Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PERSONAL HYGIENE
1.1 Definisi
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya
perorangan dan hygiene berarti sehat. Jadi personal hygiene merupakan suatu
tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis. Perawatan diri adalah salah satu kemampuan
dasar

manusia

dalam

memenuhi

kebutuhan

guna

mempertahankan

kehidupannya, kesehatan, kesejahteraan, sesuai dengan kondisi kesehatan,


klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan
perawatan diri (Depkes 2000). Ukuran kebersihan atau penampilan seseorang
dalam pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene berbeda pada setiap orang
sakit karena terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan. Perawat dapat
memberikan informasi-informasi tentang personal hygiene yang lebih baik
terkait dengan waktu atau frekuensi aktifitas, dan cara yang benar dalam
melakukan perawatan diri.
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya
perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu
tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto, 2004).
Personal hygiene adalah cara perawatan diri seseorang untuk memelihara
kesehatannya. Seseorang tidak dapat melakukan perawatan diri sendiri
dipengaruhi kondisi fisik atau keadaan emosional klien (Alimul, 2006).
Cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka disebut
hygiene perorangan (Potter & Perry. 2005).
Personal hygiene adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan
kesejahteraan dirinya untuk memperoleh kesejahteraan fisik (Muhammad,
2007).
Jadi personal hygiene adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan
dan kesehatan dirirnya.
1.2 Tujuan perawatan personal hygiene
1

1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5
1.2.6

Meningkatkan derajat kesehatan seseorang.


Memelihara kebersiahn diri seseorang.
Memperbaiki personal hygiene yang kurang.
Pencegahan penyakit.
Meningkatkan percaya diri seseorang
Menciptakan keindahan.

1.3 Klasifikasi
Menurut KDM Tarwoto Wartonah, macam-macam personal hygiene, yaitu:
1.3.1 Perawatan kulit kepala dan rambut.
1.3.2 Perawatan mata.
1.3.3 Perawatan hidung.
1.3.4 Perawatan telinga.
1.3.5 Perawatan kuku kaki dan tangan.
1.3.6 Perawatan genetalia.
1.3.7 Perawatan kulit seluruh tubuh.
Sedangkan menurut KDM Wahit Iqbal Mubarak, SKM dan Ns. Nurul
Chayatin, S.Kep, sama dengan macan personal hygiene menurut KDM
Tarwoto Wartonah hanya saja ditambah dengan perawatan gigi dan mulut.
1.4 Epidemiologi
Pemenuhan kebutuhan personal hygine biasanya menyangkut tentang
kebutuhan untuk kebersihan diri secara mandiri. Gangguan pada personal
hygine dapat terjadi pada semua tingkat umur. Pasien yang tidak bisa bangun
sendiri atau hanya tidur dirumah sakit biasanya yang mengalami gangguan
personal hygine.
1.5 Etiologi
1.5.1 Gangguan kognitif
1.5.2 Penurunan motivasi
1.5.3 Kendala lingkungan (ketidaksediaan sarana dan prasarana)
1.5.4 Kelemahan
1.5.5 Karena sakit, sehingga tidak mampu melakukan sendiri
1.5.6 Kurangnya pengetahuan dan informasi
1.5.7 Keterbatasan biaya
1.5.8 Lingkungan yang tidak mendukung
1.5.9 Tidak adanya fasilitas yang memadai
1.5.1 Menurut Tarwoto Wartonah faktor-faktor yang mempengaruhi personal
hygiene
1.5.1.1 Citra tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang
penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan
mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu.
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi

kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga


individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
1.5.1.2 Praktik sosial
Kebiasaan keluarga, jumlah orang di rumah, dan ketersediaan air
panas atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang
mempengaruhi perawatan personal hygiene. Praktik personal
hygiene pada lansia dapat berubah dikarenakan situasi
kehidupan, misalnya jika mereka tinggal dipanti jompo mereka
tidak dapat mempunyai privasi dalam lingkungannya yang baru.
Privasi tersebut akan mereka dapatkan dalam rumah mereka
sendiri, karena mereka tidak mempunyai kemampuan fisik untuk
melakukan personal hygiene sendiri.
1.5.1.3 Status sosio ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta
gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya
memerlukan uang untuk menyediakannya.
1.5.1.4 Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat

penting

karena

pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Kendati


demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Seseorang
harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri. Seringkali
pembelajaran tentang penyakit atau kondisi yang mendorong
individu untuk meningkatkan personal hygiene. Misalnya pada
pasien penderita Diabetes Melitus selalu menjaga kebersihan
kakinya.
1.5.1.5Budaya Kepercayaan

kebudayaan

dan

nilai

pribadi

mempengaruhi personal hygiene. Orang dari latar kebudayaan


yang berbeda mengikuti praktik perawatan diri yang berbeda.
Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak
boleh dimandikan
1.5.1.6 Kebiasaan seseorang Setiap individu mempunyai pilihan kapan
untuk mandi, bercukur dan melakukan perawatan rambut. Ada
kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan shampo, dan lain-lain.
1.5.1.7 Kondisi fisik Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk
merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
1.5.2

