menyebabkan panas dan letakkan kepiting
dalam posisi hidup. Wadah sterofoam dengan panjang 1 m dan lebar 60 m dapat
menyimpan benih sebanyak 100-150 ekor. Untuk benih yang diiikat, lakukan
penyiraman sebanyak 2-3 kali penyiraman dengan air berkadar garam 10-25 ppt,
selama pengangkutan 5-6 jam.

10

3.1.5

Penebaran Benih Kepiting Bakau


Pada lokasi penghasil kepiting tangkapan dari alam, pada musim benih

untuk budiadaya tradisional petani hanya mengandalkan benih kepiting yang


masuk secara alami pada saat pasang surut air. Setelah beberapa bulan mulai
dilakukan panen selektif dengan memungut kepiting yang berukuran siap jual.
Dapat juga kepiting yang sudah mencapai ukuran tersebut dilepas kembali ke
dalam petak pembesaran untuk memperoleh ukuran atau kegemukan yang lebih
besar.
Pada budidaya polikultur dengan ikan bandeng, ukuran benih kepiting
dengan berat 20-50gram dapat ditebar dengan kepadatan 1000-2000 ekor/Ha, dan
ikan bandeng gelondongan yangberukuran berat 2-5 gram ditebar dengan
kepadatan 2000-3000 ekor/Ha. Pada budidaya sistem monokultur benih kepiting
dengan ukuran seperti tersebut diatas ditebar dengan kepadatan 5000-15000
ekor/Ha.
3.1.6

Pemeliharan Kepiting Bakau


Penempatan karamba dalam petak tambak disarankan diletakkan didekat

pintumasuk/keluar air. Posisi karamba sebaiknya menggantung berjarak 15 cm


dari dasar perairan yang tujuannya agar sisa pakan yang tidak termakan jatuh ke
dasar perairan tidak mengendap didalam keramba. Diusahakan seminggu 2 kali
karamba

dipindah

dari

posisi

semula

hal

ini

bertujuan

agar

terjadi

sirkulasi/pergantian air. Kegiatan dalam pemeliharaan setelah penebaran


dilakukan Pemberian pakan rucah lebih diutamakan dalam bentuk segar sebanyak
5 -10% dariberat badan danndiberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore/malam
hari. Penggantian air dilakukan bila terjadi penurunan kualitas air. Sampling
dilakukan setiap 5 hari untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan dan
kesehatan kepiting. Dengan pengelolaan pakan yang cermat,cocok dan tepat
jumlah maka dalam tempo 10 hari pertumbuhan kepiting bisa diketahui.
Metode yang digunakan untuk tujuan produksi kepiting bertelur ada dua
macam yakni : dengan sistem kurungan dan sistem karamba apung.
A. Sistem Kurungan

11

Kurungan dapat dibuat dari bahan bambu yang dibuat menjadi


rangkaian. Lebar bilah bambu 1-2 cm dengan panjang 1,7 meter. Bilah-bilah
bambu dirangkai secara teratur sehingga membentuk kere atau semacam
pagar.Kere ini kemudian dipasang pada saluran tambak memanjang pada
bagian pinggirnya, bila dipasang dalam tambak agar ditempatkan paada bagian
yang relatip dalam dan mendapat pergantian air yang cukup. Kere atau pagar
bambu ditancapkan sedalam 30 meter dengan bagian bawah dibuat lebih rapat
yang bertjuan agar kepiting tidak lolos. Untuk penempatan kurungan pada
saluran tambak ukurannya disesuaiakan dengan lebar saluran tersebut agar
tidak menggangu kelancaran aliran saluran tambak tersebut. Untuk skala yang
lebih besar dapat menggunakan petakan tambak dengan luasan antara 0,25-0,50
Ha dengan pagar keliling darin kere bambu ataupun waring.
B. Keramba apung
Selain menggunakan kerungan, untuk budidaya kepiting betelur dapat juga
menggunakan keramba apung. Karamba apung dibuat dari rangkain bilah
bamboo seperti pada pembuatan kere,kemudian kere yang sudah jadi dirangkai
menjadi kotak yang ukurannya disesuaikan dengan lokasi dimana karamba
apung akan ditempatkan. Selanjutnya pada sisi panjang yang berlawanan
dipasang pelampung yang dibuat dari potongan bambu yang masih utuh atau
dari bahan lainnya. Penempatan karamba apung ini pada temapt bergantian
airnya, seperti pada saluran, tepi sungai dan tempat lainnya yang memenuhi
syarat diatas. Proses produksi kepiting bertelur paling lama berlangsung sekitar
5-14 hari atau tergantung ukuran awal penebaran. Singkatnya masa
pemeliharaan ini juga dimungkinkan karena kepiting betina yang ditebar
dengan berat sekitar 150 gram biasanya sudah mengandung telur.

