Anda di halaman 1dari 91

RESUME TEKHNIK-TEKHNIK KONSELING

Paper

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Teknik-Teknik Konseling

Dosen Pembimbing : Mulawarman,.Ph D


Eem Munawaroh,.M.Pd.,Kons

Oleh:
Nurul Azizah Zain (1301414118)

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

1. TEKHNIK RELAKSASI
A.PENGERTIAN RELAKSASI
Relaksasi merupakan salah satu cara untuk mengistirahatkan fungsi fisik dan mental sehingga
menjadi rileks (Suryani,2000)
Relaksasi merupakan kegiatan untuk mengendurkan ketegangan, pertama-tama ketegangan
jasmaniah

yang

nantinya

akan

berdampak

pada

penurunan

ketegangan

jiwa

(Wiramihardja,2006)
B. KARAKTERISTIK TEKNIK RELAKSASI
1.

Merupakan metode untuk mengembalikan tubuh dalam kondisi homeostatis sehingga

konseli dapat kembali tenang.


2.

Relaksasi tidak menganggap penting usaha pemecahan masalah penyebab terjadinya

ketegangan melainkan menciptakan kondisi individu yang lebih nyaman dan menyenangkan
C. TUJUAN TEKNIK RELAKSASI
1.

Tujuan pokok relaksasi adalah membantu orang menjadi rileks, dan dengan demikian

dapat memperbaiki berbagai aspek kesehatan fisik.


2.

Membantu individu untuk dapat mengontrol diri dan memfokuskan perhatian

sehingga ia dapat mengambil respon yang tepat saat berada dalam situasi yang menegangkan.
D.JENIS-JENIS TEKNIK RELAKSASI
Lichstein (1988), mengemukakan jenis-jenis teknik relaksai antara lain:
1.

Autogenic Training

Yaitu suatu prosedur relaksasi dengan membayangkan (imagery) sensasi-sensasi yang


meyenagkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari kaki
atau tangan, pantan, pergelangan tangan. Sensasi-sensasi yang dibayangkan itu sepert rasa
hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena nafas yang dalam
dan pelan. Sensasi yang dirasakan ini diiringi dengan imajinasi yang meyenangkan misalnya
tentang pemandangan yang indah, danau, yang tenang dan sebagainya.
2.

Progressive Training

Adalah prosedur teknik relaksasi dengan melatih otot-otot yang tegang agar lebih rileks,
terasa lebih lemas dan tidak kaku. Efek yang diharapkan adalah proses neurologis akan
berjalan dengan lebih baik. Karena ada beberapa pendapat yang melihat hubungan tegangan
otot dengan kecemasan, maka dengan mengendurkan otot-otot yang tegang diharapkan
tegangan emosi menurun dan demikian sebaliknya.

3.

Meditation

Adalah prosedur klasik relaksasi dengan melatih konsentrasi atau perhatian pada stimulus
yang monoton dan berulang (memusatkan pikiran pada kata/frase tertentu sebagai focus
perhatiannya ), biasanya dilakukan dengan menutup mata sambil duduk, mengambil posisi
yang pasif dan berkonsentrasi dengan pernafasan yang teratur dan dalam.
E.ASUMSI TEKNIK RELAKSASI
asumsi dasar yang melatarbelakangi teknik relaksasi adalah bahwa individu memiliki
kecemasan-kecemasan yang timbul dari keadaan fisik maupun psikisnya, sehingga diperlukan
usaha untuk menyalurkan kelebihan energi dalam dirinya melalui suatu kegiatan yang
menyenangkan dan menenangkan.
F.RELEVANSI TEKNIK RELAKSASI
Relevansi dalam teknik relaksasi adalah kesesuaian atau kecocokan (kaitan antara
penggunaan teknik itu) dengan perilaku atau masalah individu, misalnya seseorang yang
mengalami ketegangan dan kecemasan yang berat kemudian diberikan relaksasi maka
ketegangan dan kecemasan yang dialami tersebut akan berkurang, sehingga individu tersebut
akan merasa lebih rileks, tenang, dan mampu berfikir secara jernih.
G.

PRINSIP TEKNIK RELAKSASI

1.

Teknik relaksasi adalah seni keterampilan dan pengetahuan, sehingga ketika

seseorang berusaha meraih kesehatan lahir batinnya melalui metode relaksasi, dianjurkan
untuk memahami benar, apa yang akan diupayakan dan apa yang diharapkan dari hasilnya.
2.

relaksasi dapat menjadi suatu kegiatan harian yang rutin, semakin sering dan teratur

teknik relaksasi ini diterapkan maka diri konseli akan semakin rileks.
H.

MANFAAT TEKNIK RELAKSASI

Ada beberapa manfaat dari penggunaan teknik relaksasi, menurut Welker,dkk,dalam


Karyono,1994; penggunaan teknik relaksasi memiliki beberapa manfaat sebagai berikut:
1.

Memberikan ketenangan batin bagi individu

2.

Mengurangi rasa cemas, khawatir dan gelisah

3.

Mengurangi tekanan dan ketegangan jiwa

4.

Mengurangi tekanan darah, detak jantung jadi lebih rendah dan tidur menjadi nyenyak

5.

Memberikan ketahanan yang lebih kuat terhadap penyakit

6.

Kesehatan mental dan daya ingat menjadi lebih baik

7.

Meningkatkan daya berfikir logis, kreativitas dan rasa optimis atau keyakinan

8.

Meningkatkan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain

9.

bermanfaat untuk penderita neurosis ringan, insomnia, perasaan lelah dan tidak enak

badan
10.

Mengurangi hiperaktif pada anak-anak, dapat mengontrol gagap, mengurangi

merokok, mengurangi phobia, dan mengurangi rasa sakit sewaktu gangguan pada saat
menstruasi serta dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi ringan.
Sedangkan Burn (dikutip oleh Beech dkk, 1982) melaporkan beberapa keuntungan yang
diperoleh dari latihan relaksasi, antara lain:
1.

Relaksasi akan membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan

karena adanya stress


2.

Masalah-masalah yang berhubungan dengan stress seperti hipertensi, sakit kepala,

insomnia dapat dikurangi atau diobati dengan relaksasi


3.

Mengurangi tingkat kecemasan

4.

Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress dan mengontrol

anticipatory anxiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pada pertemuan
penting, wawancara atau sebagainya
5.

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku tertentu dapat lebih sering terjadi selama

periode stress, misalnya naiknya jumlah rokok yang dihisap, konsumsi alkohol, pemakaian
obat-obatan, dan makanan yang berlebih-lebihan
6.

Meningkatkan penampilan kerja, sosial, dan penampilan fisik

7.

Kelelahan, aktivitas mental dan atau latihan fisik yang tertunda dapat diatasi dengan

menggunakan ketrampilan relaksasi


8.

Kesadaran diri tentang keadaan fisiologis seseorang dapat meningkat sebagai hasil

dari relaksasi, sehingga memungkinkan individu untuk menggunakan ketrampilan relaksasi


untuk timbulnya rangsangan fisiologis
9.

Relaksasi merupakan bantuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu dalam operasi,

seperti pada persalinan yang alami, relaksasi tidak hanya mengurangi kecemasan tetapi juga
memudahkan pergerakan bayi melalui cervix
10.

Konsekuensi fisiologis yang penting dari relaksasi adalah bahwa tingkat harga diri

dan keyakinan diri individu meningkat sebagai hasil kontrol yang meningkat terhadap reaksi
stress
11.

Meningkatkan hubungan antar personal

I.

KENDALA PENGGUNAAN TEKNIK RELAKSASI

1. Pelaksanaan teknik relaksasi memerlukan waktu yang relative lama (karena dilakukan
berulang-ulang atau tidak hanya sekali)
2. Pelaksanaanya membutuhkan tempat yang kondusif (nyaman dan tenang)
3. Konseli yang kurang bisa memfokuskan pikiran atau konsentrasinya dapat menghambat
pelaksaan teknik relaksasi
4. Membutuhkan sarana dan prasarana yang cukup banyak
Selain itu, menurut Nadjamuddin keterbatasan dalam pelaksanaan relaksasi antara lain
disebabkan karena adanya faktor:
1.

Faktor Teknis

Faktor teknis ini meliputi kurang terampilnya instruktur dalam memberikan instruksi,
sehingga kesannya kaku; media yang digunakan dalam relaksasi kurang begitu diperhatikan;
kondisi ruangan kurang diperhatikan.
2.

Faktor dari Dalam Diri Konseli

Konseli kurang bisa mengontrol diri; konseli salah kostum; konseli mengutamakan nilai
pribadinya
3.

Faktor dari Masalah Konseli itu Sendiri

Beratnya masalah yang dihadapi konseli itu membuatnya dikuasai masalah tersebut padahal
seharusnya dia harus mampu menguasai masalah tersebut. Meskipun dia sudah beberapa kali
diterapi kurang menunjukkan perubahan yang lebih baik.
J.

PROSEDUR APLIKASI TEKNIK RELAKSASI

Dalam menerapkan teknik relaksasi kita perlu mempertimbangkan beberapa persiapan yang
harus diperhatikan seperti setting lingkungan yang tenang atau tidak mengganggu, pakaian
yang longgar atau tidak mengikat, perut yang tidak sedang kelaparan atau kekenyangan, serta
tempat yang nyaman dan tepat untuk mengambil posisi tubuh. Bisa pula ditambahkan
aromatherapy dan alunan musik klasik dalam pelaksanaan teknik relaksasi.
Untuk dapat melakukan teknik relaksasi secara efektif, konseli harus terlebih dahulu
mengenal secara baik bagian-bagian dari tubuhnya. Tubuh adalah satu kesatuan system unik
yang terdiri dari beberapa sub-sistem seperti system pencernaan, system pernafasan, system
saraf, system rangka, dan sebagainya. Posisi atau postur untuk relaksasi bebas, dapat dengan
duduk di lantai atau kursi, berdiri auatupun berbaring yang penting dapat membawa konseli
ke keadaan rileks atau istirahat serta berguna untuk memperbaiki postur tubuh yang salah.

Persiapan-persiapan yang perlu dilakukan sebelum menerapkan teknik relaksasi antara lain:
1.

Lingkungan Fisik

a.

Kondisi Ruangan

Ruang yang digunakan untuk latihan relaksasi harus tenang, segar, nyaman, dan cukup
penerangan sehingga memudahkan konseli untuk berkonsentrasi.
b.

Kursi

Dalam relaksasi perlu digunakan kursi yang dapat memudahkan individu untuk
menggerakkan otot dengan konsentrasi penuh; seperti menggunakan kursi malas, sofa, kursi
yang ada sandarannya atau mungkin dapat dilakukan dengan berbaring di tempat tidur
c.

Pakaian

Saat latihan relaksasi sebaiknya digunakan pakaian yang longgar dan hal-hal yang
mengganggu jalannya relaksasi (kacamata, jam tangan, gelang, sepatu, ikat pingga) dilepas
dulu.
2.

Lingkungan yang ada dalam Diri Konseli

Individu harus mengetahui bahwa:


a.

Latihan relaksasi merupakan suatu ketrampilan yang perlu dipelajari dalam waktu

yang relatif lama dan individu harus disiplin serta teratur dalam melaksanakannya
b.

Selama frase permulaan latihan relaksasi dapat dilakukan paling sedikit 30 menit

setiap hari, selama frase tengah dan lanjut dapat dilakukan selama 15-20 menit, dua atau tiga
kkali dalam seminggu. Jumlah sesion tergabtung pada keadaan individu dan stress yang
dialaminya
c.

Ketika latihan relaksasi kita harus mengamati bahwa bermacam-macam kelompok

otot secara sistematis tegang dan rileks


d.

Dalam melakukan latihan relaksasi individu harus dapat membedakan perasaan

tegang dan rileks pada otot-ototnya


e.

Setelah suatu kelompok otot rileks penuh, bila individu mengalami ketidakenakan

ketidakenakan, sebaiknya kelompok otot tersebut tidak digerakkan meskipun individu


mungkin merasa bebas bergerak posisinya
f.

Saat relaksasi mungkin individu mengalami perasaan yang tidak umum, misalnya

gatal pada jari-jari, sensasi yang mengambang di udara, perasaan berat pada bagian-bagian
badan, kontraksi otot yang tiba-tiba dan sebagainya, maka tidak perlu takut; karena sensasi
ini merupakan petunjuk adanya relaksasi. Akan tetapi jika perasaan tersebut masih

mengganggu proses relaksasi maka dapat diatasi dengan membuka mata, bernafas sedikit
dalam dan pelan-pelan, mengkontraksikan seluruh badan kecuali relaksasi dapat diulangi lagi.
g.

Waktu relaksasi individu tidak perlu takut kehilangan kontrol karena ia tetap berada

dalam kontrol yang dasar


h.

Kemampuan untuk rileks dapat bervariasi dari hari ke hari

i.

Relaksasi akan lebih efektif apabila dilakukan sebagai metode kontrol diri

Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penerapan teknik relaksasi adalah:


a.

Rasional

b.

Instruksi tentang Pakaian

c.

Menciptakan Lingkungan yang Aman

d.

Konselor Memberi Contoh Latihan Relaksasi itu

e.

Intruksi-instruksi untuk Relaksasi

f.

Penilaian setelah Latihan

g.

Pekerjaan Rumah dan Tindak Lanjut


2. TEKHNIK DESINTESISASI SISTEMATIS
A. PENGERTIAN
Desentisisasi sistematis adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam
terapi tingkah laku. Desentisisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku
yang diperkuat secara negative dan ia menyetakan pemunculan tingkah laku atau respons
yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu.
Desensitisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi
keliru apabila menanggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutanketakutan. Desesntisasi sistematis biasanya diterapkan secara efektif pada berbagai situasi
penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian,
ketakutan yang digeneralisasikan kecemasan neurotic serta impotensi dan frigiditas
seksual.
B. ASUMSI DASAR
Respon ketakutan merupakan perilaku yang dipelajari dan dapat dicegah
dengan menggantikannya dengan aktivitas yang berlawanan dengan respon ketakutan
tersebut. Respon takut beupa kecemasan terhadap sesuatu yang kurang beralasan
tersebut digantikan dengan relaksasi. Asumsi dasar yang melatarbelakangi teknik
relaksasi adalah bahwa individu memiliki kecemasan yang timbul dari keadaan fisik

maupun psikisnya, sehingga diperlukan usaha untuk menyalurkan kelebihan energy


dalam dirinya melalui suatu kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan. Jadi
prinsip daasar teknik desensitisasi sistematis adalah memasukan suatu respon yang
bertentangan dengan kcemasan yaitu relaksasi.
C. KARAKTERISTIK
Menurut Fauzan (1994) karakteristik atau ciri-ciri terauputik teknik
desensitisasi sistematis adalah
1) Merupakan suatu teknik melemahkan respon terhadap stimulus yang tidak
2)
3)

menyenangkan dan mengenalkan stimulus yang berlawanan.


Penaksiran objektif atau hasil-hasil terapi
Merupakan perpaduan dari beberapa teknik.

Ciri-ciri desensitisasi sistematik lainnya adalah


1)
2)
3)
4)

Pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik


Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment
Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah
Penaksiran obyektif atau hasil-hasil terapi

D. TUJUAN
Menurut Willis (2004 : 7 ) teknik desensitisasi sistematis bertujuan mengajarkan konseli
untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami konseli.
Teknik ini mengajarkan konseli untuk santai dan menghbungkan keadaan santai itu dengan
membayangkan pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan, atau mengecewakan.

E. JENIS
Secara umum sistematis desensitisasi dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Desensitisasi In vivo (kehidupan nyata)
Dimana klien secara bertahap menghadapi rasa takut terhadap stimulus sambil
mempertahankan relaksasi. Setelah terbiasa dengan relaksasi maka klien akan lebih
efektif pada situasi nyata yaitu dengan desensitisasi in vivo. Bertujuan agar klien
benar-benar mampu menghadapi ketakutannya//.
2. Desensitisasi In vitro
Proses khusus ketika menghayalkan:
a. Klien diminta untuk menghayalkan hal-hal yang paling rendah;
b. Klien diminta untuk mengacungkan jari telunjuknya jika ia merasa cemas saat
membayangkan;
c. Berpikir tentang hal yang ditakutkan dan relaksasi lagi;

d. Disajikan kecemasan pada tingkat berikutnya.


F. PROSEDUR
Menurut Semium (dalam Ratna, 2013:30) desensitisasi sistematis terdiri dari 3 tahapan
utama, antara lain:
1. Melatih relaksasi oto secara mendalam,
2. menyusun hierarki kecemasan,
3. menghayalkan stimulus-stimulus yang menyebabkan kecemasan diimbangi dengan
relaksasi.
Berikut merupakan langkah-langkah dalam pelaksanaan teknik desensitisasi sistematis
khususnya in vitro, adalah sebagai berikut:
1. latihan relaksasi
2. pengembangan hierarki kecemasan
3. Secara lebih rinci tahap pelaksanaannya:
a. Penyampaian Rasional
b. Identifikasi situasi yang menimbulkan emosi atau kecemasan
c. Identifikasi konstruksi hierarki
d. Pemilihan dan latihan
e. Penilaian imajeri
f. Penyajian adegan
g. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut
G. MANFAAT TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS
Adapun manfaat dari teknik desensitisasi sistematis antara lain :
1) Desensitisasi Sistematis sering digunakan untuk mengurangi maladaptive
kecemasan yang dipelajari melalui conditioning (seperti : Phobia) tetapi juga
dapat diterapkan pada masalah lain misalnya kecemasan dalam menghadapi
tes.
2) Dapat membantu konseli melemahkan atau mengurangi perilaku negatifnya
tanpa menghilangkannya.
3) Koseli juga dapat mengaplikasikan teknik ini dalam kehidupan sehari-hari
tanpa harus ada konselor yang memandu.
H. HAMBATAN
Wolpe (dalam Ratna, 2013:33-33) menyebutkan ada beberapa hambatan atau penyebab
kegagalan desensitisasi sistematis, antara lain:
1. Klien yang mengalami kesulitan dalam relaksasi
2. Tingkat kecemasan yang tidak relevan atau tidak tepat saat disusun bersama klien
3. Ketidakmemadaian dalam membayangkan
I. KEKURANGAN
1. Menggunakan teknik desentisisasi sistematis tidak selalu mudah bagi konselor, perlu
belajar lebih sebelum mengaplikasikannya pada klien.

2. Klien tidak selalu mudah untuk membayangkan situasi yang sesuai dengan kecemasan
yang dialami.
3. Pengaplikasian keberhasilan dari teknik desensitisasi sistematis ke dalam kondisi
sesungguhnya tidak selalu mudah
4. Konselor perlu membuat format-format tertentu yang sangat detail mengenai masalah
klien sesuai dengan tingkatan atau tahapn-tahapan teknik ini.
5. Teknik ini memerlukan waktu yang lama untuk penerapannya karena tahapannya
berkelanjutan delam membantu klien.
6. Penggunaan teknik ini juga tergantung pada kemampuan verbal klien dalam positive
self talk
J. KELEBIHAN
1. Klien dapat belajar secara mandiri dan percaya pada kemampuan sendiri untuk
menghadapi kecemasan.
2. Konseli dapat meningkatkan kemampuannya dalam berkonsentrasi.
3. Penggunaan teknik desensitisasi sistematis tidak memerlukan biaya yang mahal.
3.TEKHNIK BIBLIOTERAPI
A. Definisi Teknik Bibloterapi
Istilah bibliotherapy berasal dari dua kata: biblio, berasal dari bahasa Yunani biblus
(buku), dan therapy, mengacu pada bantuan psikologi. Secara sederhana, bibliotherapy
dapat didefinisikan sebagai penggunaan buku untuk membantu memecahkan
permasalahan seseorang (Schemant, 2009: 21). Istilah bibliotherapy dilontarkan oleh
Samuel Crothers pada tahun 1916, yang dimasukkan dalam bagian pendekatan kognitifperilaku.
B. Tujuan Teknik Bibloterapi
Menurut Vernon dalam bukunya Erford (2016:287), Bibliotherapy memiliki lima
tujuan:
1. Mengajarkan berpikir konstruktif dan positif,
2. Mendorong untuk mengungkapkan masalah dengan bebas,
3. Membantu klien dalam menganalisis sikap dan perilakunya,
4. Membantu pencarian solusi solusi alternatif untuk masalah klien,
5. Memungkinkan klien untuk menemukan bahwa masalahnya serupa dengan orang
lain.

