Anda di halaman 1dari 5

MERANGKUM INFORMASI

BERITA

Disusun Oleh :

NUR AINI
KELAS X 3

SMA N 1 BANGKINANG
TP. 2016/2017

Hakim Tegur Polisi Bogor yang Salah Tulis Laporan Ahok


Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia
Selasa, 17/01/2017 12:03 WIB

Ahok menjalani persidangan Lanjutan dugaan penistaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta
Selatan, Selasa (17/1). (CNN Indonesia/Resa Esnir/Pool)

Jakarta, CNN Indonesia -- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menegur anggota
Polres Kota Bogor Brigadir Polisi Satu Ahmad Hamdani saat bersaksi dalam sidang kasus dugaan
penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Gedung Kementerian
Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/1).
Ahmad merupakan anggota polisi yang menerima laporan dari salah satu pelapor Ahok, Willyudin
Dhani di Polresta Bogor pada 7 Oktober 2016.
"Mengapa saudara tidak menyarankan agar pelapor ke Polres Kepulauan Seribu?" tanya anggota
majelis hakim, Selasa (17/1).
Ahmad beralasan tak bisa menolak setiap laporan yang masuk dari masyarakat.
Majelis hakim mengatakan, peristiwa itu mestinya dilaporkan ke Polres Kepulauan Seribuan
mengingat locus delicti atau lokasi kejadian ada di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
Selain lokasi, majelis hakim juga menyinggung tanggal peristiwa saat Ahok berpidato di Kepulauan
Seribu.
Dalam laporannya, Ahmad menuliskan peristiwa itu terjadi pada Jumat, 6 September 2016.
Mestinya, 6 September jatuh pada hari Kamis dan pidato Ahok di Kepulauan Seribu terjadi pada 27
September 2016.
"Siapa yang menyebutkan tanggal dan hari? Memang di kantor anda kalendernya berubah-ubah tiap
bulan?" tanya hakim anggota.
Ahmad mengaku saat membuat laporan menyerahkan keterangan sepenuhnya pada Willyudin
selaku pelapor. Saat dikonfirmasi laporannya, kata Ahmad, tak ada penolakan dari Willyudin terkait
isi laporan tersebut.
Terkesan Tak Serius
Atas jawaban itu, hakim menegur Ahmad yang terkesan tidak serius dan hati-hati saat menerima
laporan dugaan pidana dari masyarakat.

"Anda harus serius kalau menulis tempus (waktu). Enggak boleh begini ini kan menyangkut nasib
orang lain," kata hakim anggota.
Ahmad pun mengaku tak mencocokkan kembali laporan dari pelapor dengan kejadian yang
sebenarnya. Ia menegaskan bahwa laporan itu telah disetujui dan ditandatangani oleh Willyudin.
Hakim pun meminta pada Ahmad agar selalu mengecek kembali laporan dari pelapor. Sebagai
polisi, hakim mengimbau pada Ahmad agar berhati-hati dalam menerima laporan dari masyarakat.
Sebelumnya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), tim pengacara menemukan kejanggalan
mengenai lokasi kejadian dan tanggal saat kasus penistaan agama tersebut dilaporkan. Dari laporan
Willyudin tercantum tanggal 6 September 2016 dengan lokasi penodaan agamanya di Tegalega,
Bogor. (rel)

2 Pelaku Pembacokan di Bantul Ditangkap Polisi


Edzan Rahardjo - detikNews

Foto: Pelaku pembacokan yang ditangkap (Edzan-detikcom)

