Anda di halaman 1dari 90

Imam muslim di dalam kitab shahihnya (pada bab sholat) juga meriwayatkan suatu hadits

lain dari Muawiyah bin al Hakam al Sulami Radhiyallahu anhu bahwasanya ia berkata :
ketika saya sedang menunaikan sholat bersama Rasulullah shallahualaihi wasallam
tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum bersin, lalu saya segera menjawab bersin
laki-laki tersebut( mendoakannya):yarhamuka Allah ( Semoga Allah merahmati
engkau). Mendengar hal itu, kaum tersebut langsung mengarahkan pandangan mereka
kepadaku, hingga akupun berkata (di dalam hati):Alangkah celakanya aku, mengapa
kalian memandangiku seperti itu. Mereka kemudian menepukkan tangan mereka ke atas
paha mereka sebagai isyarat agar aku diam. Maka akupun kemudian diam. Ketika
Rasulullah shalallahualaihi wasallam telah selesai sholat, beliau kemudian memanggilku
(untuk menasehati), dan akupun berkata demi ayah dan ibuku, aku belum pernah
sekalipun menemui seorang pengajar, baik sebelum ataupun sesudah beliau yang lebih
baik daripada pengajaran beliau. Demi Allah, beliau tidak membentak ataupun
menghardikku, tidak pula beliau memukul dan mencelakaku.(Dengan santun)
Rasulullah menasehatiku : Sesungguhnya di dalam sholat tidaklah dibenarkan seseorang
mengucapkan sesuatu kecuali tasbih, takbir dan bacaan Al-Quran
Di dalam hadits ini terdapat hikmah untuk guru.Teknik pengajaran dengan cara memberi
nasihat. Kapan nasihat itu tepat diberikan, seperti apa cara menyampaikan nasihat dan hal apa
saja yang dimiliki oleh si pemberi nasihat.
Menurut Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi
rahimahullah, Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian,
yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasehati (Jamiul Ulum wal Hikam)
Seseorang yang diberikan nasihat di hadits itu merasakan belum pernah bertemu dengan
seorang pengajar sebelum atau sesudahnya yang lebih baik daripada Nabi. Nabi memanggil
orang tersebut selepas menyelesaikan sholat. Ini adalah modal awal memberikan nasihat ,
mengetahui kapan waktu tepat memberikan nasihat pada seseorang yang melakukan. Ada
jeda saat memberi nasihat kepada seseorang melakukan kesalahan. Sholatnya diselesaikan
dahulu, lalu memberikan nasihat. Tidak dipandangi berlama-lama ketika pelaku kesalahan
sedang melakukan kesalahan yang membuat sipelaku kesalahan menjadi merasa sangat
bersalah dan cemas.
Ibnu Masud pernah bertutur: Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah
menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia
bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah
menolak.
(Al Adab Asy Syariyyah, Ibnu Muflih)
Seseorang yang diberi nasihat di hadits itu merasakan contoh adab yang diberikan Rasul
ketika hendak memberikan nasihat. Demi Allah, beliau tidak membentak ataupun
menghardikku, tidak pula beliau memukul dan mencelakaku. Ini adalah cara memberikan
nasihat, penuh dengan adab. Tidak membentak, tidak menghardik, tidak memukul dan tidak
mencela.Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Seseorang yang
hendak dinasehati adalah seorang pemilik hati yang sedang terkunci dari suatu perkara, jika
perkara itu yang diperintahkan Allah maka dia tidak melaksanakannya atau jika perkara itu

termasuk larangan Allah maka ia melanggarnya.Maka harus ditemukan kunci untuk


membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasehat
yang disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab.
Seseorang yang diberikan nasihat di hadits itu merasakan kesantunan sang guru terbaik.
Memberikan nasihat dengan tidak membentak, menghardik, memukul bahkan mencela. Hal
seperti ini adalah kesantunan yang perlu dimiliki oleh seorang guru. Firaun sajayang jelas
kafir dan sosoknya paling kejam dan keras di masa Nabi Musa namun Allah tetap
memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar menasehatinya dengan lemah lembut. Allah
Taala berfirman,
()
Artinya, Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang
lemah lembut. (QS. Ath Thaha: 44).
tatkala nasehat dilontarkan dengan keras dan kasar maka akan banyak pintu yang tertutup
karenanya. Banyak orang yang diberi nasehat justru tertutup dari pintu hidayah. Banyak
kerabat dan karib yang hatinya menjauh. Banyak pahala yang terbuang begitu saja. Dan tentu
banyak bantuan yang diberikan kepada setan untuk merusak persaudaraan.
Wahai guru seperti itulah nabi kita mengajarkan cara memberi nasihat!
Wallahualam

PERSAUDARAAN ISTIMEWA
Diposkan Oleh:admin 0 Komentar

Seperti dongeng, dibuat buat dan cerita yang tidak nyata, namun itu semua terjadi di masa
generasi terbaik Islam.
Ada yang berkata, jika engkau berkenan maka ambillah rumah-rumah kami.
Ada juga yang mengajukan usul kepada Rasulullah, kiranya beliau sudi untuk membagi
Pohon Pohon Kurma mereka.
Bahkan saking istimewanya, ada yang berucap, Aku memiliki Harta benda yang banyak,
kita bagi dua harta tersebut. Dan aku memiliki dua orang istri, lihatlah mana yang engkau
suka, akan kuceraikan dan setelah iddahnya selesai silahkan engkau nikahi.
Tak diragukan lagi, kita pasti terheran heran membacanya, sebegitu kokohnya persaudaraan
Muhajirin dan Anshor, tidak pernah kita baca kisah nyata dalam sejarah manusia manapun
kecuali Islam.
Yang dibantupun tidak serta merta menggunakan kesempatan untuk mengeruk dan menikmati
harta saudaranya, dan bermalas malasan untuk berusaha mandiri. Bahkan mereka takut bila
semua pahala diambil saudaranya yang membantunya.

Mereka ada yang menjawab : Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu,
tunjukkanlah jalan ke pasar.
Ada pula yang jujur berkata : Wahai Rasulullah kami tidak pernah melihat satu kaum yang
kami kunjungi yang lebih baik toleransinya dalam masalah yang kecil, dan lebih baik dalam
mencurahkan perhatiannya dalam masalah yang besar dari pada kaum Anshor, mereka telah
mencukupi kami dan mengikutsertakan kami dalam pekerjaan mereka, hingga kami khawatir
mereka akan mengambil semua pahala..
Itulah ajaran Islam, membangun masyarakatnya atas dasar cinta kasih dan saling membantu
memenuhi kebutuhan bersama.
Kaum mukmin dalam kehidupannya jauh dari sifat egoisme dan monopoli, kehidupan mereka
penuh dengan gotong royong dan saling tolong menolong. Meski terkadang ada
kerenggangan dan terputus sesaat karena marah, tapi hal itu tidak boleh berlangsung lebih
dari tiga hari.
Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya sesama
muslim lebih dari tiga hari. (HR. Muslim)
Cerminan iman yang sempurna, sebagaimana Sabda Rasul, Tidaklah sempurna iman
seseorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia
mencintai dirinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Yakin akan sabda Rasul, Barangsiapa membantu memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya
Allah akan memenuhi kebutuhannya. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Allah akan senantiasa menolong hambanya selama hambanya tersebut menolong
saudaranya. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).
Ya Allah Ampunilah kami,mudahkanlah kami untuk mencontoh Rasulullah shallallahualaihi
wasallam dan meniru masyarakat sahabat radhiallahuanhum.
Dikumpulkan dan dirangkai dari kitab shahih Siroh Nabawiyyah. Dr. Akrom Dhiya

KESABARAN DAN KEMAUAN


Diposkan Oleh:admin 0 Komentar

Sifat-sifat yang dimiliki oleh Imam Malik dan menjadi modal keunggulannya di bidang ilmu,
bahkan modal bagi semua kesuksesan adalah kesabaran, ketekunan, keuletan serta tekad
untuk menyingkirkan semua hambatan dalam mencapai tujuan.

Kita melihat bagaimana Imam Malik sangat sabar dan tekun dalam menuntut ilmu, sampai-

sampai rela ia pergi ke rumah-rumah ulama dan berdiri di pintu rumah hanya untuk
menunggu mereka keluar dan mengikuti mereka ke Masjid.

Imam Malik duduk di pintu rumah seorang guru sambil menahan rasa dingin untuk menuntut
ilmu. Dalam mencari ilmu, Imam Malik bak seorang pejuang yang tidak lekang oleh cuaca
panas dan dingin, bahkan meski hutan belantara berubah menjadi panas atau cuaca dingin
menusuk tulang.

Ia sangat sabar menghadapi kekerasan gurunya dan selalu menerimanya dengan lapang dada.
Karena ilmu yang didapatnya dari mereka dapat menghapuskan luka akibat sikap keras,
ucapan pedas, dan celaan pahit yang terkadang dilontarkan tanpa alasan.

Imam Malik seakan melihat bahwa berpayah-payah dalam menuntut ilmu dapat menguatkan
ilmu itu sendiri dan menancapkannya dalam jiwa. Itulah sunatullah di alam wujud ini. Apa
yang datang dengan mudah biasanya tidak terlalu bernilai tinggi dan tidak mendorong jiwa
untuk menjaganya. Sementara apa yang datang dengan sukar, biasanya mahal dan jiwa akan
terdorong untuk selalu menjaganya.

Sabar dan kemauan keduanya alat untuk menuntut ilmu. Siapa yang tidak memilikinya, ia
tidak akan sampai pada tujuan dan tidak akan meraih kesuksesan.
Muhammad bin Ismail Al Bukhari mengisahkan tentang masa kecilnya :
Dimasa aku kecil, aku sering datang ke majelis para ahli fikih (fuqaha). Ketika datang kesana
aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka.
Suatu ketika, muaddib (guru) berkata kepadaku : Berapa (pelajaran) yang kamu tulis?
Aku menulis dua, jawabku
(Maksudnya beliau menulis dua hadits, tapi tidak lengkap dalam menjawab pertanyaan
muaddib-nya sehingga mengundang tawa para hadirin di majelis ilmu tersebut).
Maka salah satu syaikh dimajelis tersebut menasehati mereka :
Jangan kalian tertawakan anak ini, bisa jadi suatu hari nanti kalian akan ditertawakan anak
ini.
Dengarkanlah wahai orangtua dan para guru perkataan emas sang syaikh, beliau
menanamkan kepercayaan diri kepada anak yang baru saja ditertawakan di majelis ilmu.

Syaikh tersebut semoga Allah merahmati beliau- memberi pelajaran yang tidak pernah
terlupakan oleh murid-muridnya tentang makna menghormati dan tidak merendahkan orang
lain.
Majelis ilmu adalah majelis terhormat, bukan majelis bullying. Dengan taufik dari Allah,
Motivasi sang guru meneguhkan langkah imam Bukhari menjadi ahli ilmu terkemuka.
Sebagai bukti tak terbantahkan, kitab Shahih Bukhari adalah adalah kitab yang paling shahih
setelah Kitabullah. Allahu Akbar!
Maka simpanlah doa-doa terbaikmu dan lantunkan disaat yang tepat kepada muridmuridmu , wahai bapak dan ibu guru!.
( Baidhawi Razi, Lc) PJ syari KAF Banda Aceh

TEGURAN ATAS NAMA CINTA


Diposkan Oleh:admin 0 Komentar

Kegiatan pagi itu berjalan seperti biasa, usai ikrar, ustadzah mempersilahkan santri-santri 2F
untuk minum sebelum halqoh Al Quran dimulai. Dengan harapan menghilangkan sedikit
dahaga, menambah konsentrasi dan semangat untuk murojaah.
Ustadzah pun sudah menyiapkan materi untuk diberikan ketika halqoh dimulai. Berbekal
buku Wasiat-Wasiat Akhir Hayat dari Rasulullah, Abu Bakar, dll karya Zuhair Mahmud AlHumawi.
Diawali dengan basmalah, doa-doa perlindungan, ustadzah memulai dengan ajakan bersyukur
atas hidayah yang Allah berikan saat ini, nikmat iman, Islam, adalah nikmat terbesar yang
mampu mengantarkan seorang menuju kehidupan abadi nan penuh keridhoan, ucapan salam,
ya, surgalah tempatnya. Hingga dikatakan dalam firman-Nya dalam surah Al Fajr : 27-30
* *

*
Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surgaKu.
Tidak ada kata-kata yang lebih indah dari itu. Masuklah ke dalam surga-Ku.
Banyak orang-orang di luar Islam yang sebenarnya merasa kagum terhadap umat ini, karena
sesungguhnya hati itu cenderung pada kebaikan. Tidak sedikit orang yang menyatakan
keislamannya setelah merasakan kekaguman itu.
Ustadzah juga menceritakan kisah masuk Islamnya seseorang, karena menyaksikan kafilah
Ciamis berjalan kaki menuju Jakarta untuk membela agama yang suci ini, agama Islam,
kekagumannya terhadap ghiroh dan pengorbanan umat Islam itu tak bisa dibendung, sampaisampai memutuskan untuk bersyahadat, Maa Syaa Allah.

Kisah kedua tentang masuknya sahabat ustadzah, dari pulau yang jauh, sekarang sudah
memisahkan diri dari negara Indonesia, Timor-Timur yang kita kenal sekarang dengan Timur
Leste. Di saat harus memilih berpisah atau bergabung dengan Indonesia, jika berpisah maka
akan tetap tinggal di sana, agamanya pun ikut mayoritas yaitu Nasrani, jika berpisah, maka
diperbolehkan pindah ke pulau lain. Singkat cerita, akhirnya sahabat ini beserta keluarganya
memilih pindah ke Nusa Tenggara Timur. Ia mendapat hidayah dan memeluk agama Islam
melalui salah seorang dai. Namun orangtuanya masih bertahan dengan agamanya, Nasrani.
Akhirnya ia diajak hijrah untuk mempelajari agama Islam di pesantren muallaf Jakarta,
sampai tahun kemarin, ketiga orang adiknya mengikuti jejak kakaknya, memeluk agama
Islam. Lagi-lagi ustadzah mengajak para santri untuk bersyukur, buliran air mata seakan-akan
siap untuk jatuh.
Di tengah kekhusuan, tiba-tiba ada santri yang memotong pembicaraan tanpa izin terlebih
dahulu, Ustadzah, aku laper.
Yaa Allah Nak, ini sudah di halqoh, kenapa tidak bilang sebelum dimulai? Mana
penghargaanmu terhadap ilmu yang sedang disampaikan? ustadzah faham, itu manusiawi,
namun ada adabnya Nak, izin dahulu sebelum berbicara. Kami pun pagi ini belum makan.
Tahanlah sejenak atau persiapkan dari rumah. Ini bukan kali pertama kamu memotong
pembicaraan tanpa izin. Belajarlah menahan lisan, hikmah dari Allah menciptakan lisan itu
tertutup oleh gigi dan bibir, agar kita semua menjaga lisan. Tidak lama, bersabarlah, nanti ada
waktunya kudapan. Banyak anak-anak lain yang pagi ini belum makan, bahkan dari
kemarin. Bibir ustadzah sudah mulai gemetar menyampaikan ini, seketika terlintas video
anak-anak di Suriah yang memungut sisa-sisa roti di tanah karena lapar.
Teringat pula kata-katamu ketika awal masuk Kuttab, Aku mau mati di jalan Allah.
Laksanakan cita-citamu Nak, jaga lisanmu, perbaiki adabmu, perindah perangaimu.
Bersyukurlah ada di sini, kita diajari adab sebelum ilmu. Bersyukurlah, tidak semua sekolah
menerapkan ini. Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk, makin tawadhu akan
ilmu-ilmu yang kau miliki. Sungguh, teguran ini untukku dan untukmu atas nama cinta.
Doakan guru-gurumu juga agar kelak mati di jalan Allah, dalam keadaan husnul khotimah,
sehingga janji Allah di akhir surat Al Fajr itu untuk kita, untuk jiwa-jiwa yang tenang.
Seketika kelaspun hening, ustadzah melihat matamu yang seolah faham dengan apa yang
disampaikan, kamu mampu menahan lapar dan lisanmu hingga halqoh usai. Hatimu masih
bersih, tak sulit untukmu menerima teguran cinta ini, baarokallaah Nak. Semoga kamipun
seperti ini, mudah diingatkan ketika keliru, mudah diluruskan ketika salah arah, tanpa
sombong apalagi angkuh.
Walaupun materi yang sudah disiapkan tidak tersampaikan sepenuhnya, namun
kejadian ini berbuah hikmah dan nasihat. Alhamdulillah

Menggali tanah keras untuk bercocok tanam perlu tenaga, sedangkan menggali tanah subur,
cukup beberapa ayunan cangkul, tanah langsung gempur, tak perlu menguras keringat dan
berlelah payah. Bagi petani mengolah tanah adalah pekerjaan pertama sebelum masuk fase
menanam, jika salah dalam mengindentifiksi sifat-sifat tanah maka akan berakibat buruk bagi
masa pertumbuhan tanaman. Sebagai agama yang syamil dan mutakammil, bab pertanian
merupakan bagian yang tak luput dieksplorasi dalam peradaban islam.
Di abad ke 6 H ketika Abu Zakariyya Yahya bin Muhammad atau lebih dikenal dengan Ibnu
Al-Awwam (meninggal th 580H atau 1185 M) menulis kitab pertanian yang fenomenal
dengan judul Kitab Al-Filahah. Dari kitab inilah kemungkinan besar dunia barat belajar ilmu
pertanian modern-nya. Karena kitab tersebut diketahui sampai berabad-abad kemudian
diterjemahkan ke bahasa Spanyol dan kemudian juga kedalam bahasa Perancis hingga
pertengahan abad 19. Di antara isi dari kitab ini meliputi Teori tentang tanah, jenis-jenis dan
kwalitas tanah, cara memperbaiki tanah (di perguruan tinggi sekarang diajarkan di jurusan
ilmu tanah). [1]
Sedangkan Dalam Al-Quran karakteristik tentang tanah oleh Allah dengan jelas dikupas
tuntas, yaitu ketika tanah subur maka akan menghasilkan tanaman yang subur, tanah yang
tandus akan menghasilkan tumbuhan yang merana, perhatikan ayat berikut ini,


Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah
yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami
mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (QS. Al Araf
: 58)
Terkait ayat diatas di dalam tafsir ibnu katsir, Al-Bukhori meriwayatkan dari Abu Musa, ia
mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang
dengannya Allah mengutus aku adalah seperti hujan lebat yang menimpa bumi. (Pertama), di
antara bumi itu ada tanah yang subur yang dapat menerima air lalu tanah itu menumbuhkan
rumput yang banyak. Ada pula tanah tandus yang keras yang dapat menahan air, lalu air itu
dijadikan Allah bermanfaat bagi manusia, baik untuk minum, memberi minum ternak, dan
untuk bercocok tanam. (Kedua), hujan itu juga menimpa tanah lainnya yang gersang, yang
tidak dapat menahan air dan tidak dapat pula menumbuhkan rerumputan. (Perumpamaan
yang pertama), ialah bagi orang yang memahami agama Allah serta berguna baginya apa
yang dengannya Allah mengutusku. Ia mengetahui dan mengajarkannya. Dan yang terakhir
(perumpamaan yang kedua), ialah perumpamaan orang yang sombong dari ilmu (agama
Allah) dan mempelajarinya, serta tidak mau menerima petunjuk Allah yang dengannya aku
utus.[2]
Seorang guru ibarat tanah, yaitu tanah yang subur yang dapat menerima air, sedangkan tanah
yang subur ibarat orang yang mampu menerima dan memahami agama Allah, dan meyakini
bahwa ilmu tersebut berguna baginya. Kesimpulannya keyakinan atau keimanan merupakan

modal dasar, bagi seorang Guru. Yakin bahwa dengan sering berinteraksi dengan sumber ilmu
dari Allah, yakni Al Quranur Karim, mampu membentuk kedekatan dengan Allah, sehingga
Allah akan memberikan rahmatnya menjadi Guru yang subur, subur ilmunya, subur
keberkahannya.
Saat Guru sering menghafalnya, mentadaburi dan juga mengaplikasikannya, maka akan Al
Quran akan menjadi ruh pendidikan Rabbani. Seperti yang dicontohkan oleh para sahabat
yang telah berhasil menjadi Guru Peradaban, Karena mencelupkan dirinya dengan Al Quran.
Thabari dalam kitab Tafsir-nya menuturkan kisah dari Husein bin Waqid berikut: Amasy
menuturkan pada kami kisah dari Syaqiq, bersumber dari Ibnu Masud. Dia berkata, Salah
seorang dari kami (sahabat Nabi) jika mempelajari sepuluh ayat Al Quran, tidak akan
beranjak ke ayat lainnya sampai dia mengetahui artinya dan bisa mempraktikannya.[3]
Semoga para Guru yang selalu mendekap erat Al Quran, mampu membentuk manusiamanusia mukmin terbaik, seperti sahabat mulia Anas bin Malik melahirkan para ulama besar
seperti, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Makhul dan Umar bin Abdul Aziz. Dan Umar bin Abdul
Aziz ini nantinya akan menjadi seorang khalifah yang adil dan bijaksana.
[1] http://www.geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/contentcomponent/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1583-islamicagriculture
[2]Shahih Tafsir Ibnu katsir, Ibnu Katsir, Jilid 3 Terjemahan Abu Ihsan al-Atasari
et. al, (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir: 2011). h. 591-592
[3] Muhammad Sang Guru, Menyibak Rahasia Cara MengajarRasulullah,
Terjemahan Agus Khudori, (Jawa Tengah: Armasta: 2015). H. 99

Al Quran adalah sumber penerang kehidupan. Ia ibarat lentera ajaib bagi hati ; tanpa
perlu di sulut api, minyaknya sudah dapat menerangi ruang kalbu. Menyelami samudera
hikmah di balik kedalaman makna ayat ayatnya ; upaya ini akan membentuk kemampuan
berfikir yang utuh dan kemampuan beramal yang sempurna, demi kebahagiaan hamba.
Semakin dalam ayat ayat kitab Allah itu diselami hamba, semakin jelas tapak jalan yang
harus dilalui, yakni oleh tiap musafir akhirat jika ingin capai tujuan dengan selamat.
Bentangan kehidupan dari penciptaan dunia hingga hisab di akhirat terlihat nyata. Dan
manusia tinggal memilih kemana hendak berpulang ; apakah menuju pangkuan rahmatNya,
ataukah menuju impitan murkaNya
_Ibnu Qoyyim al Jauziyyah_
Begitu pentingnya urusan hati, sampai Allah menurunkan Al quran guna menjaga
kesuciannya. Maka manusia yang jauh dari Al quran keruh lah jiwanya tertutup
kejahiliyyah-an. Seperti perkataan Muhammad Qutbh Jahiliyyah adalah kondisi jiwa yang
menolak di bimbing oleh wahyu
Di akhirat kelak Rasulullah shallahualaihi wasallam akan mengadu kepada Allah tentang
perilaku umatnya yang telah mengabaikan Al quran.

Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran ini


diabaikan (Qs. Al Furqon : 30)
Ada sedikitnya lima hal perbuatan manusia yang dikategorikan sebagai pengabaian terhadap
Al quran menurut Ibnu Qoyyim.
1. Tidak mendengarkan, mengimani dan memperhatikan Al quran.
2. Tidak mengamalkan ketentuan halal haram di dalam Al quran. Meskipun ia sudah
membaca dan mengimani-nya.
3. Tidak memutuskan hukum berdasarkan Al quran dan tidak menjadikan Al quran sebagai
sumber hukum, baik dalam masalah pokok pokok Agama maupun cabang cabangnya.
Bahkan beritikad bahwa Al quran dan dalil dalil tekstualnya tidak menunjukan kebenaran
yang bisa diyakini seratus persen. (Ini seperti yang diyakini oleh golongan Al asyariah dan
yang sepaham dengannya)
4. Tidak menghayati, memahami dan mengetahui maksud pernyataan- pernyataan yang di
ungkapkan di dalam Al quran.
5. Tidak menjadikan Al quran sebagai terapi dari segala penyakit hati, malah mencari
penyembuhan dari selainnya.
Maka dari situ kita bisa pahami ciri jiwa yang tunduk oleh wahyu adalah,
1. Lisan yang tak pernah puas membaca wahyuNya sambil mengharap setiap hurufnya
terbalas pahala.
2. Dia menjadikan Al quran sumber ilmu untuk mengetahui mana yang haq dan yang batil,
mana yang halal dan yang haram. Karena akalnya yang tak puas menilai sesuatu hanya
berdasarkan baik dan buruk, manfaat dan mudhorot. Karena jika menilai sebatas itu tanpa Al
quran semua orang pun bisa menilai.
3. Berinteraksi dengan Al quran adalah sarana komunikasi dirinya untuk memahami
keinginan keinginan sang Pencipta. Untuk memahami siapa dirinya, dari mana dia berasal,
kemana akhirnya tujuan hidupnya. Dan apa hakikat tujuan hidupnya.
4. Ingin selalu beramal berdasarkan ayat yang telah merasuk dalam pola fikir dan hasrat
jiwanya.
5. Menjadikan Al quran sebagai sumber obat dari segala penyakit fisik ataupun jiwa nya.
Semoga jiwa kita adalah jiwa yang Allah lunakkan untuk tunduk terhadap wahyu Allah. Yang
bergegas rindu penuh keridhoan tatkala Allah memanggil para Jiwa yang tenang untuk
menjadi hambaNya dan masuk kedalam surgaNya.
Guru dan santri sudah mulai liburan.
Bukan berarti gak belajar dan gak melakukan apapun kecuali bermain dan bermain.
Allah Yang Maha mengetahui setiap perilaku hamba-Nya berfirman :

Katakanlah : setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. (Al-Isra :84)
Liburan merupakan satu fase dimana guru dan murid seharusnya menggunakan waktunya
untuk memperbaharui semangat dan meng-upgrade keilmuan.

Kita bisa merancang liburan yang menyenangkan dan diridhai Allah.


Bukan sekedar pertanyaan. Liburan kemana? Berapa budget yang dikeluarkan? Kendaraan
apa yang digunakan? Dan pertanyaan yang sejenis.
Mari kita mulai liburan ini dengan dengan meluruskan niat kita. Ikhlasun niyah, niat yang
ikhlas, karena niat yang baik adalah perniagaan para ulama dan orang-orang shalih. Agar
semua yang kita rencanakan berbuah pahala disisi Allah. Agar semua amalan shalih kita tidak
sia-sia.
Kemudian liburan ini juga merupakan waktu yang sangat tepat untuk lebih meningkatkan
kualitas ibadah, terutama amalan wajib. Mungkin saja hubungan kita dengan Allah
mengendur dengan alasan banyak pekerjaan ini dan itu. Momentum liburan yang singkat ini
mari kita gunakan untuk beribadah secara paripurna.
Jagalah shalat lima waktu
Rutinkan wirid Alquran
Hadirilah kajian ilmu
Bacalah buku dan kisah yang bermanfaat
Perbanyaklah zikir
Berbaktilah kepada orangtua
Ulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan
Rencanakanlah rihlah tarbawiyah dan tafakkur ayat-ayat Allah yang tersirat dan tersurat
Berbagilah kebahagiaan kepada kaum muslimin
Dan masih banyak ibadah yang bisa kita rencanakan kemudian kita dikerjakan.
Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu- berkata : Sungguh saya sangat membenci
seseorang yang tidak ada kerjaan, tidak bekerja untuk dunianya dan tidak pula untuk amalan
akhirat.
Ibnul Jauzi Rahimahullah- bahkan lebih dahsyat menyindir orang yang tidak berkarya,
seraya mengatakan : Aku berlindung kepada Allah dari orang-orang yang tidak berbuat apaapa (Batthalin).
Semoga liburan antum berkualitas.
Baarakallahu fiikum
Ust. Baidhawi Razi,Lc
Akhir semester merupakan ujian bagi para mujahid pendidikan di setiap instansi pendidikan
yang ada, mengapa tidak, mereka harus mempersiapkan segalanya selama satu semester
untuk mempertanggung jawabkan di hadapan para orang tua apa yang telah mereka berikan
selama ini dan apa saja yang telah di dapatkan anaknya selama waktu itu juga, tidak jarang
seorang guru harus lembur semalaman untuk mempersiapkan raport dan sebagainya. Itulah
perjuangan guru, seorang yang dari tangannya bisa merubah wajah dunia ini, seorang yang
dari tangannya dapat melahirkan suatu generasi yang hebat tentunya dengan izin Allah.
Berbeda dengan para santri-santri dan para murid-murid mereka, ujian semester merupakan
puncak perjuangan di setiap enam bulannya yang akan berakhir indah ketika datangnya hari
libur, sehingga terkadang sepekan atau bahkan dua pekan sebelum liburan aromanya sudah

terasa, terasa banyak santri yang sudah sedikit malas untuk hadir belajar dengan berbagai
alasan.
Berbicara tentang libur maka di pikiran kita akan tergambar suatu keadaan dimana kita akan
santai dan terbebas dari ikatan rutinitas sehari-hari yang mengikat yang kita lakukan,
sehingga kita seolah-olah berpikir akan melakukan apa saja yang kita inginkan dan berlehaleha, apakah bersama keluarga, teman atau yang lainnya.
Namun dalam islam liburan bukanlah waktu untuk itu, karena urgensi waktu sangatlah
penting sampai sampai Allah berulang kali bersumpah dengan waktu, bahkan lebih spesifik
lagi dalam surah Al-Asr Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Asr:
1-3)
Rasulullah juga mengingatkan kita tentang waktu dalam banyak haditsnya diantaranya;
Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan
waktu luang. (Muttafaqun alaih)
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari membawakan perkataan Ibnu Baththol. Beliau
mengatakan,Makna hadits ini adalah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu
luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang mendapatkan seperti ini, maka
bersemangatlah agar tidak tertipu dengan lalai dari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang
diberikan oleh-Nya. Di antara bentuk syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi
larangan. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, dialah yang tertipu.
Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama mengatakan, Terkadang manusia berada dalam kondisi
sehat, namun dia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dalam aktivitas dunia. Dan
terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun dia dalam keadaan sakit. Apabila
tergabung kedua nikmat ini, maka akan datang rasa malas untuk melakukan ketaatan. Itulah
manusia yang telah tertipu (terperdaya).
Dalam kitab Al Jawaabul Kaafi karya Ibnul Qayyim disebutkan bahwa Imam Syafii pernah
mendapatkan pelajaran dari orang sufi. Inti nasehat tersebut terdiri dari dua penggalan
kalimat berikut:
Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah
akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan
tersibukkan dalam hal yang sia-sia.
Tentunya kita tidak ingin menjadi orang yang merugi dengan datangnya liburan, karena
secara makna bagi seorang guru yang mewakafkan dirinya untuk pendidikan dan pembinaan
generasi ini, liburan hanyalah peralihan rutinitas dan kegiatan mengajar, yang biasa sehariharinya di lembaga pendidikan yang formal beralih ketempat yang non formal dan lebih luas
cakupannya, karena sejatinya mereka adalah guru dalam setiap keadaan. Dan bagi seorang
mukmin waktu luang yang Allah berikan adalah merupakan sarana yang harus digunakan
untuk lebih meningkatkan lagi intensifitas ibadah sehingga ruhiyah semakin terjaga dan
meningkat.
Maka mari kita isi liburan ini dengan nilai-nilai dan hal-hal yang bermanfaat, karena pada
hakekatnya tidak ada libur bagi seorang mukmin dalam kehidupan dunia ini sampai mereka
menjumpai kematian.
Selamat berlibur para mujahid pendidikan, selamat berlibur para calon penakluk Roma dan
penggenggam peradaban.
Ref;
1. Al-Quran terjemahannya

2. (https://rumaysho.com/2782-waktu-laksana-pedang-2.html)
RAFIARDI
GURU KELAS IMAN QONUNI IKHWAN 2-3 KAF BEKASI
Libur telah tiba-libur telah tiba, horee-horee hatiku gembira. Ini adalah bagian dari lirik
lagu yang sering kita dengar. Jika libur tiba maka hati anak-anak gembira. Kata gembira
mendapatkan liburan dapat bermakna positif juga bisa bermakna negatif. Di dalam tulisan
ini saya tidak membahas tentang masalah negatifnya dari lirik tersebut. Tapi kita dapat
menyimpulkan sendiri, seperti apa dampak buruknya setelah kita mengambil pelajaran dari
kalimat imam syafii :
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan
merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, engkau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan
kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.
Dari kata mutiara yang disampaikan Imam Syafii, terdapat sebuah ajakan besar untuk
manusia. Ajakan untuk meraih sebuah kebahagiaan bukan hanya di dunia tapi kebahagiaan
akhirat. Seperti apa ajakan-ajakan itu, mari kita telaah kata mutiara yang jernih itu
Pertama : Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Menghambur-hamburkan waktu hanya berkutat di kampung halaman . Atau hanya berkutat
menghambiskan waktu di rumah. Ini adalah nasihat untuk kita, isilah anak-anak diliburan
sekolahnya dengan hal yang tidak berdiam diri di rumahnya. Kita sering lupa terhadap
media-media permainan di rumah yang justru menghilangkan nilai-nilai ilmu dan
keberadaban.
Maka, masa liburan untuk orang berilmu dan beradab mengisinya dengan bergerak. Ciptakan
kegembiraan-kegembiraan dengan tetap bergerak, agar sekembalinya ke sekolah nanti
menambah semangat baru untuk menuntut ilmu.
Jika kita adalah orangtua pekerja, saatnyalah mengambil cuti panjang untuk menemani buah
hati mengisi liburan untuk bergerak. Jika kita adalah guru, saatnyalah mengupgrade ruhiyah
dengan mendatangi sanak saudara, meminta nasihat, menyejukkan otak dan hati dari
kepenatan rutinitas pengajar. Jika kita adalah .( catat sendiri profesinya), maka isilah
liburannya dengan bergerak di kampung halaman.
Kedua : Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Disinilah waktu yang tepat untuk pulang kampung. Kalau memang merantau ke negeri orang
itu adalah kampung kita sendiri. Atau bisa juga isi dengan berkunjung ke kampung salah satu
teman kita di daerah yang lain. Merantau sejenak ke negeri orang banyak hal yang akan
didapati oleh kita. Setidaknya ada lima hal yang bisa kita dapati saat merantau :
Pergilah dari rumahmu untuk mencari keutamaan, dalam kepergianmu ada 5 (lima)
faedah,yaitu menghilangkan kesusahan,mencari bekal hidup,ilmu, tatakrama dan teman
sejati, meskipun dalam bepergianpun terdapat hina dan terlunta-lunta,menembus belantara
dan menerjang kepayahan-kepayahan (imam syafii)
Ketiga : Merantaulah, engkau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Kalau ini saya punya pengalaman pribadi. Ketika dahulu diamanahi mengurus pesantren di
pulau Kalimantan. Saya mendapati seorang ustadz yang ikut merantau mengurusi pesantren
tersebut. Ternyata hasil dari merantau itu, bukan hanya mendapatkan kerabat dan kawan yang
baru. Sampai dia mendapatkan pasangan hidup baru, dan menikah di sana.
Ini adalah contoh dari aktifitas merantau. Masing-masing kita akan memiliki pengalaman
unik ketika mengisi liburannya dengan merantau.
Keempat : Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang
Liburan, hanyalah istirahat sejenak untuk memutar kembali semangat menuntut ilmu.
Memang hidup itu harus berlelah-lelah. Sudah selesai satu urusan, maka segera kerjakan
urusan yang lain begitu seterusnya.