3.1.7

Pemberian pakan kepiting bakau

12

Pakan yang baik adalah pakan yang sesuai dengan perkembangan


kepiting.Masing-masing tahp perkembangan (stadia) kepiting, memerlukan jenis
pakan yang berbeda.Untuk lebih mudahnya dalam penyediaan pakan kepiting
dibagi menjadi dua tahap perkembangan hidup. Pertama larva seperti benih,
kedua benih sampai ukuran konsumsi/induk
Pada stadium larva kepiting cenderung sebagai pamakan plankton.
Semakin besar ukurannya, kepiting manjadi omnivora atau pemakan segala.
Sesuai dengan kebiasaan makannya di alam, jenis pakan yang disukai antara lain
chlorella, ikan kecil ataupun anak ikan dan udang-udangan seperti rotifera
(Brachianus plicatilis) dan artemia.
Berbagai jenis pakan lain seperti : ikan rucah, usus ayam, kulit sapi, kulit
kambing, bekicot, keong sawah, dan lain-lain. Dari jenis pakan tersebut, ikan
rucah segar lebih baik ditinjau dari fisik maupun kimiawi dan peluang untuk
segera dimakan lebih cepat karena begitu ditebar akan tenggelam. Hal ini
berkaitan erat dengan kebiasaan kepiting yang biasa makan didasar. Pemberian
pakan pada usaha pembesaran hanya bersipat suplemen dengan dosis sekitar 5 %.
Lain halnya pada usaha kepiting bertelur dan usaha penggemukan, pemberian
pakan harus diperhatikan dengan dosis antara 5-10 % dari berat kepiting yang
dipelihara. Kemauan makan kepiting muda lebih besar, karena pada periode ini
dibutuhkan sejumlah makanan yang cukup banyak untuk pertumbuhan dan proses
ganti kulit. Pakan buatan atau pakan yang diramu sendiri juga bisa digunakan
untuk pembesaraan kepiting. Kelebihan pakan buatan dibanding pakan segar,
yakni dapat dibuat dan digunakan setiap waktu sehingga ketersediaannya lebih
terjamin. Selain itu kandungan gizinya dapat diatur sendiri dan biayanya bisa
disesuaikan dengan keadaan modal.

3.1.8. Penyakit dan penaggugalngannya

13

Penyakit yang sering menyerang kepiting bakau selama ini diketahui


bahwa dengan kematian yang tinggi terjadi pada stadium yang ebrbedfa terutama
pada tingkat-tingkat zoea awal, akhir, dan megalopa, salah satu factor
penyebabnya adalah jamur.
Adapun

timbulnya jamur tersebut akibat kondisi lingkungan media

pemeliharaan yang tidak stabil, misalnya temperatur naik cuup tinggi pada siang
hari dan turun dastis pada malam hari dan kadar oksigen terlarut yang rendah
sehingga menyebabkan kepiting tersebut menjadi stress serta memudahkan
patogen untuk menyerang.
Jenis

No
1.

Penyakit

Terdapat

(Legenidium

putih

sp

Fusarium sp)

3.1.8

Bahan Kimia

Jamur
dan

Pengobatan pencegahan

Gejala
bintik
pada

Direndam
larutan

dalam

Bahan Alami
Dengan

ekstrak

daun

Erithromycy

sambiloto dan daun miana

bagian yang di

dengan dosis 1,3ppm,

dengan dosis 1015mg/lt air

serangnya.

Herbisida treplan 0,02

setiap hari, karena Bersifat

ppm dan Furazolidon 1

antibiotic

ppm dilakukan setiap 3

yang

hari sekali berselang-

menolak/mencegah

seling.

timbulnya jamur.

dan

antiseptic
dapat

Pemanenan kepiting Bakau


Pemeliharaan kepiting di karamba dapat dilakukan selama 15 hari,

tergantung pada ukuran benih dan laju pertumbuhan pemanenan kepiting dapat
dilakukan secara selektif, dimana pemanenan ini dilakukan dengan jalan memilih
kepiting yang ukurannya telah mencapai ukuran konsumsi. Laju pertumbuhan
oleh jenis pakan yang diberikan dan kualitas air tambak. Untuk memanen kepiting
digunakan alat berupa seser baik untuk tujuan pemanenan total maupun selektif.
Pelaksanaan panen harus dilakukan oleh tenaga terampil untuk menangkap dan
kemudian mengikatnya. Selain itu tempat dan waktu penyimpanan sebelum

