Anda di halaman 1dari 20

BAB I

STATUS PASIEN

I.

II.

III.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Suku
Pendidikan Terakhir
Status Pernikahan
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Datang ke RS

: Tn. E
: Laki-laki
: 31 tahun
: Islam
: Sunda
: STM
: Menikah
: Pedagang
: Randegan, Purwaharja
: 15 November 2016

RIWAYAT PERAWATAN
a. Rawat Jalan

: Belum penah

b. Rawat Inap

: Belum pernah

RIWAYAT PSIKIATRI
Tanggal

: 15 November 2016

Anamnesis didapatkan dari pasien sendiri dapat dipercaya.

Keluhan Utama
Tidak bisa optimal dalam berhubungan seksual.
Riwayat Penyakit Sekarang
6 tahun yang lalu pasien menikah dengan istrinya. Pada saat malam pertama
sampai satu minggu setelah pernikahan pasien mengaku mengalami gangguan ereksi.
Pasien mengatakan sebelumnya ada masalah di dalam keluarganya dan pasien selalu
memikirkan hal tersebut terus-menerus. Masalahnya adalah pasien merasa
orangtuanya memperlakukan pasien berbeda dengan saudaranya yang lain. Orangtua
pasien menginginkan anaknya bekerja sebagai karyawan. Kakak pasien yang pertama
bekerja sebagai karyawan, adik pasien sebagai polwan dan hanya pasien yang bekerja
1

sebagai pedagang sayur. Hal inilah yang membuat pasien merasa bahwa orangtuanya
lebih sayang dengan saudaranya yang lain dibandingkan dengan pasien. Satu minggu
kemudian setelah pernikahan pasien bisa melakukan hubungan seksual secara normal
hingga pasien memiliki satu orang anak.
3 bulan SMRS pasien memiliki konflik dengan istrinya yaitu pasien
menemukan sms dari seorang laki-laki di handphone istrinya sehingga menyebabkan
pasien terus-menerus memikirkan hal tersebut dan membuat emosi pasien terpancing.
Pasien sempat terpikir untuk menemui orang tersebut untuk menyelesaikan
masalahnya. Semenjak timbul masalah ini pasien terus memikirkan masalahnya dan
ketika melakukan hubungan seksual dengan istrinya pasien menceritakan bahwa
pasien ejakulasi dini. Pasien merasa jadi mudah tersinggung, tidak fokus, mudah
lelah, nafsu makan normal tapi porsinya berkurang, sulit tidur, merasa ada yang
berbuat jahat dan mengikuti, khawatir berlebihan.

Riwayat Penyakit Dahulu


a. Gangguan psikiatrik
Pasien belum pernah mengalami gangguan yang sama sebelumnya
b. Gangguan Medik
Dalam batas normal
c. Gangguan Zat Psikoaktif
Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat psikoaktif, alkohol dan
merokok.

Riwayat Kehidupan Pribadi


a.

Riwayat Perkembangan Prenatal dan Perinatal


Pasien dilahirkan dalam keadaan yang sehat tidak ada trauma saat kehamilan
dan saat kehamilan ibu pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan, pada saat
persalinan ibu pasien ditolong oleh bidan.
b. Riwayat Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal (0 3 tahun)
Perkembangan fisiknya cukup baik, pola perkembangan motorik juga baik.
Riwayat tumbuh kembang pasien baik (sesuai dengan usianya).

c.

Riwayat Kanak-kanak Pertengahan ( 3 11 tahun)

Pasien merupakan anak yang riang. Sejak sekolah, pasien memiliki banyak
teman, tidak pernah berkelahi / bermasalah di sekolah dan lingkungan tempat
tinggal.
d.

