Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI KELAUTAN

KUNJUNGAN LAPANGAN DI PPPGL DAN KAPAL


GEOMARIN III CIREBON, JAWA BARAT

untuk Memenuhi Persyaratan nilai UTS mata kuliah Geologi Kelautan yang diampu oleh,
DR. Ediar Usman

Oleh:

Roni Permadi

(11051430)

Program Studi : Teknik Geologi Terapan

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI TERAPAN


POLITEKNIK GEOLOGI & PERTAMBANGAN AGP
2017

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas Rahmat-Nya penulis dapat melaksanakan kegiatan Praktikum Geologi
Kelautan dan telah menyelesaikan Laporan kunjugannya yang berjudul
Kunjungan Lapangan Di PPPGL Dan Kapal Geomarin III Cirebon, Jawa
Barat. Kegiatan ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi nilai UTS dari
mata kuliah Geologi Kelautan pada Program Studi Teknik Geologi Terapan di
Politeknik Geologi dan Pertambangan AGP Bandung.
Dalam penyusunan laporan ini terdapat hambatan yang dihadapi oleh
penulis, baik yang disebabkan oleh waktu, data sekunder, pada saat dilapangan
maupun kemampuan penyusunan laporan. Tetapi berkat bantuan dari berbagai
pihak dan arahan sistematika laporan dari dosen pengampu membuat penyusunan
laporan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu penyusun
mengungkapkan rasa terimakasih banyak kepada :
1. DR. Ediar Usman, Selaku Pimpinan PPPGL dan selaku Dosen Mata kuliah
Geologi Kelautan
2. Staff dari PPPGL Cirebon
3. Bapak Ir. Anan Iskandar, MT sebagai ketua Program Studi Teknik
Geologi Terapan.
4. Bapak Ir. Djumara Wiradisastra, M.Si selaku Direktur di Politeknik
Geologi dan Pertambangan AGP Bandung.

ii

5. Orang tua yang selalu memberi doa, semangat dan dukungan baik secara
moral maupun secara materi.
6. Rekan-rekan prodi Geologi di Politeknik Geologi dan Pertambangan
AGP Bandung.
7. Semua pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam
kegiatan PKL II dan penyusunan laporan ini.
Dalam hal ini penulis menyadari bahwa Laporan yang disusun masih
banyak kekurangan, sehingga kritik dan saran serta bimbingan yang membangun
sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan laporan ini dikemudian hari.
Penulis juga sangat berharap agar laporan ini berguna dan bermanfaat bagi kita
semua. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan atas segala amal dan
kebaikan kita. Aamiin.

Bandung, Januari 2017

Penulis

SARI

Secara geografis daerah kunjungan lapangan terletak pada koordinat


64254LS dan 108349BT secara administratif terletak di pesisir Kabupaten
Cirebon. Dalam kunjungan tersebut dibagi menjadi 2 bagian di PPPGL Cirebon
dan Kunjungan di Kapal Geomarin III. Kunjungan di PPPGL Cirebon meliputi
seminar, kunjungan ke workshop, ke laboratorium, ruang penyimpanan coring,
ruang penyimpanan alat-alat coring dan mesin bor. Kapal Geomarin III yang
merupakan kapal dari PPPGL sebagai eksplorasi dan pemetaan geologi bawah
permukaan di laut, alat alat dan ruangan yang terdapat di Kapal Geomarin III
adalah Airgun, streamer ruang preparasi untuk mengendalikan alat geolistrik,
ruang kompresor, ruang mesin kapal, ruang/kamar awak kapal, ruang control
kapal. Pelabuhan Cirebon merupakan Pelabuhan yang ruang bersandar kapalnya
berada di dalam yang dimana terdapat jalur masuk kapal dari Laut Lepas, itu
dikarenakan pantainya yang semakin maju dan diakibatkan oleh sedimentasi yang
cukup tinggi.
Kata Kunci : Geomarin III, PPPGL, Geologi Kelautan,

iii

ABSTRACT

the geographical area field trips located at coordinates 6 42'54 "latitude


and 108 34'9" BT is administratively located in the coastal district of Cirebon.
During the visit is divided into two parts in PPPGL Cirebon and Ship Visits in
Geomarin III. Visits in Cirebon PPPGL includes seminars, visits to the workshop,
laboratory, coring storage space, storage space coring tools and drilling
machines. Ships Geomarin III which is the vessel of PPPGL as exploration and
mapping the subsurface geology of the sea, tools - tools and the rooms were found
in the ship Geomarin III is Airgun, streamer chamber preparation for controlling
appliance geoelectric, compressor room, the engine room of the ship, space /
room crew, ship control room. Cirebon port is a port that leans space ship was in
the driveway where there are boats from the high seas, it is because the beaches
are more advanced and sedimentation caused by high enough.

Keywords: Geomarin III, PPPGL, Marine Geology,

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
SARI
ABSTRACT
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2.Maksud dan Tujuan
1.3 Lokasi Kesampaian Daerah
1.4 Jadwal Kegiatan
BAB II. SEJARAH GEOLOGI KELAUTAN
2.1 Perkembangan Geologi Kelautan
2.2 Sejarah PPPGL dan Kiprahnya
BAB III. KEGIATAN KUNJUNGAN
3.1 Seminar
3.2 Workshop dan Laboratorium P3GL Cirebon
3.3 Kapal Geomarin III
3.4 Pelabuhan
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA

