Anda di halaman 1dari 23

Masalah Gizi Berlebih pada Orang Dewasa dan

Penatalaksanaannya
Felicia
102012112
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Kampus II, Jalan Terusan Arjuna Utara No 6,
11510, Jakarta Barat.
Email: feliciasiswanto@yahoo.com
Pendahuluan
Keadaan gizi dan kesehatan suatu masyarakat sangat berhubungan dengan tingkat
konsumsi. Dewasa ini, Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang dan
masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh karena kemiskinan,
kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas sanitasi lingkungan, kurangnya
pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang gizi dan kesehatan, serta pengaruh geografis
daerah yang miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan
ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya pengetahuan dan
kepedulian tentang gizi dan kesehatan, kemudahan akses sehingga meminimalkan orang untuk
beraktivitas berat, serta pola hidup instant dengan berbagai jenis keuntungan dan kerugiannya.
Dengan demikian, sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna
mencegah terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.1
Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi balita gizi buruk
dan kurang di Indonesia mencapai 19,6 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan
data Riskesdas 2010 sebesar 17,9 persen dan Riskesdas 2007 sebesar 18,4%.2
Sementara di sisi lain Indonesia, dari perkiraan 210 juta penduduk Indonesia tahun 2000,
jumlah penduduk yang overweight diperkirakan mencapai 76.7 juta (17.5%) dan pasien obesitas
berjumlah lebih dari 9.8 juta (4.7%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa
overweight dan obesitas di Indonesia telah menjadi masalah besar yang memerlukan penanganan
secara serius.3
Skenario 5 :
1

Seorang laki-laki berusia 45 tahun bekerja sebagai guru datang ke Klinik Obesitas untuk
menurunkan berat badannya yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas dan penampilan
sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil tekanan darah 130/90 mmHg, tinggi badan
150 cm, berat badan 80 kg. Lpe 95 cm Lpa 105 cm. pada periksaan laboratorium didapatkan Hb
12g%, GD puasa 100mg/dL, cholesterol 130 mg/dL, trigliserid 180 mg/dL, HDL 30 mg/dL, LDL
100 mg/dL.
Pembahasan
Definisi Gizi
Kata gizi berasal dari bahasa Arab, Gizzah yang artinya zat makanan sehat. Gizi adalah
ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya yaitu energi, membangun dan
memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan.4
Gizi atau nutrisi adalah proses di mana tubuh manusia menggunakan makanan untuk
membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi
normal setiap organ dan jaringan tubuh. Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan
dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, mineral, dan air. Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh terlebih pada balita yang
masih dalam masa pertumbuhan. Di masa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat
dibutuhkan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang.4

Penilaian Status Gizi


Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang
diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorbsi), dan penggunaan (utilization) zat gizi
makanan. Status gizi seseorang tersebut dapat diukur dan dinilai. Dengan menilai status gizi
seseorang atau sekelompok orang, maka dapat diketahui apakah seseorang atau sekelompok
orang tersebut status gizinya tergolong normal atau tidak.1

Status gizi dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih. Status
gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu. Faktor yang mempengaruhi secara
langsung adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga
2

faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan
yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan.Untuk menentukan status gizi
seseorang atau kelompok populasi dilakukan dengan interpretasi informasi dari hasil beberapa
metode penilaian status gizi yaitu: penilaian konsumsi makanan, antropometri,

biokimia,

dan

klinis. Di antara beberapa metode tersebut, pengukuran antropometri adalah relatif paling
sederhana dan banyak dilakukan.1
Dalam antropometri dapat dilakukan beberapa macam pengukuran yaitu pengukuran
berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan lingkar lengan atas (LILA). Dari beberapa pengukuran
tersebut, BB, TB dan LLA sesuai dengan umur adalah yang paling sering digunakan untuk
melakukan survey. Sedangkan untuk perorangan atau keluarga, pengukuran BB dan TB atau
panjang badan (PB) adalah yang paling dikenal.5,6
Penilaian status gizi ada 2 macam, yaitu penilaian status gizi secara langsung dan
penilaian status gizi secara tidak langsung.1
Penilaian Status Gizi secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian, yaitu:1
a. Antropometri

Pengertian : secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia, ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran

dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Penggunaan : antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan

proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Indeks Antropometri : parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Beberapa indeks
antropometri yang sering digunakan yaitu:

1.

Berat Badan menurut Umur (BB/U)


Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Berat
badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana
3

keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin,
maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Mengingat karakteristik
berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang
saat ini (Current Nutritional Status).
2.

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)


Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan
skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.

3. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)


Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal,
perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan
kecepatan tertentu.
4.

