Anda di halaman 1dari 7

Menanti Konsistensi Pemerintah Laksanakan UU Minerba

Pengusaha tambang di Indonesia baik pengusaha Indonesia maupun asing


bagaikan cacing kepanasan ketika pemerintah membunyikan lonceng bahwa
sejak 12 Januari 2014, semua perusahaan tambang di Indonesia wajib
membangun industri hilir (smelter).
Mereka bagaikan cacing kepanasan karena mereka belum siap.
Padahal, UU No 4 Tahun 2009 tentang Minerba yang mewajibkan semua
perusahasaan tambang membangun smelter ditandatangani Presiden SBY
tanggal 12 Januari 2009.
UU ini dimaksudkan supaya sumber daya alam (SDA) yang tak terbarukan dan
menguasai hajat hidup orang banyak, pengelolaannya harus dikuasai oleh
negara supaya dapat memberikan nilai tambah secara nyata dalam
perekonomian nasional.
Pasal 103 UU tersebut berbunyi:
(1) Pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan IUPK (Izin Usaha
Pertambangan Khusus) Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan
pemurnian hasil penambangan di dalam negeri;
(2) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
mengolah dan memurnikan hasil penambangan dari pemegang IUP dan IUPK
lainnya;
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan nilai tambah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 102 serta pengolahan dan pemurnian sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan pemerintah.
Sedangkan Pasal 170 berbunyi,Pemegang kontrak karya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-lambatnya 5 (lima)
tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Kalau perintah UU tersebut resmi berlaku, maka terdapat beberapa konsekuensi
logis yang harus diterima oleh setiap pengusaha tambang mineral.
Jika dulu mereka bisa mengambil keuntungan sangat besar hanya dengan
mengekspor mineral mentah tanpa proses pengolahan, kini mereka harus gigit
jari.
Penyebabnya, salah satu konsekuensi tersebut adalah larangan ekspor mineral
mentah, yang tentu membuat para pengusaha kehilangan keuntungan
besarnya.

Pemerintah melalui beleid tersebut menginginkan agar mineral mentah


sepenuhnya diolah dan dimurnikan di dalam negeri.
Tetapi, tempat pengolahan dan pemurnian (smelter) itu tidak banyak ada di
Indonesia. Maka, pemerintah pun mewajibkan semua perusahaan tambang
untuk membangun smelter.
Ketika lonceng dibunyikan para pengusaha tambang pun bermanuver, antara
lain melakukan lobi kepada pemerintah terutama terhadap kementerian terkait
sambil melakukan diskusi dengan berbagai pihak.
Selain itu, mereka mengancam akan melakukan pemutusan hubungan kerja
besar-besaran serta banyak perusahaan lambang tutup.
Sebagaimana Asosiasi Pengusaha Indonesia mengklaim, kalau pemerintah
memaksakan UU Menerba itu diberlakukan 12 Januari 2014, maka PT Freeport
akan mem-PHK karyawannya sebanyak 15.000 orang, Newmont 25.000 orang
dan lebih banyak lagi perusahaan Pertambangan Nasional lain yang disebutkan
memiliki 40,000 tenaga kerja langsung.
Seperti dalam diskusi di Jakarta, Jumat (3/1), yang menghadirkan para pembicara
dari berbagai instansi pemerintah dan analis pertambangan, merekomendasikan,
pemerintah harus membuat Peraturan Pemerintah (PP) sebagai pelaksana UU
Minerba bisa memberikan kepastian usaha dalam pertambangan di Indonesia.
Jangan sampai PP yang dimaksud justru membingungkan banyak pihak seperti
UU 4 / 2009.
Presiden Direktur Newmont, Martiono Hadianto, dalam diskusi itu meminta
pemerintah agar dalam perumusan dan pembahasan PP yang dimaksud
melibatkan pelaku pertambangan.
Kita meminta agar kita dilibatkan supaya tidak salah persepsi atas semua
rumusan aturan, sebagaimana UU Minerba terjadi beda persepsi antara
pengusaha dan pemerintah kata dia.
Martiono mencontohkan mengenai Pasal 170 UU Minerba. Menurut Kementerian
ESDM, kata dia, pemahaman atas Pasal tersebut harus dipahami tersendiri,
dalam arti tak ada kaitan dengan pasal-pasal lain dalam UU tersebut.
Sementera menurut pelaku pertambangan, kata dia, Pasal 170 ada kaitannya
dengan Pasal 103 UU yang sama.
Mengenai Pasal 170. Kita baru tahu ada perbedaan pendapat dengan
kementerian ESDM. Mereka baca cuma pasal 170. Harusnya dikaitkan dengan
Pasal 103, kata dia.

