Anda di halaman 1dari 168

RENCANA

INDUK
PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR
DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

TIM PENYUSUN
Suer Suryadi, Robi Royana, Nurman Hakim, Sunjaya, Agustinus Wijayanto, Koen Meyers,
Edy H. Wahyono, Nano Sudarno, Akbar A. Digdo, Ichlas al-Zaqie

PENINJAU
Dr. Jatna Supriatna
(Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim, Universitas Indonesia)

Prof. Dr. Y. Purwanto


(Direktur Eksekutif Komite Nasional Program Man and Biospher, LIPI)

Yayasan Pendidikan Konservasi dan Lingkungan Hidup Indonesia (Yapeka)


Yayasan Belantara

ii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Rencana Induk:
Pengembangan Konservasi Bentang Alam Skala Besar
Di Sumatera Dan Kalimantan
Copyright 2016, Yayasan Pendidikan Konservasi dan Lingkungan Hidup Indonesia (Yapeka) dan
Yayasan Belantara
Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Belantara, Jakarta, 2016
Belantara Foundation
Boutique Office, Lt. 3
Jl. Timor No. 6, Gondangdia, Menteng,
Jakarta 10350
Penyunting: Mulyawan Karim
Perancang sampul & tata letak isi: Cindy Alif
Infografik: Serafin Purnamasari
Foto sampul: Dok. APP - Kawanan Burung Kuntul (Ardea sp.) di sebuah kawasan hutan pesisir Sumatera bagian
timur, November 2007.
Saran sitasi:
Suryadi, S., Royana, R., Hakim, N., Sunjaya, Wijayanto, A., Meyers, K., Wahyono, E.H., Sudarno, N., Digdo, A.A. & I.
Zaqie. 2015. Rencana Induk Pengembangan Konservasi Bentang Alam Skala Besar di Sumatera dan Kalimantan.
Yayasan Belantara, Jakarta

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Dilarang mengutip atau
memperbanyak sebagain atau seluruh isi buku ini kecuali untuk kepentingan pendidikan, konservasi, dan kegiatan
nirlaba, dengan syarat menyebutkan sumber publikasi.

xxxiv + 300 hlm.


ISBN: 978-602-73968-0-7

Disusun dan diterbitkan atas dukungan:

Salah satu jenis jamur hutan yang tumbuh pada substrat pohon mati di lantai hutan tropis dataran rendah yang sangat lembab di Sumatera,
April 2004. (Foto: Dolly Priatna)

iii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Masyarakat desa memanfatkan aliran Sungai Bukit Batu di


Bentang Alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSKBB), Riau, sebagai
akses ke ladang atau mencari ikan. Gambar diambil Februari,
2014. (Foto: Dolly Priatna)

vi

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PENGANTAR

ertama-tama kami panjatkan puji dan syukur


kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang
telah melimpahkan hidayah-Nya, sehingga
penyusunan
dokumen
Rencana
Induk
Pengembangan Konservasi Bentang Alam Skala
Besar di Sumatera dan Kalimantan (selanjutnya disebut
Rencana Induk) dapat selesai dengan baik. Gagasan
konservasi bentang alam (lanskap) ini telah dimulai
sejak April 2014, sedangkan proses penyusunan
dokumen Rencana Induk ini berlangsung antara
Februari dan Agustus 2015. Kerja penyusunan melalui
proses yang relatif panjang: dimulai dari pencanangan
komitmen kebijakan jangka panjang Asia Pulp &
Paper Group; pertemuan dan diskusi para pihak di
tingkat regional dan nasional; diskusi dengan pakar
dan praktisi lingkungan dan kehutanan; pengkajian
sumber-sumber pustaka, dan pemeriksaan berbagai
hasil kajian yang pernah dilakukan perusahaanperusahaan pemegang konsesi, seperti kajian HCV,
HCS, konflik sosial, dan pengelolaan gambut.
Dokumen ini tidak ditujukan untuk kepentingan pihak
tertentu, tetapi disusun dan didedikasikan untuk para
pihak yang berkepentingan, yang sama-sama bekerja di
dalam suatu kawasan bentang alam yang multisektoral,
multidimensi, dan multikepentingan. Partisipasi aktif
dan dukungan dari para pihak yang berkepentingan
di setiap bentang alam, baik pemerintah pusat dan
daerah, swasta, LSM, hingga masyarakat umum,
merupakan faktor yang menentukan keberhasilan
pencapaian Rencana Induk ini. Sebagai sebuah
dokumen hidup (living document) dan dokumen
bersama, tambahan data dan informasi dari para

dan kabupaten/kota. Ucapan terima kasih secara


khusus perlu disampaikan kepada Provinsi Riau
dengan Kabupaten/Kota: Dumai, Rokan Hilir, Bengkalis,
Kampar, Siak, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Pelalawan,
Indragiri Hulu, Kuantan Singingi dan Kota Pekanbaru;
Provinsi Jambi, dengan Kabupaten/Kota; Bungo,
Tanjung Jabung Barat, Tebo, Muaro Jambi, Tanjung
Jabung Timur, Sarolangun dan Kota Jambi; Provinsi
Sumatera Selatan dengan Kabupaten/Kota: Banyuasin,
Musi Banyuasin, Musi Rawas, Ogan Komering Ilir,
Empat Lawang, dan Kota Palembang; Provinsi
Kalimantan Barat, dengan Kabupaten/Kota: Kayong
Utara, Ketapang, Sanggau dan Kubu Raya; Provinsi
Kalimantan Timur, dengan Kabupaten/Kota: Bontang,
Kutai Kertanegara, Kutai Timur, dan Kota Samarinda;
serta para Kepala KPHP yang menghadiri pertemuan
dan FGD, antara lain Kepala KPH Minas Tahura, KPHP
Lalan, KPHP Meranti, Kepala UPTD Tahura Tanjung,
KPHP Santan, dan KPHP Tasik Besar Serkap.


pihak dapat terus dilakukan. Penyempurnaan dalam
bentuk koreksi atau revisi juga dapat terus dilakukan
di masa-masa mendatang.
Dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan
ucapan berterima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada para pihak, baik selaku
individu atau sebagai mewakili berbagai lembaga,
yang telah berkontribusi aktif dalam penyusunan
dokumen Rencana Induk ini, termasuk namun tidak
terbatas kepada:
Pertama, jajaran Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan, terutama Dr. Ir. Hadi Daryanto, DEA.,
Direktur Jenderal (Dirjen) Perhutanan Sosial dan
Kemitraan Lingkungan Hidup (PSKL) dan unit-unit
pelaksana teknisnya; Dirjen Konservasi Sumberdaya
Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan unit-unit pelaksana
teknisnya; Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
dan Hutan Lindung (PDASHL) dan unit-unit pelaksana
teknisnya; Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan;
dan Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim serta yang
telah memberikan datadan informasi yang terkait dan
mendukung pengembangan dokumen Rencana Induk.
Kedua, pimpinan dan staf dari unit kerja daerah
di setiap bentang alam, termasukBappeda, Dinas
Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertambangan,
Badan Lingkungan Hidup Daerah, dan Saturan Kerja
Pemerintah Daerah (SKPD) lain yang telah memberikan
kontribusi pemikiran agar Rencana Induk ini selaras
dengan program pembangunan di berbagai provinsi

Ketiga, para peneliti dan dosen yang mewakili


universitas di masing-masing bentang alam, yakni
Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Universitas
Batanghari, Universitas Jambi, Universitas Sriwijaya,
Universitas Muhamadiyah Palembang, Universitas
Tanjungpura, dan Universitas Mulawarman.
Keempat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat
dan forum-forum masyarakat yang menghadiri dan
berkontribusi di sejumlah pertemuan tingkat lokal,
regional, dan nasional untuk membahas, memberikan
masukan, dan saran konstruktif sesuai dengan
pengetahuan dan pengalamannya di setiap bentang
alam untuk melengkapi penyusunan aksi kegiatan
yang perlu dilakukan. Untuk itu kami berterima kasih
kepada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN),
Amphal, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia
(APHI), Bioclime-GIZ, Borneo Orangutan Survival
(BOS), Burung Indonesia, CIFOR, Ekologika, Ecology
and Conservation Center for Tropical Studies
(Ecositrop), Fauna and Flora International (FFI),
Forum Dangku, Forum HarimauKita (FHK), Forum
Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Riau,
Forum Konservasi Gajah Indonesia, Forum Orangutan
Indonesia (FORINA), Frankfurt Zoological Society
(FZS), Jaringan Gambut, Jaringan Kerja Penyelamat
Hutan Riau (Jikalahari), Kaki Rimbo, Komisi Daerah
(Komda REDD+), Komite Nasional Program Man and
Bioshpere (Komnas MAB)-Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Lembaga Advokasi dan Lingkungan
Hidup Bakau, Lingkar Borneo, Lembaga Cemerlang
Indonesia, Perkumpulan Gita Buana, Perkumpulan
PENA, Pinang Sebatang (Pinse), Pusat Studi Gambut,

Sampan, Scale Up, Siak Cerdas, SSS-Pundi-Sumatera,


Sustainable Trade Initiative (IDH), The Forest Trust
(TFT), The Nature Conservancy (TNC), United Nations
Office for REDD+ Coordination in Indonesia (UN
Orchid), Yayasan Bakau, Yayasan Bantuan Hukum
Lingkungan (YBHL), Yayasan Bina Kelola Lingkungan
(Bikal), Yayasan Biosfer Manusia (Bioma), Yayasan
Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan
Palung, Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera
(YPHS), Yayasan Titian, Yayasan Wahana Bumi Hijau,
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI),
Wahana Pelestarian dan Advokasi Hutan Sumatera
(Walestra), WARSI/Komunitas Konservasi Indonesia,
Wetlands International Indonesia Programme, Wildlife
Conservation Society (WCS), dan Zoological Society of
London (ZSL).
Kelima, para tokoh adat, tokoh agama, dan perwakilan
masyarakat/lembaga masyarakat dari setiap bentang
alam.
Keenam, para perwakilan dari pihak swasta yang
bekerja di dalam dan di luar kawasan hutan dalam
bentuk pengusahaan hutan, hutan tanaman,
perkebunan sawit/karet, dan restorasi ekosistem,
sehingga dapat memberikan warna dalam melakukan
kegiatan konservasi di masing-masing bentang alam
(urutan sesuai abjad), yakni PT Agrowiyana, PT Alam
Bukit Tigapuluh, PT Alas Kusuma Group, PT Aneka
Pura Mukti Kerta, PT Arangan Hutani Lestari, PT Arara
Abadi, PT Asia Tani Persada, PT Balai Kayang Mandiri,
PT Bangun Tenera, PT Berkat Sawit Sejati, PT Bina Duta
Laksana, PT Bukit Batu Hutani Alam, PT Bumi Andalas
Permai, PT Bumi Mekar Hijau, PT Bumi Persada Permai,
PT Daya Tani Kalbar, PT Diamond Raya Timber, PT
Dexter Perkasa Indonesia, PT Indah Kiat Pulp and
Paper, Tbk., PT Kalimantan Subur Permai, PT Kandelia
Alam, PT Lestari Asri Jaya, PT Lontar Papyrus Pulp
and Paper, PT Mayangkara Tanaman Industri, PT Mitra
Hutan Jaya, PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa, PT Pabrik
Kertas Tjiwi Kimia, Tbk., PT Palma Abadi, PT Pesona
Belantara, PT Pindo Deli Pulp and Mills, PT Putra Duta
Indah Wood, PT Restorasi Ekosistem Indonesia, PT
Riau Abadi Lestari, PT RAPP, PT Riau Indo Agropalma,
PT Rimba Hutani Mas, PT Rimba Mandau Lestari, PT
Ruas Utama Jaya, PT Sarana Bina Semesta Alam, PT
Satria Perkasa Agung, PT Sebangun Bumi Andalas, PT
Sekato Pratama Makmur, PT Sumalindo Hutani Jaya,
PT Sumber Hijau Permai, PT Suntara Gajah Pati, PT
Surya Hutani Jaya, PT Tebo Multi Agro, PT Triomas
FDI, PT Tripupa Jaya, PT Wana Subur Lestari, dan PT
Wirakarya Sakti.

vii

viii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Ketujuh para peninjau (reviewers), yakni Dr. Jatna


Supriatna, Prof. Dr. Y. Purwanto, Greenpeace, dan WWF
Indonesia, yang telah memberikan ulasan, pandangan,
arahan, dan koreksi yang memperkaya substansi, serta
Ir. Wiratno, MSc., yang telah memberikan saran, arahan,
referensi, informasi, dan gagasan-gagasan kebijakan
terkait konservasi, perhutanan sosial, dan kemitraan
lingkungan.
Kedelapan, para ahli dan perorangan yang telah
berkontribusi aktif, berbagi data, informasi, saran,
dan gagasan yang telah diberikan kepada tim selama
penyusunan dokumen ini, antara lain Nunu Anugrah,
SHut., MSc. (Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan),
yang telah secara total mendukung Forum Dangku;
Dr. Najib Asmani (Staf Khusus Gubernur Sumatera
Selatan bidang Perubahan Iklim); Ir. Zulfikhar, MM
(Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera
Selatan); Dr. Yaya Rayadin (Universitas Mulawarman);
Prof.Dr. Lilik B.Prasetyo (ahli konservasi bentang
alam); Yusuf Cahyadin (PT REKI); Prof. Dr. Irwan Effendi
(Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau); Ir. Irmansyah
Rachman (Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi);
Syafredo (PMU REB30); Rudi Syaf (WARSI/KKI);
Ir. Fredrik Suli, MM (KPHP Minas Tahura); Jaya Nofyandri
(YLBHL); Syafrizal (Siak Cerdas); Hendi Sumantri
(GIZ-Bioclime); Krismanko P, Donny Gunaryadi (Forum
Konservasi Gajah Indonesia); Yoan Dinata, Erwin
Wilianto, Hariyawan Wahyudi (Forum HarimauKita);
Zulfahmi, Achmad (Greenpeace); Dr. Sunarto, Wishnu
Sukmantoro, Aditya Bayunanda, Arnold Sitompul
(WWF Indonesia); Haerudin Sadjudin, Ermayanti,
dan Muhtadin.
Terakhir namun tak kalah penting, ucapan terima kasih
juga wajib kami sampaikan kepada pimpinan, staf,
dan segenap jajaran Grup APP dan SMF yang telah
memberikan dukungan finansial, data, dan informasi
untuk menyusun dokumen ini. Dalam hal ini, ucapan
terim kasih secar khusus kami haturkan kepada
Linda Wijaya, Aida Greenbury, Dolly Priatna, Dewi
P. Bramono, Aniela Maria, Rolf M. Jensen, Noubbie
Afransyah, Veronika Renyaan, Adnun Salampessy,
Elim, Eko Hasan, Supriatno, Iwan Setiawan,
dan Adrianto Gunawan.

Kami berharap Rencana Induk ini dapat menjadi dasar


agenda kerja, pedoman, serta referensi bersama
untuk melengkapi dokumen-dokumen perencanaan
yang telah ada di wilayah-wilayah yang mencakup
bentang alam-bentang alam target di Sumatera dan
Kalimantan. Kami menyadari bahwa tidak mudah
untuk melaksanakan komitmen dan tujuan bersama
yang disusun dalam dokumen ini, namun rasanya
tak ada hal yang tak mungkin diwujudkan jika kita
semua memiliki niat dan tekad yang sama untuk saling
mendukung sesuai kemampuan dan kompetensinya
masing-masing. Semoga cita-cita konservasi bentang
alam yang mengarah pada tujuan pembangunan
berkelanjutan dapat sama-sama kita wujudkan dengan
menyatukan persepsi, kebijakan, langkah, dan tindakan
nyata, sebagaimana yang sering kami tekankan pada
seluruh tim dalam proses penyusunan dokumen ini
bahwa tidak ada yang mudah, namun tidak ada yang
tidak mungkin.
Nothing is easy but nothing is impossible.

SAMBUTAN-SAMBUTAN

KETUA DEWAN PEMBINA


YAYASAN BELANTARA

Jakarta, Agustus 2015

Marzuki Usman
Tim Penyusun

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas


selesainya penyusunan dokumen ini. Tanpa perkenanNya, gagasan untuk menyusunan dan menerbitkan
dokumen ini tak mungkin dapat menjadi kenyataan.
Dokumen berjudul Rencana Induk Pengembangan
Konservasi Bentang Alam Skala Besar di Sumatera dan
Kalimantan ini, yang disusun antara lain berdasarkan
kajian lapangan serta diskusi-diskusi dengan para
pemangku kepentingan di setiap bentang alam kritis,
merupakan wujud nyata dari dukungan Yayasan
Belantara kepada Pemerintah Indonesia dalam bidang
konservasi sumberdaya hutan dan pelestarian alam,
yang merupakan isu yang kian hari kian penting di era
perubahan iklim dan pemanasan global sekarang ini.
Secara khusus, dokumen ini diharapkan dapat berguna
bagi para pemangku kepentingan terkait upaya-upaya
pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya hutan
berkelanjutan di Indonesia. Dalam buku Rencana Induk
ini, selain disampaikan berbagai analisis pemilihan
bentang alam, juga disusun rencana pengelolaan
dan strateginya yang mampu menjangkau berbagai
kepentingan para stakeholder, mulai dari institusiinstitusi pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah,
akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, orang
kampong dan sektor swasta, melalui pembangunan
konsesus bersama, seta pengelolaan multipihak di
tingkat lanskap. Secara mendasar, strategi pengelolaan

ix

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

lanskap multipihak tersebut, termasuk juga menangani


upaya pemberdayaan masyarakat dan pembangunan
ekonomi lokal di desa-desa sekitar kawasan hutan.
Selain melakukan integrasi antara upaya restorasi dan
rehabilitasi ekosistem, perlindungan satwa kharismatik
terancam punah, mitigasi konflik satwa-manusia,
mencegah serta menanggulangi kebakaran hutan dan
lahan, meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan
konservasi dan kawasan lindung, dan termasuk
dukungan studi dan kajian untuk penguatan dan
peningkatan efektifitas pengelolaan lanskap.
Upaya penyusunan dokumen ini antara dilatarbelakangi
oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2015-2019 serta mengacu pada
beberapa dokumen strategi dan rencana aksi yang
sudah ada, seperti antara lain Indonesian Biodiversity
Strategy and Action Plan 2003-2020 (BAPENAS)
dan Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia
(LIPI-BAPENAS-KLH). Secara khusus, dalam Rencana
Induk ini juga didorong upaya pemberdayaan
masyarakat melalui peningkatan hak dan akses
masyarakat mengelola hutan melalui berbagai skema
seperti Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, Hutan
Tanaman Rakyat, Kemitraan Kehutanan, Hutan Adat,
dan Kemitraan pada Hutan Rakyat, untuk memenuhi
target pemanfaatan kawasan hutan Kementerian
Lingkungan dan Kehutanan (LHK) seluas sekitar
12,7 juta hektar kawasan Hutan Negara.

Provinsi Sumatera Selatan dikelompokkan dalam tiga


zona, yakni Zona Hutan dan Lahan Gambut, Zona
Tangkapan Air atau Dataran Tinggi dan Zona Dataran
Rendah.

Melalui pendekatan multipihak, Yayasan Belantara


siap mendukung, berpartisipasi, dan berkontribusi
secara langsung
untuk mewujudkan program
nasional dalam konservasi sumber daya hutan untuk
kepentingan bersama sehingga dapat mempercepat
target-target pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Oleh karenanya, Yayasan Belantara juga sangat
mendukung gagasan Kementerian LHK untuk
memasukkan isu pengembangan dan konservasi
bentang alam ke dalam revisi UU No.5/1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
dan Ekosistemnya, yang membuka peluang untuk
mengembangkan pengelolaan kawasan berbasis bentang
alam seperti semangat yang digagas dalam dokumen ini.
Inisiatif, konsep, dan arahan program yang
dikembangkan di dalam dokumen ini diharapkan
menjadi titik awal dan landasan penting bagi para pihak
dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan
berbasis bentang alam. Yayasan Belantara akan terus
berkomitmen mendorong proses implementasi di
lapangan, termasuk memfasilitasi proses pemantauan,
pembelanjaran multipihak, serta mengelola pengetahuan
dari program-program kerjasama yang dapat direalisasikan
untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan
di Indonesia.

GUBERNUR SUMATERA SELATAN


H. Alex Noerdin
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan
apresiasi dan terimakasih pada Yayasan Pendidikan
Konservasi dan Lingkungan (Yapeka) dan Yayasan
Belantara atas inisiasi untuk menerbitkan Dokumen
Rencana Induk Pengembangan Konservasi Landskap
di Sumatera dan Kalimantan. Kami sangat senang dan
mendukung program yang akan dilaksanakan, tercakup
juga rencana Restorasi Lanskap Kawasan-kawasan
Bernilai Konservasi Tinggi di Provinsi Sumatera Selatan
yakni di Taman Nasional Sembilang (Banyuasin),
Hutan Suaka Margasatwa Dangku dan Merantin
(Musi Banyuasin), dan Padang Sugihan (Banyuasin
dan Ogan Komering Ilir). Hal ini sejalan dengan
Program Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan
tentang Kemitraan Pengelolaan Ekoregion dalam
menjamin kemitraan antar pemangku kepentingan
Public, Private, People, Partnership (P4) melalui suatu
pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk
pelestarian hutan dan lahan dengan pendekatan
lintas wilayah, lintas sector, dan lintas pelaku
pada suatu bentangan alam atau lanskap, yang
dapat meluas dalam skala ekoregion. Lanskap di

Kemitraan pengelolaan ekoregion adalah upaya


mendorong para pihak untuk melakukan konservasi,
restorasi dan rehabilitasi huatn dan lahan serta
mencegah terjadinya deforestasi dan degradasi hutan
dan lahan, terutama dalam mencegah terjadinya
kebakaran dan perambahan hutan. Kegiatan tersebut
simultan antara kegiatan pelestarian ekosistem untuk
mitigasi perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi local
dan regional, dan kesejahteraan social yang dapat
meningkatkan akses masyarakat sekitar hutan untuk
pengelolaan sumber daya hutan yang berkeadilan.
Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan selaras
dengan Misi Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan
2013-2018 tentang pentingnya pelaksanaan konservasi
dan pemanfaatan lingkungan hidup agar terwujudnya
peningkatan pengelolaan hutan serta lahan gambut
secara lestari, mengendalikan kerusakan lingkungan
dengan menurunkan pencemaran lingkungan melalui
pengawasan ketaatan pengendalian sumber-sumber
pencemaran, dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai
secara terpadu; Mendukung pertumbuhan ekonomi
serta kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan
dengan penguasaan dan pengelolaan resiko bencana
untuk mengantisipasi perubahan iklim yang berdampak
secara global, serta meningkatkan kemampuan
mitigasi bencana melalui penguatan kapasitas
aparatur pemerintah, menjamin berlangsungnya fungsi
sistem peringatan dini dan menyediakan infrastruktur
kesiap-siagaan.
Upaya-upaya untuk pencapaian misi tersebut di atas,
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memerlukan
dukungan, partisipasi, dan kontribusi dari para pihak
disertai regulasi dan kehadiran pemerintah sesuai
tugas dan fungsinya. Sikap saling mendukung
dan berpartisipasi aktif antara para pihak dalam
mewujudkan program-program bersama untuk
kepentingan bersama diharapkan dapat mempercepat
target-target
pembangunan
berkelanjutan
di
Indonesia. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014, bahwa urusan kehutanan menjadi
kewenagngan Pemerintah Provinsi, yang mencakup
kegiatan perencanaan, pengelolaan, konservasi
sumberdaya alam dan ekosistem kecuali Taman
Hutan Rakyat yang menjadi kewenangan kabupaten
dan kota, penyuluhan dan pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Kondisi tersebut menjadi suatu tantangan agar
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dapat mendisain

xi

xii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

arsitektur sistem penyelenggaraan pemerintahan


yang efektif dan efisien sekaligus adaftif pada tataran
kelembagaan perangkat daerah untuk meningkatkan
kinerja yang baik dan pelayanan prima.

menguranginya, maka dikhawatirkan pada tahun


2030 akan meningkat menjadi sebesar 74 juta ton
karbon emisi.
Besarnya emisi karbon tersebut
diakibatkan tingginya angka luas kebakaran hutan
dan lahan, eksploitasi hutan alam serta pengelolaan
lahan gambut yang tidak tepat. Pengelolaan
sumberdaya pembangunan yang tidak mengikuti
prinsip pengelolaan yang lestari terhadap lingkungan
akan mengakibatkan tanah, air dan udara akan terus
mengalami degradasi, sehingga dapat menimbulkan
bencana lingkungan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan guna


terwujudnya pembangunan kawasan yang rendah
emisi Green South Sumatera Development,
menyambut baik ininsiatif dan konsep pengelolaan
kawasan berbasis lanskap yang tercantum dalam
Rencana Induk ini. Kita semua mendukung upaya
dan komitmen Pemerintah Indionesia untuk
menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen
dengan usaha sendiri dan mencapai 41 persen jika
mendapat bantuan internasional pada tahun 2020,
atau sesuai dengan dokumen kontribusi penurunan
emisi karbon yang diniatkan (INDC) Indonesia sebesar
29 persen pada 2020 hingga 2030. Atas dukungan
dan kerjasama semua pihak kami ucapkan terimakasih
dan permohonan maaf jika terdapat salah dan hilaf.

Sebagai salah satu daerah di Indonesia yang


masih
memiliki
hutan
luas
yang
menjadi
paru-paru dunia, untuk mendukung komitmen
Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi gas
rumah kaca, Provinsi Jambi berpeluang besar dapat
melakukan beberapa komponen prioritas kegiatan
antara lain mencegah pembakaran hutan dan lahan
gambut, mengurangi deforestasi dan meningkatkan
produktivitas pertanian berkelanjutan, merehabilitasi
lahan gambut yang terdegradasi, mengelola hutan
secara lestari dan melakukan reboisasi hutan.

Palembang, 30 Maret 2016

GUBERNUR JAMBI
Zumi Zola
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa
hutan merupakan suatu sumberdaya alam yang
dapat diperbaharui yang di dalamnya terkandung
manfaat-manfaat yang sangat luar biasa, baik yang
Tangible maupun Intangible. Hutan juga merupakan
habitat dari beribu-ribu satwa dan flora yang sangat
beranekaragam. Diketahui pula bahwa keberadaan
hutan kita, khususnya di Jambi sudah berada
dalam kondisi yang memprihatinkan. Tingkat dan
laju kerusakan hutan dari tahun ke tahun semakin
bertambah, yang diikuti oleh menurunnya kualitas
lingkungan global. Hal tersebut berdampak terhadap
seringnya terjadi bencana alam, seperti banjir dan
erosi. Di masa lalu, kondisi hutan dan Daerah Aliran
Sungai (DAS) di Provinsi Jambi masih baik sehingga
mampu menjalankan fungsi konservasi tanah dan
hidrologi dengan baik sehingga bencana-bencana
seperti banjir dan erosi sangat jarang terjadi.
Selain itu, berdasarkan kajian dinyatakan pula Provinsi
Jambi menyumbang emisi nasional sebesar 57 juta ton
karbon emisi di tahun 2005. Jika kita tetap menjalankan
Business As Usual atau tidak memiliki upaya untuk

Sebagai langkah awal, pada tahun 2010 yang lalu


Pemerintah Provinsi Jambi telah mendeklarasikan kebijakan
kesejahteraan rendah karbon untuk menangani
permasalahan yang dilematis tersebut di atas.
Hal ini sekaligus meluruskan pemikiran, bahwa program
pengurangan emisi karbon tidak harus mengorbankan
pertumbuhan ekonomi daerah.
Demi tercapainya komitmen tersebut, Pemerintah
Provinsi Jambi tidak dapat berkerja sendiri secara parsial
dan memerlukan dukungan, partisipasi, dan kontribusi
dari para pihak. Sebaliknya, para pihak juga memerlukan
dukungan regulasi dan kehadiran pemerintah sesuai
tugas dan fungsinya. Sikap saling mendukung dan
berpartisipasi aktif antara para pihak dalam mewujudkan
program-program bersama untuk kepentingan bersama
diharapkan
dapat
mempercepat
target-target
pembangunan berkelanjutan di Indonesia secara umum
dan di Jambi secara khusus.
Setelah mencermati dengan seksama substansi dari
dokumen Rencana Induk Pengembangan Konservasi
Bentang Alam (landscape) di Sumatera dan Kalimantan
ini, terdapat sejumlah kesamaan target yang hendak
dicapai dalam pengelolaan bentang alam ini dengan
target-target umum Pemerintah Provinsi Jambi, seperti
upaya dalam mendorong para pihak untuk merehabilitasi

xiii

xiv

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

hutan dan lahan, mencegah serta menanggulangi


kebakaran hutan dan lahan, mitigasi perubahan iklim,
dan meningkatkan akses masyarakat sekitar hutan
dalam pengelolaan sumber daya hutan.
Program-program yang terkait dengan pengelolaan
hutan lindung, perlindungan satwa liar yang dilindungi,
restorasi/pemulihan ekosistem, pencegahan serta
penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,
pengelolaan gambut, dan penegakkan hukum di
berbagai inisiatif bentang alam tersebut juga sudah
sejalan dengan target-target umum Pemerintah
Provinsi Jambi. Oleh karenanya, dalam perencanaan
dan pelaksanaan lebih lanjut dari dokumen ini, perlu
melibatkan dan keterlibatan dinas-dinas terkait baik di
lingkup provinsi maupun kabupaten.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut,
Pemerintah Provinsi Jambi menyambut baik inisiatif dan
konsep pengelolaan kawasan berbasis bentang alam
ini, dengan satu harapan bahwa konsep pengelolaan
kawasan seperti ini dapat sejalan dan mendukung
upaya untuk mewujudkan pengelolaan hutan secara
berkelanjutan serta kesejahteraan rendah karbon di
Provinsi Jambi.

Jambi, 25 April 2016.

xv

xvi

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

xvii

xviii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

RINGKASAN EKSEKUTIF

asyarakat internasional mengenal Indonesia


sebagai salah satu negara negara dengan
tingkat keanekaragaman hayati yang
tertinggi dan ekosistem yang beragam,
mulai dari terumbu karang hingga puncak gunung
bersalju. Namun, tantangan untuk melestarikan
sumberdaya alam, hutan, dan keanekagaraman
hayatinya juga semakin meningkat. Kawasan hutan
mengalami tekanan deforestasi dan degradasi akibat
kegiatan-kegiatan yang sah dan tidak sah, terencana
dan tidak terencana, termasuk kebakaran hutan,
konversi hutan, penebangan hutan, dan konversi lahan
gambut. Kondisi itu memicu persoalan baru berupa
menurunnya kualitas lingkungan bagi kehidupan
manusia, kualitas habitat satwa liar, dan kualitas daya
dukung lingkungan untuk mencapai pembangunan
yang berkeberlanjutan.
Perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi oleh
sistem pengelolaan hutan di masa lalu yang lebih
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan
mengesampingkan dampaknya terhadap lingkungan
dan sosial. Perubahan politik di Indonesia pada tahun
1998 telah mendorong dinamika dan perubahan
masyarakat pada umumnya, termasuk yang tinggal
di dalam dan sekitar kawasan hutan. Gejolak itu
menyisakan konflik-konflik tenurial antara masyarakat
dengan pemerintah, masyarakat dengan perusahaan,
dan antarkelompok masyarakat di kawasan-kawasan
hutan itu sendiri. Permasalahan menjadi semakin
kompleks dengan semakin menurunnya kualitas dan
kuantitas habitat satwa liar, kian maraknya perburuan
satwa liar untuk dikonsumsi atau diperdagangkan,
yang kemudian menimbulkan konflik manusia-satwa
dalam berbagai tingkatan.

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai


upaya konservasi untuk mencegah kepunahan flora
dan fauna secara in-situ (di habitat aslinya) dan exsitu (di luar habitatnya). Pemerintah telah menunjuk
dan/atau menetapkan 523 kawasan konservasi di
darat dan laut dengan luas total 27,36 juta hektar.
Selain itu, pemerintah juga menetapkan 25 spesies
satwa yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan
populasinya. Berbagai lembaga swadaya masyarakat
lokal, nasional, dan internasional, serta pihak swasta
secara sendiri atau bersama-sama, dengan caranya
masing-masing, juga telah menunjukkan upaya-upaya
untuk menyelamatkan dan melestarikan kawasan
hutan beserta isinya. Namun, gangguan dan ancaman
terhadap keutuhan hutan terus terjadi. Banjir dan
kekeringan di sejumlah daerah merupakan gejala awal
bencana ekologis yang akan mempengaruhi kualitas
kehidupan social-ekonomi masyarakat dan efektivitas
pembangunan.
Para pihak menyadari sepenuhnya bahwa komitmen,
kebijakan, dan implementasi konservasi bentang alam
mutlak memerlukan dukungan dan kerjasama dari
semua pihak, termasuk masyarakat, pemerintah pusat
dan daerah, akademisi/lembaga penelitian, LSM (lokal,
nasional, internasional), dan perusahaan-perusahaan
yang beroperasi di dalam dan sekitar kawasan hutan.
Para pihak itu tidak sekedar menjalankan peran
dan tanggung jawabnya masing-masing, tetapi juga
berbagi peran dengan pihak lain sesuai kapasitas dan
kompetensinya.

xix

xx

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Tingkat Nasional, yang diselenggarakan pada 27 Agustus 2014 sebagai salah satu proses dalam
penyusunan dokumen Rencana Induk Lanskap Skala Besar di Sumatera dan Kalimantan ini. (Foto: Adi Gustomo/APP)

Beberapa perusahaan yang beroperasi di dalam


dan sekitar kawasan hutan telah mengembangkan
program-program yang menjadi kewajiban atau
program sukarela, yang terkait dengan isu konservasi,
lingkungan hidup, dan sosial budaya. Salah satu pihak
swasta yang telah menyatakan komitmennya terhadap
isu konservasi dan perubahan iklim adalah Asia Pulp &
Paper Group (APP). Komitmen itu mencakup Kebijakan
Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/FCP),
perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi
(High Conservation Value/HCV) dan kawasan dengan
cadangan karbon tinggi (High Carbon Stock/HCS),
Rencana Pengelolaan Terpadu Hutan Berkelanjutan
(Integrated Sustainable Forest Management Plan/
ISFMP), pengelolaan gambut, serta mendukung
proteksi dan restorasi satu juta hektar di Sumatera
dan Kalimantan. Namun upaya-upaya dari satu pihak
di dalam bentang alam belum dapat menyelamatkan
keseluruhan bentang alam tanpa didukung dan
dilakukan bersama-sama dengan para pihak yang
berkepentingan lainnya di dalam bentang alam.
Pemerintah selaku regulator, pengawas, dan pengelola
kawasan hutan memiliki peran penting dalam
menyelaraskan kegiatan pembangunan di berbagai
sektor terkait kehutanan sehingga dampaknya dapat
diminimalisir.

Mengingat bahwa upaya konservasi spesies, habitat,


dan ekosistem dipengaruhi oleh banyak faktor yang
membentang dari hulu ke hilir, maka pengelolaan
kawasan dengan pendekatan bentang alam
merupakan salah satu cara untuk mempertemukan
kepentingan lingkungan-konservasi, sosial-budaya,
dan produksi/ekonomi. Dukungan dan keterlibatan
multi pihak dalam kapasitasnya sebagai regulator,
operator, eksekutor, dan penyandang dana
merupakan syarat utama terlaksananya pengelolaan
kawasan berbasis bentang alam. Dengan pendekatan
ini, maka sumberdaya yang dimiliki atau dikuasai oleh
para pihak, dapat disinergikan untuk mencapai tujuan
pengembangan dan pengelolaan konservasi bentang
alam yang berkelanjutan.
Terdapat sejumlah pengertian yang berbeda-beda
mengenai apa yang disebut sebagai bentang alam,
namun untuk dokumen Rencana Induk ini, bentang
alam atau lanskap diartikan sebagai luasan lahan
heterogen atau mosaik geografis yang terbentuk
dari ekosistem-ekosistem atau sub-komponennya
yang saling berinteraksi secara berulang-ulang,
yang terbentuk dari pengaruh kondisi geologi, iklim,
topografi, air, tanah, biota, dan aktivitas manusia.

Dalam perspektif penggunaan lahan oleh manusia,


bentang alam diartikan sebagai hasil dari dinamika
lingkungan dan masyarakat yang berkembang di
dalamnya. Struktur, organisasi, dan dinamika bentang
alam secara konstan berinteraksi dengan proses
ekologis yang terjadi di dalamnya. Perubahan yang
terjadi akibat proses-proses alamiah atau kegiatan
manusia merupakan salah satu karakter bentang
alam yang akan mempengaruhi proses dan interaksi
unit-unit di dalam bentang alam secara keseluruhan.
Namun perubahan-perubahan di dalam bentang
alam harus dikelola untuk mencapai keberlanjutan
kehidupan sosial, pengembangan ekonomi, dan jasajasa ekosistem.

Gagasan Single Large or Several Small (SLOSS)


dalam biologi konservasi telah menjadi perdebatan
yang panjang dalam konteks efektivitas pengelolaan
kawasan. Berdasarkan fakta-fakta perubahan dinamika
sosial yang ada di Indonesia, terutama di Sumatera
dan Kalimantan, kawasan-kawasan konservasi
yang berukuran kecil sebagian besar atau hampir
seluruhnya tidak dapat dipertahankan fungsinya.
Suaka Margasatwa Balai Raja di Riau, misalnya, hampir
seluruhnya sudah menjadi perkebunan sawit. Atas
dasar itu, pendekatan single large, satu kawasan yang
luas, merupakan pilihan yang lebih memungkinkan
dikelola secara kolaboratif. Upaya konservasi pada
skala bentang alam yang luas menjadi suatu pilihan
yang logis untuk saat ini.

Kawasan-kawasan hutan, termasuk hutan produksi


dan konservasi pada skala bentang alam tidak dapat
dipisahkan dari aktivitas-aktivitas manusia. Tingkat
kualitas hubungan manusia dan alam menjadi faktor
penentu untuk menyelesaikan krisis lingkungan. Para
pihak harus berkompromi terhadap sistem-sistem
yang ada di dalam suatu bentang alam, dan melakukan
pembagian ruang/zonasi di dalam bentang alam.
Aliran energi/materi dan pergerakan makhluk hidup,
termasuk manusia, akan terjadi antarruang sehingga
perlu pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan.
Pengelolaan kawasan berbasis bentang alam yang
berkelanjutan telah mengalami perbaikan seiring
dengan perubahan perspektif yang berorientasi
konservasi menjadi kompromi yang mensinergikan
berbagai tujuan penggunaan lahan dan sumberdaya,
yang berorientasi pada manusia (people-centered).

Kawasan konservasi di dalam bentang alam seringkali


berada di antara areal pemanfaatan, seperti
perkebunan, permukiman, HTI, dan pertambangan.
Dengan pendekatan bentang alam yang multisektor, multi-kepentingan, dan multi-pihak, maka
pengelolan kawasan konservasi harus mengubah pola
pengelolaan skala tunggal (single scale management)
menjadi pengelolaan skala jamak (multi-scale
management). Tanpa pendekatan multipihak di skala
bentang alam, maka kawasan konservasi akan menjadi
bercak kecil di antara mosaik kawasan budidaya,
menjadi pulau yang terisolasi. Fakta itu memperkuat
argumentasi perlunya upaya konservasi, proteksi,
dan restorasi dalam skala bentang alam agar proses
ekologis tetap berlangsung dan saling menguntungkan
antara kawasan konservasi dan kawasan budidaya
di sekitarnya. Kondisi itu mengharuskan semua pihak
membangun mutual respect, mutual trust, dan mutual
benefit untuk bersama-sama mengelola bentang alam.

Pengelolaan suatu kawasan dengan pendekatan


bentang alam ini akan lebih banyak memberikan ruang
kerja, ruang koordinasi, dan ruang negosiasi bagi para
pihak yang terlibat dan terdampak di dalam bentang
alam untuk memformulasikan dan
menerapkan
praktik-praktik terbaik di dalam bidang usahanya.
Konsep itu perlu dituangkan ke dalam Rencana Induk
yang utuh, terencana, dan terukur sehingga dapat
menjadi panduan atau referensi para pihak dalam
merencanakan, melaksanakan, dan memonitorevaluasi program-program konservasi secara umum,
restorasi, proteksi, pengembangan masyarakat, dan
pengembangan wilayah.
Dengan memperhatikan pendapat dan masukan dari
para pihak yang tergabung di dalam Solution Working
Group (SWG), sebuah wahana tidak mengikat yang
memungkinkan organisasi konservasi, pemerintah,
dan masyarakat untuk mendiskusikan implementasi
kebijakan-kebijakan APP dan capaian Environmental
Paper Network (EPN), telah disepakati bahwa komitmen
proteksi dan restorasi itu akan diterapkan dalam skala
bentang alam. Di dalam pertemuan konsultasi nasional
tanggal 24 Juni 2014 di Jakarta, para pihak tersebut
mendiskusikan 10 (sepuluh) bentang alam target, yaitu
Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSKBB), Bukit Tigapuluh,
Berbak-Sembilang, Dangku Meranti, dan Kubu. Sejak
itu telah dilakukan serangkaian pertemuan di tingkat
bentang alam yang difasilitasi oleh LSM setempat,
pemerintah daerah, dan pihak swasta. Pertemuan
tersebut bertujuan mengidentifikasi permasalahan
dan kebutuhan-kebutuhan aksi konservasi di tingkat
bentang alam.

xxi

xxii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Dokumen Rencana Induk Pengembangan Konservasi


Bentang Alam Skala Besar di Sumatera dan
Kalimantan ini disusun dengan tujuan mensinergikan
dan mengharmonisasikan kegiatan-kegiatan di
dalam bentang alam yang dilakukan oleh para pihak
dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosialbudaya, dan pembangunan ekonomi/produksi yang
berkelanjutan; memperkuat dan memadukan arahanarahan program dari rencana-rencana pengelolaan
yang telah ada di dalam dan sekitar bentang alam;
serta menjadi pedoman bersama dan referensi bagi
para pihak yang ingin berpartisipasi sesuai kapasitas
dan kepentingannya di dalam bentang alam melalui
program strategis dan program pendukung.
Rencana Induk ini disusun dengan mempertimbangkan
pendapat dan saran dari para pihak yang berada
di tingkat bentang alam, nasional dan internasional,
khususnya yang beroperasi di dalam dan sekitar
bentang alam. Penyusunan Rencana Induk dilakukan
antara bulan Februari 2015 dan Agustus 2015,
mencakup kegiatan pengumpulan data, penelusuran
literatur, focus group discussion, wawancara, analisis,
tinjauan pakar, dan konsultasi nasional dengan para
pihak. Data dan informasi diperoleh dari berbagai
sumber berupa file elektronik, dokumen cetak,
dan citra satelit yang di konsultasikan ke sejumlah
narasumber. Hasil dari analisis keanekaragaman
hayati dan ekosistem, kelembagaan dan kebijakan,
sosial ekonomi, sosial budaya, pemetaan para pihak,
dan analisis spasial di setiap bentang alam ditelaah
lebih lanjut dengan analisis SWOT untuk merancang
visi, misi, dan strategi konservasi bentang alam.
Sepuluh bentang alam target yang dianalisis di dalam
dokumen Rencana Induk ini adalah Senepis, Giam
Siak Kecil-Bukit Batu (GSKBB), Semenanjung Kampar,
Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Berbak-Sembilang,
Dangku-Meranti, Padang Sugihan, Kubu, dan Kutai.
Secara indikatif, total bentang alam target ini mencapai
luas 10.145.187,90 hektar, termasuk 19 kawasan
konservasi (KSA/KPA) seluas 1.156.003 hektar.
Berdasarkan sejumlah publikasi dan dokumen kajian
kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation
Value/HCV) di area konsesi hutan, telah teridentifikasi
1.018 spesies vertebrata di dalam bentang alam,
termasuk 209 spesies yang dilindungi pemerintah
Indonesia, 213 spesies yang masuk dalam kategori
Daftar Merah IUCN, 32 spesies kategori Apendiks I
CITES, dan 38 spesies EDGE (Evolutionarily Distinct
and Globally Endangered). Jumlah tersebut dapat
berubah seriring dengan penambahan data dan
informasi keanekaragaman hayati di setiap bentang
alam.

Dengan mempertimbangkan fitur-fitur konservasi yang


ada di dalam bentang alam, ditentukanlah Kawasan
Penting Bentang alam (KPL) yang menjadi prioritas
area kerja. Fitur-fitur itu mencakup kawasan hutan
konservasi (KSA/KPA), hutan lindung, kawasan lindung
seperti sempadan sungai, danau, dan pantai, sebaran
spesies flagship, kawasan bernilai konservasi tinggi
(HCV) dan cadangan karbon tinggi (HCS), serta sebaran
gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter. Hasil
analisis spasial itu mengidentifikasi total area di dalam
bentang alam yang tergolong KPL adalah 6.190.740,02
hektar.
Sesuai hasil analisis perbandingan Citra Landsat 8
pada periode cakupan tahun 2003 dan tahun 2014,
didapatlah tutupan lahan kawasan yang masih berhutan,
terdeforestasi, non-hutan alami, dan non-hutan buatan.
Kawasan non hutan alami adalah area yang secara alami
memang tidak terklasifikasi sebagai hutan, sedangkan
non hutan buatan adalah area yang terjadi akibat
intervensi manusia. Status/fungsi lahan yang ada di
dalam bentang alam dikelompokkan menjadi KSA/KPA,
hutan lindung, hutan produksi yang belum dibebani hak,
area konsesi hutan produksi, dan APL.
Dengan mempertimbangkan hasil analisis, diskusi,
dan wawancara dengan narasumber, maka disusunlah
visi, misi, strategi, dan program-program utama
konservasi bentang alam dalam skala rencana induk.
Gagasan ini diawali dengan melakukan program
untuk pengkondisian (enabling condition) berupa
pembangunan
konsensus,
kelembagaan,
dan
kebijakan pendukung. Pengkondisian itu diarahkan
pada dua program strategis utama, yaitu proteksi
dan restorasi di bentang alam target. Sedangkan
program pendukungnya adalah pemberdayaan
masyarakat dan asistensi-pemantauan pada skala
bentang alam. Lokasi area kerja untuk proteksi,
restorasi, pemberdayaan masyarakat, dan asistensipemantauan di setiap bentang alam ditentukan
berdasarkan pengelompokkan status/fungsi lahan
dan kondisi penutupan lahan sebagaimana diuraikan
di atas. Luasan dan sebaran arahan program utama,
serta para pemangku kawasan di setiap bentang alam
ditampilkan di dalam Tabel IV-5 dan Gambar IV-12
sampai dengan Gambar IV-20.
Arahan program utama di suatu lokasi, misalnya
restorasi tidak berarti bahwa kegiatannya hanya
restorasi. Kegiatan restorasi itu menjadi fokus,
namun tidak dimaksudkan berdiri sendiri, melainkan
memerlukan dukungan kegiatan lainnya seperti
proteksi dan pemberdayaan masyarakat.

Konservasi bentang alam merupakan aksi kolektif,


sehingga kesadaran dan komitmen
para pihak
adalah faktor pemungkin (pengkondisian) bagi
terselengaranya
konservasi
bentang
alam.
Kesadaran dan komitmen tersebut harus diwujudkan
dalam bentuk konsensus dan pelembagaan agar
konservasi bentang alam dapat bertransformasi
dari ide bersama menjadi aksi bersama. Bentuk
fisik konsensus dapat berupa dokumen-dokumen
kesepakatan para pihak, sementara pelembagaan
dapat berupa pengarusutamaan konservasi bentang
alam kedalam kebijakan, rencana dan kegiatan para
pihak. Pelembagaan juga termasuk pembentukan
kelembagaan multipihak sebagai wadah koordinasi
dan sinkronisasi rencana-rencana kerja para pihak dari
unsur pemerintah dan non pemerintah.
Program proteksi bentang alam dirumuskan sebagai
proses yang bertujuan untuk menjaga keutuhan
bentang alam melalui upaya-upaya mempertahankan
beberapa jenis penggunaan lahan yang kondisinya
masih baik dan memiliki peran penting sebagai
perekat keutuhan dan penopang kesehatan suatu
ekosistem bentang alam. Program proteksi dan
kegiatan-kegiatannya akan beragam di setiap bentang
alam, tergantung kondisi dan karakteristik bentang
alam, status dan fungsi lahan, dan peluang-peluang
yang ada. Fokus investasi diarahkan pada penguatan
sistem perlindungan dan pengamanan kawasan hutan
pada instusi pengelola hutan di tingkat tapak. Selain
itu, intervensi program proteksi bentang alam juga
dapat berupa pembentukan organisasi-organisasi
perlindungan dan pengamanan berbasis masyarakat
(community patrol unit) atau unit-unit tanggap
(response units) untuk beberapa kasus khusus dan
lintas unit lahan, misalnya unit tanggap penanganan
kebakaran hutan dan konflik manusia-satwa. Kegiatan
proteksi dapat bersifat preemptive, preventive, dan/
atau repressive tergantung situasinya. Total area yang
teridentifikasi menjadi areal kerja proteksi di seluruh
bentang alam seluas 2.001.520,92 hektar.
Pengertian tentang restorasi cukup beragam, namun
restorasi pada konservasi bentang alam di dalam
Rencana Induk ini pada dasarnya diarahkan untuk
memulihkan habitat spesies flagship sekaligus
merehabilitasi daerah tangkapan air dan secara
langsung dapat meningkatkan kemampuan ekosistem
untuk menyerap dan menyimpan karbon. Secara teknis,
perlakuan di dalam restorasi pada 10 bentang alam
akan berbeda, tergantung dari sifat tapak (mineral atau
gambut) dan ekosistem rujukan berupa habitat spesies
bendera. Wilayah kerja restorasi ditujukan pada
wilayah KPL yang masuk dalam kategori terdeforestasi
di setiap bentang alam, dengan total seluas 320.899,
03 hektar.

Pemberdayaan masyarakat bertumpu pada tiga


kegiatan utama, yakni: 1) Meningkatkan akses kepada
masyarakat terhadap pengelolaan dan manfaat
hutan; 2) Meningkatkan kapasitas masyarakat; dan 3)
Meningkatkan asupan teknologi tepat guna, ramah
lingkungan, rendah modal, dan jaminan pemasarannya.
Tantangan
pemberdayaan
masyarakat
dalam
konservasi bentang alam ini adalah meningkatkan
keterlibatan masyarakat dalam upaya restorasi dan
proteksi sekaligus meningkatkan peluang bagi mereka
untuk terlepas dari kondisi kemiskinan struktural dan
absolut. Tantangan lainnya adalah meningkatkan
kesadaran, pengetahuan, dan keterlibatan masyarakat
dalam upaya restorasi dan proteksi. Oleh karenanya
pemberdayaan masyarakat juga harus didukung
oleh program-program pendidikan lingkungan dan
konservasi. Area prioritas untk pemberdayaan di
dalam bentang alam sekitar 104.295,78 hektar.
Kegiatan pemantauan dan asistensi teknis difokuskan
pada hutan produksi yang sudah dibebani hak
konsesi, mencakup pemantauan kinerja kegiatankegiatan pada program proteksi dan restorasi serta
pemantauan kinerja pengelolaan kawasan bernilai
konservasi tinggi dan karbon tinggi di dalam arealareal kerja konsesi hutan produksi. Kegiatan asistensi
teknis diarahkan untuk memberikan bantuan teknis
(technical assistance) terhadap penyelegggaraaan
konservasi bentang alam secara terpadu atau parsial.
Kegiatan asistensi teknis sebaiknya dilakukan oleh
suatu unit kerja yang dibentuk pada tingkat nasional
dalam bentuk Technical Advisor Committee (TAC)
untuk mengawal implementasi Rencana Induk di
tingkat bentang alam secara terpadu. Area prioritas
untuk program pemantauan dan asistensi adalah
seluas 293.851,57 hektar.

xxiii

xxiv

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

DAFTAR SINGKATAN

AAC
AFOLU
AHP
AATHP
APL
BAPPENAS
BBKSDA
BPS
BTN
CB
CBD

Damkarhutla
DAS
EBA
FLR
HCS
HCV
HD
HHBK
HHK
HKm
HTR

: Annual Allowable Cut/Jatah


Tebangan Tahunan
: Agriculture, Forestry, and
Other Land Use
: ASEAN Declaration on
Heritage Parks and Reserves
: ASEAN Agreement on
Transboundary Haze Pollution
: Areal Penggunaan Lain
: Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional
: Balai Besar Konservasi
Sumber Daya Alam
: Badan Pusat Statistik
: Balai Taman Nasional
: Cagar Biosfer
: Convention on Biological
Diversity/Konvensi
Keanekaragaman Hayati
: Pemadaman Kebakaran Hutan
dan Lahan
: Daerah Aliran Sungai
: Endemic Bird Area/Kawasan
Burung Endemik
: Forest Landscape Restoration
: High Carbon Stock/Cadangan
Karbon Tinggi
: High Conservation Value/Nilai
Konservasi Tinggi (NKT)
: Hutan Desa
: Hasil Hutan Bukan Kayu
: Hasil Hutan Kayu
: Hutan Kemasyarakatan
: Hutan Tanaman Rakyat

IBA
IBSAP
IFCA
IPCC
IPSDH
IUPHHK-RE

IUPHHK-HTI

Jasling
KBA

KPH

KLHK
KLHS
KKHSB
KPL
KPA

: Important Bird Area/Kawasan


Penting Burung
: Indonesia Biodiversity
Strategy and Action Plan
: Indonesian Forest Climate
Alliance
: Intergovernmental Panel on
Climate Change
: Inventarisasi dan Pemantauan
Sumber Daya Hutan
: Ijin Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu Restorasi
Ekosistem
: Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu Hutan Tanaman
Industri
: Jasa Lingkungan
: Key Biodiversity Area/
Kawasan Keanekaragaman
Hayati Kunci
: Kesatuan Pengelolaan Hutan.
Terdiri dari KPHP (Hutan
Produksi), KPHL (Hutan
Lindung), dan KPHK (Hutan
Konservasi).
: Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan
: Kajian Lingkungan Hidup
Strategis
: Kawasan Konservasi Harimau
Senepis-Buluhala
: Kawasan Penting Lanskap
(Bentang alam)
: Kawasan Pelestarian Alam.
Terdiri dari Taman Nasional
(TN), Taman Hutan Raya

KSA

KSDAE

KMS
MAB

:
:

MDGs

MHA
PAK

:
:

PDRB

Permenhut
PHKA

:
:

PIAPS

PLG/PKG

PSKL

RHL
RPJMD

:
:

RPJMN

(Tahura), dan Taman Wisata


Alam (TWA).
Kawasan Suaka Alam. Terdiri
dari Cagar Alam (CA) dan
Suaka Margasatwa (SM)
Konservasi Sumber Daya Alam
dan Ekosistem
Konflik Manusia-Satwa-liar
Man and the Biosphere/
Manusia dan Biosfir
Millennium Development
Goals/Tujuan Pembangunan
Milenium
Masyarakat Hukum Adat
Pencadangan Area
Kerja. Dialokasikan untuk
Hutan Desa (HD), Hutan
Kemasyarakatan (HKm), dan
Hutan Tanaman Rakyat (HTR).
Produk Domestik Regional
Bruto
Peraturan Menteri Kehutanan
Perlindungan Hutan dan
Konservasi Alam
Peta Indikatif Arahan
Perhutanan Sosial
Pusat Latihan Gajah/Pusat
Konservasi Gajah
Perhutanan Sosial dan
Kemitraan Lingkungan
Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Rencana Pembangungan
Jangka Menengah Daerah
Rencana Pembangungan
Jangka Menengah Nasional

RPPLH

RTP
RTRW

SDGs

SKPD
SRAK
Tahura
THPB
TPTI
UNFCC

UPT
WCRU

WHS

: Rencana Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
: Rumah Tangga Petani
: Rencana Tata Ruang Wilayah
(tingkat Nasional, Provinsi,
Kabupaten)
: Sustainable Development
Goals/Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan
: Satuan Kerja Perangkat
Daerah
: Strategi dan Rencana Aksi
Konservasi
: Taman Hutan Raya (THR)
: Tebang Habis dengan
Permudaan Buatan
: Tebang Pilih Tanam Indonesia
: United Nations Framework
on Climate Change/Kerangka
PBB tentang Perubahan Iklim
: Unit Pelaksana Teknis
: Wildlife Conflict Respond Unit/
Satuan Tanggap Konflik Satwa
Liar
: World Heritage Site/Situs
Warisan Dunia

xxv

xxvi

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

DAFTAR ISI
PENGANTAR...........................................................................................vi
SAMBUTAN -SAMBUTAN...................................................................ix
RINGKASAN EKSEKUTIF....................................................................xix
DAFTAR SINGKATAN...........................................................................xxiv
DAFTAR GAMBAR.................................................................................xxviii
DAFTAR TABEL......................................................................................xxx
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................xxxii

3.2.1.
3.2.2.
3.2.3.
3.2.4.
3.2.5.
3.2.6.
3.2.7.

BAB SATU
PENDAHULUAN...............................................................................2
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

LATAR BELAKANG ................................................................... 2


MAKSUD DAN TUJUAN .......................................................... 5
RUANG LINGKUP WILAYAH .................................................. 5
TAHAPAN DAN METODOLOGI ............................................ 6

BAB DUA
PENGELOLAAN KAWASAN BERBASIS BENTANG ALAM...15
PENGELOLAAN BENTANG ALAM
BERKELANJUTAN.....................................................................15
2.1.1 Cagar Biosfer ............................................................................ 16
2.1.2 Hutan Model (Model Forest) .................................................17
2.1.3 IUCN Kategori V: Protected Landscape ............................18
2.1.4 Kawasan Ekosistem ................................................................ 19
2.1.5 Koridor Ekosistem ................................................................... 19
2.2 PERSPEKTIF GLOBAL DALAM KONSERVASI
BENTANG ALAM .................................................................... 20
2.2.1 Spesies Penting Tingkat Global ........................................ 20
2.2.2 Status Global Kawasan Konservasi .................................. 22
2.2.3 Kerangka Kebijakan Global untuk Mendukung
Konservasi Bentang Alam ....................................................24
2.3. KERANGKA HUKUM PENGELOLAAN
BENTANG ALAM .....................................................................27
2.3.1. Kawasan Lindung di dalam Bentang Alam .....................27
2.3.2 Regulasi dalam Pengelolaan Bentang Alam ..................28
2.4. TANTANGAN DAN PELUANG ............................................ 30
2.4.1. Keterwakilan Ekosistem Penting di
Kawasan Konservasi ............................................................. 30
2.4.2. RKTN 2011-2030 dan Target Kementerian LHK .............31
2.4.3. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) ..................................31
2.4.4. Perhutanan Sosial sebagai Peluang Penyelesaian
Konflik Tenurial ........................................................................32
2.4.5. Tantangan Sosial di dalam Bentang Alam ......................36
2.4.6. Konflik Manusia-Satwa Liar ..................................................39
2.4.7. Komunitas Masyarakat Hukum Adat ................................ 40
2.1.

BAB TIGA
PROFIL BENTANG ALAM ........................................................... 48
3.1. KONDISI UMUM BENTANG ALAM ....................................48
3.1.1. Peta Indikatif Bentang Alam ................................................48
3.1.2. Kawasan Konservasi dan Konservasi Spesies ..............49
3.1.3. Tipe Ekosistem di dalam Bentang Alam ..........................52
3.1.4. Nilai Cadangan Karbon Tier-1 ..............................................57
3.1.5. Titik Api di Bentang Alam .................................................... 58
3.1.6. Kondisi Sosial-Ekonomi .........................................................61
3.1.7. Konflik Sosial (Tenurial) .........................................................67
3.1.8. Model Konseptual (Miradi) .................................................. 68
3.2. KONDISI KHUSUS BENTANG ALAM ................................72

3.2.8.
3.2.9.
3.2.10.

Bentang Alam Senepis, Riau ...............................................72


Bentang Alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau ...........75
Bentang Alam Semenanjung Kampar, Riau ....................79
Bentang Alam Kerumutan, Riau ........................................ 82
Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Riau dan Jambi ...........87
Bentang Alam Berbak-Sembilang, Jambi dan
Sumatera Selatan ................................................................... 90
Bentang Alam Dangku-Meranti, Jambi
dan Sumatera Selatan ...........................................................93
Bentang Alam Padang Sugihan, Sumatera Selatan ....97
Bentang Alam Kubu, Kalimantan Barat ..........................100
Bentang Alam Kutai, Kalimantan Timur .........................103

BAB EMPAT
STRATEGI KONSERVASI BENTANG ALAM...............................110
KONSEPTUALISASI KONSERVASI BENTANG ALAM..110
4.1.
4.1.1. Konsensus dan Kelembagaan ........................................... 112
4.1.2. Pengembangan Kebijakan dan
Kapasitas Kelembagaan ......................................................116
4.1.3. Proteksi .....................................................................................116
4.1.4. Restorasi ...................................................................................118
4.1.5. Pemberdayaan Masyarakat ...............................................122
4.1.6. Pemantauan dan Asistensi Teknis ...................................126
VISI DAN MISI KONSERVASI BENTANG ALAM............ 127
4.2.
PRINSIP KONSERVASI BENTANG ALAM ...................... 128
4.3.
STRATEGI KONSERVASI BENTANG ALAM................... 128
4.4.
4.4.1. Wilayah Intervensi Konservasi Bentang Alam.............. 128
4.4.2. Arahan Intervensi ..................................................................130
4.4.3. Strategi Intervensi.................................................................. 148
BAB LIMA
ARAH PROGRAM DAN PRIORITAS............................................ 154
5.1.
5.2.
5.2.1.
5.2.2.
5.2.3.
5.2.4.
5.3.
5.3.1.
5.3.2.
5.3.3.
5.3.4.
5.4.
5.4.1.
5.4.2.
5.5.
5.5.1.
5.5.2.
5.5.3.
5.6.
5.6.1.
5.6.2.

PROGRAM KERJA KONSERVASI


BENTANG ALAM....................................................................154
PROGRAM STRATEGIS .......................................................154
Program Pembangunan Konsensus.................................154
Program Pengembangan Kelembagaan........................156
Program Aksi Proteksi..........................................................158
Program Aksi Restorasi........................................................160
PROGRAM PENDUKUNG .................................................... 161
Program Pengembangan Kapasitas................................. 161
Program Pemberdayaan Masyarakat..............................163
Program Pendidikan Lingkungan Hidup
dan Konservasi Alam............................................................164
Program Pemantauan dan Asistensi Teknis..................165
HIERARKI DAN PERIODE PERENCANAAN................... 176
Jenis-jenis Rencana pada Konservasi
Bentang Alam.......................................................................... 176
Periode Perencanaan Konservasi Bentang Alam........ 177
PRIORITAS BENTANG ALAM............................................. 177
Penilaian Aspek Kepentingan............................................ 177
Penilaian Aspek Kemendesakan...................................... 178
Penilaian Akhir Prioritas Bentang Alam..........................180
SKEMA PENDANAAN KONSERVASI
BENTANG ALAM.....................................................................181
Sumber Pendanaan................................................................181
Skema Pembiayaan................................................................181

BAB ENAM
MONITORING DAN EVALUASI KONSERVASI
BENTANG ALAM............................................................................. 186
6.1
6.2.

Kerangka Kerja Pemantauan dan Evaluasi....................186


Penilaian Kinerja Konservasi Bentang Alam.................190

REFERENSI....................................................................................... 192
LAMPIRAN........................................................................................ 197

xxvii

xxviii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

DAFTAR GAMBAR
Gambar I-1.
Gambar I-2.
Gambar I-3.
Gambar I-4.
Gambar I-5.
Gambar II-1.
Gambar II-2.
Gambar II-3.
Gambar II-4.
Gambar II-5.
Gambar II-6.
Gambar II-7.
Gambar III-1.
Gambar III-2.
Gambar III-3.
Gambar III-4.
Gambar III-5.
Gambar III-6.
Gambar III-7.
Gambar III-8.
Gambar III-9.
Gambar III-10.
Gambar III-11.
Gambar III-12.
Gambar III-13.
Gambar III-14.
Gambar III-15.
Gambar III-16.
Gambar III-17.
Gambar III-18.
Gambar III-19.

Metodologi dan proses penyusunan


rencana induk .................................................................. 6
Peta indikatif dan sebaran sepuluh bentang
alam target di Sumatera dan Kalimantan................. 7
Input-input yang diperlukan untuk membangun
model konseptual ........................................................... 8
Konfigurasi dasar dari model konseptual
di tingkat bentang alam ................................................ 9
Contoh kuadran hasil analisis
pengaruh kepentingan para pihak............................. 9
Empat aspek utama dan empat paradigma
manajemen bentang alam............................................15
Pembagian ruang yang dibutuhkan manusia
dalam pengembangan bentang alam......................15
Delineasi Koridor Rimba di Sumatera..................... 20
Kerangka peraturan perundang-undangan
dalam pengelolaan bentang alam............................29
Alur permasalahan penyebab kerusakan hutan
dan fenomena open access.......................................33
Tipologi kelompok masyarakat untuk
pengembangan perhutanan sosial..........................35
Skema relasi aspek sosial ekonomi masyarakat
dan problem SDA di dalam bentang alam.............37
Perkiraan nilai cadangan karbon (TonCarbon)
di sepuluh bentang alam.............................................58
Jumlah dan sebaran titik api di setiap
bentang alam pada periode 2009-2013.................59
Pola sebaran lokasi (patches) titik api padat di
10 bentang alam pada periode 2009-2013.......... 60
Jumlah rumah tangga petani berdasarkan
subsektor 2003 di lima provinsi ...............................65
Jumlah rumah tangga petani berdasarkan
subsektor 2013 di lima provinsi.................................65
Peta sebaran konflik di sepuluh bentang alam....69
Tipologi konflik sosial sebelum dan
sesudah kajian sosial....................................................69
Hasil analisis model konseptual Miradi
di seluruh bentang alam target .................................71
Peta indikatif bentang alam Senepis,
status kawasan, dan tipe ekoregion .......................72
Persentase pendidikan terakhir penduduk
di Bentang Alam Senepis ........................................... 74
Peta indikatif Bentang Alam GSK-BB,
status kawasan, dan tipe ekoregion .......................76
Persentase pendidikan terakhir penduduk
kecamatan di Bentang Alam GSKBB ...................... 77
Peta indikatif Bentang Alam Semenanjung Kampar,
status kawasan, dan tipe ekoregion ...................... 80
Persentase pendidikan terakhir penduduk di
Bentang Alam Semenanjung Kampar......................81
Peta indikatif Bentang Alam Kerumutan,
status kawasan, dan tipe ekoregion .......................82
Persentase pendidikan terakhir penduduk
di Bentang Alam Kerumutan .....................................84
Peta indikatif Bentang Alam Bukit Tigapuluh,
status kawasan, dan tipe ekoregion ...................... 86
Persentasi pendidikan terakhir penduduk di
Bentang Alam Bukit Tigapuluh .................................87
Peta indikatif Bentang Alam Berbak-Sembilang,
status kawasan, dan tipe ekoregion ...................... 90

Gambar III-20. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Berbak Sembilang ...........................92
Gambar III-21. Peta indikatif Bentang Alam Dangku-Meranti,
status kawasan, dan tipe ekoregion .......................93
Gambar III-22. Persentase pendidikan terakhir penduduk
di Bentang Alam Dangku-Meranti ...........................94
Gambar III-23. Peta indikatif Bentang Alam Padang Sugihan,
status kawasan, dan tipe ekoregion .......................98
Gambar III-24. Persentase pendidikan terakhir penduduk
di Bentang Alam Padang Sugihan .......................... 99
Gambar III-25. Peta indikatif Bentang Alam Kubu,
status kawasan, dan tipe ekoregion .....................100
Gambar III-26. Persentase pendidikan terakhir penduduk
di Bentang Alam Kubu ................................................101
Gambar III-27. Peta indikatif Bentang Alam Kutai,
status kawasan, dan tipe ekoregion .....................103
Gambar III-28. Persentase pendidikan terakhir penduduk
di Bentang Alam Kutai ...............................................104
Gambar IV-1. Konseptualisasi pengembangan konservasi
bentang alam ................................................................. 112
Gambar IV-2. Diagram alur program pembangunan
konsensus konservasi bentang alam .................... 113
Gambar IV-3. Model pengembangan kelembagaan
multipihak untuk konservasi bentang alam ........ 114
Gambar IV-4. Model pengembangan kapasitas untuk
konservasi bentang alam ..........................................116
Gambar IV-5. Diagram model program aksi proteksi pada
konservasi bentang alam .......................................... 118
Gambar IV-6. Berbagai istilah untuk kegiatan restorasi dan
pemulihan kawasan ...................................................120
Gambar IV-7. Diagram model program aksi proteksi pada
konservasi bentang alam .......................................... 121
Gambar IV-8. Model pemberdayaan masyarakat pada
konservasi bentang alam ......................................... 123
Gambar IV-9. Contoh hasil tumpangsusun area bernilai
cadangan karbon tinggi (HCS) dan KPL .............. 129
Gambar IV-10. Proses reklasifikasi tutupan lahan untuk penentuan
Arahan Pengelolaan Bentang Alam ......................130
Gambar IV-11. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Senepis .............................. 135
Gambar IV-12. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL GSKBB ................................ 136
Gambar IV-13. Para pemangku kawasan dan lokasi program
utama di KPL Semenanjung Kampar .................... 137
Gambar IV-14. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Kerumutan ......................... 138
Gambar IV-15. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Bukit Tigapuluh ............... 139
Gambar IV-16. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Dangku-Meranti ..............140
Gambar IV-17. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Berbak-Sembilang ........... 141
Gambar IV-18. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Padang Sugihan .............. 142
Gambar IV-19. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Kubu .................................... 143
Gambar IV-20. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi
program utama di KPL Kutai .................................... 144

Gambar V-1.
Gambar V-2.
Gambar V-3.
Gambar VI-1.
Gambar VI-2.
Gambar VI-3.

Hierarki visi, misi, strategi, dan program kerja


konservasi bentang alam .........................................155
Hubungan hierarki berbagai rencana dalam
konservasi bentang alam ......................................... 176
Pengelompokkan prioritas bentang alam
sesuai kepentingan dan kemendesakan ............180
Hubungan kausalitas Input-Output-OutcomeBenefit-Impact konservasi bentang alam ............188
Bagan sistem pemantauan dan
evaluasi terpadu ..........................................................189
Ilustrasi kinerja program konservasi
bentang alam ................................................................190

xxix

xxx

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

DAFTAR TABEL
Tabel I-1.
Tabel II-1.
Tabel II-2.
Tabel II-3.
Tabel II-4.
Tabel II-5.
Tabel II-6.
Tabel III-1.
Tabel III-2.
Tabel III-3.
Tabel III-4.
Tabel III-5.
Tabel III-6.
Tabel III-7.
Tabel III-8.
Tabel III-9.
Tabel III-10.
Tabel III-11.
Tabel III-12.
Tabel III-13.
Tabel III-14.
Tabel III-15.
Tabel III-16.
Tabel III-17.
Tabel III-18.
Tabel III-19.
Tabel III-20.
Tabel III-21.
Tabel III-22.

Daftar pertemuan dan diskusi kelompok terfokus


(FGD) di tingkat bentang alam .................................... 11
Kategori kawasan konservasi berdasarkan
IUCN dan sistem di Indonesia .................................... 18
Kategori kawasanlindungberdasarkan regulasi
tata ruang ........................................................................ 28
Persentase kelompok ekosistem di dalam
dan luar kawasan konservasi .................................... 30
Perbandingan skema Hutan Kemasyarakatan,
Hutan Desa, dan Hutan Tanaman Rakyat ............. 34
Analisis SWOT terhadap tipologi kelompok
masyarakat perhutanan sosial .................................. 33
Perspektif sosial ekonomi terhadap tantangan
dan peluang konservasi bentang alam ................. 35
Karakteristik batas bentang alam untuk
pengembangan sepuluh bentang alam ................ 48
Kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian
alam (KPA) di dalam bentang alam .......................... 50
Jumlah spesies vertebrata di setiap
bentang alam ................................................................... 51
Jumlah spesies di bentang alam berdasarkan kategori
IUCN, CITES, EDGE, dan PP No.7/1999 .................. 51
Luas lahan gambut dan non-gambut
di dalam bentang alam ................................................ 53
Sebaran dan luas ekoregion di sepuluh bentang alam
(hektar) ............................................................................. 54
Luas kedalaman gambut diatas 3 meter dan
dibawah 3 meter di lima provinsi ............................. 55
Perbandingan istilah dan pengertian gambut
dalam regulasi di Indonesia ....................................... 56
Kelas penutupan lahan dan stok karbon (tC/ha)
untuk memperkirakan stok karbon ......................... 57
Jumlah dan persentasi luas patch di setiap
bentang alam .................................................................. 59
Persentase titik api patches padat di
Kawasan Penting Bentang Alam .............................. 60
Jumlah perusahaan, kecamatan, dan desa di
area hotspot patches yang padat ............................. 61
Lokasi prioritas pengendalian kebakaran hutan
dan lahan ......................................................................... 62
Jumlah kabupaten, kecamatan, dan desa di
bentang alam .................................................................. 62
Perkiraan jumlah penduduk kecamatan yang ada
di dalam bentang alam tahun 2014 ......................... 63
PDRB Provinsi dalam bentang alam tahun 2011
dan 2012 .......................................................................... 64
Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan di
dalam bentang alam Senepis ....................................73
Jenis tanaman dan luas areal ditanam di
kabupaten dalam bentang alam Senepis ..............74
Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan di
bentang alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu ..............77
Jenis tanaman dan luas areal ditanam di
kabupaten dalam bentang alam GSKBB ............... 78
Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk kecamatan
dalam bentang alam Semenanjung Kampar ........ 80
Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten
dalam bentang alam Semenanjung Kampar.......... 81

Tabel III-23. Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan dalam


bentang alam Kerumutan ........................................... 83
Tabel III-24. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di
kabupaten dalam bentang alam Kerumutan ........ 84
Tabel III-25. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk
kecamatan dalam bentang alam
Bukit Tigapuluh .............................................................. 88
Tabel III-26. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten
dalam bentang alam Bukit Tigapuluh ..................... 89
Tabel III-27. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk di
bentang alam Berbak Sembilang ............................. 91
Tabel III-28. Jenis tanaman dan luas areal di tanam di kabupaten
dalam bentang alam Berbak Sembilang ............... 92
Tabel III-29. Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan dalam
bentang alam Dangku-Meranti ................................ 95
Tabel III-30. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten
dalam bentang alam Dangku-Meranti ................... 95
Tabel III-31. Wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk di
bentang alam Padang Sugihan ................................ 99
Tabel III-32. Luas perkebunan (hektar) yang dikelola RTP di
bentang alam Padang Sugihan tahun 2013 .......... 99
Tabel III-33. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk
kecamatan di bentang alam Kubu .......................... 101
Tabel III-34. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di
kabupaten dalam bentang alam Kubu ..................102
Tabel III-35. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk
kecamatan dalam bentang alam Kutai ..................104
Tabel III-36. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di
kabupaten/kota dalam bentang alam Kutai ....... 106
Tabel IV-1.
Peran dan fungsi para pihak dalam kelembagaan
pengelolaan bentang alam ........................................115
Tabel IV-2. Gangguan terhadap hutan dan penyebabnya ....117
Tabel IV-3.
Luas kawasan penting bentang alam di sepuluh
bentang alam (hektar) ................................................129
Tabel IV-4. Arahan umum pengelolaan konservasi bentang
alam di kawasan penting bentang alam ................131
Tabel IV-5. Alokasi luas arahan umum program utama
pengelolaan di KPL .....................................................132
Tabel IV-6. Sebaran area target proteksi bentang alam di
10 bentang alam (hektar) ...........................................133
Tabel IV-7.
Arahan umum perumusan program aksi
proteksi di setiap fungsi hutan ................................134
Tabel IV-8. Sebaran area target restorasi bentang alam
pada 10 bentang alam (hektar) ................................145
Tabel IV-9.
Alokasi arahan perhutanan sosial di dalam
bentang alam target ....................................................146
Tabel IV-10. Hasil identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang
dan Ancaman konservasi bentang alam ..............149
Tabel IV-11. Perumusan strategi konservasi di sepuluh
bentang alam ..................................................................151
Tabel V-1.
Matrik Program, Tujuan, Kegiatan, dan Keluaran
dari konservasi bentang alam ..................................167
Tabel V-2.
Indikator nilai penting unit lahan di dalam
bentang alam ................................................................. 177
Tabel V-3.
Kombinasi setiap indikator dalam penilaian tingkat
kepentingan unit lahan ..............................................178
Tabel V-4.
Indikator kemendesakan dengan penggunaan
indikator Indeks Penutupan Lahan dan
Kesesuaian Penggunaan Lahan ..............................179

Tabel V-5.
Tabel V-6.

Komibinasi antarindikator dalam penilaian


tingkat kemendesakan ...............................................179
Penentuan prioritas program berdasarkan
kepentingan dan kemendesakan .......................... 180

xxxi

xxxii

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 5.
Lampiran 6.
Lampiran 7.
Lampiran 8.
Lampiran 9.
Lampiran 10.

Kompilasi rencana aksi yang diusulkan para


pihak di tingkat bentang alam.................................. 198
Matriks hambatan, tantangan, dan
peluang konservasi bentang alam......................... 205
Kompilasi jumlah spesies vertebrata
yang dilindungi di dalam bentang alam................ 208
Area padat hotspot berdasarkan wilayah
administratif (satuan hektar)..................................... 211
Tren pertumbuhan penduduk di dalam
bentang alam tahun 2013-2018............................... 224
Konflik sosial yang terjadi di beberapa
wilayah bentang alam................................................. 228
Pengaruh dan kepentingan para pihak................ 243
Perbandingan kegiatan restorasi untuk
pemulihan hutan dan lahan...................................... 271
Program percontohan untuk diterapkan
di dalam bentang alam target.................................. 274
Peluang dan potensi sumber pendanaan............ 288

Ular cabe besar (Maticora bivirgata flaviceps), ular pemalu yang aktif pada malam hari merupakan salah satu jenis ular berbisa kuat yang
umum dijumpai di hutan dataran rendah dan perbukitan di Sumatera. Foto diambil pada April 2004. (Foto: Dolly Priatna)

xxxiii

xxxiv

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

BAB SATU
Pemandangan danau di tengah hutan rawa gambut (tasik)
di Bentang Alam GSKBB, Riau, November 2007.
(Foto: Dok. APP)

BAB SATU

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh negeri megadiversitas (megadiversity)
yang selalu menjadi perhatian dunia karena memiliki tingkat keanekaragaman hayati
dan endemisitas yang tinggi (Mittermeier et al., 1997). Walaun luasnya hanya 1,3% dari
total luas daratan dunia, Indonesia memiliki tidak kurang dari 10% spesies tumbuhan
berbunga, 15% spesies serangga, 25% spesies ikan, 16% spesies amfibi dan reptil, 17%
spesies burung, dan 12% spesies mamalia dunia (Mittermeier et.al., 1997).

1.1

LATAR BELAKANG
Tak pelak lagi, Indonesia merupakan salah
satu tempat di dunia yang paling kaya dalam
keanekaragaman hayati. Sayangnya, tak
semua kekayaan itu terjaga dengan baik
kelestariannya. Tercatat, ada 1.225 spesies florafauna Indonesia yang terancam secara global,
termasuk 185 spesies mamalia, 131 spesies
burung , 32 spesies reptilia, 32 spesies amfibi,
149 spesies ikan, enam spesies moluska, 282
spesies avertebrata, dan 408 spesies tumbuhan
(IUCN, 2014)1.
Terkait dengan hal itu, Pemerintah Indonesia telah
melakukan berbagai upaya untuk mencegah
kepunahan flora dan fauna secara in-situ (di
habitat aslinya) dan ex-situ (di luar habitatnya).
Hingga tahun 2013, Pemerintah Indonesia telah
menunjuk/menetapkan 523 kawasan konservasi
di darat dan laut dalam bentuk taman nasional,
cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata
alam, taman hutan raya, dan taman buru dengan
total luas 27,36 juta hektar (Ditjen PHKA, 2014).
Pemerintah juga telah menetapkan 737 spesies
satwa dan tumbuhan yang dilindungi undangundang (Abdulhadi et al., 2014). Bahkan, telah
terbit beberapa Peraturan Menteri Kehutanan
mengenai Strategi dan Rencana Aksi Konservasi
untuk spesies-spesies yang terancam punah,
termasuk harimau, gajah, dan orangutan untuk
periode 2007-2017.2

Namun,
status
perlindungan
secara
nasional dan internasional tidak serta merta
menghentikan laju penurunan populasi spesies
dan habitatnya. Perburuan, perdagangan
liar, dan menurunnya kualitas dan kuantitas
habitat akibat konversi kawasan hutan
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
kelangsungan hidup keanekaragaman hayati
Indonesia. Berdasarkan analisis FWI (2014),
kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi)
di Indonesia pada periode 2009-2013 adalah
sekitar 4,50 juta hektar, dengan laju deforestasi
sekitar 1,13 juta hektar/tahun. Pada periode yang
sama, luas deforestasi di Provinsi Riau 687.547
hektar, Jambi 225.974 hektar, Sumatera Selatan
164.060 hektar, Kalimantan Timur 448.494
hektar, dan Kalimantan Barat 426.390 hektar.
Sementara itu, penyebaran satwa liar sangat
dipengaruhi oleh kemampuan adaptasinya
terhadap perubahan kualitas lingkungan dan
faktor-faktor penghambat penyebaran yang
bersifat alami (natural barrier) dan buatan (manmade barrier). Fragmentasi habitat buatan
manusia seringkali membatasi pergerakan
alamiah satwa, sehingga diperkirakan terdapat
80% satwa liar berada di luar kawasan hutan
konservasi (Bappenas, 2003). Bahkan sejumlah
kajian kawasan bernilai konservasi tinggi (High
Conservation Value/HCV) di dalam konsesi
hutan produksi dan perkebunan berskala besar

1 Jumlah spesies terancam (hanya kategori Critically Endangered, Endangered dan Vulnerable) untuk setiap kelompok organisme berdasarkan negara.
2 Permenhut No. 43/2007 (harimau sumatera), No. 44/2007 (gajah), dan No. 53/2007 (orangutan).

mengkonfirmasi kehadiran satwa liar tersebut.


