Anda di halaman 1dari 2

tak di Sumatra Utara. Di tengah danau, ada sebuah pulau bernama Pulau Samosir.

Alkisah, di Tapanuli Utara, hiduplah seorang petani miskin yang sangat rajin bekerja. la juga
sering memancing guna mencari lauk untuk makan. Petani itu bernama Toba.
Pada suatu hari, ia memancing ikan di sungai. Sampai sore, ia belum mendapatkan ikan.
Namun, ia tetap bersabar. Tiba-tiba, kailnya bergerak. Toba sangat gembira karena ternyata
ada ikan besar yang tersangkut. Ikan itu mempunyai sisik sangat indah berwarna
keemasan.
Namun, tiba-tiba saja ikan tersebut berbicara, "Petani yang baik, jangan bunuh aku. Tolong
kasihani aku dan kembalikan aku ke dalam air."
"Sebagai bolas budiku, aku bersedia menikah denganmu, " kata Putri itu. Tentu saja Toba
sangat senang.
"Namun, aku punya satu syarat, Petani yang baik," kata putri jelmaan ikan itu. "Jika kelak
kita dikaruniai anak, aku tak ingin ia tahu bahwa ia adalah anak jelmaan seekor ikan."
"Aku berjanji untuk tidak mengatakan hal itu kepada keturunan kita," kata sang petani.
Akhirnya mereka menikah, lalu dikaruniai seorang anak laki-laki yang dinamai Samosir.
Anak itu sangat suka makan. la bisa makan berkali-kali dan dalam jumlah yang besar. Ia
juga sering memakan makanan yang disediakan untuk ayahnya.
Pada suatu hari, si anak disuruh ibunya mengantarkan rantang berisi makanan untuk
ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Namun, isi makanan itu dimakan sang anak dalam
perjalanan.
Ayahnya yang kelelahan dan kelaparan sangat terkejut melihat rantang yang hanya berisi
sisa-sisa makanan. la pun marah kepada anak laki-Iakinya.
"Dasar anak ikan!" ucapnya tanpa disadari.
Apa maksud Ayah dengan anak ikan?" Tanya Samosir.
"Asal kau tahu, ibumu adalah jelmaan seekor ikan!" kata ayahnya dengan sangat marah.
Samosir terkejut, lalu berlari pulang ke rumah.

Di rumah, la menemui ibunya. "Ibu, tadi ayah marah karena makanannya aku makan. Lalu,
ia bilang, aku anak ikan. Benarkah aku anak seekor ikan, Bu?"'