Selain itu, tegas Martiono, pemerintah harus paham dengan Pasal 169a UU
Minerba yang berbunyi,Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (a) Kontrak
karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah ada
sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu
berakhirnya kontrak/perjanjian.
Itu berarti, kata dia, perusahaan yang berjalan kontrak karyanya tidak perlu
membangun smelter atau tetap mengekspor barang tambang mentah sampai
masa kontrak karya selesai.
Menurut Martiono, sekarang ini ada 10.642 Izin Usaha Pertambangan, dan baru
sekitar 4.000 yang dinyatakan clear and clean secara administrasi oleh
Kementerian ESDM. Dan ini baru administratif.
Dan tidak ada ketentuan waktu soal IUP ini. Yang mengeluarkan IUP adalah
pemerintah daerah, kata dia.
Yang menjadi permasalahan, kata dia, adalah dari seluruh 4. 000 IUP ini, belum
tentu mereka sudah terdaftar di kantor pajak.
Rupanya mereka hanya terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, kata dia.
Sementara pemerhati kebijakan publik, Agus Pambagio, mengatakan, kalau
perintah UU Minerba tersebut dilaksanakan sekarang maka akan timbul banyak
kendala di lapangan.
Kendala-kendala tersebut, kata dia, sangat berpotensi menimbulkan kerugian
besar bagi negara. Beberapa kendala yang diperkirakan muncul, antara lain
adalah, pertama, pertambangan minerba akan mengurangi produksi, yang
berakibat besar bagi penyerapan tenaga kerja dan perekonomian nasional.
Daya serap industri smelter dalam negeri saat ini hanya sepertiga dari pasokan
yang ada. Sehingga apabila ekspor dilarang, maka tidak ada pilihan lain bagi
perusahaan pertambangan mineral, khususnya pemegang izin kontrak Karya
(KK), untuk mengurangi produksi bijih mentahnya (unprocessed ore) jika
larangan ekspor diberlakukan, kecuali ada penambahan smelter yang signifikan.
Sebagai contoh, satu-satunya smelter tembaga (Cu) yang sudah beroperasi saat
ini hanya PT Smelting Gresik, di Jawa Timur yang merupakan perusahaan
patungan antara beberapa perusahaan Jepang (75%) dengan PT Freeport
Indonesia (25%).
Pemasuk bijih mentah PT Smelting adalah 70%-80%, PT Freeport Indonesia dan
20%-30% PT Newmont Nusa Tenggara.
Hasil konsentrat tembaga yang berkadar 20%-30% dan bernilai 95% ini, hanya

sekitar 52% yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri di Indonesia.
Sisanya (48%) diekspor ke India (9%), Filipina(5%), China (5%), Korea Selatan
(5%) dan Jepang (11%).
Dampak pengurangan produksi bijih mentah otomatis akan menyebabkan
pengurangan tenaga kerja. PHK besar-besaran akan terjadi di sektor
pertambangan minerba, sehingga akan menimbulkan dampak sosial ekonomi
yang besar pula.
Pemerintah harus siap menghadapi gejolak social ekonomi yang akan terjadi.
Kedua, berkurangnya pendapatan Negara. Dengan larangan ekspor hasil
tambang mentah maka pajak ekspor dan Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP) dari pertambangan minerba akan berkurang sangat besar dan
diperkirakan mencapai Rp 10 Triliun per tahun.
Sedangkan kompensasi pendapatan yang berasal dari pajak produksi dalam
negeri karena larangan ekspor minerba, masih perlu waktu lama untuk
memperolehnya. Di samping itu Neraca Perdagangan minerba akan terus
mengalami defisit.
Menurut Agus, penetapan batas waktu larangan ekspor konsentrat Minerba tidak
sejalan dengan kesiapan pengo lahan dan pemurnian di dalam negeri karena
keterbatasan smelter.
Pada saat larangan ekspor bijih mentah berlaku, perusahaan smelter belum
bertambah, hanya ada di Gresik, Jawa Timur yang beroperasi menggunakan
bahan baku dari PT Newmont dan PT Freeport Indonesia.
Masalahnya smelter di Gresik hanya mampu mengolah dan memurnikan
konsentrat dengan kadar 20%-30% atau sejumlah 30%-40% dari total produksi
Newmont dan Freeport.
Menurut Agus, investasi membangun smelter memerlukan biaya sekitar Rp 20
Triliun (dengan kurs 1 USD =12.000 IDR) dan kerugian operasi/produksi
mencapai sekitar Rp 2 triliun per tahun karena minimnya infrastruktur di
Indonesia.
Akibatnya, dapat dipastikan bahwa produk smelter di Indonesia akan sangat sulit
bersaing di pasar global terutama dengan produk Cina yang harganya super
murah.
Sementara daya serap pasar dalam negeri sangat rendah, lalu kemana
konsentrat produk smelter Indonesia akan diserap? Ini yang harus dijawab oleh
Menko Perekonomian dan Menteri ESDM, kata dia.
Minimnya infrastruktur di Indonesia berlaku di seluruh sektor kehidupan, bukan

