Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

KANKER RONGGA MULUT

Pembimbing:
dr. Lopo Triyanto, Sp.B (K)Onk

Disusun Oleh :
Fikrianisa Safrina

G4A014117

SMF ILMU PENYAKIT BEDAH ONKOLOGI


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
Kanker Rongga Mulut

Disusun Oleh :
Fikrianisa Safrina

G4A014117

Diajukan untuk memenuhi syarat ujian kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Saraf
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Telah disetujui,
Pada tanggal

November 2016

Mengetahui,
Dokter Pembimbing

dr. Lopo Triyanto, Sp.B (K)Onk

A. Definisi
Kanker rongga mulut adalah kanker yang berasal dari epitel yang melapisi
mukosa rongga mulut dan organ-organ rongga mulut dan kelenjar ludah (terutama minor)
yang berada di dinding rongga mulut.
Yang termasuk dari batasan rongga mulut adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Anterior: tepi vermilion, baik bibir atas dan bawah


Superior: pallatum durum dan palatum molle, termasuk gingiva maxillae
Inferior: dasar mulut dan lidah, termasuk gingiva mandibulae
Lateral: mukosa bucca/pipi
Posterior: arcus pharyngeus anterior dekstra et sinistra, papilla circumvalata lidah,
uvula, arcus glossopalatini dekstra et sinistra

Dengan demikian, yang termasuk organ-organ rongga mulut adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bibir atas dan bawah


Lidah dua pertiga bagia anterior
Mukosa bucca/pipi
Dasar mulut
Gingiva maxillae et mandibulae
Trigonum retromolare
Pallatum durum et molle

Tidak termasuk kanker rongga mulut ialah:


1.
2.
3.
4.

Sarcoma jaringan lunak pada pipi atau bibir, sarcoma syaraf perifer
Rongga mulut intak
Tumor-tumor ganas odontogenik yang berasal dari mandibular ataupun dari maxilla
Karsinoma kulit pipi, bibir

B. Epidemiologi
Kanker rongga mulut lebih sering dijumpai di Negara berkembang dibandingkan
di Negara maju. Angka insiden di Indonesi tidak diketahui dengan pasti, karena tidak
adanya community based cancer registry. Di Asia tenggara dan selatan terutama India,
dinyatakan sebagai KRM terbanyak di dunia dengan 76.800 kasus baru. Squamous Cell
carcinoma merupakan tipe yang sering dijumpai di rongga mulut, faring, baik oro,
hipofaring, dan laring.
Kanker rongga mulut lebih banyak dijumpai pada laki-laki dengan perbandingan
3/2: 2/1, mekipun pada laki-laki cenderung menurun pada 2 dekade terakhir, sedangkan
pada wanita menetap. Usia median penderita kanker rongga mulut adalah 60 tahun, tetapi
angka insiden pada penderita muda cenderung menurun, sedangkan pada wanita menetap.

