Anda di halaman 1dari 23

Jika Suatu Saat Nanti Kau Jadi Ibu

Ust. Asep Sobari, Lc. April 5, 2016 2 Comments


Jadilah seperti Ummu Sufyan. Wanita yang tidak dikenal, tapi melahirkan tokoh
paling terkenal di masanya, yaitu Sufyan ats-Tsauri. Meski suami telah
mendahului ke alam baka, tapi Ummu Sufyan tetap tegar membesarkan anaknya.
Bukan untuk sekadar bisa mengeja dunia, tapi untuk menjadi seorang yang luar
biasa.
Sufyan kecil sudah mengerti arti berbakti. Meski cintanya pada ilmu begitu tinggi,
tapi dia tahu diri. Ibu yang bekerja hanya sebagai penenun dan menafkahi
beberapa anak tidak mungkin dibebani lagi.
Tapi di tengah kebimbangannya itulah sang ibu tampil bicara, Nak, tuntutlah
ilmu. Dengan alat tenun ini, ibu akan mencukupi semua kebutuhanmu (sa akfika
bi mighzaly).
Ummu Sufyan memang luar biasa. Tidak hanya menyemangati anaknya dan
bekerja. Perhatian dan nasihat-nasihat berharganya pun terus mengalir mengiringi
perjalanan anaknya menimba ilmu.
Di masa-masa tertentu, sang ibu mengevaluasi belajar Sufyan seraya berkata,
Nak, jika engkau telah mempelajari 10 masalah, maka berhentilah sejenak.
Rasakan olehmu, apakah pelajaranmu selama ini telah membuatmu semakin takut
kepada Allah, memberimu ketenangan, dan menjadikanmu tawadhu? Jika tidak,
berarti pelajaranmu itu tidak berguna, bahkan justru berbahaya.
Alhasil, jadilah seorang Sufyan ats-Tsauri yang dikatakan oleh Abdullah bin
Mubarak: Aku tidak menemukan orang di seluruh penjuru bumi ini yang lebih
alim dari Sufyan.
Sufyan yang selalu dikejar-kejar oleh penguasa untuk diangkat sebagai pejabat
tinggi negara. Tapi sekalinya dia menghadap Khalifah al-Mahdi, Sufyan malah
berkata: Wahai Amirul Muminin, jangan lagi memanggilku sampai aku sendiri
yang mau datang. Dan jangan pernah memberiku sesuatu sampai aku sendiri yang
minta padamu.
Pentingnya Belajar Sejarah (1/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. April 29, 2016 0 Comments


Belajar tentang sejarah Islam berarti belajar tentang sejarah yang akan
menyampaikan pada seluruh manusia tentang bagaimana manusia ini menjadi
makhluk yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Quran, Dan sungguh kami
telah muliakan anak cucu Adam (QS Al-Isra: 70)

Sekaligus, kita akan mengetahui cara manusia memuliakan manusia yang lain dan
menjadi makhluk yang akan memakmurkan bumi Allah, sebagaimana yang
diamanahkan kepadanya.
Peradaban Islam inilah peradaban yang penuh dengan keemasan. Peradaban yang
sangat panjang, lebih dari seribu tahun, tentu semuanya bermuara dari sejarah
manusia terbaik, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Sebelum kita memasuki sejarah Rasululllah shallallahu alaihi wasallam, tentu
akan sangat baik ketika kita mencoba untuk memahami, apa pentingnya belajar
sejarah? Karena di hari ini, kita hampir-hampir tidak menempatkan sejarah pada
bagian yang harus kita pelajari dalam kehidupan kita. Di mata kita, sejarah
menjadi sebuah pelajaran yang tidak menyenangkan. Sejarah menjadi pelajaran
yang hanya merupakan tumpukan angka-angka dan peristiwa yang membosankan.
Dan bahkan yang lebih buruk lagi, kita tidak merasa terlibat di dalam peristiwa
sejarah itu. Kita beralasan sejarah itu sudah sekian abad yang lalu, sedangkan kita
hidup di zaman yang menurut kita sangat berbeda dan dengan permasalahan
berbeda pula.
Untuk itulah kita kemudian harus mempelajari terlebih dahulu apa pentingnya
sejarah dan bagaimana cara kita belajar sejarah yang benar.
Sebelum kita mempelajari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam juga
pernyataan para ulama, mari kita buka Al-Quran kita. Perlu kita ketahui bahwa
Al-Quranul Karim terdiri dari lebih dari sepertiganya adalah kisah. Sebagaimana
yang telah disampaikan oleh para ulama Al-Quran.
Bayangkan, Al Quran sepertinganya adalah kisah dan itu sejarah sebelum AlQuran diturunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Apa hikmah
besar di balik itu?
Sepertiga kisah itulah yang telah membentuk Rasul dan para sahabat menjadi
orang yang dihadirkan Allah di muka bumi sebagai kuntum khairu ummah,
sebagai generasi terbaik yang pernah dihadirkan Allah di muka bumi. Ini berarti,
kisah memiliki peran yang sangat besar. Kisah inilah yang diturunkan Allah SWT
di setiap keadaan yang berbeda-beda.
Contohnya ialah saat Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sedang
mengalami masa yang sangat sulit, masa yang belum pernah dibayangkan dan
belum pernah dialami sebelumnya. Rasul telah berdakwah kurang lebih selama 4
tahun. Di akhir tahun 4 kenabian atau di awal tahun 5 kenabian, Rasulullah
Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat mulai mengalami
berbagai macam gangguan dakwah dari orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah

shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat mulai mengalami intimidasi, baik
kalimat-kalimat yang jelek, berbagai macam caci maki, gelar-gelar yang buruk,
sampai intimidasi fisik. Bahkan ada di antara para sahabat yang menjadi korban.
Mereka meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan, disiksa oleh
keluarganya sendiri, disiksa oleh majikannya, dan disiksa oleh masyarakatnya.
Maka kemudian yang menarik adalah Allah SWT tentu tidak membiarkan ini
semua. Allah turunkan Al-Quranul Karim, dan di antara yang turun pada masa
sulit itu adalah surat Al-Kahfi.
Kalau kita baca surat Al-Kahfi dari awal hingga akhir, maka kita akan menjumpai
ada empat kisah yang keempat-empatnya adalah kisah sebelum Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wasallam. Di sinilah nanti Nabi shallallahu alaihi
wasallam mengambil sebuah pelajaran besar dari sekian pelajaran besar lainnya.
Dan di antara pelajaran besar yang diambil oleh Nabi shallallahu alaihi
wasallam dari kisah-kisah dalam Al Kahfi adalah bahwa Nabi memerintahkan
kepada para sahabatnya yang sudah tidak kuat lagi untuk mempertahankan
imannya di kota Mekah agar mereka hijrah ke negeri Habasyah. Dalam kalimat
Nabi yang sangat terkenal, Hijrahlah kalian ke negeri Habasyah, di sana ada raja
yang tidak seorang pun didzalimi di negeri itu.
Maka dari sini kita akan belajar bahwa ternyata saat keadaan sedang sulit, ketika
Nabi shallallahu alaihi wasallam memerlukan solusi untuk ketenangan jiwanya
atau pun bagi permasalahan yang menimpa para sahabatnya, maka Allah turunkan
kisah. Maka sungguh sangat aneh kalau hari ini, kisah tidak mendapatkan tempat
yang cukup dalam kehidupan kita.
bersambung ke bagian 2
*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast Siroh Nabawiyah Ust. Budi
Ashari,
Lc.,
dengan
perubahan
redaksi.
Pentranskripsi:
Budi
Sulistyarini
Editor: Abdullah Ibnu Ahmad
Pentingnya Belajar Sejarah (2/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. April 29, 2016 0 Comments


Mari kita lihat kalimat cucu Nabi shallallahu alaihi wasallam, Hasan ibnu Ali
radhiyallahu anhu. Kata Hasan, Kami diajari perang-perang (sejarah) Nabi
shallallahu alaihi wasallam seperti kami diajari salah satu surat dalam AlQuran.