halaman
i
iii
iv
v
1
1
2
3
4
4
8
11
16
16
19
25
27
29

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena memiliki wilayah laut yang
luas. Dengan sebutan itu juga Indonesia secara ekonomi mendapat pemasukan
yang tak sedikit lewat kelautan dan perikanan. Selain itu, Indonesia memiliki
beberapa keunggulan dalam pembangunan kelautan dan perikanan. Indonesia
selain kaya keanekaragaman biota laut (marine biodiversity) juga memiliki posisi
geoteknik yang strategis hingga berpotensi terdapatnya banyak titik sumber
minyak dan gas alam. Lalu posisi Indonesia juga dinilai strategis sebagai
International Sea Line, maka dari itu pengembangan dalam bidang geologi
kelautan menjadi penting mengingat potensinya untuk memajukan sektor kelautan
di Indonesia.
Geologi merupakan ilmu pengetahuan bumi yang menyelidiki lapisan-lapisan
batuan yang ada di kerak bumi dan sejarah perkembangan dari bumi (Katili,
1970), Geologi Kelautan adalah cabang ilmu geologi baru karena menggunakan
alat, cabang ilmu tersebut diperkenalkan mulai dengan James Hutton (1726-1797)
dan Teori Bumi (Edinburgh, 1795). Antara lain, Hutton mempelajari batuan di
laut dan di darat. Perubahan permukaan laut ("Perambahan laut", dan
"menempatkan bahan akumulasi di bawah laut pada atmosfer di atas permukaan
laut") iutu merupakan prinsip utama dari "Teori Geologi Kelautan". Dengan

demikian, pertanyaan tentang apa yang terjadi di bawah laut dibesarkan dari awal
penyelidikan geologi yang sistematis. Pertanyaan ini harus menunjuk jika
cadangan laut dan di darat yang harus dipahami. Hutton tidak sendirian dalam
konsep ini. Beberapa tahun sebelum Teori Bumi muncul, kimiawan besar Antoine
Laurent Lavoisier (1743-1794) membedakan dua jenis lapisan sedimen laut, yaitu
batuan dibentuk di laut terbuka di kedalaman besar, yang disebut pelagic beds,
dan yang dibentuk di sepanjang pantai, yang disebutnya littoral beds. "Besar
mendalam" Lavoisier menegaskan bahwa partikel sedimen akan menetap dengan
tenang di dalam air dan proses tersebut akan berulang dan akan jauh lebih sedikit
bukti di laut daripada di dekat pantai.
Sampai saat ini secara umum kita ketahui bahwa Geologi kelautan mencakup
penelitian geofisika, geokimia, sedimentologi, dan paleontologi di dasar samudera
dan daerah pesisir. Geologi kelautan berkaitan erat dengan oseanografi fisik dan
tektonik lempeng.
Maka dari itu untuk mengenal Geologi Kelautan secara spesifik perlu
dilakukan pengenalan secara lapangan yaitu berupa semnar, kunjungan ke Instansi
terkait dan kunjungan kepada kapal nya (Kapal GEOMARIN III).

I.2 Maksud dan Tujuan


Dalam kegiatan yang menyangkut disiplin ilmu geologi kelautan ini tentunya
ada maksud dan tujuannya, maksud dari dilakukannya kunjungan ini adalah
sebagai pengenalan mahasiswa terhadap geoloi kelautan yang dimana geologi
dengan alat dan bekerja di laut lepas, pemberian materi secara menyeluruh di

kapal Geomarin III Adapun tujuan dari pemetaan geologi PKL II ini, yaitu sebagai
berikut :
a) Mahasiswa dapat memahami dan menguasai dasar-dasar tentang geologi
kelautan dan oseonografi.
b) Mengetahui unsurunsur serta prosesproses penggunaan alat-alat geologi
kelautan dan geofisika.
c) Mengetahui teknik pembuatan suatu pelabuhan dengan cotoh dari
pelabuhan Cirebon dimana tempat Kapal Geomarin Bersandar.
d) Mengetahui indikasi struktur geologi, melalui geofisika dan lapisan-lapisan
batuan.
I.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah
Lokasi Kunjungan berada di Kabupaten Cirebon tepatnya berlokasi di Kantor
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (PPPGL), Cirebon dan di
daerah pelabuhan Cirebon yaitu Kapal Geomarin III. Untuk sampai di daerah
tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat selama
kurang lebih empat jam.

Gambar 1. Kesampaian daerah kunjungan

I.4 Jadwal Kegiatan


Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2016 oleh 1 (satu) kelas
teknik geologi terapan Politeknik Geologi dan Pertambagan AGP Bandung
dengan waktu dilakukan selama 1 hari penuh dan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
materi dan lapangan (Tabel 1). Kegiatan materi meliputi seminar, kunjungan ke
workshop, lab sampel, ruang penyimpanan dan lab analisis sampel, sewdangkan
kegiaatn lapangan meliputi kunjungan ke Kapal Geomarin III di Pelabuhan
Cirebon.
Tabel 1.1. Jadwal kegiatan kunjungan
JENIS
KEGIATAN\
WAKTU

10.00 12.30

12.30-13.30

Ishoma

Seminar
Workshop
Laboratorium
Kapal Geomarin III
Pelaporan

17 Desember 2016
13.30 16.30

Desember
2016

Januari
2017

BAB II
SEJARAH GEOLOGI KELAUTAN

Salah satu bukti bahwa pada zaman dahulu Afrika menyatu dengan Eurasia
adalah ditemukannya jajaran pegunungan bawah laut di kawasan Laut Tengah.
Gerakan kontinen diduga dimulai pada 200 juta tahun yang lalu dengan adanya
gerakan split dari blok Amerika Selatan lepas dari Antartika dan juga lepas dari
benua Afrika bagian barat menuju ke arah barat sehingga terbentuk laut Atlantik
bagian selatan. Sementara itu blok India bergerak ke arah utara melepaskan diri
dari Antartika sehingga menabrak bagian selatan dari daratan Eurasia.
Tabrakan itu begitu kuat sehingga menimbulkan lipatan yang kemudian
menjadi pegunungan Himalaya yang tertinggi di dunia. Bersamaan dengan
kejadian itu, benua Australia melepaskan diri dari Antartika dan bergerak menuju
ke arah utara, dan Amerika bagian utara melepaskan diri dari Eurasia dengan
gerakan split bergerak ke arah barat laut sehingga terbentuk Laut Atlantik bagian
utara. Setiap gerakan split akan mengakibatkan terjadinya celah /palung laut yang
dalam dan panjang yang dikenal sebagai sistem trench.
Gerakan split dari kontinen seperti tersebut juga dialami di bagian lain, yakni
setelah benua Afrika ditinggalkan oleh benua Amerika bagian selatan, terbentuk
laut Merah di bagian utara dari benua Afrika sebagai akibat terjadinya keretakan
serta terbentuknya Teluk Aden yang sampai sekarang diduga gerakan tersebut
masih berlangsung. Gerakan selanjutnya, Amerika bagian utara setelah
melepaskan diri dari Eurasia kemudian menyatu dengan Amerika bagian selatan