Riwayat Masa Pubertas dan Remaja


Hubungan sosial
Sikap pasien terhadap orangtua, saudara kandung, kerabat, dan tetangga cukup
baik. Pasien dapat bergaul dengan baik dengan teman temannya.
Riwayat Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien sampai STM (Sekolah Teknik Mesin).
Perkembangan kognitif
Pasien tidak memiliki gangguan belajar, prestasi belajar cukup baik.
Perkembangan motorik
Selama ini dirasa baik dan normal. Pasien mampu melakukan aktivitas dan
kegiatan sehari-hari dengan baik seperti makan, minum, toilet, dan kebersihan
diri.
Perkembangan emosi dan fisik
Pasien dinilai memiliki emosi yang biasa saja, kadang senang kadang juga
sedih.
Riwayat psikoseksual
Pasien mulai menyukai lawan jenis saat SMP.

e.

Riwayat Masa Dewasa


Riwayat pekerjaan
Pasien merupakan seorang Pedagang sayuran.
Riwayat pernikahan
Pasien sudah menikah dan memiliki satu orang anak.
Riwayat keagamaan
3

Pasien taat beribadah.


Riwayat aktivitas sosial
Pasien bergaul baik dengan tetangga sekitar
Riwayat hukum
Pasien tidak pernah bermasalah secara hukum.
f.

Riwayat Keluarga
Pasien merupakan seorang kepala keluarga yang kesehariannya
bekerja sebagai pedagang sayur di pasar. Istri pasien berinisial N, berusia 28
tahun bekerja sebagai ibu rumah tangga. Anak pertama (, 4 tahun) saat ini
sudah sekolah di TK.
Pasien (31 tahun) adalah anak ketiga dari 3 bersaudara. Kakak pasien
(35 tahun) berjenis kelamin perempuan dengan jarak umur 4 tahun yang
sekarang bekerja sebagai Karyawan. Adik pasien berjenis kelamin
perempuan (28 tahun) dengan jarak umur 3 tahun yang berkerja sebagai
polwan.. Ibu dan bapak pasien masih sehat. Kehidupan rumah tangga orang
tua pasien harmonis.

g.

Situasi Kehidupan Sekarang


Saat ini pasien tinggal serumah dengan istri, dan satu orang anak.

I.

STATUS MENTAL
A.

Deskripsi Umum
Penampilan
Pasien seorang laki-laki, dengan tinggi 175 cm dan berat badan 70 Kg. Pasien
berkulit sawo matang, berpakaian bersih dan cukup rapih. Menggunakan kaos
lengan pendek berwarna hitam, celana panjang berwarna hitam. Kuku
terpotong rapi dan tidak kotor. Cara berjalan pasien tampak biasa saja.
4

Perilaku dan aktivitas psikomotor


Pasien tampak khawatir. Perhatian pasien cukup, konsentrasi pasien kurang.
Pembicaraan (speech)
Cara berbicara

: spontan, relevan

Volume berbicara

: sedang

Kecepatan berbicara : sedang


Gangguan berbicara
B.

Alam Perasaan

Mood

: khawatir

Afek

: cemas

Kesesuaian

: sesuai

C.

: tidak ada afasia, tidak ada disartria.

Gangguan Persepsi

Halusinasi
o Auditorik

Visual

Taktil

Gustatorik

: Tidak ada

: TidakAda
: Tidak ada
: Tidak ada

Ilusi

: Tidak ada

D.
Bentuk

Gangguan Pikir
: Realistik, koheren, preokupasi

Proses Pikir
o Produktivitas

: Baik

o Kontinuitas
Blocking

: Tidak ada.

Assosiasi longgar : Tidakada


Inkoherensia : Tidak ada.
5

Word salad

: Tidak ada.

Neologisme

: Tidak ada.

Flight of Idea : Tidak ada.


Sirkumstansial

: Tidak ada.

Isi pikir

Gangguan isi pikiran


Waham
Bizarre

: Tidak ada

Persekutorik/paranoid
: TidakAda
Curiga

: TidakAda

Kejar

: Tidak ada

Referensi
: Tidak ada
Kebesaran

: Tidak ada

Thought of insertion

: Tidak ada

Thought of broadcasting : Tidak ada


Thought of withdrawal

Delution of influence

: Tidakada
: Tidakada

Obsesi

Kompulsi

: Tidak ada
:

Tidakada

Preokupasi pikiran
: Ada

E.

