Anda di halaman 1dari 43

SKENARIO II

MAYAT PEREMPUAN DI KAMAR KOS

Mayat seorang perempuan diduga berusia 23 tahun ditemukan meninggal di kamar koskosannya di daerah Salemba. Korban ditemukan setengah telanjang dengan tangan diikat dan
mulut di sempal. Mayat dalam keadaan mulai membusuk, barbau, ditemukan belatung pada
bagian lubang hidungnya, kulit mulai mengelupas dan tampak pembuluh darah mulai melebar
pada bagian dada dan leher. Diperkirakan kejadian sekitar 3 hari yang lalu.
Polisi menduga korban diperkosa sebelum dibunuh. Tim identefikasi mengambil sidik
jari korban dan mengambil swab vagina untuk memastikan adanya sperma pelaku.

KATA-KATA SULIT
1. Swab Vagina : Pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan dan hasil usapan lalu
ditambahkan cairan fisiologis dan garam lalu ditunggu selama 4-5 menit.

PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.
5.

Apa penyebab kematian pada kasus di atas dan bagaimana cara mengetahuinya?
Mengapa pembuluh darah melebar dan kulit mengelupas pada dada dan leher?
Mengapa bisa dikatakan wanita tersebut meninggal 3 hari yang lalu?
Mengapa bisa berbau?
Bagaimana cara mengetahui mayat tersebut diperkosa dulu sebelum di bunuh? Dan
apakah berdanya hukuman pada pelakunya?
6. Bagaimana cara untuk mengidentifikasi pelaku?
7. Bagaimana hukum islam terhadap pembunuhan?
8. Siapakah yang berhak mengambil swab vagina?

JAWABAN
1. Bisa karena bermacam-macam dan perlu identifikasi yang lebih lanjut
3

2. Pembuluh darah melebar di karenakan terdapat tramu dan kulit mengelupas dikarenakan
gas yang di hasilkan oleh bakteri masuk ke lapisan dermis
3. Melihat dari kulit yang mengelupas, pembuluh darah melebar, identifikasi serangga
4. Karena terdapat bakteri dari usus dan enzim
5. Sperma yang berada di vagina dan lebam saat melindungi diri. Hukuman untuk pelaku
pemerkosaan pada mayat bisa di rehabilitasi terlebih dahulu
6. Melihat dari sidik jari yang tertinggal, sperma yang tertinggal, dan identifikasi gigitan
7. Tergantung sengaja atau tidak sengaja serta niat dari pelakunya
8. Agli forensic yang melakukan investigasi

HIPOTESIS

Kematian bisa ditandai dengan adanya kaku mayat, lebam mayat, pembusukan mayat,
kulit mengelupas, dan adanya serangga.

SASARAN BELAJAR
5

LI.I Memahami dan Menjelaskan Perubahan yang terjadi setelah kematian


LI.II Memahami dan Menjelaskan Investigasi Kasus Pemerkosaan
LI.III Memahami dan Menjelaskan Hukum Pembunuhan dalam Islam

LI.I

Memahami dan Menjelaskan Perubahan yang Terjadi Setelah Kematian

1.1 Definisi
Kematian manusia berdasarkan dua dimensi yaitu kematian seluler (seluler death)
akibat ketiadaan oksigen dan kematian manusia sebagai individu (somatic death). Kematian
individu dapat didefinisikan secara sederhana sebagai terhentinya kehidupan secara
permanen (permanent cessation of life) atau dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya secara
permanen fungsi berbagai organ vital yaitu paru-paru, jantung dan otak sebagai kesatuan
yang utuh yang ditandai oleh berhentinya konsumsi oksigen. Sebagai akibat berhentinya
konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka sel-sel sebagai elemen terkecil pembentuk
manusia akan mengalami kematian, dimulai dari sel-sel paling rendah daya tahannya
terhadap ketiadaan oksigen.
Mati suri adalah penurunan fungsi organ vital sampai taraf minimal untuk
mempertahankan kehidupan, sehingga tanda-tanda kliniknya seperti sudah mati yang sifatnya
reversibel. Sedangkan mati somatik adalah keadaan dimana ketika fungsi ketiga organ vital
sistem saraf pusat, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernafasan berhenti secara menetap.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang
otak dan serebelum, kedua sistem lain masih berfungsi dengan bantuan alat. Sedangkan mati
batang otak adalah kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk
batang otak dan serebelum.
Kriteria diagnostik penentuan kematian:
1. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komando atau perintah,
dan sebagainya)
2. Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang berada dibawah
pengaruh obat-obatan curare.
3. Tidak ada reflek pupil
4. Tidak ada reflek kornea
5. Tidak ada respon motorik dari saraf kranial terhadap rangsangan
6. Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotracheal didorong ke dalam
7. Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yang dimasukkan ke
dalam lubang telinga
8. Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup lama
walaupun pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan napas (50 torr)
7

Tes klinik ini baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma serta apneu dan
harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama. Sedangkan tes
konfirmasi dengan EEG dan angiografi hanya dilakukan jika tes klinik memberikan hasil
yang meragukan atau jika ada kekhawatiran akan adanya tuntutan di kemudian hari.
1.2 Tanda dan Patofisiologi

1.

Tanda kematian tidak pasti


Berhentinya sistem pernafasan dan sistem sirkulasi.

Secara teoritis, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung dan paru
berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya seringkali terjadi kesalahan
diagnosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dengan cara mengamati selama
waktu tertentu. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mendengarkannya melalui
stetoscope pada daerah precordial dan larynx dimana denyut jantung dan suara
nafas dapat dengan mudah terdengar.
Kadang-kadang jantung tidak segera berhenti berdenyut setelah nafas terhenti,
selain disebabkan ketahanan hidup sel tanpa oksigen yang berbeda-beda dapat
juga disebabkan depresi pusat sirkulasi darah yang tidak adekwat, denyut nadi
yang menghilang merupakan indikasi bahwa pada otak terjadi hipoksia. Sebagai
contoh pada kasus judicial hanging dimana jantung masih berdenyut selama 15
menit walaupun korban sudah diturunkan dari tiang gantungan.
2. Kulit yang pucat
Kulit muka menjadi pucat ,ini terjadi sebagai akibat berhentinya sirkulasi darah
sehingga darah yang berada di kapiler dan venula dibawah kulit muka akan
mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna kulit muka tampak menjadi
lebih pucat. Akan tetapi ini bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya.
Kadang-kadang kematian dihubungkan dengan spasme agonal sehingga wajah
tampak kebiruan. Pada mayat yang mati akibat kekurangan oksigen atau

keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon monoksida) warna semula dari raut
muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat.
3. Relaksasi otot
Pada saat kematian sampai beberapa saat sesudah kematian , otot-otot polos akan
mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada stadium
ini disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang turun kebawah yang menyebabkan
mulut terbuka, dada menjadi kolap dan bila tidak ada penyangga anggota
gerakpun akan jatuh kebawah. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga orang mati tampak lebih muda dari umur sebenarnya,
sedangkan relaksasi pada otot polos akan mengakibatkan iris dan sfincter ani akan
mengalami dilatasi. Oleh karena itu bila menemukan anus yang mengalami
dilatasi harus hati-hati menyimpulkan sebagai akibat hubungan seksual
perani/anus corong.
4. Perubahan pada mata
Perubahan pada mata meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya yang
menyebabkan kornea menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang negatif.
Knight mengatakan hilangnya reflek cahaya pada kornea ini disebabkan karena
kegagalan kelenjar lakrimal untuk membasahi bola mata. Kekeruhan pada kornea
akan timbul beberapa jam setelah kematian tergantung dari posisi kelopak mata.
Akan tetapi Marshall mengatakan kornea akan tetap menjadi keruh tanpa
dipengaruhi apakah kelopak mata terbuka atau tertutup. Walaupun sering ditemui
kelopak mata tertutup secara tidak komplit, ini terjadi oleh karena kekakuan otototot kelopak mata. Kekeruhan pada lapisan dalam kornea ini tidak dapat
dihilangkan atau diubah kembali walaupun digunakan air untuk membasahinya.
Bila kelopak mata tetap terbuka sclera yang ada disekitar kornea akan mengalami
kekeringan dan berubah menjadi kuning dalam beberapa jam yang kemudian
berubah menjadi coklat kehitaman. Area yang berubah warna ini berbentuk
9