Jika Al-Quran merupakan panduan inti dan utama yang harus dipelajari oleh
seorang muslim, itu artinya sejarah hampir disejajarkan dengan Al-Quranul
Karim. Sayang sekali ketika hari ini kita menganggap sejarah adalah sebuah
pelajaran yang amat sangat membosankan. Bahkan kita tidak merasa berkeperluan
karena kita tidak terlibat dalam sejarah itu. Maka di awal inilah kita harus tahu
bagaimana dan apa pentingnya kita memasuki sejarah.
Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf mengawali kisah yang detil dan panjang
dan indah dari kisah Nabiyullah Yusuf alaihissalam.
Kami mengisahkan kepadamu wahai Muhammad kisah terbaik yang kami
wahyukan dari Al-Quran ini.
Kemudian surat Yusuf bertutur sangat panjang. Sarat makna. Penuh dengan
pelajaran yang berharga. Dan kemudian ditutup dengan ayat yang terakhir, ayat
111. Allah berfirman, Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi
orang-orang yang mau berfikir. Al-Quran ini bukan perkataan yang diada-ada,
tetapi ini untuk membenarkan, mengimani apa yang telah berlalu, untuk
menjelaskan dengan detil segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman.
Ketika Al-Quranul Karim sepertiganya adalah kisah, maka ini juga merupakan
fungsi kisah. Apalagi memang Allah juga bertutur dalam akhir surat Yusuf ini
tentang betapa pentingnya mengambil pelajaran dari kisah-kisah sejarah. Tapi
memang kisah sejarah ini, tidak mungkin bisa diambil hikmahnya kecuali oleh
ulil albab, sebagaimana yang disampaikan oleh ayat tersebut. Bagi orang-orang
yang tidak mau berfikir dan tidak mau menggunakan akalnya, kisah hanya
menjadi dongeng sebelum tidur. Dia tidak memiliki efek sama sekali bagi
kehidupannya. Padahal ketika kita meihat di dalam ayat ini, setidaknya kisah
memiliki beberapa fungsi besar.
Pertama, bahwa kisah menunjukkan keimanan. Kalau kita mengisahkan tentang
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, umpamanya ketika Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dalam peristiwa beliau dengan mukjizatnya
membelah bulan yang diabadikan dalam surat Al-Qamar. Ketika kita mengisahkan
kisah ini, dan kisah ini benar terjadi, maka kita telah mengimani apa yang telah
berlalu.
Kemudian, kisah juga berfungsi untuk menjelaskan segala sesuatu dengan detail.
Ini amat sangat menarik. Kisah adalah merupakan nasihat yang sangat lembut dan
nasihat yang sangat sopan. Kalau kita ingin memberikan nasihat kepada orang lain
dengan kalimat langsung bisa saja sebenarnya. Tapi mungkin tidak semua orang
bisa menerima nasihat kita. Umpamanya, kalau kita katakan kepada teman kita

yang boros atau mubadzir, Saya melihat anda mubadzir, anda boros. Dan boros
mubadzir itu sesuatu yang dilarang dalam Islam bahkan disebut di dalam AlQuran sebagai temannya setan.
Kita bisa saja menyampaikan itu, tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima
langsung nasihat yang seperti itu. Alangkah luar biasanya kalau kita mencoba cara
yang lain. Ceritakanlah sebuah kisah. Dia akan suka mendengarnya.
Sampaikanlah kisah yang ujung dari kisah itu adalah pelajaran agar orang tidak
boros dan tidak mubadzir. Maka kemudian nanti di ujungnya kita tinggal
mengatakan, ambillah pelajaran dari kisah ini untuk kehidupan kamu.
Ini pun menunjukkan bahwa sejarah bisa menjelaskan segala sesuatu. Apakah itu
akhlak, ibadah, sistem, aturan, atau perundangan. Apakah itu tentang masalah
sosial, keluarga, individu, bernegara, bacalah sejarah! Sejarah akan menjelaskan
dengan sangat detail segala sesuatu.
Wa huda wa rahmah, merupakan fungsi sejarah berikutnya, yaitu sebagai
petunjuk. Petunjuk itu ada cara agar kita mudah untuk memahaminya. Kalau kita
ingin pergi ke sebuah tempat kemudian kita memerlukan petunjuk, mungkin
dengan peta, mungkin hari ini dengan menggunakan GPS atau kemudian ada
tulisan-tulisan di sepanjang jalan. Plang-plang sepanjang jalan itu sebagai
petunjuk. Apa fungsinya? Fungsinya adalah agar kita mendapatkan petunjuk
menuju apa yang sedang kita tuju. Kalau tidak, tentu kita akan kebingungan untuk
mencari tempat yang kita tuju.
Maka begitulah sejarah. Sejarah akan menjadi petunjuk. Kalau Anda punya
masalah, kita punya masalah, maka mari bertanya pada sejarah, Apa solusinya?
Kalau kita sedang mencari inspirasi, maka mari kita bertanya pada sejarah. Kita
akan kaya dengan inspirasi. Dan pada akhirnya, sejarah disebut Allah sebagai
rahmat bagi orang-orang yang beriman. Rahmat artinya kasih sayang. Allah SWT
akan menunjukkan kasih sayangnya kepada kita dengan cara kita membaca
sejarah. Ketika kita membaca sejarah, kita akan menjumpai betapa hidup kita
masih sangat lebih baik dibandingkan banyak orang lain di belahan muka bumi
ini. Dengan demikian maka belajarlah sejarah. Bahwa ternyata sejarah memiliki
pelajaran yang sangat mahal.
Empat Sebutan Jahiliyah dalam Al-Quran

Ust. Budi Ashari, Lc. September 15, 2016 0 Comments


Setiap kita membaca sejarah Rasulullah shallallahu alaihi wassallam di dalam
buku-buku sejarah, maka akan selalu dimulai dengan pembahasan mengenai
keadaan saat Nabi shallallahu alaihi wasallam lahir. Keadaan ini kemudian

dikenal dengan sebutan jahiliyah. Kata jahiliyah bukanlah kata yang dibuat oleh
sejarah, tetapi kata yang langsung dicantumkan di dalam kitab suci Al-Quran.
Dan kita perlu membahas hal ini karena ada pelajaran mahal di baliknya.
Pelajaran pertama adalah agar kita tahu bahwa sejarah adalah sesuatu yang
sunatullah-nya selalu berulang. Maka kemudian, di zaman mana pun yang kosong
dari kenabian dan wahyu, zaman itu akan bergerak menuju lembah kejahiliyahan.
Seperti di zaman itu, ketika Rasul shallallahu alaihi wasallam belum lahir,
zaman itu disebut sebagai zaman fatrah minarusul (zaman kekosongan kerasulan).
Di zaman itu orang lupa, bahkan tidak tahu lagi ke mana arah kehidupannya.
Mereka melakukan apa saja yang mereka kira benar, padahal semakin hari
semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Taala. Maka zaman itu adalah zaman
yang jauh dari wahyu dan jauh dari Rasul sehingga kita sebut sebagai zaman
jahiliyah.
Untuk itulah kita akan tahu bahwa setiap pribadi, keluarga, masyarakat, negara,
hingga dunia ini, asal dia jauh dari panduan Al-Quran dan jauh dari petunjuk
Rasul shallallahu alaihi wasallam, pasti akan menjadi masyarakat jahiliyah.
Kemudian pelajaran yang juga sangat penting dan bahkan lebih penting lagi
adalah, setelah kita memandangnya sebagai cermin, maka kita akan belajar dan
sekaligus menjawab pertanyaan kita. Bagaimana cara menerangi kembali zaman
kita setelah kegelapan jahiliyah itu menyelimuti. Apa solusinya? Di sinilah nanti
kita akan mendapatkan pelajaran dari sejarah Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam. Bahwa inilah cara untuk menghilangkan kejahiliyahan itu. Untuk
mengembalikan cahaya Islam di bumi ini.
Para ulama banyak yang telah menulis dalam satu buku tersendiri tentang
pembahasan jahiliyah. Akan tetapi, saya ingin membahas dari apa yang telah
disampaikan oleh Al-Quran, untuk memudahkan pembahasan kita. Al-Quran
menyebut kata al-jahiliyah sebanyak empat kali. Dan ternyata, begitu kita baca
keempat-empatnya, kita akan menjumpai bahwa empat hal ini mewakili empat
segmen kehidupan jahiliyah.
Jahiliyah yang pertama ada di dalam surah Ali Imron ayat 154. Dalam ayat yang
cukup panjang itu, Allah Subhanahu wa Taala menyampaikan,


mereka berprasangka kepada Allah dengan tidak benar seperti prasangka
jahiliyah.