Sensorium dan Kognitif

Kesadaran

: Compos mentis

Orientasi

: Baik

o Waktu (pasien mampu menyatakan sekarang ini siang/sore/malam)


o Tempat (pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini sedang berada di RS)
o Orang (pasien tahu bahwa ia ke RSUD Banjar berobat dengan dokter
Psikiatri)
6

Daya ingat : Baik

o Daya ingat jangka panjang (pasien dapat mengingat alamat rumah,


nama, umur)
o Daya ingat jangka pendek (pasien dapat mengingat menu sarapan pagi
tadi)
o Daya ingat yang baru-baru ini terjadi (pasien dapat mengingat bahwa 2
hari terakhir tidak bisa tidur)
o Daya ingat segera (pasien dapat mengingat nama dokter spesialis jiwa)
Konsentrasi : Konsentrasi cukup
F.

Daya Nilai

Daya nilai sosial : Baik


Menurut pasien mencuri adalah perbuatan tidak baik.

Uji daya nilai : Baik


Misalnya jika pasien menemukan dompet (dengan identitas pemilik) dijalan
dan terdapat uang Rp. 1.000.000,- ia akan mengembalikan dompet beserta
uang tersebut ke kantor Polisi

Daya nilai realitas: Tidak terganggu


G.

Reality Test Ability (RTA) : Tidak Terganggu


Pasien tidak memiliki gangguan waham, halusinasi, ilusi.

IKHTISAR PENEMUAN YANG BERMAKNA

RTA

: tidak terganggu

Mood

: khawatir

Afek

: cemas, sesuai

Gangguan persepsi

: halusinasi (-), ilusi (-)

Gangguan bentuk pikir

: realistik, koheren

Gangguan proses pikir

: tidak ada

Gangguan isi pikir


Wawasan penyakit

: preokupasi
: baik

Faktor stressor
memiliki

: 3 bulan SMRS pasien

konflik

dengan

istrinya

yaitu

pasien

menemukan sms dari seorang laki-laki di handphone


istrinya sehingga menyebabkan pasien terus-menerus
memikirkan hal tersebut dan membuat emosi pasien
terpancing. Semenjak timbul masalah ini pasien terus
memikirkan

masalahnya

dan

ketika

melakukan

hubungan seksual dengan istrinya pasien menceritakan


bahwa pasien ejakulasi dini. Pasien merasa jadi mudah
tersinggung, tidak fokus, mudah lelah, nafsu makan
normal tapi porsinya berkurang, sulit tidur, merasa ada
yang berbuat jahat dan mengikuti, khawatir berlebihan.

VI.

FORMULASI DIAGNOSTIK
Berdasarkan PPDGJ-III kasus ini digolongkan kedalam :
AKSIS I

: F41.1 gangguan cemas menyeluruh


Kategori ini harus digunakan bilamana, anxietas sebagai gejala
primer yang berlangsung hampir tiap hari dalam minggu sampai
bulan, tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi
khusus

saja

(free

floating).

Gejalanya

mencakup

unsur

kecemasan akan nasib buruk, diujung tanduk, sulit konsentrasi,


ketegangan motoric (gelisah, sakit kepala, gemetar), over
aktivitas otonomik (berkeringat, jantung berdebar, sesak,
keluhan GI, mulut kering)
AKSIS II

: Diagnosis tertunda

AKSIS III

: belum ada diagnosis

AKSIS IV

: Masalah Support System

AKSIS V

: GAF SCALE 1 tahun 80-71 & GAF SCALE Pemeriksaan 80-71

VII.

EVALUASI MULTIAKSIAL
AKSIS I

: F41.1 gangguan cemas menyeluruh

AKSIS II

: Diagnosis tertunda
8

AKSIS III

: belum ada diagnosis

AKSIS IV

: Masalah Support system

AKSIS V

: GAF SCALE 1 tahun 80-71 & GAF SCALE Pemeriksaan 80-71

VIII. DAFTAR MASALAH


a. Organobiologik

: Dalam batas normal

b. Psikologi

: Khawatir, cemas

c. Sosial

: tidak ada masalah

d. Keluarga

: Hubungan dengan anak harmonis. Hubungan dengan istri


baik.

IX.