C. Etologi dan Faktor Risiko


Penggunaan tembakau dan cerutu merupakan faktor risiko untuk kejadia kanker
rongga mulut. Penggunaan bidis atau rokok tanpa filter yang dibuat sendiri di India
merupakan salah satu faktor risiko kanker rongga mulut di India.
Konsumsi alkohol dan minuman juga meningkatkan risiko, tertutama dikombinasi
dengan merokok. Gigi palsu yang kurang tepat juga memberikan iritasi kronis dan dapat
menyebabkan terjadinya kanker rongga mulut.
Diperkirakan suatu genetic susceptibility yang berhubungan dengan karsinogen
metabolizing system, DNA repair defect, cell cycle control apoptosis, gangguan fungsi
enzim Gluthation S transferase, kerusakan atau mutasi P53.
Infeksi virus EBV dan HPV berhubungan dengan karsinoma faring dan
diperkirakan dalam kanker rongga mulut. Kanker sel squamous rongga mulut menduduki
peringkat ke-6 terganas di dunia. Di Bangladesh dilakukan sebuah studi dan
membuktikan terdapatnya hubungan kanker rongga mulut dengan kejadian infeksi
human papiloma virus sebanyak 15-20% (Akhter et al., 2013). Tersebarnya human
papiloma virus (HPV) di rongga mulut pada pasien yang positif mengidap penyakit
infeksi HPV terdapat lokasi-lokasi yang predominan, yaitu perbatasan vermilion bibir,
sudut bibir, dan palatum durum. Lokasi-lokasi ini cenderung untuk terjadinya lesi mulut
dan berpotensi untuk terjadinya keganasan (Mravak-Stipetic et al., 2013).
Penelitian terbaru mengatakan risiko terjadinya kanker rongga mulut meningkat
pada pekerja lama di industri kayu, ini disebabkan karena terpaparnya suatu bahan kimia
karsinogenik yaitu phenoxyacetic acid. Terlepas dari kanker mulut, phenol sudah
diketahui meningkatkan risiko nasal carcinoma dan nasopharingeal carcinoma.
Radiasi ini meningkatkan risiko terjadinya kanker pada bibir, ini ditemukan pada
laki-laki berkulit putih di Amerika Serikat dengan insiden 4 per 100.000 penduduk
sebelum abad ke-20. Seiring bertambahnya waktu, risiko terhadap kanker ini berkurang
karena berkurangnya paparan sinar matahari akibat sedikitnya pekerjaan/aktivitas diluar
rumah.
Defisiensi vitamin A menyebabkan proses keratinisasi yang berlebihan pada kulit
di membran mukosa. Vitamin A juga memiliki fungsi protektif dan preventif terjadinya
prakanker mulut dan kanker mulut. Jumlah kandungan retinol dalam darah dan jumlah
kandungan beta-karoten pada makanan dipercayai dapat mengurangi risiko leukoplakia

dan squamous cell carcinoma pada mulut. Lecithin Retinol Acyltranferase (LRAT) dalam
meregulasi metabolism retinol (vitamin A) dengan cara mengesterifikasi retinol, pada
orang-orang dengan defisiensi enzim ini yang ditemukan pada orang dengan penyakit
kanker di kepala. dan leher dan meningkatkan risiko untuk terjadinya kanker rongga
mulut (Liu et al., 2010).
Infeksi sifilis di tingkat tersier sudah dibuktikan memiliki hubungan yang kuat
dengan berkembangnya kanker lidah di bagian dorsal. Penelitian ini menyebutkan risiko
relatifnya mencapai empat kali. Selain itu, seseorang yang menderita karsinoma lidah
memiliki risiko lima kali untuk hasil yang positif pada pemeriksaan serologi terhadap
antigen sifilis dibanding pada pasien yang tidak memiliki kanker lidah. Terlepas dari itu,
infeksi sifilis yang disertai memiliki keganasan pada rongga mulut jarang karena infeksi
tersebut telah terdiagnosa sekaligus terobati sebelum onset ditingkat tersier.
Hiperplastik kandidiasis sering menjadi kondisi prakanker di rongga mulut. Oleh
karena lesi ini seperti plak berwarna putih yang tidak bisa diangkat, ini juga dikenal
sebagai candidal leukoplakia. Namun, sulitnya dalam membedakan klinis dan
histopatologi hiperplastik kandidiasis dengan leukoplakia yang disebabkan oleh
kandidiasis. Sebuah penelitian eksperimen menunjukkan bahwa beberapa jenis Candida
albicans menyebabkan lesi hiperkeratosis pada lidah pada bagian dorsal tikus tanpa
disertai faktor-faktor lainnya. Walaupun Candida spp. secara umum menyebabkan
perkembangan kanker mulut dan esofagus, namun petogenesis dan patomekanisme masih
belum dapat dijelaskan dengan pasti. C. albicans merupakan mikroorganisme yang
normal dalam rongga mulut dan bisa menjadi agen penyebab suatu penyakit apabila
terganggunya ekosistem dalam rongga mulut (Bakri et al., 2010). Sebuah studi
menunjukkan adanya hubungan riwayat terjadinya kanker leher dan kepala dengan
kejadian kanker rongga mulut dan adanya hubungan dengan kebersihan mulut seseorang
khususnya penyakit kandidiasis di rongga mulut (Radoi et al., 2013).
D. Klasifikasi Kanker Rongga Mulut Berdasarkan Letak
Menurut Regezi et al. (2008) Berdasarkan lokasinya kanker rongga mulut dibagi
atas beberapa lokasi, yaitu :
1. Karsinoma di bibir, sebanyak 25-30% pada kanker rongga mulut dan tersering di
bibir bawah. Menurut Neville et al. (2002) hampir 90% lesi terdapat di bibir bawah.