C. Jenis Teknik Biblioterapi


Menurut Brewster (2008) dalam bukunya Erford (2016 : 289-290), menyebutkan
ada tiga tipe biblioterapi yang berbeda, yaitu :
1. Self-help bibliotherapy, melibatkan preskripsi buku-buku nonfiksi tentang berbagai
kondisi kesehatan mental.
2. Creative bibliotherapy, melibatkan penggunaan fiksi, puisi, tulisan biografi, dan
menulis kreatif untuk memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan mental.
3. Informal bibliotherapy, melibatkan fokus pada teknik-teknik biblioterapi kreatif
secara tak terstruktur, termasuk pengguna kelompok belajar, rekomendasi dari
anggota-anggota staf perpustakaan, dan display di perpustakaan.
Ada banyak variasi biblioterapi. Abdullah (2002) dalam Tesis Program
Pascasarjana

Magister

Psikologi

Universitas

Ahmad

Dahlan

Yogyakarta,

mengemukakan bahwa ada beberapa teknik Biblioterapi yaitu Biblioterapi tradisional,


cenderung bersifat reaktif, artinya klien memiliki sebuah masalah dan konselor
profesional memilih sebuah buku untuk dibaca klien yang akan membantu mengatasi
masalahnya. Biblio interaktif melibatkan klien yang berpartisipasi bervariasi, tetapi
mereka dapat memasukkan diskusi kelompok atau menulis catatan harian. Biblioterapi
klinis digunakan hanya oleh konselor profesional terlatih untuk membantu klien yang
sedang mengalami emosional berat dan mungkin menggunakan menulis jurnal,
bermain peran, atau menggambar. Guru biasanya menggunakan biblioterapi
perkembangan dengan siswa mereka selama bimbingan kelompok atau pendidikan
yang didasarkan pada pengalaman pendidikan klien, yang membantu meningkatkan
kesehatan mental.
Sedangkan menurut pendapat (Shectman, 2009) dalam Tesis Program
Pascasarjana Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta terdapat dua
teknik bibliotherapy, yaitu cognitif bibliotherapy dan affective bibliotherapy. Cognitive
bibliotherapy adalah program yang dilakukan dengan cara hanya memberikan materi
tertulis tanpa bertemu secara intens dengan fasilitator, sedangkan pada affective
bibliotherapy peran fasilitator sangat penting untuk membacakan dan mendiskusikan
isi cerita. Fasilitator dalam program affective bibliotherapy juga menjadi penentu agar
proses identifikasi, katarsis, dan insight dapat terwujud.

Pengetahuan mengenai dinamika perilaku, sikap hangat, penuh penerimaan,


komunikatif, empatik, dan kemampuan menghidupkan cerita sangat dibutuhkan
fasilitator program affective bibliotherapy. Affective bibliotherapy difokuskan pada
ekpresi dan eksplorasi emosi serta terjadinya insight. Affective bibliotherapy
didasarkan pada teori psikodinamika yang mengasumsikan bahwa kebanyakan orang
menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti represi untuk melindungi dirinya dari
rasa sakit.

D. Sasaran Pengguna Teknik Bibloterapi


Penggunaan teknik bibliotherapy harus disesuaikan dengan klien. Bibliotherapy
dapat digunakan pada berbagai setting dengan berbagai problem spesifik. Dalam
penerapannya, terapi pustaka ini dapat dimanfaatkan untuk anak-anak, remaja, dan
orang dewasa serta dapat dilakukan dalam tindakan jangka panjang maupun jangka
pendek, serta untuk berbagai variasi masalah psikis. Bibliotherapy sebagai aktivitas
tambahan yang sangat efektif dilakukan dalam kelompok kecil, dilakukan oleh
Scechtman (2009) menjelaskan bahwa bibilotherapy dapat digunakan sebagai usaha
preventif di kelas terutama membantu siswa yang mengalami agresif dan anak yang
teridentifikasi melakukan tingkah laku agresif.
E. Prosedur dan Aplikasi Teknik Bibloterapi
1 Identifikasi kebutuhan-kebutuhan konseli. Tugas ini dilakukan melalui pengamatan,
berbincang dengan orangtua, penugasan untuk menulis, dan pandangan dari sekolah
2

atau fasilitas-fasilitas yang berisi rekam hidup konseli.


Sesuaikan konseli dengan bahan-bahan bacaan yang tepat. Carilah buku yang
berhubungan dengan perceraian, kematian keluarga, atau apapun yang dibutuhkan
yang telah diidentifikasi. Jagalah hal-hal ini dalam ingatan:
a. Buku harus sesuai dengan tingkat kemampuan baca konseli.
b. Tulisan harus menarik dan melatih klien untuk lebih dewasa.
c. Tema bacaan seharusnya sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi dari
konseli.
d. Karakteristik seharus dapat dipercaya dan mampu memunculkan rasa empati.
e. Alur kisah seharusnya realistis dan melibatkan kreativitas untuk menyelesaian
masalah.

Putuskan susunan waktu dan sesi serta bagaimana sesi diperkenalkan pada
konseli.ancanglah aktivitas-aktivitas tindak lanjut setelah membaca, seperti diskusi,

menulis makalah, menggambar, dan drama.


Motivasi konseli dengan aktivitas pengenalan seperti mengajukan pertanyaan untuk

menuju ke pembahasan tentang tema yang dibicarakan.


Libatkan konseli dalam fase membaca, berkomentar atau mendengarkan. Ajukan
pertanyaan-pertanyaan pokok dan mulaialah berdiskusi kecil tentang bacaan. Secara

berkala, simpulkan apa yang terjadi secara panjang lebar.


Berilah waktu jeda beberapa menit agar klien bisa merefleksikan materi bacaannya.
Kenalkan aktivitas tindak lanjut:
a Menceritakan kembali kisah yang dibaca
b Diskusi mendalam tentang buku, misalnya diskusi tentang benar dan salah, moral,
c

hukum, letak kekuatan dan kelemahan dari karakter utama dan lain-lain.
Aktivitas seni seperti menggambar ilustasi persitiwa kisah, membuat kolase dari
foto majalah dan berita utama untuk mengilustrasikan peristiwa-peristiwa dalam

kisah, melukis gambar peristiwa).


Menulis kreatif, seperti menyelesaikan kisah dalam cara yang berbeda, mengkaji

keputusan dari karakter.


Drama, seperti bermain peran, merekonstruksi kisah dengan wayang yang dibuat

selama aktivitas seni, yang menjadi coba-coba dalam karakter.


Dampingi konseli untuk meraih penutupan melalui diskusi dan menyusun daftar jalan
keluar yang mungkin atau aktivitas lainnya.

F.Kasus yang Dapat Ditangani dengan Biblioterapi


Elizabeth Hurlock mengemukakan bahwa penyebab masalah yang dihadapi oleh konseli
terbagi atas dua penyebab, yaitu ; pertama, penyebab yang mempengaruhi, dan kedua ;
penyebab yang menggerakkan. Kekuatan penyebab pertama menjadikan penyebab kedua,
dan mendorong konseli untuk menuju pada kenakalan. Jenis atau tingkat masalah yang dapat
diselesaikan dengan tehnik biblioterapi adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Masalah keseharian
Masalah pendidikan
Masalah pekerjaan.
Masalah kesehatan
Masalah sosial.
Wujud masalah tersebut seperti tidak tahu cara belajar yang efektif,

sulit menghilangkan rasa malu, tidak mampu bersikap asertif, kurang percaya

diri, sulitmenurunkan berat badan, menghilangkan kebiasaan merokok atau


ketergantungan pada alkohol.

G. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Biblioterapi


1 Kelebihan Teknik Bilioterapi
a. Sebagai suatu intervensi kesehatan mental di tempat kerja dengan mengurangi dan
mengeliminasi potensi stigmatisasi.
b. Membantu menegakkan pikiran rasional mempromosikan sudut pandang baru dan
menanamkan minat social.
c. Menstimulasi diskusi dalan suatu masalah.
d. Mengkomunikasikan nilai dan sikap baru
e. Menyediakan solusi realistis atas berbagai masalah.
2 Kelemahan Teknik Bilioterapi
Biblioterapi akan terasa tidak efektif jika partisipan memilikiketerbatasan
sebagai berikut:
a. Kurang memiliki pengalaman social dan emosional, kegagalan, lari kedalam
khayalan dan defensif
b. Klien mungkin tidak siap untuk berubah dan mereka mungkin tidak mau
menggunakan teknik ini.
c. Materi untuk subjek tertentu mungkin tidak tersedia.
4.MODELING
A.

Konsep
Teknik modeling yaitu teknik yang menekankan pada pelibatan penambahan dan
atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan
sekaligus, melibatkan proses kognitif, bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa
yang dilakukan orang model (orang lain) (Alwisol, dalam Khofidhoh:2015).
Hal ini juga diperkuat oleh Bandura (1986, 1994) dalam Feist (2008: 409)
memberikan sedikit pernyataan mengenai modeling bahwa pemodelan melibatkan proses
kognitif, individu tidak hanya meniru, lebih dari sekedar menyesuaikan diri dengan
tindakan orang lain karena sudah melibatkan representasi informasi secara simbolis dan
menyimpannya untuk digunakan di masa depan.
Perry dan Furukawa (dalam Abimanyu dan Manrihu 1996) mendefinisikan modeling

sebagai proses belajar melalui observasi dimana tingkah laku dari seorang individu atau
kelompok, sebagai model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap,
atau tingkah laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang

ditampilkan. Teknik modeling ini adalah suatu komponen dari suatu strategi dimana konselor
menyediakan demonstrasi tentang tingkah laku yang menjadi
B.

KARAKTERISTIK

1.

Menggunakan model, baik model langsung maupun simbolis.

2.

Konseli belajar melalui observasi.

3.

Menghapus hasil belajar yang maladaptif dengan belajar tingkah laku yang lebih

adaptif.
4.

Konselor memberikan balikan segera dalam bentuk komentar atau saran.

C. TUJUAN
Menurut Willis (2004:78) dalam Ratna, perilaku model digunakan untuk : (1)
Membentuk perilaku baru pada klien, (2) Memperkuat perilaku yang sudah terbentuk.
Ratna (2013:49) mengutarakan bahwa teknik modeling bertujuan untuk
membentuk tingkah laku tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien
dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru),
mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma norma
dalam sistemmodel sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
1.

Untuk perolehan tingkah laku sosial yang lebih adaptif.

2.

Agar konseli bisa belajar sendiri menunjukkan perbuatan yang dikehendaki tanpa

harus belajar lewat trial and error.


3.

Membantu konseli untuk merespon hal- hal yang baru

4.

Melaksanakan tekun respon- respon yang semula terhambat/ terhalang

5.

Mengurangi respon- respon yang tidak layak

D. JENIS
Corey (1995:427) mengklarifikasikan teknik modeling menjadi tiga jenis yaitu
modeling langsung, modeling simbolis, dan gabungan antara keduanya/model ganda.
Berikut penjelasan mengenai tiga jenis teknik modeling tersebut :
1. Modeling Langsung
Merupakan cara/prosedur yang dilakukan dengan menggunakan model langsung
seperti

konselor,

guru,

teman

sebaya

maupun

pihak

lain

dengan

cara

mendemostrasikan perilaku yang dikehendaki atau hendaknya dimiliki oleh konseli.


Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan teknik ini adalah menekankan pada
konseli bahwa konseli dapat mengadaptasi perilaku yang ditampilkan oleh model

sesuai dengan gayanya sendiri. Konselor harus pula menekankan bagia-bagian


penting dari perilaku yang ditampilkan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam modeling langsung adalah :
a. Meminta konseli untuk mendemostrasikan suatu perilaku tujuan sebelum perilaku
tersebut didemostrasikan oleh oranglain.
b. Memilih model yang paling relevan untuk mendemostrasikan perilaku yang
dikehendaki konseli.
c. Mendemonstrasikan perilaku dalam suatu urutan skenario.
d. Konseli menyimpulkan hasil pengamatan terhadap

perilaku

yang

didemonstrasikan.
e. Konseli mendemonstrasikan perilaku yang telah ia amati.
f. Konselor memberikan balikan yang berupa komentar, saran, pujian segera setelah
perilaku didemonstrasikan.
2. Modeling Simbolis
Merupakan cara/prosedur yang dilakukan dengan menggunakan media seperti film,
video, buku pedoman, dll dengan cara mendemostrasikan perilaku yang dikehendaki
atau hendaknya dimiliki oleh konseli. Modeling simbolis ini dikembangkan untuk
perseorangan maupun kelompok.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan prosedur modeling simbolis
adalah :
a. Karakter konseli, ini berhubungan dengan umur, jenis kelamin, budaya, latar
belakang, dll. Karakteristik model simbolis hendaknya sama dengan yang dimiliki
konseli.
b. Spesifikasi tingkah laku yang menjadi tujuan. Tingkah laku atau keterampillan
yang diperagakan hendaknya spesifik sesuai dengan tujuan. Setelah konseli
melihat model simbolis, konseli diminta untuk berlatih, lalu konselor memberikan
balikan dan melakukan penyimpulan.
c. Memastikan model simbolk yang digunakan sesuai dengan kebutuhan konseli.
3. Model Ganda
Relevan digunakan dalam situasi kelompok. Konseli dapat mengubah perilaku
melalui pengamatan terhadap beberapa model. Keuntungan dari model ganda adalah
bahwa dari beberapa alternatif yang ada konseli belajar cara berperilaku, karena
mereka melihat beranekaragam gaya perilaku yang tepat dan berhasil.
E.

ASUMSI DASAR

1.

Belajar bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa juga diperoleh secara tidak

langsung dnegan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya.

2.

Bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang

maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka bisa unlearned (dihapus dari ingatan)
dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.
F.

RELEVANSI

Teknik modeling ini relevan untuk diterapkan pada konseli yang mengalami gangguangangguan reaksi emosional atau pengendalian diri, kekurangterampilan kecakapan-kecakapan
sosial, keterampilan wawancara pekerjaan, ketegasan, dan juga mengatasi berbagai
kecemasan dan rasa takut seperti phobia, kecemasan dengan serangan-serangan panik, dan
obsesif kompulsif.
Teknik ini sesuai diterapkan pada konseli yang mempunyai kesulitan untuk belajar tanpa
contoh, sehingga dia memerlukan contoh/ model perilaku secara konkret untuk dilihat/
diamati sebagai pembelajaran pembentukan tingkah laku konseli. Jadi, konseli bisa belajar
sendiri menunjukkan perilaku yang dikehendaki tanpa harus mengalaminya langsung (trial
and error).
G.

PRINSIP

1.

Pemberian pengalaman-pengalaman belajar sebagai proses penghapusan hasil belajar

yang maladaptif.
2.

Model sebagai stimulus terjadinya pikiran, sikap, dan perilaku bagi pengamat

(konseli).
3.

Individu (konseli) mengamati model (tingakh laku yang nampak dan spesifik)

kemudian diperkuat untuk mencontohnya.


4.

Status dan kehormatan model amat berarti, karena keberhasilan teknik ini tergantung

pada persepsi konseli terhadap model yang diamati.


5.

Adegan yang lebih dari satu dapat menggambarkan situasi-situasi yang berbeda

dimana tingkah laku ketegasan biasanya diperlukan (cocok).


H.

MANFAAT

1.

Memberikan pengalaman belajar yang bisa dicontoh oleh konseli.

2.

Menghapus hasil belajar yang tidak adaptif.

3.

Memperoleh tingkah laku yang lebih efektif.

4.

Mengatasi gangguan-gangguan keterampilan sosial, gangguan reaksi emosional dan

pengendalian diri.

H.

KENDALA

1.

Keberhasilan teknik modeling tergantung persepsi konseli terhadap model. Jika

konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang mencontoh
tingkah laku model tersebut.
2.

Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan

tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat.


3.

Bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang

harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut
sesuai dengan gayanya sendiri.
I. PROSEDUR APLIKASI
Jika konselor hendak melaksanakan konseling dengan teknik modeling langsung, maka
langkah-langkah yang hendaknya diambil antara lain:
1.

Meminta konseli untuk memperhatikan apa yang harus ia pelajari sebelum model

didemonstrasikan.
2.

Memilih model yang serupa dengan konseli dan memilih siapa yang bisa

mendemonstrasikan tingkah laku yang menjadi tujuan dalam bentuk tiruan.


3.

Menyajikan demonstrasi model tersebut dalam urutan skenario yang memperkecil

stress bagi konseli. Konseli bisa terlibat dalam demonstrasi perilaku ini.
4.

Meminta konseli menyimpulkan apa yang ia lihat setelah demonstrasi tersebut.

5.

Adegan yang dilakukan bisa jadi lebih dari satu. Sesudah model ditampilkan, konseli

dapat diminta untuk meniru memperagakan tingkah laku model itu.


J.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
1. Kelebihan Teknik Modeling
Dengan teknik modeling konseli bisa mengamati secara langsung seseorang yang
dijadikan model baik dalam bentuk live model ataupun symbolic model, sehingga
konseli bisa dengan cepat memahami perilaku yang ingin diubah dan bisa
mendapatkan perilaku yang lebih efektif.
Menurut Ratna (2013), kelebihan dari teknik modeling antara lain :
a. Melalui teknik ini konseli belajar mengembangkan perilaku pemecahan masalah
yang diperlukan dalam kehidupan.
b. Teknik ini tidak membutuhkan alat yang mahal.
c. Menggunakan waktu secara efektif dan efisien karena belajar dimilai dari
mengobservasi, bukan langsung dengan cara trial dan error.
d. Konseli berpikir untuk dapat mengatur perilaku mereka.
e. Tidak sulit untuk dipelajari dan dipraktikan.

2. Kekurangan Teknik Modeling


a. Keberhasilan teknik modeling tergantung persepsi konseli terhadap model. Jika
konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang
mencontoh tingkah laku model tersebut.
b. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan
tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat.
c. Bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang
harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi
model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri.
d. Tidak selalu mudah untuk mendapatkan model yang relevan dan kredibel.
5. TEKNIK ASSERTIF
A. KONSEP
Alberti dan Emmons (dalam AlAin 2013) menyatakan bahwa asertivitas adalah
pernyataan diri yang positif, dengan tetap menghargai orang lain, sehingga akan
meningkatkan kepuasan kehidupan pribadi serta kualitas hubungan dengan orang lain.
Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang
diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai
hak-hak serta perasaan orang lain. Tujuan dari sikap asertif adalah untuk menyenangkan
orang lain dan menghindari konflik dengan segala akibatnya.
Ada empat kategori yang dikelompokkan dalam perilaku asertif (Walker,1996):
Kemampuan untuk berinisiasi dengan memulai percakapan, menyambung dan menghentikan
percakapan
Berani berkata tidak
Mengajukan suatu pertanyaan dan keinginan
Mengekspresikan perasaan suka dan tidak suka
Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu
yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah,
membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya
dengan benar dan cepat tersinggung.
Prosedur dasar dalam asertive training :

1.Mengajarkan perbedaan antara asertif, agresif, non agresif dan sopan.


2.Membantu individu mengidentifikasi dan menerima hak-hak pribadi dirinya dan orang lain.
3.Mengurangi hambatan kognitif dan afektif yang menghambat aktualisasi sikap asertif.
4.Mengembangkan ketrampilan perilaku asertif secara langsung melalui praktek-praktek di
dalam pelatihan.
B.KARAKTERISTIK
Cocok untuk individu yang memiliki kebiasaan respon cemas (anxiety-response)
dalam hubungan interpersonal, yang tidak adaptif, sehingga menghambat untuk
mengekspresikan perasaan dan tindakan yang tegas dan tepat.
Latihan asertif terdiri dari 3 komponen, yaitu : Role Playing, Modeling, Social
Reward & Coaching. Dalam situasi social dan interpersonal, muncul kecemasan dalam diri
individu, seperti:
Merasa tidak pantas dalam pergaulan social
Takut untuk ditinggalkan
Kesulitan mengekspresikan perasaan cinta dan afeksinya terhadap orang-orang
disekitarnya.
C.TUJUAN
maksud utama teknik latian assertive adalah (Ratna:2013):
a. Mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan
emosinya.
b. Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasi nya sendiri tanpa
menolak atau memusuhi hak asasi orang lain.
c. Mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri.
d. Meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku tingkah laku assertive yang
cocok untuk diri sendiri.

1. Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga
memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain.

2. Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan


apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak
3. Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa
sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain
4. Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya
dengan enak dalm berbagai situasi sosial
5. Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi
D.ASUMSI
Kecemasan akan menghambat individu untuk mengekspresikan perasaan dan tindakan
yang tegas dan tepat dalam menjalin suatu hubungan social.
Tiap individu memiliki hak (tetapi bukan kewajiban) untuk menyatakan perasaan,
fikiran, kepercayaan, dan sikap sesuai keinginannya.
E.JENIS
Rathus and nevid 1983 (dalam Ratna 2013 : 40) mengemukakan sepuluh aspek dari
perilaku assertive:
1. Bicara assertive
2. Kemampuan mengungkapkan perasaan
3. Menyapa atau memberi salam kepada orang lain
4. Ketidaksepakatan
5. Menanyakan alasan
6. Berbicara mengenai diri sendiri
7. Menghargai pujian dari orang lain
8. Menolak untuk menerima begitu saja pendapat orang yang suka berdebat
9. Menatap lawan bicara
10. Melawan rasa takut
LAbth dan milan (dalam Ratna 2013 : 40-41) menjelaskan ada tiga tipe perilaku
assertive yaitu:
1. Assertive untuk menolak ( refusal assertiveness)
perilaku assertive dalam konteks ketidaksetujuan atau ketika seseorang berusaha untuk
menghalangi atau mencampuri pencapaian tujuan orang lain. Hal ini membutuhkan
ketrampilan social untuk menolak atau menghindari campur tangan orang lain.
2. Assertive untuk memuji (commendatory assertiveness)

Mengekspresikan perasaan-perasaan positif terhadap orang lain sangat penting untuk


dilakukan. Hal tersebut akan sangat menunjang pencapaian hubungan interpersonal
yang menyenangkan.
3. Assertive untuk meminta (request assertiveness)
Jenis assertive ini terjadi jika seseorang meminta orang lain untuk melakukan sesuatu
yang memungkinkan kebutuhan atau tujuan seseorang tercapai tanpa melakukan
pemaksaan.

5.RELEVANSI
Teknik ini sangat relevan digunakan pada permasalahan yang menyangkut hubungan
social. Misalnya dalam lingkup sekolah, organisasi, dan sebagainya. Dimana seringkali
terjadi kebingungan pandangan mengenai asertif, agresi, dan sopan.
F.PRINSIP
Peran konselor adalah sebagai fasilitator yang bertugas merangsang dan mendorong
siswa bersikap lugas atas pikiran dan perasaannya, dengan tetap memperhatikan perasaan
orang lain
G.SASARAN
1.Sasaran Pengguna
Willis (dalam ratna 2013) menyatakan bahwa assertive training merupakan teknik
dalam konsling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam
perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya, klien yang dapat dibantu menggunakan
teknik ini adalah klien yang seperti berikut:
1. Tidak dapat menyatakan kemarahannya atu kejengkelannya
2. Mereka yang sopan berlebihan dan memberikan orang lain mengambil keuntungan
dari pada nya
3. Mereka yang mengambil kesulitan dalam berkata tidak
4. Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya
5. Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya
H.MANFAAT
a. Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan kejengkelan

b. Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak dan yang membiarkan
orang lain memanfaatkannya
c. Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menyatakan pikiran,
kepercayaan, dan perasaan-perasaannya
d. Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan respon-repon positif yang lain
I.HAMBATAN
a. Hambatan Mental Individu
1.Perasaan segan konseli
2.Perasaan takut menyakiti
3.Perasaan berdosa setiap kali tidak meng-YA-kan orang lain
4.Merasa tidak terpuji ketika mengatakan TIDAK kepada orang lain
5.Takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai atau diterima
b.Hambatan Budaya
Budaya timur yang menganut nilai tenggang rasa dan tepo seliro
J.PROSEDUR APLIKASI
1.Menentukan serangkaian situasi apa saja yang menimbulkan perasaan atau pikiran sulit
bersikap asertif
2.Konselor dan konseli memerankan peran dalam role playing
3.Konseli mencoba mempraktekkan keterampilan yang sudah dilatih, pada situasi
sebenarnya.
4.Mendiskusikan kembali hasil penerapan keterampilan pada pertemuan selanjutnya.
K.FAKTOR KEASERTIFAN INDIVIDU
1.Mengetahui pikiran dan perasaan diri sendiri.
2.Berfikir secara realistik.

3.Berbicara tentang diri sendiri.


4.Berkomunikasi dengan apa yang anda inginkan.
5.Bersikap positif terhadap orang lain.
6.Bebas bela diri.
7.Mampu berdikari.
8.Menggunakan jumlah kekuatan yang tepat.
9.Mengetahui batasan diri sendiri dan orang lain.
6. TEKHNIK REFRAMING
A.

Pengertian
Reframing adalah suatu proses untuk merubah isi, atau menata ulang sebuah

pengalaman, atau interpretasi sehingga pengalaman tersebut mendapatkan arti yang berbeda
dari sebelumnya
Ratna (2013:73) mengemukakan bahwa reframing adalah upaya untuk membingkai
ulang kejadian, dengan mengubah sudut pandang tanpa mengubah kejadian/ peristiwa yang
dialami. Teknik ini digunakan dalam rangka mengubah bingkai (frame) seseorang dalam
menanggapi suatu peristiwa untuk mengubah makna (Bandler & Grinder, 1982:1). Mengubah
makna artinya pencarian makna baru dari sesuatu yang sebelumnya dimaknai secara tertentu.
Pada dasarnya reframing bekerja berdasarkan premis bahwa masalah perilaku dan
emosi bukan disebabkan oleh kejadian-kejadian tetapi oleh bagaimana kejadian-kejadian itu
dilihat. Masalah timbul ketika kejadian dipersepsi menghalagi tujuan klien atau
menginterferensi nilai-nilai, keyakinan, atau tujuan klien. Teknik reframing juga melibatkan
asumsi bahwa orang memiliki semua sumber daya yang dibutuhkannya untuk membuat
perubahan yang diinginkan (Erford 2015:234).

B.

Bentuk

Ada 2 bentuk reframing. yaitu reframing Content dan reframing context


1.

Reframing Content

Reframing Content adalah adalah pemberian suatu pandangan baru (berbeda) sehingga
sebuah peristiwa dapat memiliki nilai atau makna yang baru.
2.

Reframing Context

Reframing Context adalah pemberian suatu pandangan baru dimana dalam waktu dan kondisi
yang berbeda, sebuah peristiwa yang sama dapat memiliki makna yang baru.
Megaton (2010) ada dua jenis teknik reframing yaitu:
1. Context reframing, yaitu mengubah cara pandang secara kontekstual dengan
menunjukkan berbagai hikmah (keuntungan lain) dibalik masalah itu.
Contoh:
X
: Saya risau, tubuh saya terlalu tinggi jadi saya minder.
Y
: Bukankah kamu justru berutung? Atlet basket itu lebih cocok
yang postur tubuhnya jangkung.
2. Meaning reframing, yaitu mengubah cara pandang secara maknawi dengan mencari
arti lain/ makna lain.
Contoh:
X
: Saya sebal, ibu saya melarang saya bermain dirumah teman.
Tetapi, boleh membawa teman-teman dan bermain dirumah
sendiri.
Y
: Bukankah itu artinya lebih baik? Ibumu merasa lega, dan kalian
tetap bisa bermain ceria dengan teman-temanmu.

C.

Tujuan
Teknik ini terutama berharga ketika mendefinisikan kembali situasi yang bermasalah
sehingga dapat mengubah pandangan tentang masalahnya sedemikian rupa menjadi lebih
dapat dipahami, lebih dapat diterima, atau lebih mungkin untuk diatasi (James &
Gilliand, 2003 dalam Erford 2015:244). Individu-individu dapat menggunakan reframing
untuk mengonstruksikan makna baru dari perilaku atau suasana perasaan yang
sebelumnya membuat stres akibat pemikiran yang irasional (Wicks & Buck, 2011 dalam
Erford 2015:244).
Menurut Corey (2015) tujuan reframing adalah untuk membantu klien melihat
situasinya dari sudut pandang lain, yang membuatnya tampak tidak terlalu problematik
dan lebih normal, dan dengan demikian lebih terbuka terhadap solusi.
Sedangkan menurut Ratna (2013:75) tujuan teknik reframing adalah:
1. Mengubah cara pandang mengenai permasalahan yang dihadapi.

2. Menurunkan reaksi emosional yang dimiliki klien agar lebih berfokus pada tujuan
yang dilakukan.
3. Meningkatkan motivasi klien untuk menjalankan prosedur psikoterapi.

Tujuan teknik reframing adalah memberdayakan (empowering) orang yang memiliki


pengalaman tersebut agar memiliki lebih banyak pilihan respon atas pengalamannya,
sehingga orang ini memiliki kekuatan untuk menuju arah atau tujuan yang diinginkannya.
Selain itu ada tujuan lain dari teknik reframing, yaitu :
a)

Punya perspektif yang berbeda

b)

Punya pilihan tindakan lain

c)

Lebih membesarkan hati

d)

Positif thinking

e)

Terlepas dari keterikatan makna.

D. Tahap-Tahap
Tahap-tahap prosedur pelaksanaan teknik reframing :
1.

Rasional.

Sebelum menggunakan teknik ini, terlebih dahulu dicari rasionalisasinya atau alasan
mengapa menggunakan teknik ini, misalnya melihat melihat banyaknya pikiran-piran
irasiolan yang dimiliki konseli hingga ia mengalami depresi.
2.

Identifikasi.

Jika pilihan terapi untuk menggunakan teknik ini sudah matang, maka langkah selanjutnya
adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran dan frame berfikir irasional konseli.
3.

Menentukan Suatu Penjabaran dari system persepsi.

Tahapan ini adalah tahap yang menguji keterampilan si konselor dalam menentukan proses
konseling. Hal ini didasarkan bahwa teknik ini difokuskan pada aspek kognitif, sehingga

perlu adanya penjabaran secara operasional agar mudah difahami dan dimengerti oleh kedua
belah pihak.
4.

Mengidentifikasi persepsi alternative

Tahapan ini sudah memulai mencari alternative-alternatif persepsi lain/frame-frame lain yang
terkaita bagaiman mamandang masalah yang dihadapi konseli. Konselor bersama konseli
mencari persepsi-persepsi yang terluapakan atau tidak disadari oleh klien.

5.

Modifikasi.

Pada tahapan ini konselor memulai memodifikasi atau mempengaruhi pikiran-pikiran klien
dengan persepsi-persepsi baru yang telah mereka temukan.

6.

Homework assignment dan Follow up.

Pada tahapan ini konselor memberi tugas-tugas rumah atau pekerjaan atas dasar persepsipersepi atau sudut pandang yang ditemukan tadi, dimana klien harus atau diupayakan
semaksimal mungkin agar konseli bersedia untuk melakukan atas kesadaran dan persetujuan
klien itu sendiri.
Nama pendekatan konseling ini adalah Solution Focus Brief Counseling. Konseling ini
selanjutnya disingkat SFBC, adalah suatu konseling singkat yang dibangun atas potensi
konseli yang sebenarnya mampu mengkonstruksi solusi dari masalahnya.
E.SASARAN
Teknik ini dapat diterapkan pada klien yang mengalami gangguan dan permasalahan
yang berhubungan dengan perilaku atau kebiasaan yang tidak/ kurang tepat, perasaan atau
reaksi emosi yang berlebihan, dan gejala yang berhubungan dengan gangguan fisik
(Ratna 2013:75).
Selain itu, Erford (2015:244) menjelaskan bahwa reframing juga digunakan secara
efektif dalam pendekatan-pendekatan konseling keluarga. Frain et al. (2007)
menggunakan reframing dalam pekerjaan mereka bersama keluarga klien yang
membutuhkan pelayanan rehabilitasi disabilitas. Davidson dan Horvath (1997)
mengatakan bahwa reframing bermanfaat dalam konseling pasangan suami-isteri ketika

menangani penyesuaian dua-pihak dan konflik perkawinan. Reframing dapat digunakan


dalam terapi keluarga untuk mengurangi sikap saling menyalahkan di antara anggota
keluarga dengan mengatribusikan konsekuensi negatif pada penyebab-penyebab
situasional, bukan individu-individu anggota keluarga (Eckstein, 1997).

7.SFBC
A. PENDIRI
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg memulai pergeseran ini di pusat terapi singkat di
Milwaukee pada akhir tahun 1970an. Setelah tumbuh tidak puas dengan kendala dari model
strategis, pada tahun 1980an de Shazer berkolaborasi dengan sejumlah terapis, termasuk Eve
Lipchik, John Walter, Jane Peller, Michelle Weiner-Davis, dan Bill OHanlon, yang masingmasing menulis secara ekstensif tentang SFBC dan memulai SFBC di lembaga pelatihan
mereka. Baik OHanlon dan Weiner-Davis terpengaruh oleh karya asli de Shazer, namun
mereka memperluas dasar ini dan menciptakan apa yang mereka sebut Solution Oriented
therapy. Dalam bab ini ketika didiskusikan solution-focused brief therapy, solution-focused
therapy, dan solution-oriented therapy, lebih difokuskan pada kesamaan pendekatan ini
daripada melihat perbedaannya.
Dua pendiri utama SFBC yaitu INSOO KIM BERG : Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi
keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi
terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang
dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya
adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan
masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution
(2002).
STEVE DE SHAZER : salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di
Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk
mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir
(1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai
konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan
solusi-solusi praktek.

SFBC berbeda dengan dari terapi tradisional dengan mengulas masa lalu dalam mendukung
baik saat ini maupun masa depan. Konselor fokus pada apa yang mungkin, dan mereka
kurang tertarik dalam mengeksplorasi masalah. De Shazer mengatakan bahwa tidak perlu
mengetahui penyebab masalah untuk menyelesaikannya dan tidak perlu menghubungkan
antara penyebab masalah denga solusi. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidak
dibutuhkan dalam mengubah hal yang terjadi.
Jika mengetahui dan memahami masalah itu tidak penting, maka selanjtnya adalah mencari
solusi yang benar. Setiap orang mungkin mempertimbangkan banyak solusi, dan apa yang
benar bagi seseorang bisa jadi tidak benar menurut orang lain. dalam SFBC, konseli memilih
tujuan

penyelesaian yang mereka harapkan, dan sedikit perhatian dalam memberikan

diagnosis, pembicaraan masa lalu, atau eksplorasi masalah.


SFBC dibangun atas dasar asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten
serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi yang dapat meningkatkan kualitas
hidupnya dengan optimal. Asumsi pokok dalam SFBC ini bahwa kita memiliki kemampuan
untuk mengatasi tantangan hidup, walaupun kadang-kadang kita mungkin kehilangan arah
atau kesadaran tentang kemampuan kita. Tanpa memperhatikan apa yang dibentuk konseli
ketika mereka memulai konseling, Berg percaya konseli kompeten dan tugas konselor adalah
untuk membantu konseli mengenali kompetensi yang mereka miliki. Esensi dari konseling ini
adalah melibatkan konseli dalam membangun harapan dan optimis dengan membuat
ekspektasi positif dalam kemungkinan perubahan. SFBC adalah pendekatan non patologis
yang menekankan kompetensi dari pada kekurangan, dan kekuatan dari pada kelemahan.
Model SFBC membutuhkan sikap filosofis dalam menerima konseli dimana mereka dibantu
dalam membuat solusi. O Hanlon mendeskripsikan orientasi positif : menumbuhkan solusi
meningkatkan kehidupan manusia dari pada fokus pada bagian-bagian patologi masalah
dan perubahan menakjubkan dapat terjadi sangat cepat. Karena konseli sering datang ke
konseling dengan

pernyataan orientasi masalah, bahkan sedikit solusi yang mereka

pertimbangkan bersampul dalam kekuatan orientasi masalah. Konseli sering memiliki cerita
yang berakar dalam sebuah pandangan yang menentukan apa yang terjadi di masa lalu pasti
akan membentuk masa depan mereka. Konselor SFBC menentang pernyataan konseli dengan
percakapan optimis yang menyoroti keyakinan mereka dalam pencapaian , menggunakan
tujuan dari berbagai sudut. Konselor dapat menjadi penolong dalam membantu konseli
membuat pergeseran dari pernyataan masalah ke kondisi dengan kemungkinan-kemungkinan

baru. Konselor dapat mendorong dan menantang konseli untuk menulis cerita yang berbeda
yang dapat menyebabkan akhir yang baru.
B. HAKIKAT MANUSIA
Konseling berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif tentang sifat manusia,
tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli. Konseling berfokus solusi menganggap
manusia bersifat konstruktivis. Sehingga, konseling berfokus solusi didasarkan pada asumsi
bahwa manusia benar-benar ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan.
C.PERKEMBANGAN PERILAKU
1.

STRUKTUR KEPRIBADIAN

Struktur kepribadian manusia berdasarkan teori SFBC adalah sebagai berikut:


a.

SFBC tidak menggunakan teori kepribadian dan psikopatologi yang ada saat ini

b.

Konselor tidak bisa memahami secara pasti tentang penyebab masalah individu

c.

Konselor perlu tahu apa yang membuat orang memasuki masa depan yang lebih baik

dan sehat, yaitu tujuan yang lebih baik dan sehat


d.
e.

Individu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi bisa mengubah tujuannya
Tujuan yang lebih baik dapat mengatasi masalah dan mengantarkan masa depan yang

lebih produktif
f.

Konselor perlu mengetahui karakteristik tujuan konseling yang baik dan produktif,

proses positif, saat ini, praktis, spesifik, kendali konseli dan bahasa konseli
g.

Sebagai ganti teori kepribadian dan psikopatologi, masalah dan masa lalu, SFBC

berfokus pada saat ini yang dipandu oleh tujuan positif


berdasarkan bahasa konseli dan dibawah kendalinya.

2.

PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH

Pribadi sehat berdasarkan teori SFBC adalah:

yang spesifik yang dibangun

a.

Manusia pada dasarnya kompeten, memiliki kapasitas untuk membangun, merancang/

merekonstruksikan solusi-solusi sehingga mampu menyelesaikan masalahnya


b.

Tidak berkutat pada masalah, tetapi fokus pada solusi dan bertindak mewujudkan solusi

yang diinginkaN

Pribadi bermasalah menurut SFBC adalah:


a.

Mengkonstruk kelemahan diri. Dengan cara mengkonstruk cerita yang diberi label

masalah dan meyakini bahwa ketidakbahagiaan berpangkal pada dirinya.


b.

Berkutat pada masalah dan merasa tidak mampu menggunakan solusi yang dibuatnya.

D.HAKIKAT KONSELING
Walter dan Peller berpikir mengenai konseling berfokus solusi sebagai model yang
menerangkan bagaimana orang berubah dan bagaimana mereka dapat meraih tujuan mereka.
Berikut ini beberapa asumsi dasar SFBC:
1.

Individu-individu yang datang konseling telah mempunyai kemampuan berperilaku

efektif, meskipun keefektifan tersebut mungkin untuk sementara terhambat oleh pikiran
negatif. Pikiran berfokus masalah mencegah orang dari mengenali cara efektif mereka dalam
menangani masalah
2.

Ada keuntungan untuk fokus positif pada solusi dan di masa depan. Jika konseli dapat

mereorientasi diri mereka dengan mengarahkan kekuatan mereka menggunakan solution


talk , merupakan suatu kesempatan bagus dalam konseling singkat
3.

Proses konseling diorientasikan pada peningkatan kesadaran eksepsi (harapan-harapan

yang menyenangkan) terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan proses perubahan
4.

