Anda di halaman 1dari 19

GEOFISIKA TERAPAN

KAJIAN BIDANG LONGSORAN DENGAN MENGGUNAKAN


METODE GEOLISTRIK

OLEH :
Rizky Adhim P.
072 12 189

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
2016

1. Tanah Longsor
1.1. Pengertian
Tanah

longsor atau dalam bahasa Inggris disebut Landslide, adalah

perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau
material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya
tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah
akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air
yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan
di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Tanah longsor terjadi dikarenakan pergerakan tanah atau bebatuan dalam
jumlah besar secara tiba-tiba atau berangsur yang umumnya terjadi didaerah terjal
yang tidak stabil. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya bencana ini adalah
lereng yang gundul serta kondisi tanah dan bebatuan yang rapuh. Air hujan adalah
pemicu utama terjadinya tanah longsor. Ulah manusia pun bisa menjadi penyebab
tanah longsor seperti penambangan tanah, pasir dan batu yang tidak terkendalikan.
1.2. Jenis-jenis Tanah Longsor
Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan
blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran
translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang
paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
1. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
2. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.

3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
4. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain
bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang
terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh
dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
5. Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat
dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan
tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
6. Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air.
Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan
jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai
ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di
daerah aliran sungai di sekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban
cukup banyak.
1.3. Faktor Penyebab Longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih
besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan
dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut
kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. Ancaman tanah longsor

biasanya terjadi pada bulan November, karena meningkatnya intensitas curah hujan.
Musim kering yang panjang menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan
tanah dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan munculnya pori-pori atau
rongga-rongga dalam tanah, yang mengakibatkan terjadinya retakan dan rekahan
permukaan tanah.
Pada waktu turun hujan, air akan menyusup ke bagian tanah yang retak
sehingga dengan cepat tanah akan mengembang kembali. Pada awal musim hujan
dan intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi kandungan air pada tanah
menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat yang turun pada awal musim dapat
menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan
terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral.
Dengan adanya vegetasi di permukaannya akan mencegah terjadinya tanah
longsor, karena air akan diserap oleh tumbuhan dan akar tumbuhan juga akan
berfungsi mengikat tanah. Lereng atau tebing yang terjal terbentuk akan
memperbesar gaya pendorong. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor
adalah 180 derajat, apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.
1.4. Gerakan Tanah
Gerakan tanah adalah perpindahan masa tanah atau batuan yang bergerak dari
atas ke bawah disepanjang lereng atau keluar dari lereng. Jenis gerakan tanah dapat
dikelompokkan kedalam 5 jenis yaitu :
1. Jatuhan massa tanah dan atau batuan adalah perpindahan masa tanah dan atau
batuan ke ketinggian yang lebih rendah tanpa melalui bidang gelincir karena
pengaruh gaya tarik bumi.
2. Longsoran masa tanah atau batuan adalah perpindahan masa tanah dan atau batuan
melalui bidang gelincir yang pergerakannya dipengaruhi gaya tarik bumi
3. Aliran tanah adalah perpindahan campuran masa tanah dengan air yang bergerak
mengalir sesuai dengan arah kemiringan lereng

4. Amblesan adalah penurunan permukaan tanah secara tegak karena adanya


pengosongan rongga di dalam tanah akibat dari pemadatan normal tanah dan atau
batuan, pengambilan airtanah secara berlebihan. Larian air karena struktur geologi,
kebocoran atau retak bagian dasar, penggalian tanah atau batuan, dan bahan galian
logam.
5. Tanah mengembang adalah perubahan atau pergerakan masa tanah sebagai akibat
sifat-sifat tanah atau batuan itu sendiri yang mengembang apabila jenuh air dan
mengkerut apabila kering.
1.5. Gejala Umum tanah Longsor
Gejala umu yang sering terjadi bisa berupa : muncul retakan-retakan di lereng
yang sejajar dengan arah tebing, muncul mata air secara tiba-tiba ,air sumur di sekitar
lereng menjadi keruh, tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan
1.6. Wilayah-Wilayah yang Rawan Tanah Longsor
Wilayah yang rawan biasanya mempunyai ciri umum seperti : pernah terjadi
bencana tanah longsor di wilayah tersebut, berada pada daerah-daerah yang terjal dan
gundul, merupakan daerah-daerah aliran air hujan
1.7. Pencegahan Terjadinya Bencana Tanah Longsor
Pencegahan bencana tanah longsor bisa dengan cara, yaitu : tidak menebang
atau merusak hutan, melakukan penanaman tumbuh-tumbuhan berakar kuat, seperti
nimba, bambu, akar wangi, lamtoro dans ebagainya, pada lereng-lereng yang gandul,
membuat saluran air hujan, membangun saluran air hujan, membangun dinding
penan di lereng-lereng yang termal, memeriksa keadaan tanah secara berkala,
mengukur tingkat kederasan hujan.

