Anda di halaman 1dari 15

JOURNAL READING

LATEST DEVELOPMENTS IN POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER:


DIAGNOSIS AND TREATMENT

Pembimbing :
dr. Wiharto, Sp. KJ

Disusun oleh:
Desvia Ira Restiana
Anisa Kapti Hanawi
Rizak Tiara Yusan
Rosellina Alphamaharini
Sofiana Ulya Nuha
Siti Syifa Rabiah

G4A015003
G4A015004
G4A015005
G4A015008
G4A015083
G4A015084

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROF DR MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2016

LEMBAR PENGESAHAN
JOURNAL READING
LATEST DEVELOPMENTS IN POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER:
DIAGNOSIS AND TREATMENT

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mengikuti Kepanitraan Klinik


pada SMF Ilmu Kesehatan Jiwa RSUD Margono Soekarjo

Disusun Oleh :
Desvia Ira Restiana
Anisa Kapti Hanawi
Rizak Tiara Yusan
Rosellina Alphamaharini
Sofiana Ulya Nuha
Siti Syifa Rabiah

G4A015003
G4A015004
G4A015005
G4A015008
G4A015083
G4A015084

Disetujui dan disahkan


Purwokerto, Desember 2016
Pembimbing,

dr. Wiharto, Sp.KJ

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat,
rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga tugas journal reading yang berjudul
Latest Developments in Post-Traumatic Stress Disorder : Diagnosis and
Treatment ini dapat diselesaikan.
Jurnal reading ini merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Kesehatan
Jiwa. Penyusunan journal reading ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena
itu penyusun mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan penulisan di masa
yang akan datang.
Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: dr. Wiharto, Sp.KJ
selaku dosen pembimbing, dokter-dokter spesialis jiwa di SMF Ilmu Kesehatan
Jiwa RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dan RSUD Banyumas, orangtua serta
keluarga penulis atas doa dan dukungan yang tidak pernah henti diberikan kepada
penulis dan rekan-rekan co-assisten Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa atas semangat
dan dorongan serta bantuannya. Semoga presentasi kasus ini dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak.

Purwokerto, Desember 2016

A. LATAR BELAKANG
Kebanyakan orang akan mengalami setidaknya satu peristiwa traumatis
selama hidupnya. Namun, faktor risikonya seperti pendidikan, tempat tinggal
dan juga apa pekerjaan yang mereka lakukan berperan penting. Terlepas dari
sifat kejadian traumatis apa yang mereka alami, sebagian besar orang akan
mengalami beberapa gejala gangguan jiwa jangka pendek. Dalam kebanyakan
kasus, gejala-gejala tersebut akan menghilang selama beberapa minggu tanpa
perlu intervensi. Namun, minoritas individu yang terapar pengalaman
traumatik akan mengembangkan masalah kesehatan mental jangka panjang
Diagnoisis Post-Traumatic Stress Disorder terbentuk pada tahun 1980,
ketika American Psychiatric Association (APA) memasukan PTSD dalam edisi
ketiga buku diagnostik standar, diagnostik dan statistik Manual gangguan jiwa
(DSM- III). Diagnosis PTSD pada awalnya bersifat kontroversial karena tidak
seperti diagnosis psikiatri lainnya, penderita PTSD harus mengalami kejadian
traumatik secara spesifik. Ketika faktor pencetus merupakan hal penting pada
gangguan kesehatan mental, tidak ditemukan faktor pencetus tertentu tidak
akan mencegah seorang praktisi untuk membuat diagnosis. Misalnya, saat
seorang menderita depresi biasanya pasien tersebut mengalami kejadian
kehilangan. Tetapi, membuat diagnosis tersebut tidak memerlukan kejadian
kehilangan. Namun, Tepaparnya peristiwa traumatik merupakan prasyarat
penting untuk membuat diagnosis PTSD. Elemen penting yang bersifat
kontroversial adalah dengan kriteria dari diagnosis PTSD yang belum
terdefinisi secara rinci apa saja yang dianggap kejadian traumatik.
B. HAKIKAT PERISTIWA TRAUMATIS
Pertama kali dikonsepkan dalam DSMIII, PTSD merupakan keadaan
yang mengikuti suatu bencana yang melampaui jangkauan pengalaman
manusia. Pemikiran ini dilandasi oleh alasan bahwa paparan terhadap kejadian
yang berpotensial menyebabkan trauma, seperti perang, penyiksaan,
pemerkosaan atau bencana (alam atau yang disebabkan oleh manusia),
merupakan kejadian yang berbeda dibandingkan stress non traumatik yang
relatif umum terjadi dalam hidup seperti penganiayaan fisik, kehilangan
pekerjaaan, atau perceraian. Orang-orang terpapar oleh stressor non traumatik
dapat mengalami Gangguan Penyesuaian, namun tidak dapat diklasifikasikan