Konseli sering mengatakan satu sisi dari diri mereka. SFBC mengajak konseli untuk

memerika sisi lain dari cerita hidupnya yang disampaikan.

5.

Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan besar. Seringkali, perubahan kecil

adalah semua yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dibawa konseli ke
konseling
6.

Konseli ingin berubah, memiliki kemampuan untuk berubah, dan melakukan yang

terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Konseli harus mengambil sikap kooperatif dengan
konseli daripada merancang strategi sendiri untuk mengendalikan hambatan. Ketika konselo
mencari cara untuk kooperatif dengan konseli, maka perlawanan/ resistensi tidak akan terjadi.
7.

Konseli bisa percaya pada niat mereka untuk menyelesaikan masalah mereka. Tidak ada

solusi yang benar untuk masalah spesifik yang dapat diaplikasikan pada semua orang.
Setiap individu unik dan begitu juga pada setiap penyelesaian masalahnya.
E.KONDISI PENGUBAHAN
Bertolino dan OHanlon menekankan pentingnya membuat kolaborasi hubungan terapeutik
dan perlu dilakukan untuk keberhasilan konseling. Diakui bahwa konselor memiliki keahlian
dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa konseli adalah
ahli dalam kehidupan mereka dan sering memiliki perasaan yang bagus tentang apa yang
harus dan tidak harus dilakukan di masa lalu dan begitu juga apa yang mungkin dilakukan di
masa depan. SFBC mengasumsikan pendekatan kolaboratif dengan konseli berbeda dengan
sikap edukatif yang biasanya dikaitkan dengan model terapi tradisional. Jika konseli terlibat
dalam proses terapeutik dari awal sampai akhir, perubahan meningkat sehingga konseling
akan sangat berhasil. Singkatnya, hubungan kolaborasi dan kooperatif

cenderung lebih

efektif dari pada hubungan hierarki dalam konseling.

F.TUJUAN
SFBC menawarkan beberapa bentuk tujuan:
-

Mengubah cara pandang situasi atau kerangka pikir

Mengubah situasi masalah dan menekankan pada kekuatan dan sumber daya konseli

Konseli didorong untuk terlibat dalam perubahan atau solution talk, dari pada

problem talk dengan asumsi bahwa apa yang dibicarakan adalah sebagian besar apa yang
akan dihasilkan

Berbicara tentang perubahan dapat menghasilkan perubahan. Secepat individu belajar

untuk berbicara dalam istilah kemampuan dan kompetensi mereka, apa sumber daya dan
kekuatan yang mereka miliki, dan apa yang siap mereka lakukan dan mengerjakannya,
mereka dapat mencapai hal utama dalam konseling.

2.

SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR

Mengidentifikasi dan memandu konseli mengeksplorasi kekuatan-kekuatan dan

kompetensi yang dimiliki konseli


-

Membantu konseli mengenali dan membangun perkecualian-perkecualian pada

masalah, yaitu saat-saat ketika konseli telah melakukan (memikirkan, merasakan) sesuatu
yang mengurangi atau membatasi dampak masalah
-

Melibatkan konseli untuk berpikir tentang masa depan mereka dan apa yang mereka

inginkan yang berbeda di masa depan


-

Konselor mengambil posisi tidak mengetahui untuk meletakkan konseli pada posisi

sebagai ahli mengenai kehidupan mereka sendiri. Konselor tidak mengasumsikan diri sebagai
ahli yang mengetahui tindakan dan pengalaman konseli
-

Membantu konseli dalam mengarahkan perubahan tetapi tidak mendikte konseli apa

yang ingin diubah


-

Konselor berusaha membentuk hubungan yang kolaboratif dan menciptakan suatu

iklim yang respek, saling menghargai dan membangun suatu dialog yang bisa menggali
konseli untuk mengembangkan kisah-kisah yang mereka pahami dan hayati dalam kehidupan
mereka
-

Konsisten dalam membantu konseli berimajinasi bagaimana mereka menginginkan hal

yang berbeda dan apa yang akan dilakukan untuk membawa perubahan tersebut terjadi
dengan menanyakan apa yang Anda inginkan dari datang kesini?, apa yang akan
membuat perbedaan untukmu? dan apa kemungkinan-kemungkinan yang Anda tandai
bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?.

3.

SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELI

Mau dan mampu berkolaborasi dengan konselor

Aktif terlibat dalam proses konseling

Memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah

G.MEKANISME PENGUBAHAN
1.

TAHAP-TAHAP KONSELING

a.

Establishing rapport. Yaitu pembentukan hubungan baik agar proses konseling berjalan

lancar seperti yang diharapkan. Agar tercipta iklim yang kolaboratif antara konselor dengan
konseli.
b.

Identifying a solvable complaint. Yaitu mengidentifikasi keluhan-keluhan yang akan

dipecahkan.
c.

Establishing goals atau menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling.

d.

Deigning an intervention atau merancang intervensi

e.

Strategic task that promote change. Yaitu tugas tertentu yang diberikan oleh konselor

untuk mendorong perubahan. Misalnya dengan meminta konseli untuk mengamati dengan
mengatakan: antara sekarang dan waktu mendatang kita bertemu, saya meminta anda untuk
mengamati, sehingga Anda dapat menggambarkan pada saya pada pertemuan mendatang, apa
yang terjadi di kehidupan Anda yang Anda inginkan terjadi secara berkelanjutan. Penugasan
tersebut mendorong konseli bahwa perubahan yang diinginkan pasti terjadi dan tidak
terelakkan. Hal tersebut sangat penting dipahami sebelum mereka memulai merancang
perubahan.
f.

Identifying & emphazing new behavior & changes. Yaitu mengidentifikasi dan

menguatkan perilaku baru dan perubahan.


g.
h.

Stabilization atau stabilisasi


Termination. Pada tahap terminasi, ciri-ciri pertanyaan yang diajukan konselor untuk

mengidentifikasi keberhasilan knseling yaitu: apa hal berbeda yang diperlukan dalam hidup

Anda yang dihasilkan dengan datang kemari sehingga Anda mengatakan bahwa pertemuan
kita bermanfaat?, dan ketika masalah Anda teratasi, hal berbeda apa yang akan Anda
lakukan?.

2.

TEKNIK-TEKNIK KONSELING
Exeption-Finding Questions : Pertanyaan tentang saat-saat dimana konseli bebas dari

masalah. SFBT didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat dalam hidup konseli ketika
masalah yang mereka identifikasi tidak bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian dan
disebut news of difference. Konselor SFBC mengajukan ask exeption question untuk
menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau ketika masalah yang
ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman hidup konseli di masa lalu ketika
dimungkinkan masalah tersebut masuk akal terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak
terjadi. Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian tersebut
kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju solusi. Eksplorasi ini
mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan

ada selamanya; juga

menyediakan kesempatan untuk meningkatkan sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan


menempatkan solusi yang mungkin. Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus
dilakukan agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini disebut
change-talk.
Miracle Questions : Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan
terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib terselesaikan. Konselor menanyakan jika
suatu keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam waktu semalam, bagaimana
Anda tahu bahwa masalah tersebut terselesaikan, dan apa yang akan berbeda?. Konseli
kemudian terdorong untuk menegaskan apa yang mereka inginkan agar merasa lebih percaya
diri dan aman, konselor bisa mengatakan: biarkan dirimu berimajinasi bahwa kamu
meninggalkan kantor hari ini dan kamu dalam rel untuk bertindak lebih percaya diri dan
aman. Hal berbeda apa yang akan kamu lakukan?. Mengubah hal yang dilakukann dan cara
pandang terhadap masalah

mengubah masalah tersebut. Meminta konseli untuk

mempertimbangkan keajaiban tersebut dapat membuka celah kemungkinan di masa depan.


Konseli didorong untuk mengikuti mimpinya sebagai cara dalam mengidentifikasi perubahan
apa saja yang paling ingin mereka lihat. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan bahwa
konseli dapat mulai

mempertimbangkan hal yang berbeda dalam hidupnya yang tidak

didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan dari masa lalu dan
masalah saat ini menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa depan.
Scaling Questions : Pertanyaan yang meminta konseli menilai kondisi dirinya (masalah,
pencapaian tujuan) berdasarkan skala 1-10. Konselor SFBC juga menggunakan teknik ini
ketika mengubah pengalaman konseli yang tidak mudah diobservasi, seperti perasaan,
keinginan atau komunikasi.
Coping Questions : Pertanyaan yang meminta konseli mengemukakan pengalaman sukses
dalam menangani masalah yang dihadapi.
Compliments : Pesan tertulis yang dirancang untuk memuji konseli atas kelebihan,
kemajuan, dan karakteristik positif bagi pencapaian tujuannya.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
1.

KELEBIHAN

a.

Pendekatan ini menekankan pada singkatnya waktu konseling

b.

Pendekatan ini fleksibel dan mempunyai banyak riset yang membuktikan

keefektifannya
c.

Pendekatan ini bersifat positif untuk digunakan dengan konseli yang berbeda-beda.

Maksudnya, teori konseing ini didasarkan pada asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah
sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi dalam
meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
d.

Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran yang menekankan

perubahan kecil pada tingkah laku


e.

Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling lainnya

2.

KELEMAHAN

a.

Pendekatan ini hampir tidak memperhatikan riwayat konseli

b.

Pendekatan ini kurang memfokuskan pencerahan

c.

Pendekatan ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi, sehingga membuat

perawatan ini mahal

8. TEKNIK KONSELING KURSI KOSONG (EMPTY CHAIR)


A. Pengertian
Menurut Lilis (81:2012) Teknik empty chair merupakan teknik yang paling
popular dan hasil eksperimen terbaik yang pernah dilakukan oleh pendekatan Gestalt
dan dikembangkan oleh Frederick Fritz Pearls. Teknik ini membantu mengatasi
konflik interpersonal dan intrapersonal. Ada dua jenis dialog berbeda yang dilakukan
dalam teknik kursi kosong. Klien diinstruksikan untuk memerankan top dog dan
under dog. Pada satu bagian dari sesi konseling yang dilakukan, konseli diminta
untuk duduk di satu kursi dan berperan sebagai top dog.
Teknik kursi kosong adalah suatu cara untuk mengajak klien agar
mengeksternalisasi proyeksinya. Dalam teknik ini, dua kursi diletakkan ditengah
ruangan. Melalui teknik ini introyeksi-introyeksi bisa dimunculkan ke permukaan dan
klien bisa mengalami konflik lebih penuh. ( Corey, 2013:134).
Menurut Joyce & Sill (dalam Safaria, 2005), teknik ini dapat digunakan
sebagai suatu cara untuk memperkuat apa yang ada di pinggir kesadaran klien, untuk
mengeksplorasi polaritas, proyeksi-proyeksi, serta introyeksi dalam diri klien. Teknik
kursi kosong sebagai alat biasanya digunakan untuk membantu klien dalam
memecahkan konflik-konflik interpersonal, seperti kemarahan pada seseorang, merasa
diperlakukan tidak adil, dan sebagainya.
B. Tujuan
Menurut Flanagan (2004:162) dalam Ratna (35:2012) tujuan dari teknik kursi
kosong adalah untuk membantu klien keluar dari dalam permainan Penyiksaan Diri.
Yang dimaksud keluar dari penyiksaan diri adalah menyelesaikan konflik yang ada
pada pribadi individu yang mengganggu totalitas kepribadiannya. Konflik merupakan
Unfinished bussines. Dengan membawa unfinished bussines kedalam situasi Disini
dan Sekarang, teknik kursi kosong memberikan individu untuk bergerak menuju
resolusi dan untuk menyelesaikan ufinished bussines. Secara rinci tujuan dari empty
chair ini adalah:
1. Untuk mengakhiri konflik-konflik dengan jalan memutuskan urusan-urusa yang
tidak selesai yang berasal dari masa lampau klien.
2. Sebagai alat membantu klien agar ia memperoleh kesadaran yang penuh dalam
menginternalisasikan konflik yang ada pada dirinya.
3. Klien menjadi sabar akan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka
melakukan itu, dan bagaimana mereka mengubah diri dan pada waktu yang sama
untuk belajarmenerima dan menghargai diri sendiri.
4. Agar terjadi katarsis pada diri konseli.

5. Sebagai upaya pengungkapan permasalahan yang terpendam.


6. Memperlancar komunikasi.
7. Membantu konseli mengenali introyeksi-introyeksi parental

yang

tidak

menyenangkan bagi konseli, yang sebelumnya mungkin diabaikan, tidak disadari


sepenuhnya,dan tidak dianggap ada.
8. Membantu konseli mencapai kesadaran yang lebih peuh dan menginternalisasi
konflik yang ada pada dirinya.
9. Digunakan untuk mencegah konseli memisahkan perasaannya, dengan cara
membantu konseli menyadari bahwa perasaan adalah bagian diriyang sangat
nyata.
10. Mengusahka fungsi yang terpadu dan penerimaan atas aspek yang coba dibuang
atau diingkari.
11. Klien bisa bertanggung jawab atas segala konsekuensi atas apa yang ia kerjakan
setelah terapi.

Menurut Ratna (2013:83) tujuan dari empty chair ini adalah :


1. Untuk menakhiri konflik-konflikdengan jalan memutuskan urusan-urusan
yang tidak selesei yang berasal dari masa lampau klien
2. Sebagai alat membantu klien agar ia memperoleh kesadaran yang lebih penuh
3.

dalam menginternalisasikan konflik yang ada pada dirinya


Klien menjadi sadar akan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka
melakukan itu, dan bagaiamana mereka mengubah diri dan pada waktu yang

4.
5.
6.
7.

sama untuk belajar menerima dan menghargai diri mereka sendiri


Agar terjadi katarsis dalam diri konseli
Sebaai upaya mengungkapkan perasaan yang terpendam
Memperlancar komunikasi
Membantu konseli mengenali introyeksi-introyeksi parental yang tidak

menyenangkan bagi konseli


8. Membantu konseli mencapai

kesadaran

yang

lebih

penuh

dan

menginternalisasikan konflik yang ada pada dirinya


9. Digunakan untuk mencegah konseli memisahkanperasaannya, dengan cara
membantu konseli menyadari bahwa perasaan adalah bagian diri yang sangat
nyata
10. Mengusahakan fungsi yang terpadu dan penerimaan atas aspek kepribadian
yang coba di ingkari oleh klien
11. Klien bisa bertanggung jawab atas segala konsekuensi atas apa yang ia
kerjakan setelah terapi.
C. Tipe/Jenis

Menurut M.Eyoung (dalam Efrod, 2016:120) terdapat beberapa variasi dalam teknik
empty chair yaitu sebagai berikut:
1. Dialog khayalan
Contohnya, jika seorang klien memeliki keluhan somatis, konselor professional
dapat memerintahkan klien untuk bercakap-cakap dengan bagian tubuh sebagai
upaya untuk menemukan apakah sakitnya memberikan keuntunan untuk klien
dengan mejadi sadar akan keuntungannya, klien mungkin akan mampu mengatasi
masalahnya
2. Forced catastrophes (malapetaka yang dipaksakan)
Teknik ini biasanya ditemukan pada individu-individu yang yang mengalami
kecemasan. Teknik ini dapat digunakan dengan klien-klien yang selalu
mengharapkan yang terburuk. Konselor professional bekerja bersama klien dan
bersikeras agar klien menghadapi skenario yan seburuk-buruknya bahkan jika hal
itu mustahil.konselor professional membantu klien untuk mengekspresikan emosiemosi yang menyertai situasi mimpi buruk itu.
Variasi teknik empty chair
1. Digunakan untuk anak-anak
Vernon

dan

Clemente

(2004)

dalam

Bradley

(120:2016)

mengilustrasikanvariasi teknik empty chair untuk digunakan dengan anak-anak.


Dalam metode ini, konselor profesional memerintahkan anak itu memainkan sisi
konfliknya. Jika konfliknya intrapersonal, konselor profesional memerintahkan
anak itu untuk memilih salah satu sisi untuk mulai. Setelah anak itu
mengekspresikan dirinya, konselor profesional meminta anak untuk pindah kursi
kosong dan mengekspresikan sisi yang berlawanan dari masalah itu.
Memerintahkan anak untuk bertukar-tukar kursi perlu dilakukan sampai kedua sisi
diekspresikan secara adekuat. Jika anak itu mengalami kesulitan untuk berbiacar
kepada sebuah kursi, gunakan perekam sebagai pengganti kursi.
2. Dialog khayal
Contohnya, jika seorang klien memiliki banyak keluhan somatis, konselor
profesional dapat memerintahkan klien untuk bercakap-cakap dengan bagian
tubuh sebagai upaya untuk menemukan apakah sakitnya memberikan keuntungan
untuk klien. Dengan menjadi sadar akan keuntungannya, klien mungkin akan
mampu mengatasi masalahnya. ( M.E Young, 2013 dalam Bradley, 2016).

3. Malapetaka yang dipaksakan (forced catastrophes)


Forced catastrophes adalah variasi teknik empty cahir, variasi ini seharusnya
digunakan secara berhati-hati, khususnya jika bekerja bersama individu-individu
yang mengalami kecemasan. Teknik ini dapat digunakan dengan klien-klien yang
selalu mengharapkan yang terburuk. Konselor profesional bekerja bersama klien
dan bersikeras agar klien menghadapi skenario yang seburuk-buruknya, bahkan
jika hal itu mustahil terjadi. Konselor profesional membantu klien untuk
mengekspresikan emosi-emosi yang menyertai situasi mimpi buruh itu. (M.E
Young, 2013 dalam Bradley 2016).

