Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Mikosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur, yang
dibagi menjadi mikosis profunda dan mikosis superfisialis. Insidens
mikosis superfisialis cukup tinggi di Indonesia karena menyerang
masyarakat luas. Mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk
negara tropis. Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang
memiliki suhu dan kelembaban tinggi, merupakan suasana yang baik bagi
pertumbuhan jamur, sehingga jamur dapat ditemukan hampir di semua
tempat. Mikosis superfisialis diklasifikasikan menjadi dermatofitosis dan
nondermatofitosis.1,2,3,4,5,6,7
Dermatofitosis atau yang dikenal dengan tinea, ringworm, kurap,
herpes sirsinata, teigne adalah penyakit pada jaringan yang mengandung
zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku,
yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Golongan jamur
dermatofita mempunyai sifat mencernakan keratin, yang dibagi dalam 3
genus yaitu; Microsporum, Trichophyton dan Epidermphyton. 1,2,4,5
Pembagian dermatofitosis yang banyak dianut adalah
berdasarkan lokasi, yaitu tinea kapitis (dermatofitosis pada kulit dan
rambut kepala), tinea barbe (dermatofitosis pada dagu dan jenggot), tinea
kruris (dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong,
kadang sampai perut bagian bawah), tenia pedis et manum (dermatofitosis
pada kaki dan tangan), tinea unguium (dermatofitosis pada kuku jari dan
kaki), dan tinea korporis (dermatofitosis pada bagian lain yang tidak
termasuk bentuk dari 5 tinea yang telah disebutkan).1,2,5
Tinea Korporis atau juga dikenal dengan tinea sirsinata, tinea
glabrosa, Scherende Flechte, kurap, herpes sircine trichophytique,
merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial
golongan dermatofita, menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah,
badan, lengan dan tungkai.1,2,6

Insiden tinea korporis dapat menyerang semua umur, tetapi


lebih sering menyerang orang dewasa dan dapat menyerang pria dan
wanita. Insiden meningkat pada kelembapan udara yang tinggi. Penyakit
ini tersebar diseluruh dunia, terutama pada daerah tropis. 1,2,3,6
Tempat predileksinya pada wajah, anggota gerak atas dan
bawah, dada, punggung. Penyakit ini disebabkan oleh golongan jamur
dermatofita yang tersering adalah Epidermophyton floccpasienum atau T.
rubrum. Lingkungan yang kotor mempengaruhi kebersihan perorangan
dalam perkembangan penyakit pada kulit manusia. Keturunan tidak
berpengaruh pada penyakit ini.1,2,5,6
Variasi klinis tinea korporis dapat berupa lesi berbentuk
makula/ plak yang merah/ hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan
penyembuhan sentral. Pada tepi lesi dijumpai papula papula eritematosa
atau vesikel. Pada perjalanan penyakit yang kronik dapat dijumpai
likenifikasi. Gambaran lesi dapat polisiklis, anular atau geografis. 1,2,6,8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Tinea korporis adalah Infeksi jamur pada kulit halus (glabrous skin)
di daerah wajah, leher, badan, lengan, tungkai dan pantat (glutea) yang
disebabkan jamur dermatofita spesies Microsporum, Trichophyton, dan
Epidermophyton. 1,3

Gambar 2.1 Tinea korporis


B. Etiologi
Tinea korporis disebabkan oleh jamur golongan Dermatofita yang
mempunyai

sifat

mencernakan

keratin.

Dematofita

yang

dapat

menyebabkan infeksi pada kulit kepala dan rambut adalah genus


Tricophyton, Microsporum dan Epidermophyton. Jamur penyebab tinea
corporis ini ada yang bersifat antropofilik, geofilik, dan zoofilik.1,5
Jamur yang bersifat antropofilik atau hanya mentransmisikan penyakit
antar manusia antara lain adalah Tricophyton violaceum yang banyak
ditemukan pada orang Afrika, Tricophyton schoenleinii, Tricophyton
rubrum, Tricophyton megninii, Trichophyton soudanense, Tricophyton
yaoundei, Microsporum audouinii, dan Microsporum ferrugineum.5
Jamur geofilik merupakan jamur yang hidup di tanah dan dapat
menyebabkan radang yang moderat pada manusia. Golongan jamur ini
antara lain adalah Microsporum gypseum dan Microsporum fulvum.5,6
Jamur zoofilik merupakan jamur yang hidup pada hewan, namun
dapat mentransmisikan penyakit pada manusia. Jamur zoofilik penyebab
tinea corporis salah satunya Microsporum canis yang berasal dari kucing, 5