dalam PTSD. Walaupun gejala gangguan penyesuaian dengan PTSD hampir


mirip, namun individu yang sehat akan cukup tangguh mengatasi stress non
traumatik namun belum tentu cukup tangguh dalam menghadapi stressor
traumatik.
Namun, masih cukup sulit dalam membedakan stress traumatik dan stress
non traumatik. Kriteria PTSD dalam DSM-IV lebih komprehensif.
Berdasarkan kriteria DSM-IV, seseorang didiagnosis menderita PTSD apabila
terpapar oleh peristiwa dan respon mereka harus mengalami rasa tidak
berdaya, horor, atau takut. Kemudian, dalam menghadapi stressor tersebut
harus melibatkan respon emosional, kognitif, dan tingkah laku yang kuat.
Kriteria DSM-IV gagal dalam untuk memperkirakan respon seseorang dalam
menghadapi kejadian tersebut. Sementara dalam film, sering digambarkan
panik dan adanya teror merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan akibat
terpapar peristiwa traumatik, pandangan ini tidak konsisten dengan literatur
tentang ketahanan psikologis. Misalnya, sebuah penelitian mengenai dampak
peristiwa bom tahun 2007 di Madrid. PTSD merupakan salah satu hal yang
dialami oleh orang yang terluka dalam insiden serta masyarakat umum yang
tinggal di daerah di mana terjadi pengeboman. Namun, tingkat PTSD yang
dialami Polisi yang menangani peristiwa tersebut sangat rendah. Hal ini
karena para Polisi tersebut telah mengalami peristiwa traumatik berulang
ulang. Hal ini juga terjadi pada regu penyelamat dalam peristiwa WTC 11
September 2001, hal ini karena pekerjaan mereka mengharuskan regu
penyelamat ini untuk berkali-kali menghadapi peristiwa traumatic. Jadi, syarat
bahwa untuk menegakkan diagnosis PTSD, orang tersebut harus merasa tidak
berdaya, horor, dan takut dirasa tidak sesuai. Terutama bagi mereka yang
dalam pekerjaannya sering terpapar kejadian traumatik seperti tentara dan tim
media massa. Mereka akan cenderung merespon dengan pikiran rasional dan
tepat setelah mengalami peristiwa traumatik.