PROGNOSIS

Faktor - faktor yang mendukung kearah prognosis baik:


o Keluarga pasien masih mendukung pasien untuk sembuh.

Faktor - faktor yang mendukung kearah prognosis buruk:


o Tidak ada
Kesimpulan prognosisnya adalah:
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

X. PENATALAKSANAAN
Rawat jalan
Pengobatan:
1.

Farmakoterapi
Fridep

12,5 mg

Alprazolam

0,25 mg

m.f pulvus da in caps dtd VII


9

(1 cap 0 0 )

Fridep

18,75 mg

Clobazam

2,5 mg

m.f pulvus da in caps dtd VII


(0 0 1 cap )

2.

Terapi Psikoterapi
a. Memotivasi pasien agar minum obat teratur dan kontrol rutin
Dengan cara memberi tahu akibat yang terjadi apabila tidak rutin minum obat
Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah
serta memberikan dorongan agar lebih terbuka bila mempunyai masalah dan
jangan memperberat pikiran dalam menghadapi suatu masalah. Dengan cara
agar tidak memendam masalah sendiri, bahwa dengan bercerita dengan
keluarga akan membuat pasien lebih tenang dan kemungkinan kambuh kecil.
b. Memberikan edukasi kepada pasien bahwa obat yang diminum tidak
menimbulkan ketergantungan justru sebagai pengontrol zat kimia di otak agar
gejala yang dialami pasien bisa terkontrol dan pasien bisa menjalani
kehidupan sehari-hari seperti sebelum sakit.
Hal ini sangat penting, karena banyak pasien merasa seperti berbeda dari
orang lain. Sehingga pasien merasa tidak pantas untuk berbaur ataupun
bekerja. Hal ini harus dicegah, karena sesungguhnya dengan melakukan
aktivitas rutin, seperti bekerja atau menyalurkan hobi, akan membantu
kesembuhan pasien.

3.

Terapi Kognitif
10

Menjelaskan pada pasien tentang penyakit dan gejala-gejalanya, menerangkan


tentang gejala penyakit yang timbul akibat cara berfikir, perasaan dan sikap
terhadap masalah yang dihadapi.
Apabila tedapat beban pikiran yang berlebihan pada pasien akan menimbulkan
kekambuhan gejala lagi, walaupun pasien diterapi obat. Hal ini pentingnya
pengetahuan pasien tentang keadaan pasien tersebut.
Terapi Sosial
Melibatkan pasien secara aktif dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok di
lingkungan rumah agar ia dapat beraktivitas dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
Proses terapi aktivitas kelompok pada dasarnya lebih kompleks dari pada
terapi individual, oleh karena itu untuk memimpinya memerlukan pengalaman
dalam psikoterapi individual. Dalam kelompok terapis akan kehilangan sebagian
otoritasnya dan menyerahkan kepada kelompok.
Terapis sebaiknya mengawali dengan mengusahakan terciptanya suasana yang
tingkat kecemasannya sesuai, sehingga pasien terdorong untuk membuka diri dan
tidak menimbulkan atau mengembalikan mekanisme pertahanan diri. Setiap
permulaan dari suatu terapi aktivitas kelompok yang baru merupakan saat yang
kritis karena prosedurnya merupakan suatu yang belum pernah dialami oleh
anggota kelompok dan mereka dihadapkan dengan orang lain.
Setalah pasien berkumpul, mereka duduk melingkar, terapis memulai dengan
memperkenalkan diri terlebih dahulu dan juga memperkenalkan co-terapis dan
kemudian mempersilahkan anggota untuk memperkenalkan diri secara bergilir,
bila ada anggota yang tidak mampu maka terapis memperkenalkannya. Terapis
kemudian menjelaskan maksud dan tujuan serta prosedur terapi kelompok dan
juga masalah yang akan di bicarakan dalam kelompok. Topik atau masalah dapat
ditentukan oleh terapis atau usul pasien. Ditetapkan bahwa anggota bebas
membicarakan apa saja, bebas mengkritik siapa saja termasuk terapis. Terapis
sebaiknya bersifat moderat dan menghindarkan kata-kata yang dapat diartikan
sebagai perintah.
Dalam prosesnya kalau terjadi blocking, terapis dapat membiarkan sementara.
Blocking yang terlalu lama dapat menimbulkan kecemasan yang meningkat oleh
karena terapisnya perlu mencarikan jalan keluar. Dari keadaan ini mungkin ada
11