Gambar 2.2. Jamur Microsporum7

Gambar 2.3. Jamur Trichophyton7

Gambar 2.4. Jamur Epidermophyton7


C. Cara penularan
Penularan infeksi jamur dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung. Penularan langsung melalui epitel kulit dan rambut yang
mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tak
langsung dapat melalui tanaman, kayu, pakaian, dan barang-barang lain
yang dihinggapi jamur, atau dapat juga melalui debu dan air.6
Ada beberapa faktor yang dapat mempermudah penularan infeksi
jamur :
1. Faktor virulensi dari jamur
Virulensi jamur tergantung dari sifatnya apakah antropofilik, zoofilik,
atau geofilik. Jamur antropofilik menyebabkan perjalanan penyakit
yang kronik dan residif karena reaksi penolakan tubuh yang sangat
ringan. Sementara jamur geofilik menyebabkan gejala akut ringan
sampai sedang dan mudah sembuh.6
2. Keutuhan kulit
Kulit yang intak tanpa adanya lesi lebih sulit untuk terinfeksi jamur.6
3. Faktor suhu dan kelembapan
Kondisi tubuh yang banyak berkeringat menyebabkan lingkungan
menjadi lembap sehingga mempermudah tumbuhnya jamur.6
4. Faktor sosial ekonomi

Infeksi jamur secara umum lebih banyak menyerang masyarakat


golongan sosial ekonomi menengah ke bawah karena rendahnya
kesadaran dan kurangnya kemampuan untuk memelihara kebersihan
diri dan lingkungan.6
5. Faktor umur dan jenis kelamin
Tinea capitis sering terjadi pada anak-anak dan lebih banyak
ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.6,8
D. Patofisiologi
Dermatofita biasanya berada di daerah yang tidak hidup, seperti
lapisan kulit, rambut, dan kuku, menyukai daerah yang hangat, lembab
membantu proliferasi jamur. Jamur memyebabkan keratinisasi dan
enzimnya bisa masuk lebih dalam dari stratum corneum, biasanya infeksi
terbatas pada epidermis. Mereka biasanya tidak masuk lebih dalam, hal ini
tergantung dari mekanisme pertahan non-spesifik itu dapat termasuk
aktivasi serum inhibitor, komplemen, dan PMN.
Masa inkubasi 1-3 minggu, dermatofita menyebar secara sentrifugal.
Dalam merespon infeksi, aktivasi kulit dengan meningkatkan proliferasi sel
epidermis. Ini menjadi pertahan terhadap infeksi kulit.
Tricophyton rubrum adalah dermatofita umum karena ada dinding sel
sehingga resisten terhadap eradikasi. Barrier proteksi ini mengandung
mannan, yang menghambat imunitas sel mediated, menghambat proliferasi
keratinosit, dan menyebabkan organism ini tahan terhadap pertahanan kulit
normal. 4
E. Gejala klinik
Keluhan gatal terutama bila berkeringat. Oleh karena gatal dan
digaruk, lesi semakin meluas, terutama di daerah kulit yang lembab.
kelainan yang terlihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong,
berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel
dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang
terihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan

bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat dapat
pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir polisiklik, karena beberapa lesi
kulit yang menjadi satu. Khas dari infeksi ini ada central healing (dibagian
tepi meradang dan bagian tengah tenang).1,3

Gambar 2.5 Gejala klinik tinea korporis


F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan
larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur.
Pemeriksaan Histologis akan tampak neutrofil di stratum corneum, ini
merupakan petunjuk diagnostik yang penting. Biopsi kulit dengan
pewarnaan hematoxylin dan eosin pada tinea corporis menunjukkan
spongiosis, parakeratosis, dan infiltrat inflamasi superfisial (rembesan sel
radang ke permukaan).3
G. Diagnosis
Diagnosis tinea capitis ditegakkan berdasarkan gejala yang dikeluhkan
pasien, tanda-tanda infeksi jamur yang ditemukan, ditambah dengan
pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis. Gejala yang sering
dikeluhkan pasien adalah rasa gatal