C. PENYEBAB PTSD

Meskipun relatif sedikit konsekuensi dari paparan kejadian traumatik, ada


banyak

faktor

yang

mempengaruhi

kerentanan

individu

untuk

mengembangkan kesehatan mental pasca-insiden. Meta-analisis dari faktor


risiko PTSD telah secara konsisten menunjukkan bahwa proses psikologis
adalah prediktor yang lebih penting berdampak pada hasil pasca kejadian
dibandingkan dengan faktor-faktor pretraumatik statis seperti kesulitan pada
masa kanak-kanak atau faktor demografi seperti jenis kelamin atau ras. Secara
umum, dua faktor terkuat yang menentukan hasil psikologis jangka panjang
setelah insiden traumatis adalah hal-hal yang hanya mempengaruhi periode
pasca-insiden.
Secara khusus, seberapa besar tekanan atau stres seseorang terhadap
peristiwa traumatik serta ketersediaan dan kualitas dukungan sosial selama
periode pemulihan adalah dua faktor yang paling berpengaruh dalam
menentukan hasil jangka panjang. Bagi kebanyakan orang minggu pertama
setelah mengalami peristiwa traumatis adalah yang paling sulit. Penting untuk
dapat mengakses dukungan sosial serta memulihkan diri dalam lingkungan
stres yang rendah.
Mengingat data yang cukup tersedia di normalitas jangka pendek pascainsiden, pedoman dari National Institute for Health and Care Excellence's
(NICE) tentang manjemen pengelolaan PTSD merekomendasikan periode
'watchful waiting' adalah satu bulan pertama setelah pengalaman traumatis.
Selama periode ini, NICE merekomendasikan bahwa, daripada intervensi
formal, lebih baik individu diperiksa untuk memastikan terdapat kemajuan
positif dari pemulihan individu tersebut. Jika pemulihan tidak terbukti setelah
satu bulan, intervensi formal dapat direkomendasikan pada tahap ini (lihat di
bawah).
Rekomendasi 'watchful waiting' dibandingkan langsung diberikan
intervensi psikologis rutin lebih memberikan hasil baik dibuktikan dengan
mayoritas orang tidak mengalami distress setelah kejadian trauma dapat
sembuh tanpa memerlukan dukungan psikologis formal dan bahwa tidak ada
bukti bahwa konseling pasca insiden atau sering disebut psychological
debriefing (PD) membantu kesembuhan. Bahkan, sebaliknya terdapat ulasan

terkuat dari PD yang menemukan melakukan PD rutin dikaitkan dengan hasil


yang lebih buruk daripada tidak melakukan apapun.
Namun, seperti disebutkan di atas, ada bukti yang baik bahwa dukungan
sosial dapat berguna untuk membantu pemulihan pasca taruma. Studi pada
personel militer telah secara konsisten menunjukkan bahwa unit kohesi atau
persahabatan dan kepemimpinan memberi dukungan terbukti penting dari
pasca-insiden, terutama bagi orang-orang yang bekerja di organisasi yang
terkena trauma.
Dalam istilah sederhana, dalam pengaturan organisasi, ketahanan sering
terletak antara individu bukan dalam individu. saran terbaru dari Society of
Psychological Trauma UK untuk organisasi intensif-trauma yang tinggi
memperkuat kebutuhan untuk mempersiapkan staf, termasuk di posisi
manajemen, sebelum bekerja di lingkungan traumatis dan pentingnya rekanrekan di deteksi dini kondisi kesehatan mental yang berhubungan dengan
trauma. Contoh dari pendekatan ini diabadikan dalam Trauma Risk
Management (TRIM) yang dikembangkan di tentara Inggris. TRIM adalah
metode pencegahan sekunder yang bekerja dengan menyediakan staf nonmedis, sebagai pasukan garis depan, profesional media atau diplomat, dengan
pemahaman dasar tentang trauma psikologis dan dampaknya. Praktisi TRIM
dilatih untuk melakukan wawancara sederhana untuk mengidentifikasi
sejumlah faktor risiko yang, jika ada, menunjukkan bahwa seseorang dikelola
dengan meningkatkan dukungan sosial dan penyesuaian sementara untuk
tempat kerja yang dilakukan oleh manajemen atau, untuk masalah yang lebih
serius membutuhkan perhatian seorang profesional medis. TRIM melakukan
wawancara beberapa hari setelah insiden tersebut dan menurut pedoman
NICE, sekitar sebulan kemudian. Orang yang memiliki kesulitan terusmenerus didorong untuk mencari bantuan profesional.
D. DIAGNOSIS PTSD
Publikasi terbaru dari DSM V pada tahun 2013 memasukan revisi pada
diagnosis PTSD. Pedoman diagnosis lain yang sering digunakan, dari
International Classification of Disease