Lingkar Lengan Atas menurut Umur (LLA/U)


Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan
lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas berkolerasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB.

5.

Indeks Massa Tubuh (IMT)


Pengukuran IMT dapat dilakukan pada anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Pada
anak-anak dan remaja pengukuran IMT sangat terkait dengan umurnya, karena dengan
perubahan umur terjadi perubahan komposisi tubuh dan densitas tubuh. Karena itu, pada
anak-anak dan remaja digunakan indikator IMT menurut umur, biasa disimbolkan dengan
IMT/U.
IMT adalah perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Cara
pengukurannya adalah pertama-tamaukur berat badan dan tinggi badannya. Selanjutnya
dihitung IMT-nya, yaitu :

Berat badan (kg)


IMT = ---------------------------------------------Tinggi badan 2 (meter)
4

6.

Tebal Lemak Bawah Kulit menurut Umur


Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit dilakukan
pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas, lengan bawah, di tengah
garis ketiak, sisi dada, perut, paha, tempurung lutut, dan pertengahan tungkai bawah.

7.

Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul (Lpa/Lpe)


Rasio lingkar pinggang dengan pinggul digunakan untuk melihat perubahan metabolisme
yang memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan
perbedaan distribusi lemak tubuh.
Dari berbagai jenis indeks tersebut di atas, untuk menginterpretasikannya dibutuhkan
ambang batas. Ambang batas dapat disajikan kedalam 3 cara yaitu: persen terhadap
median, persentil, dan standar deviasi unit.

b. Klinis

Pengertian : pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan
dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata,

rambut, dan organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Penggunaan : metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat. Survei ini dirancang
untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih
zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan
melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit.

c. Biokimia

Pengertian : penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh, antara lain: darah,

urine, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
Penggunaan : metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi
keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.

d. Biofisik

Pengertian : merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi

(khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dan jaringan.


Penggunaan : umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja
endemik. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung


Dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:1
a. Survei Konsumsi Makanan
Pengertian : merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat
jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
Penggunaan : dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada
masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan
kekurangan zat gizi.
b. Statistik Vital
Pengertian : pengukuran status gizi dengan menganalisis data beberapa statistic kesehatan
seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab
tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
Penggunaan : penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung
pengukuran status gizi masyarakat.

c.

Faktor Ekologi
Pengertian : malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor
fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari
keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain.
Penggunaan : untuk mengetahui penyebab malnutrisi disuatu masyarakat sebagai dasar untuk
melakukan program intervensi gizi.

Klasifikasi Status Gizi


6

Klasifikasi yang biasa digunakan sebagai parameter penentu status gizi seseorang adalah
IMT dan WHR (Waist-Hip Ratio) atau rasio lingkar pinggang dan pinggul.7
1. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Pengukuran IMT anak dan dewasa berbeda. Pengukuran IMT untuk anak yaitu dengan
penghitungan Indeks Massa Tubuh per Umur (IMT/U). Cara menentukan IMT/U adalah dengan
menentukan terlebih dahulu BMI anak dengan rumus BMI. Setelah nilai BMI diperoleh,
bandingkan nilai BMI hasil perhitungan pada diagram BMI for age sesuai dengan jenis kelamin
dan umur anak. Penentuan kriteria anak disesuaikan dengan memperhatikan nilai Z- skor pada
diagram.7
Z-skor paling sering digunakan. Secara teoritis, Z-skor dapat dihitung dengan cara berikut:7
Nilai IMT yang diukur Median Nilai IMT(referensi)
Z-Skor = ------------------------------------------------------------Standar Deviasi dari standar/referensi
Klasifikasi dapat dilakukan menurut berbagai lembaga. Klasifikasi WHO agak sedikit
berbeda dengan klasifikasi menurut Kementerian Kesehatan RI. Yang akan ditampilkan berikut
adalah klasifikasi menurut Kemenkes RI:8
Klasifikasi menurut Kemenkes RI (2010) dibedakan pada kelompok usia 0-60 bulan
dengan kelompok usia 5-18 bulan. Klasifikasi IMT untuk usia 0-60 bulan disajikan pada Tabel
1, sedangkan klasifikasi IMT untuk anak usia 5-18 tahun disajikan pada Tabel 2.
Tabel 1. Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia 0-60 bulan.8
Nilai Z-skor
z-skor +2
-2 < z-skor < +2
-3 < z-skor < -2
z-skor < -3

Klasifikasi
Gemuk
Normal
Kurus
Sangat kurus

Tabel 2. Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia 5-18 tahun.8
Nilai Z-skor
z-skor +2