Bantul - Beberapa waktu terakhir aksi kejahatan pembacokan jalanan di wilayah Bantul DIY
marak terjadi. Dua pelaku pembacokan yang merupakan anggota genk berhasil ditangkap.
Kedua pelaku ditangkap saat membawa senjata tajam untuk melakukan kejahatan. Sajam
berupa sabit dan sangkur berhasil diamankan. Dua pelaku adalah anggota genk yang sering
mencari masalah.
Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Anggaito Hadi Prabowo mengatakan pelaku yang ditangkap
yakni AM (21) dan RN (19) yang tegabung dalam geng yang sering bermasalah dengan
masyarakat. Diduga mereka tergabung dalam geng besar di DIY yang terbagi dalam kelompok
selatan, barat dan tengah.
"Kelompoknya cukup besar karena ada ketua wilayah selatan, barat atau tengah. Kelompok ini
juga sering mengadakan pertemuan atau berkumpul. Berapa anggotanya masih kita
kembangkan," kata Anggaito di Polres Bantul DIY, Selasa(17/1/2016).
Dari tangan pelaku polisi temukan sajam berupa sabit dan sangkur dan sepeda motor. Dua

pelaku yang ditangkap dijerat dengan pasal 2 ayat 1 UU no 12 thn 51 tentang UU darurat
dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.
Polisi masih mengembangkan jumlah personel dalam geng tersebut dan melakukan
pengejaran.
Anggaito menegaskan pihaknya akan tegas untuk mengantisipasi kejahatan jalanan yang
meresahkan masyarakat. Sepanjang tahun 2016 di wilayah Bantul kejahatan jalanan ada 15
kasus.
(rvk/dnu)\

1 Pelaku Jaringan Malaysia Ditembak, Sabu Rp 8 Miliar Disita


Ibnu Hariyanto - detikNews

Foto: Ibnu Hariyanto/detikcom

Jakarta - Sepak terjang jaringan narkoba asal Malaysia terbongkar. Polisi mengamankan sabu
8 kilogram senilai Rp 10 miliar dan menembak 1 dari 5 pelaku karena melawan saat akan
ditangkap.

"Saya apresiasi Kapolda beserta jajarannya karena berhasil mengungkap jaringan narkotika
sabu-sabu yang jumlahnya banyak ini, lebih dari 8 kilogram. 8 Kilogram itu nilainya hampir Rp

10 miliar dan itu bisa dikonsumsi oleh puluhan ribu. Saya sengaja datang ke sini karena
mendapat laporan dari Polda Metro Jaya jika salah satu tersangka melawan," kata Kapolri
Jenderal Pol Tito Karnavian.
Hal ini disampaikan Kapolri dalam jumpa pers tentang pengungkapan tindak pidana narkotika
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya di depan kamar jenazah Rumah Sakit Polri Said
Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2017). Acara tersebut dihadiri Kabareskrim
Komjen Ari Dono Sukmanto dan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan menjelaskan polisi
menangkap 5 orang pelaku di Jalan Hayam Wuruk 127, Taman Sari, Jakarta Barat.
"Kami melaksanakan penangkapan di Jalan Hayam Wuruk 127, Taman Sari, Jakarta Barat.
Adapun tersangka Ferry (60), Brian (29), Aminudin (29), Tjoe Alvin (28), dan Agung (29). Nah
yang Brian ini terpaksa kami lakukan tindakan tegas karena melawan petugas di lapangan,"
ungkap Kapolda.
Kapolda mengatakan sejumlah barang bukti diamankan di antaranya sabu seberat 8,8 kilogram,
ekstasi sebanyak 1.942 butir, Happy Five sebanyak 21.900 butir, satu pucuk senjata api jenis
revolver dan satu pucuk senjata api airsoft gun
Menurut dia, jaringan ini berasal dari jaringan Malaysia dengan pengedalian dari sebuah
Lembaga Permasyarakatan. "Ini jaringan Malaysia. Di mana ada pengendali juga yang
sekarang kami lakukan pengembangan dalam LP. Semoga kami bisa meneliti pengendalinya,"
ujar Kapolda.
Kapolda enggan menyebutkan identitas lembaga pemasyarakatan tersebut. Namun, kata dia,
polisi sudah berupaya memutus jaringan Malaysia ini dengan bekerja sama kepolisian narkoba
Malaysia. "Untuk itu, kami terus berkerja sama dengan Kepolisian Malaysia. Dirnarkoba sudah
saya perintahkan untuk berkoordinasi dengan kepala narkotik kepolisian Malaysia. Insya allah
sekarang sudah ada hasilnya," pungkasnya.

(aan/fdn)