Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN PENGUASAAN MAKNA KATA ULANG

DENGAN MEMBACA EKSTENSIF DALAM WACANA


EKSPOSISI SISWA KELAS VIII MTS.
MUHAMMADIYAH-7 HASAHATAN JULU
TAHUN AJARAN 2014-2015
DISUSUN
OLEH

NAMA

: RITA WAHYUNI HASIBUAN

NPM

: 1201010078

SEMESTER

: V (LIMA)/02

JURUSAN

: PEND. BHS. DAN SASTRA INDONESIA

MATA KULIAH

: WACANA BAHASA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TAPANULI SELATAN
PADANGSIDIMPUAN
2014
ABSTRAK

Membaca

merupakan

kunci

untuk

memperluas

wawasan

serta

pengetahuan, sebab melalui membaca para siswa banyak mengetahui kejadian,


kejadian serta pengetahuan yang aktual. Adapun masalah penelitian ini adalah
siswa belum memahami informasi yang disampaikan pada orang lain, Khususnya
dalam memehami bahasa tulis pada pelajaran Makna Kata Ulang Dengan
Membaca

Ekstensif

Dalam

Wacana

Eksposisi

Siswa

Kelas

VIII

MTs.Muhammadiyah Hasahatan Julu Tahun Ajaran 2012-2013. Tujuan penelitian


ini adalah (1) Untuk Mengetahui Penguasaan Makna Kata Ulang Dengan
Membaca Ekstensif Dalam Wacana Eksposisi Siswa Kelas VIII MTs
Muhammadiyah Hasahatan Julu Tahun Ajaran 2012-2013. (2) Untuk Mengetahui
Keterampilan Membaca Ekstensif Dalam Wacana Eksposisi Siswa Kelas VIII
MTs. Muhammadiyah Hasahatan Julu Tahun Ajaran 2012-2013. (3) Untuk
Mengetahui Hubungan yang signifikan antara Penguasaan Makna Kata Ulang
Dengan Mambaca Ekstensif Dalam Eksposisi Siswa Kelas VIII MTs
Muhammadiyah Hasahatan Julu Tahun Ajaran 2012-2013. dan metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif. Yang menjadi populasi dan sampelnya adalah siswa kelas VIII MTs.
Muhammadiyah 7 Hasahatan Julu yang berjumlah 20 siswa. Selanjutnya untuk
menjaring data yang diperlukan dalam analisis data, penulis mengambil tehnik tes
pilihan ganda yang berjumlah 10 soal sebagai variabel (x) dan essay tes berjumlah
5 soal sebagai variabel (y). Penugasan setelah data-data tersebut dianalisis dengan
menggunakan statistik korelasi product moment dengan rumus:
rxy

N XY ( X )( Y )

N X

( X ) 2 N Y 2 ( Y ) 2

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai bahwa penggunaan bahasa
sering salah dalam pengucapan dan penerapan pada pemakaian kalimat yang
disampaikan melihat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia yang
demikian pesatnya, tidak dapat disangkal lagi bahwa diperlukan suatu kaidah yang
mantap pula. Kaidah penulisan kalimat yang sangat berpengaruh terhadap katakata yang digunakan karena kata-kata tersebut dapat berkaitan sehingga memiliki
arti yang sama dan arti yang berlawanan.
Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan sarana yang dapat diperlukan
antara seorang pembaca dengan seorang pendengar ataupun seorang penulis
dengan seorang pembaca yang diucapkan baik yang disengaja ataupun tidak
disengaja. Dalam kehidupan sehari-hari manusia memerlukan komunikasi baik
komunikasi langsung maupun komunikasi tidak langsung. Komunikasi langsung
adalah komunikasi yang dilakukan manusia dalam berbicara. Dalam hal ini
sipembicara berharap langsung atau berhubungan langsung yaitu komunikasi yang
dilakukan manusia dengan menggunakan media atau alat tulis yang berupa
lambang-lambang bahasa.
Hal ini sesuai dengan pendapat Henri Guntur Tarigan (1988:76)
mengatakan, pemahaman siswa akan sistem bahasa-bahasa yang sedang dipelajari
kurang, maka kesalahan sering terjadi dan kesalahan akan berkurang apabila
pemahaman semakin meningkat. Prestasi hasil belajar siswa merupakan salah satu
indikator tercapainya tujuan dari pendidikan dapat dilihat dimana-mana bahwa
prestasi belajar siswa dalam bidang bahasa Indonesia sangat rendah. Rendahnya
prestasi belajar siswa merupakan masalah yang sangat rumit bagi para subjek
pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar guru sebagai fasilitator dan motivator
murid, membantu dan memberi kemudahan agar murid mendapatkan pengalaman
belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa sehingga terjadilah
suatu interaksi aktif.