Ini artinya, poin yang pertama adalah jahiliyah dari sisi keyakinan. Jahiliyah dari
sisi akidah dan keimanan. Di masa dahulu banyak contohnya. Umpamanya dalam
pembahasan kemusyrikan. Dan mari kita perhatikan, jahiliyahnya Arab zaman itu
sama persis dengan jahiliyah Indonesia yang kita sebut hari ini sebagai kehidupan
modern. Akan tetapi, asal jauh dari Allah dan Rasul-Nya, konsep jahiliyah pasti
sama. Misalnya, Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam pernah menyampaikan
bahwa tidak ada keyakinan tentang sialnya bulan Safar. Ternyata sampai hari ini
masih ada, dan tidak sedikit yang meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan yang
tidak baik. Akhirnya banyak yang tidak mengadakan acara-acara besar di bulan
tersebut. Inilah keyakinan kemusyrikan jahiliyah yang telah dihapuskan oleh
Islam, dari sekian banyak contoh yang lainnya. Begitu pula dengan perdukunan.
Salah satu bukti masyarakat itu adalah masyarakat jahiliyah ialah saat perdukunan
marak. Masyarakat menjadikan dukun sumber dari segala ilmu mereka dan tempat
mereka bertanya dan berkonsultasi. Setiap ada masalah mereka datang ke dukun.
Maka ini membuktikan bahwa mereka sedang berada dalam kejahiliyahan akidah.
Yang kedua, al-jahiliyah dalam Al-Quran terdapat di dalam surah Al-Maidah ayat
50. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,


Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang
lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.
Jahiliyah yang kedua ini berarti tentang hukum. Hukum yang jahiliyah, peraturan,
dan perundangan yang jahiliyah. Semakin jauh dari Allah dan Rasul-Nya.
Mungkin kita menduga, kita sedang membuat hukum yang sangat bijak. Sebuah
hukum yang terlihat begitu bagusnya. Tapi yakinlah, ketika jauh dari Allah dan
Rasul-Nya, maka kita akan kecewa dengan dugaan kita. Karena ternyata itu
adalah hukum jahiliyah. Di kalangan masyarakat Arab dahulu umpamanya,
mereka memiliki aturan kabilah. Dan hukum-hukumnya mereka buat sendiri.
Misalnya dalam hukum pernikahan. Aisyah radhiyallahu anha menyampaikan
bahwa dahulu orang-orang Arab mengenal beberapa jenis pernikahan, yang
menurut mereka semuanya legal. Padahal menurut hukum syariat Islam hari ini,
yang legal cuma satu saja, yaitu proses pernikahan yang kita kenal hari ini.
Sisanya adalah perzinahan. Dan ternyata, hukum jahiliyah hari ini yang terkait
dengan pernikahan lebih buruk dari jahiliyah Arab saat itu. Di Arab saat itu tidak
ada pernikahan sejenis. Hari ini, mereka sudah menuntut untuk disahkannya
pernikahan sejenis. Bahkan di negara tertentu pernikahan sejenis sudah disahkan.
Ini hukum jahiliyah yang sangat buruk.
Yang ketiga, Allah Subhanahu wa Taala berfirman di dalam surah Al-Ahzab ayat
yang ke-33,



dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu
Ayat ini berbicara tentang ummahatul mukminin, yaitu tentang istri-istri Nabi
shallallahu alaihi wasallam.
Penampilan jahiliyah adalah bentuk jahiliyah yang ketiga. Ketika penampilan
mendapatkan porsi yang khusus dalam Al-Quran, maka ini artinya kerusakan
akibat yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Penampilan jahiliyah inilah yang
menyebabkan maraknya kemaksiatan. Bahkan hingga kemaksiatan zina. Maka
dari itu ia mendapatkan sebuah perhatian. Dan dalam Islam, penampilan
merupakan bukti iman seseorang. Sehingga di dalam Islam yang juga sangat
diperbaiki adalah masalah penampilan seseorang. Bagaimana cara laki-laki
berpenampilan dan bagaimana cara wanita berpenampilan.
Dan perhatikanlah hari ini! Semakin jauh dari Allah dan dari Rasul-Nya, semakin
orang bertelanjang. Dan bahkan mereka minta untuk dilegalkan. Mereka
menyebutnya ekspresi diri, ekspresi jiwa, atau mungkin ekspresi seni dalam
bahasa mereka. Tapi yang jelas adalah penampilan jahiliyah.
Dan yang terakhir adalah firman Allah Subhanahu wa Taala dalam surah Al-Fath
ayat yang ke-26. Allah berfirman,


Ketika Allah menjadikan orang-orang kafir di dalam hati mereka ada
kesombongan jahiliyah.
Di ayat ini ada kata hamiyah jahiliyah. Hamiyah adalah orang yang
mempertahankan dirinya dengan kesombongan dan dengan fanatisme. Dengan
fanatisme terhadap kelompoknya, sukunya, golongannya, negaranya, dan bukan
syariat Allah yang menjadi ukurannya. Di masyarakat Arab jahiliyah, mereka
bisa menumpahkan darah hanya gara-gara kalah di dalam perlombaan berkuda.
Ketika salah satu pihak yang kalah marah, dan diejek oleh yang menang dengan
kalimat-kalimat syair. Kemudian ujungnya terjadi pertumpahan darah di antara
mereka. Bukankah itu yang terjadi hari ini? Fanatisme pada kelompoknya, pada
golongannya. Orang bisa menumpahkan darah dan nyawa bisa melayang hanya
karena sebuah game. Atau yang lebih besar dari itu. Bagaimana seseorang tidak
bisa menerima apa yang disampaikan oleh orang lain karena hatinya telah tertutup
oleh fanatisme kelompoknya. Dan ini adalah hamiyatul jahiliyah, yaitu
kesombongan fanatisme jahiliyah.

Inilah yang melatarbelakangi keadaan zaman saat itu. Maka zaman saat itu
memerlukan kehadiran seorang Rasul yang memperbaiki keadaan mereka,
menghapuskan kejahiliyahan, menghadirkan cahaya bagi mereka, dan
menyelamatkan manusia untuk ditarik dari jurang kejahiliyahan. Untuk
dihantarkan menuju puncak keemasan manusia dan kemuliaan mereka. Sepanjang
jalan sejarah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kita akan tahu bagaimana
kejahiliyahan itu dihapuskan dari muka bumi ini.
Empat Fungsi Mempelajari Sejarah

Ust. Budi Ashari, Lc. September 17, 2016 1 Comment


Bacalah satu kisah di bawah ini dan rasakan betapa dahsyatnya sebuah kisah yang
masuk dalam relung jiwa kita. Dia bergerak, berfungsi, dan bekerja dalam diri
kita.
Di dalam kitab Siyar Alam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi menyampaikan kisah
pertemuan empat orang anak muda. Yang satu adalah putra Umar bin Khattab
radhiyallahu anhu, yaitu Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Adapun yang
tiga sisanya adalah putra-putra dari sahabat mulia, Zubair bin Awwam
radhiyallahu anhu. Yang pertama adalah Abdullah bin Zubair, yang kedua adalah
Urwah bin Zubair, dan yang ketiga adalah Mushab bin Zubair radhiyallahu
anhum.
Keempat anak muda ini berkumpul di Hijr Ismail. Kita tahu Hijr Ismail adalah
setengah lingkaran yang ada di Kabah yang hari ini bisa kita lihat. Mereka
berkumpul di dalam Hijr Ismail. Kemudian mereka duduk bersama membuka
sebuah majelis yang sangat unik karena mereka membuka dengan kalimat mereka,
mari kita jadikan majelis atau pertemuan ini sebagai pertemuan berharap,
pertemuan bercita-cita, majelis cita-cita.
Maka kemudian dimulailah majelis itu oleh kalimatnya Abdullah bin Zubair
radhiyallahu anhu.
Kalimat yang diucapkan Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu sederhana. Dia
mengatakan, Saya ingin kekhilafahan. Masya Allah, seorang anak muda
berfikir dia ingin mendapatkan kekhilafahan dan dia ingin menjadi khalifahnya.
Sebuah cita-cita.
Kemudian disusul berikutnya oleh Urwah bin Zubair radhiyallahu anhu. Ia
berkata, Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu. Menjadi
ulama. Menjadi ilmuwan besar. Inilah keinginan Urwah bin Zubair radhiyallahu
anhu.

