Anda di halaman 1dari 110

ENERGI ANGIN

(Wind Energy)
Tatap Muka ke 4

Energi Angin
(Wind Energy)
Sejarah pemanfaatan energi angin
Energi angin dan potensinya
Prinsip kerja PLTB (Pembangkit Listrik tenaga
Bayu)
Jenis-jenis turbin angin & karakteristiknya
Sistem mekanik & elektrik PLTB
Wind Farm
Potensi PLTB di Indonesia

Sejarah pemanfaatan
Holland & Colonial America

windmill pertama
ditemukan:
Afghanistan (900AD)

Greece

Jacobs Turbine 1920 - 1960

WinCharger
1930s 40s

Smith-Putnam Turbine
Vermont, 1940's

Modern Small Wind Turbines:

Technically Advanced
Minimal Moving Parts
Very Low Maintenance
Requirements
Proven: ~ 5,000 On-Grid
American Companies are the
Market and Technology
Leaders

10 kW

400 W

50
kW

900 W
(Not to scale)

Large Wind Turbines

450 base to blade


Each blade 112
Span greater than 747
163+ tons total
Foundation 20+ feet deep
Rated at 1.5 5 megawatt
Supply at least 350 homes

Keuntungan dan kerugian energi angin


Keuntungan

Kerugian

Tersedia berlimpah

Tersebar

Tidak menyebabkan polusi

Kerapatan dayanya rendah


Tersedianya tidak kontinu sehingga
perlu media penyimpan energi

Renewable

Arah angin berubah-rubah (pada


umumnya) tetapi tdk disemua lokasi
Kurang andal ketersediannya
Sangat tergantung pada lokasi

Proses
terjadinya
angin

Pola sirkulasi udara akibat


rotasi bumi

Angin timbul akibat sirkulasi di atmosfer akibat matahari menyinari bumi yang
berotasi. Daerah khatulistiwa akan menerima energi radiasi matahari lebih banyak
daripada di daerah kutub, atau udara di daerah khatulistiwa akan lebih tinggi
dibandingkan dengan udara di daerah kutub. Perbedaan berat jenis dan tekanan
udara inilah yang akan menimbulkan adanya pergerakan udara. Pergerakan udara
inilah yang didefinisikan sebagai angin

Jenis-jenis angin
Angin laut dan angin darat
Angin laut adalah angin yang timbul akibat adanya perbedaan suhu
antara daratan dan lautan. Seperti yang kita ketahui bahwa sifat air
dalam melepaskan panas dari radiasi sinar matahari lebih lambat
daripada daratan, sehingga suhu di laut pada malam hari akan lebih
tinggi dibandingkan dengan suhu di daratan. Semakin tinggi suhu,
tekanan udara akan semakin rendah. Akibat adanya perbedaan suhu ini
akan menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan udara di atas daratan
dan lautan. Hal inilah yang menyebabkan angin akan bertiup dari arah
darat ke arah laut. Sebaliknya, pada siang hari dari pukul 09.00 sampai
dengan pukul 16.00 angin akan berhembus dari laut ke darat akibat
sifat air yang lebih lambat menyerap panas matahari.

Angin Lembah
Angin lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke arah
puncak gunung yang biasa terjadi pada siang hari. Prinsip terjadinya
hampir sama dengan terjadinya angin darat dan angin laut yaitu akibat
adanya perbedaan suhu antara lembah dan puncak gunung.

Jenis-jenis angin
Angin Musim
Angin musim dibedakan menjadi 2, yaitu angin musim barat dan angin
musim timur. Angin Musim Barat/Angin Muson Barat adalah angin yang
mengalir dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim
panas). Apabila angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan
samudra, maka angin ini akan mengandung curah hujan yang tinggi.
Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim
hujan. Angin ini terjadi pada bulan Desember, januari dan Februari, dan
maksimal pada bulan Januari dengan kecepatan minimum 3 m/s.
Angin Musim Timur/Angin Muson Timur adalah angin yang mengalir
dari Benua Australia (musim dingin) ke Benua Asia (musim panas).
Angin ini menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau,
karena angin melewati celah- celah sempit dan berbagai gurun
(Gibson, Australia Besar, dan Victoria). Musim kemarau di Indonesia
terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus, dan maksimal pada bulan Juli.

Jenis-jenis angin
Angin Permukaan
Kecepatan dan arah angin ini dipengaruhi oleh perbedaan yang
diakibatkan oleh material permukaan Bumi dan ketinggiannya. Secara
umum, suatu tempat dengan perbedaan tekanan udara yang tinggi
akan memiliki potensi angin yang kuat. Ketinggian mengakibatkan pusat
tekanan menjadi lebih intensif.
Selain perbedaan tekanan udara, material permukaan bumi juga
mempengaruhi kuat lemahnya kekuatan angin karena adanya gaya
gesek antara angin dan material permukaan bumi ini. Disamping itu,
material permukaan bumi juga mempengaruhi kemampuannya dalam
menyerap dan melepaskan panas yang diterima dari sinar matahari.
Sebagai contoh, belahan Bumi utara didominasi oleh daratan,
sedangkan selatan sebaliknya lebih di dominasi oleh lautan. Hal ini saja
sudah mengakibatkan angin di belahan Bumi utara dan selatan menjadi
tidak seragam.

