Anda di halaman 1dari 11

1.

Pengertian
kenakalan adalah tingkah laku yang dianggap menyimpang dari norma-norma sosial
masyarakat dan mengganggu ketentraman masyarakat. Juvenile berasal dari bahasa Latin
juvenilis, yang ertinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat
khas pada masa remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin delinquere yang
bererti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti
sosial, kriminal, kutu dan sebagainya.
Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anakanak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja
yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan
bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang
yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima masyarakat sosial.
Dapat saya simpulkan disini bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah
kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar peraturan yang dapat
mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri mahupun orang lain
yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun.
2. Jenis-jenis Deliquency
Delinkuen dibagi menjadi dua jenis; delinkuen sosial dan delinkuen Individual, dipandang
sosiologis apabila remaja memusuhi konteks kemasyarakatan. Dimana para remaja tidak
merasa bersalah apabila perbuatan yang dilakukannya tidak merugikan kelompok atau
dirinya meskipun menimbulkan keresahan pada masyarakat, sedang dalam perspektif
individual para remaja yang delinkuen memusuhi semua orang, baik itu orang tua, PR atau
gurunya.
1. Delinkuensi individual, yaitu perilaku delinkuen anak merupakan gejalah personal atau
individual dengan ciri-ciri khas jahat, disebabkan oleh predisposisi dan kecenderungan
penyimpangan tingkah laku (psikopat, psokotis, neurotis, a-sosial) yang diperhebat oleh
stimuli sosial dan kondisi kultural.
2. Delinkuensi situasional, yaitu delinkuensi yang dilakukan oleh anak yang normal; namun
mereka banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan situasional, stimuli sosial, dan tekanan
lingkungan, yang semuanya memberikan pengaruh menekan-memaksa pada
pembentukan perilaku buruk.
3. Delinkuensi sistematik, yaitu delinkuensi yang telah disistematisir dalam suatu organisasi
(gang). Semua kejahatn dirasionalisir dan dibenarkan sendiri oleh anggota gang, sehingga
kejahatannya menjadi terorganisir atau menjadi sistematis sifatnya.
4. Social delinquency, yaitu delinkuen yang dilakukan oleh sekelompok remaja, misalnya
gang atau sering disebut gang deliquency. Bentuk bentuk perbuatan kenakalan remaja
yang lebih banyak dilakukan dalam kaitan remaja yang bersangkutan dengan gangnya atau

gerombolan remaja lainnya, hakekatnya mencerminkan suatu sub kultur tersendiri yang
dapat dibedakan dalam 3 sub kultur kenakalan yaitu:
a. Sub kultur criminal: suatu bentuk gang kenakalan remaja yang mengarah pada
perbuatan pencurian, pemerasan dll perbuatan illegal yang bertujuan untuk mendapatkan
penghasilan (uang atau income)
b. Sub kultur konflik: suatu bentuk gang yang mengutamakan perbuatan perbuatan
kekerasan sebagai suatu cara untuk mendapatkan atau meningkatkan status
c. Sub kultur pengelakan/ pengasingan (rettreatist sub culture), suatu bentuk gang yang
menekankan pada penggunaan obat obatan (secara salah).
Perbuatan kenakalan remaja pada hakekatnya merupakan proses usaha pencapaian suatu
keberhasilan tertentu dalam perkembangan kehidupan remaja. Kaitan pertumbuhan dan
perkembangan individu remaja dengan lingkungannya terhadap struktur sosial dengan jalur
jalur system yang tersedia dan berlangsung di masyarakat untuk mobilitas yang lebih
baik.
Pada kenakalan remaja sub kultur kriminil, mencerminkan suatu cara adaptasi yang khusus
dari para remaja dalam proses penyesuaian dirinya yang gagal untuk dapat mencapai
keberhasilan hidup atau memperbaiki keadaannya dengan menempuh jaur jalur
kesempatan yang sewajarnya. Kegagalan ini antara lain karena ketiadaan kemampuan,
keterbatasan pendidikan dan tidak adanya kesempatan kerja yang sesuai.
Kenakalan remaja sub kultur konflik sering terjadi pada kasatuan masyarakat yang tidak
stabil, tidak cukup terorganisir, yang tinggi mobilitas vertikal dan geografisnya, keluarga
cenderung berorientasi tidak pada masa depan tetapi pada masa kini dan tidak ada
kemajuan sosial. Perbuatan perkelahian antar gang, kebut kebutan di jalan ramai
merupakan contoh kenakalan remaja sub kultur konflik.
Kenakalan remaja yang termasuk sub kultur pengelakan/ pengasingan yaitu kenakalan
remaja dalam bentuk penyelahgunaan obat obatan narkotika, merupakan cara adaptasi
terhadap keadaan secara pengelakan, menarik diri atau mengaisngkan diri, melepaskan
perjuangan dalam mencapai kesuksesan.
5. Delinkuensi kumulatif, yaitu delinkuensi yang sudah teresebar dihampir semua ibukota,
kota-kota, bahkan sampai dipinggiran desa. Pada hakekatnya delinkuensi inimerupakan
produk dari konflik budaya.
Wright membagi jenis kenakalan remaja dalam beberapa keadaan (Bisri, 1995):
1. Neurotic delinquency, remaja bersifat pemalu, terlalu perasa, suka menyendiri, gelisa dan
mempunyai perasaan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan yang kuat untuk berbuat
suatu kenakalan seperti: mencuri sendirian, melakukan tindakan agresif secara tiba tanpa
alasan karena dikuasai oleh fantasinya sendiri.