Disusul berikutnya oleh Musab bin Zubair radhiyallahu anhu. Mushab berkata,
Saya ingin menjadi amir Iraq (pemimpin di Iraq) dan menikah dengan Aisyah
binti Thalhah dan Sukainah binti Husein. Aisyah dan Sukainah ialah dua wanita
yang sangat cerdas dan dua wanita yang sangat cantik di zamannya. Disebut
sekaligus dua nama itu, dan dia berminat untuk menikahi keduanya. Anak muda
bercita-cita menjadi seorang pemimpin Iraq dan menikahi dua wanita sangat
cerdas dan cantik di zamannya. Dan kedua-duanya adalah putri dari sahabat Nabi
shallallahu alaihi wasallam.
Kemudian yang terakhir adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Ia
berkata, Aku ingin Allah mengampuni aku.
Dan Subhanallah, Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita yang tulus mereka
sampaikan ternyata Allah sampaikan pada takdirnya.
Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu benar-benar menjadi khalifah selama
kurang lebih 9 tahun.
Urwah bin Zubair radhiyallahu anhu benar-benar menjadi ulama besar. Salah
seorang ulama besar di kota Madinah. Banyak sekali sanad hadits dari Urwah bin
Zubair radhiyallahu anhu yang diambil dari Aisyah radhiyallahu anha. Tidak
aneh jika kemudian Urwah menjadi seorang ulama besar di zamannya.
Dan yang berikutnya adalah Musab bin Zubair radhiyallahu anhu. Ia benar-benar
menjadi seorang pemimpin di negeri Iraq dan benar-benar bisa menikahi dua
wanita yang disebutkannya.
Yang tidak bisa kita lihat adalah jawaban dari harapan dan cita-cita Abdullah bin
Umar radhiyallahu anhuma. Akan tetapi, Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
mengatakan, Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar
radhiyallahu anhu sebagaimana yang dia inginkan di dalam majelis itu.
Ini baru satu kisah. Apa rasanya begitu kisah ini kita baca? Bukankah di sana
sangat banyak pelajaran mahal yang bisa kita ambil?
Umpamanya pelajaran tentang jangan pernah khawatir untuk bercita-cita. Bercitacita itu boleh bagi semua orang. Bedakan orang yang bercita-cita dengan
seseorang yang sedang bermimpi dan berkhayal. Orang yang bercita-cita boleh
menggantung setinggi langit, tapi bedanya dengan orang-orang yang berkhayal
adalah ketika orang yang bercita-cita itu melaksanakan, mencoba untuk berupaya
maksimal dalam mencapai apa yang diinginkannya itu. Adapun orang-orang yang
berkhayal, dia hanya di tempat tidurnya. Dia tidak kemana-mana. Tidak bergerak
sama sekali, tapi setinggi langit dia menginginkannya. Dan begitulah manusia. Ia

hanya ditugasi untuk bercita-cita, kemudian ia berusaha semaksimal mungkin


dalam upayanya menjadi hamba Allah Subhanahu wa Taala yang mulia, yang
baik, dan yang berilmu. Biarkanlah nanti sebagaimana yang disampaikan oleh
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Bekerjalah kalian! Berusahalah kalian!
Setiap kalian akan dimudahkan menuju takdirnya masing-masing.
Untuk itulah kemudian sejarah memiliki fungsi-fungsi lainnya. Setidaknya ada
empat fungsi yang dapat kita ambil dari mempelajari sejarah.
Fungsi yang pertama adalah sebagai Motivasi.
Kisah yang tadi kita baca, jika kita renungi, adalah kisah yang menjadi motivasi
bagi kita semua. Bukankah kita menjadi termotivasi? Bahwa siapa pun punya
kesempatan. Siapalah Abdullah bin Zubair, sehingga kemudian dia bercita-cita
ingin menjadi seorang khalifah? Dia bukan dari keluarga istana, walaupun benar
bahwa dia keluarga dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mulia.
Dan setiap orang boleh bercita-cita. Setinggi apapun itu. Sejarah memiliki
kekuatan motivasi. Bacalah sejarah, ia akan mendorong kepada kita untuk kita
melakukan sesuatu. Dan sejarah adalah sang motivator yang sangat hebat.
Kedua, sejarah memiliki kekuatan Solusi. Sepanjang nanti kita mempelajari
sejarah Islam, kita akan mendapatkan solusi-solusi. Sangat detail sejarah
memberikan kita pelajaran solusi dari segala permasalahan yang kita hadapi.
Permasalahan pribadi, permasalahan keluarga, permasalahan aktivitas kita,
permasalahan negeri ini, bahkan permasalahan bumi ini. Sejarah akan
memberikan kepada kita solusinya.
Ketiga, sejarah juga memberikan kekuatan Inspirasi. Kita akan sangat kaya
dengan inspirasi. Hal-hal yang sangat baru. Dan justru kita akan maju beberapa
langkah ke depan dibandingkan dengan orang-orang yang lain. Kita akan
memiliki berbagai macam gagasan dan ide yang baru. Karena memang sejarah
akan mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Dan
bukan hanya masa lalu, bahkan lebih hebatnya lagi, Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam pun menyampaikan dalam hadits-hadits beliau yang disebut dengan annubuwat. An-nubuwat adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang
berbicara tentang masa depan. Ini bukan ramalan juga bukan prediksi. Akan tetapi
ini adalah sebuah kepastian karena disampaikan dari wahyu oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam.
Dan fungsi sejarah yang keempat adalah kekuatan Prediksi. Kita bisa
memprediksi banyak hal. Bahkan sebagiannya bukan prediksi, sebagiannya adalah
nubuwat yang merupakan sebuah kepastian masa depan. Ketika
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan kepada para sahabat

bahwa muslimin akan menaklukkan Persia, Romawi, dan Mesir, semua itu belum
terlaksana saat Rasul masih hidup, atau bahkan saat Rasul sudah wafat. Tetapi
semua itu berhasil ditaklukkan di zaman kekhilafahan Umar bin Khattab
radhiyallahu anhu. Sebuah kepastian.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa muslimin
akan membuka Konstantinopel, hal ini baru terjadi lebih dari 8 abad setelah sabda
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diucapkan. Konstantinopel ditaklukkan
oleh Muhammad Al-Fatih. Dan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
menyampaikan dalam hadits yang sama bahwa muslimin akan mengantarkan
hidayah hingga ke Roma (membuka Roma sebagaimana membuka
Konstantinopel), maka ini pasti akan terjadi. Hanya saja, sampai hari ini Roma
belum kunjung mendapatkan hidayah-Nya. Dan yang sedang kita bicarakan bukan
hanya masalah prediksi, tapi sebuah kepastian.
Sejarah juga memberikan kekuatan prediksi. Karena ia adalah suatu sunatullah
yang berulang. Kalau kita berbicara tentang masalah pembersihan Palestina dari
tangan-tangan zionis, maka kita akan tahu bahwa para ulama hari ini mencoba
memprediksi dengan sebuah prediksi yang sangat berani. Ketika terjadi perang
besar dan zionis menjatuhkan berton-ton bom mereka di Gaza tahun 2009,
muncullah sebuah keyakinan dari para ilmuwan di negeri jihad tersebut.
Keyakinan bahwa anak-anak yang terlahir di saat bom-bom itu dijatuhkan (lebih
kurang terlahir 3000 anak), adalah anak-anak yang Insya Allah dalam rentang 15
20 tahun ke depan akan membebaskan Palestina dari zionis.
Dari mana analisanya? Mengapa prediksi itu bisa keluar?
Jawabannya, karena mereka mencoba berkaca dari sejarah Shalahuddin Al-Ayubi,
orang yang sangat ditakuti dalam sejarah zionis. Hari ini zionis sangat takut
dengan nama Shalahuddin Al-Ayubi karena nama inilah yang telah berhasil
membersihkan Palestina dari tangan-tangan salib. Dan Shalahuddin adalah
generasi ketiga sejak orang-orang salib menguasai Palestina.
Sebagaimana anak-anak yang terlahir di Gaza tahun 2009 itu adalah generasi
ketiga dari para mujahid yang mencoba membebaskan Palestina, maka kemudian
para ilmuwan hari ini mencoba untuk memprediksi. Jikalau sejarah Shalahuddin
terulang, maka generasi ketiga inilah yang akan membebaskan Palestina dengan
izin Allah. Begitulah kuatnya sejarah. Maka, mari kita mempelajarinya. Mudahmudahan kita mendapatkan satu, dua, tiga, atau bahkan keempat kekuatan sejarah
tersebut. Kekuatan motivasi, solusi, inspirasi, dan prediksi.
Tiga Belas Tahun Pondasi Makkah (1/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. September 27, 2016 0 Comments