Guru yang mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VIII


MTs.Muhammadiyah-7 Hasahatan Julu mengatakan bahwa dalam pengajaran
pokok bahasan makna kata ulang dengan membaca ekstensif dalam wacana
eksposisi kenyataannya masih banyak siswa yang sulit memahami informasi yang
disampaikan orang lain. Khususnya dalam memahami bahasa tulis. Pada pelajaran
makna kata ulang, membaca ekstensif dalam wacana eksposisi siswa kurang
memahami materi tersebut sehingga siswa akan kewalahan dalam menghadapi
persoalan mempelajari wacana eksposisi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah
meningkatkan pembelajaran penguasaan makna kata ulang, sehingga dengan
tingginya penguasaan siswa tentang makna kata ulang akan memberikan
sumbangan yang positif terhadap keberhasilan siswa memahami membaca
ekstensif dalam wacana eksposisi.
MTs Muhammadiyah-7 Hasahatan Julu merupakan salah satu lembaga
yang bergerak dalam bidang pendidikan. Dalam proses belajar mengajar di
sekolah ini disesuaikan dengan kurikulum yang ada, pemahaman siswa pada
pelajaran bahasa Indonesia tentang makna kata ulang, membaca ekstensif dalam
wacana eksposisi siswa kurang mampu menguasai materi hal ini dikarenakan
kurangnya minat belajar siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Sehingga
minimnya keberhasilan siswa dalam menguasai makna kata ulang dengan
membaca ekstensif dalam wacana eksposisi.
Untuk itu penulis termotivasi untuk melaksanakan penelitian: Hubungan
Penguasaan Makna Kata Ulang dengan Membaca Ekstensif dalam Wacana
Eksposisi Siswa Kelas VIII MTs.Muhammadiyah-7 Hasahatan Julu Tahun Ajaran
2014-2015.

LANDASAN TEORI
A. Makna Kata Ulang
1. Pengertian Kata
Kata adalah suatu bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dengan
makna yang bebas. Menurut Hasan Alwi (2001:513),Kata adalah: unsur
bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan
perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbaha. Menurut
(Bloomfield,1933) Kata adalah satuan ujaran bebas terkacil yang bermakna.
Sedangkan menurut Astuty Hendrato (1965:73) Kata adalah satuan bunyi
atau huruf yang mengandung arti.
Kata dapat dibentuk dari satu morfem, dua morfem atau lebih, kata
yang dibentuk dari satu morfem dan mempunyai arti disebut kata dasar atau
morfem bebas, kata dasar merupakan kata yang menjadi dasar pembentukan
kata yang belum mengalami proses afiksasi.
2. Kata Ulang
Kata ulang (reduplikasi) adalah kata yang mengalami proses
perulangan baik sebagian maupun seluruhnya, dengan disertai perubahan
bunyi ataupun tidak, Dikutip dari buku Dekdikbud (1974) Bahasa Indonesia,
Jakarta : Balai pustaka.
B. Membaca Ekstensif
1. Pengertian mebaca dan tujuan membaca
Menurut (hodgson 1960:43-44) dalam buku Henri Guntur Tarigan.
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh
pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis
melalui

media kata-kata/bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar

kelompok kata

yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam satu

pandang sekilas dan makna kata-kata secara individu akan dapat diketahui.
Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan tersirat akan tertangkap
atau dipahami dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.