2. Unsocialized delinquency, suatu sikap yang suka melawan kekuasaan seseorang, rasa
bermusuhan dan pendendam.
3. Pseudo social delinquency, remaja atau pemuda yang mempunyai loyalitas tinggi
terhadap kelompok atau gang sehingga sikapnya tampak patuh, setia dan kesetiakawanan
yang baik. Jika melakukan perilaku kenakalan bukan atas kesadaran diri sendiri yang baik
tetapi karena didasari anggapan bahwa ia harus melaksanakan sesuatu kewajiban
kelompok yang digariskan.
3. Penyebab
Penyebab kenakalan remaja dari berbagai sumber, antara lain :
a. Menurut Freedman :
1. Adanya kegoncangan sosial yang disebabkan oleh perubahan masyarakat ke arah
industri modern disertai adanya kemajuan teknologi.
2. Mobilitas yang semakin besar dan urbanisasi ke kota-kota besar sebagai pusat industri
tersebut.
b. Menurut Cloward dan Ohlin: (berdasarkan teori Merton)
Kenakalan remaja kemungkinan besar timbul bila beberapa kelompok dalam
masyarakat tidak mampu untuk mencapai tujuan-tujuan budayanya. Ketidak adilan dalam
kesempatan mencapai tujuan budaya tersebut, terutama berkisar pada pendapatan
finansial, mendorong anak-anak dari kelas bawahan untuk melakukan tindakan kriminal,
memasuki kelompok gang yang siap tempur atau menarik diri dari realitas yang pahit
dengan minum obat-obat narkotika.
c. Menurut Friedenberg
Kenakalan remaja sering dihubungkan dengan kegagalan sekolah. Anak-anak yang
berhasil sekolahnya, umumnya adalah anak-anak yang mampu membuat sekolahan
sebagai pusat dari kehidupan berkelompok seusia (peer group life) disamping
mendapatkan informasi dan pengetahuan.
d. Menurut Shaw dan McKay
Tentang teori keturunan budaya (cultural transmission).
Dari penelitian yang dilakukan pada beberapa kota dengan pendapatan ekonomi yang
rendah, selalu dihinggapi adanya kenakalan remaja, yang tidak tergantung pada kelompok
nasional yang sedang berkuasa didaerah tersebut. Misalnya yang berkuasa orang Italy atau
Polandia, dan lain-lain, timbulnya kenakalan remaja tetap sama besarnya.