Menipisnya sumber pakan di habitat-habitat yang
tersisa, memaksa satwa liar untuk memasuki area
bekas habitatnya yang telah berubah menjadi
komoditas bernilai ekonomi, hutan tanaman
monokultur, dan permukiman. Hal itu menimbulkan
konflik manusia-satwa yang mengakibatkan
terbunuhnya satwa liar, pemangsaan hewan
ternak, rusaknya tanaman pertanian atau
perkebunan, rusaknya permukiman/pembibitan
tanaman, perburuan satwa, dan korban jiwa
manusia.
Perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi
oleh sistem pengelolaan hutan di masa lalu
yang lebih berorientasi pada pertumbuhan
ekonomi dan mengesampingkan dampaknya
terhadap lingkungan dan sosial. Perubahan
politik di Indonesia pada tahun 1998 telah
mendorong dinamika dan perubahan sosial
masyarakat pada umumnya, termasuk yang
tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan.
Nyaris tidak ada kawasan hutan yang tidak
terganggu oleh kegiatan pemanfaatan kawasan
hutan secara tidak sah oleh oknum perusahaan
dan kelompok-kelompok masyarakat dengan
berbagai tipologi kasus.
Perubahan sosial politik tersebut menimbulkan
konflik-konflik tenurial antara masyarakat
lokal dengan pemerintah, masyarakat dengan
perusahaan, dan antarkelompok masyarakat di
kawasan-kawasan hutan serta konflik manusiasatwa. Kondisi tersebut menjadi salah satu
faktor pendorong meningkatnya deforestasi
dan degradasi yang menurunkan kuantitas dan
kualitas ekosistem hutan tropis dataran rendah
dan hutan gambut. Kawasan-kawasan hutan
konservasi, produksi, dan lindung menjadi
sasaran penebangan kayu tanpa izin, dan
berlanjut dalam bentuk penguasaan kawasan
hutan dengan berbagai tipologinya. Di sisi
lain, klaim-klaim komunitas masyarakat adat
dan masyarakat setempat terhadap hak ulayat
yang dikuasai negara dan/atau perusahaan
telah menimbulkan gesekan sosial yang belum
tuntas teratasi, yang berpotensi pada ketahanan
lingkungan yang tak terkendali.
Kerusakan
hutan
tropis,
termasuk
di
Indonesia, menjadi perhatian dunia karena
terkait erat dengan isu perubahan iklim.

Pada pertemuan negara-negara G20 di


Pittsburgh, 25 September 2009, Presiden
Indonesia menyatakan bahwa Indonesia
berkomitmen untuk menurunkan emisi Gas
Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% pada tahun
2020 dari tingkat business as usual dengan
usaha sendiri (unilateral) atau 41% jika mendapat
dukungan internasional (multilateral). Hal itu
ditindaklanjuti dengan penerbitan Peraturan
Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana
Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah
Kaca (RAN-GRK). Rencana Aksi itu terdiri
dari kegiatan inti dan kegiatan pendukung,
yang mencakup pengendalian kebakaran
hutan dan lahan, rehabilitasi hutan dan lahan,
pemberantasan illegal logging, pencegahan
deforestasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Rentetan peristiwa tersebut menjadi titik balik
yang mendorong perubahan kebijakan dan
paradigma pengelolaan sumberdaya alam di
Indonesia, khususnya di sektor kehutanan dan
perkebunan untuk mengurangi deforestasi,
degradasi, dan kebakaran hutan/lahan. Salah
satu dari kebijakan itu adalah penundaan
(moratorium) pemberian izin baru dan
penyempurnaan tata kelola hutan alam primer
dan lahan gambut melalui Instruksi Presiden
(Inpres) No. 10 Tahun 2011, No. 6 Tahun 2013,
dan No. 8 Tahun 2015. Kebijakan ini berdampak
pada penyelamatan untuk sementara hutan
alam dan hutan gambut di Indonesia yang sudah
dan belum menjadi area konsesi. Bersamaan
dengan itu, pemerintah juga berupaya untuk
mewujudkan Kebijakan Satu Peta (One Map
Policy) untuk mengakhiri konflik-konflik tenurial
dan perizinan yang tumpang tindih di dalam dan
di luar kawasan hutan.
Sebagaimana tercantum di dalam RPJMN
2015-2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (LHK) mengembangkan kebijakan
kehutanan yang mengombinasikan kebutuhan
industri, sosial, lingkungan, dan kepastian
hukum. Kementerian LHK mencanangkan
program-program:
(1)
penanggulangan
penebangan liar, perambahan hutan, dan
konflik tenurial; (2) meningkatkan tata kelola
hutan produksi, efektifitas kawasan konservasi,
n pemantapan kawasan hutan, dan membentuk
KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan);
(3)
memperbaiki 15 DAS kritis; (4) mengalokasikan
12,7 juta hektar hutan untuk dikelola masyarakat

BAB SATU

melalui skema Hutan Desa (HD), Hutan


Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat,
dan Hutan Adat; dan (5) meningkatkan populasi
25 spesies satwa terancam punah. 3
Namun demikian, para pihektark menyadari
sepenuhnya
bahwa
komitmen-komitmen
dan kebijakan pemerintah tersebut mutlak
memerlukan dukungan dan kerjasama dari
semua pihak, termasuk masyarakat, pemerintah
pusat
dan
daerah,
akademisi/lembaga
penelitian, LSM (lokal, nasional, internasional),
dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi
di dalam dan sekitar kawasan hutan. Para
pihak itu tidak sekedar menjalankan peran dan
tanggung jawabnya masing-masing, tetapi juga
berbagi peran dengan pihak lain. Masyarakat
yang hidup di dalam dan sekitar hutan bukan
lagi menjadi obyek, tetapi bagian dari subyek
pelaku pengelolaan sumberdaya hutan.
Beberapa perusahaan yang beroperasi di dalam
dan sekitar kawasan hutan telah menggagas
dan/atau mengembangkan program-program
terkait konservasi yang menjadi kewajibannya
dan yang bersifat sukarela. Salah satu pihak
swasta yang telah menyampaikan komitmen
secara terbuka kepada publik untuk mengatasi
isu konservasi dan perubahan iklim adalah Asia
Pulp & Paper Group (APP), dan perusahaanperusahaan pemasok kayu bahan baku kertas
APP. Komitmen itu mencakup Kebijakan
Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/
FCP), perlindungan kawasan bernilai konservasi
tinggi (NKT/HCV) dan kawasan dengan
cadangan karbon tinggi (High Carbon Stock/
HCS), Rencana Pengelolaan Terpadu Hutan
Berkelanjutan (Integrated Sustainable Forest
Management Plan/ISFMP), serta komitmen
mendukung pemerintah untuk melakukan
proteksi dan restorasi satu juta hektar di
Sumatera dan Kalimantan.
Dengan memperhatikan pendapat dan masukan
dari para pihak yang tergabung di dalam
Solution Working Group (SWG), telah disepakati
bahwa komitmen APP untuk mendukung
proteksi dan restorasi itu akan diterapkan
pada skala bentang alam. Di dalam pertemuan
konsultasi nasional tanggal 24 Juni 2014 di
Jakarta, para pihak tersebut mendiskusikan 10
(sepuluh) bentang alam target yang mencakup
kawasan hutan konservasi dan hutan produksi

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

di Sumatera dan Kalimantan. Kesepuluh bentang


alam tersebut adalah Senepis, Giam Siak KecilBukit Batu (GSKBB), Semenanjung Kampar,
Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Berbak-Sembilang,
Dangku Meranti, Padang Sugihan, Kubu, dan
Kutai. Sejak itu telah dilakukan serangkaian
pertemuan dan diskusi kelompok terfokus di
tingkat bentang alam target yang difasilitasi oleh
LSM setempat, pemerintah daerah, dan pihak
swasta. Pertemuan itu dilakukan sejak Agustus
2014, bertujuan mengidentifikasi permasalahan
dan kebutuhan-kebutuhan aksi konservasi
di tingkat bentang alam.
Rencana-rencana aksi yang telah tersusun
berdasarkan masukan para pihak, masih
memerlukan konsep yang memadukan aspek
sosial ekonomi, budaya, lingkungan, dan
produksi untuk mencapai tujuan pengembangan
bentang alam berkelanjutan. Pengelolaan suatu
kawasan dengan pendekatan bentang alam
ini akan lebih banyak memberikan ruang kerja,
ruang koordinasi, dan ruang negosiasi bagi
para pihak yang terlibat dan terdampak di dalam
bentang alam untuk memformulasikan dan
menerapkan praktik-praktik terbaik di dalam
bidang usahanya. Konsep itu perlu dituangkan ke
dalam suatu rencana induk yang utuh, terencana,
dan terukur sehingga dapat menjadi roadmap,
panduan, dan referensi bagi para pihak untuk
merencanakan, melaksanakan, dan memonitorevaluasi program-program konservasi secara
umum, termasuk pemberdayaan masyarakat
dan pengembangan wilayah dalam arti luas.
Sebagaimana dokumen yang diperuntukkan
kepada publik, maka substansi Rencana
Induk ini perlu dikonsultasikan kepada para
pihak, diinternalisasi ke dalam sistem yang
telah ada, dan mendapatkan dukungan
politik dan kebijakan dari para pihak dalam
pelaksanaannya. Dukungan itu dapat berupa
kebijakan publik, kebijakan internal perusahaan,
bantuan teknis, pendanaan, dan kerjasama
yang saling menguntungkan bagi para pihak.

3 Materi presentasi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Rapat Konsultasi dan Koordinasi pada tanggal 17 Desember 2014, di Jakarta.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Penyusunan Rencana Induk ini dimaksudkan
untuk:
a. Menyinergikan dan mengharmonisasikan
kegiatan-kegiatan di dalam bentang alam
yang dilakukan oleh para pihak dengan
memperhatikan aspek lingkungan, sosialbudaya, dan pembangunan ekonomi/
produksi yang berkelanjutan.
b. Memberikan pedoman dan referensi
bagi para pihak yang ingin berpartisipasi
sesuai kapasitas dan kepentingannya
dalam konservasi bentang alam, melalui
program-program
(1)
perlindungan,
restorasi, konservasi spesies dan habitat;
(2) penanggulangan kebakaran hutan, illegal
logging, perambahan/penguasaan lahan
tanpa hak, konflik manusia-satwa, konflik
sosial, dan klaim lahan, serta (3) program
pengembangan masyarakat dan pendidikan
lingkungan di dalam dan sekitar bentang
alam.
c. Memperkuat dan memadukan arahanarahan program dari rencana-rencana
pengelolaan yang telah ada di dalam dan
sekitar bentang alam.
Rencana Induk ini bertujuan untuk:
a. Terdeskripsikannya situasi umum bentang
alam, delineasi bentang alam target, kawasan
penting bentang alam, dan merumuskan visimisi-strategi yang diinginkan di masa depan;
b. Terumuskannya langkah-langkah strategis
untuk mengembangkan program-program
konservasi bentang alam yang mendukung
pemanfaatan sumberdaya alam berkelanjutan;
c. Teridentifikasi
dan
terintegrasikannya
potensi dan kapasitas para pihak sebagai
regulator, operator, eksekutor, pendamping,
dan penyandang dana untuk mendukung
konservasi bentang alam;
d. Terbentuknya pedoman umum, arahan
program strategis, dan memaduserasikan
program-program
konservasi
bentang
alam, termasuk restorasi dan proteksi
bentang alam sebagai bagian pemanfaatan
sumberdaya yang berkelanjutan di bentang
alam target;
e. Teridentifikasinya prioritas kegiatan, skema
model program, pemantauan-evaluasi,
dan pendanaan.

1.3

RUANG LINGKUP WILAYAH


Dengan
memperhatikan
keunikan
yang
ada di dalam bentang alam, seperti
sosial-budaya,
keanekaragaman
hayati,
habitat, dan ekosistemnya, serta keberadaan
perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor
kehutanan, perkebunan dan pertambangan,
serta kajian-kajian terdahulu mengenai bentang
alam yang ada di Sumatera dan Kalimantan,
maka telah teridentifikasi sepuluh bentang alam
yang menjadi target dalam Rencana Induk ini,
yaitu:
1) Senepis, Provinsi Riau
Proteksi dan restorasi hutan dan lahan
gambut, pemberdayaan masyarakat, dan
mempertahankan populasi harimau sumatera.
2) Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSKBB),
Provinsi Riau
Proteksi dan restorasi zona inti Cagar
Biosfer GSKBB sebagai habitat harimau dan
gajah sumatera, pemberdayaan masyarakat,
serta mempertahankan populasi gajah dan
harimau sumatera.
3) Semenanjung Kampar, Provinsi Riau
Proteksi dan restorasi hutan dan lahan
gambut,
pemberdayaan
masyarakat,
mempertahankan populasi harimau sumatera.
4) Kerumutan, Provinsi Riau
Proteksi dan restorasi hutan dan lahan
gambut, perluasan dan konektivitas
antarkawasan lindung, pemberdayaan
masyarakat, dan mempertahankan populasi
harimau sumatera.
5) Bukit Tigapuluh, Provinsi Riau dan Jambi
Proteksi, restorasi, dan memperluas
hutan alam di daerah penyangga sekitar
taman nasional; membuat koridor satwa,
pemberdayaan
masyarakat
sekitar,
mempertahankan populasi orangutan,
gajah, dan harimau sumatera, serta
mengontrol akses untuk meningkatkan
perlindungan TN Bukit Tigapuluh.
6) Berbak-Sembilang, Provinsi Jambi dan
Sumatera Selatan
Proteksi dan restorasi hutan dan lahan
gambut,
pemberdayaan
masyarakat,
mempertahankan
populasi
harimau
sumatera, serta mendukung perlindungan
kedua taman nasional.

BAB SATU

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

7) Dangku-Meranti, Provinsi
Sumatera Selatan

Jambi

dan

dan mempertahankan populasi orangutan


kalimantan serta mendukung perlindungan
taman nasional.

Proteksi dan restorasi kawasan hutan


serta
membangun
koridor
satwa
antarkawasan konservasi di dalam bentang
alam, pemberdayaan masyarakat, dan
mempertahankan populasi harimau sumatera.
8) Padang
Selatan

Sugihan,

Provinsi

Perlindungan dan restorasi hutan untuk


memelihara stok karbon dan habitat satwa liar
merupakan prioritas di semua bentang alam.
Hal itu juga mencakup upaya-upaya pencegahan
kebakaran hutan dan aktivitas illegal lainnya,
serta pemberdayaan masyarakat di dalam dan di
sekitar bentang alam sebagai faktor kunci dalam
penyusunan Rencana Induk ini.

Sumatera

Proteksi dan restorasi kawasan hutan/


gambut serta membangun koridor satwa
antarkawasan konservasi di dalam bentang
alam, pengembangan masyarakat, dan
mempertahankan populasi gajah sumatera.
9) Kubu, Provinsi Kalimantan Barat
Proteksi dan restorasi bakau, hutan, dan
lahan gambut, pemberdayaan masyarakat,
mempertahankan
populasi
orangutan
kalimantan, buaya sinyulong, bekantan, dan
pesut Mahakam.
10) Kutai, Provinsi Kalimantan Timur
Proteksi, restorasi, dan memperluas hutan
alam di daerah penyangga sekitar taman
nasional, membangun koridor satwa,

1.4

TAHAPAN DAN METODOLOGI


Rencana
Induk
ini
disusun
dengan
mempertimbangkan masukan-masukan dari
para pihak yang berada di tingkat bentang
alam, nasional dan internasional, khususnya
yang bekerja/beroperasi di dalam dan
sekitar bentang alam. Penyusunan Rencana
Induk dilakukan antara bulan Februari dan
Agustus 2015, dengan proses dan metodologi
sebagaimana diagram di bawah ini:

1.4.1 Bentang alam dan Peta Indikatif


Bentang alam
Berdasarkan
kajian
kepustakaan
dan
wawancara, dilakukanlah analisis awal untuk
membuat peta indikatif batas bentang alam
sebagai bahan diskusi dengan para pihak dan
analisis spasial lanjutan. Sumber-sumber peta
diperoleh dari berbagai sumber resmi dan
dilengkapi dengan digitasi terhadap peta yang
belum tersedia file elektroniknya. Peta tutupan
lahan (land-cover) dan peta penggunaan lahan
(land-use) dari Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan (KLHK). Rujukan yang digunakan
untuk analisis ini adalah SNI 19-6728.3-2002
tentang Neraca Sumber Daya Lahan Sumber
Daya Spasial. Penggunaan lahan dari aspek
kehutanan berupa fungsi-fungsi kawasan hutan,
dari aspek pertanahan berupa area penggunaan
lain sebagai negara atau tanah milik, dan dari
aspek tata ruang berupa kawasan lindung dan
budidaya.
Penentuan batas indikatif bentang alam
dilakukan dengan menggunakan batas-batas
alam yang dikenal luas oleh masyarakat,
misalnya sungai besar dan jalan. Batas
bentang
alam
(boundary)
didefinisikan
sebagai zona transisi antara unit bentang alam
(ekosistem, landcover, atau landuse) yang
berperan penting dalam dinamika dan fungsi
bentang alam (Forman & Godron, 1986). Batas
tersebut dikonstruksi oleh manusia untuk
mendefinisikan area aktivitas berdasarkan

tujuan pengelolaan bentang alam atau target


spesies (Prof. Lilik B. Prasetyo, Pers.comm.,
2015)4. Beberapa ahli menggunakan batas
nyata yang dapat ditemukan di alam (tangible
boundary) dan batas administrasi sebagai
bentang alam (Strayer et al., 2003). Misalnya,
konsep batas bentang alam itu diterapkan
untuk menentukan batas terluar Cagar Biosfer
Cibodas (Purwanto, 2015, pers.comm.)5.
Di dalam dokumen ini, batas peta indikatif
bentang alam menggunakan pendekatanpendekatan tersebut di atas, yaitu batas alam
(sungai, pantai), batas administrasi (desa,
kecamatan, kawasan hutan), dan batas buatan
manusia ( jalan).

1.4.2 Sosial Ekonomi


Kajian
dalam
aspek
sosial-ekonomi
(sosek) menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan sistem sosial-ekologi
untuk mendapatkan profil sosio-ekonomi
(Andries et al., 2004). Analisis aspek sosial
ekonomi bertumpu pada data sekunder
yang tersedia dan relevan, sedangkan data
primer diperoleh melalui diskusi kelompok
dan
wawancara
dengan
narasumber
(Alston & Bowles, 2003).
Model konseptual dibangun untuk memetakan
isu-isu sosial ekonomi yang terkait dengan
proses ekstraksi sumber daya alam dengan
menggunakan software Miradi,

SENEPIS

K A M PA R
PENINSULA

East
Kalimantan
K E RU M U TA N
GIAM
SIAK KECIL
KUBU

Riau

West
Kalimantan

K U TA I

West
Sumatra
BUKIT
TIGAPULUH

BERBAK
SEMBILANG

Central
Kalimantan

Jambi
PA DA N G
SUGIHAN

Bengkulu

DA N G K U
MERANTI

South
Sumatra

Lampung

C R I TSuaka
I C AMargasatwa,
L L A NTaman
D S CNasional
APE

u n d e r Batas
c o n s uindikatif
l t a t i o nbentang alam konservasi
Wildlife Reserves, National Parks
Landscape Conservation
Definitive Boundary
Gambar
I-2. Peta

s Metodologi dan proses penyusunan rencana induk

indikatif dan sebaran sepuluh bentang alam target di Sumatera dan Kalimantan

4 Prof. Dr. Lilik Budi Prasetyo, professor ekologi bentang alam di Fahutan IPB. Wawancara dilakukan tanggal 9 April 2015
5 Prof. Dr. Y. Purwanto, Ketua Program Man and Biosfer-LIPI. Wawancara dilakukan tanggal 10 April 2015.

BAB SATU

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

yang dikembangkan oleh WWF, WCS, TNC,


RARE sebagai platform perangkat terbuka
untuk membantu perencanaan konservasi.
Miradi memiliki kemampuan memvisualisasi
hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor
yang sedang berlangsung di suatu tempat,
mengombinasikan data dalam berbagai bentuk
dan ditampilkan dalam model konseptual
untuk membantu para pengambil keputusan.
Model Konseptual adalah sebuah perangkat
yang menampilkan secara visual asumsi-asumsi
dalam konteks kegiatan konservasi secara lebih
realistis, termasuk pola hubungan antarelemen
tersebut, sesuai dengan kerangka kerja
(Margoluis & Salafsky, 1998; Margoluis et.al.,
2009). Asumsi realistis yang dibangun bersama
para pihak ini diharapkan menjadi dasar yang
kuat untuk memicu perubahan di tingkat para
pemangku kepentingan.
Pengembangan model konseptual dilakukan
berdasarkan masukan informasi berikut ini:

Gambar I-3. Input-input yang diperlukan untuk


membangun model konseptual

Analisis dengan Miradi digunakan untuk


menggambarkan secara visual berupa aspekaspek yang mempengaruhi secara langsung
tercapainya suatu tujuan program dan
strategi. Secara khusus, model konseptual
menggambarkan kekuatan-kekuatan besar
yang mempengaruhi suatu target kondisi yang
diharapkan sehingga perencana/pengambil
keputusan dapat mengidentifikasi aksi-aksi
yang paling tepat sesuai kondisi di tingkat tapak
(Margoluis et.al., 2009).

ancaman langsung, mewakili kegiatan manusia/


peristiwa yang mempengaruhi pencapaian
target. Kotak warna jingga merupakan faktorfaktor pendorong yang mewakili kejadian atau
yang mendorong timbulnya ancaman langsung.
Heksagon kuning adalah strategi yang akan
digunakan untuk mengurangi suatu ancaman
langsung atau faktor pendorong.

1.4.3 Ekosistem dan Keanekaragaman


Hayati
Jenis dan sebaran ekosistem yang terdapat
di dalam bentang alam merujuk pada
pembagian ekoregion yang dikembangkan
oleh WWF (2001). Identifikasi Ekosistem Penting
merujuk pada laporan Kementerian Kehutanan
dan Kementerian Kelautan dan Perikanan
(2013)
sedangkan
pembagian
kawasan
lindung merujuk pada ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai tata ruang
dan kehutanan. Sebaran hutan/lahan gambut
diperoleh dari Wetland International dan
Kementerian Pertanian.

di Indonesia. Data diperoleh dari sumber primer,


sekunder, dan tersier (Soekanto & Mamudji,
1985). Analisis mencakup kekosongan hukum,
inkonsistensi implementasi, dan peluang untuk
merevisi atau membuat kebijakan, peraturan
perundang-undangan, dan kelembagaan untuk
mengatasi hambatan dan mendukung faktorfaktor pemungkin terlaksananya pengelolaan
konservasi berbasis bentang alam. Hasil analisis
diuraikan di dalam dokumen sesuai tematiknya.

Sebaran satwa flagship yang diperoleh dari


berbagai sumber dipetakan ke dalam peta
indikatif bentang alam untuk mendapatkan
gambaran wilayah yang digunakan oleh
satwa-satwa tersebut. Informasi itu dilengkapi
dengan peta sebaran Important Bird Area
(IBA) dan Endemic Bird Area (EBA) yang sudah
disatukan ke dalam Key Biodiversity Area
(KBA). Pendekatan KBA telah digunakan oleh
Conservation International untuk menentukan
prioritas kawasan konservasi. Data spesies dan
sebarannya di bentang alam dikumpulkan dari
berbagai sumber, termasuk hasil kajian HCV
di area konsesi hutan tanaman. Daftar spesies
tersebut dicek statusnya menurut IUCN Red List,
Appendiks CITES (Convention on International
Trade in Endangered Species of Wild Fauna
and Flora), Daftar Spesies EDGE (Evolutionarily
Distinct and Globally Endangered), dan status
perlindungan menurut Peraturan Pemerintah
No.7 tahun 1999.

Pemetaan Para Pihak


Pemetaan terhadap para pihak dilakukan dengan
pendekatan yang dikembangkan Dubois (1998),
yaitu 4R: Rights (hak dan kewajiban para pihak),
Responsibilities (tanggung-jawab para pihak),
Revenue/ Returns (hasil/manfaat yang didapat
para pihak), dan Relationship (hubungan para
pihak dengan bentang alam) secara langsung
dan tak langsung. Pengaruh dan kepentingan
para pihak dinilai sesuai bobotnya, untuk
kemudian hasilnya diletakkan pada skema
kuadran sebagai berikut ini:

1.4.4 Kebijakan, Kelembagaan, dan Para


Pihak
Hukum dan Kebijakan

Blok warna hijau tua pada Gambar I-4 merupakan


cakupan (scope) berfikir. Lingkaran hijau muda
adalah kondisi yang ingin dicapai dalam suatu
program/kegiatan. Kotak merah merupakan

Gambar I-4. Konfigurasi dasar dari model konseptual di tingkat bentang alam

Kajian hukum dan kebijakan dilakukan secara


komparatif dan deskriptif terhadap kerangka
kebijakan dan peraturan perundang-undangan
terkait pengelolaan hutan dan konservasi

Nilai = 1: tidak berpengaruh/berkepentingan,


2: rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Gambar I-5. Contoh kuadran hasil analisis pengaruh-kepentingan para pihak.

10

BAB SATU

Kuadran I (subject) merupakan para pihak


dengan pengaruh rendah dan kepentingan
tinggi sehingga pelibatannya bersifat konsultatif;
strategi kolaborasi diterapkan kepada para
pihak yang ada di kuadran II (player) karena
mereka memiliki pengaruh dan kepentingan
tinggi; para pihak di kuadran III (crowd) strategi
pelibatannya dengan memberitahukan tentang
program yang dijalankan, sedangkan para
pihak dengan pengaruh tinggi dan kepentingan
rendah berada di kuadran IV (context setters)
strateginya dengan dilibatkan di dalam
pengelolaan bentang alam (Bryson, 2004).

1.4.5 Analisis SWOT


Analisis SWOT dilakukan di tiap bentang alam
berdasarkan data/informasi literatur, Focus
Group Discussion (FGD) dan wawancara
narasumber ahli dan pelaku. Analisis SWOT ini
juga mempertimbangkan hasil-hasil analisis
sebelumnya untuk aspek sosial ekonomi,
keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, serta
analisis hukum, kebijakan, dan kelembagaan.
Analisis dilakukan untuk menyusun strategi
dan program strategis dengan memperhatikan
kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness)
serta peluang (opportunity) dan ancaman
(threat) (Kurtz, 2008).
Kegiatan FGD dilakukan di seluruh bentang
alam target dengan topik yang berkaitan untuk
menyamakan persepsi dan tujuan konservasi

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

bentang alam, menggali potensi-tantangansolusi, memverifikasi informasi, dan menggalang


kekuatan bersama. Demikian juga halnya topik
wawancara seperti yang dilakukan dalam
FGD. Di sejumlah bentang alam, disepakati
pembentukan tim kecil untuk membahas lebih
lanjut kegiatan-kegiatan aksi yang diperlukan
untuk mengantisipasi permasalahan dan
tantangan di setiap bentang alam. Tim-tim
kecil tersebut menggagas kegiatan-kegiatan
aksi yang dirangkum di dalam Lampiran 1, dan
menjadi bagian tak terpisahkan dari Rencana
Induk ini.

Tabel I1. Daftar pertemuan dan diskusi kelompok terfokus (FGD) di tingkat bentang alam

No.

Bentang alam

Bukit Tigapuluh

1.4.6 Ulasan Ahli dan Konsultasi Publik


Dokumen Rencana Induk ini telah mendapatkan
masukan dari peninjau ahli yang kompeten
pada bidangnya, serta peninjau sukarela dari
Greenpeace dan WWF Indonesia. Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengundang
para pihak di tingkat nasional, provinsi,
dan kabupaten yang mewakili pemerintah,
universitas, dan LSM untuk menghadiri rapat
konsultasi nasional tanggal 26 Agustus
2015 di Jakarta. Pertemuan dilakukan untuk
menyampaikan substansi dokumen Rencana
Induk dan mendapatkan masukan dan koreksi
dari para pihak, menyamakan persepsi
para pihak, dan menyelaraskan program
konservasi bentang alam dengan kebijakan dari
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dokumen Rencana Induk Pengembangan Konservasi Bentang Alam Skala Besar di Sumatera dan Kalimantan dikonsultasikan
kepada para pihak di Jakarta 26 Agustus 2015. Diskusi dipimpin langsung oleh Dr. Ir. Hadi Daryanto, DEA Direktur Jenderal
Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian LHK. (Foto: Agus Wijayanto/Yapeka)

Giam Siak Kecil-Bukit


Batu

Berbak-Sembilang

Dangku-Meranti

Kubu

Tanggal

Penyelenggara

Jumlah Peserta

11 Agustus 2014

Warsi/WWF

11 lembaga,

29 September 2014

FZS

8 lembaga,

31 Oktober 2014

PT WKS/APP

9 lembaga,

12 November 2014

WWF

2 lembaga,

27 Mei 2015

Dishut Prov.i Jambi,


Yayasan Cemerlang

36 lembagai, 51 peserta

14 Agustus 2014

APP/SMF

16 lembaga, 34 peserta

20 November 2014

APP

4 lembaga,

26 Februari 2015

Yapeka

20 lembaga, 31 peserta

12 Agustus 2014

APP/SMF

31 lembaga, 58 peserta

30 September 2014

ZSL

8 lembaga

30 Oktober 2014

Gita Buana

6 lembaga

6 November 2014

WBH

3 lembaga

13 November 2014

SMF

9 lembaga

14 Januari 2015

ZSL

22 lembaga

12 Agustus 2014

APP/SMF

17 lembaga

6 November 2014

BKSDA Sumsel

7 lembaga

21 November 2014

APP

3 lembaga

16 Januari 2015

Forum Dangku

11 lembaga, 28 peserta

19 Agustus 2014

APP/SMF

13 lembaga, 29 peserta

11 September 2014

Yayasan Titian

17 lembaga

26 Sept, 23 Okt
2014, 15 Des 2014, 6
Januari 2015

IDH

4 lembaga

5 Maret 2015

Yapeka

15 lembaga, 26 peserta

Padang Sugihan

12 Maret 2015

Pemda Sumsel

25 lembaga, 29 peserta

Kutai

1 April 2015

Yapeka

20 lembaga, 41 peserta

Senepis

22-23 April 2015

Yapeka

23 lembaga, 40 peserta

Semenanjung Kampar

22-23 April 2015

Yapeka

23 lembaga, 40 peserta

10

Kerumutan

22-23 April 2015

Yapeka

23 lembaga, 40 peserta

11

12

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

BAB DUA

Aneka warna tajuk pepohonan di hutan primer rawa gambut


dalam Bentang Alam Kerumutan, Riau, Februari 2011.
(Foto: Rolf M. Jensen)

13

14

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PENGELOLAAN KAWASAN
BERBASIS BENTANG ALAM
Istilah bentang alam atau lanskap (landscape) memiliki makna yang berbeda-beda,
tergantung latar belakang keilmuan dan budayanya. Terdapat pandangan hierarkis
dan majemuk terhadap bentang alam ekologi. Hierarkis merujuk pada banyaknya
tingkat organisasi, skala spasial-temporal, dan derajat lintas disiplin. Kemajemukan
mengindikasikan kebutuhan untuk mengenali nilai-nilai dari berbagai perspektif dan
metode, yang ditentukan oleh tujuannya (Wu, 2008).

Dalam Forman & Godron (1986), bentang alam


didefinisikan sebagai bentang lahanheterogen
yang
terbentuk
dari
unit-unit/ekosistemekosistem yang saling berinteraksi secara
berulang-ulang dalam bentuk yang serupa.
Sedangkan Zonneveld & Forman (1990)
menyatakan bentang alam ekologi sebagai
bagian dari permukaan bumi, yang berisi
ekosistem yang kompleks, yang terbentuk
dari aktivitas batuan, air, tumbuhan, satwa, dan
manusia.
Struktur bentang alam terdiri dari unit-unit berupa
matrix, patch, dan corridor. Matrix (matriks)
adalah bercak yang mendominasi bentang alam,
patch (bercak) merupakan area homogen yang
dapat dibedakan dengan daerah di sekitarnya,
dan corridor adalah patch yang berbentuk
memanjang. Misalnya sebuah unit pengelolaan
konsesi HTI merupakan bentang alam yang
strukturnya terdiri dari hamparan tanaman pokok
sebagai matriks, sisa-sisa hutan sekunder/semak
belukar sebagai bercak, dan kanal/sungai/jalan
sebagai koridor (Jaringan NKT Indonesia, 2013).
Pada skala bentang alam yang lebih besar, rawa
gambut merupakan matriks dan area konsesi HTI
sebagai bercak.
Dalam perspektif penggunaan lahan oleh
manusia, bentang alam diartikan sebagai hasil
dari dinamika lingkungan dan masyarakat yang
berkembang di dalamnya. Struktur, organisasi,
dan dinamika bentang alam secara konstan

berinteraksi dengan proses ekologis yang terjadi


di dalamnya (Burel & Baudry, 2004). Kegiatan
apapun yang dilakukan atau terjadi di dalam
bentang alam akan mempengaruhi proses
dan interaksi unit-unit di dalam bentang alam
secara keseluruhan. Perubahan yang terjadi
akibat proses-proses alamiah atau kegiatan
manusia merupakan salah satu karakter bentang
alam. Namun perubahan-perubahan di dalam
bentang alam harus dikelola untuk mencapai
keberlanjutan kehidupan sosial, pengembangan
ekonomi, dan jasa-jasa ekosistem.
Bentang alam ekologi memiliki tiga karakter
bentang alam yaitu struktur, fungsi, perubahan
(Forman & Godron, 1986) dan integritas bentang
alam (Liu & Taylor, 2002). Pola pengelolaan
sumber daya alam saat ini, yang menghadapi
berbagai persoalan sosial-ekonomi-lingkungan,
memerlukan perubahan paradigma terhadap
empat karakter tersebut dalam tiga prinsip
manajemen, yaitu:
1.

Berdasarkan aspek struktur bentang alam,


maka diperlukan perubahan dari single
scale management menjadi multiscale
management

2. Berdasarkan aspek fungsi bentang alam,


maka diperlukan perubahan dari within
boundary management menjadi cross
boundary management;

Hotspot dan Wilderness Area (Mittermeier


et.al., 1999; Myers et.al., 2000), WWF
menggunakan Ekoregion (WWF, 2001; Olson
& Dinerstein, 2002), dan Global Tiger Initiative
mengusulkan sejumlah kawasan sebagai Tiger
Conservation Landscape (Global Tiger Initiative
Secretariat, 2012). Seluruh pendekatan tersebut
mengidentifikasi kawasan luas yang mencakup
beberapa ekosistem tanpa mempertimbangkan
status kawasan/lahan sebagai area prioritas
dalam sebuah bentang alam atau bentang alam.
Gambar II-1. Empat aspek utama dan empat paradigma
manajemen bentang alam
Sumber: Liu & Taylor, 2002.

3. Berdasarkan aspek perubahan, maka perlu


mengubah pola static management menjadi
adaptive management;

Kawasan konservasi di dalam skala bentang alam,


seringkali berada di antara kawasan pemanfaatan,
seperti perkebunan, permukiman, HTI, dan
pertambangan. Misalnya, Taman Nasional Berbak
(162.700 hektar) dan Taman Nasional Sembilang
(202.896,31 hektar), keduanya dikelola secara
single scale management. Pada skala bentang
alam yang multipihak dan akibatnya multi-scale
management, maka sistem pengelolaan taman
nasional harus dipaduserasikan dengan sistem
pengelolaan multipihak. Tanpa pendekatan
multipihak di skala bentang alam, maka kawasan
konservasi akan menjadi bercak kecil di antara
matriks kawasan budidaya, menjadi pulau yang
terisolasi. Fakta itu memperkuat argumentasi
perlunya
upaya
konservasi,
proteksi,
dan restorasi dalam skala bentang alam agar
proses ekologis tetap berlangsung dan saling
menguntungkan antara kawasan konservasi dan
kawasan budidaya di sekitarnya.

2.1 PENGELOLAAN BENTANG ALAM


BERKELANJUTAN
Beberapa
organisasi
internasional
yang
bergerak di bidang konservasi mengembangkan
pendekatan untuk menentukan prioritas
konservasi dalam upaya mendukung konservasi
kawasan dan satwa liar. Birdlife International
menggunakan pendekatan Important Bird Area
dan Endemic Bird Area (Alison et.al., 1998),
Conservation
International
menggunakan

Pada tingkat bentang alam, kawasan-kawasan


hutan produksi dan konservasi tidak dapat
dipisahkan dari aktivitas-aktivitas manusia.
Pada beberapa kasus, manusia bahkan merambah
kawasan konservasi untuk kepentingan mereka,
seperti membuka hutan untuk perkebunan,
permukiman,
dan
pembalakan
kayu.
Kondisi sosial ekonomi dan budaya manusia
terkadang menjadi penyebabnya sehingga perlu
dibangun mekanisme pengelolaan kawasan
dengan pendekatan bentang alam untuk
melindungi keanekaragaman hayati namun
tetap memberikan manfaat bagi para pihak
secara sosial dan ekonomi (Sayer et al., 2013).

Gambar II-2. Pembagian ruang yang dibutuhkan manusia


dalam pengembangan bentang alam
Sumber: Odum, 1969

Odum (1969) menyatakan bahwa tingkat


kualitas hubungan manusia dan alam menjadi
faktor penentu untuk menyelesaikan krisis
lingkungan. Para pihak harus berkompromi
terhadap sistem-sistem yang ada di dalam
suatu bentang alam, dan melakukan pembagian
ruang/zonasi di dalam bentang alam. Empat
ruang yang diusulkan Odum (1969), yaitu
produksi, perlindungan, urban-industrial, dan
kompromi dari ketiganya dengan lingkungan
sebagai target (Lihat Gambar II-2). Aliran energi/
materi dan pergerakan makhluk hidup, termasuk
manusia, akan terjadi antarruang sehingga perlu
pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan.

15

16

BAB DUA

Pengelolaan kawasan berbasis bentang alam


yang berkelanjutan telah mengalami perbaikan
seiring dengan perubahan perspektif yang
berorientasi konservasi menjadi kompromi yang
mensinergikan berbagai tujuan penggunaan
lahan dan sumber daya. Sayer et al. (2013)
menuliskan sepuluh prinsip sebagai panduan
bagi pengambil keputusan di dalam bentang
alam, yang berorientasi pada manusia
(people-centered).
Prinsip-prinsip
tersebut
menekankan pada pola pengelolaan adaptif,
keterlibatan para pihak, dan banyak tujuan
(multiple objectives). Kondisi itu mengharuskan
semua pihak membangun mutual trust,
mutual respect, dan mutual benefit untuk
bersama-sama mengelola bentang alam.
Kesepuluh prinsip tersebut adalah:
Prinsip 1: Proses belajar yang terus-menerus
untuk memperbaiki pengelolaan
(adaptive management);
Prinsip 2: Berbagi peran dalam menyelesaikan
masalah/isu yang berkembang;
Prinsip 3: Menyadari adanya banyak sistem
dan multiple scales yang saling
mempengaruhi;
Prinsip 4: Multi-fungsi dari bentang alam yang
memungkin terjadinya pertukaran
kepentingan;.
Prinsip 5: Multi-stakeholders, sehingga perlu
menempatkan para pihak pada
posisi yang setara;
Prinsip 6: Ada negosiasi dan perubahan
yang transparan sebagai dasar
membangun kepercayaan para
pihak;
Prinsip 7: Kejelasan hak dan tanggung jawab
terhadap akses pada sumber daya
dan penggunaan lahan;
Prinsip 8: Pemantauan yang partisipatif dan
mudah dilakukan oleh para pihak.
Prinsip 9: Resilience/kelenturan
dalam
mengantisipasi ancaman dan aksi
untuk menguranginya;
Prinsip 10: Memperkuat kapasitas para pihak
karena masyarakat perlu terlibat
secara efektif dan menerima
berbagai peran dan tanggungjawab.
Pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan
merupakan konsep yang berkembang dan dinamis
untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai
ekonomi, sosial, dan lingkungan dari semua tipe
atau kawasan hutan untuk generasi sekarang
dan mendatang. Beberapa konsep atau model

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

telah digagas untuk mewujudkan pengelolaan


bentang alam berkelanjutan, antara lain cagar
biosfer, model forest, dan kawasan ekosistem.
Model pengelolaannya dapat diterapkan dalam
pengelolaan bentang alam dengan atau tanpa
mendapatkan status yang sama. Beberapa
contohnya diuraikan sebagai berikut:

2.1.1 Cagar Biosfer


UNESCO melalui program Man and Biosphere
(MAB) mengembangkan suatu model kawasan
yang dinamai cagar biosfer (biosphere reserve).
Cagar Biosfer (CB) adalah kawasan dengan
sistem daratan dan pesisir laut, yang dikenal
secara internasional untuk mempromosikan dan
menunjukkan keterkaitan yang seimbang antara
manusia dan alam. Kawasan ini menawarkan
contoh-contoh yang merangkum berbagai
ide untuk meningkatkan konservasi dan
pembangunan berkelanjutan.
Setiap cagar biosfer ditujukan untuk memenuhi
tiga fungsi dasar, yang saling melengkapi dan
memperkuat. Pertama adalah fungsi konservasi,
berkontribusi
pada
konservasi
bentang
alam, ekosistem, variasi spesies dan genetik;
Kedua adalah fungsi pengembangan, termasuk
pengembangan ekonomi dan kemanusiaan
yang berkelanjutan secara sosio-kultural dan
ekologis; Ketiga adalah fungsi pendukung
logistic, memberikan dukungan untuk penelitian,
pemantauan, pendidikan dan pertukaran
informasi yang berhubungan dengan isu lokal,
nasional, dan global terkait konservasi dan
pembangunan. Sinergi dari fungsi-fungsi inilah
yang membuat cagar biosfer sebagai sebuah
model yang fungsional (UNESCO, 1996).
Cagar Biosfer dinominasikan oleh pemerintah
pusat untuk mendapatkan penilaian dari Komisi
UNESCO untuk Cagar Biosphere. Bila disetujui,
maka kawasan cagar biosfer itu tetap berada
di bawah yurisdiksi kedaulatan negara di mana
mereka berada. Saat ini terdapat 647 cagar
biosfer di 120 negara, termasuk 10 cagar biosfer
di Indonesia yaitu Gunung Leuser, Siberut,
Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Tanjung Puting,
Cibodas, Komodo, Lore Lindu, Wakatobi.
Dua cagar biosfer yang baru ditetapkan
oleh UNESCO pada tahun 2015 adalah
Bromo-Tengger-Semeru dan Taka Bone Rate.
Status cagar biosfer juga sedang dijajaki untuk
bentang alam Kutai, Kalimantan Timur.

Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang


Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya mengakui adanya kawasan
dengan status cagar biosfer, namun Peraturan
Pemerintah
yang
diamanatkan
undangundang tersebut belum diterbitkan. Untuk
mengisi kekosongan tersebut, Panitia Nasional
Man and Biosphere (MAB) Indonesia-LIPI pada
tahun 2004 menerbitkan Pedoman Pengelolaan
Cagar Biosfer di Indonesia. Sedangkan
rancangan peraturan pemerintahnya hingga kini
masih terus diupayakan untuk diterbitkan.
Di tingkat nasional, terdapat Komite Nasional
Program MAB di bawah pengelolaan LIPI dengan
mandat mengimplementasikan misi, program,
dan kegiatan MAB di Indonesia. Sedangkan di
tingkat tapak, kawasan cagar biosfer dikelola
oleh badan pengelola, forum komunikasi,
forum koordinasi, atau forum pengelolaan
yang ditetapkan resmi berdasarkan Keputusan
Gubernur, Bupati, atau kesepakatan para pihak
(Direktorat KKBHL, 2014).
Dalam skala bentang alam, cagar biosfer
mengintegrasikan konsep ekosistem dan
aktivitas pemanfaatan lahan oleh berbagai pihak
dan berbagai kepentingan sosial, ekonomi,
dan lingkungan. Terdapat tiga zona di dalam
cagar biosfer, yaitu Zona Inti untuk konservasi
ekosistem, habitat, dan spesies, sedangkan Zona
Penyangga dan Zona Transisi dialokasikan untuk
aspek sosial-ekonomi-budaya. Pola yang terjadi
di Indonesia, zona inti pada umumnya berupa
kawasan konservasi taman nasional dan suaka
margasatwa. Di zona penyangga, masyarakat lokal
dapat bermukim dan memanfaatkan lahan dengan
aktivitas yang berdampak kecil, sedangkan zona
transisi diperuntukkan bagi pemanfaatan yang
lebih intensif dan berkelanjutan (Purwanto et al.,
2013). Pengembangan dan pengelolaan bentang
alam dengan model cagar biosfer ini memerlukan
dukungan yang kuat dari masyarakat, komitmen
dan dukungan politis-administratif dari para
pengambil kebijakan yang ada di dalam bentang
alam, termasuk pemerintah dan perusahaan.
Dengan memperhatikan karakteristik bentang
alam dan cagar biosfer, pengembangan dan
pengelolaan di bentang alam target dapat
menerapkan prinsip-prinsip yang digunakan di
dalam cagar biosfer. Namun hal itu tidak harus
selalu dalam bentuk penetapan bentang alam
sebagai kawasan cagar biosfer untuk mencapai
1 http://www.imfn.net/model-forests

tujuan pelestarian keanekaragaman hayati,


pengembangan sosial ekonomi masyarakat, dan
pembangunan kawasan.

2.1.2 Hutan Model (Model Forest)


Secara fisik, Model Forest terdiri dari daerah
yang relatif luas, didominasi penggunaan
lahan untuk sektor kehutanan dengan batasbatasnya berupa unit eko-geografis yang jelas,
seperti Daerah Aliran Sungai (DAS). Salah satu
ciri utama model forest adalah adanya nilainilai lingkungan, sosial dan ekonomi kunci.
Luas model forest yang ada saat ini antara
60.000-2,7 juta hektar. Konsep ini pertama kali
dikembangkan di Kanada pada tahun 1990 dan
telah berkembang menjadi 58 model forest di
24 negara1. Pendekatan model forest sedang
dikembangkan di Gunung Kidul, Yogyakarta
untuk membantu pengelolaan hutan dengan
skema Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan.
Dari perspektif organisasi, model forest
merupakan
kegiatan
kemitraan
yang
sukarela antara para pihak untuk mengelola
sumberdayanya secara berkelanjutan. Dalam
kapasitas sebagai pemilik lahan atau penggarap,
setiap orang, organisasi, dan perusahaan yang
berkepentingan di kawasan model forest dapat
menjadi para pihak dalam pengelolaannya.
Model
ini
bertujuan
membuka
dan
mempengaruhi proses pengambilan keputusan
dengan menyediakan forum sehingga para
mitra dapat memperoleh pemahaman yang
lebih baik terhadap persoalan, berbagi
pengetahuan, dan menggabungkan keahlian
dan sumberdaya mereka untuk mengidentifikasi,
mengembangkan, menerapkan dan memantau
efek inovatif, kearifan tradisional untuk
mengelola hutan secara berkelanjutan.
Model forest menggabungkan penelitian,
pengembangan,
dan
mempromosikan
penerapan praktik-praktik yang sesuai melalui
percontohan. Kegiatan utama dari model forest
adalah pengembangan bersama, pengujian,
implementasi dan percontohan yang inovatif,
pendekatan pengelolaan hutan berkelanjutan
untuk berbagai manfaat yang berbeda sesuai
dengan prinsip-prinsip hutan. Model forest
bukan proyek pengembangan jangka pendek,
tetapi proses jangka panjang yang menyatukan
para pihak untuk mengelola secara berkelanjutan
daerah yang relatif besar untuk berbagai tujuan.

17

18

BAB DUA

Prinsip-prinsip yang diterapkan di dalam model


forest adalah tiga pilar, yaitu Pendekatan
Bentang alam, Kemitraan, dan Keberlanjutan.
Prinsip lainnya mencakup tata kelola dan
semangat berjaringan, berbagai pengetahuan,
dan membangun kapasitas. Untuk menjalankan
pendekatan ini, tidak memerlukan regulasi
khusus, karena pendekatan ini tunduk pada
ketentuan-ketentuan mengenai perjanjian dan
kesepakatan dalam hukum perdata. Perjanjian
yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi para pihak yang membuatnya (pasal
1338, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

2.1.3 IUCN Kategori V: Protected


Landscape
Kawasan konservasi IUCN kategori V adalah
kawasan yang dilindungi di mana interaksi
masyarakat dan alam dari waktu ke waktu
menghasilkan sebuah kawasan dengan karakter
yang berbeda secara ekologi, budaya dan nilainilai keindahan yang signifikan (Phillips, 2002).
Tujuannya adalah melindungi dan memelihara
bentang alam yang penting dan nilai lain yang
dibentuk oleh interaksi dengan manusia melalui
praktik-praktik pengelolaan tradisional. Tujuan
lainnya untuk memelihara keseimbangan
interaksi alam dan budaya melalui perlindungan
bentang alam dengan pendekatan pengelolaan
tradisional, budaya dan nilai-nilai spiritual;
berkontribusi pada konservasi dalam arti luas,
memelihara spesies terkait dengan budaya
dan/atau memberikan kesempatan pelestarian
pada bentang alam yang banyak digunakan;
memberikan kesempatan untuk kesenangan,
kesejahteraan dan aktivitas sosial-ekonomi
melalui rekreasi dan pariwisata; memberikan
produk-produk alam dan jasa lingkungan; dan
berperan sebagai model berkelanjutan sehingga
dapat dipelajari untuk penerapan yang lebih luas.
Kemenhut & KKP (2013), tidak memberikan
penjelasan mengapa memasukkan Taman Buru
(TB), Taman Hutan Raya (Tahura), Taman Wisata
Alam (TWA), dan Taman Wisata Alam Laut (TWAL)
ke dalam kategori V IUCN Protected Landscape/
Seascape. Padahal penggolongan tersebut tidak
sesuai dengan karakter dan tujuan Kategori V
IUCN.
Saat ini peraturan perundang-undangan di
Indonesia belum mengadopsi Kategori V dan
Kategori VI IUCN sebagai bagian dari kawasan

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel II-1. Kategori kawasan konservasi


berdasarkan IUCN dan sistem di Indonesia
Tipe

Kategori IUCN

Kategori
INDONESIA

IA/IB

Strict Nature
Reserve/ Wilderness
Protection Areas

Cagar Alam dan


Cagar Alam Laut

II

National Park

Taman Nasional
danTaman Nasional
Laut

III

Nature Monument

Tidak ada

IV

Habitat/Species
Management Area

Suaka Margasatwa
& Suaka
Margasatwa Laut

Protected
Landscape/
Seascape

Taman Buru, Taman


Hutan Raya, Taman
Wisata Alam dan
Taman Wisata Alam
Laut

VI

Protected area with


sustainable use of
natural resources

Kawasan
Konservasi
Laut Daerah
(KKLD): Kawasan
Pengelolaan
Terumbu Karang,
Kawasan
Pengelolaan
Laut, Wisata
Laut, Kawasan
Konservasi Laut
Kabupaten,
Kawasan
Konservasi Air
Payau

konservasi. Ditjen PHKA (2014) lebih banyak


mengembangkan Kawasan Ekosistem Esensial
(KEE) yang berada di luar kawasan konservasi.
Kawasan ekosistem esensial diatur di dalam PP
No.28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan
Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.
Yang tergolong kawasan ekosistem esensial
adalah ekosistem karst, lahan basah (danau,
sungai, rawa, payau, dan wilayah pasang surut
yang tidak lebih dari 6 (enam) meter), bakau,
dan gambut yang berada di luar KSA dan KPA.
Berdasarkan Permenhut No.18 tahun 2015

tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian


LHK, kawasan ekosistem esensial berada di
bawah pembinaan Direktorat Bina Pengelolaan
Ekosistem Esensial, Ditjen KSDAE.

secara lestari. Di dalam proses pelaksanaanya,


terdapat gesekan dan kesalahpahaman dalam
pengelolaan KEL sehingga terjadi ketidakjelasan
pengelolaannya pada saat ini.

Sejak tahun 2010-2013, telah dikembangkan 17


kawasan ekosistem esensial, yang mencakup
Kawasan Karst (Gunung Kidul), gambut
(Kapuas Hulu), bakau (Bengkalis), dan lahan
basah (Langkat). Model pengelolaan kawasan
ekosistem esensial tidak identik dengan pola
pengelolaan yang telah ada saat ini untuk
kawasan konservasi, namun hal ini membuka
peluang baru dalam upaya konservasi bakau dan
gambut di di dalam bentang alam target.

Pengelolaan kawasan ekosistem pada dasarnya


merupakan pengelolaan kawasan berbasis
bentang alam. Mengingat bahwa kawasan
ekosistem belum disebutkan dalam regulasi
sebagai kawasan konservasi, maka perlindungan
terhadap ekosistem mengacu pada status
kawasan hutan yang ada di dalam ekosistem
tersebut. Secara normatif, KEL merupakan
areal kerja YLI sebagai mitra pemerintah dalam
pengelolaan kawasan hutan, bukan areal
administratif konservasi. Kawasan konservasi
yang berada di KEL seperti TNGL dan SM Rawa
Singkil tetap dikelola oleh Balai TNGL dan
BKSDA sebagai unit pelaksana teknis di dalam
KEL sebagaimana diatur di dalam UU No. 5/1990
pasal 16 dan 34.

2.1.4 Kawasan Ekosistem


Kawasan Ekosistem adalah wilayah yang
secara alami terintegrasikan oleh faktor-faktor
bentang alam, karakteristik khas flora dan
fauna, keseimbangan habitat dalam mendukung
keseimbangan hidup keanekaragaman hayati,
dan faktor-faktor khas lainnya sehingga
membentuk satu kesatuan ekosistem tersendiri.
Istilah Kawasan Ekosistem ditemukan di dalam
Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.227/
Kpts-II/1995 yang memberikan hak pengelolaan
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) kepada
Yayasan Leuser Internasional (YLI, sebuah badan
hukum Yayasan di Indonesia) selama tujuh tahun.
Definisi itu diperkuat dengan terbitnya Keputusan
Presiden No. 33 tahun 1998 tentang Pengelolaan
Kawasan Ekosistem Leuser.
Luas KEL adalah 1.790.000 ha yang meliputi
Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Suaka
Margasatwa (SM) Rawa Singkil, hutan lindung,
dan hutan produksi yang dikelola sesuai fungsi
pokoknya. Setelah penataan batas, terbitlah SK
Menhut No. 190/Kpts-II/2001 yang mengesahkan
batas KEL di NAD seluas 2.255.577 hektar,
sedangkan batas KEL di Sumut seluas 394.294
disahkan berdasarkan SK Menhut No. 10193/
Kpts-II/2002. Total luas KEL pun berubah
menjadi 2.639.871 hektar, yang dikelola oleh
Pemerintah Pusat bekerjasama dengan YLI
atas dasar Persetujuan Kerjasama Pengelolaan
antara Menteri Kehutanan dan YLI. Pengawasan
pengelolaan KEL dilakukan oleh Kepala Balai
TNGL, Kantor Wilayah Kehutanan, dan Dinas
Kehutanan. Kerjasama itu mencakup kegiatan
perlindungan dan pengamanan, pengawetan,
pemulihan fungsi kawasan, dan pemanfaatan
2 Perpres No.3 tahun 2012 tentang Tata Ruang Pulau Kalimantan
3 Perpres No.13 tahun 2012 tentang Tata Ruang Pulau Sumatera

2.1.5 Koridor Ekosistem


Istilah Koridor Ekosistem dimunculkan dalam
Peraturan Presiden tentang Tata Ruang Pulau
Kalimantan2 dan Sumatera3, yang memperluas
makna dari Kawasan Koridor yang diatur di
dalam Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 2008
tentang Rencana Tara Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN). Kawasan koridor didefinisikan sebagai
bagian dari Kawasan Lindung Lainnya untuk jenis
satwa atau biota laut yang dilindungi, sedangkan
Koridor Ekosistem dimaknai sebagai suatu
wilayah yang menjadi bagian dari kawasan
lindung dan/atau kawasan budidaya yang
berfungsi sebagai alur migrasi satwa/biota laut
dan menghubungkan antarkawasan konservasi.
Dengan adanya koridor ekosistem, maka jalur
yang menghubungkan antara satu kawasan
lindung dengan kawasan lindung lainnya, yang
berfungsi sebagai jalur migrasi dan pengungsian
satwa, mendapatkan bentuk perlindungan
baru. Di dalam jalur koridor ekosistem tersebut
dilakukan pembatasan pengembangan kawasan
permukiman, pemanfaatan ruang kawasan
budidaya dikendalikan dengan parasarana yang
ramah lingkungan.
Perpres No.3 Tahun 2012 menetapkan tujuh
koridor ekosistem di Pulau Kalimantan yang
menghubungkan
antarekosistem
hutan

19

20

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

dan fauna yang penting secara global. Sedikitnya


terdapat tiga instrumen yang menggambarkan
status konservasi dan keterancamannya dalam
pandangan global. Upaya proteksi dan restorasi
dalam arti luas untuk mempertahektarnkan dan/
atau meningkatkan populasi dan habitatnya
merupakan kontribusi nyata konservasi di
tingkat bentang alam, regional, nasional,
dan internasional. Beberapa instrumen yang
perlu menjadi perhatian para pihak dalam
pengembangan konservasi bentang alam antara
lain adalah Daftar Merah Spesies Terancam dari
IUCN, CITES, dan EDGE, sebagaimana diuraikan
di bawah ini.

2.2.1.1 Daftar Merah IUCN

Gambar II-3. Delineasi Koridor Rimba di Sumatera


Sumber: Ditjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum

dataran tinggi (satu koridor untuk bekantan dan


orangutan), menghubungkan antarekosistem
hutan dataran rendah (empat koridor untuk
bekantan, orangutan, gajah, dan owa), dan
menghubungkan antarekosistem pesisir (dua
koridor). Koridor ekosistem di Kalimantan yang
relevan dengan Rencana Induk sepuluh bentang
alam ini adalah kelompok koridor dataran rendah,
yang menghubungkan Cagar Alam Muara Kaman
Sedulang-Cagar Alam Padang Luwai-Taman
Nasional Kutai.
Perpres No.13 Tahun 2012 menetapkan lima
koridor ekosistem di Pulau Sumatera, dua
di antaranya relevan dan beririsan dengan
bentang alam Berbak-Sembilang dan bentang
alam Bukit Tigapuluh. yaitu:
1. Koridor
Jambi-Sumatera
Selatan
yang
menghubungkan TN Berbak dan TN Sembilang
sebagai koridor satwa burung dan harimau;
2. Koridor Rimba (Riau-Jambi-Sumatera Barat)
yang menghubungkan SM Bukit RimbangBukit Baling, CA Batang Pangean I dan II,
TN Kerinci Seblat, TN Bukit Tigapuluh, TN
Berbak, CA Maninjau Utara, CA Bukit Bungkuk,
CA Cempaka, TWA Sungai Bengkal, dan

Tahura Thaha Saifuddin sebagai koridor


satwa gajah, harimau, dan burung; di dalam
koridor ini terdapat 18 kabupaten/kota dari
tiga provinsi. Koridor Rimba ini mencakup
kawasan hutan konservasi (1,2 juta hektar),
hutan lindung (0,6 juta hektar), hutan produksi
(1,3 juta hektar), dan kawasan budaya (0,85 juta
hektar) sebagai penghubung4.
Di antara sepuluh bentang alam target, terdapat
dua bentang alam yang beririsan dengan Koridor
Rimba, yaitu bentang alam Bukit Tigapuluh
dan bentang alam Berbak-Sembilang yang
berada di wilayah Jambi. Dengan demikian,
diperlukan kegiatan untuk mensinergikan dan
menyelaraskan program-program di bentang
alam target dan Koridor Rimba. Saat ini, WWF
dan mitra-mitranya sedang mengembangkan
program untuk mewujudkan Koridor Rimba.

2.2 PERSPEKTIF GLOBAL DALAM


KONSERVASI BENTANG ALAM
2.2.1 Spesies Penting Tingkat Global
Sepuluh bentang alam target di Sumatera dan
Kalimantan memiliki sejumlah besar spesies flora

4 Pemaparan Ditjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum. Peta Jalan Penyelamatan Ekosistem Sumatera. 18 April 2012.

IUCN Red List of Threatened Species


(Daftar Merah Spesies Terancam Punah)
merupakan daftar yang komprehensif tentang
status konservasi global spesies hayati. Daftar
ini memberikan informasi status konservasi
dan distribusi suatu spesies sebagai dasar
membuat kebijakan dalam upaya konservasi
keanekaragaman hayati dari tingkat lokal hingga
global (IUCN, 2012). Lebih dari 71.000 spesies
di seluruh dunia telah dinilai oleh IUCN dalam
pemutakhiran daftar merah, termasuk 21.000
spesies telah dianggap terancam kepunahan.
Di
Indonesia
terdapat
1.225
spesies
flora-fauna Indonesia yang terancam secara
global, termasuk spesies mamalia (185),
burung (131), reptilia (32), amfibi (32), ikan (149),
moluska (6), avertebrata (282), dan 408 spesies
tumbuhan (IUCN, 2014)5. Dari jumlah tersebut,
di dalam sepuluh bentang alam terdapat 58
spesies mamalia yang masuk Daftar Merah
(CR, EN, VU, NT), 114 spesies burung, 15 spesies
reptilia, 9 spesies amfibia, dan 17 spesies ikan.
Fakta itu memberikan gambaran pentingnya
upaya-upaya perlindungan dan restorasi di
sepuluh bentang alam tersebut karena memiliki
spesies-spesies yang terancam punah.
Kesepuluh bentang alam tersebut menghadapi
ancaman kehilangan habitat yang serius dan
sebagian besar spesies di tingkat bentang
alam tersebut berpotensi punah di tingkat
lokal dan global. Hingga kini terdapat 213
spesies terancam dan hampir terancam
punah, yang mencakup sedikitnya 11 spesies
kategori Kritis (Critically Endangered), 27
spesies Terancam Punah (Endangered),

52 spesies Rentan (Vulnerable) dan 123


spesies Hampir Terancam (Near Threatened).
Mempertahankan dan memulihkan populasi
yang dapat bertahan dalam jangka panjang
dari spesies yang terancam dalam Daftar
Merah IUCN merupakan kunci untuk memantau
keberhasilan pendekatan konservasi bentang
alam di dalam sepuluh bentang alam target.

2.2.1.2 CITES
Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora/CITES
merupakan perjanjian multilateral untuk
melindungi tumbuhan dan satwa yang terancam
punah sejak tahun 1975. Pemerintah Indonesia
telah meratifikasi CITES melalui Keputusan
Presiden No.43 tahun 1978 dan Keputusan
Presiden No.1 tahun 1987. Konvensi ini
mengharuskan negara anggota CITES bekerja
sama untuk memastikan perdagangan tumbuhan
dan satwa liar tidak mengancam kelangsungan
hidupnya di alam. Untuk mengontrol spesies
yang terdaftar dalam Appendiks II perdagangan
internasional, Kementerian LHK menentukan
kuota penangkapan setiap tahun. Keputusan
Menteri Kehutanan No 447/2003 mengatur
tata cara pemanenan dan penangkapan satwa/
tumbuhan dari alam dan tempat penangkaran.
Di dalam sepuluh bentang alam sedikitnya
terdapat 32 spesies Appendiks I, 111 spesies
Appendiks II, dan 7 spesies Appendiks III.
Banyaknya jumlah spesies yang tergolong
Appendix CITES di sepuluh bentang alam
itu menunjukkan pentingnya bentang alam
dalam perspektif konservasi global. Tingginya
jumlah spesies CITES di bentang alam prioritas
memberikan kesempatan yang baik untuk
mengeksplorasi pendekatan konservasi dan
penghidupan di tingkat bentang alam. Namun
perlu pengawasan yang ketat terhadap
perburuan dan perdagangan spesies Appendiks I,
seperti gajah, harimau, orangutan, siamang, dan
trenggiling.

2.2.1.3 EDGE (Evolutionary Distinct and Globally


Endangered)
Spesies yang tergolong EDGE merupakan
spesies yang sangat unik dengan
skor
Evolutionary Distinct di atas rata-rata, dan
juga terancam kepunahan. Setiap spesies
dalam kelompok taksonomi tertentu (misalnya
mamalia atau amfibi) dinilai berdasarkan jumlah

5 Jumlah yang diperhitungkan untuk spesies dengan kategori Critically Endangered, Endangered dan Vulnerable untuk setiap kelas taksa.

21

22

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

sejarah evolusi yang unik yang mewakilinya


(Evolutionary Distinctiveness, ED), dan status
konservasi Keterancaman Global, atau GE
(ZSL, 2015). Spesies EDGE biasanya sangat
berbeda secara morfologi, ekologi dan susunan
genetiknya.

manusia secara simultan. Kebijakan itu sesuai


dengan prinsip-prinsip pendekatan ekosistem
di bawah Konvensi Keanekaragaman Hayati dan
hasil dari Penilaian Ekosistem Millennium (MEA,
2005). Beberapa status dan bentuk pengakuan
internasional dan regional, antara lain:

Saat ini di seluruh dunia terdapat 502 spesies


mamalia yang termasuk kategori EDGE (~ 9%
dari total), 799 spesies amfibi EDGE (~14% dari
total), dan 1.115 spesies burung EDGE (~11% dari
total). Di Indonesia terdapat 86 spesies EDGE,
termasuk orangutan sumatera dan trenggiling.
Di sepuluh bentang alam target terdapat
sedikitnya 23 spesies mamalia EDGE, 1 spesies
amfibi EDGE, dan 14 spesies burung EDGE.6

Situs Ramsar

2.2.2 Status Global Kawasan Konservasi


Tingginya nilai keanekaragaman hayati dan
ekosistem secara global memungkinkan
beberapa bentang alam atau bagian dari
bentang alam mendapat pengakuan dan
dukungan internasional. Terdapat beberapa
status pengakuan regional/ internasional yang
memungkinkan bentang alam menjadi lebih
terlindungi dengan menerapkan instrumeninstrumen yang berstandar internasional.
Jaringan dari suatu status global dapat menjadi
wahana untuk meningkatkan perlindungan
bentang alam dari perspektif ekologi, ilmiah, dan
sosial. Penerapannya akan sangat bergantung
pada komitmen, keseriusan, dan dukungan
pemerintah atau pengelola bentang alam dan
para pihak. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian
di sepuluh bentang alam untuk mendapatkan
pengakuan regional atau internasional yang
dapat memaksimalkan dukungan terhadap
pelestarian yang sedang berlangsung dan usaha
pemanfaatan yang berkelanjutan.
Regulasi pengelolaan sumberdaya alam,
termasuk di kawasan konservasi, telah
didefinisikan di masa lalu berdasarkan aspek
ilmiah, politik, dan ekonomi. Kebijakan yang
dikembangkan secara sentral dan skema
managemen yang ada seringkali tidak sesuai
dengan kondisi lokal dan berpotensi menjauhkan
masyarakat
dari
lingkungan
alamnya.
Untuk mendukung kohabitasi manusia-satwa,
diperlukan pendekatan dan metode pengelolaan
inovatif yang dapat meningkatkan perlindungan
dan memberikan ruang bagi perkembangan

Situs ini ditunjuk berdasarkan Konvensi


Ramsar dan secara global dikenal sebagai
kawasan penting untuk ekosistem lahan
basah.7 Penunjukan Situs Ramsar didasari oleh
sembilan kriteria, antara lain keterancaman
oleh aktivitas manusia, daya dukung terhadap
spesies lahan basah yang terancam punah,
merupakan jalur migrasi satwa, dan tempat
pemijahan ikan. Konvensi ini melibatkan 168
negara sebagai perjanjian internasional untuk
pelestarian dan pemanfaatan lahan basah
dan sumber-sumbernya secara bijaksana
dalam konteks pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi
konvensi ini melalui Keputusan Presiden No.48
tahun 1991 tentang Pengesahan Convention
on Wetlands of International Importance
especially as Waterfowl Habitat. Konvensi
Ramsar menekankan adanya hubungan antara
keanekaragaman hayati lahan basah dan jasa
ekosistem di mana manusia menggantungkan
kehidupannya. Konsep tersebut sangat relevan
dengan upaya proteksi dan restorasi di
bentang alam-bentang alam yang didominasi
oleh ekosistem lahan basah.
Saat ini di seluruh dunia telah terdaftar 2.193
situs Ramsar dengan total luas 208.843.795
hektar, termasuk TN Berbak dan TN Sembilang
yang dalam Rencana Induk ini berada dalam
Bentang alam Berbak-Sembilang. Taman
Nasional Berbak (Situs Ramsar No.554)
mencakup kawasan hutan rawa gambut seluas
115.000 hektar dan hutan rawa air tawar (45.000
hektar), yang dipisahkan oleh sungai besar dan
dihuni oleh kelompok kecil masyarakat asli.
Hutan-hutan tersebut tergenang sepanjang
tahun, bahkan pada musim kemarau, air
payau menembus hingga 10 km ke arah hulu.
Kawasan ini merupakan sumber makanan
penting burung-burung air dan burung
migran. Berbagai usaha perlu dilakukan untuk
memberikan perlindungan di pesisir sebagai
bagian integral konservasi bentang alam.

Taman Nasional Sembilang (Ramsar Site


No 1.945), berbatasan langsung dengan TN
Berbak, merupakan formasi bakau terluas di
Sumatera bagian Timur dan delta alluvial yang
luas, menjadikan situs ini sebagai kawasan
persinggahan penting untuk burung air migran
sepanjang jalur terbang Asia Timur-Australasia.
Selama musim dingin sekitar 80.000-100.000
ekor burung migran mencari makan dan
beristirahat di kawasan tersebut. Lebih dari 43%
spesies bakau di Indonesia ditemukan di taman
nasional ini. Kawasan ini merupakan salah satu
lokasi perkembangbiakan terbesar di dunia
untuk burung bluwok (Mycteria cinerea).
Pengelolaan kedua Situs Ramsar harus
diintegrasikan dengan pengelolaan di tingkat
bentang alam dalam konsep multi-scale
management. Panduan kelola situs Ramsar
juga dapat diterapkan di bentang alam lainnya
yang didominasi oleh lahan basah, untuk
menerapkan praktik-praktik terbaik (best
practices) oleh pengelola dan para pihak
pengambil kebijakan.
Cagar Biosfer
Satu dari sepuluh bentang alam target telah
ditetapkan UNESCO pada tahun 2009 sebagai
cagar biosfer, yaitu Giam Siak Kecil-Bukit
Batu (CB-GSKBB) seluas 705.271 hektar yang
dikenal sebagai habitat harimau, gajah, tapir,
dan beruang madu. Pembelajaran dari proses
pembentukan dan pengelolaan CB GSKBB
akan sangat berguna untuk mengelola bentang
alam lainnya (Lihat juga Sub-bab 2.1.1).
Situs Warisan Dunia
Konvensi Warisan Dunia adalah perjanjian
internasional antara negara-negara anggota
PBB, yang mencari identitas, perlindungan,
pelestarian warisan budaya dan alam yang
memiliki nilai universal yang sangat luar
biasa (Outstanding Universal Value) untuk
diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Kondisi dan kriteria spesifik, didefinisikan
dalam panduan operasional konvensi, yang
digunakan untuk mengidentifikasi situssitus yang akan dimasukkan ke dalam Daftar
Warisan Dunia (UNESCO, 2011). UNESCO
menetapkan nominasi situs warisan dunia
yang diusulkan oleh pemerintah setelah
mempertimbangkan pendapat dari IUCN untuk
situs alam atau ICOMOS untuk situs budaya.

Warisan Dunia Budaya harus memenuhi satu


dari enam kriteria, sedangkan Warisan Dunia
Alam harus memenuhi satu dari empat kriteria
yang telah ditentukan. Sangat sedikit kawasan
konservasi di dunia yang memenuhi kriteriakriteria tersebut, sehingga saat ini hanya
terdapat 197 situs Warisan Dunia.
Pada saat ini, tidak ada kawasan di dalam
bentang alam yang berstatus warisan dunia.
Taman Nasional Bukit Tigapuluh berpotensi
dinominasikan sebagai situs warisan dunia
budaya atau gabungan karena memiliki
keragaman hayati yang tinggi dan suku
asli Talang Mamak, yang telah membuat
hutan primer sebagai rumah dan sumber
kehidupannya.
Kawasan
yang
dapat
dinominasikan sebagai warisan dunia adalah
kawasan konservasi yang paling unik dan
dikelola dengan sangat baik. Mengingat
proses nominasi yang panjang dan sulit, maka
pengelolaan bentang alam yang menerapkan
standar Warisan Dunia diharapkan dapat
meningkatkan perlindungan terhadap bentang
alam. Dengan demikian, manfaat, daya dukung,
dan daya tampung bentang alam dapat
diwariskan kepada generasi mendatang.
ASEAN Heritage Park
ASEAN Declaration on Heritage Parks and
Reserves, ditandatangani oleh negara-negara
anggota ASEAN pada tahun 1984. ASEAN
Heritage Park (AHP) merupakan kawasan
pendidikan dan inspirasional yang bernilai
konservasi untuk melestarikan spektrum
yang lengkap dari ekosistem yang mewakili
kawasan ASEAN.8 Status AHP hanya dapat
diberikan pada kawasan-kawasan konservasi.
Saat ini sudah terdaftar 35 kawasan AHP,
termasuk TN Gunung Leuser, namun tidak
ada bentang alam target yang berstatus AHP.
Beberapa kriteria untuk mendapatkan status
ini adalah terpeliharanya proses ekologi
untuk mendukung kehidupan; terpeliharanya
keanekaragaman hayati di habitat alaminya;
terjaminnya penggunaan sumberdaya yang
berkelanjutan; dan adanya peluang untuk
pariwisata, pendidikan dan riset. ASEAN
Heritage Parks tidak memiliki mekanisme
pemantauan yang ketat dan dukungan teknis
sebagaimana situs warisan dunia, namun
keduanya lebih memberikan penekanan pada
aspek konservasi daripada situs cagar biosfer
dan ramsar.

6 www.edgeofexistence.org/about/edge_science.php

8 ASEAN Heritage Parks and Protected Area Management. <http://www.aseanbiodiversity.org/

7 The Ramsar Convention. <http://www.ramsar.org/sites-countries/the-ramsar-sites> Retrieved on 20 April 2015.

indexphp?option=comcontent&view=article&id=68&Itemid=101&current=94>. Retrieved on 28 March 2015.

23

24

BAB DUA

2.2.3 Kerangka Kebijakan Global untuk


Mendukung Konservasi Bentang
Alam
Hampir 30 tahun setelah laporan Brundtland
Our Common Future diterbitkan, yang
mendefinisikan pembangunan berkelanjutan
sebagai development that meets the needs of
the present without compromising the ability of
future generations to meet their own needs,
sangat sedikit pencapaian untuk menghentikan
degradasi lingkungan global. Lingkungan global
terus menunjukkan tanda-tanda degradasi
yang parah, mulai dari tanah, air, dan atmosfir.
Walaupun telah banyak kawasan daratan dan laut
yang dilindungi, makin banyak spesies flora dan
fauna yang terancam punah, termasuk harimau
dan gajah (UNEP, 2012). Untuk mengatasi isu-isu
global tersebut, diperlukan berbagai strategi dan
aksi tingkat global yang menyentuh ke tingkat
tapak dan masyarakat.
Untuk mengatasi degradasi lingkungan dan
hilangnya keanekaragaman hayati pada tingkat
global, telah dilakukan sejumlah perjanjian
internasional dan konvensi, seperti Konvensi
Keanekaragaman Hayati/CBD (Nairobi-1992).9
Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi
banyak konvensi sebagai wujud komitmen
untuk melindungi keanekaragaman hayati,
tetapi tetap menghadapi ancaman yang serius.
Dengan jumlah lebih dari 185 spesies mamalia
yang terancam, Indonesia menempati posisi
puncak dalam daftar negara-negara yang
memiliki jumlah mamalia terancam tertinggi
(IUCN, 2014). Di dalam sepuluh bentang alam
Sumatera dan Kalimantan, terdapat 11 spesies
fauna yang tergolong critically endangered,
mengindikasikan
pendekatan
konservasi
konvensional
tidak
berhasil
melindungi
keanekaragaman hayati di kawasan konservasi.
Sementara itu di luar kawasan konservasi terjadi
konversi hutan dan penggunaan lahan yang
ekstensif dan eksploitatif.
Untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman
hayati, jasa ekosistem, perubahan iklim, dan
faktor negatif lainnya yang berdampak pada
lingkungan, maka perlu pendekatan baru
yang berfokus pada bentang alam di luar
kawasan konservasi. Upaya-upaya global
untuk melindungi keanekaragaman hayati telah
beralih dari pendekatan spesies dan kawasan

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

kepada ekosistem dan bentang alam untuk


meningkatkan kesinambungan dan ketahanan
kawasan. Untuk memastikan tercapainya tujuan
konservasi pada skala bentang alam, maka
sangat penting untuk menghubungkan target
konservasi dengan tujuan pembangunan yang
lebih besar, seperti pengentasan kemiskinan,
ketahanan pangan, pendidikan dan perubahan
iklim, serta strategi yang memandu pendekatan
konservasi bentang alam.

2.2.3.1 MDGs, SDGs, Rio+20, dan


Global Landscape Forum
Salah satu instrumen penting yang menjadi
panduan pembangunan selama sepuluh tahun
terakhir adalah Tujuan Pembangunan Milenium
(MDGs). Tujuan MDGs yang seharusnya
dicapai pada tahun 2015, didukung oleh 21
target spesifik dengan lebih dari 60 indikator
(United Nations, 2014). Masalah lingkungan
merupakan MDG 7, dan target yang paling
relevan dengan pengelolaan bentang alam
adalah target (7A) memadukan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan dalam
kebijakan negara dan program-program untuk
mengembalikan
sumberdaya
lingkungan
yang menurun; dan (7B) menurunkan secara
signifikan tingkat hilangnya keanekaragaman
hayati pada 2010.
Kerangka baru tujuan pembangunan global
setelah tahun 2015 adalah Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs)10 sebagai agenda
pembangunan global menggantikan MDGs.
Tujuan nomor 13 dari SDGs sangat relevan dengan
pengelolaan bentang alam, yaitu mendorong
tindakan yang cepat untuk mengatasi
perubahan iklim dan dampak-dampaknya,
mengelola
hutan
secara
berkelanjutan,
menangani
penggurunan,
menghentikan
dan mengembalikan degradasi lahan, serta
menghentikan hilangnya keanekaragaman
hayati. Selain itu terdapat tujuan lain dari SDG
yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan
bentang alam, antara lain mencapai ketahanan
pangan, meningkatkan pertanian berkelanjutan,
pengelolaan air dan sanitasi, akses energi
yang terjangkau, dan mendorong pertumbuhan
ekonomi berkelanjutan.
Menggunakan target pembangunan berkelanjutan
yang penting secara global akan membantu
identifikasi penerapan strategi dan sumberdaya

9 Secretariat of the Convention on Biological Diversity. 2014. Global Biodiversity Outlook 4. Montral.
10 Sustainable Development Solutions Network. A Global Initiative for the United Nations. (2015). Indicators and Monitoring Framework for the Sustainable Development Goals. Revised working draft (Version 7).

lokal, dan mencapai tujuan-tujuan bentang


alam. Indikator-indikator tersebut merupakan
panduan untuk memantau dan mengukur
perkembangan pengelolaan bentang alam.
Dengan menerapkan dan mengintegrasikan
SDGs ke dalam pengelolaan bentang alam, maka
terbuka potensi untuk menjadi contoh praktikpraktik berkelanjutan terbaik (best practices)
pada tingkat nasional dan internasional.
Dokumen Rio+20 yang menggarisbawahi
komitmen negara-negara anggota terhadap
masa depan yang berkelanjutan, juga dapat
menjadi panduan penting dalam strategi
pengembangan konservasi bentang alam.
Dokumen tersebut dihasilkan pada bulan
Juni 2013 dalam pertemuan para kepala
negara dan pemerintahan yang bertemu di
Rio de Janeiro, Brazil. Mereka memperbarui
komitmen pembangunan berkelanjutan, dan
menjamin peningkatan masa depan yang
berkelanjutan untuk generasi saat ini dan yang
akan datang. Dokumen Rio+20 menyoroti
pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati,
memperkuat konektivitas habitat, membangun
ketahanan ekosistem dan pembangunan
berkelanjutan dengan memadukan ekonomi,
sosial, dan lingkungan serta mengenali
keterkaitan
berbagai
aspek
tersebut.11
Hal itu sejalan dengan tujuan pengembangan
konservasi bentang alam.
Global Landscape Forum (GLF)12 diadakan
bersamaan dengan negosiasi iklim PBB, dengan
tujuan menciptakan sebuah platform yang
memposisikan bentang alam dalam perjanjian
baru internasional terkait iklim dan pembangunan
berkelanjutan. Global Landscapes Forum
merekomendasikan pendekatan prinsip-prinsip
bentang alam pada REDD+, mempertimbangkan
bentang alam pada kerangka kerja SDGs pasca
2015, menjamin dukungan jangka panjang untuk
pengelolaan daerah aliran sungai, mengenali
hak-hak masyarakat lokal, kebijakan fiskal yang
terukur dan dirancang dengan baik dalam
konteks bentang alam secara signifikan dapat
mengatasi degradasi hutan dan deforestasi,
dan nilai jasa ekosistem memiliki peran penting
dalam ekonomi nasional. Untuk jangka panjang,
lembaga-lembaga atau yang terkait dengan
pengelola bentang alam perlu membangun
jaringan kerja dengan GLF.