Sedangkan menurut (Anderson 1972:209-210)Dari segi linguistik


membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembaca sandi berlain
dengan berbicara dan penulis yang justru melibatkan penyandian. Sebuah
aspek pembacaan sandi adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna
bahasa lisan yang mencakup perubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang
bermakna.
Disamping pengertian atau batasan yang telah diuraikan di atas,
membaca juga dapat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk
berkomunikasi dengan diri sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain.
yaitu mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambanglambang yang tertulis. bahkan ada pula beberapa penulis yang seolah-olah
beranggapan bahwamembaca adalah suatu kemampuan untuk melihat
lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut
melalui suatpengajaran membaca, ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi
fonetik terhadap ejaan biasa.
Menurut (Anderson 1972:211) dalam buku Henri Guntur Tarigan
Membaca dapat juga dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang
tersirat dalam yang tersurat, makna bacaan tidak terletak pada halaman
tertulis, tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikian makna itu akan
berubah karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang
dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa reading adalah bringing
meaning to and getting meaning from printed or written material, memetik
serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis
(finochiaro and bonomo 1973:119) dalam buku Henri Guntur Tarigan. Dengan
demikian jelas bahwa membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut
dengan bahasa.
Oleh karena itu para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi
responsi terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda
aditori yang sama mereka tanggapi sebelum itu. Membaca lebih cepat kalau
kita tahu bagaimana cara mengatakan secara mengelompokkan bunyi-bunyi
tersebut, kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan di atas adalah

membaca ialah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya.


(Lodo, 1976:132)
2. Tujuan Membaca
Menurut (Hendri guntur tarigan 1979:9). Tujuan utama dalam
membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi,
memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan
dengan maksud, tujuan, atau intensif dalam membaca.
Tujuan membaca dapat dibagi menjadi sebagai berikut:
a. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang
telah

dilakukan oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh

khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang


tokoh. Membaca seperti ini disebut

membaca untuk memperoleh

perincian-perincian atau fakata-fakta (reading for details or facts).


b. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik
dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari
atau yang dialami sang tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan
oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut
maembaca untuk memperoleh ide-ide utama ( reading for main ideas).
c. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap
bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan
ketiga/seterusnya- setiap tahap disebut untuk memecahkan suatu masalah,
adegan-adegan dan kejadian-kejadian buat dramatisasi. Ini disebut
membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi

cerita

(reading for sequence or organization).


d. Membaca untuk menemukan

serta mengetahui mengapa para tokoh

merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperhatikan oleh
sang

pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah,

kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil


atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi
(reading for inference).

e. Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa,


tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau
apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk
mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to
classify).
f. Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup
dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah ingin berbuat seperti yang
diperbuat oleh sang tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca
menilai, membaca mengevaluasi (reading to evaluate).
g. Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah,
bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang dikenal, bagaimana dua
cerita

mempunyai

pembaca.

Ini

disebut

membaca

untuk

memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or


contrast). (Anderson 1972:214).
C. Wacana Eksposisi
1. Pengertian Wacana
Istilah wacana mempunyai acuan yang luas dari sekedar bacaan, akhirakhir ini para ahli yang berwenang telah menyepakati bahwa wacana itu
merupakan satuan bahan yang paling besar yang dipergunakan

dalam

komunikasi. Satuan bahasa di bawahnya secara berturut-turut adalah kalimat,


prase, kata, dan bunyi. Secara berurutan rangkaian bunyi membentuk kata
rangkaian kata membentuk prase dan rangkaian prase membentuk wacana.
Wacana ini mempunyai dua bentuk yaitu: wacana bentuk lisan dan wacana
bentuk tulisan. wacana bentuk tulisan dapat dilihat dalam peristiwa, secara
lisan dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antara penyapa
dan pesapa.
Wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hirarki gramatikal
merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar wacana ini direalisasikan
dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, setri ensklopedi dsb).
Kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap (kridaklaksana, 1984:208).
Dalam KBBI (2003: 1265) Wacana. 1. Komunikasi verbal: kecakapan. 2.

Keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan. 3. Suatu baha terlengkap


yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel,
buku artikel, pidato atau khutbah. 4. Kemampuan atau prosedur berpikir
secara sistematis.
Kridalaksana (1984:208) Menyimpulkan bahwa wacana adalah satuan
bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau besar di atas kalimat atau klausa
dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai
awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.
Syamsuddin A.R (1999:13) menjelaskan bahwa Wacana merupakan
rangkaian ujar atau tindak tutur yang mengungkapkan suatu objek secara
teratur (sistematis) dalam satu kesatuan yang koheren dan dibentuk oleh unsur
sifmental maupun nonsigmental bahasa. Sedangkan menurut Tarigan
(1987:27) Wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dan tertinggi di atas
kalimat