H. Diagnosis banding
1. Psoriasis
Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi
dengan skuama di atasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi
pada stadium penyembuhan sering eritema yang di tengah menghilang
dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan
berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan
bervariasi: lentikuler, nummular atau plakat, dapat berkonfluensi.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan
kobner (isomorfik). Kedua fenomena yang disebut lebih dulu
dianggap khas.
Fenomena tetesan lilin adalah skuama yang berubah warnanya
menjadi putih pada goresan seperti lilin digores, disebabkan oleh
berubahnya indeks bias. Pada fenomena Auspitz tampak serum atau
darah berbintik-bintik yang disebabkan oleh papilomatosis. Trauma
pada kulit penderita psoriasis, misalnya garukan, dapat menyebabkan
kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis dan disebut fenomena
kobner yang timbul kira-kira setelah 3 minggu

Gambar 2.6 Psoriasis


2. Pitriasis rosea
Sebagian penderita mengeluh gatal ringan. Penyakit dimulai
dengan lesi pertama (herald patch), umumnya di badan, solitarm

berbentuk oval dan anular. Ruam terdiri atas eritema dan skuama
halus di pinggir..
Lesi berikutnya timbul 4-10 hari setelah lesi pertama, member
gambaran yang khas, sama dengan lesi pertama hanya lebih kecil,
susunannya sejajar dengan kosta, sehingga menyerupai pohon cemara
terbalik. Lesi tersebut timbul serentak atau dalam beberapa hari.1

Gambar 2. 7 Ptiriasis Rosea


I. Penatalaksanaan
Pengobatan bersifat simtomatk, untuk gatal nya dapat diberikan sedative
atau antihistamin oral, sedangkan obat topical dapat diberikan bedak asam
salisilat yang di bubuhi mentol.
J. Pencegahan
Untuk mencegah terkena infeksi tinea corporis:

Menjaga kebersihan diri dengan mandi setelah beraktivitas dan

berkeringat.
Mengeringkan badan dengan baik setiap setelah mandi.
Mencuci pakaian, sprei, dan barang-barang pribadi lainnya
secara rutin.

BAB 11I
9

STATUS PASIEN
A. Identitas Pasien
Nama

: Nn. AS

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 26 tahun

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Putri 7 blok 2 no 10

Status Pernikahan

: Belum menikah

Suku Bangsa

: Batak

B. Anamnesis (Tanggal 20 Desember 2016)


Keluhan Utama
Gatal gatal di pinggang dan peut serta kemerahan yang melebar sejak 3
bulan yang lalu.
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 3 bulan yang lalu, awalnya timbul bercak kemerahan yang terasa
gatal pada paha sebelah kiri, gatal semakin bertambah apabila pasien
berkeringat. Apabila terasa gatal, pasien juga sering menggaruk dan bercak
tersebut semakin melebar dan bertambah banyak. Kemudian pasien
berobat ke Puskesmas dan diberikan obat salep (pasien lupa nama
obatnya), tetapi tidak ada perubahan. Lalu timbul bercak kemerahan baru
yang sama seperti bercak pada paha kiri, di perut kiri, di pinggang bercak
tersebut awalnya kecil kelainan ini tidak diawali dengan muncul bintil
bintil merah, karena terasa gatal maka pasien menggaruknya, rasa gatal
makin bertambah apabila pasien berkeringat dan saat cuaca panas.

10

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.


Tidak ada penyakit diabetes.
Tidak ada alergi makanan / obat

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien.
C Pemeriksaan Fisik (Tanggal 20 Desember 2016)
Status Generalis

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Vital Sign

Tekanan Darah
Nadi
Pernapasan
Suhu

: 120/80
: 80x/ menit
: 16 x/ menit
: 36,8 0

Keadaan Spesifik
Kepala

: dalam batas normal

Leher

: dalam batas normal

Thoraks

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Ekstremitas

: dalam batas normal

Genitalia

: dalam batas normal

Status Dermatologiskus
Lokalisasi
Regio Abdominalis lateralis sinistra serta femoralis sinistra