Adakah pelajaran yang dapat kita ambil dari pembahasan usia Nabi
Salallahualaihi Wassalam pada usia kenabian? Mari membahas usia karya. Usia
tugas. Bila kita melihat di awal tentang angka ini, ternyata Rasulullah disiapkan
oleh Allah untuk menjadi seorang calon Rasul selama 40 tahun. Kemudian beliau
bertugas selama 23 tahun lamanya. Itu artinya ada pelajaran yang mahal, bahwa
ternyata usia persiapan calon Rasul lebih lama daripada masa tugasnya. Maka
orang-orang besar atau orang yang ingin menjadi besar berikut keluarganya, harus
bersabar di masa persiapan.
Bersabarlah. Lipatgandakanlah kesabaran. Selama apapun persiapan itu, jika
disiapkan dengan baik, maka insya Allah kita akan memetik hasilnya di kemudian
hari.
Ketika Allah Subhanahu Wataala berfirman dalam Surat Thoha, Perintahkan
keluargamu untuk sholat dan bersabarlah pada hal itu. Allah menggunakan huruf
tho yang tidak lazim pada kata washbir. Karena seharusnya dalam bahasa
Arab, kata bersabarlah cukup dengan kata washbir sebagaimana dalam ayatayat yang lain. Tetapi di ayat ini Allah menyisipkan huruf tho, wasthobir. Para
ulama bahasa mengatakan bahwa tidaklah ada tambahan sebuah huruf kecuali
akan berubah maknanya. Setiap bertambah satu huruf dalam satu kata maka akan
bertambah pula maknanya. Maka dari itulah kata wasthobir salah satu makna
utama yang besar adalah bahwa dia tidak boleh dengan sabar yang biasa, tapi
sabar yang berlipatganda.
Ketika kita menjaga sholat keluarga, menjaga sholat generasi kita, maka harus
dengan penuh kesabaran. Bayangkan kalau kita harus menjaga mereka sampai
mereka siap di usia baligh. Umpamanya anak baligh di usia 12 tahun, kemudian
mereka mulai sholat usia 5 tahun atau 7 tahun. Maka kita memerlukan waktu
bertahun-tahun yang dalam sehari wajibnya ada 5 kali. Maka tinggal dikalikan.
Betapa kita memerlukan kesabaran berlipatganda. Tidak masalah kalau ini adalah
bagian dari persiapan itu. Mudah-mudahan kelak kita memetik hasilnya.
Rasulullah diberikan Allah Subhanahu Wataala tugas selama 23 tahun menjadi
Rasul. 23 tahun itu kita bagi menjadi 2. Pertama, marhalah Makiyyah. Kedua,
marhalah Madaniyyah. Ada fase Mekah dan fase Madinah. Fase Mekah selama
kurang lebih 13 tahun. Fase Madinah kurang lebih selama 10 tahun. Ini adalah 2
fase perjuangan Nabi Salallahualaihi Wassalam. Ini adalah 2 kota yang pertama
memancarkan cahaya iman setelah bumi diselimuti oleh kejahiliyahan. Kota Hijaz
namanya, yaitu Mekah dan Madinah.

Mari lihat petanya, sebuah view yang besar sebelum kita dalami dengan detail
satu pe satu siroh Nabawiyah tentang perjuangan Nabi. Karena ternyata
perjuangan itu ada strateginya, ada urutannya. Tidak cukup hanya dengan
semangat tapi juga harus ada ilmunya.
Mari kita bandingkan isi Al-Quran antara ayat-ayat Makiyyah dan ayat-ayat
Madaniyyah. Perhatikan perbedaan-perbedaannya. Para ulama telah memberikan
kajiannya pada kita setelah mereka teliti. Dan itulah konsep, urutan, cara
mendidik. Itulah pendidikan Islam yang sesungguhnya. Maka mari kita lihat
beberapa poin penting.
Dalam fase Mekah salah satu ciri ayat-ayat Makiyyah adalah cenderung pendek
tetapi suratnya banyak. Maka berbeda dengan surat Madaniyyah yang suratnya
cenderung panjang tetapi jumlah ayatnya tidak terlalu banyak. Begitulah kita
mengawali pembelajaran dari siapa pun. Bermula dari yang pendek namun sering.
Ketika sudah siap, kemudian bisa menerima materi ayat atau kajian yang panjang.
Namun itu berarti semua memerlukan latihan dan proses. Bagaimana bisa orang
berharap bisa segera hebat tanpa harus melalui sebuah latihan?
Hal lain yang menarik di antara yang ada dalam ayat-ayat Makiyyah adalah
bahwa ayat tersebut dipenuhi dengan kisah. Tapi tidak dengan ayat-ayat
Madaniyyah. Karena ayat-ayat Makiyyah adalah ayat yang membangun pondasi
akidah, akhlaq, dan dipenuhi dengan kisah yang sangat banyak.
Berarti, kisah adalah merupakan konsep yang sangat mahal, dan Islam tidak suka
dengan dongeng. Islam yang diinginkan Allah dan Rasul adalah kisah bukan
dongeng. Bukan kisah fiktif tetapi sejarah. Maka berkisah adalah merupakan salah
satu konsep pendidikan Islam. Alangkah ruginya ketika hari ini di kurikulum kita
terutama di usia anak-anak, di usia awal mereka membangun pondasi, tidak ada
kurikulum sejarah Islam. Tidak ada kurikulum yang membangun konsep diri
mereka. Yang membangun akidah dan akhlaq mereka. Atau kalaupun ada tentang
kurikulum kisah, ternyata kisah fiktif. Atau hanya merupakan cerita dongeng
negeri-negeri, wilayah-willayah yang tidak jelas kebenarannya, tidak valid
darimana sumbernya. Sangat disayangkan. Padahal kisah merupakan konsep yang
sangat mahal, yang dengan itulah dulu Rasul dan para Sahabat mendidik
generasinya.
Dan ini ada di fase Makiyyah. Dan mengapa dengan berkisah? Karena berkisah
merupakan sesuatu yang sangat disukai orang. Tidak ada di antara kita yang tidak
suka dengan kisah. Kita bisa duduk berlama-lama dengan kisah tapi mungkin kita
tidak bisa duduk berlama-lama dengan membicarakan tentang hukum. Tidak
semua orang suka tentang itu. Maka dari itulah pembahasan tentang hukum,
pembahasan tentang beban syariat, itu nanti di kota Madinah.