di wilayah Panama sekarang ini. Sedangkan di utara Afrika terjadi perubahan


bentuk laut yang awalnya merupakan bagian Laut Tethys menjadi beberapa laut
marginal dan tertutup, contohnya Laut Kaspia, Laut Hitam, Laut Tengah, dan
Laut Mati. Selama 200 juta tahun tersebut secara teoretis disebutkan bahwa
Pacific basins mengalami penyusutan dan akhirnya laut Tethys menghilang.
Lautan Hindia terbentuk sebagai akibat gerakan blok India dan blok Australia
tersebut di atas serta terbentuknya lengkung (ar- cus) kepulauan Indonesia berikut
paparan Sunda yang masih menempel pada daratan Asia dan paparan Sahul yang
menyatu dengan daratan Australia.
Akhirnya diperkirakan pada zaman es dari kutub mencair maka bagian dari
paparan Sunda dan paparan Sahul yang semula tidak tergenang air menjadi laut
dan terjadi kepulauan Nusantara sepanjang garis khatulistiwa sampai saat ini,
sehingga laut di sekitar Indonesia merupakan pencampuran antara lautan Hindia
dan Lautan Pasifik. Setelah beberapa benua menjadi menetap seperti sekarang ini,
maka selanjutnya terjadilah proses pelapukan dan pelarutan batuan sedimen di
darat oleh air hujan yang membawa berbagai jenis garam mineral melalui sungai
akhirnya menuju ke laut. Dari laut pun akan terjadi proses penguapan karena
kenaikan suhu pada siang hari dan uap terakumulasi membentuk awan yang
akhirnya jatuh ke bumi sebagai hujan. Begitu seterusnya sehingga proses tersebut
membentuk suatu siklus yang kita namai sebagai siklus air. Siklus ini berlangsung
terus menerus untuk mencapai keseimbangan alam.
Disamping teori gerakan kontinen dari Wegener tersebut, ada teori lain yang
kurang populer yang mengatakan bahwa terjadinya laut berasal dari air dalam

cekungan-cekungan dasar samudra (oceanic basins) yang lama kelamaan


mengalami penambahan volume air, baik yang berasal dari daratan maupun
lelehan es dari kutub utara dan kutub selatan sehingga air laut meluap sampai ke
wilayah pinggir kontinen. Wilayah pinggir kontinen yang terendam tersebut
dikatakan sebagai wilayah paparan (continental shelf). Tampaknya teori kedua ini
tidak mengkaitkan dengan proses-proses yang terjadi pada sektor geologi
(geological history) yang seharusnya terkait. Oleh sebab itu, walaupun masuk akal
namun teori ini dianggap kurang populer.
Jadi, dapat dikatakan bahwa posisi letak geografis benua yang telah ada
seperti sekarang ini menyebabkan terbentuknya 5 lautan / samudra (oceans) di
Bumi seperti tertera di bawah ini, berikut luas masing-masing, yakni :
a) Samudra Hindia ( 28.400.000mil2)
b) Samudra Pasifik / Lautan Teduh ( 64.000.000 mil2)
c) Samudra Atlantik ( 41.744.000 mil2)
d) Samudra Arktika ( 5.427.000 mil2)
e) Samudra Antartika ( 12.451.000 mil2).
Penyelidikan dan pemetaan geologi kelautan pada dekade terakhir ini
makin ditingkatkan terutama pada pencarian sumber daya mineral yang bernilai
strategis dan ekonomis dalam menunjang pembangunan nasional. Hal ini
sehubungan dengan makin terbatasnya sumber daya mineral dan energi di darat.
Kegiatan tersebut merupakan perwujudan akan tanggung jawab pemerintah dan
negara dalam menggali potensi sumber daya mineral dan energi yang terdapat di

dasar laut, mulai kawasan pantai, perairan pantai hingga ke batas terluar Landas
Kontinen termasuk Zona Ekonomi Eksklusif.

2.1 Perkembangan Geologi Kelautan


Banyak sekali penelitian atau reseach mengenai ilmu geologi yang satu ini
salah satunya dikembangkannya teknologi-teknologi guna mendukung data-data
geologi di laut, Salah satu jenis teknologi yang digunakan untuk penelitian
geologi lingkungan laut adalah teknologi sonar. Berikut adalah penerapan
teknologi akustik bawah air untuk eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya nonhayati laut, berikut ini merupakan bagian dari peranan sonar yaitu :
a) Pengukuran Kedalaman Dasar Laut (Bathymetry),Pengukuran kedalaman
dasar laut dapat dilakukan dengan Conventional Depth Echo Sounder
dimana kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara
pengiriman dan penerimaan pulsa suara. Dengan pertimbangan sistim
Side-Scan Sonar pada saat ini, pengukuran kedalaman dasar laut
(bathymetry) dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemetaan dasar
laut (Sea Bed Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen
dibawah dasar laut (subbottom profilers).
b) Pengidentifikasian Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut (Subbottom
Profilers), Seperti telah disebutkan diatas bahwa dengan teknologi akustik
bawah air, peralatan side-scan sonar yang mutahir dilengkapi dengan
subbottom profilers dengan menggunakan prekuensi yang lebih rendah
dan sinyal impulsif yang bertenaga tinggi yang digunakan untuk penetrasi