2.2.3.2 Pendekatan Ekosistem dan Target Aichi


Pendekatan ekosistem (ecosystem approach)
merupakan kerangka kerja turunan dari
Convention on Biological Diversity/CBD
(diratifikasi Pemerintah Indonesia melalui
UU No.5 Tahun 1994) yang relevan dengan
pengelolaan bentang alam berkelanjutan.
Pendekatan ekosistem mencakup strategi
pengelolaan lahan terpadu, air dan sumbersumber kehidupan yang meningkatkan
pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan
secara adil. Penerapan pendekatan ekosistem
akan membantu mencapai keseimbangan
tiga tujuan utama CBD, yaitu konservasi,
pemanfaatan berkelanjutan, dan pembagian
manfaat yang adil dan merata terhadap
pemanfaatan sumberdaya genetik.
Pendekatan ekosistem memiliki 12 prinsip yang
saling melengkapi dan dapat menjadi panduan
operasional meningkatkan pembagian manfaat,
praktik-praktik
penggunaan
pengelolaan
yang adaptif, melakukan langkah-langkah
pengelolaan pada skala yang tepat untuk
mengatasi berbagai isu yang sedang ditangani,
dan menjamin kerja sama inter-sektoral,
termasuk sistem produksi yang memberikan
dampak bagi keanekaragaman hayati di tingkat
bentang alam, termasuk sektor pertanian,
perikanan, kehutanan, dan pertambangan
(Shepherd, 2004).
Terkait
dengan
upaya
penyelamatan
keanekaragaman hayati global, telah disepakati
oleh negara-negara anggota CBD adanya 20
(dua puluh) Target Aichi untuk menyelamatkan
keanekaragaman hayati dan memperbesar
manfaatnya bagi manusia. Mereka setuju untuk
merevisi dan memasukkan Target Aichi ke dalam
Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman
Hayati Nasional (IBSAP). Saat ini Indonesia juga
sedang merevisi dokumen rencana strategi dan
aksi nasional untuk periode 10 tahun ke depan.

2.2.3.3 ASEAN Agreement on Transboundary


Haze Pollution
Hutan tropis di dalam bentang alam
memberikan ketahanan iklim dan air bagi
kawasan di sekitarnya, dan tempat berlindung
bagi satwa dan manusia. Di sisi lain, hutan tropis
merupakan salah satu ekosistem yang paling
rentan terhadap perubahan iklim. Penurunan

11 The Future We Want, United Nations Conference on Sustainable Development. United Nations. (2012), Outcome Document. <http://www.un.org/disabilities/
documents/rio20_outcome_document_complete.pdf> Retrieved on 8 April 2015
12 Global Landscape Forum. 2014. Outcome Document. <http://www.landscapes.org/ publication/2014-global-landscapes-forum-outcome-statement/> Retrieved on 2
April, 2015

25

26

BAB DUA

tutupan hutan yang terus terjadi akan


mengurangi ketahanan alamiah bentang alam
terhadap perubahan iklim dan membahayakan
jasa ekosistem, seperti stabilitas iklim dan air,
yang pada akhirnya mengancam pembangunan
ekonomi berkelanjutan. Salah satu ancaman
utama di dalam bentang alam adalah kebakaran
hutan dan lahan. Studi yang disusun oleh
CIFOR menunjukkan bahwa kebakaran seluas
163.336 hektar, termasuk 137.044 hektar (84%)
gambut pada tahun 2013 sempat mengganggu
kehidupan masyarakat di hampir seluruh
Provinsi Riau. Kebanyakan kebakaran terjadi
di kawasan deforestasi (82%, seluas 133.216
hektar). Emisi gas rumah kaca (GHG) dalam
kebakaran tersebut diduga mencapai 172.659
Tg CO-eq (atau 31612 Tg C), sekitar 5-10%
rata-rata tahunan emisi GHG di Indonesia pada
periode 20002005 (Peter, 2014; Gaveau et al.,
2014).
Kebakaran hutan tahunan di Indonesia, yang
terjadi antara Mei dan September, dianggap
sebagai pemberi kontribusi terbesar asap di
tingkat regional Asia Tenggara. Untuk mengatasi
isu tersebut, pada tahun 2002, negara-negara
anggota ASEAN menandatangani Perjanjian
Polusi Asap Lintas Batas yang telah diratifikasi
oleh Indonesia pada tahun 201413. Kesepakatan
tersebut cukup inovatif, mengingat ini adalah
perjanjian regional pertama di dunia untuk
mengatasi polusi asap lintas batas.
Perjanjian tersebut meminta negara-negara
anggota bekerja sama untuk pencegahan,
pemantauan,
dan
pengurangan
polusi
asap lintas batas dengan mengendalikan
pemanfaatan
lahan,
kebakaran
hutan,
pengembangan pemantauan, penilaian dan
sistem peringatan awal, pertukaran informasi
dan teknologi, pemberian bantuan secara
timbal balik; menanggapi segera permintaan
informasi relevan yang dicari oleh negaranegara yang sedang atau kemungkinan akan
terkena dampak polusi asap lintas batas, untuk
meminimalisir konsekuensi polusi; mengambil
tindakan hukum, administrasi, atau langkah
lain untuk melaksanakan kewajiban di bawah
perjanjian. Untuk kerja sama itu telah dibentuk
ASEAN Coordinating Centre yang akan
memfasilitasi kerja sama dan koordinasi dalam
mengelola dampak kebakaran hutan dan lahan
terutama polusi asapnya.
13 http://haze.asean.org/?page_id=185>. Retrieved on 2 March 2015

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

2.2.3.4 Green Growth dan Skema Sertifikasi


Dengan skenario business as usual,
manfaat pembangunan akan dicapai dengan
biaya yang mahal akibat adanya dampak
lingkungan,
hilangnya
keanekaragaman
hayati, dan perubahan iklim. Pengetahuan ini
telah mengubah perilaku konsumen untuk
menuntut produk-produk yang lebih ramah
lingkungan dan memajukan green growth
(Holopainen et al., 2014). Banyak perusahaan
swasta yang beroperasi di dalam bentang
alam memproduksi barang-barang untuk
pasar global, dan tunduk pada perilaku
konsumen yang sadar lingkungan. Perusahaanperusahaan yang mengadopsi praktik-praktik
dan filosofi hijau akan lebih diuntungkan
daripada perusahaan tradisional karena mereka
mendapatkan kepercayaan dari konsumen,
sekaligus mengurangi dampak produksi pada
lingkungan.
Menurut laporan UNEP Towards a Green
Economy, investasi hijau di sektor kehutanan
dan pertanian dapat mengurangi deforestasi
dan meremajakan sumberdaya penting ini
hingga 4.5 milyar ha untuk 40 tahun mendatang.
Namun transisi produksi hijau seringkali sulit
dilakukan karena membutuhkan perubahan
mind-set produsen, teknologi know-how dan
investasi di depan. Untuk mengubah paradigma
pembangunan ekonomi menuju ekonomi
hijau dalam jangka pendek, diperlukan upaya
promosi standar internasional sosial dan
lingkungan melalui skema sertifikasi.
Peningkatan permintaan konsumen untuk
produk bersertifikat ramah lingkungan dan
sosial, telah mengarah pada peningkatan
skema sertifikasi untuk produsen, terutama
di sektor perkebunan, kehutanan, dan
perikanan. Produsen akan mengikuti proses
audit untuk verifikasi agar dapat menggunakan
label environmentally sustainable dalam
produknya. Beberapa skema sertifikasi global
penting adalah Forest Stewardship Council
(FSC), yang mempromosikan pengelolaan
hutan secara bertanggung jawab; ISO 14001
yang mengatur sejumlah kriteria untuk sistem
pengelolaan lingkungan; Eco-Management and
Audit Scheme (EMAS) yang mencakup instrumen
pengelolaan sumber daya lingkungan.

2.3 KERANGKA HUKUM


PENGELOLAAN BENTANG ALAM
2.3.1 Kawasan Lindung di dalam Bentang
Alam
Pada dasarnya, wilayah di Indonesia terdiri
dari kawasan hutan, non-kawasan hutan
(Area Penggunaan Lain/APL), dan laut/perairan.
Kawasan hutan dikelola oleh Kementerian LHK
dengan dasar hukum UU bidang Kehutanan.
Wilayah APL dikelola oleh Badan Pertanahan
Nasional (BPN) dengan dasar hukum bidang
pertanahan. Sedangkan Menteri Kelautan
dan Perikanan mengelola laut, wilayah pesisir
pantai dan pulau-pulau kecil, termasuk perairan
perikanan dan bakau dengan dasar hukum
UU No.27 tahun 2007 dan UU No.1 tahun 2014
tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil, UU No.31 tahun 2004 dan UU No.45 tahun
2009 tentang Perikanan, dan UU No.32 tahun
2014 tentang Kelautan).
Dasar hukum yang secara khusus mengatur
pengelolaan bentang alam/bentang alam
memang belum tersedia, namun terdapat
beberapa regulasi yang secara interpretatif
terkait dengan bentang alam. Undang-undang
No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)
menyebutkan
istilah
Ekoregion,
yang
didefinisikan sebagai wilayah geografis yang
memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan
fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan
alam yang menggambarkan integritas sistem
alam dan lingkungan hidup. Sedangkan UU No.27
tahun 2007 tentang Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil menggunakan istilah Bioekoregion, yang
didefinsikan sebagai bentang alam yang berada
di dalam satu hamparan kesatuan ekologis yang
ditetapkan oleh batas-batas alam, seperti daerah
aliran sungai, teluk, dan arus. Kedua UU tersebut
memaknai bentang alam sebagai bagian yang
membentuk suatu ekoregion/bioekoregion,
namun tidak menyebutkan siapa pengelolanya.
Undang-Undang
No.32/1999
mewajibkan
pemerintah untuk menetapkan wilayah ekoregion
sebagai
tahapan
penyusunan
Rencana
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (RPPLH). Penetapannya dilakukan dengan
mempertimbangkan karakteristik bentang alam,
daerah aliran sungai, flora-fauna, iklim, ekonomi,
sosial budaya, dan kelembagaan masyarakat.
Sedangkan UU No.27/2007 tidak secara tegas

melakukan penetapan wilayah bioekoregion


dalam penyusunan Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau Kecil.
Undang-undang No.26 tahun 2007 mengenai
Penataan Ruang memisahkan ruang menjadi
kawasan budidaya dan kawasan lindung.
Kawasan Lindung diartikan sebagai wilayah
yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang
mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya
buatan, yang pada dasarnya mengadopsi
muatan dari Keputusan Presiden No.32 tahun
1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung.
Masalah Penataan Ruang diatur lebih lanjut
di dalam Peraturan Pemerintah No.26 tahun
2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN). Diperkenalkanlah istilah
Kawasan Koridor sebagai bagian dari Kawasan
Lindung Lainnya untuk jenis satwa atau biota
laut yang dilindungi. Selanjutnya Peraturan
Presiden (Perpres) No.3 Tahun 2012 tentang
Tata Ruang Kalimantan dan Perpres No.13
Tahun 2012 tentang Tata Ruang Pulau Sumatera
memperluas makna Kawasan Koridor menjadi
Koridor Ekoistem, yaitu sebagai wilayah yang
merupakan bagian dari kawasan lindung
dan/atau kawasan budidaya yang berfungsi
sebagai alur migrasi satwa atau biota laut, yang
menghubungkan antarkawasan konservasi.
Koridor ekosistem tersebut mengakomodir
gagasan
konservasi
keanekaragaman
hayati yang lebih maju dalam istilah
kawasan
pengungsian
satwa
dan
kawasan koridor untuk alur migrasi satwa
atau biota laut, konektivitas antarkawasan
yang berfungsi konservasi, dan memperluas
cakupan wilayahnya ke kawasan budidaya.
Arahan strategi pada koridor ekosistem
di kedua Perpres tersebut adalah (a)
Menetapkan koridor ekosistem pada KSA/KPA,
(b) Mengendalikan pemanfaatan ruang kawasan
budidaya pada koridor ekosistem, (c) Membatasi
pengembangan kawasan permukiman, dan
(d)
Mengembangkan
prasarana
ramah
lingkungan
pada
koridor
ekosistem
antarkawasan berfungsi konservasi.
Secara umum, kawasan lindung tersebut dapat
digolongkan menjadi dua tipe, yaitu:
1. Kawasan lindung yang memiliki kekuatan
hukum, ditata batas sebagai dasar penerbitan
perizinan dan ada organisasi yang
mengoperasikannya, misalnya KSA/KPA;

27

28

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

2. Kawasanlindungyang peruntukannya bersifat


arahan, tidak memiliki organisasi pengelola,
status kepemilikannya beragam (tanah
negara, tanah ulayat, tanah milik).
Merujuk pada peraturan perundang-undangan
tersebut, maka struktur bentang alam ditata
dalam distribusi peruntukan ruang yang
berfungsi sebagai kawasan budidaya dan
kawasan lindung. Kawasan-kawasan lindung
sebagaimana diuraikan di dalam Tabel II-2.
akan dibahas lebih lanjut dalam Bab berikutnya
untuk diperhitungkan sebagai Kawasan Penting
Bentang alam (KPL) dan prioritisasi Arahan
Program Strategis dalam dokumen ini.

Tabel II-2. Kategori kawasanlindungberdasarkan


regulasi tata ruang
1. Kawasanyang
Memberikan
Pelindungan
KawasanBawahannya

2.Kawasan
Perlindungan
Setempat

Hutanlindung
Kawasanbergambut
Kawasanresapan air

Sempadan pantai
Sempadan sungai
Kawasansekitar danau/
waduk
Kawasansekitar mata air

3. KSA, KPA dan Cagar


Budaya

4.KawasanRawan
Bencana Alam

KawasanSuaka Alam
di darat,laut dan
perairan lainnya
Kawasan Pelestarian
Alam di darat, laut, dan
perairan lainnya
Kawasancagar
budaya dan ilmu
pengetahuan,kawasan
pantai berhutan bakau

Kawasanrawan letusan
gunung berapi
Kawasanrawan gempa
bumi
Kawasanrawan tanah
longsor
Kawasanrawan
gelombang pasang
Kawasanrawan banjir

5. Kawasan Lindung
Geologi

6.Kawasan
LindungLainnya

Kawasancagar alam
geologi
Kawasan rawan
bencana geologi
Kawasan yang
memberikan
perlindungan
terhadap air tanah

Taman buru, ramsar,


cagar biosfer
Kawasanperlindungan
plasma nutfah
Kawasanpengungsian
satwa
Terumbu karang
Kawasankoridor bagi
jenis satwa atau biota
laut yang dilindungi
Koridor ekosistem

2.3.2 Regulasi dalam Pengelolaan


Bentang Alam
Walaupun tidak ada pengaturan khusus
mengenai pengelolaan bentang alam, sejumlah
regulasi sektoral tetap berlaku untuk mengatur
kegiatan sektoral di dalam bentang alam.
Secara kelembagaan terdapat potensi benturan
kepentingan dan kewenangan akibat tumpang
tindihnya regulasi antarsektor. Tidak jarang
hal itu menjadi faktor yang mempengaruhi
efektivitas dan efisiensi pengelolaan bentang
alam. Selain itu terdapat hal-hal substansial
yang belum diatur dengan baik sehingga
menimbulkan multitafsir. Namun hal itu dapat
diatasi jika para pihak yang berkepentingan di
dalam bentang alam memiliki visi dan semangat
yang sama untuk membangun kehidupan sosial,
ekonomi, dan lingkungan yang lebih baik.
Sesuai dengan prinsip keberlanjutan yang
memadukan aspek sosial, ekonomi, dan
lingkungan, maka kerangka hukum yang perlu
mendapatkan perhatian dan menjadi panduan
juga meliputi aspek-aspek tersebut di atas.
Berdasarkan pengamatan terhadap kondisi
bentang alam yang berkembang selama
penyusunan dokumen ini, disampaikan diagram
beberapa regulasi sektoral yang terkait dengan
pengelolaan bentang alam.

dan pemanfaatan di dalam suatu bentang alam


yang juga akan mempengaruhi pengembangan
dan pengelolaan bentang alam di tingkat tapak.
Peraturan perundang-undangan yang bersifat
umum dan mencakup lintas sektoral adalah
regulasi di bidang korupsi, pencucian uang,
dan pidana umum sebagaimana diatur di dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terkait
masalah keperdataan antara badan hukum
dengan badan hukum lainnya termasuk individu.
Seluruh tindak pidana yang terjadi di dalam
bentang alam dapat menggunakan kaidah
atau delik pidana umum, kecuali diatur khusus
oleh regulasi sektoral. Korupsi dan pencucian
uang tergolong tindak pidana khusus yang
diatur secara khusus, namun dapat diterapkan
di semua sektor termasuk kehutanan dan
perkebunan.
Pengelolaan bentang alam yang menjadi target
dalam dokumen ini mengharuskan keterlibatan
multipihak karena pengguna lahan/hutan yang
ada di dalam bentang alam memiliki banyak
kepentingan dan terkait dengan banyak sektor.

Para pihak tersebut ada yang berperan sebagai


regulator (misalnya Dinas Kehutanan), operator
(misalnya Kesatuan Pengelolaan Hutan), dan
eksekutor (misalnya Unit Manajemen Hutan).
Kepentingan-kepentingan
antarregulator,
antaroperator, dan antareksekutor tersebut
ada yang sejalan, namun ada pula yang
bertentangan. Untuk itu diperlukan upaya untuk
mengharmonisasikan kebijakan antarsektor
dan antarpihak.
Tugas pokok, peran, dan fungsi serta tata
hubungan kerja antarpihak tersebut memerlukan
badan koordinasi yang disepakati bentuknya,
atau diatur oleh regulator dari tingkat pusat atau
pemerintah daerah yang membawahi suatu
bentang alam. Sebagai contoh adalah Badan
Pengelola atau Badan Koordinasi Cagar Biosfer,
yang mengkoordinir, mengawasi, dan memantau
pengembangan sosial, ekonomi, dan lingkungan
di kawasan itu. Pada tingkat informal, dibentuk
forum komunikasi seperti Forum Dangku.
Badan atau forum ini sangat diperlukan untuk
memadukan gerak dan langkah para pihak
dalam pengembangan bentang alam sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan mengembangkan kebijakan lokal untuk
memfasilitasi gagasan-gagasan yang spesifik
pada suatu bentang alam.

Berdasarkan gambar II-4., Hukum Lingkungan


merupakan payung yang dapat digunakan
pada tataran makro karena mencakup lintas
sektoral. Semua sektor usaha yang berpotensi
memberikan dampak terhadap lingkungan di
dalam bentang alam harus melakukan kajian
lingkungan (Amdal, RKL/UKL). Bahkan Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) menjadi
salah satu instrumen pengembangan wilayah
sebagai bagian integral penyusunan RTRW.
Lebih jauh lagi, UU No.32 tahun 2009 juga
menyebutkan pengelolaan dengan pendekatan
ekoregion yang dapat dimaknai dalam suatu
bentang alam yang terdiri dari beberapa jenis
ekosistem.
Ditinjau dari keterkaitan dengan sumberdayanya,
maka terdapat beberapa regulasi yang
terkait dengan biological resources dan nonbiological resrouces. Regulasi kelompok
biological resources inilah yang menjadi
tulang punggung pengaturan kawasan dan
keanekaragaman hayati. Sedangkan regulasi
non-biological resources mengatur tata ruang

Gambar II-4. Kerangka peraturan perundang-undangan dalam pengelolaan bentang alam

29

30

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

2.4 TANTANGAN DAN PELUANG

Hal itu tidak terlepas dari adanya kecenderungan


kebijakan penentuan kawasan konservasi di
masa lalu.

Suatu hal yang lazim ketika memulai sebuah


inisiatif di wilayah yang dipenuhi oleh banyak
kepentingan, multisektor, dan multipihak akan
menemui banyak hambatan dan tantangan.
Namun tidak sedikit pula peluang yang harus
diidentifikasi yang menjadi kepentingan dan
agenda bersama. Isu-isu tersebut mencakup
kebijakan dan regulasi di tingkat pusat dan
daerah, bahkan di tingkat para pihak yang
berkepentingan di dalam dan sekitar bentang
alam. Berdasarkan hasil FGD dan wawancara
dengan narasumber, didapatkanlah berbagai
hambatan, tantangan dan peluang yang
disampaikan di dalam Lampiran 2. Analisis lebih
lanjut dilakukan dengan menggunakan SWOT
dan MIRADI, yang hasilnya digunakan untuk
mengembangkan strategi dan program aksi.

Pada kelompok Ekosistem Penting dan


kelompok
Penyangga,
tampak
bahwa
keterwakilan ekoregion hutan dataran rendah,
hutan rawa gambut, dan bakau lebih banyak
berada di luar kawasan konservasi, termasuk
di hutan produksi. Atas dasar itulah, Kemenhut
& KKP (2013) merekomendasikan perlindungan
ekosistem penting dan penyangga di Sumatera
dan Kalimantan yang berstatus non-kawasan
konservasi dengan berbagai cara dan
pendekatan. Perlindungan itu dapat berupa
penetapan kawasan konservasi baru, perluasan
kawasan konservasi, atau melalui praktik terbaik
pengelolaan hutan produksi, perkebunan,
dan pertambangan. Salah satu upaya yang
melibatkan multipihak adalah pengelolaan
berbasis bentang alam yang memungkinkan
interaksi terkontrol antara pengusahaan
sumberdaya, kelestarian ekosistem, dan
kesejahteraan masyarakat.

2.4.1 Keterwakilan Ekosistem Penting di


Kawasan Konservasi
Indonesia sudah memiliki 523 kawasan
konservasi seluas 27.362.050 hektar (Ditjen
PHKA, 2014), namun keterwakilan ekoregion
dan Ekosistem Penting14 di kawasan hutan
konservasi15 masih rendah persentasenya,
kecuali ekosistem hutan hujan pegunungan
(Kemenhut & KKP, 2013; lihat Tabel II-3).
Masih banyak ekosistem penting berada di
luar kawasan sehingga sekitar 80% satwa
liar yang terancam punah masih ditemukan
berada
di
luar
kawasan
konservasi.

Sepuluh bentang alam yang menjadi fokus di


dalam Rencana Induk ini sesuai dengan Prioritas
dan Arahan Pengelolaan Ekosistem Penting/
Penyangga Sumatera dan Kalimantan. Provinsi
Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan teridentifikasi
sebagai provinsi kunci untuk penyelamatan
hutan rawa gambut yang tergolong ekosistem
penting. Pengelolaan di sepuluh bentang alam

Tabel II-3. Persentase kelompok ekosistem di dalam dan luar kawasan konservasi
Catatan: KK = Kawasan Konservasi; Su: Sumatera; Ka: Kalimantan. Sumber: Kemenhut & KKP, 2013.
Hutan rawa air

Hutan hujan

Hutan hujan

Hutan rawa

tawar

tropis dataran

pegunungan

gambut

Ekosistem

Hutan

Hutan

pinus

kerangas

rendah
Su

Penting-KK

Bakau

Ka

Su

Ka

Su

Ka

Su

Ka

Su

Ka

Su

Ka

2,71

7,49

6,37

2,15

29,89

26,91

6,13

5,34

6,54

9,34

34,30

8,80

Penting-non KK

8,53

41,16

19,15

39,98

33,87

55,05

23,15

43,78

13,81

48,35

42,57

31,05

Penyangga-KK

0,58

3,45

0,49

0,28

1,33

0,43

0,77

4,00

1,21

3,93

0,43

0,73

36,74

29,19

19,45

23,33

20,95

17,21

47,46

21,12

52,78

16,13

17,78

27,48

0,10

0,00

0,29

0,03

0,40

0,00

0,15

0,00

0,05

0,92

0,00

0,00

51,34

18,70

54,26

34,22

13,55

0,40

22,33

25,76

25,61

21,33

4,94

31,94

Penyangga-Non KK
Terganggu-KK
Terganggu-Non KK

14 Ekosistem penting diartikan sebagai kawasan yang mendukung kelangsungan hidup keanekaragaman htaryati dalam jangka panjang, berupa habitat-habitat utama
(prime hectare bitat) dan ekosistem, termasuk ekosistem esensial seperti gambut, savanna, dan rawa. Ekosistem penyangga merupakan ekosistem penghubung/
koridor antarekosistem penting/kawasan konservasi.
15 Kawasan konservasi merujuk kepada UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, terdiri dari KSA, KPA, dan Taman Buru.
Sedangkan Kawasan Konservasi Perairan diatur oleh UU No.31/2004, UU No.45/2009 (Perikanan) dan UU No.27/2007 (Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil).

yang dilakukan bersama-sama para pihak


merupakan kontribusi nyata untuk membantu
Pemerintah Indonesia menekan laju deforestasi
dan degradasi hutan.

2.4.2 RKTN 2011-2030 dan Target


Kementerian LHK
Pemerintah
Indonesia
memiliki
cukup
banyak dokumen perencanaan yang terkait
dengan bidang kehutanan dan konservasi,
salah satunya adalah Rencana Kehutanan
Tingkat
Nasional
(RKTN)
2011-2030.
Dokumen
perencanaan
ini
memberikan
arahan makro pemanfaatan dan penggunaan
ruang serta potensi kawasan hutan untuk
pembangunan kehutanan dan pembangunan
di luar kehutanan yang menggunakan kawasan
hutan dalam skala nasional. Basis ekonomi
pembangunan
kehutanan
berkelanjutan
bertujuan menciptakan pertumbuhan dan
pemerataan dalam pemanfaatan kawasan hutan.
Basis sosial bertujuan meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam pemanfaatan kawasan
hutan, sedangkan Basis ekologi bertujuan
meningkatkan produktifitas kawasan konservasi
dan keanekaragaman hayati di kawasan hutan.
Sejumlah target-target yang dicanangkan di
dalam rencana jangka panjang sebelumnya dapat
diubah sesuai dengan perkembangan kebijakan
pemerintah baru. Presiden Jokowi dengan
program Nawacita-nya, telah diterjemahkan ke
dalam kebijakan kehutanan untuk lima tahun ke
depan16 dalam bentuk Rencana Pembangunan
Jangka
Menengah
Nasional
(RPJMN)
2015-2019. Beberapa target yang terkait dengan
pengembangan konservasi bentang alam di
Sumatera dan Kalimantan, antara lain:
Menanggulangi penebangan liar, kebakaran
hutan dan lahan, perdagangan tumbuhan
dan satwa liar, perambahan hutan, dan
penambangan liar;
Meningkatkan populasi 25 spesies terancam
punah dan mengelola kawasan konservasi.
Pemulihan 15 DAS, 15 danau, revitalisasi sungai,
pemulihan 5.5 juta hektar lahan kritis;
Mentargetkan 12,7 juta hektar hutan dikelola
oleh masyarakat melalui mekanisme HKm, HD,
HTR, dan Hutan Adat;

Meningkatkan kualitas tata kelola hutan


produksi melalui pembentukan 347 unit KPH
untuk memantapkan kawasan hutan, efisiensi,
dan efektivitas pengelolaan dan mendekatkan
pelayanan di tingkat tapak.
Strukutur organisasi yang baru di Kementerian
LHK telah memberikan ruang dialog dan mitra
kerja yang lebih banyak. Sedikitnya terdapat
enam Direktorat Jenderal (Ditjen) yang terkait
dengan pengembangan konservasi bentang
alam, yaitu Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistem (KSDAE) terkait upaya proteksi spesies
dan restorasi, Perhutanan Sosial dan Kemitraan
Lingkungan
(PSKL)
terkait
penanganan
konflik-konflik sosial, Pengelolaan Hutan
Produksi Lestari (PHPL) terkait pengelolaan
hutan produksi, Pengendalian DAS dan Hutan
Lindung (PDASHL) terkait rehabilitasi lahan kritis,
Penegakan Hukum terkait illegal logging dan
perambahan, dan Pengendalian Perubahan
Iklim terkait kebakaran hutan dan lahan.
Kebijakan-kebijakan umum tersebut merupakan
peluang-peluang yang berpotensi mendukung
pelaksanaan konservasi bentang alam di
Sumatera dan Kalimantan. Persoalan-persoalan
mendasar dan akut di dalam dan sekitar
kawasan hutan diharapkan dapat terselesaikan
dengan lebih terstruktur dan sistematis.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana
komando kebijakan tersebut dapat dipahami
dan dilaksanakan di tingkat tapak oleh unit-unit
pelaksana teknis Kementerian LHK, pemerintah
daerah, LSM, dan masyarakat.

2.4.3 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)


Untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang
lestari, UU No.41/1999 yang dijabarkan lebih
lanjut oleh Peraturan Pemerintah No.6 tahun
2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan, serta Pemanfaatan
Hutan, mengamanatkan pembentukan wilayah
pengelolaan hutan dan unit pengelolaan yang
dinamakan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Seluruh kawasan hutan terbagi ke dalam
unit-unit KPH sesuai fungsi pokok hutan agar
kawasan hutan dikelola secara efisien dan
lestari (sustainable forest management), yang
mencakup KPH Produksi (KPHP), KPH Lindung
(KPHL), dan KPH Konservasi (KPHK).

16 Disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat Pertemuan Konsultasi dan Koordinasi Nasional di Jakarta pada tanggal 17 Desember 2014.

31

32

BAB DUA

Untuk mendukung upaya tersebut, Direktorat


Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air
bersama BAPPENAS telah mengkaji peran
sektor kehutanan terhadap pembangunan
nasional. Organisasi KPH teridentifikasi sebagai
solusi dan strategi pembangunan kehutanan
yang secara bertahap dikembangkan menuju
situasi dan kondisi aktual di tingkat tapak, yang
mampu menyerap tenaga kerja, investasi,
memproduksi barang dan jasa kehutanan dalam
sistem pengelolaan hutan berkelanjutan dan
mengurangi praktik monopoli dan oligopoli.
Atas dasar itu, BAPPENAS mendorong
pengembangan forest-based cluster business
sebagai satu kesatuan dalam pengembangan
KPH. Hal ini menjadi tantangan bagi para pelaku
di sektor kehutanan dalam kapasitas sebagai
regulator, operator, dan eksekutor.
Pembangunan KPH merupakan prioritas dan
target dari rencana strategis pembangunan
kehutanan
yang
harus
dicapai.
Pada
periode
20092014
telah
ditetapkan
target beroperasinya KPH di 15 provinsi.
Penyelenggaraan pengelolaan hutan oleh
KPH mencakup tata hutan dan penyusunan
rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan
dan penggunaan kawasan hutan, rehabilitasi
hutan, perlindungan hutan dan konservasi
alam. Unit KPH juga bertugas melaksanakan
pengawasan dan pengendalian pemanfaatan
hutan di wilayahnya serta membuka peluang
investasi guna mendukung tercapainya tujuan
pengelolaan hutan.
Hingga tahun 2014, Menteri Kehutanan telah
menetapkan luas wilayah KPH di setiap provinsi
dengan total 120 KPH mencakup area seluas
16.439.718 hektar. Dengan demikian baru sekitar
21% kawasan hutan lindung dan produksi yang
telah termasuk dalam KPH (Royana, 2014).
Di Sumatera Selatan terdapat 10 KPHL dan 14 KPHP
dengan total luas 2.558.407 hektar, Jambi 1 KPHL
dan 16 KPHP seluas 1.458.934 hektar, Kalimantan
Barat memiliki 5 KPHL dan 29 KPHP seluas
6.973.613 hektar, dan Kalimantan Timur terdapat 4
KPHL dan 30 KPHP dengan total luas 12.567.139
hektar. Adanya unit-unit KPHP/KPHL/KPHK di
dalam bentang alam merupakan peluang untuk
mewujudkan program proteksi dan restorasi di
tingkat bentang alam. Beberapa unit KPHP model
telah beroperasi, seperti KPHP Tasik Besar Serkap
di Bentang Alam Semenanjung Kampar, Provinsi
Riau; KPHP Unit III Lalan Mangsang Mendis (LMM)

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

di Bentang Alam Berbak-Sembilang, dan KPHP


Lakitan di Bentang Alam Dangku-Meranti, Provinsi
Sumatera Selatan; serta KPHP Unit VII Limau di
Bentang Alam Dangku-Meranti, Provinsi Jambi.
Unit-unit KPHP tersebut telah memiliki RPHJP
(Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang),
sehingga perlu didorong implementasi programprogramnya di dalam bentang alam.
Dari berbagai diskusi dan publikasi mengenai
KPH dapat disimpulkan bahwa titik awal
munculnya dorongan untuk membangun
KPH adalah respon terhadap kondisi open
access yang terjadi pada sebagian besar
kawasan hutan. Hal itu terjadi akibat adanya
kawasan hutan yang belum dibebani izin
pengusahaan/pemanfaatan atau pengelolanya
tidak dapat mengontrol kawasan sepenuhnya,
atau ditelantarkan pengelolanya. Unit KPH
diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah
pengelolaan atau pemanfaatan hutan di hulu
agar sektor kehutanan bisa berkontribusi lebih
tinggi terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat, pendapatan asli daerah dan
pusat. Harapan ini hanya bisa diwujudkan jika
terdapat hubungan-hubungan yang jelas antara
pengelolaan hutan di hulu dengan industri
di hilir dan pasar. Untuk itu dikembangkan
skema forest based cluster industry yang
melibatkan beberapa KPH yang secara
geografis berdekatan atau unit-unit manajemen
pemanfaatan hutan di dalam suatu KPH.
Untuk itu, KPH juga harus memiliki rencana
pengelolaan dan rencana bisnis yang layak
secara ekonomi dan finansial (Royana, 2014).
Di dalam bentang alam target terdapat unitunit KPH yang telah mulai beroperasi, misalnya
KPH Tasik Besar Serkap (TBS) di Riau. Unit KPH
TBS telah memiliki rencana pengelolaan untuk
pengembangan budidaya karet, arwana, dan
hasil hutan bukan kayu lainnya.

2.4.4 Perhutanan Sosial sebagai Peluang


Penyelesaian Konflik Tenurial
Suharjito (2014) menegaskan bahwa perspektif
sosial ekologi memandang persoalan kerusakan
hutan sebagai akibat dari dominasi manusia
atas alam, tetapi akarnya terletak pada
dominasi manusia atas manusia. Perspektif
itu menawarkan strategic priority thesis,
yakni mendahulukan pembebasan manusia
dari penindasan oleh manusia lain. Konsep

Gambar II-5. Alur permasalahan penyebab kerusakan hutan dan fenomena open access

pembangunan partisipatif menawarkan upaya


pengakuan dan penghormatan atas kesetaraan
dan keadilan sosial, pengetahuan dan hak-hak
masyarakat lokal. Problem krisis lingkungan
hidup dan kemiskinan dapat dipecahkan melalui
perwujudan status dan peran masyarakat lokal
dalam pembangunan, termasuk pembangunan
kehutanan. Gambar II-5. menunjukkan rumitnya
persoalan yang kait-mengait dan berimbas pada
meningkatnya kerusakan hutan dan fenomena
open access.
Menurut Prof. Didik Suharjito (2014), penduduk
miskin yang tinggal di desa-desa hutan berjumlah
sekitar 12 juta jiwa atau 32,4% dari penduduk
pedesaan sekitar hutan, atau 66,3% dari seluruh
penduduk yang tergolong miskin. Tidak kurang
dari 25.000 desa berada di pinggir kawasan
hutan negara, dimana kegiatan ekonominya
sangat tergantung pada kelestarian sumberdaya
hutan tersebut. Penduduk miskin yang tinggal
di dalam dan sekitar kawasan hutan itulah yang
menjadi target dari program Perhutanan Sosial
dalam skema Hutan Kemasyarakatan (HKm),
Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR),
Kemitraan perusahaan dengan masyarakat

sekitarnya, dan pengembangan Hutan Adat


(HA). Ruang lingkup perhutanan sosial adalah
pemberian akses mengelola kawasan hutan
negara kepada masyarakat yang hidupnya
sangat bergantung pada sumberdaya hutan.
Akses pengelolaan jangka panjang akan
memberikan kepastian dan perlindungan hak
kelola, kepastian usaha, dan meningkatkan
meningkatkan produktivitas, ragam komoditas,
pengolahan pasca panen, penerapan teknologi
tepat guna, dan pengembangan jaringan
pemasarannya.
Berdasarkan kriteria dan analisis spasial yang
dilakukan pada pertengahan tahun 2015,
Direktorat Perhutanan Sosial mencadangkan
kawasan hutan produksi dan hutan lindung
seluas 12,7 hektar untuk arahan kelola perhutanan
sosial mengalokasikan kawasan hutan seluas
dengan skema HKm, HD, dan HTR dialokasikan
seluas 12,7 juta hektar, dengan kriteria:

33

34

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

1. Hutan lindung untuk perhutanan sosial


(626.577,86 hektar)

Untuk itu masih diperlukan regulasi yang menjadi


dasar hukum dalam penerapannya.

2. Hutan produksi yang dicadangkan untuk


perhutanan sosial oleh Ditjen PHPL
(4.718.612,69 hektar);

Pemberdayaan masyarakat yang tinggal di pinggir


hutan bukan terbatas pada pemberian izin kelola,
tetapi juga memerlukan pendampingan untuk
kemandirian masyarakat dalam kewirausahaan.
Pengelolaan Koperasi HKm/HD menjadi
tantangan untuk menjawab berbagai persoalan
anggota HKm/HD yang terjebak dalam sistem
ijon, lemahnya permodalan usaha, dan harga
komoditas yang dikendalikan tengkulak.

3. Hasil pemetaan partisipatif-JKPP, BRWA,


AMAN, dan KpSHK17 (6.266.740,35 hektar);
4. Provinsi Lampung, Kalimantan Selatan,
dan Nusatenggara Barat, yang kawasan
hutannya kurang dari 30% sehingga bukan
bagian dari Tanah Objek Reforma Agraria
(309.285,61 hektar);
5. Hutan Produksi/Hutan lindung sedang
dalam proses perizinan perhutanan sosial
(800.000 hektar).

Teknologi tepat guna diperlukan untuk


pemrosesan pasca panen dari berbagai
komoditas untuk meningkatkan keuntungan
dan nilai tambah. Berbagai persoalan hama,
penyakit, dan rendahnya produktivitas beberapa
komoditas yang dikelola juga harus bisa dijawab
oleh pendamping, penyuluh, peneliti, pemerintah
daerah, termasuk pelaku usaha yang peduli
kepada kelompok ini. Tantangan lainnya adalah
transisi peran pegawai pemerintah untuk lebih
melayani dan memfasilitasi masyarakat desa,
serta tetap menjaga fungsi ekologi dalam proses
perubahan penggunaan lahan di HD/HKm/HTR.

Sesuai dengan peraturan menteri kehutanan


mengenai HKm, HD, dan HTR, maka programprogram perhutanan sosial saat ini difokuskan
di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.
Di masa mendatang, program perhutanan
sosial juga dapat dikembangkan sebagai salah
satu solusi untuk mengatasi perambahan yang
berlarut-larut di dalam kawasan hutan konservasi.

Gambar II-6. Tipologi kelompok masyarakat untuk pengembangan perhutanan sosial


Sumber: Wiratno, 2015, in.prep

Tabel II-5. Analisis SWOT terhadap tipologi kelompok masyarakat perhutanan sosial
Sumber: Wiratno, 2015, in.prep

Tabel II-4. Perbandingan skema Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, dan Hutan Tanaman Rakyat.
Sumber: Wiratno, 2015, In.prep
Uraian
Filosofi

Hutan Kemasyarakatan

Pemberdayaan masyarakat

Tujuan Utama

Peningkatan kesejahteraan warga

Status legalitas dan


Perizinan

Menteri LHK: PAK HKm


Bupati: IUPHKm
Menteri LHK: IUPHHK HKm
Jangka waktu: 35 tahun

Fungsi Hutan

Hutan lindung dan hutan produksi

Kelembagaan

Kelompok masyarakat
Koperasi

Pendanaan

Swadaya
Bantuan pemerintah
Bantuan LSM

Hutan Desa

Pemberdayaan masyarakat

Peningkatan kesejahteraan desa


melalui lembaga desa

Menteri LHK: PAK HD


Gubernur: HP HD
Menteri LHK: IUPHHK HD
Jangka waktu: 35 tahun

Pemanfaatan hasil hutan


kayu hasil tanaman
Pemenuhan bahan baku
kayu industri

Menteri LHK: Pencadangan


HTR
Bupati/KPH: IUPHHK HTR
Jangka waktu: 60 tahun

Hutan lindung dan hutan


produksi

Hutan produksi

Lembaga desa, Badan Usaha


Milik Desa
Koperasi

Individu
Koperasi

Swadaya
Bantuan pemerintah
Bantuan LSM

Kuadran
Kuadran

HTR

Kredit (BLU Kehutanan)


Kerjasama Kemitraan
dengan swasta

Kapasitas Kelembagaan,

Wisata >>

kelompok, kelola teknis dan

Modal sosial ++

Kelemahan

Potensi Jasling/ HHBK &

Kondisi hutan ++

Kekuatan

keuangan <<
Infrastruktur <

Peluang

Ancaman

Kemitraan Jasling

Wisata massal >>

Wisata alam, HHBK, pe-

Eksploitasi berlebihan HHBK

nguatan kelembagaan

Dominasi Pemodal Pengijon

Pendampingan >>

>>

Dekat pasar, Akses mudah,

Modal <<, kelembagaan

Pengembangan cash crop,

Tergantung pada pemodal,

biaya transport rendah,

lemah, kemampuan teknis

standarisasi produk, orientasi

keuntungan ditentukan

potensi profit margin >> di

rendah, pembiayaan mikro

ekspor, pendampingan >>

pemodal, penjualan lahan

kelompok

lemah

koperasi

Potensial pengembangan

Ragam komoditas ditentukan

Pengembangan usaha jasa

Kebutuhan uang tunai >>,

cash crops, agroforestri,

pasar, produktivitas rendah

berbasis hutan, HHBK, wisata

perubahan gaya hidup,

jasling, wisata alam

dan beragam, standarisasi

alam, dukungan program

perubahan pola penggunaan

produk <<

SKPD & LSM >>

lahan, spekulan lahan >>

Kelembagaan <<, modal

Pemupukan modal-koperasi,

Inkonsistensi pendampingan

minim, pasar terbatas, terjebak

pendampingan kelembagaan,

pusat, UPT, LSM, SKPD, dan

sistem ijon, keuntungan >> di

produktivitas & pasar

parsial

Hutan Lindung


Pemanfaatan/
Komoditas

Jasa Lingkungan (Jasling)


Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Jasa Lingkungan (Jasling)


Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

--

Kondisi hutan >>

Hutan Produksi



Jasa Lingkungan (Jasling)


Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Hasil Hutan Kayu (HHK)
Tanaman bawah tegakan

Jasa Lingkungan (Jasling)


Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Hasil Hutan Kayu (HHK)
Tanaman bawah tegakan

Hasil Hutan Kayu (HHK)

17 JKPP: Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif; BRWA: Badan Registrasi Wiayah Adat yang dibentuk oleh AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara); KpSHK:
Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan.

Pemenuhan kebutuhan
sendiri, modal sosial >>,
kemandirian tinggi

pengumpul

Umumnya tidak menjadi


target pendampingan

35

36

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Pengembangan perhutanan sosial dalam bentuk


HD/HKm/HTR tetap diiringi dengan tanggung
jawab melakukan perlindungan, rehabilitasi,
restorasi, pengeloaan habitat, dan satwa liar
(Wiratno, 2014).

2.4.5 Tantangan sosial di dalam Bentang


alam
Tantangan sosial adalah kondisi atau persoalanpersoalan yang terkait ddengan kehidupan
penduduk di dalam KPL yang berpengaruh
terhadap
pengelolaan
KPL.
Beberapa
permasalahan dalam pemanfaatan sumberdaya
alam terdapat di seluruh bentang alam target.
Kasus-kasus konversi hutan untuk permukiman
dan pertanian, penebangan ilegal, kebakaran
lahan dan hutan (rawa gambut), konflik manusiasatwa, serta perburuan satwa yang dilindungi
merupakan hambatan utama dalam mencapai
tujuan pengelolaan bentang alam. Permasalahan
tersebut merupakan aktivitas yang dipicu oleh
berbagai faktor pendorong (driven factors)
dan pemungkin (enabling factors) sebagaimana
ilustrasi Gambar II-7.

A. Faktor pendorong (driven factors)


Faktor pendorong adalah segala kebutuhan
atau kondisi yang dialami masyarakat dalam
kehidupan sosial ekonomi dan kulturalnya
yang dapat atau berpotensi mendorong
pemanfaatan sumberdaya alam yang
memicu permasalahan sosial dan ekologis.
Dalam kajian ini, analisis terhadap data-data
sekunder, hasil wawancara mendalam, dan
FGD mengidentifikasi sedikitnya 4 faktor
pendorong yang berpengaruh terhadap
kondisi sumberdaya alam di dalam KPL, yaitu:
Perluasan area permukiman. Bertambahnya
jumlah penduduk telah meningkatkan
kebutuhan lahan untuk permukiman, dan di
wilayah yang aktivitas ekonominya makin
berkembang juga perlu area permukiman
untuk penduduk pendatang.
Kebutuhan lahan produktif. Di lokasi-lokasi
yang masyarakatnya hidup dari aktivitas
pertanian, pertambahan penduduk dapat
mendorong
terjadinya
perambahan
hutan untuk perluasan kebun/pertanian.
Misalnya di zona rehabilitasi TN Sembilang,
penduduk ex-transmigran di sekitar
kawasan telah mencetak sawah baru
karena tak ada lagi lahan cadangan untuk
kegiatan produktif, dan ketidaktahuan
batas hutan.

Kebutuhan uang secara cepat. Dorongan


untuk mendapatkan penghasilan dengan
cepat (immediate cash) dan dalam jumlah
banyak karena kemendesakan kebutuhan
atau pertimbangan praktis dan mudah,
meski dengan risiko hukum, sering
menjadi alasan para pelaku penebangan
liar atau perburuan satwa dilindungi untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dalam FGD di Palembang, perwakilan
masyarakat desa menjelaskan bahwa para
pelaku umumnya telah memiliki lahan,
sehingga perambahan dan penebangan
liar terjadi bukan karena kebutuhan lahan.
Ekspresi kultural. Faktor ini terkait dengan
nilai budaya (cultural values) yang pada
suatu lokasi atau sumberdaya. Nilai
budaya sebuah sumberdaya alam bersifat
intangible, komunal, dan meliputi fungsifungsi subsisten atau kebutuhan dasar
sehari-hari seperti air bersih, pendidikan,
seremonial, artistik dan rekreasi (Chan
et al., 2012). Pada konteks ini, ekspresi
kultural sebagai faktor pendorong terkait
praktik pemanfaatan sumberdaya alam
karena alasan menjalankan tradisi atau
adat istiadat, seperti ritual tertentu yang
menggunakan spesies flora dan fauna
atau lokasi tertentu yang dalam perspektif
konservasi dianggap sebagai persoalan.
Misalnya,
tradisi
berpindah
ketika
terjadi peristiwa kematian pada kerabat
(melangun) pada komunitas adat Suku
Anak Dalam di Jambi yang berpengaruh
pada pola pemanfaatan ruang (hutan).

B. Faktor pemungkin (enabling factors)


Faktor pemungkin adalah kondisi atau
situasi tertentu yang memberi peluang atau
mendukung terjadinya praktik pemanfaatan
sumberdaya alam untuk memenuhi satu atau
beberapa faktor pendorong. Pengumpulan
data sekunder dan hasil FGD berhasil
mengidentifikasi beberapa faktor pemungkin,
yaitu:
Penegakan hukum tidak efektif. Beberapa
kasus penebangan liar, perdagangan
satwa atau perusakan hutan berhasil
ditangani oleh aparat penegak hukum.
Akan tetapi, proses hukum seringkali tidak
menimbulkan efek jera sehingga terjadi
pengulangan, misalnya: proses hukum
terhenti karena berbagai hal atau hukuman
yang sangat ringan.

Gambar II-7. Skema relasi aspek sosial ekonomi masyarakat dan problem SDA di dalam bentang alam
Sumber: Hasil analisis dari berbagai informasi data sekunder, wawancara mendalam, dan peserta FGD sepanjang pengumpulan
data lapangan 2015

Kontrol sosial yang lemah. Kontrol sosial


adalah mekanisme di mana masyarakat
melakukan penegakan norma atau aturan
dalam kelompok mereka, termasuk dalam
pemanfaatan sumberdaya alam. Kontrol
sosial yang lemah terjadi karena sikap
permisif masyarakat, perubahan orientasi
nilai tentang perilaku tertentu, serta
ketidakmampuan kelompok masyarakat
dalam menghadapi kekuasaan yang lebih
kuat. Kontrol sosial sejatinya memang
membutuhkan kekuasaan (power) untuk
menjamin norma atau aturan dijalankan
(Orford, 1992). Di beberapa lokasi, aturan
dan norma adat masyarakat setempat
masih dapat ditegakkan terhadap sesama
mereka tetapi sulit dilakukan kepada
pelaku penebangan liar atau perambahan

secara masif oleh orang luar atau mereka


yang memiliki kekuatan hukum dan politik
yang lebih kuat.
Praktik
dan
pengetahuan
lokal
mendukung kerusakan lingkungan. Faktor
ini juga memungkinkan terjadinya aktivitasaktivitas pemanfaatan sumberdaya alam
yang merusak ekosistem, misalnya
pembakaran lahan untuk perladangan/
perkebunan. Apa yang dianggap sebagai
kebiasaan oleh petani, misalnya di bentang
alam Kubu atau Padang Sugihan, dalam
praktik pembukaan lahan tentu telah
menjadi sistem pengetahuan lokal dan pola
praktik yang secara konsisten diterapkan.

37

38

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel II-6. Perspektif sosial ekonomi terhadap tantangan dan peluang konservasi bentang alam

NO

HAMBATAN

TANTANGAN

PELUANG

1.

Perburuan dan perdagangan


satwa liar yang dilindungi

Ada jaringan pasar dalam perdagangan


satwa
Pengetahuan penduduk tentang satwa
dan teknik penangkapan
Kurangnya pemahaman masyarakat
tentang nilai penting satwa bagi
ekosistem
Keterlibatan oknum penegak hukum
dalam perdagangan satwa
Kurangnya kontrol sosial pada
masyarakat terhadap pelaku yang
terlibat dalam perburuan dan
perdagangan satwa dilindungi

Pemantauan proses penegakan hukum yang


semakin terbuka
Mengoptimalkan peran komunitas/ Organisasi
konservasi dalam penegakan hukum dan
kebijakan
Kampanye dan pendidikan konservasi dengan
fokus tentang nilai penting satwa dilindungi
dan peraturan terkait
Membangun mekanisme pelaporan dengan
melibatkan masyarakat lokal dengan
memanfaatkan teknologi komunikasi dan
media sosial
Mengintegrasikan aspek pelestarian satwa
dilindungi dalam peraturan desa/ desa adat

Pembakaran lahan untuk


aktivitas pertanian/ perkebunan

Pertimbangan praktis dalam


pengolahan lahan
Tidak ada teknologi/ teknik pembukaan
lahan alternatif yang dianggap praktis
dan efisien namun tidak berisiko
terhadap kebakaran lahan dan hutan

Membangun sistem pemantauan kebakaran


lahan melalui kelompok masyarakat, terutama
saat musim tanam
Pengembangan riset teknolgi pertanian untuk
mengurangi kebakaran lahan akibat aktivitas
pertanian

Perambahan dan konversi


kawasan hutan

Kebutuhan lahan untuk pemukiman,


pertanian, perkebunan
Tradisi berpindah sekelompok
masyarakat untuk berladang/ bermukim
Klaim masyarakat terhadap lahan/
kawasan hutan
Tata batas wilayah tidak jelas

Pengembangan teknologi pertanian dan


perkebunan secara intensif
Penataan batas dan sosialisasi tata batas
dengan melibatkan pihak pemerintah dan
masyarakat
Melakukan komunikasi melalui berbagai
media kepada masyarakat di dalam dan
sekitar kawasan hutan

2.

3.

4.

Penebangan liar

Kebutuhan uang tunai secara cepat


Kurangnya kontrol sosial pada
masyarakat terhadap pelaku
penebangan liar
Keterlibatan oknum penegak hukum
Sanksi hukum tidak membuat efek jera
pelaku
Akses terhadap lokasi penebangan
dan pemasaran hasil penebangan liar
Tidak ada sumber ekonomi alternatif
yang mampu menopang kebutuhan
dasar masyarakat
Permintaan kayu meningkat dan
perdagangan kayu ilegal yang
sistematis

Pengembangan ekonomi alternatif,


terutama di desa yang penduduknya terlibat
penebangan ilegal
Mengembangkan peraturan desa/ aturan adat
yang mengontrol aktivitas penebangan ilegal
Mendorong pembentukan HD, HKm atau HTR
Membangun mekanisme deteksi dini dan
pelaporan yang melibatkan masyarakat
Membangun kolaborasi antarpihak yang
memantau aktivitas penebangan ilegal dan
proses hukumnya
Mendorong sistem sertifikasi kayu untuk
menekan peredaran kayu ilegal

Minim/tidak ada teknologi alternatif.


Faktor ini memungkinkan terjadinya
pembakaran lahan karena tidak adanya
teknologi penyiapan lahan pertanian/
perladangan yang dianggap efektif dan
efisien oleh masyarakat. Ketiadaan itu
dianggap masyarakat sebagai kondisi
tanpa pilihan sehingga mereka tetap
menerapkan kebiasaan teknik tebas bakar,
misalnya praktik sonor oleh para petani di
bentang alam Padang Sugihan dan petani
di bentang alam Kubu terhadap lahan rawa
gambut.
Jaringan dan sistem pasar mendukung.
Faktor ini meliputi hukum permintaan dan
persediaan dalam ekonomi. Misalnya,
praktik penebangan liar dan perdagangan
satwa dapat terus berlangsung karena
adanya permintaan akan komoditas yang
dihasilkan, seperti sawit/kopi. Tak hanya itu,
nilai tukar yang ditawarkan pasar terhadap
komoditas tersebut juga dianggap tinggi
atau cukup untuk memenuhi kebutuhan
pelaku. Rantai perdagangan kayu ilegal
atau satwa liarmerupakan jaringan yang
juga dipertahankan sebagai sebuah
sistem pasar di tingkat lokal, nasional, dan
internasional.
Tata batas dianggap tak jelas. Kebanyakan
kasus konflik tenurial dipicu oleh tumpang
tindih klaim oleh dua atau lebih pihak
terhadap teritori yang sama. Hal ini tak hanya
terjadi antarkelompok dalam masyarakat
atau masyarakat dengan perusahaan, tapi
termasuk antarperusahaan pemegang
konsesi.
Pada
konteks
kerusakan
ekosistem hutan atau sumberdaya alam
akibat perambahan atau perluasan lahan
pertanian dan permukiman, persoalan tata
batas yang tak jelas juga menjadi faktor
pemungkin. Kebutuhan lahan yang terus
meningkat bisa mendorong terjadinya
perambahan
manakala
penegakan
hukum serta tata batas tidak jelas di mata
masyarakat atau pelaku.
Alokasi ruang dan akses SDA tidak
memadai. Pada beberapa kabupaten,
dengan laju pertumbuhan penduduk
tinggi, menghadapi kekurangan lahan
untuk pengembangan aktivitas penduduk
dan pembangunan daerah. Kondisi ini
mungkin tidak merata muncul manakala
wilayah hutan atau sumberdaya alam
potensial telah dialokasikan sebagai
kawasan perlindungan atau untuk konsesi

bagi perusahaan perkebunan, kehutanan


atau pertambangan. Saat tata ruang
daerah tidak mampu menyerap kebutuhan
lahan penduduk, pada akhirnya kondisi
tersebut memungkinkan perambahan dan
konversi hutan terjadi. Di tingkat kebijakan,
kebutuhan pemerintah daerah untuk
memperluas area bagi pembangunan
berujung pada pelepasan kawasan hutan
menjadi Area Penggunaan Lain (APL).
Kasus seperti ini telah terjadi pada bentang
alam Kutai di mana Menteri Kehutanan
akhirnya menyetujui pelepasan kawasan
hutan TN Kutai seluas kurang lebih 7.000
hektar untuk dimasukkan dalam tata ruang
kabupaten sebagai APL.
Faktor-faktor pendorong dan pemungkin
dapat terjadi di semua KPL, namun dengan
intensitas dan kompleksitas yang beragam
tergantung kondisi spesifik di tiap lokasi,
misalnya: respon pemerintah daerah dalam
menghadapi masalah tersebut, peran
dan partisipasi stakeholder, karakteristik
sosial ekonomi penduduk, serta tipe
ekosistem di satu lokasi. Secara umum,
faktor-faktor tersebut merupakan bentukbentuk tantangan sosial ekonomi terkait
dengan masyarakat yang perlu ditangani
dalam mengelola bentang alam di masa
mendatang, sebagaimana Tabel II-6.

2.4.6 Konflik Manusia-Satwa Liar


Konflik antara manusia dan satwa liar (KMS)
merupakan hubungan negatif yang bersifat
timbal balik. Penyebab utamanya adalah
adanya kompetisi antara satwa dan manusia
terhadap penggunaan sumberdaya. Berkurang
atau hilangnya habitat satwa akibat perubahan
penggunaan lahan oleh manusia mengakibatkan
perubahan perilaku dan jelajah satwa liar untuk
mencari sumber pakan. Sedangkan dari sudut
pandang antropogenik, satwa liar merupakan
hama yang merusak tanaman, memakan ternak
dan kadang korban jiwa manusia. Ketika satwa
harus keluar dari habitatnya untuk mencari
sumber pakan, dan manusia meningkatkan
aktivitasnya di dalam hutan serta melakukan
aktivitas
perburuan,
pembalakan,
dan
pembakaran hutan/lahan, maka probabilitas
frekuensi dan kuantitas KMS akan bertambah.

39

40

BAB DUA

Pemerintah telah memberikan pedoman


penanggulangan KMS melalui Permenhut No.48
tahun 2008, yang mendefinisikan Konflik Manusia
dan Satwa liar adalah segala interaksi antara
manusia dan satwa liar yang mengakibatkan
efek negatif kepada kehidupan sosial manusia,
ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi
satwa liar dan atau pada lingkungannya. Upaya
Penanggulangan KMS diartikan sebagai proses
dan upaya untuk mengatasi atau mengurangi
KMS dengan mengedepankan kepentingan
dan keselamatan manusia tanpa mengorbankan
kepentingan dan keselamatan satwa liar.
Beberapa prinsip yang ditekankan dalam
penanggulangan KMS antara lain bahwa manusia
dan satwa sama pentingnya, KMS merupakan
tanggung jawab multipihak, penanggulangan
disesuaikan dengan lokasi KMS,
solusinya
harus komprehensif yang diterapkan pada skala
bentang alam. Permenhut ini juga mengatur
mengenai kelembagaan penanggulangan KMS
yang melibatkan BKSDA selaku unit pengelola
spesies di tingkat tapak, perusahaan dan
masyarakat yang bekerja/hidup di dalam dan
sekitar hutan, pemerintah pusat/daerah selaku
regulator, dan lembaga-lembaga konservasi
satwa. Adanya pembunuhan terhadap satwa liar
dan korban manusia seharusnya dapat dihindari
dengan membuat suatu sistem pengelolaan
bentang alam yang berkelanjutan dan baik untuk
semua pihak.
Satwa yang sering dikaitkan dengan kasus-kasus
KMS adalah harimau sumatera, macan dahan,
gajah sumatera, dan orangutan. Pada sejumlah
kasus, KMS juga melibatkan buaya, monyet ekor
panjang, babi hutan, dan beruang. Berdasarkan
penelusuran literatur dan wawancara, catatan
kasus KMS di bentang alam target tidak terlalu
menonjol dan masih dapat ditanggulangi
dengan baik. Namun upaya mitigasi penanganan
satwa liar tetap harus dilakukan di tingkat
bentang alam, mulai dari pencegahan, hingga
penanganan pasca konflik karena korban KMS
adalah satwa dan manusia ( jiwa dan/atau harta
benda). Pencegahan itu mencakup upaya
proteksi, restorasi, dan pembinaan habitat yang
ada termasuk pengayaan sumberpakan dan
pengembangan corridor/barrier satwa.
Di beberapa daerah telah dibentuk unit khusus
yang merespons ketika terjadi konflik manusiasatwa, seperti Conservation Respond Unit,

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Elephant Flying Squad yang telah menguasai


teknik-teknik pencegahan dan penanggulangan
KMS. Pelaksanaan mitigasi KMS juga perlu
diimbangi dengan usaha untuk mengatasi/
mengendalikan driven factors. Evaluasi mitigasi
KMS perlu dilakukan untuk mengukur kemampuan
mengatasi faktor-faktor penyebab konflik, bukan
sekedar menghalau atau menggiring. Diperlukan
pula upaya untuk membangun kelompokkelompok masyarakat untuk bertindak preventif,
adaptif, antisipatif, dan responsif terhadap satwa
liar. Perencanaan yang jelas dan diketahui semu
pihak akan menciptakan pola dukungan yang
merata. Pembagian tim kerja bersama dan pola
pemantauan akan dapat ditangani dengan baik
dengan menggunakan metode yang standar
dan mudah dilaksnakan. Dukungan pendanaan
pastinya akan tercipta bila kerjasama muti pihak
sudah terwujud.

2.4.7 Komunitas Masyarakat Hukum Adat


Salah satu faktor yang tak dapat diabaikan
dalam penyusunan Rencana Induk ini adalah
keberadaan Masyarakat (Hukum) Adat (MA/MHA)
setempat. Problem-problem terkait kepentingan
MA/MHA terjadi di setiap bentang alam dan
umumnya bersinggungan dengan masalah
tenurial atau konflik agraria. Persoalan muncul
ketika satu kelompok orang yang menyatakan diri
sebagai komunitas MA menggugat penguasaan
lahan milik mereka oleh pihak lain, terutama
perusahaan. Pihak perusahaan menganggap
konsesi yang mereka terima dari pemerintah
adalah sah, sedangkan komunitas MA mengklaim
lahan yang masuk dalam konsesi perusahaan
adalah tanah ulayat yang telah menjadi sumber
kehidupan mereka secara turun-temurun.
Beberapa konflik dianggap selesai melalui
negosiasi yang berujung pada ganti rugi lahan,
namun ada beberapa kasus lainnya berlanjut ke
pengadilan. Tidak sedikit kasus yang berujung
aksi kekerasan oleh salah satu atau kedua belah
pihak hingga menimbulkan kerusakan fisik dan
korban jiwa. Kondisi di atas merupakan bagian
dari tantangan dalam pengelolaan bentang alam.

A. Tantangan
Identifikasi terhadap persoalan-persoalan
yang melibatkan isu komunitas MA/MHA
menunjukkan adanya beberapa tantangan
dalam pengelolaan 10 bentang alam.

Kawanan kupu-kupu yang umum ditemukan di pinggiran hutan Sumatera, 1992. (Foto: Dolly Priatna)

1. Kepastian legalitas keberadaan komunitas


MA/MHA.
Regulasi di tingkat nasional dan daerah pada
dasarnya telah berupaya mengakomodir
keberadaan komunitas MA/MHA di
Indonesia, tetapi adanya frasa sepanjang
masih ada serta tidak bertentangan
dengan kepentingan nasional menyisakan
celah multitafsir.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
35/PUU-X/2012 menganulir beberapa
pasal dari UU No.41 tahun 1999 tentang
Kehutanan, yang pada intinya sebagai
berikut:
a) Pasal 1 angka 6, berubah menjadi
Hutan adat adalah hutan yang berada
dalam wilayah masyarakat hukum adat.
Hal ini mengakibatkan hutan adat tidak
lagi berstatus hutan negara.
b) Pasal 4 ayat 3 Penguasaan hutan
oleh Negara tetap memperhatikan hak
masyarakat hukum adat, sepanjang
kenyataannya masih ada dan diakui
keberadaannya, serta tidak bertentangan
dengan
kepentingan
nasional

bertentangan dengan konstitusi secara


bersyarat (conditionally unconstitutional)
sehingga menurut MK, Pasal 4 ayat 3
harus dimaknai Penguasaan hutan
oleh negara tetap memperhatikan
hak masyarakat hukum adat, sepanjang
masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip
Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang diatur dalam undang-undang.
Pemaknaan tersebut menghilangkan
frasa diakui keberadaannya namun
tetap
menekankan
bahwa
MHA
tersebut memang masih ada. Dengan
demikian, ketiadaan pengakuan tidak
menghilangkan hak dan status MHA atas
wilayah adatnya.
c) Pasal 5 ayat 3, berubah menjadi
Pemerintah menetapkan status hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
dan hutan adat ditetapkan sepanjang
menurut kenyataannya masyarakat
hukum adat yang bersangkutan masih
ada dan diakui keberadaannya. Putusan
MK tidak mengubah frasa diakui
keberadaannya sebagaimana pasal

41

42

BAB DUA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

4 ayat 3, sehingga tetap mewajibkan


adanya penetapan pemerintah terhadap
hutan adat dan pengakuan atas
keberadaan MHA.

2) Wilayah. Suatu areal yang diklaim secara


adat untuk mendukung kehidupannya,
menggunakan
batas
alam
atau
tanaman yang diakui seluruh anggota
masyarakatnya sebagai wilayah adatnya.
3) Pranata Sosial atau Adat. Pranata terkait
dalam hubungan sosial kemasyarakatan
dan pengelolaan sumberdaya lahan/
hutannya, yang mengatur dengan
jelas apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan oleh anggota masyarakat
tersebut, pengaturan pengambilan hasil
hutan, tata cara membuka ladang, panen
madu hutan, pemanfaatan kayu untuk
kepentingan pribadi, kelompok, sosial,
dan sebagainya.

Dengan memperhatikan Putusan MK


tersebut, maka keberadaan MHA
juga perlu diidentifikasi lebih dalam
untuk mengenal karakter, tipologi,
dan
eksistensinya
sebagai
MHA
dalam pengelolaan bentang alam.
Untuk itu Pemerintah Daerah perlu
membentuk tim kajian yang melibatkan
tokoh adat, ahli hukum adat, pakar
sosial-antropologi, dan wakil pemerintah.
Dengan pemahaman tersebut, maka
dapat dikembangkan bentuk hubungan
yang saling menguntungkan bagi para
pihak untuk mengurangi konflik-konflik
sosial selanjutnya. Hal ini juga diperlukan
oleh komunitas MHA agar tidak ada
oknum yang menunggangi isu ini untuk
kepentingan pribadi atau golongan yang
merugikan komunitas MHA.
2. Pemahaman yang berbeda
konsep komunitas MA/MHA.

Selanjutnya dinyatakan bahwa pengukuhan


dan penghapusan masyarakat hukum adat
ditetapkan dengan Peraturan Daerah,
setelah mendapatkan pertimbangan dari
hasil penelitian para pakar hukum adat,
aspirasi masyarakat setempat, tokoh
masyarakat adat, dan pihak lain/instansi
yang terkait. Ketentuan yang sama juga
berlaku terhadap tanah ulayat yang berada
di kawasan non-hutan (APL) sebagaimana
diatur di dalam Peraturan Menteri Agraria/
Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5
tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.

tentang

Sebagian pihak menilai bahwa definisi


dan konsep teoritis tentang komunitas
MA tidak penting untuk diperdebatkan.
Masalahnya sejauh sebuah definisi masuk
dalam konstruksi produk hukum, maka
akan berimplikasi terhadap penggunaan
kekuasaan, apalagi ketika perspektif
legal formal menjadi satu-satunya acuan
dalam penyelesaian masalah. Sementara
itu,
keberadaan
komunitas
yang
mengidentifikasi diri sebagai komunitas
MA/MHA cenderung mengacu pada
sejarah, nilai kultural, dan ikatan sosial
ekonomi mereka dengan wilayah tertentu
yang bersifat spesifik dan harus dipahami
secara antropologis.
Berdasarkan Penjelasan Pasal 67 ayat
(1) dan ayat (2) UU No.41/1999 dapat
disimpulkan bahwa Masyarakat Hukum
Adat (MHA) dicirikan dengan 3 hal pokok,
yaitu :
1) Masyarakat itu sendiri masih ada, sebagai
satu kesatuan asal usul, hubungan darah,
kekerabatan, atau kesatuan bahasa;

3. Perubahan alam dan sosial budaya

(Cymbidium sp.) Salah satu jenis anggrek hutan di dataran tinggi


Sumatera, 2004. (Foto: Dolly Priatna)

Perspektif ekologi manusia meyakini adanya


hubungan dua arah antara kebudayaan
dan lingkungan sebagai sebuah ekosistem.
Kebudayaan terbentuk sebagai hasil
proses adaptif manusia dengan lingkungan,
sedangkan kondisi lingkungan sangat
dipengaruhi oleh nilai budaya masyarakat
di dalamnya. Perubahan pada kebudayaan
akan mendorong perubahan lingkungan
alami dan sebaliknya. Di dalam bentang
alam, hampir seluruh aktivitas ekonomi
penduduknya sangat bergantung pada
kondisi sumberdaya alam untuk berburu,
meramu, perladangan lahan kering dan
berpindah, pertanian intensif, peternakan,
dan perkebunan komoditas-komoditas
yang dibutuhkan industri. Perubahan sosial
ekonomi masyarakat setempat jelas sangat
terasa, dan pengendalian arah perubahan
yang
berdampak
negatif
terhadap
masyarakat dan lingkungan makin sulit
dilakukan.

4. Kesejahteraan
Tanggal 13 Maret 2015 lalu, harian
Rakyat Merdeka memberitakan 11 orang
Suku Anak Dalam (SAD) dari kelompok
Tumenggung Maritua di Jambi meninggal
saat melakukan adat melangun di sekitar
kawasan TN Bukit Duabelas18. Melangun
adalah tradisi pindah secara berkelompok
ke lokasi permukiman baru setelah
ada kerabatnya yang meninggal dunia.
Dalam berita itu, Menteri Sosial RI
menyatakan bahwa mereka meninggal
karena kelaparan akibat tak dapat
beradaptasi dengan kondisi alam di
lokasi baru yang telah menjadi area
konsesi perusahaan HTI. Walaupun
ukuran kesejahteraan tidak bersifat
tetap, kebutuhan seseorang untuk
hidup aman, tercukupi secara lahiriah,
terdidik, serta dapat mengekspresikan
nilai budaya mereka adalah hak-hak
yang harus dilindungi. Isu tentang
kesejahteraan masyarakat adat masih
menjadi tantangan, terutama terkait
akses terhadap sumberdaya alam untuk
pemenuhan kebutuhan ekonomi, ruang
mengekspresikan nilai budaya, dan
pembentuk identitas sosial mereka.
Pada beberapa komunitas MA/MHA
nilai-nilai kultural dan praktik-praktik
pemanfaatan SDA di daratan dan perairan,
mampu
mempertahankan
ekosistem
yang ada. Hal ini biasanya terjadi pada
komunitas-komunitas
yang
secara
geografis tinggal di pedalaman, memiliki
intensitas hubungan dengan sistem pasar
sangat minimal, penggunaan teknologi
produktif secara tradisional, kolektivitas
dalam pemenuhan kebutuhan hidup,
sistem kepemimpinan dan penegakan
aturan adat, serta menganut nilai bahwa
manusia dan alam sebagai bagian dari
kosmologi di dalam sistem kepercayaan
mereka.
Kebanyakan
dari
mereka
beradaptasi dengan memburu meramu
(foraging), perladangan (holticulture) lahan
kering dan berpindah atau kombinasi
keduanya.
Sepanjang waktu, komunitas-komunitas
MA/MHA tersebut harus bersinggungan
dengan sistem sosial ekonomi dan
politik yang lebih besar dan kuat, yang

18 11 warga Suku Anak Dalam meninggal saat menjalankan tradisi melangun. Jumat 13 Maret 2015. http://nusantara.rmol.co (akses 19 Mei 2015)

43

44

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

mempengaruhi
kehidupan
mereka.
Kebijakan tata ruang, investasi di sektor
pemanfaatan sumberdaya alam berbasis
ekonomi industri, pertambahan penduduk
yang berbeda secara kultural dengan
mereka, perkembangan teknologi dan
komunikasi, dinamika politik lokal dan
nasional, serta orientasi pendidikan
nasional adalah bagian dari sistem yang
harus dihadapi. Sistem-sistem tersebut
secara langsung mempengaruhi perubahan
kultural komunitas MA/MHA, atau melalui
perubahan lingkungan dan ekosistem
yang telah menjadi bagian dari kehidupan
mereka.

B. Peluang
Perbedaan pemahaman dan perdebatan
mengenai pengakuan atas hak-hak MA/
MHA masih berlanjut, namun dalam
perkembangannya,
wacana
mengenai
MA/MHA makin diterima di dalam sistem
politik dan hukum negara, terutama setelah
penerapan otonomi daerah. Ketika Presiden
Jokowi memasukkan visi pengakuan atas
hak-hak MA/MHA ke dalam Nawacita, hal
ini dapat dianggap sebagai fenomena politik
nasional yang belum pernah ada. Salah
satunya adalah mendorong pengesahan RUU
tentang Pengakuan dan Perlindungan Hakhak Masyarakat Adat (PPHMA) yang hingga
kini belum diterbitkan. Beberapa regulasi
telah membuka peluang lebih besar kepada
komunitas MA/MHA untuk memperoleh hakhak dasar mereka, misalnya UU No. 6 tahun
2014 yang memungkinkan pembentukan
Desa Adat; Surat Edaran Kepala Badan
Pertanahan Nasional No. 3/SE/IV/2014
tentang Penetapan Eksistensi Masyarakat
Hukum Adat dan Tanah Ulayat.
Beberapa daerah telah melakukan terobosan
hukum untuk mengakui eksistensi MA/
MHA dan wilayah adatnya dalam bentuk
Keputusan Bupati, Peraturan Bupati, dan
Peraturan Daerah. Misalnya, Surat Keputusan
Bupati Halmahera Utara No.189/133/HU/2015
tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA
Hibualamo sebagai Kesatuan Masyarakat

Hukum Adat19, yang mencakup wilayah


hukum adat, kewenangan lembaga adat
untuk menjalin hubungan dengan pihakpihak lain dan cara penyelesaian sengketa
yang berdasarkan hukum adat.
Contoh lainnya adalah Surat Keputusan Bupati
Bungo No.1249/2002 tentang Pengukuhan
Hutan Adat Desa Batu Kerbau; Peraturan Bupati
Jayapura No. 319/2014 tentang Pengakuan
dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat;
Perda Kabupaten Malinau No.10/2012 tentang
Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat
Adat, dan Perda Kabupaten Kerinci No. 24/2012
tentang Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kerinci
yang memuat keberadaan hutan adat20.
Contoh-contoh tersebut atas menunjukkan
adanya peluang mengintegrasikan keberadaan
MA/MHA ke dalam kebijakan daerah.
Terdapat pula komunitas MA/MHA yang
masih memandang kelestarian hutan sebagai
nilai budaya mereka, lalu mengembangkan
inisiatif perlindungan secara mandiri.
Beberapa tokohnya bahkan mendapatkan
penghargaan nasional dan lokal. Misalnya
komunitas adat Suku Rimba pimpinan
Tumenggung Tarip (Kab. Sarolangun,
Jambi) mendapatkan Kehati Award tahun
2000 dan Kalpataru tahun 2006. Mereka
berhasil menjalankan sistem perladangan
hompongan yang menjadi penghalang
aktivitas penebangan liar oleh orang luar
di TN Bukit Duabelas2122. Di Riau, terdapat
komunitas adat Buluh Cina yang didukung
pemerintah provinsi untuk mengelola hutan
ulayat mereka sebagai kawasan wisata yang
secara langsung mendukung pelestarian
Cagar Biosfer GSKBB23. Inisiatif-insiatif seperti
ini menjadi penting sebagai role model
pengembangan peran komunitas MA/MHA
dalam pengelolaan bentang alam ke depan.
Peluang lainnya
adalah keberadaan
lembaga-lembaga
yang
selama
ini
intensif melakukan pendampingan dan
pemberdayaan komunitas MA/MHA secara
damai di dalam dan sekitar bentang alam.
Misalnya LSM Warsi di Riau yang telah intensif

19 http://gaung.aman.or.id/2015/05/22/bupati-halmahera-utara-terbitkan-surat-keputusan-pengakuan-perlindungan-masyarakat-hukum-adat-hibualamo/ (diakses 28
Maret 2015)
20 http://huma.or.id/wp-content/uploads/2015/04/Rumusan-Hasil-Dialog-Nasional-Lombok.pdf (diakses 17 April 2015)
21 http://warsi.or.id/news/2006/News_200606_Kalpataru.php?year=2006&file=News_200606_Kalpataru.php&id=49 (diakses 17 April 2015)
22 http://www.thejakartapost.com/news/2006/06/21/039temenggung039-tarib-kubu-environmental-campaigner.html (diakses 17 April 2015).
23 Wisata Alam Buluh Cina. http://gskbb.blogspot.com/2011/08/taman-wisata-alam-desa-buluh-cina.html (diakses 28 Maret 2015)

mendampingi beberapa komunitas orang


Rimba di Jambi, FFI-Indonesia yang telah
mendampingi komunitas adat Manjau dalam
pengembangan Hutan Desa Laman Satong,
Kabupaten Ketapang. Pengalaman dan
kapasitas lembaga-lembaga tersebut dapat
diintegrasikan dalam proses penanganan
persoalan-persoalan
yang
dihadapi
komunitas MA/MHA.
Kementerian
LHK
melalui
kebijakan
perhutanan sosial, juga memberikan peluang
pengelolaan hutan melalui skema Hutan Desa,
Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman
Rakyat, Hutan Adat, dan Kemitraan dengan
perusahaan. Bahkan Kementerian LHK juga
akan mengalokasikan sejumlah kawasan
hutan diubah statusnya menjadi hutan adat,
membantu penyelesaian konflik tenurial, dan
membina pengelolaan hutan adat agar sesuai
dengan kebutuhan masyarakat dengan
meminimalisir dampaknya pada lingkungan.
Skema regulasi yang merupakan peluang
untuk menyelesaikan konflik tenurial MA/
MHA antara lain Permenhut Nomor P.56
Tahun 2006 tentang Pedoman Zonasi Taman
Nasional, yang memungkinkan adanya Zona
Pemanfaatan
Tradisional/Zona
Khusus
jika di dalam taman nasional terdapat MHA
atau masyarakat yang sudah tinggal dalam
jangka waktu yang lama. Mereka dapat
terus mengelola lahan dan memanfaatkan
hasil hutan kayu (HHK) dan bukan kayu
(HHBK) secara terbatas untuk kehidupannya
tanpa mengubah status kawasan. Terhadap
tanah ulayat yang berada di APL, dapat
menggunakan Peraturan Menteri Agraria/
Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5
tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.
Skema regulasi yang terbaru untuk
menyelesaikan
konflik-konflik
tenurial
adalah Peraturan Bersama Menteri Dalam
Negeri (79/2014), Menteri Kehutanan (PB.3/
Menhut-II/2014), Menteri Pekerjaan Umum
(17/PRT/M/2014)
dan
Kepala
Badan
Pertanahan
Nasional
(8/SKB/X/2014)

tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan


Tanah yang Berada di dalam Kawasan Hutan.
Perturan Bersama ini mengamanatkan Gubernur
membentuk Tim Inventarisasi Penguasaan,
Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan
Tanah (Tim IP4T) untuk penyelesaian hak
ulayat dan penguasaan tanah di wilayah lintas
kabupaten/kota. Sedangkan penyelesaian
hak ulayat dan penguasaan tanah di suatu
kabupaten/kota, maka Bupati/ Walikota yang
akan membentuk Tim IP4T.
Di dalam peraturan bersama ini, Hak
Ulayat didefinisikan sebagai kewenangan
yang menurut hukum adat dipunyai oleh
masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah
tertentu yang merupakan lingkungan para
warganya untuk mengambil manfaat dari
sumberdaya alam, termasuk tanah, dalam
wilayah tersebut, bagi kelangsungan
hidup dan kehidupannya, yang timbul dari
hubungan secara lahiriyah dan batiniah
turun temurun dan tidak terputus antara
masyarakat hukum adat tersebut dengan
wilayah yang bersangkutan. Selanjutnya
peraturan ini mengatur tata cara dan tahapan
untuk penyelesian tanah yang berada di
dalam kawasan hutan.

