Anda di halaman 1dari 18

KETUBAN PECAH DINI

A. DEFINISI
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum dimulainya persalinan atau
sebelum ada tanda persalinan.

B. ETIOLOGI

Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum


diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan
faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang
lebih berperan sulit belum diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor
predesposisi adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya
KPD.
2.

Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).

3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan


(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya
KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,
maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai
infeksi.

4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain
6.1. Faktor golonngan darah
Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat
menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit
ketuban.
6.3. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
6.4. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
6.5. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

C. PATOFISIOLOGI
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan
dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian.
Bagian pertamadisebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian
kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan
ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan
organik. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel
amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu
hamil, jumlah cairan ketuban ini beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5
liter. Namun bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 35 liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8- 10 cc air ketuban atau 1
persen dari seluruh volume dalam tiap jam.

Manfaat air ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk
mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan
yang diakibatkan oleh lingkungannya di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa
membuat janin bergerak dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain
dari air ketuban ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa
kematangan paru-paru janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan
kongenital, susunan genetiknya, dan sebagainya. Caranya yaitu dengan
mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut
ibu.
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai
berikut :
Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi.
Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah
pecah dengan mengeluarkan air ketuban.
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler
korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh
sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada
infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin,
menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada
selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah
pecah spontan.
Patofisiologi Pada infeksi intrapartum :
1. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung
antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan
penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang
intraamnion.
3. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin
menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
4. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan
dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.

D. DIAGNOSA
3

Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang
positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkakn bayi terlalu awal
atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya
diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai
resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh
karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa KPD ditegakkan
dengan cara :
1. Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak
secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Cairan berbau manis, tidak
seperti bau amoniak, dan perlu juga diperhatikan warna, biasanya pucat dan
bergaris warna darah.
2. Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila
ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini
akan lebih jelas.
3. Pemeriksaan dengan spekulum.
pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari
orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus
uteri ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau megadakan manuvover
valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari
ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior.
4. Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan,
pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu
diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari
pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina
4

yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen.


Pemeriksaan dalam vagina hanya diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam
persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit
mungkin.
5. Pemeriksaan Penunjang
5.1. Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi,
bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban
mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 45, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.
5.1.a. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah
berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban
(alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina dapat
mengahsilakan tes yang positif palsu.
51.b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban
pada

gelas

objek

dan

dibiarkan

kering.

Pemeriksaan

mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.


5.2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.
Namun sering terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion.
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun
pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan
sedehana.

E. PENATALAKSANAAN

Ketuban pecah dini ternasuk dalam kehamilan beresiko tinggi. Kesalan dalam
mengelola KPD akan membawa akibat meningkatnya angka morbiditas dan
mortalitas ibu maupun bayinya.
Penatalaksaan KPD masih dilema bagi sebagian besar ahli kebidanan, selama
masih beberapa masalah yang masih belum terjawab. Kasus KPD yang cukup
bulan, kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar,
dan

kalau

menunggu

persalinan

spontan

akan

menaikkan

insidensi

chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang kalau menempuh cara konservatif


dengan maksud untuk memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau
keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelek prognosis janin.
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur
kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaann
ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko
yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah sepsis. Oleh karena
itu pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu
yang optimal untuk persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih
biasanya paru-paru sudah matang, chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi
pada janin merupakan sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin.
Pada kehamilan cukup bulan, infeksi janin langsung berhubungan dengan lama
pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten.
Kebanyakan penulis sepakat mengambil 2 faktor yang harus dipertimbangkan
dalam mengambil sikap atau tindakan terhadap penderita KPD yaitu umur
kehamilan dan ada tidaknmya tanda-tanda infeksi pada ibu.