Arah angin permukaan

Perbedaan tekanan terlihat dari perbedaan warna. Biru menyatakan tekanan


rendah, sedangkan kuning hingga oranye menyatakan sebaliknya. Arah dan besar
angin ditunjukkan dengan arah panah dan panjangnya.

Global Wind Resource

Annual global mean wind power at 50m above the surface


Ref:

Potensi energi angin di Indonesia

Perbedaan kecepatan udara terlihat dari perbedaan warnanya. Biru


menyatakan kecepatan udara rendah, sedangkan hijau, kuning, merah
dan sekitarnya menyatakan semakin besarnya kecepatan angin.

Energi angin dan potensinya


Sekitar 1 2 % radiasi surya yang ditransfer menjadi energi angin.
Daya yang dapat dihasilkan dari energi angin di bumi dengan radiasi surya
rata-rata 1370 W/m2 dan radius bumi 6371 ribu km adalah sekitar 1,7 PW
(1700 TW). Tidak semua energi ini bisa dimanfaatkan. Namun sudah sangat
besar untuk mencukupi kebutuhan listrik dunia tahun 2020 (3 TW).
Angin dengan kecepatan v (m/det) selama satu detik akan menghasilkan
Energi Kinetik yg mengenai permukaan seluas 1 m2. Energi kinetik tersebut
mengenai masa udara yang volumenya 1 m2 kali kecepatan angin v (m/det)
Energi kinetik yang dihasilkan oleh angin adalah :
Dimana :

Ek = 1 Atv 3
2

= kerapatan udara = 1,2 kg/m3


A = luas permukaan sapuan baling-baling turbin angin (m2)
v = kecepatan angin (m/det)

Daya yang dihasilkan P = Energi/ waktu =

P = 1 Av 3
2

(Watt)

Kerapatan daya (Power Density)


Energi Kinetic (KE) mV2
Untuk angin kecepatan
konstan v, yang mengenai
luas area A, selama waktu t,
dengan kerapatan udara ,
mass udara m = AVt

v
A

Sehingga KE = AtV3
Kerapatan daya angin (per
satuan luas dan per satuan
waktu) adalah :
Daya P = V3
Daya yg dapat dimanfaatkan adalah sebanding dengan kecepatan angin pangkat 3

Perhitungan daya dari angin


Daya dari angin = AV3
Effect dari luas bidang, A
Effect dari kecepatan angin, V
Effect dari kerapatan udara,
R

Luas bidang A = R2 adalah


luas bidang yang disapu oleh
rotor turbin (m2).

Energi angin dan potensinya


Kecepatan angin pada suatu lokasi pada umumnya mengikuti distribusi
Rayleigh
Daya angin yang dapat dimanfaatkan adalah berbanding dengan
kecepatan angin pangkat tiga (v3)
Apabila luas diameter baling-baling turbin adalah D maka luas permukaan
penampang udara adalah
A = .D2/4
Sehingga daya angin adalah :
2 3
Pwind =
D v
4
Untuk energi angin berlaku hukum pembatasan Betz (Betz limit) dimana
sesuai dengan rugi-rugi yang ada , maka daya tubin angin adalah 1/3 dari
daya angin yang dapat dimanfaatkan

Pturbin =

1 2 3
D v 0,26 D 2 v 3
3 4

Energi angin dan potensinya


Angin dengan kecepatan 2 kali lebih besar akan menghasilkan energi
kinetik 8 kali lebih besar
Sehingga jika kecepatan angin 2 kali, daya yang dihasilkan akan naik
sebesar 23 = 222 = 8 kali
Angin dengan kecepatan 10 m/s memiliki kerapatan daya 610 W/m2
Angin dengan kecepatan 20 m/s memiliki kerapatan daya 4.880 W/m2
Maksimum hanya 60% dari potensi energi angin teoritis tsb yang dapat
dimanfaatkan , nilai ini yang bisa disebut Power coefisien (Cp), yaitu rasio
antara daya yang dapat dimanfaatkan dengan energi angin yang tersedia.
Faktor Konversi energi kinetik angin menjadi energi mekanis pada turbin
adalah 50% - 70%. Bila dikalikan dengan energi angin teritis maksimum
60%, akan diperoleh energi mekanis 30% - 42%
Efisiensi generator listrik adalah sekitar 90%, sehingga efisiensi
keseluruhan energi engin menjadi energi listrik adalah sekitar 27% - 38%

Energi angin dan potensinya

Maksimum hanya 60% dari potensi energi angin teoritis tsb yang dapat dimanfaatkan

Karakteristik kecepatan angin


kecepatan angin sangat dipengaruhi oleh ketinggiannya dari permukaan
tanah. Semakin mendekati permukaan tanah, kecepatan angin semakin
rendah karena adanya gaya gesek antara permukaan tanah dan angin
Untuk alasan ini, PLTB biasanya dibangun dengan menggunakan tower
yang tinggi atau dipasang diatas bangunan
rumus berikut cara mengukur kecepatan angin berdasarkan ketinggiannya
dan jenis permukaan tanah sekitarnya.