D. Prosedur
Menurut Young (2013) dalam Erford (2016:118) mengemukakan bahwa prosedur
teknik kursi kosong ada enam langkah, yakni:
1. Di langkah pertama, konselor profesional menjelaskan mengapa teknik ini akan
digunakan sebagai upaya untuk menumpas resistensi apa pun yang mungkin
dimiliki klien. Konselor menata dua buah kursi yang saling berhadapan, dua kursi
tersebut merepresentasikan kedua polaritas. Polaritas adalah hal-hal yang
berlawanan, misalnya baik-jahat, terang-gelap, dan sebagainya. Bagi klien,
menyadari perasaan-perasaan yang berlawanan dalam dirinya sangatlah penting
sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya. Selanjutnya, klien akan duduk di
salah satu kursi yang merepresentasikan sisi yang berlawanan.
2. Di langkah kedua, konselor profesional bekerja bersama klien untuk
memperdalam pengalaman itu. Konselor mulai meminta klien untuk memilih sisi
polaritas kepada siapa klien memiliki perasaan paling kuat. Klien kemudian diberi
waktu untuk mengenal dengan baik dan menjadi lebih sadar akan perasaannya.
Konselor perlu membantu klien untuk tetap disini dan sekarang dengan
menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membawa klien ke saat ini.
3. Di langkah ketiga, klien diminta untuk mengekspresikan sisi polaritas yang paling
menonjol. Selama pengekspresian, konselor tidak boleh bersikap menghakimi.
Dengan tetap disini dan sekarang, klien harus mempraktikkan pengalamannya dan
bukan sekedar mendeskripsikan. Konselor dapat menginstrusikan klien untuk
menggunakan gestur atau ekspresi vokal yang dilebih-lebihkan. Untuk
memperdalam pengalaman itu, konselor dapat meminta klien untuk mengulangi

beberapa frasa atau kata. Dalam langkah ini, konselor seharusnya menanyakan
pertanyaan apa dan bagaimana, bukan pertanyaan mengapa. Ketika klien sudah
mencapai titik yang dianggap konselor sebagai titik yang tepat untuk berhenti,
konselor meminta klien untuk berpindah kursi. Titik berhenti hanya dapat
ditentukan oleh konselor, dan terjadi apabila klien sudah mengekspresikan dirinya
secara penuh.
4. Di langkah keempat, selama klien duduk di kursi yang berlawanan, ia menanggapi
ekspresi yang pertama. Konselor membantu memperdalam pengalaman klien
dengan mendorong klien untuk mengekspresikan argumen sebaliknya, selain itu
dengan membangkitkan respon emosional.
5. Di langkah kelima, konselor meminta klien bertukar-tukar peran sampai konselor
atau klien menentukan bahwa masing-masing sisi dari masalah itu telah
diartikulasikan semua. Hal ini memungkinkan klien untuk menjadi sadar akan
kedua sisi polaritas.
6. Di langkah keenam, berfokus pada bagaimana membuat klien menyetujui sebuah
rencana tindakan. Konselor dapat memberikan pekerjaan rumah sebagai cara
untuk membuat klien menginvestigasi kedua sisi dikotomi.
E. Kelebihan dan Kelemahan
Menurut Ratna (2013) Kelebihan dalam pengunaan teknik kursi kosong antara lain :
1. Klien berperan aktif dalam konseling sebagai top dog dan under dog
2. Dapat memotivasi klien untuk berubah menjadi lebih baik
3. Dapat digunakan untuk membantu klien yang mengalami konflik-konflik internal
yang hebat. Misal: rasa kurang percaya diri, tertekan dengan keadaan lingkungan
seperti dilingkungan kerja.
Sedangkan bebrapa kendala yang dapat menghambat proses penggunaan empty chair
ini diantaranya :
1. Tidak semua klien mampu memerankan menjadi orang lain.
2. Klien seringkali tidak jujur terhadap perasaannya sendiri sehinga menghambat
dalam penggunaan teknik ini.
3. Ketidaksiapan konseli untuk mengekspresikan sikap, perasaan, dan pikirannya
secara terbuka.
4. Lemahnya kosentrasi.
5. Minimnya kemampuan konselor yang berperan sebagai frustator.
F. SASARAN

1. Teknik kursi kosong berguna dalam menangani klien yang memiliki urusan yang
belum selesai (unfinished business)
2. Klien yang mengalami konflik masa lalu dengan orang tua atau lain pada masa
kecil.
9.SOSIODRAMA
2.1 Definisi Teknik Sosiodrama
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalahmasalah yang berkaitan dengan fenomena social, permasalahan yang menyangkut
hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga
yang otoriter, dan lain sebaginya. Sosiodrama digunakan untuk memeberikan pemahaman
dan penghayatan akan masalah-masalah sosial sera mengembangkan kemampuan siswa
untuk memecahkannya (Depdiknas, 2008:23).
Menurut Romlah (dalam Ratna, 2013:90) sosiodrama adalah permainan peran yang
ditujuan untuk memecahkan masalah social yang timbul dalam hubungan antara manusia.
Menurut Ratna (2013:90) teknik sosiodrama adalah teknik bermain peran dalam
rangka untuk memecehkan masalah social yang timbul dalam hubungan interpersonal
yang dilakukan dalam kelompok.
Menurut Ahmadi dan Supriyono (2013: 123) sosiodrama adalah suatu cara dalam
bimbingan yang memberikan kesempatan pada murid-murid untuk mendramatisasikan
sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang seperti yang dilakukan dalam hubungan
sosial sehari-hari di masyarakat. Maka dari itu sosiodrama dipergunakan dalam
pemecahan masalah sosial yang mengganggu belajar dengan kegiatan drama sosial.
Menurut Winkel dan Hastuti (2013: 571), sosiodrama merupakan dramatisasi dari
persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam pergaulan dengan orang-orang lain,
termasuk konflik yang sering dialami dalam pergaulan sosial. Untuk itu digunakan role
playing, yaitu beberapa orang yang mengisi peranan tertentu dan memainkan suatu
adegan tentang pergaulan sosial yang mengandung persoalan yang harus diselesaikan.
Sosiodrama berbeda dengan psikodrama. Sosiodrama bersifat kegiatan pedagogik yang
bertujuan membantu baik pihak peran maupun para penyaksi untuk lebih menyadari seluk
beluk pergaulan sosial dan membantu mereka meningkatkan kemampuan bergaul dengan
orang lain. Sosiodrama menekankan aspek perkembangan sosial seseorang, bukan inti

paling dasar dari kepribadiannya. Oleh karena itu, sosiodrama merupakan kegiata yang
dapat sangat cocok untuk membantu banyak orang muda dalam meningkatkan
perkembangan sosialnya. Sosiodrama sangat sesuai sebagai kegiatan dalam rangka
program bimbingan kelompok.
Berdasarkan pengertian sosiodrama di atas maka kami dapat menyimpulkan bahwa
sosiodrama adalah teknik mendramatisasi atau bermain peran mengenai permasalahanpermasalahan sosial yang timbul dalam hubungan intrapersonal yang terdapat didalam
suatu kelompok. Serta sosiodrama digunakan untuk memeberikan pemahaman dan
penghayatan akan masalah-masalah sosial dan mengembangkan kemampuan siswa untuk
memecahkan permasalahan yang ada.
2.2 Tujuan Teknik Sosiodrama
Menurut Hendrarno, dkk (dalam Ratna, 2013: 90) menyatakan bahwa tujuan
sosiodrama yaitu mengidentifikasi masalah, memahami masalah, dan mencarikan jalan
keluar pemecahan sehingga terjadi perubahan dan perkembangan pada diri anak.
Secara lebih rinci tujuan sosiodrama adalah:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Individu berani mengungkapkan pendapat secara lisan/melatih komunikasi


Memupuk kerjasama
Dapat menjiwai tokoh yang diperankan
Melatih cara berinteraksi dengan orang lain
Menunujak sikap berani dalam memerankan tokoh
Dapat menumbuhkan rasa percaya diri
Untuk mendalami masalah sosia
Menurut Abu Ahmadi & Widodo Supriyono (2013:123-124) Tujuan penggunaan

sosiodrama dalam teknik bimbingan adalah sebagai berikut:


1. Menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang dalam menghadapi situasi
sosial.
2. Bagaimana menggambarkan cara memecahkan suatu masalah sosial.
3. Menumbuhkan dan mengembangkan sikap kritis terhadap tingkah laku yang harus
atau jangan sampai diambil dalam situasi sosial tertentu saja.
4. Memberikan pengalaman atau penghayatan situasi tertentu.
5. Memberikan kesempatan untuk meninjau situasi sosial dari berbagai sudut pandang.
Berdasarkan penjelasan dari Abu Ahmad & Widodo Supriyono di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengunakan metode sosiodrama memiliki
tujuan dalam merangsang sikap kritis siswa dalam menanggapi situasi sosial, sehingga

diharapkan siswa memiliki kesempatan untuk meninjau situasi sosial dari berbagai sudut
pandang sebagai upaya mengkaji dan menemukan cara pemecahan suatu masalah sosial.
Dengan cara tersebut dapat memunculkan kepercayaan diri siswa melalui penerapan
pembelajaran sosiodrama.
2.3 Manfaat Teknik Sosiodrama
Menurut

Djumhur

(dalam Ratna, 2013: 90 ) menyatakan bahwa sosiodrama

dipergunakan sebagai suatu teknik didalam memecahkan masalah-masalah social dengan


melalui kegiatan bermain peran.
Sedangkan menurut hendrarno, dkk (2003 :73) sosiodrama berfungsi mengadaptasi
dan menyesuaikan.
Dari dua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa fungsi sosiodrama sebagai suatu
teknik didalam memecahkan masalah sosial, mengadaptasi dan menyesuaikan melalui
bermain peran.

2.4 Relevansi Teknik Sosiodrama


Konflik-konflik social sosiodrama adalah konflik-konflik yang tidak mendalam yang
tidak menyangkut gangguan kepribadian. Misalnya konflik dengan teman, konflik dengan
orang tua, desensitisasi sistematis. Sosiodrama merupakn kegiatan yang bertujuan untuk
mendidik atau mendidik kembali dari pada kegiatan penyembuhan. Sosiodrama dapa
dilakukan bila sebagian besar anggota kelompok

menghadapi masalah sosial yang

hampir sama, atau bila ingin melatih atau mengubah sikap-sikap tertentu.
2.5 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Teknik Sosiodrama
Menurut Hendrarno (dalam Ratna, 2013: 91) meyatakan bahwa sosiodrama sebagai
teknik bimbingan tidak terlalu menekankan pada seni acting, blocking, maupun indahnya
suatu dialog, tapi mengarah pada ekspresi-ekspresi yang spontan, ide-ide dan pemikiran
baru, penemuan jalan keluar, penyaluran afek-afek yang tertekan serta improvisasi psikis
kearah perkembangkan.
Hendrarno, dkk juga menambahkan sebaiknya tema cerita disesuaikan dengan
masalah yang timbul dan perkembangan anak. Jumlah anak sebaiknya tidak terlalu besar.

Disarankan jumlah pemerannya antara lima orang, sebanyak-banyaknya sepuluh orang.


Arah dan jalan ceritanya lebih diserahkan pada murid, namun setelah itu, perlu dilakukan
diskusi yang dipimpin oleh pembimbing. Hal ini yang perlu diperhatikan adalah dalam
sosiodrama perlu adanya pengitegrasian beberapa ilmu serta terjadinya berbagai proses
seperti sebuah akibat, pemecahan masalah dan lain sebagainya.
Bilamana konselor sekolah memutuskan untuk menggunakan sosiodrama dalam
rangka kegiatan bimbingan kelompok untuk satuan kelas tertentu (grup guidance cllas),
dia harus berpegangan pada pola prosedural yang pada dasarnya sebagai berikut:
a. Persoalan yang menyangkut pergaulan dengan orang lain diketengahkan dan
diuraikan situasi pergaulan yang akan dikaji. Situasi itu harus cocok untuk
disandiwarakan, mudah dipahami, dan cukup biasa bagi siswa karenna telah
mengalaminya sendiri. Siswa perlu diingatkan bahwa pembawaan adegan bukan
tontonan yang menjadi bahan tertawaan.
b. Ditentukan para pemeran yang akan maju untuk memawakan adegan sseuai denga
situasi yang telah digariskan. Penenetuan ini didasakan pada kerelaan beberapa siswa
yang menyatakan kesediannya untuk mau dan mrmrgang peranan tertentu. Tidak
boleh ada unsur paksaan dalam penetuan para partisipan.
c. Para pemeran membawakan adegan secara spontan dan improvisasi, tanpa persiapan
lain daripada mengetahui apa dan siapa yang harus mereka perankan. Adegan
dimainkan seolah olah sungguh-sungguh terjadi sekarang menurut situasi pergaulan
yang telah digariskan. Permainan tidak boleh berjalan terlalu lama dan hany berjalan
cukup lama untuk mengetengahkan situasi problematis serta cara pemecahannya.
Namun, permainan harus segera dihentikan kalau konselor mmenyadari bahwa salah
seorang peran mengungkapkan masalahnya sendiri atau menggambarkan situasi
keluarganya sendiri. Dengan kata lain, penyandiwaraan sudah bukan permainan,
melainkan ungkapan ketegangan pribadi dihadapan orang lain.
d. Setelah dramtisasi selesai, para pemeran melaporkan apa yang mereka rasakan sealam
berperan dan apa alasannya mereka mengusulkan cara pemecahan situasi probelamtis
seperti yang disandiwarakan, atau apa alasannya sehingga ereka tidak berhasil
menyelesaikannya secara memuasakan.
e. Para penyaksi mendiskusikan jalnannya permainan tadi dan efektifitas dari cara
pemecahan yang terungkap dalam dramatisasi.
f. Bila dianggap perlu, adegan yang sama diulang kembali dengan mengambil pelakupelaku yang lain.

Untuk mengisi acara dalam rangka kegiatan bimbingan kelompok untuk kelompok
siswa yang sangatbesar (guidance group), konsleor dapat menggunakan prosedur yang
mirip sosiodrama, dipersiapkan beberapa adegan yang akan dibawakan oleh beberapa
adegan yang akan dibawakan oleh beberapa pemain yang dapat diandalkan, yang diambil
dari kalangan siswa atau dari luar sekolah. Dalam mempersiapkan diri para pemain dapat
berpegangan pada suatu naskah tertulis yang dihafal. Sesudah seluruh adegan selesai
dibawakan, siswa-siswi dibagi dalam sejumah kelompok kecil yang masing-masing diberi
pertanyaan untuk didiskusikan. Setiap kelompok singkat membuat laporan singkat yang
kemudian dibacakan. Sebagai penutup, konselor menanggapi lapran-laporan itu dan
membuat kesimpulan.
2.6 Prosedur Penggunaan Teknik Sosiodrama
Keberhasilan proses permainan peran sangat tergantung pada kecerdasan dan
kemampuan pimpinan membantu pemain dalam menjalankan peran mereka. Pimpinan
disini bisa ketua organisasi, ketua pertemuan, atau anggota kelompok yang menguasai
proses permainan peran. Kegiatan permainan peran itu sendiri sebenarnya menjadi salah
satu langkah dari proses permainan peran. Langkah yang lain berfungsi mempersiapkan
pemain dan pengamat, atau membantu menginterpretasikan permainan. Permainan peran
sebagai proses pendidikan meliputi beberapa langkah. Pimimpin harus menguasai setiap
langkah dan memberitahukannya kepada anggota kelompok.
Menurut Sudjana (2005:85) menjelaskan petunjuk sosiodrama, diantaranya:
1. Menetapkan dahulu masalah-masalah sosial yang menarik perhatian siswa untuk
dibahas.
2. Menceritakan kepada kelas mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita
tersebut.
3. Menetapkan siswa yang dapat atau yang bersedia untuk memainkan perannya di
depan kelas.
4. Menjelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka pada waktu sosiodrama
sedang berlangsung.
5. Memberi kesempatan kepada para pelaku untuk berunding beberapa menit sebelum
mereka memainkan peran.
6. Mengakhiri sosiodrama pada waktu situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
7. Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah
persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut.
8. Menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut.

Sedangkan menurut Ratna (2013:94) prosedur teknik sosiodrama adalah sebagai


berikut:
1. Konelor menjelaskan tentang pengertian, tujuan serta teknik pelaksanaan sosiodrama
kepada siswa.
2. Menentukan topic dan tokoh yang akan diperankan dalam sosiodrama tersebut, serta
menetapkan tujuan spesifik dari masing-masing penentuan topiknya.
3. Konselor menyusun scenario, dalam sosiodrama scenario harus ada. Scenario
biasanya disusun oleh pemimpin kelompok, dalam hal ini konselor. Akan tetapi bisa
juga pemimpin kelompok hanya memberikan poin-poin pentingnya saja, kemudian
untuk detailnya siswa yang menyusun.
4. Menentukan kelompok sesuai naskah, yang dimulai dari kelompok pemain peran,
kelompok audience, dan kelompok observer.
5. Setelah itu, sosiodrama dapat langsung dilaksanakan homeroom ini yaitu waktu yang
sudah disepakati sebelumnya. Waktu yang efektif untuk sosiodrama yakni kurang
lebih 25 menit untuk berperan, 20 menit untuk diskusi, untuk sesi diskusi sendiri
dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi diskusi scenario dan diskusi untuk bermain peran.
6. Setelah sosiodrama itu dalam puncak klimaks, maka guru/konselor dapat
menghentikan jalannya sosiodrama tersebut. Kemudian diadakan diskusi mengenai
cara-cara pemecahan masalahnya, selain itu diskusi para tokohnya dan proses
sosiodrama.
7. Guru/konselor dan siswa dapat memberikan komentar, kesimpulan atau catatan untuk
perbaikan sosiodrama selanjutnya.
2.7 Kelebihan Teknik Sosiodrama
1. Menggunakan keterampilan interpersonal individu.
2. Melatih individu mengekspresikan diri.
3. Memperkaya pengalaman menghadapi problematika sosial.
4. Lebih mudah dalam memahami masalah-masalah sosial karena individu mengalami
senidiri, melalui proses belajar.
5. Dapat mengembangkan kreatifitas siswa (dengan peran yang dimainkan siswa dapat
berfantasi).
6. Memupuk kerjasama antara siswa.
7. Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama.
8. Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.
9. Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.
10. Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil kesimpulan dalam waktu
singkat.
2.8 Kelemahan Teknik Sosiodrama
1. Jika individu kurang bisa memerankan perilaku yang diharapkan, maka tujuan
pelaksanaan teknik sosiodrama bisa jadi kurang tercapai.
2. Tidak semua individu mau memerankan tokoh yang telah direncanakan.

3. Sosiodrama dan bermain peran memerlukan waktu yang relative panjang.


4. Memerlukan kreatifitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid. Dan
ini tidak semua guru memilikinya.
5. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan
suatu adegan tertentu.
6. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain peran mengalami kegagalan, bukan saja
dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak
tercapai.
7. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.

VERBATIM TEKNIK DESENTISASI SISTEMATIS

No SUBJEK DIALOG
1. konseli
Assalamualaikum..

TAHAP/ TEKNIK

2. konselor Waalaikumsalam Wr.Wb.

PENYAMBUTAN

Andin, mari silahkan masuk, silahkan duduk

opening

pilih tempat duduk mana yang paling nyaman


disini atau disana?
3. konseli
Disini saja Bu, lebih nyaman.
4. konselor Oh ya Andin, Ibu dengar kamu kemarin juara

TOPIK NETRAL

kelas ya?
5. konseli
Ya bu, alhamdulillah bu saya merasa senang
6. konselor Alhamdulillah bu
7. konselor Ibu senang sekali kamu telah bersedia datang

PENGALIHAN

kemari. Namun demikian, ibu tidak akan tahu

TOPIK INTI

permasalahan yang kamu hadapi sebelum kamu Confidentiality limit


bercerita pada ibu. Jangan khawatir, semua yang
akan kamu ceritakan, tidak akan diketahui oleh
siapapun. Ibu akan menjaga kerahasian
9. konseli

masalahmu.
Diam.(menunduk cemas)
Begini Bu, saya selalu merasa cemas dan lari

setiap melihat laba-laba


10. konselor Jadi, Andin merasa takut dengan laba-laba

Analisis Perilaku
Yang Menimbulkan
Masalah

11. konseli

Iya Bu.. saya seringkali lari setiap teman-teman

menakuti saya dengan laba-laba di hadapan saya


12. konselor Sita telah mengalami kecemasan itu sejak SMPrestatement
13. konseli
Ya (diam sambil menunduk)
Saya sering takut jika ketika saya duduk di
sekolah dari atas ada laba-laba yang besar dan
menghampiri saya
14. konselor Nampaknya Dek Andin sangat khawatir dan jika Reflection of feeling
15. konseli

hal tersebut terjadi


Saya memang saya takut bu ketika saya melihat
teman saya memberi laba-laba ketika pelajaran
olahraga dan saya menangis ketika laba-laba itu
di depan saya

16. konselor Jadi, selama pembicaraan kita tadi, intinya A

Clarification

Andin lebih mencemaskan apa yang dikatakan

Penyusunan

oleh teman-teman di kelas terhadap Andin..

Hierarkhi Situasi

Jika Ibu simpulkan, susunan situasi yang

Yang Menimbulkan

menimbulkan kecemasan pada Andin yaitu:

Masalah Dari

2.VERBATIM BIBLIOTERAPI

No SUBJEK DIALOG
1. konseli
Assalamualaikum..
2. konselor Waalaikumsalam Wr.Wb.

TAHAP/ TEKNIK
PENYAMBUTAN

Andin, mari silahkan masuk, silahkan opening


duduk pilih tempat duduk mana yang
paling nyaman disini atau disana?
3. konseli
Disini saja Bu, lebih nyaman.
4. konselor Oh ya Andin, Ibu dengar kamu

TOPIK NETRAL

mendapatkan beasiswa ya? Selamat ya


5. konseli

semoga dapat bermanfaat.


Ya bu, alhamdulillah bu saya merasa
senang dan merasa bersyukur akan hal
ini karena beasiswa tersebut dapat

membantu perekonomian keluarga saya.