2. Geofisika
2.1. Pengertian
Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi
menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga
meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika untuk
mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran di atas
permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di dalam
bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di
bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.
Bumi sebagai tempat tinggal manusia secara alami menyediakan sumber daya
alam yang berlimpah. Kekayaan sumber daya alam Indonesia sangat melimpah,
sehingga kita sebagai generasi penerus bangsa harus berupaya untuk dapat
memanfaatkan sumber daya yang ada tersebut untuk kesejahteraan bangsa.
Keterbatasan ilmu untuk mengolah sumberdaya alam tersebut memang menjadi
kendala bagi kita untukmelakukan eksplorasi terhadap kekayaan alam yang kita
miliki tersebut. Sehingga kita merasa perlu untuk mempelajari cara atau metode
untuk mengungkap suatu informasi yang terdapat di dalam perut bumi. Salah satu
cara atau metode untuk memperoleh informasi tersebut adalah dengan menggunakan
metode survei geofisika. Survei geofisika yang sering dilakukan selama ini antara
lain
1. Metode Geolistrik
2. Metode Seismik
3. Metode GPR
4. Metode Gravity
5. Metode Magnetik

3. Metode Geolistrik
Penggunaan geolistrik pertama kali dilakukan oleh Conrad Schlumberger
pada tahun 1912. Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika untuk
mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah
dengan cara mengalirkan arus listrik DC (Direct Current) yang mempunyai
tegangan tinggi ke dalam tanah. Injeksi arus listrik ini menggunakan 2 buah
Elektroda Arus A dan B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak tertentu.
Semakin panjang jarak elektroda AB akan menyebabkan aliran arus listrik bisa
menembus lapisan batuan lebih dalam.
Dengan adanya aliran arus listrik tersebut maka akan menimbulkan tegangan
listrik di dalam tanah. Tegangan listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur
dengan penggunakan multimeter yang terhubung melalui 2 buah Elektroda
Tegangan M dan N yang jaraknya lebih pendek dari pada jarak elektroda AB. Bila
posisi jarak elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik yang
terjadi pada elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis batuan yang
ikut terinjeksi arus listrik pada kedalaman yang lebih besar.
Dengan asumsi bahwa kedalaman lapisan batuan yang bisa ditembus oleh
arus listrik ini sama dengan separuh dari jarak AB yang biasa disebut AB/2 (bila
digunakan arus listrik DC murni), maka diperkirakan pengaruh dari injeksi aliran
arus listrik ini berbentuk setengah bola dengan jari-jari AB/2.

Cara Kerja Metode Geolistrik

Umumnya

metoda

geolistrik

yang

sering

digunakan

adalah

yang

menggunakan 4 buah elektroda yang terletak dalamsatu garis lurus serta simetris
terhadap titik tengah, yaitu 2 buah elektroda arus (AB) di bagian luar dan 2 buah
elektroda ntegangan (MN) di bagian dalam.
Kombinasi dari jarak AB/2, jarak MN/2, besarnya arus listrik yang dialirkan
serta tegangan listrik yang terjadi akan didapat suatu harga tahanan jenis semu
(Apparent Resistivity). Disebut tahanan jenis semu karena tahanan jenis yang
terhitung tersebut merupakan gabungan dari banyak lapisan batuan di bawah
permukaan yang dilalui arus listrik.
Bila satu set hasil pengukuran tahanan jenis semu dari jarak AB terpendek
sampai yang terpanjang tersebut digambarkan pada grafik logaritma ganda dengan
jarak AB/2 sebagai sumbu-X dan tahanan jenis semu sebagai sumbu Y, maka akan
didapat suatu bentuk kurva data geolistrik. Dari kurva data tersebut bisa dihitung dan
diduga sifat lapisan batuan di bawah permukaan.