()

Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain( QS Al-Insyirah [94]: 7).
Seperti itulah telaah yang saya Lakukan untuk dapat dijadikan inspirasi mengisi liburan.
Sebagai penutup dalam tulisan ini, kalimat berikut ini menjadi penguat kita untuk dapat
mengisi liburan dengan yang bermanfaat :
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika air mengalir menjadi jernih dan
jika tidak mengalir air akan keruh menggenang ( Imam Syafii)
Wallahualam
Imam as syafii hafal al quran di usia 7th,
imam at thobari hafal al quran usia 7th,
ibnu qudamah hafal alquran pada usia 10 th,
ibnu sina hafal al quran pada usia 10 th,
imam nawawi hafal al quran sebelum baligh,
Data yang saya sampaikan tersebut hanya secuil dari banyaknya para ulama yang Allah
hadirkan di dunia ini, kita belum berbicara tentang tokoh besar lainya, tentang umara nya dan
semuanya yang Allah hadirkan, dan kita lihat kehadiran mereka memberikan pengaruh begitu
besar tidak hanya bagi kemaslahatan dunia pada zaman itu namun hingga sampai pada zaman
ini, sejarah mencatat dengan tinta emas, mereka harum bukan hanya bagi kaum muslimin
saja, namun bagi umat manusia.
Sungguh teramat lucu memang, jika kemudian umat hari ini justru terkagum kagum dengan
bagaimana barat menghadirkan tokoh tokohnya, yang pada dasarnya apa yang mereka
lakukan hanyalah bentuk pengembangan dari ilmu ilmu yang diwariskan oleh ulama ulama
kita sebagaimana yang saya sebutkan di atas.

Baik jika demikian marilah kita belajar, belajar bagimana mereka para ulama ini memulai..
( ) :
Simak bagaimana penuturan Imam Malik tersebut, tidak akan pernah baik generasi umat ini
kecuali dengan melakukan perbaikan sebagaimana umat terdahulu.
Dari perkataan Imam Malik ini, kita bisa kolerasikan dengan beberapa data yang saya
sebutkan tentang bagaimana konsep pendidikan yang dibuat dan urutan pendidikan yang
digariskan.
Ya semua memulainya dari Al Quran, ternyata Al Quran menjadi formula terdepan menjadi
pondasi paling penting tentang terlahirnya generasi hebat tersebut.
Sangat banyak sekali sanjungan para ulama, dan wasiat nabi yang berbicara tentang ini, maka
izinkan saya untuk sedikit menggali diantara keistimewaan proses pendidikan nubuwah ini
dan sedikit analisa keberhasilan yang akan trlihat, lebih spesifiknya berkaitan dengan Al
Quran dan manhaj tarbawi yang kami terapkan di Kuttab Al Fatih.
Paling tidak, ada beberapa turunan yang dihasilkan dari manhaj tarbawi kami, khususnya di
dalam Talaqqi.
Pembukaan :
Jangan tinggalkan proses mahal ini, karena keberhasilan seorang guru sangat dipengaruhi
dengan bagaimana ia memulai , dan waktu ini merupakan waktu penggemburan hati,
penyampaian maklumat, dan hal hal besar yang akan dihadirkan di dalam halqah, sehingga
keberhasilan masa ini akan melahrikan santri santri yang siap untuk mendapatkan arahan dari
sang guru.
Qiraah mitsaliyah :
disini santri akan belajar sikap samina wa athona, mendengarkan dengan seksama bagimana
sang guru mengajar,tidak berani membantah, indah bukan jika kelak dari proses ini lahir
generasi dan para pemimpin yang selalu mendengar bagaimana para ulama berbicara.
Taqdim ziyadah :
pada proses ini, santri akan belajar menyampaikan ilmu sebagaimana ilmu yang telah
disampaikan guru,dan guru akan senantiasa membimbing dan menegur jika terjadi kesalahan,
bayangkan akan hadirnya generasi yang senantiasa menjaga keutuhan dan keontentikan ilmu,
dan selalu objektif dalam menyampaikan kebenaran.
Murajaah fardhiyyah :
disini santri belajar mengulang dan terus berintrospeksi terhadap apa yang sudah
diamanahkan oleh sang guru, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi pribadi yang selalu
bermuhasabah, mereka tidak akan mengedepankan ego, mereka tidak akan mudah tercerai
berai, dan tidak mudah terprovokasi, karena muhasabah diri selalu menjadi landasan awal
dalam bertindak.

Murajaah jamai :
disini santri belajar kompak dan saling menasehati antar santri demi menjaga keutuhan ilmu
dari sang guru, akan lahir generasi yang saling bertaawun dalam kebaikan dan ketakwaan,
dan saling memberi nasehat.
Tasmi hari jumat /parade tasmi : proses pengasahan mental santri untuk bisa berani
menyampaikan dan menyrukan ilmu yang haq
Ujian :
bentuk pertanggung jawaban atas ilmu yang sudah diterima dan apakah masih otentik ataukah
sudah berubah
Allahu Alam.,, tentu Allah memiliki rencana yang terbaik, tentang bagaimana masa depan
generasi rabbani tersebut.
Semoga Allah hadirkan generasi hebat itu, dan semoga kita termasuk kedalam golongan
yang turut serta membidani lahirnya mereka.

Dalam silaturahim saya ke salah seorang senior saya, dengan gurau beliau berkata: Ayo,
sudah cari kado belum untuk hari ibu?
Di grup orang-orang baik yang ada di media sosial pun bermunculan berbagai kreasi gambar
tentang kemuliaan seorang ibu dan ujungnya: Selamat Hari Ibu.
Saya baru sadar kalau ini adalah bulan di mana hari ibu diperingati. Dari sejak awal, saya
katakan bahwa berbagai peringatan hari tersebut jelas bukan karakter agama Islam ini. Tak
hanya hari ibu, ada juga hari ayah, hari tembakau, hari kanker, dan entah hari-hari apa yang
akan diusulkan kembali setelah ini.
Ini hadir dari kebiasaan sebuah masyarakat yang tidak mampu memenuhi hak seseuatu yang
diperingati tersebut. Maka untuk memberikan kepedulian dan perhatian mereka, hari itu
diadakan.
Silakan baca sejarah hari-hari tersebut. Hari ibu ini contohnya. Hari yang mulai diramaikan di
Amerika ini menjadi hari yang diperingati mengingat masyarakat Amerika adalah masyarakat
tanpa ikatan kekeluargaan seperti yang kita kenal dalam Islam. Semakin hari semakin
renggang, bahkan bisa tidak saling kenal. Kawin cerai semakin membuat rumit hubungan
antara anak dan orang tuanya. Tak ada bab birrul walidain dalam kajian etika mereka.
Melihat itu semua, nurani mereka mulai terusik. Ibu yang berjasa setidaknya- mengandung
dan melahirkan, harus dihormati jasanya. Bahkan gereja tak sanggup menyuguhkan moral itu.
Hingga Anna Jarvis tahun 1908 untuk kali pertama membawa bunga yang dibagikan kepada
para jemaat yang ada di gereja tempat dahulu ibunya beribadat. Sebelum ini semua, Julia
Ward Howe sudah mengkampanyekan ibu untuk keselamatan di Inggris, dalam rangka
menyatukan wanita untuk melawan peperangan yang sedang terjadi.

Anna Jarvis memilih waktu Minggu, karena ia ingin menjadi peringatan yang berkekuatan
spiritual gereja. Konggres Amerika baru menyepakatinya sebagai hari resmi nasional pada
tahun 1914.
Tapi tahukah Anda, kalau Anna Jarvis akhirnya menyesal?
Hanya 9 tahun setelah diresmikannya hari ibu, Amerika mulai berpesta di setiap hari ibu tiba.
Dengan dalih menghormati ibu, mereka hanya memanfaatkannya untuk bisnis dan marketing
berbagai hadiah di pasar. Sakralitas gereja telah berubah menjadi ajang marketing pasar.
Anna Jarvis menyesal, Saya berharap bahwa saya tidak memulai hari ini, karena ia telah
keluar dari kendalinya.
Anna mengerahkan sisa hidup dan hartanya untuk mengembalikan hari yang telah disesalinya
itu. Dengan semua kemarahannya. Tapi tanpa hasil. Bahkan disebutkan bahwa ia ditangkap
tahun 1948 gara-gara demo atas keruhnya hari ibu, dia dianggap mengganggu kesalamatan.
Maaf, apa istimewanya sejarah hari ibu di atas?
Bermula dari pembagian bunga dan hanya berujung pada penjualan bunga. Bermula dari
gereja berujung penyesalan. Dan akhirnya penangkapan
Maaf, apa istimewanya?
Cermatilah semua peringatan yang mereka buat. Tak jauh dari suasana seperti itu.
Perlahan tapi pasti, peringatan seperti ini mulai memasuki tubuh muslimin yang tak lagi
mempunyai pertahanan kokoh. Termasuk negeri ini. Kita lupa kalau kita ini muslim. Tak
memerlukan sebuah hari di mana kita menghormati dan berbakti kepada ibu kita.
Karenanya,
Maaf ibu
Tak ada bunga untukmu
Tidak kartu tak pula makanan kesukaanmu
Hanya di hari ibu
Karena aku sadari sepenuhnya
Kaulah segalanya
Tempatmu hanya sederajat di bawah Allah dan Rasul-Nya
Tiga kali lipat di atas ayah kau lebih mulia
Surga ada di bawah telapak kakimu

Kau pintu surga anak-anakmu


Makhluk yang paling berhak terhadap diriku adalah dirimu
Perintah Al-Quran untuk bakti hanya menyebut jasamu
Al Adabul Mufrod karya Al Bukhari membuka dengan bab tentangmu
Doa ampunan dan kasih sayang selalu terkirimkan untukmu
Setelah amal dan dalam sujud panjangku selalu kado doa untukmu
Bahkan,
Bakti kepadamu tak terhenti setelah tiadamu
Untuk mengantar yang terbaik hingga peristirahatan indahmu
Untuk semua janji, kewajiban, dan wasiatmu
Untuk saudara dan kerabatmu
Untuk teman baikmu
Karena seluruh hidupku untukmu,
di setiap hela nafasku
Sadar, tawaf menggendongmu tak mampu membalas setetes air susumu
Dan,
Karena bakti tak mengenal hari
Sumber tulisan :
www.parentingnabawiyah.com
http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikelkeluarga/ibu-parenting/245-ibu-maaftak-ada-bunga-untukmu
Sungguh dalam setiap jenak aktivitas kita sebagai guru, terkandung berjuta bulir-bulir makna.
Bagi sesiapa yang mata, telinga, dan hatinya; terhidupkan dengan nafas robbani niscaya
termudahkan dalam menguak apa-apa yang tersembunyi. Maka menjadi hiburan bagi jiwa
tatkala raga belum mampu berziarah menjelajah kota-kota yang memancar makna sebab jauh
dan mahalnya, karena di sini pun; di sekeliling kita teramat melimpah hikmah dan
penghayatan itu untuk kita reguk; kita nikmati, kemudian kita lazimi dalam amal-amal
yaumi; agar menjadi kewaskitaan batin-jiwa kita.
Seumpama dalam berkegiatan di musim-musim ujian. Sebuah keniscayaan bagi guru untuk
menyusun butir-butir soalan. Adalah sekata dua kata berserakan di udara yang menginspirasi
kita; menanti dirangkai menjadi sekalimat soal-tanya. Kita tentu merasakan bahwa menata

baris-baris soal yang berjejalin satu sama lain menjadi satu sajian ujian yang padu padan,
tidaklah sesederhana yang dikira. Tapi, tantangan menghidupkan soal yang kering dengan
sentuhan beriris-iris rasa iman yang coba kita siramkan, tentu satu hal yang amat
mengasyikkan. Maka tak ayal jika soal kering dan layu yang berbunyi: Gambarkan
bagaimana proses terjadinya hujan! kemudian kita segarkan menjadi Gambarkan
bagaimana proses terjadinya hujan yang Allah turunkan! Atau dalam soal terkait anatomi
yang bernada: Bagian tubuh mana yang kelak darinya Allah bangkitkan manusia pada
Yaumul Baats?; Wajah para penghuni surga adalah wajah yang ., dan seterusnya. Serta
kalimat-kalimat semisal yang senantiasa mengaitkan pembacanya pada kaitan keimanan.
Dan para santri pun bermunajat sejenak sebelum memesrai lembaran soal iman sebagai ikrar
suci bahwa Allah taala melihatnya senantiasa hingga yang terbetik di kedalaman hati. Maka
jadilah awal pelaksanaan ujian ini laksana parade iman yang mengesankan.
Jauh sebelum itu, pada mulanya kita para guru melalui proses di mana soal yang hendak
diujikan diperiksa secara keseluruhan yang bahkan melibatkan juru periksa sebanyak dua
hingga empat orang. Soal-soal ini akan ditakar ulang; dicermati matang-matang; hingga
diputuskan laik tidaknya disajikan. Begitulah prosesnya berulang setiap ujian akhir atau
semesteran.
Dan mari sejenak melihat lebih rapat. Sebab sesungguhnya dalam penyaksamaan ini, banyak
kita jumpai metafor-metafor sarat makna bagi kehidupan kita sehari-hari.
Seperti halnya soal yang perlu dikoreksi, kita pun hakikatnya sangat berhajat untuk
memeriksa diri. Jika untuk menghadirkan sebuah soal yang nyaris tanpa cela saja butuh
dicermati hingga putaran empat kali; lalu bagaimana halnya dengan diri yang sejatinya penuh
cela dan noda? Maka seandainya kita memiliki dalam sehari empat pengoreksi atau lebih
banyak dari itu, setidaknya cela itu dapat tertabiri hingga kemudian tak lagi menodai. Seperti
halnya shalat yang tertegak dalam lima waktu, yang (seharusnya) menjadikan qalbu lebih
terjaga dari paparan debu dan abu. Seperti itu pula kiranya aktivitas berkoreksi bagi diri;
kian membersihkan raga serta menjernihkan nurani.
Berperiksa mengingatkan kita, bahwa hidup hanyalah sesebrang jalan semata. Berperiksa
mengingatkan kita, tentang menggapai ikhlas dan mengusir riya. Berperiksa mengingatkan
kita, siapa akhlaqnya memesona tempatnya di surga. Maka berbahagialah yang dalam
hidupnya hadir para pemeriksa dan pengoreksi yang tulus, jikapun bukan terwujud dalam
sosok insani, dalam kontemplasi pun tak mengapa untuk kita akui.
Masih dalam menyoal periksa-memeriksa.
Di akhir ujian, sebiasanya para guru meneliti setiap jawaban santri. Dihitung benar atau salah
di setiap barisnya. Ditimbang dengan adil dan bijak di segenap kalimatnya. Ditilai seberapa
besar kesesuaian dan keselarasan.
Seperti dalam jawaban santri yang kita koreksi benar salahnya; sungguh ia seakan
menggambarkan amal-amal kita yang sedang berbicara. Terkadang dalam berkoreksi terbaca
amal benar dan baik; semoga ia ikhlas dan murni. Sering dalam berkoreksi terkuak kesilapan
yang nyata maupun tersembunyi; semoga masih berkesempatan kita dalam memperbaiki.
Berulang kali dalam berkoreksi terungkap soalan rumit yang tertunda untuk dijawab; semoga
kelak dimudahkan menyelesaikannya dalam kali lain di episode hidup kita.
Kadang pula tanpa sadar tersungging senyum kita yang tak jarang menjadi tawa; saat
membaca jawaban santri yang amat menggelikan hati; lucu campur heran hingga terbit
kernyit di dahi; sesekali gemas membaca jawaban yang teramat-sangat jauh dari prakiraan.
Sebab soal yang terbaca oleh mereka salah dimengerti. Maksud yang dipinta tak jua
dipahami. Akhirnya meski tak sampai hati, palang bersilangan terpaksa dicorengkan. Tapi
pada jawaban mereka yang sering benar adanya, insya Allah menyejukkan mata-hati kita.
Jawaban-jawaban itu seumpama jawaban-jawaban dalam soalan hidup kita. Soalan yang
kadang kita salah menjawabnya; permasalahan yang sering kita luput memaknainya;

pertanyaan yang acapkali diri tak jua mengerti. Kesalahan dan kekhilafan itu tersapa pada
ingatan gerak amal kita yang lalu. Segala tingkah lugu berpadu kepolosan dan kebodohan
masa itu, mengingatnya saja membuat kita tertawa; atau sekadar menyunggingkan senyum;
sesekali sesal datang mengenang laku yang di luar batasan. Dan kita berharap semoga Allah
taala berkenan mengampuni amal-amal yang rusak lagi cacat. Tapi pada amal yang
dzahirnya benar adanya, semoga Allah jua menerima niat yang terpancang di dalamnya.
Begitulah dalam berkesibukan menyiapkan soal ujian, terdapat senarai pemaknaan yang
mendayai kita untuk berkesabaran hingga akhir terpaan. Setiap bagiannya sambung
sinambung saling mendukung permisalan yang ada.
Lihatlah tanggal pada bagian awal ditulisnya waktu ujian itu; ia seperti waktu tertakdirnya
amal kita yang lalu. Di titik itu sandiwara ujian mulai berlaku.
Tengoklah baris yang tertuliskan nama kita; ia jelas menanda bahwa kitalah yang kelak
terhisab atasnya; bukan selainnya. Lalu pandanglah tiap bulir soal yang usai kita jawab;
berhitunglah adakah hasilnya memuaskan? Ataukah justru mencemaskan? Hisablah dengan
sekuat daya kita, dan akhiri dengan memberi dua tanda diantara pilihan yang ada: wajah
yang tersenyum
atau muka yang bermasam

Kelak jika hasilnya menyenangkan, dengan percaya diri dan penuh kesyukuran kita
tempatkan lembaran nilai terbaik itu di urutan teratas. Tapi jika nilai itu agaknya memalukan,
kita biarkan tertutup dan tersembunyi agar tak ada sejentik mata pun yang memandang. Itulah
fitrah kita. Senang dengan yang menggembirakan, malu pada apa-apa yang mengecewakan.
Dan kita berharap tidak menjadi golongan yang di-remedial dengan meminta datangnya
siaran ulang untuk mensyafaati nilai yang kurang. Sebab waktu yang telah lewat tak akan
pernah bisa diulang.
Akhirnya di ujung pentas ujian ini, dihelatlah prosesi raportan (penyerahan rapor). Di sana
terhidang setiap soalan untuk dipertanggungjawabkan. Dialah tempat segala putusan
bermuara. Tempat diadukan segala perkara. Di sini, mari kita melompat jauh ke sebuah masa;
kelak saat hari persidangan akbar itu digelar di depan mata kita. Adalah dua pertanda yang
tak bisa kita reka, sebuah penyerahan buku catatan super rapi lagi sangat teliti tentang amal
penentu nasib. Antara berujung nikmat kesentausaan ataukah jerit yang menyengsarakan.
Keduanya mengantarkan pada keabadian hidup sesudah mati. Terba
ca pada firman Ilahi surah Al Haqqah ayat 19 dan 25. Duhai Robbi seperti apakah kelak
kami nanti
Ah barangkali saja yang sahaya pikirkan ini tak lebih dari sekedar bahasan picis. Tapi
bolehlah kiranya saya akhirkan dengan sebuah kalimat agung yang tentu bukan picisan; sebab
yang berkata adalah pemilik kebesaran yang dimuliakan. Sebuah kalimat yang menggiring
kita pada kebijaksanaan dan kesejahteraan hidup setelah kematian. Dari Khalifah Umar ibn
Khathab radhiallahu anhu, ia berkata:
Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu (Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab).
Selamat berkoreksi..
Selamat menghisab diri..
Semangat membagi rapor santri!

Sekarang pergilah ke majelis Rabiah dan pelajari adabnya sebelum engkau ambil ilmunya.
Pesan ibunda Imam Malik bin Anas saat ingin menyiapkan sang anak belajar ke majelis
gurunya.
Aku tak ingin engkau mengajari anak ini satu ilmu pun. Aku hanya ingin dia mempelajari
tingkah laku dan adabmu. Pesan Syaikh Asy Syaibani rahimahullah saat membawa putranya
belajar.
Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat maka perhatikanlah; apakah
engkau bertambah takut, sabar dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah
bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu. Pesan
ibunda Sufyan Ats Tsauri kepada anaknya.
Sepenggal perkataan di atas bukanlah nasehat orangtua biasa. Tetapi kata-kata itu keluar dari
lisan ayah dan ibu yang mengetahui dan memahami ilmu. Ibu yang cerdas memandang
kebutuhan inti dari awal perjalanan ilmu sang anak yang kelak menjadi ulama besar dan
menjadi guru besar imam Syafii. Pesan brilian seorang ayah yang termasuk cendikiawan asal
Mauritania Syaikh Asy Syaibani pada anaknya saat diantar belajar. Kelak anaknya belajar
banyak hal terkait tingkah laku, adab dan akhlak para ulama. Bahkan ia mendapatkan banyak
ilmu dari majelis gurunya. Pun perhatian dan pendidikan luar biasa sang ibu kepada anaknya
yang kelak menjadi amirul mukminin dalam ilmu hadits. Sufyan Ats Tsauri mendapat kalimat
ibu yang mengiringi proses pendidikannya.
Semua bermula dari Adab!
Inti pendidikan adalah membangun manusia yang berakhlak dengan ilmu dan pengetahuan.
Sehingga perpaduan antara ilmu, adab dan akhlak mendorong peradaban manusia yang maju
dan bermartabat. Kehidupan manusia juga akan rapuh dan hancur karena rusaknya salah satu
diantara aspek pendidikan, pemikiran dan moralitas generasi muda. Maka wajar jika
pendidikan bukan sekadar belajar materi pelajaran dan mendapat nilai, ijazah kemudian
bekerja serta mengumpulkan kekayaan agar dapat melangsungkan kehidupan.
Akhlak berbeda dengan adab. Akhlak berasal dari kata khalq khuluq. Akhlak dimulai dari
penampilan (fisik) dan akan terlihat dari keseharian. Sedangkan adab tidak selalu terlihat.
Adab tercermin pada kerangka/cara berpikir dan paradigma. Ia lebih halus dari akhlak.
Bahkan adab masuk aspek penjiwaan terhadap persoalan. Maka adab ini sangat luar biasa.
Dulu ilmu, adab dan akhlak sangat inheren atau melekat satu sama lainnya (Dikutip dari
kajian Syamail oleh Ust. Asep Sobari, Lc). Adab menjadi fokus pendidikan dahulu
dibandingkan seberapa ilmu yang didapat. Maka saat mereka memprioritaskan adab, ilmu
yang diraih juga berlimpah, sarat manfaat dan memberikan ruh pada kehidupan manusia.
Dimanakah posisi adab bagi orangtua dan pendidik masa kini? Bagaimana orangtua
mengawal pendidikan sang buah hati di tengah krisis moral, mental dan spiritual? Saat setiap
jenjang pendidikan melahirkan generasi cerdas tetapi tak memperhatikan adab dan akhlak
sebagai output utama. Dari level dasar hingga pendidikan tinggi. Maka rapuh dan rusaklah
institusi keilmuan, kependidikan dan hampir sebagian elemen masyarakat yang seharusnya
dikelola dengan baik dan benar karena rusaknya sumber daya manusia. Mencetak manusia
pintar tetapi merongrong orangtua, mencoreng masyarakat dan melemahkan bangsa. Manusia
yang memiliki ilmu tetapi akhlak tidak sesuai dengan pendidikannya. Kadang akhlaknya baik

tetapi cara berpikirnya justru jauh dari adab. Cara berpikir dan pandangannya tidak sesuai
dengan kebenaran dan norma-norma selayaknya orang yang berilmu/mengenyam pendidikan.
Adab adalah pondasi yang mengokohkan bangunan ilmu. Ilmu yang luas dan besar akan
mampu berpijak dan bertahan di tengah terpaan badai fitnah jika adab menjadi cara pandang,
pemikiran dan prinsip yang kuat dalam bersikap. Setiap jenjang pendidikan membutuhkan
suplemen yang menguatkan adab dan akhlak. Bukan terlihat baik dan patuh saat kecil namun
menjadi nakal, pembantah dan sebagainya di tahap-tahap pendidikan selanjutnya. Bertambah
besar dan pintar justru membuat kesal dan gusar. Semakin meningkat jenjang pendidikan
maka kian tak menunjukkan adab dan akhlak yang mulia. Maka perhatikanlah adab mereka.
Bukan hanya di level pendidikan dasar. Justru ketika pendidikan hanya mementingkan aspek
kognitif, akademik dan ilmu maka hasilnya dapat disaksikan saat ini. Tidak seperti zaman
ketika ilmu dan adab berdampingan dalam mencetak manusia pembangun peradaban.
Wallahu alam.
Bulan ini merupakan akhir dari semester ganjil, dimana para peserta didik akan menerima
hasil laporan, bagi sekolah yang berlakukan sistem ranking maka urutan pertama menjadi
kebanggaan, bagi yang tidak menggunakan sistem ranking maka besar kecilnya nilai-nilai
mata pelajaran menjadi tolak ukur prestasi.
Saya terkadang tergelitik ketika mendengar kata prestasi, sukses atau keberhasilan seseorang
yang selalu diukur dengan hal-hal yang bersifat materi. Bagi peserta didik nilai-nilai mata
pelajaran sangat menentukan prestasi kalau sangat baik dan konsisten nilainya maka akan
mendapat gelar siswa teladan. Bagi seorang pengusaha keberhasilan dinilai dari kemampuan
mengembangkan aset dan berapa jumlah omzet yang diraihnya setiap hari, bahkan ada yang
mengukur dengan detik. Bagi seorang artis keberhasilan dinilai dari berapa besarnya honor
yang diterima setiap kali tampil.
Kali ini saya akan mengulas kata Prestasi dengan pemaknaan yang lebih luas bukan hanya di
bidang pendidikan tetapi disegala bidang yang membutuhkan pencapaian yang terukur.
Ukuran apa yang seharusnya ditanamkan dalam pikiran kita, semoga artikel ini membantu
kita untuk memahami kembali arti sebuah prestasi.
Ketika televisi masih menyala di rumah kami, masih teringat ditelinga saya seorang
pengacara sukses ketika diwawancara oleh wartawan infotainment pada saat memberikan
hadiah sebuah mobil sport mewah kepada putranya dengan berkata;
Saya ingin menunjukkan kepada anak saya bahwa dengan bekerja keras kita bisa meraih
segalanya. Kurang lebih seperti itulah kalimatnya.
Inilah yang menjadi standard sebuah prestasi hari ini di zaman ini, ketika kulit menjadi lebih
penting daripada isi, ketika lisan lebih berarti daripada amal dan ketika pencitraan lebih
dinikmati daripada kerja nyata.
Lalu bagaimana seharusnya kita memandang suatu prestasi? perhatikan ayat berikut;
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan, kemudian Kami Jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah

ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.
(QS.Al Hujurat;13)
Berikut penjelasan ayatnya:
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Tsabit bin Qais bin Syammas ketika seseorang
berkata, Engkau anak si fulanah. Menurut satu pendapat, ayat ini diturunkan berkaitan
dengan Bilal, muazin Nabi saw. dan beberapa orang Quraisy: Suhail bin Amr, al-Harits bin
Hisyam, dan Abu Sufyan bin Harb. Pada tahun pembebasan Kota Mekah mereka berkata
kepada Bilal ketika mendengar azannya, Tidakkah Allah Taala dan Rasul-Nya
mendapatkan pesuruh selain si gagak ini?
Ternyata, pemikiran prestasi yang sifatnya kulit adalah warisan pemikiran dari zaman
jahiliyah, Allah-pun menegur sikap ini dan meluruskannya, bahwa Bilal Radhiallahuanha
lebih mulia daripada yang lain, kita semua tahu bahwa Bilal adalah mantan budak dari
Habasy, tidak ada keistimewaan dari segi fisik dan harta, tetapi beliau mendapatkan
kemuliaan disisi Allah Subhanahu wataala dengan mencapai derajat ketakwaan yang tinggi,
Subhanallah.
Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallhuanhu, Rasulullah
Shallallahu alayhi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati
dan amal perbuatan kalian
(Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ahmad bin Sinan, dari Katsir bin
Hisyam)
Imam Ahmad Rahimahullah meriwayatkan dari Abu Dzar Radhiallahuanhu, ia menceritakan
bahwa Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam pernah bersabda kepadanya:
Lihatlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dari (orang kulit) merah dan hitam
kecuali engkau melebihkan diri dengan ketakwaan kepada Allah
Beginilah prestasi seharusnya diukur, beginilah prestasi seharusnya dikejar, beginilah
seharusnya prestasi dicapai yaitu dengan mencapai derajat ketakwaan.
Semoga Allah subhanahuwataala memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang shalih,
golongan orang-orang beriman, golongan orang-orang yang bertakwa dan termasuk dalam
golongan orang-orang yang berbaris di telaga Haudh, karena inilah PRESTASI sejatinya.
Wallahualam bishowab.
Saifuddin Quthuz di Tengah Bangsa Kalah
(Kebangkitan di tengah Keterpurukan)*
Semua sebab kejatuhan Daulah-Daulah Islamiyyah ada pada kita.
Tetapi, semua sebab kebangkitan perlahan mulai terlihat.

