Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AIK STUDI AL-QURAN

CORAK PENAFSIRAN AL-QURAN DAN PRAKTEK TAHSIN ALQURAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah : AIK Studi Al-Quran
Dosen Pengampu : Siti Hajar, M.Ag

Disusun Oleh :
SITI NUR FADILAH (150621001)
GHINA NADHIVA (150621011)

PROGAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON
2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis limpahkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
rahmat, hidayah, kasih sayang serta pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Tak lupa sholawat
serta salam Penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan
sahabat, semoga selalu dapat menuntun Penulis pada ruang dan waktu yang lain.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah AIK Studi Al-quran
di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Cirebon, yang
berjudul Corak Penafsiran Al-quran dan Praktek Tahsin Al-Quran
Untuk menyelesaikan makalah ini adalah suatu hal yang mustahil apabila
Penulis tidak mendapatkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Dalam
kesempatan ini Penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing dan
teman-teman yang telah memberi dukungan dalam menyelesaikan makalah ini
dengan baik.
Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak dan bila
terdapat kekurangan dalam pembuatan laporan ini Penulis mohon maaf, karena
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Cirebon, 06 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................

Daftar Isi...........................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................

1.1 Latar Belakang ...............................................................................


1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................
1.4 Metode Penelitian ..........................................................................

1
2
2
2

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................

BAB III PENUTUP..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Al-Qur`an sebagai mukjizat Nabi Muhammad, terbukti mampu menampakkan
sisi kemukjizatannya yang luar biasa, bukan hanya pada eksistensinya yang tidak
pernah rapuh, tetapi juga pada ajarannya yang telah terbukti sesuai dengan
perkembangan zaman, sehingga ia menjadi referensi bagi umat manusia dalam
mengarungi kehidupan di dunia. Al-Qur`an tidak hanya berbicara tentang moralitas
dan spritualitas, tetapi juga berbicara tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
kehidupan umat manusia.
Al-Qur`an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat
Jibril dengan menggunakan Bahasa Arab yang sempurna. Di dalamnya terdapat
penjelasan mengenai dasar-dasar akidah, kaidah-kaidah hukum, asas-asas perilaku,
menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan berbuat. Akan tetapi
penjelasan itu tidak dirinci oleh Allah SWT, sehingga munculah banyak penafsiran,
terutama terkait dengan susunan kalimat yang singkat dan sarat makna.
Banyak ulama tafsir yang telah menulis beberapa karya tentang corak
penafsiran al-Qur`an. Dari para ulama itu munculah berbagai macam corak penafsiran
dalam rangka menyingkap pesan-pesan al-Qur`an secara optimal sesuai dengan
kemampuan dan kondisi sosial mereka.
Namun, dalam makalah ini, kami akan mencoba menjelaskan tentang corakcorak penafsiran, diantaranya: Tafsir bercorak Sufi, Tafsir bercorak Fiqh, Tafsir
bercorak Falsaf, Tafsir bercorak Ilm,

Tafsir bercorak Adab Ijtim (sosial

masyarakat), Tafsir bercorak Lughaw, dan Tafsir bercorak Teologi.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan corak penafsiran Al-Quran?
1.2.2 Apasajakah macam-macam corak penafsiran Al-Quran?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian corak penafsiran Al-Quran.
1.3.2 Untuk mengetahui macam-macam corak penafsiran Al-Quran.

1.4 Metode Penulisan

Metode penelitian yang saya gunakan untuk mencari sumber-sumber pembuatan


makalah ini adalah dengan cara mengumpulkan data dari beberapa situs di internet.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian corak penafsiran Al-Quan
Tafsir Al-Qur'an adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan
menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur'an dan isinya
berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan
tentang arti dan kandungan Al Quran, khususnya menyangkut ayatayat yang tidak di pahami dan samar. Corak penafsiran dalam literatur
sejarah tafsir biasanya diistilahkan dalam bahasa Arab yaitu al-laun yang berarti
dasarnya warna. Istilah ini pula di gunakan Azzahaby dalam kitabnya At-Tafsir Wa-alMufassirun. Berikut potongan ulasan beliau ( .)
(Tentang corak-corak penafsiran di abad modern. Sedangkan dalam bahasa Indonesia
corak memiliki beberapa makna, diantaranya corak bermakna bunga atau gambar (ada
yang berwarna-warna) pada kain (tenunan, anyaman dan sebagainya), juga bermakna
berjenis-jenis warna pada warna dasar (kain, bendera dan lain-lain), serta
bermakna sifat (paham, macam, bentuk) tertentu, Corak yang dimaksud di sini ialah
nuansa khusus atau sifat khusus yang memberikan warna tersendiri pada tafsir. Warna
adalah setiap sesuatu yang dapat membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.
Hal ini berarti kata warna dalam bahasa Arab juga bermakna jenis dan kekhasan
dalam sesuatu
Sedangkan kata tafsir berasal dari kata al fasr yang artinya adalah
menjelaskan dan mengungkapkan makna Tafsir al-Qur`an sebagai usaha untuk
memahami dan menerangkan maksud dan kandungan ayat-ayat suci mengalami
perkembangan yang cukup bervariasi. Corak penafsiran al-Qur`an adalah hal yang tak
dapat dihindari. Berbicara tentang karakteristik dan corak sebuah tafsir, di antara Para
Ulama membuat pemetaan dan kategorisasi yang berbeda-beda. Ada yang menyusun
bentuk pemetaannya dengan tiga arah, yakni; pertama, metode (misalnya; metode ayat
antar ayat, ayat dengan hadis, ayat dengan kisah Israiliyyat), kedua, teknik penyajian
(misalnya; teknik runtut dan topical), dan ketiga, pendekatan (misalnya; fiqh, falsaf,
sufi dan lain-lain).
Dari pengertian mengenai corak dan tafsir maka dapat disimpulkan bawa corak
tafsir adalah ragam, jenis dan kekhasan suatu tafsir. Dalam pengertian yang lebih luas
Corak Tafsir adalah nuansa atau sifat khusus yang mewarnai sebuah penafsiran dan
merupakan salah satu bentuk ekspresi intelektual seseorang mufassir, ketika ia
menjelaskan maksud-maksud ayat al-Quran. Penggolongan suatu tafsir pada suatu
3