indikasi bahwa ada beberapa pasien masih perlu mengikuti terapi individual. Bisa
juga terapis merangsang anggota yang banyak bicara agar mengajak temannya
yang kurang banyak bicara. Dapat juga co-terapis membantu mengatasi
kemacetan.
Kalau terjadi kekacauan, anggota yang menimbulkan terjadinya kekacauan
dikeluarkan dan terapi aktivitas kelompokn berjalan terus dengan memberikan
penjelasan kepada semua anggota kelompok. Setiap komentar atau permintaan
yang datang dari anggota diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Terapis
bukanlah guru, penasehat, atau bukan pula wasit. Terapis lebih banyak pasif atau
katalisator. Terapis hendaknya menyadari bahwa tidak menghadapi individu dalam
suatu kelompok tetapi menghadapi kelompok yang terdiri dari individu-individu.
Diakhir terapi aktivitas kelompok, terapis menyimpulkan secara singkat
pembicaraan yang telah berlangsung / permasalahan dan solusi yang mungkin
dilakukan. Dilanjutkan kemudian dengan membuat perjanjian pada anggota untuk
pertemuan berikutnya.
5. Terapi Keluarga
Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakit pasien, penyebabnya,
faktor pencetus, perjalanan penyakit dan rencana terapiserta memotivasi
keluargapasien untuk selalu mendorong pasien mengungkapkan perasaaan dan
pemikirannya.
Dikarenakan banyak keluarga pasien akibat stigma masyarakat, keluarga
pasien menjadi malu, sehingga keluarga kekurangan empati terhadap pasien
sendiri. Hal ini harus dicegah, dengan memberikan dukungan kepada keluarga,
untuk menyayangi pasien selayaknya keluarga yang sedang sakit dan butuh
perhatian keluarga untuk kesembuhannya.
TerapiPekerjaan
Memanfaatkan waktu luang dengan melakukanhobi atau pekerjaan yang
bermanfaat.Kita tanyakan pasien, tanyakan pekerjaan dahulu dan pekerjaan yang
ditawari dari orang lain. Hal ini tentunya apabila insight of ilness pasien sudah
baik dan tidak ada gejala. Kita bantu untuk memulihkan pekerjaan yang tepat
sehingga pasien mempunyai aktifitas rutin sehari-hari layaknya orang normal

12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
GANGGUAN CEMAS MENYELURUH (F. 41.1)
13

2.1 DEFINISI
Kecemasan adalah keadaan individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah
(penilaian atau opini) dan aktivitas sistem saraf autonom dalam berespons terhadap
ancaman yang tidak jelas, nonspesifik. Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang
menggambarkan perasaan, keadaan emosional yang dimiliki seseorang pada saat
menghadapi kenyataan atau kejadian dalam hidupnya.
Jika kekhawatiran konstan dan ketakutan mengalihkan perhatian Anda dari harihari Anda kegiatan atau Anda terganggu oleh perasaan gigih bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi, Anda mungkin menderita gangguan kecemasan umum (GAD).
2.2 MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis bervariasi, diagnosis Gangguan Cemas Menyeluruh ditegakkan
apabila dijumpai gejala-gejala antara lain keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu untuk
bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada hal-hal yang sepele dan tidak
utama yang mana perasaan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya, sehingga
pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilaku terpengaruh. Selain itu spesifik untuk
Gangguan Kecemasan Menyeluruh adalah kecemasanya terjadi kronis secara terusmenerus mencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial),
cemas akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan`mendapatkan
serangan jantung. Sering penderita tidak sabar, mudah marah, sulit tidur.
Untuk lebih jelasnya gejala-gejala umum ansietas dapat dilihat pada tabel di
bawah:
Ketegangan Motorik