V = V1.( z / z1 )1/ n
Dimana :
V = kecepatan angin pada ketinggian z
V1 = kecepatan angin pada ketinggian z1
n = nilai yang dipengaruhi oleh jenis permukaan tanah

Karakteritik angin

Garis putus-putus untuk n= 7


Garis lurus untuk n = 5

Variasi kecepatan angin terhadap tinggi


windmills yg lebih tinggi akan mendapat angin dengan
kecepatan yang lebih tinggi
Ketinggian naik 2 kali akan menaikkan kecepatan angin 10%
sehingga akan menaikkan kerapatan daya 30%
Formula kecepatan angin dari NERL (National Renewable
Energy Laboratory):
v(z) = v10(z / 10m)
Dimana v10 adalah kecepatan pada 10m, nilainya
sekitar 0.143
Formula kecepatan angin dari Danish Wind Energy Association:
v(z) = vref log(z/zo) / log(zref/z0)
Dimana z0 adalah parameter yang disebut kekasaran
permukaan (roughness length), vref adalah kecepatan
pada ketinggian referensi zref

Variasi kecepatan angin terhadap tinggi


Type of Terrain
Cities, forests
suburbs, wooded countryside
Villages, countryside with trees and hedges
Open farmland, few trees and buildings
Flat grassy plains
Flat desert, rough sea

Typical Surface Roughness Lengths


(from Wind Energy Handbook, pg 10

Roughness Length z0 (m)


0.7
0.3
0.1
0.03
0.01
0.001

Karakteristik angin terhadap ketinggian

Angin yang turbulent kurang bagus

Jenis turbin angin


Turbin angin dapat dikelompokkan berdasarkan arah/
posisi poros rotor turbin
Vertical Axis
Horizontal Axis

Vertical axis wind turbine


Vertical-axis wind turbines (or VAWTs), poros rotor turbin
berdiri vetikal. Tidak tergantung pada arah angin tertentu,
sehingga cocok diletakkan dilokasi yang arah anginnya
sering berubah, misalnya dekat dengan bangunan.
Putarannya rendah, karena torsinya rendah, sehingga
koefisien dayanya rendah. Karena anginnya berubah
sehingga bisa menyebabkan torsi yang berubah-rubah,
sehingga berdampak pada vibrasi, suara yang tinggi dan
sering mengalami kerusakan bearing. Generator dan
gearbox diletakkan dibagian bawah didekat tanah,
sehingga tidak perlu tower yang tinggi, dan perawatannya
mudah. Namun lokasi dekat tanah kecepatan anginnya
rendah dan sering turbulent

Vertical Axis Wind Turbines


keuntungan

kerugian

Omnidirectional

Turbin dekat dengan tanah


dimana kecepatan angin
Menerima angin dr
rendah
semua arah
Dapat dipasang dekat Gaya sentrifugal banyak
menekan sudu turbin
tanah
Perawatan mudah
Kemampuan torsi start
rendah
Tower lebih ringan
Dapat menggunakan Perlu penunjang diujung atas
turbin
material lebih sedikit
untuk menangkap
Perlu melepas seluruh rotor
jumlah angin yg sama
untuk mengganti bearings
Efisiensi dan keandalannya
rendah
Belum berhasil
dikembangkan secara
komersial (large scale)

Windspire

Savonious

Vertical Axis Wind Turbine (VAWT)


Panemone Wind Turbine

Vertical Axis Wind Turbine (VAWT)


Darrieus Wind Turbine

Vertical Axis Wind Turbine (VAWT)


Savonius Wind Turbine

Vertical

Horizontal axis wind turbine


Horizontal-axis wind turbines (HAWT) memiliki poros
rotor mendatar, bersama generator diletakkan dipuncak
tower, dan harus selalu mengarah pada arah datangnya
angin. Untuk ukuran turbines yg kecil diarahkan dengan
wind vane sederhana , sementara turbines yg besar
umumnya menggunakan sensor angin dan servo motor.
Pada umumnya tipe ini menggunakan gearbox, agar
putaran turbin yng rendah dapat dinaikkan sesuai
kebutuhan putaran pada generator.