Para ahli sejarah Islam, khususnya DR. Abdul Halim Uwais rahimahullah banyak
mengkaji kejatuhan berbagai daulah Islam sepanjang sejarahnya. Ada dua poin penting yang
bisa disimpulkan:
Pertama, selalu ada sebab-sebab yang sama walau berbeda zaman. Itulah mengapa sejarah
berulang sebagai sunnatullah.
Kedua, semua sebab itu ada pada kita hari ini. Itulah mengapa kita jatuh.
Di awal, kita akan membicarakan sebagian dari penyebab itu, bukan untuk sekadar membuka
luka tetapi untuk memahaminya agar mendapatkan obat yang tepat.
1. Rusaknya aqidah dan bermunculannya aliran sesat
Aliran sesat tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Faktornya adalah jauhnya
masyarakat dari ilmu dan ketidakpedulian ulama serta negara. Apapun aliran sesatnya,
mereka agama yang satu. Mereka telah membuat negeri Islam kelelahan.
Kelompok Khawarij yang mengkafirkan dan siap membunuh siapa saja telah membuat lelah
sepanjang sejarah kekhilafahan Islam.
Syiah telah mencatatkan nama mereka sebagai benalu peradaban. Tak memberi kehidupan
justru mematikan pohonnya. Siapapun yang membaca sejarah tahu bagaimana Hulagu
panglima Tatar, Mongol itu bisa leluasa masuk dan menghancurkan Baghdad. Berawal dari
kepercayaan bodoh pemimpin lemah kepada Muayyadduddin Ibnul Al Qomi, perdana
menteri syiah yang mengendalikan seluruh kepemimpinan.
Sekte shufi yang menyebabkan masyarakat Turki Utsmani tak minat lagi berjihad menjadi
saksi jatuhnya kekhilafahan terakhir muslimin itu,
Siapa pun yang mengamati sejarah Turki Utsmani, mengetahui sebab utama kejatuhan
mereka adalah jauhnya mereka secara bertahap dari aqidah yang bersih yang sesuai dengan
Al Kitab dan As Sunnah dan menggantinya dengan aqidah khurafat. (Sulaiman bin Shalih
Al Khurasyi, Kaifa Saqathat Ad Daulah Al Utsmaniyyah)
2. Berlomba menumpuk harta
Hal inilah yang sudah diwanti-wanti oleh Rasul dalam banyak hadits beliau. Demi Allah
bukan kemiskinan yang aku takuti terjadi pada kalian. Tetapi jika dunia dibuka di hadapan
kalian (HR. Bukhari dan Muslim). Ini pula yang membuat Umar menangis. Saat ia
melihat harta dan perhiasan berdatangan ke Madinah hasil dari jihad, Demi Allah, karena
inilah kalian bertikai.
1. Abdul Halim Uwais, seorang ahli sejarah Islam yang sangat fokus mendalami sebabsebab kejatuhan negeri-negeri Islam menulis buku At Takatsur Al Madiy Wa Atsaruhu
fi Suquthil Andalus (Berbanyak-banyakan harta dan dampaknya bagi kejatuhan
Andalus)
Al Wahn dalam bahasa Rasulullah itu, menjalari seluruh sendi para pemimpinnnya. Tidaklah
Andalus pecah menjadi lebih dari 20 negara kecil kecuali karena hal tersebut. Efeknya

panjang. Mereka rela bekerjasama dengan kekuatan kafir walaupun harus mengorbankan dan
membunuh saudara. Semuanya berujung, dijualnya Granada sebagai kota terakhir yang
dimiliki muslimin.
Lihatlah pengkhianatan di balik layar yang tak diketahui oleh masyarakat muslim. Tetapi
aroma busuk itu tersimpan rapi dalam arsip sejarah. Tiga sekawan penjual Andalus kepada
Fernando dan Isabella, salah satunya adalah menteri yang bernama Abul Qosim Al Malih.
Dan inilah surat itu,
Saya bersumpah demi Allah dan demi syariat, bahwa jika saya mampu memikul Granada di
pundak saya pasti akan saya bawa ke tuan-tuan yang mulia. Ini keinginan saya. Allah akan
membinasakan saya jika saya berdusta. Sebagaimana saya berharap dari Allah agar urusan
ini berakhir dengan baik, terbebas dari kaum gila itu. Dan saya berharap anda yakin bahwa
saya adalah pembantu mulia yang tulus untuk tuan-tuan terhormat. Tetapi sayangnya
pemahaman penduduk kota ini belum matang dan terbuka.
3. Ulama yang tak berperan lagi jahat
Andai ada satu atau dua ulama mau bergerak membimbing umat menuju kebangkitan,
sangatlah cukup. Tetapi justru mereka yang memberi dalil sebagai dalih atas pengkhianatan
itu. Kembali membaca kejatuhan Andalus, Abul Qosim Al Malih, Yusuf bin Kamasyah
sesungguhnya bergerak leluasa dengan panduan dalil-dalil yang diberikan oleh Al Faqih Al
Baqini. Maka ketiga orang inilah yang bergerak di lapangan untuk menjual sisa Andalus
tersebut.
Dikarenakan ahli ilmunya asyik memunguti sampah dunia, maka mereka yang baru belajar
ilmu memunculkan berbagai fatwa dan mengawal pergerakan umat. Tentu tanpa ilmu.
Dengarlah kalimat ulama hebat Andalus yang mengawal kebangkitan kedua Andalus, Ibnu
Hazm rahimahullah-,
Cara kita lepas dari fitnah yang menimpa Andalus adalah menahan lisan kecuali dari satu
hal: Amar Maruf dan Nahi Mungkar. Tapi sangat disayangkan banyak penuntut ilmu yang
tidak menahan diri dari apapun kecuali dari Amar Maruf dan Nahi Mungkarkalau
setiap orang yang menolak dengan hatinya berkumpul, mereka tak mampu mengalahkan
kita. (Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durusun Wa Ibar)
4. Dan jihad pun telah digantikan oleh hiburan
Salah seorang ulama muslimin di abad ini berkata: Tanyakan kepada sejarah, bukankah
redupnya bintang peradaban kita tidak terjadi kecuali pada hari bersinarnya bintang para
artis. (DR. Thoriq As Suwaidan, Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar)
1 Shafar 656 H. Tahun yang tak pernah terlupakan oleh Baghdad , bahkan seluruh muslimin.
Saat Hulagu mulai mengepung Baghdad, ibukota kekhilafahan Dinasti Bani Abbasiyah dan
menghujaninya dengan panah dan senjata paling mutakhir saat itu. Baghdad belum
menghadapi tekanan sebesar itu sebelumnya. Tapi bacalah apa yang dilakukan oleh
pemimpin tertinggi muslimin saat itu, apakah dia segera menyatukan muslimin dan
mengumumkan jihad?
Ibnu Katsir rahimahullah- yang menyampaikan ini langsung,

Tatar mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan panah api, hingga terkenalah
seorang wanita yang sedang bermain dan menghibur di hadapan Khalifah. Dan ini salah
satu kesalahannya. Wanita itu bernama Arafah. Panah melesat dari salah satu jendela
membunuhnya saat ia sedang menari di hadapan khalifah. Khalifah terkejut dan sangat
marah. Dia mengambil panah yang menancap, ternyata tertulis padanya: jika Allah ingin
menjatuhkan ketentuannya, Dia menghilangkan akal orang-orang berakal. Maka khalifah
pun memerintahkan untuk menambahi penghalang hingga banyak sekali penutup di istana
khalifah. (Al Bidayah wa An Nihayah)
1. Roghib As Sirjani mengomentari kalimat di atas,
Tarian wanita dalam darah telah menjelma menjadi makanan dan minuman. Harus ada
walaupun sedang dalam keadaan perang. Saya sungguh tidak paham, bagaimana ia rela
menyibukkan diri dengan hal tersebut. Padahal negara, rakyat dan dia sendiri sedang dalam
keadaan sulit. (islamstory.com)
Hasilnya, 1.000.000 muslim mati hanya dalam 40 hari! Termasuk pemimpin mereka yang
lalai dan lemah itu, mati dengan cara diinjak-injak di dalam istananya dengan tangan kaki
terbelenggu. Sangat hina.
Sampailah kita pada zaman ini.
Dan Yahudi melipat akhir lembaran kita yang bercahaya(DR. Abdul Halim Uwais,
Dirasah Lisuquth Tsalatsin Daulah Islamiyyah)
Dan kita telah mendapatkan banyak pelajaran. Kita bukan keledai yang mudah terjatuh dalam
lubang yang sama. Menghindarlah dulu dari semua sebab kejatuhan itu. Untuk shaf muslimin
segera menggerakkan bagian dari tubuhnya perlahan. Dan memang inilah zamannya.
Kesadaran dan pergerakan untuk bangkit itu mulai kentara terlihat.

Di Tengah Bangsa Kalah


Ada teori terkenal yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun rahimahullah- dalam
Muqaddimahnya di pasal ke-23 bahwa,
Yang kalah terkagum selamanya dengan cara mengikuti yang menang; pada semboyannya,
pakaiannya, cara hidupnya dan seluruh keadaan serta kebiasaannya.
Walau konsep ini tidak selamanya benar dan dikritik oleh para ulama hari ini, tetapi ada sisi
benarnya. Dan itulah yang kita rasakan hari ini. Kita masih saja duduk terpaku di hadapan
peradaban Yahudi hari ini dengan terkagum-kagum. Mata terbelalak, mulut terbuka, semua
anggota tubuh mati dan mulut berdecak kagum. Yang lebih buruk, hati bertekad untuk
mengikutinya.
Karenanya, bagi siapapun yang hendak bangkit di tengah bangsa yang kalah perlu segera
bangun dari keterkaguman itu. Dan segera melihat ke sekeliling dampak kerusakan yang
sudah menjalar ke seluruh wilayah muslimin.

Tiga poin berikut ini semoga bisa membantu kita untuk bangun,
1. Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Yusuf bin Tasyifin bagi Andalus
2. Antara Musa bin Abi Ghassan dan Saifuddin Quthuz
3. Antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki
Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr adalah nama-nama besar para ulama
Andalus. Mereka hadir di masa kehancuran Andalus yang pertama. Andalus besar selama 8
abad, tetapi pada 4 abad pertama Andalus nyaris lenyap. Semua penyebab kejatuhan di atas
sudah ada pada muslimin Andalus; rakyat dan pemimpin.
Tapi Allah berkehendak Andalus masih bertahan 4 abad berikutnya. Dan inilah 3 nama besar
yang bergerak untuk menyelamatkan Andalus. Tak henti mereka berkeliling menemui para
raja-raja kecil rakus dunia untuk menyadarkan bahaya perpecahan di tengah kesigapan
Kerajaan Kristen Castille untuk memangsa muslimin dari utara. Tapi para raja kecil itu sudah
gelap mata. Dahsyatnya, para ulama itu tidak pernah putus asa dan selalu mencari jalan lain.
Hingga mereka memutuskan untuk meminta bantuan pasukan dari daratan Afrika Utara.
Maka Yusuf bin Tasyifin dibukakan jalannya untuk masuk daratan Iberia itu. DR. Thoriq As
Suwaidan mengatakan,
Kalau ada yang menggelari Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Rasyid kelima, maka
kalau boleh saya menggelari Yusuf bin Tasyifin sebagai Khalifah Rasyid keenam. (ceramah
tentang sejarah Andalus di TV Arreesalah )
Untuk para ahli ilmu hari ini, segera sadarlah dan lakukan sesuatu! Jangan pernah berputus
asa.

Adapun Musa bin Abi Ghassan adalah nama besar yang nyaris tidak dikenal. Tapi tanyakan
pada Granada yang menghadapi pengkhianatan pemimpinnya sendiri tentang nama besar ini.
Saat bergabung menteri, ulama dan pemimpin tertinggi untuk menjual Andalus, tokoh besar
ini sadar dan mendatangi mereka. Nahi mungkar!
Kembali, nasehat membentur kerasnya batu syahwat. Dan inilah kalimat kokoh Musa bin Abi
Ghassan yang mengakhiri hidupnya dengan syahid,
Jangan serahkan Granada! Biarkan kami berjihad fi sabilillah. Biarkan kami berperang fi
sabilillah. Jangan menipu diri kalian sendiri. Jangan menyangka kalau Nashoro akan
memenuhi janji mereka. Jangan bersandar pada besarnya kerajaan mereka. Kematian hanya
sedikit dari ketakutan kita. Di hadapan kita ada penjarahan kota-kota kita dan
penghancurannya, pengotoran masjid-masjid kita, perobohan rumah-rumah kita,
pemerkosaan istri-istri dan putri-putri kita. Di hadapan kita dosa keji, fanatisme buas,
cambuk dan belenggu rantai. Di hadapan kita penjara, siksaan dan pembakaran! (Suquth
Al Andalus Durusun Wa Ibar)
Sedangkan Saifuddin Quthuz, dia pemimpin Mesir di tengah hancurnya mental muslimin
pasca penghancuran Baghdad oleh Tatar. Setiap surat panglima Mongol dikirimkan ke sebuah

wilayah muslimin agar menyerah, pemimpinnya langsung menyerah. Tak ada kata
perlawanan, apalagi jihad. Mereka merasa berhadapan dengan raksasa yang datang dari
negeri antah berantah. Tak mungkin, mustahil sekadar bisa melakukan perlawanan apalagi
menang. Saifuddin Quthuz pun kebagian surat itu, saat Tatar bergerak ke Palestina. Ia segera
membacakannya di hadapan para panglimanya. Dan kembali terulang, sebagian panglima itu
menyarankan agar menyerah saja karena perlawanan tidak ada gunanya. Dan inilah kalimat
Saifuddin Quthuz,
Saya langsung yang akan hadapi Tatar wahai para pemimpin muslimin. Sekian lama kalian
telah makan dari Baitul Mal, sementara sekarang kalian benci perang.
Saya pasti berangkat. Siapa yang memilih jihad, akan bersama saya. Siapa yang tidak
memilih itu, pulanglah ke rumah!! (DR. Ali M. Ash Shalaby, As Sulthan Saifuddin Quthuz Wa
Marokah Ain Jalut)
Untuk mereka yang telah sadar dan mengetahui jalan kebangkitan, pemimpin ataupun tokoh,
segera sebarkan semangat itu kepada yang lainnya!

Kini perbandingan antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki. Perhatikan tahunnya dan
ambil pelajarannya,
Andalus jatuh
Turki Utsmani berdiri

: 897H / 1492 M.
: 699 H/1299 M

Saat Andalus jatuh, Daulah Turki Utsmani telah berusia 200 tahun.
Inilah bersambungnya peradaban Islam. Andalus memang sudah tak mungkin dipertahankan
dengan keadaan masyarakat dan pemimpinnya yang sudah rusak seperti itu. Maka, hari-hari
kebesaran digeser ke timur. Diserahkan kepada yang telah siap.
Untuk melihat sesiap apa, mari kita baca sebagian nasehat pendiri Turki Utsmani yang
bernama Utsman bin Ertugrul kepada anaknya. Isinya menunjukkan kebaikan diri
penasehatnya sekaligus sebagai haluan bagi pelanjutnya,
Wahai anakku, jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperintah Allah
Robbul Alamin. Jika kamu menghadapi masalah dalam hukum, maka bermusyawarahlah
dengan ulama.
Anakku, kamu tahu tujuan kita adalah Ridho Allah Robbul Alamin. Dan bahwasanya jihad
untuk menebarkan cahaya agama kita ini ke seluruh penjuru hingga datanglah keridhoaan
Allah jalla jalaluh.
Anakku, kita bukan bagian orang-orang yang melakukan perang dengan syahwat kekuasaan
atau ambisi pribadi. Kita dengan Islam ini hidup dan untuk Islam kita mati.

Anakku, aku wasiatkan kepadamu tentang ulama umat. Teruslah menjaga mereka, perbanyak
memuliakan mereka, bermusyawarahlah dengan mereka karena mereka tidak memerintahkan
kecuali pada kebaikan. (DR. Ali M. Ash Shalaby, Ad Daulah Al Utsmaniyyah)
Selalu ada harapan sekecil apapun. Yang tak layak akan layu kemudian mati. Yang layak akan
bertunas dan segera besar.
Harapan, harapan !!
Ini agama Allah
Tetapi mana para pekerja kerasnya?
(Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durus wa Ibar)

Selanjutnya Apa?
Yang pernah mengantarkan mereka menuju kebangkitan adalah panduan utama orang
beriman; Al Quran dan Sunnah Nabi. Dan aplikasi serta buktinya ada dalam sejarah Islam.
Teori umum luar biasa, tetapi sayangnya telah memakan banyak korban, yaitu mereka yang
merasa telah menjalankan bidangnya berlandaskan dua wahyu itu. Tetapi sesungghnya
konsep dan teorinya berasal peradaban Yahudi hari ini. Maka mari lebih kita detailkan sedikit.
Setelah panjang lebar kita bertebaran di sepanjang sejarah Islam, kini apa yang harus kita
lakukan?
Mari kita uji diri kita, apakah kita pelaku kebangkitan itu atau sekadar penonton atau
komentatornya?
(Pendidikan dan Kesehatan dalam sejarah kebesaran Islam bukan lembaga profit!!!)
Apa yang ada di benak Anda, setelah membaca pernyataan di atas?
Jawabannya adalah merupakan posisi kita dari kebangkitan Islam hari ini.

Perhatikan lebih detail konsep Bymaristan (Rumah Perawatan Pasien) di sejarah kebesaran
Islam. Kalau ada pasien datang ke Bymaristan untuk berobat, maka berikut ini prosedurnya,
1. Setiap pasien yang datang akan dicatat namanya
2. Diperiksa oleh kepala dokter detak jantungnya, urinenya dan ditanyakan berbagai
gejalanya
3. Jika oleh dokter pemeriksa dinyatakan hanya rawat jalan, maka dibuatkan resep saja
4. Resep dibawa ke bagian apotek untuk mengambil obatnya

5. Jika dokter menyatakan harus dirawat, maka akan langsung diserahkan kepada tim
perawatnya (dokter pengawas, perawat dan pelayan kebutuhan pasien)
6. Setiap pagi dilakukan kunjungan dokter ke semua pasien
7. Jika telah sembuh, pasien dipersilakan pulang dengan diberi baju baru dan beberapa
keping uang emas(DR. Ahmad Isa, Tarikh Al Bymaristanat fil Islam dan Hassan
Syamsi Basya, Hakadza Kanu Yaum Kunna)
Mungkinkah kita ulang kebesaran dunia kesehatan ini?
Allah mengurung kalian dengan kehinaan sampai kalian mau kembali ke agama kalian!
(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

*Disampaikan dalam Seminar Akbar Dewan Syariah Kota Surakarta: Dengan


Menghidupkan Sunnah Rasul Kita Songsong Kebangkitan Islam 2020? Ahad, 19 Januari
2014
Imam muslim dalam kitab shahihnya, pada bab thalaq, mengisahkan suatu proses yang
dilakukan Nabi shalallahualaihi wasallam dalam memilih istri-istri beliau. Perempuan yang
pertama dipilih beliau adalah Aisyah. Mengetahui hal itu, Aisyah meminta kepada Nabi agar
beliau tidak menceritakan proses pemilihannya tersebut kepada orang lain. Rasulullah
shalallahualaihi wasallam kemudian bersabda kepada Aisyah : Sesungguhnya Allah tidak
mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi,
Allah mengutusku sebagai seorang pengajar ( Guru) dan pemberi kemudahan.
Seperti itulah hadits yang dicantumkan oleh Abd. Al-Fattah Abu Ghuddah di dalam bukunya
Arrosul Almuallim di bab tentang beberapa hadits yang menyatakan Rasulullah
Shalallahualaihi wasallam seorang guru yang bijak dalam memberikan petunjuk.
Hadits tersebut memberikan pelajaran bagi para guru yang berhijrah!
Rasul mengisahkan suatu proses dalam memilih istri-istri. Dari prosesnya itu rasul memilih
Aisyah sebagai perempuan pertama pilihannya. Kisah proses ini menjadi satu kesatuan dalam
hadits tersebut dengan penjelasan posisi rasul sebagai seorang guru. Ada inspirasi
untukmuguru, Inspirasi mendidik melalui proses.
Proses adalah gabungan dari usaha dan sabar. Menjadi guru adalah usaha yang dipilih oleh
para pendidik untuk menjadi jalan berilmu dan beramal sholehnya. Menjadi guru perlu sabar
untuk menapaki jalan jalannya. Proses senantiasa dilewati oleh mujahid pendidikan yang
bercahaya agama.
Hadits tersebut memberikan pelajaran bagi para guru yang berhijrah!
Perempuan yang dipilih pertama adalah Aisyah Radhiyallahu anha. Mengetahui hal itu
Aisyah meminta kepada Nabi agar beliau tidak menceritakan proses pemilihannya tersebut
kepada orang lain. Seperti inilah fitrah dari istri sang guru, yang merupakan fitrah seorang

wanita. Ada gema dalam bisikannya. Tentu nabi tahu ini bukanlah gema bisikan yang menjadi
hambatan seorang guru. Ini isyarat kehidupan yang akan dilalui oleh para guru dimuka bumi
ini dan nabi memberikan jawabannya. Ada inspirasi untukmu guru. Inspirasi peran istri pada
aktifitasnya menjadi Guru.
Hadits tersebut memberikan pelajaran bagi para guru yang berhijrah!
Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan
orang lain. Dua hal yang seharusnya tidak boleh ada dalam diri seorang guru. Menyusahkan
dan merendahkan orang lain. Kadangkala kita sebagai guru sudah menguasai dalil, dasar dan
panduan dalam memberikan ilmu kepada peserta didik namun justru menyusahkan peserta
didik dalam mengaplikasikan ilmunya. Mungkin saja kita sebagai guru ingin memberikan
panduan sesuai syariat dan mengikuti sunnah namun penyampaiannya justru terkesan
merendahkan orang lain. Ada inspirasi untukmu guru. Berhati-hatilah terhadap dua hal ini :
menyusahkan dan merendahkan orang lain. Dua hal ini tidak pantas ada pada diri seorang
guru.
Hadits tersebut memberikan pelajaran bagi para guru yang berhijrah!
Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar ( Guru) dan pemberi
kemudahan.Nabi menyandingkan dua hal yang tidak boleh ada pada dirinya dengan dua hal
yang menjadi tugasnya di muka bumi.Tugas nabi adalah menjadi seorang guru dan pemberi
kemudahan. Ada inspirasi untukmu guru. Tetaplah fokus pada tugasmu, menjadi guru dan
pemberi kemudahan. Karena memang guru mengantarkan peserta didiknya dari setiap
kesulitan menuju kemudahan.
Wallahualam..
Sebuah surah dalam Al-Quran, bertutur tentang kasih dan sayang. Sebuah nama yang penuh
dengan kasih sayang, bahkan ayat pertamanya mempunyai arti Yang Maha Pengasih.
Sesungguhnya ia adalah surah Ar-Rahman.
Dalam ayat pertama Allah berfirman:

Yang Maha Pengasih


Pernahkah kita merenung, kasih seperti apa yang menjadi bukti sifat Maha Pengasih-Nya?
Dalam surah ini, dibahas sedemikian banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada
hamba-Nya. Mari kita simak ayat setelahnya, Allah berfirman:

Ia telah mengajarkan Al-Quran
Perhatikanlah! Perhatikanlah dengan seksama! Di antara rentetan nikmat yang disebutkan
dalam surah Ar-Rahman, Allah menempatkan penyebutan Al-Quran dalam urutan pertama,
di mana posisi tersebut paling dekat dengan kalimat Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih).

Hal tersebut seolah menandakan bahwa Al-Quran merupakan bukti paling nyata, yakni bukti
akan sifat kasih dan sayang Allah terhadap para hamba-Nya. Sebagai bentuk kasih dan
sayang-Nya pula, bahkan berkali-kali Allah mengingatkan dan memerintahkan agar hambaNya senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran. Tidak cukup sampai di situ, Allah juga
senantiasa memberikan motivasi dan arahan.
Perhatikanlah wahai saudaraku! Sesungguhnya Allah SWT senantiasa mengajarkan hambaNya bagaimana seharusnya bersikap terhadap Al-Quran. Berbagai jenis arahan telah Allah
berikan melalui Al Quran, dan tentu hal ini mengisyaratkan bagaimana Allah ingin agar
seorang hamba mampu memahami dan mengamalkan Al Quran dengan maksimal.
Ingatlah! Tatkala Allah menjelaskan keutamaan-keutamaan Al-Quran. Allah berfirman:

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orangorang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim
selain kerugian.(QS. Al-Isro: 82)

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
(QS. Al-Baqoroh: 2)
Ingatlah! Tatkala Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menyiapkan diri dan memohon
perlindungan ketika hendak membaca Al-Quran. Allah berfirman:

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah
dari syaitan yang terkutuk.(QS. An-Nahl 98)
Ingatlah! Tatkala Allah memerintahkan hamba-Nya untuk membaca dengan tartil, agar
jelas makna dari setiap kata dalam Al-Quran. Allah berfirman:

Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.(QS. AlMuzzammil: 4)
Ingatlah! Tatkala Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mendengar dengan penuh
perhatian serta diam tatkala dibacakan ayat-ayat Al-Quran. Allah berfirman:


Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah
dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(QS. Al-Arof: 204)
Ingatlah! Tatkala Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mentadabburi ayat-ayat AlQuran. Allah berfirman:



Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai fikiran.(QS. Shood: 29)
Ingatlah! Tatkala Allah menyindir ketika kita mulai jauh dari Al-Quran. Allah berfirman:

Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu
yang tidak diacuhkan.(QS. Al-Furqon: 30)
Wahai saudaraku! Apakah kita sudah membalas kasih dan sayang-Nya?.

Seorang guru seringkali mendapatkan pertanyaan yang unik dari murid-muridnya, mulai dari
yang mudah dan langsung bisa dijawab, ada yang perlu berfikir dahulu dan terkadang ada
yang memang belum diketahui oleh Sang Guru.
Ustadz apakah nanti di surga ada es krim atau mainan? Tanya seorang murid
Ustadz apakah timbangan amal di akhirat seperti timbangan bebek ini? Tanya seorang
murid sambil menunjuk jenis timbangan bebek
Ustadz, orang gila nanti di akhirat tempatnya di syurga atau di neraka? Tanya seorang
murid
Di atas adalah contoh beberapa pertanyaan yang sulit untuk sebagian guru bagi yang belum
tahu ilmunya.
Apakah kita akan menjawabnya dengan logika tanpa ilmu syariat agar mendapatkan label
guru yang serba tahu?
Apakah kita mencoba untuk mengalihkan pertanyaan agar murid lupa akan pertanyaan dan
khawatir dibilang guru yang kurang pintar?
Ataumenjawab AKU TIDAK TAHU.
Diantara pelajaran besar yang didapat oleh Imam Malik dari Ibnu Harmuz adalah kalimat
AKU TIDAK TAHU. Kendati tingkat keilmuannya sangat tinggi , Ibnu Harmuz tetap suka
bersikap sabar dan berfikir panjang sebelum mengucapkan satu pendapat dalam satu masalah.
Biasanya, berfikir panjang pun, ia akan tetap mengucapkan AKU TIDAK TAHU
Ibnu Abbas berkata,jika seorang alim tidak bisa mengucapkan AKU TIDAK TAHU maka
kesalahannya akan banyak.
Seperti itulah Imam Malik dididik untuk tetap merendah diri dibidang ilmu, padahal ia sendiri
memiliki kedudukan tinggi, begitu pula gurunya, Ibnu Harmuz.

Dan seharusnya kita sebagai seorang guru harus jauh berfikir dengan jawaban jawaban yang
kita berikan, jika jawabannya benar insha Allah Akan mendapatkan kebaikan, tetapi
bagaimana jika jawaban yang kita sampaikan salah atau bahkan berdusta maka kita harus
meminta maaf kepada murid atau orang-orang yang mendengarkan jawaban kita. Semoga
Allah mengampuni segala kesalahan kesalahan dari jawaban kita
Wahai guru, berhati-hatilah saat menjawab pertanyaan dari muridmu
Wallahu alam
Hati terasa panas, jantung berdegup cepat, paru-paru seperti tersumbat, seperti sulit untuk
bernapas, saat membaca berita tentang kenakalan remaja, kenapa berita ini terus terjadi dan
terulang? Dampak sosial tersebut pasti akan selalu ditemukan karena mata dan telinga cukup
puas hanya memotret generasi penerus bangsa, dari berita-berita di televisi, surat kabar baik
media cetak maupun elektronik. Perhatikan data berikut ini Berdasarkan langsiran dari laman
lampost.com, statistik dunia menunjukkan bahwa 60 persen dari populasi remaja terpapar
tindakan kekerasan baik yang dilakukan oleh mereka sendiri (tawuran, aksi kriminal) ataupun
oleh orang lain seperti pemerkosaan, tindak kekerasan dan sebagainya.Selain itu dari data
Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta bahwa pada 2009 terdapat 0,08 persen atau
1.318 dari 1.647.835 siswa SD, SMP dan SMA di DKI jakarta terlibat tawuran, dan angka ini
meningkat dari tahun ke tahun.[1]
[1]http://teen.kapanlagi.com/girls/pubertas/tingginya-angka-remaja-yang-terpapar-kekerasan86ba96.html)
Setelah membaca nukilan artikel diatas rasa apa yang mampu kita hadirkan? Mengutuk
perilaku asosial mereka, tak peduli sama sekali dengan sajian data tersebut, atau menelusuri
lebih lanjut mencari fakta dan realita dilapangan. Sebelum dijawab, mari kilas balik
bagaimana Rasul menangani langsung gejolak para pemuda. Mari pelan-pelan pelajari kisah
berikut ini.
Zaid bin Aslam menyampaikan bahwa Khawat bin Jubair bercerita:
kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berhenti di Marr adz Dzahran. Aku
keluar dari tendaku, aku lihat para wanita yang sedang berbincang. Mereka membuatku
kagum. Maka aku kembali dan mengambil tas. Darinya aku keluarkan pakaian yang
bagus untuk aku pakai. Aku datangi mereka dan duduk bersama mereka.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terlihat keluar dari tendanya. Beliau bertanya:
Abu Abdillah apa yang membuatmu duduk bersama mereka? Maka ketika aku lihat
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku merasakan kewibawaan beliau. Dalam
keadaan aku panik, aku jawab: ya Rasulullah, untaku lepas. Aku sedang mencari tali
kekangnya, tapi ia pergi. Akupun mengikutinya. Beliau melemparkan seledangnya
kepadaku dan masuk ke antara pepohanan. Aku seperti bisa melihat putih perutnya di
antara hijaunya pepohonan. Setelah selesai buang air, beliau pun berwudhu. Air nampak
mengalir dari jenggotnya ke dadanya. Beliau mendatangiku dan bertanya: Abu Abdillah,
bagaimana kabar untamu yang lepas? Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan.
Tidaklah beliau menemuiku di sepanjang perjalanan kecuali berkata: Assalamu alaik Abu
Abdillah, bagaimana kabar untamu yang lepas? Ketika aku merasakan
(ketidaknyamanan) itu, aku bersegera masuk ke kota madinah, menghindari masjid dan
menghindari duduk bersama Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Begitulah berlalu
beberapa lama. Hingga ketika aku lihat masjid sedang kosong, aku pun masuk ke masjid.
Aku shalat. Tiba-tiba, Rasul terlihat keluar dari salah satu kamarnya. Beliau shalat dua

rakaat singkat. Aku memperpanjang shalatku dengan harapan beliau pergi dan
meninggalkan saya. Beliau berkata: panjangkanlah sesukamu Abu Abdillah. Aku tidak
akan pergi hingga kamu selesai. Akupun berkata dalam hati: demi allah, aku akan
meminta maaf ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyenangkan hati beliau.
(Selesai shalat) aku berkata: Demi yang mengutusmu dengan benar, unta itu tidak pernah
lepas sejak aku masuk Islam. Beliau berkata: Semoga Allah merahmatimu Semoga
Allah merahmatimu Semoga Allah merahmatimu dan beliau tidak lagi membahas
tentang unta. (Hr. Thabrani dalam al mujam al kabir, abu nuaim al ashbahani dalam
marifah al shahabah).
Masya Allah. Dengan memahami urutan kisah Khawat bin Jubair maka cukup bagi para
pendidik pemuda menangani lika-liku perilaku para syabab. Banyak hikmah mampu terpetik,
banyak ibroh mampu terungkap, sebenarnya Rasulullah sedang menangani pemuda yang
sedang berbohong, dimana hari ini berbohong merupakan masalah akar yang kuat melanda
para pemuda. Misalnya, seorang pemuda pamit kepada orangtua bahwa hari itu masuk ke
sekolah, ternyata beberapa meter dari rumah sudah berbelok ke warnet, untuk menikmati
game online dengan durasi panjang atau pulang larut malam dengan alasan kerja kelompok di
rumah teman, padahal baru saja pulang dari pusat perbelanjaan terkenal. Astaghfirullah, agar
para pendidik pemuda mampu menangani sifat buruk tersebut, berikut setitik hikmah yang
bisa digali, semoga mampu dijadikan panduan:
1. Pilihlah orang yang mempunyai wibawa di hadapan pelaku bohong.
2. Rasul juga tidak mendesak dengan kalimat yang menjatuhkan, saat Khawat menjawab
dengan panik. Jadikan jawaban bohong itu sebagai pintu teguran berulang kali
3. Sabarlah, mungkin tidak tuntas sehari, tunggu waktu yang tepat untuk menuntaskan
4. Tunjukkan jaminan kenyamanan, kalau dia mau mengaku.
5. Rasul tidak menunjukkan muka yang masam dan marah. Rasul tidak mengeluarkan
kata ancaman.
6. Jika telah mengaku, tak usah dibahas lagi.
7. Tutuplah dengan doa
Maka, sudah terjawabkah ada di posisi manakah kita, saat para pemuda dilanda badai, bahkan
bercampur petir dan gelombang serta hujan besar.
Ya Rabb Bimbinglah Para Pemuda Kami!
Seorang bunda sedang membantu persiapan anaknya menjelang ujian semester. Ia pun
membuka bundel BBO dan mengulang murofaqot IPA bersama sang anak. Bunda itu bingung
hingga agak berpikir saat menemukan sebuah kalimat: mengenal panca indera dan
mengingat kembali tentang penciptaan langit. Ia berpikir mengenai hubungan antara
keduanya? Kok bisa mengenal panca indera dihubungkan dengan mengingat penciptaan
langit. Ternyata saat direview bersama sang anak, ia mendapatkan jawabannya. Penciptaan
manusia yang sempurna dengan panca indera itu ternyata lebih mudah daripada penciptaan
langit, jelas sang anak. Masyaa Allah!! Ternyata itu hubungannya, ucap sang bunda.