45

46

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

BAB TIGA

Sinar matahari pagi di sebuah kawasan hutan primer dataran


tinggi Sumatera. Desember, 2009. (Foto: Dolly Priatna)

47

48

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PROFIL BENTANG ALAM


Uraian tentang kondisi di bentang alam target dalam bab ini dibagi dalam dua subbab, yaitu sub-bab tentang kondisi umum dan sub-bab tentang khusus dari bentang
alam. Di bagian tentang kondisi umum, diuraikan secara umum mengenai kondisi
masing-masing bentang alam. Informasi yang bersifat lintas-bentang alam atau lintas
kabupaten/provinsi juga disampaikan falam bagian ini, karena ada beberapa bentang
alam yang terletak di lebih dari satu kabupaten/provinsi. Pada bagian tentang kondisi
khusus disampaikan informasi yang lebih spesifik dari masing-masing bentang alam,
termasuk peta indikatif dan status kawasan di dalam bentang alam.
3.1

KONDISI UMUM BENTANG ALAM

3.1.1 Peta Indikatif Bentang Alam


Batas bentang alam diperlukan untuk melokalisir
ruang aktivitas, ruang kelola, dan ruang
negosiasi dalam pengelolaan bentang alam.
Forman & Godron (1986) menyatakan batasan
bentang alam dapat terbentuk dari: proses
geomorfologi yang terjadi dalam waktu lama;
pola kolonisasi makhluk hidup; dan gangguan
lokal pada suatu ekosistem dalam waktu yang
singkat. Mengacu pada Management Guidelines
for IUCN Category V Protected Areas: Protected
Landscapes/Seascapes (Phillips, 2002), maka

dikembangkanlah kriteria batas bentang alam sebagai


berikut:
Batas indikatif bentang alam perlu disepakati oleh para
pihak sebagai bagian upaya perubahan mindset para
pihak dari single to multiscale management (Lihat Liu &
Taylor, 2002). Namun batas-batas yang telah disepakati
itu tidak memerlukan pal/tanda batas sebagai sebuah
kawasan yang permanen karena karakter bentang
alam yang selalu berubah dan fleksibel. Masyarakat
dimasukkan ke dalam bentang alam karena mereka
adalah stewards of the landscape terhadap faktor
antropogenik negatif, dan memposisikannya sebagai
the heart of management (Phillips, 2002).

Tabel III-1. Karakteristik batas bentang alam untuk pengembangan sepuluh bentang alam
Tujuan dan target

Sungai yang membelah hutan rawa gambut primer di Bentang Alam Kerumutan, Riau, Februari 2011. (Foto: Rolf M Jensen)

Mendukung tujuan dan fokus utama bentang alam.

Skala

Berada di 1-2 kabupaten atau lintas provinsi, terdapat satu atau lebih unit KSA/KPA, lebih dari 1 area
konsesi/unit KPH, dan berbagai tujuan pengunaan (permukiman, pertanian, pertambangan, dan lain-lain).

Status legal

Batas bentang alam bersifat konsensus, tidak bertujuan untuk ditata batas (namun di dalamnya terdapat
batas fungsi hutan yang bersifat legal)

Keutuhan bentang alam

Memperbesar peluang -zona konservasi- yang mengarah ke bentuk geometrik yang ideal dan
meningkatkan konektivitas.

Keterlibatan para pihak

Memperbesar keterlibatan para pihak agar peluang kolaborasi makin terbuka.

Sosial ekonomi budaya

Mengenali aktivitas masyarakat sekitar sebagai faktor antropogenik yang memberikan pengaruh positif
atau negatif terhadap bentang alam.

Pengetahuan umum letak batas

Mudah dikenali, orientasi posisi, dan memperjelas area aktivitas yang mencakup antara lain batas
administrasi, sungai, jalan, dan batas pantai sebagai penanda batas bentang alam.

Dinamis

Batas bentang alam adalah konsensus yang dibangun dan disepakati para pihak yang bersifat dinamis
dan dapat disempurnakan.

Peta
indikatif
dikembangkan
dengan
memperhatikan hal-hal tersebut di atas dan
tujuan utama dari setiap bentang alam. Batasan
bentang alam yang digunakan mencakup batas
alam, batas buatan manusia, batas administrasi,
dan batas kawasan hutan. Peta indikatif batas di
setiap bentang alam, sebagaimana ditampilkan
pada SubBab 3.2. dari dokumen ini, terbuka
untuk didiskusikan dan diperbaiki sebelum
disepakati oleh para pihak yang berkepentingan
di dalam bentang alam.

3.1.2 Kawasan Konservasi dan Konservasi


Spesies
Bentang alam yang menjadi target dalam
dokumen ini terletak di lima provinsi dengan
luas total 10.145.187,85 hektar, termasuk empat
taman nasional, sembilan suaka margasatwa,
tiga cagar alam, dan tiga tahura (taman hutan
raya). Luas total seluruh kawasan konservasi
di dalam bentang alam adalah 1.156.003
hektar. Terdapat satu bentang alam berstatus
cagar biosfer (Giam Siak Kecil-Bukit Batu) dan
satu bentang alam dengan dua Situs Ramsar
(Berbak dan Sembilang). Hingga kini tidak ada
kawasan konservasi atau Ekosistem Esensial
yang ditunjuk/ditetapkan oleh pemerintah di
Bentang Alam Kubu.

49

50

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Di dalam sepuluh bentang alam tersebut


terdapat sedikitnya 1018 spesies, termasuk
209 spesies yang dilindungi oleh Pemerintah
Indonesia, 213 spesies kategori Red List
IUCN, dan 32 spesies kategori Apendiks I.

Tabel III-2. Kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian alam (KPA) di dalam bentang alam

No.
1

Bentang Alam
Senepis

Nama KSA/KPA
CA Pulau Berkeh

Luas sesuai SK
Menteri
559 hektar

PLG Sebanga Duri

Giam Siak Kecil Bukit


Batu

Penetapan Menhutbun No.482/ Kpts-II/1999

SM Giam Siak Kecil

50.000 hektar

Penunjukan SK Gubernur Riau No.324/


XI/1983

Bukit Tigapuluh

3.200 hektar

Penunjukan Menhut No.173/Kpts-II/1986


(SK penunjukan hutan Provinsi Riau seluas
9.456.160 hektar)

SM Tasik Serkap-Tasik
Sarang Burung

Penunjukan Menhut No.173/Kpts-II/1986


(SK penunjukan hutan Provinsi Riau seluas
9.456.160 hektar)

SM Kerumutan

6.900 hektar

120.000 hektar
144.223 hektar

Penetapan Menhut No.6407/ Kpts-II/2002

TN Berbak

162.700 hektar

Penunjukan Menhut No.285/Kpts-II/1992


& GB 28 Okt 1935 No 18 Stbl 1935 No 521
sebagai SM & Menhutbun No.91/Kpts-VIII/
KP/1999

Tahura Sekitar Tanjung

SM Dangku

Penunjukan Mentan No.13/3/ 1968 (14 Maret


1968) & Penunjukan Mentan No.350/ Kpts/
Um/6/79 tgl 6 juni 1979

TN Bukit Tigapuluh

Berbak Sembilang

Dangku-Meranti

Penetapan Menhutbun No.668/ Kpts-II/1999

SM Tasik Besar-Tasik Metas

TN Sembilang

28.237 hektar

CA Kelompok Hutan Durian


Luncuk II
Tahura Sultan Thaha
Syaifuddin

Padang Sugihan

SM Padang Sugihan

10

Kutai

CA Muara Kaman Sedulang

TN Kutai

Total Conservation Areas

Sumber: Database Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

202.896 hektar
21.160 hektar

31.752 hektar

Penetapan Menhut No.95/Kpts-II/2003


Penunjukan Menhut No.421/ Kpts-II/1999 (SK
Penunjukan kawasan hutan provinsi Jambi
seluas 2.179.440 hektar)

Catatan: *) Data tidak tersedia. Data lain diperoleh dari berbagai literatur dan dokumen kajian area bernilai konservasi tinggi (NKT) atau High
Conservation Value (HCV) area konsesi di dalam bentang alam.

Tabel III-4. Jumlah spesies di bentang alam berdasarkan kategori IUCN, CITES, EDGE, dan PP No.7/1999.
Keterangan: Data diolah dari berbagai sumber.

Kelas

Penetapan Menhut No.821/Kpts-II/1997

15.830 hektar

Penunjukan Menhut No.94/Kpts-II/2001

75.000 hektar

Penunjukan Menhut No.004/ Kpts-II/1983 (19


April 1983) dan Menhut No.76/Kpts-II/2001

64.700 hektar

Penetapan Menhut No.598/Kpts-II/1995


Penunjukan Menhut No.325/ Kpts-II/1995 (dari
SM menjadi TN), luas 198.604 hektar.

Total

Sen

GSK

Kam

Ker

B30

BS

DM

PS

KR

KT

213

33

43

50

35

64

99

122

56

24

121

CR

11

EN

27

11

10

15

13

11

10

VU

52

15

17

13

18

26

28

12

10

32

NT

123

26

21

27

51

80

30

79

App I

32

11

11

11

17

21

14

11

10

IUCN*

Penetapan Menhut No.755/Kpts-II/90 (17 Des


1990, luas 70.274 hektar), Menhut No. 245/
Kpts-II/1991 (6 Mei 1991, luas 31.752 hektar)

41 hektar

198.604 hektar

Tabel III-3. Jumlah spesies vertebrata di setiap bentang alam

Penetapan Menhutbun No.348/ Kpts-II/1999

Penetapan Menhutbun No.480/ Kpts-II/1999

Semenanjung

Kerumutan

6.172 hektar

2.529 hektar

SM Tasik Belat

-21.500 hektar

SM Danau Pulau BesarDanau Pulau Bawah

Kampar

Penunjukan Mentan No.13/Kpts/Um/3/68

SM Bukit Batu

Tahura Minas (Sultan Syarif


Hektarsim)

Notes

Jumlah tersebut merupakan jumlah minimal


yang terdapat di dalam bentang alam, dan akan
bertambah seiring dengan penambahan data
dan informasi keanekaragaman hayati di setiap
bentang alam.

CITES
App I/II

App II

111

25

32

44

35

24

53

66

43

19

68

App III

EDGE

38

13

11

11

16

23

18

13

20

UU RI

209

40

63

61

53

56

139

107

77

35

116

Total

1.156.003 hektar
Catatan: Sen= Senepis, GSK= GSKBB, Kam: Semenanjung Kampar, Ker= Kerumutan, B30= Bukit Tigapuluh,
BS= Berbak-Sembilang, DM= Dangku-Meranti, PS= Padang Sugihan, KR= Kubu, KT= Kutai.
* Status IUCN: CR= Critically Endangered, EN= Endangered, VU= Vulnerable, NT= Nearly Threatened.

10

51

52

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

indikator untuk menentukan area bernilai


konservasi tinggi (high conservation value),
sehingga menjadi bagian dari pengelolaan
unit manajemen. Walaupun penentuan dan
pengelolaan area NKT/HCV belum merupakan
kewajiban berdasarkan regulasi,1 sejumlah
program sertifikasi mewajibkannya, seperti
Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO),
Forest Stewardship Council (FSC), dan Indonesia
Sustainable Palm Oil (ISPO).

penting di luar kawasan konservasi itu


direkomendasikan untuk dikelola secara khusus,
melalui program-program kreatif inovatif, seperti
pengelolaan konservasi bentang alam.
Ekosistem Bakau/Pantai mempunyai fungsi
ekologis yang penting, bagi fungsi lingkungan
sekitarnya untuk menjaga keseimbangan
ekologis antara ekosistem lautan dan daratan.
Sebanyak delapan dari 10 bentang alam memiliki
ekosistem bakau di pantai dan muara sungai
yang dicirikan oleh keberadaan spesies tertentu,
seperti Avicennia spp. Soneratia spp., Rhizophora
spp. (Bakau), Bruguiera spp. (Tanjang), dan Nypa
fruticans (Nipah). Area bakau dan pesisir ini
sangat penting untuk menyelamatkan spesies
yang bermigrasi dari daerah utara ke selatan saat
musim dingin.

Kajian-kajian area NKT di sejumlah area konsesi


di dalam bentang alam menjadi bagian penting
yang telah dipertimbangkan dalam penyusunan
dokumen ini, terutama pada informasi mengenai
spesies, habitat, dan ekosistem yang penting di
dalam bentang alam. Dengan demikian, upaya
proteksi dan restorasi di sepuluh bentang alam
tersebut memiliki arti dan kontribusi penting
dalam upaya penyelamatan keanekaragaman
hayati secara lokal, regional, nasional, dan
internasional. Daftar selengkapnya status
global satwa dan perlindungannya ditampilkan
dalam Lampiran 3.

Kepiting bakau (Scylla sp.) yang banyak terdapat di Bentang Alam


Kubu, Kalimantan Barat, November 2007. (Foto: Dok. APP)

Terdapat beberapa flagship species di dalam


dan sekitar bentang alam target, yang menjadi
perhatian nasional dan internasional, yaitu
harimau sumatera, gajah sumatera, bekantan,
orangutan sumatera dan orangutan kalimantan,
sedangkan spesies perairan antara lain buaya
senyulong dan pesut mahakam. Spesies badak
dan gajah kalimantan tidak ditemukan di bentang
alam Kubu dan Kutai. Sekitar 30% burung yang
ada di Indonesia dapat ditemukan di sepuluh
bentang alam target, bahkan terdapat 11 spesies
burung yang tergolong kritis dari kepunahan.
Keberadaan spesies yang berstatus dilindungi,
kategori IUCN Red List, dan Appendiks CITES
di dalam suatu kawasan menjadi salah satu

Indonesia memiliki tujuh ekoregion laut dan


45 ekoregion terestrial. Dari jumlah tersebut,
Sumatera dan Kalimantan masing-masing
memiliki 12 dan tujuh ekoregion terestrial, atau
total 16 ekoregion terestrial di kedua pulau itu.
Terdapat pula ekoregion laut yang bercampur
dengan daratan, yaitu Selat Malaka di Senepis
dan Selat Makassar di Kutai. Tabel III-5.
menggambarkan bahwa kesepuluh bentang
alam tersebut memiliki variasi tipe ekosistem
yang mewakili lebih dari 50% ekoregion di
kedua pulau itu, yaitu sembilan ekoregion
terestrial (empat di Sumatera dan enam
di Kalimantan).
Berdasarkan pendekatan ekoregion dan
penyebarannya, tipe ekoregion di bentang alam
target adalah ekosistem bakau, gambut (rawa/
lahan), hutan dataran rendah, rawa air tawar,
dan hutan kerangas. Analisis Kesenjangan
Keterwakilan Ekologis (Kemenhut & KKP, 2013)
mengkonfirmasi bahwa ekosistem di bentang
alam target tergolong ekosistem penting yang
berada di luar kawasan konservasi. Ekosistem

1 Di masa mendatang, ketentuan mengenai area bernilai konservasi tinggi akan diatur pada tingkatan undang-undang. Saat ini, di dalam Struktur Organisasi Kementerian LHK, terdapat Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial yang akan menangani area bernilai konservasi tinggi. Lihat Permen LHK No.18 tahun 2015.

Ekosistem Gambut ditemukan hampir diseluruh


bentang alam sebagai tipe ekosistem terluas
daripada ekosistem lainnya. Berdasarkan
analisis spasial, luas lahan gambut di dalam
bentang alam sebagaimana tabel berikut ini.

Tabel III-5. Luas lahan gambut dan non-gambut di dalam bentang alam

Bentang Alam

3.1.3 Tipe Ekosistem di dalam


Bentang Alam

Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah


terutama terdapat di Bentang Alam Bukit
Tigapuluh
dan
Dangku-Meranti.
Hutan
hujan dataran rendah Sumatera memiliki
keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Sebanyak 425 jenis atau 2/3 dari 626 jenis
burung yang ada di Sumatera hidup di hutan
dataran rendah bersama dengan harimau,
gajah, orangutan, beruang madu, tapir, dan
satwa lainnya.

Luas Lahan (Hektar)


Gambut

Jumlah (Hektar)

Non Gambut

Senepis

249.292,54

73.673,01

322.965,55

Giam Siak Kecil Bukit Batu

493.051,38

448.148,98

941.200,36

1.023.873,55

310.976,11

1.334.849,66

665.675,47

78.050,82

743.726,29

18.941,51

1.048.060,46

1.067.001,97

525.974,91

610.782,82

1.136.757,74

Dangku-Meranti

12.717,04

1.035.934,81

1.048.651,85

Padang Sugihan

922.526,76

727.686,54

1.650.213,30

Kubu

907.185,86

15.635,13

922.820,99

Kutai

976.246,71

753,47

977.000,18

5.795.485,74

4.349.702,16

10.145.187,90

Kerumutan
Semenanjung Kampar
Bukit Tigapuluh
Berbak Sembilang

Sub Total
Sumber: hasil analisis dari berbagai sumber

53

BAB TIGA

2.326.878,20

4.853.320,77

792.898,69

429.202,66

52.148,79

429.202,66

146.435,98

922.820,99

337,12

1.510.755,67

101.364,31

1.650.213,30

171.770,49

1.136.757,74

977.000,18
1.048.651,85
1.067.001,97

Salah satu sudut hutan gambut sekunder di Bentang Alam GSKBB,


Riau, Februari 2014. (Foto: Dolly Priatna)

Sumber: (Diolah dari berbagai sumber)

1.334.849,66
941.200,36
322.965,55
Total

Hutan kerangas
Sundaland

38.579,09
74.163,49
Bakau dangkalan
Sunda

Ekosistem gambut memiliki peran penting


sebagai pengendali iklim global, habitat flora
dan fauna yang dimanfaatkan masyarakat lokal
sebagai sumber pakan, pakaian, dan obat serta.
Banyak lahan gambut yang telah dikonvesi untuk
tujuan pertanian dan perkebunan. Hal itu memang
memberikan pendapatan dalam jangka pendek
tetapi juga menimbulkan masalah pengelolaan
lahan gambut dalam jangka panjang.

743.726,29

79.212,84
129.223,70

60.688,69
798.600,36
33.367,86
561.757,64
248.802,06
Hutan rawa gambut
Sumatera

Hutan hujan dataran


rendah Sumatera

Hutan rawa air tawar


Sumatra

Hutan rawa air tawar


Barat Daya Borneo

Palawan/ Borneo Utara

Hutan rawa gambut


Borneo

Hutan hujan dataran


rendah Borneo
rainforests

1.008.734,81

630.613,67

957.036,67
64.128,11
1.033.634,11
124.505,10
120.760,25

220.103,39

26.476,85

30.926,49
102.258,77
7.422,93
72.386,05

Semenanjung
Kampar
Kerumutan
GSK- BB

di Sumatera (7,2 juta hektar), Kalimantan (5,8 juta


hektar), dan Papua (8,0 juta hektar). Sedikitnya
3 juta hektar lahan gambut di Indonesia telah
terdegradasi dan dikonversi antara tahun
19872000, sedangkan pada periode 20002005 telah terdeforestasi seluas 89.251 hektar/
tahun di Sumatera dan 9.861 hektar/tahun di
Kalimantan. IFCA (2007) melaporkan bahwa
deforestasi itu terjadi di lahan gambut yang
kedalamannya 2-4 m dan 4-8 meter. Sedangkan
FWI (2014) melaporkan deforestasi lahan
gambut Indonesia pada periode 2009-2013
adalah 1,1 juta hektar, dengan luasan tertinggi di
provinsi Riau yaitu 446.572 hektar.

10.145.187,85

470.853,83
37.756,20

297.893,60
120.562,17

1.835,00
1.835,00

177.331,43

527.156,86
81.198,71
445.958,15

445.148,24
292.052,81
153.095,43

Bukit
Tigapuluh

Berbak
Sembilang

Dangku
Meranti

Padang
Sugihan

Total
Kutai
Kubu

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Senepis
Ekoregion

Tabel III-6. Sebaran dan luas ekoregion di sepuluh bentang alam (hektar)

54

Sekitar 45% spesies dari famili Dipterocarpaceae


ditemukan di hutan rawa gambut Sumatera,
Kalimantan, Sarawak, dan Sabah. Beberapa
spesies endemik yang hidup di rawa gambut
antara lain ramin (Gonystylus bancanus),
meranti rawa (Shorea pauciflora), Jelutung rawa
(Dyera polyphylla), dan pulai rawa (Alstonia
pneumatophora). IUCN memasukkan dua puluh
spesies dipterokarpus ke dalam status sangat
terancam punah, delapan terancam punah, dan
tiga rentan (Paoli et al., 2010).
Di seluruh dunia terdapat sekitar 400 juta
hektar ekosistem gambut yang menyimpan
lebih dari 500 milyar ton karbon daratan. Di
Indonesia, terdapat 21 juta hektar lahan gambut

Selain akibat deforestasi, emisi dari lahan


gambut juga disebabkan oleh oksidasi segera
setelah sistem lahan gambut dikeringkan,
yang dilanjutkan dengan pemadatan dan
subsiden permukaan gambut. Hooijer et
al., (2006) melaporkan bahwa drainase
mengakibatkan emisi CO2 berkisar antara
355 dan 874 Juta ton/tahun atau rata-rata
632 juta ton / tahun untuk Asia Tenggara.
Sumber emisi lainnya adalah kebakaran lahan
gambut yang terkait dengan pengeringan.
Tabel III-7. Luas kedalaman gambut diatas 3 meter
dan dibawah 3 meter di lima provinsi
Ketebalan < 3 m

Ketebalan > 3m

Jumlah

Hektar

Hektar

Total
(hektar)

Riau

1.417.762

36,7

2.449.652 63,3

3.867.414

Jambi

234.532

37,8

386.557

62,2

621.089

Sumatera
selatan

1.220.757

96,7

41.627

3,3

1.262.384

Kalimantan
Barat

1.240.157

73,8

439.977

26,2

1.680.134

Kalimantan
Timur

85.939

25,9

246.427

74,1

332.366

Provinsi

Sumber: BBSDLP, 2011

55

56

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Istilah

Definisi

Catatan

Kawasan bergambut

Kawasan yang unsur pembentuk tanahnya


sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik
yang tertimbun dalam waktu yang lama (Pasal 1
angka 4) Keppres No. 32/1990

Istilah yang digunakan lebih


menekankan pada unsur ekosistem dan
substansi dari gambut.

Kawasan gambut

Wilayah ekosistem gambut di dalam dan di luar


kawasan hutan, yang berfungsi sebagai kawasan
lindung atau budidaya. (Lampiran Angka 3.3)
Peraturan Menteri Pertanian No.14/2009

Pada istilah ini, telah memisahkan


kawasan hutan dan non kawasan hutan.

Lahan gambut

Kawasan gambut yang dapat dimanfaatkan untuk


budidaya perkebunan kelapa sawit. (Lampiran Poin
3.5) Permentan No.14/2009

Istilah dan definisi lahan gambut


disebutkan di dalam lampiran.

Ekosistem gambut

Tatanan unsur gambut yang merupakan


satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling
mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan,
stabilitas dan produktivitasnya. (Pasal 1 angka 3) PP
No. 71/2014

Kesatuan Hidrologi
Gambut

Ekosistem gambut yang letaknya di antara 2 (dua)


sungai, di antara sungai dan laut, dan/ atau pada
rawa. (Pasal 1 angka 3) PP No. 71/2014

Sumber: Indrarto B.G., 2015

Dengan demikian, lahan gambut yang tidak


berhutan dan terdegradasi di Asia Tenggara
adalah sumber emisi signifikan secara global.
Regulasi awal yang mengatur mengenai
gambut tercantum di dalam Keputusan Presiden
No. 32 Tahun 1990. Regulasi ini mengatur
area gambut dengan kedalaman lebih dari
tiga meter tidak dapat digunakan untuk
pertanian atau perkebunan, sehiungga harus
dilindungi. Regulasi ini telah diadopsi dalam
peraturan perundang-undangan di bidang
lingkungan hidup, pertanian, kehutanan, dan
penataan ruang.. Pemerintah Indonesia juga
telah meratifikasi Convention on Wetlands
of International Importance Especially as
Waterfowl Habitat melalui Keputusan Presiden
No. 48 Tahun 1991. Lalu pada tahun 2014,
pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah
No. 71 tahun 2014 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Ekosistem Gambut yang lebih
khusus mengatur rencana pengelolaan dan
baku kerusakan ekosistem gambut.

3.1.4 Nilai Cadangan Karbon Tier-1


Cadangan karbon (carbon Stock) adalah
simpanan karbon di dalam vegetasi hutan selama
jangka waktu tertentu sebagai hasil kemampuan
pohon menyerap dan menyimpan karbon
dioksida (Machfudh, 2012). Untuk kepentingan
dokumen ini telah dilakukan penghitungan
perkiraan cadangan karbon dengan tingkat
kerincian Tier-1. Faktor emisi mengacu pada
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
sebagaimana diuraikan pada Tabel III-9.

Tabel III-9. Kelas penutupan lahan dan stok karbon (tC/ha) untuk memperkirakan stok karbon

Kode
Penutupan
Lahan
Kedua istilah ini adalah yang paling baru
dan menyesuaikan dengan semangat
pendekatan ekoregion yang dianut oleh
Undang undang 32 tahun 2009.

Di dalam regulasi-regulasi yang telah diterbitkan


tersebut, terdapat berbagai istilah untuk
mendefinisikan gambut yang dapat berdampak
dalam
penerapannya.
Namun
demikian
terdapat satu satu kesamaan pengaturan, yaitu
ketentuan mengenai ketebalan gambut yang
dapat dimanfaatkan dan dilindungi. Peraturan
perundang-undangan melindungi lahektarn
gambut dengan ketebalan atau kedalaman lebih
dari 3 meter.
Para pihak berharap agar PP No. 71/2014
ini memberi arahan yang lebih jelas dalam
pengelolaan gambut, menentukan kesatuan
hidrologis gambut, peta final kesatuan hidrologis
gambut, fungsi ekosistem gambut, dan RPPEG
(Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Ekosistem Gambut). Namun belum diketahui
bagaimana memadukan peta final ekosistem
gambut dengan kebijakan satu peta. Kesatuan
hidrologis gambut ditentukan berdasarkan aspek
teknis tanpa mempertimbangkan aspek sosial,
sebagaimana definisi yang diberikan di dalam
PP ini (Lihat tabel di atas). Padahal pelibatan

Penghitungan perkiraan cadangan karbon di


setiap kelas tutupan lahan di setiap bentang
alam sesuai hasil analisis tutupan lahan
berdasarkan citra Landsat tahun 2003 dan
tahun 2014 (Lihat Gambar III-1). Rata-rata
cadangan karbon cenderung menurun karena
adanya perubahan tutupan lahan di dalam
bentang alam kecuali di Bentang Alam Padang
Sugihan dan Kutai. Kenaikan terjadi di Bentang
Alam Padang Sugihan diduga karena kawasan
tersebut telah ditinggalkan HPH sejak tahun
1998. Perusahaan HTI mulai mengelola kawasan
tersebut pada tahun 2004. Hal yang sama juga
terjadi di Bentang Alam Kutai.

para pihak dalam pengelolaan ekosistem


gambut merupakan faktor penting yang akan
mempengaruhi tingkat keberhasilannya.

Tabel III-8. Perbandingan istilah dan pengertian gambut dalam regulasi di Indonesia

Kelas Penutupan Lahan

Kode Menurut
IPPC 2006
Guideline

Stok Karbon
(tC/ha)

Sumber

2001

Hutan Lahan Kering Primer

FL

195,4

TSP/PSP Kemhut

2002

Hutan Lahan Kering Sekunder/bekas


tebangan

FL

169,7

TSP/PSP Kemhut

2004

Hutan Bakau Primer

FL

170

2005

Hutan Rawa Primer

FL

196

2006

Hutan Tanaman Industri (HTI)

FL

100

2007

Semak/Belukar

GL

15

Wasrin, 2000

2010

Perkebunan

CL

63

2012

Permukiman

2014

Tanah Terbuka

OL

3000

Savana

GL

4,5

5001

Tubuh Air

20041

Hutan Bakau Sekunder/bekas tebangan

FL

120

20051

Hutan Rawa Sekunder/bekas tebangan

FL

155

20071

Semak/Belukar Rawa

WL

15

20091

Pertanian Lahan Kering

CL

20092

Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak

CL

10

20093

Sawah

CL

20094

Tambak

OL

20121

Airport

OL

20122

Transmigrasi

CL

10

20141

Pertambangan

50011

Rawa

WL

Keterangan: FL=Forestland, GL=Grassland, CL=Cropland, S=Settlement, OL=Otherland, WL=Wetland.


Sumber: Sugardiman (2010) dan Masripatin et.al. (2010).

57

58

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Gambar III-1. Perkiraan nilai cadangan karbon (TonCarbon) di sepuluh bentang alam
Sumber: data diolah dan dianalisis dari berbagai sumber

Sejumlah perusahaan pemegang konsesi HTI


di dalam bentang alam telah melakukan kajian
cadangan karbon tinggi (High Carbon Stock,
HCS) di area konsesinya secara sukarela.
Kajian itu dilakukan oleh Ata Marie (2014)
untuk menghitung cadangan karbon di atas
tanah (above ground) di area konsesi HTI yang
belum dikembangkan. Hasil kajian ini berupa
penentuan jumlah ton karbon per hektar dan
area HCS yang diprioritaskan untuk dilindungi
dan dikonservasi.

3.1.5 Titik Api di Bentang Alam


Titik api (hotspot) adalah indikator untuk
mendeteksi suatu lokasi dengan suhu relatif
lebih tinggi daripada suhu di sekitarnya2, yang
datanya diperoleh dari satelit sebagai indikasi
adanya kebakaran hutan dan lahan. Data titik api
yang dianalisis untuk dokumen Rencana Induk ini
adalah rangkaian data titik api selama lima tahun
antara (2009-2013), diperoleh dari Kementerian
LHK, yang berasal dari stasiun penerima data
NOAA-18 (AVHHR) yang dikelola oleh ASMC
(ASEAN Specialised Meteorological Centre
di Singapura. Ambang batas yang digunakan
adalah 318oKalvin atau 45oCelsius. Suatu
lokasi dinyatakan sebagai titik api jika suhunya
lebih dari 45oC dibandingkan suhu sekitarnya.
Berdasarkan validasi yang dilakukan oleh LAPAN3

pada tahun 2014, ternyata 45% lokasi yang


terdeteksi titik api adalah area kebakaran.
Saat ini terdapat lima provinsi prioritas untuk
pengendalian kebakaran hutan/lahektarn, yaitu
Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat,
dan Kalimantan Tengah. Sembilan bentang
alam yang menjadi target dalam Rencana
Induk ini berada di provinsi prioritas tersebut.
Berikut ini adalah data sebaran titik api pada
periode 2009-2013.

Gambar III-2. Jumlah dan sebaran titik api di setiap bentang alam pada periode 2009-2013
Sumber data: Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, KemenLHK; Data telah diolah

Tabel III-10. Jumlah dan persentasi luas patch di setiap bentang alam
Peristiwa
Bentang Alam

Berdasarkan jumlah patches, Bentang Alam


Padang Sugihan dan Dangku Meranti memiliki
lokasi hotspot padat yang paling banyak dengan
sebaran yang relatif merata. Lokasi titik api relatif
tersebar merata di KPL dan Non KPL kecuali di
Berbak Sembilang dan Bukit Tigapuluh. Padang
Sugihan terdeteksi memiliki jumlah titik api
terbanyak pada tahun 2011 dan 2012.
Pola sebaran lokasi yang memiliki kepadatantitik
api tinggi ditampilkan di Gambar III-3.
Sebaran lokasi dengan kepadatan titik api tinggi
di Kawasan Penting Lanskap (KPL) lebih banyak
terdeteksi di lokasi dengan arahan utama kegiatan
pemantauan (21%) dan pemberdayaan (20%).

2 Permenhut No. P.12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan, Pasal 1 (angka 9).
3 LAPAN: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Wawancara dengan Joni dan Franky Zamzani, Ditjen Pengendalian Perubaan Iklim KemenLHK, 25 Juni 2015

vPatch

Luas Total Patch


(Hektar)

% luas patch Terhadap


Luas Bentang Alam

Letak di KPL

Letak di Non
KPL

1. Senepis

8.903

3%

96%

4%

2. Giam Siak Kecil Bukit Batu

12

38.102

4%

67%

33%

3. Kerumutan

19

76.122

6%

65%

35%

4. Semenanjung Kampar

15

51.334

7%

58%

42%

5. Bukit Tigapuluh

11

94.165

9%

100%

0%

6. Berbak Sembilang

23.493

2%

9%

91%

7. Dangku-Meranti

72

130.785

12%

41%

59%

8. Padang Sugihan

110

235.911

14%

61%

39%

9. Kubu

36

68.783

7%

53%

47%

10. Kutai

46

50.219

5%

40%

60%

Sumber: diolah dari data sebaran hotspot, Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, KemenLHK

59

60

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-12. Jumlah perusahaan, kecamatan, dan desa di area hotspot patches yang padat

No

Gambar III-3. Pola sebaran lokasi (patches) titik api padat


di 10 bentang alam pada periode 2009-2013

Secara indikatif alokasi desa dan kecamatan


yang menjadi target program adalah 388 desa
(24% dari 1650 desa di dalam bentang alam)
pada 91 Kecamatan (48% dari 190 Kecamatan
di dalam bentang alam). Perencana program
harus mempertimbangkan data titik api tersebut
di atas saat merancang program-program aksi
di daerah padat titik api, terutama program
yang berkaitan dengan pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Tabel diatas memberikan gambaran jumlah


desa, kecamatan, dan perusahaan yang di
dalam wilayahnya terdapat titik api padat. Area
padat titik api berdasarkan wilayah administrasi
ditampilkan selengkapnya dalam Lampiran 4.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia
menjadi persoalan tahunan dan telah
berkembang
menjadi
isu
regional.

Kawasan Penting Lanskap (KPL)


Bentang Alam
Pemantauan

Pemberdayaan

Proteksi

Restorasi

Non
KPL

1.

Senepis

0%

47%

11%

38%

4%

2.

Giam Siak Kecil Bukit Batu

35%

3%

7%

23%

33%

3.

Kerumutan

2%

22%

19%

22%

35%

4.

Semenanjung Kampar

26%

27%

4%

1%

42%

5.

Bukit Tigapuluh

39%

5%

4%

52%

0%

6.

Berbak Sembilang

2%

1%

1%

5%

91%

7.

Dangku-Meranti

14%

8%

8%

11%

59%

8.

Padang Sugihan

28%

30%

3%

0%

39%

9.

Kubu

23%

24%

7%

0%

47%

10

Kutai

2%

31%

6%

1%

60%

Total

21%

20%

6%

12%

40%

Sumber: Diolah dari data sebaran titik api, Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, KemenLHK

Perusahaan

Kecamatan

Kecamatan
dalam Bentang
Alam

Desa

Desa dalam
Bentang
Alam

Senepis

51

Giam Siak Kecil Bukit Batu

23

14

148

Kerumutan

15

26

50

212

Semenanjung Kampar

10

11

35

74

Bukit Tigapuluh

30

25

284

Berbak Sembilang

21

12

194

Dangku-Meranti

15

19

76

186

Padang Sugihan

15

18

109

259

10

31

75

24

31

167

45

91

190

388

1650

9 Kubu

Tabel III-11. Persentase titik api patches padat di Kawasan Penting Bentang Alam

No

Bentang Alam

10

Kutai
Jumlah

Data titik api satelit NOAA antara tahun 2002


sampai dengan 2010, menunjukkan bahwa 70
80% kebakaran terjadi di luar kawasan hutan.
Umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia
pada saat menyiapkan lahan untuk perladangan,
pertanian, dan perkebunan dengan cara
membakar semak dan pohon (BNPB, 2013).
Sebagaimana telah disampaikan di dalam
Bab 2.2.3., bahwa Indonesia telah meratifikasi
ASEAN Agreement on Transboundary Haze
Pollution (AATHP). Hal itu tentu berdampak
pada hubungan luar negeri Indonesia dengan
negara-negara tetangga di ASEAN. Dengan
demikian, permasalahan kebakaran hutan dan
lahan tidak lagi menjadi masalah lokal, tetapi
menjadi masalah nasional dan regional yang
memerlukan perhatian semua pihak yang
berada di daerah-daerah rawan kebakaran
hutan yang ditandai dengan padatnya titik-titik
titik api dalam rentang sepuluh tahun terakhir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB), sebagai lembaga yang mengkoordinasi
penanggulangan bencana, telah menyusun
Rencana Kontinjensi Nasional Menghadapi
Ancaman Bencana Asap Tahun 2013, sebagai

penyempurnaan
Rencana
Aksi
Terpadu
Menghadapi Bencana Asap dan Kekeringan
Tahun 2012. Dokumen itu menguraikan peran
dan tanggungjawab pemadaman kebakaran
hutan dan lahan (Damkarhutlah), konsep
operasi mengenai mekanisme dan koordinasi
pengerahan sumberdaya, dan tindakan yang
dilakukan dalam operasi. Saat ini sedang
disusun Peraturan Menteri LHK tentang standar
organisasi, SDM dan sarpras pengendalian
kebakaran hutan dan/atau lahan. Lembaga yang
mendapat mandat dalam peraturan itu adalah
Pemerintah Daerah, Kesatuan Pengelolaan
Hutan, pemegang konsesi kehutanan, pengelola
hutan desa, hutan kemasyarakatan dan pemilik
hutan hak. Lokasi prioritasnya ditampilkan dalam
tabel berikut ini:

3.1.6 Kondisi Sosial-Ekonomi


Gambaran umum menyangkut profil demografi
dan wilayah administrasi yang bersinggungan
dengan batas-batas KPL ini tidak dimaksudkan
untuk membuat perbandingan antarbentang
alam. Deskripsi mengenai kondisi sosial
ekonomi ini untuk memperlihatkan profil umum
tentang penduduk dalam KPL berdasarkan data
sekunder yang diterbitkan Badan Pusat Statistik
(BPS).

61

62

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-15. Perkiraan jumlah penduduk kecamatan yang ada di dalam bentang alam tahun 2014

Tabel III-13. Lokasi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan

No.

Lokasi Prioritas

Bentang alam

Bentang Alam

1.

Daerah-daerah yang menjadi tuan rumah event nasional/internasional

2.

Daerah yang merupakan habitat satwa yang terancam punah, sehingga mendapatkan
perhatian dunia seperti gajah, harimau sumatera, orangutan, jalak bali, elang jawa, dan lainlain

Seluruh bentang
alam

3.

Daerah tujuan wisata

4.

Daerah yang berbatasan dengan negara tetangga, karena asap melintas ke negara tetangga
(Riau, Sumatera Utara);

Senepis, GSK-BB

5.

Daerah dataran tinggi yang merupakan sumber mata air.

Bukit Tigapuluh

6.

Daerah lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan pada saat kebakaran menghasilkan
asap yang banyak dan pekat (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah)

Seluruh bentang
alam kecuali Kutai

Jumlah tersebut dapat berubah karena adanya


kemungkinan pemekaran kecamatan atau desa
bary yang belum tercatat.
Dari aspek demografi, total jumlah penduduk
berdasarkan kecamatan yang sebagian atau
seluruh wilayahnya masuk dalam bentang
alam adalah sekitar 6,45 juta jiwa dengan
kepadatan penduduk tertinggi di Bentang Alam
Kutai sedangkan yang terendah di Bentang
Alam Kubu. Ini berarti pengelolaan bentang
alam secara langsung dan tak langsung akan
berdampak pada banyak warga yang tinggal di
dalam dan sekitarnya.

Tabel III-14. Jumlah kabupaten, kecamatan, dan desa di bentang alam

Jumlah wilayah administrasi


Bentang Alam
1.

Senepis

Provinsi

Kabupaten/
kota

Camat

Desa

Riau

52

2. GSKBB

Riau

23

148

3. Semenanjung Kampar

Riau

11

74

4. Kerumutan

Riau

26

216

5. Bukit Tigapuluh

Riau, Jambi

30

293

6. Berbak Sembilang

Sumatera Selatan, Jambi

14

203

7. Dangku Meranti

Sumatera Selatan, Jambi

22

197

8. Padang Sugihan

Sumatera Selatan

16

265

9. Kubu

Kalimantan Barat

11

79

10. Kutai

Kalimantan Timur

24

170

41

186

1.690

Total
Sumber: diolah dari berbagai sumber (Daerah Dalam Angka, Potensi Desa)

Total

Sumber: BNPB, 2013.

Secara administratif, setidaknya terdapat 1.690


desa yang sebagian atau seluruhnya berada
di dalam sepuluh bentang alam target (Tabel
III-14). Desa-desa tersebut tersebar di 186
kecamatan, yang secara kumulatif berada di 41
kabupaten/kota, namun ada beberapa bentang
alam yang terletak di lebih dari satu kabupaten/
kota, sehingga jumlah total kabupaten/kota di
sepuluh bentang alam ini adalah tigapuluh satu.
Jumlah kecamatan dan desa di atas merupakan
perhitungan berdasarkan sinkronisasi peta
batas KPL dengan peta wilayah administrasi
Kecamatan serta data Potensi Desa 2014.

Total luas kecamatan


(km2)

Kepadatan
( jiwa/km2)

1.

Senepis

5.197

371.701

72

2.

GSKBB

24.093

988.098

41

3.

Semenanjung Kampar

10.983

245.586

22

4.

Kerumutan

22.844

806.014

35

5.

Bukit Tigapuluh

14.313

754.485

53

6.

Berbak Sembilang

31.662

615.374

19

7.

Dangku Meranti

18.958

939.363

49

8.

Padang Sugihan

18.619

624.937

33

9.

Kubu

15.524

285.920

18

10. Kutai

9.242

820.475

89

6.451.953

Total

Sumber: Provinsi Dalam Angka 2014 (BPS Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan TImur, Kalimantan Barat),
BPS Kabupaten Dalam Angka 2014

Pertumbuhan jumlah penduduk merupakan


salah satu tantangan dalam pengelolaan
bentang alam. Peningkatan jumlah penduduk
akan langsung berdampak pada kebutuhan
lahan pertanian dan permukiman. Dengan
membandingkan data demografis per tahun
di tiap kabupaten dalam provinsi di mana
10 bentang alam ini berada, terlihat laju
pertumbuhan penduduk yang beragam pada
lokasi-lokasi yang sebagian atau seluruhnya
masuk dalam batas bentang alam. Misalnya
Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Jambi), yang
sebagian wilayahnya berada di bentang alam
Bukit Tigapuluh memiliki laju pertumbuhan
penduduk terendah (0,70%/tahun) daripada
kabupaten/kota lainnya. Sedangkan wilayah
dengan laju pertumbuhan tertinggi (6,67%/
tahun) adalah Kabupaten Pelalawan di Riau,
yang sebagian wilayahnya di dalam Bentang
Alam Kerumutan dan Semenanjung Kampar.
Hasil analisis tren pertumbuhan penduduk
di setiap bentang alam ditampilkan di dalam
Lampiran 5.
Data PDRB provinsi-provinsi di mana 10 bentang
alam ini berada menunjukkan bahwa sektor
primersubsektor
pertanian,
kehutanan,
perikanan, perkebunan dan pertambangan

memberi kontribusi paling besar terhadap


perekonomian regional di banding subsektor
lainnya. Hal ini sebagai indikasi bahwa
pemanfaatan sumberdaya alam mepengaruhi
perkembangan ekonomi dan kehidupan
sosial masyarakat. Di sisi lain, ketergantungan
pada sektor primer akan memerlukan area
tambahan untuk berbagai aktifitas pemanfaatan
sumberdaya alam. Dengan demikian, peluang
terjadinya konversi kawasan hutan untuk
aktivitas pertambangan, perkebunan, serta
pertanian juga tetap besar sebagai bagian dari
pengembagan ekonomi daerah. Hal ini tentu
akan mempengaruhi pengelolaan KPL.
Di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, dan
Kalimantan Timur, kontribusi subsektor paling
besar adalah pertambangan dan galian, antara
40-195 trilyun rupiah. Sedangkan di Jambi dan
Kalimantan Barat, kontribusi terbesar terhadap
PDRB berasal dari subsektor Pertanian.

Pertanian dan Perkebunan


Aktivitas pertanian dan perkebunan oleh
penduduk di dalam bentang alam cenderung
menggunakan pola ekstensifikasi melalui
perluasan lahan. Hal itu tercermin pada

63

64

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-16. PDRB Provinsi dalam bentang alam tahun 2011 dan 2012
PDRB Provinsi (dalam triliun Rp)
Lapangan usaha

Sumsel

Riau

Jambi

Kalbar

Kaltim

2011

2012

2011

2012

2011

2012

2011

2012

2011

1. Pertanian

31,39

34,2

17,41

17,87

18,57

21,67

16,81

18,00

23,00

26,57

2. Pertambangan dan
Penggalian

41,02

43,98

48,79

48,32

12,06

12,63

1,35

1,50

195,87

197,67

3. Industri Pengolahan

37,48

41,52

11,87

12,24

6,75

7,92

12,01

12,76

91,46

98,65

4. Listrik, Gas , Air Bersih

0,87

1,00

0,23

0,24

0,55

0,67

0,33

0,35

1,02

1,12

5. Konstruksi bangunan

14,02

16,63

3,97

45,29

2,71

3,49

1,35

1,35

10,32

12,49

6. Perdagangan, Hotel,
Restoran

23,74

28,13

9,91

11,50

9,51

11,46

15,07

17,04

31,42

36,76

7. Pengangkutan dan
Komunikasi

8,61

10,27

3,34

3,75

4,02

4,62

4,94

5,50

14,04

16,65

8. Keuangan, Sewa , Jasa


Perusahaan

6,56

7,65

1,52

1,74

3,22

3,75

3,25

3,63

9,29

12,12

18,7

22,96

5,60

6,11

5,90

6,43

6,48

8,10

15,32

17,46

182,39

206,34

102,64

147,06

63,29

72,64

61,59

68,23

391,74

419,49

9. Jasa-jasa
PDRB termasuk minyak
dan gas

2012

Gambar III-4. Jumlah rumah tangga petani berdasarkan subsektor 2003 di lima provinsi

Sumber: Profil Provinsi 2014, Provinsi Dalam Angka 2014 (BPS Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat)

trend pertumbuhan luas perkebunan di


lima provinsi di mana bentang alam target
berada, terutama untuk perkebunan kelapa
sawit yang dikelola masyarakat. Berdasarkan
data Sensus Pertanian 2013 yang diterbitkan
Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi penurunan
jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) yang
beraktivitas di sub-sektor pertanian pangan dan
hortikultura sepanjang periode 2003-2013, dan
penurunan di subsektor perikanan, peternakan
dan kehutanan. Peningkatan justru terjadi
di subsektor perkebunan.
Gambar III-4. dan III-5 memperlihatkan adanya
perubahan komposisi RTP yang mana subsektor
perkebunan menjadi lebih dominan daripada
subsektor lainnya. Kondisi ini mengindikasikan
bahwa komoditas-komoditas perkebunan yang
berorientasi pasar dan industri, seperti karet
dan sawit, makin diandalkan oleh RTP untuk
menopang pendapatan mereka.
Dibanding komoditas lain di subsektor
perkebunan, tanaman kelapa sawit merupakan
komoditas yang cukup menonjol di setiap
provinsi. Berdasarkan luas lahan yang ditanam,
4 Provinsi Kalimantan Barat Dalam Angka, 2014. Badan Pusat Statistik.
5 Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka 2014, Badan Pusat Statistik.

terdapat peningkatan pertumbuhan perkebunan


sawit dalam skala besar oleh perusahaan
dan perkebunan rakyat (small holder estate).
Misalnya pada tahun 2013 di Kalimantan Barat,
luas tanaman sawit yang dikelola perusahaan
perkebunan naik 17,12% dibandingkan tahun
sebelumnya, sementara produksinya naik 7,48
persen. Adapun pertumbuhan luas perkebunan
sawit rakyat naik 10 persen meski produksinya
mengalami penurunan sebesar 2,02 persen.4
Tahun 2013, luas tanaman sawit yang dikelola
rakyat adalah 314.938 hektar, meningkat dari
221.858 hektar pada tahun 2009.
Di Sumatera Selatan, luas lahan perkebunan
rakyat yang ditanami kelapa sawit juga
meningkat. Pada tahun 2008, luas lahan
perkebunan rakyat untuk komoditas sawit
sebesar 295.749 hah. Pada tahun 2011, luasnya
menjadi 823.850 hektar, atau meningkat
hampir empat kali lipat dalam kurun waktu 3
tahun.5 Namun, luas perkebunan rakyat untuk
komoditas karet masih lebih unggul, yaitu
1.205.809 hektar pada tahun 2011.

Gambar III-5. Jumlah rumah tangga petani berdasarkan subsektor 2013 di lima provinsi

Di Provinsi Riau, luas tanaman sawit pada tahun


2013 adalah 2.399.172 hektar dengan bagian
terluas ada di Kabupaten Rokan Hilir, Pelalawan
dan Kampar. Sejak 2009 hingga 2012, luas
perkebunan sawit baik oleh perusahaan maupun
perkebunan rakyat mengalami peningkatan
rata-rata lebih dari 100 ribu hektar per tahun.
Pada periode yang sama, luas tanaman karet
dan kelapa yang luasnya cenderung menurun.
6 Provinsi Riau Dalam Angka 2014, Badan Pusat Statistik

Pada tahun 2009 luas keseluruhan lahan


perkebunan karet, yang mayoritas dikelola
masyarakat, terdapat sekitar 516.474 hektar.
Sedangkan di tahun 2013 luasnya menjadi
505.264 hektar. Hal serupa juga terjadi pada
luas lahan perkebunan kelapa yang pada tahun
2009 jumlahnya sekitar 527.598 hektar menjadi
520.260 hektar di tahun 2013.6

65

66

BAB TIGA

Suatu kawasan memiliki nilai ekonomi berupa


manfaat langsung seperti tanaman komoditas,
volume kayu yang dapat ditebang, atau hasil
tambang. Terdapat pula manfaat tidak langsung
yang diberikan suatu kawasan, yang perlu
divaluasi nilainya.
Misalnya valuasi ekonomi hutan ulayat di
Desa Buluhcina (Kabupaten Kampar), melalui
pendekatan produktivitas dan contingency
berbagai produk seperti kayu, madu,
satwa, tanaman obat, rotan, dan buahbuahan didapatkan nilai ekonomi sebesar
Rp. 23.261.613.497 atau Rp.23.261.600/hektar/
tahun (Mukhamadun et al., 2008). Valuasi
ekonomi ekosistem bakau di Desa Teluk
Pambang (Kabupaten Bengkalis) didapatkan
nilai ekonomi dari pemanfaatan kawasan
bakau dalam kurun waktu 25 tahun sebesar
Rp. 12.793.673.903,53/hektar dengan proporsi
pemanfaatan 10% untuk ekosiwata dan
kegiatan terbatas dan 90% untuk menjaga
kawasan bakau tetap lestari sebagai fungsi
ekologi (Qodrina et al., 2012). Sedangkan untuk
kawasan pesisir
(bakau, terumbu karang,
ikan, lahan pesisir) di Bontang-Kalimantan
Timur didapatkan nilai ekonomi sebesar
Rp. 2.411.030.273.298 (Astuti et al., 2008).
Belajar dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa
sumberdaya alam di suatu wilayah dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi
dengan kegiatan yang yang ramah lingkungan,
seperti pemanfaatan hasil hutan non-kayu, jasa
lingkungan, dan pengembangan ekowisata.
Potensi ekonomi tersebut dapat berkontribusi
bagi pendapatan masyarakat dan pemerintah
daerah jika dikelola dengan baik, dengan
cara yang dapat memberikan manfaat jangka
panjang, bukan dengan eksploitasi sumberdaya
alam sebesar-besarnya. Sektor kelautan dan
perikanan perlu dieksplorasi lebih banyak
agar memberikan manfaat untuk mengimbangi
sektor
kehutanan,
pertambangan,
dan
perkebunan.
Optimalisasi dapat berjalan
beriringan antara manfaat ekonomi dan ekologi
secara berkelanjutan.

Keberadaan Masyarakat (Hukum) Adat


Terdapat kelompok-kelompok masyarakat
yang mengidentifikasi diri sebagai Masyarakat
Adat (MA)/ Masyarakat Hukum Adat (MHA) di
setiap bentang alam dan mengklaim lahan dan

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

kawasan hutan sebagai wilayah penguasaan


adat mereka. Terdapat wilayah-wilayah di mana
kelompok MA/MHA menetap dan beraktivitas,
terutama di kawasan-kawasan hutan di Bentang
Alam GSKBB, Senepis, Semenanjung Kampar,
dan Kerumutan. Orang-orang Petalangan,
Talang Mamak, Duanu, Sakai, dan Melayu adalah
sebagian dari kelompok yang mengidentifikasi
diri sebagai MA/MHA berdasarkan asal
usul, sejarah penguasaan sumberdaya alam
setempat, struktur organisasi sosial dan tradisitradisi yang dijalankan.
Di Bentang Alam Bukit Tigapuluh terdapat
masyarakat suku Anak Dalam atau orang Rimba
yang tersebar di beberapa permukiman, yang
dipimpin seorang tumenggung, sementara
orang Talang Mamak pemimpinya disebut
patih, dan ada pula komunitas yang menyebut
pemimpinnya batin. Penyebaran mereka
meliputi wilayah hutan di sekitar TN Bukit
Duabelas dan TN Bukit Tigapuluh di Jambi,
bahkan mencapai ke perbatasan di Provinsi
Riau dan Sumatera Selatan. Penduduk asli/
komunitas adat juga ditemukan di Bentang Alam
Padang Sugihan, Dangku-Meranti, dan sebagian
Berbak Sembilang di Sumatera Selatan, misalnya
masyarakat Komering, Ogan, Kayu Agung,
Banyuasin. Bahkan terdapat pula komunitas
Sakai dan suku Anak Dalam di Bentang Alam
Dangku Meranti di perbatasan Jambi.
Di Bentang Alam Kutai dan Kubu terdapat
komunitas adat suku Dayak yang menetap di
perkampungan di dalam dan sekitar hutan,
sedangkan orang Melayu menghuni wilayahwilayah pesisir. Sebagian dari orang Dayak masih
menjalankan kehidupan yang berhubungan
erat dengan sumberdaya hutan, antara lain
mengumpulkan hasil hutan dan melakukan
perladangan berpindah.
Dalam perencanaan konservasi bentang alam,
keberadaan komunitas MA/MHA merupakan
salah satu faktor yang akan mempengaruhi
keberhasilan program proteksi dan restorasi,
terutama di daerah yang rawan konflik
tenurial. Klaim-klaim mereka atas kawasan
hutan, terutama yang berstatus KSA/KPA,
akan mendorong kerusakan habitat yang
meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik
manusia-satwa. Dari perspektif lain, keberadaan
komunitas MA/MHA yang masih menerapkan

kearfian lokal dalam pemanfaatan sumberdaya


hutan, sejauh masih menjadikan kelestarian
hutan sebagai sistem kultural mereka, akan
sangat mendukung upaya-upaya pelestarian
ekosistem dalam bentang alam. Pengetahuan
lokal, keterikatan terhadap sumberdaya hutan,
penerapan hukum adat dan kelembagaan adat
yang masih efektf merupakan modal sosial
yang membuat masyarakat adat sebagai mitra
potensial dalam konservasi bentang alam.

3.1.7 Konflik Sosial (Tenurial)


Terkait
pengelolaan
sumberdaya
alam,
seringkali timbul persoalan antara masyarakat
sekitar kawasan dengan unit pengelola konsesi,
yang kemudian menjadi sebuah konflik sosial.
Permasalahan ini juga terjadi di bentang alambentang alam di Sumatera dan Kalimantan,
ketika satu pihak merasa ada pihak lain yang
memberikan pengaruh negatif kepadanya atau
suatu pihak merasa kepentingan itu memberikan
pengaruh negatif kepada pihak lainnya (Robbins,
2001). Konflik kepentingan secara khusus terkait
tenurial antara perusahaan dengan masyarakat
di dalam dan sekitar bentang alam akan
memicu persoalan, terutama ketika partisipasi
masyarakat relatif minim. Disisi lain, Glasbergen
(1995) dalam Rijanta & Baiquni (2003)
menyatakan adanya kontribusi kesenjangan
kebijakan pembangunan dan lingkungan yang
menunjukkan bahwa masalah lingkungan tidak
semata-mata persoalan fisik tetapi mencakup
kepentingan subyek pelakunya.
Kawasan hutan di Indonesia mengalami
persoalan cukup serius, termasuk klaim lahan
dan konflik tenurial. Maring et al. (2011) pada tahun
2010 mencatat adanya konflik pemanfaatan
sumberdaya alam di Riau, yang terjadi di
Kabupaten Rokan Hulu (11 kasus), Kabupaten
Pelalawan (tujuh kasus), Kabupaten Bengkalis
(enam kasus), Kabupaten Siak (lima kasus), dan
1-3 konflik di kabupaten lain. Data dari Dinas
Kehutanan Jambi menunjukkan adanya konflik
di Kabupaten Tebo (empat kasus), Kabupaten
Bungo (delapan kasus), Kabupaten Sorolangun
(11 kasus), Kabupaten Tanjungjabung Barat
(14 kasus), Kabupaten Tanjungjabung Timur
(empat kasus), Kabupaten Muaro Jambi
(lima
kasus),
dan
Kota
Jambi
(satu kasus). Mengingat bahwa konflikkonflik tersebut terjadi di kabupatenkabupaten yang menjadi bentang alam target,

maka dampak sosial dari konflik yang telah dan


akan terjadi harus secara hati-hati diperhatikan dan
diantisipasi dalam pengelolaan bentang alam.
Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai
sumber, termasuk hasil FGD dan wawancara,
ditemukan berbagai persoalan dan konflik sosial
di 10 bentang alam target (Lihat Lampiran 6). Jenis
konflik yang terjadi di dalam bentang alam meliputi
okupasi dan klaim lahan, penebangan tanaman hutan,
perubahan fungsi lahan, hak kelola, tumpang tindih
area konsesi, pencemaran, tata batas, akses terhadap
sumberdaya alam (penutupan sungai/kanal, dll), dan
mata pencaharian alternatif. Gambar III-6 menunjukkan
lokasi terjadinya konflik sosial yang tercatat.
Menurut UU No.7 Tahun 2007 tentang Penanganan
Konflik (Pasal 9), Pemerintah wajib meredam potensi
konflik di masyarakat dengan cara membuat
rencana dan melaksanakan pembangunan yang
memperhatikan aspirasi masyarakat; mengintensifkan
dialog antarkelompok masyarakat dan penyelesaian
konflik secara damai; menegakkan hukum tanpa
diskriminasi. Jika konflik sudah terjadi, maka harus
segera dilakukan penghentian kekerasan fisik yang
melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, agama, dan/atau
tokoh adat. Mekanisme penyelesaian konflik secara
damai merupakan kebijakan yang berlaku secara
nasional dan juga sudah diadposi oleh Kementerian
LHK.
The Forest Trust (TFT) telah melakukan kajian konflik
sosial di area-area konsesi kehutanan di dalam bentang
alam, untuk mendapatkan gambaran dan alternatif
penyelesaian konflik. Kajian itu mengembangkan
tiga konflik yang selama ini dikenal menjadi delapan
tipologi konflik.
Berdasarkan tipologi konflik tersebut, APP-TFT (2014)7
menyusun langkah-langkah penyelesaiannya sebagai
berikut:
Tipologi 1: identifikasi sejarah desa, peta desa,
kondisi lapangan, membangun kesepakatan,
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan perjanjian,
pelaporan berkala;
Tipologi 2: identifikasi asal-usul penguasaan lahan,
membangun komunikasi dengan pemerintah,
membangun kemitraan untuk kelembagaan,
pemantauan & evaluasi pelaksanaan kesepakatan;

7 Hasil Workshop on Analysis Recommendations ISFMP Development for TMA, WKS and RHM Jambi 28-29 Oktober 2014

67

68

BAB TIGA

Tipologi 3: identifikasi ulayat, overlay peta


ulayat dan areal kerja perusahaan, kepastian
batas tanah ulayat, identifikasi kondisi
fisik, membangun kesepakatan kemitraan,
pelaksanaan hasil kesepakatan, pemantauan
& evaluasi, dan pelaporan kegiatan;
Tipologi 4: identifikasi dan pemetaan
sumber penghidupan, diskusi pilihan dalam
pemenuhan kebutuhan dasar, membangun
kesepakatan penyelesaian sesuai pilihan
yang ada, pelaksanaan hasil kesepakatan,
pelaporan;
Tipologi 5: pengumpulan bukti & kronologi
penguasaan lahan, verifikasi bukti pemindahan
hak penguasaan lahan, pendekatan kepada
penggarap, ketersediaan laporan ke polisi
(proses hukum), pendekatan persuasif untuk
meninggalkan lahan, pemantauan & evaluasi
kemajuan penyelesaian, pelaporan;
Tipologi 6: identifikasi-susun kronologipengumpulan bukti, sosialisasi status
kawasan, pemasangan informasi/pamflet
peraturan kehutanan, pendekatan/persuasif
untuk meninggalkan lahan, proses hukum,
pemantauan dan evaluasi, pelaporan;
Tipologi 7: pengumpulan informasi dan bukti,
verifikasi proyek, koordinasi dan konsultasi
dengan pihak terkait, pemantauan & evaluasi,
pelaporan;
Tipologi 8: pengumpulan informasi dan bukti
pendukung, identifikasi tutupan lahan, upaya
hukum, pemantauan dan evaluasi, pelaporan.
Pembelajaran dari perusahaan-perusahaan
yang berupaya menyelesaikan konflik-konflik
di kawasan konsesinya perlu mendapatkan
perhatian dan apresiasi. Konflik dapat
dinyatakan selesai ketika sudah mencapai fase
implementasi kesepakatan, dengan urutan
sebagai berikut:
1. Fase I : a) pemetaan konflik, b) penyusunan
rencana kerja penyelesaian konflik

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Pasya & Sirait (2011) mengidentifikasi beberapa


tipe/gaya bersengketa, yaitu kompromi,
akomodatif, kolaboratif, kompetitif, provokatif/
agitatif, dan menghindar. Terhadap tipe
kompromi, akomodatif dan kolaboratif, maka
para pesengketa dianggap telah memiliki modal
sosial yang memadai untuk menyelesaikan
masalah melalui proses mediasi. Terhadap gaya
sengketa yang kompetitif (bersaing) dan agitatif
(menyerang), maka perlu dibangun kepercayaan
timbal balik (mutual trust) untuk meyakinkan
pihak yang bersengketa untuk mencapai
manfaat bersama melalui negosiasi. Terhadap
gaya menghindar, maka perlu dilaksanakan
identifikasi sengketa secara konstruktif, yaitu
adanya mediator yang mengajak masing-masing
pihak untuk mau dan bersedia menyampaikan
pendapatnya dalam kesempatan terpisah.

3.1.8 Model Konseptual (Miradi)


Perangkat lunak (software) Miradi digunakan
untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik
mengenai konflik sosial di setiap bentang alam
yang hasilnya ditampilkan pada Gambar III-8.
Seluruh bentang alam umumnya menghadapi
setidaknya 10 ancaman utama yang terkelompok
menjadi tiga kelompok, yaitu ancaman yang
bersumber pada infrastruktur, pemanfaatan
bentang alam yang berdampak berat, dan
ekstraksi sumberdaya yang berlebihan.

Gambar III-6. Peta sebaran konflik di sepuluh bentang alam


Sumber: Diolah dari berbagai sumber data

Kelompok pertama terdiri dari tiga ancaman


berupa
pembangunan
permukiman,
infrastruktur jalan/ kanal, dan penanaman
kayu produksi. Faktor pendorongnya adalah
tata batas kawasan yang tidak jelas sehingga
menyulitkan penegakan hukum, apalagi
diperlemah oleh praktik korupsi dalam
pengelolaan kawasan hutan. 8 Ketidakjelasan
tata batas itu memicu konflik antara masyarakat
dan pengelola kawasan terkait akses terhadap
sumberdaya dan kepemilikan lahan, serta
mendorong perpindahan penduduk/migrasi ke
dalam bentang alam yang dimanfaatkan para
spekulan tanah.

2. Fase II : a) pra negosiasi, b) negosiasi


3. Fase III : a) kesepakatan awal, b) tandatangan
Memorandum of Understanding (MoU)
4. Fase IV : a) implementasi kesepakatan

Kelompok kedua adalah kegiatan yang


berdampak berat pada keutuhan bentang
alam, yaitu kegiatan pertambangan (legal
dan illegal), kebakaran lahan dan hutan, serta
perubahan bentuk dan fungsi ekologi lahan.

8 Tempo.co. ICW: Sektor Kehutanan Rawan Korupsi. Minggu, 23 November 2014. http://bisnis.tempo.co/read/news/2014/11/23/090623852/icw-sektor-kehutanan-rawan-korupsi. Diakses 25 Juni 2015.

Gambar III-7. Tipologi konflik sosial sebelum dan sesudah kajian sosial
Sumber: APP-The Forest Trust, 2014

69

70

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

dinilai turut menggerakkan kegiatan ekstraktif


sumberdaya di dalam bentang alam. Fluktuasi
harga komoditas/produk terkait dengan
sumberdaya alam juga berkontribusi terhadap
pengurasan sumberdaya.

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan oleh tim gabungan


pemangku kepentingan di salah satu bentang alam di Sumatera,
Agustus 2015. (Foto: Adnun Salampessy/APP)

Kegiatan-kegiatan tersebut mampu mengubah


secara drastis karakteristik bentang alam,
yang dipicu oleh kurang terpadunya rencana
pembangunan daerah yang mengakibatkan
tumpang tindih kawasan-kawasan untuk
kegiatan yang berbeda. Contohnya alokasi
konsesi pertambangan di dalam kawasan
konservasi. Hilangnya fungsi ekologi dan
perubahan penggunaan lahan akibat okupasi
non-prosedural dan klaim lahan, misalnya
pembukaan hutan bakau untuk akuakultur
di
Padang Sugihan. Rendahnya kapasitas
masyarakat, kurangnya informasi mengenai
metoda-metoda alternatif pengelolaan lahan,
teknologi tepat guna, dan kebiasaan dalam
praktik tradisional terus mendorong praktikpraktik pembakaran lahan di beberapa
bentang
alam.
Faktor-faktor
ekonomi,
seperti ketersediaan dan permintaan pasar

Kelompok ketiga adalah ancaman yang timbul


akibat ekstraksi sumberdaya alam (SDA) yang
berlebihan, misalnya ekspansi pertanian,
perburuan satwa liar, dan penebangan kayu
illegal untuk bangunan atau untuk sumber
energi (misalnya, arang bakau di Senepis & di
Kubu). Rendahnya kesadaran dan ketrampilan
terhadap pertanian berkelanjutan dan tingginya
permintaan pasar terhadap komoditas tertentu
menjadi pemicu utama timbulnya ancamanancaman tersebut. Selain itu, kebiasaan dan
pengetahuan tradisional yang mendukung atau
sejalan dengan ancaman (misalnya penerapan
pola sonor di Padang Sugihan dan sekitarnya,
pengetahuan tradisional terhadap lokasi jelajah
satwa endemik yang disalahgunakan untuk
perburuan) memberikan kontribusi terhadap
keberlangsungan ancaman-ancaman yang
ada di setiap bentang alam. Dampak lanjut dari
setiap ancaman ini adalah terjadinya konflik
manusia-satwa yang terjadi di bentang alam,
melibatkan flagship species seperti gajah dan
harimau sumatera. Semua kegiatan itu, secara
akumulatif mengancam keutuhan bentang alam
dan kelestarian hutan alam.
Analisis umum mengenai seluruh bentang alam
dengan menggunakan Miradi disampaikan
dalam Gambar III-8.

Gambar III-8. Hasil analisis model konseptual Miradi di seluruh bentang alam target

71

72

BAB TIGA

3.2 KONDISI
ALAM

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

KHUSUS

BENTANG

3.2.1 Bentang Alam Senepis, Riau


Letak Bentang Alam dan Fokus Utamanya
Bentang AlamSenepis terletak antara 100 42
40.34-101 24 53.13 BT dan 2 18 6.4 LU 1 32 54.8 LU, dengan luas indikatif 322.966
hektar berada di Kota Dumai dan Kabupaten
Rokan Hilir dengan total 9 kecamatan dan 52
desa. Status kawasan hutannya terdiri dari 59%
HP, 7% HPK, 7% HPT, 2% KSA/KPA dan 26%
APL9. Fokus utama program di Senepis adalah
melindungi dan mempertahankan populasi
harimau sumatera melalui pembinaan habitat,
proteksi dan restorasi hutan/lahan gambut serta
pemberdayaan masyarakat.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Bentang Alam Senepis memiliki tipe ekoregion
hutan rawa gambut sumatera (77%) dan bakau
dangkalan sunda (18%). Sekitar 70% dari
bentang alam terletak di Daerah Aliran Sungai
(DAS) Rokan dan sisanya berada pada DAS/
SubDAS Buluhala, Dumai, Geniyut, Mampu,
Sentauhulu, dan Teras.
Di sebelah utara Bentang Alam Senepis
terdapat Cagar Alam Pulau Berkeh seluas 559
hektar, sesuai dengan penunjukan Keputusan
Menteri Pertanian No.13/Kpts/Um/3/1968. Belum
diketahui apakah cagar alam ini sudah melalui
tahap penetapan. Di Bentang Alam Senepis
pernah diusulkan dan telah mendapatkan
persetujuan prinsip dari Menteri Kehutanan
untuk pembentukan Kawasan Konservasi
Harimau Senepis-Buluhala (KKHSB) pada tahun
2006, namun hingga kini belum terwujud.

Di bentang alam ini sedikitnya terdapat 69


spesies vertebrata10, 40 spesies di antaranya
dilindungi11, 24 spesies masuk Daftar Merah
IUCN12, 42 spesies tergolong Appendiks I, II, III,
CITES dan 13 spesies kategori EDGE. Spesies
yang menjadi perhatian dunia adalah harimau
sumatera (Panthera tigris sumatrae). Selain itu
terdapat pula macan dahan (Neofelis nebulosa),
binturong (Arctictis binturong), beruang madu
(Helarctos malayanus), siamang (Hylobates
syndactylus), trenggiling (Manis javanica), dan
tapir (Tapirus indicus).
Walau Bentang Alam Senepis tidak menjadi
daerah prioritas Tiger Conservation Landscape,
Harimau sumatera adalah salah satu flagship
species yang masih bertahan di Senepis. Wells
(2007) memperkirakan populasinya di Senepis
antara 31-42 ekor. Insiden awal konflik manusiasatwa di sekitar Senepis tercatat pada tahun
1998. Hingga tahun 2007 sedikitnya terdapat 11
serangan yang mengakibatkan delapan orang
tewas. Penyebab konflik diduga akibat kegiatan
penebangan hutan dan konversi hutan menjadi
kebun yang telah menurunkan kualitas habitat
dan menurunnya jenis dan jumlah pakan (prey).
Di dalam budaya orang Melayu yang tinggal di
Senepis, harimau dianggap sebagai penegak
hukum atas perilaku yang salah dari warganya.
Pemangsaan hewan ternak dianggap sebagai
hukuman atas perilaku pemilik ternak yang
melanggar larangan adat. Namun serangan
harimau terhadap manusia tetap tidak dapat
diterima oleh warga Melayu Senepis. Sedikitnya
telah ditangkap tujuh ekor harimau untuk
mengurangi konflik, enam ekor diantaranya
dikirim ke Taman Safari Indonesia dan satu
ekor tewas (Wells, 2007). Dalam penanganan
konflik, seringkali harimau berada dalam posisi
yang dikalahkan: terbunuh. direlokasi, atau
diselamatkan ke kebun binatang.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat

Gambar III-9. Peta indikatif Bentang Alam Senepis, status kawasan, dan tipe ekoregion

9 HP: Hutan Produksi; HPK: Hutan Produksi Konversi; HPT: Hutan Produksi Terbatas; HL: Hutan Lindung; KSA: Kawasan Suaka Alam; KPA: Kawasan Pelestarian Alam;
APL: Areal Penggunaan Lain

Total jumlah penduduk kecamatan yang ada


dalam Bentang Alam Senepis adalah 371.701
jiwa. Penduduk terbanyak berada di Kecamatan
Dumai Barat (89.978 jiwa) dan yang paling sedikit
di Kecamatan Batu Hampar (7.213 jiwa). Mayoritas
penduduknya beragama Islam, sedangkan
etnisitasnya cukup beragam. Penduduk asli di
wilayah Bentang Alam Senepis adalah orang
Melayu. Kelompok suku pendatang yang telah

Tabel III-17. Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan


di dalam Bentang Alam Senepis

Kabupaten/
kota

Jumlah Jiwa
Kecamatan

Total
L

Dumai Barat

46.148

43.830

89.978

Sungai
Sembilan

14.438

13.027

27.465

Bangko

42.166

39.818

81.984

26.855

25.259

52.114

3.725

3.488

7.213

16.447

15.715

32.162

5.776

5.305

11.081

Tanah Putih

29.784

27.854

57.638

Tanah Putih
Tanjung
Melawan

6.088

5.978

12.066

Dumai

Bangko Pusako

Batu Hampar

Rokan Hilir

Rimba
Melintang
Sinaboi

371.701

Sumber: Provinsi Riau Dalam Angka 2014, Kabupaten Dalam Angka


2014 (Kota Dumai Dalam Angka, Kabupaten Rokan Hilir Dalam
Angka). L: Lelaki; P: Perempuan

mendiami wilayah ini bertahun-tahun adalah


Minang, Jawa, Bugis, dan Cina. Perkembangan
ekonomi daerah Rokan Hilir dan kota Dumai
telah mendorong masuknya masyarakat
pendatang untuk bekerja di berbagai sektor
usaha.
Mayoritas penduduknya, sebanyak 106.768
jiwa telah tamat Sekolah Dasar atau yang
sederajat. Penduduk yang berusia di atas 15
tahun dan bekerja jumlahnya 126.889 orang,
kebanyakan bekerja di sektor perkebunan
(32,58%),
pertanian
tanaman
pangan
padi dan palawija (12,91%), perdagangan
(12,88%) dan jasa kemasyarakatan (13,37%).
Persentase yang bekerja di sektor kehutanan,
perikanan dan pertambangan/galian secara
keseluruhan sekitar 6,1%.

10 HP: Hutan Produksi; HPK: Hutan Produksi Konversi; HPT: Hutan Produksi Terbatas; HL: Hutan Lindung; KSA: Kawasan Suaka Alam; KPA: Kawasan Pelestarian Alam;
APL: Areal Penggunaan Lain
11 PP No.7 Tahun 1999 dan UU No.5 Tahun 1990
12 Hanya yang berstatus Critically Endangered/CR, Endangered/EN, Vulnerable/VU, dan Near Threathened/NT

73

74

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Ancaman terhadap Bentang Alam Senepis

Gambar III-10. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Senepis

Sebagai perbandingan, luas lahan yang


ditanami jenis tanaman perkebunan jauh lebih
besar daripada tanaman pertanian, seperti padi
atau hortikultura. Sawit merupakan jenis yang
paling luas area penanamannya dibanding
karet, kelapa atau kakao.

Tabel III-18. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten


dalam Bentang Alam Senepis
Luas areal ditanam (hektar)
Jenis tanaman
Rokan Hilir

Dumai

Total

Pertanian

Padi sawah

12.271

244

12.515

Padi ladang

14

194

208

Jagung

510

41

551

Ubi kayu

316

223

539

Perkebunan

Karet

2.926

2355

5.281

Kelapa

5.469

1.929

7.398

273.145

36.345

309.490

260

26

286

Sawit

Kakao

Sumber: Sensus Pertanian 2013 (BPS Provinsi Riau, 2014)

Di Bentang Alam Senepis sedikitnya terdapat


empat ancaman langsung berupa konversi/
pengeringan lahan gambut, konversi kawasan
lindung harimau, perambahan kawasan,
dan konflik harimau-manusia. Kebijakan
tata ruang yang tidak selaras berkontribusi
terhadap tumpang tindihnya pengelolaan
lahan, pengembangan infrastuktur jalan
Sinaboi-Dumai telah memicu timbulnya konflik
lahan, perambahan kawasan dan konversi
kawasan hutan menjadi kebun dan permukiman.
Selain itu, gambut di Senepis juga terancam
oleh kegiatan-kegiatan pengeringan gambut.
Secara khusus, keterbatasan lahan budidaya
di sekitar kawasan hutan Senepis nampaknya
memberikan dorongan terjadinya konflik
lahan dan meningkatkan peluang konversi
hutan Senepis. Sekitar 11.000 hektar konsesi
perusahaan telah dikuasai oleh masyarakat
dengan berbagai tujuan penggunaan lahan.
Tingginya kebutuhan kayu untuk kepentingan
pembangunan daerah merupakan salah
satu pemicu terjadinya penbangan liar
akibat ketiadaan pasokan kayu. Daerah
bekas tebangan itu kemudian menjadi
sasaran perambahan dan spekulasi lahan.
Dinas Kehutanan Kota Dumai mengkonfirmasi
bahwa perusahaan pengolah kayu mendapatkan
pasokan bahan mentah dari hutan alam yang
diperoleh tanpa izin. Terhadap penguasaan
lahan, terdapat indikasi adanya jual beli lahan
di dalam kawasan hutan dengan dalih hak
ulayat. Rawa gambut yang tercatat sebagai area
terdampak Inpres Moratorium terancam karena
adanya klaim masyarakat setempat atas wilayah
itu dari perusahaan. Tiga perusahaan berbasis
kehutanan yang ada di Senepis menghadapi
persoalan tenurial dengan masyarakat sekitar
atau yang datang dari luar wilayah Senepis.
Tekanan-tekanan
tersebut
berpotensi
mengancam/mengurangi
area
yang
direncanakan menjadi KKHSB (Wells, 2007).
Pemanenan kayu bakau yang berlebihan untuk
dibuat menjadi arang juga akan menimbulkan
persoalan di sektor perikanan. Beberapa
kajian penilaian ekonomi hutan bakau
membuktikan bahwa nilai ekonomi arang
bakau jauh lebih rendah daripada perikanan.

Rehabilitasi
bakau
dengan
melibatkan
masyarakat sangat mendesak untuk dilakukan
di Bentang Alam Senepis.

Kelembagaan dan Para Pihak


Hingga kini belum ada kelembagaan formal atau
informal yang mengkoordinasikan pengelolaan
Bentang Alam Senepis. Di dalam Bentang
Alam Senepis, Pemerintah Provinsi Riau telah
mengusulkan pembentukan KKHSB tahun
2004, dan telah mendapatkan persetujuan
prinsip berdasarkan Surat Menteri Kehutanan
Nomor
S.04/Menhut-VII/2006
tertanggal
3 Januari 2006 yang ditujukan kepada Gubernur
Riau, dan Surat Menteri Kehutanan Nomor S.05/
Menhut-VII/2006 tertanggal 3 Januari 2006,
telah memerintahkan tindaklanjutnya kepada
Dirjen PHKA, Dirjen Bina Produksi Kehutanan,
dan Kepala Badan Planologi Kehutanan
untuk menindaklanjuti pembentukan KKHSB.
Pada tahun 2009-2011 telah dilakukan inisiatif
mengatasi konflik harimau-manusia oleh
Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera melalui
uji coba pemangsaan hewan dalam kandang.
Sejumlah kegiatan lanjutan telah dilakukan,
namun gagasan pembentukan KKHSB belum
terwujud. Pada pertemuan FGD di Pekanbaru
tanggal 22-23 April 2015, dan pertemuan
dengan perwakilan PT. Diamond Raya
Timber didapatkan konfirmasi bahwa para
pihak masih menunggu kelanjutan gagasan
KKHSB. Pelaksanaan KKHSB dapat menjadi
opsi penting karena Badan Pengelola KKHSB
dapat mensinergikan upaya-upaya konservasi
harimau sumatera di Bentang Alam Senepis,
yang sebagian besar berstatus hutan produksi.

serta penyelesaian konflik sosial masyarakat


secara damai. Perusahaan-perusahaan lain
yang menerapkan kebijakan pengelolaan hutan
lestari juga perlu mendapat perhatian dan
pemantauan secara berkala.
LSM dan pihak-pihak lain yang terkait dapat
ikut memantau dan memberikan masukan
pada implementasi kebijakan Pemerintah dan
Perusahaan. Strategi pelibatan yang masuk
kuadran II adalah dengan melakukan kolaborasi
antara pemerintah-perusahaan-LSM dalam
program aksi bersama pengelolaan Bentang
Alam Senepis secara nyata. Tingkat pengaruh
dan kepentingan dapat dilihat pada Lampiran 7.