2. Karsinoma di lidah, insiden ini sebanyak 25-40% dan menurut Neville et al. (2002),
karsinoma ini merupakan lokasi tersering pada kejadian kanker rongga mulut yang
biasanya terletak di bagian postero-lateral, permukaan ventral lidah (20%) dan 4% di
dorsal. Kejadian karsinoma lidah sebanyak lebih dari 50% dari kanker rongga mulut
di Amerika Serikat.
3. Karsinoma di dasar lidah, karsinoma ini menduduki urutan kedua tersering pada
karsinoma rongga mulut sebanyak 15-20% dan menurut Neville et al. (2002), dasar
lidah paling sering di jumpai pada laki-laki, dan dewasa ini meningkat juga pada
perempuan. Karsinoma di dasar lidah memiliki jumlah 35% pada bagian dalam
rongga mulut, dan lokasi terseringnya di garis tengah lidah dekat dengan frenulum
4. Karsinoma di mukosa bukal dan gingiva, lesi mukosa bukal bersamaan dengan lesi
gingiva memiliki insiden 10% pada squamous cell carcinoma rongga mulut.
Karsinoma di gingiva, lesi mukosa bukal bersamaan dengan lesi gingiva memiliki
insiden 10% pada squamous cell carcinoma rongga mulut.
5. Karsinoma di palatum, kanker ini memiliki insiden sebanyak 10-20% pada
karsinoma rongga mulut. Namun, kejadian kanker di palatum durum masih sangat
jarang dibanding palatum molle.

E. Klasifikasi Histopatologi
Macam-macam hsitopatologi yang dapat ditemukan:
1. Squamous cell carcinoma
2. Adenocarcinoma
3. Adenoid cystic carcinoma
4. Melanoma maligna
5. Lymphoma
Sebagian besar kanker rongga mulut merupakan tipe Squamous cell carcinoma,
meskipun tidak jarang dijumpai tipe histopatologi lain yang berasal dari glandula
salivarius minor, mucoepidermoid carcinoma, adenoid cystic carcinoma, acinic cell ca,
dan sebagainya. Muncul dan meningkatnya insiden HIV pada masyarakat dunia,
emnignkatkan insiden Kaposi sarcoa yang sering dijumpai pada mukosa palatum.
Sarcoma dari tulang mandibular ataupun dari maxilla dapat dijumpai yang potrusi ke
rongga mulut.

Beberapa lesi yang menunjukan lesi prekanker yaitu erytroplakial plasia,


leukoplakia (veruccosus plakia yang akan menjadi atipykal hyperplasia, dysplasia dan
akhirnya cancer insitu. Mutasi, kerusakan dan hypermethylation dari promotor gen p53
dan p16, suatu tumor suppressor genes merupakan hal penitng untuk terjadinya SCC
rongga mulut.
Yang perlu dilaporkan dari hasil pemeriksaan specimen patologi pada klinisi
bedah harus meliputi;
1. Tipe histopatologi tumor
2. Grading histologis
3. Pemeriksaan atau deskripsi pTNM (pathological atau postsurgical staging)
F. Stadium Klinis
Std
0

T
Tis

N
N0

M
M0

I
II

T1
T2

N0
N0

M0
M0

TNM
T0
Tis
T1
T2
T3
T4a
T4b

III

T3
N0
T1
N1
T2
N1
T4
N0,N1
Any T
N1
N2

M0
M0
M0
M0
M0
M0

IVb

Any T

N3

M0

IVc

AnyT

AnyN

M1

IVa

Keterangan
Tidak ditemukan tumor
Tumor in situ
Tumor 2cm
Tumor > 2cm - 4cm
Tumor > 4cm
Tumor bibir -> infiltrasi tulang alveolaris
inferior dasar mulut, kulit
Infiltrasi masticator space, pterygoid plate skull
base encasement a.carotis