Allah SWT berfirman:



Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?
(QS. An Naziat ayat 27)
Percakapan antara bunda dan sang anak di atas tentu dapat memberikan banyak pelajaran
seperti pemahaman, dialog ilmu, perenungan dibalik kalimat dan hubungan yang saling
berkaitan dan sebagainya. Namun mari kita perhatikan sesuatu yang sangat menarik.
Pembelajaran IPA yang sejatinya dipelajari seluruh siswa di negeri ini ternyata dapat
berkaitan dengan sikap, cara pandang dan pemahaman seseorang. Pola berilmu yang
dikaitkan dengan sumber ilmunya mampu memberikan dampak dan hasil yang berbeda.
Al Quran adalah sumber ilmu bagi umat Islam. Ia menawarkan pengetahuan bagai samudra
ilmu yang luas tak bertepi. Orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al Quran meraih
keuntungan dan manfaat yang berlimpah. Saat membaca dan menghapal telah mendapatkan
ganjaran. Terlebih jika mengambil pelajaran yang darinya, ia akan mendapatkan ketenangan,
limpahan rahmat, dikelilingi malaikat dan dibanggakan Allah diantara penduduk langit.
Quantum (lompatan) ilmu yang dihiasi lipatan keberkahan dan manfaat inilah yang dapat kita
telusuri dari sejarah peradaban Islam. Saat generasi muslim yang dididik dengan Al Quran
memberi kontribusi dan sumbangsih nyata bagi kehidupan manusia di segala bidang. Mereka
tidak sekadar membaca dan menghapal tetapi menghadirkan ilmu besar yang menjadi
tonggak pembangun negara dan peradaban.
Proses interaksi dan belajar Al Quran seharusnya memicu umat Islam untuk memikirkan dan
merenungi ayat-ayatNya. Bahkan dari sepenggal dialog di atas terlihat gambaran
pembelajaran Al Quran yang dapat berhubungan dengan banyak aspek kehidupan. Al Quran
menjadi kitab yang layak dan penting dipelajari dengan segala pola yang diajarkan ulama dan
generasi terbaik dahulu. Sedikit saja manusia berpikir mengenai ayat-ayat Al Quran baik
letak ayat, bahasa, makna dan hubungan yang berkaitan akan memunculkan sesuatu yang
sangat bernilai daripada sekadar belajar ilmu pengetahuan belaka.
Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Quran berbahasa Arab agar kamu
berakal
(QS. Yusuf ayat 2)
Inilah Kitab yang diturunkan agar manusia dapat berakal. Maka cobalah kita asah cara kita
berinteraksi dengan Al Quran. Misalnya, manusia diperintahkan untuk memperhatikan
makanan mereka di dalam surah Abasa. Sebuah surat yang artinya bermuka masam. Di
dalamnya digambarkan dakwah Nabi kepada pembesar Quraisy yang ingkar dan keras hati.
Manusia yang tidak mengindahkan peringatan dari Al Quran. Apakah hubungan antara
makanan, muka masam, hati yang ingkar dan keras? Pun surah Al Mukminun menjelaskan
kriteria orang beriman sehingga mereka beruntung, sukses dan menang. Dalam rangkaian
surah Al Mukminun terdapat isyarat mengenai makanan yang terbaik, penyedap rasa dan
susu. Kemudian diperintahkan kepada para Rasul untuk makan makanan yang baik dan
berbuat kebaikan.
Allah SWT berfirman:



Allah berfirman, Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan
kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.
Al Muminun ayat 51)
Surah yang berjudul orang-orang beriman dan didalamnya dimasukkan kalimat-kalimat
khusus mengenai makanan. Tentu ini memancing rasa penasaran dan ingin tahu tentang orang
beriman, ciri-ciri dan makanannya. Bagaimana cara mengambil kaitan orang beriman,
makanan, amal perbuatannya dan seterusnya. Jika manusia saja membuat karangan atau buku
pasti memperhatikan penyusunan bab, keterkaitan tema, alur penjelasan yang
berkesinambungan dan saling menguatkan makna dalam setiap baris dan penjelasannya.
Sayang jika kita melewati Al Quran tanpa memperhatikan keindahan, keajaiban, keluasan
ilmu dan seterusnya.
Setitik embun kalam Ar Rahman
Seteguk cinta pada generasi Al Quran
Bermodal keyakinan berharap kebesaran
Mengilmui dan menghiasi kehidupan
Kelak peradaban menanti di hadapan
Wallahu alam.
Jika bukan karena cinta, tak mungkin kutulis ini semua!
Janganlah ketidaksukaanmu membuatmu tak adil pada sesuatu..
Tahanlahtahanlah karena barangkali lisanmu menggores luka
Tahanlahtahanlah karena barangkali sikapmu mulia ketika terdiam
Ruh-ruh akan berkumpul dengan yang sejalan dengannya, yang satu tujuan dengannya..
Kenapa ada rasa yang tak menyatu?
Mungkiiiinnn.. ada wajah-wajah yang terlewat di doa kita
Mungkiiiinnn.. ada nama-nama yang tak tersebut di doa kita
Atau mungkin.. aahh prasangka baikku belum sempurna untuknya
Tahanlahtahanlah.. untaian kata yang sejuk akan lebih bermakna
Bersabarlahbersabarlah dalam kebersamaan
Lihatlah, tiap kita adalah bintang.. sisi muliamu karena hatimu, perangaimu dan lisanmu
Pun jika tidak bisa memuji, jangan menggores
Pun jika tidak bisa memberi nyaman, jangan mengiris
Ukhuwah itu memberi, yaa banyak memberi, tak menuntut banyak.. pun hanya memberi
sebuah senyuman dikala bertemu..




Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu
dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orangorang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.

Seberapa besar cinta kita pada Makkah dan rindu bersafar ke sana untuk beribadah?
Boleh jadi Al Faruq Umar ibn Al Khaththab radhiallahu anhu adalah orang yang paling
perih dan tersayat hatinya, tatkala rindu yang hendak ia tumpahkan justru harus ditelan
dalam-dalam sebab perjanjian yang menurutnya tak imbang.
Pada kesempatan itu Ia lantas menemui Nabi dan bertanya,
Aduhai Rasulullah bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?
Begitulah, jawab Nabi.
Bukankah korban yang mati di antara kita berada di surga sementara korban yang mati di
antara mereka di neraka?
Begitulah, ucap Nabi.
Lalu mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali, padahal Allah belum lagi
membuat keputusan antara kita dan mereka? tanya Umar.
Wahai Ibn Al Khaththab, aku adalah Rasul Allah dan aku tidak akan mendurhakaiNya.
Dialah penolongku dan sekali-kali tak akan menelantarkanku, jawab Nabi.
Bukankah engkau telah memberitakan pada kami bahwa kita akan menyambangi Kabah
dan thawaf di sana? gugat Umar.
Begitulah. Apakah aku pernah menjanjikan kita untuk ke sana tahun ini?
Umar menjawab, Tidak,
Kalau begitu engkau akan pergi ke Kabah dan thawaf di sana (tahun depan), pungkas
beliau.

Umar masih tak percaya seraya penasaran dengan hati yang masih menyenak. Kemudian ia
menjumpai Abu Bakar, sahabat yang tetap mantap hatinya pada titah Rasulullah saat hati
yang lain layu dan bermuram masam dirundung kecewa. Umar bertanya kepada Abu Bakar
seperti pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan kepada Nabi. Ternyata, Abu Bakar pun
memberikan jawaban seperti jawaban Nabi, persis. Lalu Abu Bakar menambahi Umar,
Patuhlah kepada perintah dan larangan beliau sampai engkau meninggal dunia. Demi Allah,
beliau berada di atas kebenaran, ujar Abu Bakar.
Kemudian turun wahyu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu diutus
seseorang untuk membacakannya kepada Umar:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, (QS. Al Fath:
1)
Dan ayat-ayat selanjutnya dari Surah Al Fath. Maka Umar bertanya pada Rasulullah, Wahai
Rasulullah, apakah itu benar-benar sebuah kemenangan?
Benar, jawab Rasulullah.
Barulah setelah itu, Umar merasakan ketenangan hatinya. Kemudian dia menyadari tindakan
yang dikemukakannya pada Rasulullah, sehingga dia amat menyesal karenanya.
Setelah itu aku terus-menerus melakukan berbagai amal, bershadaqah, berpuasa, shalat, dan
berusaha membebaskan dari apa yang telah kulakukan saat itu. Aku selalu dibayangi dari apa
yang telah kulakukan. Aku selalu berharap, semoga semua itu merupakan kebaikan, ujarnya.
Demikianlah yang tertutur indah oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam
sebuah catatan hidup manusia teragung; Arrahiq Al Makhtum.
6 tahun, bukanlah waktu yang sebentar. 6 tahun, waktu yang panjang untuk memintal rindu.
Betapapun Rasulullah teramat rindu pada Makkah, tapi kejelian berfikirnya; kecerdasan

jiwanya; keluasan pandangannya; menyambut turut pada baris-baris perjanjian Hudaybiyah


yang diwakili jamhur dari utusan Quraisy, Suhail ibn Amr.
Sebab sejatinya Ia adalah kemenangan di tangan muslimin. Tapi, rindu yang melesak di hati
mereka, membuatnya seakan buta. Hingga gurat-raut tak suka itu tampak di wajah-wajah
mereka, bagai air yang tampak berkucak di atas permukaan sebab gundukan yang
tersembunyi di kedalaman. Namun pada akhirnya, mereka pun kembali menaati titah
Rasulullah sang junjungan tercinta.

Makkah, memang istimewa.


Ia layak dirindu dan dicinta sebab keistimewaan; kemuliaan; kesucian; keparipurnaan asasasas imani yang dikandungnya.
Sebagaimana sabda Nabi kita yang mulia:
Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan
bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari
Kiamat. (HR. Bukhari, no. 3189)

Makkah, menjadi tempat tawakkal paling pasrah, bagi Sang Khaliilullah Ibrahim
alaihissalam dengan merendah pada Tuhannya Yang Maha Pemurah, memunajatkan doa
yang indah, mewujud berkah bagi seluruh penduduk jazirah.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di
lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka
dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Makkah, menjadi saksi sejarah. Saat segelar pasukan berjumlah 60.000 disertai tentara
bergajah yang hendak menghancurkan Kabah, berserakan dihujani bebatuan panas yang
dilontar kawanan burung Ababil kiriman Allah. Sungguh tepat sebuah kalimat yang meluncur
dari lisan Abdul Mutholib Sang Pemimpin Makkah tatkala berhadapan dengan Abrahah,
Saya hanyasanya pemilik unta, adapun Kabah itu ada Pemiliknya sendiri. Dialah yang akan
membelanya!

Makkah, adalah tempat tinggal bagi insan rabbani setelah menginsyafi diri dari setiap laku
yang tak diridhoi. Seperti kekata Fudhail ibn Iyadh rahimahullah dalam pertaubatannya Ya
Allah, sungguh aku telah bertaubat kepadaMu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di
Baitul Haram.

Makkah, juga tempat guru bergurunya para ahli ilmu dari berbagai penjuru. Ke sanalah
tujuan rihlah seorang arif dari nusantara ini yang bernama Syarif Hidayatullah, bersabar
dalam safar tuk mengangsu ilmu dari gurunya Syeikh Tadhuddin Al Kubri dan Syeikh

Ataullah Sajili rahimahumallah. Dan kita mengenalnya sekarang sebagai Sunan Gunung Jati,
semoga Allah merahmati.

Makkah, menjadi tempat penuh impian dan ukhuwah. Seperti ceritera empat pemuda cahaya
yang membincang cita-cita di Hijr Ismail. Abdullah bercita menjadi khalifah; Mushab
berharap menjadi Amir Iraq dan menikahi dua wanita istimewa; Urwah memilih ilmu
sebagai jalan khidmah; Ibn Umar hanya meminta diampuni dosanya. Ketiga putra Zubair itu,
telah Allah pijarkan cita mereka. Adapun Ibn Umar, kita yakin Allah mengampuninya.

Makkah, pesonanya sungguh menawan rindu. Apatah lagi bagi sang Nabi.
Sampai beliau pernah bersabda tentang hijrahnya,
Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya.
Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar meninggalkanmu (HR.
Tirmidzi no.3925)
Lihatlah gelisah di wajah sang Nabi, saat beliau sering menengadah ke langit yang tinggi
berharap turun wahyu Ilahi, agar dipindahkannya kiblat suci; agar jadi pembeda dengan kaum
Yahudi; agar rindunya pada Makkah kian terobati.
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami
akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan
sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil)
memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari
Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al
Baqarah: 144)

Pun pada kalbu Bilal Ibn Rabah radhiallahu anhu yang disengat pilu. Tatkala jiwa
menginginkan mata memandang dan menikmati setiap jenak keindahan tanah perjuangan.
Seketika demamnya telah menghilang, Ia mengencangkan suaranya; menyenandungkan syair
sendu untuk Makkah yang dirindu:
andai saja aku menghabiskan waktu suatu malam..
di sebuah lembah dan di sekelilingku Idzkhir dan orang mulia..
semoga suatu hari aku membawa air dari Majinnah..
semoga saja, genangan dan bayangannya tampak bagiku..

Adalah sebuah syair yang melukiskan beratnya kadar rindu dan cinta; antara yang pertama
dan selainnya. Maka kita bisa mengerti tentang keterjagaan memori syahdu yang menjalari
hati, begitu sulit terganti.
pindahkan cintamu ke tempat mana pun engkau mau.
karena sesungguhnya cinta itu tak melebihi cinta yang pertama.

*
Pekan ini berbahagia dengan keberangkatan tiga guru dan saudara kami nan dicinta ke tanah
suci menunaikan umroh: Ustadz Aldo Indarmawan, Ustadz Rizki Ramadhoni, dan Ustadz
Muhammad Fauzi hafidzohumullah. Semoga diterima segenap umrohnya, semoga terijabah
setiap munajat dan doa, semoga makin cinta pada Allah dan Rasulullah
Maka pergilah agar rindu, pulanglah agar makin cinta.

Dan teriring lanjutan dari syair sebelumnya, yang ini khusus untuk ketiganya; agar tak lupa
pulang ke tempat asalnya.
pindahkan cintamu ke tempat mana pun engkau mau.
karena sesungguhnya cinta itu tidak melebihi cinta yang pertama.
betapa banyak tempat dikelilingi di seluruh dunia.
namun kerinduan selamanya akan kembali pada rumah yang pertama.
Sedang bagi kita yang belum terrizqikan ibadah di sana, kiranya petikan rubayat dari akhir
abad XVI oleh Syaikh Hamzah Al Fanshuri ini bisa menghibur hati:
Hamzah Fanshuri di dalam Makkah..
mencari Tuhan di Baitil Kabah..
dari Barus ke Kudus terlalu payah..
akhirnya dijumpa di dalam rumah..
Semoga Allah taala menjadikan kita hamba-hamba pilihan yang akan menjadi tamutamuNya,
di rumahNya yang memesona jiwa
Sudah berapa banyak kita membaca dan mendengarkan ayat tentang
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah (Qs. Al Ahzab :21)
pertanyaannya, sudah berapa banyak dari perbuatan diri Rasulullah yang kita
implementasikan? Astaghfirullah.
Bertanya tentang akhlak, maka tidak kita ragukan lagi betapa agungnya akhlak Rasulullah.
Bertanya tentang menjadi panglima perang dengan strategi dan membangkitkan heroik
pasukan, maka perlu belajar kepada Rasulullah. Rasulullah benar-benar teladan untuk ummat
ini. Beliau adalah ayah terbaik untuk anak-anaknya. Suami terbaik untuk istri-istrinya. Guru
terbaik untuk murid-muridnya. panglima terbaik untuk pasukannya. Dokter terbaik dikala
mengobati. Ekonom terbaik dalam membangun kesejahteraan ummat. Pedagang terbaik,
membangun pasar muslimin hingga berhasil menutup sistem pasar Yahudi. Mungkin, tidak
akan pernah habis jika kita menggali detail kebesaran sosok Rasulullah, karena apapun yang
dilakukan oleh Rasulullah menjadi konsep, metode dan aplikasi terbaik untuk menghidupkan

Al Quran di tengah masyarakat saat itu dan menjadi inpirasi kita dalam memecahkan problem
yang ada saat ini.
Namun kondisi hari ini, masih banyak diantara kita yang melupakan hal demikian. Misalkan,
kita lebih suka belajar parenting pada orang non muslim. Lebih memilih belajar pendidikan
karakter yang memunculkan konsep karakter, akhirnya mati dalam kondisi bunuh diri.
Belajar pendidikan dari seorang yang telah menzinahi wanita kemudian membuang anakanaknya. Belajar ekonomi dan perdagangn dari sistem yang hari ini terbukti tidak
mengangkat kesejahteraan, dan masih banyak contoh-contoh membuktikan kita jauh dari
sunnah Rasulullah. Kita sering lupa. Atau barangkali kita yang tidak pernah tahu bahwa Nabi
kemudian pengikutnya bicara dan mempelajari itu semua. Dari siroh-siroh Nabi akhirnya
hadirlah ilmu serta konsep yang telah mengawal perbaikan bumi dan kebesaran
kepemimpinan muslimin ribuan tahun lamanya. Apa data-data dan keilmuan itu hilang begitu
saja? Kitab-kitab para ulama yang mengawal kebangkitan apa lenyap semua?
Barangkali kita kurang PeDe untuk mengaplikasikan konsep Nabi kita. Atau sebagian kita
berfikir bahwa itu hanya cocok di zaman dan negara onta saja. Atau kita tidak tahu
bagaimana cara mengaplikasikannya, dan akhirnya kalah dengan arus zaman sehingga
dengan mudah mengatakan, ini zamannya berbeda.
Jika kondisi ini terjadi, apa cara sederhana kita sebagai pendidik generasi saat ini tentang
hilangnya panduan-panduan Rasulullah dalam keseharian kita?
Cara sederhana adalah ajari dan kisahkan kepada generasi kita tentang manusia terbaik yang
pernah Allah hadirkan di muka bumi ini untuk menjadi teladan bagi kita hingga saat ini.
kisahkan kepada generasi kita tentang Rasulullah yang sangat sibuk, namun masih sempat
bermain dan bercanda dengan para cucunya. Kisahkan pada generasi kita, manusia terbaik
pemimpin tertinggi muslimin, ketika dalam perjalanan masih sempatkan untuk berdialog
dengan seorang anak kecil yang terlihat sedih karena burungnya mati. Kisahkan kepada
generasi kita, makanan dan minuman kesukaan Rasulullah, cara tidur nya Rasulullah, canda
nya Rasulullah, kendaraan Rasulullah, jalannya Rasulullah, cara bicaranya Rasulullah dan
masih banyak lagi keseharian-keseharian yang perlu generasi kita dengarkan. Yeng
terpenting, tanamkan kepada mereka bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasulullah adalah
hal yang terbaik dan solusi zaman ini hingga dari semua itu Rasulullah dan para sahabat
berhasil memimpin bumi.

Sederhana bukan?
Setidaknya mereka mengenal sosok manusia terbaik yang kelak menjadi inspirasi, solusi dan
motivasi untuk mereka. Saya berikan contoh ungkapan seorang anak yang dalam 1 kali dalam
sepekan kami memberikan ilmu tentang figur Rasulullah Salallahualaihi wasalam. setelah
kurang lebih 6 bulan mereka mendapatkan kisah-kisah Rasulullah Saalallahu alahiwasalam,
kami meminta mereka memberikan kesan setelah mempelajari kisah-kisah Rasulullah
Salallahu alaihi wasallam dengan sebuah ungkapan dalam tulisan, berikut tulisannya:
Diantara kami ada Ustadz Galan yang mengajarkan Sunnah-Nya (Rasulullah
Salallahualaihiwasalam).

Ketika Dhuha menyingsing, hari itulah yang penuh berkah.


Sebelumnya hati ini tak ubah nya sebuah batu.
Keras dan tak ada kebaikan yang merekah.
Kau (Rasulullah) membuat hati ini terang bak sinar diwaktu senja.
Sinar yang menentramkan hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Penulis syair: Faiz kelas Qonuni 3
Sholawat ke atas Nabi
Hari ini diyakini di negeri ini sebagai hari kelahiran Nabi mulia kita Muhammad shallallahu
alaihi wasallam atau dikenal dengan Hari Maulid. 12 Robiul Awal, walaupun para ahli sejarah
sesungguhnya berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau.
Tulisan ini sedang ingin melebarkan wawasan sekaligus melapangkan jiwa. Supaya anda bisa
memberi ruang bagi saudara anda untuk menempati salah satu relung hati. Karena itu
tujuannya, maka saya tidak pernah ridho jika siapapun yg membacanya, bertikai setelahnya.
Atau tulisan ini dijadikan sebagai senjata mengoyak rasa saudaranya.
Maulid bidah..?
Pertanyaan yg kali ini tidak saya jawab hukumnya. Tapi masalah penyikapan terhadap
saudara yg berbeda. Karena ada yang menjalankannya dengan khusyu berharap pahala agung
tapi ada yang mengatakannya sebagai perbuatan bidah yang mungkar.
Apakah dua hal ini mungkin disatukan. Sekilas kita jawab, mustahil!
Tapi perhatikan ulasan di bawah ini.
Ini masalah penyikapan.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah jelas jelas mengatakan bahwa maulid dan peringatan
semisalnya adalah bidah dan tidak ada contohnya di salafush sholeh.
Tapi tunggu
Itu sikap beliau untuk dirinya dan siapapun yang mau mengambil pendapat beliau. Tapi
bagaimana dengan sikap beliau kepada orang yang berseberangan dengan pendapat ini.
Berikut kalimat beliau langsung,
Mengagungkan maulid dan menjadikannya suatu perayaan, dilakukan oleh sebagian orang.
Dan hal itu menyebabkan pahala baginya dikarenakan niat baiknya dan pengagungannya
untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana yang telah saya sampaikan bahwa
hal itu baik bagi sebagian orang tapi buruk bagi mukmin yg berhati hati. (Iqtidho ash
shiroth al mustaqim 2/126)
Jelas betul, bahwa beliau tetap memegang prinsip, tapi tetap menyisakan ruang yang lapang
sekali bagi saudaranya. Bahkan dgn sangat berani beliau katakan, pelakunya mendapatkan
pahala. Pelaku bidah mendapatkan pahala??? Pasti kalimat patah ini menggelayuti kepala
siapapun yg tak memiliki keluasan ilmu dan kelapangan hati spt Ibnu Taimiyyah.
Ahandai sikap dan menyikapi ini dipelajari beriringan.(BERHARAP)

Karenanya, Ibnu Taimiyyah memberikan contoh yang jauh lebih tinggi lagi yaitu pada Imam
Sunnah; Imam Ahmad rohimahulloh. Masih lanjutan kalimat di atas,
Karenanya dikatakan kepada Imam Ahmad tentang sebagian pemimpin: dia mengeluarkan
sekitar 1000 Dinar utk membuat sebuah mushaf.
Beliau menjawab: biarkan mereka. Itu infak terbaik emas (dinar).
Padahal madzhab beliau adalah menghias mushaf hukumnya makruh. Para ulama madzhab
menakwilkan bahwa hal itu untuk kualitas kertas dan tulisan yang lebih baik.
Tapi bukan itu yang dimaksud oleh Imam Ahmad. Maksud beliau adalah bahwa ini ada
kebaikannya tapi juga ada kerusakannya yang menyebabkan dihukumi makruh.
Tapi mereka ini jika tidak melakukan hal tersebut, mereka akan melakukan kerusakan yang
tidak ada kebaikannya sama sekali. Sepert mengeluarkan harta mereka untuk menerbitkan
buku buku peneman malam, syair syair atau hikmah Persia dan Romawi.
Allahu Akbar.!!!
Inilah FIKIH yang SESUNGGUHNYA.
Ada Fikih pertimbangan. Di hadapan Imam Ahmad ada dua pertimbangan:
1. Kebaikan bercampur kerusakan. Yaitu mencetak mushaf itu kebaikan, tapi menghias-hias
hingga menghabiskan sekitar 2M Rupiah itu kerusakan.
2. Atau uang itu akan dipakai untuk mencetak buku-buku yang tidak bermanfaat bahkan
cenderung besar mudhorotnya.
Maka keluarlah keputusan Imam ahlus sunnah, Imam Ahmad bahwa walau beliau tetap
berpendirian menghias hias mushaf itu makruh tapi untuk penguasa dan orang kaya itu,
biarkan dan itu baik baginya. Karena kalau tidak untuk mushaf, uangnya tetap dihamburkan
untuk hal yang sia-sia.
Bisakah anda seperti ini.
Inilah ilmu yang sesungguhnya
Bagi saudaraku yang mengagumi Ibnu Taimiyyah, bacalah seutuhnya tentang beliau.
Bagi saudaraku yang membenci Ibnu Taimiyyah, bukankah sudah anda lihat beliau tidak
seperti yang anda bayangkan.
Sekali lagiIni masalah KELUASAN ILMU
Tapi
Juga tentang MENGILMUI SIKAP
Semulia sikap Rasul kita.

Bersholawatlah untuk Nabi kalian
Pada suatu hari Rasulullah Shalallahualaihi wa sallam keluar dari salah satu kamar beliau
menuju masjid. Di dalam masjid, mendapati dua kelompok sahabat. Kelompok pertama
adalah golongan yang membaca al-Quran dan berdoa kepada Allah, sementara kelompok
lain adalah golongan yang sedang sibuk mempelajari dan mengajarkan ilmu pengetahuan.
Nabi kemudian berkata, masing-masing kelompok sama-sama berada dalam kebaikan.
Terhadap yang sedang membaca al-Qurandan berdoa kepada Allah, maka Allah akan
mengabulkan doa mereka jika Dia menghendaki, begitupun sebaliknya, doa mereka tidak

akan diterima oleh Allah jika Dia tidak berkenan mengabulkan doa tersebut. Adapun
golongan yang belajar mengajar, mereka sedang mempelajari ilmu dan mengajar orang
yang belum tahu. Mereka lebih utama. Maka ketahuilah sesungguhnya aku diutus untuk
menjadi seorang muallim (pengajar) lalu beliau duduk bersama mereka. ( HR.Ibnu
Majah dan Al-Darimy)
Subhanallah, nikmatnya duduk bersama sang muallim. Tugasnya ternyata bukan sebuah
pekerjaan semata. Tugasnya adalah sebuah kebaikan seperti kalimat nabi,masing-masing
kelompok sama-sama berada dalam kebaikan.
Tentu kebaikan yang bukan sekedar kebaikan. Namun kebaikan yang akan menjadikan sang
muallim faham dalam agama. Dari Muawiyah radhiallahuanhu, beliau berkata, Rasulullah
Shallallahualaihi Wasallam bersabda:Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama (Muttafaqun alaihi).
Nasehat Muhammad bin Idris Asy Syafii sangat patut kita renungkan agar kita dapat meraih
banyak kebaikan. Kata Imam Syafii rahimahullah,Kebaikan itu ada dalam lima hal:Hati
yang selalu merasa cukup (ghinan nafs), Menahan diri dari menyakiti orang lain, Mencari
rizki yang halal, Bertakwa, Begitu yakin pada janji Allah.
Alhamdulillah, nikmatnya duduk bersama sang muallim. Tugasnya ternyata disamakan
dengan orang-orang yang yang membaca Al-Quran dan berdoa kepada Allah
Subhanahuwataala. Bahkan sang muallim lebih utama. Lebih utama dari orang-orang yang
membaca Al-Quran dan berdoa. Sang muallim mempelajari ilmu dan mengajarkan kepada
orang-orang yang belum tahu.
Inilah Fitrah semua orang yang membutuhkan ilmu, baik mereka para Nabi ataupun bukan.
Oleh karena itu Allah perintahkan Nabi-Nya untuk mengucapkan:
dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (QS. Thaha:
114).
Para Rasul membutuhkan ilmu dan pertambahannya. Sebagaimana mereka pun berdoa
dengan memohon kepada Allah agar Allah menambahkannya. Maka, jika keadaan para Nabi
dan Rasul demikian terhadap ilmu, tentunya sang muallim lebih membutuhkan lagi.
Allahu Akbar, nikmatnya duduk bersama sang muallim. Pekerjaannya sama dengan diutusnya
Rasulullah Shalallahualaihi wasallam. Perhatikan kalimat nabi, Maka ketahuilah
sesungguhnya aku diutus untuk menjadi seorang muallim (pengajar).
Muallim yang posisinya nyaris seperti nabi, sebagaimana sepenggal syair Asyyauqi :
Sambutlah Sang Guru, dan berikan penghormatan untuknya Hampir-hampir seorang guru
menjadi seorang Rasul (atau menyamai fungsi dan kedudukannya).
Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar, nikmatnya duduk bersama sang muallim.
Pekerjaannya diistimewakan oleh Nabi. Sampai-sampai nabi memilih untuk duduk bersama
mereka para sahabat yang mempelajari ilmu dan mengajarkan pada orang yang belum tahu.
Wallahualam

Ujian akhir semester. Seperti biasa para santri mengerjakan soal-soal yang telah disediakan.
Mereka juga paham, adanya Allah Yang Maha Melihat. Jadilah mereka mengerjakan soal
tanpa perlu adanya pengawasan ketat.
Saat pemeriksaan kertas ujian, seorang guru tersenyum dengan penuh perasaan haru. Tentang
kepolosan juga kejujuran santrinya. Pada sebuah pertanyaan tuliskan 2 kebaikan yang telah
kamu lakukan pagi ini! Sang santri menuliskan jawaban belum melakukan
Ini sederhana, tapi tidak mudah! Berapa banyaklah kita temukan orang-orang yang dengan
mudahnya mengada-adakan jawaban. Demi sebuah nilai di hadapan manusia. Menggadaikan
kejujuran untuk kemuliaan yang sesaat. Semoga Allah selalu menjaga kejujuranmu nak
#belajardarianakanak
Parenting merupakan istilah yang lazim digunakan untuk suatu polau pengasuhan orang tua
(ortu) kepada anaknya atau pola pendidikan guru kepada para muridnya.
Dalam khazanah islam, pola asuh ortu kepada anak dikenal dengan istilah Tarbiyatul Aulad
atau Tarbiyatul Athfaal. Secara arti bahasa berarti pembinaan anak.
Berdasarkan referensinya, konsep parenting yang berkembang saat ini ada beberapa macam.
Sebagai seorang muslim, kita perlu mengetahui perbedaan-perbedaannya.
Berikut macam-macam parenting yang berkembamg di masyakarat saat ini :
1. Parenting Turunan.
2. Parenting Konvensional.
3. Parenting Nabawiyah.
1.. Parenting Turunan.
Merupakan pola pengasuhan anak oleh orang tua dengan mengacu kepada bagaimana sang
ortu diasuh oleh ayah-ibu atau kakek-neneknya.
Dulu, orang tua saya mendidik saya dengan cara seperti ini, maka saya juga mendidik anakanak saya dengan cara yang sama.
2. Parenting Konvensional.
Merupakan pola pengasuhan anak berdasarkan pemikiran, pengalaman atau penelitian
seseorang.
Parenting model ini bisa berubah-ubah sesuai dengan penelitian terbaru.
Bisa jadi sebuah teori parenting dulu yang dianggap benar, kemudian dibantah oleh teori lain
karena ada hasil penelitian yang baru.
Konsep pendidikan di negeri kita saat ini cenderung mengikuti pola ini. Maka tidak heran
sering berubah-ubah sistem, konsepnya dan kurikulumnya. Hampir setiap pergantian
pemimpin, diikuti dengan pergantian konsep dan ganti kurikulum pendidikan.
3. Parenting Nabawiyah.
Merupakan pola pengasuhan anak yang mengacu kepada wahyu, yakni Al-Quran dan Hadits
Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Parenting model ini berbijak pada keimanan dan keyakinan bahwa Al-Quran dan Hadits
merupakan warisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mulia.
Siapapun muslim yang berpegang kepada 2 warisan tersebut, tidak akan tersesat selamanya.
Islam tidak hanya mengajarkan masalah ritual, tetapi masalah ekonomi, sosial, politik,
kesehatan, pendidikan dan parenting pun dibahas.
Selama 23 tahun, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah berhasil mencontohkan pola asuh,
metode mengajar dan kurikulum ilahi kepada para sahabat.
Baik beliau sebagai suami, sebagai ayah, sebagai kakek, sebagai guru dan seterusnya.
IKUT YANG MANA?
Sebagai seorang muslim, tentunya kita memilih untuk mendidik, mengasuh dan membina
anak-anak kita dengan konsep parenting yang dibimbing oleh wahyu langit, Al-Quran dan
Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Kenapa ?
1. Konsekuensi 2 kalimah syahadat kita mengarahkan kita untuk taat kepada Alloh dan
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam segala aspek kehidupan kita, termasuk dalam
hal parenting ini.
2. Parenting yang diperoleh dari turunan dan konvensional masih bersifat nisbi, bisa jadi
benar dan bisa jadi salah.
3. Kurikulum dan pola didik yang diterapkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi
wa sallam terbukti berhasil menghasilkan generasi terbaik islam sepanjang zaman.
Wallahu alam bis shawab..
Abu Syauqi Ali Ridlo

Anggota Tim Pengelola KAF Surabaya..