3.2.2 Bentang Alam Giam Siak Kecil-Bukit


Batu, Riau
Letak Bentang Alam dan Fokus Utamanya
Bentang Alam GSKBB terletak antara 101 6
44.96-102 9 55.52BT dan 1 40 19.99 LU0 32 23.52 LU. Bentang alam seluas 941.200
hektar ini berada di Kabupaten Bengkalis,
Dumai, Kampar, Pekanbaru, Rokan Hilir dan
Siak, dengan total 23 kecamatan dan 148
desa. Status kawasannya terdiri dari 52% HP,
5% HPK, 2% HPT, 12% KSA/KPA dan 28% APL.
Bentang Alam GSKBB mencakup Cagar Biosfer
Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSKBB) dan
hutan produksi di sebelah selatan cagar biosfer.
Fokus utama program di GSKBB adalah proteksi
dan restorasi zona inti CB GSKBB sebagai habitat
harimau dan gajah sumatera, pemberdayaan
masyarakat, dan mempertahankan populasi
gajah dan harimau.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Peran yang telah diambil oleh pemerintah
pusat dan daerah berupa persetujuan prinsip
untuk membangun Kawasan Konservasi
Harimau Sumatera Senepis-Buluhala (KKHSB)
seluas 106,081 hektar memerlukan dukungan
dari semua pihak. Sebagian besar para pihak
di Senepis memiliki pola relasi yang tinggi
terhadap sumberdaya alam dan bentang alam.
Komitmen pihak swasta di dalam bentang
alam, seperti yang dilakukan Grup APP
melalui Forest Conservation Policy (FCP),
perlu didukung dan dipantau implementasinya
agar kebijakan itu terlaksana di tingkat tapak,
dan keberkelanjutannya untuk memulihkan
kerusakan ekosistem di dalam bentang alam

Bentang Alam GSKBB memiliki tipe ekosistem


hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan
hujan dataran rendah, dan bakau dangkalan
sunda. Bentang Alam GSKBB terletak di
DAS/SubDAS Siak, Siak Kecil, Bukit Batu,
Dumai, Kembeli Besar, Mesjid, dan Pelentung.
Sebagian besar Bentang Alam GSKBB telah
ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar
Biosfer pada tahun 2009 seluas 705.271 hektar,
yang mencakup SM Giam Siak Kecil, SM Bukit
Batu, dan blok hutan konsesi di antara dua
SM tersebut sebagai zona inti. Telah banyak
kegiatan penelitian keanekaragaman hayati di
CB GSKBB oleh peneliti dari dalam dan luar
negeri.

75

76

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-19. Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan di Bentang Alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu

Kabupaten/Kota

Kecamatan

Bengkalis

15.424

14.705

30.129

113.848

105.416

219.264

9.691

9.018

18.709

Pinggir

40.517

37.887

78.404

Bukit Kapur

19.958

18.093

38.051

Medang Kampai
Tapung Hilir

Pekanbaru

Rokan Hilir

4.780

10.199

39.183

82.249

27.191

24.931

52.122

20.370

20.963

41.333

Payung sekaki

43.872

42.711

86.583

Rumbai

33.551

31.074

64.625

Rumbai pesisir

33.047

31.651

64.698

Tenayan raya

62.977

60.178

123.155

Tanah Putih

29.784

27.854

57.638

Bunga raya

10.885

10.054

20.939

Kandis

30.135

27.627

57.762

Koto gasib

9.573

8.940

18.513

13.488

12.449

25.937

Pusako

2.675

2.366

5.041

Sabak auh

5.024

4.774

9.798

Siak

11.321

10.570

21.891

Sungai mandau
Gambar III-11. Peta indikatif Bentang Alam GSK-BB, status kawasan, dan tipe ekoregion

5.419
43.066

Lima puluh

Minas
Siak

Total

Bukit Batu

Tapung

Kampar

Mandau
Siak Kecil

Dumai

Jumlah Jiwa
L

Tualang

3.786

3.446

7.232

54.679

49.484

104.163

Jumlah TOTAL

988.098

Sumber: Provinsi Riau Dalam Angka 2014, Kabupaten/Kota Dalam Angka 2014. L: Lelaki; P: Perempuan

Salah satu kelompok Suku Anak Dalam yang bermukim di kawasan


hutan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Palembang,
2007. (Foto: Bambang Abimanyu)

Selain kedua suaka margasatwa itu, di dalam


Bentang Alam GSKBB juga terdapat Taman
Hutan Raya Minas dan Pusat Pelatihan Gajah
Duri. Tahura Minas (Sultan Syarif Hasim)
ditunjuk pada tahun 1996 dan telah ditetapkan
melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan
dan Perkebunan No.348/Kpts-II/1999 tentang
Penetapan Kelompok Hutan (Tahura) Minas
seluas 6.172 hektar sebagai kawasan hutan. Kini
Minas Tahura dikelola oleh KPH Minas Tahura
Provinsi Riau. Minas Tahura mengalami tekanan
yang luar biasa dalam bentuk penguasaan lahan
dan tanaman kelapa sawit. Di dalam kawasan
ini juga terdapat Pusat Konservasi Gajah Riau
(PKG) binaan BBKSDA Riau, yang dihuni 17 ekor
gajah. Tempat pelatihan ini sering dikunjungi
masyarakat untuk berwisata menunggangi
gajah

Di bentang alam ini sedikitnya terdapat 222


spesies vertebrata, 63 spesies di antaranya
dilindungi, 43 spesies masuk Daftar Merah
IUCN, 40 spesies tergolong Apendiks CITES,
dan 6 spesies kategori EDGE. Spesies penting
di bentang alam ini antara lain harimau dan
gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus),
beruang madu (Helarctos malayanus), ungko
(Hylobates agilis), dan tapir (Tapirus indicus).
Perkiraan populasi gajah sumatera di GSKBB
sekitar 90-110 individu. Intensitas konflik dalam
periode 2009-2014 termasuk sedang.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Lokasi Bentang Alam GSKBB berdekatan
dengan Bentang Alam Senepis dan Bentang
Alam Kampar, bahkan dua wilayah kabupaten/
kota yang bersinggungan dengan Senepis
juga masuk menjadi bagian Bentang Alam GSKBB.

Gambar III-12. Persentase pendidikan terakhir penduduk


kecamatan di Bentang Alam GSKBB

77

78

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Mayoritas penduduknya beragama Islam


dengan budaya asli Melayu. Beberapa
penduduk pendatang dari Pulau Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah sekitar
Riau membuat beragamnya komposisi etnis
penduduk di Bentang Alam GSKBB.
Berdasarkan tingkat pendidikannya, penduduk
yang berusia 5 tahun ke atas mengenyam
pendidikan SMA atau sederajat. Dari sekitar
438.030 jiwa, persentase penduduk yang
berusia 15 tahun ke atas dan bekerja di sektor
usaha perkebunan (26,02%), perdagangan
(17,23%),
jasa
kemasyarakatan
(12,51%),
konstruksi/bangunan (7,66%) dan industri
pengolahan (7,14). Penduduk yang bekerja
di bidang usaha pertanian, peternakan, atau
perikanan jumlahnya hanya sekitar 1-3% dari
total tenaga kerja.
Sensus Pertanian 2013 menunjukkan komoditas
perkebunan yang ditanam paling luas adalah
sawit, karet, dan kelapa. Hal ini berbeda
dengan luas area yang ditanam jenis tanaman
pertanian seperti padi, palawija dan hortikultura.
Pada tahun yang sama, luas areal yang ditanami
padi hanya sekitar 37.601 hektar sawah dan
lahan kering/ladang. Sedangkan total lahan
yang ditanami jagung dan ketela hanya sekitar
15.611 hektar.

Ancaman Terhadap Bentang Alam GSKBB

hingga 2014. Kebakaran hutan yang tidak


terkendali diasumsikan sebagai penyebab
utama deforestasi. Terjadinya kebakaran hutan
pada 2014 telah membakar setidaknya 101.723
hektar kawasan, dengan 9.335 hektar di zona
inti, dan 92.368 hektar di zona penyangga
dan transisi (Rushayati et al., 2015). Isu-isu
pemerintahan yang bertentangan dan belum
terpecahkan pada tingkat bentang alam dapat
menyebabkan konversi lahan dan kebakaran
hutan yang tidak terkendali.

struktur organisasi, pihak yang mengisi jabatan


dalam organisasi, serta uraian tugas organisasi.
Badan koordinasi belum sepenuhnya berjalan
sesuai harapan, tetapi Program MAB Indonesia
yang berada di LIPI tetap memberikan dukungan
penuh dalam pelaksanaan rencana pengelolaan
Cagar Biosfer GSKBB. Ketua Komite Nasional
Program MAB-LIPI, Prof. Purwanto, menyatakan
bahwa secara teknis sangat mungkin
mengusulkan Bentang Alam GSKBB sebagai
perluasan Cagar Biosfer GSKBB.

Ancaman yang memicu terjadinya permasalahan


sosial di Bentang Alam GSKBB terbagi dalam
tiga kelompok masalah, yaitu perambahan,
konversi lahan di dalam kawasan konservasi,
dan penebangan yang berlangsung pada
proses konversi itu. Perambahan didorong
oleh terbatasnya akses masyarakat ke sumber
penghidupan mereka di hutan akibat adanya
overlap antara wilayah jelajah mereka dengan
konsesi. Permasalahan terkait simpang siur
wilayah kelola, sengketa lahan dan penegakan
hukum, secara keseluruhan juga turut
mendorong terus terjadinya tiga ancaman
utama di Bentang Alam Giam Siak Kecil-Bukit
Batu. Di beberapa tempat terbangun persepsi
adanya tumpang tindih (overlap) kawasan desa
mereka dengan wilayah konsesi yang kemudian
mendorong mereka untuk memperlebar wilayah
dan memicu perambahan hutan alam.

Inisiasi CB GSKBB mendorong upaya


pengelolaan secara terpadu dengan para
pihak, termasuk perusahaan, LSM, pemerintah,
dan universitas untuk mengembangkan
pengelolaan di skala bentang alam. Pada
bulan April 2015, dilakukan pertemuan antara
MAB-Unesco, Dinas Kehutanan Bengkalis, Dinas
Kelautan dan Perikanan Bengkalis, Balitbang
Bengkalis, BLH Bengkalis, Bappeda Bengkalis
dan perwakilan Sinar Mas Group. Pembahasan
tersebut dititikberatkan pada masalah ekonomi,
lingkungan, dan penelitian13. Pengelolaan
cagar biosfer secara zonasi merupakan contoh
pengelolaan Bentang Alam GSKBB.

Kelembagaan dan Para Pihak

Walaupun ditunjuk sebagai cagar biosfer,


Bentang Alam GSK-BB masih menghadapi
tantangan dan ancaman serius. Analisis tata
ruang terkait perubahan pada tutupan lahan
dan penggunaan lahan mengindikasikan bahwa
tingkat deforestasi di cagar biosfer tersebut
telah mencapai 16.119 ha per tahun sejak 2010

Di Bentang Alam GSKBB telah ada lembaga


pengelola Cagar Biosfer GSKBB yang diberi
nama Badan Koordinasi Pengelolaan Cagar
Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, sesuai
SK Gubernur Riau No.Kpts.920/V/2010.
Di dalam keputusan itu juga sudah disampaikan

Tabel III-20. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten dalam Bentang Alam GSKBB

Luas areal ditanam (Hektar)

Kabupaten/Kota

Karet

Siak
Kampar

Kelapa

Sawit

Pinang

Kopi

Kakao

16.129

1.657

287.782

259

140

66

101.966

1.806

387.263

99

17

286

Bengkalis

3.786

12.684

198.642

1.005

343

Rokan Hilir

2.639

5.469

273.145

117

20

260

Pekanbaru

2.926

10.745

13

Dumai

2.355

1.929

36.345

103

29

26

129.801

23.551

1.193.922

1.583

549

651

Jumlah

Sumber: Sensus Pertanian 2013 (BPS Provinsi Riau, 2014)

Di bentang alam ini terlah terdapat inisiatif


lain dari pihak swasta untuk ikut menjaga
keanekaragaman hayati melalui kegiatan
budidaya, misalnya di Desa Temiang oleh
Sinar Mas Forestry/SMF bersama masyarakat
dan Universitas Riau.
Universitas Islam
Riau mengembangkan budidaya perikanan
masyarakat di Desa Tasik Betung. Demikian
juga inisiatif dari BKSDA untuk pengembangan
tiger sanctuary di SM Bukit Batu dapat
didorong
implementasinya.
Selain
itu,
contoh-contoh aktivitas kecil dalam bentuk desa
hijau dapat menjadi pembelajaran bagi peran
serta masyarakat dalam pelestarian lingkungan.
Peran pemerintah pusat dan daerah berperan
penting dalam implementasi kebijakan di tingkat
tapak agar tepat sasaran atau mengembangkan
kebijakan yang mendukung konservasi bentang
alam.
Pihak swasta dan KPH juga perlu
didorong untuk mengembangkan perhatiannya
ke hasil hutan non kayu, mendukung konservasi
dan pemberdayaan masyarakat. Strategi
pelibatan melalui kolaborasi/ pemberdayaan
(kuadran II), konsultatif di kuadran I, dan
pelibatan aktif para pihak di kuadran IV. Tingkat
pengaruh dan kepentingan para pihak dapat
dilihat pada Lampiran 7.

3.2.3 Bentang Alam Semenanjung Kampar,


Riau
Letak Bentang Alam dan Fokus Utamanya
Bentang Alam Semenanjung Kampar terletak
antara 101 48 3.2-103 6 30.95 BT dan
1 13 49.11 LU-0 10 8.08 LU. Bentang alam
seluas 743.726 hektar ini berada di Kabupaten
Pelalawan dan Siak dengan total 11 kecamatan
dan 74 desa. Status kawasan terdiri dari 70% HP,
3% HPK, 6% KSA/KPA dan 21% APL. Program
utama di bentang alam ini adalah proteksi
dan restorasi hutan dan lahektarn gambut,
pemberdayaan masyarakat, dan menjaga
populasi harimau sumatera.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Bentang Alam Semenanjung Kampar didominasi
tipe ekosistem hutan rawa gambut, hutan hujan
dataran rendah, hutan rawa air tawar, dan
bakau di pesisir. Bentang alam terletak pada
DAS/SubDAS Kampar, Siak dan Rawa. Di dalam
bentang alam ini terdapat empat kawasan
hutan konservasi, yaitu SM Danau Pulau BesarDanau Pulau Bawah (DPB), SM Tasik Belat,
SM Tasik Metas, dan SM Tasik Serkap. Suaka
Margasatwa DPB ditunjuk pada tahun 1980, dan
telah ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa
seluas 28.237,95 hektar berdasarkan SK
Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.668/
Kpts-II/1999. Kawasan ini penting sebagai
habitat harimau sumatera, buaya air tawar,
beruang madu, dan tapir serta vegetasi bernilai
ekonomi seperti meranti dan ramin. Kawasan
SM Tasik Belat dtunjuk pada tahun 1986, dan
telah ditetapkan sebagai suaka margasatwa
seluas 2.529 hektar berdasarkan SK Menteri
Kehutanan dan Perkebunan No.480/KptsII/1999.
Di dalam bentang alam ini terdapat setidaknya
156 spesies vertebrata, yang 61 spesies di
antaranya dilindungi, 50 spesies masuk Daftar
Merah IUCN, 58 spesies tergolong Appendiks
CITES, dan 11 spesies masuk dalam kategori
EDGE. Spesies penting di bentang alam ini
antara lain harimau sumatera, beruang madu,
trenggiling, siamang, gibbon, buaya senyulong,
mentok rimba, bangau tongtong, dan bluwok.

13 http://pesisirone.com/view/Politik---Pemerintahan/5726/Lembaga-Pengelola-Cagar-Biosfir-Giam-Bukit-Batu---Siak-Kecil-Rakor-Dengan-UNESCO-.html#.VWlQYWBRfdk diakses tanggal 30 Mei 2015

79

80

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-22. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten dalam Bentang Alam Semenanjung Kampar

Luas lahan ditanam/diolah (hektar) oleh rumah tangga petani


dan jenis tanaman perkebunan

Kabupaten
Kakao

Karet

Sawit

Kelapa

Kemiri

Kopi

Pinang

Sagu

Pelalawan

31,68

24.993,90

76.837,62

9.481,36

21,47

60,35

96,12

521,20

Siak

77,04

9.108,24

94.361,24

1.655,95

0,00

12,75

42,45

264,08

108,72

34.102,14

171.198,86

11.137,31

21,47

73,09

138,57

785,28

Total (Hektar)

Sumber: Sensus Pertanian 2013 (BPS Provinsi Riau, 2014)

Gambar III-13. Peta indikatif Bentang Alam Semenanjung Kampar, status kawasan, dan tipe ekoregion

paling tinggi, yakni 177,44 jiwa per km2, adalah


Kecamatan Kerinci Kanan di Kabupaten Siak;
sementara wilayah kecamatan dengan timhlat
kepadatan penduduk paling reandah, yakni
0,03 jika per km2, adalah Kecamatan Teluk
Meranti di Kabupaten Pelalawan.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Bentang Alam Semenanjung Kampar meliputi
sebagian wilayah administrasi Kabupaten
Siak dan Pelalawan, Provinsi Riau. Terdapat 11
kecamatan di dalam bentang alam dengan jumlah
penduduk sekitar 245.586 jiwa ini. Kecamatan
yang memiliki tingkat kepadatan penduduk

Tabel III-21. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk kecamatan dalam Bentang Alam Semenanjung Kampar

Kabupaten

Kecamatan

Total
( jiwa)

Kepadatan
(Jiwa/km2)

232,2

14.020

12.525

26.545

114,30

Kerinci Kanan

128,7

11.994

10.835

22.829

177,44

Koto Gasib

704,7

9.573

8.940

18.513

26,27

Lubuk Dalam

155,1

8.732

8.229

16.961

109,36

Mempura

437,5

7.329

6.790

14.119

32,28

Pusako

544,5

2.675

2.366

5.041

9,26

Sungai Apit

1.346,3

12.809

12.203

25.012

18,58

150.265,2

9.183

8.439

17.622

0,12

Pangkalan Kerinci

19.355,5

36.338

33.106

69.444

3,59

Pelalawan

149.811,3

8.233

7.155

15.388

0,10

423.984,4

7.316

6.796

14.112

0,03

Kuala Kampar
Pelalawan

Jumlah Jiwa
L

Dayun

Siak

Luas (km2)

Teluk Meranti

245.586
Sumber: Provinsi Riau Dalam Angka, 2014, Kabupaten Dalam Angka, 2014 (BPS Kabupaten Pelalawan, BPS Kabupaten Siak). L: Lelaki;
P: Perempuan

Gambar III-14. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Semenanjung Kampar

Sebanyak 85,69% penduduk di kedua


kabupaten
di
dalam
Bentang
Alam
Semenanjung Kampar menganut agama Islam,
sedangkan penganut agama Protestan 11,7%.
Sisanya adalah penganut agama Katolik,
Hindu, Buddha, dan Konghucu. Persentase
penduduk kecamatan dalam Bentang Alam
Semenanjung Kampar yang berusia 15 tahun
ke atas berdasarkan pendidikan terakhir
mayoritasnya lulusan SD/sederajat (27,44%) dan
tidak lulus SD/sederajat (21,12%). Jumlah mereka
yang berpendidikan tingkat lanjutan, sebanyak
21,08% berpendidikan SMA/SMK/sederajat
dan 18,06% adalah pendidikan SMP/sederajat.
Sedangkan mereka yang memiliki pendidikan
tinggi hanya sekitar 6%.
Jumlah tenaga kerja produktif di Bentang
Alam Semenanjung Kampar sekitar 93.472
orang. Sebagian besar bekerja di subsektor
perkebunan, yaitu 37,28%. Jumlah terbanyak
lainnya adalah kelompok penduduk yang
bekerja di bidang perdagangan (12,28%) serta
jasa kemasyarakatan (11,33%). Ada sekitar
7,80% dari total yang bekerja di bidang industri
pengolahan, 5,49% di bidang konstruksi/
bangunan, dan 5,31 di bidang jasa pendidikan.
Kelompok penduduk yang bekerja dalam sektor
pertanian padi dan palawija hanya sekitar 4,13%.

Subsektor perkebunan merupakan andalan


pekerjaan sebagian besar penduduk wilayah
kecamatan dalam Bentang Alam Semenanjung
Kampar. Di luar jumlah penduduk yang bekerja
pada perusahaan-perusahaan perkebunan,
hasil Sensus Pertanian 2013 (BPS, 2014)
menunjukkan bahwa di tingkat rumah tangga
petani, kelapa sawit menjadi komoditas yang
paling banyak ditanam di lahan-lahan mereka.
Luasan lahan yang ditanami kelapa sawit
mencapai 171.191,86 hektar. Jumlah tersebut
mencapai lebih dari lima kali lipat luas lahan
yang ditanami karet, yang jumlahnya sekitar
34.102,14 hektar.

Ancaman terhadap Bentang Alam


Semenanjung Kampar
Terdapat tiga ancaman utama di bentang alam ini,
yaitu penebangan hutan alam, pengambilalihan
lahan hutan alam dan perambahan, serta
perusakan vegetasi yang berlangsung di luar
kawasan lindung. Perusakan vegetasi yang
terjadi karena proses pelibatan masyarakat
yang kurang tepat dan memicu terjadinya
gesekan. Di beberapa tempat, pembangunan
infrastruktur perkebunan di Bentang Alam
Semenanjung Kampar ini berbenturan dengan
konflik lahan. Secara umum, konflik lahan dipicu
oleh ketidakpasitan hak kelola atas tanah dan
kondisi ini bisa memutus akses masyarakat
terhadap sumber-sumber penghidupan mereka
di kawasan yang disengketakan. Kondisi ini
kemudian memaksa warga untuk memindahkan
kegiatan-kegiatan
penghidupan
mereka
ke lokasi lain yang dapat menimbulkan tekanan
bagi hutan di Bentang Alam Semenanjung Kampar.

Kelembagaan dan Para Pihak


Di Bentang Alam Semenanjung Kampar, para
pihak yang teridentifikasi meliputi Pemerintah
Pusat (UPT), Pemerintah Daerah, Perusahaan,
dan LSM Lingkungan. Terdapat dua desa

81

82

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

di bentang alam ini yang sudah mendapatkan


izin PAK dari Menteri Kehutanan, namun SK
Gubernur untuk mendapatkan HPHDesa belum
diterbitkan dengan alasan belum selesainya
masalah RTRW. Di bentang alam ini juga sudah
beroperasi KPHP Tasik Besar Serkap (TBS), yang
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjangnya telah disetujui Menteri Kehutanan. Rencana
bisnis yang sedang dikembangkan adalah
penangkaran ikan arwana, buaya, budidaya
karet dan sagu. KPHP TBS telah membentuk
Forum Masyarakat Semenanjung Kampar dan
menjalin kerja sama proyek REDD+ dengan
Korea di areal seluas 14.000 hektar. Kawasan
KPH ini berada di Kabupaten Pelalawan dan
Siak.
Beberapa peran yang telah dilakukan oleh para
pihak yang teridentifikasi antara lain rencana
pengelolaan dan PDD REDD+ (didukung
oleh FFI, APRIL, Seknas KPH, Koica, GIZ),
Program dari GEF-FFI, Tiger Conservation
Landscape sebagai salah satu lokasi untuk
program pemulihan harimau sumatera secara
nasional oleh pemerintah dan LSM, rencana
pengembangan restorasi ekosistem, serta
pembelajaran pengelolaan Hutan Desa yang
didampingi oleh LSM (Jikalahari, Yayasan
Mitra Insani). Forum Masyarakat Penyelamat
Semenanjung Kampar (FMPSK) merupakan

wadah untuk mendorong pengelolaan bentang


alam ke depannya. Beberapa contoh inisiatif
tersebut menarik untuk ditindaklanjuti secara
kolaboratif untuk pengembangan bentang alam
secara lebih luas karena pola relasi yang tinggi
dari para pihak pada sumberdaya alam dan
bentang alam. Strategi pelibatannya dengan
berkolaborasi sebagai para pihak yang kritis
pada kuadran II. Untuk tingkat pengaruh dan
kepentingan para pihak dapat dilihat pada
Lampiran 7.

Tabel III-23. Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan dalam Bentang Alam Kerumutan

Kabupaten

Indragiri Ilir

3.2.4 Bentang Alam Kerumutan, Riau

Kecamatan

Jumlah Jiwa

Total

Batang Tuaka

13.642

12.770

26.412

Gaung
Gaung Anak Serka

19.903

18.670

38.573

10.750

10.502

21.252

Kateman

22.845

20.938

43.783

Kempas

16.898

15.743

32.641

Mandah

19.441

18.806

38.247

23.032

18.886

41.918

11.422

10.139

21.561

Pelangiran
Pulau Burung

Letak Bentang Alam dan Fokus Utamanya

Teluk Belengkong

Bentang AlamKerumutan terletak di antara 101


54 1.88-103 48 51.87BT dan 0 32 38.12 LU0 32 20.01 LS. Bentang alam seluas 1.334.850
hektar ini berada di wilayah Kabupatenkabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan
Pelalawan, dengan total 26 kecamatan dan
216 desa. Status kawasan terdiri dari 31% HP,
45% HPK, 4% HPT, 7% KSA/KPA, dan 13% APL.
Program utamanya adalah proteksi dan restorasi
hutan dan lahan gambut, perluasan kawasan
lindung dan menghubungkan antarkawasan
lindung, pemberdayaan masyarakat, dan
mempertahankan populasi harimau sumatera.

8.409

7.717

16.126

Tembilahan

35.073

34.425

69.498

Tembilahektarn Hulu

21.480

21.195

42.675

Tempuling

15.148

14.436

29.584

Kuala Cenaku

6.034

5.738

11.772

Indragiri Hulu

Lirik

12.202

11.216

23.418

Rengat

22.963

23.086

46.049

Rengat Barat

20.603

19.216

39.819

Bandar Petalangan

6.500

6.135

12.635

Bunut

6.080

5.674

11.754

Kerumutan

9.972

9.143

19.115

Kuala Kampar
Pelalawan

9.183

8.439

17.622

Pangkalan Kerinci

36.338

33.106

69.444

Pangkalan Kuras

23.669

21.403

45.072

Pangkalan Lesung

13.378

11.873

25.251

Pelalawan
Teluk Meranti

8.233

7.155

15.388

7.316

6.796

14.112

Ukui

17.324

14.969

32.293
806.014

Sumber: Provinsi Riau Dalam Angka, 2014; Kabupaten Dalam Angka, 2014 (BPS Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu,
Kabupaten Pelalawan). L: Lelaki; P: Perempuan

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati

Gambar III-15. Peta indikatif Bentang Alam Kerumutan, status kawasan, dan tipe ekoregion

Bentang Alam Kerumutan memiliki tipe


ekosistem yang didominiasi oleh hutan rawa
gambut dengan ketebalan lebih dari 4 meter,
hutan hujan dataran rendah, hutan rawa air
tawar, dan bakau. Bentang alam terletak pada
DAS/SubDAS Kampar, Danai, dan Kateman.
Di dalam bentang alam ini terdapat SM Kerumutan
seluas 120.000 hektar berdasarkan penunjukan
SK Menteri Pertanian No.Kep.13/3/1968, dan
telah dikukuhkan sebagai suaka margasatwa
seluas 93.223 hektar berdasarkan SK Menteri
Pertanian No. 350/Kpts/II/6/1979.

Setidaknya terdapat 73 spesies vertebrata,


53 spesies di antaranya dilindungi, 35 spesies
masuk Daftar Merah IUCN, dan 46 spesies
tergolong Apendiks CITES, dan 11 kategori
EDGE. Flagship speciesnya sama dengan yang
ada di bentang alam Semenanjung Kampar, yaitu
harimau sumatera. Yayasan WWF adalah salah
satu LSM yang sedang melakukan penelitian di
wilayah ini untuk mendeteksi kehadiran harimau
sumatera. Di bentang alam ini ditemukan pula
macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang
madu, rangkong badak (Buceros rhinoceros),
ikan arwana (Schleropages formosus), mentok
rimba (Cairina scutulata) dan buaya sinyulong.

83

84

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Suaka Margasatwa Kerumutan juga merupakan


wilayah singgah burung migran dan merupakan
kawasan Important Bird Area.

dan lahan, perambahan kawasan, penebangan


hutan di kawasan konservasi, dan konversi
yang terkait dengan penebangan tersebut
yang menyebabkan timbulnya permasalahan
sosial. Kombinasi faktor kebijakan ruang
yang tumpang tindih, penegakan hukum
yang tidak konsisten berkontribusi terhadap
terjadinya ancaman langsung. Selain itu konflik
pengelolaan lahan yang timbul dapat memutus
akses masyarakat terhadap sumberdaya alam.
Kesemuanya ini secara bersama-sama atau
tersendiri mendorong meluasnya perambahan.
Permalahan tumpang tindih antara izin konsesi
dan kawasan konservasi secara khusus telah
menyebabkan terjadinya pnebangan kayu di
kawasan konservasi.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Bentang Alam Kerumutan berada dalam wilayah
administrasi Provinsi Riau, yang meliputi tiga
kabupaten: Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan
Pelalawan. Jumlah kecamatan yang wilayahnya
bersinggungan
dengan
Bentang
Alam
Kerumutan cukup banyak, yaitu 26 kecamatan.
Adapun total penduduk kecamatan dalam
Bentang Alam Kerumutan pada tahun 2014
tercatata 806.014 jiwa. Mayoritas penduduk
beragama Islam, sedangkan etnis penduduknya
mencakup Melayu, Jawa, Minang, dan beberapa
suku asal Pulau Sulawesi. Di bentang alam ini
terdapat dua suku asli minoritas, yaitu Suku
Petalangan dan Duanu. Terdapat 29 pebatinan
dan kepenghuluan di bentang alam ini yang
berasal dari Kerajaan Pelalawan.
Jumlah penduduk usia produktif di Bentang
Alam Kerumutan 323.924 jiwa, mayoritas bekerja
di perkebunan (45,30%), dan sisanya di sektor
perdagangan (11,27%), jasa kemasyarakatan
(9,22%), dan pertanian pangan/padi dan
palawija (9,09%). Adapun persentase pekerja
di bidang usaha lain tidak begitu menonjol,
seperti industri pengolahan (5,55%), konstruksi/
bangunan (3,39%), perikanan (2,04%), serta
kehutanan (1,04%).
Berdasarkan tingkat pendidikannya, penduduk
yang berusia lima tahun ke atas mayoritas
memiliki latar belakang pendidikan SD/
sederajat (33,91%), sebanyak 21,93% belum
atau tidak tamat SD atau pendidikan dasar.

Gambar III-16. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Kerumutan

Tingkat pendidikan lebih dari separuh


penduduk kecamatan dalam Bentang Alam
Kerumutan berada pada tingkat pendidikan
dasar; sedangkan yang menempuh pendidikan
lanjutan SMP/sederajat sebanyak 17,16% , dan
pendidikan lanjutan SMA/sederajat 16,22%.
Berdasarkan luas lahan dan jenis tanaman,
komoditas perkebunan merupakan andalan
penduduk dalam kecamatan di Bentang Alam
Kerumutan, terutama sawit yang luasannya
mencapai 546.094 hektar, serta kelapa
dengan luas lahan tertanam sebanya 461.031
hektar. Lahan tanaman kelapa terluas berada
di Kabupaten Indragiri Hilir, sedangkan sawit
banyak ditanam di Indragiri Hilir dan Pelalawan.

Ancaman terhadap Bentang Alam


Kerumutan
Terdapat empat ancaman utama di Bentang
Alam Kerumutan, yaitu kebakaran hutan

Tabel III-24. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten dalam Bentang Alam Kerumutan

Kabupaten/Kota
Indragiri Hulu
Indragiri Hilir
Pelalawan
Total luas lahan tertanam

Luas lahan ditanam dan jenis tanaman perkebunan (hektar)


Karet

Kelapa

Sawit

Kopi

Pinang

61.372

1.828

11.897

348

383

5.369

442.335

228.052

1.237

16.384

29.074

16.868

306.145

1.289

53

95.815

461.031

546.094

2.874

16.820

Sumber: Sensus Pertanian 2013 (BPS Pelalawan, BPS Indragiri Hulu, BPS Indragiri Hilir, 2014)

Kelembagaan dan Para Pihak


Hingga kini belum ada kelembagaan formal atau
informal yang mengkoordinasikan pengelolaan
Bentang Alam Kerumutan. Pemetaan para pihak
di Bentang Alam Kerumutan menunjukkan
pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan
meliputi pemerintah, perusahaan, dan LSM.
Pemerintah Pusat lebih banyak berperan pada
penyusunan kebijakan di tingkat nasional dan
implemetasinya, sedangkan Pemerintah Daerah
berperan pada kebijakan daerah. LSM banyak
berperan dalam peningkatan kapasitas serta
pendampingan masyarakat. Namun peran LSM
dapat dioptimalkan untu memantau praktekpraktek pemanfaatan hutan yang merusak oleh
perusahaan agar dapat dicegah lebih awal.
Pada taraf inisiatif, Kerumutan merupakan target
Tiger Conservation Lanscape yang menarik
perhatian global. Diperlukan terobosan berupa
peran aktif dan nyata dari pemerintah pusat
dan daerah serta LSM. Pemerintah Pusat dapat
mendorong dan mendukung implementasi di
tingkat pusat dengan menggalang dukungan
secara nasional maupun internasional agar
bentang alam ini mendapat perhatian, serta
kontrol perizinan skala nasional bagi perusahaan
yang beroperasi di bentang alam ini. Pemerintah
Daerah berperan untuk mengontrol izin-izin
yang dikeluarkan di tingkat daerah,. LSM dapat
berperan untuk penyiapan sumberdaya dan
penyadartahuan (awareness) secara menyeluruh
serta pendampingan kepada masyarakat sekitar
bentang alam. Gambaran tingkat pengaruh dan
kepentingan para pihak ditampilkan di Lampiran 7.

Atas: Abimanyu, seekor harimau sumatera (Panthera tigris


sumatrae) jantan dewasa yang terpantau tengah menjelajah
di dalam kawasan hutan lindung dalam sebuah konsesi hutan
tanaman di Bentang Alam Berbak-Sembilang, Sumatera SelatanJambi, September 2015. (Foto: Dok. APP)

Bawah: Kijang (Muntiacus muntjak), satwa yang memiliki fungsi


ekologis penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di hutan
tropis Sumatera sebagai salah satu satwa mangsa utama bagi
harimau sumatera. Gambar diambil pada Mei 2004.
(Foto: Dolly Priatna)

85

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

3.2.5 Bentang Alam Bukit Tigapuluh,


Riau dan Jambi
Letak Bentang Alam dan Fokus Utamanya

Gambar III-17. Peta indikatif bentang alam Bukit Tigapuluh, status kawasan, dan tipe ekoregion

86

Bentang AlamBukit Tigapuluh terletak di antara


101 17 41.39-103 7 5.53 BT dan 0 22
22.61 LS-1 35 0.66 LS. Bentang alam seluas
1.067.002 hektar berada di Kabupaten Indragiri
Hilir, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi
(Provinsi Riau) dengan total 21 kecamatan dan
217 desa; dan di Kabupaten Bungo, Tanjung
Jabung Barat, dan Tebo (Provinsi Jambi) dengan
total 9 kecamatan dan 76 desa. Status kawasan
terdiri dari 27% HP, 4% HPK, 13% HPT, 7% HL,14%
KSA/KPA dan 36% APL. Fokus utamanya adalah
proteksi, restorasi, dan memperluas hutan alam
di daerah penyangga sekitar taman nasional;
Membuat koridor satwa, pemberdayaan
masyarakat sekitar, menjaga populasi orangutan,
gajah, dan harimau sumatera, dan pengaturan
akses untuk meningkatkan perlindungan
TN Bukit Tigapuluh.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Tipe ekosistem Bentang Alam Bukit Tigapuluh
adalah hutan hujan dataran rendah (97%) dan
sedikit hutan rawa gambut (3%). Bentang alam
terletak pada DAS/SubDAS Gangsal, Batanghari,
dan Tungkal. Di bentang alam ini terdapat TN
Bukit Tigapuluh yang penunjukannya terjadi
pada tahun 1995, dan ditetapkan berdasarkan
SK Menteri Kehutanan No.6407/Kpts-II/2002
seluas 144.223 hektar.
Di bentang alam ini sedikitnya terdapat 128
spesies vertebrata, 56 spesies di antaranya
dilindungi, 64 spesies masuk Daftar Merah
IUCN, dan 46 spesies tergolong Apendiks CITES
dan 16 spesies kategori EDGE. Spesies penting
di bentang alam ini antara gajah dan harimau
sumatera. Orangutan sumatera hasil introduksi
di Bukit Tigapuluh populasinya sekitar 103 ekor,
hampir seluruhnya berasal dari orangutan
hasil rehabilitasi di Sumatera Utara. Perkiraan
populasi gajah sumatera di Bukit Tigapuluh
antara 35-55 individu. Intensitas konflik dalam
periode 2009-2014 termasuk tinggi. Kerugian
terjadi dengan adanya 2 korban jiwa tewas
dan 6 individu gajah mati; sedangkan kerugian
material adalah rusaknya kebun sawit, rumah,
sawah, dan tanaman palawija. Faktor penyebab
konflik adalah hilangnya habitat gajah akibat
degradasi dan fragmentasi hutan (SRAK Gajah
Sumatera, 2007). Sedangkan populasi harimau

sumatera di Bukit Tigapuluh diduga sekitar


7-44 individu.
Selain itu, terdapat beberapa spesies yang
penting untuk ilmu pengetahuan dan konservasi,
antara lain mentok rimba (Cairina scutulata),
bluwok (Mycteria cinerea), beberapa jenis
rangkong seperti rangkong gading (Rhinoplax
vigil), macan dahan, beruang madu, trenggiling,
dan kukang.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Area bentang alam Bukit Tigapuluh berada di
dua provinsi yang meliputi 6 kabupaten, yaitu
Kabupaten Bungo, Tanjung Jabung Barat, dan
Tebo di Jambi, serta Kabupaten Indragiri Hilir,
Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi di Provinsi
Riau.
Total penduduk dari seluruh kecamatan di
Bentang Alam Bukit Tigapuluh adalah 754.485
jiwa. Mayoritas penduduk beragama Islam
(94,82%), sebagian kecil beragama Katolik
(4,24%), dan sisanya penganut agama Protestan,
Hindu, Buddha, Konghucu dan agama lainnya.
Dari total penduduk yang berusia 5 tahun atau
lebih kebanyakan memiliki pendidikan terakhir
Sekolah Dasar/sederajat (32%), dan sekitar 23%
dari mereka yang tidak atau belum tamat SD.
Persentase penduduk yang memiliki pendidikan
lanjutan tingkat SMP dan yang sederajat
sebanyak 18%, sedangkan SMA/SMK/sederajat
sebesar 15%. Sedangkan mereka jumlah yang
berpendidikan sarjana dan pascasarjana hanya
sekitar 2,1%.
Ada sekitar 303.170 penduduk usia produktif
yang mayoritas bekerja di perkebunan (62,37%)
atau 189.102 orang, jauh melampaui jumlah
penduduk yang bekerja di bidang lain, seperti
perdagangan (11,31%), jasa kemasyarakatan
(6,66%), dan jasa pendidikan (4,82%).

Gambar III-18. Persentasi pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Bukit Tigapuluh

87

88

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Bahkan yang bekerja di bidang pertanian padi/


palawija jumlahnya sangat sedikit, yaitu 15.204
(5,22%). Besarnya jumlah pekerja di perkebunan
menunjukkan sektor ini mampu menyerap tenaga
kerja, khususnya pada rumah tangga petani.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2013 terlihat
bahwa rumah tangga petani di dalam dan sekitar
bentang alam mengandalkan tiga komoditas
utama, yaitu karet, kelapa sawit dan kelapa.

Tabel III-25. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk kecamatan dalam Bentang Alam Bukit Tigapuluh

Kabupaten
Bungo
Tanjung Jabung Barat

Kecamatan

Indragiri Hilir

7.574

7.082

14.656

57,63

Tungkal Ulu

346

6.428

6.158

12.586

36,41

Merlung

312

8.009

7.293

15.302

49,10

40.692

31.163

28.658

59.821

1,47

Sumay

126.800

9.066

8.519

17.585

0,14

Tebo Ilir

70.870

12.797

12.212

25.009

0,35

Tebo Tengah

98.356

17.745

16.600

34.345

0,35

Tebo Ulu

41.030

15.839

15.496

31.335

0,76

Vii Koto

65.879

9.253

8.605

17.858

0,27

15.418

14.229

29.647

778

14.552

13.679

28.231

36,29

4.673

4.307

8.980

Seberida

63.433

24.187

21.968

46.155

0,73

Batang Cenaku

85.516

14.846

13.547

28.393

0,33

Batang Gansal

16.263

14.179

12.711

26.890

1,65

Kelayang

10.730

10.558

21.288

Rakit Kulim

10.158

9.675

19.833

Kemuning
Batang Peranap

Pasir Penyu

15.888

15.228

31.116

Lirik

220

12.202

11.216

23.418

106,25

Sungai Lala

180

6.601

6.337

12.938

71,72

20.603

19.216

39.819

Benai

249

16.484

15.900

32.384

129,87

Cerenti

456

7.149

6.909

14.058

30,83

Gunung Toar

165

6.393

6.299

12.692

76,80

Hulu Kuantan

384

4.119

3.947

8.066

20,98

Inuman

450

7.212

7.179

14.391

31,98

Rengat Barat

Kuantan Singingi

Kepadatan
( jiwa/km2)

254

Peranap

Indragiri Hulu

Total
( jiwa)

Jujuhan

Rimbo Bujang

Tebo

Jumlah
penduduk

Luas (km2)

13.069

12.952

26.021

Kuantan Mudik

Kuantan Hilir

1.386

16.383

15.416

31.799

22,94

Kuantan Tengah

292

26.880

25.828

52.708

180,67

145

8.532

8.629

17.161

118,09

Pangean
Total

Sumber: Provinsi Riau Dalam Angka 2014, Provinsi Jambi Dalam Angka 2014, Kabupten Dalam Angka 2014
(BPS Provinsi Riau, BPS Provinsi Jambi). L: Laki-laki; P: Perempuan

754.485

Kelembagaan dan Para Pihak


Berdasarkan pengaruh dan kepentingan para
pihak, maka keterlibatan para pihak dalam
pengembangan konservasi bentang alam di
Bentang Alam Bukit Tigapuluh melalui strategistrategi kolaborasi karena sebagian besar
berada di kuadran II. Tindak lanjut dan inisiasi
yang menarik serta perlu ditindaklanjuti adalah
adanya wadah yang dibentuk Pemerintah
Provinsi berdasarkan SK Gubernur Jambi
No. 356/Kep.Gub/Ekbang&SDA/2011 tentang
Komisi Daerah REDD+ Provinsi Jambi sehingga
upaya ini dapat bersinergi dengan penyusunan
strategi dan rencana aksi provinsi/SRAP REDD.

Dari jenis-jenis tanaman perkebunan yang


paling menonjol, tanaman kelapa sawit
cenderung merata dikelola rumah tangga petani
di seluruh kabupaten dalam Bentang Alam Bukit
Tigapuluh. Sedangkan tanaman karet cukup
luas pada wilayah Kabupaten Tebo, Provinsi
Jambi, sedangkan lahan yang ditanami kelapa
dan sagu dominan dikelola oleh keluarga petani
di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Beberapa inisiatif yang sudah ada meliputi


dukungan dari TNBT untuk pengelolaan
kawasan bentang alam bersama FZS
(Bukit Tigapuluh Ecosystem Conservation
Implementation Plan), yang didukung oleh
Pemda Tebo, Tanjabar, Indragiri Hulu, Indragiri
Hilir, WWF, Warsi, ZSL, PKHS-2009. Inisiatif
lainnya adalah dari Pemerintah Daerah/Dishut
dalam rencana pengelolaan hutan di lingkup
Provinsi Jambi. Inisiatif dari perusahaan dan
LSM difokuskan untuk pengamanan kawasan/
patroli satwa liar (LAJ, WWF, FZL). Inisiatif untuk
konservasi di kawasan konsesi antara lain
oleh PT. LAJ, TMA, dan Arangan. Sedangkan
kegiatan restorasi ekosistem oleh PT Alam Bukit
Tigapuluh yang menggunakan area ex-PT Dalek
dan blok II, dengan kegiatan pemberdayaan
masyarakat, restorasi, dan pengamanan.

Ancaman terhadap Bentang Alam Bukit


Tigapuluh
Terdapat sedikitnya empat ancaman utama
di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, yaitu
perambahan kawasan hutan, perluasan
perkebunan sawit, pertambangan yang
tumpang tindih dengan kawasan hutan dan
berlangsungnya pembalakan liar. Ketidakjelasan
perencanaan dan alokasi ruang menghadirkan
berbagai masalah, termasuk kurang jelasnya
batas konsesi. Selain itu tekanan ekonomi juga
telah menggerakkan persaingan antarkelompok
yang memicu ekspansi perkebunan sawit oleh
sebagian warga. Lemahnya penegakan hukum
membuka peluang terjadinya kegiatan-kegiatan
illegal yang berujung pada degradasi hutan
alam di bentang alam ini.

Pertemuan para pihak di Jambi tanggal 27 Mei


2015 menyepakati adanya Forum Bentang
Alam Bukit Tigapuluh untuk mendukung
pengelolaan Bentang Alam Bukit Tigapuluh.

Tabel III-26. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten dalam Bentang Alam Bukit Tigapuluh
Luas lahan (hektar) dan jenis tanaman perkebunan
Nama Kabupaten
Cengkeh
Kuantan Singingi
Indragiri Hulu
Indragiri Hilir
Tanjung Jabung
Barat
Tebo
Bungo
Total luas
(Hektar)

Karet

Sawit

7,01

Kakao
149,26

47.925,25

36.469,14

Kelapa
288,00

10,15

0,05

8,62

0,13

0,00

0,26

533,94

46.810,77

79.434,38

262,05

14,94

0,01

182,84

0,00

0,50

5,30

93,10

3.939,32

61.178,64

468,58

0,17

10.055,61

1.108,03

13,89

0,00

77,22

9.754,04

54.711,50

3.792,77

3,18

16.712,97

0,00

0,00

210.107,10
35.587,47

Kopi

Lada

Pinang

Sagu

Lainnya

0,77

317,52

109.203,73

28.019,47

189,31

27,17

0,16

7,16

0,00

0,00

6,27

214,69

78.753,80

34.655,78

134,20

489,63

0,00

10,49

0,00

0,00

19,61

1.385,74

296.386,90

294.468,91

246.568,14

4.803,25

3,57

26.977,69

1.108,15

14,39

Sumber: Sensus Pertanian 2013

89

90

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Forum ini masih memerlukan dukungan untuk


keberlanjutannya, mendorong peran strategis
dan rencana aksinya. Tingkat pengaruh dan
kepentingan dari para pihak ditampilkan di
dalam Lampiran 7.

3.2.6 Bentang Alam Berbak-Sembilang,


Jambi dan Sumatera Selatan
Letak dan Fokus Utama Bentang Alam
Bentang AlamBerbak Sembilang terletak antara
10331 8.89-10455 10.04 BT dan 1112.51
LS-22611.12 LS. Bentang alam seluas 1.136.758
hektar berada di Provinsi Jambi (Kabupaten
Muarojambi, Kabupaten Tanjungjabung Timur,
dan Kota Jambi), dengan total 17 kecamatan
dan 141 desa, dan Provinsi Sumatera Selatan
(Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Musi
Banyuasin), dengan total empat kecamatan dan
55 desa. Status kawasan terdiri dari 25% HP, 5%
HPT, 2% HL, 38% KSA/KPA dan 30% APL. Fokus
utamanya adalah proteksi dan restorasi hutan
dan lahan gambut, pemberdayaan masyarakat,
mempertahankan populasi harimau sumatera,
dan mendukung taman nasional.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Bentang Alam Berbak Sembilang memiliki tipe
ekosistem hutan rawa gambut, hutan rawa air
tawar, bakau, dan hutan hujan dataran rendah.

Bentang alam terletak pada DAS/SubDAS


Air Hitam Laut, Bangke, Batanghari, Musi,
Sembilang/Benawang. Di dalam bentang
alam ini terdapat dua taman nasional, yaitu TN
Berbak dan TN Sembilang. Taman Nasional
Berbak berasal dari Suaka Margasatwa Berbak,
dtunjuk menjadi taman nasional pada tahun 1992
dengan luas 162.700 hektar berdasarkan SK
Menteri Kehutanan No.2857/Kpts-II/92. Taman
Nasional Sembilang ditunjuk sebagai TN pada
tahun 2001, dan telah ditetapkan pada tahun
2003 seluas 202.896,31 hektar berdasarkan SK
Menteri Kehutanan No.95/Kpts-II/003. Keduanya
sudah dikenal sebagai kawasan konservasi
lahan basah, termasuk rawa air tawar, rawa
gambut, dan bakau. Keduanya terdaftar sebagai
situs Ramsar yang mengindikasikan pentingnya
daerah ini secara global.
Di bentang alam ini sedikitnya terdapat 461
spesies vertebrata, 139 spesies di antaranya
dilindungi, 99 spesies masuk Daftar Merah
IUCN, dan 85 spesies tergolong Apendiks
CITES dan 23 spesies kategori EDGE.
Dengan memperhatikan status konservasi
secara nasional dan global, maka Bentang
Alam
Berbak-Sembilang
memiliki
nilai
penting dari sisi keanekaragaman hayati
yang hidup di lahan basah. Bentang alam ini
juga dikenal sebagai tempat penting bagi
burung yang bermigrasi dari utara ke selatan.

Tabel III-27. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk di Bentang Alam Berbak Sembilang

Kabupaten/Kota

Kecamatan

Luas

Pelayangan
Kota Jambi

Tanjung Jabung Timur

Kepadatan
( jiwa/km2)

6.942

6.427

13.369

420,3

31.304

62.681

3.952,5

Jambi Timur

20,21

40.335

39.551

79.886

1.957,0

Telanai Pura

30,39

48.102

48.414

96.516

1.593,1

Nipah Panjang

234,70

13.145

12.847

25.992

54,7

Rantau Rasau

356,12

11.734

11.180

22.914

31,4

33,45

6.386

6.024

12.410

180,1

Tumpeh Ulu
Banyuasin II
Tungkal Ilir
Lalan

1.658,93

12.920

12.339

25.259

7,4

386,65

25.982

24.524

50.506

63,4

474,70

21.235

19.936

41.171

42,0

3.707,00

21.745

20.453

42.198

5,5

690,00

12.750

11.715

24.465

17,0

4.847,00

39.778

38.859

78.637

8,0

39.200,00

20.670

18.700

39.370

0,5

Bayung Lencir

615.374
Sumber: Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka 2014, Provinsi Jambi Dalam Angka 2014, Kabupaten/Kota Dalam Angka (BPS Provinsi
Sumatera Selatan, BPS Provinsi Jambi 2014). L: Lelaki; P: Perempuan

Perkiraan populasi harimau sumatera di BerbakSembilang sekitar 6-15 individu, ada pula yang
memperkirakan populasinya sekitar 23 individu.
Beberapa spesies penting lain termasuk mentok
rimba, bluwok (Mycteria cinerea), rangkong
gading (Rhinoplax vigil), gajah sumatera, harimau
sumatera, macan dahan, tapir (Tapirus indicus),
binturong (Arctictis binturong), beruang madu,
trenggiling, lumba-lumba tanpa-sirip punggung
(Neophocaena phocaenoides), lumba-lumba
hidung botol (Tursiops turcantus), dan lumbalumba bongkok (Sousa chinensis).

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Batas-batas Bentang Alam Berbak Sembilang
mencakup dua wilayah provinsi, yaitu Jambi dan
Sumatera Selatan. Di Provinsi Jambi, Bentang
Alam Berbak Sembilang mencakup Kabupaten
Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi serta
sebagian wilayah Kota Jambi. Sedangkan
di Sumatera Selatan mencakup sebagian
kecil wilayah Kabupaten Musi Banyuasin
dan Banyuasin.

Gambar III-19. Peta indikatif Bentang Alam Berbak-Sembilang, status kawasan, dan tipe
ekoregion

Total
( jiwa)

31.377

Mestong

Musi Banyuasin

7,92

Kumpeh

Banyuasin

15,29

Jelutung

Sadu
Muaro Jambi

Jumlah Jiwa

Terdapat 14 wilayah administrasi kecamatan


yang bersinggungan dengan batas Bentang
Alam Berbak Sembilang, sebagian besar

berada di Provinsi Jambi. Total penduduk di


seluruh kecamatan tersebut adalah 615.374
jiwa dengan luas wilayah sekitar 31.662,36
km2. Mayoritas penduduknya beragama Islam
(91,78%), penganut Katolik (2,49%), Buddha
(2,10%), dan sisanya penganut agama Protestan,
Hindu, dan Konghucu. Penganut agama Buddha
kebanyakan adalah keturunan Tionghoa yang
tinggal di perkotaan, seperti di Kota Jambi.
Mayoritas penduduknya memiliki pendidikan
terakhir Sekolah Dasar atau sederajat (31,59%).
Sekitar 20,56% adalah penduduk yang belum
atau tidak tamat sekolah dasar. Persentase
penduduk yang berpendidikan sekolah lanjutan
SMA atau sederajat adalah 18,93% dan 16,71%
adalah SMP atau sederajat. Sedangkan yang
berpendidikan perguruan tinggi, baik diploma,
S1 dan pascasarjana masih di bawah 5%.
Dari sekitar 272.208 orang penduduk usia
kerja, persentase yang bekerja di bidang
perkebunan mencapai 29,10%, usaha pertanian
padi dan palawija 16,88%, dan perikanan sekitar
4,10%. Sisanya bekerja di bidang perdagangan,
sebesar 16,25% di total mereka yang bekerja.

91

92

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Sisanya bekerja di sektor pelayanan masyarakat


(8,57%),
konstruksi/bangunan
(5,76%),
transportasi & pergudangan (4,08%), jasa
pendidikan (3,67%), dan industri pengolahan
(3,05%).

Dengan besarnya pemanfaatan lahan untuk sawit,


jika tidak dikontrol dengan baik akan berakibat
pada tekanan terhadap bentang alam.

Ancaman Terhadap Bentang Alam


Berbak Sembilang
Terdapat empat jenis ancaman utama di Bentang
Alam Berbak Sembilang, yaitu perusakan hutan
berupa penebangan, konflik pemanfaatan
tanaman hutan dan kebun antara warga dan
perusahaan kehutanan. Ke empat faktor itu
menyebabkan terjadinya persoalan sosial.
Selain itu perubahan fungsi lahan dan degradasi
infrastruktur (kanal/sungai) turut memberikan
dampak negative bagi bentang alam yang
didominasi gambut ini. Keempat hal ini dipicu
terutama oleh ketidakpastian tata kelola ruang
dan pengembangan infrastruktur yang tidak
selaras dengan kebutuhan. Terciptanya wilayah
abu-abu ini memicu timbulnya dampak ikutan
seperti konflik hak kelola dan perubahan fungsi
lahan yang memicu kerusakan ekosistem.

Gambar III-20. Persentase pendidikan terakhir penduduk


di Bentang Alam Berbak Sembilang

Dari jenis-jenis tanaman perkebunan yang


paling menonjol, lahan yang ditanami kelapa
sawit cenderung merata di seluruh kabupaten/
kota di Bentang Alam Berbak Sembilang,
namun yang tinggi berada di Kabupaten Musi
Banyuasin, demikian juga halnya dengan
karet. Selanjutnya, tanaman lain yang dikelola
oleh masyarakat yang ada di bentang alam
tersebut adalah kelapa, kakao dan pinang.

Kelembagaan dan Para Pihak


Dalam pemetaan para pihak di Bentang Alam
Berbak Sembilang teridentifikasi adanya inisiatif
dari pihak LSM yang didukung oleh pemerintah
dan swasta sebagai inisiatif bersama
untuk penyelamatan Berbak Sembilang.

Beberapa inisiatif yang telah muncul misalnya


mitigasi konflik manusia-satwa dan wadah
mitigasinya, yaitu wildlife conflict and crime
respone unit oleh ZSL, program pemanfaatan
karbon melalui skema REDD+ (PT. GAL)
di Kabupaten Musi Banyuasin.
Selain itu,
perusahaan yang mengusulkan untuk RE secara
khusus di Kabupaten Musi Banyuasin (REKI)
perlu untuk dipantau pelaksanaanya sehingga
membawa kontribusi bagi bentang alam. Inisiatif
lain meliputi mitigasi lokal dengan penguatan
kapasitas dalam pembangunan rendah emisi
dan ekonomi hijau oleh Danida, GIZ-Forclime,
Icraf, CCROM di Kabupaten Musi Banyuasin
dan Kabupaten Banyuasin14. Sudah ada KPHP
Meranti dan ditetapkan sebagai KPH model
namun belum memiliki rencana pengelolaan
jangka panjang. Sedangkan KPHP Unit III Lalan
Mangsang Mendis (LLM) sudah ada rencana
pengelolaan jangka panjang. Program-program
seperti TFCA di Berbak Sembilang dapat
menjadi jembatan bagi kemajuan bentang alam
ini. Pola relasi yang tinggi di sebagian besar
stakeholdesr memberikan peluang pengelolaan
bentang alam ke depan. Pemetaan para pihak
menunjukkan posisinya di dalam kuadran I
dan kuadran II, sehingga strategi pelibatannya
mencakup
konsultasi
dan
kolaboratif
(Lihat Lampiran 7).

3.2.7 Bentang Alam Dangku-Meranti,


Jambi dan Sumatera Selatan
Letak dan Fokus Utama Bentang Alam
Bentang Alam Dangku-Meranti terletak di
antara 102 42 10.51- 104 6 47.54BT dan
1 51 21.71 LS - 2 53 52.16 LS. Bentang
alam seluas 1.048.652 hektar ini berada di
Provinsi Sumatera Selatan (Kab. Banyuasin,
Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas dengan
total 14 kecamatan dan 151 desa), dan Provinsi
Jambi (Kab. Muarojambi dan Kab. Sarolangun
dengan total 5 kecamatan dan 43 desa). Status
kawasan terdiri dari 23% HP, 4% HPK, 16% HPT,
2% HL, 5% KSA/KPA, dan 51% APL. Program
utamanya adalah pengembangan koridor satwa
dengan kawasan konservasi sekitarnya dan
mempertahankan populasi harimau sumatera.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Bentang Alam Dangku-Meranti memiliki tipe
ekosistem hutan hujan dataran rendah, hutan
rawa gambut, dan hutan rawa air tawar yang
terletak pada DAS/SubDAS Batanghari dan
Musi. Terdapat dua kawasan konservasi di
dalam bentang alam, yaitu Tahura Sultan Thaha
Syaifudin dan SM Dangku. Kawasan Tahura
Sultan Thaha Syaifudin ditetapkan seluas 15.830
hektar berdasarkan SK Menteri Kehutanan
No.94/Kpts-II/2001,
untuk
selanjutnya
dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jambi.

Tabel III-28. Jenis tanaman dan luas areal di tanam di kabupaten dalam Bentang Alam Berbak Sembilang

Tanaman
perkebunan

Luas lahan ditanam oleh rumah tangga petani (hektar)


Muaro
Jambi

Tanjung Jabung
Timur

Kota Jambi

Musi Banyuasin

Total luas
(hektar)

Banyuasin

Karet

48.658,52

8.104,24

2.370,59

145.655,74

71.522,90

276.312,00

Sawit

7.731,47

60.829,44

26.518,28

193.127,69

56.070,80

41.977,70

Pinang

93,41

15.060,69

79,08

4,44

7,03

15.244,64

Kelapa

542,43

39.734,57

461,69

3.128,60

24.234,15

68.101,43

Kakao

1.821,72

96,67

95,47

295,59

216,21

2.525,67

6,87

407,06

6,50

21,53

470,36

912,32

Kopi
Gambir
Kayu manis
Cengkeh

108,25

108,25

21,05

2,50

0,01

23,56

0,09

0,88

12,50

12,70

26,17

Kemiri

0,71

16,00

1,00

0,11

17,81

Lada

0,60

2,47

1,02

0,06

4,76

8,89

Lainnya

0,83

0,50

3,13

2,61

10,10

17,17

Sumber: Sensus Pertanian Provinsi Jambi 2013, Sensus Pertanian Provinsi Sumatera Selatan 2013 (BPS Provinsi Jambi, BPS Provinsi
Sumatera Selatan, 2014).

Gambar III-21. Peta indikatif Bentang Alam Dangku-Meranti, status kawasan, dan tipe ekoregion
14 Paper Inisiasi Kegiatan Model Ekosistem Lestari, Surplus Pangan, dan Energi (Eko Region) Kemitraan dan Sinergi ABGC, Menuju Sumsel Gemilang-Provinsi Maju
dan Terdepan di Indonesia. Palembang 31 Januari 2014

93

94

BAB TIGA

Penunjukan Dangku (29.080 hektar) dan


Bentayan (19.300 hektar)sebagai suaka
margasatwa berdasarkan SK Menteri Pertanian
No.276/Kpts/Um/4/1981. Pada tahun 1990,
SK Menteri Kehutanan No.755/Kpts-II/90
menetapkan Dangku seluas 70.274 hektar
sebagai suaka margasatwa. Namun SK Menteri
Kehutanan No.245/Kpts-II/1991, mengubah luas
SM Dangku menjadi 31.752 hektar.
Di bentang alam ini sedikitnya terdapat 452
spesies vertebrata, 107 spesies di antaranya
dilindungi, 122 spesies masuk Daftar Merah
IUCN, dan 85 spesies tergolong Apendiks
CITES dan 18 spesies kategori EDGE. Spesies
penting di bentang alam ini antara lain gajah
sumatera, hektarrimau sumatera, rangkong
gading, binturong, beruang madu, trenggiling,
macan dahan, kelinci sumatera (Nesolagus
netscheri), kukang, tapir, ungko, siamang,
dan ular pohon emas (Chrysopelea ornate).
Ppulasi harimau sumatera di bentang alam ini
diperkirakan antara 7-9 ekor. Penelitian yang
intensif terhadap populasi harimau masih terus
di lakukan di bentang alam ini oleh PT REKI, ZSL,
dan pihak lainnya.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Lokasi Bentang Alam Dangku-Meranti berada
di dua provinsi, yaitu Jambi dan Sumatera
Selatan, meliputi 1 wilayah administrasi kota
Jambi dan 3 kabupaten di Provinsi Jambi, serta
dua kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan,
yaitu Musi Rawas dan Musi Banyuasin. Secara
keseluruhan ada 22 kecamatan yang sebagian
atau keseluruhan wilayahnya berada dalam
batas Bentang Alam Dangku dengan total
jumlah penduduk sekitar 939.363 jiwa, yang
mayoritas beragama Islam (96,96%).

Gambar III-22. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Dangku-Meranti

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Jumlah penduduk usia kerja di Bentang Alam


Dangku-Meranti pada tahun 2014 sekitar
431.064 orang, sebagian besar (54,94%)
bekerja di sektor perkebunan. Sedangkan
yang bekerja di sektor perdagangan sekitar
11,44%, pertanian pangan (padi dan palawija)
sekitar 4,33%, di sektor pertanian hortikultura,
perikanan, kehutanan dan pertambangan/
galian yang jumlahnya tak lebih dari 2%, dan
industri pengolahan (2,7%). Dari bidang usaha di
atas, sektor perkebunan menjadi bidang usaha
yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.
Berdasarkan pendidikan, mayoritas penduduk
Bentang Alam Dangku-Meranti mengenyam
pendidikan terakhir Sekolah Dasar/sederajat
(32,73%), bahkan ada sekitar 21,41% yang tidak/
belum tamat SD. Persentase mereka yang
memiliki pendidikan sekolah lanjutan pertama
SMP/sederajat sekitar 17,53%, dan SMA/
sederajat sekitar 17,20%.
Di tingkat rumah tangga petani, lahan untuk jenis
tanaman perkebunan jauh lebih luas daripada
tanaman pertanian, terutama tanaman pokok
pangan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 (BPS,
2014) memperlihatkan luas lahan tanaman karet
yang diusahakan rumah tangga petani cukup
banyak, yaitu 520.313,14 hektar, atau lebih dari
dua kali lipat luas daripada lahan yang ditanami
kelapa sawit yang mencapai 203.874,90 hektar.
Luas lahan tanaman karet dominan berada di
Kabupaten Musi Rawas dan Musi Banyuasin,
Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan untuk
kelapa sawit luas lahannya cenderung merata
di seluruh kabupaten, kecuali Kota Jambi. Untuk
tanaman kakao dan kelapa, luasnya juga cukup
merata, namun kakao dominan di Muaro Jambi,
dan kelapa di Musi Banyuasin. Adapun kopi
banyak ditanam oleh rumah tangga petani di Musi
Rawas yang luasnya mencapai 2.296,28 hektar.

Tabel III-29. Wilayah dan jumlah penduduk kecamatan dalam Bentang Alam Dangku-Meranti

Kabupaten

Jumlah penduduk ( jiwa)

Kecamatan

Kota Jambi

Kota Baru
Batin 24

Batanghari

Sarolangun

Muaro Jambi

74.017

150.720

13.145

12.256

25.401

Pemayung

15.056

14.594

29.650

27.848

27.084

54.932

Mandiangin

16.716

15.565

32.281

Pauh

11.353

10.583

21.936

Pelawan

14.945

14.662

29.607

singkut

19.624

18.652

38.276

Sungai Bahar

13.855

12.390

26.245

Jambi Luar Kota

32.691

31.422

64.113

Rawas Ulu

16.152

16.419

32.571

16.554

16.609

33.163

9.276

9.320

18.596

Rupit
Nibung

12.118

11.248

23.366

Rawas Ilir

15.035

14.534

29.569

Bayung Lencir

39.778
31.400

38.859

78.637

Sanga Desa
Musi Banyuasin

76.703

Muara Bulian

Karang Dapo

Musi Rawas

Total

31.400

Babat Toman

30.100

30.100

Sekayu

80.800

80.800

Keluang

29.300

29.300

Sungai Lilin

56.600

56.600

Batanghari Leko

22.100

22.100
939.363

Sumber: Kabupaten/Kota Dalam Angka 2014 (BPS Kabupaten Musi Banyuasin, Musi Rawas, Muaro Jambi, Sarolangun, Batanghari, dan Kota
Jambi) L: Lelaki; P: Perempuan

Tabel III-30. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten dalam Bentang Alam Dangku-Meranti

Luas lahan ditanam oleh rumah tangga petani (hektar)


Kabupaten/Kota

Ancaman terhadap Bentang Alam


Dangku-Meranti

Musi Rawas

Sedikitnya terdapat lima ancaman Utama


di Dangku-Meranti, yaitu pertambangan,
perambahan
hutan,
penebangan
liar
(illegal logging), perburuan satwa liar,
serta kebakaran hutan dan lahan. Faktor
pendorong di balik ancaman-ancaman itu
bersumber pada permasalahan hak kelola
lahan, tekanan ekonomi, dan kurangnya
informasi yang secara khusus melatarbelakangi
terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Sarolangun

Gambir

Kakao

Karet

Kelapa Sawit

Kelapa

Kopi

Pinang

408,81

170.253,69

26.753,84

206,56

2.296,28

2,66

108,25

295,59

145.655,74

60.829,44

3.128,60

21,53

4,44

104,60

84.716,85

17.301,61

50,90

15,67

3,07

Batang Hektarri

100,36

68.657,74

35.187,74

143,53

5,48

13,51

Muaro Jambi

1.821,72

48.658,52

56.070,80

542,43

6,87

93,41

Kota Jambi

95,47

2.370,59

7.731,47

6,50

79,08

108,25

2.826,55

520.313,14

203.874,90

2.352,33

196,17

Musi Banyuasin

Total

Sumber: Sensus Pertanian 2013 (BPS Provinsi Sumatera Selatan, BPS Provinsi Jambi, 2014)

461,69
4.533,70

95

96

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Selain itu, terjadinya tumpang tindih kebijakan,


dan tata kelola lahan turut berkontribusi pada
timbulnya masalah kelestarian Bentang Alam
Dangku-Meranti yang berujung pada konflik/
masalah sosial.

Kelembagaan dan Para Pihak


Para pihak yang diidentifikasi di Bentang Alam
Dangku-Meranti berasal dari berbagai pihak.
Yang menarik adalah keberadaan perusahaan
dalam konsesi restorasi ekosistem dimana
perusahaan terdorong dalam pengembangan
restorasi ekosistem (misalnya PT. REKI di
Kabupaten Musi Banyuasin yang merupakan
bagian wilayah Bentang Alam Dangku-Meranti).
KPHP Meranti sudah ditetapkan sebagai
KPH model namun belum memiliki rencana
pengelolaan jangka panjang. Sedangkan
KPHP Unit III Lalan Mangsang Mendis (LLM) di
Kabupaten Musi Banyuasin, KPHP Unit VII Limau
di Kabupaten Sarolangun, serta KPHP Lakitan di
Kabupaten Musi Rawas sudah memiliki rencana
pengelolaan jangka panjang. Di lain pihak,
upaya pelestarian bentang alam juga diinisiasi
oleh Forum Dangku yang merupakan forum
komunikasi dan koordinasi konservasi yang
beranggotakan para pihak. Inisiatif lain adalah
pengembangan koridor satwa liar (harimau
sumatera) secara kolaboratif yang diinisiasi
oleh ZSL. Selain itu adanya upaya pengolahan
limbah sawit di Kabupaten Musi Banyuasin oleh
PT. PMB menarik untuk menjadi pembelajaran
pengelolaan limbah.

Anggrek raksasa (Grammatophyllum sp.) yang tumbuh di


sebatang pohon setinggi sekitar 30 meter di kawasan hutan
Bentang Alam Dangku, Sumatera Selatan, Desember 2005.
(Foto: Dolly Priatna)

Pola relasi terhadap SDA dan bentang alam


yang sebagian besar tinggi menjadi peluang
untuk pengelolaan bersama pada Bentang
Alam Dangku-Meranti ini. Tingkat pengaruh dan
kepentingan menunjukan di kuadran I, II, dan
III, sehingga strategi pelibatan yang mungkin
dilakukan dengan konsultasi untuk para pihak di
kuadran I, melakukan kolaborasi pada para pihak
yang berada di kuadran II, dan memberitahu
kepada para pihak di kuadran III tentang inisiatif
pengelolaan Bentang Alam Dangku Meranti.
Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak
ditampilkan di dalam Lampiran 7.

Sekelompok gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae) liar yang meninggalkan habitat aslinya dan mendekati pemukiman penduduk
akibat banyaknya kegiatan ilegal di dalam kawasan hutan Bentang Alam Padang Sugihan, Sumatera Selatan, akhir 2015.
(Foto: Heru Purnomo/APP)

3.2.8 Bentang Alam Padang Sugihan,


Sumatera Selatan
Letak dan Wilayah Administratif
Bentang Alam Padang Sugihan, Provinsi
Sumatera Selatan, terletak di antara 104 49
26.7- 106 4 49.11BT dan 2 19 47.95 LS 4 8 49.08 LS. Bentang alam seluas 1.650.213
ha berada di Kabupaten Banyuasin dan Ogan
Komering Ilir dengan total 16 kecamatan dan
265 desa. Status kawasan terdiri dari 37 % HP,
2% HPK, 1% HPT, 7% HL, 5% KSA/KPA dan 48%
APL. Program utamanya adalah pengembangan
koridor satwa dengan kawasan konservasi
sekitarnya dan mempertahankan populasi
gajah sumatera.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Tapir (Tapirus indicus) yang terekam oleh kamera intai di
Bentang Alam Dangku, Juli 2006.
(Foto: Dok. ZSL Indonesia)

Bentang alam ini memiliki tipe ekosistem hutan


rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan bakau.
Bentang alam terletak pada DAS/Sub DAS
Batang, Jatingombol, Jeruju, Koyan, Mesuji,
Musi, Pidada, Pulau Dalem, Riding, Teluk Daun,

dan Teluk Puleh. Terdapat Suaka Margasatwa


Padang Sugihan seluas 75.000 hektar yang
ditunjuk berdasarkan SK Menteri Kehutanan
No.04/Kpts-II/1983. Suaka ini dibentuk sebagai
respon atas penggiringan 232 ekor gajah dari
area transmigrasi di sekitar Padang Sugihan.
Di dalam Bentang Alam Padang Sugihan
sedikitnya terdapat 250 spesies vertebrata,
77 spesies di antaranya dilindungi, 56 spesies
masuk Daftar Merah IUCN, dan 55 spesies
tergolong Apendiks CITES dan 13 spesies
kategori EDGE. Spesies penting di bentang
alam ini antara lain gajah dan harimau sumatera.
Perkiraan populasi gajah sumatera di Padang
Sugihan sekitar 100-150 individu. Intensitas
konflik dalam periode 2009-2014 termasuk
kategori rendah. Faktor penyebab konflik
adalah daerah jelajah gajah semakin sempit,
dan terjadi saat musim kemarau yang panjang
(SRAK Gajah Sumatera, 2007).

97

98

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-31. Wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk di Bentang Alam Padang Sugihan

Kabupaten

Banyuasin

Luas
(km2)

Kecamatan

723,00

21.195

2.098

23.293

32,2

945,00

16.206

15.063

31.269

33,1

Air Saleh

339,00

18.325

17.496

35.821

105,7

Banyuasin I

227,00

26.375

25.669

52.044

229,3

481,00

21.354

20.720

42.074

87,5

2.593,82

16.998

16.168

33.166

12,8

1.139,75

13.199

13.973

27.172

23,8

Pampangan

177,42

14.702

14.625

29.327

165,3

Jejawi

218,98

19.501

19.738

39.239

179,2

Pangkalan Lapam

Sirah Pulau Padang

149,08

22.100

21.512

43.612

292,5

Kota Kayu Agung

145,45

32.898

32.863

65.761

452,1

1.059,68

21.424

20.918

42.342

40,0

464,79

11.101

10.433

21.534

46,3

Cengal

2.226,41

25.202

21.598

46.800

21,0

Sungai Menang

2.876,17

25.700

23.529

49.229

17,1

Tulung Selapan

4.853,40

21.201

21.053

42.254

8,7

Pedamaran
Pedamaran Timur

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Jumlah penduduk kecamatan di Bentang Alam
Padang Sugihan sekitar 624.937 jiwa, terdiri
dari 327.481 laki-laki dan 297.456 perempuan.
Kecamatan Kota Kayu Agung di Kabupaten
Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki jumlah dan
kepadatan penduduk tertinggi, sedangkan
Kecamatan Pedamaran Timur paling sedikit
jumlah penduduknya.
Mayoritas penduduk kecamatan dalam Bentang
Alam Padang Sugihan menganut Islam (99,21%).
Etnis penduduknya mencakup suku-suku yang
ada di Sumatera Selatan pada umumnya, seperti
orang Komering, Kayu Agung, Ogan, Sekayu
dengan akar budaya Melayu. Sedangkan
pendatang kebanyakan berasal dari etnis Jawa,
Bugis, dan Minangkabau, yang bekerja di sektor
perdagangan, pertambakan dan pertanian.
Mayoritas penduduk kecamatan yang berada
di dalam Bentang Alam Padang Sugihan
berpendidikan SMA/MI/SMK dan sederajat,
dan 39,86% dari keseluruhan penduduk berusia
di atas lima tahun. Penduduk yang pendidikan
tinggi, seperti diploma dan sarjana atau
pascasarjana jumlahnya masih sangat sedikit,
yaitu di bawah 1%.

Terdapat sekitar 293.700 penduduk usia


produktif, yang mayoritas bekerja di sektor
pertanian padi dan palawija (41,16%) serta
perkebunan
(23,78%).
Pertanian
padi
menjadi andalan penduduk di Padang
Sugihan di mana masih banyak hamparan
sawah, terutama di desa-desa transmigrasi
yang mayoritas penduduknya berasal dari
Pulau Jawa. Sekitar 6,5% penduduk yang
bekerja di bidang perikanan terutama tinggal
di desa-desa di daerah pesisir, seperti di
Kecamatan Cengal, Sungai Menang, Tulung
Selapan, Muara Sugihan, dan Banyuasin
I. Mereka menjadi pemilik tambak udang
dan bandeng, atau nelayan tangkap di laut.
Desa-desa di kecamatan yang tidak berada di
pesisir, seperti desa-desa di Kecamatan Jejawi,
penduduknya ada juga yang mengandalkan
perikanan sungai di sekitar desa sebagai
sumber kehidupan mereka.
Di subsektor perkebunan, komoditas karet
merupakan andalah penduduk kabupaten
dalam wilayah Bentang Alam Padang Sugihan.
Baik di Kabupaten OKI maupun Banyuasin luas
lahan yang ditanami kelapa sawit, kelapa, kakao,
dan kopi oleh keluarg-keluarga petaninya
masih jauh di atas jenis-jenis tanaman lain.

Kepadatan
penduduk
( jiwa/km2)

Muara Padang

Rambutan

Gambar III-23. Peta indikatif Bentang Alam Padang Sugihan, status kawasan, dan tipe ekoregion

Total
( jiwa)

Muara Sugihektarn

Air Sugihan

Ogan Komering Ilir

Jumlah Jiwa

Sumber: Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka 2014, Kabupaten Dalam Angka 2014 (BPS Sumatera Selatan, BPS Kabupaten Ogan
Komering Ilir, BPS Kabupaten Banyuasin). L: Laki-laki; P: Perempuan

Tabel III-32. Luas perkebunan (hektar) yang dikelola RTP di Bentang Alam Padang Sugihan tahun 2013

Kabupaten/Kota

Kakao

Karet

Sawit

Ogan Komering Ilir

396,20

153.237

12.845,00

Banyuasin

216,21

71.522,90

26.518,28

Kelapa

Kopi

3.895,00

277,43

24.234,15

Lainnya

470,36

4,00
10,10

Sumber: Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka 2014, Kabupaten Dalam Angka 2014 (BPS Sumatera Selatan, BPS Kabupaten Ogan
Komering Ilir, BPS Kabupaten Banyuasin)

Ancaman terhadap Bentang Alam


Padang Sugihan

Gambar III-24. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


bentang alam Padang Sugihan

Analisis Miradi di Bentang Alam Padang


Sugihan menunjukkan adanya lima ancaman
utama, yaitu kebakaran hutan dan lahan,
konflik gajah, illegal logging, perambahan
kawasan, dan konversi bakau untuk tambak di
daerah pesisirnya. Ancaman tersebut dipicu
oleh rangkaian faktor penunjang, seperti
tekanan ekonomi, kapasitas masyarakat yang
lemah, hilangnya akses masyarakat ke sumber
penghidupan, konflik lahan, dan pembukaan
lahan baru di habitat gajah. Selain itu, tumpang
tindih kebijakan tata ruang dan wilayah kelola
menjadi penggerak terjadinya permasalahan
yang sudah disebutkan sebelumnya, seperti
konflik lahan dan hilangnya akses sumberdaya
alam.