11

Gambar 3 1. Regio Abdominalis lateralis sinistra


Efloresensi

Tampak lesi berbentuk macula / plak yang merah / hiperpigmentasi dengan


tepi aktif dan penyembuhan sentral. Pada tepi lesi di jumpai papul papaul
eritematosa. Pada perjalanan penyakit di jumpai likenifikasi gambaran lesi
dapat polisiklis, anular atau geografis.
D. Tes yang Di lakukan
Tidak ada
E. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
F. Ringkasan
Sejak 3 bulan yang lalu, awalnya timbul bercak kemerahan yang terasa
gatal pada paha sebelah kiri, gatal semakin bertambah apabila pasien
berkeringat. Apabila terasa gatal, pasien juga sering menggaruk dan bercak
tersebut semakin melebar dan bertambah banyak. Kemudian pasien
berobat ke Puskesmas dan diberikan obat salep (pasien lupa nama
obatnya), tetapi tidak ada perubahan. Lalu timbul bercak kemerahan baru
yang sama seperti bercak pada paha kiri, di perut kiri, di pinggang bercak
tersebut awalnya kecil kelainan ini tidak diawali dengan muncul bintil
bintil merah, karena terasa gatal maka pasien menggaruknya, rasa gatal
makin bertambah apabila pasien berkeringat dan saat cuaca panas.

12

G. Diagnosa Banding
1. Psoriasis
2. Pitiriasis Rosea
H. Diagnosa Kerja
Tinea Korporis
I . Penatalaksanaan

Umum
Penatalaksanaan umum yaitu dengan memberikan edukasi kepada
pasien, seperti:
- menjelaskan
-

kepada

pasien

tentang

penyakit

dan

penatalaksanaannya.
menganjurkan untuk menjaga daerah lesi tetap kering.
menganjurkan untuk menjaga kebersihan badan.
menghindari pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat,
menggunakan pakaian yang menyerap keringat seperti katun, tidak

ketat dan diganti setiap hari.


menghindari pemakaian handuk dan baju secara bersama sama.
menghindari garukan apabila gatal, karena garukan dapat

menyebabkan infeksi.
Khusus
Penatalaksanaan khusus yaitu dengan memberikan farmakologi, berupa:
- Sistemik
Cetrizine tablet dosis 1 x 10 mg.

Topikal
Krim Ketokonazol Nitrat 2%, 2 kali sehari selama 2 minggu,
dioleskan tipis tipis pada lesi.

J . Prognosis
Quo Ad vitam

: Bonam

Quo Ad functionam

: Bonam

Quo Ad sanationam

: Bonam

13

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini Nn AS didiagnosis yaitu mengalami Tinea Korporis
adapun mengenai analisis kasusnya sebagai berikut:
Tinea Korporis
Ditegakkan atas dasar:

14

Pada kasus ini ditegakkan diagnosa tinea korporis bedasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik, pemeriksaan dermatologik dan pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis diketahui, Sejak

3 bulan yang lalu, awalnya timbul bercak

kemerahan yang terasa gatal pada paha sebelah kiri, gatal semakin bertambah
apabila pasien berkeringat. Apabila terasa gatal, pasien juga sering menggaruk
dan bercak tersebut semakin melebar dan bertambah banyak.
Dari keluhan yang disampaikan oleh pasien, merupakan gejala klinis dari
dermatofitosis yaitu gejala subjektif berupa rasa gatal terutama jika berkeringat
dan gejala objektif yaitu makula hiperpigmentasi dengan tepi yang lebih aktif.
Oleh karena gatal dan digaruk, lesi akan meluas terutama pada daerah yang
lembab. Pembagian dermatofitosis berdasarkan lokasi lesi yang timbul, pada
pasien ini yaitu di perut kiri bawah digolongkan sebagai tinea korporis, karena
tempat predileksi tinea ini menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah,
badan, lengan dan tungkai.
Pasien sudah ke puskesmas dan diberi obat salep tetapi bercak
kemerahan bertambah lebar. Hal ini bisa disebabkan karena pasien tidak
teratur menggunakan obatnya, dimana pasien hanya memakainya jika terasa
gatal.
Pasien mengatakan sering berkeringat banyak tetapi tidak segera
mengganti pakaiannya, merupakan salah satu faktor predisposisi karena
penyakit ini tergantung pada faktor lingkungan seperti iklim yang panas,
kebersihan perseorangan, jamur lebih cepat berkembang pada daerah yang
lembab.
Pemeriksaan fisik pada pasien ini meliputi pemeriksaan secara umum
dan pemeriksaan dermatologis. Pada pasien ini, secara umum tidak ada
keluhan.
Pada status dermatologis, tampak macula / plak yang merah /
hiperpigmentasi dengan tepi aktif efloresensi terdapat pada Hal ini sesuai
dengan efloresensi yang terdapat pada tinea korporis yaitu lesi dapat berbentuk
makula/ plak merah/ hiperpigmentasi, bulat atau lonjong, berbatas tegas dengan
tepi aktif dan penyembuhan sentral. Timbulnya kelainan pada kulit ini
disebabkan oleh dermatofit melepaskan enzim keratolitik yang berdifusi ke