corak tertentu bukan berarti ia hanya memiliki satu ciri khas saja. Setiap seorang
mufasir menulis sebuah kitab tafsir sebenarnya telah menggunakan banyak corak
dalam tafsirnya tersebut, namun tetap saja ada corak dominan yang ada pada hasil
karyanya tersebut. Sehingga corak yang dominan inilah yang menjadi dasar
penggolongan tafsir tersebut.
Sumber : (https://id.wikipedia.org/wiki/Tafsir_Alquran)
2.2 Macam-macam corak penafsiran Al-Quran
Quraish Shihab, mengatakan bahwa corak penafsiran yang dikenal selama ini,
antara lain: corak sastra bahasa, corak filsafat, corak teologi, corak penafsiran ilmiah,
corak fiqih atau hukum, corak tasawuf, dan corak sastra budaya. Sedangkan disini
kami menjelaskan ada tujuh corak penafsiran yang relatif digunakan para Mufasir
dalam menafsirkan Al-Qur`an, walaupun seiring perkembangan ilmu pengetahuan
yang menyebabkan timbulnya corak-corak baru dalam ruang lingkup penafsiran alQur`an, diantara tujuh corak itu adalah:
2.2.1 Tafsir Bercorak Shufi
2.2.1.1 Pengertian
Tafsir sufi adalah tafsir yang ditulis oleh para sufi atau ahli
tasawuf. Tasawuf itu sendiri secara harfiah berarti mensucikan. Tafsir
bercorak sufi ialah tafsir dengan kecenderungan menta`wilkan al-Qur`an selain dari
apa yang tersirat, dengan berdasarkan isyarat-isyarat yang nampak pada ahli ibadah.
2.2.1.2 Karakteristik
Corak tafsir shufi ini terdiri dari dua cabang yaitu penafsiran aliran
tasawuf teoritis dan aliran tasawuf praktis.
2.2.1.2.1 Tasawuf teoritis
Tasawuf teoritis, yakni tasawuf yang didasarkan atas hasil pembahasan dan
studi yang mendalam. Dari kalangan tokoh-tokoh tasawuf lahir ulama yang
mencurahkan waktunya untuk meneliti, mengkaji, memahami dan mendalami alQur`an dengan sudut pandang sesuai dengan teori-teori tasawuf mereka. Mereka
menta`wilkan ayat-ayat al-Qur`an dengan tidak mengikuti cara-cara untuk
menta`wilkan ayat al-Qur`an dan menjelaskannya dengan penjelasan yang
menyimpang dari pengertian tekstual yang telah dikenal dan didukung oleh dalil

Syari serta terbukti kebenarannya dalam bahasa Arab, yaitu dalam bab perihal
Isyarat. Mereka berkeyakinan bahwa pengertian tekstual sama sekali bukanlah yang
dikehendaki (pengertian batin, bukan tektual, itulah yang dikehendaki). Oleh karena
demikianlah keyakinan aliran Bathiniyah yang ekstrim, maka mereka sampai
menafikan syariat secara keseluruhan. Beberapa tokoh sufi tidaklah bersifat
demikian, Lebih jauh Al-Alusy berkata: Tidaklah sepantasnya bagi orang yang
kemampuannya terbatas dan keimanannya belum mendalam mengingkari bahwa AlQur`an mempunyai bagian-bagian batin yang dilimpahkan oleh Allah yang Maha
Pencipta dan Maha Pelimpah batin-batin hamba-Nya yang dikehendaki.
2.2.1.2.2 Tasawuf praktis
Tasawuf praktis, yakni tasawuf yang dihasilkan oleh praktik gaya hidup zuhud
dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Mereka benar-benar menerapkan sikap
di atas untuk hidup, mereka bersikap zuhud di alam kehidupan dunia dan selalu
bersiap diri menghadapi kehidupan di akhirat.
Dari

pembagian

kelompok

tasawuf

tersebut

tampak

mulai

adanya

ketidakmurnian dalam tasawuf, orang-orang yang bukan ahlinya mencoba


mempelajari tasawuf dengan landasan ilmu yang dianutnya.Sehingga hal tersebut
sangat berpengaruh pada bidang lainnya seperti fiqih, hadis dan tafsir. Pada masa ini
pula bermunculan istilah-istilah seperti khauf, mahabbah, marifah, dan lain
sebagainya. Dan sejak itu pula selanjutnya tasawuf telah menjadi lembaga atau
disiplin ilmu yang mewarnai khazanah keilmuan dalam Islam, seperti halnya filsafat,
hukum dan yang lainnya.
Perkembangan pemikiran Islam, khususnya dalam dimensi penafsiran terhadap
ayat-ayat

al-Quran

memunculkan

corak

penafsiran

sufi.

Maka

tidaklah

mengherankan bila corak penafsiran semacam ini memang bukan hal yang baru,
bahkan telah dikenal sejak awal turunnya al-Qur`an kepada Rasulullah SAW, sehingga
dasar yang dipakai dalam penafsiran ini umumnya juga mengacu pada penafsiran alQur`an melalui sumber-sumber Islam yang disandarkan kepada Nabi SAW, para
sahabat, dan pendapat kalangan Tabiin.
Dalam perjalanannya, tafsir ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu:
1) Tafsir Sf Isyr, yaitu penafsiran al-Qur`an dalam bentuk ta`wil, yakni penafsiran
yang bersifat batini. Penafsiran ini dapat diuji validitasnya ketika dibuktikan
kesesuaiannya antara penafsiran yang batini dengan kenyataan lahiriah.