1. Kedutan otot/ rasa gemetar


2. Otot tegang/kaku/pegal
3. Tidak bisa diam
4. Mudah menjadi lelah

14

Hiperaktivitas Otonomik

5. Nafas pendek/terasa berat


6. Jantung berdebar-debar
7. Telapak tangan basah/dingin
8. Mulut kering
9. Kepala pusing/rasa melayang
10. Mual, mencret, perut tak enak
11. Muka panas/ badan menggigil
12. Buang air kecil lebih sering

Kewaspadaan

berlebihan

Penangkapan berkurang

dan 13. Perasaan jadi peka/mudah ngilu


14. Mudah terkejut/kaget
15. Sulit konsentrasi pikiran
16. Sukar tidur
17. Mudah tersinggung

2.3 DIAGNOSIS
Untuk diagnosis Gangguan Cemas Menyeluruh (DSM-IV halaman 435, 300.02)
ditegakkan bila terdapat kecemasan kronis yang lebih berat (berlangsung lebih dari 6
bulan; biasanya tahunan dengan gejala bertambah dan kondisi melemah) dan termasuk
gejala seperti respons otonom (palpitasi, diare, ekstremitas lembab, berkeringat, sering
buang air kecil), insomnia, sulit berkonsentrasi, rasa lelah, sering menarik nafas,
gemetaran, waspada berlebihan, atau takut akan sesuatu yang akan terjadi.
Diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ-III DSM-V ditegakkan
berdasarkan :

Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung


hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak
15

terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja

(sifatnya free floating atau mengambang).


Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
1. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk,
sulit berkonsentrasi, dsb)
2. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai);
dan
3. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung
berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut
kering, dsb)

Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),


khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan Anxietas
Menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode
depresif (F.32.-), gangguan anxietas fobik (F.40.-), gangguan panik (F42.0),
atau gangguan obsesif-kompulsif (F.42.-)

2.4 PENATALAKSANAAN
Terapi pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh pada umumnya dapat dilakukan
dengan 2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan
(farmakoterapi). Angka-angka keberhasilan terapi yang tinggi dilaporkan pada kasuskasus dengan diagnosis dini. Psikoterapi yang sederhana sangat efektif, khususnya dalam
konteks hubungan pasien dengan dokter yang baik, sehingga dapat membantu
mengurangi farmakoterapi yang tidak perlu.
FARMAKOTERAPI
Obat utama yang harus dipertimbangkan untuk pengobatan generalized anxiety
disorder adalah benzodiazepin, dan buspirone (BuSpar). Meskipun pengobatan gangguan
cemas menyeluruh kadang-kadang terlihat sebagai pengobatan 6- 12 bulan, beberapa
bukti menunjukkan bahwa pengobatan harus jangka panjang, mungkin seumur hidup.
Sekitar 25 persen pasien kambuh di bulan pertama setelah penghentian terapi, dan 60
sampai 80 persen kambuh selama tahun depan.
a.

Benzodiazepin

16

Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepine dimulai dengan dosis


terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respons terapi. Pengguanaan sediaan
dengan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek
yang tidak diinginkan. Lama pengobatan rata-rata 2-6 minggu, dilanjutkan dengan
masa tapering off selama 1-2 minggu. Spektrum klinis Benzodiazepin meliputi efek
anti-anxietas, antikonvulsan, anti-insomnia, dan premedikasi tindakan operatif.
Adapun obat-obat yang termasuk dalam golongan Benzodiazepin antara lain :11

Diazepam, dosis anjuran oral = 2-3 x 2-5 mg/hari; injeksi = 5-10 mg (im/iv),
broadspectrum

Chlordiazepoxide, dosis anjuran 2-3x 5-10 mg/hari, broadspectrum

Lorazepam, dosis anjuran 2-3x 1 mg/hari, dosis anti-anxietas dan antiinsomnia. Lebih efektif sebagai anti-anxietas, untuk pasien-pasien dengan
kelainan hati dan ginjal.