VII. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu)


Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD
keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian
infeksi dan komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan

permulaan dari persalinan disebut periode latent = L.P = lag period. Makin
muda umur kehamilan makin memanjang L.P-nya.
Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan
dengan sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan akan melahirkan
dalam waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah, bila dalam 24 jam setelah kulit
ketuban pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi
persalinan, dan bila gagal dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada ibu.
Walaupun antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin dalam uterus namun
pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya
sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian
antibiotik hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan dengan
pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah
terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam.
Beberapa referensi meyarankan bersikap aktif (induksi persalinan) segera
diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan penderita akan menjadi
inpartu dengan sendirinya. Dengan mempersingkat periode laten durasi KPD
dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus
tindakan dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat terhadap
keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan
komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi
yang fatal bagi bayi dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi
semakin kepanjangan (his kurang kuat). Induksi dilakukan dengan mempehatikan
bishop score jika > 5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya < 5, dilakukan
pematangan servik, jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.

VIII. penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (< 37 minggu)

Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan tidak
dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaanya bersifat koservatif disertai pemberian
antibiotik yang adekuat sebagai profilaksis.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg,,
tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan
kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 minggu, obat-obatan uteronelaksen atau
tocolitic agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan.
Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian kortikosteroid pada
pnderita KPD kehamilan kurang bulan adalah agar tercapainya pematangan paru,
jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul
tanda-tanda infeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa memandang
umur kehamilan
Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai berlangsung dengan jalan
merangsang timbulnya his ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi
yang kadang-kadang tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi
gawat janin sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga
mungkin terjadi intoksikasi.
Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan tindakan
bedan sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan, tidakan
bedah sesar hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena infeksi intrauterin
tetapi seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak, gawat
janin, partus tak maju, dll.
Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat tindakan aktif.
Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat menyebabakan komplikasi yang
berbahaya, maka perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Sehingga dikatan
pengolahan konservatif adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap
kemungkinan infeksi intrauterin.
Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leokosit darah tepi setiap hari,
pem,eriksaan tanda-tanda vital terutama temperatur setiap 4 jam, pengawasan

denyut jamtung janin, pemberian antibiotik mulai saat diagnosis ditegakkan dan
selanjutnya stiap 6 jam.
Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah dilaporkan secara
pasti dapat menurunkan kejadian RDS. The National Institutes of Health (NIH)
telah merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada
kehamilan 30-32 minggu yang tidak ada infeksi intramanion. Sedian terdiri atas
betametason 2 dosis masing-masing 12 mg i.m tiap 24 jam atau dexametason 4
dosis masing-masing 6 mg tiap 12 jam.

F. KOMPLIKASI
9

1. Infeksi intrauterin
2. Tali pusat menumbung
3. Prematuritas
4. Partus kering

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2013

A. IDENTITAS

Nama penderita

Umur :

Jenis kelamin

: Perempuan

No CM

119.63.98

Agama :

Islam

Pekerjaan :

Swasta

Pendidikan

: SMK

Status :

Nama Suami

: Tn. N

Tanggal Masuk

: 4 September 2013

Ruang :

: Ny. R

23 tahun

Menikah

VK

10

B. ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 4 September 2013 jam 15.30
WIB
1. Keluhan Utama :
Pasien usia 25 tahun hamil 38 minggu datang dengan keluhan keluar cairan
ngepyok dari jalan lahir sejak sejak jam 11.00. Cairan berwarna jernih, darah (-) dan
tidak berbau pesing.
2. Riwayat Kehamilan Sekarang :
Pasien G1P0A0 usia 23 tahun hamil 38 minggu datang dengan keluhan keluar
cairan ngepyok dari jalan lahir sejak sejak jam 11.00. Celana pasien basah akibat
cairaan tersebut, cairan berwarna jernih, darah (-) dan tidak berbau pesing. Pasien
langsung ke bidan dan dirujuk ke RSISA oleh bidan. Pasien juga merasa kencengkenceng sejak kemarin siang tiap 15 menit jam sekali. Belum keluar lendir darah.
Pasien sudah cuti kerja sejak 1 minggu sebelumnya. Tidak ada gejala demam, tidak
ada riwayat trauma jatuh, pasien mengaku beberapa hari terakhir melakukan
hubungan suami istri.
3. Riwayat Kehamilan :
HPHT

: 8 12 2012

1 bulan setelah terlambat haid pasien pergi ke bidan dan dinyatakan hamil.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat hipertensi

: disangkal

- Riwayat penyakit jantung

: disangkal

- Riwayat penyakit paru

: disangkal

- Riwayat DM

: disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat hipertensi

:disangkal.

- Riwayat penyakit jantung

: disangkal.