kedalam lapisan-lapisan sedimen dibawah dasar laut. Dengan adanya


klasifikasi

lapisan

sedimen

dasar

laut

dapat

menunjang

dalam

menentukkan kandungan mineral dasar laut dalam. Dengan demikian


teknologi akustik bawah air dapat menunjang esplorasi sumberdaya non
hayati laut.
c) Pemetaan Dasar Laut (Sea bed Mapping), Dengan teknologi side-scan
sonar dalam pemetaan dasar laut, dapat menghasilkan tampilan peta dasar
laut dalam tiga dimensi. Dengan teknologi akustik bawah air yang canggih
ini dan dikombinasikan dengan data dari subbottom profilers, akan
diperoleh peta dasar laut yang lengkap dan rinci. Peta dasar laut yang
lengkap dan rinci ini dapat digunakan untuk menunjang penginterpretasian
struktur geologi bawah dasar laut dan kemudian dapat digunakan untuk
mencari mineral bawah dasar laut.
d) Pencarian kapal-kapal karam didasar laut, Pencarian kapal-kapal karam
dapat ditunjang dengan teknologi side-scan sonar baik untuk untuk kapal
yang sebagian terbenam di dasar laut ataupun untuk kapal yang
keseluruhannya terbenam dibawah dasar laut. Dengan teknologi ini, lokasi
kapal karam dapat ditentukan dengan tepat. Teknologi akustik bawah air
ini dapat menunjang eksplorasi dan eksploitasi dalam bidang Arkeologi
bawah air (Underwater archeology) dengan tujuan untuk mengangkat dan
mengidentifikasikan kepermukaan laut benda-benda yang dianggap
bersejarah.

10

e) Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut, Dengan diperolehnya
peta dasar laut secara tiga dimensi dan ditunjang dengan data subbottom
profiler, jalur pipa dan kabel sebagai sarana utama atau penunjang dapat
ditentrukan dengan optimal dengan mengacu kepada peta geologi dasar
laut. Jalur pipa dan kabel tersebut harus melalui jalur yang secara geologi
stabil, karena sarana-sarana tersebut sebagai penunjang dalam eksplorasi
dan eksploitasi di Laut.
f) Analisa Dampak Lingkungan di Dasar Laut, Teknologi akustik bawah air
Side-Scan Sonar ini dapat juga menunjang analisa dampak lingkungan di
dasar laut. Sebagai contoh adalah setelah eksplorasi dan ekploitasi sumber
daya hayati di dasar laut dapat dilakukan, Side-Scan Sonar dapat
digunakan untuk memonitor perubahan-perubahan yang terjadi disekitar
daerah eksplorasi tersebut. Pemetaan dasar laut yang dilakukan setelah
eksplorasi sumber daya non-hayati tersebut, dapat menunjang analisa
dampak lingkungan yang telah terjadi yang akan terjadi.
Implikasi aspek geologi kelautan yang saat ini banyak diperbincangkan adalah
mengenai penerapannya dalam batas wilayah. Dalam penentuan batas wilayah
sendiri seperti kita ketahui regulasi nya yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Penentuan batas wilayah ini sangat penting artinya bagi Indonesia. Dan aspek
geologi kelautan disini memegang peranan penting dalam penentuannya.
Hubungannya dengan geologi kelautan tentu saja, disamping menyamngkut
morfologi dasar laut yang dijadikan pertimbangan penentuan batas wilayah,

11

disamping itu dari sudut pandang geologinya, sangat memegang peranan penting,
yang menyangkut tentang sumberdaya alam.

2.2 Sejarah PPPGL dan Kiprahnya


Sejarah Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL)
dimulai dengan dibentuknya Seksi Geologi Marin dan Seksi Geofisika Marin pada
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G) tahun 1979. Pada tanggal 6
Maret 1984 kedua Seksi tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Pusat
Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL) di bawah Direktorat Jenderal Geologi
dan Sumber Daya Mineral berdasarkan SK Menteri Pertambangan dan Energi No.
1092 Tahun 1984.
Pada awal berdirinya, PPGL didukung oleh empat bidang teknis, yaitu : Bidang
Geologi Kelautan, Bidang Geofisika Kelautan, Bidang Sarana Operasi Kelautan,
Bidang Manajemen Informasi dan Bagian Umum, dengan jumlah sumber daya
manusia 164 orang. Sarana dan prasarana yang dimiliki sebagian berasal dari
P3G. Dalam perjalanannya, PPGL telah membangun Kapal Peneliti Geomarin I
dan memiliki berbagai peralatan survei pantai. Kapal Peneliti Geomarin I
diopeasikan untuk mendukung kegiatan pemetaan geologi kelautan bersistem
skala 1:250.000 di perariran dangkal. Peralatan survei pantai dioperasikan untuk
mendukung kajian geologi kelautan tematik di kawasan pesisir. Selanjutnya
berdasarkan SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 150 Tahun 2001,
PPGL dimekarkan menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
(PPPGL) di bawah Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral.

12

2.1.1 Kapal Geomarin I


Tahun 1985 Proyek Survei Geologi dan Mineral sub-Proyek Geologi dan
Geofisika Kelautan Mengadakan Pekerjaan Perancangan Geomarin I oleh PT
Sugandi Associates Jakarta dan dibangun oleh PT. Inggom Shipyard Jakarta
dibiayai dari APBN Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mneral Departemen
Pertambangan dan Energi. Bulan Januari tahun 1990 serah terima KM.
GEOMARIN

I dari

PT.