N0
N1
N2a
N2b
N2c
N3

Tidak ada metastase pada KG


Meta ipsilateral 1 KGB 3cm
Meta ipsilateral 1 KGB > 3cm - =6cm
Meta multiple 6cm
Meta bilateral/kontralateral 6cm
Meta KGB >6cm

M0
M1

Tidak ditemukan metastasis jauh


Metastasis jauh

G. Pemeriksaan klinis
1. Anamnesis
Anamnesis dtujukkan pada hal-hal dibawah ini:
a. Keluhan utama (spesifik untuk kanker rongga mulut: nyeri, hot potato chewing
sign, kesulitan makan, menelan dan berbicara)
b. Perjalanan penyakit, onset dan progresivitas
c. Faktor risiko
d. Pengobatan yang pernah didapatkan (bedah, kemoterapi radioterapi)
e. Hasil pengobatan
f. Keterlambatan dan pengobatan alternatif
2. Pemeriksaan fisik
Status generalis pasien meliputi keadaan umum pasien dan karnofsky score.

Status lokalis pasien meliputi inspeksi, palpasi dan palpasi bimanual:


a. Melihat lokasi tumor dalam rongga mulut
b. Diperiksa dengan alat bantu yang cukup, seperti lampu kepala dan spaltel lidah
c. Seluruh rongga mulut diperiksa secara teliti
d. Bentuk tumor (fungating, ulserasi, indurasi)

e. Untuk inspeksi orofaring, lidah haruus dijulurkan keluar sejauh mungkin, atau
dibantu dengan ditarik sejauh mungkin keluar oleh pemeriksa
f. Palpasi tumor rongga mulut harus dilakukan dengan halus atau gentle, harus tidak
nyeri
g. Palpasi bimanual, dengan memeriksa satu/dua jari di dalam mulut dan jari-jari
tangan lain memeriksa dari luar. Hal ini membantu menemukan asal tumor,
indurasi sekitar ulkus, tumor dasar mulut, ada tidaknya sealithiasid sealoadenitis
yang kadang menyerupai tumor dasar mulut.
h. Palpasi bimanual perlu dikerjakan dengan general aestesi ntuk memudahkan

a.
b.
c.
d.
e.

menentukan stadium T nya approach pembedahan ataupun operabiilitasnya


Status regional
Inspeksi dan palpasi untuk memeriksa ada tidaknya pembesaran KGB leher
Lokasi dan level pembesaran KGB
Mobilitas KGB tersebut
Jumlah dan ukuran KGB terbesar
Ipsilateral atau juga kontralateral
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan foto polos
Foto polos manidbula (posisi AP lateral, Fisler, panoramic, oklusal, Foro kepala
(lateral, AP, Waters Oklusa), Foto Hap dkerjakan untuk tuor palatum durum, Foto
thoraks untuk kepentingan melihat stadium
b. USG
Untuk evaluasi KGB leher dan USG liver untuk evaluasi metastasis
c. CT scan/MRI
Untuk melihat ekstensi tumor
d. PET Scan (FloruoDeoxyGlucose PET)
Memberikan informasi akurat akan adanya tumor primer yang kecil, bahkan
sebesar <4mm.
Pemeriksaan endoskopi
Menggunakan fibreoptic scope, penting untuk menentukan ada tidaknya
synchronous cancers ataupun pada saat follow up untuk mengevaluasi ada
tidaknya metachronus cancers. Keadaan diatas relative sering terjadi karena
adanya field cancerization.
Pemeriksaan laboratorium
Untuk pemeriksaan dasar, untuk melihat ada tidaknya komorbiditas dan
sebagai persiapan terapi, baik terapi bedah, kemoterapi maupun radioterapi.