2)

Tafsir Sf Nadzar, yaitu tafsir yang dibangun atas premis-premis ilmiah yang
diterapkan dalam penafsiran al-Qur`an. Sedangkan Tafsir Sf Isyr tidak dibangun
atas dasar premis-premis ilmiah. Ia dibangun atas dasar riydhah rhiyyah, yaitu
latihan-latihan spiritual yang dilakukan seorang sufi hingga ia mencapai tingkat
menemukan petunjuk melalui hati nuraninya (inkisyaf).
Ada beberapa kriteria tafsir sufi yang diterima yaitu :

1)

Tidak menafikan penafsiran lahiriah

2)

Ada kesaksian syari yang menguatkan penafsiranya

3)

Tidak bertentangan dengan hukum dan akal

4)

Ada kesadaran bahwa Tafsir Isyr itu bukan satu satunya yang di maksud Al
Qur`an.
Salah satu contoh karya yang menampilkan corak tafsir sufi adalah:

1)

Tafsr al-Qur`n al-Karm, karya Sahl al-Tustar (w.283 H);

2) Haqiq al-Tafsr, karya Abu Abd al-Rahman al-Sulam (w.412 H);


3) Lathif al-Isyrah, karya al-Qusyairi, dan
4) Aris al-Bayn f Haqiq al-Qur`n, karya al-Syiraz (w.606).
2.2.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Tafsir sufistik
Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Sufi Tafsir sufi termasuk dalam kategori tafsir
Ilmy.
Kelebihan Tafsir Sufi ruang lingkup yang luas: Metode analisis mempunyai
ruang lingkup yang termasuk luas. Metode ini dapat digunakan oleh mufassir dalam
dua bentuknya; matsur dan ray dapat dikembangkan dalam berbagai penafsiran
sesuai dengan keahlian masing-masing mufassir.
Kekurangan Tafsir Sufi memuat berbagai ide: metode analitis relatif
memberikan kesempatan yang luas kepada mufassir untuk mencurahkan ide-ide dan
gagasannya dalam menafsirkan al-Quran. Itu berarti, pola penafsiran metode ini
dapat menampung berbagai ide yang terpendam dalam bentuk mufassir termasuk yang
ekstrim dapat ditampungnya.
2.2.2 Tafsir bercorak fiqhi
2.2.2.1 Pengertian
Tafsir fiqhi, yaitu penafsiran al-Quran yang dilakukan oleh
tokoh suatu madzhab untuk dijadikan sebagai dalil atas kebenaran

madzhabnya. Tafsir fiqhi banyak ditemukan dalam kitab-kitab fikih


dari berbagai madzhab yang berbeda.
Tafsir fiqhi yaitu penafsiran ayat-ayat Al-Quranyang khusus
mengandung hukum-hukum amaliyah bagi seorang muslim dalam
kehidupannya sehari-hari. Tafsir fiqhi muncul bebarengan dengan
lahirnya tafsir al-matsur, dan sama-sama dinukilkan oleh Nabi SAW
tanpa perbedaan antara keduanya.
2.2.2.2 Karakeristik
Tafsir fighi muncul berbarengan dengan lahirnya al-Tafsir bi al-Matsur, dan
sama-sama dinukilkan oleh Nabi SAW tanpa perbedaan antara keduanya. Pada masa
lahirnya mazhab fikih yang empat dan lainnya. Tatkala menemukan kemskilan dalam
memahami Al-Quran, para sahabat bertanya kepada Nabi pun menjawab dengan
dikategorikan sebagai tafsir bi al-matsur juga dikategorikan sebagai tafsir fiqih.
Tafsir

Fiqih semakin

berkembang

seiring

dengan

majunya

itensitasijtihad. Pada awalnya, penafsiran-penafsiran fiqih terlepas dari ontaminasi


hawa nafsu dan motivasi-motivasi negatif. Pada masa lahirnya mazhab fikih banyak
muncul masalah-masalah baru yang belum ada ketentuan hukumnya pada masa ulama
terdahulu. Karena hal tersebut belum pernah terjadi pada zaman mereka, maka para
imam pada zaman ini terpasa harus memecahkan persoalan-persoalan baru tersebut
dengan merujuk langsung kepada Al-Quran dan al-Sunnah serta sumber hukum
lainnya.
Oleh karena itu kita menemukan beberapa karya tafsir al-quran di kalangan
Ahl Sunnah yang semula obyektif kemudian terpengaruh juga oleh fanatisme mazhab.
Di kalangan mazhab al-zhahir terdapat pula tafsir al-fiqhi yang berdasarkan kepada
pengertian zhahir ayat-ayat al quran.
Tafsir Fiqhi ini tersebar luas di berbagai kitab fikih yangdikarang oleh tokoh
berbagai mazhab. Setelah masa kodifikasi, banyak ulama menulis karya tafsir fiqhi
sesuai dengan pandangan mazhab mereka. Diantara kitab-kitab tafsir yang bercorak
fiqhi ini adalah: Ahkam al-Quran, oleh al-Jash-shash (w. 370 H), Ahkam al-Quran,
karya Ibn al-Aarabi w.543 H) dan Al-Jami li Ahkam Al-Quran, oleh al-Qurthuby (w.
671 H).

2.2.2.3 .

Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Fiqhi

Dari penjelasan diatas penulis memberikan kesimpulan bahwa kelebihan dan


kekurangan Tafsir Fiqhi adalah:
2.2.2.3.1 Kelebihan Tafsir Fiqhi
Meskipun peluang terjadinya perbedaan pendapat dalam melakukan penafsiran alQuran lewat pendekatan fiqhi sangatlah besar, namun penafsiran lewat pendekatan
ini memiliki bebarapa kelebihan, diantaranya :
a. Memberikan kejelasan terhadap umat Islam akan kandungan hukum syariat yang
terdapat dalam al-Quran, hal ini menjadi titik tolak pemahaman umat bahwa
sesungguhnya al-Quran tidak hanya menjelaskan tentang aspek yang bersifat
transenden dan metafisik (aqidah), akan tetapi ia juga menjelaskan tentang aspekaspek syariah, disisi lain juga memberitahukan bahwa syariah atau hukum bukan
semata-mata merupakan produk fuqaha akan tetapi telah menjadi bagian dari nashnash al-Quran bahkan lebih dominan yang mampu mengatur tatanan hidup manusia
baik individu maupun sosial.
b.