99

100

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Kelembagaan dan Para Pihak


Pemerintah pusat dan daerah sebagai para
pihak yang memiliki pengaruh dan kepentingan
yang tinggi terhadap bentang alam. Perusahaan
memiliki pengaruh sedang dan kepentingan
tinggi terkait produksi hasil hutan. LSM memiliki
pengaruh sedang dan kepentingan tinggi.
Dengan adanya kepentingan yang tinggi
antara para pihak tersebut dimungkinkan untuk
melakukan kegiatan secara kolaboratif untuk
mengembangkan bentang alam. Pemerintah
berperan dalam perencanaan, implementasi,
dan memantau kebijakan yang diterbitkan;
perusanaan melakukan pelestarian bentang
alam melalui restorasi dan proteksi; dan LSM
mengoptimalkan perannya melakukan kajian
dan pendampingan masyarakat.
Di sisi lain, ada inisiatif kemitraan HTI dan
Masyarakat (SMF dan Masyarakat di Air Sugihan)
yang muncul dengan adanya demonstration plot
tumpang sari tanaman kehidupan dan Badan
Usaha Milik Desa. Selanjutnya inisiasi rencana
aksi konservasi sumberdaya alam pesisir dan
energi (SMF,WBH, JICA, UNDP, PT. TAP) di Pantai
Timur Ogan Komering Ilir. Inisiatif tersebut perlu
mendapat perhatian dari pemerintah sebagai
pihak pengambil kebijakan di tingkat Pusat

maupun Daerah sehingga dapat mensinergikan


pembangunan daerah dengan pengelolaan
hutan secara berkelanjutan. Tingkat pengaruh
dan kepentingan para pihak di bentang alam ini
dapat dilihat pada Lampiran 7.

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati


Bentang Alam Kubu memiliki tipe ekosistem
hutan hujan dataran rendah, hutan rawa gambut,
hutan rawa air tawar, dan bakau. Bentang alam
terletak pada DAS/SubDAS Kapuas, Pawan, dan
Kepulauan Kaya Karimata. Tidak ada kawasan
konservasi yang berstatus KSA/KPA atau
ekosistem esensial di bentang alam ini.

3.2.9 Bentang Alam Kubu, Kalimantan Barat


Letak dan Fokus Utama Bentang Alam
Bentang AlamKubu, Provinsi Kalimantan Barat,
terletak di antara 109 14 15.02 - 110 26
48.6BT dan 0 2 59.25 LS - 1 18 32.57 LS.
Bentang alam seluas 922.821 hektar berada
di Kabupaten-kabupaten
Kubu, Sanggau,
Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara,
dengan total 11 kecamatan dan 79 desa. Status
kawasan terdiri dari 43% HP, 1% HPK, 8% HPT,
17% HL, 0% KSA/KPA dan 31% APL. Program
utamanya adalah proteksi dan restorasi bakau,
hutan, dan lahan gambut, pemberdayaan
masyarakat,
mempertahankan
populasi
orangutan kalimantan, bekantan, buaya, dan
pesut mahakam.

Di dalam Bentang Alam Kubu Setidaknya


terdapat 57 spesies satwa vertebrata, yang
35 spesies di antaranya dilindungi, 24 spesies
masuk Daftar Merah IUCN, dan 27 spesies
tergolong Apendiks CITES dan enam spesies
masuk kategori EDGE. Spesies penting di
bentang alam ini antara lain orangutan (Pongo
pygmaeus), beruang madu, bekantan (Nasalis
larvatus), kelawat (Hylobates muelleri), kukang
(Nycticebus coucang), dan tarsius (Tarsius
bancanus).

pejabat
pemerintah
Kabupaten
Kubu
menyatakan, pemerintah kabupaten berencana
tidak lagi menerima transmigran dari luar
daerah dan akan lebih memprioritaskan
transmigrasi bagi penduduk setempat, agar
terjadi pemerataan kepadatan penduduk
antar-kecamatan di dalam wilayah kabupaten15.
Mayoritas penduduk beragama Islam.
Data BPS Kalimantan Barat 2014 menunjukkan,
sekitar 46,5% penduduk di Bentang Alam Kubu
bekerja di sektor perkebunan atau menjadi
mayoritas dibandingkan jumlah pekerja di sektor
lain. Sedangkan jumlah pekerja terbanyak
lainnya ada di sektor pertanian padi dan palawija.

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Penduduk di Bentang Alam Kubu berjumlah
285.920 jiwa atau sekitar 6,5% dari total
penduduk Kalimantan Barat yang berjumlah
4.395.983 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk
paling rendah ada di Kecamatan Terantang
di Kabupaten Kubu, salah satu daerah tujuan
transmigrasi lokal dari kecamatan yang padat
penduduk. Dalam sebuah pernyataannya,

Gambar III-26. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Kubu

Tabel III-33. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk kecamatan di Bentang Alam Kubu

Kabupaten

Kecamatan

Luas (km2)

Pulau Maya/Karimata
Kayong Utara

Simpang Hilir

Ketapang

Simpang Hulu

Teluk Batang

Sanggau

Kepadatan

( jiwa)

( jiwa/km2)

1.189,42

14.017

12

1.538,99

30.708

20

654,77

20.151

31

3.175,00

29.496

2.002,70

34.252

17

Kubu

1.211,60

37.434

31

Telok Pakedai

291,90

19.549

67

Batu Ampar
Kubu

Total

Terentang

1.786,40

10.720

Meliau

1.495,74

46.150

31

Tayan Hilir

1.050,50

31.250

30

1.127,20

12.193

11

15.524,22

285.920

Toba
Total

Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2014 (BPS Kabupaten Sanggau, BPS Kabupaten Kubu, BPS Ketapang, BPS Kabupaten Kayong Utara)
Gambar III-25. Peta indikatif bentang alam Kubu, status kawasan, dan tipe ekoregion
15 http://www.thejakartapost.com/news/2015/05/11/kubu-raya-limit-transmigrants-other-regions.html

101

102

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Jumlah penduduk yang bekerja di sektor


pertambangan,
konstruksi,
transportasi,
kehutanan dan pertambangan jumlahnya di
bawah 10%. Total jumlah pekerja di sektor
lainnya adalah 8,7%, yang mencakup sektor
jasa keuangan, transportasi, listrik dan gas, jasa
pendidikan, dan layanan sosial.

di luar kendali, dan perambahan hutan


di kawasan konservasi. Faktor kebijakan
pengelolaan ruang dan faktor ekonomi dan
kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan
lahan menjadi faktor mendasar terjadinya
berbagai tekanan terhadap Bentang Alam Kubu.
Ketidakpastian ruang yang terjadi, kemudian
secara berantai menyebabkan ketidakpastian
penegakan hukum. Konflik pengelolaan lahan
yang kemudian memicu terjadinya ancamanancaman langsung terhadap hutan alam juga
terjadi di Bentang Alam Kubu ini.

Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, ratarata kelompok penduduk kecamatan-kecamatan


dalam Bentang Alam Kubu berpendidikan tingkat
dasar, yaitu mereka yang tidak/belum tamat SD
(32%) maupun yang telah menamatkan SD (30%).
Mereka yang memiliki berpendidikan sekolah
lanjutan SMP/sederajat hanya 11%, sedangkan
tingkat SMA/SMK/sederajat sekitar 7%. Adapun
kelompok penduduk yang memiliki pendidikan
tingkat lebih tinggi, diploma, S1 atau pascasarjana
persentasenya masih di bawah 2%.

Kelembagaan dan Para Pihak


Di Bentang Alam Kubu, terpetakan para pihak
yang memiliki upaya dan peran penting dalam
upaya mengatasi persoalan di bentang alam,
misalnya kolaborasi antar-perusahaan yang
berkoordinasi dengan pemangku kepentingan
kawasan terkait untuk mengatasi kebakaran
hutan.
Di sisi lain, kesiapan RTRW yang
dikembangkan pemerintah untuk mendukung
pengelolaan
bentang
alam
merupakan
tantangan ke depannya dengan melihat pola
relasi para pihak terhadap sumberdaya alam
dan bentang alam. Sebagaian besar para pihak
memiliki relasi yang tinggi terhadap bentang
alam sehingga perlu aturan main yang lebih
baik. Strategi pelibatan para pihak dapat
dlakukan dengan berkolaborasi (kuadran II),
berkonsultasi (kuadran I), dan memberitahukan
(kuadran III) untuk pengelolaan bentang alam
Kubu ini. Tingkat pengaruh dan kepentingan
para pihak dapat dilihat di bawah ini, dan secara
lengkap dapat dilihat di Lampiran 7.

Karet dan kelapa sawit adalah tumbuhan


komoditas ekonomi yang paling banyak ditanam
oleh rumah tangga petani. Berdasarkan Sensus
Pertanian 2013 (BPS, 2014), jumlah lahan yang
ditanami karet oleh masyarakat mencapai
254.096, 97 hektar, sedangkan total luas lahan
yang ditanami sawit mencapai 101.090,45
hektar. Di Kabupaten Sanggau, jenis tanaman
dibudidayakan masyoritas warga adalah kelapa
sawit dan karet, sedangkan di Kabupaten Kubu
dan Kayong Utara adalah tanaman karet, kelapa,
dan kopi. Berikut ini gambaran jenis tanaman
dan luas arealnya:

Ancaman terhadap Bentang Alam Kubu


Berdasarkan tinjauan yang ada, Bentang Alam
Kubu mengalami sejumlah ancaman langsung
pada ekosistemnya, yaitu kebakaran hutan
dan lahan, pencemaran sungai, pertambangan,
penebangan liar, pertambahan kebun sawit

Gambar III-27. Peta indikatif Bentang Alam Kutai, status kawasan, dan tipe ekoregion

3.2.10 Bentang Alam Kutai, Kalimantan Timur


Letak dan Fokus Utama Bentang Alam
Bentang AlamKutai, Provinsi Kalimantan Timur,
terletak di antara 116 37 8.55 - 117 36
45.8BT dan 0 36 47.45 LU - 0 35 21.94 LS.
Bentang alam seluas 977.000 hektar ini berada
di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur,
dan Kota Bontang dan Samarinda, mencakup
wilayah dari 24 kecamatan dan 170 desa. Status
kawasan terdiri dari 29% HP, 0% HPK, 0% HPT,
2% HL, 26% KSA/KPA, dan 42% APL. Program
utamanya adalah proteksi, restorasi, dan
memperluas hutan alam di daerah penyangga
sekitar taman nasional, menyediakan koridor
satwa, dan menjaga populasi orangutan
kalimantan serta mendukung taman nasional.

Tabel III-34. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten dalam Bentang Alam Kubu
Kabupaten
Kayong Utara

Cengkeh

Kakao

Karet
8.218,00

Sawit

Kelapa

11,74

4,63

Kubu

52,31

62,50

Sanggau

48,65

951,43

121.213,67

67.400,43

Ketapang

3,50

94,02

94.272,93

29.438,39

116,19

1.112,58

254.096,97

101.090,45

28.541,49

Total luas (hektar)

Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati

Luas lahan ditanam/diolah (hektar)

30.392,37

Kopi

Lada

Pinang

Sagu

252,21

3.382,50

1.020,94

22,43

6,26

3.999,41

23.209,28

4.053,33

223,10

592,04

296,97

670,73

10,42

1.168,20

0,02

1,44

1.278,97

372,00

4,79

0,98

0,34

5.456,69

1.418,51

599,30

298,75

Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2014 (BPS Kabupaten Sanggau, BPS Kabupaten Kubu, BPS Ketapang, BPS Kabupaten
Kayong Utara)

Bentang Alam Kutai memiliki tipe ekosistem


hutan hujan dataran rendah, hutan rawa gambut,
dan hutan rawa air tawar yang terletak pada
DAS/SubDAS Mahakam, Sangata, dan Santan. Di
dalam bentang alam terdapat Cagar Alam Muara
Kaman Sedulang dan TN Kutai. Penunjukan
hutan sekitar Muara Kaman Sedulang seluas
62.500 hektar sebagai cagar alam didasarkan
pada SK Menteri Pertanian No.290/Kpts/

Um/5/1976. Penunjukan itu sebagai upaya


melindungi lumba-lumba mahakam dan satwa
liar
terestrial lainnya. Penunjukan Taman
Nasional Kutai seluas 198.629 hektar berawal
dari SK Menteri Kehutanan No.325/Kpts-II/95
yang mengubah Suaka Margasatwa Kutai
menjadi taman nasional. Kawasan ini telah
dicalonkan menjadi TN sejak tahun 1982 melalui
deklarasi Menteri Pertanian.
Taman
Nasional
Kutai
sedang
dikaji
kecocokannya untuk mendapatkan status cagar
biosfer. Adanya multipihak yang beroperasi di
dalam bentang alam dan beberapa spesies kunci
memungkinkan Kutai sebagai laboratorium alam
dalam aspek sosial, lingkungan, dan industri
berkelanjutan. Di bentang alam ini sedikitnya
terdapat 534 spesies vertebrata, 116 spesies
di antaranya dilindungi, 121 spesies masuk
Daftar Merah IUCN, dan 83 spesies tergolong
Apendiks CITES dan 21 spesies kategori
EDGE. Spesies penting di bentang alam ini
antara lain orangutan kalimantan, bekantan,
dan pesut mahakam (Orcaella brevirostris).
Populasi orangutan di bentang alam Kutai
diperkirakan antara 2.500-3.000 ekor.16

16 http://regional.kompasiana.com/2011/10/17/landscape-kutai-benteng-terakhir-orangutan-404130.html

103

104

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-35. Wilayah, jumlah, dan kepadatan penduduk kecamatan dalam Bentang Alam Kutai

Kabupaten/kota

Bontang

Luas
(km2)

Kecamatan

Total ( jiwa)

Kepadatan
( jiwa/km2)

13.133

11.714

24.847

12,9

Bontang Selatan

104,4

29.969

27.473

57.442

550,2

2620

32.319

29.075

61.394

23,4

Anggana

1.798,8

17.353

15.335

32.688

18,2

Loa Janan

644,2

28.829

27.242

56.071

87,0

1.405,7

20.845

19.093

39.938

28,4

Marang Kayu

1.165,7

12.284

11.110

23.394

20,1

Muara Badak

939,09

20.918

18.916

39.834

42,4

Muara Kaman

3.410,1

18.030

15.879

33.909

9,9

Sebulu

859,5

19.305

17.115

36.420

42,4

Tenggarong Seberang

Samarinda

1.920

Loa Kulu

Kutai Timur

Bontang Barat

Bontang Utara

Kutai Kartanegara

Jenis kelamin

437

32.933

28.508

61.441

140,6

Batu Ampar

204,50

2.210

1.991

4.201

20,5

Long Mesangat

526,98

2.271

1.979

4.250

8,1

Muara Ancalong

2.739,30

6.564

5.947

12.511

4,6

Muara Bengkal

1.522,80

5.911

5.420

11.331

7,4

Rantau Pulung

143,82

3.907

3.296

7.203

50,1

Sangatta Selatan

1.660,85

9.804

8.390

18.194

11,0

Sangatta Utara

1.262,59

39.699

32.457

72.156

57,1

Teluk Pandan

831,00

6.554

5.654

12.208

14,7

Samarinda Ilir

17,18

62.615

58.321

120.936

7.039,3

Samarinda Seberang

12,49

59.082

55.101

114.183

9.142,0

Sungai Kunjang

69,23

58.961

55.083

114.044

1.647,3

Samarinda Ulu
Samarinda Utara
TOTAL

22,12

65.732

60.919

126.651

5.725,6

229,52

105.313

97.294

202.607

882,7

1.287.853

Sumber: Kalimantan Timur Dalam Angka 2014, Kabupaten/Kota Dalam Angka 2014 (BPS Kabupaten Kutai Timur, BPS Kab/Kota Samarinda,
BKS Kabupaten Kutai Kertanegara, BPS Kota Bontang)

Profil Sosial Ekonomi Masyarakat


Jumlah penduduk kecamatan di dalam Bentang
Alam Kutai adalah 1.287.853 jiwa yang mayoritas
beragama Islam (91,35%). Kepadatan penduduk
tertinggi berada di Kecamatan Samarinda
Seberang (9.142 jiwa/km2), sedangkan yang
terendah di Kecamatan Muara Ancalong yaitu
4,6 jiwa/km2.

Gambar III-28. Persentase pendidikan terakhir penduduk di


Bentang Alam Kutai

Berdasarkan
etnisitasnya,
penduduk
di
Bentang Alam Kutai berasal dari etnis asli
di wilayah ini, yaitu orang-orang Kutai dan
beberapa subetnis Dayak, termasuk Kenyah.

Namun, banyak juga penduduk dari suku Bugis


dan Jawa. Mereka datang karena program
transmigrasi sejak tahun 1970-an. Sebagian
berdatangan dan menetap karena pekerjaan,
seperti di perusahaan perkayuan, perkebunan,
dan pertambangan. Secara historis, orang-orang
Bugis dan suku lain dari Sulawesi Selatan telah
ada dan menetap sejak zaman Kesultanan Kutai.
Berdasarkan tingkat pendidikannya, persentase
terbesar penduduk berusia 5 tahun ke atas
terbesar adalah mereka yang berpendidikan
terakhir SMA/SMK/sederajat, yang persentasenya
mencapai
29,1%.
Mereka yang memiliki
pendidikan terakhir SD/sederajat mencapai
22,9%, SMP/sederajat 18,2 %, dan mereka yang
tidak/belum tamat SD berjumlah 17,8%. Sementara
itu, persentase mereka yang memiliki pendidikan
terakhir sarjana lebih tinggi dibanding mereka
yang berpendidikan diploma I-III.
Ada sekitar 561.082 penduduk berusia
produktif; mayoritas bekerja di bidang
perdagangan (17,6%), jasa kemasyarakatan
(12,6%), pertambangan dan galian (10,1%),
konstruksi (7,4%), serta pertanian tanaman padi
dan palawija (7,1%). Sekitar 8,9% dari pekerja
tersebut bekerja di bidang perhotelan dan
rumah makan, jasa keuangan dan asuransi, serta
jasa pendidikan. Berbeda dengan bentang alam
lain, usaha perkebunan di Bentang Alam Kutai
tergolong rendah, yakni 3,6%.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2013, luas lahan
yang ditanami jenis tanaman perkebunan oleh
rumah tangga petani di kabupaten/kota dalam
Bentang Alam Kutai tidak terlalu besar, terutama
di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara
yang kebanyakan penduduknya bekerja di
sektor pertanian dan perkebunan. Tanaman
karet dan sawit secara keseluruhan memiliki
luas areal tanam yang paling besar, masingmasing 38.942 hektar dan 38.938 hektar.
Jumlah tersebut jauh di atas luas lahan yang
ditanami kelapa, kakao atau lada.

Ancaman terhadap Bentang Alam Kutai


Terdapat empat ancaman utama di Bentang
Alam Kutai, yaitu pencemaran, illegal logging,
perambahan hutan alam, dan pertambahan
kebun sawit yang tidak terkendali. Tumpang
tindihnya penggunaan lahan dan tata ruang
mengakibatkan konflik tanah di masyarakat.
Permasalahan terkait pelaksanaan kebijakan

Tumbuhan kantong semar (Nepenthes sp.) yang banyak


ditemukan di hutan gambut Bentang Alam GSKBB, Riau,
Februari 2014. (Foto: Dolly Priatna)

105

106

BAB TIGA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel III-36. Jenis tanaman dan luas areal ditanam di kabupaten/kota dalam Bentang Alam Kutai

Luas lahan di tanam oleh rumah tangga petani (hektar)


Kabupaten/kota
Aren

Cengkeh

Kutai Kartanegara

42

28

Kutai Timur

34

Samarinda
Bontang

Kakao

Karet

Sawit

Kelapa

Kemiri

1.000

26.167

18.849

2.884

48

27

2.746

10.472

17.111

1.031

22

47

1.715

1.833

53

589

107

56

3.845

38.942

Kopi

Lada

Lainnya

172

1.423

259

172

303

113

296

46

31

1.145

175

35

27

38.938

4.202

638

417

1.766

18

Sumber: Sensus Pertanian Provinsi Kalimantan Timur 2013 (BPS Provinsi Kalimantan Timur 2014)

dan pengelolaan kawasan-kawasan konsesi


pendorong terjadinya kasus-kasus perambahan
hutan. Penegakan hukum menjadi tidak
mudah karena kebijakan yang tumpang tindih.
Kombinasi dari faktor-faktor tersebut merupakan
ancaman serius bagi kelestarian Bentang Alam
Kutai.

Kelembagaan dan Para Pihak


Para pihak yang diidentifikasi di Bentang
Alam Kutai meliputi pemerintah pusat (UPT),
pemerintah daerah, perusahaan HTI, dan LSM
Lingkungan. Pada bentang alam ini teridentifikasi
peran para pihak (perusahaan dan universitas)
yang melakukan insiatif untuk konservasi
orangutan, terutama di hutan produksi.
Inisiasi usulan Kutai sebagai cagar biosfer
(MAB-LIPI) patut mendapat dukungan dalam
pengelolaan bentang alam ini ke depannya.
Selain itu, inisiatif yang telah dilakukan oleh
SMF dan mitranya (PT Surya Hutani Jaya)
adalah di Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung
Bontang, serta dukungan perluasan koridor
untuk orangutan di Cagar Alam Muara Kaman.
Pemerintah yang mengelola kawasan memiliki
pengaruh dan kepentingan yang tinggi terhadap
kawasan, sehingga kebijakan yang dikeluarkan
hendaknya mengarah pada pengelolaan
bentang alam yang lebih baik melalui
pengembangan jaringan dan forum multipihak
pengelolaan bentang alam bersama universitas,
LSM, dan perusahaan. Tingkat pengaruh dan
kepentingan para pihak ditampilkan dalam
Lampiran 7.

Salah satu lahan garapan masyarakat di dalam kawasan hutan yang umum dijumpai di dalam bentang alam Sumatera
maupun Kalimanta, Desember 2014. (Foto: Dok. APP)

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) jantan dewasa penghuni


kawasan hutan di Bentang Alam Kubu, Kalimantan Barat dan Kutai,
Kalimantan Timur, Juli 2013. (Foto: Rolf M Jensen)

107

108

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

109

BAB EMPAT
Foto udara yang menunjukkan variasi pemanfaatan lahan di areal
transisi di Bentang Alam GSKBB, Riau, Desember, 2009.
(Foto: Dolly Priatna)

110

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

STRATEGI KONSERVASI
BENTANG ALAM
Konservasi bentang alam sebagai pokok pikiran dalam dokumen ini merupakan suatu
proses sistematis untuk mempertahankan kualitas (kesehatan) bentang alam. Pada
konteks ini selalu ada bagian-bagian di dalam bentang alam yang menjadi perhatian
karena dipahami dan disepakati sebagai penopang utama kesehatan bentang alam
secara keseluruhan atau sering disebut sebagai benefit beyond boundaries. Bagianbagian ini adalah mosaik atau unit lahan yang berupa ekosistem hutan.
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatrae) jantan di habitat aslinya di sebuah kawasan hutan tropis dataran rendah Sumatera,
Oktober 2003. (Foto: Dolly Priatna)

4.1

KONSEPTUALISASI KONSERVASI
BENTANG ALAM
Keberadaan ekosistem hutan pada suatu bentang
alam dalam proporsi luas dan kualitas tertentu
dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan
kegiatan sosial dan ekonomi yang terjadi di
dalam dan wilayah sekitar (on site) bahkan di
wilayah yang jauh (off site) dari ekosistem hutan
tersebut. Dalam konteks ini hubungan saling
ketergantungan antara pembangunan sosial,
ekonomi dengan konservasi ekosistem hutan
dapat dipahami secara jelas dan ditelaah lebih
mendalam melalui konsep daya daya dukung
(carryng capacity).1
Ekosistem hutan pada 10 bentang alam
didominasi oleh lahan basah, yaitu hutan bakau,
hutan rawa gambut, dan hutan rawa air tawar.
Ekositem lainnya yang ada di dalam bentang alam
adalah hutan hujan dataran rendah dan hutan
kerangas. Ekosistem hutan dataran rendah dan
lahan basah merupakan habitat penting satwa.
Namun, secara umum hutan-hutan tersebut
memiliki manfaat yang menunjang kehidupan
manusia dalam bentuk jasa ekosistem seperti
tata air, kesuburan tanah, penyimpan karbon,
penyedia berbagai hasil hutan langsung, dan
jasa ekosistem hutan lainnya.

Pemikiran mengenai kesehatan bentang


alam sebenarnya telah terinternalisasi dalam
instrumen
pembangunan
di
Indonesia.
Pemberlakukan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) dalam proses penataan ruang
wilayah serta penetapan angka 30% luas hutan
yang harus dipertahankan secara proporsional
terhadap luas wilayah adminsitrasi pemerintahan
atau terhadap luas DAS merupakan salah
satu instrumen makro dalam pembangunan
yang ditujukan untuk menjaga kesehatan
bentang alam. Pada tingkat lebih mikro, setiap
proyek pembangunan di berbagai sektor
wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan, Upaya Pengelolaan Lingkungan,
dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Pada
sektor kehutanan, standar-standar kelestarian
ekologis untuk kegiatan-kegiatan ekonomi
berbasis hutan di tingkat tapak telah muncul
baik yang bersifat wajib (mandatory) maupun
sukarela (voluntary). Standar yang bersifat
wajib di antaranya adalah standar Pengelolaan
Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Nilai
Konservasi Tinggi (NKT); sementara itu, standar
kelestarian pengelolaan hutan yang bersifat
sukarela misalnya yang dikembangkan Forest
Stewardship Council, Lembaga Ekolobel
Indonesia, dan Indonesian Forestry Certification
Cooperation (IFCC).

1 Daya dukung dalam ekologi didefinisikan oleh Colinvaoux (1986) sebagai jumlah maksimum individu unsur hayati yang masih dapat dijamin hidup dengan baik pada
kondisi lingkungan tertentu. Dalam sistem ekologi setiap spesies berarti sebagai lingkungan bagi spesies lainnya, sehingga lingkungan itu sendiri adalah hubungan
interdependensi diantara spesies yang ditambahkan dengan unsur fisik. Dalam kerangka legal pengelolaan taman nasional perlakuan untuk menjaga kondisi daya
dukung diterjemahkan oleh fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pengawetan keanekaragaman hayati dan genetik.

Kondisi terkini ekosistem hutan pada 10 bentang


alam dari aspek luas dan kualitasnya sangat
beragam, namun fungsinya sebagai penopang
kesehatan bentang alam dapat diamati langsung
melalui beberapa indikator yang secara
langsung atau tidak langsung berpengaruh
terhadap kehidupan masyarakat, misalnya: debit
dan kualitas air sungai, suhu udara, frekuensi
banjir, kekeringan, erosi, longsor, penurunan
populasi satwa, dan kejadian konflik satwamanusia. Hasil identifikasi selama penyusunan
Rencana Induk ini memperlihatkan kemunculan
indikator-indikator tersebut, dan setelah
didalami mengarah pada kesimpulan bahwa 10
bentang alam dalam kondisi tidak sehat karena
luas dan kualitas ekosistem hutan yang ada di
dalamnya tidak memadai. Dalam konteks ini
pula ditemukan urgensi untuk melakukan upaya
tambahan (additionality) di luar upaya-upaya
yang telah dilakukan selama ini (business as
usual), yaitu konservasi bentang alam yang
didorong dan didukung oleh para pihak secara
nyata, dengan program-program yang kreatif,
inovatif, dan adaptif.
Kawasan hutan adalah wilayah di mana
ekosistem hutan seharusnya berada. Namun
pada kenyataannya, kawasan hutan tidak selalu
berhutan karena terjadinya perubahan-perubahan
yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan
manusia yang tidak terencana/non-prosedural
yang mengurangi luas dan kualitas hutan.

Di sisi lain, daya rusak yang timbul tidak cukup


diimbangi dengan kegiatan-kegiatan terencana
untuk melestarikan hutan (pengelolaan kawasan
konservasi dan hutan lindung) atau mengelola
hutan secara lestari (pengelolaan hutan produksi
lestari) yang dipayungi oleh sejumlah peraturan
dan kebijakan.
Konservasi 10 bentang alam diarahkan
untuk mempertahankan hutan dalam luasan
yang cukup dan kualitas yang baik secara
proporsional pada setiap bentang alam.
Secara teknis arahan ini diterjemahkan dalam
bentuk intervensi: melindungi ekosistem
hutan yang masih dalam kondisi baik dan
yang sedang dalam tahap suksesi serta
memperbaiki
ekosistem hutan yang telah
terlanjur rusak. Konservasi bentang alam juga
tidak mengesampingkan tantangan yang telah,
sedang, dan akan terus berkembang, terutama
yang berkaitan dengan isu-isu sosial, ekonomi,
dan budaya. Oleh karenanya, intervensi dalam
kerangka konservasi bentang alam ini juga
mencakup pengelolaan sosial di antaranya:
pemberdayaan masyarakat, penyadartahuan,
dan pendidikan lingkungan hidup.
Bentang alam terdiri dari berbagai unit lahan,
fungsi lahan, dan pemangku unit lahan, sehingga
merupakan hamparan kompleks kepentingan.
Dengan demikian, intervensi konservasi pada
suatu bentang alam tiak bisa didominasi oleh

111

RENCANA PEMBANGUNAN

LANSKAP

SKPD DAN
UPT PUSAT

MASYARAKAT,
NGO,DLL

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN
pg 113

pg 112

PERSPEKTIF
PENGETAHUAN
PENGELOLAAN
LANSKAP
(GLOBAL-NASIONALLOKAL)

LANSKAP

NILAI PENTING
KONSERVASI
LANSKAP

PERSPEKTIF LEGAL
DAN AKTUAL
PENGELOLAAN
LANSKAP

UNIT-UNIT
LAHAN PADA
LANSKAP

KONDISI
LANSKAP

PENDIDIKAN
LINK & KONSERVASI
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
PROTEKSI
PADA
EKOSISTEM
YANG
MASIH BAIK

KONSENSUS
PARA
PIHAK

UNIT-UNIT
LAHAN
PENTING
PADA
LANSKAP

KONSERVASI
LANSKAP

KELEMBAGAAN
PARA PIHAK

FORUM DAS
TERPADU

RENCANA TINGKAT
LANSKAP LAINNYA

KPH

FORUM
DAS

ENTITAS
LANSKAP LAINNYA

RENCANA KAWASAN
RTRW, RKTN, RKTD

RENCANA PEMBANGUNAN

LANSKAP
SEHAT

RESTORASI
PADA
EKOSISTEM
YANG
RUSAK

ISU-ISU
LINGKUNGAN
DAN KONSERVASI
PADA LANSKAP

STAKEHOLDERS

EKOSISTEM
HUTAN
YANG
MASIH
BAIK AMAN

RPKPH

MAINSTREAMING

SOSIAL-EKONOMI
-BUDAYAMASYARAKAT

PEMBANGUNAN KONSENSUS
KONSERVASI LANSKAP

MOU PARA
PIHAK

RPJPN/D; RPJMN/D;
RENSTRA KEHUTANAN
SKPD DAN
UPT PUSAT

EKOSISTEM
HUTAN
RUSAK
TERPULIHKAN

SWASTA UMH

POKJA
KONSERVASI
LANSKAP

MASYARAKAT,
NGO,DLL

RENCANA
KONSERVASI
LANSKAP
MAINSTREAMING

112

SWASTA UMH

LANSKAP
MAINSTREAMING

RPJPN/D; RPJMN/D;
RENSTRA KEHUTANAN

MONITORING
ASISTENSI

Gambar IV-1. Konseptualisasi pengembangan konservasi bentang alam

satu pihak saja. Konservasi bentang alam


menuntut kesadaran dan komitmen kolektif,
kesepakatan para pihak, serta jalinan hubungan
dan peran yang terorganisasikan secara baik
dalam kerangka penyelenggaraan konservasi
bentang alam. Wujud nyata dari hal tersebut
adalah berupa konsensus dan lembaga multi
pihak untuk konservasi bentang alam.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas
maka bentuk konsep konservasi bentang alam
dalam Rencana Induk ini seperti yang tampak
pada Gambar IV-1. di bawah. Walaupun konsep
tersebut terkesan rumit sejalan dengan kondisi
bentang alam yang kompleks, namun konsep
ini relatif mudah dijelaskan karena merupakan
kumpulan fakta yang saling berhubungan.
Dengan demikian, intervensi bentang alam juga
harus merupakan sekumpulan program aksi
yang sistematis, logis, dan saling berkontribusi
satu dengan yang lain.

4.1.1 Konsensus dan Kelembagaan


Konservasi bentang alam harus merupakan aksi
kolektif, sehingga kesadaran dan komitmen para
pihak adalah pemungkin bagi terselengaranya
konservasi bentang alam. Kesadaran dan
komitmen tersebut harus diwujudkan dalam
bentuk konsensus dan pelembagaan agar
konservasi bentang alam dapat bertransformasi
dari ide bersama menjadi aksi bersama.

Bentuk fisik konsensus dapat berupa dokumendokumen kesepakatan para pihak, sementara
pelembagaan dapat berupa pengarusutamaan
konservasi bentang alam kedalam kebijakan,
rencana, dan kegiatan para pihak. Pelembagaan
juga termasuk pembentukan kelembagaan
multipihak sebagai wadah koordinasi dan
sinkronisasi rencana-rencana kerja para
pihak baik dari unsur pemerintah maupun
non-pemerintah.
Para pihak yang seharusnya terlibat dalam
konsensus konservasi bentang alam adalah
para pihak yang memiliki pengaruh dan
kepentingan terhadap bentang alam yang
mencakup unsur pemerintah dan nonpemerintah, di antaranya: Pemerintah Pusat dan
Unit Pelsanaka Teknis Pemerintah Pusat yang
terkait dengan pengelolaan lahan bentang
alam, isntansi pemerintah daerah pada sektor
berbasis lahan di tingkat bentang alam, forum
atau kelembagaan multi pihak terkait dengan
pengelolaan lahan yang telah ada sebelumnya
(Forum DAS, Badan Pengelola Cagar Biosfer,
KPH, dll), unit-unit manajemen lahan (terutama
unit manajemen hutan), lembaga swadaya
masyarakat, masyarakat, dan perguruan tinggi.
Model
untuk
pembangunan
konsensus
konservasi bentang alam di dalam Rencana
Induk ini adalah sebagai berikut:

pg 112

Gambar IV-2. Diagram alur program pembangunan konsensus konservasi bentang alam

SOSIAL-EKONOMI
-BUDAYApengelolaan
MASYARAKAT

PENDIDIKAN
LINK & KONSERVASI

Kelembagaan multipihak untuk


pada Rencana Induk ini harus memperlihatkan
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
PERSPEKTIF
bentang alam telah
cukup banyak dibentuk baik
nilai tambahnya. Hasil diskusi dan konsultasi
PENGETAHUAN
yang didorongPENGELOLAAN
melalui kebijakan pemerintah
dengan
para pihak di tingkat bentang alam
PROTEKSI
KONSENSUS
UNIT-UNIT
LANSKAP
EKOSISTEM
PADA informasi
seperti Forum(GLOBAL-NASIONALDAS atau yang didorong
oleh PARA
meberikan
bahwa hampir seluruh
LAHAN PADA
HUTAN
EKOSISTEM
LOKAL)
PIHAK
LANSKAP
YANG yang telah dibangun
non-pemerintah seperti Badan Pengelola Cagar
kelembagaan
multipihak
YANG
MASIH
MASIH BAIK
AMAN
Biosfer, Forum Dangku untuk pengelolaan
belum
optimal. BAIK
Persoalan
mendasarnya
UNIT-UNIT
bentang alam NILAI
Dangku
lain-lain. LAHAN
terletak
pada struktur kelembagaan dan sistem
PENTINGMeranti, dan
KONSERVASI
KONDISI
LANSKAP
LANSKAP
KONSERVASI
LANSKAP
Disamping
lembaga
multipihak terdapat
pengambilan
keputusan yang selalu
LANSKAP pulaPENTING
SEHATbertumpu
LANSKAP
PADA
lembaga yang secara struktural berada di bawahLANSKAP
pada
pimpinan-pimpinan
instansi
pemerintah,
RESTORASI
PADAmereka dibatasi waktu dan masa
pemerintah yang bertugas melakukan
kordinasi
padahal
ISU-ISU
EKOSISTEM
EKOSISTEM
LINGKUNGAN
dan kegiatanPERSPEKTIF
perlindungan
pengelolaan
jabatan
sehingga tidak
optimal mengawal dan
YANG
LEGAL dan
HUTAN
DAN KONSERVASI
RUSAK
DAN
AKTUAL
RUSAK
PADAyaitu
LANSKAP
lingkungan di PENGELOLAAN
tingkat ekoregion,
Pusat
menjalankan roda organisasi
pada lembaga
TERPULIHKAN
LANSKAP
Pengendalian Pengembangan
Ekoregion di
multipihak. Di berbagai tempat seringkali terjadi
KELEMBAGAAN
PARA PIHAK
bawah Kementerian LingkunganSTAKEHOLDERS
Hidup dan
perubahan komitmen manakala pimpinan
Kehutanan. Secara umum lembaga-lembaga
isntansi berganti
seiring dengan terjadinya
MONITORING
ASISTENSI
tersebut memiliki tujuan yang hampir sama,
suksesi kepemimpinan.
yaitu mensinergikan kebijakan, rencana dan
program dalam rangka perlindungan ekosistemModel arah kelembagaan konservasi bentang
ekosistem penting.
alam yang disarikan dari pembelajaran
mengenai kinerja lembaga-lembaga multipihak
Konservasi bentang alam pada Rencana
yang telah ada sebelumnya serta masukanInduk ini juga memberikan arahan untuk
masukan selama proses diskusi dalam rangka
mengembangkan
atau
membentuk
penyusunan Rencana Induk ini adalah sebagai
kelembagaan multipihak sebagai wadah
berikut:
koordinasi kebijakan dan perencanaan serta
kolaborasi program dalam kerangka konservasi
bentang alam. Arahan kelembagaan multipihak
pada Rencana Induk ini bisa saja merupakan
pengembangaan dari lembaga multipihak
yang telah ada sebelumnya, tetapi bisa juga
merupakan bentukan baru sepanjang belum
ada. Tentu saja, arahan kelembagaan multipihak

113

114

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel IV-1. Peran dan fungsi para pihak dalam kelembagaan pengelolaan bentang alam
No.

Peran

Regulator

Operator
Administratur

Fungsi
Mengembangkan kebijakan yang mendukung konservasi bentang
alam
Memberikan arahan program konservasi bentang alam
Menyetujui program-program konservasi bentang alam

Gugus Tugas
Restorasi

Gambar IV-3. Model pengembangan kelembagaan multipihak untuk konservasi bentang alam

Pohon beringin pencekik yang buahnya merupakan sumber pakan


utama bagi banyak jenis satwa di hutan tropis Asia. Foto diambil di
salah satu hutan dataran rendah Sumatera, 2004.
(Foto: Dolly Priatna)

Arah kelembagaan multipihak pada Rencana


Induk ini sangat memperhatikan aspek
keterwakilan dan juga tidak mengesampingkan
nilai penting pelibatan para pimpinan isntansi
pemerintah yang terkait. Namun demikian, agar
roda organisasi pada lembaga multipihak dapat
berjalan intensif dan efektif maka diperlukan
inovasi kelembagaan. Dalam konteks ini, inovasi
yang dimaksud diarahkan pada penataan peran
melalui pemilahan peran regulator, operator dan
eksekutor. Para pimpinan isntansi pemerintah
pusat maupun daerah adalah regulator, dalam
konteks kelembagaan multipihak mereka
akan menjadi steering committee konservasi
bentang alam. Wakil-wakil para pihak adalah
staf-staf pada setiap instansi pemerintah
dan lembaga non pemerintah yang secara
individual memiliki kompetensi yang relevan
agar ditugaskan untuk menjadi bagian dari
operator konservasi bentang alam yang akan
mengelola
program-program
konservasi
bentang alam. Sementara para pemangku lahan
(UMH swasta dan masyarakat) serta entitas lain
biasa bekerja di tingkat tapak adalah eksekutor
kegiatan-kegiatan konservasi bentang alam
di tingkat tapak. Dalam kerangka pengaturan
ini maka peran operator konservasi bentang
alam memegang peranan penting dalam
penyelenggaraan konservasi bentang alam,
sehingga perlu diperkuat dan dilengkapi unsurunsur pendukungnya.

Gugus Tugas
Pemberdayaan
dan Pendidikan
Lingkungan

Gugus Tugas
Pemantauan,
Bantuan Teknis, dan
Pengembangan
kapasitas

Pimpinan Instansi Pemerintah Pusat


dan Daerah pada sektor terkait

Mengelola roda organisasi pada lembaga multipihak



Gugus Tugas
Proteksi

Para Pihak

Membuat rencana teknis program proteksi pada tingkat bentang alam.


Menyampaikan dan menjelaskan usulan program proteksi bentang
alam kepada regulator untuk mendapat persetujuan.
Membangun jaringan kerja baik teknis dan pendanaan untuk
mendukung program proteksi bentang alam.
Memberikan pembinaan teknis terhadap para eksekutor kegiatankegiatan pada program proteksi di tingkat tapak.
Membuat laporan pelaksanaan program proteksi bentang alam

Bagian Perlindungan Dinas


Kehutanan.
Bagian Perlindungan dari Balai/
Balai Besar KSDA.
Bagian Perlindungan Restorasi
Balai/Balai Taman Nasional
Perguruan Tinggi.

Membuat rencana teknis program restorasi pada tingkat bentang


alam.
Menyampaikan dan menjelaskan usulan program restorasi bentang
alam kepada regulator untuk mendapat persetujuan.
Membangun jaringan kerja baik teknis dan pendanaan untuk
mendukung program restorasi bentang alam.
Memberikan pembinaan teknis terhadap para eksekutor kegiatankegiatan pada program restorasi di tingkat tapak.
Membuat laporan pelaksanaan program restorasi bentang alam

Bagian RHL Dinas Kehutanan.


Bagian Teknis/PEH/ Restorasi
Balai/Balai Besar KSDA.
Bagian Teknis/PEH/ Restorasi
Balai/Balai TN
Perguruan Tinggi.

Membuat rencana teknis program Pemberdayaan Masyarakat dan


Pendidikan Lingkungan untuk mendukung program proteksi dan
restorasi bentang alam.
Menyampaikan dan menjelaskan usulan program Pemberdayaan
Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan untuk mendukung program
proteksi dan restorasi bentang alam kepada regulator untuk
mendapat persetujuan.
Membangun jaringan kerja baik teknis dan pendanaan untuk
mendukung program Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan
Lingkungan untuk mendukung program proteksi dan restorasi
bentang alam.
Memberikan pembinaan teknis terhadap para pelaksana kegiatankegiatan pada program Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan
Lingkungan untuk mendukung program proteksi dan restorasi
bentang alam.
Membuat laporan pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat
dan Pendidikan Lingkungan
Membuat rencana teknis program Pemantauan Bantuan Teknis, dan
Pengembangan Kapasitas untuk penyelenggaraan program proteksi
dan restorasi bentang alam
Menyampaikan dan menjelaskan usulan program Pemantauan
Bantuan Teknis, dan Pengembangan Kapasitas untuk
penyelenggaraan program proteksi dan restorasi bentang alam.
Membangun jaringan kerja baik teknis dan pendanaan untuk
mendukung program Pemantauan Bantuan Teknis, dan
Pengembangan Kapasitas untuk penyelenggaraan program proteksi
dan restorasi bentang alam.
Memberikan pembinaan teknis terhadap para pelaksana kegiatankegiatan pada program Pemantauan Bantuan Teknis, dan
Pengembangan Kapasitas untuk penyelenggaraan program proteksi
dan restorasi bentang alam.
Membuat laporan pelaksanaan program Pemantauan Bantuan Teknis,
dan Pengembangan Kapasitas untuk penyelenggaraan program
proteksi dan restorasi bentang alam.

Penyuluh dari Dinas Kehutanan


Penyuluh dari Balai/Balai Besar
KSDA
Penyuluh dari Balai/Balai TN
Penyuluh dari BLH
LSM pendamping masyarakat
Devisi Comdev/CSR Perusahanperusahaan
Perguruan Tinggi
Dll

Perguruan Tinggi
LSM Lingkungan dan Konservasi
Bagian evaluasi pada Dinas
Kehutanan
Bagian evaluasi pada Balai/Balai
Besar KSDA
Bagian evaluasi pada Balai/Balai
Besar TN
Bagian Evaluasi / Pemantauan
dari BLH

Eksekutor

Melaksakan kegiatan proteksi di tingkat tapak


Melaksanakan kegiatan restorasi di tingkat tapak
Melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat
Melaksanakan kegiatan pendidikan lingkungan dan konservasi

Kelompok masyarakat pemegang


ijin pengelolaan hutan
Kelompok masyarakat yang
dibentuk untuk kegiatan restorasi
dan proteksi
Pengelola KSA/KPA di tingkat
tapak (seksi/resort)
Swasta pemegang ijin
pengusahaan hutan
LSM pendamping masyarakat

115

116

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

4.1.2 Pengembangan Kebijakan dan


Kapasitas Kelembagaan
Model pengembangan kapasitas yang diajukan
pada Rencana Induk konservasi bentang alam
ditunjukan pada gambar di bawah ini.
Kinerja kebijakan, rencana, program, dan
kegiatan akan sangat tergantung pada kondisi
kapasitas yang dimiliki oleh para pengambil
kebijakan. Oleh sebab itu, suatu kebijakan,
rencana, program, dan kegiatan lebih baik
mengintegrasikan agenda pengembangan
kapasitas untuk lebih meningkatkan peluang
pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Pengembangan kapasitas mencakup tiga
tingkatan, yaitu: sistem, lembaga, dan individu.
Pengembangan kapasitas pada tingkat sistem
mencakup kerangka kerja yang berhubungan
dengan aturan dan kebijakan. Pengembangan
kapasitas pada tingkat lembaga mencakup
struktur organisasi, proses pengambilan
keputusan, sumberdaya, hubungan-hubungan,
dan jaringan antarorganisasi. Sementara
pengembangan kapasitas pada tingkat individu
menyangkut pengetahuan, keterampilan, dan
tingkah laku. Ketiga tingkatan tersebut saling
bergantung, oleh karenanya pengembangan
kapasitas harus menyoroti kebutuhan kapasitas
pada semua tingkatan.

4.1.3 Proteksi
Istilah proteksi atau perlindungan dalam konteks
ekologi seringkali digunakan untuk beberapa
terminologi, di antaranya adalah: perlindungan
ekosistem, perlindungan habitat, perlindungan
hutan, perlindungan spesies hidupan liar.
Setiap terminologi itu memiliki cakupan yang
berbeda tetapi pada prakteknya di tingkat tapak
sangat terkait satu dengan lainnya. Perlindungan
spesies di alam berarti perlindungan hidupan
liar yang dalam prakteknya bertumpu pada
perlindungan habitat. Jika salah satu unsur
habitat suatu spesies di alam adalah hutan maka
perlindungan habitatnya mencakup perlindungan
hutan. Sementara hutan dalam ekosistem daratan
merupakan penopang utama kestabilan struktur
dan fungsi ekosistem, sehingga perlindungan
terhadap ekosistem akan besar pengaruhnya
terhadap perlindungan hutan.
Proteksi bentang alam dirumuskan sebagai
proses yang bertujuan untuk menjaga
keutuhan bentang alam melalui upayaupaya mempertahankan beberapa jenis
penggunaan
lahan
yang
kondisinya
masih baik dan memiliki peran penting
sebagai perekat keutuhan dan penopang
kesehatan suatu ekosistem bentang alam.

Program proteksi dan kegiatan-kegiatannya


akan beragam di setiap bentang alam,
tergantung
kondisi
dan
karakteristik
bentang alam, status dan fungsi lahan, dan
peluang-peluang yang ada.
Terhadap gangguan yang sifatnya terencana
merupakan bagian dari usaha pemanfaatan
kawasan hutan, sehingga upaya yang dapat
dilakukan adalah pemantauan (montoring)
pelaksanannya agar sesuai rencana kerja dan
memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan
produksinya. Sedangkan konservasi bentang
alam ini diprioritaskan pada gangguan pada
hutan yang tidak terencana. Penerapan hukum
yang bersifat administratif, pidana, dan persuasif
menjadi bagian terpenting agar tidak terjadi
kerusakan hutan yang semakin parah dan
tidak terkontrol.
Konsep proteksi bentang alam di dalam
Rencana Induk ini harus sistematis, terencana,
dan melibatkan para pihak yang relevan.
Fokus investasi pada proteksi bentang alam
diarahkan pada penguatan sistem perlindungan

dan pengamanan kawasan hutan pada


instusi pengelola hutan di tingkat tapak,
misalnya: memperkuat unit kerja perlindungan
pengamanan hutan pada Balai/Balai Besar KSDA
dan Taman Nasional, dinas kehutanan, unit-unit
manajemen hutan (IUPHHK, IUPHKm, IUPHTR,
HPHD, dll), dan lain-lain. Selain itu, intervensi
program proteksi bentang alam juga dapat
berupa pembentukan organisasi-organisasi
perlindungan dan pengamanan berbasis
masyarakat (community patrol unit) atau satuan
tanggap (response unit) untuk beberapa kasus
khusus dan lintas unit lahan, misalnya satuan
tanggap penanganan kebakaran hutan dan unit
konflik satwa-manusia.
Kegiatan-kegiatan dalam program proteksi
bentang alam dapat merupakan salah satu atau
kombinasi dari kegiatan perlindungan yang
bersifat tindakan mendahului (preemptive),
pencegahan (preventive), dan/atau penekanan/
pemaksaan (repressive), tergantung situasinya.
Sementara jenis-jenis kegiatan perlindungan
yang dilakukan tergantung pada jenis gangguan
yang terjadi, misalnya, penanggulangan
kebakaran hutan dan penyelesaian perambahan
hutan/penebangan liar (illegal logging).

Tabel IV-2. Gangguan terhadap hutan dan penyebabnya

Penyebab
Gangguan

Terencana

Gangguan Terhadap Hutan


Degradasi Hutan

Pemanenan pada IUPHHK-HA


sebagai pelaksanaan sistem
silvikultur TPTI

Deforestasi

Perubahan fungsi HPK menjadi non-kawasan


hutan untuk mengakomodasi kegiatan nonkehutanan
Land clearing (sebagai bentuk pelaksanaan
sistem silvikultur THPB ) di lokasi HTI pada
hutan yang masih baik
Pinjam pakai untuk pembangunan infrastruktur
( jalan, dll)

Tidak terencana

Illegal logging
Over cutting (penebangan
melebihi jatah tebang tahunan/
AAC) pada IUPHHK-HA atau
IUPHHK-HT

Gambar IV-4. Model pengembangan kapasitas untuk konservasi bentang alam

Perambahan di kawasan hutan (HP, HL, HK)


Kebakaran hutan/lahan
Penggunaan kawasan non- prosedural
(pembangunan jalan, dll)

117

118

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Pokja ini menghasilkan 10 asas dan 34 panduan


restorasi bentang alam di Indonesia. Pedoman
disusun dengan mengacu pada Panduan ITTO
Policy Development Series No. 13 tentang
ITTO Guidelines for Restoration, Management
and Rehabilitation of Degraded and Secondary
Tropical Forests, Panduan IUCN-ITTO Policy
Development Series No. 17 tentang ITTO/IUCN
Guidelines for the Conservation and Sustainable
Use of Biodiversity in Tropical Timber Production
Forests, dan lain-lain. 2 Beberapa pengalamanan
penerapan FLR di Amerika Latin dituliskan oleh
para praktisi yang menghasilkan prinsip dan
praktik FLR (Newton & Tejedor, 2011).

Gambar IV-5. Diagram model program aksi proteksi pada konservasi bentang alam

4.1.4 Restorasi
Pengertian tentang restorasi cukup beragam,
walaupun memiliki inti yang sama. Elliot et al. (1995)
dan Forest Restoration Research Unit (2006)
mendefinisikan restorasi sebagai salah satu upaya
untuk menyelamatkan dan memperbaiki kondisi
ekosistem hutan sebagai habitat bagi flora-fauna
yang hidup di dalamnya. Restorasi juga dipahami
sebagai proses yang intensif untuk membantu
pemulihan dan pengelolaan keutuhan ekologi
suatu ekosistem yang rusak termasuk berbagai
variabel keanekaragaman hayati penting,
struktur dan proses-proses ekologi, konteks
sejarah dan kewilayahan, dan kelestarian budaya
(Perrow & Davy, 2002). Restorasi ekosistem
menurut Society for Ecological Restoration (SER,
2002) adalah proses membantu pemulihan
suatu ekoisistem yang telah terganggu, rusak
atau punah. Restorasi disarankan ketika suatu

ekosistem telah berubah ke tingkat tertentu


sehingga tidak bisa lagi diperbaiki atau
dperbaharui atau memperbaharui diri sendiri.
Dalam kondisi ini, homeostatis ekosistem telah
berhenti secara permanen dan proses normal
untuk regenrasi normal atau perbaikan alami
dari kerusakan terhalangi oleh berbagai sebab.
Beberapa organisasi yang bekerja di Indonesia
(ITTO, Tropenbos Indonesia, dan IUCN)
mendorong terbentuknya Kelompok Kerja
(Pokja) Nasional Restorasi Bentang Alam
yang menggagas restorasi bentang alam
hutan (forest landcape restoration/FLR). Pokja
tersebut mendefinisikan FLR sebagai proses
pemulihan untuk mengembalikan keutuhan
ekologis dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di kawasan bentang alam hutan
yang
terdeforestasi
dan
terdegradasi.

Pemerintah Indonesia telah memiliki perangkat


hukum untuk penyelenggaraan pemulihan hutan
dan lahan, yang dikenal dengan istilah reboisasi,
rehabilitasi, dan reklamasi. Di dalam UndangUndang No.41/1999 tentang Kehutanan, pada
bagian Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan (Pasal
40-45) yang mengatur upaya pemulihan hutan
dan lahan sebagai bagian dari pengelolaan
hutan dan menjaga keberlangsungan fungsifungsi hutan (produksi, lindung, konservasi)
dan lahan. Ketentuan lebih lanjut diatur dalam
Peraturan Pemerintah No.76 tahun 2008
tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan (RRH).
Pedoman-pedoman teknis pelaksanaannya
diatur melalui beberapa Peraturan Menteri,
antara lain Permenhut No.P.39/2010 (Kriteria
dan Standar RRH), P.4/2011 (Pedoman reklamasi
hutan), P.32/2009 (Rencana Teknis Rehabilitasi
Hutan dan Lahan). Berdasarkan regulasi
tersebut, didapatlah beberapa istilah yang resmi
digunakan oleh pemerintah untuk berbagai
kegiatan penanaman pohon dengan tujuan
tertentu, sebagaimana dijelaskan berikut ini:
a. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)
merupakan upaya untuk memulihkan,
mempertahankan, dan meningkatkan fungsi
hutan dan lahan sehingga daya dukung,
produktivitas, dan peranannya dalam
mendukung sistem penyangga kehidupan
tetap terjaga. Kegiatan rehabilitasi di dalam
kawasan hutan dilakukan di kawasan hutan
kecuali cagar alam dan zona inti taman
nasional. Kegiatan rehabilitasi di luar kawasan
hutan dilakukan pada lahan yang kritis.
Program RHL dilakukan melalui kegiatan
reboisasi dan penghijauan, dan pengayaan
tanaman serta konservasi tanah di lahan
kritis/tidak produktif.

b. Reboisasi adalah bagian dari RHL,


merupakan kegiatan penanaman jenis
pohon hutan pada kawasan hutan rusak,
berupa lahan kosong, alang-alang, atau
semak belukar untuk mengembalikan fungsi
hutan di kawasan hutan lindung, hutan
produksi, dan hutan konservasi. Reboisasi di
hutan lindung bertujuan memulihkan fungsi
pokok perlindungan sistem penyangga
kehidupan dan mengatur tata air, mencegah
banjir, mengendalikan erosi, mencegah
intrusi air laut, dan memelihara kesuburan
tanah. Reboisasi di hutan produksi bertujuan
meningkatkan produktivitas hutan produksi.
Reboisasi di hutan konservasi bertujuan
untuk pembinaan habitat dan peningkatan
keanekaragaman hayati.
c. Penghijauan adalah bagian dari RHL,
merupakan kegiatan pemulihan lahan kritis di
luar kawasan hutan (APL) untuk memulihkan
dan meningkatkan produktivitas lahan yang
kondisinya rusak agar dapat berfungsi secara
optimal. Penghijauan dilakukan dengan
cara membangun hutan hak (hutan rakyat),
hutan kota, atau penghijauan lingkungan.
Pengayaan tanaman adalah bagian dari RHL,
berupa kegiatan memperbanyak keragaman
spesies dengan cara pemanfaatan ruang
tumbuh secara optimal melalui penanaman
pohon.
d. Reklamasi Hutan adalah usaha untuk
memperbaiki atau memulihkan kembali
lahan dan vegetasi hutan yang rusak agar
dapat berfungsi secara optimal sesuai
peruntukannya. Dilakukan pada lahan dan
vegetasi hutan di kawasan hutan yang telah
mengalami perubahan permukaan tanah
dan perubahan penutupan tanah akibat
bencana alam dan penggunaan kawasan
hutan, seperti pertambangan. Revegetasi
adalah bagian dari program reklamasi, untuk
memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang
rusak melalui kegiatan penanaman dan
pemeliharaan di lahan bekas penggunaan
kawasan hutan.
Peraturan Pemerintah No.28 Tahun 2011 tentang
Pengelolaan KSA dan KPA, menggunakan istilah
pemulihan ekosistem yang dilakukan melalui
mekanisme alam, rehabilitasi, dan restorasi.

2 Tropenbos International. 2009. Forest Landcape Restoration. Bahan Prensetasi Workshop Restorasi di Wanagama 7-8 Desember 2008.

119

120

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Mekanisme alam berupa penutupan kawasan


atau perlindungan proses alam terhadap
intervensi aktivitas manusia yang dapat berupa
kegiatan menjaga dan melindungi ekosistem
agar proses pemulihan ekosistem dapat
berlangsung secara alami. Rehabilitasi adalah
upaya pemulihan melalui penanaman atau
pengayaan jenis dengan jenis tanaman asli atau
pernah tumbuh secara alami di lokasi tersebut.
Pola rehabilitasi selama ini dipergunakan untuk
pemulihan ekosistem di kawasan konservasi,
dan telah dianggap kurang sesuai untuk terus
diterapkan. Sedangkan Restorasi adalah upaya
pemulihan melalui kegiatan pemeliharaan,
perlindungan, penanaman, pengayaan jenis
tumbuhan dan satwa liar, atau pelepasliaran
satwa liar hasil penangkaran atau relokasi satwa
liar dari lokasi lain. Pola restorasi telah dianggap
sebagai konsep yang paling sesuai diterapkan
untuk pemulihan ekosistem di kawasan
konservasi.
Istilah restorasi juga digunakan untuk kawasan
hutan produksi dengan istilah Restorasi
Ekosistem, yang berawal dari Surat Keputusan
Menteri
Kehutanan
No.159/Kpts-II/2004
mengenai Restorasi Ekosistem di Kawasan
Hutan Produksi. Ketentuan ini kemudian diadopsi
oleh Peraturan Pemerintah No.6 tahun 2007
tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan,
sehingga lahirlah Izin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE).
Untuk pertama kalinya, IUPHHK-RE diberikan

kepada PT REKI pada Februari 2008 dan


hingga kini telah terdapat 15 ijin IUPHHK-RE.
Izin Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) diberikan
untuk membangun hutan alam pada hutan
produksi yang memiliki ekosistem penting
sehingga dapat dipertahankan fungsi dan
keterwakilannya melalui kegiatan pemeliharaan,
perlindungan, dan pemulihan ekosistem hutan
termasuk penanaman, pengayaan, penjarangan,
penangkaran satwa, pelepasliaran flora dan
fauna untuk mengembalikan unsur hayati (flora
dan fauna) serta unsur non-hayati (tanah, iklim,
dan topografi) pada suatu kawasan kepada jenis
yang asli, sehingga tercapai keseimbangan
hayati dan ekosistemnya. Perbandingan
mekanisme
restorasi/pemulihan
kawasan
ditampilkan di dalam Lampiran 8.
Regulasi mengenai penyelenggaraan restorasi
di Indonesia masih bersifat umum, dan hingga
saat ini belum tersedia panduan teknisnya.
Sementara dari praktek-praktek di lapangan
muncul berbagai istilah, di antaranya adalah
restorasi habitat, restorasi hidrologi, dan
restorasi ekosistem. Perbedaan di antara
ketiganya ditentukan oleh tujuan dan kondisi
lahan atau tapaknya. Sementara persamaannya
adalah sama-sama ingin mencapai kondisi yang
seimbang.

Gambar IV-6. Berbagai istilah untuk kegiatan restorasi dan pemulihan kawasan
Sumber dari beberapa peraturan perundang-undangan

Gambar IV-7. Diagram model program aksi proteksi pada konservasi bentang alam

Restorasi habitat ditujukan untuk menyediakan


tempat hidup yang sesuai untuk satu, beberapa,
atau keseluruhan kenakeragaman hayati yang
diinginkan melalui penyediaan komponenkomponen habitat kunci. Pertimbanganpertimbangan penting dalam restorasi habitat
mencakup faktor spasial atau luasan yang
sesuai untuk tempat hidup dalam unit populasi
tertentu atau terkait dengan konektivitas
habitat, struktur populasi, fitness populasi,
dan viabilitas populasi. Restorasi hidrologi
sebenarnya merupakan rekayasa terhadap sifat
tapak sehingga memungkinkan untuk dilakukan
upaya pemulihan terhadap struktur diatasnya.
Restorasi hidrologi dilakukan pada sifat tapak
berupa lahan basah seperti lahan gambut, rawa
bakau, dan rawa air tawar. Restorasi hidrologi
pada dasarnya adalah pengaturan kondisi tata
air mikro yang ditujukan untuk memperkecil
faktor penghambat atau membesar faktor

pemicu
terjadinya
pemulihan
struktur
baik secara alami maupun oleh manusia.
Selanjutnya adalah restorasi ekosistem,
merupakan aktivitas pemulihan dalam skala
lebih luas yang didalamnya bisa terdiri dari
berbagai jenis kegiatan restorasi yang ditujukan
untuk mengembalikan ekosistem mendekati
ekosistem asli.
Kajian tentang restorasi/pemulihan kawasan
sangat
diperlukan
untuk
meningkatkan
pemahaman tentang suksesi ekosistem hutan,
sebagai dasar menyusun tujuan restorasi
yang luwes dan terbuka untuk perubahan.
Suksesi hutan juga menyarankan tentang
rekonstruksi dalam dinamika ekosistem yang
menggabungkan respon akibat perubahan
dalam ekosistem (interaksi spesies) dan akibat
kerusakan dari luar (modifikasi untuk variabel
abiotik tetapi juga invasi dari biotik). Pada
tingkat komunitas, pengetahuan mengenai
suksesi dapat menjelaskan informasi tentang

121

122

BAB EMPAT

biomasa, kekayaan jenis, kelimpahan jenis


dan kesatuan spasial yang berguna dalam
manajemen restorasi. Suksesi, selain dicirikan
oleh jangkauan perkiraan waktu yang lama,
juga menjadi prediksi perubahan untuk waktu
yang pendek dalam dinamika spesies dan
pengadaan sistem rujukan untuk manajemen
restorasi (Aroson & van Andel, 2006). Informasi
dari suksesi yang bermanfaat untuk restorasi,
meliputi fungsional dari kelompok tumbuhan
(atribut pokok), spesies penyaring, kumpulan
ekosistem, model transisi dan permodelan
biogeokemikal (Walker et al., 2007).
Restorasi pada konservasi bentang alam
di dalam Rencana Induk ini pada dasarnya
diarahkan untuk memulihkan habitat spesies
flagship sekaligus merehabilitasi daerah
tangkapan air dan secara langsung dapat
meningkatkan kemampuan ekosistem untuk
menyerap dan menyimpan karbon. Secara
teknis, perlakuan di dalam restorasi pada 10
bentang alam akan berbeda, tergantung dari
sifat tapak (mineral atau gambut) dan ekosistem
rujukan berupa habitat spesies bendera. Pada
konteks penyelenggaraannya, restorasi di setiap
bentang alam diilustrasikan dalam gambar IV-7.

4.1.5 Pemberdayaan Masyarakat


Pemberdayaan masyarakat hampir selalu
menjadi bagian penting dalam kebijakan
dan
program
pengelolaan
sumberdaya
alam. Pengertian mengenai pemberdayaan
masyarakat cukup beragam, dalam sejumlah
publikasi ditemukan beberapa definisi mengenai
pemberdayaan masyarakat yang paling relevan
terhadap inisiatif konservasi bentang alam ini,
yaitu:
a. Pemberdayaan
masyarakat
adalah
segala bentuk kegiatan yang bertujuan
untuk terus meningkatkan keberdayaan
masyarakat, memperbaiki kesejahteraan,
dan meningkatkan partisipasi mereka dalam
segala kegiatan konservasi sumberdaya
alam hayati dan ekosistemnya secara
berkelanjutan. 3
b. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu
proses pengembangan pola pikir dan pola

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

sikap yang mendorong timbulnya kesadaran


anggota masyarakat agar mau memperbaiki
kehidupannya
dengan
menggunakan
potensi yang dimilikinya. Pemberdayaan itu
berupa kegiatan untuk mendapatkan manfaat
sumberdaya hutan, melalui pengembangan
kapasitas dan pemberian akses dalam rangka
peningkatan kesejahteraan masyarakat
setempat.4
Selain pemberdayaan masyarakat, terdapat
pula terminologi lain terkait dengan peran
masyarakat dalam pengelolaan hutan, yaitu
peran serta masyarakat dalam pengelolaan
hutan. Konsep peran serta diartikan sebagai
pelibatan masyarakat dalam beberapa
bagian
kegiatan
pengelolaan
hutan,
misalnya dalam hal pengamanan kawasan
hutan, pengendalian kebakaran hutan, dan
lain-lain. Pada faktanya masyarakat dapat
menjadi pelestari lingkungan yang sangat
efektif, tetapi sebaliknya, mereka juga dapat
menjadi mesin penghancur yang efektif.
Dari berbagai laporan para pihak ditemukan
kesamaan alasan mengenai dua fenomena
yang bertolak belakang tersebut, yaitu:
a. Fenomena sinergi antara masyarakat dan
pengelolaan hutan di beberapa tempat secara
mendasar disebabkan oleh pemberikaan
hak dan akses kepada masyarakat terhadap
pengelolaan dan manfaat hutan. Kondisi ini
ditemukan pada kegiatan pemberdayaan
masyarakat di Hutan Lindung Sungai Wein
Kalimantan Timur, pengelolaan gambut
bersama masyarakat di Desa Harapan JayaKab. Indragiri Hilir-Riau5. Selain itu, telah
di lakukan kegiatan pengelolaan hutan
berbentuk hutan adat yang diakui oleh
pemerintah daerah seperti di Kabupaten
Bungo dan Sarolangun sejak tahun 1990
melalui skema pengelolaan hutan berbasis
masyarakat yang masih dilakukan hingga
saat ini. Selanjutnya, di Jambi, Pemerintah
Daerah telah menerbitkan surat keputusan
dalam pengelolaan hutan desa. Hal tersebut
merupakan contoh wilayah yang telah
menerapkan Hutan Desa dengan luas sekitar
54.978 hektar melalui Hak Pengelolaan
Hutan Desa dan mendapat dukungan dari
pemerintah setempat6.

3 Direkorat PJLWA. 2008. Pedoman Monitoring dan Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi. Direktorat Jenderal PHKA. Jakarta.
4 Kepmenhut. 2007. Rencana makro pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar Hutan. Jakarta
5 Sebuah Inisiatif Pengelolaan Kawasan Gambut Berbasis Masyarakat di Desa Harapan Jaya-Indragiri Hilir Provinsi Riau. Pemerintah Desa Harapan Jaya, Kabupaten
Indragiri Hilir-European Union. Diskusi Singkat Konsep Pengelolaan Kawasan Gambut yang Berkelanjutan di Riau. Pekanbaru 11 Desember 2012.
6 http://warsi.or.id/news/2013/News_201308_Gubernur_Tandatangani_17_Hak_Pengelolaan_Hutan_Desa.php?year=2013&file=News_201308_Gubernur_Tandatangani_17_Hak_Pengelolaan_Hutan_Desa.php&id=249

b. Fenomena
hubungan
buruk
antara
masyarakat dan hutan dilaporkan sebagai
dampak dari ketiadaan hak dan akses
masyarakat terhadap pengelolaan dan
manfaat hutan. Kondisi ini mungkin
lebih banyak terjadi yang diindikasikan
dengan daftar konflik yang berujung pada
pengurusakan yang sangat cepat terhadap
hutan yang pemulihannya membutuhkan
waktu yang lama dan biaya yang sangat
besar.7
Dengan mengacu pada alasan tersebut
maka dapat dikatakan masyarakat menjadi
salah satu aktor kunci dalam upaya
mempertahankan atau memperbaiki hutan.
Sehingga pengintegrasian skema-skema
masyarakat dalam konservasi bentang
alam adalah salah satu faktor pemungkin
terselenggaranya dan tercapainya tujuantujuan dari konservasi bentang alam.
Masyarakat harus diberi kesempatan dan
peluang untuk bertanggung jawab terhadap
pengelolaan hutan, diperbesar aksesnya
terhadap manfaat hutan, dilibatkan dalam
berbagai kegiatan pengelolaan hutan, dan
diperkuat kapasitasnya dalam hal kelola
kelembagaan, kelola areal kerja, dan kelola
usaha.
Program pemberdayaan masyarakat dalam
konservasi bentang alam harus mampu
mengatasi isu terpenting dari pemberdayaan
masyarakat hutan, yaitu mengenai kemiskinan
masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar
hutan. Kemiskinan itu mencakup kondisi
keterbatasan dalam berbagai hal, misalnya:
pangan, papan, akses kesehatan, pendidikan,
informasi, pekerjaan, dan kebebasan (eksistensi
diri). Sehingga pemberdayaan masyarakat
dalam konservasi bentang alam ini salah satunya

berorientasi pada pengentasan kemiskinan,


yaitu aksi untuk mengubah keadaan sehingga
terpenuhinya sandang, pangan, papan, akses
terhadap pendidikan dan kesehatan, terlindungi
dari ancaman kerusakan lingkungan, kepastian
wilayah kelola dan jaminan pelindungnya, serta
dapat menyuarakan aspirasinya.
Aksi pengentasan kemiskinan harus dapat
menjangkau dan mengatasi dua tipe kemiskinan,
yakni kemiskinan struktural dan kemiskinan
absolut. Kemiskinan struktural terjadi akibat
struktur yang membelenggu masyarakat secara
keseluruhan untuk melakukan kemajuan.
Rendahnya alokasi atau akses mengelola
kawasan hutan negara secara sah merupakan
salah satu bentuk kemiskinan struktural.
Sedangkan kemiskinan absolut terjadi akibat
sangat terbatasnya sumber-sumberdaya alam
dan faktor keterpencilan (remoteness) yang
berakibat rendahnya daya dukung alam untuk
menghidupi masyarakat.
Berbagai laporan juga menginformasikan bahwa
kemiskinan masyarakat hutan disebabkan
oleh lemahnya akses masyarakat terhadap
manfaat ekonomi hutan; rendahnya kapasitas
masyarakat; kurangnya asupan teknologi tepat
guna yang dapat digunakan oleh masyarakat
untuk mengoptimalkan manfaat sumberdaya
lokal, dan mengatasi masalah pemasaran
hasilnya. Oleh karena itu, pemberdayaan
masyarakat selalu bertumpu pada tiga kegiatan
utama, yakni: 1) Meningkatkan akses kepada
masyarakat terhadap pengelolaan dan manfaat
hutan; 2) Meningkatkan kapasitas masyarakat;
dan 3) Meningkatkan asupan teknologi tepat
guna, ramah lingkungan, rendah modal, dan
jaminan pemasarannya.

Gambar IV-8. Model pemberdayaan masyarakat pada konservasi bentang alam


7 Kasus perambahan yang melibatkan aktor intelektual atau pemodal besar untuk pembukaan kebun sawit sawit banyak terjadi di Provinsi Riau, sedangkan untuk
pertambangan terindikasi kuat di bentang alam Kutai.

123

124

BAB EMPAT

Pemberdayaan masyarakat yang diproyeksikan


untuk jangka panjang tidak dapat dilakukan
secara parsial tetapi harus dilakukan secara
sistemik dalam kebijakan, rencana, dan program
pembangunan daerah. Oleh karenanya aspek
keterpaduan akan menjadi salah satu kriteria
dalam penentuan program pemberdayaan
masyarakat dalam konservasi bentang alam ini.
Tantangan
pemberdayaan
masyarakat
dalam konservasi bentang alam ini adalah
meningkatkan
keterlibatan
masyarakat
dalam upaya restorasi dan proteksi sekaligus
meningkatkan peluang bagi mereka untuk
terlepas dari kondisi kemiskinan struktural
dan absolut. Tantangan lainnya adalah
meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan
keterlibatan masyarakat dalam upaya restorasi
dan proteksi. Oleh karenanya pemberdayaan
masyarakat juga harus didukung oleh
program-program pendidikan lingkungan dan
konservasi. Program ini juga diproyeksikan
untuk membentuk generasi selanjutnya yang
lebih sadar dan memiliki kemandirian dalam
upaya-upaya pelestarian hutan dan lingkungan.
Sisi lain dari hubungan masyarakat dan
hutan adalah mengenai kerusakan hutan
yang disebabkan oleh kelompok-kelompok
masyarakat yang secara sosiologis dan
atropologis tidak memiliki hubungan sejarah
dengan hutan, misalnya seperti kasus
perambahan yang melibatkan masyarakat
luar dan sejumlah aktor intelektual atau
pemodal besar untuk kepentingan pembukaan
perkebunan sawit dan pertambangan. Pada
kasus-kasus seperti ini program-program untuk
mendorong penegakan hukum mungkin lebih
sesuai daripada pemberdayaan masyarakat.
Upaya untuk mengelola aspek sosial dalam
konservasi bentang alam ini harus didahului oleh
serangkaian studi sosial dan antropologi untuk
menentukan tipologi kelompok sasaran, strategi,
pola pendekatan, dan pola pendampingan
program kelola sosial yang paling sesuai
penerapannya. Kelompok masyarakat yang
lokasi usaha taninya sangat terpencil, akses
jalan/transportasi sangat buruk (Lihat Gambar
II-6, halaman 36). Namun jenis komoditas
yang ditanam sudah berorientasi pada pasar
karena kesesuaian lahan untuk komoditas
tersebut.
Misalnya
beberapa
kelompok
HKm di Lampung dengan komoditas kopi,

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

menjadi sasaran pengijon yang memiliki modal


untuk mengangkut kopinya ke pasar. Kelompok
ini juga terjebak pada lemahnya permodalan,
masalah hama dan penyakit tanamannya. Nilai
keuntungan sebagian besar justru lebih banyak
didapatkan oleh pengijon atau pengumpul.
Kelompok masyarakat yang lokasi usaha
taninya dekat dengan jalan besar sekaligus
komoditasnya
berorientasi
pada
pasar.
Kelompok ini hanya memerlukan sedikit
dukungan
permodalan,
pengorganisasian
sistem keuangan mikro, pembentukan koperasi
atau kelompok usaha bersama. Kelompok ini
juga memerlukan dukungan dari para penyuluh
pertanian/perkebunan karena kemudahan
akses untuk mendatangi masyarakat. Ancaman
pada kelompok ini adalah kecenderungannya
untuk menjual atau menyewakan areal usahanya
kepada pihak luar.
Kelompok yang semula subsisten lalu mulai
berorientasi pada pasar karena terbukanya
akses jalan/transportasi dan munculnya pusatpusat pertumbuhan ekonomi di desa, kecamatan,
dan kabupaten. Pemekaran kabupaten adalah
contoh langsung yang membuka akses desadesa yang semula terpencil, menuju terbukanya
akses ke pasar. Keterbukaan akses ini akan
mempengaruhi pola usaha tani dari komoditas
subsisten ke komoditas yang berorientasi pada
pasar. Fenomena yang dihadapi kelompok ini
adalah peralihan pengusahaan pertanian yang
subsisten kepada perkebunan yang cepat
menghasilkan uang, bahkan beralih ke tanaman
kayu-kayuan untuk keperluan industri.
Kelompok yang hidupnya sangat terpencil dan
sebagian besar usaha taninya masih berorietasi
pada pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Sebagian besar komoditas yang dipasarkan
sangat tergantung pada pengumpul/pengijon
yang lebih banyak mendapatkan keuntungan.
Namun kelompok ini memiliki pengetahuan
yang bagus mengenai sumberdaya hutan di
sekitarnya karena mereka sangat tergantung
pada berbagai manfaat hutan. Daya tahan
hidupnya tinggi karena terbiasa hidup dalam
keterpencilan. Pendampingan pada kelompok
ini memerlukan konsistensi dan kehatihatian agar tidak merusak modal sosial dan
kearifan tradisional yang mereka miliki. Potensi
yang besar pada kelompok ini antara lain
pengembangan ekowisata berbasis masyarakat
dan jasa lingkungan.

Pemandangan dari udara, memperlihatkan areal inti Bentang Alam GSKBB, Riau, yang didominasi oleh tasik-tasik yang menyimpan
keanekaragaman hayati perairan tawar yang tinggi, November 2007. (Foto: Dok. APP)

Program pendidikan lingkungan dan konservasi


alam pada inisiatif konservasi bentang alam ini
mempunyai tujuan-tujuan yang hampir sama
dengan tujuan-tujuan pendidikan lingkungan
pada umunnya, yaitu untuk: 1) Meningkatkan
Kesadaran, yakni untuk membantu kelompok
sosial dan atau perorangan menjadi sadar
dan peka terhadap lingkungan keseluruhan
serta berbagai permasalahan yang terkait
didalamnya; 2) Menambah Pengetahuan,
yakni untuk membantu kelompok sosial dan
atau perorangan mendapatkan beragam
pengalaman serta memiliki pemahaman
dasar mengenai lingkungan; 3) Memperbaiki
Sikap dan kebiasaan, yakni untuk membantu
kelompok sosial dan atau perorangan untuk
menyusun kerangka nilai-nilai dan perasan
peduli terhadap lingkungan, serta termotivasi
untuk berpartisipasi dalam perbaikan dan
perlindungan lingkungan; 4) Mengembangkan
Keterampilan, yakni untuk membantu kelompok
sosial dan atau perorangan mengembangkan
keterampilan untuk mengidentifikasi dan
menjawab permasalahan lingkungan; dan
5) Membangun Partisipasi Aktif, yakni untuk
membantu menjadikan kelompok sosial
dan individu secara aktif terlibat di setiap
tingkatan upaya menuju penyelesaian masalah
lingkungan.

Kondisi sosial masyarakat dan potensi


sumberdaya alam serta hubungan-hubungan
yang terjadi di antara keduanya di setiap
tempat berbeda satu dengan lainnya. Sehingga
proses-proses transformasi nilai-nilai yang
didorongkan dari luar memerlukan berbagai
bentuk penyesuaian terhadap aspek local
specific yang ada di setiap tempat. Pemahaman
menganai hal ini harus menjadi salah satu
dasar pertimbangan dalam penyelenggaraan
program pendidikan lingkungan dan konservasi
alam. Oleh karenanya penyelenggaraan
pendidikan lingkungan dan konservasi alam
dalam kerangka konservasi 10 bentang alam ini
dirancang sedimikian rupa agar sesuai dengan
isu-isu lingkungan dan konservasi alam di
setiap bentang alam, budaya atau adat-istiadat
setempat dan kondisi kelompok sasaran.
Secara fisik, hal-hal tersebut termuat di dalam
material dan media pendidikan lingkungan dan
pendidikan konservasi yang dipergunakan.
Pendidikan lingkungan dan konservasi alam
sebenarnya telah menjadi bagian dari tugas
dan fungsi pemerintah, dalam konteks ini
adalah Balai dan Balai Besar Konservasi
Sumberdaya Alam (BKSDA dan BBKSDA)

125

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

VISI: Terwujudnya struktur dan fungsi


ekosistem bentang alam yang
berkualitas
sehingga
mampu
menjadi penopang pembangunan
berkelanjutan pada 10 bentang alam
di Sumatera dan Kalimantan.

Sebuah bentang alam di Sumatera yang menunjukkan interaksi antara kawasan hutan, pemukiman masyarakat, dan perkebunan. Gambar
diambil Juni 2010. (Foto: Rolf M Jensen)

yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari


Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian
LHK. Instansi ini salah satunya memiliki tugas
dan fungsi dalam penyelenggaraan bina cinta
alam dan penyuluhan konservasi sumberdaya
alam. Sementara di tingkat pemerintah daerah,
instansi yang memiliki tugas dan fungsi terkait
dengan program ini adalah Badan Linkungan
Hidup Daerah (BLHD).

Untuk mencapai tujuan-tujuan dari pendidikan
lingkungan dan konservasi alam sebagaimana
disebutkan di atas, sejumlah inovasi perlu
dirancang untuk mengefektifkan program
bina cinta alam dan penyuluhan konservasi
alam, sekaligus untuk mengoptimalkan kinerja
instansi yang memiliki tugas dan fungsi terkait
dengan pendidikan lingkungan dan konservasi.
Inovasi program yang diajukan dalam Rencana
Induk ini berupa program pembangunan
pusat pembelajaran konservasi alam, satuan
kampanye begerak (mobile campaign unit),
serta perpustakaan begerak (mobile library) dan
kunjungan ke sekolah-sekolah (school visit).