Horizontal Axis Wind


Turbines
Rotors turbin biasanya
diletakkan Up-wind diatas
tower
Beberapa mesin yang
ukuran kecil menggunakan
down-wind rotors
Teknologinya sdh terbukti

Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT)


keuntungan
lebih stabil
pitch blades bisa diatur
mechanical stress rendah

kerugian
biaya awal tinggi
tidak stabil dng Downwind
perlu kontril tambahan

Horizontal

Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT)


Fixed-blade Wind Turbine

Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Angin/Bayu


(PLTB)
Mengkonversikan energi angin menjadi energi
listrik
Komponen utama
Gearbox
Kincir angin (Rotor Turbin)

Rotor

Hub
Sudu (Blades)

Gearbox
Generator
Penyimpanan energi
Tower
Constant Speed
System

Generator

Perbedaan Large dan Small Wind Turbines

Large Turbines (500-1500 kW)

Dipasang di Windfarm, total daya 1 100 MW

$1,000/kW; dirancang untuk Low Cost


of Energy

perlu kecepatan angin 6 m/s (13 mph)


rata-rata

Small Turbines (0.3-100 kW)

dipasang di Rural Residential secara


On-Grid atau Off-Grid

$2,500-5,000/kW; dirancang untuk


keandalan / Low Maintenance

perlu kecepatan angin 4 m/s (9 mph)


rata-rata

Large:
300 kW
Turbine

Small:
10 kW
Turbine

Komponen Turbin Angin

Wind Turbine Perspective


Workers

Blade
112 long

Nacelle
56 tons

Tower
3 sections

KidWind Project | www.kidwind.org

Pitch Control Mechanisms

KidWind Project | www.kidwind.org

Perbandingan dimensi

Komponen utama PLTB


Kincir angin (rotor turbin)
Secara umum kincir angin dapat di bagi menjadi 2, yaitu kincir angin
yang berputar dengan sumbu horizontal, dan yang berputar dengan
sumbu vertikal
kincir angin jenis multi-blade dan Savonius cocok digunakan untuk
aplikasi PLTB kecepatan rendah. Sedangkan kincir angin tipe Propeller,
paling umum digunakan karena dapat bekerja dengan lingkup kecepatan
angin yang luas.
Gear box
Alat ini berfungsi untuk mengubah putaran rendah pada kincir menjadi
putaran tinggi. Biasanya Gearbox yang digunakan sekitar 1:60..
Brake System
Alat ini diperlukan saat angin berhembus terlalu kencang yang dapat
menimbulkan putaran berlebih pada generator. Dampak dari kerusakan
akibat putaran berlebih diantaranya : overheat, rotor breakdown, terjadi
arus lebih pada generator.

Komponen utama PLTB


Generator
Ada berbagai jenis generator yang dapat digunakan dalam sistem
turbin angin, antara lain generator serempak (synchronous generator),
generator tak-serempak (unsynchronous generator), rotor sangkar
maupun rotor belitan ataupun generator magnet permanen
Penggunaan generator serempak memudahkan kita untuk mengatur
tegangan dan frekuensi keluaran generator dengan cara mengaturatur arus medan dari generator. Sayangnya penggunaan generator
serempak jarang diaplikasikan karena biayanya yang mahal,
membutuhkan arus penguat dan membutuhkan sistem kontrol yang
rumit.
Generator tak-serempak sering digunakan untuk sistem turbin angin
dan sistem mikrohidro, baik untuk sistem fixed-speed maupun
sistem variable speed.

Komponen utama PLTB


Penyimpan energi
Pada sistem stand alone, dibutuhkan baterei untuk menyimpan energi listrik
berlebih yang dihasilkan turbin angin. Contoh sederhana yang dapat dijadikan
referensi sebagai alat penyimpan energi listrik adalah aki mobil. Aki 12 volt, 65
Ah dapat dipakai untuk mencatu rumah tangga selama 0.5 jam pada daya 780
watt.

Tower
Tower PLTB dapat dibedakan menjadi 3 jenis . Setiap jenis tower
memiliki karakteristik masing-masing dalam hal biaya, perawatan,
efisiensinya, ataupun dari segi kesusahan dalam pembuatannya

Jenis-jenis kincir angin

Karakteristik kincir angin

Efisiensi berbagai turbin angin

Bentuk Airfoil pada sudu turbin


Seperti pada sayap pesawat,
sudu turbin angin harus
berbentuk airfoil untuk
menghasilkan gaya dorong yang
memaksimumkan efficiency.

The Bernoulli Effect

Konstruksi sudu/
baling-baling
Kecepatan udara yng mengenai
suatu titik pada sudu berubahubah sesuai jarak terhadap
center hub
Untuk mengoptimalkan, sudut
tumbukan angin,sepanjang
sudu, maka sudu harus diplintir
dan ditipiskan hingga ke ujung
Fastest
Faster
Fast

Tip-Speed Ratio
Tip-speed ratio adalah rasio
antara kecepatan putar sudu
diujung luar rotor dengan
kecepatan angin.
Terdapat sudut yang optimum
yang menghasilkan gaya dorong
tertinggi.
Karena sudut tersebut tergantung
dari kecepatan angin, sehingga
terdapat optimum tip-speed ratio

R
TSR =
V

dimana,
= rotational speed in radians /sec

R = Rotor Radius
V = Wind Free Stream Velocity

Karakteristik Performance thd Tip Speed Ratios


Characterized by Cp vs Tip Speed Ratio Curve

Betz Limit
Seluruh daya angin tidak
bisa ditangkap oleh rotor.
Secara Theoretis, batas
rotor efficiency adalah
59%
Sebagian besar turbine
angin modern memiliki
efisiensi 35 45%