Klasifikasi
Obesitas
7

+1 < z-skor < +2


-2 < z-skor < +1
-3 < z-skor < -2
z-skor < -3

Gemuk
Normal
Kurus
Sangat kurus

Pada orang dewasa, pengukuran status gizi dilakukan dengan menggunakan indeks massa
tubuh (IMT). Perhitungan IMT sama seperti diatas. Pada orang dewasa faktor umur tidak
dipertimbangkan dalam menghitung IMT. Pada orang dewasa biasanya tinggi badannya tidak
relatif stabil, sehingga variasi yang terjadi hanya pada berat badannya.7

Tabel 3. Klasifikasi IMT dewasa menurut Kemenkes RI 2010.8


Kategori
Kekurangan BB tingkat berat
Kekurangan BB tingkat ringan

Kurus
Normal
Gemuk

Kelebihan BB tingkat ringan


Kelebihan BB tingkat moderat (obese I)
Kelebihan BB tingkat berat (obese II)

IMT
< 17,0
17,0 < 18,5
18,5 22,9
23 24,9
>25 29,9
30,0

Penggunaan IMT mempunyai kelemahan. Kelemahan yang terjadi adalah dalam


menentukan obesitas. Kita tahu bahwa obesitas adalah kelebihan lemak tubuh. IMT hanya
mengukur berat badan dan tinggi badan. Kelebihan berat badan tidak selalu identik dengan
kelebihan lemak. Berat badan terdiri dari lemak, air, otot (protein), dan mineral. Pada seorang
yang sangat aktif, misalkan olahragawan, maka biasanya komposisi lemak tubuhnya relatif
rendah dan komposisi ototnya relatif tinggi. Pada orang yang sangat aktif IMT yang tinggi tidak
berarti kelebihan lemak tubuh atau bukan obesitas.6
2. Waist-Hip Ratio (WHR)
8

Tujuan pengukuran lingkar pinggang dan pinggul adalah untuk mengetahui distribusi
lemak pada subkutan dan pada jaringan adipose intra-abdomen, sehingga bisa digunakan untuk
mengetahui risiko terkena penyakit DM II, kolesterol, hipertensi, dan jantung (penyakit
degeneratif). Orang dengan berat badan berlebih yang terpusat di daerah abdomen berisiko lebih
besar untuk mengidap penyakit-penyakit degeneratif dibanding dengan orang yang berat
badannya terpusat di daerah pinggul dan paha. Lingkar pinggang diukur di indentasi terkecil
lingkar perut antara tulang rusuk dan krista iliaka, subjek berdiri dan diukur pada akhir ekspirasi
normal dengan ketelitian 0,6 cm menggunakan pitameter. Lingkar pinggul diukur pada
penonjolan terbesar bokong, biasanya di sekitar simphisis pubis, subjek berdiri diukur
menggunakan pitameter dengan ketelitian 0,1 cm.6

Lingkar pinggang (cm)


WHR = ---------------------------------------------Lingkar pinggul (cm)
Nilai batas ambang pada laki-laki dan wanita berbeda. Ambang batas (cut-off) risiko terhadap
penyakit untuk laki-laki (WHR) 1 sedangkan untuk wanita (WHR) 0,85.7

Tabel 4. Standar risiko penyakit degeneratif berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur.7
Jenis

Kelompok

kelamin

umur

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat tinggi

20-29

< 0,83

0,83-0,88

0,89-0,94

> 0,94

30-39
40-49

< 0,84
< 0,88

0,84-0,91
0,88-0,95

0,92-0,96
0,96-1,00

> 0,96
> 1,00

20-29

< 0,71

0,71-0,77

0,78-0,82

> 0,82

ka

30-39
40-49

< 0,72
< 0,73

0,72-0,78
0,73-0,79

0,79-0,84
0,80-0,87

> 0.84
> 0,87

Pria

Wanita

Risiko
3. Li
ng

perut
Pengukuran lingkar perut dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obesitas abdominal
atau sentral. Jenis obesitas ini sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit kardiovaskular dan
diabetes mellitus.
9

Obesitas sentral adalah suatu keadaan dimana penimbunan lemak terjadi secara
berlebihan dan jauh melebihi normal di daerah abdomen. Obesitas, terutama tipe sentral, jika
disertai dengan kondisi genetik tertentu yang mendukung dapat berdampak lebih lanjut, salah
satu diantaranya adalah resistensi insulin. Keadaan ini merupakan awal dari suatu penyakit
metabolisme yaitu diabetes melitus tipe II.9