atau

klausa

dengan

koherensi

dan

kohesi

tinggi

yang

berkesinambungan serta mempunyai awal dan akhir yang nyata dan


disampaikan secara lisan atau tulisan.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat diketahui bahwa wacana
merupakan kumpulan kalimat yang memiliki hubungan antara satu kalimat
dengan kalimat berikutnya. Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang
dibertuk dan rentetan kalimat yang kontimuitas, kohesi dan koherensi sesuai
dengan konteks situasi dan sebuah wacana selalu dibangun oleh unsur-unsur
paragraf yang berhubungan antara paragraf yang satu dengan paragraf
berikutnya. Kesatuan paragraf dalam wacana tidak boleh menyimpang dari
topik atau kalimat utama yang sedang diuraikan.
2. Pembagian Wacana
Wacana berdasarkan system penyajian pokok masalahnya dibagi atas
lima jenis:
1. wacana deskripsi
Menurut Keraf (1981:132-169) Wacana deskripsi atau candraan
adalah wacana yang isinya menggambarkan pengindraan (penglihatan,
pendengaran, penciuman, kehausan, kelelahan). Perasaan dan perilaku

jiwa (harapan, ketakutan, cinta, benci, rindu dan rasa tertekan).


pengindraan itu dilakukan terhadap suatu peristiwa, keadaan, situasi, atau
masalah.
2. wacana eksposisi
Menurut Keraf (2007:36) Wacana eksposisi atau bahasan adalah
wacana yang isinya menjelaskan sesuatu, misalnya: menerangkan arti
sesuatu, menerangkan apa yang telah diucapkan atau ditulis oleh orang
lain, menerangkan bagaimana terjadinya sesuatu, menerangkan peristiwa
yang lalu dan sekarang, meneragkan pentingnya sesuatudan lain.
Kridalaksana dan Tarigan (1987:28) menyatakan bahwa wacana
eksposisi adalah jenis karangan yang berusaha menerangkan atau
menyebabkan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan
membaca.
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam
penulisan yang dimana isinya ditulis dengan gaya penulisan yang singkat,
akurat dan padat. Paragraf eksposisi adalah paragraf yang memanfaatkan
atau menerangkan suatu hal atau topik karangan ini menjelaskan tentang
sesuatu topik.
3. Langkah-langkah menyusun eksposisi
a. Menentukan topik atau tema
b. Menetepkan tujuan
c. Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d. Menyusun karangan sesuai dengan topik yang dipilih
e. Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi

KESIMPULAN
Kata ulang (reduplikasi) adalah kata yang mengalami proses perulangan
baik sebagian maupun seluruhnya, dengan disertai perubahan bunyi ataupun tidak
Istilah wacana mempunyai acuan yang luas dari sekedar bacaan, akhir-akhir ini
para ahli yang berwenang telah menyepakati bahwa wacana itu merupakan satuan
bahan yang paling besar yang dipergunakan dalam komunikasi. Satuan bahasa di
bawahnya secara berturut-turut adalah kalimat, prase, kata, dan bunyi. Secara
berurutan rangkaian bunyi membentuk kata rangkaian kata membentuk prase dan
rangkaian prase membentuk wacana. Wacana ini mempunyai dua bentuk yaitu:
wacana bentuk lisan dan wacana bentuk tulisan. wacana bentuk tulisan dapat
dilihat dalam peristiwa, secara lisan dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses
komunikasi antara penyapa dan pesapa.
Langkah-langkah menyusun eksposisi yaitu:
a. Menentukan topik atau tema
b. Menetepkan tujuan
c. Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d. Menyusun karangan sesuai dengan topik yang dipilih
e. Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Rineka Cipta.
, 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Rineka CIpta.
, 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
A. S. Nadjua, 2009. Buku Pintar Puisi Dan Pantun. Surabaya : Triana Media.
Faudi, Deti Samrotul, 2010.

Ringkasan Bank Soal Bahasa Indonesia Untuk

SMP/MTs. Bandung : Yramin Widya.


Keraf Gorys. 2006. Diksi Dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia.
Nirmala, T. Andini. 2003. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Prima
Media.
Pradopo, Rachmat Dzoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Poerwardarminta, W. J. S. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesoa. Jakarta : Balai
Pustaka.
Rosidi, Ajib. 1982. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung : Bina Cipta.
Tarigan, HenryGuntur. 1991. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa
Bandung.