e. Menurut Y.M Uttamo Thera, kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal
sebagian di antaranya adalah:
1. Pengaruh teman sepermainan : di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah
merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka
di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas.
Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat
bahkan mungkin pusat, ataupun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang,
pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan
juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai
teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu
sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan
kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya
hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai
modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi.
Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu
pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.
2. Pendidikan : memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas
orangtua kepada anak. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah
sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola
sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama yang telah diperoleh anak
di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang
benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Ketika anak telah berusia 17 tahun atau
18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi.
Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak
berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat
anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam
masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya
memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak
jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian
anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang
kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin
bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya,
bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu
pengguna obat-obat terlarang.
3. Penggunaan waktu luang : kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan
sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak
ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan
timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si
remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun,
jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali
perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk
mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian
lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan
sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah
salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa

lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena
dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya
apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi
oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja,
akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus.
Tersesat.
4. Uang saku : orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian
bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik
agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka
memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Ajarkan pula anak untuk mempunyai
kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan
watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan
semangat. Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun,
sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang
saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah yaitu: anak
menjadi boros, tidak menghargai uang, dan malas belajar, sebab mereka pikir tanpa
kepandaian pun uang gampang diperoleh.
5. Perilaku seksual : pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang
menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai
pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa
mempedulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal
masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang
membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk
mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat
berbeda dengan pengertian pacaran 15-20 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak
remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak
hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya
ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya
harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan
kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
4. Masalah-Masalah Yang Sering Dihadapi Remaja Masa Kini
Masalah-masalah yang sering dihadapi remaja masa kini antara lain :
a. Kebutuhan akan figur teladan : remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur
yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihatnasihat bagus yang hanya kata-kata indah.
b. Sikap apatis : sikap apatis merupakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada
saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di
dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi disekitarnya.
c. Kecemasan dan kurangnya harga diri : kata stress atau frustasi semakin umum dipakai
kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam

bentuk pelarian (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan
lainnya).
d. Ketidakmampuan untuk terlibat : kecenderungan untuk mengintelektualkan segala
sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara
emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat.
Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.
e. Perasaan tidak berdaya : perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena
teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi
mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertamatama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja
mencari jalan pintas, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi
mendapat nilai baik atau ijasah.
f. Pemujaan akan pengalaman : sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda
dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya
mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan
yagn keliru tentang pengalaman.
5. Aspek Hukum Remaja Delinkuen
Delinkuen ini dalam tataran fakta dibagi menjadi dua jenis; delinkuen sosial dan delinkuen
Individual, dipandang sosiologis apabila remaja memusuhi konteks kemasyarakatan.
Dimana para remaja tidak merasa bersalah apabila perbuatan yang dilakukannya tidak
merugikan kelompok atau dirinya meskipun menimbulkan keresahan pada masyarakat,
sedang dalam perspektif individual para remaja yang delinkuen memusuhi semua orang,
baik itu orang tua, PR atau gurunya.
Masyarakat akhirnya menghadapi masalah yang dilematik dalam menimbang dan
memutuskan satu perbuatan anak, apakah dikategorikan sebagai tindak kriminal atau
disimpulkan sebagai delinkuen. Tetapi untuk menentukannya faktor hukum pidana sebagai
hukum positif mutlak diperhatikan dan pendapat para pakar hukum anglo saxon yang
menentukan delinkuensi ditinjau dari hukum pidana dapat juga dijadikan acuan. Para ahli ini
memandang bahwa delinkuen adalah perbuatan dan tingkah laku yang merupakan
perbuatan perkosaan terhadap norma hukum pidana dan pelanggaraan terhadap normanorma kesusilaan yang dilakukan anak remaja, disamping itu mereka juga memandang
bahwa delinkuen ini dilakukan oleh offenders (pelaku kejahatan) yang terdiri dari anak
(berumur dibawah 21 tahun) yang termasuk yuridiksi pengadilan anak.
Dalam konteks keindonesiaan masalah delinkuen ini telah mendapat pegangan baku dalam
aspek yuridis formal. Dalam hukum pidana pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal,
tetapi pasal akarnya adalah pasal 45, 46, 47 KUHP, sedang dalam KUH Perdata masalah
ini diatur dalam pasal 302 dan semua pasal yang ditunjuk dan terkait. Seorang remaja yang
melakukan tindakan-tindakan yang dipandang kriminal oleh masyarakat umum, harus
berhadapan dengan pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya secara
hukum positif. Tugas seorang hakim menjadi amat mulia, karena dia harus teliti dan
seksama dalam memutuskan apakah seorang anak telah mampu membedakan secara