Pantas saja kalau kita punya generasi yang terus dijejali dengan kewajiban beban,
umpamanya kewajiban sholat, berbakti pada orangtua, membaca Al-Quran,
silaturahim, shodaqah, dan semua hal mulia. Tapi kalau tanpa pondasi maka itu
hanya menjadi beban bagi mereka. Jika tanpa pondasi yang kuat maka mereka
akan ambruk. Saat ambruk itulah kita akan terkejut. Kita akan berkata, saya
sudah mendidiknya dari kecil, mengapa di saat usia besar ternyata mereka
berubah? Karena kita tidak menyiapkan pondasinya. Sehingga ketika beban
semakin berat maka ambruklah bangunan Islam generasi kita.
Jadi, konsep Mekah adalah konsep yang tidak sederhana. Sesuatu yang harus kita
lalui dengan baik. Karena dengan itulah kita bisa membangun pondasi, yang kalau
kokoh pondasinya maka silahkan memberikan beban setinggi apapun. Bisa
membangun gedung sehebat apapun. Bukan hanya gedung tinggi bahkan
bangunan yang sampai melewati awan di atas sana. Syaratnya, pondasi yang
cukup, kokoh, dan layak.
Itulah yang dicontohkan generasi Islam di zaman Rasulullah dan para Sahabat. Di
masa dan generasi mereka, pondasi merupakan sebuah keharusan agar mereka
semuanya kelak bisa membawa beban risalah Islam ini dengan penuh kenikmatan.
Tiga Belas Tahun Pondasi Makkah (2/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. September 29, 2016 2 Comments


Fase Mekah juga dikenal dengan fase yang banyak berbicara tentang masalah
akhirat. Tentang surga neraka, tentang masalah hari kebangkitan, yaumul hisab,
dan seterusnya. Hal ini yang harus banyak dibicarakan di mereka, di usia-usia
awal atau pada mereka yang baru belajar Islam. Sedangkan pembicaraan tentang
hukum muamalah, beberapa hukum ibadah, bahkan hukum yang terlihat
menakutkan-huduud-(yaitu hukuman dalam Islam) apapun bentuknya: cambuk,
potong tangan, penggal kepala, diasingkan, dibuang, dan seterusnya, hukumanhukuman itu baru dibahas nanti di Madinah ketika memang muslimin telah siap.
Maka kalau ada anak kita, atau ada orang yang baru belajar Islam, lalu tiba-tiba
diajak berbicara tentang khilafiyah hukum, ini bukan merupakan cara yang bijak
untuk belajar mendalami Islam. Karena khawatir mereka akan merasakan betapa
tidak nyamannya Islam, betapa tidak nikmatnya Islam. Padahal Islam ini sangat
nikmat. Islam ini adalah anugerah. Islam adalah sebuah kenikmatan. Ini baru bisa
dirasakan bagi mereka yang memang memiliki pondasi yang cukup seperti Nabi
yang diberi Allah ayat-ayat Al-Quran di fase Mekah.
Fase Mekah juga dikenal fase yang banyak berbicara tentang sekitar kita. Ini
(hampir) tidak ada di Madinah. Fase Mekah banyak bicara tentang alam sekitar.

Tentang matahari, bulan, langit, bumi dan yang ada di bumi, gunung, sungai, air,
tumbuhan, binatang, dan seterusnya. Karena kita akan lebih mudah belajar ketika
mengamati sekeliling kita. Karena itu terlihat betul (nyata) di sekeliling kita. Kita
diminta untuk membahas tentang alam dan yang lainnya di sekitar kita. Lagi, ini
kesalahan kurikulum kita hari ini. Anak-anak belajar IPA, biologi, geologi,
astronomi, atau yang lainnya tapi sayangnya hanya berbicara tentang proses alam
itu. Seakan kita tidak punya Allah.
Mana kurikulum Islam? Mana pendidikan Islam yang katanya menerapkan konsep
Islam? Lihatlah Al-Quran, kita lihat ayat dalam Surat Qaaf.
Dan
kami
turunkan
dari
langit
air
yang
Bicara tentang hujan, air yang diberkahi dari langit adalah hujan.

diberkahi.

yang dengannnya Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen.


Ayat ini bicara tentang masalah hujan dan fungsinya.
Masih bicara fungsi, tapi Allah mulai memberikan dengan sentuhan khusus, agar
kita juga belajar lebih dalam yaitu tentang masalah an-nakhl, yaitu tentang
pohon kurma. Ada apa dengan pohon kurma? Maka seharusnya ilmuwan Muslim
hadir untuk melakukan penelitiannya. Pohon-pohon kurma yang mayangmayangnya terlihat. Ini adalah fungsi bagaimana secara khusus Allah bicara
tentang pohon kurma.

sebagai
rizqi
bagi
hamba
Ada sentuhan lain. Bicara tentang hujan, kemudian menumbuhkan, Allah berikan
sentuhan ini rizqi bagi hamba. Semestinya rasa syukur hadir di hati kita kita
kepada Allah Subhanahu Wataala. Betapa tidak ada yang bisa menurunkan hujan
kecuali Allah. Dan ternyata Allah memberikan itu sebagai rizqi bagi kita
semuanya.
Dan
kami
hidupkan
Dan ini lagi-lagi tentang rizqi bagi kita.

negeri

setelah

matinya.

begitulah nanti hari kebangkitan, hari semua dikeluarkan dari kuburnya


masing-masing.
Ada poin berikutnya, ini poin mahal. Setelah kita belajar hujan dan fungsinya, dan
kita bersyukur, tiba-tiba ayat melompat, menyadarkan kita bahwa proses hujan
yang menumbuhkan adalah proses yang sama dengan proses kebangkitan nanti.
Bayangkanlah ketika bicara hujan langsung bersambung dengan iman pada hari
akhir.

Di mana kurikulum pendidikan? Di mana konsep parenting hari ini yang


menghadirkan konsep bicara tentang sekitar tapi dengan gaya seperti Al-Quran?
Maka pantas saja dulu Al Quran menghasilkan orang hebat. Dan pantas
kurikulum hari ini tidak melahirkan orang-orang yang beriman.
Ini adalah contoh-contoh pada fase Mekah, fase yang dilalui oleh Nabi
Salallahualaihi Wassalam dengan penuh perjuangan.
Perjalanan kehidupan Nabi penuh dengan gangguan, dan bersabar selama 13
tahun membangun pondasi, merahasiakan kajian-kajian beliau, kemudian beliau
terus bergerilya membaca Al-Quran, membuka hati manusia-manusia yang
jahiliyah, dan sombong itu dengan izin Allah Subhanahu Wataala. Hingga mereka
mendapatkan hidayah. Perjuangan yang disokong penuh oleh orang yang
dicintainya. Istri yang tak pernah ada penggantinya, Khadijah ra.
Mudah-mudahan ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Agar kita bisa menyiapkan
lebih baik lagi. Insyaa Allah kita akan pelajari lebih detail lagi tentang bagaimana
persiapan itu dengan izin Allah Subhanahu Wataala. Agar kita bisa membawa
tinggi risalah Islam, seluruh beban Islam ini dengan penuh kenikmatan hingga
Islam mencapai kebesarannya.
Wallahu alam bishawab.
Sepuluh Tahun Membangun Sistem di Madinah (1/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. October 4, 2016 0 Comments


Berbicara tentang perjuangan Rasulullah Salallahualaihi Wassalam,
sesungguhnya tidak hanya sebatas sebuah semangat, tetapi berbicara juga tentang
masalah ilmu. Tentang urutan dan strategi. Semuanya harus dipadukan, karena
semangat saja tidak pernah cukup. Manusia tidak bisa membangun peradaban
hanya bermodalkan sebuah jargon dan teriakan, tetapi harus dipandu dengan ilmu
yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mari kita gali bagaimana Rasulullah dalam
10 tahun membangun sistem di Madinah.
Seperti yang sudah kita bahas, tentang 13 tahun di kota Mekah, Rasulullah
Salallahualaihi Wassalam menyiapkan pondasi SDM. Membangun generasi yang
akan mengendalikan, yang akan memegang sistem itu. Maka ini pula yang
menjadi pelajaran pertama buat kita. Kita akan sangat kecewa ketika kita
menemukan seseorang di tengah jalan, yang kita tidak pernah kenal siapa dia
dengan kualitas dirinya. Tetapi tiba-tiba hanya karena dia mendapatkan simpati
(dan suara) besar kemudian dia menjadi pemegang sistem. Kita sering kecewa
dengan hal seperti itu. Ternyata di peradaban Islam hal seperti itu tidak dilakukan.