Rotor Solidity
Solidity adalah rasio antara luas bidang
sudu rotor dengan luas bidang sapuan
rotor
R
Low solidity (0.10) = high speed, low torque

A
High solidity (>0.80) = low speed, high torque

Solidity = 3a/A

Over-Speed Protection During High Winds

Upward Furling: The rotor tilts


back during high winds

Angle Governor: The rotor turns up and to one side

Yawing menghadap angin


Active Yaw (all medium &
large turbines produced
today, & some small turbines
from Europe)
Anemometer on nacelle tells
controller which way to point
rotor into the wind
Yaw drive turns gears to point
rotor into wind

Passive Yaw (Most small


turbines)
Wind forces alone direct rotor

Tail vanes
Downwind turbines

Maintenance

KidWind Project | www.kidwind.org

Jenis-jenis tower PLTB

Guyed Structure

Lattice Structure

Mono Structure

Aliran konversi energi PLTB

Karateristik Kerja Turbin


Angin
daerah kerja turbin angin dapat dibagi menjadi 3, yaitu (a) cut-in
speed ;(b) kecepatan kerja angin rata-rata (kecepatan nominal) ;
(c) cut-out speed.
Secara ideal, turbin angin dirancang dengan kecepatan cut-in yang
seminimal mungkin, kecepatan nominal yang sesuai dengan potensi
angin lokal, dan kecepatan cut-out yang semaksimal mungkin.
Namun secara mekanik kondisi ini sulit diwujudkan karena
kompensasi dari perancangan turbin angin dengan nilai kecepatan
maksimal (Vcutoff) yang besar adalah Vcut dan Vrated yang relatif akan
besar pula.
penentuan kecepatan angin suatu daerah dapat juga dilakukan
dengan menggunakan metode probalistik distribusi Weibull dalam
mengolah kumpulan data hasil survey

Karateristik Kerja Turbin


Angin

Penentuan kecepatan
angin rata-rata

Contoh perhitungan daya


Suatu turbin angin memiliki diameter rotor d = 25m,
n tinggi tower 32m. Faktor efficiency 50%. Berapa
daya yang bisa dihasilkan jika kecepatan anginnya
6m/det?
Kerapatan daya dari angin per m2
v3 = 1.3kg/m3 x (6m/det)3 = 140W/m2
Daya dari turbin angin = Cp x kerapatan daya per
satuan luas x luas bidang sapuan rotor
= 50% x v3 x (/4)d2
= 50% x 140W/m2 x (/4)(25m)2
= 34kW

Sistem elektrik PLTB


Terdapat dua sistem elektrik PLTB yaitu kecepatan konstan
dan kecepatan berubah
Kecepatan konstan:
Keuntungan dari sistem kecepatan konstan (fixed-speed) adalah
murah, sistemnya sederhana dan kokoh (robust)
Sistem ini beroperasi pada kecepatan putar turbin yang konstan dan
menghasilkan daya maksimum pada satu nilai kecepatan angin.
Sistem ini biasanya menggunakan generator tak-serempak/ induksi
(unsynchronous generator) rotor sangkar, dan cocok diterapkan pada
daerah yang memiliki potensi kecepatan angin yang besar
Kelemahan dari sistem ini adalah generator memerlukan daya reaktif
untuk bisa menghasilkan listrik sehingga harus dipasang kapasitor
bank atau dihubungkan dengan grid
Sistem ini rentan terhadap pulsating power menuju grid dan rentan
terhadap perubahan mekanis secara tiba-tiba

Sistem elektrik
kecepatan konstan

Sistem elektrik PLTB


Kecepatan berubah (variabel speed)
sistem didesain agar dapat mengekstrak daya maksimum pada
berbagai macam kecepatan.
Sistem variable speed dapat menghilangkan pulsating torque yang
umumnya timbul pada sistem fixed speed.
Secara umum sistem variable speed mengaplikasikan elektronika daya
untuk mengkondisikan daya, seperti penyearah (rectifier), Konverter
DC-DC, ataupun Inverter.
Pada sistem variable speed (b) menggunakan generator induksi rotor
belitan
Karakteristik kerja generator induksi diatur dengan mengubah-ubah
nilai resistansi rotor, sehingga torsi maksimum selalu didapatkan pada
kecepatan putar turbin berapa pun
Sistem ini lebih aman terhadap perubahan beban mekanis secara tibatiba, terjadi reduksi pulsating power menuju grid dan memungkinkan
memperoleh daya maksimum pada beberapa kecepatan angin yang
berbeda.

Sistem elektrik kecepatan berubah

Sistem elektrik kecepatan berubah

Pada sistem variable speed (c) menggunakan rangkaian elektronika daya untuk
mengatur nilai resistansi rotor. Sistem ini memungkinkan memperbaiki
jangkauan kecepatan yang bisa dikendalikan sistem pertama.