15

jaringan epidermis menimbulkan peradangan. Respon terhadap inflamasi dapat


berupa eritema, papulasi, dan kadang vesikulasi. Karena pertumbuhan jamur
dengan pola radial di dalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi
kulit dengan batas yang jelas dan meninggi.

Gambar 2. Area Predileksi Tinea Korporis


Diagnosis banding pada kasus ini yaitu Pitiriasis Vulgaris, Pitiriasis
Rosea,

Psoriasis
Psoriaris adalah penyakit yang disebabkan oleh autoimun, bersifat
kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak bercak eritema
berbatas tegas dengan skuama kasar, berlapis lapis dan transparan
disertai femomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Sebagian penderita
mengeluh gatal ringan. Fenomena tetesan lilin adalah skuama yang
berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin yang digores.
Fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik bintik yang
disebabkan oleh papilomatosis. Tempat predileksi meliputi skalp,
perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor
terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral.1,2,3,6

Pitiriasis Rosea
Pitiriasis Rosea adalah erupsi papuloskuamosa akut, morfologi
khas berupa makula eritematosa lonjong dengan diameter terpanjang
16

sesuai dengan lipatan kulit serta ditutupi oleh skuama halus. Penyebab
penyakit ini masih belum diketahui, dapat menyerang semua umur dan
lebih sering pada cuaca dingin. Keluhan biasanya berupa timbul bercak
seluruh tubuh terutama daerah yang tertutup pakaian berbentuk bulat
panjang, mengikuti lipatan kulit. Diawali dengan bercak besar disekitarnya
terdapat bercak kecil. Ukuran bercak dari seujung jarum pentul sampai
sebesar uang logam. Dapat didahului gejala prodormal ringan seperti
badan lemah. sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Tempat predileksi yaitu
tersebar diseluruh tubuh terutama tempat yang tertutup oleh pakaian.
Efloresensi meliputi makula eritematosa anular dan solitar, bentuk lonjong
dengan tepi hampir tidak nyata dan bagian sentral bersisik, agak
berkeringat. Penyakit ini sering disangka jamur karena gambaran klinisnya
mirip tinea korporis yaitu terdapat eritema dan skuama dipinggir dan
bentuknya anular. Perbedaannya pada pitiriasis rosea gatalnya tidak begitu
berat, skuamanya halus sedangkan pada tinea korporis kasar. Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan untuk membedakan dengan tinea korporis
adalah pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH 10%, yang pada tinea akan
memberikan hasil positif. 1,2,6
Penatalaksanaan pada pasien meliputi umum dan khusus, pada
pentalalaksanaan umum adalah memberikan edukasi pada pasien untuk
meningkat kebersihan badan karena penyakit ini juga dipengaruhi oleh
kebersihan lingkungan dan kelembapan.1,2,4,6
Penatalaksanaan secara khusus meliputi pemberian obat sistemik.
Pada pasien juga diberikan, cetrizine dihydrochloride merupakan antihistamin
H1 untuk mengatasi rasa gatal, mekanisme kerjanya yaitu inhibisi selektif
dari reseptor H perifer. Obat ini efek mengantuknya minimal, dosis yang
diberikan adah 1x10 mg sehari.1,2,6,12
Pemberian obat topikal yaitu anti jamur golongan imidazol yang
mempunyai spekturm luas. Obat topikal yang dipilih untuk pasien ini adalah
Ketokonazol. Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintentik yang relatif
stabil, mempunyai spekturm antijamur yang lebar terhadap jamur dermatofit.
Ketokonazol menghambat aktivitas jamur Trichophyton, Epidermophyton,
Microsporum, Candida dan Mallassezia furfur. Mekanisme kerja obat ini