Upaya untuk memberikan kesepakatan praktis yang bertujuan untuk mempermudah


manusia dalam mengaplikasikan seluruh bentuk hukum-hukum Allah yang termaktub
di dalam al-Quran setelah terjebak ke dalam perbedaan mazhab dogmatis serius yang
bersifat teoritis.

c. Tafsir al-Quran dengan pendekatan fiqhi meskipun memberikan peluang terjadinya


perbedaan pemahaman terhadap teks-teks Quraniyyah tetap memberikan sumbangsih
pemikiran bahwa sesungguhnya seluruh bentuk aturan dan hukum dalam kehidupan
baik individu maupun sosial tetap harus tunduk kepada al-Musyarri al-Awwal (Allah)
melalui kalam-Nya yang mulia kemudian kepada pembawa wahyu dan risalah yang
kemudian dikenal sebagai al-musyarri ats-Tsany bada Allah (Rasulullah Saw)
melalui Sunnah beliau demi kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat.
d. Tafsir fiqhi berusaha untuk membumikan al-Quran lewat pemahaman ayat-ayat
qauliyah kepada ayat-ayat kauniyyah guna meberikan penyadaran, pemberdayaan dan
advokasi terhadap permasalahan kehidupan manusia.
e. Tafsir fiqhi kendatipun beragam tetap memberikan kekayaan bagi khazanah
intelektual muslim dunia, sebab tanpa adanya penafsiran al-Quran dalam bentuk ini,
maka umat Islam secara khusus dan manusia secara umum akan kehilangan akar
hukum dan perundang-undangan yang sesungguhnya.

2.2.2.3.2 Kelemahan tafsir fikhi:

Hasil olah manusia biasa tak kan pernah lepas dari berbagai macam bentuk
kekurangan dan kelemahan. Demikian juga adanya dengan penafsiran al-Quran yang
meskipun landasan penafsirannya adalah untuk menemukan saripatih dari perkataan
Yang Maha Benar secara mutlak namun dilakukan oleh manusia, maka pasti akan
terdapat kelemahan. Dan diantara kelemahan penafsiran al-Quran melalui pendekatan
fiqhi adalah :
a. Tafsir fiqhi cenderung terjebak pada fanatik mazhaby sehingga memunculkan sikap
ortodoksi, pembelaan dan pembenaran terhadap madzhab tertentu dan menafikan
keabsahan mazhab-mazhab lainnya. Sikap ini terwariskan kepada berpulu-puluh
generasi hingga saat ini.
b.

Tafsir fiqhi melakukan reduksi pada satu aspek tertentu dari al-Quran (penafsiran
parsial) padahal al-Quran meliputi akidah dan syariah, konsep dan sistem, teori dan
praktek yang membutuhkan pemahaman dan penafsiran secara universal.

c. Tafsir fiqhi lebih mengedepankan penafsiran al-Quran dengan menghubungkannya


pada konteks sosial tertentu dan cenderung mengabaikan nilai-nilai universal hukumhukum yang terdapat di dalam al-Quran (rahmatan li al-alamin). Sebab tidak semua
bentuk permasalahan yang telah terjawab pada masa lampau masih berlaku pada masa
sekarang, sehingga dibutuhkan penafsiran terhadap ayat-ayat hukum al-Quran yang
sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini tanpa menafikan kerja-kerja yang bersifat
analogi terhadap masa lampau dan berusaha untuk tidak terjebak pada perbedaan
teoritis mazhaby.
2.2.3 Tafsir bercorak Falsaf
2.2.3.1 Pengertian
Tafsir Falsafi atau disebut juga dengan tafsir Aqli adalah Tafsir al-Quran yang
beraliran filsafat atau rasional. Pada umumnya penafsiran ayat-ayat difouskan kepada
bidang filasafat dengan menggunakan jalan pemikiran secara filsafat.
Tafsir falsafi adalah upaya penafsiran al-Quran dikaitkan dengan persoalanpersoalan filsafat. Tafsir falsafi yaitu tafsir yang didominasi oleh teori-teori filsafat
sebagai paradigmanya. Ada juga yang mendefisnisikan tafsir falsafi sebagai penafsiran
ayat-ayat al-Quran dengan menggunakan teori-teori filsafat. Hal ini berarti bahwa
ayat-ayat al-Quran dapat ditafsirkan dengan menggunakan filsafat. Karena ayat al-