Inggom

Shipyard

Jakarta

kepada

Pusat

Pengembangan Geologi Kelautan, dilanjutkan sea trial dan kegiatan survei


perdana dengan Kepala Tim Ir. Dida Kusnida M.Sc, Survey perdana ini
berhasil menyelesaikan 2 lembar peta dengan pelabuhan singgah Cirebon.
Pada awal dioperasikan KM. GEOMARIN I berada di bawah Seksi
Perbekalan, Bidang Sarana Tehnik dengan Kepala Seksi Ir. Dadang
Kadarisman, dan Kepala Bidang Drs. Aswan Yasin. Saat itu ruang akomodasi
belum dilengkapi pendingin ruangan (AC), AC hanya tersedia di
Laboratorium dan Kamar Nakhoda, sedangkan a frame belum bisa
dioperasikan. Kegiatan survey awal untuk pengambilan sampel sedimen
menggunakan winch portable dan ganco panjang.
Pada tahun 1993 baru dipasang winch baldor dengan panjang wire 3500
m, selanjutnya pada tahun 1994 a frame dapat dioperasikan dengan
menggunakan power pack winch baldor, dan pada tahun tersebut seluruh
ruang akomodasi sudah dilengkapi pendingin ruangan.
Kiprah Geomarin I, Tahun 1990 sampai dengan

2011 Hasil- hasil

Pemetaan Geologi dan Geofisika KM. GEOMARIN I di perairan Indonesia

13

menyelesaikan 87 lembar peta Skala 1:250.000 (terbanyak di Perairan Laut


Jawa). KM Geomarin I ini juga telah menyinggahi 35 pelabuhan dari 121
pelabuhan yang ada di Indonesia, dan 20 wilayah Provinsi. Lokasi terjauh
yang telah dijangkau oleh KM Geomarin I adalah Perairan Aceh, Perairan
Bitung, Perairan Flores. Berikut ini adalah hasil pemetaan yang dilakukan
dengan KM. Geomarin I.
a) Data seismik, 2000 kiloline x 87 lokasi : 174.000 kiloline
b) Data magnet: x 174.000 kiloline = 87.000 kiloline
c) Contoh sedimen dasar laut : 50 contoh x 87 = 4350 contoh
d) Laporan hasil pemetaan : 87 laporan
e) Peta yang telah dipublikasi yaitu Peta sebaran sedimen permukaan
dasar laut, Peta Anomali Intensitas magnet total, dan Peta struktur
geologi
Tahun 2000

Retrofit KM. GEOMARIN I dimulai dengan kegiatan

pertama adalah mengganti mesin induk, semula menggunakan mesin merk


MWM diganti dengan mesin merk Yanmar, sehingga kapal bisa mencapai
kecepatan jelajah 9 knot KM. GEOMARIN I sampai saat ini secara periodik
melaksanakan kegiatan docking, guna mempertahankan klas yang diberikan
oleh Biro Klasifikasi Indonesia, survey di atas dok terakhir dilaksanakan
bulan November 2011.
Berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia
untuk KM. GEOMARIN I, klasifikasi lambung, klas dipertahankan dan
revalidasi. klasifikasi mesin, klas dipertahankan dan revalidasi, dan sertifikat

14

garis muat revalidasi. artinya bahwa KM. GEOMARIN I masih layak laut
(seaworthness). \
2.1.2 Kapal Geomarin III
KR Geomarin III dirancang sebagai kapal peneliti multi purposes dan
diharapkan berkemampuan untuk melaksanakan berbagai metoda penelitian
geologi, geofisika, oseanografi dan hidrografi.

Kapal dilengkapi dengan

fasilitas DPS/DP-1 (Dynamic Positioning System), yaitu sistem manuver


pergerakan relatif terhadap gerakan sensor bawah laut saat pengoperasian
Remotely Operated Vehicle (ROV), dan posisi diam absolut saat
pengambilan contoh dasar laut, pengukuran arus dan gelombang laut).
Spesifikasi teknis KR Geomarin III adalah sebagai berikut, Scientist and
Technicians 29 orang; Total Complement onboard 51 orang; Length overall
61,7 m; Length between perpendiculars 55.00 m; Breadth moulded 12 m;
Depth moulded 6 m; Draught design 3,7; Gross Register Tonnage 1300 GT;
Maximum speed 13,5 knot; Service speed 12,5 knot; Survey speed 4 knot;
Range at speed of 12,5 knot 5400 miles; Endurance 30 hari; Control
maneuver DP-1; Main engine 2 x 1000 HP; nPropeller 2 x 4 blades CPP;
Main generator 3 x 350 kW; Fuel oil tank (100%) 267 m3; Lub. oil tank
(100%) 11 m3; Fresh water tank (100%) 124 m3; Ballast water tank (100%)
110 m3; Food/consumable/miscellaneous 17 Ton.
Selain itu Kapal Geomarin III dilengkapi dengan peralatan survei antara
lain, Dual Frequency Echosounder,Medium To Low Frequency Multibeam
Echosounder, Chirp Deep Sea Sub-bottom Profiler, Side Scan Sonar,

15

Magnetometer, Gravitymeter, 2D Seismic System 480 Channel, 2D Seismic


Navigation System, Onboard Seismic Data Processing, Sediment Coring
System dan Onboard Laboratorium
KR. Geomarin III (Magex) yang dloperasikan sejak tahun 2008 memiliki
kemampuan yang lebih canggih dari generasi sebelumnya, yaitu mampu
melakukan survei di kawasan laut dalam (Kawasan Timur Indonesia).
Dengan wahana survei ini, maka target pemetaan geologi kelautan bersistem
ditingkatkan menjadi 16 lembar peta/tahun yang dimulai pada tahun anggaran
2010.