hukum akses dari perbuatannya. Apabila seorang hakim memandang bahwa seorang anak
telah mampu membedakan secara hukum, maka hakim memutuskan hukum pidana
kepadanya dengan pengurangan 1/3 hukuman pidana biasa atau alternatif lain anak
tersebut diserahkan kepada negara untuk di didik tanpa hukuman pidana apapun, tetapi
apabila anak tersebut dipandang oleh hakim belum mampu membedakan perbuatannya
secara hukum maka anak tersebut dikembalikan kepada orang tua atau wali untuk diasuh
tanpa hukuman pidana apapun (Drs. Sudarsono SH; kenakalan remaja, 1995)
Hukuman yang diberikan pada remaja ini dimaknai sesuai dengan tujuan hukuman yaitu
melindungi ketertiban umum sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran
hukum. Hukum yang dikenakan bukanlah satu pembalasan dendam, para perilaku
delliquen tetaplah manusia, yang satu atau lain hal menyebabkannya terperosok pada
lembah perilaku yang salah. Harapan dari hal ini lebih jauh akan menimbulkan kontramotif
yang merupakan satu pressing kepada jiwa.
Hak menghukum atau Yuspuniendi berada dalam tangan negara. Negara lewat tangan
pengadilan yang bersih adalah satu kekuatan yang mempunyai otoritas. Otoritas ini tidak
berhak dimiliki masyarakat, kelompok tertentu apalagi satu sosok individu, karena
sebagaimana kekhawatiran Howard B. kaplan dalam patterns of Juvenille delinquency
(1984), lingkungan sosial dalam merespon satu tindakan delinkuen ini kadangkala
didasarkan pada karakteristik sosial pelakunya, satu tindakan delinkuen dari satu ras atau
kelompok sosial tertentu akan lebih mudah dijatuhi hukuman yang keras dibandingkan
apabila perbuatan ini dilakukan oleh ras atau kelompok yang lain. Dalam konteks ini
perlakuan masyarakat terhadap perilaku delikuen bersifat diskriminatif sebagai olahan atas
interpretasi ketidak sukaan terhadap ras atau kelompok sosial tertentu.
Lebih jauh dalam perkembangan kekinian negara adalah pemegang kendali dalam
pemasyarakatan. Wacana multikulturalisme yang menawarkan kesetaraan dalam hak,
kewajiban dan hukum bagi setiap anggota masyarakat, dengan kata lain negara adalah
wadah yang mengakomodir dua hal yang menjadi pandangan krusial: kesetaraan dalam
perbedaan sehingga mampu menekan konflk sosial baik horizontal ataupun vertikal yang
terjadi dalam masyarakat. Apalagi dalam konteks keindonesiaan yang tingkat
heterogenitasnya sangat tinggi. Hal inilah yang membuat kekuasaan mutlak negara
memegang peranan penting sebagai penyeimbang atau faktor yang dapat berdiri netral.
(Neutral and Balancing Factors).
6. Upaya Pencegahan Dan Penanggulangan Peran Keluarga Bagi Remaja
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang primer dan bersifat fundamental.
Disitulah remaja dibesarkan, memperoleh penemuan-penemuan, belajar dan berkembang.
Bermodalkan pengalaman-pengalaman yang diperolehnya dalam keluarga inilah
bergantung kelangsungan hidupnya. Peran keluarga antara lain:
a. Keluarga sebagai pusat pendidikan : disini orang tua berperan dalam pembentukan
kepribadian remaja karena orang tua mendidik, mengasuh dan membimbing remajanya
untuk hidup di dalam masyarakat.