Tabel 5. Standar obesitas sentral berdasarkan lingkar perut.7


Klasifikasi

Laki-laki

Wanita

WHO 2000

94 cm

80 cm

Eropa

102 cm

88 cm

Asia Pasifik

90 cm

80 cm

4. Lingkar Lengan Atas (LLA)


Pengukuran dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang keadaan jaringan otot dan
lapisan lemak bawah kulit.
Tabel 6. Ambang batas pengukuran LLA.7
Klasifikasi

Batas Ukur
Wanita Usia Subur

KEK
Normal

< 23,5 cm
23,5 cm
Bayi Usia 0-30 hari

KEP
Normal

< 9,5 cm
9,5 cm
Balita

KEP
Normal

< 12,5 cm
12,5 cm

LLA mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:


1. Status KEP pada balita
2. KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko lahir bayi BBLR
10

Namun, baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk
digunakan di Indonesia.
5. Tebal lipatan kulit (skinfold)
Pengukuran tebal lemak bawah kulit biasanya digunakan untuk memperkirakan jumlah
lemak dalam tubuh. Persentase kandungan lemak tubuh dapat dipakai untuk menilai status gizi
dengan pengukuran tebal lemak bawah kulit terdiri dari beberapa tempat, yakni trisep, bisep,
subskapular, suprailiaka, supraspinale, abdominal, paha depan, betis medial, dan mid aksila.
Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi ditentukan oleh jenis kelamin dan umur. Ketebalan lipatan
kulit adalah suatu pengukuran kandungan lemak. Tubuh karena sekitar separuh dari cadangan
lemak tubuh total terdapat langsung dibawah kulit. Pengukuran tebal lipatan kulit merupakan
salah satu metode penting untuk menentukan komposisi tubuh serta persentase lemak tubuh dan
untuk menentukan status gizi secara organoleptik.7,10
Tabel 7. Klasifikasi persen Body Fat.7
Klasifikasi
Lean
Optimal
Slightly overfat
Fat
Obesitas

Laki-laki
<8%
8 15 %
16 20 %
21 24 %
25 %

Wanita
< 13 %
14 23 %
24 27 %
28 32 %
33 %

Berat Badan Ideal


Untuk memperoleh status gizi tubuh yang normal, maka diperlukan pula berat badan
yang ideal. Penghitungan berat badan ideal (BBI) dapat dihitung dengan menggunakan rumus
Brocha seperti yang dikutip dari tulisan Steven B. Halls :11
BBI wanita = (TB 100) (15% x (TB 100) )
BBI pria = (TB 100) (10% x (TB 100) )
BBI = berat badan ideal (kg)
TB = tinggi badan (cm)
Hasil hitungan rumus ini adalah angka relatif, karena range berat badan normal yang dimiliki
setiap orang adalah kurang/lebih 10% berat idealnya.
11

Kebutuhan Energi
Untuk memperoleh berat badan yang ideal dan status gizi tubuh yang baik, maka
diperlukan adanya keseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar dari
tubuh. Kebutuhan energi setiap orang berbeda-beda tergantung dari jenis kelamin, umur,
aktivitas fisik, berat badan, tinggi badan, dan bisa juga dipengaruhi oleh keberadaan tempat
tinggal. Dengan perbandingan tersebut, kita bisa memperkirakan jumlah kalori yang diperlukan
tubuh per hari dengan menghitung Basal Metabolic Rate (BMR) tubuh. BMR adalah jumlah
energi yang dibutuhkan tubuh untuk berfungsi.12
Rumus kebutuhan kalori = BMR x level aktivitas

Rumus BMR adalah :12


Laki-laki = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) - (6,8 x U)
Perempuan = 655 + (9,6 x BB) + (1,8 x TB) - (4,7 x U)
BB = berat badan (kg)
TB = tinggi badan (cm)
U = umur (tahun)