Volume 10 (ICD-10), yang

dipublikasikan pada tahun 1991, tidak menyertakan diagnosis PTSD secara


rinci. Namun, ICD-11, yang akan dipublikasikan pada tahun 2017, akan

memasukkan batasan diagnosis PTSD secara lebih komprehensif. Bagian


diagnosis PTSD ini dibuat berdasarkan kriteria DSM-V dan diaplikasikan
kepada dewasa, remaja, dan anak berusia lebih dari 6 tahun. DSM-V juga
memasukkan subtipe PTSD preschool untuk anak usia 6 tahun dan yang lebih
muda, yang tidak akan dibahas secara rinci dalam artikel ini.
Diagnosis PTSD dibuat berdasarkan beberapa kriteria yang harus diperiksa
(lihat Tabel 1.1). Pertama, dokter harus memastikan bahwa individu terpapar
peristiwa traumatik dan memiliki simptom yang berkaitan dengan paparan
trauma dari setiap kluster simptom antara lain: (i) gangguan (intrusion); (ii)
menghindar (avoidance); (iii) perubahan negatif pada kognisi dan mood dan
(iv) perubahan pada arousal dan reaktivitas. Kriteria keenam memperhatikan
tentang durasi simptom yang harus terjadi minimal satu bulan setelah insiden
dan kriteria ketujuh adalah bahwa simptom yang dirasakan harus
mempengaruhi fungsi harian dan menimbulkan rasa tidak nyaman atau
menyebabkan distress. Kriteria kedelapan, dan yang terakhir, berkaitan dengan
simptom tidak terjadi akibat penggunaan zat atau kondisi medis lain yang
mendahului. Diagnosis PTSD tidak ditegakkan pada individu yang telah
cemas, bingung, dalam kondisi distress atau terganggu akibat pengalaman
yang menantang.
Menurut kriteria DSM-V, stressor yang berpotensi traumatik termasuk
paparan terhadap kematian, ancaman kematian, luka yang mengancam
maupun benar-benar terjadi, atau kekerasan seksual yang mengancam maupun
benar-benar terjadi. Paparan ini dapat terjadi dengan empat cara: (i) secara
langsung; (ii) menjadi saksi peristiwa secara langsung; (iii) melalui
pembelajaran secara tidak langsung dari relasi atau teman dekat yang
mengalami peristiwa yang mengancam maupun benar-benar terjadi yang
direncanakan (misalnya kekerasan) maupun yang tidak sengaja (misalnya
kecelakaan lalu lintas) atau karena adanya pengulangan atau paparan berulang
kali secara tidak langsung terhadap detail kejadian yang biasanya menjadi
tanggung jawab kerja (misalnya petugas yang mengumpulkan bagian-bagian
tubuh; seorang petugas yang terpapar berulang kali terhadap detail kekerasan
anak). Kriteria paparan yang terakhir tidak termasuk paparan individu yang
bukan petugas terhadap kejadian secara tidak langsung melalui media