Quran bisa berkaitan dengan persoalan-persoalan filsafat atau ditafsirkan dengan


menggunakan teori-teori filsafat.
2.2.3.2 Karakteristik
Latar belakang lahirnya tafsir corak filsafat karena tokoh-tokoh Islam yang
membaca buku-buku falsafat. Dalam memahami filsafat tersebut para ulama trbagi
kepada dua golongan, sebagai berikut: pertama,golongan yang menolak falsafat,
karena mereka menemukan adanya pertentangan anatara falsafat dan agama.
Kelompok ini secara radikal menentang falsafat dan berupaya menjauhkan umatnya.
Tokoh pelopor kelompok ini adalah al-Imam al-Ghazali dan al-Fakr al-Razi. Dalam
tafsirnya membeberkan ide-ide falsafat yang dipandang berentangan dengan agama,
khususnya dengan al-Quran, akhirnya ia dengan tegas menolak falsafat berdasarkan
alasan dan dalil yang ia anggap memadai.
Diantara yang bersikap keras dalam menyerang para filosof dan filsafat
adalah Hujjah al-Islam al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Karena ia mengaran
kitab Al-Isyarat untuk menolak paham mereka, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Imam AlFakhr Al-Razy dalam kitab tafsirnya megemukakan paham mereka kemudian
membatalkan teori-teori filsafat mereka, karena dinilai bertentangan dengan agamadan
Al-Quran.
Kedua, golongan yang mengagumi dan menerima filsafat, kelompok ini berupaya
mengkompromikan atau mencari titik temu antara falsafat dan agama serta berusaha
untuk menyingkirkan segala pertentangan.
Di antara kitab-kitab tafsir yang ditulis berdasarkan corak falsafi, yaitu golongan
pertama yang menolak falsafat, adalah kitab tafsir Mafatih al-Ghiaib, oleh al-Fakhr alRazi (w. 606 H.). sedangkan golongan kedua adalah Tasir al-Farabi (w. 239 H) dan
Tafsir Ikhwanus Shafa. Tafsir yang menggunakan analisis disiplin ilmu-ilmu filsafat.
Al-Dzahabi ketika mengomentari perihal tafsir falsafi antara lain menyatakan bahwa
mnurut penyelidikannya dalam banyak segi pembahasan-pembahasan filsafat
bercampur dengan penafsiran ayat-ayat al-Quran. Di antara contohnya ia
menyebutkan penafsiran sebagian filosof yang mengingkari kemungkinan miraj Nabi
Muhammad Saw., dengan fisik di samping ruhnya. Mereka hanya meyakini
kemungkinanmiraj Nabi Muhammad Saw., hanya dengan ruh tanpa jasad. Contoh
kitab tafsirnya adalah Mafatih al-Ghayb karya Fakhr al-Din al-Razi.

10

Pada saat ilmu-ilmu agama dan sain mengalami kemajuan, kebudayaankebudayaan Islam berkembang kepada gerakan penerjemahan buku-buku yang
diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Hal ini pula yang membawa Islam kepada
pengenalan terhadap filsafat terutama dari buku-buku karangan Aristoteles dan Plato.
Filsafat dianggap sebagai hal baru yang dapat mengeksplor pemikiran mereka dan
oleh karena mereka sangat gandrung akan model pemikiran semacam ini, maka dari
sinilah mengapa sebagian orang Islam menafsirkan al-Quran dengan menggunakan
pendekatan filsafat atau yang disebut dengan tafsir falsafi. (Journal Menimbang Tafsr
Al-falsaf oleh : Dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya voll -34-79).
Yang dimaksud dengan tafsir falsafi dalam tafsir al-Mizan fi tafsir al-Quran adalah
bagaimana para filosof membawa pikiran-pikiran filsafat dalam memahami ayat-ayat
al-Quran. Diantara tokohnya adalah Al-Farabi, Ibnu-Shina. Sedang Thaba
Thabai sendiri

memasukkan

pembahasan

filsafat

sebagai

tambahan

dalam

menerangkan suatu ayat atau menolak teori filsafat yang bertentangan dengan alQuran. Ia menggunakan pembahasan filsafat hanya pada sebagian ayat saja.
2.2.3.3 Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Falsafi
Dari penjelasan diatas penulis memberikan kesimpulan bahwa kelebihan dan
kekurangan Tafsir Falsafi adalah:
Kelebihan Tafsir Falsafi:
1.

Membangun khazanah keislaman sehingga nantinyaakanmampu mengetahui


maksud dari ayat tersebut dari berbagai aspek, terutama aspek filsafat.

2.

Membangun abstraksi dan proposisi makna-makna latent (tersembunyi) yang


diangkat dari teks kitab suci untu dikomunikasikan lebih luas lagi kepada masyarakat
dunia tanpa hambatan budaya dan bahasa.
Kekurangan Tafsir Falsafi:
Cendrung membangun proposisi universal yang hanya berdasarkan logika dan
karena peran logika begitu mendominasi, maka corak ini kurang memperhatikan
aspek historisitas kitab suci.

2.2.4 Tafsir bercorak Ilm


2.2.4.1 Pengertian

11

Tafsir Ilmi yaitu tafsir al-Quran yang beraliran ilmiah. Yang berarti penafsiran
Al-Quan dengan kecenderungan menafsirkan al-Qur`an dengan memfokuskan
penafsiran pada kajian bidang ilmu pengetahuan, yakni untuk menjelaskan ayat-ayat
yang berkaitan dengan Ilmu dalam al-Qur`an.
2.2.4.2 Karakteristik
Lahirnya tafsir ilmi ini karena adanya ayat-ayat al-Quran yang berisi ajakan
ilmiah, yang didasarkan atas prinsip pembebasan akal tahayl dankemerdekaa berfikir.
Al Quran menyuru umat manusia memperhatikan alam. Allah SWT disamping
menyuruh umat manusia memperhatikan wahyu-Nya yang tertulis, sekaligus
menganjurkan kita agar memperhatikan wahyu-Nya yang tampak dan tidak tertulis,
yaitu alam.
Di antara para ulama yang gigih mendukung corak al-Tafsir al-Ilmi ini adalah:
al-Imam al-Fakhr al-Razi, melalui kitab tafsirnya yang besar,Malfatih al-Ghaib, alImam al-Ghazali melalui kitabnya al-Itqan.
Meskipun sebagian ulama ada yang menolak, karya-karya tafsir corak ilmi,
namun corak tafsir ini mulai bermunculan,dan mendapat perhatian besar para peneliti
dan ilmuwan. Menurut kalangan ulama tafsir ilmi dinilai keliru, sebab Allah tidak
menurunan Al Quran sebagai kitab yang berbicara tentang teori-teori ilmu
pengtahuan, kajian tafsir ilmi dinilai keliru karena para penafsir dicap berlebih-lebihan
dalam menakwiklkan ayatt-aya tanpa ada rasa kagum akan aspek kemukjizatan ayat
dan tanpa perasaan yang benar lagi sehat.
Faktor yang menyebabkan ulama bersikap keras menolak al-Tafsir al-Ilmi. Di
antaranya menurut al-Ustazd Ahmad Hanafi, Pertama adanya warisan akidah yang
berakar kuat di dalam benak umat bahwa Al Quran itu semata-mata petnjuk dan
penuntun kehidupan manusia. Kedua,sebagian ulama beranggapan antara ayat-ayat
yang berbicara tentang alam secara terpisah-pisah tersebut tidak ada korelasi dan
berkaitan satu sama lainnya, walaupun semuanya berbicara satu masalah yang sama.
Kajian al-Tafsir al-Ilmi ini, termasuk kedalam kategori kajian tafsir Tematik (Al
Tafsir al-Mawdhuiy), yang membahas topik atau masalah-masalah menarik dewasa
ini, dan hukum membahasnya adalah sama dengan hukum membahas tafsir tematik.
Kajian tafsir ini adalah untuk memperkuat teori-teori ilmiah bukan sebaliknya,
dalam artian teori ilmiah memperkuat tafsir. Kajian aspek-aspek ilmiah terdapat di
dalam