Mendidik generasi harus dibekali dengan ilmu, dimulai dari bagaimana merancang visi dan
misi dalam rumah tangga. Selanjutnya membuat pola belajar mendalami ilmu bekeluarga
seperti Nabi. Dan tak lupa mensetting teknis pelaksanaan semua rencana tersebut. Dari
mendidik sebelum lahir, hingga mempersiapkan ke jenjang pernikahan, dari memilihkan
sekolah sampai tentang menyiapkan pengantar dan penjemput anak ke sekolah.
Di Kuttab, Insya Allah ada panduan bagaimana agar orangtua tidak menyepelekan atau tidak
pula menganggap terlalu rumit dengan pembahasan ini. Dalam Modul Kuttab 1 dijelaskan,
Karena sejak usia kecil mereka telah pergi ke Kuttab, maka keluarga harus menyertakan
para penyerta (pengantar) pada kepergian dan kepulangan.
Penyerta ini di sebut as-Saiq (hari ini di terjemahkan: sopir). Di mana disyaratkan bagi
penyerta agar mempunyai sifat amanah, bisa dipercaya. dan ahli, Karena mereka menerima

anak di pagi dan sore hari dan bersama mereka di tempat-tempat sepi. Maka mereka harus
mempunyai sifat itu. (Nihayah ar Rutbah fi Thalab al Hisab, h. 104)
Pengantar dan penjemput terbaik anak-anak adalah dari keluarga sendiri, yaitu Ayah atau
Bunda mereka. Para ulama sendiri mengajak anak-anaknya untuk bersama-sama melakukan
perjalanan dan belajar dengan para ulama lain. Semisal Asad bin Al Furat (213 H), seorang
murid Imam Malik, yang sudah diajak ayahnya menjelajah sejak ia berumur 2 tahun. Ia
bepergian untuk mencari ilmu, bersama-sama dengan pasukan Arab menuju Qairawan, Tunis,
dan belajar Al-Quran di negeri itu, lalu meriwayatkan Al Muwatha dari Ibnu Ziyad. (lihat
Syajarah An Nura Az Zakiyah, 62).
Mengapa harus Ayah dan Bunda? Karena di tangan merekalah peradaban mampu dibangun.
Seperti membuat gedung mewah, Ayah adalah arsiteknya sedangkan Bunda adalah teknik
sipilnya. Arsitek bertugas untuk merancang detail masa depan buah hatinya, apakah menjadi
seorang ahli ilmu seperti Abdullah bin Abbas, atau menjadi seorang pemimpin seperti
Abdullah bin Zubair, atau menjadi seorang komandan pasukan seperti Abdullah bin
Rawahah.
Kemudian Sang Ibunda sebagai ahli teknik sipil, menurunkan sebuah visi besar ke dalam
program-program kegiatan di rumah, yang sudah pasti juga dibimbing bersama Sang
Nahkoda Kapal. Siapa yang bertugas menamankan akidah dan akhlaq dalam bentuk kisahkisah? Siapa memiliki tanggung jawab membimbing anak untuk murojaah (mengulang
hafalan) dan ziyadah (menambah hafalan)?
Back to topic, jika Arsitek dan Teknik Sipil sudah terjun langsung mengantar dan menjemput
santri, maka waktu-waktu yang dilewati selama mereka berangkat dari pintu rumah sampai
ke gerbang sekolah, akan sangat bermanfaat untuk menyampaikan nasihat, dialog iman, atau
mengajak anak mengulang-ulang hafalan Quran dan Hadist.
Jika sulit pun, tetap bisa disiasati dengan cara membuat jadwal tetap atau tentatif mengantar
atau menjemput buah hatinya, minimal sebulan dapat jatah 1 atau 2 kali. Insya Allah sudah
cukup untuk menghadirkan kedekatan emosional. Dan ingat, ini adalah salah satu cara
orangtua mengawal visi peradaban.
Hal ini dapat juga membersihkan toksin-toksin yang selama ini liar keluar masuk ke telinga
mereka, lagu-lagu yang musiknya gaduh dan syairnya keblinger, dari mp3 player sang driver.
Mari belajar dari Nabi bagaiamana cara Rasulullah mengisi waktu saat berkendaraan.
Dari Muadz bin Jabbal:
Suatu saat saya diboncengi Nabi, yang memisahkan saya dengan beliau hanya sandaran
duduk.
Nabi: Hai Muadz.
Aku: Labbaik ya Rasulullah. Kemudian kami berjalan beberapa saat.
Beliau berkata lagi.

Nabi: Hai Muadz.


Aku: Labbaik ya Rasulullah. Kemudian kami berjalan lagi beberapa saat.
Dan beliau memanggil lagi
Nabi: Hai Muadz.
Aku: Labbaik ya Rasulullah.
Nabi: Apakah kamu tahu apa hak Allah Subhanahu Wa taala yang harus dilaksanakan
oleh para hamba?
Aku: Allah dan Rasul-Nya yang tahu.
Nabi: Mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Kemudian kami
berjalan beberapa saat lagi dan beliau berkat,
Nabi: Hai Muadz.
Aku: Labbaik ya Rasulullah.
Nabi: Apakah kamu tahu hak para hamba kepada Allah Subhanahu Wa taala?
Aku: Allah dan Rasul-Nya yang tahu.
Nabi: Hak para hamba Allah kepada Allah Subhanahu Wa taala adalah Dia tidak
menyiksa mereka. (HR. Bukhori dan Muslim)
Masya Allah, sungguh ketat Nabi mengawal visi para sahabatnya. Dialog iman selalu terjadi
di sepanjang perjalanan. Sedetik pun tak luput Rasulullah menggugah tauhid dan akidah
mereka, menjaga kesucian mereka, dan memelihara adab-adab terbaik yang tertanam kuat di
hati dan pikiran mereka. Wahai para pengawal peradaban! Di tanganmulah peradaban
dibangun. Bangunlah dari tidur panjang, yang membuat semangat turun. Mari siapkan ilmu
dan berikan aliran jernihnya ke generasi. Memberi dengan pamrih akan menggerus amal
solih. Memberi dengan ikhlas akan membuat hati semakin bernas. Rasul merawat Anas
dengan Ikhlas, melahirkan ulama berkilau seperti emas. Rasul membina Ibnu Masud
mengharap mardhotillah, melahirkan ahli Quran di Madinah dan Kufah.
Rasul mengkader Zaid dengan hati lapang, melahirkan keturunan Usamah Sang Jenderal
Perang. Rasul mendidik Abdullah bin Abbas dengan iringan doa, menghasilkan ilmu seluas
samudera.
Luruskan niat bulatkan tekad. Mendidik generasi yang selamat dunia akhirat.
Pekan ujian merupakan saat-saat penuh rasa dan warna. Para siswa merasakan adrenalin
belajar yang meningkat. Orangtua pun ikut khawatir dan was-was. Persiapan belajar lebih
serius dan bertambah ekstra di rumah. Mereka kian giat memotivasi dan menemani sang buah
hati agar dapat melalui ujian dengan baik. Namun pernahkah kita mengenalkan ujian
sesungguhnya? Bukan hanya tes hapalan, pengetahuan dan lisan belaka. Tetapi ujian dalam

hidup yang selalu datang tiba-tiba? Hasil pendidikan generasi muslim bukan hanya berupa
angka dan lembar nilai/ijazah tetapi harapan lahirnya generasi soleh yang menyejukkan mata.
Inilah ujian yang jika berhasil maka ia dapat menjadi orang besar yang cerdas dan memiliki
akhlak mulia. Ujian adab dan perilaku.
Akhlak generasi muda kian merosot dan sangat menghiraukan. Padahal mereka selalu diberi
pelajaran untuk menghadapi ujian formal namun tidak diperhatikan salah satu ujian
terpenting dalam hidupnya. Sehingga anak yang belajar ilmu pengetahuan dapat memiliki
kepribadian dan moral (karakter) layaknya generasi terdidik. Kemana pendidikan dan
persiapan ujian karakter ini? Dalam menuntut ilmu, meniti jalan yang lurus dan memiliki
akhlak yang baik, manusia selalu diintai, diuji, digoda dan diselewengkan oleh musuh
besarnya. Batu ujian yang menghalangi dengan jelas namun tak terlihat keberadaannya.
Tetapi musuh berupa setan ini selalu diingatkan oleh Allah dan NabiNya agar manusia
berhati-hati dan dapat lulus dalam ujian hidup ini.
Setan, ujian hidup dan pembawa masalah sejak dulu
Allah telah memberi peringatan tentang setan kepada Nabi dan Rasul-Nya. Al Quran banyak
mengulang-ulang bahwa setan sebagai musuh yang nyata. Ia membuat tipu daya kepada Nabi
Adam sehingga diturunkan ke bumi, menggoda Nabi Musa sehingga memukul seorang qibti,
menggelincirkan pasukan Nabi pada perang Uhud dan sebagainya. Rasulullah mengajarkan
sunnah-sunnah agar umat Islam terhindar dari godaan setan seperti doa sebelum makan,
masuk kamar kecil, sebelum tidur, masuk rumah dan sebagainya. Bahkan kita disunnahkan
berdoa agar Allah melindungi suami istri dan rizki yang Allah berikan (anak) sebelum
berhubungan badan. Disebutkan pula dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu
anhu, Rasulullah berkata: tidak ada seorang pun dari anak keturunan Adam yang dilahirkan
kecuali dia disentuh oleh setan saat dilahirkan. Maka dia akan berteriak (menangis dengan
keras) karena sentuhan setan tersebut kecuali Maryam dan anaknya. Kemudian Abu
Hurairah membaca firman Allah QS. Ali Imron ayat 36, dan aku memohon perlindungan
kepadaMu untuknya (Maryam) dan untuk anak keturunannya dari setan yang terkutuk.
Maka teladan dan kisah hidup yang Allah jelaskan dalam Al Quran sangat penting agar kita
dapat menjaga anak dan keturunan dari setan.
Persiapan saat ujian datang!
Al Quran memberi sebuah pelajaran menarik dalam mempersiapkan generasi untuk
menghadapi ujian hidup. Pelajaran indah dari kisah terbaik dalam Al Quran. Saat Nabi Yaqub
memberi nasehat/pelajaran kepada yusuf namun disisipkan kalimat yang terkesan tidak
berkaitan dengan ujian kehidupan/masalah yang kelak dihadapi sang anak.
Allah SWT berfirman:





Dia (ayahnya) berkata, Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada
saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu.
Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia. (QS. Yusuf ayat 5)
Nabi Yaqub menutup nasehat singkat kepada Yusuf kecil dengan mengenalkan setan sebagai
musuh yang nyata. Sesuatu yang sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan masalah
kehidupan yang akan dihadapi sang anak. Karena kelak saudara-saudaranya yang berbuat

jahat dan melakukan tipu daya. Namun masalah yang kelak hadir dinisbatkan oleh ayah
kepada setan. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia tidak menemukan setan dalam sosok yang
nyata terlihat. Tetapi pahit dan beratnya ujian yang akan dilalui berawal dari nasehat tentang
mimpi yang akan menjadi cita-cita besar di masa depan sang anak, dan ia memiliki musuh
nyata (setan) yang harus diwaspadai untuk meraih keberhasilan impian (mimpi) tersebut.
Kelak Nabi Yusuf dapat selamat dari godaan wanita cantik dan terhindar dari perilaku dzolim
yang tidak tahu berterimakasih kepada tuannya karena ia berlindung kepada Allah. Ujian
kehidupan yang mampu dia lalui karena ingat kepada Allah dan tidak dilalaikan oleh setan.
Nabi Yusuf pun mendekam lebih lama di penjara karena orang yang ia tafsirkan mimpinya
telah lupa terhadap pesan Nabi Yusuf. Dan tidak ada yang membuat manusia lupa kecuali
setan. Begitupun ujian dalam meniti jalan panjang menuntut ilmu adalah lupa sebagaimana
lupanya pemuda yang bersama Nabi Musa saat ingin belajar kepada Khidr. Pada akhir kisah
panjang Nabi Yusuf, ia kembali mengenal dan menyebutkan musuh sejatinya.
Allah SWT berfirman:



Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua)
tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, Wahai ayahku! Inilah
takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya
kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia
membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan
merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku
Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui,
Mahabijaksana. (QS. Yusuf ayat 100)
Saat Nabi Yusuf telah berhasil dan duduk di singsasana kesuksesan. Ia tidak menyimpan
dendam lama yang menjerumuskannya kepada lika-liku hidup yang sengsara. Ia justru
bersikap lapang dada dan memaafkan. Inilah akhlak orang beriman yang sholeh. Mindset dari
akhlak mulia karena ditanamkan benih keimanan dan mampu mengenali musuh utamanya.
Musuh nyata yang harus diwaspadai dan dikalahkan. Godaan dan bisikan setan yang menjadi
ujian sesungguhnya bagi seluruh manusia dalam menjalani cobaan kehidupan. Maka setanlah
yang kelak disalahkan sejak awal dan akhirnya. Ia yang memisahkan Yusuf dengan
keluarganya. Inilah nasehat sang ayah yang menancap dan mengawal buah hati sampai
dapat meraih puncak keberhasilan hidupnya.
Jika orangtua sangat khawatir dan mempersiapkan buah hati dalam menghadapi rintangan
pelajaran. Maka takut pulalah jika anak tergelincir pada ujian adab, akhlak dan sikap dalam
kehidupan sehari-hari. Karena setan membisikkan dan menggoda manusia agar mengikuti
syahwat dan syubhat. Menghiasai perbuatan manusia sehingga lalai dari mengingat Allah dan
malas beribadah. Semoga anak dan orangtua tidak menjadi lalai dan lupa setelah melewati
ujian di sekolah. Ujian sesungguhnya akan selalu mengintai di depan mata. Adab, karakter
iman dan Al Quran di dada perlu dirawat dan dijaga. Karena saat waktu luang begitu lapang
dan liburan panjang hadir, kebanyakan kita justru longgar memantau dan menjaga adab,
ibadah dan hapalan Al Quran sang anak tercinta.
Wallahu alam

Abdullah bin Abdul Aziz Al Umari berkata kepada Harun Ar Rasyid yang sedang sai antara
shofa dan marwa pada musim haji, Hai Harun!
Harun menoleh, dan menjawab,Ya Paman
Naiklah ke bukit Shofa.
Ketika Harun sudah naik beliau melanjutkan ucapannya, Lihatlah ke arah Kabah!
Ya saya sudah lihat, Jawab Harun.
Berapakah jumlah mereka?
Siapa yang bisa menghitungnya, paman?
Berapa banyak orang seperti mereka?
Tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah
Ketahuilah, pesan beliau, Seusungguhnya masing-masing dari mereka akan ditanya
tentang diri mereka masing-masing, sedang engkau akan ditanya tentang mereka semua,
maka lihatlah apa yang terjadi denganmu? Harun Ar Rasyid (Sebagai seorang pemimpin)
menangis.
Kepemimpinan adalah sebuah beban, siapa yang tidak amanah dia akan menanggung beban
yang besar di Hari Kiamat. Tapi bila ada yang mampu menyelesaikan amanah itu dengan
baik, Allah akan menaunginya, ketika tidak ada lagi naungan selain dari Allah.
Sebagaimana perkataan Imam As Syfii, Lubang tidak akan ditutup oleh seseorang yang
memiliki lubang tersebut, apabila tetap demikian maka akan menyebabkan terhambatnya
kemenangan. Wahai antum yang memikul amanah kepemimpinan, namun tidak merasa akan
beratnya tanggung jawab, antumlah yang menyebabkan terhambatnya kemenangan umat ini.
Begitulah mereka para generasi terbaik,, menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum bertemu
dengan Allah. Sangatlah wajar pada kondisi pendidikan seperti itu banyak lahir seorang
pemimpin hebat, para ulama yang zuhud dan wara serta para panglima yang di tolong Allah
dalam setiap pertempuran.
Jika kita temui hari ini bumi krisis pemimpin, tak ada tauladan kesolehan dalam
kepemimpinan. Sebenarnya bukan karena tidak adanya pemimpin, tapi yang pasti belum
adanya lagi sebuah konsep pendidikan yang melahirkan pemimpin yang soleh. Sebagaimana
perkataan Imam Malik, Baiknya generasi ini sebagaimana generasi awalan dulu dididik.
Inilah pendidikan ruhiyah para Tabiin,
Kesolehan sebelum kepemimpinan
Aku tidak suka mengucapkan satu patah katapun, sebelum aku mempersiapkan jawabannya
untuk Allah . (Hatim Al-Asham)

Fa tabiruu, yaa ulil Abshoor. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berpikir.
Daftar
pustaka
Hambal, Muhammad (Penterjemah). 2011. Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabiin. Solo. Aqwam

Pernah dengar dialog saat anak jatuh di lantai yang mengakibatkan anak menangis. Ada
sebagian orangtua saat mengalami hal ini, yang dilakukan mereka adalah memukul lantainya
dan mengatakan di depan anak-anak siapa yang nakal ?, kodok ya ? kodoknya nakal ya,
plughh..plughh (memukul lantai) udah mamah pukul kodoknya. niatnya baik, hanya ingin
membuat anak tenang dan percaya bahwa ayah bunda bersamanya. Atau kondisi dimana anak
tidak mau makan kemudian kita janjikan mainan atau hadiah agar mereka makan tapi tidak
ditunaikan janjinya dikarenakan anak sudah lupa dengan perkataan ayah bundanya.
Pada posisi ini, seringkali orangtua dan pendidik tidak menyadari bahwa kita sedang
mengajari anak berbohong. dalam studi yang diterbitkan dalam International Journal of
Psychology menjelaskan penggunaan kebohongan ternyata digunakan oleh sebagian besar
orangtua di AS dan China. Salah satu orangtua di Cina yang ikut penelitian mengatakan,
kebohongan yang diperkenankan saat mengajarkan anak.
Ketika mengajar anak-anak, tidak apa-apa bermaksud baik dengan kebohongan. Ini bisa
mendorong perkembangan positif dan mencegah anak dari kesesatan, kata salah satu
orangtua seperti dikutip Forbes, Rabu (20/2/2013).
Semua orangtua pasti ingin memberikan kebaikan pada anaknya, namun harus diingat
bagaimana caranya agar kebaikan itu membawa keberkahan. Asalkan dilandaskan dengan
tuntunan Al Quran dan Sunnah maka semua menjadi indah. Bagaimana cara Nabi
Muhammad Salallahualaihiwalam menjelaskan hal ini kepada kita ?
Mari kita lihat
Abdullah Ibnu Amir bercerita, bahwa pada suatu hari, saat Rasulullah berada dirumahnya,
ibunya memanggil,
kemari ! saya ingin memberimu.
Apa yang akan kamu beri ? tanya Nabi.
Saya akan memberinya kurma. Jawab Ibu Abdullah
Rasulullah Salallahualaihiwasalam bersabda, Ingat ! jika ternyata kamu tidak memberinya
apa-apa maka kamu akan tercatat sebagai pembohong. (h.r. Abu Dawud).
Begitulah Nabi Muhammad Salallahualaihiwasalam mengajarkan kepada kita tentang
pentingnya tidak membohongi anak. Nabi memberikan pelajaran pada kita pada hal yang
seringkali dilakukan oleh orangtua dan pendidik pada anaknya. Bahkan berbohong ini bisa
dilakukan secara sadar atau tidak dari orangtua dan pendidik.Akan ada dampak yang buruk
pada perkembangan anak jika hal tersebut sering dilakukan oleh orangtua dan pendidik
kepada anak-anak. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid menyatakan anak-anak
senantiasa memperhatikan orangtuanya. Jika mereka jujur, anak pun akan meniru. Begitulah
dalam segala perkara. (Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli).

Anak adalah peniru ulung, sehingga apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan yang dipola
orangtua dikesehariannya secara tidak langsung akan membentuk kebiasaan pada anak. maka
jika orang tua melakukan kebohongan, bukan hal mustahil di usia perkembangan bahkan
sampai dewasa dia akan tumbuh menjadi anak yang suka berbohong.
jadi, masih mau berbohong lagi ?
Wallahualam
Melatih diri menjadi manusia yang berhati lapang tidaklah mudah. Sempitnya ilmu bisa
menyebabkan penyempitan hati pada manusia. Bukan berarti orang yang banyak ilmu hatinya
tidak akan sempit. Justru disinilah salah satu pintu masuk setan untuk para ahli ilmu.
Bagaimana hati ini tetap berhati lapang saat ilmu mulai dibagikan kebanyak orang.
Suasana bekerjasama dalam sebuah lembaga merupakan suasana melatih diri untuk berlapang
hati. Berkumpulnya banyak orang, maka berkumpul pola pikir, berkumpul cara pandang,
berkumpul usulan-usulan, berkumpul dinamika interaksi. Maka saat itu sangat
memungkinkan muncul amarah dalam hati.
Amarah yang dijelaskan dalam kitab Mukhtasar Minhajul Qashidin, karya Ibnu Qudamah
disebabkan oleh ujub, canda, permusuhan, pertengkaran, penghianatan, terlalu ambisi
mendapatkan harta dan kedudukan.
Cobalah perhatikan definisi dari amarah itu sendiri. Semua terjadi karena adanya proses
interaksi antar manusia. Jika kita dalam sebuah lembaga, maka interaksi antara orang muda
dan orang tua terjadi di lembaga tersebut. Bisa jadi pemimpinnya lebih tua dari yang
dipimpin atau kebalikannya. Pemimpinnya lebih lama pengalamannya dari yang dipimpin
atau kebalikannya. Interaksi-interaksi itulah yang akan memunculkan amarah di dalam hati
setiap manusia.
Maka perlu penguatan di dalam hati bahwa individu-indivdu yang berada dalam sebuah
lembaga adalah sebuah bahan baku bangunan. Bangunan yang tersusun rapi saling
menguatkan seluruh sendinya.
Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan
sebagian dengan sebagian yang lainnya (HR. Bukhari danMuslim)
Dari sinilah akan terasa beramal jamainya dari setiap orang yang berada dalam sebuah
lembaga. Karena, semua bisa berlaku menjadi batu bata, kayu, pasir, semen dan lain
sebagainya. Memang tantangan berikutnya adalah masalah kualitas dari bahan baku
bangunan tersebut. Sebagaimana nabi gambarkan dalam sebuah hadits :
Manusia adalah tambang perak dan emas. Yang terpilih baik saat Jahiliyah akan
menjadi yang terpilih saat Islam asalkan Faqih (mempunyai pemahaman yang dalam
tentang ilmu). Ruh ruh adalah junud mujannadah yang saling mengenal akan akrab
bersatu dan yang saling bertolak belakang akan berbeda berpisah) ( HR. Muslim)
Masalah kualitas dijelaskan dalam hadits di atas. Penjelasan tentang kualitas generasi yang
berbeda-beda. Sehingga harus dipahami oleh kita semua bahwa perbedaan itu pasti ada.
Janganlah di rusak perbedaan ini dengan amarah.

Setidaknya ada dalam pikiran positif kita bahwa Ada emas dan perak di mereka. Sebuah
pembagian yang menyederhanakan pembagian kualitas generasi. Emas dan perak jelas
berbeda. Sekilas emas lebih baik dari perak. Dan memang dalam beberapa hal memang
begitu. Setidaknya ketika kita melihat harganya. Tetapi jika perak berperan di wilayahnya,
yang tidak bisa digantikan oleh siapapun bahkan oleh emas sekalipun, maka perak lebih
berharga di tempat itu di banding emas. Begitu sebaliknya.
Sehingga jika bergabung dalam sebuah lembaga ada nasihat dalam buat kita semua.
Berpikirlah Ada Emas dan Perak di mereka. Posisikan diri dan rekan kerja pada peran yang
tepat. Baik emas dan perak, yang terpenting adalah menjadi yang berkualitas, berkilau dan
paling mahal di kelasnya.
Ya Allah lindungi kami dari amarah, kilaukan emas atau perak pada guru-guru yang telah
berhijrah. Guru, ada emas dan perak di dirimu
Wallahualam
Akankah tubuh kita memberi respon terhadap penyakit yang menjangkit?
Adalah hangat yang menyengat pada suhu di atas rata-rata, hakikatnya ia mekanisme badani
yang teratur dan alami. Serombongan partikel asing berkecepatan ratusan kilometer per jam
yang kita hentakkan saat bersin, memberi lega pada nafas seketika. Pun saat batuk,
tembakkan otomatis dengan kecepatan puluhan kilometer memaksa zat asing lain tertundung
bersama debu-debu yang membumbung di udara. Jika hanya sesaat, ia mungkin sesuatu yang
tak berat. Tapi jika bersemayam di badan, boleh jadi ia berkepanjangan.
Sebagai hamba, disilakan bagi kita untuk berikhtiar-menawar sakit. Maka hadirlah
sekelompok pasukan yang terdiri dari jenis tetumbuhan, bebijian, akar-akaran, bebuahan, dan
semua yang berkhasiat menyegerakan afiat. Jika masih tak kuat, kimiawi yang ngeri pun
terpaksa dilahap.
Betapa kita berupaya meraih sehat saat sakit pada jasad. Namun, adakah kita lebih keras
berusaha mengobati sakit yang menjangkit pada hati?
Ia yang mudah terkotori oleh unsur-unsur asing dan tak terdeteksi. Ia yang kadang sehat,
mungkin lebih sering sakit. Ia segumpal daging yang mempertanggung-jawabi seluruh unsur
jasmani, jika ia baik maka baik seluruhnya, jika ia sakit maka sakit segenap badannya.
Jika tubuh saja secara alami mengomandoi tentaranya untuk melawan penyakit yang datang
bertandang, apakah itu pula yang terjadi pada hati?
Jika untuk melawan racun tubuh saja butuh disambang penawar yang beraneka rupa, apakah
penawar yang kita undang tuk mengobati racun hati? Virus badani menjangkiti sebatas
tinggal di bumi. Tapi virus hati, ia terhina hingga di akhirat nanti. Sakit yang bersebab virus
badani, membuka celah-curah rahmat Allah bagi terderita jika benar penyikapannya. Tapi
virus hati, justru membuka pintu murka penyebab binasa.
Maka selayaknya hati, lebih kita kuasai segala piranti dan amunisinya agar ia tetap sehat dan
tidak mati. Tapi, sudahkah kita sampai di sana? Akankah hati kita selamat saat kelak ditanya?
Sungguh sebuah tanya yang amat menyesakkan dada.
(yaitu) pada hari di mana tidaklah bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang-orang yang
datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (QS. Asy Syuara: 88-89) Alangkah indah
munajat yang diuntai oleh Imam Ibn At-Thoilah As Sakandary..


Duhai Robbul Izzati wal Jalalah Dalam lemah dan tidak berdaya, kami akui beribu cela
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang diselimuti gelisah, lemah dan sering berkeluh kesah.

Yaa Rabbi, inilah hati kami yang disesaki dengki, pembakar amal bagai api.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang dihinggapi riya, perusak amal paling nyata.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang disusupi ujub, amal tak berarti tapi sering ditakjubi.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang dilumuri buruk sangka, penyubur benci pada saudara.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang dijejali puja-puji, teramat risau menghadapi caci.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang digenangi maksiat, enggan taat dan malas beribadat.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang ditimbuni kebodohan, malas berilmu dan miskin
wawasan.
Yaa Rabbi, inilah hati kami yang ditanami cita-cita, memupuk cinta pada dunia,
mengokohkan pundi-pundi harta. Yaa Rabbi, inilah hati kami yang dirasuki tamak,
mengejar kekaguman khalayak, memburu popularitas terpuncak, nasihat bermanfaat dikira
menghujat.
Yaa Rabbi Inilah kami yang tak kunjung menginsyafi, dosa-dosa yang menggunung tinggi.
Yaa Rabbi Inilah kami yang terlambat menyadari, berharap kemaafan dan rahmat-Mu yang
tiada bertepi.
Yaa Rabbi Ampunilah kami Bimbinglah kami..

Percakapan Obrolan Berakhir
Link bagian 1 : http://kuttabalfatih.com/semua-tentang-wanita/
Link bagian 2 : http://kuttabalfatih.com/semua-tentang-wanita-2/
Yang Mudah Lupa dan Terlupakan
Allah berfirman:


Dan wanita-wanita di kota berkata: Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk
menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah
sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata(QS.
Yusuf: 30)



Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik(QS. AlAhzab: 32)
Dalam bahasa Arab, kata wanita dengan bentuk jamak menggunakan lafaz Niswah( )dan
Nisa () , sedangkan bentuk tunggalnya menggunakan lafaz Marah()atau Imroah(
). Yang menarik dalam pembahasan ini adalah, bahwa kedua lafaz dalam bentuk jamak
tersebut, tidak berasal dari pecahan kata dalam bentuk tunggal.Hal ini berbeda dengan pola
kata dalam bahasa Arab pada umumnya.
Agar lebih mudah untuk dipahami, kita ambil contoh kata Rojul( )yang berarti laki-laki.
Bentuk jamak dari kata tersebut adalah Rijal( ) yang masih merupakan pecahan kata dari
bentuk tunggalnya.

Menjadi tanda tanya besar tentunya, mengapa kata atau lafaz untuk wanita bisa berbeda dari
kaidah umumnya?. Barangkali karena ia teramat istimewa, sebagaimana Al-Quranpun
mengistimewakannya dalam membahasnya, bahkan ada sebuah surah yang menggunakan
nama SurahPara Wanita () .
Pertanyaan selanjutnya, mengapa lafaz Niswah dan Nisa yang digunakan?, apa maknanya
dan apa maknanya?.
Dalam bahasa Arab, lafaz Nasiya-Yansayang berarti lupa mempunyai kata benda (Masdar)
yang beragam, di antaranya: Nisyan, nasyan, nisawah dan niswah. Kemudian untuk
menyebut orang yang mudah atau sering lupa menggunakan IsimTafdhil Nassa() yang
mana jika ditulis tanpa tanda baca akan mirip dengan penulisan Nisa () .
Sampai di sini semoga ada sedikit gambaran mengenai makna lafaz tersebut. Wallahualamu
bis showab, jika memang benar, maka pada hakikatnya wanita mempunyai sifat dasar mudah
lupa, lupa akan dirinya dan sekitarnya.
Coba perhatikan surah Yusuf ayat 30 di atas, ketika mereka berkumpul, mereka lupa akan
keadaan. Bahkan mereka lupa akan siapa yang mereka perbincangkan, yang mereka
perbincangkan adalah isteri dari seorang penguasa, yang tentu membicarakannya bukanlah
suatu hal yang sederhana.
Kemudian dalam surah Al-Ahzab ayat 32, Allah menyeru para isteri Nabi agar mereka tidak
lupa akan posisi mereka sebagai isteri nabi dan menegaskan bahwa mereka tidaklah sama
dengan wanita lain pada umumnya.
Wahai para wanita! Janganlah engkau mudah lupa akan dirimu, sekitarmu dan nikmat yang
ada padamu. Sebab banyak yang berkata Seribu nikmat yang diperoleh wanita, akan sirna
dengan satu keburukan yang menimpanya.
Selain mudah lupa, wanita juga sering terlupakan. Dalam hal ini Al-Quran memberikan
isyarat dengan kisah Firaun yang terdapat dalam surah Al-Baqoroh ayat 49, Allah
berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya;
mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih
anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan
pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu
Hal senada juga disampaikan dalam surah Al-Arof ayat 141, Ibrohim ayat 6 dan Al-Qoshos
ayat 4.
Kalau kita cermati, setelah penyebutan lafaz Abna ( ) yang berarti anak-anak laki-laki
seharusnya disebutkan lafaz Banat() yang berarti anak-anak perempuan. Namun yang
disebutkan justru lafaz Nisa, seolah Allah ingin menunjukkan bahwa Firaun melupakan
dan tidak menganggap berarti anak-anak perempuan.

Sesungguhnya Firaun salah besar karena ia lupa, bahwa Musa Alaihis Salam yang ia
khawatirkan kedatangannya lahir dari rahim seorang wanita. Seandainya saja ketika itu ia
membunuh semua wanita yang ada.
Wahai para wanita! Berbahagialah! Sesungguhnya di balik setiap pria yang tangguh dan
gagah perkasa, ada wanita yang telah bersusah payah berjuang untuk melahirkannya. Di balik
setiap pria yang sukses, ada seorang wanita yang mengurus rumah dan anak-anaknya.
Berbanggalah dan berbahagialah kalian wahai para wanita!.
Hari ini banyak yang mengatakan emansipasi wanita. Wanita ingin disetarakan dengan laki
laki, wanita mengerjakan pekerjaan laki laki, bahkan wanita bisa menduduki jabatan lebih
tinggi dari laki laki. Emansipasi menurut istilah adalah yang digunakan untuk menjelaskan
sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia emansipasi ialah pembebasan dari perbudakan,
persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dijaman Rasulullah pernah suatu
hari Asma binti Yazid menghadap Rasulullah mewakili kaum wanita untuk mengungkapkan
perasaan mereka. Wahai Rasulullah, kata Asma, sesungguhnya Allah telah mengutus
engkau untuk kaum lelaki dan perempuan. Kami pun beriman dan mengikuti engkau.
Sedangkan kami, khususnya golongan perempuan, banyak kekurangan. Hanya menjadi
penunggu rumah. Sedangkan kaum lelaki diberi kelebihan dengan shalat berjamaah,
menghadiri kematian dan berjihad.
Apakah jika mereka keluar untuk berjihad dan kami menjaga harta dan mendidik anak-anak,
mendapat pahala seperti mereka? Rasulullah langsung menghadap para sahabat yang hadir
waktu itu dan bertanya, Apakah kalian pernah mendengar pertanyaan seorang wanita
tentang agamanya lebih baik dari ini?
Belum pernah, wahai Rasulullah! Jawab mereka. Wahai Asma, kata nabi, Pulanglah
kamu dan katakan kepada para wanita dibelakangmu, sesungguhnya pelayanan seorang istri
yang baik kepada suaminya, usahanya untuk menyenangkan hati suami dan mengikuti apa
yang diinginkannya, pahalanya berbanding dengan semua yang kamu sebut tadi (yakni
seperti pahala suaminya yang berjihad, shalat jamaah, menghadiri kematian, dll). [h.r.
Muslim].
Duhai
para
istri
sholihah,
Jika memang dengan usahamu keluar rumah, engkau bisa tetap melayani suami dengan baik,
maka lanjutkan lah. Jika memang dengan usahamu keluar rumah, engkau bisa menyenangkan
hati suami, maka lanjutkan lah. Jika memang dengan usahamu keluar rumah, engkau bisa
tetap menjaga, mengajarkan, mendidik, serta membersamai anakmu dengan baik, maka
lanjutkan lah.
Jika memang dengan usahamu keluar rumah, engkau tetap bisa menjaga harta suamimu
dengan tidak membandingkan penghasilanmu, maka lanjutkan lah. Jika memang dengan
usahamu keluar rumah, engkau tetap bisa menjaga kehormatanmu dan terhindar dari fitnah,
maka lanjutkan lah.