Sistem variable speed dengan


kendali resistansi
Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem ini
antara lain :
Komponen yang ada dapat bertahan lebih lama, karena sistem ini
lebih aman terhadap perubahan beban secara tiba-tiba.

Sedangkan kekurangan sistem ini adalah :


Belitan rotornya masih menggunakan slip ring, sehingga timbul rugirugi tambahan pada generator dan membutuhkan perawatan berkala.
Membutuhkan roda gigi, sehingga menimbulkan rugi-rugi gesek dan
suara bising yang mengganggu lingkungan sekitar.
Menggunakan generator induksi-rotor belitan sehingga menimbulkan
rugi-rugi tembaga pada rotor.
Hanya dapat mengekstrak daya pada range 5-10% diatas kecepatan
nominalnya.
Harus dihubungkan ke kapasitor bank atau grid untuk menghasilkan
daya keluaran.

Sistem variable speed dengan


kendali resistansi

Sistem variable speed dengan


generator induksi rotor sangkar
Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem
ini antara lain :
Jangkauan kecepatan lebih luas dibandingkan sistem I. Sistem
variable speed rotor sangkar ini dapat mengekstrak daya pada
semua range kecepatan diatas kecepatan nominalnya.
Tidak menggunakan konverter untuk medan eksitasinya.
Tidak membutuhkan brush pada rotor sehingga sebagian rugirugi pada rotor dapat dihilangkan.
Teknologinya sudah terbukti handal.

Sedangkan kekurangan sistem ini adalah :


Membutuhkan roda gigi, sehingga menimbulkan rugi-rugi gesek
dan suara bising yang mengganggu lingkungan sekitar.
Harus dihubungkan ke kapasitor bank atau grid untuk
menghasilkan daya keluaran

Sistem elektrik kecepatan


berubah

Dengan rotor sangkar

Sistem Turbin Angin Direct-drive (Gearless


/ tidak menggunakan roda gigi)

Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan


sistem ini antara lain :
Sistem PLTB tanpa menggunakan gearbox (gearless wind
turbine system) atau sering juga disebur direct drive,
efisiensi menjadi lebih tinggi, dapat mengurangi polusi
suara serta mengurangi biaya investasi dan perawatan.
Biasanya menggunakan generator sinkron rotor
belitan atau generator sinkron magnet permanen,
dengan kutub banyak yang kecepatan putarnya sesuai
dengan putaran nominal turbin angin. Tidak menggunakan
brush, sehingga biaya perawatan komponen generator dan
juga rugi-rugi daya pada rotor dapat dikurangi.

Sedangkan kekurangan sistem ini adalah :


Penggunaan generator kutub banyak hanya cocok untuk
aplikasi PLTB daya kecil, karena semakin besar daya , maka
generator menjadi lebih besar dan lebih berat.

Sistem PLTB variable speed , direct drive dengan


generator sinkron magnet permanen
Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem ini
antara lain :
Jangkauan kecepatan kerja sistem tidak terbatas. Sistem variable
speed direct-drive ini dapat mengekstrak daya pada kecepatan putar
turbin berapapun.
Menghindarkan penggunaan roda gigi dengan menggunakan
generator yang dapat beroperasi pada putaran rendah (multi-pole
generator).
Tidak menggunakan brush, sehingga biaya perawatan komponen
generator dan juga rugi-rugi daya pada rotor dapat dikurangi.
Tidak menggunakan sistem daya untuk medan eksitasinya.
Menggunakan magnet permanen untuk membangkitkan tegangan,
sehingga rugi-rugi daya pada rotor yang biasanya timbul pada
generator rotor belitan dapat dihilangkan.

Sedangkan kekurangan sistem ini adalah :


Ukuran generator dapat menjadi besar dan berat.
Membutuhkan magnet permanen yang mahal dan sulit diperoleh di
Indonesia.

Sistem PLTB variable speed , direct drive dengan


generator sinkron magnet permanen

Dengan rotor permanen

Sistem PLTB Hybrid untuk lokasi terisolasi

Sistem ini merupakan gabungan antara sistem turbin angin fixed-speed dan directdrive
Pada sistem turbin angin fixed-speed, hanya cocok untuk interkoneksi dengan PLN,
karena generator induksinya membutuhkan daya reaktif
Solusi penyediaan daya reaktif bisa diatasi dengan penggunaan kapasitor bank
atau baterai, yang tentunya membutuhkan kapasitas yang cukup besar
Dengan sistem hybrid, penggunaan kapasitor bank dan bateri dapat dikurangi,
melalui penggunaan turbin angin direct drive, sebagai pengganti dari PLN.
Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem ini antara lain :
Handal pada saat beroperasi pada lokasi terisolir (belum ada grid).
Menggunakan baterai dengan kapasitas yang tidak terlalu besar.
Menghilangkan pengunaan kapasitor bank.
Menggunakan generator permanen magnet sehingga terjadi reduksi susut
daya karena topologi generator ini tidak lagi menggunakan komponen
gearbox.
Mengurangi penggunaan trafo.
PLTB dapat dibangun berjauhan dengan pusat beban, karena sudah terdapat
saluran distribusi lokal.