6. konselor Alhamdulillah
7. konselor Ibu senang sekali kamu telah bersedia PENGALIHAN TOPIK
datang kemari. Namun demikian, ibu

INTI

tidak akan tahu permasalahan yang kamuConfidentiality limit


hadapi sebelum kamu bercerita pada ibu.
Jangan khawatir, semua yang akan kamu
ceritakan, tidak akan diketahui oleh
siapapun. Ibu akan menjaga kerahasian
9. konseli

masalahmu.
Diam.(menunduk cemas)
Begini Bu, saya merasa saya
permasalahan yang merasa berat. Ayah
saya seorang tukang becak dan ibu saya
hanya buruh cuci. Pendapatan kami
sangat pas-pasan. Terkadang terbesit di
pikiran saya saya ingin menjadi seperti
teman-teman yang mendapatkan fasilitas
yang lengkap dapat membeli yang apa

dimau.
10. konselor Ibu mengerti pasti Andin merasa berat
11. konseli
Iya Bu.. saya merasa sedih dan iri

Reflection of Feeling

kepada teman-teman yang bisa beli baju


bagus,dan hp yang bagus
12. konselor Andin merasa iri karena keadaan
13. konseli

Restatement

keluarga Andin
Ya (diam sambil menunduk)
Saya sering merasa bahwa saya berbeda

dengan teman-teman yang lain.


14. konselor Semangat dek andin dek andin pasti bisa Reassurance

VERBATIM TEKNIK RELAKSASI

1. konseli
Assalamualaikum..
2. konselor Waalaikumsalam Wr.Wb.

PENYAMBUTAN

Andin, mari silahkan masuk, silahkan opening


duduk pilih tempat duduk mana yang
paling nyaman disini atau disana?
3. konseli
Disini saja Bu, lebih nyaman.
4. konselor Bagaimana kabar Andin hari ini?
5. konseli
Ya bu, alhamdulillah bu saya merasa

TOPIK NETRAL

senang dan merasa bersyukur disetiap


hari.
6. konselor Alhamdulillah
7. konselor Ibu senang sekali kamu telah bersedia
datang kemari. Namun demikian, ibu

PENGALIHAN TOPIK
INTI

tidak akan tahu permasalahan yang kamuConfidentiality limit


hadapi sebelum kamu bercerita pada ibu.
Jangan khawatir, semua yang akan kamu
ceritakan, tidak akan diketahui oleh
siapapun. Ibu akan menjaga kerahasian
9. konseli

masalahmu.
Diam.(menunduk cemas)
Begini Bu, saya merasa kurang fokus
belajar ketika ingin menghadapi UN.
Ketika ingn mengerjakan perasaan saya
merasa nervous dan kurang fokus ketika
mengerjakan soal bu. Saya merasa
kurang baik dalam belajar ditambah lagi
saat sedang deg-degan saya jadi

berkeringat
10. konselor Ibu mengerti pasti Andin merasa cemas Reflection of Feeling
11. konseli
Iya Bu.. saya merasa cemas ketika
mengerjakannya
12. konselor Andin merasa cemas?
13. konseli
Ya (diam sambil menunduk)

Restatement

Saya sering merasa bahwa saya tidak


mampu
14. konselor Semangat dek andin dek andin pasti bisa Reassurance
15. konseli
Terimakasih, bu akan tetapi saya kurang
bersemangat akhir-akhir ini
16. konselor hari ini ibu akan memeberikan treatment
relaksasi untuk membantu ketegangan
yang Andin rasakan. Apakah Andin

VERBATIM MODELING
elaku
Konseli
Konselor

Dialog
Assalammualaikum (sambil mengetuk pintu ruangan BK)
Waalaikumsalam (diucapkan setelah membuka pintu ruangan

Teknik

Konseli
Konselor

BK)
Selamat pagi, Bu! (sambil tersenyum)
Selamat pagi Andin, ayo silahkan masuk (dengan menjabat tangan Opening
Lala). Silahkan duduk Lala! Pilih kursi yang menurutmu nyaman

Konseli
Konselor

untuk duduk.
Terima kasih Bu, saya duduk disini saja.
Baiklah kalau begitu.

Konseli
Konselor

Bagaimana kabar kamu hari ini la?


Alhamdulillah.
Kemarin kan sekolah kita ini mengadakan akreditasi sekolah dan
alhamdulillah

mendapatkan

akreditasi

Topik Netral

apa

kamu

ikut

Konseli
Konselor

membersihkan sekolah waktu proses akreditasi?


Iya bu kelas saya besar
Wah, pasti seru sekali ya... Kedatangan Lala disini mungkin ada Kalimat Jembatan

Konseli
Konselor

yang akan dibicarakan dengan Ibu.


Iya Bu. Saya ingin meminta nasihat dan solusi dari Ibu.
Mmm..ya. Alangkah lebih baiknya kalau kita bicarakan bersama Role Limit
agar diperoleh pemecahan yang terbaik. Bagaimana, dapat

Konseli
Konselor
Konseli

dimengerti?
O-oh... Iya Bu. Saya mengerti.
Silahkan Lala dapat mulai bercerita.
Gini Bu, saya kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas
sampai-sampai saya merasa sendirian di kelas karena saya dianggap
bodoh. Lalu saya tidak mempunyai bakat apa-apa. Saya sangat
merasa terpukul bu tidak ada perasaan yang dapat mengerti

Konselor
Konseli

perasaan dan permasalahan saya


Merasa hanya sendirian?
Restatement
Iya Bu. Saya merasa tidak memiliki teman yang sangat akrab
sekali dengan saya. Yang bisa saya ajak untuk cerita, curhat,

Konselor
Konseli

bercanda.
Apa yang kamu rasakan dan membuat kamu berfikir seperti itu?
Lead
Saya merasa bodoh dan tidak pandai ketika ada guru mengajar
saya tidak berani untuk bertanya. Ketika mengerjakan tugas saya
sering mencontek pekerjaan dari teman saya yang harapannya saya
bisa mengerjakan tugas dengan baik. Malah saya merasa khawatir

Konselor

apabila saya tidak menjawab ketika akan diberi pertanyaan


Ibu mengerti apa yang kamu rasakan. Yang kamu butuhkan dan Acceptance

Konseli

inginkan adalah ingin merasa nyaman di kelas saat pembelajaran?


Iya Bu. Saya sedih sendirian terus menerus, tetapi ketika saya
ingin memulaki berkomunikasi dan menjawab terkadang guru tidak

Konselor

merespon saja
Iya, Ibu paham perasaanmu. Lala, Setiap orang yang belum Factual Prediction
mencoba tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jika kamu berani Prediction
untuk salah dan belajar lebih keras dalam keseharian

Konseli

Reassurance.

Iya Bu, Saya mengerti apa yang Ibu maksudkan. Tapi saya masih
sangat sulit mengubah diri saya bu. Bahkan orang tua saya merasa

Konselor

saya selalu memiliki nilai yang jelek


Baiklah, karena kamu merasa kesulitan dengan hanya memikirkan
atau membayangkan solusi permasalahanmu, kita akan memainkan
permainan peran. Hal ini dapat membantu kamu untuk memahami
dengan lebih mudah bagaimana untuk dapat bertingkah laku dengan
tepat dalam bergaul dengan teman-temanmu. Pemeranan tingkah
laku ini dapat diperankan oleh saya sendiri, atau kamu ingin salah

Konseli
Konselor

seorang temanmu di kelas untuk bermain peran bersama kita.


Mmm... saya akan pilih seorang teman saja di kelas Bu,..
Baiklah, kalau kamu ingin bantuan seorang teman untuk bermain
peran bersama kita tidak apa-apa. Ibu tekankan disini adalah
bagaimana kamu dapat memahami dan mengambil pelajaran untuk
mencontoh setiap perilaku positif yang akan ditunjukkan oleh

Konseli

model kita nanti


Iya Bu, saya rasa saya sudah tahu siapa yang bisa membantu saya,

Konselor

Ani saja Bu, dia teman sebangku saya.


Oke... Untuk sementara ini dari pembicaraan kita dapat Summary Bagian
disimpulkan bahwa kita telah membahas masalah kamu yaitu tidak Termination.
percaya diri. Lalu kamu merasa kesulitan dengan hanya memikirkan
atau membayangkan solusi permasalahanmu, sehingga kita akan
memainkan permainan peran.
Berhubung bel akan berbunyi sebentar lagi, maka marilah kita
akhiri pertemuan kali ini. Ibu menunggu kedatanganmu bersama
Dea ya nin...

Konseli

Iya Bu. Terima kasih ya Bu. Besok saya akan menemui Ibu

Konselor

bersama Ani. Baiklah Bu saya pamit dulu, Assalamualaikum


Iya La. Waalaikumsalam.

Konseli

Keesokan harinya
Assallamualaikum(datang

Konselor

mengetuk pintu dan juga memberikan salam )


Waalaikumsalam, mari silahkan masuk(sambil menjabat tangan Opening

bersama

Ani

ke

ruangan

BK,

mereka dengan bergantian sambil mempersilahkan duduk) silahkan


pilih tempat duduk ditempat yang kalian suka dan kalian rasa
Konseli

nyaman
Iya Bu, saya duduk di sini saja Bu.(Ani mengikuti Lala

Konselor
Teman

dibelakangnya)
Hallo Dea, bagaimana perasaanmu saat menuju ke ruangan ini?.
Saya deg-degan Bu,, heee...

Konseli
(Ani)
Konselor

Apakah kamu sudah diberi tahu kenapa kamu diajak kesini oleh

Teman

andin?
Sudah Andin, Lala sudah memberitahukan saya kok. Saya ikhlas

Konseli

untuk membantunya berubah ke arah yang lebih baik lagi.

(Ani)
Konseli

Terima kasih ya Ani.

(Lala)
Konselor

Alhamdulillah ya, sesama teman alangkah baiknya saling


membantu dan memudahkan seperti ini. Dengan kedatangan Ani
ini, selanjutnya kita akan memerankan skenario ini. Lala
membutuhkan contoh dari Ani untuk memerankan peran sebagai
Lala dulu. Ibu akan menjadi temanmu yang mencoba ingin
berteman dan bergaul denganmu, dan nanti silahkan Ani merespon

Konselor
Teman

Ibu ya?!
(menyalurkan demonstrasi model tersebut dalam urutan skenario)
Kita mulai ya Ani. Sekarang kamu menjadi Lala. Siap?
Iya Bu.. Saya siap.

Konseli
(Ani)
Konselor

Selamat pagi La, kenapa kamu tidak berani bertanya saat pelajaran

Topik Netral

(sebagai

tiba?

teman)
Ani

AkuAku tidak. Tidak ada apa-apa kok,(Dea tetap duduk)

(sebagai
Andin)
Konselor

Hei, pasti menyenangkan mengemukakan pendapat di kelas dan

(sebagai

bertanya akan pelajaran yang sudah dilaksanakan

teman)
Ani

MmmBaiklah aku akan memulai nya

(sebagai
Andin)
Konselor

Ooo, dengan senang hati , (tersenyum)

(sebagai
teman)
Konselor

Oke.. Terimakasih Dea. Kamu boleh duduk.


(duduk) Nah andin, apa yang bisa kamu amati, pahami, dan

Konseli

simpulkan dari contoh adegan tadi?


Mmm... Ternyata sebenarnya tidak begitu menakutkan untuk
memulai berga Bertanya Bu. Mungkin sebenarnya mereka juga
mengharapkan saya untuk bersama mereka seperti tadi. Berarti
tidak semua orang menunjukkan respon yang sama seperti

Konselor

pengalaman yang saya alami dulu yang tidak mengenakkan?


Iya, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kalau kita tidak
mencobanya

terlebih

dahulu.

Banyak

hal-hal

positif

dan

menyenangkan yang bisa kamu dapatkan bersama teman-temanmu


Konseli
Konselor

yang baru.
Ehmm(mengangguk-ngangguk)
OK. Setelah kamu mengamati Adea memainkan peranmu tadi,
sekarang kamu berani kan untuk memainkan peranmu sendiri?
Menunjukkan sikap-sikap dan tingkah laku yang lebih positif,

Konseli
Konselor

seperti Dea tadi,


Iya Bu, InsyaAllah saya bisa.
Ya sudah, ayo kita ulangi peranan itu tadi. Kamu perankan sebagi
dirimu sendiri. Jika ditengah adegan ini kamu merasakan perasaan
cemas atau kesulitan merespon, maka kamu boleh diam dulu,
jangan mengucapkan apa-apa untuk menetralisir perasaan itu, ok?

Konseli

Baik Bu,

Konselor

(adegan diulangi dengan konseli memainkan perannya sendiri)


Selamat pagi Lala, kenapa kamu tidak bertanya saat pelajaran

(sebagai

berlangsung? Kenapa tidak bergabung dengan teman-teman di

teman)
Konseli
Konselor

kantin?
(Terdiam sejenak, lalu berkata)AkuAku tidak ingin,
Hei, pasti menyenangkan bergabung dan bertanya dan tentu kamu

(sebagai

bisa menyerap pelajaran saat guru sedang menerangkan pelajaran

teman)
Konseli

EhmmBaiklah aku ikut dengan mu. Tapi nanti temani aku ya?

Konselor

Aku belum begitu dekat dengan teman-teman.


O, dengan senang hati Andin(tersenyum).

(sebagai
teman)
Konselor

Nah itu kamu bisa melakukannya, bagaimana perasaanmu saat kita

Konseli

bermain tadi?
Saya agak takut memulainya Bu, tapi setelah saya coba, tidak

Konselor

seburuk yang saya bayangkan


Dengan kata lain perasaan takutmu untuk memulai hubungan Clarification

Konseli

dengan orang lain sudah agak berkurang?


Iya Bu. Setelah menemukan hal yang positif, perasaan takut saya

Konselor

jadi berkurang,
Ya, sekarang yang perlu kamu lakukan coba kamu terapkan

Konseli
Konselor

tingkah laku tadi dengan teman-temanmu nanti di kelas,


Iya Bu, saya akan berusaha untuk mencobanya Bu
Baiklah, sebagai kesimpulan akhir dari pembicaraan kita, dapat Ibu Summary
kemukakan bahwa Lala mempunyai masalah yaitu tidak percaya Keseluruhan,
diri dalam bergaul dengan teman. Setelah kita melakukan Termination.
permainan peran tadi, Andin akan berusaha menerapkan tingkah
laku tadi dengan teman-temanmu nanti di kelas.
Ibu rasa cukup pertemuan hari ini, Ibu juga sebentar lagi ada rapat.
Kalian bisa kembali ke kelas, Ibu tunggu perkembangannya dari

Teman
Konseli
(Ani)

kamu La. Untuk Ani, terima kasih sudah membantu


Iya Bu, sama-sama, (tersenyum)

Konseli

Terima kasih Bu atas bantuannya, saya akan segera memberi kabar

Konselor

pada Ibu, terima kasih Bu,


Sama-sama. Jika kalian ada yang ingin dibicarakan atau mungkin

Konseli

sekedar curhat, kalian bisa menemui Ibu.


Terima
kasih
Bu,
kami

mohon

diri.

Assalamulaikum (sambil berdiri, berjabat tangan lalu berjalan


Konselor

menuju pintu keluar ruangan BK)


Iya, sama-sama, Waalaikumsalam

VERBATIM ASERTIF
No

Pelaku

Dialog

Konseling

Keterampilan

Keterangan

Dasar
Konseling

Konseli
Konselor

Konseli

Selamat pagi, bu
Selamat pagi juga.

Acceptance

Mengetuk pintu
Berdiri dari

Ehkamu Dian, mari

tempat duduk

masuk

dan berjalan

Terima kasih bu

menuju konseli
Konseli masuk
dengan wajah
letih

Konselor

Silakan duduk.

Acceptance

Konselor

Ehmkamu mau duduk

mengarahkan

dimana Dian? Di dekat

konseli ke

Konseli

meja saya atau di sofa?


Terima kasih bu, saya

tempat duduk
Konseli duduk

Konselor

ingin duduk di sofa


Baik Dian, apa kamu

di sofa
Konselor

merasa nyaman duduk di


sofa?

Cek persepsi

tersenyum

Konseli

Sudah bu, saya sudah

Konseli sedikit

Konselor

nyaman duduk di sofa


Ehm..apa saya boleh

Pertanyaan

tersenyum
Tersenyum,

duduk di sebelah kamu

terbuka

sambil

Dian?

mendekati
konseli

Konseli
Konselor

Konseli

Ya bu, silakan
Baik, bagaimana

Pertanyaan

keadaanmu hari ini Dian?

terbuka

Saya ada masalah bu, dan


saya ingin ikut konseling

Konselor

Konseli

Konselor

10

Konseli
Konselor

ibu.
Ehm..begitu. Apa

Pertanyaan

sebelumnya kamu pernah

tertutup

ikut konseling?
Saya tidak pernah ikut

Menatap wajah

konseling, bu. Apa boleh

konselor

saya ikut konseling ibu?


Boleh. Tapi..sebelumnya

Memimpin

saya akan menjelaskan

menatap wajah

dulu tentang konseling itu

konseli

ya Dian. Setuju?
Ya bu, saya setuju
Begini Dian, pada

Pernyataan

dasarnya konseling itu

professional

merupakan suatu proses


bantuan yang diberikan
oleh konselor kepada
konseli untuk membantu
memecahkan masalah
konseli. Dan konselilah
yang memecahkan
11

Konseli
Konselor

Tersenyum dan

masalahnya sendiri lho


Iya bu
Dalam hal ini konselor

Pernyataan

hanya membantu konsli

professional

menemukan alternatife
untuk memecahkan
12

Konseli

masalahnya sendiri
Oh, jadi begitu ya bu.

Konseli
menganggukanggukkan
kepala

Konselor

Ya, dan pertemuan kita

Pernyataan

dibatasi oleh waktu, dan

professional

waktu kita kurang lebih


45 menit. Jadi, kita
manfaatkan waktu yang
singkat ini dengan
13

Konseli
Konselor

sebaik-baiknya ya.
Ya bu.
Jika pada pertemuan

Penjelasan

pertama, masalahmu
belum terselesaikan,
maka kita bisa
mengadakan pertemuan
berikutnya, nah apa kamu
14

15

Konseli
Konselor

sudah paham?
Ya bu. Saya sudah paham
Nah, sekarang kamu bisa

Konseli

menceritakan masalahmu
Tapi bu, masalah saya

Konselor

akan aman kan, bu?


Oh begini

Pernyataan

Dian..dalamkonseling

professional

memiliki kode etik yang


tidak boleh dilanggar
oleh konselor. Jadi,
selama proses konseling
berlangsung, rahasia ini
hanya konseli dan
konselor yang tau.

Leading

16

Konseli

Bagaimana Dian?
Ya bu, sekarang saya
akan mencoba

17

Konselor
Konseli

menceritaka masalah saya


Baik Dian
Menguatkan
Begini bu, saat ini saya

Menundukkan

Konselor

sedang kebingungan
Ehmkamu merasa

Refleksi

kepala
Sambil

bingung

perasaan

menganggukanggukkan

18

19

Konseli
Konselor

Ya bu
Coba ceritakan apa yang

Konseli

membuat kamu bingung?


Saya bingung bu, nanati

kepala
Menghela nafas
Perntanyaan
terbuka

saat naik ke kelas XI,


saya mengambil jurusan
Konselor

apa?
Ehm..kamu bingung

Mengarahkan

dengan penjurusan.

dan
Reinforcement

20

Konseli

Iya bu, saya merasa tidak


kemampuan akademik
saya biasa saja. Jadi,
mana bisa saya masuk di
jurusan yang saya

Konselor

inginkan.
Kalau boleh saya tau,
kamu ingin masuk di

21

Konseli

jurusan apa?
Saya ingin masuk di

22

Konselor
Konseli

jurusan IPA bu.


Pilihan yang bagus Dian
Memang bagus sih bu,
tapi nilai saya standart,
terus saya tidak bisa
pelajaran fisika dan kimia

Menguatkan

Konselor

bu.
Ehm.. Yang saya ketahui,
dalam pemilihan jurusan
kan ada 2 pilihan, pilihan
yang ke 2 Dian memilih

23

Konseli

apa?
Kalau pilihan yang ke 2,
saya memilih jurusan

Konselor

24

Konseli

Bahasa bu.
Ok,,kalau boleh ibu tau,

Pertanyaan

apa alasan kamu memilih

terbuka

jurusan IPA?
Alasan saya, karena saya
ingin membanggakan

Konselor

ayah saya bu.