Namun, Jika rumahmu sudah menjadi sumber semua pahala yang engkau impikan,
kembalilah karena ada kebaikan dan kebahagian yang tak kau dapatkan hal yang serupa
diluar sana.
Ya Allah bimbinglah kami
Di antara tokoh ilmu dan ulama pada masa itu adalah Nafi, sahabat Abdullah bin Umar yang
merupakan seorang mantan budak Ibnu Umar. Nafi adalah sosok yang keras dan tidak suka
ditanya tentang ilmu kecuali di halaqoh atau majelis ilmu. Sementara saat itu Malik masih
kecil dan tak punya kesempatan untuk menghadiri majelis Nafi yang hanya didatangi oleh
orang orang dewasa.
Akhirnya Malik terpaksa mencari akal untuk dapat bertemu dengan Nafi, Malik menuturkan;
Aku mendatangi rumah Nafi pada pagi hari hingga menjelang tengah hari. Tanpa satu pun
pepohonan yang menaungiku dari terik matahari saat aku menunggunya keluar. Jika ia keluar,
aku akan membuntutinya seakan aku tidak melihatnya. Lalu aku pun menyapanya dan
mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu aku meninggalkannya sampai saat ia masuk ke
masjid. Aku pun masuk menemuinya untuk kedua kalinya. Aku lalu bertanya kepadanya soal
pendapat Ibnu Umar tentang berbagai hal dan Ia pun menjawab pertanyaan ku.
Lihatlah kesabaran pemuda ini, ia rela diterpa terik matahari selama berjam-jam hanya untuk
bertanya satu masalah sampai saudara perempuannya merasa kasihan kepadanya. Saudara
perempuan Malik melapor kepada ayah Malik bahwa Malik berdiri di depan pintu Nafi
berjam-jam di bawah terik matahari. Ayahnya menjawab,ia sedang menghafal hadist
Rosulullah.
Allah telah menanamkan kecintaan terhadap ilmu dalam dada pemuda kecil ini sehingga ia
lebih mudah memilih bergelut dengan ilmu ketimbang istirahat berleha-leha. Malik sangat
serius dalam menuntut ilmu sampai ia rela berpayah-payah sementara semua orang lelap
beristirahat.
Ya Allah kuatkan lah ghiroh menuntut ilmu kami sebagaimana kuatnya ghiroh Malik dalam
mencari ilmu
#Biografi
#Dr. TARIQ SUWAIDAN#

Imam

Malik#

Cinta adalah fitrah yang dimiliki setiap manusia. Orang yang mencinta pasti akan berusaha
semaksimal mungkin untuk melakukan yang dicintainya ridho. Tak ada syarat yang berat
ketika cinta telah menghujam dalam hati yang terdalam.
Dalam cinta membuat akal tak berhenti berfikir, hati yang selalu berangan, lisan yang tak
kekurangan kosakata untuk memuji serta fisik yang tak pernah lelah berkorban. Karena
memang cinta butuh pembuktian dari seluruh anggota badan bukan beberapa ataupun salah
satunya saja.
Bayangkan cinta macam apa jika hanya mampu berangan yang dicinta tapi lisan kelu
mengungkapkan dan kaki tak berani melangkah untuk membuktikan. Maka jangan salah
meletakkan potensi perasaan jiwa terhebat kita ini. Sebab dalam perasaan cinta ada tanggung

jawab. Ungkapan cinta yang di ikrarkan adalah penentu dengan siapa kelak kita akan bersama
selamanya.
Allah
Ya, hanya Allah sajalah yang paling pantas kita cintai di atas segalanya. Seseorang yang telah
menemukan Allah, lalu hatinya penuh dengan rasa cinta kepada Allah maka dia tak akan
merasakan kesendirian dan kehilangan apapun dalam hidupnya. Adapun sebaliknya orang
yang telah kehilangan Allah karena membuat tandingan atas rasa cintanya kepada Allah maka
walaupun dia memiliki keluarga yang dekat, pasangan hidup yang ideal menurutnya, teman
yang akrab sungguh sebenarnya dia telah kehilangan segalanya.
Sering mungkin kita mengaku ngaku telah mencintai Allah sepenuhnya. Padahal bukan itu
letak kemuliaan kita sesungguhnya walaupun kita memiliki hujjah bahwa seseorang diakhirat
kelak akan bersama yang dicintainya. Sebab semua orang berhak mengklaim mencintai Allah
tapi pertanyaan besarnya sudahkah Allah mencintainya juga?
Banyak yang tersesat dalam cinta, entah dari objek yang dicinta maupun salah dalam caranya.
Mencintai Allah tak cukup dengan kemurnian hati yang tulus untuk setia menyembah-Nya.
Tanpa mengetahui jalan yang benar menuju ke arah balasan cintaNya. Itulah mengapa kaum
nasrani Allah sematkan dengan julukan kaum tersesat sebab caranya yang salah dalam
mencinta dan beribadah.

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (muhammad)
niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (Qs : Ali imran : 31)
Ada syarat mutlak dari Allah bagaimana cara yang tepat untuk mencintai diriNya. Yakni
dengan ber- itiba atau mengikuti cara hidup seperti Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
rasulNya. Sebab tak ada sosok yang paling sempurna dalam mencintai Allah selain
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Berbagai resiko dalam cinta beliau kepada RabbNya telah teruji dan di lewati dengan
sempurna. Setelah beliau di angkat menjadi Nabi tak sedikitpun beliau berada di dalam
keadaan zona nyaman di setiap fase demi fase sisa hidupnya. Dari mulai di benci keluarga
terdekatnya, di musuhi teman teman akrabnya, diperlakukan dengan dzholim oleh musuh
musuhnya. Semua itu beliau lakukan guna menegakkan perintah Allah yang Haq agar meraih
balasan cinta dari RabbNya. dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu, bersabarlah (Qs : Al
mudattsir : 7)
Maka puncak dari kebahagiaan seorang hamba dalam mencinta adalah ketika ia dengan tepat
memilih siapa yang dicinta yakni Allah taala, lalu benar cara mencintaiNya dengan meladani
rasulNya dan terakhir ketika Allah taala pun membalas cintanya dengan diampuni kesalahan
kesalahannya. Sehingga di akhirat kelak wajahnya berseri seri memandang wajah
Tuhannya tanpa ada lagi noda noda dosa yang tersisa.
Semoga Allah membalas cinta kita kepadaNya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V, bermain adalah melakukan sesuatu untuk
bersenang-senang. Dunia anak-anak sangat erat dengan bermain. Permainan merupakan
hiburan yang menyenangkan dan dapat merehatkan mereka. Setelah mereka menuntut ilmu
yang melelahkan dan jenuh karena belajar membutuhkan konsentrasi berpikir dan keseriusan.
Anak-anak diberi waktu bermain agar mereka dapat belajar dan menghapal kembali dengan
segar dan semangat. Permainan penting bagi pertumbuhan akal, fisik dan mental (jiwa). Al
Ghazali rahimahullahu taala mengatakan jika anak-anak dilarang bermain maka itu akan
membahayakan 3 hal diantaranya mematikan hati, memadamkan kecerdasan dan mengurangi
kenikmatan hidup mereka. Mereka harus diijinkan bermain tetapi pelajarilah bagaimana
Islam mengarahkan konsep dalam bermain.
Permainan dapat digunakan sebagai pelajaran dan sarana untuk menanamkan ilmu, nilai dan
karakter iman. Bukan sebaliknya pendidikan dikondisikan layaknya permainan. Akibatnya
tidak ada bedanya antara belajar dan bermain. Anak-anak tidak belajar dan memahami adab
dalam menuntut ilmu sebagaimana generasi sholeh dahulu yang gemilang dengan adab dan
ilmunya. Maka wajar jika kini generasi muda kurang memiliki adab terhadap guru dan
orangtua. Permainan dapat memberi efek dan membentuk karakter generasi baik keras atau
lembut, sopan atau kasar, mudah diatur atau tidak, malas atau semangat, kuat atau lemah dan
seterusnya. Kita seringkali mudah memberikan permainan kepada anak tanpa memiliki tolok
ukur, ilmu dan konsep yang jelas. Hanya melihat manfaat sepintas, keperluan sesaat dan
seadanya. Yang penting anak bisa tenang, diam, patuh, kondusif dan sebagainya. Bukankah
umat Islam memiliki Al Quran dan sunnah sebagai panduan yang lengkap dan sempurna?
Permainan dalam Al Quran
Kata atau yang bergandengan memiliki makna permainan dan kesia-siaan.
Kata ini diulang 4 kali dalam Al Quran dengan tahapan bertutur yang indah dan
mengagumkan. Pola bertutur Al Quran ini menyimpan hikmah yang perlu dikaji lebih dalam
agar dapat menjadi panduan dalam pendidikan. Sedangkan kata ( bermain) diulang
sebanyak 20 kali dengan berbagai bentuk kata. Kata ini menggunakan 8 bentuk perubahan
kata dalam bahasa arab yang menunjukkan 8 hal baik pelajaran dan hikmah. Al Quran
menggambarkan bermain senantiasa dikaitkan dengan aktivitas orang kafir sedangkan
aktivitas orang beriman berhubungan erat dengan kesungguhan. Kata Al Jihad berasal dari
kata Al Juhud yang berarti kesungguhan. Dan memang jihad merupakan puncak
kesungguhan.
Bukan permainan tanpa konsep!
Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berjalan melewati sekelompok lelaki
yang sedang berlomba memanah. Lalu Rasulullah bersabda, Memanahlah kalian, wahai bani
Ismail. Karena ayah kalian adalah para pemanah. Nabi memberikan semangat, motivasi dan
sentuhan iman. Memanah bukan sekadar permainan tetapi ia juga warisan kebesaran ayah
mereka yakni keturunan Nabi Ismail. Rasulullah juga pernah berdialog dengan Aisyah
radhiyallahu anha saat melihat bonekanya. Ketika Nabi melihat boneka mainan Aisyah
berupa kuda bersayap. Kemudian terjadi dialog ringan diantara mereka. Pada akhir dialog
tersebut, Aisyah mengatakan bahwa boneka kudanya bersayap sebagaimana kudanya Nabi
Sulaiman. Nabi pun tertawa.
Salah satu permainan tradisional Indonesia yang juga sarat nilai dan makna adalah cublakcublak suweng. Permainan ini dibuat oleh Sunan Giri. Lirik dan cara bermainnya pun unik

dan sarat pelajaran. Permainan ini mengajarkan tarbiyah iqtishodiyah atau pendidikan
ekonomi yang sarat keimanan dan pelajaran bagi kehidupan. Lirik permainan ini dijelaskan
oleh guru kami, Ust. Herfi Ghulam Faizi, Lc setelah beliau kembali dari safari dakwah
berziarah ke makam salah satu wali songo ini.
Dalam permainan cublak-cublak suweng, satu anak mengambil posisi sujud dikelilingi
teman-temannya. Anak yang lain meletakkan tangan di atas punggungnya dan memulai
permainan sambil melantunkan lirik lagu ini. Suweng (anting) mencerminkan perhiasan atau
harta yang paling berharga karena ia diletakkan di kepala dan paling tinggi dibandingkan
perhiasan lainnya. Suwenge Teng Gelenter. Perhiasan ini mewakili kekayaan dan rezki Allah
yang berserakan di sekitar manusia. Mambu Ketundhung Gudel. Bau dan aroma rezki Allah
itu tercium bahkan oleh binatang yang bodoh sekalipun (kerbau). Maknanya semakin terasa
lebih dalam karena anak dari hewan yang bodoh saja (gudel) dapat mencium rezki-rezki
Allah ini. Pak empo lera-lere. Orang-orang yang kosong dan tidak menggenggam suweng ini
menengok ke kanan dan kiri. Mereka hendak mengelabui satu orang yang bertugas mencari
harta dan rezki Allah yang tersebar di antara mereka.
Filosofi permainan kian memiliki ruh iman karena orang yang mampu melihat dan meraih
rezki Allah dan harta terbaik dipersepsikan oleh orang yang banyak melakukan sujud. Sujud
adalah gambaran posisi orang yang paling dekat dengan Allah. Sedangkan manusia tidak
akan merasa dekat dengan Allah sebelum memiliki ilmu. Ilmu yang bermanfaat harus
menghadirkan rasa takut kepada Allah. Sebab orang yang paling takut kepada Allah adalah
ahli ilmu atau ulama. (Lihat Qs. Fathir ayat 28). Sopo ngguyu ndhelikake. Suweng
dipergilirkan dan tersembunyi diantara anak-anak yang duduk. Orang yang menyembunyikan
kebenaran (harta tipuan/palsu) dapat ditebak karena ciri mereka adalah tertawa. Tetapi semua
orang tertawa agar semakin membuat bingung hamba shaleh yang harus mencari rezki Allah
tersebut. Padahal anak kerbau (gudel) yang bodoh saja dapat mencium harta (rezki Allah)
yang tersebar luas di muka bumi. Sir pong dele kopong. Maka manusia yang memiliki hati
nurani yang bersih dapat membedakan mana tertawa yang tipu muslihat atau tidak sehingga
ia mampu menemukan suweng tersebut.
Lihatlah bagaimana iman dan ilmu membingkai permainan sehingga bermain mempunyai
nutrisi iman, pelajaran dan nasehat dari sang guru. Permainan tanpa konsep seringkali
mengikuti akal dan menjadikannya sebagai sarana pemuas kesenangan belaka (hawa nafsu).
Disitulah permainan kehilangan ruh keimanan dan melalaikan manusia dari mengingat Allah.
Sehingga bermainnya orang beriman sama saja seperti orang kafir. Mereka tidak melandasi
permainan dengan agama dan keyakinan sehingga minim pelajaran, kering ilmu dan tanpa
ruh keimanan. Permainan cenderung bebas dan sesuai keinginan hati karena mengikuti akal
dan hawa nafsu. Hal ini bertambah miris dengan maraknya permainan saat ini seperti games
online, gadget, games bermusik keras dan sebagainya yang kian berdampak buruk bagi
generasi muda. Permainan yang jauh dari konsep islam dapat melalaikan, melenakan,
melemahkan dan merusak akal dan jiwa mereka.
Wallahu alam
Referensi

Modul
Kuttab
Kemukjizatan Al Quran, Ust. Budi Ashari, Lc (Kajian Akademi Al Quran)

:
1

Olahraga merupakan kebutuhan manusia. Di dalamnya berisi tentang kemampuan bergerak,


kemampuan otot, mengatur pernafasan, belajar berkoordinasi, meningkatkan kepercayaan
diri, menjaga kesehatan tubuh, dan lain-lain.
Bagi sebagian besar murid, orang tua, bahkan guru di sekolah-sekolah pada umumnya, mata
pelajaran olahraga hanyalah kegiatan pelengkap. Ia memang ada, tapi terasanya hanya sebuah
formalitas menjalankan kurikulum. Hal ini bisa kita rasakan ketika kita mencoba mengingatingat kegiatan olahraga di sekolah dulu. Olahraga bukanlah prioritas utama. Ia adalah
prioritas kesekian, jika dibandingkan mata pelajaran lainnya. Kita bisa melihat dari sisi orang
tua murid ketika melihat nilai olahraga. Tidak ada raut kekecewaan bagi orang tua jika nilai
olahraga buah hati mereka jelek. Berbeda jika nilai mata pelajaran lain yang seperti itu.
Hal ini tentu berbeda dengan Islam ketika memandang tentang olahraga. Ia penting seperti
ilmu lainnya. Karena olahraga akan menunjang kemampuan fisik seorang muslim dalam
beribadah kepada Allah. Sebagaimana kita tahu bahwa Ibadah kepada Allah banyak yang
membutuhkan kekuatan fisik. Fisik yang lemah akan membatasi ibadah seorang muslim.
Inilah Ibnul Qayyim Al-Jauziah, ulama yang banyak menghasilkan karya besar bagi
peradaban Islam memberikan penjelasan kepada kita tentang kedudukan olahraga.
Janganlah ia menganggap permainan panah sebagai permainan yang sia-sia, bermain
panah sama keududukannya dengan menuntut ilmu, hendaklah ia berwudhu ketika akan
berlatih serta selalu mengingat Allah sambil mengharap salah satu tempat dari salah satu
taman di syurga. Hendaklah ia memanah dengan sikap tenang dan masuk ke dalam lapangan
dengan sikap santun dan mengucapkan salam. Hendaklah ia meletakkan senjata dengan
baik, melaksanakan shalat dua rakaat sebagai penghormatan kepada tempat tersebut
melainkan sebagai kunci untuk keberhasilan serta dapat tepat dalam mengenai sasaran
karena setiap perbuatan yang dibuka dengan sholat dua rakaat akan menghasilkan
keberhasilan kemudian setelah itu ia berdoa memohon kepada Allah untuk mendapat
petunjuk serta ketepatan (AL Furusiyah)
Ibnul Qayyim Al-jauziah mengatakan kedudukan olahraga sama dengan menuntut ilmu,
maka disana ada prioritas, ada adab, dan ada kesungguhan.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam mencari ilmu-Nya.
Wallahualam.
Adalah Uwais Al Qarni setiap waktu sore Uwais bersedekah dengan apa yang lebih di
rumahnya, seperti makanan dan pakaian, kemudian berdoa, Ya Allah, barangsiapa yang
meninggal dari kaum muslimin karena kelaparan, maka janganlah engkau mengazabku
karenanya. Ya Allah, barangsiapa yang meninggal dari kaum muslimin karena tidak
mempunyai pakaian sehingga kedinginan maka janganlah Engkau mengazabku karenanya.
(Shifatush Shafwah)
Uwais Al Qarni hatinya selalu terenyuh setiap melihat orang kelaparan dari kaum muslimin,
baik anak-anak, dewasa, wanita atau kaum tua. Hatinya selalu terkoyak setiap melihat orang
yang tidak mempunyai pakaian. Ia juga tidak keberatan memberikan bantuan kecuali setelah
habis hartanya, dan setelah benar-benar mencurahkan kesungguhan. Kemudian mengadukan

rasa bersalahnya terhadap Allah Taala apabila memang benar-benar sudah tidak mampu
memberikan bantuan.
Uwais Al Qarni seorang yang takwa namun tersembunyi, seorang yang tidak terkenal di bumi
namun sungguh terkenal di langit, seorang yang Rasulullah memerintahkan kepada Umar dan
Ali untuk mencarinya, kemudian meminta Uwais untuk memohonkan ampunan untuk mereka
berdua. Karena keagungan jiwanya..
Sungguh mungkin apa yang kita miliki secara kasat mata jauh melebihi yang dimiliki Uwais
yang hanya memakai dua kain lusuh dan berselimut dengan kain wol. Namun, kita tidak
memiliki apa yang Uwais miliki yaitu kepekaan.
Bukankah Rasulullah Shalallahualayhi wa Sallam bersabda,
Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan
mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya sakit, maka seluruh
anggota yang lain merasakan demam dan panas ( HR. Muslim dari Numan bin Basyir)
Betapa banyak anak kaum muslimin yang kelaparan sedang diri ini kekenyangan
Betapa banyak dari kaum muslimin yang kedinginan, sedang diri ini diliputi kehangatan.
Betapa banyak dari kaum muslimin yang meminta pertolongan, sedang diri ini hanya diam
Ya Allah ampuni kami
Referensi : Lamhah Tarbawiyyah min Hayah At Tabiin
Pembahasan kali ini saya akan menyampaikan kisah-kisah keberhasilan dari harmonisasi
pendidikan antara rumah dan lembaga pendidikan;
Kisah berikut adalah kisah Amirul Mukminin, beliau adalah seorang khalifah yang lurus,
sekaligus zuhud, Asyaj (yang memiliki tanda di keningnya), salah seorang imam ahli Ijtihad,
al-Hafizh, ahli zuhud, ahli ibadah, berakhlak mulia dan berwajah tampan, yang
menyelesaikan masalah negara yang sangat luas dalam waktu 29 bulan, beliau adalah Umar
bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al Hakam bin Abu al Hash bin Umayyah bin Abd Syams bin
Abd Manaf.
Berikut adalah kisah penuh hikmah dari Perjalanan Umar bin Abdul Aziz
rahimahullah;
Umar bin Abdul Aziz tumbuh di Madinah. Beliau tumbuh menjadi anak yang matang dan
berakal lebih cepat dari usianya. Umar bin Abdul Aziz pun tumbuh semakin besar, dan
bapaknya Abdul Aziz berangkat menuju Mesir untuk menjalankan tugas sebagai gubernur,
dan menulis surat kepada istrinya agar menyusul bersama anaknya. Maka ummu Ashim (Ibu
Umar bin Abdul Aziz) mendatangi pamannya Abdullah bin Umar bin al-Khaththab dan
menyampaikan surat suaminya, maka Ibnu Umar berkata Keponakanku, dia adalah
suamimu, pergilah kepadanya. Manakala Ummu Ashim hendak berangkat, Ibnu Umar
berkata, Tinggalkan anakmu ini (Umar bin Abdul Aziz) bersama kami, dia satu-satunya
anakmu yang mirip dengan keluarga besar al Khaththab. Ummu Ashim tidak membantah
dan meninggalkan Umar bersama pamannya.

Ketika Ummu Ashim tiba di Mesir, Abdul Aziz suaminya tidak melihat anaknya dan bertanya
Mana Umar? Maka Ummu Ashim menyampaikan permintaan pamannya agar
meninggalkan Umar bersamanya, karena dia paling mirip dengan keluarga besar alKhaththab. Mendengar itu Abdul Aziz berbahagia, dia menulis surat kepada Abdul Malik
saudaranya, maka Abdul Malik menetapkan seribu dinar setiap bulannya sebagai biaya hidup
Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz dididik di bawah asuhan para Fuqaha dan ulama besar Madinah. Abdul
Aziz memilih Shalih bin Kaisan sebagai pendidik bagi Umar bin Abdul Aziz, maka Shalih
mendidik Umar dengan baik. Shalih mengharuskan Umar bin Abdul Aziz shalat lima waktu
berjamaah di masjid. Suatu hari Umar bin Abdul Aziz tertinggal dari shalat berjamaah, maka
Shalih bin Kaisan bertanya kepadanya, Apa yang menyibukkanmu? Umar menjawab,
Pelayanku menyisir rambutku. Shalih berkata, Sedemikian besar perhatianmu terhadap
menyisir rambut sampai-sampai kamu tertinggal shalat. Maka Shalih menyampaikan hal
tersebut kepada ayahnya Umar, maka Abdul Aziz mengirim seseorang dan langsung
mencukur rambutnya tanpa bertanya-tanya apa-apa lagi.
Setelah itu Umar bin Abdul Aziz berusaha dengan sungguh-sungguh meniru sholat
Rasulullah. Ketika bapaknya menunaikan ibadah haji dan singgah di Madinah, dia bertanya
kepada Shalih bin Kaisan tentang anaknya, maka Shalih menjawab, Aku tidak mengetahui
seseorang yang paling mengagungkan Allah di dadanya daripada anak muda ini.
Hasil luar biasa dari harmonisnya hubungan antara rumah dan lembaga pendidikan, sehingga
Umar bin Abdul Aziz mendapat pengakuan dari para ulama sebagai Khalifah Rasyid yang ke
lima. Berikut ringkasan hasil yang dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah:

Hafal Al Quran sejak belia

Menjadi Gubernur Madinah pada usia 26 tahun

Menjadi Khalifah pada usia 38 tahun

Pencapaian luar biasa selama 29 bulan menjadi Khalifah :

Tidak ada penerima sedeqah

Redamnya konflik dan pemberontakan

Kesejahteraan hidup yang merata

Hutang masyarakat ditanggung negara

Masih banyak prestasi yang dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz, ini adalah efek dari
keyakinan orangtua dalam menentukan guru (lembaga pendidikan) yang baik bagi putraputrinya. Saling mendukung, tidak saling melemahkan.
BERSAMBUNG..
Wallahualam

Sumber:
1. Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, DR. Ali Muhammad AshShalabi
2. Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia, Ustadz Hervi Ghulam Faizi, Lc
3. Jika mendidik itu ibadah maka guru membutuhkan niat yang ikhlas. Agar ibadah
mendidik sampai hanya kepada Allah dan mendapatkan ganjaran terbesar di sisiNya.

4.
5. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar
pahalanya
6. Jika mendidik itu ibadah maka guru perlu mengikuti suri teladan terbaik. Karena
ibadah harus ittiba. Meneladani Nabi Muhammad sebagai guru (muallim) terbaik
yang sempurna dalam ibadah kepadaNya.
7.
Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun,
Maha Penyayang. (QS. Ali Imran ayat 31)
8. Jika mendidik itu ibadah kepada Allah maka Dia menurunkan pelajaran agung agar
pendidikan meraih berkah dan memuliakan akal manusia dengan ilmuNya.

9.

Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka
menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat
pelajaran. (QS. Sad ayat 29)
10. Jika mendidik berharap berkah maka gandenglah Quran, ikutilah jalan-jalanNya,
rintislah jejak-jejak para guru terbaik yang diutusNya sebagai rasul untuk mendidik
manusia.
11.


Dan ini adalah Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah.
Ikutilah,
dan
bertakwalah
agar
kamu
mendapat
rahmat.
(QS. Al Anam ayat 155)
12. Selamat
mendidik
Wahai
guru
Ikhlas
dan
tetaplah
berjuang
di
jalanmu
Tataplah
wajah
generasi
Merekalah goresan karyamu yang kelak memimpin peradaban masa depan
Karena hampir saja guru itu seperti Nabi
13. Inilah sebuah syair untukmu. Disampaikan melalui lisan sang guru.
14. Dari guru kami, Ust. Budi Ashari,Lc -semoga Allah merahmatinya beliau
menyampaikan 3 bait syair dari Amirus Syuara, Ahmad Syauqi rahimahullahu
taala dalam kajian ilmu di hadapan para guru Kuttab Al Fatih se-Indonesia. Sebuah
multaqo dimana seluruh pejuang pendidikan bertemu dalam balutan ukhuwah berlapis
iman. Syair ini panjang namun beliau mengutip 3 bait. Tentang muallim atau guru.
15. Berdirilah
Untuk
guru
Sampaikan
penghormatan
dan
pengagungan
Karena
hampir
saja
guru
itu
menjadi
Rasul
Apakah
anda
pernah
tahu?
Apakah
anda
pernah
melihat?

Ada
yang
lebih
agung
dan
lebih
mulia
Dibandingkan dengan yang mampu membangun dan menumbuhkan jiwa dan akal
16. Dan
katakanlah
pada
seluruh
pemuda
hari
ini
(yakni
untukmu
guru)
Diberkahi
tanaman
kalian
Sudah
sangat
dekat
masa
panen
itu
Dan
akan
dimudahkan
bagi
kalian
mendapatkan
hasilnya

17. Ya Allah, berkahilah tanaman-tanaman kami, berkahilah generasi-generasi kami dan


berkahilah guru-guru kami.
Udah pikun kali yak tuh bocah, masa disuruh beli cabe malah main gambaran.
Celoteh seperti ini pernah terdengar di kampung rumah saya. Saat seorang ibu
bermaksud menasehati, tapi bercampur nada marah kepada seorang anak. Kata
pikun identik disematkan untuk orangtua yang sudah lanjut usia. Karena ada
orangtua yang sudah lanjut usia mengalami penurunan daya ingat. Namun
kalau disematkan kepada seorang anak-anak, bisa jadi bercampur marah. Karena
amanah yang diberikan anak itu untuk membeli cabe tidak dilaksanakan, justru
malah bermain gambaran.

Pernahkah mengalami kejadian serupa? Saat anak-anak yang diminta


mengerjakan sesuatu justru mengerjakan yang lain. Berulang-ulang
mengingatkan, berulang-ulang melalaikan. Biasanya kejadian seperti ini sering
ditemukan di dunia pendidikan. Khususnya para guru yang banyak berinteraksi
dengan anak-anak.

Mereka bukan generasi pikun, usia mereka masih belia. Tugas orang dewasa
yang membantu mereka untuk dapat gemilang di usia belia. Dari kisah berikut
dapat digali menjadi sebuah pelajaran bahkan tips bagaimana melahirkan
generasi yang tidak pikun :

Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah orang
yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih
sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat,
tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan
melaksanakan tugas Rasul , aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi
menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku
merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh,
ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tersenyum,
beliau bersabda, Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku
perintahkan? Maka aku pun salah tingkah, aku menjawab, Ya, sekarang aku
berangkat Rasulullah.

Demi Allah, aku. telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau
tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, Mengapa kamu
melakukan ini? Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan,
Mengapa kamu tinggalkan ini? (kisahmuslim.com)

Apa hikmahnya ? Mari kita gali!

Hikmah pertama :

Menjadi orang dewasa yang baik akhlak, lapang dada dan besar kasih sayang

Anas menilai rasul seperti point di atas, bukti bahwa belajar dari adab dan
tingkah laku orang dewasa lebih diutamakan sebelum ilmu yang disampaikan. Ini
menguatkan kalimat beberapa ulama tentang pentingnya adab sebelum ilmu :

Muhammad bin Sirrin beliau berkata:

Mereka dulu (para sahabat) mempelajari adab-adab sebagaimana mempelajari


ilmu

Al-Imam Abu Abdillah Sufyan Ats-tsauri rahimahullah, beliau menceritakan kisah


bagaimana di zaman Tabiin dalam mempelajari adab menjadi hal yang utama.
Sufyan Ats-tsauri mengatakan:

Mereka-mereka dulu (para Sahabat dan Tabiin) tidak mengeluarkan anak-anak


mereka untuk pergi menuntut ilmu, hingga anak-anaknya telah diajari adab-adab
terlebih dahulu dan memperbanyak ibadah 20 th lamanya

Abdullah bin Mubarak rahimahullah beliau menceritakan tentang metode beliau


menuntut ilmu -Abdullah bin Mubarak adalah seorang ulama yang
mengumpulkan seluruh cabang ilmu- beliau berkata:

Saya mempelajari adab 30th dan saya menuntut ilmu 20th, dan mereka dulu
(para Sahabat dan Tabiin) mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.

Hikmah kedua :

Kedekatan fisik saat menegur

Rasul memegang baju anas bin malik, merupakan inspirasi bahwa rasul
mendekati anas bin malik untuk menanyakan amanah yang sedang
diperintahkan kepada Anas bin Malik. Jarak yang berdekatan antara Rasul
dengan Anas, menunjukan keakraban orang dewasa terhadap anak yang hendak
ditegurnya. Kita dapat membedakan, bagaimana jika teguran itu disampaikan
dari jarak jauh sambil berteriak? Rasakan bedanya

Hikmah ketiga :

Tegur tanpa sepengetahuan orang disekelilingnya

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Anas bin Malik saat itu, jika Rasul
menanyakan amanahnya dari jarak jauh sambil berteriak. Teman-teman Anas bin
Malik saat itu akan dengan mudah melabel Anas bin Malik anak yang pikun.

Hikmah keempat :

Berikan senyuman dan panggil namanya dengan nama terbaik

Jelas bukan, bahwa nabi memberikan pesan untuk kita untuk tidak mencela anak
dengan sebutan : udah pikun kali yak ini bocah?. Justru nabi memberikan
senyuman dan memanggil dengan nama terbaik Wahai Unais. Unais adalah
nama panggil kesayangan dari nabi untuk Anas. Bukti dari kecerdasan emosi
berbanding lurus terhadap ucapan yang hendak dikeluarkan

Hikmah kelima :

Berikan pertanyaan, bukan pernyataan

Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan? Maka aku
pun salah tingkah, aku menjawab, Ya, sekarang aku berangkat Rasulullah.

bedakan jika kalimat itu diganti dengan kalimat :

Wahai unais, kamu kok disini tidak menjalankan apa yang aku perintahkan

Bisa jadi anas tidak salah tingkah. Justru dia kabur karena takutwusss!
Kaburrr!!

Hikmah keenam :

Kelola Kalimat saat bersama anak

Demi Allah, aku. telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau
tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, Mengapa kamu
melakukan ini? Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan,
Mengapa kamu tinggalkan ini?

Karakter nabi yang diceritakan anas bin malik, ini bukan sekedar perlu menata
kalimat sehingga memunculkan pola-pola pelatihan bagaimana berkomunikasi
dengan baik terhadap anak-anak. Tapi lebih jauh dari itu, bahwa kesholehan
pribadi yang dimiliki akan memberikan dorongan yang dahsyat bagi seseorang.
Bahkan lisan pun akan tertata dengan sendirinya.

Wahai guru, Semoga kita termasuk guru yang berhijrah untuk melahirkan
generasi yang gemilang di usia belia. Bukan generasi pikun !