Karena semua yang mengendalikan dan memegang sistem adalah mereka yang
dulu bersama-sama mengaji. Mereka yang bersama-sama Rasulullah
Salallahualaihi Wassalam. Mereka kumpul bersama di Kota Madinah, bersama
dalam ilmu yang sama, dalam iman yang sama, dalam amal yang sama, semuanya
dalam frame amal jamai yang Islami. Kemudian setelah itu mereka bertebaran di
muka bumi menjadi pemimpin yang tetap saling terkait satu sama lainnya setelah
dahulu mereka memang dibina Nabi dalam satu kesatuan.
Itu pula yang harus kita lakukan ketika kita sedang membahas peradaban hari ini.
Mari kita lihat lebih detail lagi tentang bagaimana Rasulullah Salallahualaihi
Wassalam sepanjang 10 tahun di kota Madinah. Kalau boleh kita bagi, 10 tahun
itu bisa kita bagi menjadi beberapa bagian. Awalnya adalah ketika Nabi mulai
membangun, menanam tunas sitem itu. Begitu Nabi Salallahualaihi Wassalam
memasuki Madinah, kota ini bukanlah suatu negeri yang telah siap sebagai sebuah
negara. Madinah negeri yang tidak siap, bahkan terkait urusan kesehatan atau
ekonomi. Buktinya Nabi Salallahualaihi Wassalam harus mendoakan dahulu
Madinah, tentang kesehatan yang bermasalah. Juga tentang perekonomian yang
dicarikan solusinya.
Nabi Salallahualaihi Wassalam harus membangun sebuah sistem baru di tengah
masyarakat Madinah yang telah lelah. Setelah mereka bertempur antar mereka
sendiri, kurang lebih selama ratusan tahun. Mereka perang saudara. Masyarakat
yang lesu, lelah, murung karena kehabisan tenaga dan potensinya untuk bertarung
antarsaudara.
Oleh karena itu, bukan sebuah pekerjaan yang kecil dan ringan bagi Rasulullah
untuk membangun Madinah. Justru di sinilah pelajarannya untuk kita semua,
bahwa Rasulullah Salallahualaihi Wassalam tidak diberi kota yang siap. Kota
yang sudah mapan. Tidak. Agar kita belajar dari Rasul langsung. Beginilah cara
menghadirkan sebuah negeri yang tadinya diabaikan oleh dunia, yang bahkan
tidak dilirik oleh peradaban manapun hingga menjadi pusat peradaban seluruh
dunia.
Rasulullah Salallahualaihi Wassalam memulai tunas sistem itu. Nabi melakukan
beberapa langkah. Pertama, Nabi membangun masjid dan ini bukti bahwa masjid
adalah pusat peradaban Islam. Bukti bahwa masjid adalah merupakan sentral dari
kebangkitan Islam. Masjid adalah tolak ukur dan kejatuhan serta kebangkitan
Islam. Di masjidlah semua akan dibicarakan, dibangun, dirangkai, dan seterusnya.
Kedua, Nabi Salallahualaihi Wassalam melakukan persaudaaraan.
Mempersaudarakan antara para pendatang yaitu kaum Muhajirin dari Mekah dan
tuan rumah yaitu orang-orang Madinah. Maka, dalam menjalankan konsep
berkelompok harus sangat hati-hati. Perhatikan kelompok di suku mana,

kelompok suku apa, dan seterusnya. Agar mampu dikelola. Agar tidak terjadi
bentrokan antar mereka. Rasulullah Salallahualaihi Wassalam lebih dari sekadar
membaurkan mereka. Bahkan Nabi mempersaudarakan. Saudaranya yang baru
datang dan kekurangan adalah merupakan tanggungjawab saudaranya sebagai
tuan rumah yang memiliki kelebihan.
Ketiga, Nabi Salallahualaihi Wassalam membangun pasar. Ini menunjukkan
betapa pentingnya pasar dalam peradaban Islam. Karena di situlah perputaran
perekonomian. Di pasar itu muslimin bisa berbicara (dan berbuat) banyak dalam
menegakkan syariat pasar, syariat ekonomi, dan muamalah dalam
perekonomian. Bagaima kita mau berbicara tentang perekonomian Islami,
perekonomian syariah sementara pasar kita masih pasar musuh Islam? Jika
Sistem kita masih sistem zionis? Maka menarik sekali, karena saat itu di zaman
Nabi Salallahualaihi Wassalam pasar di Madinah pun dikuasai oleh Yahudi. Ada
pasar besar contohnya pasar Bani Qoinuqo. Maka Nabi perlu membuat pasar
untuk Muslimin.
Keempat, Nabi membuat perjanjian. Perjanjian ini tidak langsung dengan Yahudi.
Seringkali ketika membahas Siroh Nabawiyah, khususnya bab perjanjian
Madinah, langsung membahas tentang perjanjian Muslimin dengan Yahudi. Yang
larinya nanti hanya membicarakan tentang toleransi. Sangat disayangkan. Cobalah
lihat lebih dalam, lebih detail. Tidak begitu. Justru perjanjian yang dibuat pertama
oleh Nabi bukan dengan Yahudi tapi dengan sesama Muslim. Antara Muhajirin
dan Anshor. Antara masyarakat Mekah pendatang dan masyarakat Madinah tuan
rumah. Ada perjanjiannya. Bahkan kalimat pertama Rasulullah Salallahualaihi
Wassalam di perjanjian sesama Muslim ada innahum ummatun wahidah
mindulinnas Mereka adalah umat yang satu, yang terpisah dari masyarakat
manapun.
Ketika kita berbicara tentang kata eksklusif, kita tidak pernah khawatir dengan
kata itu karena Rasul yang menyampaikan. Muslimin punya eksklusifisme dari
sisi akidah, ibadah. Tidak boleh dicampuri. Tidak ada kata toleransi pada bab itu.
Setelah konsolidasi internal, Nabi membuat perjanjian dengan musuh Islam yang
saat itu adalah masyarakat Yahudi. Barulah kemudian bertoleransi, bersama saling
menjaga sebuah kota, saling menolong, bersama untuk berbuat kebaikan selama
tidak mengerjakan dosa, dan seterusnya.
Itu tunas. Nabi menyiapkan tunas sistem. Kemudian Nabi Salallahualaihi
Wassalam dalam siroh beliau di kota Madinah, Nabi berjuang untuk
mempertahankan negeri yang telah dibangun sistem tunasnya itu. Nabi
menjaganya dari berbagai macam gangguan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh

Islam yang mulai khawatir dengan keberadaan Muslimin yang telah menguasai
satu wilayah.
Ini pelajaran mahal. Silakan ambil pelajarannya lebih dalam lagi. Selama
setidaknya 5 tahun, Nabi Salallahualaihi Wassalam dan para sahabat tak
bergeming untuk mempertahankan negeri yang baru saja menjadi tunas ini.
Karena yang namanya tunas adalah sesuatu yang baru. Untuk itulah mungkin
kekuatannya belum terlalu besar. Sementara musuh mempunyai kekuaatan jauh
lebih lama, lebih besar, dan lebih banyak. Tapi di hadapan pertolongan Allah
Subhanahu Wataala semuanya menjadi tidak masalah. 5 tahun pertama Muslimin
belajar banyak. Bagaimana menjaga eksistensi Muslimin di dalam sistem di kota
Madinah.
Sepuluh Tahun Membangun Sistem di Madinah (2/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. October 7, 2016 0 Comments


Setelah pembahasan di bagian pertama, poin pembahasan berikutnya adalah
tentang membangun sistem hingga puncaknya. Ketika tahun 5 Hijriyah, terjadi
Perang Ahzab yang diabadikan Allah dalam Surat Al-Ahzab. Atau yang disebut
juga dengan Perang Khandaq. Kata Ahzab artinya adalah sekutu. Adapun
Khandaq artinya adalah parit. Sekutu karena berkumpul sekutu dari berbagai suku
Arab, Quraisy dan nonQuraisy, mereka sepakat berkonspirasi untuk menyerang
Muslimin di Madinah. Khandaq karena itu adalah sistem pertahanan Nabi dan
sahabat di kota Madinah, mereka membuat parit untuk menghalangi pintu masuk
ke kota Madinah.
Di akhir Perang Khandaq, Allah berikan pertolongan. Pertolongan yang mahal.
Hingga sekutu yang kekuatannya tidak mungkin dilawan oleh Muslimin, karena
begitu besarnya mereka, dan begitu buruknya keadaan Muslimin saat itu. Begitu
mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu Wataala, Nabi mengeluarkan
sebuah kalimat dahsyat. Ini menunjukkan bahwa setelah tahun 5 adalah fase baru
untuk sistem. Nabi mengatakan sebagaimana yang di sampaikan dalam Sahih
Bukhari, Sekarang kita perangi mereka, bukan mereka yang memerangi mereka,
kita yang akan pergi untuk berangkaat menuju ke mereka.
Dahsyat! Jika dalam 5 tahun yang awal Nabi dan para sahabat hanya bertahan,
mempertahankan negeri, mempertahankan Muslimin, mempertahankan Islam, dan
akidah di hati mereka, maka setelah tahun 5 Nabi Salallahualaihi Wassalam
sudah mengumumkan di akhir Perang Khandaq Sekarang giliran kita yang akan
berangkat menuju mereka, bukan mereka yang memerangi kita.

