Anda di halaman 1dari 7

No.

ID dan Nama Peserta :


No. ID dan Nama Wahana:
Topik: Tonsilitis
Tanggal (kasus) : 12/12/ 2012
Nama Pasien : Tn.IW

/ dr. Sri Mayasari


/ UGD RSUD Lamadukelleng Wajo
No. RM : 085490

Tanggal presentasi : 13/6/2013


Pendamping: dr. A. Sukmawati
Tempat presentasi: RSUD Lamaddukelleng Wajo
Obyek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi: Seorang laki-laki 26 tahun masuk dengan keluhan nyeri menelan yang dialami sejak
1 bulan terakhir. Intake oral menurun. OSI juga mengeluh nyeri saat berbicara. Demam (+) sejak
1 bulan terakhir tidak terus menerus, sakit kepala (-), pusing (-). Batuk(+) kadang-kadang, lendir
(+), darah (-) sesak(-), nyeri dada (-). Mual (-), muntah (-), NUH (-).
Tujuan: : Mengetahui gejala skizoprenia, menegakkan diagnosis dan terapinya.
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
bahasan:
Cara

pustaka
Diskusi

membahas:
Data Pasien:

Presentasi dan E-mail

Pos

diskusi
Nama:Tn. IW

No.Registrasi: 085490

Nama klinik
RSUD Lamaddukelleng Wajo
Data utama untuk bahan diskusi:
Deskripsi:
Tanda-Tanda Vital:
Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 78 x/menit Pernapasan : 20 x/menit Suhu : 37,9C

Status Lokalis:
o Anemi (+), ikterus (-), sianosis (-)
o Toraks :
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi
: MT (-), NT (-)
Perkusi : sonor kiri = kanan
Auskultasi : BP: pekak, rhonki -/-, wheezing -/-,
BJ I/II murni regular
o Abdomen:
Inspeksi : datar, ikut gerak napas.
Auskultasi : peristaltik (+), kesan normal

Palpasi
: hepar/lien tak ada pembesaran
Perkusi : tympani
o Ekstermitas : dalam batas normal
1
2

Riwayat pengobatan: Riwayat berobat di poli umum dengan keluhan yang sama

Riwayat keluarga:
Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama disangkal
3 Riwayat kebiasaan:
Riwayat merokok dari umur 16 tahun sampai sekarang
4 Riwayat penyakit lain:
Tidak ada / belum diketahui.
5 Lain-lain:
Daftar Pustaka:
a. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga dan Tenggorokan FK UI
b. Kapita Selekta jilid 1 FK UI
Hasil pembelajaran:
1 Gejala tonsillitis
2 Diagnosis tonsilitis
3 Penanganan tonsillitis

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:.


1. Subyektif:
Adanya nyeri menelai sejak 1 bulan yang lalu, yang menyebabkan intake oral berkurang
dan keluhan nyeri saat pasien berbicara. Pasien juga mengeluh demam sejak satu bulan
tidak terus menerus. Serta ada keluhan batuk yang disertai lendir sejak 1 bulan
2. Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh, GCS E4M6V5, tampak keadaan umum lemah,
composmentis, gizi cukup.
Tanda-tanda vital :
TD
: 110/70,
Pernapasan: 20x/Menit,

Nadi : 78x/menit,
Suhu: 37,9 C

3. Assesment:
Pada pasien ini ditemukan pembengkakan pada pada tonsil T3-T2 tidak disertai
hiperemis, dan terdapat kripte. Ditemukan pembesaran pada kelenjar limfe regional.
Tonsilitis
Definisi:
Merupakan peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau
infeksi subklinis.
Etiologi:
Tonsilitis akut/ kronik berdasarkan penyebabnya, dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

Tonsilitis viral
Gejala menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab yang
paling sering adalah virus Epstein Barr, dan Hemofilus influenzae merupakan penyebab
tonsilitis akut supuratif.

Tonsilitis bakterial
Disebabkan kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus yang dikenal sebagai strept
throat, pneumokokus, Streptokokus viridan dan Streptokokus piogenes. Infiltrasi bakteri
pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya
leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik :
Rangsangan kronis dari rokok, dan beberapa jenis makanan

higiene mulut yang buruk,


pengaruh cuaca ( udara dingin, lembab, suhu yang berubah-ubah),
Alergi (iritasi kronis dari allergen),
keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.
Patofisiologi
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripte tonsil. Karena proses radang
berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses
penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut
sehingga kripte akan melebar.
Gejala Klinis

nyeri tenggorok / nyeri waktu menelan


demam dengan suhu tubuh yang tinggi, demam sampai 39o celcius
nyeri kepala
badan lemah, dan terkadang terdapat gangguan pencernaan.
Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi, dan gusi berdarah.
rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi,
tidak nafsu makan
rasa nyeri di telinga (otalgia). Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (referred

pain) melalui saraf n.glosofaringeus.