trianguler dengan basis pada perifer kornea dan puncaknya di epikantus. Area ini
disebuttaches noires de la sclerotiques yang pertama kali digambarkan oleh
Somner pada tahun 1833.
Knight mengatakan iris masih bereaksi dengan stimulasi kimia sampai 4 jam
sesudah kematian somatik, tetapi reflek cahaya segera hilang bersamaan dengan
iskemik pada batang otak. Pupil biasanya pada posisi mid midriasis yang
disebabkan oleh karena relaksasi dari muskulus pupilaris walaupun ada sebagian
ahli yang menganggap ini sebagai proses rigor mortis. Diameter pupil sering
dihubungkan dengan sebab kematian seperti lesi di otak atau intoksikasi obat
seperti keracunan morphin dimana sewaktu hidup pupil menunjukan kontraksi.
Akan tetapi Price (1963) memeriksa mata dari 1000 mayat dan menyimpulkan
bahwa keadaan pupil tidak berhubungan dengan sebab kematian, dan kematian
menyebabkan pupil menjadi dilatasi atau cadaveric position .
Setelah kematian tekanan intra okuler akan turun, tekanan intra okuler yang turun
ini mudah menyebabkan kelainan bentuk pupil sehingga pupil kehilangan bentuk
sirkuler setelah mati dan ukurannya pun menjadi tidak sama ,pupil dapat
berkontraksi dengan diameter 2 mm atau berdilatasi sampai 9 mm dengan ratarata 4-5 mm oleh karena pupil mempunyai sifat tidak tergantung dengan pupil
lainnya maka sering terdapat perbedaan sampai 3 mm.
Nicati (1894) telah melakukan pengukuran terhadap tekanan bola mata
posmortem dimana tekanan normal pada bola mata pada waktu hidup adalah 14g
-25g akan tetapi begitu sirkulasi terhenti maka penurunan tekanan bola mata
menjadi sangat rendah (tidak sampai mencapai 12g) dan dalam waktu 30 menit
akan berkurang menjadi 3g yang kemudian menjadi nol setelah 2 jam kematian.
Penurunan tekanan bola mata ini pernah dicoba untuk menentukan perkiraan saat
kematian.
Kervokian (1961) berusaha menerangkan perubahan-perubahan yang terjadi pada
retina 15 jam pertama setelah kematian dimana kornea dapat dipertahankan dalam
10

keadaan baik dengan menggunakan air atau larutan garam fisiologis yang
kemudian dilakukan pemeriksaan dengan optalmoskop. Pemeriksaan ini tidaklah
mudah, ternyata pemeriksaan retina pada mayat jauh lebih sulit bila dibandingkan
dengan orang hidup. Dan perubahan warna yang terjadi pada retina dicoba
dihubungkan dengan perkiraan saat kematian. Dengan berhentinya aliran darah
maka

pembuluh darah retina akan mengalami perubahan

yang disebut

segmentasi atau trucking dan ini terjadi dalam 15 menit pertama setelah
kematian. Pada pemeriksaan dalam 2 jam pertama setelah kematian, dapat dilihat
retina tampak pucat dan daerah sekitar fundus tampak kuning, demikian pula
daerah sekitar makula. Sekitar 6 jam batas fundus menjadi tidak jelas, dan tampak
gambaran segmentasi pada pembuluh darah, dengan latar belakang yang berwarna
kelabu kekuningan. Gambaran ini mencapai seluruh perifer retina sekitar 7-10
jam. Setelah 12 jam diskus hanya dapat dilihat sebagai titik yang terlokalisasi
dengan sisa-sisa pembuluh darah yang bersegmentasi hingga pada akhirnya diskus
dan pembuluh darah retina menghilang yang ada hanya makula yang berwarna
coklat gelap. Beberapa pengamat menggambarkan perubahan dini posmortem
yang terjadi pada retina mempunyai arti yang kecil untuk dihubungkan dengan
perkiraan saat mati. Sedangkan Tomlin ( 1967) beranggapan bahwa segmentasi
pada retina lebih berindikasi pada kematian serebral daripada penghentian
sirkulasi.
Wroblewski dan Ellis (1970) mempelajari perubahan mata pada 300 mayat
dimana tidak hanya perubahan yang terjadi pada retina tetapi juga perubahan
yang terjadi pada kornea juga dicatat. Mereka telah memeriksa 204 fundus dari
subjek dan 115 diantaranya terdapat segmentasi atau trucking pada satu atau
kedua mata setelah satu jam posmortem dan negatif pada 89 lainnya. Bagian yang
paling sulit pada pemeriksaan ini adalah kekeruhan kornea yang terjadi dalam
75% pasien dalam 2 jam setelah kematian. Akhirnya mereka menyimpulkan
bahwa segmentasi merupakan perubahan posmortem yang alami daripada
menghubungkannya dengan perkiraan saat kematian.

11

Tanda Kematian Pasti

1. LEBAM MAYAT
Lebam Mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem Suggilation,
Hypostasis, Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk bila terjadi kegagalan
sirkulasi darah dalam mempertahankan tekanan hidrostatik yang menggerakan darah
mencapai capillary bed dimana pembuluhpembuluh darah kecil afferent dan efferent
saling berhubungan. Maka secara bertahap darah yang mengalami stagnasi di dalam
pembuluh vena besar dan cabang-cabangnya akan dipengaruhi gravitasi dan mengalir ke
bawah, ke tempattempat yang terendah yang dapat dicapai. Dikatakan bahwa gravitasi
lebih banyak mempengaruhi sel darah merah tetapi plasma akhirnya juga mengalir ke
bagian terendah yang memberikan kontribusi pada pembentukan gelembunggelembung
di kulit pada awal proses pembusukan.
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai
perubahan warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara pasif
maka tempattempat di mana mendapat tekanan lokal akan menyebabkan tertekannya
pembuluh darah di daerah tersebut sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang
mengakibatkan kulit di daerah tersebut berwarna lebih pucat.
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah kematian,
Dimana setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 1012 jam ternyata akan
memberikan lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah dilakukan reposisi pada
tubuh dari pronasi ke supinasi (interpostmorchange).
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai dengan
timbulnya bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang dari setengah jam
sesudah kematian dimana bercak-bercak ini intensitasnya menjadi meningkat dan
kemudian bergabung menjadi satu dalam beberapa jam kemudian, dimana fenomena ini
menjadi komplet dalam waktu kurang lebih 812 jam, pada waktu ini dapat dikatakan
lebam mayat terjadi secara menetap. Menetapnya lebam mayat ini disebabkan oleh
karena terjadinya perembesan darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh
darah akibat tertimbunnya selsel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses
hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian
penekanan pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8-12 jam tidak akan menghilang.
12

Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberi indikasi bahwa suatu
lebam belum terfiksasi secara sempurna. Setelah empat jam, kapiler-kapiler akan
mengalami kerusakan dan butir-butir darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari
pecahan darah merah akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di
sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam mayat akan menetap serta tidak hilang
jika ditekan dengan ujung jari atau jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi
dilakukan setelah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul
pada posisi terendah, karena darah sudah mengalami koagulasi.
Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relatif. Perubahan
lebam ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian, bila telah terbentuk
lebam primer kemudian dilakukan perubahan posisi maka akan terjadi lebam sekunder
pada posisi yang berlawanan. Distribusi dari lebam mayat yang ganda ini adalah penting
untuk menunjukan telah terjadi manipulasi posisi pada tubuh. Akan tetapi waktu yang
pasti untuk terjadinya pergeseran lebam ini adalah tidak pasti, Polson mengatakan untuk
menunjukan tubuh sudah diubah dalam waktu 8 sampai 12 jam, sedangkan Camps
memberi patokan kurang lebih 10 jam.
Akan tetapi pada kematian wajarpun darah dapat menjadi permanent incoagulable
oleh karena adanya aktifitas fibrinolisin yang dilepas kedalam aliran darah selama proses
kematian. Sumber dari fibrinolisin ini tidak diketahui tetapi kemungkinan berasal dari
endothelium pembuluh darah, dan permukaan serosa dari pleura. Aktifitas fibrinolisin ini
nyata sekali pada kapiler-kapiler yang berisi darah. Darah selalu ditemukan cair dalam
venule dan kapiler, dan ini yang bertanggung jawab terhadap lebam mayat.
Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan menyebabkan
pengendapan darah pada pembuluh darah kecil yang dapat mengakibatkan pecahnya
pembuluh darah kecil tersebut dan berkembang menjadi petechie (tardieu`s spot) dan
purpura yang kadang-kadang berwarna gelap yang mempunyai diameter dari satu sampai
beberapa milimeter, biasanya memerlukan waktu 18 sampai 24 jam untuk terbentuknya
dan sering diartikan bahwa pembusukan sudah mulai terjadi. Fenomena ini sering terjadi
pada asphyxia atau kematian yang terjadinya lambat.