elektronik (termasuk internet), televisi, atau film yang dapat disaksikan oleh
banyak orang. Pengertian pengalaman traumatik sebelumnya tidak dipahami
secara spesifik sebelum publikasi DSM-V.
Akibat paparan terhadap peristiwa traumatik, seperti yang telah dijabarkan
sebelumnya, orang-orang yang menderita PTSD merasakan simptom dari
empat kluster. Yang pertama adalah simptom gangguan (intrusion ) yang
didefinisikan sebagai secara terus menerus re-experiencing (mengalami
kembali) kejadian traumatik yang membutuhkan minimal satu kali
pengalaman dengan cara sebagai berikut: (i) rekuren (berulang), involunter
(tidak disengaja), dan memori yang mengganggu (atau yang berulang pada
penderita anak-anak); (ii) mimpi buruk yang traumatik (atau pada penderita
anak-anakberupa mimpi menakutkan yang tidak berkaitan dengan trauma);
(iii) reaksi disosiatif (misalnya flashback) yang dapat terjadi berupa rangkaian
dari episode singkat hingga peristiwa utuh yang menyebabkan hilangnya
kesadaran (pada penderita anak-anak hal ini dapat terjadi ketika sedang
bermain); (iv) distress yang intens dan memanjang setelah paparan terhadap
hal yang mengingatkan akan trauma atau (v) ditandai dengan reaktivitas
secara fisik (misalnya meningkatnya nadi atau napas yang pendek-pendek)
setelah paparan terhadap stimulus yang berkaitan dengan trauma. Orang-orang
yang menderita PTSD juga dapat mengalami minimal satu kali simptom
menghindar (avoidance) terhadap: (i) pikiran atau perasaan yang berkaitan
dengan trauma; atau (ii) pengingat eksternal yang berhubungan dengan trauma
(misalnya orang, tempat, pembicaraan, aktivitas, objek, atau situasi). Penderita
PTSD mengalami minimal dua kali perubahan negatif pada kognisi dan mood
termasuk: (i) ketidakmampuan mengingat peristiwa penting dari kejadian
traumatik (biasanya akibat amnesia disosiatif dan bukan karena trauma kepala,
alkohol maupun obat-obatan); (iii) kepercayaan dan harapan negatif yang
persisten (dan biasanya distorsi) tentang diri mereka atau tentang dunia
(misalnya Saya adalah orang yang buruk. atau Dunia adalah tempat yang
sangat berbahaya.); (iii) menyalahkan diri sendiri atau orang lain secara
persisten sebagai penyebab kejadian traumatik atau sebagai penyebab
konsekuensi yang diterimanya; (iv) emosi negatif yang berkaitan dengan
trauma (misalnya ketakutan, kengerian, rasa marah, rasa bersalah, atau rasa

malu); (v) ditandai dengan hilangnya minat pada aktivitas yang dulu digemari
sebelum kejadian; (vi) merasa terasingkan dari orang lain (misalnya
tersingkirkan atau terkungkung) dan afek terbatas atau ketidakmampuan
merasakan emosi positif secara persisten. Simptom menghindar (avoidance)
adalah simptom yang dirasa paling mengganggu dari seluruh simptom PTSD.
Kriteria diagnosis selanjutnya adalah yang berkaitan dengan arousal dan
reaktivitas yang mulai terjadi atau memburuk setelah kejadian traumatik
setidaknya termasuk dua dari hal berikut: (i) perilaku iritabel atau agresif; (ii)
perilaku melukai diri sendiri atau sembrono; (iii) hipervigilans (yang berarti
lebih waspada terhadap potensial ancaman; (iv) respon kaget yang berlebihan
(dapat berupa kaget hingga meloncat); (v) kesulitan berkonsentrasi dan (vi)
gangguan tidur.
Tabel 1. Kriteria diagnosis PTSD menurut DSM-V
1. Paparan terhadap kejadian traumatik
(i) Secara langsung mengalami kejadian traumatik
(ii)Menyaksikan, secara langsung, kejadian yang terjadi terhadap orang
lain
(iii) Mengetahui kejadian traumatik yang terjadi terhadap anggota
keluarga maupun teman dekat
(iv) Mengalami paparan ekstrem atau berulang terhadap detail yang
berkaitan dengan kejadian traumatik; hal ini tidak termasuk paparan
melalui media seperti televisi, film, maupun gambar.
2. Terus menerus mengalami kembali (re-experiencing) kejadian
traumatik dengan cara sebagai berikut:
(i) Pikiran atau persepsi
(ii) Gambaran
(iii) Mimpi-mimpi
(iv) Ilusi atau halusinasi
(v) Episode flashback disosiatif
(vi) Distres psikologis yang intens atau reaktivitas terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kejadian
Catatan: Tidak seperti pada orang dewasa yang mengalami kembali
kejadian dengan persepsi, anak-anak mengalami kembali kejadian
melalui permainan yang repetitif.
3. Menghindar (avoidance) terhadap stimulus yang berkaitan dengan
trauma dan menumpulnya respon umum, yang ditentukan dari satu
atau lebih hal berikut:
(i) Menghindari pikiran, perasaan, atau pembicaraan yang berkaitan
dengan kejadian.