Kamu imgin masuk

Parafrase

jurusan IPA karena ingin


membanggakan ayah
25

Konseli

kamu.
Iya bu, dari dulu ayah
ingin saya masuk jurusan
IPA, karena ayah ingin
nanti saya kuliah di
kesehatan dan menjadi

Konselor

seorang Bidan.
Ok, kalau alasan kamu
ingin mengambil jurusan

26

Konseli

Bahasa apa?
Saya sangat suka dengan
pelajaran Bahasa, baik
Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Bahasa Arab dan

27

Konselor
Konseli

lain-lain.
Lanjutkan Dian
Saya punya angan-angan
bu, saya ingin menjadi

Memimpin
Konseli
tersenyum

seorang guru Bahasa


Konselor

Indonesia
Apa yang menbuatmu
tertarik menjadi seorang

28

Konseli

guru Bahasa Indonesia?


Karena saya dari kecil
suka dengan pelajaran
Bahasa Indonesia dan
nilai Bahasa Indonesia

Konselor

saya selalau baik.


Ehm..Dian sangat suka
dengan pelajaran bahasa

29

Konseli

Indonesia
Iya bu, sebenarnya saya
merasa terbebani bila
saya mengambil jurusan

30

Konselor

IPA.
Apa yang menbuatmu

Konseli

merasa terbebani Dian?


Sebenarnya saya tidak

Konseli

ingin mengambil jurusan

tertunduk

IPA bu, tapi saya ingin


membanggakan ayah
Konselor

saya.
Bisa, kamu jelaskan ke

Pertanyaan

ibu, apa yang

terbuka

membuatmu ingin
membanggakan ayah
31

Konseli

kamu?
Saya sangat menyayangi
ayah saya, karena hanya
beliau lah yang saya
miliki di dunia ini. Ibu

Konselor

saya sudah meninggal.


Ibu ikut berduka cita
Dian

Menguatkan

32

33

Konseli
Konselor

Terima kasih bu
Sekarang coba jelaskan

Konseli

secara detail Dian


Ayah ingin saya masuk di

Pertanyaan
terbuka

jurusan IPA, padahal saya


tidak ingin masuk di
jurusan IPA. Saya tau
kalau kemampuan saya
pas-pasan, jadi mana
mungkin saya bisa masuk
Konselor

di jurusan tersebut
Apa yang membutamu

Pertanyaan

merasa kalau kamu tidak

terbuka

akan masuk di jurusan


34

Konseli

IPA?
Karena saya tidak bisa
pelajaran di IPA, saya kan

35

Konselor

punya pilihan sendiri.


Kalau boleh ibu tau, apa

Konseli

pilihan kamu Dian?


Saya ingin masuk di
jurusan Bahasa bu, saya
ingin menjadi guru
Bahasa. Tapi, sepertiya

Konselor

ayah tidak setuju.


Bisa kamu jelaskan ke

Pertanyaan

ibu, apa yang

terbuka

membuatmu berpikir
kalau ayah kamu tidak
36

Konseli

setuju?
Ayah hanya ingi kalau
saya menjadi seorang

Konselor

bidan
Begini Dian, tadi kamu

Pertanyaan

berkata kalau ayah kamu

terbuka

tidak akan setuju bila

kamu masuk di jurursan


Bahasa, memangya kamu
37

Konseli

tau darimana Dian?


Ya kan,saya hanya
menebaknya dan itu

Konselor

prediksi saya.
Lalu, apa kamu sudah

Pertanyaan

pernah mencoba untuk

terbuka

mengatakan kalau kamu


ingin masuk jurusan
38

Konseli

Bahasa?
Tidak pernah bu, saya
bingung bagaimana
mengatakannya, saya
tidak tau harus
bagaimana caranya saya

Konselor

mengatakannya
Jadi, Dian belum pernah

Cek persepsi

mengatakan ke ayah
kamu, kalau kamu ingin
masuk ke jurusan
39

Konseli

Bahasa?
Tidak pernah bu, saya
tidak tau cara
mengatakannya, saya

Konselor

bingung.
Baik. Saya coba
simpulkan dulu

40

Konseli
Konselor

masalahmu ya
Ya bu
Ayah kamu ingin kamu
masuk ke jurusan IPA dan
ingin kamu menjadi
Bidan, sedangkan kamu
punya pilihan sendiri
yaitu ingin masuk jurusan

Parafrase

Bahasa dan menjadi guru


Bahasa Indonesia tapi,
kamu tidak tau
bagaimana caranya untuk
mengatakannya ke ayah
41

Konseli
Konselor

kamu.
Ya bu
Baiklah, masalah Dian

Klarifikasi

Konselor

sebenarnya adalah kamu

masalah

menyusun

tidak tau bagaimana

tujuan konseling

caranya untuk
mengatakan yang kamu
42

Konseli
Konselor

inginkan ke ayah kamu.


Ya bu
Nah dalam konseling, ada Penjelasan
suatu strategi yang dapat
dipergunakan untuk
membantu mengatasi
masalah yang kamu

43

44

Konseli
Konselor

hadapi
Apa itu bu?
Strategi ini namanya

Penjelasan

Konseli
Konselor

strategi asertif training


Apalagi itu bu?
Begini Dian, di dalam

Penjelasan

konseling terdapat
beberap teori-teori
konseling, salah satunya
45

Konseli

adalah teori Behavioral


Maksudnya teori

Konselor

Behavioral itu apa?


Teori behavioral itu
merupakan teori yang
pendekatannya menitik
beratkan pada perubahan
tingkah laku. Jadi, setelah

Penjelasan

melakukan salah satu


teknik yang ada di dalam
teori behavioral,
diharapkan ada
perubahan tingkah laku
pada diri
46

Konseli

konseli
Tadi ibu mengatakan
strategi asertif dan teori
behavioral, apa ada

Konselor

hubungannya bu
Iya Dian, strategi

penjelasan

asertif training
merupakan strategi yang
ada di dalam teori
behavioral dan strategi
asertif dapat membantu
kamu dalam mengatasi
masalah yang kamu
47

Konseli

hadapi
Apa itu strategi asertif

Konselor

training bu?
Begini, strategi asertif

Penjelasan

training merupakan
strategi untuk
mengungkapkan perasan,
keinginan maupun rasa
ketidaksetujuan ketika
berinterasksi dengan
48

Konseli
Konselor

orang lain
Ya bu
Nah, dalam strategi ini
saya akan menjadi ayah
kamu dan kamu menjadi
diri kamu sendiri..

Penjelasan

49

50

51
52

53

Konseli
Konselor

Konseli
Konselor

Oh, begitu ya bu.


Ya, apa kamu bersedia

Pertanyaan

melakukan latihan ini,

tertutup

Dian?
Ya bu, saya bersedia
Ok. Sebelum kita

Pertanyaan

memulai latihan, apa

tertutup dan

dudukmu sudah merasa

menjaga rapport

Konseli
Konselor
Konseli

nyaman, Dian?
Sudah bu.
Sekarang mulai Dian.
Ayah Dian ingin bicara

Konselor
Konseli

sesuatu
Dian mau bicara apa?
Dian ingin bicara
mengenai penjurusan ke

Konselor

kelas XI
Oh, kamu mau bicara
mengenai penjurusan,

54

Konseli

memangnya ada apa?


Dian punya pilihan
sendiri ayah, Dian ingin
masuk jurusan Bahasa
dan ingin menjadi guru

Konselor

Bahasa Indonesia.
Oh, kamu ingin masuk
jurusan bahasa dan ingin
menjadi guru Bahasa

55

Konseli

Indonesia
Iya ayah, maafkan Dian.
Dian tidak bisa
memenuhi keinginan
ayah Ayah tidak marah

Konselor

kan?
Ayah mengerti dan ayah
tidak marah, ayah juga
tidak bisa memaksa kamu

Tersenyum
Mengarahkan

56

Konseli

Benarkah, terima kasih

57

Konselor
Konselor

ayah
Sama-sama
Nah sekarang kamu tau

Konseli

kan Dian?
Ya bu, sekarang saya
mengerti dan saya tau
cara mengatakan ke ayah

58

Konselor

tentang keinginan saya


Baiklah Dian, hari ini

Meringkas

kamu telah belajar untuk


dapat menyelesaikan
masalahmu. Saya
berharap dengan
keterampilan yang kamu
ketahui, kamu dapat
menyelesaikan
Konseli

masalahmu sendiri.
Ya bu, wah tidak terasa
kita telah bicara kurang
lebih selama 40 menit,
bolehkah saya minta

59
60

Konselor
Konseli
Konselor

untuk diakhiri, bu?


Oh, tentu boleh Dian.
Terima kasih ya bu
Oh ya, jika kamu ada

Terminasi

masalah yang belum


dapat kamu selesaikan,
jangan ragu datang ke
Konseli

ruang konseling ya.


Jadi, saya boleh datang
lagi ke ruang konseling,

61
62

Konselor
Konseli
Konselor
Klien

bu?
Boleh Dian
Ya bu, terima kasih
Sama-sama
Selamat pagi

Berjabat tangan

63

Konselor

Selamat pagi

VERBATIM TEKHNIK REFRAMING


Peran

Audio

Visual

Konseli

(Tok...tok)

Tita mengetuk pintu

Konselor

Ya, silahkan masuk

Membuka pintu

Konseli

Maaf ibu mengganggu saya Tita

Konselor

Oh Mbak Tita yang tadi siang menelpon ibu,


ayo silahkan duduk

Konseli

Iya bu

Konselor

Mbak Tita yang sering ikut lomba nyanyi ya?

Konseli

Ya bu saya kelas XI

Konselor

Bagaimana

rasanya

mendapatkan

Ket.

Topik netral

pengalaman bernyanyi?
Konseli

Sangat menyenangkan, awalnya saya hanya


sekedar iseng dengan mengikuti berbagai
perlombaan
dan
ikut
ekstrakulikuler
menyanyi di sekolah bu. Selain itu saya
mendapatkan banyak teman yang bisa
menyemangati saya ketika saya sedang tidak
ingin menyanyi

Konselor

Wah...berarti pengalaman mbak tita sangat


banyak ya dalam bernyanyi terlihat banyak
sekali pengalaman yang tita lakukan?

Konseli

Alhamdulillah sudah saya sudah sering


mendapatkan undangan untuk mengisi acara
bu baik di undangan nikaha

Konselor

Wah beruntung sekali ya

Konseli

Alhamdulillah bu

Konselor

Ibu senang mbak tita dapat mengeksplorasi


bakat dan kemampuan mbak tta

Konseli

Tadi pagi di sekolah saya sebenarnya ingin


menemui ibu di kantor, tetapi saya
membatalkan niat saya, karena saya berpikir
lebih baik jika saya langsung ke rumah ibu
agar teman-teman tidak tahu

Konselor

Apakah hal itu membuatmu kurang nyaman?

Konseli

Sedikit bu, saya tidak ingin ada orang yang


tahu kalau saya menemui ibu.

Konselor

Baiklah, Mbak, ibu mungkin bisa menemani Melihat jam dinding


Tita berbincang selama 20 menit, apakah itu
cukup?

Konseli

Ya, itu juga sudah cukup bu

Konselor

Mungkin Yunho bisa mulai berbagi pada ibu,


sebenarnya hal apa yang seperti mengganggu
mbak tita

Konseli

Sebenarnya saya punya masalah, saya Nada


mempunyai pacar bu di Universitas di Kota, meninggi
tapi saya merasa pacar saya lebih
mementingkan sekolahnya dibandingkan

sedikit

Strukturing
(Time limit)

saya, dia bahkan menyuruh saya untuk


berkonsentrasi terhadap sekolah saya dan
jangan terlalu memikirkan hubungan saya
dengan dia, tapi saya tidak bisa bu, saya
merasa kurang mendapat perhatian darinya,
biasanya ada yang selalu mengingatkan saya
untuk makan, menjaga kesehatan, hampir tiap
3 jam sekali dia menelpon saya, tapi sekarang
hanya malam saja dan itu pun untuk
menyuruh saya belajar bu, saya tidak suka
perubahannya, saya ingin dia kembali seperti
yang dahulu.
Konselor

Pada dasarnya pacar


perubahan sikap.

Mbak mengalami

Konseli

Iya bu, biasanya juga kalau saya telpon


sering-sering dengan senang hati ia akan
mengangkatnya, tapi ini jelas sangat berbeda
ia akan marah jika saya sering menelponnya
dia mengatakan selalu banyak tugas. Dia
seharusnya tau saya juga banyak tugas di sini
tapi saya tidak seperti itu

Konselor

Ya, ibu bisa memahami perasaan nak Yunho,


bagaimana rasanya seperti diacuhkan oleh
pacar sendiri

Konseli

Ya bu, saya sangat sedih dengan hal itu

Konselor

Apakah menurut Mba Tita tidak ada hal


positif dari kejadian yang menimpa Mbak
Tita sekarang ini?

Konseli

Saya hanya berpikir kejadian ini sangat


membuatku sedih dan sulit bagi saya untuk
memikirkan lainnya

Konselor

Ibu tau semua orang yang mengalami


kejadian demikian seperti yang dialami oleh
nak
Yunho
pasti
akan
sedih.
tapi dari sini kita harus berbenah sedikit,
semua kejadian pasti ada sisi positif dan
negatifnya.

Konseli

Aku tahu bu, tapi apa yang bisa saya lakukan Mata berkaca-kaca

Clarification

Reflection
feeling

Lead khusus

Reassurance
(factual)

of

selain bersedih karena sikap pacar saya itu.


Bahkan saya rasanya tidak ingin berbuat
apapun kecuali mengurung diri dikamar dan
menangis terus menerus
Konselor

Mbak Tita sadar dengan apa yang dilakukan


adalah mengurung diri dikamar dan
menangis?

Konseli

Saya sadar bu apa yang saya lakukan, tapi


apalagi yang bisa dilakukan, saya hanya bisa
menangis dan mengurung diri dikamar

Konselor

Apakah menurut nak Yunho itu adalah respon


yang tepat ketika nak Yunho menghadapi
situasi yang demikian?

Konseli

Ehm..(konseli
mulai
berpikir
dan
menanyakan pada diri mengenai responnya
terhadap situasi tersebut)

Konselor

Perilaku yang demikian agaknya justru akan


membuat nak Yunho semakin terpuruk, dan
berakibat buruk pada aktivitas terutama pada
sekolah nak Yunho sekarang ini

Konseli

Tapi kan bu, saya belum bisa menerima


perlakuan pacar saya

Konselor

Iya ibu bisa mengerti, karena perubahan


pacar Mbak Tita terlalu drastis maka dari itu
Mbak Tita seperti ini seperti ini. Akankah
Mbak Tita mau begini berlarut-larut dan
membiarkan kesedihan sampai mengganggu
sekolah ,apakah tita tidak menyadari bahwa
tita adalah salah satu siswa yang berbakat
apakah tidak salah bahwa mbak tita
merupakan siswa yang berbakat

Konseli

Ehmm..

Konselor

..

Konseli

Ehm.iya juga si bu

Konselor

Lalu apakah jika kita mulai berpikir lebih


luas dan memperluas jangkauan cara pandang
kita apakah Mbak Tita keberatan?

Tahap I

Tahap II

Silent

Konseli

Ehm.

Konselor

Bagaimana Mbak Tita?

Konseli

Baiklah

Konselor

Pernahkah terpikir oleh Mbak Tita bahwa


sikap pacar Mbak Tita bentuk rasa sayang dia
pada anda?

Konseli

Tidak bu, malah saya berpikir dia itu egois

Konselor

Mengingat Mba Tita adalah siswa dari


sekolah kami yang berbakat tentu dia ingin
kamu sukses dengan cara mengurangi
intensitas komunikasi kalian agar Tita lebih
berkonsentrasi pada belajar dan sekolah Tita,
ditambah lagi sekarang Tita kelas XII bukan
pastinya harus belajar lebih keras lagi agar
memperoleh hasil yang maksimal

Konseli

Tapi tidak dengan cara seperti itu bu,

Konselor

Apakah dengan cara lain Tita bisa mengerti,


pernahkah pacar Tita menyuruh untuk belajar
tapi nak Tita tidak mengindahkannya?

Konseli

Pernah bu, bahkan sering. Saya sering


menelponnya pada malam hari, dia
mengatakan pada saya sedang belajar, dan dia
juga menyuruh saya untuk belajar, tetapi saya
menolaknya karena saya kangen dengan dia.

Konselor

Nah, berarti sebenarnya niat dia memang


baik, dia hanya ingin kamu belajar lebih
keras lagi nak Yunho. Dia bahkan memahami
kamu, karena kamu siswa yang berbakat.Ini
adalah bentuk rasa sayang pacar Tita jika dia
tetap membiarkan anda tidak belajar hanya
untuk menelponnya justru bisa dibilang dia
tidak menyanyangi Tita, karena prestasi nak
Tita akan menurun dan menghancurkan masa
depan nak Yunho

Konseli

Ternyata dia begitu memikirkan saya, saya


telah salah menilainya

Konselor

Dari sini Tita bisa mengubah perilaku


mengurung diri di kamar dan menangis

Tahap III

Tahap IV

Tahap V

dengan meningkatkan intensitas belajar yang


lebih sering sesuai dengan keinginan pacar
nak Yunho, lagi pula komunikasi antara Tita
dengan pacar tidak terputus kan, hanya
sedikit mengurangi
Konseli

Iya, saya rasa itu lebih baik, dan saya


mengerti alasan dia bersikap seperti itu, saya
rasa saya akan melakukan apa yang
diinginkannya, saya akan menerima dan
mulai belajar lebih keras lagi

Konselor

Nak Yunho yakin dan serius dengan apa yang


dikatakan barusan?

Konseli

Ya bu, saya yakin saya akan melakukannya

Tahap VI

Konselor

Baiklah karena Tita sudah yakin akan


melakukannya ibu harap Tita bisa konsisten
dan sukses untuk kedepannya, karena waktu
juga sudah habis, baiknya kita akhiri
pertemuan kali ini, mungkin kita bisa
melanjutkan proses konseling di waktu lain.
Dari proses konseling ini dapat ibu simpulkan
bahwa
Tita
memiliki
permasalahan
kesalahpahaman cara memandang sikap yang
ditunjukkan oleh pacar Tita dan setelah
proses konseling ini Tita sudah mampu
meluruskan atau mengubah perspektif Tita,
dan akan belajar lebih giat lagi sebagai
bentuk pengubahan perspektifnya tersebut.

Summary
Terminasi

Konseli

Iya bu, terima kasih sudah membantu saya,


saya permisi

Konselor

Sama-sama, ibu senang bisa membantumu,


hati-hati di jalan.

VERBATIM EXCEPTION QUESTION


Peran

Audio

Visual

Konseli

(Tok...tok)

Tita mengetuk pintu

Konselor

Ya, silahkan masuk

Membuka pintu

Ket.

dan

Konseli

Maaf ibu mengganggu saya Tita

Konselor

Oh Mbak Tita yang tadi siang menelpon


ibu, ayo silahkan duduk

Konseli

Iya bu

Konselor

Mbak Tita yang sering ikut lomba nyanyi


ya?

Konseli

Ya bu saya kelas XI

Konselor

Bagaimana
rasanya
pengalaman bernyanyi?

Konseli

Sangat menyenangkan, awalnya saya hanya


sekedar iseng dengan mengikuti berbagai
perlombaan dan ikut ekstrakulikuler
menyanyi di sekolah bu. Selain itu saya
mendapatkan banyak teman yang bisa
menyemangati saya ketika saya sedang
tidak ingin menyanyi

Konselor

Wah...berarti pengalaman mbak tita sangat


banyak ya dalam bernyanyi terlihat banyak
sekali pengalaman yang tita lakukan?

Konseli

Alhamdulillah sudah saya sudah sering


mendapatkan undangan untuk mengisi acara
bu baik di undangan nikaha

Konselor

Wah beruntung sekali ya

Konseli

Alhamdulillah bu

Konselor

Ibu senang mbak tita dapat mengeksplorasi


bakat dan kemampuan mbak tta

Konseli

Tadi pagi di sekolah saya sebenarnya ingin


menemui ibu di kantor, tetapi saya
membatalkan niat saya, karena saya berpikir
lebih baik jika saya langsung ke rumah ibu
agar teman-teman tidak tahu

Konselor

Apakah hal
nyaman?

Konseli

Sedikit bu, saya tidak ingin ada orang yang


tahu kalau saya menemui ibu.