BAB III
KEGIATAN KUNJUNGAN

Kegiatan Kunjungan atau fieldtrip ke Cirebon dibagi menjadi 2 sesi, sesi


pertama adalah Seminar, pengenalan workshop geologi kelautan di Cirebon
dan sudah pasti laboratorium serta ruang penyimpanan coring. Sesi kedua
adalah mahasiswa diajak untuk melihat dan diberi arahan tentang Kapal
Geomarin III dari mulai alat dan pengoperasiannya.
3.1 Seminar
Pada seminar ada 2 pemateri yang menyampaikan yaitu yang pertama
menyampaikan secara umum tentang P3GL, Geologi Kelautan dan Pengenalan
Kapal-Kapal Geologi Kelautan yang pernah beroperasi serta bagaimana cara
survey Geologi Kelautan itu berlangsung sampai cara pengolahan datanya
yang berupa data geofisika.

Kelompok Pelaksana Litbang


Pemetaan Geologi Kelautan

Gambar 2. Struktur organisasi P3GL

16

Energi Kelautan
Sumber Daya Mineral
Kelautan
Lingkungan dan
Kewilayahan Geologi
Kelautan

17

Namun sebelum kepada semua itu mahasiswa dibawa untuk mengetahui


struktur organisasi dari P3GL, peran serta tugasnya Berdasarkan Pasal 764
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2010
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan dengan tugas
Melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan, pengkajian, survey
dan pemetaan bidang geologi kelautan. Dalam pelaksanaannya P3GL dibagi
menjadi 4 bagian berdasarkan pada kelompok pelaksana penelitian dan
pengembangan yaitu Pemetaan Geologi Kelautan, Energi Kelautan, Sumber
daya Mineral Kelautan, dan Geologi Lingkungan dan Kewilayahan.
Berikutnya adalah tentang potensi energi potensi gelombang disini
terdapat sebaran potensi engergi kelautan yang mengutamakan kekuatan
gelombang di seluruh Indonesia.

Gambar 3. Potensi energi gelombang (sumber : P3GL)

18

Gelogi kelautan ternyata selain mengkaji energy, yang paling utamanya


difokuskan kepada pemetaan geologi laut, berikut adalah lokasi yang sudah
dipetakan oleh tim P3GL dalam ekplorasi geologi di laut.

Gambar

4.

Lokasi Pemetaan Geologi & Geofisika Kelautan Sistematik


Skala 1:250.0000; 1:500.000, dan 1:1000.0000 Kapal Geomarin 1 dan 3
(sumber : P3GL)

Gambar 5. Daerah cakupan pemetaan dan rencana P3GL 2013-2017 (sumber : P3GL)

19

Selanjutnya pada seminar selanjutnya disampaikan oleh Bpk. Purnomo


beliau membahas tentang Aplikasi Geologi Kelautan yang dimana dibagi
kedalam beberapa kategori yaitu Kewilayahan dan Geoteknik, Penelitian Gas
Biogenik Delta, Sumber Daya Mineral Laut, dan Pemetaan geologi Dasar
Laut.

Gambar 6. Seminar Geologi Kelautan dan Aplikasinya

3.2 Workshop dan Laboratorium P3GL Cirebon


Ini merupakan Workshop P3GL yang berteknologi di Indonesia yang
sudah mampu mempetakan cukup banyak wilayah laut secara geologi, alat-alat
tersebut berfungsi dengan baik dan dirawat oleh mekanik khusus di bidangnya.
Berikut beberapa yang dijelaskan pada saat kunjungan:

20

a) Streamer, memiliki seperti kabel yang dibentangkan kemudian ditarik


oleh kapal (untuk marine seismic), Streamer ini berisi Hidrophone( alat
perekam getaran), ADC (Analog to digital converter), dan bird
(berperan untuk mengatur posisi dan kedalaman streamer). Total
panjang dari streamer biasanya mencapai 6 km.

Gambar 7. Kabel Streamer

b) Boomer, merupakan sebuah sumber suara yang digunakan dalam


survey seismik perairan dangkal dan diaplikasikan dengan menarik di
belakang kapal. Boomer memancarkan pulsa akustik atau gelombang
tekanan, yang dikenal sebagai pulsa transmisi, yang mengambang di
permukaan laut ke dasar laut. Hasil dari instrumen ini lebih baik dari
sumber seismik lainnya dan lapisan yang terekam lebih tipis.

Gambar 8. Alat test Boomer

21

c) Peralatan navigasi yang digunakan dalam survei kelautan adalah GPS


(Global Positioning System) dengan tipe survey dengan merk Trimble.
GPS ini adalah GPS diferensial dengan ketelitian mencapai 2 cm. Cara
kerja GPS diferensial denga tipe RTK adalah dengan menggunakan dua
perangkat GPS yang diletakkan di darat sebagai titik acuan dan
memiliki informasi koordinat berupa nilai XYZ. Kemudian perangkat
GPS yang lain dihubungkan dengan gelombang radio di kapal yang
melakukan survey seismik, echosounder, dan lain-lain. Hal ini
dilakukan untuk mengkoreksi data secara real time. Namun hal ini
memilki keterbatasan yaitu jarak radio yang hanya dapat mencapai
jarak 30 km.

Gambar 9. Alat Navigasi GPS

Peralatan GPS lainnya adalah C-Nav dengan tipe RTG (Real time Sea
Gypsy) dengan koreksi melalui satelit. GPS Kompas (GNSS)
merupakan GPS heading dan menggunakan Gyro Compass. Gyro ini
hampir memiliki fungsi yang sama dengan kompas yaitu menunjukkan
arah utara. Hanya saja arah utara yang ditunjukkan oleh Gyro Compass

22

adalah arah utara Geografis (arah utara sebenarnya), Pada perangkat


lunak yang digunakan dalam sistem navigasi digunakan Integrated
Navigation Software. Perangkat lunak ini menentukan posisi, target
info, dan secara otomatis menyimpan informasi yang akan digunakan.
d) Laboratorium Multi Sensor Core Logger (MSCL), peralatan yang
memiliki 6 sensor yang mengambil setiap data yang dianalisis untuk
panjang setiap 4 cm. Alat ini dilengkapi lensa kamera beresolusi 50
mikron, mengukur cepat rambat dan ketebalan core untuk perhitungan
data setiap 1 cm2. Sensor-sensor yang berada di alat MSCL ini dapat
mengkuantifikasi warna, misalnya dengan range 0-100 yaitu putih
hingga hitam. Putih menunjukkan nilai karbonat yang tinggi dan hitam
menunjukkan nilai bahan organik yang terkandung dalam suatu sampel
tinggi.