(ii) Menghindari orang, tempat, atau aktivitas yang dapat memicu


terkumpulnya memori kejadian.
4. Minimal terdapat dua perubahan simptom negatif pada kognisi dan
mood yang berkaitan dengan trauma:
(i) Ketidakmampuan mengingat hal penting dari kejadian
(ii) Kepercayaan dan harapan negatif yang persisten tentang diri mereka
atau tentang dunia
(iii) Menyalahkan diri sendiri atau orang lain secara persisten sebagai
penyebab kejadian traumatik atau sebagai penyebab konsekuensi
yang diterimanya
(iv) Kondisi emosional negatif yang persisten
(v) Ditandai dengan hilangnya minat atau partisipasi pada aktivitas
tertentu
(vi) Merasa terasingkan dari orang lain
(vii) Ketidakmampuan merasakan emosi positif secara persisten
5. Ditandai dengan arousal dan reaktivitas, yang setidaknya terdapat dua
dari hal berikut:
(i) Perilaku iritabel atau kemarahan yang meledak-ledak
(ii) Perilaku melukai diri sendiri atau sembrono
(iii) Hipervigilans
(iv) Respon kaget yang berlebihan
(v) Kesulitan berkonsentrasi
Seperti yang telah di jelaskan di atas, diagnosis PTSD gejala harus muncul
lebih dari satu bulan dan berkaitan dengan simptom signifikan akibat distress
atau penurunan fungsi (misalnya sosial, pekerjaan), dan bukan disebabkan
medikasi, penggunaan obat atau penyakit lain.
Ada dua sub kategori PTSD yang wajib diketahui. Pertama adalah PTSD
dengan gejala disosiatif sebagai reaksi terkait stimulus yang berkaitan dengan
trauma. Disosiasi adalah perubahan kesadaran, identitas dan memori yang
dapat bermaninfestasi sebagai depersonalisasi yang merujuk pada perasaan
terpisah dari dirinya (misalnya ini tidak terjadi padaku atau aku merasa
seperti di dalam mimpi) atau derealisasi yang merujuk pada pengalaman
tidak nyata, jarak atau distorsi (misalnya hal-hal yang tidak nyata). Orang
dengan PTSD disosiatif lebih mungkin untuk menjadi kompleks, karena
kemungkinan besar terjadi kesulitan pada masa kanak-kanak atau paparan
trauma berulang berkepanjangan.
Sementara PTSD Kompleks bukanlah kategori diagnosis formal dalam
DSM-V (proposal ICD-11 saat ini mencantumkan PTSD kompleks sebagai

diagnosis formal) telah diakui oleh banyak ahli stress traumatik. PTSD
kompleks diduga merujuk pada gambaran predominan PTSD yang
dikelompokan menjadi lima antara lain: (i) kesulitan mengatur emosi (ii)
gangguan dalam menjalani hubungan, (iii) perubahan dalam perhatian dan
kesadaran (misal disosiasi), (iv) sistem kepercayaan terpengaruh dan (v)
distress somatik atau disorganisasi. PTSD kompleks adalah hasil paparan
trauma yang berulang atau berkepanjangan atau beberapa bentuk trauma
interpersonal, sering terjadi dalam keadaan melarikan diri, kecuali karena
fisik, psikologi, pemaksaan pada anak, keluarga/lingkungan atau hambatan
sosial. Beberapa ahli berpendapat bahwa orang yang menderita PTSD
kompleks lebih tepat diberi label menderita gangguan kepribadian (paling
sering adalah gangguan kepribadian borderline atau kepribadian berubah
setelah pengalaman terkena bencana) atau ketergantungan zat, itu lebih tepat
masuk dalam katagori ini secara substasnsial lebih sulit untuk diterapi (akan
dibahas selanjutnya).
Sub-katagori yang lain adalah with delayed expression yang mengacu
pada diagnosis PTSD yang tidak terpenuhi sampai 6 bulan setelah trauma,
meskipun timbulnya gejala dapat segera. Paling sering orang yang mengalami
delayed-onset PTSD memang menderita dengan gejala ambang sebelum enam
bulan dari peristiwa traumatik dan dari waktu ke waktu beban gejala
meningkat. Sebagai inidividu gagal mendapatkan dukungan yang cukup atau
efektif membangn kembali keadaan pretrauma secara rutin. Dalam kasus lain,
inividu mengatasi konsekuensi psikologis dari peristiwa traumatik tetapi juga
peristiwa kehidupan selanjutnya (misal hubungan yang rusak) dan individu
mungkin mengkaitkan penderitaan setelah trauma dari pada peristiwa hidup
yang baru.
Komorbid pada saat diagnosis adalah umum. Penelitian telah menunjukan
bahwa dibandingkan dengan pria yang tidak menderita PTSD, pria yang
menderita gangguan ini memiliki risiko 7 kali lebih besar menderita depresi, 6
kali lebih besar menderita kecemasan, 3 kali lebih besar dalam
penyalahgunaan narkoba dan 2 kali lebih besar dalam penyalahgunaan
alkohol. Diagnosis komorbid PTSD juga sering terjadi pada wanita.