2. KAKU MAYAT (RIGOR MORTIS)


13

Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang
kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah
periode pelemasan/ relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan
kimiawi pada protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di
dalam pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting. Seperti diketahui
bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin dan myosin, dimana kedua
jenis protein ini bersama dengan ATP membentuk suatu masa yang lentur dan dapat
berkontraksi (gambar II.3). Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi pada perubahan
pada akto-miosin, diamana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi menghilang
sehingga otot yang bersangkutan akan menjadi kaku dan tidak dapat berkontraksi.

Gambar II.3.
Kontraksi otot

Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu berbeda-beda,
sehingga sewaktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam laktat dan energi pada
saat terjadinya kematian somatic, dimana energi tersebut digunakan untuk resintesa ATP,
akan menyebabkan adanya perbedaan kadar ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut
dapat menerangkan mengapa kaku mayat akan mulai nampak pada jaringan otot yang
jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada kematian karena infeksi,
konvulsi kelelahan fisik serta keadaan suhu keliling yang tinggi akan dapat mempercepat
14

terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada mereka yang keadaan gizinya jelek akan
lebih cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan dengan korban yang mempunyai tubuh
yang baik.
Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot masih alkalis.
Perubahan alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemudian karena adanya perubahan
biokimia, yaitu glikogen menjadi asam sarkolaktik / fosfor. Perubahan protoplasma
menjadi asam menyebabkan otot menjadi kaku (rigor). Relaksasi sekunder terjadi setelah
ada perubahan biokimia, yaitu asam berubah menjadi alkalis kembali saat terjadi
pembusukan.
Kaku mayat akan terjadi pada seluruh otot (gambar II.4), baik otot lurik maupun
otot polos. Dan bila terjadi pada otot rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang
mirip atau menyerupai papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan
kekakuan tersebut , bila hal ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak
mungkin lagi terjadi kaku mayat.

Gambar II.4. Kaku mayat pada lengan dan leher


Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya
setelah 10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24
jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari
otot-otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai.
Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat telah terbentuk
dengan posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi petunjuk bahwa pada tubuh
korban telah dipindahkan setelah mati. Ini mungkin dimaksudkan untuk menutupi sebab
kematian atau cara kematian yang sebenarnya.
15

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat :


a. Kondisi otot
-

Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi tubuh
sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada orang
yang sebelum mati banyak makan karbohidrat, maka kaku mayat akan lambat.

Gizi
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.

Kegiatan Otot
Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat
akan terjadi lebih cepat.

b. Usia
-

Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.

Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi cukup
bulan.

c. Keadaan Lingkungan
-

Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab

Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung
lama.

Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada
suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.

Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10oC, kekakuan yang terjadi
pembekuan atau cold stiffening.

d. Cara Kematian
-

Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama.

Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih
lama.

Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)


Kurang dari 3 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
16

Lebih dari 3 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis


Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
Rigor mortis menghilang 24 36 jam post mortem
Terdapat kekakuan pada pada mayat yang menyerupai kaku mayat :
-

Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang


terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya
merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa
didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya
cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal.
Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya.

Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus
tenggelam, tangan yang menggenggam pada kasus bunuh diri.
-

Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas.
Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini
dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut
ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut,
membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak
memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau
cara kematian.

Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5 oC
atau 40oF), sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi,
pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, bila cairan sendi yang membeku
menyebabkan sendi tidak dapat digerakan. Bila sendi di bengkokkan secara paksa
maka akan terdengar suara es pecah. Dan mayat yang kaku ini akan menjadi
lemas kembali bila diletakkan ditempat yang hangat, kemudian rigor mortis akan
terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

3. Pembusukan Atau Decompositio

17

Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection. Pembusukan


adalah proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi sebagai akibat proses
autolisis dan aktivitas mikroorganisme, terutama Clostridium welchii.
Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan
steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga
organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih
cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas
akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak
dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh karena itu pada mayat yang steril misalnya
mayat bayi dalam kandungan proses autolisis ini tetap terjadi. Proses auotolisis terjadi
sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang
terkena adalah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu
sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai akibatnya
jaringan akan menjadi lunak dan mencair.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh pengaruh
suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada suhu
tinggi enzim-enzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses
ini akan terhambat.
Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan
hilang, bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk ke
jaringan tubuh melalui pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang terbaik
bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan
bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau emboli,
perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan. Bakteri yang sering
menyebabkan destruktif ini sebagian besar berasal dari usus dan yang paling utama
adalah Cl. welchii. Bakteri ini berkembang biak dengan cepat sekali menuju ke
jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini
terjadi oleh karena reaksi antara H2S (gas pembusukan yang terjadi dalam usus besar)
dengan Hb menjadi Sulf-Meth-Hb. Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kirakira 24 jam - 48 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada dinding abdomen bagian
bawah, lebih sering pada fosa iliaka kanan dimana isinya lebih cair, mengandung
18

lebih banyak bakteri dan letaknya yang lebih superfisial. Perubahan warna ini secara
bertahap akan meluas keseluruh dinding abdomen sampai ke dada dan bau busukpun
mulai tercium. Perubahan warna ini juga dapat dilihat pada permukaan organ dalam
seperti hepar, dimana hepar merupakan organ yang langsung kontak dengan kolon
transversum. Pada saat Cl.welchii mulai tumbuh pada satu organ parenchim, maka
sitoplasma dari organ sel itu akan mengalami disintegrasi dan nukleusnya akan dirusak
sehingga sel menjadi lisis atau rhexis. Kemudian sel-sel menjadi lepas sehingga
jaringan kehilangan strukturnya.
Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak
didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding pembuluh
darah dan jaringan sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang
mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial
tanpa merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh darah beserta cabangcabangnya tampak lebih jelas seperti pohon gundul (arborescent pattern atau
arborescent mark) yang sering disebut marbling. Bakteri pembusukan ini banyak
terdapat dalam intestinal dan paru, maka gambaran marbling ini jelas terlihat pada
bahu,dada bagian atas, abdomen bagian bawah dan paha.
Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga
jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran
gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed
appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama kali pada hati . Kemudian permukaan
lapisan atas epidermis dapat dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada
dibawahnya dan ini disebut skin slippage.

Skin slippage ini menyebabkan

identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang terjadi antara
epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bula-bula yang bening, fragil, yang
dapat berisi cairan coklat kemerahan yang berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang
tidak mengisi secara penuh di dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya
menyerupai pendulum yang berukuran 5 7,5 cm dan bila pecah meninggalkan daerah
yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan, ini disebabkan oleh karena
pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga cairan lemak keluar ke lapisan dermis oleh
karena tekanan gas pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit, kuku, rambut
19

kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena adanya
desintegrasi pada akar rambut.
Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung
udara mengisi hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan
dinding tubuh akan menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan
pembengkakan tubuh yang menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic
attitude.
Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka dapat
menggembung, bibir menonjol seperti frog-like-fashion, Kedua bola mata keluar,
lidah terjulur diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh
keluarganya. Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat
badan mayat yang tadinya 57 - 63 kg sebelum mati menjadi 95 - 114 kg sesudah mati.
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan
yang terjadi didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan cairan
pembusukan yang berasal dari trakea dan bronkus terdorong keluar, bersama-sama
dengan cairan darah yang keluar melalui mulut dan hidung. Cairan pembusukan dapat
ditemukan di dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan hematotorak dan
biasanya cairan pembusukan ini tidak lebih dari 200 cc.
Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra abdominal
yang meningkat. Pada wanita uterus dapat menjadi prolaps dan fetus dapat lahir dari
uterus yang pregnan. Pada anak-anak adanya gas pembusukan dalam tengkorak dan
otak menyebabkan sutura-sutura kepala menjadi mudah terlepas.
Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda.
Jaringan intestinal,medula adrenal dan pancreas akan mengalami autolisis dalam
beberapa jam setelah kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa
merupakan organ yang cepat mengalami pembusukan. Perubahan warna pada dinding
lambung terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama setelah kematian.
Difusi cairan dari kandung empedu kejaringan sekitarnya menyebabkan perubahan
warna pada jaringan sekitarnya menjadi coklat kehijauan. Pada hati dapat dilihat
gambaran honey combs appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek,
dan otak menjadi lunak.
20

Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula-granula


milliary atau milliary plaques yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang
terdapat pada permukaan serosa yang terletak pada endotelial dari tubuh seperti pleura,
peritoneum, pericardium dan endocardium.
Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:
1. Early : Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan intestinal, medula
adrenal, pankreas, otak, lien, usus, uterus gravid, uterus post partum, dan darah
2. Moderate : Organ dalam yang lambat membusuk antara lain paru-paru, jantung,
ginjal, diafragma, lambung, otot polos dan otot lurik.
3. Late : Uterus non gravid dan prostat merupakan organ yang lebih tahan terhadap
pembusukan karena memiliki struktur yang berbeda dengan jaringan yang lain
yaitu jaringan fibrousa.
Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh terutama perirenal,
omentum dan mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent
yang mengisi rongga badan diantara organ yang dapat menyebabkan autopsi lebih sulit
dilakukan.
Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting dalam
proses pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan hinggap di
badan dan meletakkan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, hidung, mulut dan
telinga. Biasanya jarang pada daerah genitoanal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat
lebih sering meletakkan telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila ada telur atau
larva lalat didaerah genitoanal ini maka dapat dicurigai adanya kekerasan seksual
sebelum kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah menjadi larva dalam waktu 24
jam. Larva ini mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat mempercepat penghancuran
jaringan pada tubuh. Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam
pasca kematian. Berguna untuk memperkirakan saat kematian dan penyebab kematian
karena keracunan. Saat kematian dapat kita perkirakan dengan cara mengukur panjang
larva lalat. Penyebab kematian karena racun dapat kita ketahui dengan cara
mengidentifikasi racun dalam larva lalat.
Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi meraka juga
memberi informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat
21

dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh


mayat telah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan
bagian mana yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam pemeriksaan
toksikologi bila

jaringan untuk specimen standart juga sudah mengalami

pembusukan.
Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70100F (21,1-37,8C) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50F(10C) atau
pada suhu diatas 100F (lebih dari 37,8C). Bila mayat diletakkan pada suhu hangat
dan lembab maka proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila
mayat diletakkan pada suhu dingin maka proses pembusukan akan berlangsung lebih
lambat. Pada mayat yang gemuk proses pembusukan berlangsung lebih cepat dari pada
mayat yang kurus. Pembusukan berlangsung lebih cepat karena kelebihan lemak akan
menghambat hilangnya panas tubuh dan pada mayat yang gemuk memiliki darah yang
lebih banyak, yang merupakan media yang baik untuk perkembangbiakkan organisme
pembusukan.
Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat
pertumbuhan bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat
sedikit bakteri sehingga proses pembusukan berlangsung lebih lambat. Proses
pembusukan juga dapat dipercepat dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum
kematian seperti peritonitis fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas
pembusukan dapat terjadi walaupun kulit masih terasa hangat.
Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaitu :
1. Wajah membengkak.
2. Bibir membengkak.
3. Mata menonjol.
4. Lidah terjulur.
5. Lubang hidung keluar darah.
6. Lubang mulut keluar darah.
7. Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus (gravid).
8. Badan gembung.
9. Bulla atau kulit ari terkelupas.
22

10. Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan.
11. Pembuluh darah bawah kulit melebar.
12. Dinding perut pecah.
13. Skrotum atau vulva membengkak.
14. Kuku terlepas.
15. Rambut terlepas.
16. Organ dalam membusuk.
17. Larva lalat.
Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor interinsik diatas, selain itu juga
dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara dan medium di mana
mayat berada. Semakin lembab udara di sekeliling mayat maka pembusukan lebih cepat
berlangsung, sedangkan pembusukan pada medium udara lebih cepat dibandingkan
medium air dan pembusukan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium
tanah.
Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai, namun
yang ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifikasi pembusukan
antara lain.
a. Mumifikasi
Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan yang cukup
cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat
menghentikan pembusukan. Proses mumufikasi terjadi bila keadaan disekitar
mayat kering, kelembaban rendah, suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi
dengan bakteri. Terjadinya beberapa bulan sesudah mati dengan tanda-tanda
sebagai berikut mayat menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut, warna
coklat kehitaman, kulit melekat erat dengan tulang di bawahnya, tidak
berbau, dan keadaan anatominya masih utuh.
b. Saponifikasi
Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalamsuasana hangat,
lembab atau basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak.
Selanjutnya asam lemak yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi menjadi
asam lemak jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak
23

larut. Terbentuk pertama kali pada lemak superfisial bentuk bercak, di pipi, di
payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas. Terjadinya

saponikasi

memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada setiap jaringan tubuh
yang berlemak dengan tanda-tanda berwarna keputihan dan berbau tengik seperti
minyak kelapa.
4. Penurunan suhu tubuh mayat/algor mortis
Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan energi. Kalor
dan energi ini terbentuk melalui proses pembakaran sumber energi seperti glukosa,
lemak, dan protein. Sumber energi utama yang digunakan adalah glukosa. Satu molekul
glukosa dapat menghasilkan energi sebanyak 36 ATP yang nantinya digunakan sebagai
sumber energi dalam berbagai hal seperti transport ion, kontraksi otot dan lain-lain.
Energi sebanyak 36 ATP hanya menyusun sekitar 38% dari total energi yang dihasilkan
dari satu molekul glukosa (gambar II.1). Sisanya sebesar 62% energi yang dihasilkan
inilah yang dilepaskan sebagai kalor atau panas.

24

Gambar II.1. Metabolisme Glukosa


Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga
suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya. Penurunan ini
disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas. Proses penurunan
suhu pada mayat ini biasa disebut algor mortis. Algor mortis merupakan salah satu
perubahan yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut post
mortem.
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat dengan bentuk
sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu :
25

1. Masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat, yakni karena masih adanya
proses glikogenolisis dari cadangan glikogen yang disimpan di otot dan hepar
(gambar II.2).
2. Perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.

Gambar II.3. Glikogenolisis


Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah itu penurunan
menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. Jika dirata-rata
maka penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 derajat celcius atau sekitar 1,5 derajat
Fahrenheit setiap jam, dengan catatan penurunan suhu dimulai dari 37 derajat Celcius
atau 98,4 derajat Fahrenheit sehingga dengan dapat dirumuskan cara untuk
memperkirakan berapa jam mayat telah mati dengan rumus (98,4 oF - suhu rectal oF) :
1,5oF. Pengukuran dilakukan per rectal dengan menggunakan thermometer kimia (long
chemical thermometer).
26

Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu mayat ini yakni:
1. Faktor internal
a. Suhu tubuh saat mati
Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati dengan suhu
tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan mengakibatkan
penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat. Sedangkan, pada hypothermia tingkat
penurunannya menjadi sebaliknya.
b. Keadaan tubuh mayat
Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu
tubuh mayat. Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannya menjadi
lebih cepat.
2. Faktor Eksternal
a. Suhu medium
Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka semakin cepat
terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada di tubuh mayat
dilepaskan lebih cepat ke medium yang lebih dingin.
b. Keadaan udara di sekitarnya
Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar. Hal ini
disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. Selain
itu, Aliran udara juga makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
c. Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air
merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap banyak panas
dari tubuh mayat.
d. Pakaian mayat
Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat semakin cepat.
Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu medium atau
lingkungan lebih mudah.