al-Quran,

sebagai

jalan

untuk

menemukan

petunjuk

dan

metode

memahaminya.

12

Sikap para ulama terhadap tafsir Ilmy dapat dikelompokkan kepada dua, sebagai
berikut:
a)

Mereka yang mendukung tafsir Ilmi dan bersikap terbuka sehingga mereka
menjadikan Al-Quran sebagai mujizat ilmiah, karena ia mencangkup segala macam
penemuan dan teori-teori ilmiah moderen. Mereka berkata:Al Quran itu menghimpun
ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pengetahuan yang tidakkesemuanyadapat dijangkau
oleh manusia, bahkan lebih dari itu ia mengemukakan hal-hal yang terjadi jauh
sebelum ia turun dan yang akan terjadi.

b) Mereka yang menolak tafsir Ilmi tidak melangkah jauh untuk memberikan maknamakna yang tidak dikandung dan dimunginkan oleh ayat yang mengharapkan Al
Quram kepada teori-teori ilmiah yang jelas-jelas terbukti tidak benar setelah
berpuluh-puluh tahun, teori-teori itu bersifat relatif. Selain dua sikap ulama diatas ada
ulama yangbersikap moderat. Mereka mengatakan; kita sangat perlu mengetahui
cahaya-cahaya ilmu yang mengungkapkan kepada kita hikmah-hiknah dan rahasiarahasia yang dikandung oleh ayat-ayat kawniyyah yang demikian itu tidak ada
salahnya, mengingat ayat-ayat itu tidak hanya dipahami seperti pemahaman bahasa
arab, oleh karena Al Quran untuk seluruh manusia.
2.2.4.3 Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Ilmi
Dari

sekilas

pembacaan

di

atas,

gagasan-gagasan

yang

berupaya

menghubungkan atau mencari relevansi antara berbagai ilmu pengetahuan dengan


pemahaman atau penafsiran al-Quran terus mengalami perkembangan hingga abad 14
H/ 20 M dengan berbagai motivasi dan latar belakang.
Sayangnya perhatian intelektual Islam terhadap pemikiran-pemikiran tersebut
sangat minim, sementara di sisi lain kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan seperti
yang ditunjukkan dalam ayat-ayat yang berbicara tentang hewan, tumbuh-tumbuhan,
langit dan bumi juga tidak bisa dinafikan disamping kebutuhan terhadap hukum dan
sebagainya.
Senada dengan hal itu, Az-Zahabi juga menunjukkan beberapa kelemahan
dalam dalam penafsiran model tafsir ilmi ini, diantaranya:
1. Aspek Bahasa: Bahasa selalu mengalami perkembangan, sehingga sebuah kata tidak
hanya memiliki satu makna akan tetapi memiliki berbagai makna termasuk
penggunaannya dari waktu ke waktu. Meskipun demikian, pada umumnya ayat-ayat
al-Quran dipahami dengan tetap memperhatikan latar belakang pemaknaan pada saat

13

ayat itu turun, yang di antaranya diketahui melalui informasi para Sahabat dan
masyarakat Arab pada waktu itu. Memperluas pemaknaan sebuah ayat dengan istilahistilah baru sains tanpa memperhatikan latar belakang pemaknaan, sementara hal itu
tidak pernah dikenal sebelumnya dinilai merupakan sesuatu yang tidak rasional.
2. Aspek Retoris: Al-Quran dikenal memiliki nilai dan kualitas retorika yang tinggi
sehingga selalu terdapat korelasi dalam sebuah ayat dengan ayat-ayat yang lainnya
termasuk dari aspek pemaknaannya. Adanya anggapan bahwa al-Quran mencakup
seluruh ilmu pengetahuan, bahkan mengaitkan ayat-ayat al-Quran dengan istilahistilah sains dan ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan korelasinya dengan ayat-ayat
yang lain adalah sesuatu yang mengurangi ketinggian nilai al-Quran.
3. Aspek Aqidah: Al-Quran adalah kebenaran mutlak yang diturunkan kepada seluruh
manusia secara sempurna, tidak akan pernah lekang dimakan waktu sehingga selalu
dapat di dipahami dan diaplikasikan sepanjang masa. Sementara kebenaran temuan
ilmiah adalah sesuatu yang bersifat tentatif dan relatif, dalam arti bahwa teori-teori
sains tersebut dapat diruntuhkan oleh teori lain sebagaimana dikenal dalam dunia
saintifik. Mensejajarkan ayat-ayat al-Quran dengan teori dan temuan-temuan saintifik
dengan demikian merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima karena jika teori-teori
tersebut runtuh maka kebenaran al-Quran seolah-olah juga runtuh.
2.2.5 Tafsir bercorak Adab Ijtim (sosial masyarakat)
2.2.5.1 Pengertian
Tafsir ini adalah tafsir yang memiliki kecenderungan kepada persoalan sosial
kemasyarakatan. Tafsir jenis ini lebih banyak mengungkapkan hal-hal yang berkaitan
dengan perkembangan kebudayaan masyarakat yang sedang berlangsung. Pengertian
secara makna kebahasaan, istilah corak Al-adabi wa al-ijtimai itu tersusun dari dua
kata, yaitu al-adabi dan al-ijtimai, kata al-adaby merupakan bentuk kata yangdiambil
dari fiil madhi aduba, yang mempunyai arti sopan santun, tata krama dan sastra,
sedangkan kata al-ijtimaiy yaitu mempunyai makna banyak berinteraksi dengan
masyarakat

atau

bisa

diterjemahkan

hubungan

kesosialan,

namun

secara

etimologisnya tafsir al-adaby al-Ijtimai adalah tafsir yang berorientasi pada sastra
budaya dan kemasyarakatan.
2.2.5.2 Karakteristik