Kegunaan Geolistrik
Mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan sampai kedalaman
sekitar 300 m sangat berguna untuk mengetahui kemungkinan adanya lapisan akifer
yaitu lapisan batuan yang merupakan lapisan pembawa air. Umumnya yang dicari
adalah confined aquifer yaitu lapisan akifer yang diapit oleh lapisan batuan kedap
air (misalnya lapisan lempung) pada bagian bawah dan bagian atas. Confined akifer
ini mempunyai recharge yang relatif jauh, sehingga ketersediaan air tanah di bawah
titik bor tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca setempat.
Geolistrik ini bisa untuk mendeteksi adanya lapisan tambang yang
mempunyai kontras resistivitas dengan lapisan batuan pada bagian atas dan
bawahnya. Bisa juga untuk mengetahui perkiraan kedalaman bedrock untuk fondasi
bangunan.
Metoda geolistrik juga bisa untuk menduga adanya panas bumi (geotermal) di
bawah permukaan. Hanya saja metoda ini merupakan salah satu metoda bantu dari
metoda geofisika yang lain untuk mengetahui secara pasti keberadaan sumber panas
bumi di bawah permukaan.
Konfigurasi
Metoda geolistrik terdiri dari beberapa konfigurasi, misalnya yang ke 4 buah
elektrodanya terletak dalam satu garis lurus dengan posisi elektroda AB dan MN
yang simetris terhadap titik pusat pada kedua sisi yaitu konfigurasi Wenner dan
Schlumberger. Setiap konfigurasi mempunyai metoda perhitungan tersendiri untuk
mengetahui nilai ketebalan dan tahanan jenis batuan di bawah permukaan. Metoda
geolistrik konfigurasi Schlumberger merupakan metoda favorit yang banyak
digunakan untuk mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan dengan
biaya survei yang relatif murah.
Umumnya lapisan batuan tidak mempunyai sifat homogen sempurna, seperti
yang dipersyaratkan pada pengukuran geolistrik. Untuk posisi lapisan batuan yang
terletak dekat dengan permukaan tanah akan sangat berpengaruh terhadap hasil
pengukuran tegangan dan ini akan membuat data geolistrik menjadi menyimpang

dari nilai sebenarnya. Yang dapat mempengaruhi homogenitas lapisan batuan adalah
fragmen batuan lain yang menyisip pada lapisan, faktor ketidakseragaman dari
pelapukan batuan induk, material yang terkandung pada jalan, genangan air
setempat, perpipaan dari bahan logam yang bisa menghantar arus listrik, pagar kawat
yang terhubung ke tanah dsbnya.
Spontaneous Potential yaitu tegangan listrik alami yang umumnya terdapat
pada lapisan batuan disebabkan oleh adanya larutan penghantar yang secara kimiawi
menimbulkan perbedaan tegangan pada mineral-mineral dari lapisan batuan yang
berbeda juga akan menyebabkan ketidak-homogenan lapisan batuan. Perbedaan
tegangan listrik ini umumnya relatif kecil, tetapi bila digunakan konfigurasi
Schlumberger dengan jarak elektroda AB yang panjang dan jarak MN yang relatif
pendek, maka ada kemungkinan tegangan listrik alami tersebut ikut menyumbang
pada hasil pengukuran tegangan listrik pada elektroda MN, sehingga data yang
terukur menjadi kurang benar.
Untuk mengatasi adanya tegangan listrik alami ini hendaknya sebelum
dilakukan pengaliran arus listrik, multimeter diset pada tegangan listrik alami
tersebut dan kedudukan awal dari multimeter dibuat menjadi nol. Dengan demikian
alat ukur multimeter akan menunjukkan tegangan listrik yang benar-benar
diakibatkan oleh pengiriman arus pada elektroda AB. Multimeter yang mempunyai
fasilitas seperti ini hanya terdapat pada multimeter dengan akurasi tinggi.
Konfigurasi Wenner

Konfigurasi Wenner

Keunggulan dari konfigurasi Wenner ini adalah ketelitian pembacaan tegangan pada
elektroda MN lebih baik dengan angka yang relatif besar karena elektroda MN yang
relatif dekat dengan elektroda AB. Disini bisa digunakan alat ukur multimeter
dengan impedansi yang relatif lebih kecil.

Sedangkan kelemahannya adalah tidak bisa mendeteksi homogenitas batuan di dekat


permukaan yang bisa berpengaruh terhadap hasil perhitungan. Data yang didapat dari
cara konfigurasi Wenner, sangat sulit untuk menghilangkan factor non homogenitas
batuan, sehingga hasil perhitungan menjadi kurang akurat.
Konfigurasi Schlumberger
Pada konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya, sehingga
jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan kepekaan alat
ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak MN hendaknya dirubah.
Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar dari 1/5 jarak AB.