27

ENTOMOLOGI FORENSIK
Entomologi forensik merupakan salah satu cabang dari sains forensik yang memberikan
informasi mengenai serangga yang digunakan untuk menarik kesimpulan ketika melakukan
investigasi yang berhubungan dengan kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan dengan
manusia atau satwa (Gaensslen, 2009; Gennard, 2007).
Dalam kasus entomologi forensik, Gomes et al. (2006) menyatakan bahwa lalat merupakan
invertebrata primer yang mendekomposisi komponen organik pada hewan termasuk juga mayat
manusia. Pada saat lalat mengambil materi organik yang ada di dalam tubuh mayat, maka lalat
tersebut akan memindahkan telur yang akan berkembang menjadi larva dan pupa (Sukontason et
al., 2007). Adanya berbagai perubahan dari berbagai jenis lalat dan serangga lain akan
menimbulkan suatu komunitas dalam mayat yang secara ekologi dan evolusi akan terjadi proses
kompetisi, predasi, seleksi, penyebaran dan kepunahan lokal dalam tubuh mayat tersebut
(Hangeveld, 1989).
Amendt et al. (2004a) menyebutkan bahwa ada empat kategori secara ekologi untuk
mengidentifikasi suatu komunitas pada bangkai/mayat, antara lain:
1. Adanya spesies necrophagous yang memakan bangkai/mayat.
2. Adanya predator dan parasit pada terhadap spesies necrophagous yang memakan
serangga atau golongan Arthropoda yang lain. Terkadang juga ditemukan spesies
Schizophagous, yakni spesies yang hadir untuk memakan pada saat pertama kali, namun
akan menjadi predator pada tahap larva.
3. Adanya spesies omnivora seperti semut, lebah, dan beberapa jenis kumbang yang
memakan baik pada bangkai maupun pada koloni serangga yang ada.
4. Adanya spesies lain seperti laba-laba yang menggunakan bangkai/mayat untuk tempat
tinggalnya.

28

Tahapan Dekomposisi
Peristiwa dekomposisi melibatkan berbagai aspek selain faktor biotik, yakni faktor abiotik yang
meliputi parameter fisik seperti temperatur, kelembaban, dan lain-lain. Menurut Gennard (2007)
dan Goff (2003), tahapan dekomposisi terdiri dari lima tahap antara lain:
Tahap1: fresh stage, tahapan dimulai pada saat kematian dan ditandai adanya tanda
penggelembungan pada tubuh. Serangga yang pertama kali datang adalah lalat dari famili
Calliphoridae dan Sarcophagidae. Lalat betina akan meletakkan telurnya di daerah yang terbuka
seperti daerah kepala (mata, hidung, mulut, dan telinga).
Tahap 2: bloated stage, merupakan tahapan pembusukan yang sedang dimulai. Gas yang
dihasilkan oleh aktivitas metabolisme bakteri anaerob menyebabkan penggelembungan pada
pada perut mayat. Selanjutnya suhu internal naik selama tahapan ini sebagai akibat dari aktivitas
bakteri pembusuk dan aktivitas metabolime dari larva lalat. Lalat dari famili Calliphoridae sangat
tertarik pada mayat selama tahapan ini. Kemudian selama mengembang akibat adanya gas,
cairan dalam tubuh terdorong keluar dari lubang-lubang tubuh dan meresap ke dalam tanah.
Cairan tersebut tersusun oleh senyawa seperti amonia yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme
dari larva lalat sehingga akan menyebabkan tanah di bawah mayat itu untuk menjadi alkali (basa)
dan fauna tanah menjadi tertarik untuk menuju ke mayat.
Tahap 3: decay stage, tahapan ini ditandai adanya kerusakan kulit dan mengakibatkan gas keluar
dari tubuh. Larva lalat membentuk gerombolan yang besar pada mayat. Meskipun beberapa
serangga predator, seperti kumbang, tawon, dan semut, pada tahap bloated stage, serangga
necrophagous dan predator dapat diamati dalam jumlah besar menjelang tahapan ini berakhir.
Pada akhir tahap ini, lalat dari famili Calliphoridae dan Sarcophagidae telah menyelesaikan
perkembangan siklusnya dan meninggalkan mayat untuk menjadi pupa. Pada akhir tahap ini,
larva lalat akan menghilang dari jaringan tubuh pada mayat.
Tahap 4: postdecay stage, pada tahap ini sisa-sisa tubuh seperti kulit, kartilago dan usus sudah
mengalami pembusukan. Selanjutnya sisa jaringan tubuh yang masih ada akan mengering.

29

Indikator pada tahap ini adalah hadirnya kumbang dan berkurangnya dominansi lalat di dalam
tubuh mayat.
Tahap 5: skeletal stage, pada tahap ini hanya tersisa tulang belulang dan rambut. Tahapan ini
tidak jelas serangga apa saja yang hadir. Pada kasus tertentu, kumbang dari famili Nitidulidae
terkadang ditemukan. Tubuh mayat sudah mengalami akhir dari dekomposisi.
Estimasi Waktu Kematian
Ahli entomologi forensik sering memeriksa bukti serangga pada mayat manusia dan menetukan
berapa lama serangga tersebut berada di mayat. Periode waktu tersebut di interpretasikan dalam
postmortem interval (PMI) atau waktu sejak kematian. Analsis PMI terbagi menjadi dua, yakni
precolonization interval (pre-CI) dan postcolonization interval (post-CI). Adapun penjelasan
masing-masing interval tertera pada Gambar 4 (Tomberlin et al., 2011).

Gambar 4. Fase entomologikal pada proses dekomposisi vertebrata (Tomberlin et al., 2011).
Pada Gambar 4 tersebut menggambarkan periode kolonisasi dan aktivitas serangga pada mayat.
Adapun perubahan-perubahan pada mayat manusia setelah mengalami kematian disajikan pada
Tabel 1. Pola-pola peruabahan pada Tabel 1 dapat digunakan untuk mengetahui estimasi waktu
kematian pada manusia. Selain itu, untuk waktu kematian berdasarkan perkembangan serangga
30

disajikan pada Gambar 5. Contoh pada Gambar 5 tersebut adalah menentukan waktu kematian
berdasarkan siklus hidup serangga Protophormia terraenovae.
Tabel 1. Perubahan postmortem pada tubuh manusia (pada suhu 21C dan kelembaban 30%)
(Amendt et al., 2004a).

Gambar

5.

Kurva

pertumbuhan
Protophormia
terraenovae

mulai

dari larva, pupa, dan


dewasa (adult) pada
suhu 15, 20, 25, 30
and 35C (Amendt et
al., 2004a).

31

Untuk mengukur waktu kematian dapat digunakan suhu yang dibutuhkan oleh serangga untuk
hidup. Serangga merupakan hewan poikilotermik atau hewan yang suhu tubuh dan aktivitas
metabolismenya dipengaruhi oleh lingkungan. Serangga menggunakan energi panas (thermal
unit) untuk pertumbuhan dan perkembangnya. Sehingga kebutuhan energi selama masa hidupnya
dapat dikalkulasi. Thermal unit disebut juga hari derajat (degree days D ) yang mana nilai D
dapat ditambahkan bersamaan yang akan menghasilkan nilai accumulated degree days (ADD).
Jika periode thermal unit pendek maka bisa digunakan accumulated degree hours (ADH). Dari
peristiwa tersebut, maka waktu kematian dpat dihitung dengan menggunakan rumus:
ADH= Waktu(hours) (temperatur - temperatur basal)
ADD= Waktu(days) (temperatur - temperatur basal)
Waktu yang digunakan adalah waktu tahapan perkembangan serangga yang dapat diketahui dari
literatur yang sudah ada. Sementara temperatur yang digunakan adalah temperatur lingkungan
yang bisa diperoleh melalui stasium badan meteorologi. Sementara temperatur basal adalah
temperatur fisiologi terendah yang setiap serangga memiliki nilai temperatur yang berbeda-beda
(Tabel 2).

Sebagai contoh ditemukan larva instar III dari spesies Calliphora vicina yang periode waktunya
selama 68 jam. Kemudian suhu lingkungan adalah 26,7C dan tempertur basalnya adalah 2C.
Sehingga akan diperoleh nilai:
ADH = 68 (26,7 2) = 1679,6

ADD = 1679,6/24 = 7

Dari perhitungan tersebut dapat diperkirakan waktu kematiannya adalah 7 hari (Gennard, 2007).