sifatnya berulang

Diagnosis

Anamnesis : Faktor presdisposisi

Pemeriksaan fisis: FARINGOSKOPI


-

Tonsil tidak hiperemis


Exudat muara kripte
Kelenjar limfe regional membesar

Pemeriksaan Laboratorium: leukosit, hemoglobin, usap tonsil

Pemeriksaan Penunjang: Kultur dan Uji resistensi

Penanganan

Perawatan medikamentosa
- Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut). Selama
-

10 hari
Bila tonsilitis disebabkan oleh infeksi virus, perlu membiarkan virus tersebut
hilang sendiri dengan cara istirahat dan memperbaiki keadaan gizi selama 2

minggu
Asetaminofen (Tylenol, dan sebagainya) atau ibuprofen (Advil, Motrin, dan

sebagainya) dapat membantu mengurangi demam dan mengurangi rasa sakit.


Perawatan sendiri
- Minum minuman hangat
- cairan yang menyejukkan seperti sup, kaldu dan berkumur dengan air garam

yang hangat.
Pengobatan pasti untuk tonsilitis adalah pembedahan pengangkatan tonsil atau biasanya

disebut tonsilektomi.
Indikasi untuk dilakukan tonsilektomiyaitu :

Tonsilitis kronik

Abses peritonsiler

Hipertrofi tonsil yang menyebabkan Obstruksi Sleep Apnue (OSA), disfagia berat,
gangguan tidur, gangguan bicara.

Tonsilitis akut residifan dengan frekuensi kekambuhan > 4x selama setahun

Tumor tonsil yang masih operable, belum metastasis

Tosilitis diftery yang Karier

Tonsilitis pada anak yang sering kejang demam

Tonsilitis yang menyebabkan infeksi jauh (endokarditis, Glomeronefritis, atau


reumatoid artritis).

Komplikasi

Komplikasi sekitar tonsil


Peritonsilitis, abses peritonsiler, abses retrofaring, tumortonsil
Komplikasi organ sekitar
a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik
b. Glomerulonefritis
c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
d. Artritis dan fibrositis.
Komplikasi post op
Adapun komplikasi pasca operasi tonsilektomi, sapat dilihat sebagai berikut :
a. Pendarahan. Pendarahan dari operasi dapat terjadi kapan saja dari waktu
operasi terutama pada kondisi hipertensi hingga 2 minggu pasca bedah
b. Infeksi. Operasi ketika terdapat luka operasi, akan terdapat risiko potensial
untuk infeksi.
c. Kerusakan gigi atau bibir. Sebagai bagian dari alat operasi yang digunakan
untuk menjaga mulut terbuka (muntah).
d. Nyeri. Tonsilektomi sangat menyakitkan dan ini bisa bertahan 2 sampai 3
minggu

Diagnosa Banding
1) Abses Peritonsiler
Abses jenis ini terjadi sebagai komplikasi tonsillitis akut atau infeksi yang

bersumber dari kelenjar mucus Weber di kutub atas tonsil.


Selain gejala dan tanda tonsillitis akut, juga terdapat odinofagi nyeri telinga,
muntah, banyak ludah, suara sengau dan kadang kadang sukar membuka

mulut, serta pembengkakan kelenjar submandibula


Kadang kadang terjadi trismus.
Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian
diinsisi didaerah yang paling menonjol dan lunak, atau pada pertengahan garis
yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham atas akhir pada sisi yang

sakit
2) Tumor Tonsil
Pasien kebanyakkan datang dengan keluhan massa atau benjolan pada leher,

adapun gejala lain seperti


Sakit di bagian belakang mulut yang tidak akan sembuh
Tonsil lebih besar pada satu sisi ( pmbesaran unilateral )
Darah bercampur air liur.
Keluhan yang sama dengan tonsilitis akut

Plan:

Farmakoterapi:
o
o
o
o

Cefotaxime 1 gr/12 jam/ iv


Novalgin 1amp/ 8 jam/ iv
Dexamethazone 1 amp/ 8 jam/iv
Ranitidine 1 amp/ 8 jam/iv

Pendidikan:
Pada pasien dan keluarganya diajarkan cara perawatan penyakit tersebut dirumah. Juga
diajarkan bagaimana pencegahan penyakit tersebut agar tidak sering berulang.
Konsultasi:
Dijelaskan adanya penanganan lebih lanjut dengan mengkonsultasikan ke dokter Spesialis
THT.
Rujukan:
Diperlukan jika memerlukan sarana dan prasarana yang lebih memadai khususnya pelayanan
dokter spesialis THT.

Sengkang, Juni 2013

PESERTA,

(dr. Sri Mayasari)

PENDAMPING,

(dr.A. Sukmawati)