Konfigurasi Schlumberger
Kelemahan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah pembacaan tegangan pada
elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB yang relatif jauh, sehingga
diperlukan alat ukur multimeter yang mempunyai karakteristik high impedance
dengan akurasi tinggi yaitu yang bisa mendisplay tegangan minimal 4 digit atau 2
digit di belakang koma. Atau dengan cara lain diperlukan peralatan pengirim arus
yang mempunyai tegangan listrik DC yang sangat tinggi.
Sedangkan keunggulan konfigurasi Schlumberger ini adalah kemampuan untuk
mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan, yaitu dengan
membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan jarak elektroda
MN/2.
Agar pembacaan tegangan pada elektroda MN bisa dipercaya, maka ketika jarak AB
relatif besar hendaknya jarak elektroda MN juga diperbesar. Pertimbangan perubahan
jarak elektroda MN terhadap jarak elektroda AB yaitu ketika pembacaan tegangan
listrik pada multimeter sudah demikian kecil, misalnya 1.0 milliVolt.

Umumnya perubahan jarak MN bisa dilakukan bila telah tercapai perbandingan


antara jarak MN berbanding jarak AB = 1 : 20. Perbandingan yang lebih kecil
misalnya 1 : 50 bisa dilakukan bila mempunyai alat utama pengirim arus yang
mempunyai keluaran tegangan listrik DC sangat besar, katakanlah 1000 Volt atau
lebih, sehingga beda tegangan yang terukur pada elektroda MN tidak lebih kecil dari
1.0 milliVolt.

Parameter yang diukur :


1.

Jarak antara stasiun dengan elektroda-elektroda (AB/2 dan MN/2)

2.

Arus (I)

3.

Beda Potensial ( V)
Parameter yang dihitung :

1.

Tahanan jenis (R)

2.

Faktor geometrik (K)

3.

Tahanan jenis semu ( )


Cara

intepretasi Schlumberger adalah

dengan

metode

penyamaan

kuva

(kurvamatching). Ada 3 (tiga) macam kurva yang perlu diperhatikan dalam


intepretasi Schlumberger dengan metode penyamaan kurva, yaitu :

Kurva Baku

Kurva Bantu, terdiri dari tipe H, A, K dan Q

Kurva Lapangan

Untuk mengetahui jenis kurva bantu yang akan dipakai, perlu diketahui bentuk
umum masing-masing kurva lapangannya.

Kurva bantu H, menunjukan harga minimum dan adanya variasi 3 lapisan


dengan 1 > 2 < 3.

Kurva bantu A, menunjukkan pertambahan harga dan variasi lapisan


dengan 1 < 2 < 3.

Kurva bantu, K menunjukan harga maksimum dan variasi lapisan dengan


1 < 2 > 3.

Kurva bantu Q, menunjukan penurunan harga yang seragam : 1 > 2 > 3

Kurva-Kurva Bantu Dalam Metode Penyamaan Kurva Schlumberger

Alat-alat yang digunakan : kertas kalkir/mika plastik, kertas double log, marker OHP.

Plot nilai AB/2 vs pada mika plastik diatas double log. AB/2 sebagai absis
dan sebagai ordinat.

Buat kurva lapangan dari titik-titik tersebut secara smooth (tidak selalu harus
melalui titik-titik tersebut, untuk itu perlu dilihat penyebaran titik-titiknya secara
keseluruhan).

Pilih kurva Bantu apa saja yang sesuai dengan setiap bentukan kurva
lapangan.

Letakkan kurva lapangan diatas kurva baku, cari nilai P 1 merupakan


kedudukan :

d1,1 (kedalaman terukur, tahanan jenis terukur)

d1 = kedalaman lapisan perama = sebagai absis

1 = tahanan jenis lapisan pertama = sebagai ordinat

Pindahlah kurva lapangan dan letakkan diatas tipe kurva Bantu pertama yang
telah ditentukan. Tarik garis putus-putus sesuai dengan harga 1/2 pada kurva Bantu
tersebut. Garis putus-putus sebagai kurva Bantu ini merupakan tempat kedudukan P2.

Kembalikan kurva lapangan diatas kurva baku, geser kurva lapangan


berikutnya sedemikian sehingga kurva baku pertama melalui pusat kurva baku.
Tentukan nilai 3/2serta plot titik P2. (catatan : posisi sumbu-sumbunya harus sejajar
dengan sumbu-sumbu pada kurva Bantu)

Dari P2 dapat ditentukan d2, 2

Titik pusat P3, koordinat d3, 3 dan nilai kurva Bantu selanjutnya dapat
dicari dengan jalan yang sama.
Koreksi Kedalaman
Untuk titik-titik pusat (Pn) yang terletak pada kurva bantu tipe H, tidak perlu
dikoreksi.
Titik P pada kurva Bantu tipe A, K dan Q perlu dikoreksi.
Titik P1 apapun kurvanya tidak perlu dikoreksi.