hanya persoalan smelter. Persoalan ini tentunya tidak dapat diselesaikan dalam
waktu singkat, sebelum tanggal 12 Januari 2014.
Walaupun saat ini dikabarkan ada rencana pembangunan 12 pabrik smelter
(sumber : kementerian ESDM), pada tahun 2014 dan baru selesai serta dapat
beroperasi pada tahun 2017.
Namun jika pembangunan smelter tanpa nilai keekonomian yang feasible tentu
tidak dapat menjadi insentif bagi investor smelter.
Agus mengatakan, UU Minerba disusun untuk Izin Usaha Pertambangan (IUP)
namun dipaksakan untuk diberlakukan pula pada pertambangan berdasarkan
Kontrak Karya (KK).
Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan melalui UU No. 4/2009 adalah
untuk Izin Usaha Pertambangan-Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUP-IUPK),
baik IUPK-operasi produksi maupun IUPK eksplorasi.
UU ini tidak mengatur secara jelas Kontrak Karya (KK) pertambangan mineral
yang telah ada sebelum UU ini di sahkan. Sedangkan untuk KK Perusahaan
Pertambangan Batubara tiba-tiba muncul diatur dalam Ketentuan Peralihan di
Bab XXV Pasal 169 dan 170.
Usaha pertambangan dengan IUP dan IUPK pada dasarnya berbeda kondisinya
dengan KK, sehingga menurut kajian publik ini tidak serta merta peraturan
perundang-undangan yang ditujukan untuk IUP dan IUPK dapat diberlakukan juga
untuk KK.
Selain itu, tegas Agus, besarnya dana investasi yang diperlukan untuk
membangun Smelter hanya dapat dilaksanakan oleh perusahaan besar, dan
umumnya perusahaan asing atau perusahaan nasional milik penguasa atau kroni
penguasa.
Selain itu juga terkendala dengan sempitnya waktu pembangunan dengan waktu
larangan ekspor.
Saat ini tercatat sedang dalam proses membangun smelter hanya beberapa
perusahaan, antara lain Glencore, XTrata Pty, PT Nusantara Smelting, PT
Indosmelt, PT Indovasi Mineral dan beberapa lainnya.
Sekalipun dimungkinkan adanya gabungan perusahaan pertambangan untuk
membangun smelter sendiri, namun hal itu diragukan karena besarnya investasi
serta teknologi yang digunakan.
Ditambah lagi faktor bahwa larangan ekspor bijih mentah telah diberlakukan
sebelum pabrik-pabrik smelter tersebut dapat beroperasi.