Untuk itulah kabar-kabar kembira tentang penaklukkan negeri-negeri disampaikan


di tahun 5 ini. Nabi sudah menyampaikan tentang penakhlukan berbagai negeri.
Bukan hanya negeri-negeri kecil, bukan hanya kota-kota biasa, bukan hanya
negeri-negerinya orang Badui. Nabi sampai menyebut Yaman, Romawi, dan
Persia. Dahsyat! Subhanallah! Nabi menyebut dua imperium besar di zaman itu,
Persia dan Romawi. Sudah disebutkan di tahun 5 Hijriyah bahwa itu negeri akan
diberikan Allah untuk Muslimin. Dan terbukti. Nanti setahun berikutnya, tahun 6
Hijriyah, musuh besar yang sering dihadapi Muslimin adalah orang-oarng Quraisy
dari Mekkah. Tahun 6 adalah tahun perjanjian damai. Bukan Muslimin yang
meminta, tapi musuh Islam yang meminta. Ini adalah bukti bahwa mereka sudah
lemah. Maka terjadilah perjanjian yang disebut Hudaibiyah. Ini tahun 6, tahun
perdamaian, Nabi manfaatkan sebaik-baiknya untuk membersihkan berbagai
macam gangguan selain Quraisy. Karena Quraisy sudah tidak mau lagi memerangi
kaum Muslimin dalam perjanjian mereka.
Setelah perjanjian itu, memasuki fase berikutnya. Dan Nabi buktikan Giliran kita
yang sekarang keluar. Giliran kita yang sekarang berjalan menuju mereka. Maka
tahun ke-7 Hijriyah merupakan tahun dimana Nabi Salallahualaihi Wassalam
mulai melakukan ekspansi dakwah keluar. Nabi mengirim para sahabatnya ke
berbagai wilayah, ke berbagai negeri. Nabi kirimkan surat-surat dakwah kepada
raja-raja, pemimpin-pemimpin, pembesar-pembesar, kaisar-kaisar, di sekitar
wilayah Arab hingga Persia dan Romawi. Semua diminta Nabi Salallahualaihi
Wassalam untuk masuk Islam. Semua diminta untuk menerima hidayah ini. Tidak
ada basa basi. Nabi langsung sampaikan, kalau kalian masuk Islam, maka kalian
mendapatkan pahala dua. Tapi kalau kalian tidak mau masuk Islam, maka kalian
mendapatkan dosa dua. Di sinilah Nabi memulai fase yang baru. Dan setelah itu
Allah Subhanahu Wataala memberikan sebuah kemenangan yang besar.
Kemenangan yang disebut-sebut dalam Al Quran, yang oleh para ulama siroh
disebut sebagai kemenangan terbesar dalam siroh nabawiyah.
Rasul Salallahualaihi Wassalam mendapatkan kemenangan dengan penaklukan
negeri Mekkah. Nabi memebersihkan tauhid mereka. Menghancurkan patungpatung, mengantarkan masyarakat Mekkah menuju hidayah mereka. Kiblat
Muslimin
itu
bersih
dari
kemusyrikan
hingga
hari
ini.
Alhamdulillahirobbilalamin.
Ini adalah tahun kemenangan. Yang disebut Allah sebagai Fathan Mubinaa,
kemenangan yang nyata. Besar kemenangan ini. Maka sejak itu, sejak Muslimin
mulai mendapatkan kemenangan demi kemenangan, setelah itu datang rombongan
dari berbagai macam suku dan wilayah. Setelah tahun 8 itu, tahun 10 Hijriyah
disebut sebagai amul wufud, sebagai tahun utusan-utusan. Utusan-utusan itu
datang ke Rasulullah Salallahualaihi Wassalam untuk menyatakan diri masuk

Islam dan taat kepada kepemimpinan Madinah. Bahkan sebelum itu Nabi sudah
banyak mengingatkan para sahabatnya tentang kebesaran, tentang harta, tentang
jabatan. Nabi tengah menyiapkan mental juara para sahabatnya agar kelak mereka
tidak menjadi pecundang, agar kelak mereka tidak jatuh karena harta. Agar
kemenangan Muslimin di sebuah jihad mereka tidak justru menjadi kekalahan
pertama mereka karena dijatuhkan oleh harta, di mana Muslimin mulai berebut
harta dan jabatan.
Nabi banyak menyiapkan dalam kalimat-kalimat beliau. Menyiapkan dan
mendidik para sahabat. Ini bukti bahwa seorang pemimpin, seorang pendidik
harus tahu persis apa yang harus dilakukan. Generasi kita tidak hanya disiapkan
untuk bertahan saat miskin. Jangan hanya siapkan mereka hanya untuk menjaga
iman ketika mereka sedang papa, keadaan sedang susah. Tapi perhatikan, kalau
kita pegang Islam ini, jangankan hanya harta, bumi ini akan Allah serahkan.
Kalau sudah seperti itu, maka perlu diketahui sebagaimana kemiskinan ada efek
baik dan efek buruknya, demikian juga kekayaan. Tapi ketika kita membaca hadits
Rasulullah Salallahualaihi Wassalam yang disampaikan dalam sahih Bukhari dan
sahih Muslim, inilah pesan Nabi yang sangat mahal,
wallahi.
Demi Allah, kata Nabi, Kalau miskin aku tidak takut itu menimpakan kalian,
kalau kalian miskin aku tidak takut, tapi yang aku takutkan ketika dunia
dihamparkan, dibuka Allah selapang-lapangnya untuk kalian.
Maka kalau boleh kita bandingkan sebagaimana hadits ini, bagaimana ternyata
kekayaan memiliki efek negatif yang lebih besar daripada kemiskinan.
Sesungguhnya Rasul tengah menyiapkan para sahabat, karena pasti sepeninggal
Rasulullah Salallahualaihi Wassalam, ketika para sahabat akan menguasai bumi
maka tidak boleh kekuasaan dan dunia itu menjatuhkan kemenangan-kemenangan
yang telah mereka dapatkan. Karena seringkali justru dunia itu yang yang
menjatuhkan kemenangan-kemenangan itu. Dan setelah tugas itu selesai maka
Allah Subhanahu Wataala tahun 11 Hijriyah memanggil Rasulullah
Salallahualaihi Wassalam dan wafatlah Rasul setelah selesai tugasnya, setelah
turun ayat, Idzajaa anashrullah
Telah datang pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wataala dan
kau melihat manusia berbondong-bondong masuk Islam.
Itulah kemenangan sesungguhnya. Itulah kemenangan dari dakwah Islam ini.
Ketika masyarakat mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wataala. Semoga ini
menjadi sebuah gambaran bagi siapa pun yang tengah berbicara tentang

peradaban, yang tengah menyiapkan keluarganya, menyiapkan dirinya,


menyiapkan lembaganya, agar belajar langsung dari Nabi Salallahualaihi
Wassalam, beginilah cara Nabi membangun sistem hingga lahirnya para
pemimpin-pemimpin Muslim yang menegakkan manhaj nabawi, menegakkan
aturan Rasulullah Salallahualaihi Wassalam.
Wallahu alam bishawab