Level aktivitas:12

12

Laki-laki

Perempuan

sangat ringan= 1,30

sangat ringan= 1,30

ringan = 1,65

ringan = 1,55

sedang = 1,76

sedang = 1,70

berat = 2,10

berat = 2,00

Karbohidrat
Karbohdirat adalah sakarida yang tergabung dalam berbagai tingkat kompleksitas untuk
membentuk gula sederhana, serta unit yang lebih besar seperti oligosakarida dan polisakarida.
Fungsi utamanya adalah sebagai sumber energi dalam bentuk glukosa. Beberapa karbohidrat
tidak dapat dicerna (disebut non-glikemik) dan terdiri atas polisakarida nonpati yang merupakan
bagian dari serat makanan dan berperan dalam fungsi usus.10
Jika energi yang dibutuhkan sangat tinggi, sedangkan intake ataupun cadangan
karbohidrat berkurang, maka mekanisme tubuh adalah mengubah sumber-sumber nonkarbohidrat
seperti lemak menjadi glukosa. Kebutuhan tubuh terhadap karbohidrat sekitar 55-65% total
kalori/ hari. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori.10
Lemak
Lemak meliputi beraneka ragam zat yang larut dalam lipid, sebagian besar merupakan
trigliserida atau triasilgliserol (TAG). Produk turunannya, seperti fosfolipid dan sterol (yang
paling terkenal adalah kolesterol) juga termasuk dalam kelompok ini. TAG dipecah untuk
menghasilkan energi dan menyusun cadangan energi utama bagi tubuh dalam jaringan adiposa.
Asam lemak spesifik yang terdapat dalam TAG penting bagi struktur dan fungsi membrane sel,
dan harus diperoleh dari diet. Asam lemak ini disebut asam lemak esensial.10
Fungsi lemak adalah sebagai sumber cadangan energi, komponen dari membrane sel,
insulator suhu tubuh, pelarut vitamin A, D, E, dan K. kebutuhan lemak oleh tubuh sekitar 2030% total kalori/ hari. Satu gram lemak menghasilkan 9 kalori.10

Protein
13

Protein terdiri atas berbagai rantai dari asam amino tunggal yang tergabung membentuk
beraneka ragam protein. Saat dicerna, masing-masing asam amino digunakan untuk sintesis asam
amino serta protein lainnya yang diperlukan oleh tubuh, dengan melibatkan cukup banyak daur
ulang dari komponen-komponen tersebut.6
Ada delapan asam amino esensial (untuk anak, ada lebih dari delapan) yang harus
diperoleh dari diet. Selain itu, beberapa asam amino mungkin menjadi esensial karena keadaan
(conditionally essential) dalam kondisi stres fisiologis tertentu. Jika aasam amino tidak
dibutuhkan lebih lanjut, barulah asam amino tersebut dipecah dan digunakan sebagai energy dan
bagian nitrogennya terekskresi sebagai urea. Konsumsi protein oleh tubuh kita sekitar 15-20%
total kalori/ hari. Satu gram protein menghasilkan 4 kalori.10

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


a. Faktor langsung10
1.

Konsumsi makanan
Faktor makanan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh langsung
terhadap keadaan gizi seseorang karena konsumsi makan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan tubuh, baik kualitas maupun kuantitas dapat menimbulkan masalah gizi.

2.

Infeksi
Timbulnya KEP tidak hanya karena makanan yang kurang, tetapi juga karena
penyakit. Anak mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau
demam, akhirnya dapat menderita KEP. Sebaliknya anak yang makannya tidak cukup
baik, daya tahan tubuh dapat melemah. Dalam keadaan demikian mudah diserang
infeksi, kurang nafsu makan, dan akhirnya mudah terserang KEP.

b. Faktor tidak langsung10


1.

Tingkat pendapatan
Pendapatan keluarga merupakan penghasilan dalam jumlah uang yang akan
dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk makanan. Kemiskinan sebagai penyebab gizi
kurang menduduki posisi pertama pada kondisi yang umum. Hal ini harus mendapat
perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relatif mudah diukur dan berpengaruh besar
14

terhadap konsumen pangan. Golongan miskin menggunakan bagian terbesar dari


pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan, dimana untuk keluarga di negara
berkembang sekitar dua pertiganya.
2.

Pengetahuan gizi
Pengetahuan gizi ibu merupakan proses untuk merubah sikap dan perilaku
masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang sehat jasmani dan rohani. Pengetahuan
ibu yang ada kaitannya dengan kesehatan dan gizi erat hubungannya dengan
pendidikan ibu. Semakin tinggi pendidikan akan semakin tinggi pula pengetahuan akan
kesehatan dan gizi keluarganya. Hal ini akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas zat
gizi yang dikonsumsi oleh anggota keluarga.

3.

Sanitasi lingkungan
Keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik memungkinkan terjadinya
berbagai jenis penyakit antara lain diare, kecacingan,dan infeksi saluran pencernaan.
Apabila anak menderita infeksi saluran pencernaan, penyerapan zat-zat gizi akan
terganggu yang menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi. Seseorang kekurangan zat
gizi akan mudah terserang penyakit, dan pertumbuhan akan terganggu.

Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah sindrom resistensi insulin atau sindrom X yang merupakan
suatu kumpulan faktor-faktor risiko yang bertanggung jawab terhadap peningkatan morbiditas
penyakit kardiovaskular pada obesitas dan DM tipe 2.13

Seseorang dikatakan menderita sindrom metabolik bila memenuhi minimal 3 kriteria berikut :14
15

Obesitas sentral (lingkar pinggang: 102 cm untuk pria, 88 cm untuk wanita)

Peningkatan trigliserida ( 150 mg / dL)

Tekanan darah tinggi ( 130/85 mmHg)

Intoleransi glukosa / resistensi insulin (glukosa darah puasa 110 mg / dL)

Penurunan kolesterol HDL


Berdasarkan studi klinis, penatalaksanaan agresif terhadap komponen sindrom metabolik

dapat mencegah atau memperlambat onset diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Semua pasien yang didiagnosis dengan sindrom metabolik hendaklah dimotivasi untuk merubah
kebiasaan makan dan latihan fisiknya sebagai pendekatan terapi utama. Penurunan berat badan
dapat memperbaiki semua aspek sindrom metabolik, mengurangi semua penyebab dan mortalitas
penyakit kardiovaskular. Namun kebanyakan pasien mengalami kesulitan dalam mencapai
penurunan berat badan. Latihan fisik dan perubahan pola makan dapat menurunkan tekanan
darah dan memperbaiki kadar lipid, sehingga dapat memperbaiki resistensi insulin.14
Untuk pasien yang tidak bisa ditatalaksana hanya dengan perubahan gaya hidup,
intervensi farmakologik diperlukan untuk mengontrol tekanan darah dan dislipidemia.
Penggunaan aspirin dan statin dapat menurunkan kadar C-reactive protein dan memperbaiki
profil lipid sehingga diharapkan dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Intervensi
farmakologik yang agresif terhadap faktor risiko telah terbukti dapat mencegah penyulit
kardiovaskular pada penderita DM tipe 2.14

Pembahasan Skenario
16

Berdasarkan skenario, didapatkan informasi bahwa pasien adalah laki-laki berusia 45


tahun dengan pekerjaan sebagai guru, memiliki keluhan sulit beraktivitas sehingga ingin
menurunkan berat badannya.

Hasil pemeriksaan fisik :


TD : 130/90 mmHg

Hasil pemeriksaan laboratorium :

TB : 150 cm

Hb : 12g%

BB : 80 kg

GD puasa : 100mg/dL

Lpe : 95 cm

Cholesterol : 130 mg/dL

Lpa : 105 cm

Trigliserid : 180 mg/dL


HDL : 30 mg/dL
LDL : 100 mg/dL

17

Untuk mengetahui keadaan status gizi pasien tersebut, kita bisa melakukan beberapa
pengukuran langsung, diantaranya pengukuran antropometri dan biokimia. Pengukuran
antropometri yang akan dilakukan antara lain pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB),
lingkar pinggang (Lpa), lingkar pinggul (Lpe), dan klasifikasinya (IMT dan WHR). Selain itu
kita juga akan mengukur berat badan ideal yang seharusnya dimiliki oleh pasien tersebut.

Berat badan (kg)

IMT =

Berdasarkan klasifikasi IMT menurut

----------------------------------Tinggi badan 2 (meter)

Kemenkes RI 2010, status gizi pasien


tersebut adalah obese II (kelebihan berat
badan tingkat berat)

80
IMT =

------------ = 35,55
(1,5) 2

Lingkar pinggang (cm)

WHR = ---------------------------------

Berdasarkan hasil nilai WHR, pasien

Lingkar pinggul (cm)

memiliki risiko sangat tinggi mengalami


penyakit degeneratif

105
WHR = ---------- = 1,105
95

Tabel 8. Perbandingan nilai hasil laboratorium dengan nilai normal.


Indikator

Hasil Laboratorium

Nilai normal

Hb (g%)

12

14-18

GD puasa (mg/dL)

100

80-100

Cholesterol (mg/dL)

130

< 200

Trigliserid (mg/dL)

180

< 150

HDL (mg/dL)

30

>60

LDL (mg/dL)