Faktor Predisposisis
Menurut Potter dan Perry (2005), sikap seseorang melakukan personal
hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain:

1.5.2.1 Citra Tubuh


Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentinya
hygiene pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep
subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Citra tubuh ini
dapat

sering

berubah.

Citra

tubuh

mempengaruhi

cara

mempertahankan hygiene.
1.5.2.2 Praktik sosial.
Kelompok-kelompok social wadah seorang klien berhubungan
dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Selama masa
kanak-kanak, kanak-kanak mendapatkan praktik hygiene dari
orang tua mereka.
1.5.2.3 Status sosio-ekonomi
Sumber daya ekonomi seeorang mempengruhi jenis dan tingkat
praktik kebersihan yang digunakan. Perawat harus menentukan
apakah klien dapat menyediakan bahan-bahan yang penting
seperti deodorant, sampo, pasta gigi dan kometik. Perawat juga
harus

menentukan

jika

penggunaan

produk-produk

ini

merupakan bagian dari kebiasaan social yang dipraktikkan oleh


kelompok social klien.

1.5.2.4 Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi
kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Kendati demikian,
pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus
termotivasi

untuk

memelihara

perawatan-diri.

Seringkali,

pembelajaran tentang penyakit atau kondisi mendorong klien


untuk meningkatkan hygiene. Pembelajaran praktik tertentu yang
diharapkan dan menguntungkan dalam mngurangi resiko
kesehatan

dapat

memotifasi

seeorang

untuk

memenuhi

perawatan yang perlu.


1.5.2.5 Variable Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi
perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda
mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula. Di asia
kebersihan dipandang penting bagi kesehatan.

1.5.2.6 Pilihan pribadi


Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan tentang
kapan untuk mandi, bercukur, dan melakukan perawatan rambut
klien memilih produk yang berbeda (mis. Sabun, sampo,
deodorant, dan pasta gigi) menurut pilihan pribadi.
1.5.2.7 Kondisi Fisik.
Orang yang menderita penyakit tertentu (mis. Kanker tahap
lanjut) atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik
atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi.
1.6

Patofisiologis
Personal hygiene adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk
memelihara kebersihan diri. Personal hygiene dapat terganggu apabila
individu sedang sakit. Selan itu fasilitas yang kurang, kurangnya pengetahuan
tentang personal hygiene yang tepat, ekonomi yang kurang dan faktor
lingkungan sekitar. Akibatnya individu akan mrngalami defisit personal
hygiene.
Pengaturan kegiatan sehari-hari seseorang meningkat kualitas seseorang
sehingga permasalahan permasalahan yang tadinya terjadi dapat berangsurangsur berkurang
1.6.1 Dampak fisik yang mungkin muncul adalah:
1.6.1.1 Gangguan integritas kulit
1.6.1.2 Gangguan mukosa mulut
1.6.1.3 Infeksi pada mata dan telinga
1.6.1.4 Gangguan fisik pada kuku
1.6.2

Dampak psikologis yang mungkin muncul adalah:


1.6.2.1 Kebutuhan harga diri
1.6.2.2 Gangguan interaksi sosial
1.6.2.3 Aktualisasi diri
1.6.2.4 Gangguan rasa nyaman
1.6.2.5 Kebutuhan mencintai dicintai
Apabila defisit personal hygiene individu terganggu, maka akan
menimbulkan dampak baik dilihat dari segi fisik maupun psikologis.