E. EPIDEMIOLOGI PTSD
Di Inggris prevalensi PTSD adalah 3% dari seluruh populasi, sumber dari
Adult Psychiatric Morbiditas Studi (APMS) tahun 2007. Studi internasional
menunjukan prevalensi yang berbeda-beda antar negara, namun prevalensi
yang paling sering di setiap wilayah untuk pria sekitar 5% dan wanita sekitar
10-11%. PTSD rata-rata terjadi dalam kelompok kerja bervariasi misalnya 1/3
dari pekerja keamanan, 7-30% dari pasukan tempur, 20% dari supir ambulans
dan dari wartawan perang yang mungkin menderita PTSD, banyak juga
yang sering melaporkan terkait trauma signifikan. Tingkat terjadinya PTSD
termasuk peristiwa traumatik tertentu juga bervariasi dan tidak berkorelasi
dengan petanda trauma seperti Injury Severity Score pada kasus trauma fisik.
Hal ini sangat mungkin terjadi karena penyebab PTSD terkait dengan kognitif
lebih mudah untuk di ukur daripada mengukur faktor-faktor objektif dan
sekarang ada bukti yang lebih bagus bahwa perubahan dalam cara orang
berfikir tentang peristiwa traumatis

lansung memprediksi pemulihan dari

dampak peristiwa traumatis.


F. MANAJEMEN PTSD
Saat periode awal pasca trauma, terapi formal tidak diperlukan pada
umumnya. Sebaliknya, seperti yang tertera diatas, penyediaan dukungan sosial
yang baik dan reduksi temporer paparan stressor membantu pemulihan pada
sebagian besar kasus kasus. Beberapa sebagian kecil individu akan tetap
menderita dengan gejala yang paling intens dan menganggu yang mana
diagnosis sebagai gangguan stres akut pada bulan pertama pasca-insiden.
Individu-individu tersebut ini dapat mendapatkan manfaat dari early
interventions formal dan bukti terkuat untuk hal tersebut adalah Cognitive
teknik Behavioural Therapy (CBT).
Hambatan yang paling signifikan adalah penyediaan efektif perawatan
bagi individu-individu yang tidak sembuh namun berkembang menjadi PTSD
adalah bahwa sebagian besar individu yang menderita gangguan kesehatan
mental, termasuk namun tidak terbatas pada PTSD, tidak mencari bantuan
profesional (medis) sama sekali. Penelitian APMS tahun 2007 menemukan
bahwa sekitar 70% dari individu yang menderita PTSD tidak mencari bantuan
profesional (medis) untuk kondisi mereka.