Pemeriksaan Patologi
Pemeriksaan histopatologi untuk melihat tipe histopatologi, diferensiasi
atau grading, adanya invasi sel kanker pada pembuluh darah dan limfe.
Pemeriksaan patologi dilakukan dari sel atau jaringan didapatkan dari FNA,
biopsy terbuka dan specimen bedah. Biopsy eksisi adalah tindakan untuk
diagnostic sekaligus terapetik. Dikerjakan jika tumor kecil (T1), dengan eksisi
luas (1cm bebas tumor). Biopsy sebaiknya dilakukan dengan general anestesi
untuk mendapatkan jaringan yang representative dan sekaligus eksisi luas (pada
tumor kecil). Melakukan anestesi local langsung pada jaringan tidak
direkomendasikan pada jaringan tumor karena kemungkinan akan mendrong selsel kanker masuk lebih jauh.
H. Terapi
Penatalaksanaan kanker rongga mulut harus bersifat ultidisipliner yang akan
melibatkan beberapa disiplin dalam onkologi, yaitu antara lain.
1. Surgical oncologist
2. Oncoplasty surgeon
3. Radiatin oncologist
4. Medical oncologist
5. Oral/maxilla-facial surgeon
6. Rehabilitation specialist (speech therapist, physical therapist)
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kanker rongga mulut
ialah dengan eradikasi dari tumor, pengembalian fungsi dari rongga mulut serta aspek
kosmetik/penampilan penderita. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
penentuan macam terapi adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

umur penderita
keadaan umum penderita
fasilitas yang tersedia
kemampuan dokternya
pilihan penderita
Untuk lesi kcil (T1-T2), tindakan operasi atau radiasi saja dapat memberikan

angka kesembuhan yang tinggi. Dengan catatan bahwa radioterapi saja pada T2
memberikan angka kekambuhan yang cukup tinggi daripada tindakan operasi.

Untuk T3-T4 terapi kombinasi operasi dan radioterapi memberikan hasil yang
paling baik. Pemberian neo-adjuvant radioterapi dan atau kemoterapi sebelum tindakan
operatif dapat diberikan pada kanker rongga locally advanced (T3-T4). Radioterapi
dapat diberikan secara interstitial atau eksternal, tumor yang eksofitik dengan ukuran
kecil akan lebih banyak berhasil daripada tumor yang endofitik dengan ukuran besar.
Peran kemoterapi pada penanganan kanker rongga mulut masih belum banyak,
dalam tahap penelitan, kemoterapi hanya dipakai sebagai neo-adjuvant preoperatif atau
adjuvant post operative untuk sterilisasi kemungkinan adanya mikrometastase. Kanker
rongga mulut terutama jenis SCC, memeberikan respons yang cukup baik terhadap
pemberian kemoterapi. Kemoterpi dipergunakan sebagai terapi neo adjuvant, terutama
pada operable local advanced oral SCC dengan hasil yang sama, dibandingkan dnegan
modalitas bedah dan radioterapi pasca bedah/adjuvant. Pemberian kemoterpi adjuvant
belum menjadi modalitas terapi yang established, terutama ditujnjukan pada
mikrometastasis. Sebagai pedoman terapi untuk kanker rongga mulut:

Std

TNM
T1N0M0

Operasi
Eksisi radikal

Atau

Radioterapi
Keratif, 50-70 Gy

II

T2N0M0

Eksisi radikal

Atau

Kuratif, 50-70 Gy

III

T3N0M0
T1,2,3N1M0
T4N0,1M0
TiapTN2M0
TiapTN3M0
Operable

Eksisi radikal

Dan

Post op 30-40Gy

Eksisi
radikal Dan
kecuali T4b
Dan
Eksisi
radikal
kecuali T4b

Post op 30-40 Gy
Post op 30-40 Gy
Paliatif,
50-70 Gy

Dan CT

Paliatif

Paliatif

Paliatif

Operasi
untuk
residif post RT
Tidak dianjurkan

RT untuk residif Dan CT


post op
Tidak dianjurkan
CT

IVA
IVB

IVC
Residif
local
Metastas

Inoperable
TiapT
TiapNM1

Kemoterapi
Tidak
dianjurkan
Tidak
dianjurkan
Dan CT

e
1. Karsinoma bibir
T1 : eksisi luas atau radioterapi
T2 : eksisi luas bila mengenai komisura, radioterapi akan memberikan kesembuhan
dengan fungsi dan kosmetik lebih baik
T3 : eksisi luas +deseksi suprahioid+radioterpi pasca bedah
2. Karsinoma dasar mulut
T1 : eksisi luas atau radioterapi
T2 : tidak lekat dengan periosteum eksisi luas Lekat dengan periosteum eksisi luas
dengan mandibulektomi marginal
T3,4 :eksisi luas dengan mandibulektomi marginal + diseksi supraomohioid+ radioterapi
pasca bedah
3. Karsinoma lidah
T1,2 : eksisi luas dan radioterapi
T3,4 : eksisi luas + diseksi supraomohioid+ radioterapi pasca bedah
4. Karsinoma bukal
T1,2 : eksisi luas bila mengenai komisura, radioterapi akan memberikan kesembuhan
dengan fungsi dan kosmetik lebih baik
T3,4 : eksisi luas + diseksi supraomohioid+ radioterapi pasca bedah
5. Karsinoma gingiva
T1,2 : eksisi luas dengan mandibulektomi marginal
T3 : eksisi luas dengan mandibulektomi marginal + diseksi supraomohioid+ radioterapi
pasca bedah
T4(Infiltrasi tulang/ cabut gigi setelah ada tumor) : eksisi luas dengan mandibulektomi
marginal + diseksi supraomohioid+ radioterapi pasca bedah
6. Karsinoma palatum
T1 : eksisi luas sampai periosteum
T2: eksisi luas sampai tulang dibawahnya
T3 : eksisi luas sampai tulang dibawahnya + diseksi supraomohioid+ radioterapi pasca
bedah
T4 (infiltrasi tulang) : maksilektomi infrastruktural parsial/total tergantung luas lesi +
diseksi supraomohioid+ radioterapi pasca bedah
Untuk karsinoma rongga mulut T3,T4 penanganan N0 dapat dilakukan diseksi leher
selektif atau radioterapi regional pascabedah. Sedangkan N1 yang didapatkan pada setiap T harus
dilakukan diseksi leher radikal. Bila memungkinkan eksisi luas tumor primer dan diseksi leher
tersebut harus dilakukan secara end-blok. Pemberian radioterapi regional pasca bedah tergantung

hasil pemeriksaan patologis metastase kelenjar getah bening tersebut (jumlah kelenjar getah
bening yang positif metastase, penembusan kapsul kelenjar getah bening/ekstra getah bening)
1. Terapi Kuratif
Terapi kuratif untuk kanker rongga mulut diberikan pada kanker rongga mulut
stadiumI,II,III.
a. Terapi utama
Terapi utama untuk stadium I dan II ialah operasi atau radioterapi yang masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sedangkan untuk stadium III, IV yang
masih operable ialah kombinasi antara operasi dengan radioterapi pasca bedah. Pada
terapi kuratif harus diperhatikan:
1) menurut prosedur yang benar, karena jika salah maka hasilnya tidak menjadi
kuratif
2) fungsi mulut untuk bicara, minum, makan, menelan, bernafas tetap baik
3) kosmetis cukup untuk diterima
Indikasi operasi :
1) kasus operabel
2) umur relatif muda
3) keadaan umum baik
4) tidak terdapat ko-morbiditas yang berat
Prinsip dasar operasi tumor rongga mulut:
1) Pembukaan harus cukup luas untuk dapat melihat seluruh tumor dengan
ekstensinya eksplorasi tumor, untuk menilai luas ekstensi tumor
2) Eksisi luas tumor
a) tumor tidak menginvasi tulang, eksisi luas 1-2 cm diluar tumor
b) menginvasi tulang eksisi luas disertai reseksitulang yang terinvasi
3) Diseksi KGB regional (RND = radical neck Disection atau modifikasinya),
kalau terdapat metastase KGB regional. Diseksi ini dikerjakan secara enblok
dengan tumor primer jika memungkinkan.
4) Tentukan radikalitas opersi durante operasi dar tepi sayatan dengan
pmeriksaan potong beku. Kalau tidak radikal buat garis sayatan baru yang
lebih luas sampai bebas tumor
5) Rekonstruksi defak yang terjadi
b. Radioterapi
Indikasi radioterapi:
1) kasus operabel
2) T1,2 tempat tertentu ( lihat diatas)
3) kanker pangkal lidah
4) umur relatif tua
5) menolak operasi
6) Ada ko-morbiditas yang berat