14

Sebagai salah atu akibat perkembangan modern adalah munculnya corak tafsir yang
mempunyai karakteristik tersendiri, berbeda dari corak tafsir lainnya dan memiliki
corak tersendiri yang benar-benar baru bagi dunia tafsir dengan cara:
1)

Mengemukakan ungkapan al-Quran secara teliti.

2)

Menjelaskan makna-makna yang dimaksud Al-Quran dengan menggunakan gaya


bahasa yang indah dan menarik.

3)

Langkah berikutnya mufassir berusaha menghubungkan nash-nash al-Quran yang


dikaji dengan kenyataan sosial dan sistem budaya yang ada.
Pembahasan tafsir dengan menggunakan corak ini sepi dari
penggunaan ilmu dan teknologi, dan tidak akan menggunakan
istilah-istilah tersebut kecuali jika dirasa perlu dan hanya sebatas
kebutuhan. Muhammad Husain adz-Dzahabi menyatakan bahwa
tafsir

yang

bercorak al-Adabi

al-Ijtimaiadalah

tafsir

yang

menyinggung segi balaghah, keindahan bahasa al-Quran, dan


ketelitian segi redaksinya, dengan menerangkan makna dan tujuan
diturunkannya al-Quran. Kemudian mengaitkan kandungan ayat-ayat al-Quran
itu dengan hukum alam (sunnatullah) dan aturan kehidupan kemasyarakatan. Tafsir ini
berusaha untuk memecahkan problema kehidupan umat Islampada khususnya, dan
umat manusia pada umumnya.
Adapun Manna al-Qaththan memberikan batasanya dengan
menyataka bahwa tafsir corak al-Adabi al-Ijtimai adalah tafsir yang
diperkaya oleh riwayat dari salaf al-ummah dan uraian
tentangSunatullah yang harus berlaku pada masyarakat. Disamping
itu, menguraikan gaya ungkapan al-Quran yang pelik dengan
menyinggung maknanya melalui ibarat-ibarat yang mudah dicerna.
Serta berusaha menerangkan masalah-masalah yang asing dengan
maksud mengembalikan kemuliaan dan kehormatan islam dan
umatnya serta mengobati penyakit-penyakit kemasyarakatan
dengan pendekatan petujukan al-Quran.
2.2.5.3

Kelebihan

dan

Kekurangan

Tafsir

Adabi

Ijtimai
Sebagaimana corak-corak tafsir yang ada, corak tafsir adabi ijtimai juga
mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Adapun kelebihan dan kekurangan
corak tafsir adabi ijtimai bisa dirinci bahwa kelebihannya adalah dalam menafsirkan
sebuah ayat, mufassir bukan hanya terfokus pada aspek balaghah yang ada, namun
15

juga mengkaitkan makna yang terkandung dengan keadaan sosial yang ada, juga
pemilihan bahasa yang sesuai dengan kondisi perkembangan umat modern yakni lugas
dan tidak berbelit, sehingga mudah untuk dipahami ole siapa saja (bukan hanya ulama
saja). Dalam tafsirannya, corak tafsir adabi ijtimai ini menganalogikan dengan sesuatu
berkembang di zaman-nya seperti pemahaman tentang ilmu pengetahuan dan
teknologi,

sehingga

maknanya

dapat

dengan

mudah

ditangkap

oleh

pembaca/pendengarnya. Sedangkan sisi kekurangannya yaitu terkadang kesesuaian


itu tidak sesuai dengan daerah kondisi mufassir tinggal ketika itu (bisa dikatakan
bersifat lokal). Sehingga bisa dipastikan bahwa penafsiran yang bercorak adabi ijtimai
belum tentu sesuai dengan keadaan yang ada pada masyarakat lain.
2.2.6 Tafsir bercorak Lughaw
2.2.6.1 Pengertian
Tafsir bercorak Lughaw adalah tafsir yang mencoba menjelaskan maknamakna al-Quran dengan menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan Penafsirannya
meliputi segi Irb, Harakat, Bacaan, Pembentukan kata, Susunan kalimat dan
Kesusastraannya. Tafsir semacam ini selain menjelaskan maksud-maksud ayat-ayat alQur`an juga menjelaskan segi-segi kemujizatannya.
2.2.6.2 Karakteristik
Tafsir yang tergolomg baru di dunia Arab ini, yakni sekitar abad ke-14 H, yang
diperkenalkan oleh Sayyid Quthb pada karyanya F Dhill al-Qur`an. Selain itu,
dia pun menulis dua buah buku yang diberi judul: al-Taswr al-Fann F al-Qur`an
dan Masyhid al-Qiymat F al-Qur`an.

Kedua buku terakhir ini lebih kecil

daripada kitab karangannya yang pertama (F Dhill al-Qur`an). Akan tetapi, ketiga
kitab tersebut memiliki rh (tujuan atau fungsi) yang sama yakni berusaha untuk
mencapai pemahaman corak atau kecendrungan sastra dalam al-Qur`an. Tafsir
bercorak Lughaw yang mengandung Adab ini tetlepas pemaparannya dari berbagai
ungkapan yang berhubungan dengan kajian Nahwu, aturan-aturan kebahasaan, istilahistilah Balghah, atau kajian-kajian lainnya yang menjadi kecendrungan tafsir-tafsir
lain.