Sistem PLTB Hybrid untuk lokasi terisolasi

Perkembangan PLTB

Sistem turbin angin fixed-speed terkoneksi grid dengan generator induksi


Pada awal sejarah digunakannya PLTB sebagai pembangkit listrik, teknologi
fixed-speed terkoneksi grid dengan menggunakan generator induksi rotor
sangkar banyak digunakan Alasan utama sistem ini banyak dipakai karena
memiliki beberapa kelebihan diantaranya sangat murah, kokoh, dan sederhana
Konsep fixed-speed mengandalkan konsep kendali yang dapat menjaga
kecepatan putar sudu turbin pada kecepatan putar konstan. Karena itu, sistem
ini dirancang untuk mengekstrak energi angin secara optimal pada satu tingkat
kecepatan angin saja. Hal ini tentunya akan menjadi kekurangan utama dalam
aplikasi PLTB, karena seperti kita ketahui profil kecepatan angin dapat berubah
cepat dalam orde detik. Pada kasus ini, efek nyata dari penggunaan sistem
turbin angin sangat terasa pada produksi daya yang dihasilkan oleh PLTB per
tahunnya jika dibandingkan sistem turbin angin lainnya
Sistem turbin angin ini hanya menggunakan komponen elektronika soft-starter
yang digunakan untuk mengurangi dampak inrush current yang terjadi pada
saat pertama kali generator mulai terhubung dengan grid. Pencegahan inrush
current ini harus dilakukan karena bila tidak ditangani akan menyebabkan
frekuensi dan tegangan grid akan berubah secara drastis dan akan
mempengaruhi stabilitas komponen yang terhubung dengannya.

Perkembangan PLTB

Sistem turbin angin direct-drive dengan generator sinkron magnet permanen


Perkembangan terakhir dari teknologi sistem turbin angin yang ada saat ini
sudah banyak menggunakan komponen generator putaran rendah permanen
magnet untuk menghindari penggunaan roda gigi. Penggunaan roda gigi
menimbulkan rugi-rugi daya tambahan pada PLTB dan memerlukan
perawatan, pelumasan secara berkala. Selain itu, nilai lebih dari sistem ini
terletak pada kemampuannya mengkonversikan energi listrik secara optimal
pada rentang kecepatan angin berapapun. Rugi-rugi eksitasi generator pada
sistem turbin angin juga dapat dihilangkan dengan penggunaan permanen
magnet yang notabene tidak menghasilkan arus muatan. Sistem ini sudah
teruji kehandalannya baik pada saat beroperasi dengan grid maupun tidak
(stand-alone). sistem turbin angin ini teruji paling baik dari segi efisiensi dan
produksi daya per tahunnya.
terdapat beberapa kerugian yang diantaranya karena biaya investasi yang
dibutuhkan jauh lebih mahal dari sistem turbin angin lainnya. Disamping itu,
untuk dapat menghasilkan daya yang optimal pada kecepatan angin yang
rendah (<100 rpm) ukuran sistem ini memiliki dimensi yang lebih besar
dibandingkan sistem lainnya, sehingga diperlukan pembangunan infrastruktur
tambahan yang tentunya juga berimplikasi pada bertambahnya biaya yang
diperlukan.

Wind Farms

Off-Shore Wind Farms

Middelgrunden

Wind farm
Untuk daerah yang memiliki karateristik angin cukup baik, frekuensi
anginnya kintinu hampir sepanjang tahun, kecepatan anginnya cukup tinggi,
umumnya potensi energi anginnya dapat dioptimalkan dengan cara
memasang beberapa turbin angin dalam suatu lokasi yang biasa dikenal
dengan Wind Farm.
Untuk membangun suatu komplek wind farm, turbin-turbin angin yang
berdekatan tersebut tidak boleh saling mengganggu dalam aliran anginnya.
Dalam praktek jarak antara turbin angin adalah 5D 10 D (D=diameter)
Untuk suatu daerah dengan luas S, jumlah turbin angin yang dapat
S
dibangun adalah :
m=
(10D )2
Daya total yang dapat dibangkitkan dalam suatu area adalah :
Pfarm
S

2
3
0,26 v 3
m.Pturbin 0,26 D v
=

=
5,4 W / m 2
2
S
100 D
100

Jika : v = 12 m/det maka akan diperoleh 5 MW/km2

Kerapatan dari wind farm


Setelah menyerap energi dari angin, turbin angin
akan menyisakan suatu aliran udara dibelakangnya
dengan karakteristik berkurangnya kecepatan angin
dan kenaikan turbulensi
Suatu turbin angin yang beroparasi didaerah tersebut
akan menghasilkan daya lebih kecil dan akan
mengalami beban struktur yang lebih tinggi
Rule of thumb : jarak antar turbin angin tidak boleh
lebih kecil dari 5 kali diameter rotor turbin.

