Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

TUGAS 1

PEMBUATAN EKSTRAK KERING RIMPANG KENCUR


(Kaempferia galanga)

KELAS

:A

KELOMPOK

:6

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

1. TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu melakukan ekstraksi dengan etanol 96% sampai menjadi ekstrak
kering/pekat dari suatu tanaman.
2. PRINSIP TEORI
A. Tanaman (Kaempferia galanga)
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Kaempferia

Spesies

: Kaempferia galanga

Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis tanaman obat yang tergolong
dalam

suku

temu-temuan

(Zingiberaceae). Rimpang atau rizoma tanaman

ini

mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan. Terdapat
pula kerabat dekat kencur yang biasa ditanam dipekarangan sebagai tanaman
obat, temu rapet (K. rotunda Jacq.), namun mudah dibedakan dari daunnya.
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau
pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun
kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh
menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk
dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum)
berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan.
Tumbuhan ini tumbuh baik pada musim penghujan. Kencur dapat ditanam dalam pot
atau di kebun yang cukup sinar matahari, tidak terlalu basah dan setengah ternaungi.
B. Metode ekstraksi
Ekstrak merupakan bahan yang diperoleh dari proses ekstraksi. Proses ekstraksi adalah
cara yang digunakan oleh tenaga ahli untuk memperoleh zat yang mengandung
senyawa aktif dari suatu bahan alam dengan menggunakan pelarut yang sesuai.
Ekstrak kering merupakan hasil olahan lebih lanjut dari ekstrak kental. Cara
pembuatan ekstrak kering dapat dilakukan dengan mengeringkan ekstrak kental baik

menggunakan sinar matahari, oven, spray dryer maupun frezee dryer. Untuk ekstrak
yang berasal dari temu-temuan maupun daun dapat diolah menjadi ekstrak kering
dengan bantuan spray dryer maupun frezee dryer. Untuk mempersingkat waktu
pengeringan kedalam ekstrak ditambahkan bahan pengisi baik berupa dekstrin ataupun
amylum. Kemudian diaduk-aduk lalu dikeringkan. Pengeringan dengan sinar
matahari juga boleh dilakukan tetapi hasilnya kurang higienis.
Ekstrak kental/oleoresin dapat diperoleh dengan cara mengekstrak bahan baik yang
berasal dari rimpang maupun daun. Simplisia yang telah digiling dicampur dengan
pelarut etanol 70% kemudian dikocok.

Setelah dikocok didiamkan semalam

kemudian esoknya dapat disaring. Hasil saringan (filtrat) diuapkan menggunakan


rotavapor sehingga dihasilkan ekstrak kental dan selanjutnya dianalisis bahan
aktifnya.. Mutu ekstrak dipengaruhi oleh mutu simplisia dan teknik ekstraksi.
Ada beberapa cara membuat ekstrak yaitu:
1. Metode maserasi. Maserasi merupakan ekstraksi bahan dengan pelarut pada suhu
kamar selama waktu tertentu dengan sesekali diaduk/digojok.
2. Metode remaserasi. Remaserasi dilakukan dengan pengulangan penambahan
pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama.
3. Metode digesti. Digesti merupakan maserasi kinetik yang dilakukan pada suhu
diatas suhu kamar, biasanya pada suhu 40-50C. Maserasi kinetic dilakukan
dengan pengadukan terus-menerus.
4. Metode infundasi. Infundasi merupakan metode ekstraksi dengan pelarut air. Pada
waktu proses infundasi berlangsung, temperatur pelarut air harus mencapai suhu
90C selama 15 menit.
5. Metode dekoksi. Dekoksi merupakan proses ekstraksi yang mirip dengan proses
infundasi, hanya saja infuns yang dibuat membutuhkan waktu lebih lama ( 30
menit) dan suhu pelarut sama dengan titik didih air.
6. Metode perkolasi. Perkolasi adalah proses ekstraksi dengan pelarut yang selalu
baru sampai sempurna. Secara umum proses perkolasi ini dilakukan pada
temperatur ruang.
7. Metode soxkletasi. Soxkletasi yaitu proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut
yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus soxklet sehingga
terjadi ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik.

Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian
tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat aktif
terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda demikian pula
ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dengan pelarut tertentu dalam
mengekstraksinya. Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen
kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip
perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi
pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Harbone, 1987;
Dirjen POM, 1986).
Metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain maserasi dan
perkolasi. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan
mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan
kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel,1989).
Maserasi merupakan proses penyarian yang paling sederhana dan banyak
digunakan. Maserasi adalah proses pengestrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan disertai beberapa kali pengadukan pada temperatur ruang. Maserasi
dilakukan dengan cara merendam bahan-bahan tumbuhan yang telah dihaluskan dalam
pelarut terpilih. Bahan-bahan tumbuhan yang dimaserasi tersebut disimpan dalam
waktu tertentu dalam ruang yang gelap dan sesekali diaduk. Metode ini memiliki
keuntungan yaitu cara pengerjaannya yang lebih mudah, alat-alat yang digunakan
sederhana, dan cocok untuk bahan yang tidak tahan pemanasan. Di sisi lain, metode
ini memiliki kelemahan yaitu dibutuhkan pelarut yang cukup banyak (Departemen
Kesehatan RI,1986).
Perkolasi merupakan proses penyarian serbuk simplisia dengan pelarut yang cocok
dengan melewatkan secara perlahan-lahan melewati suatu kolom. Serbuk simplisia
dimasukkan ke dalam percolator, dengan cara mengalirkan cairan melalui celah untuk
keluar ditarik oleh gaya berat seberat cairan dalam kolom. Pembaharuan bahan pelarut
secara terus menerus, sehingga memungkinkan berlangsungnya maserasi bertingkat
(Ansel, 1989).
C. Senyawa EPMS (Etil Parametoksi-sinamat)
Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil isolasi rimpang
kencur (Kaempferia galanga L.) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya
yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. EPMS termasuk dalam golongan
senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang bersifat
nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar

sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai


variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air, dan heksana.

3. BAHAN DAN ALAT


1) Serbuk rimpang kencur
2) Etanol 96%
3) Cab-O-Sil
4.

1)
2)
3)
4)

Labu Enlemeyer
Batang pengaduk
Rotavapor
Penyaring

5. PROSEDUR KERJA
1) Ekstraksi rimpang kencur dengan etanol 96%
Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi
Ditambahkan 2500 ml etanol 96% aduk dengan kecepatan 400-500 rpm selama 2
jam A (tutup bagian mulut bejana menggunakan alumunium foil selama proses

pengadukan)
Hasil maserasi disaring, tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi dengan

1500 ml etanol 96% aduk dengan kecepatan yang sama selama dua jam
Kemudian disaring kembali hasil maserasi filtrat digabung menjadi satu dan
dilakukan pemekatan dengan rotavapor

6.
2) Pemekatan ekstrak kental
Kalibasi wadah residu pada rotavapor
Hasil residu campuran dari ekstraksi dengan etanol 96% dipekatkan

menggunakan rotavapor. Sampai diperoleh hasil ekstrak kental 400mL.


Hasil ekstrak kental ditambahkan 5% Cab-O-Sil dengan cara ditaburkan.
Kemudian ekstrak didiamkan.

7.
8.
9.
10.
11.

12.

Skema gambar
13.
14.
15.

16.
Ditimbang 400 g
17.
simplisia rimpang
kencur

18.
19.
20.
21.

Dimasukkan
dalam bejana

Ditambahkan 2500 ml
etanol 96%

22.
23.
24.
aduk25.
dengan kecepatan 400-500 rpm
selama
26. 2 jam A (tutup bagian mulut
bejana menggunakan alumunium foil
selama proses pengadukan)

Hasil maserasi
disaring, tampung
filtrat

27.

28.
29.
30.
31.
32.
33.
vv maserasi dengan pelarut
Dilakukan34.lagi
35.sebanyak 1500ml selama 2jam
etanol 96 %
36.
dan
dilakukan
pengadukan
dengan
kecepatan yang sama

37.
38.
39.
40.
41.
42.
43. dengan rotavapor
Dipekatkan
(dilakukan44.kalibrasi labu terlebih
45.
dahulu, penguapan dan penurunan
46.
tekanan
ad
tersisa
400 ml)
47. Hasil
pengamatan

Hasil maserasi
disaring, tampung
filtrat menjadi satu

Didapatkan ekstrak kental, pada ekstrak


kental ditaburkan cab-o-sil sedikit demi
sedikit secara merata kemudian ditunggu
sampai seluruh ekstrak terserap pada cab-o-sil

48. 1. perhitungan penimbangan cab-o-sil


49. Didapat ekstrak kental sebanya 400 ml
50. Diambil cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstak kental
51.