100

< 100

Untuk pemeriksaan laboratorium, hasil yang diperoleh masih dalam batas normal.
Ada banyak faktor penyebab timbulnya obesitas. Penyebab utamanya adalah akibat
energi yang masuk tidak sesuai dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh (kalori yang masuk >
kalori yang dikeluarkan). Ada banyak penyebab lain, seperti:5
1. Faktor genetik
Obesitas cenderung terjadi dalam keluarga, atau secara keturunan. Jika salah satu
orang tua memiliki berat badan berlebih, maka sang anak juha memiliki risiko besar
mengalami hal serupa. Sebuah penelitian mengatakan bahwa jika ibu biologis mengalami
obesitas, maka keturunannya memiliki peluan 75 % mengalami obesitas juga.
2. Faktor usia
Semakin tua, kemampuan tubuh untuk melakukan metabolisme pada makanan
akan melambat.
3. Faktor gender
Wanita cenderung lebih mudah mengalami obesitas dibandingkan pria, karena
tingkat metabolisme pria lebih tinggi daripada wanita, bahkan ketika beristirahat atau
tidur. Ketika memasuki masa menopause, tingkat metabolisme wanita semakin menurun.
Karenanya, banyak wanita yang menjadi lebih gemuk saat menopause.
4. Faktor lingkungan
Selain genetik, faktor lingkungan juga berpengaruh besar terhadap obesitas,
seperti pola hidup atau kebiasaan sehari-hari, pola makan, dan aktivitas seseorang setiap
harinya.
5. Aktivitas fisik
Orang yang aktif secara fisik membutuhkan kalori lebih banyak daripada orang
yang kurang aktif. Orang yang aktif akan membakar kalori lebih banyak, dan bahkan
menggunakan lemak tubuh sebagai energi jika kalori tubuhnya tidak mencukupi.
6. Obat-obatan tertentu
Beberapa jenis obat bisa menyebabkan berat badan meningkat, seperti steroid dan
beberapa jenis antidepresan.

Penting untuk mengetahui penyebab dari obesitas yang dialami pasien, sehingga dapat
dilakukan penanganan yang tepat terhadap masalah obesitas pasien. Selanjutnya, untuk
menindaklanjuti hasil pemeriksaan fisik dan keluhan pasien, maka kita harus menghitung
terlebih dahulu berat badan ideal yang seharusnya dimiliki pasien, dan langkah-langkah yang
harus dilakukan pasien untuk menurunkan berat badannya menuju berat badan ideal.
BBI pria = (TB 100) (10% x (TB 100) )
= 50 5 = 45 kg
Berat badan ideal pasien tersebut adalah 45 kg. Namun, karena berat badan bersifat relatif, maka
berat badan normal pasien adalah berkisar 10% dari berat badan idealnya yaitu 40,5 49,5 kg.
Dengan demikian, pasien harus mengurangi berat badannya sebesar kurang lebih 30 40 kg
untuk mencapai berat badan normal.
Langkah selanjutnya adalah menghitung kebutuhan kalori per hari yang diperlukan
pasien. Kebutuhan kalori diperoleh dari BMR dikalikan dengan level aktivitas pasien. Karena
pasien adalah seorang guru, maka termasuk dalam aktivitas ringan.

Berat badan aktual


BMR = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) - (6,8 x U)
= 66 + 1.096 + 750 306 = 1.606
Kebutuhan kalori = 1.606 x 1,65 = 2.649,9 kkal.

Berat badan ideal


BMR = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) - (6,8 x U)
= 66 + 616,5 + 750 306 = 1,126
Kebutuhan kalori = 1.126 x 1,65 = 1.857,9 kkal.
Berdasarkan perhitungan, maka kebutuhan kalori yang diperlukan oleh pasien tersebut

berdasarkan berat badan aktualnya saat ini adalah sebesar 2.650 kalori per hari. Untuk
memperoleh berat ideal, maka kebutuhan kalori yang diperlukan sebesar 1.858 kalori per hari.

Tatalaksana obesitas
Penatalaksanaan obesitas bertujuan untuk menurunkan berat badan serta menurunkan
risiko penyakit penyerta obesitas. Dalam melakukan penatalaksanaan obesitas diperlukan
motivasi yang kuat dari pasien, dukungan keluarga dan lingkungan sosial. Penurunan berat badan
dapat dilakukan dengan menciptakan defisit energi dengan mengurangi asupan energi atau
menambah penggunaan energi disertai dengan upaya menambah penggunaan energi antara lain
dengan berolahraga teratur.10,15
Penatalaksanaan obesitas terdiri dari:10,15

1.

Terapi utama (non medikamentosa), yaitu perubahan gaya hidup (life style) dengan
cara melakukan:

Pengaturan pola makan sehat. Dengan mengurangi asupan kalori sebesar 500
kalori atau menambah pembakaran kalori sebesar 500 kalori dengan berolahraga
setiap harinya, biasanya akan terjadi penurunan berat badan sekitar 0,5 kg per
minggu.

Pengaturan aktivitas fisik. Olahraga akan membantu meningkatkan metabolisme.


Olahraga yang dianjurkan adalah 3-4x dalam seminggu dan setiap kali olahraga
minimal 30 menit. Olahraga secara teratur juga baik untuk jantung dan paru-paru
serta membantu menurunkan kadar trigliserida di dalam darah yang dapat
menyebabkan penyakit jantung. Dengan berolahraga teratur juga dapat meningkatkan
kadar HDL (kolesterol baik) di dalam darah.