14

didistribusikan kepada konsumen menentukan kesegaran dan laju dehidrasi karena


kehilangan berat sekitar 3 - 4% dapat menyebabkan kematian.
3.1.9 Pasca Panen Kepiting Bakau
Salah satu hal yang menguntungkan dalam penanganan kepiting setelah
dipanen adalah kemampuannya bertahan hidup cukup lama pada kondisi tanpa air.
Namun demikian,penanganan yang kurang baik tetap saja akan menurunkan
kondisi kesehatannya dan dapat menyebabkan kematian.
Apabila kepiting setelah dipanen langsung dimasukkan kedalam keranjang
dengan mengikat capit, kaki jalan dan kaki renangnya yang merupakan alat gerak
yang cukup kuat, maka kepiting tersebut akan saling capit satu dengan yang
lainnya. Kondisi demikian akan menimbulkan kerusakan secara fisik pada tubuh
kepiting

dan

mempengaruhi

kondisi

fisiologis

yang

akhirnya

dapat

mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi keadaan tersebut kepiting yang baru


ditangkap harus segera diikat sebelum dimasukkan ke dalam keranjang.
Cara pengikatan kepiting yang baru ditangkap dapat dilakukan seperti
dibawah ini:
1. Pengikatan kedua capit dan seluruh kaki-kakinya.
2. Pengikatan capitnya saja dengan satu tali.
3. Pengikatan masing-masing capit dengan tali terpisah.
Tali pengikat dapat menggunakan tali rafia atau jenis tali lainnya yang
cukup kuat. Setelah kepiting diikat, baik pengikatan capitnya saja maupun
pengikatan

seluruh

kaki-kakinya

akan

mempermudah

penanganan

dan

pengangkutannya.
Penanganan kepiting yang telah disusun dalam keranjang yang perlu
mendapat perhatian ialah tetap menjaga suhu dan kelembaban.Usahakan suhu
tidak lebih tinggi dari 26C dan kelembaban yang baik adalah 95%. Cara yang
dapat dilakukan untuk menjaga suhu dan kelembaban ideal bagi kelangsungan
hidup kepiting selama dalam pengangkutan ialah : Celupkan kepiting ke dalam air
payau (salinitas 15-25) selama kurang lebih 5 menit sambil digoyang-

15

goyangkan agar kotoran terlepas. Setalah kepiting disusun kembali di dalam


wadah. tutuplah wadah dengan karung goni basah.

16

BAB IV
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa para pembudidaya kepiting
bakau dalam membudidayakanya harus dengan sistem yang sudah ada. Budidaya
kepiting bakau sangat mudah diterapakn oleh para pembudidaya karena teknik
budidayanya tidak begitu sulit mulai dari pemilihan lokasi, desain konstruksi
tambak, pemilihan benih, pengangkutan benih,penebaran benih, pemaliharan,
pemanenan, dan sampai pasca panen.
Kepiting bakau pada saat ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi tidak
hanya didalam negeri bahkan bias diekspor ke luar negeri. Dalam hal ini kepiting
bakau juga dapat meningkatkan hasil perikanan.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 1992. Pemeliharaan kepiting. Kanisius. Yogyakarta.


Amri, K.

2003 Budidaya Udang Windu Secara Intensif (Kiat Mengatasi


Permasalahan Praktis), Agromedia Pustaka. Jakarta

17

BBPMHP. 1995. Petunjuk Teknis Tentang Pengolahan kepiting Bakau dan


Rajungan. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.
Ghufron, Kardi. 1997. Budidaya Kepiting dan Ikan Bandeng. Dahara Prize.
Semarang.
Ichsan M. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan Kepiting Bakau
Sehat Produksi Meningkat. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian,
Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor
Irmawati. 2005. Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau Scylla sp Di Kawasan
Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, Lembaga
Penelitian

UNHAS, (Online),

(http://www.unhas.ac.id,

diakses 15 November 2012).


Juwana, S. 2004. Penelitian Budi Daya Rajungan dan Kepiting: Pengalaman
Laboratorium dan lapangan, Prosiding Simposium Interaksi Daratan
dan Lautan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Kanna, Iskandar. 1991. Budidaya Kepiting Bakau. Kanisius. Yogyakarta
Nur, Syaripah.

2004 Progam Pengembangan Udang Windu di Kabupaten

Lampung Timur, STPP Bogor


Purwaningsi S, DKK. 2005. Pengaruh Lama Pentimpanan Daging Rajungan Dan
Keping Rebus Pada Suhu Kamar. Buletin Teknologi Hasil Perikanan.
Vol VIII Nomor 1 Tahun 2005
Soim, Ahmad. 1994. Pembesaran Kepiting. Swadaya. Jakarta
Surahman, Winarno. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik.
Tarsito : Bandung.

18