Capai Kata Sepakat


Benar saja. Tuntutan dan keluhan pengusaha serta masukan dari berbagai pihak
didengar pemerintah.
Pada 8 Januari 2014, pemerintah dan pengusaha menetapkan keputusan
bersama untuk pengolahan konsetrat kadar 15 persen, pemurnian tembaga 90
persen, dan emas 99 persen.
Selain itu, juga diputuskan, untuk melaksanakan perintah UU tersebut yakni
membangun smelter perlu masa waktu persiapan yang 3 sampai 4 tahun ke
depan.
Penetapan itu dinilai telah mengakomodasi kepentingan kontrak karya (KK), Izin
Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin usaha pertambangan khusus pengolahan
pemurnian.
Keputusan bersama itu diambil yang melibatkan Kementerian ESDM, Kadin
Indonesia, Asosiasi Mineral Indonesia (AMI), Asosiasi Tembaga Emas Indonesia
(ATEI), PT Freeport, dan PT Newmont.
Keputusan ini agar pengolahan IUP tembaga bisa memproduksi konsentrat
kadar 15 persen, dengan begitu IUP terakomodasi, kontarak karya tetap bisa
ekspor, UU 4/2009 bisa jalan, pergerakan ekonomi didaerah pun aktif tidak
terjadi stagnasi dan PHK tidak terjadi, kata Ketua ATEI, Natsir Mansyur.
Keputusan bersama tersebut telah tertuang dalam PP 1 / 2014 dan Peraturan
Menteri (Permen) 1 / 2014 tentang Penetapan Batas Minimum Produk Olahan dan
Permurnian Barang Tambang.
Rekomendasi
Walaupun sudah kata sepakat antara pengusaha dan pemerintah, ada beberapa
langkah yang harus dilakukan pemerintah selain menerbitkan kebijakan yang
kondusif untuk situasi saat ini, sebagaimana disampaikan Agus Pambagio.
Pertama, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur yang baik di lokasi pabrik
smelter, termasuk kecukupan ketenagalistrikan, ketersediaan pelabuhan laut dan
udara, jaringan jalan raya dan atau kereta api serta jaringan telekomunikasi yang
dapat diandalkan oleh perusahaan pertambangan menekan biaya produksi.
Peningkatan infrastruktur tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi di
dalam cost structure smelting.
Kedua, harus ada kebijakan pemerintah yang mengatur batasan kandungan dan
nilai yang sesuai dengan perhitungan ekonomi.
Ketiga, pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang dapat menciptakan

kompetisi yang adil di dalam pembangunan smelter yang sesuai untuk keperluan
pemegang IUP/K dan KK minerba.
Hindari izin diberikan pada rentenir yang hanya mempunyai surat penunjukan
dan surat kuasa dari pengusaha Negara tetapi sebenarnya mereka tidak
mempunyai modal.
Keempat, jangan mengarahkan pada pemegang IUP dan KK untuk berkolaborasi
membangun smelter hanya dengan perusahaan tertentu yang dimiliki oleh
sekelompok rentenir karena pada akhirnya cost structure nya tinggi
menyebabkan harga jual konsentrat produk smelter local tidak kompetitif di
pasar global.
Kelima, pemerintah harus mendorong tumbuhnya industri hilir pengguna
kondensat hasil smelter dalam negeri melalui pembuatan Road Map Pasar
Konsentrat, sehingga konsentrat produk smelter local feasible dan produknya
dapat diserap oleh pasar.
Keenam, dari sisi peraturan perundang-undangan dalam UU 4 / 2009 tidak ada
Pasal atau ayat yang mencantumkan kadar konsentrat yang harus dipenuhi oleh
industri pertambangan.
Besaran kadar kondensat sebesar 99,99% dengan nilai 100% baru muncul di
Permen ESDM No. 7 tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral
melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral.
Namun karena permen ESDM ini sudah dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA)
melalui Keputusan MA No. 13/P.HUM/2013, ketentuan besaran kadar dan nilai
tidak lagi berlaku dan tidak boleh menjadi acuan kebijakan.
Ketujuh, peruntukan UU ini lebih banyak ke batubara bukan mineral. Ini terlihat
dari uraian pasal per pasalnya. Jadi jangan heran kalau PP dan Permen selalu
berubah-ubah karena secara legal drafting, UU ini sudah amburadul.
Oleh karena itu, buat peraturan Pengganti Undang-Undang (Perpu) atau
amandemen UU 4 / 2009 dan ini harus segera dilakukan dengan melibatkan
publik selain perusahaan pertambangan dan pemerintah.
Konsultasi publik, sebelum disahkannya amandemen UU Minerba ini, menjadi
suatu keharusan. [SP/Siprianus Edi Hardum]