1.6.3 Pathway
ETIOLOGI

Gangguan Kognitif
Penurunan Motivasi
Kendala lingkungan (ketidaksediaan sarana dan prasarana)
Kelemahan
Karena sakit, sehingga tidak mampu melakukan sendiri
Kurangnya pengetahuan dan informasi
Keterbatasan biaya
Lingkungan yang tidak mendukung
Tidak adanya fasilitas yang memadai

PATOFISIOLOGI
Pengaturan kegiatan sehari-hari seseorang
meningkatkan kualitas seseorang sehingga permasalahan-permasalahan
yang tadinya terjadi dapat terangsur-angsur berkurang
TANDA DAN GEJALA
Fisik
Badan bau

Rambut dan kulit kotor

kuku panjang dan kotor gigi kotor

dan mulut bau


Psikologi
Malas, tidak ada inisiatif

menarik diri

merasa

rendah diri
Social
Interaksi kurang, cara makan berantakan dan BAB sembarangan

DEFICIT KEPERAWATAN DIRI

1.7

Tanda dan Gejala


Adapun gejala klinis dari personal hygiene adalah sebagai berikut :

1.7.1
1.7.2
1.7.3
1.7.4
1.7.5
1.7.6
1.7.7

Kulit kepala kotor dan rambut kusam,acak-acakan


Hidung kotor dan telinga juga kotor
Gigi kotor disertai mulut bau
Kulit panjang dan tidak terawatt
Kuku panjang-panjang dan tidak terawat
Badan kotor dan pakaian kotor
Penampilan tidak rapi

1.8

Pemeriksaan Fisik
1.8.1 Rambut
1.8.1.1 Amati kondisi rambut.
1.8.1.2 Keadan rambut yang mudah rontok.
1.8.1.3 Keadaan rambut yang kusam.
1.8.1.4 Tekstur rambut.
1.8.2

Kepala
1.8.2.1 Amati dengan benar kebersihan kulit kepala
1.8.2.2 Normosepal
1.8.2.3 Ketombe
1.8.2.4 Berkutu
1.8.2.5 Kebersihan
1.8.2.6 Apakah ada nyeri tekan

1.8.3

Mata
1.8.3.1 Apakah mata kanan dan kiri simetris
1.8.3.2 Konjungtiva ananemis
1.8.3.3 Sclera aninterik
1.8.3.4 Seklera pada kelopak mata.

1.8.4

Hidung
1.8.4.1 Apakah pilek
1.8.4.2 Apakah ada perubahan penciuman
1.8.4.3 Kebersihan hidung
1.8.4.4 Keadaan membrana mukosa apakah ada septum deviasi

1.8.5

Mulut
1.8.5.1 Keadaan mukosa mulut
1.8.5.2 Kelembapan
1.8.5.3 Adanya lesi
1.8.5.4 Kebersihan

1.8.6

Gigi
1.8.6.1 Amati kondisi mukosa mulut dan kelembaban mulut
1.8.6.2 Apakah ada karang gigi

1.8.6.3 Apakah ada carries


1.8.6.4 Kebersihan.
1.8.7

Telinga
1.8.7.1 Amati telinga kanan kiri apa simetris
1.8.7.2 Apakah ada lesi
1.8.7.3 Perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga.

1.8.8

Kulit
1.8.8.1 Amati kondisi kulit (tekstur,turgon,kelembaban)
1.8.8.2 Apakah ada lesi
1.8.8.3 Apakah ada luka.

1.8.9

Kuku, Tangan, dan Kaki


1.8.9.1 Amati kebersihan kuku
1.8.9.2 Perhatikan adanya luka

1.8.10 Tubuh secara umum


1.8.10.1
Amati kondisi dan kebersihan badan secara umum.
1.8.10.1
Perhatikan adanya klainan pada kulit pasien.
1.9 Prognosis
Rentan terhadap penyakit karena kuman kuman menumpuk dibadan yang
merupakan sumber penyakit. Kurang percaya diri akibat timbul bau badan
yang menyengat dari metabolisme kuman.

1.10 Terapi
1.10.1 Meningkatkan kesadaran dan percaya diri klien, dengan cara:
1.10.1.1 Bina hubungan saling percaya
1.10.1.2 Bicarakan tentang pentingnya kebersihan diri
1.10.1.3

Kuatkan kemampuan pasien untuk merawat diri

1.10.2 Membimbing dan mendorong klien merawat diri


1.10.2.1
Bantu pasien merawat diri
1.10.2.2
Ajarkan keteraampilan secara bertahap
1.10.2.3
Buat kegiatan harian setiap hari
1.10.2.4
Ingatkan setiap kegiatan
1.10.2.5
Berikan pujian serta kegiatan positif
1.10.3 Ciptakan lingkungan yang mendukung, seperti:
1.10.3.1
Sediakan perlengkapan yang dibutuhkan (sabun, pasta
gigi, dll)
Sediakan tempat yang aman dan nyaman bagi pasien
Sikap keluarga
Sabar dan selalu siap membantu
Menerima dan memuji setiap upaya pasien saat