400ml X 5% = 20 gram

52.
53. 2. tabel perbandingan bobot dan randemen kelompok 1-9

54. cara

55. kelompok

56. Bobot (gram)

57. Randemen

58. maserasi

59. 1
63. 3
67. 7

60. 61,54
64. 68,71
68. 72,23
71. 67,49
75. 70,72
79. 92,9
82. 81,81
86. 74,64
90. 74,3
93. 74,47

(%)
61. 12,01
65. 12,1775
69. 13,28
72. 12,49
76. 12,68
80. 18,225
83. 15,25
87. 13,47
91. 13,575
94. 13.52

70. Rata-rata
74. 6
78. 9

73. kinetik
81. Rata-rata
84. ultrasonik

85. 4
89. 8

92. Rata-rata
95.
96.
97. PEMBAHASAN

98. Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada
tempratur ruangan proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam
karena dengan perendaman sampel, akan terjadi pemecahan dinding sel dan membran sel
karena perbedaan tekanan antara didalam dan diluar sel, sehinga metabolit sekunder yang
berada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelaru organik dan eksrtraksi senyawa akan
sempurna karena dapat diatur dengan lamanya perendaman. Pemilihan pelarut untuk proses
maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggu dengan memperhatikan ke larutan senyawa
bahan organik dalam pelarut tersebut. Secara umum pelarut yang digunakan adalah metanol
karena mampu melarutkan hampir semua senyawa metabolit sekunder tumbuhan
99. Pada praktikum kali ini kami mengekstraksi rimpang kencur dengan menggunakan
metode maserasi termodifikasi yaitu kinetik / dengan pengadukan. 400g rimpang kenur
dilarutkan menggunakan etanol 96% kemudian diaduk dengan mikser dengan kecepatan 400500 rpm penambahan etanol yang dilakukan sebanyak 2500 ml. Penggunaan etanol 96%
sebagai pelarut dikarenakan senyawa EPMS (etil p.metoksisinamat) memiliki sifat yang
sedikit polar dan juga pada farmakope herbal disebutkan menggunakan etanol 96% untuk
menarik senyawa epms pada kencur. Proses modifikasi dengan kinetik bertujuan untuk
mempermudah proses difusi pelarut masuk kedalam sitoplasma, dengan adanya pengadukan
dinding sel dan membran sel akan lebih cepat hancur sehingga senyawa metabolit sekunder
dalam dioplasma akan lebih cepat terlarut pada pelarut.
100.

Setelah di mikser selam 2 jam kemudian disaring menggunakan corong

buchner lalu hasil residu penyaringan dilarutkan dengan etanol 96% sebnyak 1500ml
kemudian diaduk dengan kecepatan yang sama proses ini dinamakan remaserasi. Tujuan

melakukan proses remaserasi dalah mearutkan senyawa kimia yang masih belum terlarut di
pelarut awal yang disebankan karena pelsrut telsh jenuh
101.

Setelah dilakukan proses maserasi akan didapatkan ekstrak cair sebanyak

4000ml. Kemudian ekstrak cair tersebut dirotavapor hinggga didapatkan ekstrak pekat
sebanya 400ml. Tujuan melakukan proses rotavapor adalah mengangkat pelarut sehingga
konsetrasi senyawa menjadi lebih pekat. Alat ini menggunakan prinsip vakum destilasi,
sehingga tekanan akan menurun dan pelarut akan menguap dibawah titik didihnya alat ini
bekerja seperti destilasi
102.

Pada praktikum kali ini dilakukan proses maserasi dengan tiga macam proses

modifikasi yaitu perendaman, kinetika, dan ultrasonik. Pada hasil rata-rata rndemenya didapat
kan hasil yang tidak jauh berbeda dari ketiganya. Pada perendaman didapatkan hasil : 12,49,
pada kinetik didapatkan hasil : 15,25 dan ultrasonik didapatkan hasil : 13,52. Dari data
tersebut didapatkan hasil randemen dari maserasi termodifikasi yaitu kinetik > ultrasonik >
perendaman.
103.