Kerapatan dari wind farm


Daya yang dapat
dihasilkan turbin
angin per unit luas
tanah =
Daya per turbin angin
/ luas tanah per
turbin angin
= (Cp x v3 x
(/4)d2) / (5d)2

d
5d

Faktor-faktor yang perlu


diperhatikan dalam mendesain
Wind Farm

Wind Farm

3/27/2014

The NEED Project: 29 Years of Energy


Education

97

Contoh daya per unit luas tanah


Suatu wind farm menggunakan turbin angin
dengan diameter d = 25m, dan tinggi menara
32m. Faktor efisiensi 50%. Berapa daya per
unit luas tanah yang dapat dihasilkan oleh
wind farm apabila kecepatan angin 6m/det?
= (Cp x v3 x (/4)d2) / (5d)2
= 34.000 Watt/(125)2
= 2,176 W/m2
= 2,176 MW/km2

Faktor-faktor yang perlu


diperhatikan dalam mendesain
Wind Farm
Menentukan tinggi dari turbin angin Semakin tinggi kita memasang
turbin angin maka kecepatan anginnya semakin besar. Namun semakin
tinggi turbin semakin besar pula biaya yang dibutuhkan untuk
membangun tower turbin. Rata-rata tinggi suatu turbin angin adalah 30
50 meter.
Menentukan jarak antara setiap turbin angin pada wind farm Terlalu
jauh atau terlalu dekat pemasangan turbin angin pada wind farm akan
menyebabkan produksi energi listrik yang dihasilkan wind farm tidak
sebanding dengan biaya pembangunannya dan energi yang dikonversikan
pada wind farm tersebut. Apabila turbin angin dibangun pada jarak yang
terlalu jauh maka pemanfaatan potensi angin pada tempat tersebut akan
tidak optimal. Sementara jika jarak antar turbin angin dibangun terlalu
dekat, dapat terjadi turbulensi pada turbin. Seperti yang ditunjukkan oleh
gambar 1, jarak vertikal ideal antara satu turbin angin dan yang lainnya
adalah sebesar 5 kali diameter baling-baling. Sedangkan jarang
horisontalnya adalah 7 kali diameter baling-baling turbin.

Faktor-faktor yang perlu


diperhatikan dalam mendesain
Wind Farm
Penempatan lokasi PLTB Tidak semua lokasi pada suatu daerah cocok
untuk dibangun PLTB. Agar mampu menghasilkan energi angin yang besar
perlu diadakan survey pada setiap daerah untuk mengetahui potensi angin
lokalnya. Biasanya kecepatan angin pada suatu daerah juga akan semakin
besar pada setiap ketinggian tertentu.
Kerapatan udara/angin - Kerapatan udara merupakan fungsi dari
temperatur dan tekanan udara yang angkanya tidak dapat diperkirakan
secara eksak. Kerapatan udara rata-rata adalah 800 kali lebih rendah
dibanding dengan kerapatan air. Sebagai contoh didaerah puncak gunung
memiliki kecepatan angin yang tinggi namun semakin tinggi gunung
semakin mengurangi kerapatan udara di daerah tersebut. Angka kerapatan
udara yang biasa digunakan dalam mendesain turbin angin adalah sebesar
0,1 0,5.

Wind Energy Industry Growth


1979: 40 cents/kWh

2000:
4-6
cents/kWh
Increased
Turbine Size
R&D Advances
Manufacturing
Improvements

NSP 107 MW Lake Benton wind farm


4 cents/kWh (unsubsidized)

2004:
3 4.5 cents/kWh

Wind Cost of Energy

COE (/kWh [constant 2000 $])

12
10
8
Low wind speed sites

Bulk Power Competitive


Price Band

High wind
speed sites

4
2
0
1990

1995

2000

2005

2010

2015

2020

Perkembangan pemanfaatan
energi angin

jumlah PLTB yang ada di dunia saat ini sekitar 158 GW (tahun 2009), dan setiap
tahunnya mengalami peningkatan sebesar 20-30%.
Teknologi PLTB saat ini dapat menghasilkan energi listrik dengan efisiensi rata-rata
sebesar 40%. Hal ini karena akan selalu ada energi kinetik yang tersisa karena
angin yang keluar turbin tidak mungkin kecepatan = 0

Worldwide Production

2010 Worldwide Wind Energy Production = 2.8 Terawatt hours (TWh)


Average U.S. household usage = 3 kWh
2.8 TWh = 2,800,000,000 kWh / 3 kWh = 930,000,000 U.S. homes

Worldwide Production
Top Ten Producers (GWh)
1. China
2. U.S.
3. Germany
4. Spain
5. India

62.7
46.9
29.1
21.7
16.1

6. France
7. Italy
8. U.K.
9. Canada
10. Portugal

6.8
6.7
6.5
5.2
4.1

Tingkat kebisingan turbin angin

Tingkat kebisingan turbin angin


Turbin angin modern
umumnya tidak bising
Rule of thumb letakkan
turbin angin dari rumah
sejauh kira-kira 3x tinggi
tower

Environment Impact: Birds

Erickson et al. (2002)

Ilustrasi Wind mill, Wind farm & kite


ladder

Turbines Being Tested