- Riwayat penyakit paru

: disangkal.

- Riwayat DM

: disangkal

6. Riwayat ANC
8 x dibidan tidak ada pesan-pesan khusus, diberi vitamin dan Fe.
ANC ke-9 keluhan ngerembes dan langsung dirujuk ke RSISA
7. Riwayat obstetri
G1 : hamil ini
11

8. Riwayat Menstruasi
- Menarche

: usia 12 tahun

- Siklus mestruasi

: 28 hari teratur

- Lama menstruasi

: 7 hari

- Dismenore

: (-)

9. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah yang pertama kali dengan suami yang sekarang.
Usia pernikahan 1,5 tahun
9. Riwayat Sosial Ekonomi
Untuk biaya kesehatan ditanggung asuransi jamsostek
10. Riwayat KB
C. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Present :
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Vital sign : Tensi :100/60 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR

: 20x/menit

Suhu : 36,8 C.
TB : 155cm
BB : 67 kg
B. Status Internus :
- Kepala

: Mesocephale

- Mata

: Conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)

- Hidung

:Discharge (-), nafas cuping hidung (-)

- Telinga

: Discharge (-), bentuk normal

- Mulut

: Bibir sianosis (-), bibir kering (-)

- Tenggorokan: Faring hiperemis (-), pembesaran tonsil (-)


- Leher

: Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)

- Kulit

: Turgor baik, ptekiae (-)

- Mamae

: Simetris, tampak membesar, hiperpigmentasi aerola mame (+), puting

menonjol (+/+)
- Paru

:
12

Inspeksi

: Pergerakan hemithorax dekstra dan sinistra simetris

Palpasi

: Stemfremitus dekstra dan sinistra sama, nyeri tekan (-)

Perkusi

: sonor seluruh lapang paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)


- Jantung

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Tidak dilakukan

Auskultasi : suara jantung I dan II murni, regular, suara tambahan (-)


- Ekstremitas :
Superior

Inferior

Oedem

-/-

-/-

Varises

-/-

-/-

Reflek fisiologis

+/+

+/+

Reflek patologis

-/-

-/-

C. Status Obstetri :
HPHT
HPL

: 8 12 2012
: 15 - 9 - 2013

Umur kehamilan

: 38 minggu

Abdomen :
Inspeksi

: Cembung, striae gravidarum (+), linea nigra (+), bekas operasi (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: nyeri tekan (-)

- Leopold I : - TFU 3 jari di bawah processus xiphoideus


- didapatkan massa bulat, lunak.
- Leopold II : -Janin sejajar sumbu ibu, memanjang
-Teraba tahanan memanjang sebelah kanan dan bagian-bagian kecil
pada sebelah kiri.
- Leopold III :- Teraba massa bulat, besar, keras
- Bagian bawah janin sudah tidak bisa digoyang.
- Leopold IV :- Konfigurasi kedua tangan sejajar.
TFU

: 31

TBJ

: (31-11) x 155 = 3100 gram

DJJ

: 12-12-11.
13

His

: 7 20

Genitalia :
Eksterna : air ketuban (+), lendir (+), darah (-), vulva oedem (-), pus (-).
VT :

- Vulva dan vagina

: supel, tumor (-)

- Jaringan sekitar

: tumor (-)

- Cerviks

: pembukaan 2 cm,

portio tebal lembut,

efficement 10%, KK (-).


POD

: belum bisa ditentukan

presentasi janin

: belum bisa ditentukan

penurunan hodge

: H+II

Handscooen

: darah (-) lendir (+)

Tes lakmus

: (+)

Inspikulo

: tidak dilakukan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Lab jam 16.40 wib, 04/09/2013
A. Pemeriksaan Laboratorium Darah
Hb

: 14,3 g/Dl

Hematokrit

: 42.5 %

Leukosit

: 16.88 /ul

Trombosit

: 228.000/Ul

Golongan darah

: A, Rhesus (+)