1.10.3.2
1.10.3.3
1.10.3.4
1.10.3.5

merawat diri

1.10.3.6

Tidak mencela/menghina pasien saat merawat diri

1.11 Penatalaksanaan
Tindakan keperawatan dengan melakukan perawatan pada kulit yang
mengalami atau beresiko terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut khususnya
pada daerah yang mengalami tekanan (tonjolan). Dengan tujuan mencegah
dan mengatasi terjadinya luka dekubitus akibat tekanan lama dan tidak
hilang. Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara mencuci dan
menyisir rambut. Tujuannya adalah membersihkan kuman yang ada pada
kulit kepala, menambah rasa nyaman, membasmi kutu atau ketombe yang
melekat pada kulit dan memperlancar sistem peredaran darah di bawah kulit.
Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara membersihkan dan menyikat
gigi dan mulut secara teratur. Tujuan perawatan ini mencegah infeksi pada
mulut akibat kerusakan pada daerah gigi dan mulut, membantu menambah
nafsu makan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tindakan keperawatan
pada pasien yang tidak mampu merawat kuku secara sendiri. Tujuannya
adalah menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbulnya luka atau infeksi
akibat garukan dari kuku.
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Keperawatan
Tanyakan tentang pola kebersihan individu sehari-hari, sarana dan
prasarana yang dimiliki, serta factor-faktor yang mempengaruhi hygiene
personal individu baik factor pendukung maupun factor pencetus.
2.1.2

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, kaji hygiene personal individu, mulai dari
ekstermitas atas sampai bawah. Catat perubahan-perubahan pada area
membrane mukosa, kulit, mulut, hidung, telinga, kuku kaki dan tangan, dan
rabut akibat terapi. Lakukan inspeksi dan palpasi, catat adanya lesi dan
kondisi lesi. Observasi kondisi membrane mukosa kulit, mulut, hidung,
telinga, kuku kaki dan tangan dan rambut (warna, tekstur)

2.2 Diagnosa Keperawatan


Menurut NANDA 2013, diagnosa keperawatan umum untuk klien dengan
masalah personal hygiene adalah defisit perawatan diri. Diagnosa tersebut dibagi
menjadi 4 yaitu:
2.2.1 Defisit perawatan diri : makan
2.2.1.1 Kemungkinan berhubungan dengan:

10

1. Gangguan kognitif
2. Penurunan motivasi
3. Kendala lingkungan
4. Ketidaknyamanan
Ditandai dengan:
1. Ketidakmampuan menagmbil

makanan

dan

memasukan

kemulut
2. Ketidakmampuan mengunyah makanan
3. Ketidakmampuan menghabiskan makanan
4. Ketidakmampuan menelan makanan
2.2.2 Defisit perawatan diri : mandi
2.2.2.1 Kemungkinan berhubungan dengan:
1. Gangguan kognitif
2. Penurunan motivasi
3. Kendala lingkungan
4. Nyeri
Ditandai dengan:
1. Ketidakmampuan untuk mengakses ke kamar mandi
2. Ketidakmampuan mengambil perlengkapan mandi
3. Ketidakmampuan mengeringkan tubuh
4. Ketidakmampuan menjangkau sumber air
2.2.3 Defisit perawatan diri : berpakaian/berhias
2.2.3.1 Kemungkinan berhubungan dengan:
1. Gangguan kognitif
2. Penurunan motivasi
3. Kendala lingkungan
4. Keletihan dan kelemahan
Ditandai dengan:
1. Ketidakmampuan mengancingkan pakaian
2. Ketidakmampuan mengenakan sepatu
3. Ketidakmampuan mengenakan atribut pakaian
4. Hambatan memilih pakaian
2.2.4 Defisit perawatan diri : eliminasi
2.2.4.1 Kemungkinan berhubungan dengan:
1 Gangguan kognitif
2 Penurunan motivasi
3 Kendala lingkungan
4 Keletihan dan kelemahan
Ditandai dengan:
1 Ketidakmampuan melakukan hygiene eleminasi yang tepat
2 Ketidakmampuan naik ke toilet atau commode
3 Ketidakmampuan untuk duduk di toilet atau commode
2.3 Rencana Keperawatan
Diagnosa yang dapat diangkat:
2.3.1

Defisit perawatan diri: berpakaian b/d penurunan motivasi ditandai dengan


penampilan tidak rapi

11

2.3.2

Defisit perawatan diri: eleminasi b/d hambatan mobilitas ditandai dengan

2.3.3

tidak mampu ke toilet sendiri


Defisit perawatan diri: mandi

2.3.4

muskuloskeletal ditandai dengan badan kotor dan bau


Defisit perawatan diri: makan b/d nyeri ditandai dengan tidak mampu

berhubungan

dengan

gangguan

menelan makanan
Nodx
1.