Radioterapi dapat diberikan dengan cara:


a) Teleterapi memakai ortovoltase, cobalt 60, Linec dengan dosis 5000-7000rads
b) Brakiterapi , sebagai booster dengan implantasi intratumoral, jarum irridium192
atau radium 224 dengan dosis 2000-3000rads.
c. Kemoterapi
Kemoterapi yang dapat dipakai antara lain:
1) Karsinoma epidermoid:
Obat-obat yang dapat dipakai: Cisplatin,

Methotrexate,

Bleomycin,

Cyclophosphamide, Adryamycin, dengan angka remisi 20-40%. Misalnya:


a) Obat tunggal: Methotrexate 30 mg/m2 2x seminggu
b) Obat kombinasi:
V = Vincristin

: 1,5 mg/m2 hl

B = Bleomycin

: 12 mg/m2 hl + 12 jam

M = Methotrexate : 20 mg/m2 h3, 8

diulang tiap
2-3 minggu

2) Adeno karsinoma :
Obat-obat yang dapat dipakai antara lain: Flourouracil, Mithomycin-C,
Ciplatin, Adyamycin, dengan angka remisi 20-30%. Misalnya:
a) Obat tunggal: Flourouracil
Dosis permulaan: 500 mg/m2
Dosis pemeliharaan: 20 mg/m2 tiap 1-2 minggu
b) Obat kombinasi:
F = Flourouracil: 500 mg/m2, hl,8,14,28
A = Adryamycin: 50 mg/m2, hl,21
diulang tiap
M = Mithomycin-C: 10 mg/m2, h1
6 minggu
d. Terapi tambahan
1) Radioterapi
Radioterapi tambahan diberikan pada kasus dengan terapi utamanya operasi.
Radioterapi pasca bedah diberikan pada T3 dan T4a setelah operasi, kasus
yang tidak dapat dilakukan eksisi radikal, radikalitas diragukan atau terjadi
kontaminasi lapangan operasi dengan sel kanker. Radioterapi pre-bedah
diberikan pada kasus yang operabilitasnya diragukan atau yang inoperabel.
2) Operasi
Operasi dilakukan pada kasus yang terapi utamanya radioterapi yang setelah
operasi radioterapi menjadi operabel atau timbul esidif setelah radioterapi
3) Kemoterapi
kemoterapi dilakukan pada kasus kontaminasi lapangan operasi oleh sel
kanker, kanker stadium III atau IV atau timbul residif setelah operasi dan atau
radioterapi.
e. Terapi komplikasi

Pada umumnya stadium I sampai II belum ada komplikasi penyakit, tetapi dapat
menjadi komplikasi karena terapi. Terapinya tergantung dari komplikasi yang ada,
misalnya nyeri diberikan analgetik, anemia diberikan hematinic, infeksi diberikan
antibiotic. Komplikasi operasi, radioterapi dan kemoterapi menurut jenis komplikasi
Terapi bantuan, dapat diberikan nutrisi yang baik, vitamin, dan lain-lain. Terapi
sekunder, kalau ada penyakit sekunder, diberikan terapi sesuai jenis penyakitnya
2. Terapi Paliatif
Terapi paliatif adalah untuk memperbaiki kualitas hidup penderita dan mengurangi
keluhannya terutama untuk penderita yang tidak dapat disembuhkan lagi. Terapi paliatif
diberikan pada penderita kanker rongga mulut yang:
a. stadium IV yang telah menunjukkan metastase jauh
b. terdapat komordibitas yang berat dengan haprapan hidup yang pendek
c. terpi kuratif yang gagal
d. usia sangat lanjut
Keluhan yang harus dipaliasi antara lain:
a. Loko regional: ulkus di mulut atau di leher, nyeri, sukar makan, minum, menelan
mulut berbau, anoreksia, dan fistula oro-kutan
b. Sistemik: nyeri, batuk, sesak nafas, berat badan menurun, sukar berbicara, dan
badan lemah