32

LI.II Memahami dan Menjelaskan Investigasi Kasus Perkosaan


Definisi
Investigasi Perkosaan adalah prosedur untuk mengumpulkan fakta-fakta tentang
dugaan pemerkosaan , termasuk identifikasi forensik dari pelaku, jenis perkosaan dan rincian
lainnya.
Sebagian besar perkosaan dilakukan oleh orang-orang yang dikenal korban:. Hanya dua
persen dari serangan yang dilakukan oleh orang asing menurut satu survei . Oleh karena itu,
identitas pelaku sering dilaporkan bukti biologis seperti air mani , darah , sekresi vagina , air
liur , vagina sel epitel dapat diidentifikasi dan genetik diketik oleh laboratorium
kriminal .Informasi yang berasal dari analisis sering dapat membantu menentukan apakah terjadi
kontak seksual, memberikan informasi mengenai keadaan dari insiden tersebut, dan
dibandingkan dengan sampel referensi yang dikumpulkan dari pasien dan tersangka. Personil
medis di Amerika Serikat mengumpulkan bukti untuk potensi kasus pemerkosaan dengan
menggunakan kit perkosaan.
Identifikasi pelaku
DNA profiling
Informasi lebih lanjut: profil DNA
Profil DNA digunakan oleh laboratorium kriminal untuk pengujian bukti biologis, paling sering
dengan menggunakan reaksi berantai polimerase (PCR), yang memungkinkan analisis sampel
kualitas dan kuantitas yang terbatas dengan membuat jutaan kopi. Sebuah bentuk lanjutan dari
tes PCR disebut mengulangi tandem pendek (STR) menghasilkan profil DNA yang dapat
dibandingkan dengan DNA dari tersangka atau TKP. Darah, bukal (pipi bagian dalam) swabbings
atau air liur juga harus dikumpulkan dari para korban untuk membedakan DNA mereka dari yang
dari tersangka.
Penjahat mungkin tanaman sampel DNA palsu di TKP. Dalam satu kasus Dr John
Schneeberger , yang memperkosa salah satu pasien dibius dan air mani yang tersisa di celana
dalamnya, pembedahan memasukkan Penrose mengalir ke lengannya dan mengisinya dengan
darah asing dan antikoagulan . Polisi menggambar apa yang mereka yakini sebagai darah dan
DNA Schneeberger dibandingkan pada tiga kesempatan tanpa pertandingan.
Keadaan dan jenis pemerkosaan
Lecet, memar dan lecet pada bantuan korban menjelaskan bagaimana perkosaan dilakukan. 845 persen dari korban menunjukkan bukti dari trauma eksternal, paling sering di mulut,
tenggorokan, pergelangan tangan, lengan, payudara dan paha: trauma pada situs ini terdiri dari
sekitar dua pertiga dari cedera, sementara trauma pada vagina dan perineum rekening untuk
sekitar 20 persen.
Coitus terakhir dapat ditentukan dengan melakukan basah-mount vagina pemeriksaan
mikroskop (atau oral / anal jika diindikasikan) untuk deteksi sperma motil, yang terlihat pada
slide jika kurang dari tiga jam telah berlalu sejak ejakulasi. Namun hanya sepertiga hasil
serangan seksual dalam ejakulasi ke dalam lubang tubuh. Selanjutnya, penyerang diduga
mungkin memiliki vasektomi atau telah mengalami disfungsi seksual (sekitar 50 persen dari
penyerang menderita impotensi atau disfungsi ejakulasi) . Selain itu, asam fosfatase tingkatan
dalam konsentrasi tinggi adalah indikator yang baik dari coitus terakhir. Asam fosfatase
ditemukan dalam sekresi prostat dan mengurangi aktivitas dengan waktu dan biasanya tidak ada
setelah 24 jam. antigen khusus prostat ( PSA ) dapat dideteksi dalam waktu 48-jam. Cairan mani
33

pria vasectomized juga mengandung tingkat PSA signifikan. Nonmotile sperma dapat dideteksi
bahkan di luar 72 jam setelah hubungan seksual tergantung pada teknik pewarnaan.
Langkah-langkah pemeriksaan
Prosedur ketika akan melakukan pemeriksaan pada korban akibat pemerkosaan.
Izin pemeriksaan adalah hal pertama yang harus didapatkan dari wanita atau jika anak kecil,
dari orang tuanya atau yang menemaninya. Pemeriksaan seharusnya dilakukan pada ruangan
tertutup Almarhum W. H. Grace merekomendasikan agar korban diberikan tempat duduk yang
paling nyaman, jika dia tidak merasa gelisah, maka keaslian dari segala keluhannya patut
dicurigai.
Waktu dan tanggal ketika dilakukan pemeriksaan haruslah dicatat, karena interval antara
pemeriksaan dan peristiwa kejadian akan dijadikan bahan. Interval seterusnya akan memerlukan
penjelasan, dan yang paling penting adalah dokter, akan mengeluarkan surat izin pemeriksaan
yang menjelaskan jika ada tanda-tanda pemerkosaan. Hasil negatif pada orang dewasa
didapatkan jika pemeriksaan dilakukan setelah lewat beberapa hari, wanita yang telah menikah
atau jika dia sudah terbiasa melakukan hubungan seksual.
Dokter akan mengambil kesempatan untuk memperhatikan gaya berjalan korban ketika
memasuki ruangan pemeriksaan atau dengan tes spesifik. Dokter akan memperhatikan gerakgerik secara umum dan kebiasaan tubuh. Apakah ketika berjalan akan terasa sakit yang
disebabkan oleh luka pada alat kelamin? Apakah korban merasa gembira, menderita, atau jika
merasa terganggu, sebagai konsekwensi dari keadaan setelah baru saja diperkosa? Apakah dia
adalah wanita lemah atau sehat fisiknya, dan perlawanan macam apa yang bisa dia lakukan?
Riwayat Penyakit Pasien
Ketika korban ditemani oleh orang tua atau kawan, dokter seharusnya pertama kali
mendapatkan informasi dari sebelumnya, terpisah dari sang korban, selanjutnya dokter
mendengarkan penjelasan dan cerita dari sang korban dan kedua penjelasan tersebut seharusnya
direkam secara detail.
Pertanyaan yang lebih spesifik akan diberikan kepada kedua sumber tersebut, sehingga akan
memberikan data personal dari sang korban, seperti nama, umur dan status, tanggal dan jam
terjadinya insiden, rincian kejadian sepanjang kejadian, posisi dari semua orang dalam lokasi
kejadian, langkah yang diambil korban untuk menolak penyerangan, dan apakah dia kehilangan
kesadaran saat kejadian. Adalah sangat penting untuk mengetahui apakah pada saat kejadian
sang korban sedang mengalami masa haid.
Pengujian

Pakaian

Ketika sang korban dalam keadaan tanpa busana, pakaian yang dikenakan juga harus diuji.
Harus dapat dipastikan apakah pakaian yang terpakai tersebut juga dipakai pada saat kejadian.
Jika iya, apakah telah terkotori oleh tanah atau rumput? Apakah terkena noda darah atau yang
lainnya, apakah telah rusak, dan apakah salah satu kancingnya telah hilang? Kondisi dari
34

sepatunya juga bisa menjadi bukti dari kebohongan cerita korban. Ketika seorang gadis bernama
nannie kembali ke tempat kerjanya pada suatu malam, dia mengaku bahwa dia telah diperkosa
dan pergi dengan berjalan bermil-mil. Petugas kepolisian kemudian menguji sepatunya, dan tidak
ada tanda-tanda telah terpakai. Ahli bedah dari kepolisian kemudian tidak menemukan tandatanda pemerkosaan, dia sedang mengalami menstruasi pada sat itu. Kemudian, dari beberapa
pemeriksaan yang lain dapat diindikasikan bahwa dia adalah seorang yang pembohong dan
pencuri.

Orang

Secara fisik, jika dalam kasus yang melibatkan anak kecil, ketika dalam masa berkembang,
terutama pada payudara dan alat kelamin, akan sangat terlihat. Apakah sang korban menawarkan
pembalasan? Apakah anak tersebut terlihat lebih tua dari seharusnya, dan terlihat seperti anak
berusia 16 tahun? Sangat relevan saat ini untuk memperhatikan apakah sudah memakai kosmetik
atau dari cara berpakaian. Anak kecil berusia 14 atau seumurnya kadang-kadang, atau sepertinya,
sudah berpakaian dan menggunakan make-up dengan cara yang seharusnya dia belum ketahui.