b. Keluarga sebagai pusat agama : dengan kesadaran beragama yang diperoleh remajaremaja dan bimbingan orang tua, remaja akan mengenal agama sehingga membuat
mereka untuk berbuat soleh dalam kehidupan.
c. Keluarga sebagai pusat ketenangan hidup : dalam mempertahankan hidupnya sering
orang mengalami gangguan pikiran, menemui frustasi dan untuk mendapatkan
kekuatannya kembali maka keluarga adalah pangkalan yang paling vital.
1. Tips Untuk Orangtua /Keluarga
Orang tua sebaiknya mempersiapkan diri untuk mengenal lebih jauh dalam membimbing
anaknya saat masa remaja :
a. Kenali mereka lebih dekat yaitu informasi mengenai remaja dan perubahan-perubahan
yang terjadi di dalam dirinya.
b. Kenali perubahan fisik pada remaja dan dampaknya terhadap diri anak.
c. Kenali perubahan emosi remaja dan caranya mencari perhatian orang tua serta reaksi
emosinya dalam menghadapi masalah.
d. Menciptakan hubungan komunikasi yang hangat, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang
positif, memberlakukan aturan dalam keluarga, menyikapi kesalahan anak, mengambil
hati anak dan mencuri perhatian anak.
e. Kenali perubahan lingkungan misalnya peran gender serta rasa keadilan antara pria dan
wanita; teman dan permasalahannya; naksir, ditaksir dan pacaran.
f. Masalah-masalah seksualitas, kelainan seksual dan pengaruh buruk yang ada di
masyarakat.
2. Peran Sekolah Bagi Remaja
a. Sekolah sebagai pusat pendidikan bagi siswa dalam rangka menimba pengetahuan,
keterampilan seni budaya, olahraga serta meningkatkan budipekerti yang luhur, untuk ini
diperlukan sarana dan prasarana yang memadai serta perlu diciptakan lingkungan yang
bersih, sehat, tertib serta aman agar dapat menunjang keberhasilan PBM karena itu guru
perlu dapat menciptakannya.
b. Lingkungan sekolah yang sehat dan dinamis. Guru adalah orangtua siswa di sekolah
karena itu perlu adanya sikap berdialog guru dengan siswa tentang berbagai hal khusus
tentang masalah belajar sehingga keberhasilan dalam belajar dapat tercapai
c. Motivasi belajar siswa timbul dari dirinya sendiri sehingga siswa dapat belajar dengan
tertib, patuh pada peraturan yang ada di sekolah dna tidak terpengaruh oleh hal hal yang
negatif

d. Program sekolah yang terpadu. Diberikan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler


secara terpadu. Melalui kegiatan pramuka, olahraga, kesenian, karya wisata, pencinta alam
dan sebagainya, dapat memberikan aktivitas yang sehat dan dinamis serta bekal untuk
masa depannya.
3. Peran Masyarakat Bagi Remaja
Usaha usaha untuk menciptakan lingkungan sehat dan dinamis dalam kehidupan di
masyarakat, kaum remaja dapat mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh
karang taruna, remaja masjid, KNPI atau oragnisasi pemuda lainnya. Bersama warga
masyarakat remaja juga aktif dalam melaksanakan bakti sosial sehingga diperoleh
pengalaman praktis yang positif dari kehidupan bermasyarakat. Hal ini untuk melatih fisik,
mental, aktivitas dan kreativitas remaja sehingga terbentuk pribadi yang militant dan
dinamis sebagai generasi penerus. Dalam organisasi remaja diharapkan dapat
berkomunikasi dengan teman temannya, membicarakan masalah masalah atau
kesulitan yang dialaminya dengan dibimbing oleh konsultan yang ada di dalam organisasi
tersebut.
7. Upaya Resosialisasi Pelaku Delinkuen
Terdapat tiga buah upaya resosialisasi remaja delinkuen:
1. Pendidikan
Adalah upaya untuk menjadikan seorang remaja memahami fungsinya sebagai bagian dari
lingkungan sosial, Pendidikan juga berfungsi menanamkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan
pada diri anak, disamping itu pendidikan mencoba untuk membentuk nilai-nilai remaja agar
sesuai dengan nilai-nilai orang dewasa dan mengembangkan keterampilan sosial dan
kecakapan sosial. Pendidik memegang peranan penting dalam menyukseskan misi ini,
pendidik dipandang sebagai dinamisator dan motivator perkembangan mental remaja, agar
sesuai dengan harapan masyarakatnya (The Ideal Society Hope) dengan melaksanakan
tugas-tugas perkembangan yang diamanatkan lingkungan sosial kepada para remaja.
Pendidik juga berperan dalam membangun sistem kepercayan, penghargaan dan
ketetapan yang terjadi dibawah sadar para remaja tentang tindakan yang benar dan yang
salah, untuk memastikan satu individu berusaha sesuai dengan harapan masyarakat, hal ini
sesuai yang dikatakan Philip G. Zimbardo dalam Psycology and Life ( 1985) tentang nilainilai moral (Morality).
2. Mengembangkan dinamika kelompok
Prof. Monk, Prof. Knoers dan DR. Sri Rahayu dalam Psikologi perkembangan (1982)
mengatakan masa remaja adalah fase perantara untuk anak dalam memasuki dunia nyata
dan menunaikan tugas sosial, mengutip perkataan Futler, yang meninjau dari sudut
pandang fenomenologis mereka mengutarakan bahwa masa tingkah laku moral yang
sesungguhnya baru akan timbul pada masa remaja sebagai periode masa muda yang
harus dihayati untuk dapat mencapai tingkah laku moral yang otonom, eksistensi muda
sebagai keseluruhan merupakan masalah moral yang dalam hal ini harus dilihat sebagai
hal yang bersangkutan dengan nilai-nilai. Erikson (1964) menambahkan bahwa identitas diri

yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam
masyarakat.
3. Keterampilan
Secara psikologis menurut piaget (1969) masa remaja adalah usia dimana anak tidak lagi
merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan
yang sama, sekurang-kurang nya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat
(dewasa) mempunyai banyak aspek efektif. Kurang lebih berhubungan dengan masa puber,
termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Tranformasi intelektual yang khas dari
cara berpikir remaja ini memungkinkan remaja untuk mencapai integrasi dalam hubungan
sosial orang dewasa.
PENUTUP
Para remaja pada dasarnya masih mempunyai rentang kehidupan yang jauh, masih ada
sisa-sisa zaman yang harus di isi oleh para remaja. kenakalan adalah tingkah laku yang
dianggap menyimpang dari norma-norma sosial masyarakat dan mengganggu ketentraman
masyarakat. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau
kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anakanak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
Jenis-jenis Deliquency: Delinkuensi individual, Delinkuensi situasional, Delinkuensi
sistematik, Social delinquency, Delinkuensi kumulatif dll.
Penyebab kenakalan remaja dari berbagai sumber, antara lain : Freedman, Cloward dan
Ohlin, Friedenberg, Shaw dan McKay, Y.M Uttamo Thera. Mereka memiliki penyebab yang
berbeda-berbeda.
Aspek hukum remaja delinkuen dalam konteks keindonesiaan masalah delinkuen ini telah
mendapat pegangan baku dalam aspek yuridis formal. Dalam hukum pidana
pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal, tetapi pasal akarnya adalah pasal 45, 46,
47 KUHP, sedang dalam KUH Perdata masalah ini diatur dalam pasal 302 dan semua pasal
yang ditunjuk dan terkait.
Upaya pencegahan dan penanggulangan peran keluarga bagi remaja. Peran keluarga
antara lain: Keluarga sebagai pusat pendidikan, Keluarga sebagai pusat agama, Keluarga
sebagai pusat ketenangan hidup. Disini juga tidak lupa melibatkan peran dari sekolah dan
masyarakat sehingga delikuency pada remaja bisa teratasi.
DAFTAR PUSTAKA
faktor-yang-mempengaruhi kenakalan remaja,2008, (http://adjibaroto.blogspot.com) diakses
pada Tgl 22 Juni 2009
Memahami Pelaku Deliquency , 2009, (http://Khumaidi Tohar, S.Pd.blogspot.com) diakses
pada Tgl 22 Juni 2009

Kenakalan remaja, 2009, (http://eka-punk.blogspot.com) diakses pada Tgl 22 juni 2009