Wallahualam

Siapa yang tak mengenal Umar bin Abdul Aziz , keadilan dan kemakmuran dirasakan oleh
seluruh rakyatnya, namanya harum dikalangan muslimin maupun selainnya. Pada masa
pemerintahanya, Umar bin Abdul Aziz membangun rumah makan yang ia peruntukkan bagi
fakir miskin dan ibnu sabil.
Suatu hari ketika Umar melakukan pekerjaanya demi memantau semua amanah yang ia
berikan kepada seluruh pegawainya, tak terkecuali rumah makan yang ia bangun, Umar pun
singgah untuk melihat berapa banyak fakir miskin yang masuk, bagaimana para pegawai itu
memberikan pelayanan, maka kemudian datang seorang pelayan tergopoh gopoh sembari
membawa nampan dan segelas air susu. Umar bertanya, apa ini?. Sungguh istri anda
(fulanah) menginginkan susu, dan dia pula dalam keadaan hamil, seperti yang kita kitahui
bahwa, seorang yang hamil jika menginginkan sesuatu lalu tidak dipenuhi, maka
dikhawatirkan janinnya akan gugur, lalu aku mengambil segelas susu dari rumah makan ini
jawab khodimah/ pelayannya.
Kemudian Umar membawa sang pelayan ini kepada istrinya seraya berkata, jika yang
menahan janinnya hanyalah makanan fakir miskin, maka semoga Allah menggugurkanya!
Lalu Umar masuk kepada istrinya. Sang istri bertanya, ada apa ini? Umar menjawab, kata
pelayan ini bahwa yang bisa menjaga janinmu hanyalah makanan fakir miskin, jika memang
begitu, maka aku berdoa semoga Allah menggugurkanya! Sang istri berkata, kembalikan
saja, demi Allah aku tidak akan meminumnya Lalu susu itu dikembalikan.
Segelas susuya hanya segelas, tapi begitulah orang hebat, begitulah orang sholeh tidak rela
jika tidak melahirkan orang yang hebat dan shaleh pula. Apalah artinya segels susu, jika
karena segelas susu yang bukan haknya ternyata dapat merusak keturunan, merusak gen
kesholihan. Mari kita belajar dari Umar, mari kita belajar bagaimana melahirkan generasi
sholeh nan hebat.
(Qishotun min qoshoshi Umar ibn Abdul Aziz,Usamah Naim Musthafa)
Lembaga sekolah bukan lembaga yang terpisah dari masyarakat di sekitarnya. Santri-santri
kuttab diajarkan sejak dini untuk ikut berbaur dengan masyarakat. Dengan tetangga kiri
kanan, dengan lembaga lain di sekelilingnya, sampai dengan orang besar yang ada di
kotanya.
Mengajarkan ilmu dengan praktik secara langsung akan lebih mengena dan menancap di hati
seorang anak. Learning by doing. Dengan terjun langsung, mereka bisa melihat apa yang
terjadi, mereka bisa merekam suara-suara yang mengiringi setiap episode dari peristiwa,
mereka bisa merasakan dengan kulit mereka apa yang mereka sentuh.
Namun praktik tidak sekedar untuk melihat dengan mata, walau melihat itu penting. Bukan
sekedar mendengar dengan telinga mereka, walau itu penting. Bukan juga sekedar merasakan
dengan kulit mereka apa-apa yang mereka sentuh, walaupun itu juga penting. Karena bila
hanya mengindra saja, ilmu yang didapat hanya kering belaka tanpa bisa mencapai rasa.
Sedangkan di kuttab, ada sasaran yang benar-benar ingin dibidik secara tepat dari setiap
kejadian yang di indra oleh seorang anak manusia di dalam mengajarkan ilmu, yaitu: hati
(qalbun). Karena dengan hati inilah dia disebut manusia.
Baginda
Rasulullah
pernah
bersabda:
Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula

seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah
hati (jantung) (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hari Senin Kuttab diliburkan. Menyusul adanya kabar bahwa seorang tokoh dunia pendidikan
kota Surabaya telah berpulang.
Mengapa libur? Karena di Kuttab, Jika seorang ulama yang dulu mengajarkan ilmu
meninggal, atau pemimpin yang bermanfaat bagi negara dengan pemikiran dan karyanya,
atau amir yang adil dalam hukumnya, Kuttab-Kuttab akan diliburkan pada hari
pemakamannya sebagai bentuk ikut bersama dalam rasa belasungkawa dan pemuliaan bagi
mereka yang telah mengabdi bagi kepentingan umum dengan baik (Adab al Muallimin h.
57)
Santri yang usianya sudah dirasa cukup, diminta untuk mengikuti prosesi sejak mensholatkan
jenazah sampai mengantarkannya ke liang lahat.
Sebelum berangkat, tidak lupa untuk mengingatkan adab, mempraktikkan sholat jenazah,
memilih pemimpin, dan berdoa.
Selama perjalanan yang cukup memakan waktu, diisi sebanyak-banyaknya dengan murojaah
hafalan atau bacaan dzikir. Tetapi tidak menafikan untuk memberi ruang bagi anak-anak tetap
dalam keceriaannya berbincang dengan teman mereka.
Sampai di masjid tempat jenazah akan disholatkan, para santri segera mengikuti instruksi
pemimpinnya. Tetap berjalan dua-dua. Bergandengan tangan dengan saudaranya masingmasing yang sudah ditentukan., perintah pemimpin yang langsung disambut ketaatan dari
semua yang dipimpin.
Suasana di dalam masjid telah berjubel banyak orang dewasa juga anak-anak sekolah usia
SMP dan SMA. Masjid yang luas telah dipenuhi oleh ratusan jamaah yang juga datang untuk
melakukan kewajiban kepada saudaranya yang telah meninggal sebagai penghormatan
terakhir. Banyak juga tokoh ulama yang hadir.
Wajah-wajah mereka semua berseri-seri. Pandangan mereka teduh dihiasi senyuman yang tak
henti-hentinya merekah tanpa diminta. Menyapa dan membelai lembut satu per satu santri
kuttab yang melewati mereka. Benar-benar seakan memandang para penghuni surga. Dalam
satu tujuan mereka datang untuk mendoakan saudara mereka yang telah berpulang kepada
Rabb seluruh alam. Beginikah wajah hambamu yang sholeh ya Rabb. Akankah kami bersama
mereka kembali berkumpul seperti ini sampai di surgamu ya Rabb. Kami mencintai mereka
karenamu ya Rabb. Bahkan kami tak mengenal satupun mereka, tapi seperti saudara yang
lama tidak bertemu, kami saling menyapa.

Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka
saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling
bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai. [HR. Bukhori-Muslim]
Dalam pandangan kami, hal ini sungguh sangat luar biasa menggetarkan hati kami. Lalu
bagaimana bila setiap peristiwa demi peristiwa ini terekam kuat oleh pandangan,
pendengaran, perasa santri-santri kami. Langsung menghujam kedalam dasar sanubari

mereka. Hati berkomunikasi dengan hati. Walau yang nampak terlihat biasa oleh orang yang
tidak mengerti, namun hati kami berkomunikasi, menyambungkan rasa. Rasa keimanan
kepada Rabb kami.
Begitulah anak-anak kami dididik untuk menyuburkan hati dengan iman. Bahkan kebijakan
yang ditetapkan, semata-mata untuk semakin meneguhkan hati kami dengan keimanan.
Bimbing kami ya Rabb.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Mari kita bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang kita rasakan. Betapa
banyaknya doa-doa kita dikabulkan oleh Allah. Adalah suatu nikmat tersendiri
menyaksikan gelora ummat Islam di negri ini tengah membesar, ummat mulai
mendekat pada kitab sucinya, mendekat pada kebangkitan.

Perjalanan menuju kebangkitan ini perlu dikawal secara cermat dan terukur
dalam tatanan yang terstruktur rapi. Langkah sistematis menuju kebangkitan
diantaranya dapat kita lakukan melalui pendidikan. Wilayah pendidikan
sangatlah potensial untuk mengubah visi generasi Muslim.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Lembaga pendidikan di negeri ini jumlahnya sangat banyak. Masya Allah, kita
yakin semua berupaya ikut serta memperbaiki generasi dengan beragam
panduan. Alhamdulillah, saat ini
lembaga pendidikan sudah mulai banyak yang merevisi sekolahnya.

Utamanya dalam hal kurikulum. Mencoba meneladani siroh Nabawiyah ketika


Rasulullah mendidik sahabatnya. Untuk memperbaiki kondisi saat ini memang
harus berani. Berani dalam arti memulai ilmu pada tataran dan konsep hingga
pada aplikasinya. Persis seperti yang telah dilakukan oleh ahli ilmu terdahulu.

Saudaraku yang dirahmati Allah,


Sampai saat ini setidaknya kita pada umumnya belum teruji pada tataran belajar
ilmu secara tuntas. Yang sering kita temui saat ini yakni berilmu tidak berurut,
berilmu tapi tidak terstruktur.
Dahulu, Islam memimpin bumi ini sangat lama, silakan dibaca ulang bagaimana
pola belajar mereka, bukan hanya dari hasil akhirnya saja!
Banyak sekolah bernama Islam yang mengambil dari nama ilmuwan besar
Islam, contoh Al Khawarizmi, Al Biruni.
Dahulu, para ahli ilmu memiliki kaidah yang runtut dalam belajar.

Diantara kaidah tersebut adalah :

1. Niat, kerjanya sama namun hasilnya pasti berbeda.


contoh: orang yang shaum dan tidak shaum akan berbeda kondisinya.
Kaidah niat ini sangat penting dalam berilmu, jangan disepelekan.

2. Kalimat Sufyan ats Tsauri rahimahullah, Maratib al Ulm Urutan berilmu.


Ilmu itu ada urutannya. Setidaknya 5 urutan tersebut yakni dari
al insod=diam,
al istima=mendengar,
al hifz=menghafal,
al aml=mengamalkan,
at tabligh=menyampaikan

Malam itu, rombongan pasukan gerilya semesta menghentikan langkahnya di sebuah rumah
warga. Lelah yang bertumpuk selama pertempuran gunung hutan, tak jadi alasan untuk
merebah-rubuhkan tubuh mereka dalam istirahatnya. Situasi genting macam itu, tak ada yang
menjamin mereka aman dari sergapan tiba-tiba. Adalah hal biasa tidur dengan posisi duduk
sambil terpejam mata, disampingnya berdiri tegak tersiaga senapan-senapan bekas Nippon;
saat dahulu tergabung dalam barisan Tentara PETA (Pembela Tanah Air). Kapten
Tjokropranolo yang masih terjaga, sadar bahwa Kunto menghilang dari tengah mereka. Dia
segera memerintahkan Karsani keluar untuk mencarinya.
Tak lama. Seisi ruangan gegar. Derap langkah tentara baret merah mengintai peristirahatan
pasukan. Sementara di luar, Karsani bersembunyi di balik perigi. Hatinya cemas akan apa
yang terjadi pada kawan-kawan seperjuangannya nanti.
Sang Jenderal kelahiran Purbalingga yang memimpin pasukan gerilya itu tetap tenang.
Kapten Nolly yang bertugas menjadi tim pengamanan paling depan dengan gusar
melaporkan, Kita telah terkepung, Jenderal! Namun Sang Jenderal dengan mantap
menjawab, Semuanya tenang. Terbayang apa yang kemudian beliau perintahkan?
Dimintanya semua pasukan berganti pakaian seperti santri, duduk menghadap ke arah Sang
Jenderal yang kini menjelma kyai. Mereka pun kemudian berdzikir jamai dengan
merapalkan tahlil, Lailahaillah.. Lailahaillah.. Lailahaillah..
Belanda masuk. Sesuatu yang tak dinyana, seorang awak gerilya yang sedari tadi dicari kini
tengah berada di barisan Belanda. Rupanya ia telah berkhianat. Ia lantas membeberkan pada
Belanda, Ini yang namanya Soedirman, yang Tuan cari-cari selama ini. Komandan pasukan
Belanda melihat-lihat, diperhatikannya dengan cermat, kemudian menolak, Hmm.. Ini kyai..
bukan panglima! Si pengkhianat pun bersungut meyakinkan, Saya anak buahnya, saya
bersama-sama bergerilya dengan mereka! Dilihat-lihatnya lagi oleh Belanda, tapi tetap tak
percaya. Ah.. tidak becus kamu, mereka ini santri, mana Soedirman?! teriak Belanda. Ini

Soedirman, Soe..dir..man! si pengkhianat terus meyakinkan. Akhirnya, Belanda mencabut


pistol. Dorrr!!
Kita pun tahu apa yang terjadi setelahnya dalam film besutan Viva Westi bekerjasama dengan
beberapa elemen TNI AD ini. Kesaksian Kapten Nolly atau Tjokropranolo sebagai pengawal
pribadi sang jenderal, juga tersimpan apik dalam sebuah buku yang ditulisnya tentang masa
saat dimana mereka berkali-kali selamat dari maut dalam meniti gerilya bersama sang
panglima. Judulnya: Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak
Terakhir Penjajahan di Indonesia: Kisah Seorang Pengawal.
Dialah Soedirman, Jenderal besar yang tercatat sebagai salah satu pahlawan negeri. Namanya
begitu sakral di tubuh TNI. Betapapun tuberculosis meringkihkan tubuhnya, jiwanya
senantiasa bergelora. Dari atas tandu, ia mengobarkan semangat gerilya semesta untuk
mengusir Belanda serta membubarkan agendanya; agresi militer Belanda II yang dimulai
sejak kurun 19 Desember 1948.
Tahlil dan dzikir yang mewarnai perjuangannya, memberi arti bahwa ia seorang jenderal yang
dekat dengan agama. Ia pula yang dahulu memimpin pemuda sebagai penggerak salah satu
organisasi kepanduan putra di Cilacap pada masanya.
Dialah seorang santri yang dididik untuk mengabdi; seorang ustadz yang tak rela tanah airnya
diinjak-injak oleh anasir-anasir jahat; seorang dai yang mengobarkan perjuangan agung nan
suci; seorang pemimpin gerilya bergelar Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Dialah Pemimpin berjiwa kSatria!
Segala puji bagi Allah, pada Oktober kemarin kita diberi anugerah, sebuah kesempatan untuk
menjejakkan langkah; menyusur sejarah; mengangsur dahaga di bumi Satria tempat Sang
Jenderal melewati fragmen hidupnya, dalam sebuah acara bertajuk Multaqo Kuttab Al Fatih
se-Indonesia.
Salah satu yang menarik adalah penyematan istilah SATRIA yang dinobatkan sebagai slogan
kota. Sebab, selain mengandung makna kesatria, ia juga sebuah akronim yang konon
berarti: Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, Aman. Di dalamnya juga tercanang sebuah
universitas ternama yang turut mengharumkan nama sang ksatria; Universitas Jenderal
Soedirman.
Saya sekedar mereka-reka, jika kata SATRIA yang menjadi slogan kota itu kita coba
definisikan dalam makna-sifat kepemimpinan, maka hasilnya lebih dahsyat lagi.
Umpamanya demikian: S untuk Sigap, A untuk Adil, T untuk Tangguh, R untuk Rahman, I
untuk Ikhlas, dan A untuk Amanah.
Tiga sifat yang pertama (Sigap, Adil, Tangguh) menggambarkan karakter kuat, tiga sifat
berikutnya (Rahman, Ikhlas, Amanah) menunjukkan karakter baik.
Maka harapan kita, sosok pemimpin yang Sigap penuh semangat lagi kuat; yang Adil pada
yang besar maupun kecil; yang Tangguh tak kenal kata mengeluh; yang Rahman lagi
menebar kepedulian; yang bekerja dengan Ikhlas dan kaya kualitas; yang Amanah pada tugas
mengurus ummah; adalah sosok pemimpin yang ditunggu-tunggu kehadirannya!
Itulah Pemimpin berjiwa S.A.T.R.I.A!

Adalah sebuah kisah yang dituturkan oleh guru kita Ustadz Budi Ashari, Lc hafidzohullah
siang itu di pendapa yang bercahaya, menguatkan pemaknaan kita tentang sebuah tatanan
jiwa ksatria.
Alkisah, ketika pasukan Romawi menyerang Turki, seorang wanita muslimah yang diperjualbelikan sebagai budak berteriak dengan keras menyebut nama seorang Khalifah yang berada
nun jauh di sebuah negeri, Wa Mutashimah Wa Mutashimah (Wahai Al Mutashim).
Seseorang yang mendengar teriakan wanita tadi lantas bergegas menemui Khalifah Bani
Abbasiyah yang masyhur itu guna menyampaikan apa yang dilihatnya. Sang Khalifah yang
saat itu sedang beristirahat terhenyak dan menjawab Labbaik.. Labbaik.. (Aku memenuhi
seruanmu).Al Mutashim kemudian menyiapkan pasukan yang sangat banyak. Ada yang
mengatakan jumlahnya 90.000, ada yang mengatakan 100.000 pasukan. Saat itu juga Sang
Khalifah Al Mutashim Billah, berangkat untuk menyelamatkan budak muslimah.
Sang Khalifah bertanya, Kota mana di Byzantium yang dianggap paling kuat? Dijawab,
Amuriyah. Sang Khalifah bersama pasukannya akhirnya mengepung Amuriyah. Setelah
dibombardir selama 55 hari, sejak 6 Ramadhan sampai akhir syawal 223 H, Amuriyah pun
luluh lantak, hancur bersama keangkuhan dan kedzolimannya.
Diceritakan dalam Al Mausuah Al Muyassarah fii At Tarikh Al Islami (Muassasah Iqra,
Kairo 2005), Sang Khalifah Al Mutashim adalah sosok pemberani dan memiliki kekuatan
luar biasa besar. Ia mampu membawa beban berat, seberat yang tidak bisa dibawa oleh
beberapa orang pria. Al Mutashim bisa membengkokkan besi berulang kali, padahal orangorang perkasa tak mampu melakukannya. Suatu ketika Al Mutashim berkata kepada Ahmad
bin
Abi
Duad
seraya
memperlihatkan
lengannya
kepadanya.
Hai Abu Abdillah, coba kau gigit lenganku sekuatmu, ujar Khalifah.
Wahai Amirul Mukminin, sungguh aku tidak enak melakukannya, jawab Ahmad.
Sang Khalifah meyakinkan, Tidak apa, tidak akan membahayakanku.
Akhirnya Ahmad bin Abi Duad pun melakukannya, dan ternyata lengannya tidak bisa dilukai
pedang apalagi hanya gigi taring dan geraham.
Pantas Amuriyah hancur, yang menyerangnya adalah Khalifah yang sangat perkasa lagi
shalih!
Meskipun perkasa, Al Mutashim adalah pribadi yang penyayang dan penuh kasih.
Dan inilah Pemimpin berjiwa kSatria!
Jika Al Mutashim adalah seorang khalifah, sedang Soedirman seorang Panglima, dan
keduanya adalah pemilik jiwa ksatria yang membesarkan namanya, maka pertanyaannya bagi
kita.. adakah nilai pemimpin yang ksatria itu dikandung oleh jiwa-jiwa kita? Adakah pada
anak-anak didik kita?
Barangkali kita bukanlah pemimpin suatu negeri, mungkin bukan pula pimpinan organisasi.
Tetapi sabda Nabi kita yang mulia, sungguh tepat takarannya. Pemimpin bukan hanya yang
mengetuai sekelompok orang, namun ia juga yang terhisab meski hanya seorang insan,

Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. (Muttafaqun alaihi)

Semoga hari-hari dalam setiap dimensi kepemimpinan yang Allah amanahkan di kehidupan
kita, memberi arti pada kemenangan hidup kita di akhirat sana.
Di akhir kata, ada sebuah takdzim yang tak ingin terlewat; pada para pemimpin, pahlawan,
patriot, ksatria, tentara, siapapun yang namanya tidak terucap. Berapa banyak manusia
berjiwa ksatria di muka bumi ini yang namanya terlukis indah oleh tinta sejarah, namun jauh
lebih banyak mereka yang mati tanpa satu pun catatan terpelihara. Para ksatria bukan hanya
mereka yang nama serta perjuangannya teruntai oleh pena khalayak semata, sebab berapa
banyak yang luput tak tercatat, tetapi spirit perjuangannya senantiasa menggema; adi
mengabadi dalam bilik ingatan para insan yang pernah menyaksikan, juga yang datang
kemudian, meski jasadnya telah meninggalkan panggung peradaban. Wallahu alam.
Kiranya ini yang terdefinisi oleh saya tentang makna S.A.T.R.I.A.
Bagaimana dengan Anda?

Para sahabat adalah contoh yang seimbang dalam kehidupan antara kebutuhan ruh dan
tuntutan jasad. Ketika mereka berada di medan jihad maka mereka adalah sosok yang kuat,
berwibawa dan ditakuti musuh-musuhnya. Ketika mereka berada dalam keluarga, maka
mereka adalah sosok yang lemah lembut dan senang bergurau sebagaimana yang sudah
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam contohkan kepada mereka. Manusia mempunyai
gumpalan daging dalam dada yang disebut hati dimana Ia selalu dihampiri oleh perasaan
jemu sebagaimana jasad selalu dihampiri oleh perasaan malas dan bosan. Jika saja rasa itu
tidak bisa diatasi maka akan berakibat sangat buruk bagi keberlangsungan Iman didalamnya
dan jasad pun akan merasakan dampaknya.
Untuk mengatasi rasa itu maka para sahabat memiliki cara untuk mengatasinya dalam
kehidupannya sehari-hari agar tidak berlarut-larut dalam kemalasan dan kebosanan. Dari cara
itulah para sahabat pun dapat memutuskan segala urusan dan ujian yang Allah SWT berikan.
Karena hati yang tenang dapat memutuskan segala urusan dengan bijak. Maka tidak jarang
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bergurau bersama para sahabat pada saat-saat yang
memang diperlukan hanya sekadar untuk menghibur hati yang mulai jemu dan bosan walau
hanya sejenak namun penuh arti.
Bahkan beberapa sahabat pernah mengatakan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
kadang bergurau dan tertawa sampai gigi geraham Beliau terlihat. Karena untuk menghadapi
ujian bukan saja membutuhkan jasad yang kuat, melainkan hati yang mau menerima segala
ketentuan yang Allah SWT berikan dengan lapang atas dasar Iman.
Berikut beberapa petikan pesan para sahabat untuk generasi setelahnya tentang perlunya
menghibur hati walau sesaat :
Dari Ali bin Abu Thalib berkata Hiburlah hati, berilah ia petikan-petikan hikmah, karena
hati juga merasakan jemu sebagaimana badan merasa bosan.
Beliau juga pernah berkata, boleh bercanda, jika itu bisa mengeluarkan seseorang dari
batasan bermuka masam (cemberut).

Pesan beliau sahabat mulia sangat jelas bahwasanya hati terkadang memang perlu diberikan
hiburan, yaitu senda gurau rasa Iman untuk mengembalikan keadaan hati yang jemu pada
sebuah ketenangan agar hati siap mengemban beban amanah yang Allah SWT berikan pada
tahap selanjutnya. Layaknya jasad yang membutuhkan waktu untuk beristirahat agar Ia dapat
kembali bertenaga untuk melakukan aktifitas peribadatan kepada Allah SWT.
Abdullah bin Masud berkata Tenangkanlah hati, karena jika hati itu dipaksa, maka ia akan
menjadi buta
Dari Abu Ad-Darda, ia berkata, aku biarkan jiwaku dengan sesuatu yang bathil akan tetapi
tidak haram, maka itu menjadikannya lebih kuat untuk melakukan kebenaran.
Diriwayatkan dari An-NakhaI, bahwa ia ditanya tentang sahabat-sahabat Rasulullah saw,
apakah mereka tertawa dan bercanda? Ia menjawab, Ya, sedangkan iman di hati mereka
seperti gunung-gunung yang kokoh
Maka, ketika hati ini sudah mulai jemu dan jasad ini sudah mulai merasa malas dan bosan,
jika kita sudah mulai lupa mungkin kita perlu mengingat dan mempraktekkan kembali
bagaimana para sahabat melewati perasaan seperti itu dalam kehidupan mereka sehari-hari
mereka, yaitu Senda gurau yang sesuai dengan Syariat, sekadar untuk memenuhi kebutuhan
hati yang belum terpenuhi. Agar hati ini senantiasa segar dan tenang kembali untuk
menyelesaikan amanah dan tantangan baru dari Allah SWT yang semakin lama semakin
berat. Karena sesungguhnya perjalanan dalam jalur pendidikan bukanlah perjalanan yang
mudah. Perjalanan ini membutuhkan hati yang selalu memiliki ketenangan, yaitu :
ketenangan yang memudahkan Iman untuk terus masuk ke dalamnya, ketenangan yang
memudahkan Ilmu untuk dapat diaplikasikan karena kelapangan hati yang sudah didapatkan.
Semoga Allah SWT selalu menguatkan dan mempersatukan hati agar selalu diberikan
keteguhan hati dan kesabaran yang berlimpah untuk memberikan pendidikan yang layak bagi
generasi kita. Wallahu alam.
Wassalamualaikum.Wr.Wb.
Manusia memiliki kecenderungan pada keuntungan, kekayaan dan kemakmuran. Hal ini
sejalan dengan beberapa permisalan dalam Al Quran yang menantang dan memotivasi
manusia. Allah subhanahu wataala memberikan janji dan ganjaran kepada manusia dengan
permisalan jual beli dan perdagangan yang tidak akan pernah merugi (lantabuur), keuntungan
dan hasil yang berlipat dan sebagainya. Inilah fitrah manusia dan satu bentuk kebahagiaan
sekaligus ujian dalam hidup. Oleh karena itu manusia juga takut dan khawatir jika mengalami
kebangkrutan, kegagalan dan kerugian. Al Quran memberi sebuah gambaran kerugian
manusia dikaitkan dengan kenyataan yang kian menambah penyesalannya.
Allah
SWT
berfirman:




Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buahbuahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih
kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api sehingga terbakar.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.
(QS. Al Baqarah ayat 266)

Manusia tentu menyukai usaha, perkebunan, perdagangan, bisnis dan investasi lain yang
menguntungkan dan bermanfaat dalam jangka panjang. Sehingga manusia dapat merasa
nyaman dan bahagia karena kehidupan diri dan keluarganya terjamin untuk waktu yang lama.
Tetapi kenyataannya berubah drastis saat ia terlalu sibuk mengurusi dan mencurahkan
perhatiannya terhadap pekerjaan sedangkan anaknya masih lemah dan kecil. Penyesalan
hidup berlipat-lipat karena usaha dan investasi yang bangkrut dan anak-anak (yang
seharusnya dapat mengurus bisnis dan harapan orangtua di masa tua) justru belum bisa
diharapkan.
Realita kehidupan seperti gambaran ayat di atas seakan-akan terlihat nyata dan terjadi dalam
masyarakat. Bagaimana perhatian dan urusan orangtua sedemikian sibuk baik dalam bisnis,
perkebunan, perdagangan dan investasi lain sehingga amanah besar dari Allah (berupa anakanak) luput dan terabaikan. Akibatnya anak-anak menjadi generasi yang lemah. Kelemahan
jasmani dan rohani. Fisik yang obesitas, pemalas dan pasif. Kelemahan akal dan mental
(semangat hidup). Pergaulan yang merusak moral dan gaya hidup. Kecanduan pada games,
gadget, hiburan dan sebagainya. Manusia diberikan isyarat bahwa sikapnya mementingkan
usaha dunia dan pekerjaannya sehingga baru sadar kondisi anaknya yang lemah di usia senja.
Padahal perdagangan dan investasi yang dirintis tidak akan dimiliki utuh, sempurna dan
abadi. Tidak sedikit perhatian terhadap anak dikalahkan oleh pekerjaan dan bisnis.
Bagaimana jika sikap kita terhadap pendidikan anak sama seperti sikap berbisnis dan
investasi? Saat akan memulai bisnis, kita belajar melakukan persiapan matang agar tidak
mengalami kerugian dan kegagalan. Maka kita akan membuat planning matang agar tidak
gagal dan rugi dalam mendidik anak sebagai investasi orangtua. Jika anak pertama bagaikan
pilot project investasi awal sudah tidak diperhatikan dengan baik dan gagal, tentu akan
dipikirkan dan diberi treatment/perhatian ekstra karena kemungkinan berdampak pada cabang
anak kedua, ketiga dan seterusnya. Kadang peliknya urusan bisnis dan pekerjaan, orang
dewasa masih mencoba dan memaksakan diri tampil prima dan profesional di depan kolega,
kostumer dan sebagainya. Mungkinkah hal ini dipraktekkan dalam berinteraksi kepada anak?
Bukankah sebagian orang sangat konsen dan rela berjuang memperbaiki kualitas demi bisnis
dan investasi tetapi tidak bersikap yang sama demi mendidik dan mencurahkan perhatian
terhadap anaknya.
Anak sebagai investasi bergerak pasti akan menghadapi aspek-aspek yang dapat melemahkan
dan merusak perkembangan proses belajar mereka. Hal yang seringkali disepelekan orangtua
adalah mudah melimpahkan problem anak ke pihak ketiga. Jika pembagian peran pendidikan
menurut Dr. Khalid Asy Syantut terbagi atas 60% peran rumah, 20% peran sekolah dan 20%
lingkungan maka saham keberhasilan investasi ini tergantung bagaimana dukungan dan peran
setiap elemen terhadap laju perkembangan investasi. Peran dan dukungan positif harus kuat
dan optimal dalam menyelamatkan investasi besar. Bayangkan jika masalah anak dari rumah
dan lingkungan hanya dipasrahkan kepada sekolah. Peran 80 persen (rumah dan lingkungan)
diserahkan kepada sekolah.
Anak adalah investasi yang hidup dan bergerak, merasakan dan membutuhkan sentuhan
pemilik saham terbesarnya. Ia adalah investasi abadi yang tidak terbatas ruang dan waktu.
Saat orang tua tiada, ia meneruskan visi dan misi orangtuanya. Bahkan ia berpeluang besar
memberi manfaat saat pemilik saham membutuhkan pertolongan di alam kubur dan hari
pembalasan kelak. Kualitas hidupnya tergantung pada pengorbanan dan perjuangan di awal
pendidikan agar ia kelak tidak menjadi generasi yang lemah.

Selamat
Wallahu alam

berjuang.

Selamat

berinvestasi.

Hari ini jika kita melihat di saluran televisi yang ada, maka pasti banyak kita dapati sajian
dakwah, irama, cerita, dongeng, bahkan juga drama menjadi campur baur disana. Baik anak
anak, dewasa, bahkan orang tua ikut tenggelam bersama sajian tersebut, baik sadar maupun
tidak sadar.
Pengaruh kepada ucapan, tingkah laku, pemikiran dan juga idola yang hadir menjadi sebuah
konsekwensi ketika kita tak pandai memilih dan memilah program acara tersebut.
Ingatkah kita bahwa sejarah telah mencatat seseorang yang dengan segala upayanya untuk
menjauhkan hidayah dari setiap manusia, dengan harapan apa yang dilakukannya itu dapat
meredup cahaya islam dalam hati setiap manusia yang di pengaruhinya.
Ketika Rasulullah membawa agama kepada penyembahan hanya Allah semata, kaum quraisy
yang bernama An-Nadhr bin Al-Harits pergi ke Hirah hanya untuk belajar dongeng para raja
persi, perkataan Rustum dan Asfandiyar.
Jika Rasulullah mengadakan suatu pertemuan untuk mengingatkan kepada Allah dan
menyampaikan peringatan tentang siksa-Nya, maka An-Nadhr menguntit dibelakang beliau,
lalu berkata demi Allah, penuturan Muhammad tidak sebagus apa yang ku tutur kan. Lalu
dia berdongeng tentang raja-raja persi, Rustum, dan Asfandiyar. Bahkan juga An-Nadhr
membeli beberapa penyanyi perempuan untuk dihadiahi kepada seorang laki-laki yang tidak
ingin mendengar apa yang disampaikan Rasulullah.
Lihatlah dengan dongeng, nyanyian, dan juga para penari itu An-Nadhr ingin menjauhkan
cahaya islam dari orang yang ditemui Rasulullah.
Tentang hal ini turun ayat Al-Quran surat Luqman ayat ke 6 yang berbunyi
()

dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna
untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan
Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
Lalu bagaimana dengan sajian statiun televisi yang selalu membersamai kita pagi, siang,
bahkan sampai malam hari? Semoga kita dapat mengambil pelajaran, agar lebih selektif
dalam hal memilah dan memilih sajian televisi hari ini.
Untuk mu wahai saudaraku, para ayah bunda, dan anak anak ku
Ya Allah bimbinglah kami.
Daftar
Pustaka
Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury

eorang Ibu ibarat sebuah madrasah bagi anak anaknya. Madrasah pertama tempat belajar dan
mendapatkan pendidikan sejak pertama kali nafas dihembuskan. Di madrasah itulah nilai-

nilai, akhlak dan prinsip yang tinggi ditanamkan. Ibu bisa berperan sebagai orang yang
mampu memilihkan jalan bagi anaknya untuk memperkuat prinsip ini sehingga mampu
menjadikannya sebagai insan sholeh yang bermanfaat bagi agama dan masyarakatnya atau
sebaliknya.
Di jalan mana para ibu-ibu hari ini menuntun anaknya?
Teladan siapakah yang dijadikan mereka untuk dicontoh?
Dan di sekolah manakah mereka menitipkan anak-anaknya untuk dididik?
Apakah para ibu sekarang memilihkan untuk anak-anaknya ulama yang akan mendidik
mereka?
Sudahkah mereka mengenalkan teladan yang baik untuk diikuti, sehingga menjadi panduan
hidup untuk anak-anaknya?
Ataukah para ibu memilihkan artis dan penyanyi yang menjadi teladan untuk anak-anaknya?
Apakah para ibu mendorong anaknya untuk senantiasa datang ke masjid atau sekolah-sekolah
Islam untuk belajar agama dan akhlak yang baik?
Ataukah mereka memilih mengirimkan anak-anaknya ke tempat rekreasi atau club-club
malam atau tempat tempat buruk yang jauh dari agama, yang tidak menjaga budi pekerti dan
akhlak?
Ibunda Malik telah menjauhkan sang anak dari lagu-lagu dan memilihkan jalan untuknya
jalan fikih, ilmu dan budi pekerti. Sehingga Malik menjadi seorang imam. Lantas, bagaimana
dengan kalian, wahai para ibu?
Umat Islam membutuhkan orang-orang yang akan menyempurnakan jalan kebaikan dan
pengorbanan, memerlukan orang yang mampu menyadari besarnya tanggung jawab yang
dibebankan di pundaknya.
Engkaulah, wahai para Ibu, harapan umat ini dan obat penyembuh penyakit yang diderita
umat. Engkau harus segera menggantungkan harapan dan mengharapkan kebaikan.
Kembalilah, wahai para Ibu! Kenali peranmu dalam kehidupan dan sadari besarnya
tanggungjawab yang dibebankan di pundakmu, yaitu mendidik dan mengarahkan putraputrinya!
Jadikanlah Ibunda Malik dan ibu-ibu yang serupa dengannya sebagai teladan dalam mendidik
anak-anaknya dan membimbingnya ke jalan kebenaran.
Ya Allah bimbinglah kami
Dr Tariq suwaidan
Termasuk konsep pendidikan yang terbaik adalah apa yang disampaikan oleh Ar Rasyid
(Khalifah Harun Ar Rasyid) kepada pendidik anaknya. Khalaf al Ahmar berkata: Ar Rasyid
mengirimkan utusan kepadaku tentang pendidikan anaknya Muhammad al Amin.