Contoh Kurva Bantu

Titik P1, tidak perlu dikoreksi


Titik P2, tidak perlu dikoreksi karena terletakpada kurva Bantu tipe H
Titik P3 dan P4, perlu dikoreks nilai d (kedalaman), karena terletak pada kurva Bantu
selain tipe H.
Cara Koreksi Kedalaman
Untuk titik P3 :
Letakkan/impitkan kembali mika plastik diatas kurva Bantu tipe A (dengan nilai
4/3 = 10) dengan pusat P2. baca nilai koreksi (sebagai n) tepat pada titik P 3 (nilai
absis dari kurva Bantu tersebut ditandai dengan garis putus-putus). Kemudian dapat
dicari ketebalan lapisan ke-3 dengan rumus :
H3 = n.d2
Sehingga kedalaman lapisan ke-3 dapat dihitung dengan rumus:
D 3 = h3 + d 2
Demikian juga untuk titik P4, dan seterusnya.
Jadi, dari hasil penyamaan kurva (curve matching) akan diperoleh data sebagai
berikut :
1.

Koordinat Pn = (dn, n)

2.

Kn = n+1/n

3.

Jenis Kurva Bantu

4.

Nilai Koreksi Kedalaman (n)


Setelah diperoleh nilai-nilai dan d, kemudian dibuat penampang tegaknya (berupa
kolom) sesuai harga d-nya (menggunakan skala). Selanjutnya dilakukan pendugaan
unt interpretasi litologi penyusun pada masing-masing lapisan berdasarkan nilai .
Penafsiran litologi ini akan semakin mendekati kebenaran apabila kita memiliki data
bawah permukaan seperti data dari sumur. Jika tidak ada sumur, maka kita sebaiknya
mengetahui geologi regional daerah penelitian tersebut atau data yang diperoleh dari
pengamatan geologi daerah sekitar (untuk mengetahui variasi litologi).
Tabel Nilai Resistivitas
Rock

Resitivitas

Common rocks
Topsoil

Common rocks
50100

Loose sand

5005000

Gravel

100600

Clay

1100

Weathered bedrock

1001000

Sandstone

2008000

Limestone

50010 000

Greenstone

500200 000

Gabbro

100500 000

Granite

200100 000

Basalt

200100 000

Graphitic schist

10500

Slates

500500 000

Quartzite

500800 000

Ore minerals
Pyrite (ores)

Ore mineral

Pyrrhotite
Chalcopyrite
Galena

0.01100
0.0010.01
0.0050.1

Sphalerite

0.001100

Magnetite

0.011 000 000

Cassiterite

0.011000

Hematite

0.00110 000
10001 000 000

Resistivities of common rocks and ore minerals (ohm-metres) Milsom After Palacky, 1987

KESIMPULAN
Penyelidikan gerakan tanah secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
beberapa metode, salah satunya adalah penyelidikan geofisika. Untuk kepentingan
gerakan tanah sering digunakan metode geolistrik, karena lebih mudah dan lebih
murah. Dengan geolistrik dapat diukur harga tahanan jenis dari lapisan batuan lokal
tertentu. Peranan geologist untuk menginterpretasikan hasil data geolistrik
berdasarkan ilmu geologi sehingga diketahui keterdapatan bidang longsor dari suatu
daerah tersebut. Keakuratan hasil interpretasi akan sangat dipengaruhi oleh kualitas
data, processing, dan kemampuan dalam interpretasi.

DAFTAR PUSTAKA

Broto, S. dan R.S. Afifah. 2008. Pengolahan Data Geolistrik Dengan Metode
Schlumberger. Teknik Vol. 20 No. 2, 2008: 120

Effendi, A.D. 2008. Identifikasi Kejadian Longsor dan Penentuan Faktor-Faktor


Utama Penyebabnya di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor.
Skripsi. Program Sarjana Kehutanan Universitas Pertanian Bogor.Bogor

Hardiyatmo, H.C. 2012. Tanah Longsor dan Erosi. UGM Press.Yogyakarta

Lihawa, Fitryane. 2014. Sebaran Aspek Keruangan Tipe Longsoran di DAS Alo
Provinsi Gorontalo. Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol. 21 No. 3,
November 2014: 277-285.

Sunarto, G., J. Sartohadi, D.S. Hadmoko, H.C. Hardiyatmo dan S.R. Giyarsi.
2004. Tingkat Bahaya Longsor di Kecamatan Samigaluh dan Daerah
sekitarnya, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Jurnal Degradasi Hutan dan Lahan, Desember 2004: 191192.

Syamsuddin. 2007. Penentuan Struktur Geologi Dangkal dengan Menggunakan


Metoda Geolistrik Tahan Jenis 2. Tesis. Program Pascasarjana Institut
Teknologi Bandung, Bandung.