4.1.6 Pemantauan dan Asistensi Teknis


Kegiatan pemantauan diarahkan paling tidak
pada dua lingkup utama, yaitu: memantau
kinerja kegiatan-kegiatan pada program
proteksi dan restorasi serta memantau kinerja

pengelolaan kawasan bernilai konservasi


tinggi dan karbon tinggi di dalam areal-areal
kerja konsesi hutan produksi. Sementara
asistensi
diarahkan
untuk
memberikan
bantuan teknis (technical assistance) terhadap
penyelegggaraaan konservasi bentang alam
secara terpadu atau parsial. Kegiatan asistensi
teknis sebaiknya dilakukan oleh suatu unit kerja
yang dibentuk pada tingkat nasional dalam
bentuk Technical Advisor Committee (TAC)
untuk mengawal implementasi Rencana Induk
di tingkat bentang alam atau penyelenggaraan
konservasi bentang alam secara baik secara
terpadu maupun parsial.
Khusus di kawasan hutan produksi yang telah
menjadi areal kerja konsesi pengusahaan
hutan, kegiatan pemantauan dan asistensi
diarahkan untuk memantau dan memberikan
bantuan teknis kepada pemegang konsesi
dalam pemenuhan syarat-syarat kelestarian
pengelolaan hutan produksi lestari yang bersifat
wajib atau sukareala. Kegiatan asistensi berupa
dukungan teknis terhadap unit manajemen
hutan (UMH) yang sedang dalam tahap
penilaian dan perencanaan untuk penerapan
instrument-intsrumen kelestarian pengelolaan
hutan lestari. Sedangkan kegiatan pemantauan
yang akan dilakukan berupa pemantauan
terhadap pelaksanaan rencana kerja instrumenintsrumen kelestarian pengelolaan hutan.

4.2 VISI DAN MISI KONSERVASI


BENTANG ALAM

Pengelolaan bentang alam selalu didominasi


oleh isu-isu mengenai penggunaan lahan.
Begitu pula dengan pengelolaan bentang alam
yang berkelanjutan (sustainable landscape
management) akan selalu didominasi oleh
pembahasan mengenai penggunaan lahan
yang berkelanjutan (sustainable landuse
management) yang mencerminkan bahwa
penggunaan atau pemanfaatan lahan adalah
inti dari pengelolaan bentang alam. Para pihak
dari kalangan akademisi, pengambil kebijakan,
praktisi, bahkan beberapa dari elemen
masyarakat telah sejak lama memformulasikan
konsep dan parameter-parameter untuk
keberlanjutan pengelolaan wilayah. Berbagai
bentuk kebijakan, rencana dan program juga
telah diberlakukan, tetapi hasilnya baru terlihat
maju di atas kertas, sementara di tingkat tapak
hingga saat ini cenderung masih didominasi
oleh isu-isu kerusakan lingkungan dan konflik
kepentingan para pihak mengenai penguasaan
dan pemanfaatan lahan. Kondisi tersebut juga
ditemukan pada 10 bentang alam yang menjadi
unit analisis perencanaan pada Rencana
Induk ini. Sehingga istilah sustainable dalam
setiap inisiatif pengelolaan bentang alam
selalu menjadi cita-cita yang mencerminkan
kondisi yang ingin dicapai atau diharapkan.
Salah satu instrumen kunci untuk mewujudkan
keberlanjutan (sustainability) tersebut adalah
konservasi, sehingga rumusan visi konservasi
bentang alam dalam Rencana Induk ini adalah:

Struktur dan fungsi ekosistem yang berkualitas


dalam Rencana Induk ini didekati dengan
konsep kesehatan ekosistem (ecosystem health)
yaitu suatu kondisi ekosistem yang mampu
untuk memperbaharui dirinya sendiri secara
alami. Program konservasi pada 10 bentang
alam yang menjadi pokok perencanaan dalam
Rencana Induk ini diformulasikan tidak pada
kondisi hampa kepentingan. Kondisi biofisik
pada 10 bentang alam tersebut juga tidak dalam
kondisi baik akibat berbagai bentuk aktivitas
manusia baik yang direncanakan maupum
yang tidak direncanakan. Oleh karenanya
konservasi dalam konteks Rencana Induk ini
memiliki dua fokus utama yakni perlindungan
terhadap ekosistem alami yang masih tersisa
dan pemulihan ekosistem alami yang termasuk
dalam kategori kawasan penting bentang alam
tetapi kondisinya telah terlanjur rusak. Fokus
ini mencerminkan misi dari konservasi bentang
alam pada rencana iniduk ini, yaitu:

MISI:
1. Menyelenggarakan
upaya-upaya
perlindungan
terhadap
kawasankawasan penting bentang alam
yang masih dalam kondisi baik pada
10 bentang alam di Sumatera dan
Kalimantan;
2. Menyelenggarakan
upaya-upaya
pemulihan terhadap kawasan-kawasan
penting bentang alam yang telah
terlanjur rusak pada 10 bentang alam di
Sumatera dan Kalimantan.

126

Misi tersebut akan dilaksanakan melalui


strategi-strategi
yang
dirumuskan
dari
informasi-informasi yang dihimpun secara
inklusif dengan melibatkan para pemangku
kepentingan pada setiap unit lahan pada
masing-masing bentang alam. Pelibatan para
pihak tersebut juga diharapkan menjadikan
Rencana Induk ini tidak saja sebagai dokumen
perencanaan tetapi juga memiliki nilai
kesepakatan dan program yang tepat sasaran
di tingkat tapak.

127

128

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

4.3 PRINSIP KONSERVASI


BENTANG ALAM

4.4.1 Wilayah
Intervensi
Bentang alam

Konservasi bentang alam merupakan bagian


dari pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan.
Interaksi antarkomponen sistem di dalam
bentang alam, termasuk manusia dengan
beragam kepentingannya, dikelola dengan
terencana dan terukur sehingga ekosistem
bentang alam tetap terjaga kesehatannya.
Dengan memperhatikan berbagai perspektif dan
isu ekologis yang berkembang di tingkat tapak,
masukan-masukan dari para pihak, kerangka
regulasi dan konsep-konsep pengelolaan
kawasan yang telah ada, maka dirumuskan 5
prinsip konservasi bentang alam yang akan
menjadi sumber inspirasi untuk perumusan
strategi dan program aksi konservasi bentang
alam pada Rencana Induk ini, yaitu:

1. Melestarikan dan memulihkan kualitas atau


kesehatan ekosistem sebagai prioritas tanpa
menggangu keutuhan ekosistem.

2. Dasar acuan bersama bagi pemerintah pusat,


pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat
dalam pelaksanaan konservasi bentang alam
yang bersifat pengelolaan terpadu pada
masing-masing jenis penggunaan lahan.

3. Kekhususan masing-masing tempat (local


specific) melalui proses
(adaptive management).

yang

dinamis

4. Fisibilitas dan keberlanjutan pendananaan.


5. Pengembangan dan penguatan kapasitas
untuk pelaksanaan konservasi bentang alam.

Konservasi

Konservasi bentang alam pada pada Rencana


Induk ini difokuskan pada kawasan hutan
yang teridentifikasi sebagai Kawasan Penting
Bentang alam (KPL), yaitu kawasan-kawasan
yang memiliki nilai penting dalam jaringan
hidrologi, keanekaragaman hayati, dan karbon
di masing-masing bentang alam sehingga
teridentifikasi mana yang harus dipertahankan
dan/atau dipulihkan keasliannya. Ukuran-ukuran
mengenai nilai penting pada ketiga aspek
tersebut sejalan dengan kriteria penetapan
kawasan lindung sebagaimana diatur di dalam
regulasi tata ruang, lingkungan hidup, dan
kehutanan.8 Selain merujuk pada pola ruang
dan fungsi hutan yang telah ditetapkan secara
resmi, informasi tematik lainnya yang menjadi
dasar penentuan KPL adalah peta sebaran dan
kedalaman gambut dan peta sebaran satwasatwa yang dianggap penting pada setiap
bentang alam. Secara keseluruhan kriteria yang
diapakai untuk menentukan KPL adalah sebagai
berikut:

1. Area yang ditunjuk/ditetapkan sebagai


Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan
Pelestarian Alam (KPA).

2. Area yang ditetapkan sebagai Hutan


Lindung.

3. Area jelajah satwa kunci (key spesies/flagship

No.

Bentang Alam

KPL

Non KPL

Total

Senepis

293,780.65

29,184.90

322,965.55

Giam Siak Kecil Bukit Batu

627,869.38

313,330.98

941,200.36

Kerumutan

616,402.68

718,446.99

1,334,849.66

Semenanjung Kampar

609,562.71

134,163.58

743,726.29

Bukit Tigapuluh

755,792.67

311,209.30

1,067,001.97

Berbak Sembilang

564,562.34

572,195.40

1,136,757.74

Dangku-Meranti

480,552.38

568,099.47

1,048,651.85

Padang Sugihan

1,123,417.73

526,795.57

1,650,213.30

Kubu

596,973.60

325,847.39

922,820.99

10

Kutai

521,825.89

455,174.24

977,000.13

Total

6,190,740.02

3,954,447.83

10,145,187.85

Dengan demikian, area yang berpotensi bernilai


konservasi tinggi sudah berada di dalam KPL.
Beberapa perusahaan hutan tanaman telah
melakukan kajian cadangan karbon tinggi
(High Carbon Stock, HCS) di area konsesinya.
Berdasarkan
data
yang
diterima
Tim
Penyusun Rencana Induk, area HCS tersebut

ditumpangsusunkan di dalam bentang alam,


yang hasilnya menunjukkan bahwa sebagian
besar area HCS sudah berada di dalam KPL,
sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:

spesies) atau area kunci keanekaragaman


hayati (key biodiversity area), area penting
burung (important bird areaI), dan area
dengan keanekaragaman hayati tinggi.

Penerapan prinsip-prinsip tersebut juga


tetap
memperhatikan
pengalaman/praktik
pengelolaan,
pertimbangan-pertimbangan
ilmiah, tantangan dan peluang yang diuraikan di
dalam Bab II, serta fakta-fakta yang diuraikan di
dalam Bab III.

4. Area sempadan sungai atau 50-100 meter di

4.4 STRATEGI KONSERVASI BENTANG


ALAM

Hasil akhir dari analisis spasial untuk penentuan


KPL pada Rencana Induk ini telah mendapatkan
luas KPL sebesar 6,19 juta hektar dari total
luas 10 bentang alam sebesar 10,15 juta hektar,
dengan distribusi sebagai berikut:

Strategi konservasi bentang alam pada Rencana


Induk ini mencakup Penentuan Wilayah
Intervensi Konservasi Bentang alam, Penentuan
Arahan Intervensi, dan Perumusan Strategi
Implementasi, yang secara berurutan dijelaskan
sebagai berikut:

Tabel IV-3. Luas kawasan penting bentang alam di sepuluh bentang alam (hektar)

kiri dan kanan sungai.

5. Area sempadan pantai atau 100 meter dari


titik terluar air pasang.

6. Area lahan gambut berkedalaman lebih dari


3 meter.

Kriteria yang digunakan untuk menentukan


area bernilai konservasi tinggi (NKT 1,
NKT 2, NKT 3, dan NKT 4) sudah tercakup
di dalam kriteria KPL tersebut di atas.

8 Kategori tersebut disusun sesuai dengan Keputusan Presiden No.32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, dan PP No.26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Lihat juga Tabel II-2 dari dokumen Rencana Induk ini.

Gambar IV-9. Contoh hasil tumpangsusun area bernilai cadangan karbon tinggi (HCS) dan KPL

129

130

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Sebagaimana akan diuraikan pada bagian


selanjutnya, pengelolaan area NKT dan
HCS di dalam wilayah konsesi merupakan
tanggungjawab dari pemegang konsesi. Namun
Rencana Induk ini memberikan arahan program
berupa pemantauan dan asistensi teknis bagi
para pemegang konsesi.

4.4.2 Arahan Intervensi


Arahan intervensi pengelolaan KPL adalah
arahan di tingkat tapak dan masih bersifat
indikatif. Arah intervensi dirumuskan dengan
mengacu pada tujuan konservasi bentang
alam yang telah disepakati para pihak dengan
memperhatikan pola ruang pada RTRW,
fungsi hutan, hasil analisis perubahan tutupan
lahan, dan kondisi tapak lahan (gambut atau
non gambut).
Sumber-sumber data yang
dipakai berasal dari Direktorat Inventarisasi
dan Pemantauan Sumberdaya Hutan (IPSDH),
Direktorat Jenderal Planologi-Kementerian LHK
dan sumber resmi lainnya. Sedangkan data
primer diperoleh melalui analisis perubahan
penutupan lahan menggunakan citra Landsat
8 liputan tahun 20032014. Analisis perubahan
tutupan lahan dilakukan untuk mengidentifikasi
lokasi terdeforestasi.
Pengamatan terhadap tutupan lahan merupakan
hal penting untuk mengidentifikasi fitur alami,
fitur antropogenik, dan memahami hubungan
antara keduanya untuk menyusun keputusan
pengelolaan dan penggunaan sumberdaya alam.
Klasifikasi penutupan lahan yang diacu dalam
analisis spasial pada Rencana Induk ini adalah
klasifikasi penutupan lahan Direktorat Jenderal
Planologi Kehutanan yang disetarakan dengan
klasifikasi penutupan lahan AFOLU (Agriculture,
Forestry, and other Land Use) tahun 2006.
Selanjutnya, untuk kebutuhan penentuan arah
intervensi dilakukan pengklasifikasian tutupan
lahan yang lebih sederhana agar lebih mudah

dikomunikasikan dan menjawab kebutuhan


pengembangan konservasi bentang alam.
Klasifikasi akhir tutupan lahan yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
1. Hutan. Tutupan lahan berupa hutan pada
tahun 2003 dan 2014.
2. Deforestasi. Area yang mengalami perubahan
dari tutupan hutan pada tahun 2003 menjadi
non-hutan pada tahun 2014.
3. Hutan Non-alami (natural environment).
Tutupan lahan bukan hutan (not forested
land) yang teridentifikasi dalam citra sebagai
kenampakan alami seperti belukar rawa/
lahan basah.
4. Hutan Non-buatan (man-made environment).
Tutupan lahan bukan hutan (not forested
land) yang teridentifikasi dalam citra berupa
kenampakan hasil aktivitas manusia seperti
sawah, tambak, pertambangan, permukiman
dan lahan terbangun.
Pelaksanaan program ini juga mengakui
dan menghormati hak-hak para pihak yang
ada di dalam bentang alam, termasuk hakhak konsesi hutan dan lahan yang dimiliki
masyarakat dan/atau perusahaan, sehingga
dalam pelaksanaannya akan tetap dilakukan
bersama-sama dengan para pihak dengan
prinsip saling percaya, saling menghormati, dan
saling menguntungkan. Berdasarkan berbagai
pertimbangan maka arahan intervensi pada
program konservasi bentang alam di KPL
dirumuskan sebagai berikut:
Arahan umum pengelolaan ini disebut juga
dengan Program Utama Konservasi Bentang
alam, yang terdiri dari:
1) Arahan
Proteksi
dimaksudkan
untuk
mempertahankan lokasi KPL yang masih baik
melalui program-program proteksi spesies,

Gambar IV-10. Proses reklasifikasi tutupan lahan untuk penentuan Arahan Pengelolaan Bentang Alam

habitat, dan ekosistemnya, pencegahan


konflik manusia-satwa liar dan kebakaran
hutan, serta pengembangan koridor satwa.

seperti
ISFMP/Integrated
Sustainable
Forestry Management Plan dan pengelolaan
lahan gambut.

2) Arahan Restorasi dimaksudkan untuk


memulihkan lokasi KPL yang telah terlanjur
rusak (deforestasi) melalui kegiatan-kegiatan
pemulihan ekosistem dengan metode- yang
sesuai dengan karakter bentang alam dan
hasil kajian lapangan pada program aksi.

Arahan suatu program utama di suatu


area tidak dapat berdiri sendiri karena
keberhasilannya akan dipengaruhi oleh
banyak faktor. Oleh karena itu, di area yang
menjadi alokasi program utama restorasi
dapat disertai dengan program proteksi dan
pemberdayaan masyarakat.

3) Arahan
Pemberdayaan
dimaksudkan
untuk mendukung program proteksi dan
restorasi melalui program-program aksi
penyadartahuan, pemberdayaan masyarakat,
pengembangan ekonomi alternatif dan
teknologi tepat guna untuk meningkatkan
efektivitas pemanfaatan sumberdaya alam.
Program ini difokuskan pada KPL di APL di
dalam dan sekitar KPL yang memiliki interaksi
intensif dengan bentang alam.

Terhadap KSA/KPA, hutan lindung, atau


hutan produksi yang belum dibebani izin dan
tutupan lahannya terdeteksi sebagai non
hutan-buatan, maka di kawasan tersebut
patut diduga telah terjadi perubahan tutupan
lahan akibat bencana alam, kebakaran hutan,
dan/ atau kegiatan manusia yang tidak
sesuai dengan peruntukan kawasan. Arahan
umum terhadap kawasan tersebut berupa
program kombinasi yang didahului dengan
penyadartahuan, penyelesaian masalah secara
persuasif dan non-litigasi, pemberdayaan
masyarakat, dan pemulihan kawasan ketika
keadaan sudah memungkinkan. Sedangkan
terhadap penguasaan lahan yang sudah
bersifat komersial, dilakukan upaya penegakan
hukum yang tegas dan konsisten kepada
tokoh intelektual dan penggerak utamanya.
Penjelasan mengenai masing-masing arahan
intervensi pada KPL sebagaimana diulas
sebelumnya adalah sebagai berikut:

4) Arahan
Asistensi
dan
Pemantauan
dimaksudkan untuk memberikan dukungan
teknis kepada pemegang konsesi di hutan
produksi dan/atau KPHP sesuai dengan
rencana
kerjanya,
untuk
memonitor
perkembangan di lokasi KPL yang ada
di dalam wilayah kerjanya. Pemantauan
mencakup namun tidak terbatas pada pola
penggunaan lahan, kehadiran satwa liar,
pencegahan dan penanggulangan konflik
manusia-satwa dan kebakaran hutan/lahan,
perlindungan kawasan HCV, High Carbon
Stock (HCS), pemberdayaan masyarakat,
serta mendukung inisiatif khusus konsesi,

Tabel IV-4. Arahan umum pengelolaan konservasi bentang alam di kawasan penting bentang alam

Penutupan Lahan
Status/Fungsi
Hutan

Deforestasi

Hutan Non-alami

Hutan Non-buatan

KSA/KPA

Proteksi

Restorasi

Proteksi

Pemberdayaan

Hutan Lindung

Proteksi

Restorasi

Proteksi

Pemberdayaan

Hutan Produksi tidak


dibebani izin

Proteksi

Restorasi

Proteksi

Pemberdayaan

Hutan Produksi
dibebani izin

Asistensi dan Pemantauan


Proteksi

Asistensi dan
Pemantauan
Restorasi

Asistensi dan
Pemantauan Proteksi

Asistensi dan
Pemantauan

Areal Penggunaan
Lain

Pemberdayaan Proteksi

Pemberdayaan
Restorasi

Pemberdayaan
Proteksi

Pemberdayaan

131

132

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel IV-6. Sebaran area target proteksi bentang alam di 10 bentang alam (hektar)

Tabel IV-5. Alokasi luas arahan umum program utama pengelolaan di KPL
No.

BENTANG
ALAM

ARAHAN UMUM PENGELOLAAN DI KPL (ha)


Proteksi

Restorasi

Pemberdayaan

Pemantauan

NON-KPL

TOTAL (ha)

Senepis

35,226.50

22,245.59

80,241.09

156,067.46

29,184.90

322,965.55

GSKBB
Semenanjung

130,021.96

39,612.13

141,331.51

316,903.77

313,330.98

941,200.36

147,056.81

5,192.77

62,112.54

395,200.59

134,163.58

743,726.29

283,560.79

52,398.91

106,949.70

173,493.28

718,446.99

1,334,849.66

223,518.07

136,248.53

206,668.85

189,357.21

311,209.30

1,067,001.97

472,992.08

13,434.48

53,590.47

24,545.31

572,195.40

1,136,757.74

80,343.40

33,438.44

160,168.79

206,601.75

568,099.47

1,048,651.85

158,294.94

3,216.23

452,358.44

509,548.12

526,795.57

1,650,213.30

188,600.66

10,225.59

104,295.78

293,851.57

325,847.39

922,820.99

3
4

Kampar
Kerumutan

Bukit Tigapuluh

6
7
8
9
10

Berbak
Sembilang
DangkuMeranti
Padang
Sugihan
Kubu
Kutai
Total (ha)

281,905.72

4,886.37

104,233.67

130,800.13

455,174.24

977,000.13

2,001,520.92

320,899.03

1,471,950.86

2,396,369.21

3,954,447.83

10,145,187.85

1. Proteksi di Kawasan Penting Bentang


Alam
Target wilayah kerja proteksi bentang alam
di dalam KPL yang struktur penggunaan
lahannya relatif masih asli dan fungsinya
juga relatif masih baik. Penentuan wilayah
target proteksi melalui dua tahap penapisan
(screening).
Pertama,
mengidentifikasi
jenis-jenis
penggunaan lahan hutan dan atau
penggunaan lahan yang strukturnya
relatif masih asli atau alami dan fungsinya
masih baik di dalam KPL. Proses ini
dilakukan melalui analisis penutupan lahan
sebagaimana diuraikan di dalam sub-bab
4.3, dan hasilnya disajikan dalam Tabel IV2. Wilayah kerja proteksi diarahkan pada
dua jenis penggunaan lahan yaitu: (1) hutan
(forest land) kecuali hutan tanaman; dan (2)
non hutan-alami yang bisa berupa grass
land (semak belukar dan savana), tubuh air,
dan wetland (semak belukar rawa).

Kedua, mengidentifikasi status lahan untuk


memperoleh arahan lebih lanjut mengenai
program aksi proteksi yang sesuai dengan
peruntukan lahannya. Pada penapisan tahap
kedua ini, target proteksi diprioritaskan di
kawasan hutan konservasi, hutan lindung,
dan hutan produksi yang belum dibebani izin
agar kepastian status dan fungsi lahannya
lebih jelas.
Dari proses tersebut telah terindentifikasi target
areal untuk proteksi bentang alam di sepuluh
bentang alam seluas 2 juta ha, dengan rincian
sebagai berikut:

No.

Bentang Alam

Senepis

KSA/KPA

HP*

HL

Total

5,929.01

29,291.46

6.03

35,226.50

Giam Siak Kecil Bukit Batu

92,590.15

37,431.81

--

130,021.96

Kerumutan

93,518.76

190,019.03

23.00

283,560.79

Semenanjung Kampar

43,895.88

103,160.93

--

147,056.81

Bukit Tigapuluh

138,278.56

60,621.75

24,617.76

223,518.07

Berbak Sembilang

416,194.71

36,161.27

20,636.09

472,992.08

Dangku-Meranti

25,747.35

43,257.56

11,338.49

80,343.40

Padang Sugihan

57,175.83

24,418.38

76,700.73

158,294.94

Kubu

--

50,194.99

138,405.67

188,600.66

10

Kutai

244,610.35

22,927.00

14,368.37

281,905.72

Total

1,117,940.60

597,484.17

286,096.15

2,001,520.92

* Catatan: Hutan Produksi yang belum dibebani izin

Lokasi arahan umum pengelolaan


yang
menjadi program utama di setiap bentang alam
ditampilkan di dalam Gambar IV-12 s.d. IV-21.
di dalam peta itu juga ditampilkan areal para
pemangku kawasan termasuk perusahaan
pemegang konsesi di dalam bentang alam.
Dengan demikian, para pihak dapat mengetahui
siapa berbuat apa dan di mana lokasinya dalam
implementasi proteksi, restorasi, pemberdayaan
masyarakat, dan pemantauan-asistensi di setiap
bentang alam.

133

134

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Tabel IV-7. Arahan umum perumusan program aksi proteksi di setiap fungsi hutan

Status/Fungsi Lahan

Arahan Umum
Memperkuat pengelolaan di tingkat tapak

KSA/KPA (HK)

Memperkuat upaya pengamanan hutan secara partispatif.


Memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan/lahan
secara partisipatif
Memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan konflik manusia-satwa liar
Mendorong kemantapan kawasan konservasi (penetapan kawasan)
Meningkatkan pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga
Melakukan penegakan hukum proporsional dan tepat sasaran
Peningkatan kapasitas institusi dan sumberdaya manusia

Membantu pengembangan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL)


Hutan Lindung

Memperkuat pengelolaan di tingkat tapak melalui pembentukan unit manajemen


hutan di Hutan Desa, dan Hutan Kemasyarakatan.
Memperkuat upaya pengamanan dan penjagaan hutan secara partispatif.
Memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan/lahan
secara partisipatif
Memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan konflik manusia-satwa liar
Mendorong pemantapan/penetapan kawasan hutan lindung.
Meningkatkan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung
Melakukan penegakan hukum proporsional dan tepat sasaran.
Peningkatan kapasitas institusi dan sumberdaya manusia

Mendorong pembangunan kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi


(KPHP).
Memperkuat pengelolaan di tingkat tapak melalui pembentukan unit manajemen
hutan di Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, atau
IUPHHK-RE.
Memperkuat upaya pengamanan hutan secara partispatif.
Memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan/lahan
secara partisipatif
Mendorong pemantapan/penetapan kawasan hutan produksi.
Meningkatkan pembangunan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Mendorong penegakan hukum proporsional dan tepat sasaran.
Mendorong perubahan fungsi dari HPK menjadi HPT atau kawasan konservasi.
Hutan Produksi Konversi

Memasukkan HPK dengan proyeksi perubahan menjadi HPT atau KK ke dalam


pembinaan KPHP/L
Memperkuat upaya pengamanan hutan secara partispatif.
Memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan/lahan
secara partisipatif
Membuat koridor satwa dan memperkuat upaya pencegahan dan
penanggulangan konflik manusia-satwa liar
Meningkatkan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Mendorong penegakan hukum proporsional dan tepat sasaran.

Gambar IV-11. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Senepis

Hutan Produksi belum ada izin

135

BAB EMPAT

Gambar IV-13. Para pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Semenanjung Kampar

Gambar IV-12. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL GSKBB

136
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

137

BAB EMPAT

Gambar IV-15. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Bukit Tigapuluh

Gambar IV-14. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Kerumutan

138
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

139

BAB EMPAT

Gambar IV-17. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Berbak-Sembilang

Gambar IV-16. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Dangku-Meranti

140
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

141

BAB EMPAT

Gambar IV-19. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Kubu

Gambar IV-18. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Padang Sugihan

142
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

143

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

2. Restorasi di Kawasan Penting Bentang

di setiap tempat akan beragam, tergantung


dari keadaan suksesi yang sedang terjadi
pada setiap ekosistemnya. Oleh karenanya
apapun arahan metode restorasinya,
tahapan kegiatan dalam program aksi
restorasi dalam inisiatif konservasi bentang
alam ini akan melalui fase-fase berikut ini:

Alam
Dengan memperhatikan berbagai konsep
dan pengertian restorasi yang ada maka
Restorasi Bentang Alam dalam Rencana Induk
ini dirumuskan sebagai proses pemulihan
struktur, fungsi, dan keutuhan bentang
alam melalui upaya-upaya perbaikan
lahan dan/atau hutan yang penting bagi
keanekaragaman hayati, pengaturan tata
air, kehidupan sosial masyarakat, dan
sumber karbon, yang kondisinya telah
terlanjur rusak secara lingkungan, ekonomi,
dan sosial. Wilayah kerja restorasi bentang
alam adalah wilayah-wilayah di dalam KPL
yang struktur penggunaan lahannya telah
terlanjur rusak sehingga fungsinya menurun
signifikan. Proses untuk mendapatkan
wilayah kerja restorasi bentang alam
melalui dua tahap penapisan, sebagaimana
dilakukan untuk menentukan wilayah
kerja proteksi bentang alam. Dari proses
tersebut telah terindentifikasi areal target
untuk wilayah kerja restorasi bentang alam
di 10 bentang alam seluas 320.899 hektar
dengan rincian sebagaimana ditunjukan
pada tabel dibawah ini:

1) Fase Diagnostik (mengetahui inisiasi


yang sudah ada serta status kondisi
aspek biofisik maupun sosial ekonomi
dan budaya sebelum intervensi),
2) Fase Peningkatan Kapasitas(meningkatkan
pengetahuan, keahlian, dan kesadaran
masyarakat dan pengelola kawasan tentang
restorasi ekosistem),
3) Fase Pengelolaan Kolaboratif(pelaksanaan
tahapan restorasi dengan melibatkan
masyarakat dan pengelola kawasan), dan
4) Exit Strategy (memfasilitasi pengakhiran
pendampingan secara perlahan untuk
memastikan bahwa seluruh inisiasi dan
fasilitasi yang dilakukan sepenuhnya
dilanjutkan oleh pemangku kepentingan
kawasan).

3. Pemberdayaan Masyarakat di KPL


Walaupun area target restorasi memiliki
jenis lahan dan tujuan spesifik yang mungkin
hampir sama, kegiatan teknis restorasi
Gambar IV-20. Sebaran pemangku kawasan dan lokasi program utama di KPL Kutai

144

Untuk menjawab tantangan sosial dan


ekonomi masyarakat yang dihadapi dalam
penyelenggaraan konservasi bentang alam

Tabel IV8. Sebaran area target restorasi bentang alam pada 10 bentang alam (hektar)

NO

Bentang Alam

Senepis

Giam Siak Kecil Bukit Batu

Kerumutan

Semenanjung Kampar

KSA/KPA

HP

HL

Total

22245.5923

22,245.59

8,205.67

31406.46

39,612.13

642.06

51756.8459

52,398.91

177.60

5015.16515

5,192.77

Bukit Tigapuluh

2,222.04

101782.852

32,243.63

136,248.53

Berbak Sembilang

8,354.06

5018.19697

62.22

13,434.48

Dangku-Meranti

9,074.93

23991.3158

372.19

33,438.44

Padang Sugihan

45.74

3.63354618

3,166.86

3,216.23

Kubu

1732.72369

8,492.86

10,225.59

10

Kutai

2,918.50

843.393094

1,124.48

4,886.37

Total

31,640.61

243796.178

45,462.24

320,899.03

145

146

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

sebagaimana telah diuraikan pada bab


sebelumnya, maka program pemberdayaan
masyarakat pada konservasi bentang alam
ini akan dilaksanakan melalui empat model
sebagai berikut:
a. Pelibatan masyarakat dalam program
atau kegiatan-kegiatan tematik berbasis
hutan, khususnya dalam program aksi
proteksi dan restorasi, misalnya:
Masyarakat
peduli
api
untuk
pencegahan dan penanggulangan
kebakaran hutan;
Pengamanan hutan swakarsa;
Pengembangan
hutan
rakyat
berbagai jenis (wanatani) pada hutan
terdeforestasi di APL yang masuk dalam
KPL yang akan diarahkan sebagai
pemberdayaan masyarakat berbasis
konservasi-restorasi. Program ini akan
sejalan dengan program RHL;
Pengembangan model desa konservasi
di daerah penyangga KSA/KPA
b. Pemberian hak dan akses kepada
masyarakat untuk mengelola hutan
melalui skema perhutanan sosial yang
disiapkan pemerintah, yaitu Hutan Desa,
Hutan Kemasyarakatan, dan Hutan
Tanaman Rakyat, sebagaimana diuraikan
dalam Tabel IV-9.
c. Meningkatakan kapasitas masyarakat
untuk mampu mengelola hutan secara
lestari. Peningkatan kapasitas rentangnya
mulai
dari
penyadartahuan
dan
pendidikan lingkungan dan konservasi,
pranata dan kelembagaan masyarakat,
hingga menyangkut teknis silvikultur dan
teknologi tepat guna.
d. Menerapkan sistem insentif untuk
masyarakat yang telah terbukti mampu
melestarikan hutan dan mengelola hutan
berdasarkan pada hak pengelolaan yang
telah diperolehnya. Sistem insentif yang
efektif akan mendorong pengelolaan
hutan yang lestari oleh masyarakat
tanpa harus dipaksa oleh aturan-aturan.
Apabila ada masyarakat yang berhasil
membangun atau memelihara hutan dan
menghasilkan fungsi yang dapat dinikmati
oleh masyakat luas,9 misalnya dapat

mengendalikan terjadinya banjir, meningkatkan


populasi satwa dilindungi, mencegah mencegah
emisi karbon, meningkatkan penyerapan
karbon, maka selayaknya mereka mendapatkan
insentif.
Hasil analisis yang dilakukan Direktorat
Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS)10
Ditjen PSKL Kementerian LHK, menunjukkan
adanya Pencadangan Area Kerja HD dan HTR di
dalam bentang alam target, yaitu seluas 84.110
hektar. Sedangkan berdasarkan Peta Indikatif
Arahan Perhutanan Sosial (PIAPS) terdapat
sekitar total 563.906 hektar yang dialokasikan
untuk perhutanan sosial di dalam bentang alam
target.11 Adanya skema perhutanan sosial di dalam
bentang alam merupakan salah satu peluang
untuk mengatasi isu konflik sosial dan tenurial di
dalam bentang alam.
Tabel IV9. Alokasi arahan perhutanan sosial di dalam
bentang alam target

No.

Bentang Alam

Senepis

Giam Siak Kecil Bukit Batu

Total (ha)
6.872
41.829
Bunga Rafflesia (Rafflesia sp.) yang sedang mekar di hutan primer dataran rendah Sumatera bagian tengah, 2003. (Foto: Dolly Priatna)

Kerumutan

Semenanjung Kampar

48.175
4.192

4. Asistensi dan Pemantauan pada KPL


5

Bukit Tigapuluh

183.791

Berbak Sembilang

28.327

Dangku-Meranti

16.726

Padang Sugihan

12.216

Kubu

99.383

10

Kutai

36.642

Total (Hektar)

478.153

Sumber: Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial, 2015.

9 Karakteristik manfaat hutan salah satunya bersifat benefit beyond boundaries, yakni manfaat yang tidak hanya untuk manusia yang hidup di dalam atau sekitar hutan
saja, tetapi banyak kelompok-kelompok manusia lain yang hidup jauh dari hutan juga tergantung pada manfaat hutan. Kasus hulu-hilir dan pemanasan global dapat
menjelaskan karakteristik ini.
10 Sebelumnya bernama Direktorat Perhutanan Sosial-Ditjen Bina Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan.
11 Hasil perhitungan sementara dari Direktorat PKPS hingga awal Agustus 2015. Luas pencadangan akan dimutakhirkan setiap enam bulan.

Kawasan bentang alam dalam Rencana Induk


ini mencakup pula kawasan hutan produksi
yang telah dibebani izin pengusahaan hutan.
Kawasan Penting Bentang alam di hutan
produksi yang telah berizin dikeluarkan
dari prioritas proteksi dan restorasi karena
sesuai regulasi, mereka berkewajiban
melindungi dan merestorasi kawasan
penting dalam konsesi, termasuk area NKT/
HCV. Konsumen dari produk-produk hasil
hutan dan turunannya juga telah menuntut
adanya bukti pengelolaan hutan produksi
lestari. Terlepas dari itu semua, inisiatif
konservasi bentang alam ini mengakui dan
menghormati hak-hak terhadap lahan yang
telah dimiliki oleh para pihak, termasuk
hak-hak konsesi di hutan produksi, hutan
lindung, atau tanah masyarakat.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di


atas, maka inisiatif konservasi bentang alam ini
akan berupaya untuk mendukung pemenuhan
syarat-syarat kelestarian pengelolaan hutan
produksi lestari yang difokuskan pada beberapa
instrumen, yaitu hutan bernilai konservasi tinggi
(HNKT/HCVF) dan Pengelolaan Hutan Produksi
Lestari (Sustainbale Forest Management/
SFM). Bentuk dukungan yang akan dilakukan
terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu asistensi
dan pemantauan. Kegiatan asistensi berupa
dukungan teknis terhadap unit manajemen
hutan (UMH) yang sedang dalam tahap penilaian
dan perencanaan untuk penerapan instrumenintsrumen kelestarian pengelolaan hutan lestari
yang bersifat sukarela (voluntary) dan wajib
(mandatory). Sedangkan kegiatan pemantauan
yang akan dilakukan berupa pemantauan
terhadap pelaksanaan rencana kerja intrumenintrumen kelestarian pengelolaan hutan yang
wajib (mandatory) dan sukarela (voluntary).

147

148

BAB EMPAT

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

4.4.3 Strategi Intervensi


Perumusan strategi intervensi pada Rencana
Induk konservasi bentang alam ini didekati
dengan menggunakan analisis kekuatan
(strength), kelemahan (weaknes), peluang
(opportunity), dan ancaman (threaten) atau SWOT.
Analisis SWOT berusaha mengelompokan
faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan)
dan faktor-faktor eksternal (peluang dan
ancaman) yang merupakan dasar pemikiran
alternatif
pengembangan
suatu
upaya.
Perumusan strategi melalui analisis SWOT
akan mengarah pada pemanfaatan peluang
dan kekuatan serta meminimalkan kelemahan
dan ancaman. Ketepatan penarikan strategi
melalui analisis SWOT akan sangat tergantung
pada kelengkapan dan ketepatan informasi
mengenai kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman. Lebih lanjut, strategi juga harus
memiliki nilai legitimasi yang memadai sehingga
cara pengumpulan informasi harus ditempuh
melalui berbagai bentuk pelibatan pemangku
kepentingan.
Informasi-informasi mengenai kekuatan dan
kelemahan internal serta peluang dan ancaman
eksternal yang dianalisis dari hasil-hasil
konsultasi dengan para pihak di tingkat bentang
alam adalah sebagai berikut:

Cara penarikan strategi melalui analisis SWOT


dilakukan melalui matriks SWOT, dimana kisi-kisi
yang terdapat pada matrik ini menggambarkan
secara jelas bagaimana peluang dan ancaman
eksternal yang dihadapi dalam konservasi
bentang alam yang disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan internal yang dimiliki.
Matriks SWOT ini menghasilkan 4 kemungkinan
alternatif strategi, yaitu sebagai berikut:

Salah satu daerah hulu sungai yang mengalir deras di kawasan


hutan primer pedalaman Sumatera, April 2010. (Foto: Dolly Priatna)

1. Strategi S O (Kekuatan Peluang) Strategi


ini menggunakan kekuatan yang dimiliki
pihak manajemen program konservasi
bentang
alam
untuk
memanfaatkan
peluang yang disediakan oleh pihak di luar
managemen program konservasi bentang
alam. Strategi S-O ini adalah sebagai berikut:
Membangun konsensus mengenai batas
wilayah kerja konservasi bentang alam
dan kawasan penting bentang alam
untuk proteksi dan restorasi.
Melibatkan para pihak secara lebih
terorganisir dalam pelaksanaan program
konservasi bentang alam.

Tabel IV10. Hasil identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman konservasi bentang alam

149

Mendorong/mendukung
pendidikan
lingkungan dan konservasi alam oleh
lembaga konservasi sesuai kompetensi,
tugas dan fungsi.

Pengembangan
kapasitas
dan
pendampingan
masyarakat
dalam
rangka pengembangan model-model
perhutanan sosial yang mendukung
tujuan konservasi bentang alam.

Membangun
dan
mengembangkan
program-program tematik perlindungan
hutan yang bersifat insidental seperti
wildlife protection and forest fire respond
unit.
4. Strategi W T (Kelemahan Ancaman)
Strategi ini didasarkan pada kegiatan
yang bersifat defensif dan berusaha
meminimalkan kelemahan yang ada serta
menghindari ancaman. Strategi W-T ini
adalah sebagai berikut:
Pengembangan kegiatan usaha ekonomi
produktif dan teknologi tepat guna yang
ramah lingkungan untuk masyarakat di
sekitar kawasan penting bentang alam.

Peningkatan upaya perlindungan dan


pengamanan hutan.

Penyelesaian sengketa alternatif atau


non litigasi.

Penegakan hukum yang tegas dan


konsisten.

Belum terselenggaranya kelembagaan pengelola


bentang alam yang bersifat koordinatif.
Masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
fungsi hutan.
Terbatasnya sosialisasi program dan maanfaat
konservasi bentang alam
Belum berkembangnya KPH pada sebagian besar
area target konservasi bentang alam.

Mendorong/mendukung
upaya-upaya
para pihak dalam pemulihan hutan yang
dalam kondisi dalam kondisi rusak.
Pengembangan kegiatan usaha ekonomi produktif
untuk masyarakat di sekitar kawasan penting bentang
alam.
Peningkatan upaya perlindungan dan pengamanan
hutan.
Penyelesaian sengketa alternatif atau non litigasi.
Penegakan hukum yang tegas dan konsisten.

STRATEGI W T

STRATEGI O W
Membentuk lembaga koordinatif untuk pengelolaan
bentang alam
Mengembangkan pendidikan lingkungan dan konservasi
alam kepada masyarakat
Mendukung percepatan dan penguatan kelembagaan
KPH.

Mendorong/mendukung upaya-upaya para pihak dalam


perlindungan dan pengamanan hutan yang masih
dalam kondisi baik.
Mendorong/mendukung upaya-upaya para pihak dalam
pemulihan hutan yang masih dalam kondisi rusak.
Mendorong/mendukung pendidikan lingkungan
dan konservasi alam oleh lembaga konservasi yang
memiliki tugas dan fungsi.
Pengembangan kapasitas dan pendampingan
masyarakat dalam rangka pengembangan model-model
perhutanan sosial yang mendukung tujuan konservasi
bentang alam.
Membangun wildlife protection and forest firerespond
unit

STRATEGI S T
Membangun konsensus mengenai batas wilayah kerja
konservasi bentang alam dan kawasan penting bentang
alam untuk proteksi dan restorasi.
Melibatkan para pihak secara lebih terorganisir dalam
pelaksanaan program konservasi bentang alam.
Meningkatkan sinkronisasi perencanaan dan optimalisasi
kinerja instansi pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi
terkait dengan program konservasi landskap.
Pengembangan kapasitas dalam rangka pelaksanaan
tugas dan fungsi masing-masing instansi yang terkait
konservasi bentang alam.
Mengembangkan model-model perhutanan sosial yang
mendukung tujuan konservasi bentang alam.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat


Terbatasnya alternatif sumber pendapatan masyarakat.
Perambahan hutan untuk lahan pertanian dan
perkebunan.
Konflik satwa-manusia
Migrasi masyarakat
Ekspansi perkebunan sawit
Adanya peraturan perundangan mengenai kawasan
lindung dan pengelolaan lingkungan hidup.
Adanya kebijakan prioritas kehutanan untuk membangun
KPH.
Adanya kebijakan perhutanan sosial dengan target 12,7
juta untuk dikelola masyarakat.
Adanya kebijakan 20% konsesi HTI dikelola masyarakat.
Adanya dukungan pemerintah daerah dan swasta serta
lembaga donor untuk konservasi bentang alam.
Adanya kegiatan dan alokasi dana di beberapa instansi
yang sejalan dengan program konservasi bentang alam.
STRATEGI S O

Ancaman (T)

Mendukung percepatan dan penguatan


kelembagaan KPH.

Kelemahan (W)

Mendorong/mendukung
upaya-upaya
para pihak dalam perlindungan dan
pengamanan hutan yang masih dalam
kondisi baik.
Mengembangkan pendidikan lingkungan
dan konservasi alam serta teknologi
ramah lingkungan dan tepat guna kepada
masyarakat.

Sasaran konservasi bentang alam di 10 bentang


alam target dan kawasan penting bentang alam
teridentifikasi.
Persepsi para pihak terhadap konservasi bentang
alam cukup baik.
Tersediannya lembaga-lembaga pemerintah yang
bekerja untuk pelestarian bentang alam.
Tersediannya lembaga-lembaga pemerintah
pemerintah yang bekerja untuk pelestarian bentang
alam.
Tersedianya lembaga-lembaga pengelola hutan dan
lahektarn.

2. Strategi S T (Kekuatan Ancaman) Strategi


ini menggunakan kekuatan yang dimiliki
pihak manajemen program konservasi
bentang alam untuk mengatasi ancaman
yang dapat timbul dari pihak di luar
managemen program konservasi bentang
alam. Strategi S-T ini adalah sebagai berikut:

Kekuatan (S)

Mengembangkan
model-model
perhutanan sosial yang mendukung
tujuan konservasi bentang alam.
Membentuk lembaga koordinatif untuk
pengelolaan bentang alam dan/atau
memperkuat lembaga/forum koordinatif
yang telah ada.

Internal

Pengembangan kapasitas dalam rangka


pelaksanaan tugas dan fungsi masingmasing instansi yang terkait dengan
konservasi bentang alam.

3. Strategi W O (Kelemahan Peluang)


Strategi ini memanfaatkan peluang yang ada
dalam mendukung keberhasilan konservasi
bentang
alam
untuk
meminimalkan
kelemahan yang ada pihak manajemen
konservasi bentang alam. Strategi W-O ini
adalah sebagai berikut:

Peluang (O)

BAB EMPAT

Ekternal

Meningkatkan sinkronisasi perencanaan


dan
optimalisasi
kinerja
instansi
pemerintah yang memiliki tugas dan
fungsi terkait dengan program konservasi
landskap.

Tabel IV11. Perumusan strategi konservasi di sepuluh bentang alam

150
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

151

152

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

BAB LIMA
Kawanan Burung Kuntul (Ardea sp.) bergerombol di sekitar
sarang mereka di kawasan hutan di pesisir timur Sumatera,
November 2007. (Foto: Dok. APP)

153

154

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

ARAH PROGRAM DAN PRIORITAS


Program kerja konservasi bentang alam merupakan penumpahruahan seluruh
pernyataan visi, misi dan staregi ke dalam serangkaian kegiatan yang sistematis, logis
dan rasional. Oleh karenanya perumusan program kerja harus dapat memperlihatkan
hubungan hierarki yang jelas mulai dari visi, misi, strategi, hingga program.

5.1 PROGRAM KERJA KONSERVASI


BENTANG ALAM
Program kerja secara langsung dirumuskan
dari strategi, tetapi konstruksi akhirnya perlu
disesuaikan sedemikian rupa sehingga dapat
dilihat
keteraturan
hubungan-hubungan
antarprogram kerja. Pada Rencana Induk
konservasi bentang alam ini pengaturan
program kerja diseleksi dengan menggunakan
beberapa pertimbangan yang secara berurutan
adalah:
1. Program kerja di tingkat tapak yang secara
langsung berkontribusi terhadap pencapaian
visi dan pelaksanaan misi konservasi bentang
alam.
2. Program kerja yang menjadi faktor pemungkin
terlaksananya program kerja di tingkat tapak.
3. Program kerja yang secara langsung
mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan
pelaksanaan program di tingkat tapak.
Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut
maka program kerja konservasi bentang alam
dikelompokkan dalam dua program, yaitu
Program Strategis, yang memuat program kerja
di tingkat tapak dan faktor pemungkinnya;
dan Program Pendukung, yang memuat
berbagai program kerja untuk melancarkan
dan mempengaruhi keberhasilan program
strategis. Lokasi pelaksanaan program strategis
dan pendukung akan memperhatikan arahan
fungsi lahan pada KPL yang telah ditentukan
berdasarkan analisis spasial.

5.2 PROGRAM STRATEGIS


5.2.1 Program Pembangunan Konsensus
5.2.1.1 Tujuan Spesifik
Tujuan dari program pembangunan konsensus
dalam Rencana Induk konservasi bentang alam
ini adalah untuk mendapatkan kesepakatan
mengenai wilayah kerja konservasi bentang
alam, kelompok kerja konservasi bentang
alam, rencana konservasi bentang alam
dan komitmen pengarusutamaannya ke
dalam rencana-rencana kerja setiap instansi/
lembaga baik dari unsur pemerintah maupun
non-pemerintah.

5.2.1.2 Kegiatan
Kegiatan-kegiatan dalam program pembangunan
konsensus dirumuskan dari tujuan-tujuan
program pembangunan konsensus, yaitu
sebagai berikut:
1. Kegiatan
pertemuan
multipihak
di
tingkat bentang alam untuk membangun
kesepahaman dan kesepakatan. Para pihak
yang menjadi sasaran adalah yang memiliki
peran dan pengaruh terhadap bentang alam
baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah.
2. Kegiatan pertemuan multipihak untuk
membentuk dan menetapkan POKJA
konservasi bentang alam yang memiliki
legitimasi dan legalitas yang memadai.

Gambar V-1. Hierarki visi, misi, strategi, dan program kerja konservasi bentang alam

3. Penyusunan rencana kerja POKJA dalam


rangka penyusunan rencana konservasi
bentang alam.
4. Penyusunan rencana konservasi bentang
alam pada tingkat bentang alam oleh POKJA
konservasi bentang alam.
5. Konsultasi publik rancangan rencana
konservasi bentang alam dan pengesahan
rencana konservasi bentang alam.
6. Pengarusutamaan
rencana
konservasi
bentang alam ke dalam perencanaan
pembangunan daerah, rencana strategis
dan rencana kerja setiap instansi atau
lembaga yang terkait dengan konservasi
bentang alam dari unsur pemerintah dan
non-pemerintah.

5.2.1.3 Lokasi Program


Kegiatan-kegiatan
pada
program
pembangunan konsensus dilaksanakan pada
seluruh wilayah administrasi yang melingkupi
bentang alam dengan pusat koordinasi pada
tingkat provinsi.

5.2.1.4 Keluaran
Keluaran terukur dari program pembangunan
konsensus adalah sebagai berikut:
1. Dokumen kesepahaman dan kesepakatan
konservasi bentang alam yang disyahkan
oleh unsur pimpinan daerah di tingkat
bentang alam. Dokumen kesepahaman
dan kesepakatan ini paling kurang memuat
wilayah kerja konservasi bentang alam,
arahan fungsi lahan di dalam kawasan
penting langkap, arahan program kerja pada

155

156

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

masing-masing fungsi lahan, dan komitmen


para
pihak
untuk
penyelenggaraan
konservasi bentang alam;
2. Kelompok kerja konservasi bentang alam
pada masing-masing bentang alam, yang
beranggotakan perwakilan dari Badan
Perencanaan
Pembangunan
Daerah,
Dinas Kehutanan, Badan Lingkungan
Hidup Daerah, Unit Pelaksana Teknis
Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan,
lembaga atau forum multipihak yang telah
ada sebelumnya, Perusahaan Pemegang Ijin
Usaha Kehutanan, NGOs, perguruan tinggi,
komunitas masyarakat yang berpotensi
terkena dampak konservasi lansskap, dan
unsur-unsur lain yang dianggap memiliki
peran dan pengaruh terhadap bentang alam.
3. Dokumen
Rencana
kerja
POKJA
konservasi bentang alam yang memuat
rencana kegiatan koordinasi para pihak
sesuai dengan dokumen kesepakatan,
penyusunan rencana konservasi bentang
alam, pengesahan rencana konservasi
bentang alam, pengarusutamaan konservasi
bentang alam.
4. Rencana konservasi bentang alam yang
disusun oleh POKJA, disetujui oleh seluruh
pimpinan instansi atau lembaga yang
terlibat dalam POKJA, dan disahkan oleh
pimpinan daerah. Rencana konservasi
bentang alam minimal memuat profil
bentang alam dan kawasan penting
bentang alam, permasalahan, arahan fungsi
lahan dan program kerja pada kawasan
penting bentang alam, tahapan dan tata
waktu program konservasi bentang alam,
kelembagaan konservasi bentang alam,
rancangan kebutuhan anggaran dan sistem
pendanaan, dan skema pemantauan kinerja.
5. Inisiasi
pengarusutamaan
rencana
konservasi bentang alam ke dalam rencanarencana strategis dan rencana-rencana
kerja instansi atau lembaga baik dari unsur
pemerintah maupun non-pemerintah.

5.2.2 Program Pengembangan


Kelembagaan
5.2.2.1 Tujuan Spesifik
Membangun kelembagaan multipihak untuk
konservasi bentang alam yang memiliki
legitimasi atau mandat yang memadai dari para
pihak serta mampu bekerja secara intensif

5.2.2.3 Lokasi Kegiatan

dan efektif dalam melakukan singkronisasi


perencanaan
dan
optimalisasi
kinerja
setiap instansi/lembaga untuk konservasi
bentang alam sesuai dengan tugas dan
fungsinya masing-masing.

Lokasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada


program
pengembangan
kelembagaan
multipihak untuk konservasi bentang alam
dilaksanakan pada wilayah administrasi yang
melingkupi bentang alam dengan pusat
koordinasi pada tingkat provinsi. Khusus untuk
kegiatan penguatan kelembagaan pengelolaan
hutan di tingkat tapak, lokasi kegiatannya akan
diarahkan pada kawasan penting bentang
alam yang merupakan kawasan hutan yang
belum ada pengelolanya.

5.2.2.2 Kegiatan
Untuk
mencapai
tujuan
sebagaimana
disebutkan diatas maka kegiatan-kegiatan
pada program pengembangan kelembagaan
multipihak untuk konservasi bentang alam ini
adalah sebagai berikut:
1. Melakukan analisis kelembagaan untuk
mengidentifikasi lembaga-lembaga sektoral
dan non sektoral dari unsur pemerintah
dan non-pemerintah yang terkait dengan
bentang alam berdasarkan tugas dan
wewenangnya masing-masing.

5.2.2.4 Keluaran
Keluaran langsung dari setiap kegiatan dalam
program pengembangan kelembagaan adalah
sebagai berikut:
1. Database mengenai lembaga-lembaga
sektoral dan non sektoral dari unsur
pemerintah dan non pemerintah yang terkait
dengan bentang alam dengan atributatributnya meliputi tugas dan kewenangan
setiap instansi atau lembaga.

2. Melakukan
analisis
stakeholder
dan
memetakan stakeholder bentang alam
berdasarkan peran dan pengaruhnya
terhadap bentang alam.
3. Pertemuan multipihak untuk membahas dan
menyepakati konsep kelembagaan yang
telah tertuang dalam rencana konservasi
bentang alam.

2. Peta stakeholder bentang alam yang


memperlihatkan peran dan pengaruh
setiap pihak terhadap bentang alam.
Peta stakeholder ini merupakan hasil analisis
lebih lanjut dari analisis kelembagaan.

4. Pertemuan multipihak untuk menyusun


kelengkapan kelembagaan multipihak yang
meliputi: struktur organisasi, tugas dan
wewenang, unit-unit kerja atau gugus tugas,
sistem manajemen, mekanisme hubungan
dan koordinasi, standard operational
procedure, sumberdaya manusia, kebutuhan
dan pemenuhan fasilitas, dan lain-lain.

3. Kelembagaan multipihak untuk konservasi


bentang alam yang telah disetujui oleh
setiap instansi atau lembaga dan disahkan
oleh pimpinan daerah. Kelembagaan
multipihak ini disertai dengan kelengkapan
kelembagaan yang meliputi: struktur
organisasi, tugas dan wewenang, unit-unit
kerja atau gugustugas, sistem manajemen,
mekanisme hubungan dan koordinasi,
standard operational procedure, kebutuhan
dan pemunhan fasilitas, dan lain-lain.

5. Pertemuan multipihak untuk menetapkan


dan mengesahkan kelembagaan multipihak
untuk konservasi bentang alam.
6. Penyusunan rencana kerja lembaga
multipihak untuk mengimplementasikan
rencana konservasi bentang alam yang
telah disusun dan disahkan pada tahap
sebelumnya.
7. Lembaga
multipihak
mendorong
pembentukan dan atau penguatan lembaga
pengelola hutan di tingkat tapak, baik pada
tingkat kelembagaan KPH maupun satuan
manajemen hutan yang berbasis masyarakat
seperti Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa,
dan Hutan Tanaman Rakyat.

Menara pengintai (viewing tower) setinggi sekitar 40 meter di


salah satu titik ekowisata yang dibangun oleh Balai Besar KSDA
Riau di Suaka Margasatwa Bukit Batu, Bentang Alam GSKBB, Riau,
Februari 2014. (Foto: Dolly Priatna)

4. Rencana kerja Lembaga Multipihak dalam


rangka pengelolaan program aksi proteksi dan
restorasi serta program pendukung berdasarkan
rencana konservasi bentang alam yang telah
disahkan pada tahap sebelumnya.
5. KPH yang beroperasi dan unit-unit
pengelolaan hutan berbasis masyarakat
dalam bentuk Kelompok Masyarakat Hutan
Kemasyarakatan, Hutan Desa dan Hutan
Tanaman Rakyat.

157

158

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

5.2.3 Program Aksi Proteksi


Luas indikatif wilayah kerja program aksi proteksi
pada 10 bentang alam berdasarkan hasil analisis
spasial adalah seluas 2 juta ha yang tersebar
pada berbagai fungsi hutan. Angka luas
tersebut dimungkinkan berubah setelah melalui
proses pencermatan lebih mendalam pada saat
penyusunan rencana konservasi bentang alam
oleh POKJA pada masing-masing bentang alam.

5.2.3.1 Tujuan Spesifik


Program aksi proteksi ditujukan untuk
melindungi atau mempertahankan kondisi
ekosistem yang relatif masih alami pada
kawasan penting bentang alam dari ancaman
kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan
terencana dan tidak terencana.

5.2.3.2 Kegiatan
Arah intervensi pada program aksi proteksi
ditentukan kondisi yang dibentuk oleh
kombinasi antara fungsi hutan dan kelembagaan
pengelolaan di tingkat tapak, yaitu sebagai
berikut:
1. Hutan konservasi ada pengelolanya dan aktif
melakukan kegiatan-kegiatan perlindungan
tingkat tapak.
Intervensi program aksi proteksi pada kondisi
ini diarahkan pada penyediaan dukungan
atau bantuan teknis dan fasilitas untuk
memperkuat pengelola kawasan dalam
melaksanaan kegiatan-kegiatan perlidungan
yang lebih intensif dan efektif.
2. Hutan konservasi ada pengelolanya tetapi
kurang aktif atau lemah dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan perlindungan di tingkat tapak.
Intervensi program aksi proteksi pada kondisi
ini diarahkan pada penguatan kelembagaan
pengelola hutan konservasi yang bekerja di
tingkat tapak atau yang disebut resort dan
dukungan atau bantuan teknis dan fasilitas
untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan
perlindungan yang intensif dan efektif.
3. Hutan lindung ada pengelolanya yang aktif
melakukan kegiatan perlindungan tingkat
tapak.
Intervensi program aksi proteksi pada kondisi
ini diarahkan pada penyediaan dukungan
atau bantuan teknis dan fasilitas untuk
memperkuat pengelola hutan lindung dalam
melaksanaan kegiatan-kegiatan perlidungan
yang lebih intensif dan efektif.

4. Hutan lindung tidak ada pengelolanya di


tingkat tapak.
Intervensi program aksi proteksi pada
kondisi ini diarahkan untuk mendorong
pembentukan kelembagaan pengelolaan
hutan lindung baik pada tingkat KPHL
maupun unit-unit pengelolaan dalam skema
perhutanan sosial yang dapat dilakukan
pada kawasan hutan lindung, yaitu Hutan
Desa dan Hutan Kemasyarakatan.
5. Hutan lindung ada pengelolanya tetapi
kurang aktif atau lemah dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan
perlindungan
di
tingkat tapak.
Intervensi program aksi proteksi pada kondisi
ini diarahkan pada penguatan kelembagaan
pengelola hutan lindung yang ada dan
dukungan atau bantuan teknis dan fasilitas
untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan
perlindungan yang intensif dan efektif.
6. Hutan produksi dan hutan produksi terbatas
tidak ada pengelolanya
Intervensi program aksi proteksi pada
kondisi ini diarahkan untuk mendorong
pembentukan kelembagaan pengelolaan
hutan produksi pada tingkat KPHP dan unitunit pengelolaan dalam skema perhutanan
sosial yang dapat dilakukan pada kawasan
hutan produksi, yaitu Hutan Desa dan Hutan
Kemasyarakatan. Bentuk unit pengelolaan
lainnya yang dapat didorong pada kondisi
kawasan hutan ini adalah Restorasi
Ekosistem melalui IUPHHK-RE. Pilihan
intervensi lain pada kondisi hutan seperti
ini adalah mendorong perubahan fungsi
kawasan hutan dari hutan produksi menjadi
hutan produksi terbatas atau hutan lindung
dan hutan konservasi.
7. Hutan produksi konversi
Intervensi program aksi proteksi pada hutan
produksi yang dapat dikonversi dimulai
dengan mendorong perubahan fungsi
kawasan hutan dari hutan produksi yang
dapat dikonversi menjadi hutan produksi
terbatas atau hutan lindung atau hutan
konservasi. Selanjutnya adalah mendorong
pembentukan kelembagaan pengelolaan
hutan pada tingkat KPHP dan unit-unit
pengelolaan dalam skema yang disesuaikan
dengan
kerangka
peraturan
untuk
hutan produksi atau hutan lindung atau
hutan konservasi.

Dari arahan-arahan intervensi tersebut


maka kegiatan-kegiatan pada program aksi
proteksi adalah sebagai berikut:
a. Penyusunan rencana teknis program aksi
proteksi pada tingkat bentang alam oleh
gugus tugas proteksi bentang alam yang
mencakup proteksi terhadap kawasan
hutan, proteksi terhadap tanah hutan,
proteksi terhadap kerusakan hutan, proteksi
terhadap hasil-hasil hutan, dan proteksi
terhadap keanekaragaman hayati hutan.
b. Penyusunan rencana-rencana kegiatan
yang tercantum dalam rencana teknis
program aksi proteksi pada masingmasing tapak di dalam suatu bentang
alam oleh masing-masing pemangku atau
pengelola kawasan.
c. Penyusunan modul-modul untuk setiap
jenis kegiatan program aksi proteksi
dan pedoman-pedoman praktis untuk
pelaksanaan setiap kegiatan program
aksi proteksi.
d. Proteksi di tingkat tapak dilaksanakan
pada seluruh wilayah kerja program aksi
proteksi eluas 2 juta ha pada 10 bentang
alam yang tersebar pada KSA/KPA seluas
1,1 juta hektar; Hutan Produksi seluas
597,5 ribu hektar; Hutan Lindung seluas
286,1 ribu hektar, dan pada APL seluas
19,5 hektar. Jenis-jenis kegiatan proteksi
ditingkat tapak terdiri dari:
i. Peningkatan
kesadartahuan
masyarakat
melalui
penyuluhan,
kampanye, dan pendidikan lingkungan
dan konservasi alam.
ii. Pemberdayaan masyarakat melalui
peningkatan
askes
masyarakat
terhadap pengelolaan hutan dan
peningkatan kapasitas masyarakat.
iii. Penataan batas kawasan hutan
secara partisipatif, sosialisasi batasbatas kawasan hutan, pemeliharaan
dan pengamanan tanda-tanda batas
kawasan hutan.
iv. Pengamanan melalui
penjagaan hutan.

patroli

dan

v. Tindakan penegakan hukum.

e. Advokasi kebijakan dan penguatan


kelembagaan yang terdiri dari:
i. Kegiatan dukungan untuk penetapan
kawasan hutan yang dilakukan melalui
tahapan pengukuhan kawasan hutan
secara partisipatif pada wilayah kerja
program aksi proteksi yang belum
ditetapkan baik pada KSA/KPA
maupun pada hutan produksi dan
hutan lindung.
ii. Kegiatan dukungan untuk percepatan
terbentuknya kelembagaan hutan baik
di tingkat KPH, unit manajemen hutan
berbasis swasta berupa IUPHHK-RE,
dan unit manajemen hutan berbasis
masyarakat melalui skema HKm, HD,
dan HTR.
iii. Mendorong perubahan fungsi hutan
produksi dikonversi pada wilayah kerja
program aksi proteksi seluas 78.437
hektar yang tersebar di 9 bentang alam
yaitu: Senepis seluas 2.989 hektar,
GSKBB seluas 7.626 hektar, Kerumutan
seluas 44.489 hektar, Kampar seluas
8.733 hektar, Bukit Tigapuluh seluas
3.186 hektar, Dangku Meranti seluas
692 hektar, Padang Sugihan seluas
7.630 hektar, Kubu seluas 1958 hektar,
dan Kutai seluas 1.134 hektar menjadi
hutan produksi terbatas atau hutan
lindung atau hutan konservasi.

5.2.3.3 Lokasi
Lokasi program aksi proteksi dilakukan pada
wilayah kerja program aksi proteksi seluas
2 juta hektar. Program aksi proteksi juga
dilakukan pada wilayah kerja program aksi
restorasi untuk mendukung terselenggaranya
kegiatan-kegiatan restorasi.

5.2.3.4 Keluaran
Hasil akhir dari program aksi proteksi adalah
terpeliharanya kondisi ekosistem alami yang
masih baik seluas 2 juta hektar pada 10 bentang
alam yang dicirikan dengan munculnya
keluaran-keluaran sebagai berikut:

pengendalian

1. Dokumen rencana teknis program aksi


proteksi sebagai pedoman kerja gugus
tugas proteksi bentang alam.

vii. Pengelolaan konflik manusia dan satwa


liar melalui pembentukan unit-unit
tanggap untuk penanganan kejadian
konflik satwa-manusia (wildlife conflict
respon unit).

2. Dokumen-dokumen
rencana
kegiatan
proteksi pada setiap tapak yang akan
menjadi
pedoman
teknis
tahapan
pelaksanaan kegiatan proteksi di tingkat

vi. Pencegahan
dan
kebakaran hutan.

159

160

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

tapak oleh para eksekutor pengelolaan


hutan di tingkat tapak.
3. Modul-modul untuk pelatihan dan pedomanpedoman praktis setiap jenis kegiatan
proteksi untuk pelaksanaan kegiatan di
tingkat tapak.
4. Dokumen-dokumen penetapan kawasan
hutan pada seluruh wilayah kerja program
proteksi seluas 1,98 juta hektar melalui
proses partisipatif.
5. Unit patroli pengamanan hutan partisipatif
yang bekerja secara regular dan efektif.
6. Unit
pengendalian
kebarakan
hutan
partisipatif yang bekerja secara efektif.
7. Unit pengelolaan konflik satwa liar partisipatif
yang bekerja secara efektif.
8. Penuntutan dan vonis pengadilan terhadap
kasus-kasus perambahan, penebangan liar,
perambahan dan kegiatan-kegiatan illegal
lainnya.
9. Dokumen usulan dari daerah dan atau
keputusan
Menteri
LHK
mengenai
perubahan status hutan produksi konversi
seluas 78.437 hektar menjadi hutan produksi,
hutan produksi tetap, hutan lindung, dan atau
hutan konservasi .
10. Keputusan Menteri LHK untuk Ijin Usaha
Pemanfataan
Hutan
Kemasyarakatan
dan Hutan Tanaman Rakyat, serta
Hak Pengusahaan Hutan Desa dari Gubernur.

5.2.4 Program Aksi Restorasi


Luas indikatif wilayah kerja program aksi
restorasi pada 10 bentang alam berdasarkan
hasil analisis spasial adalah seluas 320,9 ribu
hektar yang tersebar pada berbagai fungsi
hutan. Angka luas tersebut akan diverifikasi
melalui proses pencermatan lebih mendalam
pada saat penyusunan konservasi bentang alam
oleh POKJA pada masing-masing bentang alam.

5.2.4.1 Tujuan Spesifik


Program aksi restorasi ditujukan untuk
memulihkan struktur dan fungsi ekosistem
yang telah terlanjur rusak seluas 320,9 ribu
hektar pada kawasan penting bentang alam
yang tersebar di 10 bentang alam.

5.2.4.2 Kegiatan
Arah intervensi program aksi restorasi
ditentukan oleh tujuan konservasi bentang

alam pada masing-masing bentang alam,


tingkat kerusakan ekosistem, dan jenis
lahektarn. Tujuan konservasi bentang alam
telah disepakati yaitu untuk melestarikan
satwa-satwa kharismatik pada masing-masing
bentang alam, sehingga kondisi ekosistem
hutan yang akan dibangun harus merupakan
kondisi ekosistem yang sesuai (ekosistem
referensi) untuk tempat hidup satwa-satwa
kharismatik yang telah ditetapkan untuk
masing-masing
bentang
alam.
Tingkat
kerusakan ekosistem menentukan jenis
perlakuan, misalnya penanaman secara
masif, pengkayaan (enrichment), percepatan
regenerasi
alami
(accelerated
natural
regeneration/ANR), dan lain-lain). Sementara
jenis lahan terdiri dari lahan organik atau
gambut dan lahan anorganik atau mineral akan
menentukan teknik perlakuan pada bidang
lahan atau tanahnya.
1. Penyusunan rencana teknis program
aksi restorasi pada tingkat bentang alam
oleh gugus tugas restorasi bentang alam.
Rencana teknis program aksi paling kurang
memuat gambaran umum lokasi-lokasi yang
menjadi wilayah kerja program aksi restorasi
pada suatu bentang alam, jenis-jenis
kegiatan restorasi berdasarkan karakter
kondisi masing-masing lokasi (tingkat
kerusakan, jenis lahan atau tanah, kondisi
sosekbud, dll).
2. Penyusunan rencana kegiatan restorasi
pada masing-masing tapak di dalam
suatu bentang alam oleh masing-masing
pemangku atau pengelola kawasan.
Rencana kegiatan memuat paling tidak:
tujuan restorasi, kondisi tapak pada lokasi
restorasi dan sejarah kerusakan hutan,
ekosistem referensi, kondisi sosekbud,
rancangan kegiatan restorasi sesuai tujuan
dan kondisi aktual tapak serta soseksbud,
kelembagaan restorasi yang memasukan
peran masyarakat, rancangan biaya, dan
pemantauan evaluasi.
3. Penyusunan
modul-modul
pelatihan
program aksi restorasi dan pedomanpedoman praktis untuk pelaksanaan setiap
jenis kegiatan pada program aksi restorasi
oleh pelaksana (executor) di tingkat tapak.
4. Pelaksanaan kegiatan restorasi pada
kawasan hutan produksi oleh pelaksana
(wilayah tertentu oleh KPH, kelompok
masyarakat, dll) merujuk pada rencana
kegiatan yang telah disusun.

5. Pelaksanaan kegiatan restorasi di KSA/KPA


oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam
atau Balai Taman Nasional yang melibatkan
masyarakat.

5.2.4.3 Lokasi
Lokasi-lokasi kegiatan pada program aksi
restorasi seluas 320,9 ribu hektar yang tersebar
pada 10 bentang alam. Total luas tersebut dapat
berubah setelah dilakukan penilaian lebih
mendalam pada saat penyusunan rencana
konservasi bentang alam dan rencana kegiatan
pada setiap lokasi di dalam suatu bentang alam.

5.2.4.4 Keluaran
Keluaran akhir dari program aksi restorasi
adalah terpulihkannya struktur dan fungsi
ekosistem seluas 320,9 hektar pada 10
bentang alam. Sementara keluaran-keluaran
antara yang diharapkan dari program ini adalah
sebagai berikut:
1. Dokumen rencana teknis program aksi
restorasi sebagai pedoman kerja gugus
tugas restorasi bentang alam.
2. Dokumen-dokumen
rencana
kegiatan
restorasi pada setiap tapak yang akan
menjadi
pedoman
teknis
tahapan
pelaksanaan kegiatan restorasi di tingkat
tapak oleh para eksekutor pengelolaan
hutan di tingkat tapak.
3. Modul-modul untuk pelatihan kegiatan
restorasi dan pedoman-pedoman praktis
untuk pelaksanaan kegiatan di tingkat tapak
sesuai dengan kondisi biofisiknya.
4. Dokumen-dokumen laporan pelaksanaan
kegiatan-kegiatan pada program aksi
proteksi
yang
dikoordinasikan
oleh
Gugus Tugas Restorasi Bentang alam.
Kegiatan percontohan untuk melakukan
restorasi habitat orangutan dan bekantan
di tampilkan pada Lampiran 9. Kegiatan ini
difokuskan untuk menghubungkan populasi
orangutan dan bekantan serta keanekaragaman
hayati lainnya antara TN Kutai, konsesi HTI
dan perkebunan, dengan CA Muara Kaman
Sedulang.
Koneksi
tersebut
dibangun
sepanjang koridor Sungai Menamangkanan,
Sungai Santan, dan Sungai Ngajau. Kegiatan ini
akan mencakup luasan sekitar 316 hektar.

5.3 PROGRAM PENDUKUNG

Program pendukung pada Rencana Induk


konservasi bentang alam ini merupakan
program-program
yang
terkait
dengan
pelaksanaan proteksi dan restorasi dengan
tujuan
untuk
meningkatkan
peluang
keberhasilan program aksi proteksi dan
restorasi. Berdasarkan hasil diskusi dengan
berbagai pihak di tingkat bentang alam dapat
disimpulkan jenis-jenis program pendukung
yang sangat dibutuhkan, yaitu: program
pengembangan kapasitas, pemberdayaan
masyarakat, pendidikan lingkungan dan
konservasi alam, dan asistensi teknis dan
pemantauan pengelolaan KPL yang berada di
dalam area konsesi hutan.

5.3.1 Program Pengembangan Kapasitas


5.3.1.1 Tujuan Spesifik
Terdapat dua tujuan utama dalam program
pengembangan kapasitas untuk konservasi
bentang alam, yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui dan menyepakati kebutuhan
kapasitas dan agenda pengembangan
kapasitas atau rencana pengembangan
kapasitas pada setiap tingkatan guna
memenuhi terselenggaranya program aksi
proteksi dan restorasi di setiap bentang alam
sesuai dengan rencana konservasi bentang
alam, rencana teknis setiap program aksi,
dan rencana-rencana kegiatan yang teruang
dalam rencana teknis program aksi.
2. Melakukan penguatan kapasitas pada tingkat
sistem, lembaga, dan individu berdasarkan
rencana pengembangan kapasitas yang
telah disetujui dan ditetapkan bersama.

5.3.1.2 Kegiatan
Program pengembangan kapasitas pada
konservasi bentang alam adalah sebagai
berikut:
1. Penyusunan rencana teknis program
pengembangan kapasitas pada tingkat
sistem, lembaga dan individu di masingmasing bentang alam merujuk pada rencana
konservasi bentang alam, dan rencana
teknis program aksi proteksi dan restorasi.
Rencana teknis pengembangan kapasitas
disusun oleh Gugus Tugas Program
Pengembangan Kapasitas. Pada proses
penyusunan rencana teknis pengembangan
kapasitas ini dilakukan penilaian kebutuhan

161

162

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

kapasitas sesuai dengan rencana-rencana


kegiatan proteksi dan restorasi yang telah
ditetapkan. Penilaian kapasitas dilakukan
melalui:
a. Lokakarya eksplorasi dalam rangka
penilaian kebutuhan peraturan dan
kebijakan yang lebih mendukung upaya
proteksi KPL yang masih dalam kondisi
baik dan restorasi KPL yang telah terlanjur
rusak;
b. Lokakarya eksplorasi dalam rangka
penilaian
kebutuhan
penguatan
kelembagaan dan sumberdaya manusia
untuk penyelenggaraan perlindungan
ekosistem yang masih dalam kondisi
baik dan pemulihan ekosistem yang telah
terlanjur rusak pada KPL di setiap bentang
alam;
c. Lokakarya eksplorasi dalam rangka
penyusunan rencana aksi pengembangan
kapasitas di tingkat sistem, lembaga, dan
individu dalam rangka mendukung upaya
perlindungan dan pemulihan di KPL pada
setiap bentang alam.
2. Penyusunan
rencana-rencana
setiap
kegiatan dalam program pengembangan
kapasitas sesuai dengan rencana teknis
program yang telah ditetapkan.

3. Pelaksanaan pengembangan kapasitas


melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pelaksanaan rencana-rencana kegiatan
pada tingkat sistem dalam rangka
penguatan kebijakan dan peraturan
untuk memperkuat legal basis konservasi
bentang alam melalui program proteksi
dan restorasi pada setiap bentang alam.
b. Pelaksanaan rencana-rencana kegiatan
pada tingkat lembaga dalam rangka
penguatan kapasitas kelembagaan pada
setiap lembaga eksekutor kegiatan
restorasi dan proteksi sesuai dengan
tugas dan fungsinya.

5.3.1.3 Lokasi
Program pengembangan kapasitas perlu
dilakukan di semua bentang alam yang
terintegrasi pada seluruh komponen program
konservasi bentang alam.

5.3.1.4 Keluaran
1. Rencana teknis program pengembangan
kapasitas yang disusun berdasarkan
rencana konservasi bentang alam. Rencana
teknis program pengembangan kapasitas
ini disusun oleh gugus tugas program
pengembangan kapasitas.

2. Rencana-rencana kegiatan untuk seluruh


kegiatan yang tercantum dalam rencana
teknis program pengembangan kapasitas
yang telah ditetapkan.
3. Kondisi aktual peraturan dan kebijakan,
kesenjangan peraturan dan kebijakan,
dan rekomendasi penguatan peraturan
dan kebijakan yang lebih mendukung
penyelenggaraan program proteksi dan
restorasi pada setiap bentang alam.
4. Kondisi aktual kelmbagaan, kesenjangan
aspek kelembagaan dan rekomendasi
penguatan kelembagaan yang lebih mampu
melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam
program proteksi dan restorasi pada setiap
bentang alam.
5. Rencana aksi pengembangan kapasitas di
tingkat sistem (peraturan dan kebijakan) dan
kelembagaan untuk mendukung program
proteksi dan restorasi pada setiap bentang
alam.
6. Rencana aksi pelatihan dan pendidikan dalam
rangka peningkatan kapasitas individu.
7. Kebijakan, rencana, program dan kegiatan
pada setiap institusi pemangku kepentingan
yang mendukung program konservasi
bentang alam.
8. Lembaga multipihak untuk konservasi
bentang alam yang mampu berperan
secara efektif dalam melakukan koordinasi
antarinstansi atau lembaga, singkronisasi
perencanaan dan mengoptimalkan kinerja
instansi dalam penyelenggaraan program
konservasi bentang alam.
9. Unit kerja pada lembaga pelaksana kegiatan
restorasi dan proteksi yang mampu bekerja
optimal dalam melaksanakan kegiatan
restorasi dan proteksi.
10. Kesatuan pengelolaan hutan yang beroperasi
dalam penyelenggaraan pengelolaan hutan
di tingkat tapak dan mendukung program
konservasi bentang alam.
11. Unit-unit pengelolaan hutan berbasis
masyarakat
dalam
skema
Hutan
Kemasyarakatan, Hutan Desa, dan Hutan
Tanaman Rakyat yang mampu bekerja secara
efektif dan mendukung program konservasi
bentang alam.

Menyusuri Sungai Bukit Batu di Suaka Margasatwa Bukit Batu sebagai salah satu bentuk kegiatan ekowisata di Bentang alam GSKBB, Riau,
Februari 2014. (Foto: Dolly Priatna)

5.3.2 Program Pemberdayaan Masyarakat


5.3.2.1 Tujuan Spesifik

Tujuan program pemberdayaan masyarakat


berdasarkan model-model pemberdayaan yang
diajukan adalah meningkatkan keterlibatan
masyarakat dalam penyelenggaraan program
aksi proteksi dan restorasi yang sejalan dengan
peningkatan kesejahteraan dari pengelolaan
hutan dan sumberdaya alam lokal lainnya
secara berkelanjutan.

5.3.2.2 Kegiatan
Kegiatan-kegiatan
dalam
pemberdayaan
masyarakat secara langsung diarahkan untuk
mencapai
tujuan-tujuan
pemberdayaan
masyarakat dalam program konservasi
bentang alam, yaitu sebagai berikut:
1. Penyusunan rencana teknis program
pemberdayaan
masyarakat
pada
tingkat bentang alam oleh gugus tugas
pemberdayaan masyarakat.
2. Penyusunan rencana-rencana kegiatan
pemberdayaan masyarakat untuk masingmasing model pemberdayaan oleh masingmasing pemangku atau pengelola kawasan.
3. Penyusunan
modul-modul
pelatihan
untuk program peberdayaan masyarakat
dan pedoman-pedoman praktis untuk
pelaksanaan
kegiatan-kegiatan
pada
program pemberdayaan masyarakat.
4. Membangun atau merevitalisasi sistem
proteksi hutan berbasis masyarakat, di
antaranya adalah:
a. Pengamanan hutan berbasis masyarakat,
dilakukan melalui rekruitmen tenaga
pengamaman
hutan
dari
warga
masyarakat sekitar hutan, membentuk
kelembagaan informal masyarakat untuk
pengaman hutan hutan (PAM Swakarsa),
dan membangun sistem patroli hutan
berbasis masyarakat (community patrol
unit).
b. Pengendalian kebakaran hutan berbasis
masyarakat, dilakukan melalui rekruitmen
tenaga pengendalian kebakaran hutan
dari warga masyarakat sekitar hutan
dan membentuk kelembagaan informal
masyarakat
untuk
pengendalian
kebakaran hutan seperti Masyarakat
Peduli Api (MPA).
5. Mengembangkan berbagai bentuk kegiatan
usaha yang secara langsung meningkatkan
atau menambah pendapatan masyarakat.