(Utusannya) menyampaikan (pesan) ar Rasyid,


(Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu titian
jiwanya dan buah hatinya. Maka, bentangkan tanganmu untuknya selapang-lapangnya dan
kepadamu dia wajib taat, maka jadikanlah dirimu untuknya sesuai yang diinginkan Amirul
Mukminin.)
Bacakan untuknya al Quran, ajarkan sejarah, untaikan syair-syair dan ajarkan sunnah.
Buatlah ia mampu mengetahui posisi pembicaraan dan permulaannya. Laranglah ia dari
tertawa kecuali pada waktunya. Rengkuhlah ia untuk mengagungkan masyayikh Bani
Hasyim jika mereka datang kepadanya dan meninggikan majlis para pemimpin jika mereka
datang ke majlisnya. Jangan sampai ada waktu yang berlalu padamu kecuali kamu telah
memberikan faedah baginya tanpa harus membuatnya sedih yang akan mematikan otaknya.
Jangan menjauh di waktu lapangnya, sehingga dia merasakan manisnya waktu kosong dan
membuatnya terbiasa dengannya. Luruskan ia semampumu dengan cara mendekat dan
lembut. Jika dengan dua cara itu dia tetap tidak baik maka gunakan cara yang keras.)
(Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya)
Seperti inilah pesan dari Khalifah Harun Arrasyid kepada guru anaknya. Dia adalah seorang
khalifah besar di masa dinasti Abbasiyah yang setiap harinya sholat 100 rakaat sampai
meninggal, mencintai ulama, menjaga syiar agama, membenci debat dan bicara tak berguna,
menangisi dirinya atas kelalaian dan dosanya terutama saat dinasehati (Imam Az-Zahabi,
Siyar Alam An-Nubala)
Guru perhatikanlah!
Ada pesan dari Arrasyid untukmu juga
Pesan yang hadir dari orang yang telah memberikan keteladanan akhlak di dalam
kehidupannya.
Arrasyid mengatakan : Bacakan untuknya al Quran, ajarkan sejarah, untaikan syair-syair
dan ajarkan sunnah. Ini adalah kurikulum urutan pengajaran, usahakan untuk tidak
mengajarkan yang lain sebelum ilmu ini sampai pada peserta didik. Ilmu-ilmu lain bisa
diajarkan setelah kurikulum ini diajarkan seluruhnya pada generasi.
Arrasyid mengatakan : Buatlah ia mampu mengetahui posisi pembicaraan dan
permulaannya. Laranglah ia dari tertawa kecuali pada waktunya. Ini bagian dari konsep
kejelasan antara belajar atau bermain. Karena keduanya tidak bisa dicampur dalam keseriusan
berilmu. Jika bicara ajari posisi pembicaraanya, jika tertawa ingatkan tidak berlebihan, jika
membuat jadwal kegiatan tentukan kapan waktu belajar dan kapan waktu bermain ( tertawa).
Arrasyid mengatakan : Rengkuhlah ia untuk mengagungkan masyayikh Bani Hasyim jika
mereka datang kepadanya dan meninggikan majlis para pemimpin jika mereka datang ke
majlisnya. Ini mengajarkan untuk penggalian nasab keluarga, karena bani hasyim
merupakan nasab besar dan diminta untuk diagungkan oleh guru kepada putranya arrasyid.
Saat memberikan pekerjaan rumah untuk peserta didik, bisa diminta untuk menggali nasab
keluarganya agar menjadi pengkaguman pada keluarga besar dari sang anak. Ini juga
memberikan pembelajaran untuk menghormati yang lebih tua jika datang mengunjungi.

Mengajarkan visi besar dalam berilmu yaitu menjadi pemimpin. Menciptakan suasana dan
iklim keilmuwan yang mengagungkanbukan mengkerdilkan generasi.
Arrasyid mengatakan :Jangan sampai ada waktu yang berlalu padamu kecuali kamu
telah memberikan faedah baginya tanpa harus membuatnya sedih yang akan mematikan
otaknya. Ini mengajarkan tentang komitmen waktu, memaksimalkan waktu yang telah
disepakati, kenyamanan saat memberikan faedah ilmu tanpa harus memperbesar tekanan dan
membuat generasi bersedih, hibur saat sedih agar tidak mematikan otak berfikirnya.
Arrasyid mengatakan : Jangan menjauh di waktu lapangnya, sehingga dia merasakan
manisnya waktu kosong dan membuatnya terbiasa dengannya. Ini mengajarkan untuk bisa
mengisi waktu-waktu kosong pembelajaran dengan kebermanfaatan, dan mau mendampingi
peserta didik saat diwaktu luang ( jam istirahat).
Arrasyid mengatakan : Luruskan ia semampumu dengan cara mendekat dan lembut. Jika
dengan dua cara itu dia tetap tidak baik maka gunakan cara yang keras.). ini mengajarkan
tentang membuat evaluasi disetiap pembelajaran. Perbaiki jika ada kesalahan dengan cara
mendekat dan lembut. Mendekat dan lembut adalah metode terbaik. Perbesar konsep ini saat
mengingatkan generasi. Gunakan cara keras saat kedua konsep ini sulit dilakukan. Dan ini
memperjelas teknis antara penghargaan dan hukuman.
Begitulah, pesan arrasyid untukmu guru
Wallahualam
Di saat kita belajar pada sejarah, tergambar jelas tentang wajah generasi sahabat. Generasi
sahabat di zaman Rasulullah shalallahualaihi wasallam adalah merupakan efek dari posisi
sentralnya Rasulullah shalallahualaihi wasallam.
Sahabat nabi saat itu benar-benar menjalani kurikulum (iman dan Al-Quran) yang diajari
oleh sang guru terbaik. Maka lahirlah Abu Bakar dengan julukan Ash-shiddiq, karena satusatunya orang yang membenarkan perjalanan Isro Miraj, Umar bin Khattab yang dapat
memisahkan dengan jelas antara kebenaran dan kebatilan sehingga dijuluki Al-Faruk, Utsman
bin Affan yang menjadi bagian keluarga Rasulullah dengan menikahi kedua anaknya
Ruqayah dan Ummu kaltsum sehingga diberi julukan Dzunnurain ( memiliki dua cahaya), Ali
bin Abi Thalib yang dari kecil sudah berislam dan mengikuti semua aktifitas keilmuwan
bersama Rasulullah shalallahualaihi wa sallamdan ratusan sahabat sebagaimana menurut alHafidz Abu Zurah ar-Razi (guru Imam Muslim) bahwa jumlah sahabat ada 114.000 orang.
Meskipun jumlah sahabat sulit untuk dihitung berapa banyaknya,sebagaimana yang
ditegaskan Kaab bin MalikRadhiyallahu anhu dalam hadits panjangnya saat tidak mengikuti
perang tabuk mengatakan,
Kaum muslimin yang ikut bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat banyak. Tidak
ada kitab yang mampu menuliskan semua nama mereka, demikian pula tidak ada orang yang
mampu mengahafalnya. (HR. Bukhari 4418 dan Muslim 2769)
Begitulah efek dari posisi sentral Rasulullah shalallahualaihi wa sallam. 63 tahun usia
beliau di dunia, 23 tahun beliau mulai menjadi guru sesungguhnya setelah diangkat menjadi
Rasul di usia 40 tahun memberi efek wajah generasi setidaknya 114.000 orang.

Bisakah kita membuat efek seperti itu pada peserta didik, wahai guru?
Perhatikanlah, Usia 12 tahun jenjang sekolah dasar. Usia 18/19 tahun jenjang sekolah
menengah Usia 22/23 tahun jenjang universitas. Usia 23 tahun dalam pendidikan hari ini
adalah usia generasi lulus S1. Ini hitungan normal jenjang pendidikan hari ini.
Apabila pada guru-guru yang berhijrah dan memiliki cahaya agama pada dirinya, maka
kehadirannya saat ini akan memberikan efek wajah generasi yang gemilang di usia belia pada
kehidupannya kelak. Guru-guru yang berposisi mengawal generasi di jenjang sekolah dasar
berfikirlah membuat pondasi yang kuat dan akar yang menghujam nan kokoh di awal
generasi itu tumbuh. Akar itu adalah iman dan Al-Quran. Guru-guru yang berposisi
menuntun ilmu di generasi tingkat menengah fokuslah pada pemupukan akar dan
pertumbuhan berfikirnya generasi. Pemupukan itu ada di ilmu-ilmu dasar syariat. Guru-guru
yang mendedikasikan dirinya pada jenjang Universitas libatkan adab dan ilmunya yang
mereka dapati selama jenjang sekolah dasar dan lanjutan untuk menjadi nilai-nilai amal yang
beragam. Nilai-nilai amal itu keteladanan dan contoh aplikatif dilapangan.
Sehingga tongkat estafet kebaikan ini akan dilanjutkan lagi oleh mereka. Mereka akan
berprofesi menjadi guru lagi dengan keahlian yang mereka tekuni. Apa yang mereka harus
lakukan, sama halnya guru-guru mereka lakukan sebelumnya.
Dengan seperti ini hadirnya guru-guru yang berhijrah dan memiliki cahaya agama melahirkan
efek wajah generasi gemilang di usia belianya sebagaimana generasi sahabat, insya Allah.
Imam malik mengatakan : Umat tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang
membuat umat generasi awal ( sahabat nabi) dahulu menjadi baik karenanya
Pada bulan syawal tahun ke 10 kenabian, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pergi dari
kota Makkah menuju kota Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Beliau mengajak setiap suku
yang ditemuinya untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya tapi tidak ada yang mau menerima
ajakannya.
Respon yang didapat beliau bukan penerimaan, tetapi malah pengusiran disertai lemparan
batu. Yang kisah ini sama-sama kita ketahui pada akhirnya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam didatangi malaikat Jibril dengan menggandeng malaikat penjaga gunung alAkhasyabain (dua gunung di Makkah, gunung Abu Qubais dan Quayqaan) meminta
diperintahkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam untuk menimpakan gunung itu
kepada penduduk Thaif karena mendustakannya.
Lalu karena kebersihan hatinya, beliau justru memilih menjawab, Bahkan aku berharap
kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah
semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.
Pembaca yang budiman, tahukah kita berapa jarak antara kota Makkah dan kota Thaif dan
dengan apa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menempuhnya?
Syaikh Safiyyurrahman al Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menjelaskan bahwa
jarak antara Makkah dan Thaif adalah sekitar 60 Mil, atau setara 95 Kilometer dan ditempuh
dengan berjalan kaki.

Apakah terbayang oleh kita, jarak 95 Kilometer ditempuh dengan berjalan kaki oleh beliau
Shalallahu Alaihi wa Sallam yang saat itu berusia 50 tahun. Tentu menguras keringat. Kuat
sekali fisik itu!
Syaikh Al-Utsaimin, memberikan penjelasan dalam Hilyah Thalibil Ilmi, bahwa Rasulullah
Shalallahu Alaihi wa Sallam terkadang memerintahkan orang yang selalu berkaus kaki dan
mengenakan sepatu untuk bertelanjang kaki berjalan 500 meter. Agar terbiasa. Walaupun
tentunya akan mengalami kesulitan yang sangat besar bahkan bisa berdarah.
Mungkin inilah yang kadang terlupa dari kita seorang muslim, kekuatan fisik menjadi
prioritas yang akhir. Semoga Allah membimbing kita agar mampu meneladani Rasulullah
Shalallahu Alaihi wa Sallam dari segala sisi. Aamiin.
Memilih sahabat bukan hanya karna se-usia, bukan pula karena dia adalah tetangga, sepupu,
bahkan saudara. Sebagai seorang muslim, kita harus mencermati dalam hal pemilihan
sahabat. Karena dengan dia lah nantinya akan banyak belajar, bercanda, bermain, tolong
menolong, dan bahkan bisa jadi bersama dalam mencari pasangan sang belahan jiwa.
Sahabat dapat membuat kita melakukan kebaikan, dapat pula membuat kita dalam melakukan
keburukan.
Sahabat dapat mengantarkan kita mendekat kepada Sang Pencipta, dapat pula membuat kita
menjauh dari Nya.
Sahabat bisa mengantarkan kita kepada Syurga, bisa pula menjerumuskan ke dalam Neraka.
Seperti halnya dengan tokoh Quraisy yaitu Uqbah bin Abu Muith dan Ubay bin Khalaf,
dimana mereka bersahabat sangat amat dekat. Jika ada Ubay disitu pasti ada Uqbah,
keputusan Uqbah merupakan keputusan Ubay, senang dan sedih mereka lalui bersama,
bahkan mereka berdua menikahi 1 keluarga kakak dan adik agar mereka tetap selalu bersama.
Suatu ketika Uqbah bin Abu Muith mendengar bacaan Al Quran Rasulullah. Indah, sejuk, dan
merdu bahkan sampai merenyuh ketenangan hati dan jiwa nya. Ini memang bukan sihir, ini
merupakan kehebatan Tuhannya Muhammad , Uqbah bergumam.
Hampir saja hidayah dia terima karena kejadian itu.
Karena keakraban yang amat sangat dekat antara Uqbah dengan Ubay, maka terlintas di
benak Uqbah untuk mengajak sahabat dekatnya tersebut kepada cahaya islam yang dibawa
Muhammad.
Sesampainya bertemu, Ubay bin Khalaf tidak mau melihat wajahnya. Ada apa wahai
sahabatku? ujar qbah. Mulai hari ini wajahku haram untuk kau lihat, Ubay berkata dengan
nada geram. jangan lah kau berpura pura hai Uqbah, aku tahu apa yang kamu lakukan tadi
bersembunyi sambil mendengarkan bacaan sihir Muhammad. Wahai sahabatku tidak
sedikitpun aku tertarik dgn ajaran Muhammad, baiklah akan ku buktikan bahwa aku benci
terhadap Muhammad agar kau bisa kembali bersamaku, ucap Uqbah meyakinkan
sahabatnya.

Lalu yang dilakukan Uqbah bin Abu Muith melemparkan isi perut unta ke punggung
Rasulullah hanya karena ingin mendapat simpati dan melihat senyum sahabatnya, dan
akhirnya setelah itu Ubay bin Khalaf memeluk sahabatnya sambil berkata ini baru sahabat
ku.
Begitulah kisah dari seseorang yang hampir saja mendapat hidayah keislaman, tetapi hancur
dan sirna hidayah tersebut karena seorang sahabat.
Maka sahabat bagaimana yang saat ini ada bersama mu?
Ya Allah bimbinglah kami


Cintanya menyapaku sebelum aku mengenal cinta
Lalu cinta itu bertengger di hatiku dan bersemayam disana
Inilah bait-bait cinta.
.
Dan bintang pun merasakan hawa.

.
Bintang yang terbenam dan jatuh cinta karena sedang ingin sujud dan beribadah kepada
RabbNya.
Maka bersujudlah hanya kepada Allah dan sembahlah Dia. Ibarat bintang yang jatuh cinta
dan terbenam kepada titah Rabbnya. Ia tidak tersesat dan tidak keliru saat membuktikan
cintanya. Tidaklah cinta dan segala rasa hadir karena mengikuti hawa. Ia fitrah yang
didukung dan dibimbing melalui wahyu yang diilhamkan kepada jiwa. Hingga semua bentuk
cinta hendaknya berujung pada sujud dan ibadah kepada penyemai benih cinta di dalam dada.
Inilah rangkaian ayat cinta yang berkaitan antara awal dan akhirnya. Hawa (nafsu) yang fitrah
hendaknya tidak condong sesat dan keliru. Ikutilah wahyu dan ilham kebaikan agar semua
kenikmatan cinta dan syahwat bernilai penghambaan dan cinta kepada Dzat Pemberi Cinta.
Manusia memiliki fitrah sesuai sunnatullah penciptaannya. Ia mempunyai hati dan perasaan.
Yang tiada akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan sempurna tanpa pasangan yang
menemani dengan setia. Manusia memiliki syahwat jiwa dan kecenderungan pada wanita.
Namun seringkali semua terasa sulit dan perasaan cinta pun tersesat dan keliru. Islam
memberi kemudahan, keberkahan dan kesederhanaan. Menikahlah maka kamu akan kaya.
Ringankanlah mahar. Pilihlah karena agama. Dan sebagainya.
Diantara bintang-bintang yang merayakan cinta dengan sederhana
* Suatu pagi, Rasulullah menjumpai Abdurrahman bin Auf yang rambutnya basah dan
bajunya kekuningan terkena parfum zafaran. Nabi bertanya, kamu habis menikah ya?.

Iya jawab Abdurrahman bin Auf. Kenapa tidak mengundang? Adakan walimah walau
cuma seekor kambing, Lanjut Nabi.
* Saat Jabir bin Abdillah pulang perang. Beliau didampingi Rasulullah. Saat mendekati
madinah, Jabir memperkencang laju kudanya. Kemudian Rasulullah mengikuti dan ingin
mengetahui mengapa jabir tergesa-gesa. Setibanya menemui Jabir, Rasulullah menanyakan
perihal tersebut. Jabir mengatakan dirinya baru saja menikah.
* Ummu Sulaim dipinang oleh Abu Thalhah yang masih musyrik. Ia menolaknya hingga Abu
Thalhah menyatakan mau masuk islam. Sungguh tak pantas seorang musyrik menikahiku.
Tidakkah engkau tahu wahai Abu Thalhah, bahwa berhala sesembahanmu itu dipahat oleh
budak dari suku ini dan itu! Sindir ummu Sulaim. Jika kau sulut dengan api pun ia akan
terbakar lanjutnya. Abu Thalhah berpaling tetapi perkataan berbekas di hatinya. Akhirnya la
masuk islam dan mereka berdua menikah. Sederhana! Ummu Sulaim tidak meminta sesuatu
lagi selain keislaman suaminya sebagai mahar.
* Kisah pertemuan dua insan yang melahirkan generasi bintang gemilang. Najmuddin
menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis
(yang kelak dinikahi najmuddin) menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.
Akhirnya mereka berdua menikah karena visi yang besar. Keduanya menginginkan tangan
yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan
Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Sederhana! Bertemu dan bersatu karena cita-cita
mulia.
* Ashim meminang gadis penjual susu. Ia tidak berpanjang kalam mendengar tawaran
ayahnya. Begitu sederhana karena Sang ayah (Umar bin Khattab) melihat iman dan ketulusan
jiwa yang mempesona. Kelak dari jalur keturunan mereka, lahir calon pemimpin besar nan
bersahaja, Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
* Tsabit bin Ibrahim yang menikah demi menuntaskan sebutir apel agar mendapat ikhlas dan
ridho pemiliknya. Ia laksanakan dengan ketulusan jiwa demi kebersihan jiwa dan raga dari
perkara yang merusaknya. Ia harus menikah tanpa pernah jumpa calon istri yang buta, tuli,
lumpuh dan bisu. Kelak lahir dari cinta dan pernikahan sederhana ini seorang ulama besar,
Abu Hanifah An Numan bin Tsabit.
Inilah indahnya saat cinta dalam bingkai ilmu dan kesederhanaan. Niat ikhlas dan ketulusan
hati menyatukan dua insan manusia demi menggapai ridho illahi. Manusia tidak ada yang
sempurna. Tetapi ilmu, keimanan dan ketulusan hati menampakkan fitrah dan keinginan jiwa.
Nafs dan hawa pun diberkahi. Hawa menjadi tiada tersesat dan keliru karena mengikuti
bimbingan wahyu. Dan diujung cerita syahwat yang dihalalkan syariat (dengan pernikahan),
mereka akan bersujud dan mempersembahkan ibadah seutuhnya kepada Allah semata.
Wallahu alam.
*Judul dan beberapa isi diambil dari tausyiah pernikahan 2 guru kuttab Al Fatih Jakarta
Timur oleh Ust. Herfi G. Faizi, Lc pada penutupan kuliah pra nikah Parenting Nabawiyah.
Terbesit beberapa kisah tentang keteladanan cara seorang ibu dalam pendidikan anaknya, tak
jarang kemudian terlintas pada benak kita sebuah doa, andai saja jika aku menjadi seperti ibu
dalam kisah itu, dan anaknya itu adalah anakku. Realistis doa tersebut, sebuah harapan

memang ketika membaca suatu karya besar terjadi pada sebuah keluarga yang anaknya
menjadi soleh karena konsep pendidikan ibunya.
Kisah-kisah seperti ini tidaklah sedikit, tapi banyak sekali dan mengispirasi. Sebagaimana
sebuah kisah berikut, Ibunda Anas bin Malik yang bernama Al Ghumaisha binti Milhan yang
sudah memberikan pendidikan Islam kepada Anas kecil, kecintaan Anas pada Islam terus
bertambah begitu juga kecintaan Anas pada sosok Rasulullah Shallalahu alaihi wasalam.
Saat mendengar berita tentang hijrahnya Nabi ke Kota Madinah, menjadi kebahagiaan
tersendiri untuk Al Ghumaisha. Sebagai seorang Ibu, harapannya adalah Anas bisa kenal
dengan Rasulullah Shallalahu alaihi wasalam dan mengenyam pendidikan langsung dari
manusia terbaik itu.
Tapi, bagaimana caranya?
Tidak lama berselang, waktu yang ditunggu itupun tiba, Rasulullah Shallalahu alaihi
wasalam tiba di Kota Madinah bersama sahabatnya Abu Bakar Ash Shidiq. Dengan cepat Al
Ghumaisha bergegas bersama Anas bin Malik menemui Nabi. Sesampainya di hadapan Nabi,
lalu Al Ghumaisha memberi salam seraya berkata, Ya Rasulullah Tidak ada seorang pria
dan wanita pun dari suku Anshar yang menghadapmu kecuali mereka memberikan hadiah
kepadamu. Aku tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan hadiah selain anak ini saja
Ambillah ia dan jadikanlah ia pembantu sesuka hatimu!
Subhanallah, lihatlah ibu cerdas ini. Mengambil celah pada moment yang sangat penting
untuk menyerahkan putranya agar bisa membantu manusia terbaik itu. Tentu Anas bin Malik
yang saat itu usianya 10 tahun akan menjalani hari-harinya bersama Nabi. Kita tahu pada usia
tersebut seorang anak akan mudah sekali mempelajari perilaku orang yang selalu
bersamanya. Disinilah kecerdasan Al Ghumaisha, dia tau saat Anas membantu Nabi dalam
kesehariannya, secara tidak langsung Anas akan mengcopy paste ilmu dan ahlak manusia
terbaik itu. Strategi pendidikan luar biasa, yang bisa hadir dari ibu cerdik seperti Al
Ghumaisha.
Seiring waktu berlalu dalam pengabdian Anas membantu urusan Rasulullah Shallalahu alaihi
wasalam , kebaikan-kebaikan yang dilakukan Anas membuat beliau senang. Tidak jarang
kebaikan itu berbuah doa dari Nabi untuknya. Salah satu doa Beliau untuk Anas bin Malik
adalah, Allahumma Urzuqhu Maalan wa Waladan, wa Baarik Lahu (Ya Allah, berikanlah ia
harta dan keturunan, dan berkahilah hidupnya).
Kita lihat pada sejarah kehidupan Anas bin Malik, ternyata Allah mengabulkan doa Nabi-Nya
itu, dan Anas menjadi orang dari suku Anshar yang paling banyak hartanya. Ia memiliki
keturunan yang amat banyak, sehingga bila ia melihat anak serta cucunya maka jumlahnya
melebihi 100 orang. Allah memberikan keberkahan pada umurnya sehingga ia hidup 1 abad
lamanya ditambah 3 tahun.
Pelajaran bagi setiap ibu pada kisah ini, Semoga Allah memberkahi Al Ghumaisha sebagai
seorang Ibu yang cerdas, dan kepada Anas sebagai anak yang berbakti.
Dan sekali lagi, bolehlah bait doa terucap bagi para ibu hari ini, jika saja ibunya (Al
Ghumaisha) adalah aku, dan anaknya (Anas) adalah anakku
Fa tabiruu, yaa ulil Abshoor. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berpikir.

Daftar
pustaka
65 Sahabat Nabi, Dr. Abdurrahman Rafat al-Basya

Suatu hari Waras dan Warid berdebat tentang siapa yang lebih utama diantara mereka berdua.
Waras: Hei Marid, kamu tahu kan kalau aku lebih utama darimu?
Marid: Lebih utama apanya?
Waras: Ya banyak, contohnya saja keadaanku lebih disukai banyak orang daripada kamu.
Marid: Lha.. orang yang mana dulu? Kalau dia jarang tafakur ya pantas.. coba kalau dia
hamba yang sholeh dan ikhlas, pasti lebih tawadhu saat aku bertamu.
Waras: Ah masa.. Apa buktinya?
Marid: Coba kamu perhatikan.. berapa banyak orang yang sembuh dari sakitnya, jadi lebih
bijak dan dewasa mengatur pola hidupnya. Bagus, kan?
Waras: Ah.. Itu sih biasa, waktu sehat juga bisa.
Marid: Bukan itu saja, Rid. Kalau seseorang sakit.. maka dia terpaksa harus istirahat untuk
memulihkan kesehatannya, dan dari sanalah dia akan tahu rahasianya
Waras: Hmm.. Apa gitu?
Marid: Nih.. Kalau dia sakit, apa dia bakal banyak ngomong? Bicara sana-sini gak ada isi.
Gak kan? Pasti dia banyak diam. Sebab bicara itu butuh energi, sedang orang sakit sedikit
energi. Makanya, dia pasti irit-irit bicaranya. Nah.. Itu sejalan dengan nasehat Nabi Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.
Kalau sudah sedikit bicara, pasti juga sedikit tertawanya. Ini juga ada haditsnya, Janganlah
kalian banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu dapat mematikan hati.'
Waras: Wah wah kalau gitu jadi gak seru dong.
Marid: Siapa bilang gak seru! Kamu mau yang seru? Bukankah jika seseorang sakit si sehat
akan berdatangan menengok si sakit? Bahkan saudara yang jarang bertemu pun bisa datang
dari jauh, dengan begitu sakitnya jadi silaturahim dan penguat ukhuwah, bisa menatap
senyum penghilang rindu. Sakit juga jalan rezeki, karena seringkali si sehat datang
menyandang bebawaan buat si sakit, seru kan? Hehe..
Waras: Ah, bisa aja kamu, Rid. Orang sakit itu, pasti jadi tidak bisa banyak beraktifitas,
mencari ilmu, memberi nasehat pada ummat, dan juga ibadah-ibadah lainnya!
Marid: Lha.. Justru sakit itu adalah ilmu dan nasehat, si sakit dan si sehat yang menengok
jadi tau ilmu tentang penyakitnya. Yang sakit menasehati si sehat agar lebih menjaga
kesehatan dan lingkungannya. Yang sehat menghibur agar lebih sabar. Yang seperti itu bisa
mendatangkan kasih sayang Allah. Karena sejatinya benar-benar menakjubkan keadaan orang
beriman, semua urusannya adalah baik baginya. Apabila dia meraih kesenangan, maka dia

bersyukur, dan itu baik baginya. Apabila menjumpai kesusahan, dia bersabar, dan itu baik
baginya.
Waras: Bisa juga sih, tapi kan.
Marid: Yaa.. memang begitu. Dalam keadaan sakit, si sakit jadi lebih dekat dengan Allah.
Jiwanya akan bergetar dalam istighfar, memohon-mohon ampun atas dosa-dosanya. Dia akan
punya lebih banyak waktu untuk memuhasabahi kealpaan dirinya selama ini. Dia pun lebih
banyak menangis, sebuah akhlak kesukaan para Nabi dan salafus shalih. Air mata yang sulit
menetes saat sehat, jadi lebih mudah mengalir saat sakit. Sakit pula merupa sebentuk jihad,
sebab ia harus berjuang dan berikhtiar mengobati sakitnya, tak boleh kalah dan menyerah.
Sakit bisa menguatkan tauhid, sebab saat nyeri datang menghebat, tak ada yang bisa
menolongnya kecuali Allah taala semata. Ia akan menginsyafi ibadah-ibadahnya, rukuk
sujudnya lebih lama, takbir dan dzikirnya lebih bertenaga. Ikhlasnya terasa lebih berkualitas.
Gitu, Ras!
Waras: Ya.. ya.. ya.. pinter juga kamu, Rid.. Terus apa lagi?
Marid: Kamu bilang sakit itu jadi berat beramal? Bisa jadi. Tapi amalan hati tidaklah
berhenti, bahkan ia bisa lebih berarti. Saat sakit amal maksiat pun sukar dilakukan.
Menyulitkan syaitan. Sakit pula menjadi jalan kemuliaan. Lihat Nabi Ayyub alaihissalam
yang Allah beri sakit 18 tahun lamanya. Ditambah lagi sawahnya hancur, anak-anaknya
meninggal dunia, ternaknya binasa, hartanya habis, tapi berkat kesabarannya yang luar biasa
maka Allah beri ganti yang lebih melimpah-ruah dan Allah naikkan derajat kemuliaannya.
Sakit juga jalan adab dan ketawakkalan. Tersebut pada perkataan Nabi Ibrahim sang
khaliilurrahman, Wa idzaa maridtu, fahuwa yasyfiin.. Dan apabila aku sakit, Dia yang
menyembuhkanku. Sebab sakit adalah ujian, dan ujian diberikan pada hamba yang Allah
sayang. Sakit adalah jalan perbaikan akhlak. Dengan sakit orang jadi taubat. Seandainya tidak
ada sakit, maka orang bisa sombong dan congkak, seperti Firaun yang sesat sebab merasa
tidak pernah sakit sepanjang hidupnya.
Waras: Hmm.. Aku pernah dengar, kalau orang sakit itu Allah gugurkan dosanya, ya?
Marid: Tuh kamu tau, Rasul yang mulia pernah bersabda dalam hadits riwayat Bukhari
Muslim bahwasanya tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, risaunya
fikiran atau sedih hati, sampai pun jika terkena duri, melainkan Allah gugurkan dosadosanya.'
Waras: Wah.. Masya Allah, kalau sudah digugurkan dosa-dosanya, seandainya maut datang
menjemput, dia sudah dibersihkan ya..
Marid: Benar, sakit juga membuat lebih ingat dengan kematian. Dengan begitu orang akan
lebih bersiap dengan amal-amal ketaatan dan ketaqwaan. Maka, saat sakit datang, sambut
saja dengan senyuman, bukan keluh kesah penderitaan, sebab ia menyimpan banyak hikmah
dan pelajaran.
Waras: Ooh subhanallah ya, aku jadi sadar sekarang. Maafin aku ya sudah mengecilkan
peranmu. Makasih ya,Rid.
Marid: Iya gak apa-apa. Sama-sama, Ras.

Akhirnya, mereka pun berpisah dalam sebaik pengertian, seindah pemahaman, dan selengkap
berbagi peran. Wallahu alam.
Kisah adalah merupakan nasihat yang sangat lembut dan nasihat yang sangat sopan. Kalau
kita ingin memberikan nasihat kepada orang lain dengan kalimat langsung bisa saja
sebenarnya. Tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima nasihat kita. Umpamanya, kita
pernah melihat murid kita melempar pohon mangga, Saya melihat kamu melempar pohon
mangga. Sedangkan perbuatan itu bisa disebut pencuri, apakah kamu mau disebut pencuri?
Kita bisa saja menyampaikan itu, tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima langsung
nasihat yang seperti itu. Alangkah luar biasanya kalau kita mencoba cara yang lain.
Ceritakanlah sebuah kisah. Dia akan suka mendengarnya. Sampaikanlah kisah yang ujung
dari kisah itu adalah pelajaran agar orang tidak boros dan tidak mubadzir. Maka kemudian
nanti di ujungnya kita tinggal mengatakan, ambillah pelajaran dari kisah ini untuk
kehidupan kamu.
Berikut adalah Kisah yang bisa kita berikan kepada murid, saat melihat mereka melemparkan
batu kearah buah yang masak dan ranum.
Dari Rafi bin Amr al Ghifari, dia berkata: Dulu waktu aku masih usia anak-anak melempari
pohon kurma milik orang-orang Anshar (masyarakat asli Madinah). Hal ini diadukan kepada
Nabi shallallahualaihi wasallam: Ada anak kecil yang melempari pohon kurma kami. Maka
aku dibawa ke Nabi shallallahualaihi wasallam.
Beliau bertanya: Nak, mengapa kamu melempari pohon kurma?
Aku menjawab: Aku lapar
Beliau berkata: Jangan kamu lempari pohon kurma itu. Makanlah apa yang jatuh di bawah.
Kemudian beliau mengusap kepalaku dan beliau mendoakanku: Ya Allah kenyangkanlah
perutnya. (HR. Ahmad no. 19453)
Hikmah kisah ini bisa juga dipakai panduan Guru untuk menyelesaikan masalah serupa,
berikut cara yang bisa kita lakukan untuk menangani perilaku anak tersebut.
1. Tanyakan motif perbuatannya.
2. Jika benar ia berbuat kesalahan, sampaikan penjelasan tanpa kalimat kasar dan
tuduhan tentang kesalahan tersebut.
3. Berikan solusi pengganti atau cara yang benar untuk ia bisa mendapatkan
keinginannya
4. Akhiri dengan sentuhan fisik yang lembut bersumber dari hati yang tulus.
5. Doakan ia agar dijauhkan dari penyakit jiwa tersebut