16

Sebelum menjelaskan jenis-jenis dan metode tafsir lughawi, perlu diketahui


bahwa tafsir lughawi dengan berbagai macam penyajian dan pembahasannya tidak
akan keluar dari dua kelompok besar yaitu:
1) Tafsir lughawi yang murni atau lebih banyak membahas hal-hal yang terkait dengan
aspek bahasa saja, seperti tafsir Maan al-Quran karya al-Farra, Tafsir alJalalain karya al-Suyuthi dan al-Mahally. Dll.
2) Tafsir lughawi yang pembahasannya campur-baur dengan pembahasan lain seperti
hukum, theology dan sejenisnya, sepertiTafsir al-Thabary li Ibn Jarir alThabary, Mafatih al-Ghaib li al-Fakhruddin al-Razy, dan sebagian besar tafsir dari
awal hingga sekarang, termasuk Tafsir al-Mishbah yang disusun oleh Quraish
Shihab. Tafsir lughawi dalam perkembangannya, juga memiliki beberapa macam
bentuk dan jenis. Ada yang khusus membahas aspek nahwu, munasabah dan balaghah
saja dan ada pula yang membahas linguistik dengan mengkelaborasikan bersama
corak-corak yang lain.
Untuk lebih jelasnya tentang jenis dan macam-macam tafsir lughawi, akan dijelaskan
sebagai berikut:
3) Tafsir nahwu atau irab al-Quran yaitu tafsir yang hanya pokus membahas irab
(kedudukan) setiap lafal al-Quran, seperti kitabal-Tibyan fi Irab al-Quran karya
Abdullah bin Husain al-Akbary (w. 616 H)
4) Tafsir Sharaf atau morpologi (semiotik dan semantik) yaitu tafsir lughawi yang pokus
membahas aspek makna kata, isytiqaq dan korelasi antarkata seperti Tafsir al-Quran
Karim karya Quraish Shihab, Konsep Kufr dalam al-Quran karya Harifuddin
Cawidu.
5) Tafsir Munasabah yaitu tafsir lughawi yang lebih menekankan pada aspek korelasi
antar ayat atau surah, seperti Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar karya
Burhanuddin al-Buqay (w. 885), Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razy (w.
606), Tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab, dll.
6) Tafsir al-amtsal (alegori) yaitu tafsir yang cenderung mengekspos perumpamaanperumpamaan dan majaz dalam al-Quran seperti kitab al-Amtsal min al-Kitab wa alSunnah karya Abdullah Muhammad bin Ali al-Hakim al-Turmudzi (w. 585 H), Amtsal
al-Quran karya al-Mawardi (w. 450 H), Majaz al-Quran karya Izzuddin Abd Salam
(w. 660 H)
7) Tafsir qirah yaitu tafsir yang membahas macam-macam qiraah seperti kitab Tahbir
al-Taisir fi Qiraat al-Aimmah al-Asyrahkarya Muhammad bin Muhammad al-Jazry
(w. 843 H).

17

8) Tafsir klasifikasi bahasa yaitu tafsir yang mengkaji lafal-lafal yang murni bahasa arab
dan yang tidak seperti kitab al-Muhadzzab fi Waqaa fi al-Quran min alMuarrab karya Jalaluddin al-Suyuthi.
9) Dan tafsir-tafsir lughawi yang lain semisal tafsir Fawatih al-Hijaiyyah dll
2.2.6.3 Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Lughawi
Tafsir al-Quran melalui pendeketan bahasa tentu tidak akan lepas
dari nilai positif atau negatif. Di antara kelebihan tafsir lughawi
adalah:
1) Mengukuhkan signifikansi linguistik sebagai pengantar dalam
memahami al-Quran karena al-Quran merupakan bahasa yang
penuh dengan makna.
2) Mengukuhkan signifikansi linguistik sebagai pengantar dalam
memahami al-Quran karena al-Quran merupakan bahasa yang
penuh dengan makna.
3) Menyajikan kecermatan redaksi teks dan mengetahui makna
berbagai ekspresi teks sehingga tidak terjebak dalam kekakuan
berekspresi pendapat.
4) Memberikan gambaran tentang bahasa arab, baik dari aspek
penyusunannya, indikasi huruf, berbagai kata benda dan kata kerja
dan semua hal yang terkait dengan linguistik.
5) Mengikat mufassir dalam bingkai teks ayat-ayat al-Quran
sehingga membatasinya dari terjerumus ke dalam subjektivitas
yang berlebihan.
Tafsir Lughawi juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain:
1) Terjebak dalam tafsir harfiyah yang bertele-tele sehingga
terkadang melupakan makna dan tujuan utama al-Quran.
2) Mengabaikan realitas sosial dan asbab al-Nuzul serta nasikh
mansukh sehingga akan mengantarkan kepada kehampaan ruang
dan waktu yang akibatnya pengabaian ayat Makkiyah dan
Madaniyah
18

3) Menjadikan bahasa sebagai objek dan tujuan dengan melupakan


manusia sebagai objeknya.
4) Peniruan lafzhiah (kata), otoritas historis yang berseberangan
dan keragaman pendapat pakar bahasa arab akan menguras pikiran
sehingga melupakan tujuan utama tafsir yaitu pemahaman alQuran[14]
Sumber: (Anwar, Rosihon. Ilmu Tafsir. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2005.)

19

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Tafsir_Alquran
Anwar, Rosihon. Ilmu Tafsir. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2005.
Amal, Taufik Adnan dkk. Tafsir Kontekstual al-Quran. Bandung: Mzan, 1990.
Khaeruman, Badri. Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran. Bandung: Pustaka Setia, 2004.
Muhammad, A. Mufakhir. Tafsir Ilmi. Banda Aceh: Yayasan PeNA, 2004.
http://romziana.blogspot.com/2012/10/metode-dan-corak-tafsir.html.

20