Selain pada rendemen terdapat perbedaan pada waktu yang digunakan untuk

masing-masing rendemen yaitu perendaman > kinetika > ultrasonik. Perbedaan ini disebabkan
oleh perbedaan cara kerja dari masing-masing modifikasi yaitu pada cara maserasi
perendaman tidak dilakukan pengaduka meainkan hanya direndam menggunakan pelarut
mekanisme ekstraksinya adalah proses difusi pelarut memasuki sel menuju sitoplasma untuk
melarutkan senyawa metabolit sekunder tumbuhan tersebut, sehingga membutuhkan waktu
yang lam untuk pelarut memasuki/ berdifusi melewati dinding sel dan membran sel lalu
menuju ke sitoplasma. Sedangkan pada kinetik dan yltrasonik terdapat gaya pengadukan
dalam campuran sehingga dinding sel dan membran sel akan hancur dan memudahkan pelarut
untuk masik kedalam sitoplasma dan melarutkan senyawa metabolit sekunder. Perbedaan
modifikasi kinetikan dan ultrasonik adalah pada ultrasonik digunakan getaran dengan
frekuensi 20000 hz dan kinetika digunakan proses pengadukan dengan kecepatan tertentu,
pada ultrasonik proses pengadukan akan lebih merata dan getaran yang dibuat lebih maksimal
sehingga penghancuran penghancuran sel akan lebih cepat dan proses ekstraksi menjadi lebih
cepat
104.
105.

KESIMPULAN
106.

1. Hasil rata-rata randemen modifikasi


Kinetika : 15,25
Perendaman : 12,49
Ultrasonik : 13.52

107.

2. Proses maserasi tidak begitu mempengaruhi hasil kuantitas ekstrak

108.

3. proses modifikasi sangat mempengaruhi waktu dari proses ekstraksi

109.

4. hasil randemen yang didapatkan cukup baik yaitu 12,68 % disebutkan di

farmakope herbal senyawa epms dari kencur tidak kurang dari 8,3 %
110.
111.

PUSTAKA
112.
Anonim. Bagaimana Cara Membuat Ekstrak Obat Herbal Nusantara diakses
24 September 2015
113.
Anonim. TEKNOLOGI PENGOLAHAN TANAMAN OBAT aku dan
tanamanku diakses 24 September 2015
114.
Wikipedia. Kencur/Wikipedia/bahasa Indonesia,ensiklopedia bebas diakses 24
September 2015
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132.
10. Lampiran

133. DOKUMENTASI PRAKTIKUM


134.
135.
136.
137.
138.
139.
Pengadukan rimpang kencur
selama 2 jam di replikasi 2 kali
dengan volume etanol pertama
sebanayal
Setelah2500
di saring
ml dan
filtrat
yang
di ke
2 sebanyak
tampung.
1500 ml.

Proses
Penyaringan
pemekatan
rimpang
filtrat
kencur
yang
didapatkan
hasil pengadukan
sampai didapatkan
di saring
dengan
volume
corong
400
burchener.
ml.

140.
141.
142.
143.
144.
145.
146.
147.
148.
149.
150.
151.
152.
153.
154.
155.
156.
157.
158.
159.
Setelah didapatkan hasil
pemekatan sebanyak 400
ml, kemudian di tampung.

Hasil yang telah di pekatkan di letakkan di


dalam loyang untuk proses pengeringan
menggunakan cab-o-sil.

160.
161.
162.
163.
164.

165.
166.
167.
168.
169.
170.
171.
Penaburan cab-o-sil pada hasil
pemekatan untuk mempercepat
pengeringan.

172.
173.
174.
175.
176.
177.
178.
179.
180.
181.

Pengamatan ekstrak hari pertama

182.
183.
Pengamatan ekstrak hari kedua.
184.

185.
186.
187.
188.
189.
190.
191.
192.
193.

Setelah kering ekstrak di


homogenkan di dalam mortir dan
disimpan pada wadah selai yang
bersih, dan didapatkan bobot akhir
sebanyak 70,72 gram dan
%rendemen 12,68%