BT

: 1 menit : 30 detik

CT

: 4 menit : 30 detik

B. Pemeriksaan serologis : HbsAg (-)


C. Pemeriksaan kimia

: GSS : 93 mm/dl

2. Pemeriksaan Lab jam 20.30 wib, 04/09/2013


Pemeriksaan Laboratorium Darah
Hb

: 14,5 g/Dl

Hematokrit

: 45.5 %

Leukosit

: 21.4 /ul

Trombosit

: 226.000/Ul

3. Pemeriksaan USG
14

Uterus tampak membesar sesuai umur kehamilan, janin tunggal hidup intra uterin,
plasenta difundus

anterior

tidak ada

kelainan, cairan amnion kurang

kesan

oligohidramnion.
E. RESUME
Pasien G1P0A0 usia 23 tahun hamil 38 minggu datang dengan keluhan keluar
cairan ngepyok dari jalan lahir sejak sejak jam 11.00. Celana pasien basah akibat
cairaan tersebut, cairan berwarna jernih, lendir (+), darah (-) dan tidak berbau pesing.
Pasien juga merasa kenceng-kenceng sejak kemarin siang tiap 15 menit jam
sekali. Tidak ada gejala demam, tidak ada riwayat trauma jatuh, pasien mengaku
beberapa hari terakhir melakukan hubungan suami istri.
Riwayat Kehamilan
HPHT
HPL

: 8 12 2012
: 15 - 09 - 2013

Umur kehamilan : 38 minggu aterm


Status Present : Keadaan umum baik
Suhu : 36,8 C
Status Obstetri :
Tampak tanda-tanda tidak pasti kehamilan: hiperpigmentasi aerola mamae, mamae
membesar, striae gravidarum dan linea nigra.
Leopold :TFU sesuai umur kehamilan, janin letak kepala, puki, sudah masuk PAP.
DJJ

: 12-12-11.

His

: 7 20

Genitalia :
Eksterna : air ketuban (+), lendir (+), darah (-).
VT:
- Cerviks

: pembukaan 2 cm,

portio tebal lembut,

efficement 10%, KK (-), posisi uterus: anteflexi.


POD

: belum bisa ditentukan

presentasi janin

: belum bisa ditentukan

penurunan hodge

: H+II

Handscon

: darah (-) lendir (+)

Tes lakmus : (+) , sejak jam 11.00 > 5 jam ketuban pecah.

Pemeriksaan Laboratorium
15

Leukositosis (16.88 /ul) dan peningkatan hematokrit ( 45.5%)


Kesan: Ada tanda-tanda infeksi pada pasien.

USG
Kesan: Uterus tampak membesar sesuai umur kehamilan, janin tunggal hidup intra
uterin, plasenta difundus anterior tidak ada kelainan, cairan amnion kurang kesan
oligohidramnion.

F. DIAGNOSIS
Pasien G1P0A0 usia 23 tahun hamil 38 minggu, janin tunggal, hidup intra uterin
letak kepala, puki, inpartu kala 1 fase laten dengan ketuban pecah dini.
G. SIKAP
Prinsip penanganan : berdasarkan kondisi maternal dan janin, maka perlu dilakukan
pengelolaan secara aktif atau akhiri kehamilan.
1.
2.
3.
4.

Rawat inap+ infus RL


Pengawasan 10
pemberian antibiotik cefotaxim iv 2x1mg mencegah infeksi lebih lanjut
Dengan mempertimbankan Bishop score :
Pembukaan
:1
Effecement
:0
Penurunan kepala : 2
Konsistensi servik : 2
Posisi serviks
:2
score 7 dapat dilakukan induksi persalinan
Induksi Oksitosin 5 IU dalam 500 ml RL mulai 8 tetes permenit naikkan 4 tetes

tiap 15 menit, hingga 20 tetes permenit.


5. Lakukan terminasi persalinan dengan perabdominal jika ada indikasi.
H. PROGNOSIS
Kehamilan

: ad bonam

Persalinan

: dubia ad bonam

J.EDUKASI
1. Memberitahu akan dilakukan induksi persalinan.
2. Kemungkinan persalinan perabdominal jika ada indikasi.
K. DIAGNOSA AKHIR
P1A0 post SCTP atas indikasi KPD dan Fetal distress.
16

CASE BASE DISCUSSION (CBD)


KETUBAN PECAH DINI
Penguji: dr. Inu Mulyantoro, Sp.OG (K)

17

Disusun oleh :
Adhi Hermawan Saputro
01.209.5817

KEPANITRAAN KLINIK BAGIAN OBSGIN RSI-SA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2013

18