Gambar 10. Alat MSCL dan XRF untuk analisis kandungan unsur kimia

XRF (X-ray Flourescence) adalah alat yang digunakan untuk


mengetahui konsentrasi suatu unsur dengan menggunakan gelombang
sinar x-ray yang ditransmisikan melewati sampel. Alat Natural Gamma
Detector adalah alat yang digunakan untuk mengetahui porositas

23

minyak dengan memancarkan radiasi sinar gamma ke sampel sedimen.


Pengukuran tersebut dilakukan setiap satu menit
e) Laboratorium Analisis Pipet, Instrumen yang digunakan dalam
pengambilan sampel sedimen di perairan. Grab ini digunakan hanya
untuk mengambil sampel tanpa mengetahui struktur perlapisan sampel
sedimen,

karena

instrumen

ini

mengambil sampel sedimen dengan


menggaruk sedimen, sehingga lapisan
pada masing-masing sedimen tercampur.

Gambar 11. (a) Paralon hasil coring yang dibelah, (b) Pemilahan sedimen
berukuran kecil dan besar, (c) Hasil pengumpulan, (d) Uji pipet
sedimen, (e) Hasil pemisahan sedimen

Contohnya ialah ekman grab. Sampel sedimen yang didapatkan dapat


diidentifikasi menggunakan fraksi kasar dan fraksi halus. Fraksi kasar
menggunakan

saring

bertingkat,

sedangkan

pada

fraksi

halus

menggunakan metode pipet. Cara preparasi contoh sedimen hasil


gravity core yaitu ditentukan pada suatu kedalaman, diambil beberapa

24

bagian, potong sekitar 1 cm dan dibelah bagian sedimennya. Analisis


pertama adalah analisis secara megaskopik yaitu secara visual saja.
Parameter yang diukur adalah jenis litologi atau materialnnya, warna
pada setiap strata kedalaman, kandungan biota yang berada dalam
sedimen tersebut.
f) Ruang penyimpanan, Pada setiap survey kelautan khususnya
pengambilan contoh sedimen, maka perlakuan penanganan dan
penyimpanan sampel perlu dilakukan. Sampel sedimen diberi
perlakukan sesuai dengan kondisi aslinya di dasar perairan, yaitu
dengan membuat lingkungan yang sama dengan kondisi aslinya.
Misalnya sedimen hasil coring disimpan pada ruangan berukuran 74
m pada suhu 7-10 C dan diberikan label yang lengkap dan akurat
sebagai arsip dari penelitian.

Gambar 12. Ruang penyimpanan coring

g) Alat Pengambilan Sampel, Pengukuran dasar laut dilakukan dengan


grab sampling, gravity core, piston core, vibra core, bumerang core,
water sampler, multicore, grazing, dan box core. Grab sampling
digunakan untuk pengambilan contoh sedimen yang berada di

25

permukaan dasar laut. Gravity core dan piston core digunakan untuk
mengambil contoh sedimen selain pasir. Pada gravity core, alat
diturunkan pada kedalaman hingga tersisa 15 kaki dari dasar perairan
kemudian alat dijatuhkan hingga sedimen masuk ke dalam paralon.

Gambar 13. Alat-alat yang digunakan untuk mengambil sampel di dasar laut

Gravity core dilengkapi dengan katup dibagian bawah sehingga


menahan sedimen untuk tetap terperangkap didalam paralon dan tidak
terjatuh. Water sampler digunakan untuk sampling air pada beberapa
kedalaman pada satu kali penurunan alat. Alat ini dilengkapi kabel serat
optik untuk menjalankan fungsi menutup tabung saat mencapai
kedalaman tertentu. Beberapa alat di stand ini diimpor dari luar negeri,
selebihnya dibuat oleh para peneliti PPPGL.

3.3 Kapal Geomarin III


Kapal yang di agung agungkan sebagai kapal canggih itu memiliki
segudang kelebihan dan keunggulan, beberapa alat dan ruangan yang dilihat
dan dijelaskan adalah bagian dari kunjungan demi memperkaya ilmu geologi
kelautan, berikut adalah beberapa alat dan ruangan yang sempat dikunjungi,

26

Gambar 14. Mahasiswa mahasiswa Teknik Geologi Politeknik Geologi dan


Pertambangan PGP Bandung berfoto bersama dengan latar Kapal
Geomarin III

a) Airgun, merupakan sebuah sumber suara yang digunakan dalam survey


seismik perairan dangkal. Airgun berfungsi sebagai sumber getaran. Air
gun memiliki kekuatan tekanan mencapai 2000 psi atau sekitar 200 kali
tekanan ban motor. Airgun atau vibrator seismik, umumnya dikenal
dengan nama dagang Vibroseis. Dengan mencatat waktu yang dibutuhkan
untuk pantulan tiba di penerima (receiver), memungkinkan untuk
menentukan kedalaman fitur yang menggenerate pantulan (refleksi).
Dengan cara ini, seismologi refleksi mirip dengan sonar dan echolocation.
b) Streamer, ukuran streamer dikapal geomarin III jauh lebih besar di
banding yang dijelaskan di PPPGL Cirebon.
c) Ruang Mesin dan Compresor, seperti pada umumnya pada kapal
terdapat ruang mesin dan kompresor yang dimana sebagai bagian utama