Luka : Pertimbangan Umum

Seluruh bagian dari luar tubuh korban harus diperiksa apabila terdapat luka, khususnya lecet
dan memar. Detail dari setiap luka harus dicatat dan berapa kemungkinan dari umur memarnya.
Apakah luka tersebut terlihat seperti terkena saat kejadian atau usaha secara paksa pada saat
berhubungan? Apakah bersamaan umurnya dengan tanggal terjadinya penyerangan? Perhatian
yang lebih mendalam akan diberikan kepada tangan, muka, leher, dan aspek dalam pada
selangkangan. Pemerkosaan pada anak muda yang dibawah 13 tahun akan dengan mudah
terpenuhi tanpa adanya luka pada bagian luar karena korbannya tidak dapat melakukan
perlawanan pada saat diserang. Beberapa bahkan bersedia untuk berhubungan bahkan dia lah
yang mengundangnya. Kunjungan ketempat kejadian juga sangatlah diperlukan ( Gambar. 43, p.
141, and 146, p. 437 ).

Alat Kelamin dan Payudara

Payudara
Satu atau kedua payudara akan mengalami memar apabila diperlakukan secara kasar.
Mungkin digigit dan cetakan gigi dari si pelaku terlihat jelas, seperti pada kasus Gorringe,
putingnya mungkin terlihat seperti bekas digigit.

Genitalia
Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan secara menyeluruh yang biasa dilakukan,
tetapi padda bagian vulva dan hymen diperlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan teliti.

Rambut kemaluan
35

Sampel diperlukan dan harus diambil pada saat pemeriksaan lanjut karena rambut harus
didapat tanpa pemotongan langsung pada daerah yang dicurigai. Perlengketan dari rambut dapat
disebabkan oleh cairan semen yang mengering. Sampel rambut diperlukan untuk pembuktian
akan hal ini dan juga untuk perbandingan dengan rambut yang ditemukan pada baju tersangka.
Vulva
Cedera/trauma pada vulva dapat dilihat dengan adanya sakit pada perabaan, pembengkakan,
kemerahan (perubahan warna dengan sekitar), memar, dan lecet.
Selaput dara
Pemeriksaan selaput darah terutama pada anak, yang sulit dilakukan atau sulit dinilai /
dijangkau difasilitasi dengan penggunaan pemeriksaan tertentu.
Robekan (luka) selaput dara yang masih baru dapat dilihat dengan adanya perdarahan
pembengkakan dan proses inflamasi, tetapi jika sudah terjadi proses penyembuhan luka, perlu
diperhatikan dengan seksama antara robekan selaput dara dengan bentuk bentuk yang tidak
biasa dari selaput darah yang masih utuh.
Liang senggama (Vagina )
Pelebaran dari liang senggama (vagina ) dapat menunjukkan akan adanya persetubuhan, tapi
hal tersebut juga dapat disebabkan oleh masuknya benda asing (seperti tampon). Memar, lecet
atau terkikisnya kulit dapat terjadi karena adanya paksaan dalam persetubuhan dan tidak
menyatakan bahwa hal tersebut sebagai tindakan perkosaan.
Terdapat kasus-kasus menarik tentang robeknya liang senggama yang tidak disebabkan olen
perkosaan. Seperti yang diilustrasikan pada kasus robeknya liang senggama (vagina)
dikarenakan koitus yang biasa, yang dilaporkan oleh Victor Boney (1912). Seorang wanita
dilarikan ke rumah sakit setelah dilaporkan menderita perdarahan dan peritonitis. Robekan pada
fornix posterior sampai peritoneum. Dia sempat disangka melakukan aborsi kriminalis dengan
menggunakan alat bantu (dia adalah seorang wanita yang telah memiliki banyak anak
sebelumnya). Pada kenyataannya perdarahan tersebut terjadi dikarenakan melakukan koitus
dengan posisi berdiri pada saat mabuk. Adapula kasus perforasi vagina yang disebabkan karena
kelemahnya tekstur.
Cairan vagina
Cairan vagina dikumpulkan ( swab & fresh smear) terutama untuk menunjang pemeriksaan.
Dapat untuk mendeteksi penyakit sexual yang ditularkan, menemukan sperma, dan cairan semen
untuk mengarahkan akan telah terjadinya persetubuhan
Pemeriksaan Terhadap Tersangka
Ijin untuk pemeriksaan terhadap tersangka tidak merupakan patokan utama, seharusnya
didapat oleh dokter serta ditulis dan melalui kesaksian pada pemeriksaan.

36

Pemeriksa akan menulis tentang usia, ukuran fisik dan bentuk fisik yang terdapat pada
tersangka. Pemeriksaan juga harus menjelaskan jika terdapat luka-luka ( bekas cakaran
kuku/luka lecet, luka memar, dan tanda-tanda yang mengarah kepala perlawanan)
Pemeriksaan cairan semen, bercak sperma pada pakaian diharapkan dapat memberikan
penjelasan. Juga diperlukan pemeriksaan lanjut seperti ukuran penis, apakah pria tersebut
potent/impotent. Akumulasi dari smegma kurang dapat menentukan tetapi robekan pada frenum
mengarahkan atas terjadi hubungan sex. Pemeriksaan bakteriologis juga dapat dilakukan
(penularan penyakit sexual yang terjadi akibat persetubuhan), pemeriksaan sampel darah juga
dapat dilakukan (terutama pada kasus-kasus grouping ). Pemeriksaan terhadap baju tersangka
perlu dilakukan terutama untuk menemukan adanya rambut, darah, bercak. Jika didapatkan
bercak darah maka harus ditentukan milik siapa.

LI.III Memahami dan Menjelaskan HukumPembunuhan dalam Islam


A. Pengertian Pembunuhan
Pembunuhan adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang dan atau beberapa
orang yang mengakibatkan seseorang dan/atau beberapa orang meninggal dunia.Para ulama
mendefinisikan pembunuhan dengan suatu perbuatan manusia yang menyebabkan hilangnya
nyawa.Hukuman bagi orang yang membunuh orang islam dengan sengaja,sebagaimana
dijelaskan dalam AL-Quran:Dan barang siapa yang membunuh orabg mukmin dengan
sengaja,maka balasannya ialah jahanam,kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan
mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya{QS.An-Nisa:93}
Dan firman Allah SWT:
178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orangorang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita
dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah
(yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf)
membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu
adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. barangsiapa yang melampaui
batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih[111].
[111] Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila
yang membunuh mendapat kemaafan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar
diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak
mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik,
umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan
menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si
37

pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat
dia mendapat siksa yang pedih.
Artinya:Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atasmu Qishos berkenaan dengan orangorang yang dibunuh{QS.AL-Baqoroh:178}

B. Bentuk-Bentuk Pembunuhan
1. Pembunuhan Sengaja
Pembunuhan sengaja{Amd}adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorangdengan tujuan
untuk membunuh orang lain dengan menggunakan alat yang dipandang layak untuk
membunuh.Hukumannya wajib qishos,nantinya si pembunuh wajib dibunuh pula,kecuali bila
dimaafkan oleh keluarga yang terbunuh dengan membayar diyat{denda}atau dimaafkan sama
sekali.
Unsur-Unsur Pembunuhan Sengaja:
1. Korban adalah orang yang hidup
2. Perbuatan si pelaku yang mengakibatkan kematian korban
3. Ada niat bagi si pelaku untuk menghilangkan nyawa korban
Alat Yang Digunakan Dalam Pembunuhan Sengaja:
1. Alat yang umumnya dan secara tabiatnya dapat digunakan untuk membunuh seperti
pedang,tombak,dll.
2. Alat yangkadang-kadang digunakan untuk membunuh sehingga tidak jarang
mengakibatkan kematian seperti cambuk,tongkat.
3. Alat yang jarang mengakibatkan kematian pada tabiatnya seperti menggunakan tangan
kosong.
1. Pembunuhan Tidak Sengaja
Pembunuhan tidak sengaja{Khata}adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan tidak
ada unsur kesengajaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia,dan tidak menggunakan
alat yang secara lazim tidak mematikan.Hukumannya tidak wajib qishos tetapi wajib membayar
denda{diat} ringan dan diangsur dalam 3 tahun.Sebagai contoh seseorang melakukan
penebangan pohon yang kemudian pohon tersebut tiba-tiba tumbang dan menimpa orang yang
lewat lalu meninggal dunia.