Bagi mereka yang datang kepada bantuan profesional, terdapat bukti yang
baik, dari berbagai Percobaan Terkontrol Acak (RCT), bahwa dua bentuk
terapi psikologis dengan waktu terbatas merupakan terapi yang efektif. Bentuk
yang pertama adalah CBT trauma focussed, yang meliputi varian seperti
Cognitive Processing Therapy (CPT), Prolonged Exposure (PE), Cognitive
Therapy (CT), Cognitive Restructuring (CR). Secara tradisiona hal dilakukan
dalam 8-12 sesi per minggu yang berlangsung antara 60 dan 90 menit. Namun,
kasus PTSD kompleks cenderung memerlukan lebih banyak sesi, banyak yang
pada awalnya tidak trauma focussed namun bertujuan untuk menstabilkan dan
meningkatkan hubungan terapeutik dengan terapis. Terdapat pula beberapa
bukti baik bahwa untuk veteran militer, CPT berbasis kelompok dapat efektif
dan terdapat juga bukti baru bahwa CBT disampaikan jarak jauh (remotely)
untuk menangani PTSD mungkin efektif.
Terapi lain yang mana memiliki bukti RCT yang baik adalah Eye
Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). Eye Movement
Desensitization and Reprocessing adalah intervensi terstruktur yang meminta
pasien untuk mengingat sebuah gambar yang merepresentasikan kejadian
traumatis, bersama dengan pikiran negatif yang berasosiasi dan sensasi tubuh.
Selagi melakukan hal tersebut, pasien diminta untuk mengikuti bolak gerakan
mata atau stimulasi bilateral lainnya, yang telah terbukti untuk membebani
working memory dan menurunkan bangkitan emosional dari memori traumatis
sehingga trauma dapat diselesaikan. Desensitisasi gerakan mata dan
reprocessing juga secara rutin diberikan dengan 8-12 sesi per minggu selama
60-90 menit per sesinya.
Pedoman NICE pada pengelolaan PTSD merekomendasikan bahwa
penggunaan obat harus dipertimbangkan sebagai strategi lini kedua meskipun
resep obat juga dapat digunakan untuk mengobati komorbid yang ada.
Terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa obat antidepresan dapat
memiliki efek positif pada gejala PTSD. Bukti terkuat adalah obat paroxetine,
sertraline dan venlafaxine. Berbagai obat lain juga telah diusulkan yang
mungkin berguna dalam pengelolaan PTSD termasuk alpha-blocker prazosin,
yang mana mungkin memiliki peran dalam mengobati trauma yang terkait
mimpi buruk dan antipsikotik atipikal juga yang dapat mengurangi agitasi.

Namun, bukti yang mendukung penggunaan dua obat tersebut kurang kuat,
dibandingkan bukti-bukti untuk obat antidepresan. Satu catatan penting
sehubungan dengan obat-obatan adalah bahwa tidak ada bukti sama sekali
bahwa benzodiazepin memiliki peran dalam pengobatan PTSD seperti yang
ditunjukkan oleh berbagai cobaan. Selain itu, penggunaan benzodiazepin
dapat menimbulkan risiko paradoxical disinhibited behaviours.
G. KESIMPULAN
Peristiwa traumatik berdasarkan sifatnya mampu menyebabkan perubahan
signifikan dalam kehidupan. Kebanyakan orang yang mengalami trauma akan
tetap bersikap tangguh dalam kurun waktu yang lama meskipun sejumlah
besar mereka akan mengalami gangguan dalam kurun waktu harian, mingguan
hingga berbulan-bulan setelah kejadian tersebut.
Sebagian kecil individu yang terpajan trauma akan mengembangkan
gangguan keseharian namun tidak terbatas pada PTSD. Dari beberapa faktor
risiko seseorang mengalami PTSD, yang terpenting adalah ketersediaannya
dukungan sosial untuk pemulihan. Permasalahnya, kebanyakan orang yang
mengalami PTSD tidak mencari bantuan kesehatan professional. Namun
demikian, sejumlah psikoterapi efektif yang relatif singkat dapat mengobati
kondisi tersebut, obat-obatan memiliki peran sekunder untuk mengobati
kondisi komorbid dalam beberapa kasus. Individu yang mengalami peristiwa
traumatik berulang, terutama saat kanak-kanak cenderung lebih sukar diterapi
dan membutuhkan sejumlah waktu untuk stabilisasi sebelum mendapatkan
mengobatan PTSD.