Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan
sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat
yang dapat diragikan. Terdapat empat faktor utama yang berperan dalam proses
terjadinya karies, yaitu host, mikroorganisme, substrat, dan waktu (1).
Proses karies dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga disebut sebagai suatu
penyakit yang multifaktorial. Faktor-faktor tersebut bekerja bersama dan saling
mendukung satu sama lain. Salah satu faktor tersebut adalah derajat keasaman (pH)
saliva. Secara teori saliva dapat mempengaruhi proses terjadinya karies dalam
berbagai cara, antara lain aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada
permukaan gigi dan juga menaikkan tingkat pembersihan karbohidrat dari rongga
mulut. Saliva juga mampu melakukan aktivitas antibakterial karena mengandung
beberapa komponen yang antara lain adalah lisosim, sistem laktoperoksidaseisitiosianat, laktoferin, dan imunuglobulin ludah (1).
Menurut Luthfi, Sekitar 30% anak usia 1 sampai dengan 3 tahun pernah menderita
karies pada gigi sulung, dan 67% dari karies ini merupakan karies oklusal. Pada gigi
tetap 65% gigi molar pertama mengalami karies oklusal pada usia 12 tahun,
sedangkan pada anak sekolah dasar didaerah yang mendapat fluoridasi sistemik 90%

2
dari seluruh karies gigi molar pertama tetap merupakan karies pada daerah pit and
fissure (2).
Karies juga dapat menyebabkan berbagai hal, seperti gigi ngilu, abses, gangren
pulpa, penurunan kualitas hidup, sampai serangan jantung akibat infeksi lokal.
Namun, penyakit karies dapat dicegah dengan teknik pit and fissure sealant (2). Pit
and fissure sealant seperti yang dikenal sekarang ini merupakan cara pencegahan
yang efektif terhadap karies, sehingga daerah tersembunyi yang memungkinkan
timbulnya karies dapat dihilangkan. Manfaat fissure sealant antara lain adalah dapat
menutup daerah pit and fissure sehingga daerah ini tahan terhadap asam yang berasal
dari sisa makanan, menghilangkan tempat tumbuhnya mikroorganisme penyebab
karies dan daerah pit and fissure menjadi lebih bersih (3).
Material pit and fissure sealant terdiri dari berbagai macam bahan. Namun,
sealant yang paling popular sekarang adalah Glass Ionomer Cement yang sudah
menunjukkan hasil yang baik. Glass Ionomer Cement merupakan salah satu bahan
kedokteran gigi yang dapat digunakan sebagai bahan perekat, bahan pengisi untuk
restorasi gigi anterior maupun posterior, bahan pelapis kavitas, pit and fissure sealant,
bonding agent pada resin komposit, serta sebagai semen adhesive pada perawatan
orthodontik (4). Bahan Glass Ionomer Cement dapat berfungsi sebagai sealant yaitu
menghambat proses

karies. Glass Ionomer Cement melepaskan fluor yang

berpengaruh positif pada remineralisasi dari enamel atau dentin. Glass Ionomer
Cement juga menunjukkan resistesi terhadap karies sekunder. Perlekatan dari Glass

3
Ionomer Cement dengan jaringan keras gigi mempunyai kemampuan berikatan secara
kimia (5).
Sifat anti karies Glass Ionomer Cement diperoleh dari ikatan antara ion fluor
dalam semen dengan hidroksiapatit pada permukaan gigi yang membentuk senyawa
fluor apatit. Terbentuknya senyawa fluor apatit meningkatkan kandungan fluor pada
permukaan gigi dan menambah ketahanan permukaan gigi terhadap asam (5).
Kemampuan adaptasi dari material restoratif pada dinding kavitas dan sifat retentif
untuk menutup serta melindungi kavitas dari cairan mulut dan mikroorganisme terus
menerus dikembangkan. Hingga saat ini kebocoran tepi atau mickroleakage yang
terjadi pada tumpatan masih menjadi masalah utama dalam bidang kedokteran gigi
(6).
Kebocoran tepi atau mickroleakage adalah kebocoran mikro antara tepi restorasi
dengan permukaan gigi sehingga memungkinkan bakteri, saliva dan debris masuk ke
dalam fissure sehingga dapat menyebabkan karies sekunder (7).
Suatu bahan sealant yang terendam didalam cairan mulut, maka ada kemungkinan
bahan tersebut akan larut. Pada keadaaan semacam ini akan terjadi partikel-partikel
bahan sealant yang terlepas dari matriks bahan sealant. Kelarutan partikel-partikel ini
sebagian besar dipengaruhi oleh kontaminasi saliva. Cairan saliva terdiri dari 99,5%
air dan derajat keasaman (pH) saliva di dalam rongga mulut tidak pernah konstan atau
sering berubah-ubah. Cairan saliva menyebabkan ikatan kimia bahan sealant terputus
(8).

4
Glass Ionomer Cement melepaskan fluoride yang terkandung dalam matriks gel
polyacrylate. Secara umum tingkat pelepasan fluoride dari Glass Ionomer Cement
tidak konstan. Pelepasan fluoride dalam pH asam tidak seefektif dengan pelepasan
fluoride dalam pH normal. Karena dalam pH asam dapat memungkinkan merusak
dari sifat Glass Ionomer Cement. Menurut Burke et al (2006) tingkat pelepasan
fluoride ke dalam saliva buatan meningkat dengan pH berbeda, yaitu pH 4,3-7,0 (9).
Krishnamurthy et al (2012) juga menjelaskan bahwa pelepasan fluoride Glass
Ionomer Cement yang mengandung unsur kalsium, strontium dan aluminium
meningkat 7 kali lipat dalam kisaran pH 4 dibandingkan dengan pH 7 (10). Selain itu
pelepasan fluoride ini juga dapat meningkatkan perlawanan untuk proses
demineralisasi sehingga dapat mengurangi resiko karies sekunder (9). Dari uraian
diatas maka akan diteliti kebocoran tepi Glass Ionomer Cement tipe III sebagai bahan
fissure sealant yang direndam pada saliva buatan dengan pH 4 dan pH 7.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah
apakah ada perbedaan kebocoran tepi Glass Ionomer Cement tipe III sebagai bahan
fissure sealant yang direndam pada saliva buatan dengan pH 4 dan pH 7?

C. Tujuan Penelitian

5
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kebocoran
tepi Glass Ionomer Cement tipe III sebagai bahan fissure sealant yang direndam pada
saliva buatan dengan pH 4 dan pH 7.
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kebocoran tepi Glass
Ionomer Cement tipe III sebagai bahan fissure sealant yang direndam pada saliva
buatan dengan pH 4, untuk mengetahui kebocoran tepi Glass Ionomer Cement tipe III
sebagai bahan fissure sealant yang direndam pada saliva buatan dengan pH 7 dan
menganalisis perbedaan kebocoran tepi Glass Ionomer Cement tipe III sebagai bahan
fissure sealant yang direndam dalam saliva buatan dengan pH 4 dan pH 7.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi dokter
gigi tentang perbedaan kebocoran tepi Glass Ionomer Cement tipe III sebagai bahan
fissure sealant yang direndam pada saliva buatan dengan pH 4 dan pH 7 dan
memberikan masukan kepada pasien tentang bahan fissure sealant yang baik
digunakan serta tetap menjaga keadaan rongga mulutnya dalam keadaan pH normal.