Konselor

Baiklah, Mbak, ibu mungkin bisa menemani Melihat jam dinding


Tita berbincang selama 20 menit, apakah itu

itu

Topik netral

mendapatkan

membuatmu

kurang

Strukturing
(Time limit)

cukup?
Konseli

Ya, itu juga sudah cukup bu

Konselor

Mungkin Yunho bisa mulai berbagi pada


ibu, sebenarnya hal apa yang seperti
mengganggu mbak tita

Konseli

Sebenarnya saya punya masalah, saya Nada


mempunyai pacar bu di Universitas di Kota, meninggi
tapi saya merasa pacar saya lebih
mementingkan sekolahnya dibandingkan
saya, dia bahkan menyuruh saya untuk
berkonsentrasi terhadap sekolah saya dan
jangan terlalu memikirkan hubungan saya
dengan dia, tapi saya tidak bisa bu, saya
merasa kurang mendapat perhatian darinya,
biasanya ada yang selalu mengingatkan
saya untuk makan, menjaga kesehatan,
hampir tiap 3 jam sekali dia menelpon saya,
tapi sekarang hanya malam saja dan itu pun
untuk menyuruh saya belajar bu, saya tidak
suka perubahannya, saya ingin dia kembali
seperti yang dahulu.

Konselor

Pada dasarnya pacar Mbak mengalami


perubahan sikap.

Konseli

Iya bu, biasanya juga kalau saya telpon


sering-sering dengan senang hati ia akan
mengangkatnya, tapi ini jelas sangat
berbeda ia akan marah jika saya sering
menelponnya dia mengatakan selalu banyak
tugas. Dia seharusnya tau saya juga banyak
tugas di sini tapi saya tidak seperti itu

Konselor

Ya, ibu bisa memahami perasaan nak


Yunho,
bagaimana
rasanya
seperti
diacuhkan oleh pacar sendiri

Konseli

Ya bu, saya sangat sedih dengan hal itu

Konselor

Mbak Tita seandainya permasalahan ini


tidak terjadi apa yang mbak tita rasakan?

Konseli

Saya akan bahwa saya beruntung bahwa


saya dapat memiliki dia dan dapat bertemu

sedikit

Clarification

Reflection
feeling

Exception
Question

of

dengan dia.
Konselor

Lalu setelah terdapat permasalahan apa


yang terjadi setelah Mbak Tita mendapatkan
permasalahan yang mbak Tita hadapi?

Konseli

Aku tahu bu, tapi apa yang bisa saya Mata berkaca-kaca
lakukan selain bersedih karena sikap pacar
saya itu.
Bahkan saya rasanya tidak ingin berbuat
apapun kecuali mengurung diri dikamar dan
menangis terus menerus

Konselor

Mbak Tita sadar dengan apa yang dilakukan


mungkin ketika mbak tita lakukan. Apa
yang terjadi bila masalah ini tidak
dilakukan?

Konseli

Hm....

Konselor

Apakah menurut Mbak Tita merasa lebih


baik?

Konseli

Ehm..(konseli mulai berpikir dan


menanyakan pada diri mengenai responnya
terhadap situasi tersebut)

VERBATIM MIRACLE QUESTION

Reassurance
(factual)

Tahap I

Tahap II

No SUBJEK DIALOG
1. konseli
Assalamualaikum..
2. konselor Waalaikumsalam Wr.Wb.

TAHAP/ TEKNIK
PENYAMBUTAN

Andin, mari silahkan masuk, silahkan opening


duduk pilih tempat duduk mana yang
paling nyaman disini atau disana?
3. konseli
Disini saja Bu, lebih nyaman.
4. konselor Oh ya Andin, Ibu dengar kamu

TOPIK NETRAL

mendapatkan beasiswa ya? Selamat ya


5. konseli

semoga dapat bermanfaat.


Ya bu, alhamdulillah bu saya merasa
senang dan merasa bersyukur akan hal
ini karena beasiswa tersebut dapat

membantu perekonomian keluarga saya.


6. konselor Alhamdulillah
7. konselor Ibu senang sekali kamu telah bersedia PENGALIHAN TOPIK
datang kemari. Namun demikian, ibu

INTI

tidak akan tahu permasalahan yang kamuConfidentiality limit


hadapi sebelum kamu bercerita pada ibu.
Jangan khawatir, semua yang akan kamu
ceritakan, tidak akan diketahui oleh
siapapun. Ibu akan menjaga kerahasian
9. konseli

masalahmu.
Diam.(menunduk cemas)
Begini Bu, saya merasa saya
permasalahan yang merasa berat. Ayah
saya seorang tukang becak dan ibu saya
hanya buruh cuci. Pendapatan kami
sangat pas-pasan. Terkadang terbesit di
pikiran saya saya ingin menjadi seperti
teman-teman yang mendapatkan fasilitas
yang lengkap dapat membeli yang apa

dimau.
10. konselor Ibu mengerti pasti Andin merasa berat
11. konseli
Iya Bu.. saya merasa sedih dan iri

Reflection of Feeling

kepada teman-teman yang bisa beli baju


bagus,dan hp yang bagus
12. konselor Andin merasa iri karena keadaan
13. konseli

Restatement

keluarga Andin
Ya (diam sambil menunduk)
Saya sering merasa bahwa saya berbeda

dengan teman-teman yang lain.


14. konselor Semangat dek andin dek andin pasti bisa Reassurance

VERBATIM SCALING QUESTION

No SUBJEK DIALOG
1. konseli
Assalamualaikum..
2. konselor Waalaikumsalam Wr.Wb.

TAHAP/ TEKNIK
PENYAMBUTAN

Andin, mari silahkan masuk, silahkan opening


duduk pilih tempat duduk mana yang
paling nyaman disini atau disana?
3. konseli
Disini saja Bu, lebih nyaman.
4. konselor Oh ya Andin, Ibu dengar kamu

TOPIK NETRAL

mendapatkan beasiswa ya? Selamat ya


5. konseli

semoga dapat bermanfaat.


Ya bu, alhamdulillah bu saya merasa
senang dan merasa bersyukur akan hal
ini karena beasiswa tersebut dapat

membantu perekonomian keluarga saya.


6. konselor Alhamdulillah
7. konselor Ibu senang sekali kamu telah bersedia PENGALIHAN TOPIK
datang kemari. Namun demikian, ibu

INTI

tidak akan tahu permasalahan yang kamuConfidentiality limit


hadapi sebelum kamu bercerita pada ibu.
Jangan khawatir, semua yang akan kamu
ceritakan, tidak akan diketahui oleh
siapapun. Ibu akan menjaga kerahasian
9. konseli

masalahmu.
Diam.(menunduk cemas)
Begini Bu, saya merasa saya
permasalahan yang merasa berat. Ayah
saya seorang tukang becak dan ibu saya
hanya buruh cuci. Pendapatan kami
sangat pas-pasan. Terkadang terbesit di
pikiran saya saya ingin menjadi seperti
teman-teman yang mendapatkan fasilitas
yang lengkap dapat membeli yang apa

dimau.
10. konselor Ibu mengerti pasti Andin merasa berat
11. konseli
Iya Bu.. saya merasa sedih dan iri

Reflection of Feeling

kepada teman-teman yang bisa beli baju


bagus,dan hp yang bagus
12. konselor Andin merasa iri karena keadaan
13. konseli

Restatement

keluarga Andin
Ya (diam sambil menunduk)
Saya sering merasa bahwa saya berbeda

dengan teman-teman yang lain.


14. konselor Semangat dek andin dek andin pasti bisa Reassurance

VERBATIM GESTALT
No

Pernyataan/Pertanyaan

KDK

1.

KO : dari masalah yang tadi mba Teknik Kursi Tahap Pembinaan


sampaikan, ibu mempunyai teknik Kosong
yang

dapat

membantu

mnyelesaikan masalah mbak, yaitu


teknik kursi kosong.
KI : teknik apa itu bu?
KO : jadi nanti mba Andin harus
memainkan peran, mba Andin akan
berperan sebagai top dog dan under
dog, top dog adalah orang yang
memiliki kuasa, orang yang pegang
kendali dalam hal ini orang tua mba
Andin.

Kemudia

mba

Andin

berperan sebagai under dog yaitu


pihak yang merasa tertekan dalam
hal ini mba Andin itu sendiri. Jadi
nanti disini ibu memiliki dua kursi
kosong, nanti mba nadia harus
dapat memerankan top dog dan
under dog yang telah ibu jelaskan,
nanti mba Andin duduk di kursi
yang kanan dan berperan sebagai
top dog atau orang tua mbak Andin
apa saja yang dikatakan orang tua
mba Andin agar mau masuk jurusan
yang mba Andin tidak kehendaki,
kata-katanya

seperti

apa

dan

kemudian nanti mba Andin bisa


berpindah

kekursi

sebelah

kiri

untuk berperan sebagai under dog,


pihak yang tertekan seperti apa

Tahap

biasanya, lalu berpindah kursi lagi


berperan sebagai top dog lagi ke
kursi sebelah kanan dan kemudian
berpindah lagi sebagai under dog di
kursi sebelah kiri, dari jawaban atau
respon seperti apa mba nadia
terhadap

orang

tua

dan

juga

sebaliknya mba Andin merespon.


Bagaimana apa mba Andin ingin
mencobanya?
2.

KI : jadi nanti saya duduk dikursi

Tahap Pembinaan

sebelah kanan berperan sebagai


Orang tua mba Andin, lalu saya
duduk di kursi sebelah kiri berperan
sebagai saya sendiri
KO : iya sampai mba nadia bisa
merasa nyaman dengan posisi yang
mba

Andin

Begitulah

jalani

penjelasan

sekarang.
dari

ibu

tentang apa yang akan mba nadia


lakukan disini. Apakah mba nadia
sudah paham?
3.

KI : hmmm iya bu saya sudah Teknik Kursi Tahap Pembinaan


paham
Kosong
KO : bagaimana kalau mba nadia
sekarang mencoba

4.

KI : iya bu boleh
KO : baik, bisa kita mulai ya.

5.

KO : (memberikan instruksi) nanti Teknik Kursi Tahap Pembinaan


mba Andin duduk di kursi sebelah Kosong
kanan

dan

berperan

sebagai

majikan mba nadia, mba nadia

perankan
majikan

bagaimana
orang

tua

biasanya
menyuruh-

nyuruh, memarah-marahi maupun


tindakannya begini atu gimana
ekspresinya. baik mari diperankan.
KI : (memerankan) Andin kamu
harus menuruti Ibu, Ibu kan sudah
bilang untuk lanjut ke ITB
6.

KO : baik sekarang mba Andin Teknik Kursi Tahap Pembinaan


coba menjawab dikursi sebelah kiri Kosong
KI : (berpindah kursi duduk) iya bu
saya tahu tapi dengarkan saja

7.

KO : kira-kira respon dari orang tua Teknik Kursi Tahap Pembinaan


mba Andin seperti apa?
Kosong
KI : (berpindah kursi duduk) nggak
usah tapi-tapi ya dek. Harus nurut
sama Ibu

8.

KO : mungkin mba Andin dapat Teknik Kursi Tahap Pembinaan


memberikan pengertian yang lebih Kosong
baik
KI : hmmm, gitu ya bu

VERBATIM SOSIODRAMA
Tahap Pembentukan
Ko
kedatangannya,
Ki 1
Ko
Ki 2
Ko
Ki 3
Ko
Ki 4
Ko
Ki 5
juga yang
Ki 1
Ki 2
Ko
kita

: Selamat pagi anak-anak, mari silakan duduk,,, Terima kasih atas

Ibu sangat mengharapkan sekali kedatangan kalian kesini.


: Ya bu sama-sama.
: Bagaimana kabar kalian, apakah semuanya baik-baik saja?
: Ya bu, kami baik-baik saja, bagaimana dengan Ibu sendiri?
: I,m very good today, hahaha
: Wah, Ibu canggih juga ya bisa bahasa Inggris, hehehe
: Iya dong, biarpun Ibu sudah tua begini tapi jiwa masih anak ABG
: Haha, Ibu bisa-bisa saja
: Kalian ini sudah saling mengenal semua belum??
: Iya memang kebetulan ada beberapa yang sudah saya kenal, tapi ada
belum bu
: Benar bu, soalnya kan kami dari kelas yang berbeda-beda
: Kalau saya sih bu sudah familiar dengan wajah teman-teman tapi masih
belum kenal, hehe soalnya sering berpapasan kalau lagi di kantin bu
: Wah, kalau begitu supaya kita bisa lebih akrab lagi, bagaimana kalau

saling memperkenalkan diri. Tapi sebelum kita memperkenalkan diri


dan melanjutkan kegiatan bimbingan kelompok ini, sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu
agar kegiatan kita berjalan dengan lancar .
Ki 3
: Iya, saya setuju bu
Ko
: Oke, Ibu mempunyai cara yang lebih menarik untuk memperkenalkan
diri. Ini dikenal dengan memerankan drama sesuai peran masing-masing. Siapa yang ingin
memerankan menjadi (menjelaskan karakter peran)
Materi :
Meminta 5 orang peserta didik untuk berperan sebagai
Nino : anak pembuat onar di kelas 7E
Rani : siswa pindahan yang pendiam
Dito : ketua kelas yang baik hati
Cici : siswa paling cerewet di kelas
Ibu Ani : wali kelas 7E
Skenario ;
Saat pelajaran kososng kelas 7E dikenal sebagai kelas anak nakal, karena di kelas tersebut
terdapat seorang siswa yang dikenal sebagii pembuat onar.
Saat jam kosong kelas 7 E dikenal sebagai kelas paling rame. Saat jam kosong nino
mengajak dito bermain bola di kelas tetapi dito tidak mau.
Nino : pak ketua main yo !
Dito : main apa ?
Nino : main bola di kelas seru
Dito : apaan ogah paling nanti dimarahin guru , males aku

Cici
: ih pak ketua penakut gitu aja ngga berani
Dito ; kamu apaan sih ci berisik ngga usah ikut campur, kamu itu sukanya ikut campur
urusan orang
Nino : kalau ngga berisik bukan cici namanya
Cici : iya bukan cici namanya kalau ngga banyak omong, dan bukan nino kalau ngga
dimarahin guru tiap hari.
Nino, ditto: berisik , pergi sana !
Cici berusaha mengajak rani berbicara tapi rani hanya diam akhirnya cici marah
karena omonganya tidak direspon oleh rani. Akhirnya cici marah dan memukul meja rani.
Cici : eh rani kamu kok diem aja, ngomong sih
Rani : (rani hanya diam)
Cici
: oh ya mungkin kamu sakit gigi tiap hari ngga sembuh sembuh, hehe
Rani : (rani tetap diam)
Cici : kamu nyebelin banget sih ran diajak ngobrol ngga jawab, kamu nyebelin banget ,
( cici memukul meja rani dengan keras)
Cici sangat sedih karena semua temanya menolak keberadaanya , ia merasa kehadiranya tidak
diterima karena dia berisik, lalu ia pergi bertemu wali kelasnya
Ibu

:ci kamu terlihat sedih

Cici

: ibu apa saya salah ?

Ibu

: salah apanya yang kamu maksud ?

Cici

: apa saya salah kalau saya suka banyak bicara

Ibu

: tidak salah, itu memang kelebihan kamu

Cici

: tapi kenapa teman teman saya membenci saya

Ibu

: coba kamu jelaskan apa yana terjadi sesungguhnya?

Cici : bu saya itu jengkel karena ranni tidak mau berbicara dengan saya. Terus nino dan
dito tadi menggusir saya bu
Ibu

: mengusir kamu kenapa ?

Cici : iya tadi waktu nino dan dito lagi ngobrol saya ikut nimbrung tapi saya lalu disuruh
pergi katanya saya berisik bu terlalu ikut campur urusan orang ?
Ibu : iya udah nanti ibu ke kelas kamu kita selesaikan masalah kamu.
Ibu ani dan cici akhirnya pergi ke kelas 7E untuk menyelesaikan masalah Cici
dengan teman - temanya.
Ibu

: assalamualaikum anak anak , selamat siang

Anak : walaikum salam, ibu selamat siang ibu.

Ibu
: oh iya saya ingin memperkenalkan seseorang kepada anda. (ibu ani menyuruh
seseorang masuk kelas 7E), masuk nak !
Cici

: (cici lalu masuk ke kelas lalu berdiri di samping bu ani)

Ibu

: siapa yang kenal dengan anak yang berdiri di samping ibu

Nino

: ya kenal to bu, dia kan Cici

Dito

: iya bu dia cici

Ibu
: rani bagaimana pendapat kamu tentang cici, coba kemukakan pendapat kamu secara
jujur !
Rani : menurut saya dia teman yang tidak sopan bu, suka ikut campur urusan orang, terlalu
banyak bicara.
Ibu
: nino coba kemukakan pendpat kamu tentang rani dan dito kemukakan pendapat
kamu tentang nino dan cici !
Nino

: rani teman yang aneh bu dia selalu diam bu,

Dito : kalau nino dia suka membuat onar bu, kalau cici orangnya baik bu tapi memang dia
terkadang suka kelewat batas dalam berbicara.
Ibu
: cici kamu sudah dengar pendapat teman teman kamu tentang diri kamu, sekarang
adakah sesuatu yang ingin kamu katakan.
Cici : iya ibu , teman teman cici minta maaf kalau cici tidak sopan, suka ikut campur
urusan orang, dan suka banyak omong.
Ibu
; anak anak cici telah meminta maaf bagaimana apa kalian mau menjadi teman yang
baik buat cici.
Anak : iya bu
Rani : (rani mengangkat tangan )cici saya minta maaf karena saya hanya diam saat kamu ajak
ngobrol itu aku lakukan supaya kamu bisa menjaga omongan kamu.
Cici ; iya terima kasih teman teman besok cici akan mengatur omongan cici supaya lebih
sopan, nanti kalau cici ada salah mohon dimaafkan dan diingatkan ya.
ahap Pengakhiran

Ko
: Ibu kira kalian semua sudah cukup paham mengenai karakter
pembahasan mengenai permasalahan yang dihadapi
Ki 3
: Terima kasih bu, dengan mengikuti bimbingan kelompok ini saya sudah
mengerti dan paham apa itu arti orang tua

Ki 4

: Benar bu, saya juga menjadi tahu bahwa saya harus menjaga perasaan

Ki 7
: Iya bu, saya juga merasa senang bisa mendapat informasi baru dan
teman baru, hehe.
Ko
: Baiklah, Ibu kira kalian sudah bisa mengambil manfaat dari kegiatan
bimbingan kelompok ini. Berkaitan dengan topik yang telah kita bahas tadi, perlukah
sekiranya kita mengadakan bimbingan kelompok lagi?
Ki 4
: Saya rasa apa yang Ibu sampaikan sudah cukup jelas dan lengkap, jadi
tidak perlu diadakan bimbingan kelompok lagi
Ki 5
: Benar bu, tapi mungkin kalau kami mengalami kesulitan apakah Ibu
bersedia membantu kami?
Ko

: Dengan senang hati Ibu akan membantu kalian.

Ko
: Baiklah kalau begitu Ibu ucapkan terima kasih atas partisipasi kalian
dalam kegiatan ini, semoga apa yang telah kita diskusikan hari ini bisa bermanfaat bagi kita
semua, amin. Sebelum kita mengakhiri bimbingan kelompok kali ini ada baiknya kita berdoa
dulu, berdoa menurut kepercayaan masing-masing, berdoa mulaiselesai.

DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 2013. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi terjemahan. Bandung:
Refika Aditama.
Erford, Bradley T. 2015. 40 Teknik yang Harus diketahui Setiap Konselor (Edisi Kedua)
Terjemahan oleh Helly Prajitno Soetjipto & Sri Mulyantini Soetjipto. 2016. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Leong, Frederick T. L. 2008. Encyclopedia of counseling. California: A SAGE Reference
Publication.
Megaton, Yuri dan Tarmizi. 2010. Bahan Dasar untuk Pelayanan Konseling pada Satuan
Pendidikan Menengah Jilid II. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia Kompas
Gramedia Building.
Retno, Lilis. 2013. Teknik-Teknik Konseling. Yogyakarta: Deepublish.