Clobazam, dosis anjuran 2-3 x 10 mg/hari, , dosis anti-anxietas dan antiinsomnia berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai anti-anxietas,
psychomotor performance paling kurang terpengaruh, untuk pasien dewasa
dan usia lanjut yang masih ingin tetap aktif.

Bromazepam, dosis anjuran 3x 1,5 mg/hari, , dosis anti-anxietas dan antiinsomnia berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai anti-anxietas.

Alprazolam, dosis anjuran 3 x 0,25 0,5 mg/hari, efektif untuk anxietas tipe
antisipatorik, onset of action lebih cepat dan mempunyai komponen efek
anti-depresi.
b. Non-benzodoazepin (Buspiron)
Buspiron efektif pada 60-80% penderita GAD. Buspiron lebih efektif dalam
memperbaiki gejala kognitif disbanding gejala somatik. Tidak menyebabkan
withdrawal. Dosis anjuran 2-3x 10 mg/hari. Kekurangannya adalah, efek klinisnya
baru terasa setelah 2-3 minggu. Terdapat bukti bahwa penderita GAD yang sudah
menggunakan Benzodiazepin tidak akan memberikan respon yang baik dengan
Buspiron. Dapat dilakukan penggunaan bersama antara Benzodiazepin dengan
Buspiron kemudian dilakukan tapering Benzodiazepin setelah 2-3 minggu, disaat efek
terapi Buspiron sudah mencapai maksimal.
17

PSIKOTERAPI
a.

Terapi kognitif perilaku


Teori Cognitive Behavior pada dasarnya meyakini bahwa pola pemikiran
manusia terbentuk melalui proses rangkaian stimulus-kognisi-respon, dimana proses
kognisi akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir,
merasa dan bertindak. Terapi kognitif perilaku diarahkan kepada modifikasi fungsi
berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan peran otak dalam menganalisa,
memutuskan, bertanya, berbuat dan memutuskan kembali. Dengan mengubah arus
pikiran dan perasaan, klien diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif
menjadi positif.Tujuan terapi kognitif perilaku ini adalah untuk mengajak pasien
menentang pikiran (dan emosi) yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang
bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Pendekatan
kognitif mengajak pasien secara kangsung mengenali distorsi kognitif dan pendekatan
perilaku, mengenali gejala somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan
pada pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.

b. Terapi suportif
Pasien diberikan re-assurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang
ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam
fungsi sosial dan pekerjaannya.
c. Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien ini untuk mencapai penyingkapan konflik bawah
sadar, menilik egostrength, relasi objek, serta keutuhan self pasien. Dari pemahaman
akan komponen-komponen tersebut, kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh
mana pasien dapat diubah untuk menjadi lebih matur, bila tidak tercapai, minimal kita
memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.

2.5 PROGNOSIS
Gangguan anxietas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin
berlangsung seumur hidup. Prognosis dipengaruhi oleh usia, onset, durasi gejala dan
perkembangan komorbiditas gangguan cemas dan depresi. Terjadinya beberapa peristiwa
18

negatif dalam kehidupan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan cemas


menyeluruh. Menurut definisinya, gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan
kronis yang mungkin seumur hidup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami
gangguan panik, juga dapat mengalami gangguan depresi mayor.

DAFTAR PUSTAKA

19

1. Kaplan, H., Sadock, Benjamin. 1997. Gangguan Kecemasan dalam Sinopsis


Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Edisi ke-7 Jilid 2. Jakarta: Bina
Rupa Aksara. Hal. 1-15
2. Kaplan, Harold. I. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta: Widya Medika. Hal.
145-54
3. Tomb, D. A. 2000. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC. Hal. 96-110
4. Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III-DSM
V. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal.
72-75
5. Adiwena, Nuklear. 2007. Anxietas. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Islam Indonesia.
6. Eldido. Anxiety Disorder; Tipe-tipe dan Penanganannya. 20 Oktober 2008.
7. Yates, W. R. 2008. Anxiety Disorders. Update August 13, 2008. www.emedicine.com
8. Anonim.
Kecemasan
atau
Ansietas.
Update
32
Desember
2008.
www.mitrariset.blogspot.com
9. Maslim, Rusdi. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal. 12

20