27

kapal yang berfungsi untuk menggerakkan Kapal dan mengatur tekanan


mesin dan listrik dengan beberapa generator.
d) Ruang Server dan Control Data Geofisika, ruangan ini merupakan
salah satu teknologi canggih yang ada di dalam Kapal selain bisa mengatur
alat alat seperti airgun, streamer dan lain-lain, ruangan ini terdapat
langsung computer yang digunakan untuk mengolah data gelombang
seismic itu sendiri sehingga langsung didapat hasilnya.
e) Ruang Control Kapal, Kapal ini di ruang controlnya sudah cukup
canggih, terdapat cctv, alat pembelok kapal bukan dengan stir lingkaran
tetapi sudah dengan piston panjang yang tinggal menarik tuas ke kiri dan
kanan. Terdapat alat navigasi yang sudah digital dan beberapa alat lain
yang sering djumpai di Kapal pada umumnya.

Gambar 15. Ruang control Kapal Geomarin III

3.4 Pelabuhan Cirebon


Pelabuhan Cirebon merupakan pintu gerbang perekonomian Jawa
Barat dan merupakan pelabuhan alternatif bagi Pelabuhan Tanjung Priok,
khususnya dalam melayani kegiatan perdagangan antar pulau. letaknya berada
di lintas utama pantai Utara Jawa Barat, kurang lebih 250 km dari Jakarta atau
130

km

dari

Bandung.

Posisi

Geografis

terletak

pada

Koordinat

28

64254LS,108349BT, dengan data pasang surut air tertinggi adalah 1,27


meter, air rendah terendah adalah 0,06 meter dan garis tengahnya adalah 0,60
meter.
Secara geologi wilayah pantai pelabuhan Cirebon mempunyai litologi
endapan alluvial pantai yang terdiri dari selang seling endapan lempung dan
pasir. Morfologi dasar laut perairan pelabuhan Cirebon sangat landai dan
hingga tinggi yang diduga erat kaitannya dengan aktifitas pasang surut di
perairan tersebut. Dengan kedalaman dasar laut antara - 2,00 m hingga - 10.00
m dari muka air rata-rata relief datar hingga bergelombang lemah. Susunan
litologi perairan pelabuhan Cirebon dari bawah ke atas antara kedalaman
16.00 m 22.00 meter di bagian atas terdiri dari lempung pasiran hingga
lempung kerikilan dengan ketebalan lapisan 12.00 m 14.00 m.

Gambar 16. Citra landsat Pelabuhan Cirebon (Sumber : Google earth)

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil kujungan di kantor P3GL Cirebon dan Kapal Geomarin


III dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya ilmu geologi kelautan sanagt
berkaitan erat dengan alat dan teknlogi, namun tidak mengkesampingkan basic
geologinya. Selain itu seminar seminar di kantor P3GL sangat membantu
dalam penalaran mahasiswa tentang ilmu geologi kelautan itu. Mahasiswa
menjadi semakin kritis dalam memahami dan secara tidak langsung
merupakan praktek yang tidak ada di beberapa universitas lain. Kapal
Geomarin III yang merupakan generasi yang sedang atau masih beroperasi ini
sangat membantu P3GL dalam ekplorasi geologi di laut lepas pantai, dengan
SDM yang bagus dan memiliki segudang pengalaman lapangan. Pelabuhan
Cirebon menjadi lirikan para geologiawan karena bentuk dan ilmu cara
membuat pelabuhan yang produktif, disisi lain pelabuhan Cirebon ini tingkat
sedimentasinya tinggi sehingga ilmu geologi kelautan dan ilmu lainnya perlu
difahami dan dijadikan acuan dalam perencanaannya.
Harapan dari penulis adalah, apakah sudah ada perencanaan untuk Kapal
Geomarin IV? Jika sudah ada harapannya adalah eksplorasi geologi kelautan
lebih di tingkatkan dan semoga kami mahasiswa AGP bila telahlulus bisa ikut
membantu dan bekerja sama dalam kegiatan tersebut.

29

DAFTAR PUSTAKA

E. Seibold, W.H. Berger. 1933. The Sea Floor: An Introduction To Marine


Geology. Springer-Verlag : Berlin, Heidelberg
Erickson, John, 1996, Marine Geology: Undersea Landforms and Life Forms
Googlemaps. 2017. Pelabuhan Cirebon. https://www.google.co.id/maps/place/
Pelabuhan+Cirebon/@-6.7158366,108.5709769,16z/data
=!4m5!3m4!1s0x2e6ee27d0a5ae413:0x15b2a44c0f5a7054!8m2!3d6.7149309!4d108.5692817
Irfana. 2011. Laporan Akhir fieldtrip Di Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat Mata
Kuliah

sedimentologi

https://irfanainsteinsilalahi.wordpress.com

/2011/10/13/laporan-akhir-fieldtrip-di-kejawanan-cirebon-jawa-baratmata-kuliah-sedimentologi
Manullang, Shala.2014.Perkembangan Penelitian Geologi Kelautan. http://
sahalageologist.blogspot.co.id/2014/05/pendahuluan-kita-menyadaribahwa.html
Novantyo, Angga. 2014. Pengenalan Instrumentasi Survey Kelautan Di Pusat
Penelitian Dan Pengembangan Geologi Laut (Pppgl) Cirebon, Jawa Barat.
https://anggavantyo.wordpress.com/2014/12/23/fieldtrip-ke-pppgl-cirebon
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.2016. Profil P3GL.
http://www.mgi.esdm.go.id/
Wikipedia. 2016.Geologi Kelautan. https://id.wikipedia.org/wiki/Geologi
_kelautan
Wahyuni, Dwi.2009.Kapal Riset Geomarine. http://www.detikfinance.com/
Yusuf Adrian. 2015.Makalah Ilmu Kelautan. http://adrianjentewo.blogspot .co.id
/2014/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html