17

belum diketahui sepenuhnya. Mikonazol masuk kedalam sel jamur dan


menyebabkan kerusakan dinding sel jamur, dengan cara menghambat sintesa
ergosterol, penimbunan peroksida dalam sel jamur dan mengganggu sintesis
asam nukleat. Obat ini diberikan dalam bentuk krim ketokonazol 2% yang
dipakai 2 kali sehari selama 2 minggu. Prognosis pada kasus tinea korporis
ini baik dengan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan kebersihan kulit
selalu dijaga.

BAB V
PENUTUP
Telah dilaporkan kasus dengan diagnosis Tinea korporis pada pasien atas
nama Nn. AS usia 26 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Dimana dari anamnesis didapatkan Sejak 3 bulan yang lalu,
awalnya timbul bercak kemerahan yang terasa gatal pada paha sebelah kiri, gatal
semakin bertambah apabila pasien berkeringat. Pasien tidak pernah mengalami
keluhan yang serupa sebelumnya. Dikeluarga juga tidak ada yang mengalami
keluhan yang serupa. Riwayat alergi baik makanan maupun obat obatan
disangkal oleh pasien. Pasien juga tidak sering minum obat atau dalam
pengobatan apapun.
Dari hasil pemeriksaan status dermatologikus lesi berbentuk macula / plak
yang merah / hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan penyembuhan sentral. Pada
tepi lesi di jumpai papul papaul eritematosa. Pada perjalanan penyakit di jumpai
likenifikasi gambaran lesi dapat polisiklis, anular atau geografis
18

Pengobatan yang diberikan antara lain oral (Sistemik ),Cetrizine tablet


dosis 1 x 10 mg. Sedangkan topikal diberikan Krim Ketokonazol Nitrat 2%, 2 kali
sehari selama 2 minggu, dioleskan tipis tipis pada lesi. Pada pasien juga di
berikan edukasi mengenai penyakitnya. Prognosis dari kasus ini secara vitam,
functionam, dan sanationam adalah bonam

DAFTAR PUSTAKA

1. Editor: Djuanda A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta:
FKUI; 2013.
2. Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. Cutaneus Fungal Infection.
Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. The
McGraw Hill Company; 2007; (10 layar).
3. Braun CA. Anderson CM. Phatophysiology Functional Alterations in
Human Health. United Stated: Lipincott Wiliams and Wilkins: 2007.p.114119.
4. Lesher JL. Tinea Corporis. 2012 Jan 24 (diakses 10 Oktober 2013): (4
layar). Diunduh dari: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/1091473-overview#showall.
5. Hidayati AN, Suyoso S, Hinda PD, Sandra E. Mikosis Superfisialis di
Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Dr.
Soetomo Surabaya Tahun 20032005. 2009 Apr 1; 21.1-8.
6. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi ke-3: Jakarta:
EGC; 2004.

19

7. Gomes FS, Oliveira EF, Nepomuceno LB, Pimentel RF, Marques SH,
Mesquita M. Dermatophytosis diagnosed at the Evandro Chagas Institute,
Para, Brazil. Brazilian Journal of Microbiology. 2012 Jun 06. 44(2): 443446.
8. Kurniati CR. Etiopatogenesis Dermatofitosis. FK UNAIR/RSU Dr.
Soetomo. 2008 Des 03; 20.1-8
9. Sutedjo AY. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Edisi Revisi: Yogyakarta: Amara Books; 2008.hal.204.
10. Siregar RS. Penyakit Jamur Kulit. Edisi ke-2: Jakarta: EGC; 2004.hal.113.
11. Sacher A. Mcpherson RA. Prinsip prinsip Mikrobiologi Klinis dalam
Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi ke-11: EGC:
Jakarta; 2004.hal.394.
12. Setiabudy R, Bahry B. Obat Jamur. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5:
FKUI: Jakarta; 2007.hal.571-584.

20