38

2. Pembunuhan Semi Sengaja


Pembunuhan Semi Sengaja adalah perbuatan yang sengaja dilakukan oleh seseorang kepada
orang lain dengan tujuan mendidik.Sebagai contoh seorang guru memukulkan sebuah penggaris
kepada kaki seorang muridnya,tiba-tiba muridnya meninggal dunia,maka pembuatan guru
tersebut dinyatakan pembunuhan semi sengaja{syibhu al amdi}.Bentuk ini tidak wajib qishos
tetapi wajib membayar diyat berat dan dapat diangsur hingga 3 tahun.
Unsur-Unsur Pembunuhan Semi Sengaja:
1. Pelaku melakukan suatu perbuatan yang mengakibatkan kematian.
2. Ada maksud penganiayaan atau permusuhan.
3. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan pelaku dengan kematian korban.

C. Syarat Wajib Qishos


1)

Orang yang membunuh sudah baligh dan berakal

2)

Yang membunuh bukan ayah yang dibunuh

3)

Orang yang dibunuh tidak kurang derajatnya dari yang membunuh

4)

Orang yang dibunuh adalah orang yang terpelihara dan dilindungi darahnya oleh islam[3]

D. Jenis Denda{Diyat}
Diyat ialah denda pengganti jwa yang tidak berlaku atau tidak diberlakukan padanya
hukuman bunuh.Diyat ada 2 macam:
1)
Diyat{denda}Berat
Seratus ekor unta,dengan rincian 30 ekor unta betina umur 3-4 tahun,30 ekor unta betina 4-5
tahun,dan 40 ekor unta betina yang sudah bunting.
Denda berat ini wajib:
1. Sebagai ganti hukuman qishos yang dimaafkan bagi yang melakukan pembunuhan
dengan sengaja dan dengan alat yang dapat membunuh.
2. Sebab pembunuhan semi{seperti}sengaja,dibayar selama 3 tahun,tiap tahun 1/3nya.

39

2)

Diyat{denda}Ringan

Seratus ekor unta,dengan rincuan 20 ekor unta betina umur1-2tahun,20 ekor unta betina 2-3
tahun,dan 20 ekor umur 3-4 tahun,dan 20 ekor umur 4-5 tahun.
E. Dasar Hukum Sanksi Pembunuhan Didalam AL-Quran
1. Surat AL-Baqoroh :179
Artinya:Dan dalam qishash itu ada{jaminan kelangsungan}hidup bagimu,hai orang-orang
yang berakal,supaya kamu bertaqwa.
2. Surat An-Nisa:93
Artinya:Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja,maka balasannya
adalah jahanam,kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta
.menyediakan azab yang besar baginya
F. Dasar Hukum Sanksi Pembunuhan Didalam AL-Hadits
1.Diriwayatkan dari Abdullah Bin Masud ra.katanya:Rossulullah SAW bersabda:Setiap
pembunuhan secara dzalim maka putra nabi Adam yang pertama itu akan mendapat bahagian
darahnya,{mendapat dosa]karena dialh yang melakkukan pembunuhan.
2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.katanya:Sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda:Hari
Kiamat itu akan berlaku setelah banyaknya peristiwa
Harj.Merkabertanya:WahaiRosululllah,Apakah Harj itu?Baginda
bersabda:Pembunuhan,pembunuhan.
G. Sangsi Hukum Bagi Pembunuh
Berdasarkan ayat-ayat AL-Quran dan AL-Hadits yang dikutip diatas dapat dipahami bahwa
sanksi hokum atas delik pembunuhan adalah sbb:
1. Pelaku pembunuhan yang disengaja,pihak keluarga korban dapat memutuskan salah satu
dari tiga pilihan,yaitu 1}Qishos,yaitu hukuman pembalasan setimpal dengan penderitaan
korbannya,2}Diyat,yaitu pembunuh harus membayar denda sejumlah 100 ekor unta,200
ekor sapi atau 1000 ekor kambing,atau bentuk lain seperti uang
senilaiharganya.Diyat tersebut di serahkan kepada pihak keluarga korban,3}pihak
keluarga memaafkannya apakah harus dengan syarat atau tanpa syarat.
2. Pelaku pembunuhan yang tidak disengaja,pihak keluarga diberikan
pilihan,yaitu:1}Pelaku membayar diyat}Membayar kifarah{memerdekakan budak
40

mukmin,3}Jika tidak mampu maka pelakunya diberi hukuman moral,yaitu berpuasa


selama 2 bulan ber urut-turut
H. Pasal-Pasal Tentang Tindak Pidana Terhadap Nyawa(Pasal 338-350)
119.Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain,diancam ,karena pembunuhan dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
121.Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain,diancam
karena pembunuhan dengan rencana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
selama waktu tertentu,paling lama dua puluh tahun.
124.Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas
dinyatakan dengan kesungguhan hati,diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun.

41

DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan Penegak
Hukum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang. 47-65.
2. Atmadja. DS., Thanatologi;Ilmu Kedokteran Forensik;Edisi Pertama ;Bagian

Kedokteran

Forensik FKUI;1997:5:37-55.
3. Coe, John I M.D and Curran William J.LL.M,SMHyg; Definition and Time of Death;
Modern Legal Medicine, Psychiatry, and Forensic Science;F.A. Davis Company; ;
1980:7:141-164.
4. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.1997. Thanatologi. Halaman 25-35.
5. Di Maio Dominick J. and Di Maio Vincent J.M; Time of Death; Forensic Pathology;CRC
Press,Inc;1993:2:21-41.
6. Dr. Bushan Kapur, Ph.D, FRSC, FACB, FCACB Department of Clinical Pathology, Sunnybrook
Health Science Center, Toronto. Division of Clinical Pharmacology and Toxicology, The Hospital for
Sick Children, Toronto, and Department of Laboratory Medicine and Pathobiology, Faculty of
Medicine, University of Toronto. CSCC News, vol. 50, no. 2 April 2008.

7. Anonim. Harvesting Energy: Glycolysis and Cellular Respiration. Diunduh dari


http//www.Biochembull.com. diakses tanggal 31 Juli 2009
8. Al Fatih, Muhammad. Algor Mortis. Diunduh dari http//www.KlinikIndonesia.com. diakses
tanggal 31 Juli 2009.
9. Idris, M A Dr. Saat kematian. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Bina Rupa Aksara. 1997 :
53-77.

42

10. Van De Graff, K M. Muscle Tissue and The Mode of Contraction. Schaums Outline of
Human Anatomy. Mc-Graw Hill. 2001 : 51-53.
11. Dix Jay. Time Of Death and Decompotition
12. Dahlan, Sofwan. Traumatologi, Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum. Semarang: Balai Penerbit Universitas Diponegoro. 2004, Hal 60-62
13. The Journal of Heredity.64:329-330.1973. Genetic Control of Blood Biochemistry. M.P.Mi,
M.N. Rashad and F.K. Koh.
14. Dahlan S. Thanatologi. Ilmu Kedokteran Forensik. Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Semarang. 2007 : 47-65
15. Anonym, perkiraan saat mati diunduh dari :http//www/forensic/kakumayat.htm Copyright
2005
16. Nishat A. Sheikh Estimation of postmortem interval according to time course of potassium
ion activity in cadaveric spasme synovial fluid. Indian Journal of Forensic Medicine &
Toxicology diunduh dari :http//www/forensic/journals.php.htm Copyright 2005
17. Anonym,
postmortem
changes
and
time
of
death
diunduh

dari

http/www.dundee.ac.uk/forensicmedicine/notes/timedeath
18. http://www.freewebs.com/forensicpathology/lebammayat.htm
19. http://www.freewebs.com/dekomposisi_posmortem/dekomposisi.htm
20. www.klinikindonesia.com
21. http://autopsi_forensik.webs.com/autopsipxinternal.htm
http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/10/thanatologi-prest_ppt.pdf

43