* Diseksi suprahioid untuk karsinoma bibir

Diseksi supraomohioid untuk karsinoma rongga mulut


Diseksi bilateral untuk lesi di garis tengah

Letak lesi ditengah (midline) : Untuk T 3,4 penanganan N negatif bilateral


N positif bilateral : RND dapat dikerjakan satu tahap dengan preservasi 1 v.jugularis
interna atau dikerjakan 2 tahap dengan jarak waktu 3-4 minggu.
*) Indikasi radioterapi ajuvan pada leher setelah RND :
1. Kelenjar getah bening yang mengandung metastase > 1 buah
2. Diameter kelenjar getah bening > 3 cm
3. Ada pertumbuhan ekstrakapsuler
4. High grade malignancy

Residif lokal/regional/jauh (metastase) penanganannya dirujuk ke penanganan T/N/M


seperti skema yang bersangkutan

DAFTAR PUSTAKA

J, Carew JF, Shah JP. Cancer of the Head and Neck, in Surgical Oncology-Contemporary
Principles &
Practice, Blaad KI, Daly JM, Karakousis CP (eds.), Mc.Graw-Hill
Co.,New York, 2001, pp.519-525
Greene FL,Balch CM, Fleming ID, Fritz ADG, Haller DG, Morrow M, Page DL. AJCC Cancer
Staging Handbook- TNM Classification of Malignant Tumors, Springer-Verlag
Heidelberg, Heidelberg, 2002.
Kazi

RA.
Current
Concepts
In
the
http://www.indiandoctors.com/papers.htm

Management

of

Oral

Cancer.

Mashberg, A.: Tolonium chloride (Toluidine) rinse. A screening method for recognation of
squamous carcinoma. Continuing study of oral cancer. IV. JAMA,
245: 24082410,1981.
Million RR, Cassisi NJ, Mancuso AA. Oral Cancer, in Management of Head and Neck Cancer: A
Multidisciplinary Aproach, Million RR and Cassisi NJ (eds), 2nd ed.,JB Lippincott Co.,
Philadelphia, 1994, pp.321-400
National Cancer Institute. Lip and Oral Cavity Cancer, Treatment statement for health
professionals, Med.News,
http://www.meb.unibonn.de/cancer.gov/CDR0000062930.html
Ord RA, Blanchaert RH. Current management of oral cancer- A multidisciplinary
JADA 2001; 132: 195-235

approach,

Panje, W.R.: Surgical Therapy of Oral Cavity Tumors. In Comprehensive Management of Head
and Neck Tumors, Thawley, S.E., Parje, W.R. (eds), Philadelphia, W.B. Saunders Co.,
1987,pp.460-606
Rubin P, McDonald S. and Oazi R.: Clinical Oncology. A multidisciplinary Approach for
Physicians and Students. 7th. ed., WB.Saunders Co. Philadelphia, 1993, pp.332-336
Ship JA, Chavez EM, Gould KL, Henson BS, Sarmadi M. Evaluation and Management of Oral
Cancer. Home Health Care Consultant 1999;6: 2-12
WHO : ICD-10 International Classification of Disease and Related Health Problems, WHO,
Geneve, 1992.
Schantz S P, Harrison L B, Forastiere A A, Tumors of the Nasal Cavity and Paranasal Sinuses,
Nasopharynx, Oral Cavity, and Oropharynx, in DeVita Jr V T, Hellman S, Rosenberg S
A (ed), Cancer Principles & Practice of Oncology, 6 th ed, Philadelphia, LippincottRaven, 2001, 797-86

Anda mungkin juga menyukai