2.

Terapi tambahan, seperti:

Psikoterapi. Dilakukan untuk membantu pasien memotivasi diri dan melakukan


perubahan perilaku. Komponen-komponen yang harus diperhatikan antara lain :
monitoring perilaku oleh diri sendiri, control stimulus, membuat tujuan, pemecahan

masalah, modifikasi pikiran (cognitive restructuring).


Farmakoterapi (medikamentosa). Pemberian terapi obat dipertimbangkan setelah
pengaturan makan, aktivitas fisik tidak memberikan hasil maksimal dalam
menurunkan berat badan. Pemberian obat harus dibawah pengawasan dokter yang
kompeten di fasilitas kesehatan yang resmi. Obat-obat penurunan berat badan bekerja

melalui mekanisme seperti: menekan nafsu makan, mengganggu metabolisme dengan


cara mempengaruhi proses pre atau pasca absorbsi. Beberapa contoh yang sering
digunakan : sibutramine, orlistat, phenylpropanolamin (PPA), phentermin, efedrin,
dan kafein.

Operatif. Operasi untuk memperbaiki kondisi obesitas (dikenal juga sebagai operasi
bariatrik) menjadi solusi bagi orang-orang obese yang telah mengalami obesitas
selama lebih dari 5 tahun atau tidak mampu lagi menurunkan berat badan sendiri
(dengan bantuan olahraga, diet dan obat-obatan), atau kondisi obesitasnya sudah
sangat parah sehingga berbahaya untuk kesehatan dan kelangsungan hidup orang
tersebut. Biasanya orang-orang obes yang IMT-nya sudah lebih dari 40 yang
disarankan untuk menggunakan jalan operasi.

Penutup
Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang terjadi dewasa ini.
Penyebab obesitas ada banyak hal, namun yang tersering adalah akibat asupan kalori yang masuk
ke dalam tubuh tidak seimbang dengan aktivitas fisik yang dilakukan, sehingga terjadi
penumpukan lemak, dan menyebabkan kenaikan berat badan. Cara mengatasi obesitas yang
efektif adalah dengan melakukan kombinasi diet, olahraga dan terapi psikologis, sebab dengan
diet yang direncanakan secara cermat, kebutuhan energi tetap dapat terpenuhi. Latihan olahraga
dengan takaran dan pemilihan model latihan yang tepat serta pendekatan psikologis melalui self
monitoring dan cognitive restructuring juga dapat digunakan untuk mengatasi gangguan obesitas
pada diri seseorang. Namun, apabila belum berhasil, dapat dilakukan tindakan farmakoterapi
dengan pemberian obat anti-obesitas dan juga terapi pembedahan. Obesitas dapat mengakibatkan
komplikasi yang disebut dengan sindrom metabolik, yaitu kumpulan gangguan medis yang
meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2.

Daftar Pustaka
1. Supariasa. Penilaian status gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset
kesehatan dasar (Riskesdas) 2013. Jakarta; 2013.
3. Depkes RI. Sistem kesehatan nasional. Jakarta; 2009.
4. Irianto, Djoko Pekik. Panduan gizi lengkap keluarga dan olahragawan. Yogyakarta: Andi;
2006.

5. Sandjaja, Amanita, editor. Persatuan ahli gizi Indonesia. Kamus gizi: Perlengkapan
kesehatan keluarga. Jakarta: Kompas; 2009. h.270.
6. Indriati, Etty. Antropometri. Yogyakarta: PT. Citra Aji Prama; 2009.
7. Sirajuddin, Saifuddin. Penuntun praktikum penilaian status gizi secara biokimia dan
antropometri. Makassar: Universitas Hasanuddin; 2011.
8. Badan Litbang Kesehatan. Laporan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia
tahun 2010. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2010.
9. Nurtanio, Natasha, Wangko, dkk. Resistensi insulin pada obesitas sentral vol 3 (3).
Jakarta; 2007.
10. Barasi, E, Mary. At a glance, ilmu gizi. Jakarta : Erlangga; 2007.
11. Hall, S.B. 2008. Body mass index charts of women. Diunduh dari http://www.halls.md/
tanggal 14 September 2015.
12. Almatsier, S. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : PT. Gramedia; 2005.
13. Vega G.L. Obesity, the metabolic syndrome, and cardiovascular disease. Am Heart J
2001;142:1108-16.
14. Deen D. Metabolic syndrome : time of action. Am Fam Physician; 2004.p.2875-82.
15. Gee M., Mahan K., Escott-Stump S. Weight management : krauses food and nutrition
therapy. Missouri : Elsevier; 2008.p.542-550.