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Setelah dilakukan asuhan

Intervensi
1. Kaji hambatan

Rasional
1. Menyiapkan untuk

keperawatan selama 3 x 24

partisipasi dalam

meningkatkan

jam, pasien mampu

perawatan diri

kemandirian

mempertahankan
kebersihan diri dan

2. Bantu pasien

kerapian, dengan KH:

memilih pakaian

1. Penampilan rapi
2. Rambut rapi dan bersih
3. Mampu memakai

2. Pasien mungkin
membutuhkan berbagai
bantuan dalam
persiapan memilih
pakaian

pakaian dan berhias


secara mandiri
3. Jelaskan tentang

3. Menambah

cara cara personal

pengetahuan pasien dan

hygiene yang tepat

keluarga mengenai
perawatan diri yang
tepat

4. Libatkan keluarga
4. Memberikan
kesempatan kepada
keluarga untuk
membantu pasien dan
2

Setelah dilakukan asu

1.

Kaji budaya

han keperawatan selama 3

pasien ketika

x 24 jam, pasien mampu

mempromosikan

melakukan aktivitas

aktivitas perawatan

eleminasi secara tepat,

diri

dengan KH:

memberikan motivasi
1. Mngetahui kebiasaan
pasien dalam toileting

12

1. Pasien mampu duduk

2. Bantu pasien ke

dan turun dari toilet


2

2. Hambatan mobilitas

toilet

menyebabkan pasien

Pasien mampu

tidak mampu

membersihkan diri

melakukan perawatan

setelah eleminasi secara

diri secara mandiri

mandiri/dibantu
3. Berikan

3. Mengetahui pentingnya

pengetahuan

personal hygiene bagi

tentang personal

pasien

hygiene
4. Libatkan keluarga

4. Memberikan
kesempatan kepada
keluarga untuk

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 3 x 24

membantu pasien
1. Mengetahui kondisi

Pantau integritas
kulit pasien

kulit secara umum

jam, pasien merasa nyaman


dan bersih dengan KH:
1.

Kulit pasien tidak

2. Bantu pasien mandi

2. Agar pasien merasa

kotor
2.

Tidak ada bau badan

3.

Kuku pasien tidak


panjang dan kotor

4.

Rambut bersih

lebih nyaman dan segar


3. Berikan pendidikan

Menambah wawasan

kesehatan tentang

pasien dan keluarga

perawatan diri

tentang pentingnya
perawatan diri

4. Libatkan keluarga
4.

Memberikan
kesempatan kepada
keluarga untuk

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 3 x 24

1. Identifikasi diet
yang diresepkan

membantu pasien
1. 1. Makanan disesuaikan
dengan kondisi klien

jam, pasien mampu makan


secara mandiri dan tepat,

2. Bantu pasien

2. Pasien mungkin

13

dengan KH:

menyiapkan

kesulitan mengambil

1. Pasien mampu

makanan yang

makanan sendiri

mengambil makanan

lunak

sendiri
2. Pasien mampu makan
sendiri dengan rapi
3.

Pasien mampu

3. Jelaskan tentang
personal hygiene

pasien dan keluarga

tentang pola makan

tentang persoal hygiene:

mengungkapkan
kepuasan makan

3. Menambah wawasan

makan
4. Kolaborasikan
dengan keluarga

4. Memberikan
kesempatan kepada
keluarga untuk
membantu pasien

DAFTAR RUJUKAN
Alimul, A Azis. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika
Dwi Widiarti. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Perry & Potter. 2005. Fundamental keperawatan edisi 4, volume 1. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Tarwoto,Wartona. 2004. Kebutuhan Dasar Manusiadan Proses Keperawatan. Jakarta
: Salemba Medika.
Musrifatul Uliyah. 2012. Buku Ajar Kebutuhan Manusia edisi 1. Surabaya : HealthBooks Publishing.

14

Nanda Internasional 2013. Diagnosa keperawatan Definisi dan klasifikasi 2012-2014.


Jakarta ; EGC