163

164

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

6. Melakukan fasilitasi dan pendamingan


terhadap masyarakat dalam pengajuan
permohonan dan pelaksanaan pengelolaan
hutan dalam skema Hutan Kemasyarakatan,
Hutan Desa dan Hutan Tanaman Rakyat.
7. Meningkatkan nilai guna sumberdaya lokal
dan penggunaan teknologi tepat guna untuk
mendukung kegiatan ekonomi produktif
masyarakat (composting, dll) dan pemenuhan
sumber energi alternatif ramah lingkungan
(biogas, mikrohidro, pikohidro, dll).

5.3.2.3 Lokasi
Lokasi
kegiatan-kegiatan
pemberdayaan
masyarakat dilakukan pada seluruh desa yang
bertampalan atau bersinggungan dengan
lokasi-lokasi kegiatan proteksi dan restorasi.

Di dalam Lampiran 9, disampaikan dua kegiatan


percontohan, yaitu Pusat Arena Pembelajaran
(Learning
Center)
dan
pengembangan
Pengusahaan Hutan Berbasis Masyarakat.
Pusat Pembelajaran ini akan mencakup
isu-isu tematik yang disampaikan pada program
pemberdayaan masyarakat dan pendidikan
lingkungan.

5.3.3 Program Pendidikan Lingkungan


Hidup dan Konservasi Alam
5.3.3.1 Tujuan Spesifik

5.3.2.4 Keluaran
1. Dokumen
rencana
teknis
program
pemberdayaan masyarakat pada tingkat
bentang alam yang telah disahkan.
2. Dokumen-dokumen
rencana
kegiatan
pemberdayaan masyarakat untuk masingmasing model pemberdayaan oleh masingmasing pemangku atau pengelola kawasan.
3. Modul-modul pelatihan untuk program
pemberdayaan masyarakat dan pedomanpedoman praktis untuk pelaksanaan
kegiatan-kegiatan
pada
program
pemberdayaan masyarakat.
4. Tenaga pengamanan hutan yang berasal
dari warga masyarakat sekitar hutan.
5. Lembaga informal masyarakat untuk
pengaman hutan (PAM Swakarsa) yang
efektif bekerja.
6. Laporan-laporan kegiatan patrol
pengamanan hutan oleh masyarakat.

rutin

7. Tenaga pengendalian kebakaran hutan yang


berasal dari warga masyarakat sekitar hutan.
8. Lembaga informal masyarakat untuk
pengendalian kebakaran hutan (Masyarakat
Peduli Api) yang efektif bekerja.
9. Berbagai bentuk kegiatan usaha yang secara
langsung meningkatkan atau menambah
pendapatan masyarakat.
10. Usulan permohonan dan ijin Hutan
Kemasyarakatan, Hutan Desa dan Hutan
Tanaman Rakyat.
11. Berbagai bentuk kegiatan
sumberdaya
lokal
dan

teknologi tepat guna untuk mendukung


kegiatan ekonomi produktif masyarakat
(composting, dll) dan pemenuhan sumber
energi alternatif ramah lingkungan (biogas,
mikrohidro, pikohidro, dll).

penggunaan
penggunaan

Tujuan program pendidikan lingkungan


dan konservasi alam dalam program
besar konservasi bentang alam ini adalah
mengembangkan
sistem
pendidikan
lingkungan dan konservasi yang efektif.

5.3.3.2 Kegiatan
Untuk mencapai tujuan di atas, beberapa
program yang perlu dilakukan, agar informasi,
pengetahuan itu diterima oleh beberapa
lapisan masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan rencana teknis program
pendidikan lingkungan dan konservasi alam
pada tingkat bentang alam oleh gugus tugas
pendidikan lingkungan dan konservasi alam.
2. Melakukan studi penilaian atau inventarisasi
isu-isu lingkungan dan konservasi alam pada
setiap KPL yang menjadi lokasi program
proteksi dan restorasi.
3. Melakukan studi sosial-budaya masyarakat
untuk menemukan dan mengetahui budaya
kelompok sasaran program pendidikan
lingkungan dan konservasi alam.
4. Penyusunan rencana-rencana kegiatan
mobile campaign, mobile liberary, dan
school visit.
5. Menyusun material (buku, modul, dll) dan
menentukan media pendidikan lingkungan
dan konservasi alam yang sesuai isu-isu
lingkungan dan konservasi alam yang terjadi
di masing-masing lokasi, profil kelompok
sasaran dan karakteristik sosial budanya.

6. Membangun koordinasi dan kerjsama


dengan BKSDA atau BBKSDA dan BLHD
dalam rangka membangun pusat pendidikan
lingkungan dan konservasi alam terpadu.
7. Pembentukan
kelembagaan
pusat
pendidikan lingkungan dan konservasi
alam terpadu yang melibatkan BKSDA atau
BBKSDA dan BLHD serta kelompok peduli
lindkungan dan konservasi yang relevan.
8. Pelatihan terhadap seluruh personil mobile
campaign unit, mobile library dan school visit
yang melibatkan BKSDA atau BBKSDA dan
BLHD serta kelompok peduli lindkungan.
9. Melakukan kegiatan pendidikan lingkungan
dan konservasi alam melalui mobile
campaign unit, mobile library dan school
visit.

5.3.3.3 Lokasi
Lokasi-lokasi
kegiatan
untuk
program
pendidikan lingkungan dan konservasi alam
adalah daerah-daerah disekitar kawasan
penting bentang alam. Sementara kelompok
sasarannya akan dinilai lebih lanjut dan menjadi
bagian kegiatan dalam program pendidikan
lingkungan dan konservasi alam.

7. Kelembagaan program mobile campaign


unit, mobile library dan school visit yang
melibatkan BKSDA atau BBKSDA dan BLHD
serta kelompok peduli lindkungan dan
konservasi yang relevan.
8. Personil terlatih untuk operasinalisasi mobile
campaign unit, mobile library dan school
visit yang terdiri dari staff BKSDA atau
BBKSDA dan BLHD serta kelompok peduli
lindkungan.
9. Kegiatan pendidikan lingkungan dan
konservasi alam melalui mobile campaign
unit, mobile library dan school visit berjalan.
10. Pusat
Pendidikan
Lingkungan
dan
Konservasi alam beroperasi di setiap
bentang alam.

5.3.4 Program Pemantauan dan Asistensi


Teknis
5.3.4.1 Tujuan Spesifik
Mendukung dan memantau pelaksanaan
perlindungan
kawasan-kawasan
bernilai
konservasi tinggi di dalam areal konsesi hutan
baik hutan alam maupun hutan tanaman.

5.3.4.2 Kegiatan
5.3.3.4 Keluaran
1. Dokumen
rencana
teknis
program
pendidikan lingkungan dan konservasi alam
yang telah disahkan.
2. Dokumen-dokumen
rencana
kegiatan
mobile campaign unit, mobile library dan
school visit.
3. Profil isu lingkungan dan konservasi alam
pada setiap KPL yang menjadi lokasi program
proteksi dan restorasi di 10 bentang alam.
4. Profil kelompok sasaran dan kareteristik
sosial budanya pada setiap KPL yang menjadi
lokasi program proteksi dan restorasi di 10
bentang alam.
5. Meterial dan media pendidikan lingkungan
dan konservasi alam yang sesuai dengan
isu-isu lingkungan dan konservasi alam
yang terjadi di masing-masing lokasi, profil
kelompok sasaran dan karakteristik sosial
budanya
6. Kerjasama pengembangan mobile campaign
unit, mobile library dan school visit dengan
BKSDA atau BBKSDA dan BLHD dalam
rangka membangun mobile campaign unit,
mobile library dan school visit.

Kegiatan-kegiatan dalam program asistensi


teknis dan monitoring ini adalah sebagai
berikut:
1. Penyusunan teknis program bantuan
teknis dan pemantauan pengelolaan KPL
pada areal konsesi hutan oleh lembaga
multi pihak untuk konservasi bentang alam.
2. Penyusunan rencana kegiatan bantuan
teknis dan pemantauan pengelolaan KPL
pada areal konsesi hutan oleh lembaga
multi pihak untuk konservasi bentang alam.
3. Penyusunan modul-modul pelatihan dan
pedoman teknis pelaksanaan penilaian,
perencanaan dan pemantauan pengelolaan
KPL pada areal konsesi hutan.
4. Memberikan bantuan teknis terhadap unitunit manajemen hutan tanaman dan hutan
hutan alam dalam proses penilaian dan
perencanaan untuk penerapan instrumentintsrumen kelestarian pengelolaan hutan
lestari baik yang bersifat voluntary maupun
mandatory.
5. Melakukan
pemantauan
terhadap
pelaksanaan rencana kerja intrumenintrumen kelestarian pengelolaan hutan baik
yang mandatory maupun voluntary.

165

166

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

5.3.4.3 Lokasi
Kegiatan-kegiatan dalam program asistensi
teknis dan pemantauan ini dilaksanakan pada
areal konsesi hutan.

5.3.4.4 Keluaran
1. Dokumen rencana teknis program bantuan
teknis dan pemantauan pengelolaan KPL
pada aareal konsesi hutan produksi.
2. Dokumen-dokumen rencana kegiatan dalam
program bantuan teknis dan pemantauan
pengelolaan KPL pada aareal konsesi hutan
produksi.
3. Modul-modul pelatihan dan pedoman teknis
pelaksanaan penilaian, perencanaan, dan
pemantauan pengelolaan KPL pada areal
konsesi hutan produksi.
4. Dokumen-dokumen
laporan
kegiatan
bantuan teknis penilaian dan perencanaan
untuk penerapan instrument-intsrumen
kelestarian pengelolaan hutan lestari baik
yang bersifat voluntary maupun mandatory.

Tabel V1. Matrik Program, Tujuan, Kegiatan, dan Keluaran dari konservasi bentang alam

NO

PROGRAM

A.

Program Strategis

1.

Program Pembangunan
Konsensus

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Untuk mendapatkan
kesepakatan mengenai
wilayah kerja konservasi
bentang alam, kelompok
kerja konservasi
bentang alam, rencana
konservasi bentang
alam dan komitmen
pengarusutamaannya ke
dalam rencana-rencana
kerja setiap instansi/
lembaga baik dari unsur
pemerintah maupun non
pemerintah

Kegiatan pertemuan
multipihak di tingkat bentang
alam yang memiliki peran
dan pengaruh terhadap
bentang alam baik dari
unsur pemerintah maupun
non-pemerintah untuk
membangun kesepahaman
dan kesepakatan.

Dokumen kesepahaman dan


kesepakatan konservasi bentang
alam paling kurang memuat wilayah
kerja konservasi bentang alam,
arahan fungsi lahan di dalam
kawasan penting langkap, arahan
program kerja pada masing-masing
fungsi lahan, dan komitmen para
pihak untuk penyelenggaraan
konservasi bentang alam yang
disahkan oleh unsur pimpinan
daerah di tingkat bentang alam.

Kegiatan pertemuan
multipihak untuk membentuk
dan menetapkan POKJA
konservasi bentang alam
yang memiliki legitimasi dan
legalitas yang memadai.

Kelompok kerja konservasi bentang


alam di setiap bentang alam, yang
beranggotakan perwakilan dari
Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah, Dinas Kehutanan, Badan
Lingkungan Hidup Daerah, Unit
Pelaksana Teknis Kementerian
LHK, Kesatuan Pengelolaan Hutan,
lembaga atau forum multipihak yang
telah ada sebelumnya, Perusahaan
Pemegang Ijin Usaha Kehutanan,
NGOs, perguruan tinggi, komunitas
masyarakat yang berpotensi terkena
dampak konservasi bentang alam,
dan unsur-unsur lain yang dianggap
memiliki peran dan pengaruh
terhadap bentang alam.

Penyusunan rencana kerja


POKJA dalam rangka
penyusunan rencana
konservasi bentang alam.

Dokumen Rencana kerja POKJA


konservasi bentang alam yang
memuat rencana kegiatan
koordinasi para pihak sesuai
dengan dokumen kesepakatan,
penyusunan rencana konservasi
bentang alam, pengesahan
rencana konservasi bentang alam,
pengarusutamaan konservasi
bentang alam.

Penyusunan rencana
konservasi bentang alam
pada tingkat bentang alam
oleh POKJA konservasi
bentang alam.

Rencana konservasi bentang alam


yang disusun oleh POKJA, disetujui
oleh seluruh pimpinan lembaga
yang terlibat dalam POKJA, dan
disahkan oleh pimpinan daerah.
Rencana konservasi bentang alam
minimal memuat profil bentang alam
dan kawasan penting bentang alam,
permasalahan, arahan fungsi lahan
dan program kerja pada kawasan
penting bentang alam, tahapan
dan tata waktu program konservasi
bentang alam, kelembagaan
konservasi bentang alam,
rancangan kebutuhan anggaran
dan sistem pendanaan, dan skema
pemantauan kinerja.

5. Dokumen-dokumen
laporan
kegiatan
pemantauan terhadap pelaksanaan rencana
kerja
intrumen-intrumen
kelestarian
pengelolaan hutan baik yang mandatory
maupun voluntary.

Titan arum atau lebih umum dikenal sebagai bunga bangkai raksasa
(Amorphophallus titanum) yang tingginya mencapai 2,5 m telah
menjadikannya sebagai bunga tertinggi di dunia dan hanya dapat
ditemukan (endemik) di hutan hujan tropis Sumatera. Diabadikan
pada tahun 1997 di salah satu sudut hutan dataran rendah Sumatera.
(Foto: Dolly Priatna)

167

168

BAB LIMA

NO
A.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PROGRAM

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Program Strategis

A.
Konsultasi publik rancangan
rencana konservasi bentang
alam dan pengesahan
rencana konservasi bentang
alam.

Inisiasi pengarusutamaan rencana


konservasi bentang alam ke dalam
rencana-rencana strategis dan
rencana-rencana kerja instansi
pemerintah dan non-pemerintah

Pengarusutamaan rencana
konservasi bentang alam
ke dalam perencanaan
pembangunan daerah,
rencana strategis dan rencana
kerja setiap instansi atau
lembaga yang terkait dengan
konservasi bentang alam
baik dari unsur pemerintah
maupun non-pemerintah.
2.

Program Pembangunan/
Pengembangan
Kelembagaan

Membangun
kelembagaan multipihak
untuk konservasi
bentang alam yang
memiliki legitimasi atau
mandat yang memadai
dari para pihak serta
mampu bekerja secara
intensif dan efektif dalam
melakukan singkronisasi
perencanaan dan
optimalisasi kinerja setiap
instansi/lembaga untuk
konservasi bentang alam
sesuai dengan tugas dan
fungsinya masing-masing

Analisis kelembagaan
untuk mengidentifikasi
lembaga-lembaga sektoral
dan non sektoral dari unsur
pemerintah dan nonpemerintah yang terkait
dengan bentang alam
berdasarkan tugas dan
wewenangnya masingmasing.

Database lembaga-lembaga
sektoral dan non sektoral dari unsur
pemerintah dan non-pemerintah
yang terkait dengan bentang alam
dengan atribut-atributnya meliputi
tugas dan kewenangan setiap
instansi atau lembaga.

Analisis stakeholder dan


memetakan stakeholder
bentang alam berdasarkan
peran dan pengaruhnya
terhadap bentang alam.

Peta stakeholder bentang alam


yang memperlihatkan peran dan
pengaruh setiap pihak terhadap
bentang alam. Peta stakeholder ini
merupakan hasil analisis lebih lanjut
dari analisis kelembagaan.

Pertemuan multipihak untuk


membahas dan menyepakati
konsep kelembagaan yang
telah tertuang dalam rencana
konservasi bentang alam.

Kelembagaan multipihak untuk


konservasi bentang alam yang
telah disetujui oleh setiap instansi
atau lembaga dan disahkan oleh
pimpinan daerah. Kelembagaan
multipihak ini disertai dengan
kelengkapan kelembagaan yang
meliputi: struktur organisasi, tugas
dan wewenang, unit-unit kerja atau
gugus tugas, sistem manajemen,
mekanisme hubungan dan
koordinasi, standard operational
procedure, kebutuhan dan
pemunhan fasilitas, dan lain-lain.

Pertemuan multipihak untuk


menyusun kelengkapan
kelembagaan multipihak
Pertemuan multipihak
untuk menetapkan dan
mengesahkan kelembagaan
multipihak untuk konservasi
bentang alam.

3.

Program Aksi Proteksi

NO

Melindungi atau
mempertahankan
kondisi ekosistem
yang relatif masih alami
pada kawasan penting
bentang alam dari
ancaman kerusakan yang
diakibatkan oleh kegiatan
terencana maupun tidak
terencana

Penyusunan rencana teknis


program aksi proteksi pada
tingkat bentang alam oleh
gugus tugas proteksi bentang
alam

Dokumen rencana teknis program


aksi proteksi sebagai pedoman
kerja gugus tugas proteksi bentang
alam minimal memuat proteksi
terhadap kawasan hutan, proteksi
terhadap kerusakan hutan, proteksi
terhadap hasil-hasil hutan, dan
proteksi terhadap keanekaragaman
hayati hutan.

PROGRAM

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Penyusunan rencana-rencana
kegiatan yang tercantum
dalam rencana teknis program
aksi proteksi pada masingmasing tapak .

Dokumen-dokumen rencana
kegiatan proteksi pada setiap tapak
yang akan menjadi pedoman teknis
tahapan pelaksanaan kegiatan
proteksi di tingkat tapak oleh para
eksekutor pengelolaan hutan di
tingkat tapak.

Penyusunan modul-modul
untuk setiap jenis kegiatan
program aksi proteksi dan
pedoman-pedoman praktis
untuk pelaksanaan setiap
kegiatan program aksi
proteksi.

Modul-modul untuk pelatihan dan


pedoman-pedoman praktis setiap
jenis kegiatan proteksi untuk
pelaksanaan kegiatan di tingkat
tapak.

Proteksi di tingkat tapak


dilaksanakan pada seluruh
wilayah kerja program aksi
proteksi

Dokumen-dokumen pengukuhan
kawasan hutan pada seluruh wilayah
kerja program proteksi seluas 2 juta
hektar pada 10 bentang alam yang
tersebar pada KSA/KPA seluas 1,1
juta hektar; Hutan Produksi seluas
597,5 ribu hektar; Hutan Lindung
seluas 286,1 ribu hektar, dan pada
APL seluas 19,5 hektar.

Program Strategis

Unit patroli pengamanan hutan


partisipatif yang bekerja secara
regular dan efektif.

Unit pengendalian kebarakan hutan


partisipatif yang bekerja secara
efektif.

Unit pengelolaan konflik satwa liar


partisipatif yang bekerja secara
efektif.

Penuntutan dan vonis pengadilan


terhadap kasus-kasus perambahan,
penebangan liar, perambahan dan
kegiatan-kegiatan illegal lainnya.
Advokasi kebijakan dan
pembentukan/penguatan
kelembagaan pengelolaan
di tingkat tapak

Dokumen usulan dari daerah


dan atau keputusan Menteri LHK
mengenai perubahan fungsi hutan
produksi konversi seluas 78.437
hektar menjadi hutan produksi,
hutan produksi tetap, hutan lindung,
dan atau hutan konservasi .
SK Menteri LHK mengenai
perubahan fungsi utan produksi
konversi seluas 78.437 hektar
menjadi hutan produksi, hutan
produksi tetap, hutan lindung, dan
atau hutan konservasi

169

170

BAB LIMA

NO
A.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PROGRAM

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Program Strategis
Keputusan Menteri LHK untuk
Ijin Usaha Pemanfataan Hutan
Kemasyarakatan dan Hutan
Tanaman Rakyat, serta Hak
Pengusahaan Hutan Desa dari
Gubernur.

4.

Program Aksi Restorasi

Penyusunan rencana
teknis program aksi
restorasi pada tingkat
bentang alam oleh gugus
tugas restorasi bentang
alam.

Penyusunan rencana teknis


program aksi proteksi pada
tingkat bentang alam oleh
gugus tugas proteksi bentang
alam

Dokumen rencana teknis program


aksi restorasi sebagai pedoman
kerja gugus tugas restorasi bentang
alam yang memuat paling kurang
memuat gambaran umum lokasilokasi yang menjadi wilayah kerja
program aksi restorasi pada suatu
bentang alam, jenis-jenis kegiatan
restorasi berdasarkan karakter
kondisi masing-masing lokasi
(tingkat kerusakan, jenis lahan atau
tanah, kondisi sosekbud, dll).

Penyusunan rencana kegiatan


restorasi pada masing-masing
tapak di dalam suatu bentang
alam oleh masing-masing
pemangku atau pengelola
kawasan.

Dokumen-dokumen rencana
kegiatan restorasi pada setiap
tapak yang akan menjadi pedoman
teknis tahapan pelaksanaan
kegiatan restorasi di tingkat tapak.
Rencana kegiatan memuat paling
tidak: tujuan restorasi, kondisi
tapak pada lokasi restorasi dan
sejarah kerusakan hutan, ekosistem
referensi, kondisi sosekbud,
rancangan kegiatan restorasi sesuai
tujuan dan kondisi aktual tapak
serta soseksbud, kelembagaan
restorasi yang memasukan peran
masyarakat, rancangan biaya, dan
pemantauan evaluasi.

Penyusunan modul-modul
pelatihan program aksi
restorasi dan pedomanpedoman praktis untuk
pelaksanaan setiap jenis
kegiatan pada program aksi
restorasi di tingkat tapak.

Modul-modul untuk pelatihan


kegiatan restorasi dan pedomanpedoman praktis untuk pelaksanaan
kegiatan di tingkat tapak sesuai
dengan kondisi biofisiknya.

Pelaksanaan kegiatan
restorasi pada kawasan hutan
produksi yang merujuk pada
rencana kegiatan yang telah
disusun.

Lokasi yang menjadi wilayah kerja


program aksi restorasi seluas 320,9
ribu hektar pada kawasan penting
bentang alam yang tersebar di 10
bentang alam terpulihkan

Pelaksanaan kegiatan
restorasi di KSA/KPA oleh
Balai Konservasi Sumberdaya
Alam atau Balai Taman
Nasional yang melibatkan
masyarakat.

NO

PROGRAM

B.

Program Pendukung

5.

Program Pengembangan
Kapasitas

TUJUAN

Mengetahui dan
menyepakati kebutuhan
kapasitas dan agenda/
rencana pengembangan
kapasitas pada
setiap tingkatan guna
terselenggaranya
program aksi proteksi
dan restorasi di setiap
bentang alam sesuai
dengan rencana
konservasi bentang
alam, rencana teknis
setiap program aksi,
dan rencana-rencana
kegiatan yang teruang
dalam rencana teknis
program aksi.
Melakukan penguatan
kapasitas pada tingkat
sistem, lembaga, dan
individu berdasarkan
rencana pengembangan
kapasitas yang telah
disetujui dan ditetapkan
bersama

KEGIATAN

KELUARAN

Lokakarya eksplorasi dalam


rangka penilaian kebutuhan
peraturan dan kebijakan
yang lebih mendukung
upaya proteksi KPL yang
masih dalam kondisi baik
dan restorasi KPL yang telah
terlanjur rusak;

Kondisi aktual peraturan dan


kebijakan, kesenjangan peraturan
dan kebijakan, dan rekomendasi
penguatan peraturan dan
kebijakan yang lebih mendukung
penyelenggaraan program proteksi
dan restorasi pada setiap bentang
alam

Lokakarya eksplorasi dalam


rangka penilaian kebutuhan
penguatan kelembagaan
dan sumberdaya manusia
untuk penyelenggaraan
perlindungan ekosistem yang
masih dalam kondisi baik dan
pemulihan ekosistem yang
telah terlanjur rusak pada KPL
di setiap bentang alam;

Kondisi aktual kelembagaan,


kesenjangan aspek kelembagaan
dan rekomendasi penguatan
kelembagaan yang lebih mampu
melaksanakan kegiatan-kegiatan
dalam program proteksi dan
restorasi pada setiap bentang alam

Lokakarya eksplorasi
dalam rangka penyusunan
rencana aksi pengembangan
kapasitas di tingkat sistem,
lembaga, dan individu dalam
rangka mendukung upaya
perlindungan dan pemulihan
di KPL pada setiap bentang
alam

Rencana teknis program


pengembangan kapasitas yang
disusun berdasarkan rencana
konservasi bentang alam. Rencana
teknis program pengembangan
kapasitas ini disusun oleh gugus
tugas program pengembangan
kapasitas.

Penyusunan rencana-rencana
setiap kegiatan dalam
program pengembangan
kapasitas sesuai dengan
rencana teknis program yang
telah ditetapkan

Rencana-rencana kegiatan untuk


seluruh kegiatan yang tercantum
dalam rencana teknis program
pengembangan kapasitas yang
telah ditetapkan.
Rencana aksi pengembangan
kapasitas di tingkat sistem
(peraturan dan kebijakan) dan
kelembagaan untuk mendukung
program proteksi dan restorasi pada
setiap bentang alam.
Rencana aksi pelatihan dan
pendidikan dalam rangka
peningkatan kapasitas individu.

Pelaksanaan rencanarencana kegiatan pada


tingkat sistem dalam rangka
penguatan kebijakan dan
peraturan untuk memperkuat
legal basis program proteksi
dan restorasi pada setiap
bentang alam.

Kebijakan, rencana, program dan


kegiatan pada setiap institusi
pemangku kepentingan yang
mendukung program konservasi
bentang alam.

171

172

BAB LIMA

NO
B.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PROGRAM

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Program Pendukung

NO
B.

Pelaksanaan rencanarencana kegiatan pada


tingkat lembaga dalam
rangka penguatan kapasitas
kelembagaan pada setiap
lembaga eksekutor kegiatan
restorasi dan proteksi sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

Kondisi aktual peraturan dan


kebijakan, kesenjangan peraturan
dan kebijakan, dan rekomendasi
penguatan peraturan dan
kebijakan yang lebih mendukung
penyelenggaraan program proteksi
dan restorasi pada setiap bentang
alam

Pelaksanaan rencanarencana kegiatan pada


tingkat lembaga dalam
rangka penguatan kapasitas
kelembagaan pada setiap
lembaga eksekutor kegiatan
restorasi dan proteksi sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

Lembaga multipihak untuk


konservasi bentang alam yang
mampu berperan secara efektif
dalam melakukan koordinasi
antarinstansi atau lembaga,
singkronisasi perencanaan dan
mengoptimalkan kinerja instansi
dalam pengelolaann program
konservasi bentang alam.

PROGRAM

TUJUAN

Membangun atau
merevitalisasi sistem proteksi
hutan berbasis masyarakat

Laporan-laporan kegiatan patrol


rutin pengamanan hutan oleh
masyarakat.
Tenaga pengendalian kebakaran
hutan yang berasal dari warga
masyarakat sekitar hutan.
Lembaga informal masyarakat untuk
pengendalian kebakaran hutan
(Masyarakat Peduli Api) yang efektif
bekerja.

Unit-unit pengelolaan hutan


berbasis masyarakat dalam skema
Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa,
dan Hutan Tanaman Rakyat yang
mampu bekerja secara efektif dan
mendukung program konservasi
bentang alam.

Meningkatkan
keterlibatan masyarakat
dalam penyelenggaraan
program aksi proteksi dan
restorasi yang sejalan
dengan peningkatan
kesejahteraan dari
pengelolaan hutan
dan sumberdaya alam
lokal lainnya secara
berkelanjutan

Penyusunan rencana teknis


program pemberdayaan
masyarakat pada tingkat
bentang alam oleh gugus
tugas pemberdayaan
masyarakat.

Dokumen rencana teknis program


pemberdayaan masyarakat pada
tingkat bentang alam yang telah
disahkan.

Penyusunan rencana-rencana
kegiatan pemberdayaan
masyarakat untuk masingmasing model pemberdayaan
oleh masing-masing
pemangku atau pengelola
kawasan.

Dokumen-dokumen rencana
kegiatan pemberdayaan masyarakat
untuk masing-masing model
pemberdayaan oleh masing-masing
pemangku atau pengelola kawasan.

Penyusunan modul-modul
pelatihan untuk program
peberdayaan masyarakat dan
pedoman-pedoman praktis
untuk pelaksanaan kegiatankegiatan pada program
pemberdayaan masyarakat.

Modul-modul pelatihan untuk


program pemberdayaan masyarakat
dan pedoman-pedoman praktis
untuk pelaksanaan kegiatankegiatan pada program
pemberdayaan masyarakat.

Tenaga pengamanan hutan yang


berasal dari masyarakat sekitar
hutan.
Lembaga informal masyarakat untuk
pengaman hutan (PAM Swakarsa)
yang efektif bekerja.

Unit pengelolaan hutan yang


beroperasi dalam penyelenggaraan
pengelolaan hutan di tingkat
tapak dan mendukung program
konservasi bentang alam.

Program Pemberdayaan
Masyarakat

KELUARAN

Program Pendukung

Unit kerja pada lembaga pelaksana


kegiatan restorasi dan proteksi
yang mampu bekerja optimal untuk
melaksanakan kegiatan restorasi
dan proteksi.

6.

KEGIATAN

7.

Program Kampaye dan


Pendidikan Lingkungan
dan Konservasi Alam

Mengembangkan sistem
pendidikan lingkungan
dan konservasi yang
efektif

Melakukan fasilitasi dan


pendamingan terhadap
masyarakat dalam
pengajuan permohonan dan
pelaksanaan pengelolaan
hutan dalam skema Hutan
Kemasyarakatan, Hutan Desa
dan Hutan Tanaman Rakyat.

Usulan permohonan dan ijin Hutan


Kemasyarakatan, Hutan Desa dan
Hutan Tanaman Rakyat.

Mengembangkan berbagai
bentuk kegiatan usaha
yang secara langsung
meningkatkan atau
menambah pendapatan
masyarakat.

Berbagai bentuk kegiatan


usaha yang secara langsung
meningkatkan atau menambah
pendapatan masyarakat.

Meningkatkan nilai guna


sumberdaya lokal dan
penggunaan teknologi tepat
guna untuk mendukung
kegiatan ekonomi produktif
masyarakat dan pemenuhan
sumber energi alternatif
ramah lingkungan

Berbagai bentuk kegiatan


penggunaan sumberdaya lokal dan
penggunaan teknologi tepat guna
untuk mendukung kegiatan ekonomi
produktif masyarakat (composting,
dll) dan pemenuhan sumber energi
alternatif ramah lingkungan (biogas,
mikrohidro, pikohidro, dll)

Penyusunan rencana
teknis program pendidikan
lingkungan dan konservasi
alam pada tingkat bentang
alam oleh gugus tugas
pendidikan lingkungan dan
konservasi alam.

Dokumen rencana teknis


program pendidikan lingkungan
dan konservasi alam yang telah
disahkan.

Melakukan studi penilaian


atau inventarisasi isu-isu
lingkungan dan konservasi
alam pada setiap KPL yang
menjadi lokasi program
proteksi dan restorasi.

Profil isu lingkungan dan konservasi


alam pada setiap KPL yang menjadi
lokasi program proteksi dan
restorasi di 10 bentang alam.

173

174

BAB LIMA

NO
B.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PROGRAM

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Program Pendukung

B.
Melakukan studi sosialbudaya masyarakat untuk
menemukan dan mengetahui
budaya kelompok sasaran
program pendidikan
lingkungan dan konservasi
alam.

Profil kelompok sasaran dan


kareteristik sosial budanya pada
setiap KPL yang menjadi lokasi
program proteksi dan restorasi di 10
bentang alam.

Penyusunan rencana-rencana
kegiatan mobile campaign,
mobile liberary, dan school
visit.

Dokumen-dokumen rencana
kegiatan mobile campaign unit,
mobile library dan school visit.

Menyusun material (buku,


modul, dll) dan menentukan
media pendidikan lingkungan
dan konservasi alam

Meterial dan media pendidikan


lingkungan dan konservasi alam
yang sesuai dengan isu-isu
lingkungan dan konservasi alam
yang terjadi di masing-masing
lokasi, profil kelompok sasaran dan
karakteristik sosial budaya

Membangun koordinasi dan


kerjsama dengan BKSDA atau
BBKSDA dan BLHD dalam
rangka membangun pusat
pendidikan lingkungan dan
konservasi alam terpadu.

Kerjasama pengembangan mobile


campaign unit, mobile library dan
school visit dengan BKSDA atau
BBKSDA dan BLHD dalam rangka
membangun mobile campaign unit,
mobile library dan school visit.

Pembentukan kelembagaan
pusat pendidikan lingkungan
dan konservasi alam terpadu
yang melibatkan BKSDA atau
BBKSDA dan BLHD serta
kelompok peduli lindkungan
dan konservasi yang relevan.

Kelembagaan program mobile


campaign unit, mobile library dan
school visit yang melibatkan BKSDA
atau BBKSDA dan BLHD serta
kelompok peduli lindkungan dan
konservasi yang relevan.
Pusat Pendidikan Lingkungan dan
Konservasi alam beroperasi di
setiap bentang alam

8.

Program Asistensi dan


Pemantauan

NO

Mendukung dan
memantau pelaksanaan
perlindungan kawasankawasan bernilai
konservasi tinggi di
dalam areal konsesi
hutan baik hutan alam
maupun hutan tanaman

Pelatihan terhadap seluruh


personil mobile campaign
unit, mobile library dan school
visit yang melibatkan BKSDA
atau BBKSDA dan BLHD serta
kelompok peduli lindkungan.

Personil terlatih untuk


operasinalisasi mobile campaign
unit, mobile library dan school visit
yang terdiri dari staff BKSDA atau
BBKSDA dan BLHD serta kelompok
peduli lindkungan.

Melakukan kegiatan
pendidikan lingkungan dan
konservasi alam melalui
mobile campaign unit, mobile
library dan school visit

Kegiatan pendidikan lingkungan


dan konservasi alam melalui mobile
campaign unit, mobile library dan
school visit berjalan

Penyusunan teknis program


bantuan teknis dan
pemantauan pengelolaan KPL
pada areal konsesi hutan oleh
lembaga multi pihak untuk
konservasi bentang alam.

Dokumen rencana teknis program


bantuan teknis dan pemantauan
pengelolaan KPL pada aareal
konsesi hutan produksi.

PROGRAM

TUJUAN

KEGIATAN

KELUARAN

Penyusunan rencana
kegiatan bantuan teknis dan
pemantauan pengelolaan KPL
pada areal konsesi hutan oleh
lembaga multi pihak untuk
konservasi bentang alam.

Dokumen-dokumen rencana
kegiatan dalam program bantuan
teknis dan pemantauan pengelolaan
KPL pada aareal konsesi hutan
produksi.

Penyusunan modul-modul
pelatihan dan pedoman
teknis pelaksanaan
penilaian, perencanaan dan
pemantauan pengelolaan KPL
pada areal konsesi hutan.

Modul-modul pelatihan dan


pedoman teknis pelaksanaan
penilaian, perencanaan, dan
pemantauan pengelolaan KPL pada
aareal konsesi hutan produksi.

Memberikan bantuan teknis


terhadap unit-unit manajemen
hutan tanaman dan hutan
hutan alam dalam proses
penilaian dan perencanaan
untuk penerapan instrumentintsrumen kelestarian
pengelolaan hutan lestari
baik yang bersifat voluntary
maupun mandatory.

Dokumen-dokumen laporan
kegiatan bantuan teknis penilaian
dan perencanaan untuk penerapan
instrument-intsrumen kelestarian
pengelolaan hutan lestari baik
yang bersifat voluntary maupun
mandatory.

Melakukan pemantauan
terhadap pelaksanaan
rencana kerja intrumenintrumen kelestarian
pengelolaan hutan baik yang
mandatory maupun voluntary.

Dokumen-dokumen laporan
kegiatan pemantauan terhadap
pelaksanaan rencana kerja
intrumen-intrumen kelestarian
pengelolaan hutan baik yang
mandatory maupun voluntary.

Program Pendukung

175

176

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

5.4 HIERARKI DAN PERIODE


PERENCANAAN

5.4.1.3 Rencana Teknis Program

5.5.1 Penilaian Aspek Kepentingan

Rencana Teknis Program merupakan rencana


definitive pelaksanaan program-program yang
direncanakan dalam Rencana Konservasi
Bentang alam. Rencana Teknis Program
disusun oleh setiap gugus tugas, disetujui
oleh administrator pada lembaga multipihak,
dan disahkan oleh oversight committee
yang mewakili unsur stakeholder di dalam
lembaga multipihak. Kurun waktu Rencana
Teknis Program paling lama selama 5 tahun
yang disesuaikan dengan kaidah teknis-ilmiah
setiap kegiatan.

Perencanaan dalam konservasi bentang alam


akan terdiri dari beberapa bentuk yang memiliki
hubungan hierarkis, yaitu sebagai berikut:

RENCANA INDUK KONSERVASI10 LANSKAP

Konservasi bentang alam ini memiliki konsen


terhadap tiga hal yang selama ini menjadi
isu penting konservasi, yaitu: konservasi
spesies, konservasi karbon, dan konservasi
air.
Konservasi spesies dilakukan melalui
proteksi dan restorasi habitat, konservasi
karbon dilakukan melalui proteksi dan restorasi
gambut, dan konservasi air dilakukan melalui
proteksi dan restorasi daerah resapan air.
Oleh karenanya nilai penting lahan dalam
konservasi bentang alam ini dilihat dari
fungsinya sebagai habitat keanekaragaman
hayati, penambat karbon (source) atau
penyerap karbon (sink), serta pengatur tata air.
Dengan demikian, lokasi yang akan menjadi
prioritas pertama adalah lokasi di dalam
kawasan penting bentang alam yang memiliki
tingkat kepentingan yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan lokasi lainnya ditinjau
dari aspek habitat, gambut, dan daerah resapan
air. Cara penilaian sederhana yang dilakukan
untuk masing-masing indikator nilai penting
dapat dilihat pada Tabel di bawah.

5.4.1.4 Rencana Kegiatan


RENCANA TEKNIS
PROG RAM AKSI
PROTEKSI

RENCANA TEKNIS
PROG RAM AKSI
RESTORASI

RENCANA TEKNIS
PROG RAM PENGEMB ANGA N
KAPASITAS

RENCANA TEKNIS
PROG RAM PEMBERDAYAAN
MA SYARAKAT

KEGIATAN DALAM
PROG RAM PROTEKSI

KEGIATAN DALAM
PROG RAM RESTORASI

KEGIATAN DALAM
PROG RAM KAPASITAS

KEGIATAN DALAM
PROG RAM
PEMBERDAYAAN

RENCANA TEKNIS
PROG RAM PENDIDI
KAN
LINK.DAN KONSERVASI

RENCANA TEKNIS
PROG RAM PENDIDI
KAN
LINK.DAN KONSERVASI

Gambar V-2. Hubungan hierarki berbagai rencana dalam konservasi bentang alam

5.4.1 Jenis-jenis Rencana pada Konservasi


Bentang Alam
5.4.1.1 Rencana Induk Konservasi 10 Bentang
alam
Rencana Induk Konservasi 10 Bentang
alam merupakan rencana indikatif kegiatan
konservasi bentang alam yang disusun
berdasar kondisi biofisik, sosial ekonomi dan
kelembagaan pengelolaan hutan dan lahan
dalam satuan unit bentang alam untuk kurun
waktu 10 tahun. Rencana Induk Konservasi 10
Bentang alam paling sedikit memuat empat hal,
yaitu sebagai berikut:
1. Pembangunan Konsensus

5.4.1.2 Rencana Konservasi Bentang alam


Rencana Konservasi Bentang Alam merupakan
rencana manajemen (management plan) dalam
rangka penyelenggaraan konservasi bentang
alam pada tingkat satu bentang alam sesuai
dengan kewenangan pemerintah, pemerintah
provinsi, pemerintah kabupaten sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rencana konservasi bentang alam juga
memuat peran dari unsur non-pemerintah,
yakni LSM dan swasta. Rencana Konservasi
Bentang Alam disusun dengan menggunakan
unit analisis satu satuan bentang alam dan unitunit lahan di dalam bentang alam untuk kurun
waktu lima tahun.

Rencana Kegiatan merupakan rencana fisik


yang lebih detail setiap tahun, yang merupakan
penjabaran dari Rencana Teknis Program dan
digunakan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan.

5.4.2 Periode Perencanaan Konservasi


Bentang alam
Berdasarkan visi, misi dan strategi pelaksanaan
konservasi 10 bentang alam, maka ditetapkan
dua periode waktu perencanaan yaitu:
1. Periode Pertama, merupakan periode
penyelenggaraan konservasi bentang alam
yang diproyeksikan untuk memunculkan
keluaran (output) dan hasil (outcome) dari
program besar konservasi bentang alam.
Periode pertama dilaksanankan selama
5 tahun (2016-2020).

Tabel V2. Indikator nilai penting unit lahan di dalam bentang alam

Indikator

Verifier

Standar Nilai

Spesies
Prioritas

2. Periode
Kedua,
merupakan
periode
penyelenggaraan konservasi bentang alam
yang diproyeksikan untuk memunculkan
manfaat (benefit) dan dampak konservasi
(conservation impact) dari program besar
konservasi bentang alam. Periode kedua
dilaksanankan selama 5 tahun (2021-2025).

Jumlah
Spesies
Kharismatik:
harimau
sumatera,
gajah
sumatera,
orangutan
sumatera,
orangutan
kalimantan,
bekantan.

2. Pengembangan Kelembagaan
3. Aksi Proteksi
4. Aksi Restorasi
5. Pengembangan Kapasitas
6. Pemberdayaan Masyarakat
7. Pendidikan Lingkungan dan Konservasi Alam
8. Asistensi
Teknis
dan
Pemantauan
Pengelolaan KPL pada Areal Konsesi Hutan
9. Pemantauan dan
Bentang alam

Evaluasi

Konservasi

Rencana Konservasi Bentang alam disusun


oleh POKJA Konservasi Bentang alam disahkan
oleh Bupati jika berada dalam satu wilayah
kabupaten, oleh Gubernur jika wilayahnya
lintas kakabupaten, dan oleh setiap Gubernur
jika wilayahnya lintas provinsi.

5.5 PRIORITAS BENTANG ALAM


Penilaian
prioritas
diperlukan
untuk
mengarahkan sumberdaya yang biasanya
tidak
sepenuhnya
tersedia.
Penilaian
prioritas dilakukan dengan menggunakan
aspek kepentingan dan kemendesakan.
Melalui penilaian ini akan diperoleh daftar
prioritas lokasi di dalam kawasan penting
bentang alam sekaligus mengarahkan lokasi
di dalam kawasan penting bentang alam yang
paling harus segera ditangani.

Stok
Karbon

Dominasi
Lahan Gambut
(DLG):
LLG
DLG = ----- x
100 %
L
LLG = Luas
Lahan Gambut
LL = Luas
Bentang alam

- Spesies
kharismatik
lebih dari
dua
- Spesies
kharismatik
hanya satu
- Spesies
kharismatik
tidak ada

- DLG > 75%

Skor
4
Tinggi

Sedang

Rendah

Tinggi

- IPL 30% 75%


Sedang
- IPL< 30 %
Rendah

177

178

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Penilaian
tingkat
kepentingan
yang
menggabungkan ketiga indikator tersebut
dilakukan melalui kombinasi matrik secara
bertingkat. Jika indikator spesies prioritas
diletakan pada baris suatu matrik di sebelah kiri,
indikator daerah resapan air pada baris sebelah
kanan, dan indikator gambut diletakkan pada
kolom matrik di tengag dianatara baris paling kiri
dan paling kanan tersebut, maka akan diperoleh
hubungan yang teratur antara ketiganya,
sebagaimana diperlihatkan pada Tabel V-2.

ilegal. Perubahan-perubahan tersebut bervariasi


skalanya yang diikuti dengan perubahan
daya
dukungnya
terhadap
kelestarian
keanakeragaman hayati, kondisi karbon hutan,
dan kondisi resapan air. Variasi tersebut akan
mengarahkan pada pengambilan keputusan
dalam konservasi bentang alam berkaitan
dengan mana lokasi-lokasi yang paling
mendesak untuk diintervensi melalui berbagai
program dalam konservasi bentang alam. Oleh
karenanya perlu dilakukan penilaian tingkat
kemendesakan yang memperlihatkan urutan
lokasi di dalam kawasan penting bentang alam
dari yang paling mendesak untuk ditangani
hingga yang kurang mendesak. Penilaian
tingkat kemendesakan didekati dengan dua
indikator, yaitu Indek Penutupan Lahan (IPL)
dan Kesesuaian Penggunaan Lahan (KLP). Cara
penilaian terhadap kedua indikator tersebut
adalah sebagai berikut:

5.5.2 Penilaian Aspek Kemendesakan


Kondisi lahan pada 10 bentang alam dipastikan
telah mengalami banyak perubahan yang
disebabkan oleh berbagai kegiatan terencana
atau legal maupun yang tidak terencana atau

Tingkat kemendesakan diperoleh melalui


kombinasi kedua indikator tingkat kemendesakan
tersebut. Jika indikator IPL diletakan pada baris
suatu matrik dan indikator KGL diletakkan pada
kolom matrik tersebut, maka akan diperoleh
hubungan yang teratur antara keduanya,
sebagaimana diperlihatkan pada Tabel di bawah.

Tabel V4. Indikator kemendesakan dengan penggunaan indikator


Indeks Penutupan Lahan dan Kesesuaian Penggunaan Lahan

Indikator

Verifier

Standar Nilai

Penutupan Lahan

Indeks Penutupan Lahan (IPL):


LVP
IPL = -------- x 100 %

Tabel V3. Kombinasi setiap indikator dalam penilaian tingkat kepentingan unit lahan

IPL > 75 %

Baik

IPL 30 % - 75 %

Sedang

IPL<30 %

Kurang

KGL > 75 %

Baik

KGL 40 % - 75 %

Sedang

KGL <40%

Kurang

- LPV = Luas lahan berpenutupan pohon


- L = Luas Bentang alam

Species Prioritas

Daerah Resapan
Sedang

Stok Karbon

Rendah

Skor

Kesesuaian
Penggunaan Lahan

Tinggi

Kesesuaian Penggunaan Lahan (KGL):


LPS
KGL = ------ x 100 %
L

Rendah

RRR

RSR

RTR

Kurang Penting

Penting

Penting

- LPS = Luas Penggunaan Lahan yang sesuai


dengan peruntukkannya
- L = Luas Bentang alam

Rendah

Tabel V-5. Komibinasi antarindikator dalam penilaian tingkat kemendesakan

Sedang

SRS

SSS

STS

Penting

Penting

Sangat Penting

Kesesuaian Penggunaan Lahan


Sedang

Indek Penutupan Lahan


Baik

Sedang

Kurang

BB
Kurang Mendesak

BS
Mendesak

BK
Sangat Mendesak

Sedang

SB
Mendesak

SS
Mendesak

SK
Sangat Mendesak

Kurang

KB
Sangat Mendesak

KS
Sangat Mendesak

KK
Sangat Mendesak

Baik

Tinggi

TRT

TST

TTT

Sangat Penting

Sangat Penting

Sangat Penting

Tinggi

179

180

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

5.5.3 Penilaian Akhir Prioritas Bentang alam


Penilaian akhir prioritas bentang alam merupakan
hasil kombinasi antara tingkat kepentingan dan
tingkat kemendesakan. Kombinasi ini akan
mengelompokan 10 setiap unit lahan atau lokasi
di dalam kawasan penting bentang alam dalam
empat kuadran prioritas seperti ditunjukan
pada tabel di bawah ini.

Tabel V6. Penentuan prioritas program berdasarkan kepentingan dan kemendesakan

5.6 SKEMA PENDANAAN


KONSERVASI BENTANG ALAM
5.6.1 Sumber Pendanaan
Faktor pembiayaan hingga saat ini masih
dianggap sebagai salah satu kendala bagi
penyelenggaraan konservasi sumberdaya alam
hayati. Pada inisiatif konservasi bentang alam ini
telah teridentifikasi berbagai potensi pembiayaan
bagi konservasi yang inovatif. Beberapa di
antaranya adalah investasi langsung pemerintah
dalam bentuk dana publik (direct government
investment); investasi sukarela swasta (voluntary
private investment); investasi swasta berregulasi
(regulated private investment); dan investasi
swasta berbasis pasar (market based private
investment). Penjelasan singkat untuk setiap
potensi pembiayaan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Investasi langsung pemerintah dalam bentuk
dana publik, di antaranya adalah APBN
dan APBD melalui instansi-instansi pada
unit-unit kerja pemerintah yang menangani
sektor berbasis lahan dan pemberdayaan
masyarakat. Investasi lansung pemerintah
jugaa dapat berasal dari pemerintah luar
negeri dalam berbagai bentuk dana hibah
luar negeri.
2. Investasi sukarela swasta, yaitu danadana corporate social and environmental
responsibility.
3. Investasi swasta berregulasi, misalnya
adalah dana-dana untuk penyusunan
analisis megenai dampak lingkungan,
upaya pengelolaan lingkungan, dan upaya
pemantauan lingkungan, dana reboisasi,
dana provisi sumberdaya hutan, dan lain-lain.

Gambar V-3. Pengelompokkan prioritas bentang alam sesuai kepentingan dan kemendesakan

4. Investasi swasta berbasis pasar, misalnya


adalah
persyaratan-persyaratan
yang
diterapkan pasar atau customer produk
dari hutan terhadap pemasoknya agar
menerapkan pengelolaan hutan produksi
yang lestari.
5. Fasilitas pendanaan lingkungan yang
dibangun oleh lembaga-lembaga multilateral,
seperti badan-badan dunia di bawah
Perserikatan Bangsa-Bangsa, World Bank,
dan Asian Development Bank.
Sumber pendanaan yang perlu digali dan diyakini
oleh beberapa pakar sebagai sustainable
financing mechanism untuk konservasi adalah

penerapan sistem transaksi, insentif, dan


kompensasi terhadap penyediaan jasa-jasa
lingkungan dari ekosistem. Secara konvensional,
terdapat pula sejumlah lembaga-lembaga
donor yang secara rutin memberikan dana
hibah kepada LSM dan kelompok masyarakat.
Beberapa contoh sumber-sumber pendanaan
ditampilkan di dalam Lampiran 10.

Skema Pembiayaan
Beberapa skema pembiayaan yang dapat
dikembangkan untuk mendukung upaya
proteksi dan restorasi pada 10 bentang alam ini
antara lain:
1. Skema Anggaran Pemerintah
Pelaksanaan program proteksi dan restorasi
pada 10 bentang alam baik seluruhnya
atau beberapa bagiannya harus dapat
direncanakan dalam anggaran rutin setiap
instansi pemerintah baik pusat dan daerah
sesuai dengan kewenangan, tugas dan
fungsinya masing-masing dari sumber
Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara
(APBN) dan Anggaran Penerimaan dan
Belanja Daerah (APBN). Anggaran dan
kegiatan program proteksi dan restorasi pada
setiap instansi pemerintah harus bersifat
multiyear dengan merujuk pada tahapan
pada Rencana Induk dan rencana konservasi
bentang alam.
2. Skema Kerjasama
Berbagai bentuk kerjasama dapat dibangun
dalam penyelenggaraan konservasi bentang
alam yang secara langsung ditujukan untuk
merealisasikan kegiatan-kegiatan yang telah
dirancang. Beberapa bentuk kerjasama
yang berpeluang untuk dibangun dalam
penyelenggaraan
program
konservasi
bentang alam adalah sebagai berikut:
a. Kerjasama
Kontribusi
(Contributory
Partnership), yaitu kerjasama dalam
bentuk pemberian dukungan fasilitas
(dana, peralatan, dll) untuk berjalannya
kegiatan-kegiatan konservasi bentang
alam yang diusulkan oleh lembaga
multipihak untuk konservasi bentang alam
dan disepakati oleh kontributor. Kontribusi
bisa terhadap seluruh kegiatan atau
terhadap salah satu atau beberapa bagian
kegiatan yang disepakati oleh kontributor.

181

182

BAB LIMA

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Dalam kerjasama ini kontrol pengelolaan


program sepenuhnya dipegang oleh
lembaga multipihak konservasi bentang
alam. Salah satu sumber pendanaan yang
sesuai dengan skema kerjasama kontribusi
Corporate Social Responsibilty (CSR) dari
berbagai perusahaan.
b. Kerjasama
Konsultasi
(Consultative
Partnership), yaitu kerjasama dalam
bentuk pemberian nasihat atau dukungan
teknis (technical assistance) terhadap
salah satu atau beberapa kegiatan
dalam program konservasi bentang
alam. Kerjasama ini biasanya dilakukan
dengan lembaga-lembaga penelitian atau
pendidikan atau kepakaran seperti LIPI,
perguruan tinggi, dan lain-lain. Dalam
kerjasama ini kontrol pengelolaan program
sepenuhnya dipegang oleh lembaga
multipihak konservasi bentang alam.
c. Kerjasama
Operasional
(Operational
Partnership), yaitu kerjasama berbagi
peran dalam program yang secara utuh
disepakati bersama. Pembagian peran
dalam kerjasama operasional biasanya
dalam bentuk pembagian tanggung
jawab pelaksanaan kegiatan. Dalam
kerjasama ini keputusan akhir dalam
pengelolaan program dipegang oleh
lembaga multipihak konservasi bentang
alam, namun pihak yang terlibat dalam
kerjasama memiliki hak untuk memberikan
masukan-masukan.
d. Kerjasama
Kolaborasi
(Collaborative
Partnership), yaitu kerjasama berbagi
sumberdaya dan kewenangan (resource
and authority sharing) dalam pengelolaan
suatu program atau kegiatan secara utuh.
Dalam kerjasama ini keputusan dibicarakan
dan ditetapkan bersama.
3. Skema Dana Perwalian
Dana
perwalian
(trust
fund)
dapat
didefinisikan sebagai sejumlah aset financial
yang berupa properti, uang, sekuritas (trust)
yang oleh orang atau lembaga (trustor/
donor/grantor) dititipkan atau diserahkan
untuk dikelola dengan baik oleh sebuah
lembaga (trustee) dan disalurkan atau
dimanfaatkan untuk kepentingan penerima
manfaat (beneficiaries) sesuai dengan
maksud dan tujuan yang dimandatkan.
Dana perwalian merupakan mekanisme
pembiayaan program yang membutuhkan
biaya relatif besar secara berkelanjutan

dalam jangka menengah/panjang, yang salah


satunya adalah untuk tujuan pelestarian
sumberdaya alam dan penanggulangan
masalah sosial.
Proteksi dan restorasi pada 10 bentang alam
membutuhkan dana yang sangat besar,
mengingat cakupan wilayah intervensinya
yang cukup luas. Skema dana perwalian sangat
memungkinkan untuk mendukung program
proteksi dan restorasi pada 10 bentang alam
karena format penganggaran yang lebih
fleksibel sesuai kebutuhan, berbeda dengan
skema APBN yang tergantung dengan tahun
anggaran. Mekanisme pendanaan melalui
dana perwalian memiliki beberapa kelebihan
di antaranya:
a. Mendukung pendanaan dalam kerangka
spefisik tertentu,
b. Memperkuat koordinasi dan keberlanjutan
kegiatan yang sama,
c. Mendukung pendanaan program dan
kegiatan baik publik maupun swasta,
d. Mempercepat pembiayaan program dan
kegiatan dengan memangkas prosedur
birokrasi,
e. Bersifat transparan dan akuntabel.
Dasar hukum dana perwalian di Indonesia
di antaranya adalah UU No.17/2003 tentang
Keuangan Negara, Pasal 26 dan Pasal 38
UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan,
UU No.25/2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN), pasal
42 dan pasal 47 PP No.10/2011 tentang
Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri
dan Penerimaan Hibah.
Dana perwalian dapat berupa: (i) dana abadi,
yaitu dana yang diserahkan untuk dikelola
secara abadi tanpa ada batasan waktu;
(ii) dana bergulir, yaitu dana yang diserahkan
untuk dikelola secara bergulir karena
umumnya berupa pinjaman, modal usaha, atau
dana awal (initial cost), dana bergulir karena
mendapatkan pendapatan dari pengembalian
pinjaman atau penjualan jasa/produk;
(iii) dana menurun, yaitu dana yang diserahkan
untuk dikelola untuk mengelola program
sesuai anggaran yang telah disepakati karena
dana tersebut diharapkan dapat terserap
habis; dan (iv) dana gabungan, yaitu gabungan
ketiga bentuk dana perwalian berupa dana
abadi, dana bergulir, dan dana menurun.

Contoh-contoh dana perwalian yang ada saat


ini di antaranya (i) Tropical Forest Conservation
Act (TFCA), Indonesia Biodiversity Foundation
Project adalah contoh dana perwalian tunggal
(single trust fund); (ii) Multistakeholder Forestry
Programme (MFP), Water and Sanitation
Programme (WASAP) (contoh dana perwalian
sektor khusus (sector-specific trust fund)
(iii) MDTF Aceh-Nias, Java Reconstruction
Fund, PNPM Support Facility adalah contoh
dana perwalian multidonor (multidonor trust
fund (Sumber: Hernowo, Bappenas-2011 dan
sumber-sumber lain).
4. Perkiraan Kebutuhan Biaya
Perkiraan besaran anggaran yang dibutuhkan
untuk melaksanakan kegiatan konservasi
bentang alam pada Rencana Induk ini
didekati dengan analisis komparasi, yaitu
mengumpulkan informasi pendanaan optimal
untuk program dan atau kegiatan yang
serupa. Beberapa informasi yang dijadikan
rujukan adalah sebagai berikut:
a. Besaran set up cost program konservasi
bentang alam di setiap bentang alam
pada Rencana Induk ini merupakan biaya
untuk pemenuhan kondisi pemungkin
berupa program pembangunan konsensus
dan
pembangunan/pengembangan
kelembagaan.
Tidak
ada
standar
untuk komponen biaya ini sehingga
hanya bisa didekati dengan penetapan
alokasi anggaran. Pada Rencana Induk
ini biaya yang dianggarkan untuk
program pembangunan konsensus dan
kelembagaan adalah Rp. 1 Milyar untuk
setiap bentang alam, sehingga total untuk
10 bentang alam sebesar Rp. 10 Milyar.
b. Studi pendanaan kawasan konservasi di
Indonesia yang dilaksanakan oleh TNC
pada tahun 2006. Informasi yang diambil
dari hasil studi ini adalah pendanaan
optimal untuk setiap jenis kawasan
konservasi di Indonesia, salah satunya
adalah cagar alam yaitu sebesar US$ 8,95
per ha. Seperti diketahui bahwa cagar
alam adalah kawasan konservasi yang
kegiatan pengelolaannya didominasi atau
bahkan seluruhnya seluruhnya berupa
perlindungan. Dengan demikian perkiraan
kasar untuk besaran anggaran program
aksi proteksi seluas 2 juta ha pada
Rencana Induk ini dapat didekati dengan
biaya optimal untuk pengelolaan cagar
alam, yaitu sebesar Rp. 232.7 milyar.

c. Standar biaya pelaksanaan reboisasi


dan rehabilitasi lahan yang ditetapkan
oleh pemerintah. Biaya pelaksanaan
reboisasi selama 3 tahun rata-rata sebesar
Rp. 7 juta mulai dari perencanaan,
pelaksanaan kegiatan rebosisasi, hingga
pemantauan dan evaluasi. Sedangkan
hasil kajian JICA melalui berbagai
demplot yang telah dikembangkan
menghasilkan
perkiraan
anggaran
untuk pelaksanaan restorasi mulai dari
persiapan, perencanaan, pelaksanaan,
dan pemeliharaan, dan evaluasi berkisar
antara Rp. 12.154.000-Rp. 22.698.000,tergantung dari kondisi areal dan
perlakuan restorasinya (suksesi alam,
penunjang suksesi alam, pengkayaan,
atau penananaman). Merujuk pada
kisaran angka tersebut maka pelaksanaan
restorasi pada wilayah kerja program aksi
restorasi seluas 320.900 hektar pada
Rencana Induk ini akan membutuhkan
anggaran sebesar Rp. 3,9 7,9 trilyun.
d. Besaran biaya untuk pemberdayaan
masyarakat dalam skema perhutanan
sosial
merujuk
pada
pengalaman
Kemiteraan dalam pendampingan HKm di
Lampung, NTB dan Yogyakarta tahun 2007
dan 2008. Hasil perhitungan Kemiteraan
memperlihatkan biaya yang dibutuhkan
untuk pengembangan program, sejak
inisiasi, fasilitasi penguatan kapasitas,
pemetaan, penyusunan rencana/usulan,
dan sampai tersusunnya usulan oleh
pemerintah Daerah kepada Kementerian
Kehutanan, rata-rata sebesar Rp. 500.000/
hektar. Dengan demikian biaya untuk
pemberdayaan masyarakat dalam skema
perhutanan sosial dengan arahan lokasi
seluas 883,6 ribu hektar (hutan produksi
seluas 597,5 ribu hektar dan hutan lindung
seluas 286,1 ribu hektar adalah sebesar
Rp 441,8 miliar.

183

184

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

BAB ENAM
Sungai yang mengalir dari sebuah tasik di sebuah kawasan hutan
gambut di Bentang Alam Semenanjung Kampar, Riau,
November 2011. (Foto: Rolf M. Jensen)

185

186

BAB ENAM

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

PEMANTAUAN DAN EVALUASI


KONSERVASI BENTANG ALAM
Dalam siklus pelaksanaan suatu program atau proyek, kegiatan pemantauan
(monitoring) dan evaluasi menjadi rangkaian kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu
dengan lainnya. Kegiatan pemantauan dan evaluasi ini menjadi mutlak dilaksanakan
oleh pihak penyelenggara atau pengelola untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau
kinerja dari suatu program.

Elang bondol (Haliastur indus) di langit sebuah kawasan pesisir Sumatera, November 2007. (Foto: Dok. APP)

6.1 Kerangka Kerja Pemantauan dan


Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi merupakan bagian
dari sistem pengendalian pembangunan,
termasuk juga dalam program konservasi
bentang alam. Menurut definisi, pengendalian
adalah serangkaian kegiatan manajemen
yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu
program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai
dengan rencana yang ditetapkan. Sedangkan
pengertian pemantauan adalah kegiatan
mengamati
perkembangan
pelaksanaan
rencana pembangunan, mengidentifikasi serta
mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/
atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan
sedini mungkin. Evaluasi adalah sebagai
rangkaian kegiatan membandingkan realisasi
masukan (input), keluaran (output), dan hasil
(outcome) terhadap rencana dan standar.

Pemantauan dan evaluasi merupakan suatu


rangkaian proses pengelolaan untuk menilai
apakah pelaksanaan setiap program atau
kegiatan sudah mengarah pada pencapaian
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Tujuantujuan tersebut merupakan sumber dari standar
sehingga semua data dan informasi yang
diperoleh harus diperbandingkan terhadapnya.
Dengan demikian selain penilaian itu sendiri
maka perumusan standar merupakan proses
kunci yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Terdapat beberapa kerangka yang dapat


digunakan untuk merumuskan standar, salah
satu yang biasa dipakai adalah model logical
framework atau disebut juga sebagai kerangka
input-proses-output-outcome-benefit-impact.
Program Konservasi Bentang alam harus
merupakan kegiatan yang sistemik dimana
input, output, outcome, benefit, dan impact
program yang saling terkait dan mempengaruhi
sehingga masing-masing dapat diidentifikasi dan
dapat diukur. Dengan demikian pemantauanevaluasi program konservasi bentang alam
menjadi sangat penting keberadaannya untuk
memastikan program berjalan sesuai rencana
dan standar yang ditentukan. Pengertian inputproses-output-outcome-impact-benefit
pada
konservasi bentang alam ini adalah sebagai
berikut:
1. Input dalam program konservasi bentang
alam adalah hal-hal yang dibutuhkan untuk
menggerakkan setiap kegiatan dalam
program konservasi bentang alam. Dalam
program konservasi bentang alam, inputinput tersebut adalah:
a. Wilayah kerja konservasi bentang alam
b. Rencana konservasi bentang alam
c. POKJA konservasi bentang alam

sehingga
penyediaan
input-input
ini
menjadi bagian dari proses kegiatan dalam
penyelenggaraan konservasi bentang alam.
2. Output adalah keluaran langsung dari setiap
kegiatan dalam program konservasi bentang
alam yang merupakan hasil langsung dari
input. Dalam program konservasi bentang
alam ini output-output tersebut adalah:
a. Dokumen kesepakatan
b. Dokumen perencanaan
c. Lembaga multipihak yang
dengan gugus tugas program

dilengkapi

d. Organisasi berbasis masyarakat


e. SDM terlatih dari staff instansi pemerintah
terkait dan anggota masyarakat.
f. Anggaran yang jelas dan memadai.
3. Outcome
adalah
suatu
hasil
yang
mengindikasikan output kegiatan dalam
program konservasi bentang alam telah
berfungsi. Dalam program konservasi bentang
alam ini outcome tersebut adalah:
a. Ekosistem asli seluas 2 juta hektar pada
10 bentang alam terlindungi
b. Ekosistem rusak seluas 320,9 ribu hektar
pada 10 bentang alam terpulihkan

e. Anggaran

c. Peningkatan peran serta masyarakat


dalam kegiatan proteksi dan restorasi.

Input-input ini harus terlebih dahulu ada


sebelum
kegiatan
utama
konservasi
bentang alam berjalan atau sebagai enabler,

d. Perubahan status HPK menjadi HP, HPT,


HL, KSA/KPA seluas 78 ribu hektar di 9
bentang alam.

d. Sumberdaya manusia POKJA

e. Kawasan hutan yang sebelumnya tidak ada


pengelolanya menjadi ada pengelolanya
seluas 2,3 juta hektar pada 10 bentang
alam melalui skema IUPHKM, IUPHTR,
HPHD, dan IUPHHK-RE
f. Konflik manusia-satwa menurun,
g. Kawasan penting bentang alam di dalam
areal konsesi HT dan HA seluas 2,4 juta
terpantau pengelolaannya.
h. Munculnyanya kader-kader
dan konservasi masyarakat

lingkungan

4. Benefit adalah manfaat langsung dari


keberadaan hasil-hasil yang telah tercapai
dalam program konservasi bentang alam.
Dalam program konservasi bentang alam ini
benefit tersebut adalah sebagai berikut:
a. Manfaat biofisik (peningkatan indeks
penutupan lahan dan peningkatan
kesesuaian penggunaan lahan)
b. Manfaat sosial-ekonomi (peningkatan
pendapatan, penurunan tekanan sosial
terhadap ekosistem alam)
c. Manfaat kelembagaan (peningkatan peran
serta masyarakat dalam kegiatan proteksi
dan restorasi, unit pengelolaan hutan
berbasis masyarakat, dan kelembagaan
pengelolaan hutan di tingkat tapak)
5. Impact kegiatan dalam program konservasi
bentang alam adalah indikator-indikator pada
off-site/di luar atau di sekitar lokasi kegiatan
program konservasi bentang alam yang

187

188

BAB ENAM

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

menunjukkan adanya dampak/pengaruh dari


kegiatan program konservasi bentang alam,
yaitu sebagai berikut:
a. Populasi spesies flagship meningkat
b. Penurunan emisi karbon dari deforestasi
dan degradasi hutan serta peningkatan
cadangan karbon
c. Perbaikan kondisi daerah resapan air
Secara sistemik, hubungan kausalitas antara
input-proses-output-outcome-impact-benefit
dalam program konservasi bentang alam ini
ditunjukkan pada Gambar VI-1.

Konsep pemantauan/monitoring dan evaluasi


(monev) konservasi bentang alam harus
dikembangkan
secara
terpadu
dengan
menggunakan alat bantu berupa sistem aplikasi
agar mudah dilaksanakan serta produktif dalam
menghasilkan umpan balik untuk perbaikan
program dan kegiatan konservasi bentang
alam pada tahap selanjutnya. Hasil monev
juga menjadi sarana komunikasi kepada
publik dalam konteks klaim kinerja program
konservasi bentang alam. Gambaran mengenai
sistem monev konservasi bentang alam yang
komprehensif dan terpadu ditunjukan pada
Gambar VI-2.

Gambar VI-1. Hubungan kausalitas Input-Output-Outcome-Benefit-Impact konservasi bentang alam

Gambar VI-2. Bagan sistem pemantauan dan evaluasi terpadu

189

190

BAB ENAM

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Gambar VI-3. Ilustrasi kinerja program konservasi bentang alam

6.2 Penilaian Kinerja Konservasi Bentang


Alam
Kinerja program konservasi bentang alam
pada akhirnya akan diukur dari sejauh mana
dampak-dampak positif yang diharapkan dapat
tercapai. Penilaian kinerja dilakukan melalui
pengumpulan data dan informasi dari seluruh
aspek pelaksanaan kegiatan konservasi
bentang alam. Dari data dan informasi tersebut,
selanjutnya dilakukan analisis sehingga
diperoleh hasil penilaian yang sesuai dengan
kondisi riil di lapangan. Data hasil penilaian
tersebut diperbandingkan dengan kondisi
dasar (baseline) yang telah disusun sebelum
atau pada saat program konservasi bentang
alam akan dimulai.
Sesuai dengan kepentingan konservasi bentang
alam yang telah dibahas sebelumnya, maka
peningkatan atau additionality dari program
konservasi bentang alam ini pada akhirnya
adalah untuk meningkatkan viabilitas populasi

spesies flagship, penurunan emisi karbon akibat


kegiatan deforestasi dan degradasi hutan,
peningkatan stok karbon hutan dari upaya
restorasi, dan perbaikan daerah tangkapan air.
Dampak-dampak yang diharapkan tersebut
diyakini dapat terwujud jika terjadi perbaikan
struktur dan fungsi ekosistem pada kawasankawasan penting bentang alam yang telah
terlanjur rusak dan pemeliharaan struktur
dan fungsi ekosistem pada kawasan penting
bentang alam yang masih dalam kondisi baik.
Dengan demikian, kinerja akhir dari program
konservasi bentang alam dapat diilustrasikan di
gambar VI-3.

Atas: Macan dahan (Neofelis nebulosa) salah satu satwa karnivora yang biasa mencari makan diatas pepohonan hutan primer di Sumatera
dan Kalimantan, Mei 2004. (Foto: Dolly Priatna)

Agar tidak terjebak pada orientasi hasil tanpa


memperhatikan
kualitasnya
berdasarkan
proses-proses yang harus dilalui, maka
diperlukan penilaian paling tidak terhadap hasil
dan manfaat dari program konservasi bentang
alam. Penilaian terhadap hasil dan manfaat
menjamin hasil akhir berupa dampak positif
yang muncul memiliki kualitas yang diharapkan.

Bawah: Kucing emas (Catopuma temminckii), salah satu jenis kucing liar yang jarang menampakkan diri dan hanya dapat terdapat di hutanhutan primer yang tidak terganggu di Sumatera dan sebagaian daratan Asia Tenggara. Foto diabadikan melalui kamera intai di pedalaman
hutan Sumatera Mei 2013. (Foto: Dolly Priatna)

191

192

REFERENSI

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

REFERENSI

Direkorat PJLWA. 2008. Pedoman Monitoring dan


Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar
Kawasan Konservasi. Direktorat Jenderal
PHKA. Jakarta.
Ditjen PHKA. 2014. Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah Ditjen PHKA 2013. Ditjen
PHKA-Kementerian Kehutanan, Jakarta.
Dubois, O. 1998. Capacity to manage role changes
in forestry. Introducing the 4Rs framework.
Forest Participation Series No. 11. International
Institute for Environment and Development
(IIED), London, UK.
Elliott, S., Anusarnsunthorn, V., Garwood, N. & D.
Blakesley. 1995. Research needs for restoring
the forests of Thailand. Natural History Bulletin
of the Siam Society. Thailand

Abdulhadi, R., E.E. Widjaja, Y. Rahayuningsih, R.


Ubaidillah, I. Maryanto & J.S. Rahajoe (eds.).
2014. Kekinian keanekaragaman hayati
Indonesia.
LIPI-Bapenas-Kementerian
Lingkungan Hidup, Jakarta.

BBSDLP. 2011. Peta Lahan Gambut Indonesia Skala


1:250.000 Peta Lahan gambut Indonesia
skala 1:250.000. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian,
Bogor.

Agnes Indra, M. 2012. Strategi Konservasi Gajah


Sumatera (Elephas maximus sumatranus
Temminck) di Suaka Margasatwa Padang
Sugihan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan
Daya Dukung Habitat. Program Magister Ilmu
Lingkungan, Universitas Diponegoro.

Bappenas. 2003. Strategi dan rencana aksi


keanekaragaman hayati Indonesia 2003-2020
(Indonesia Biodiversity Strategy and Action
Plan 2003-2020): IBSAP Dokumen Nasional.
Bappenas, Jakarta.

Agung, R.S. 2010. Penentuan Tingkat Referensi


Emisis. Materi Presentasi Pada 2nd Technical
Roundtable on MRV In Search in setting up
appropriate REL for Indonesia. Ditjen Planologi.
Jakarta.
Alston, M. & W. Bowles. 2003. Research for Social
Workers : An introduction and methods. 2nd
Edition. Allen & Unwin. Australia.
Alison, J.S., M.J. Crosby, A.J. Long & D.C. Wege. 1998.
Endemic Areas of the World: Priorities for
Biodiversity Conservation. Birdlife International,
Cambridge, UK.
Andel J.V. and Aronson.J. 2006. Restoration Ecology.
Blackwell Science Ltd, a Blackwell Publishing
company.
Andries, J. M., M. A. Janssen, & E. Ostrom. 2004.
A framework to analyze the robustness of
social-ecological systems from an institutional
perspective. Ecology and Society 9 (1): 18.
Astuti, J., M. Nurdin & A. Munir. 2008. Valuasi ekonomi
sumberdaya alam dan lingkungan pesisir Kota
Bontang Kalimantan Timur. Analisis, Maret
2008, Vol 5 No. 1 :53-64.

Bradshaw, A.D. 1987. Restoration: an acid test


for ecology. Cambridge University Press.
Cambridge.
Bryson, J.M. 2004. What to do when stakeholders
matters : stakeholder identification and analysis
techniques. Public Management Review. Vol. 6
(1): 21-53.
Burel, F. & J. Baudry. 2004. Landscape ecology:
Concept, methods, and applications. Science
Publishers, Inc., New Hampshire.
Chan, K.M.A., T. Satterfield & J. Goldstein. 2012.
Rethinking ecosystem services to better
address and navigate cultural values. Ecological
Economic. Vol. 74. 2012. Hal. 8-18.
Danielsen, F. & M.Heegaard. 2011. The birds of Bukit
Tigapuluh, southern Riau, Sumatra. Kukila (7):
99120.
Direktorat KKBHL. 2014. Indonesian Biosphere
Reserve: To linkage biological and cultural
diversity for sustainable development. Dit.
KKBHL, Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Jakarta.

Fithra, R.Y. & Y.I. Siregar. 2010. Keanekaragaman


ikan Sungai Kampar: Inventarisasi dari Sungai
Kampar Kanan. Journal of environmental
Science, 2, 139147.
Forest Restoration Research Unit. 2006. How to plant
a forest: The principles and practice of restoring
tropical forests. Biology Department, Science
Faculty, Chiang Mai University, Thailand.
Forman, R.T.T & M. Godron. 1986. Landscape Ecology.
John Wiley & Sons, New York.
Fujita, M.S., Irham, M., Fitriana, Y.S., Samejima, H.,
Wijamukti, S., Haryadi, D.S. & A.Muhammad.
2012. Mammals and Birds in Bukit Batu Area of
Giam Siak Kecil-Bukit Batu Biosphere Reserve,
Riau, Indonesia. Kyoto Working Papers on Area
Studies: G-COE Series, 126, 170.
FWI. 2014. Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode
2009-2013. Forest Watch Indonesia, Bogor.
Gaveau, D. L. A., M.A.Salim, K. Hergoualch, B. Locatelli,
S.Sloan, M. Wooster, M.E. Marlier, E. Molidena,
H. Yaen, R. DeFries, L. Verchot, D. Murdiyarso,
R. Nasi, P.Holmgren, & D. Sheil. 2014. Major
atmospheric emissions from peat fires in
Southeast Asia during non-drought years:
evidence from the 2013 Sumatran fires. Sci.
Rep.4: 6112
Giesen W. 1991. Berbak Wildlife Reserve, Jambi,
Sumatra. Final Draft Survey Report. PHPA/AWB
Sumatra Wetland Project Report.
Global Tiger Initiative Secretariat. 2012. Managing
tiger conservation landscapes and habitat
connectivity: Threats and possible solutions.
The World Bank, Washington, D.C.
Hooijer, A., Silvius, M., Wsten, H. & Page, S. 2006.
PEAT-CO2, Assessment of CO2 emissions from
drained peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics
report Q3943

Holopainen, J.M., L. Hayrinen & A. Toppinen. 2014.


Consumer value dimensions for sustainable
wood products: results from the Finnish
retail sector. Scandinavian Journal of Forest
Research, 29 (4): 378-385.
IFCA. 2007. Reducing Emission from Deforestation
and Forest Degradation in Indonesia. REDD
Methodology and Strategies, Summary for
Policy Makers. Departemen Kehutanan-IFCA.
Jakarta.
Indrarto, B.G. 2015. Aspek legalitas dari perlindungan
dan pengelolaan gambut di Indonesia.
Indonesia Peatlanad Network. CIFOR, Bogor
(www.cifor.org/ipn-toolbox).
IUCN. 2012. Guidelines for Application of IUCN Red List
Criteria at Regional and National Levels: Version
4.0. Gland, Switzerland and Cambridge, UK.
IUCN. 2014. TheIUCN Red List of Threatened Species
version 2014.3. http://www.iucnredlist.org.
Diakses April 2015.
IPCC. 2006. 2006 IPCC Guidelines for National
Greenhouse Gas Inventories, prepared by
the National Greenhouse Gas Inventories
Programme, Eggleston H.S., Buendia L., Miwa
K., Ngara T. and Tanabe K. (eds). Published:
IGES, Japan.
Isaac, N.J.B., S.T.Turvey., B.Collen, C.Waterman &
J.F.M. Baillie. 2007. Mammals on the EDGE:
Conservation Priorities Based on Threat and
Phylogeny. PLoS ONE 2 (3): 296.
Jaringan NKT Indonesia. 2013. Panduan Pengelolaan
dan Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi.
IFACS-USAID. Jakarta.
Kemenhut & KKP. 2013. Analisis Kesenjangan
Keterwakilan Ekologis Kawasan Konservasi
di Indonesia. Kementerian Kehutanan &
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Kurtz, D. L. 2008. Principle of Contemporary Marketing.
South-Western
Educational
Publishing,
Stamford.
Liu, J. & W.W. Taylor. 2002. Integrating landscape
Ecology Into Natural Resource Management.
Cambridge University Press, UK.
Machfudh. 2012. Istilah-istilah dalam REDD+ dan
Perubahan Iklim. Kemenhut RI, UN-REDD, FAO,
UNDP, UNEP. Jakarta.
Maddox, T., Priatna, D., Smith, J., Gemita, E. & A.
Salampessy. 2007. Rapid survey for tigers and
other large mammals SM Bentayan and SM
Dangku, South Sumatra. Zoological Society of
London.

193

194

REFERENSI

Maring, P., Afrizal, J.Suhendri, Rosyani, R.Rafiq, A.Fitri,


M. Jawawi, A.Sadat, M.Silalahi, M. Darwis,
Yenrizal, B.Dewangga, H.Jatmiko, Muhaimin,
A.P.Bayu & S. Marelo. 2011. Studi pemahaman
dan praktik alternatif penyelesaian sengketa
oleh melembagaan Mediasi konflik sumber
daya alam di Propinsi Riau, Jambi, Sumatera
Barat, dan Sumatera Selatan (Laporan
penelitian). Scale Up-Ford Foundation.
Margoluis, R. & N. Salafsky. 1998. Measures of
Success: Designing, Managing, and Monitoring
Conservation and Development Projects. Island
Press, Washington, DC.
Margoluis, R. , Stem, C., Salafsky, N., & M. Brown. 2009.
Using conceptual models as a planning and
evaluation tool in conservation. Evaluation and
Program Planning 32 (2009) 138147.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Odum,

E.P. 1969. The Strategy of Ecosystem


Development. Science, Vol. 64 (3877): 262-270.

Olson, D.M. & E. Dinerstein. 2002. The Global 200:


Priority ecoregions for global conservation.
Ann.Missouri Bot.Gard. 89 (89): 199-224.
Orford, J. 1992. Community psychology, Theory and
practice. John Willey& Sons Ltd, West Sussex.
Panitia Nasional MAB Indonesia. 2004. Pedoman
Pengelolaan Cagar Biosfer di Indonesia. LIPI,
Jakarta.
Paoli, G. D., P. L. Wells & E. Meijaard. 2010. Biodiversity
conservation in the REDD. Carbon balance and
management 5: 7-11.
Perrow, M.R. & A.J. Davy. 2002. Handbook of Ecological
Restoration. Vol. 1. Principles of restoration.
Cambridge University Press, Cambridge, UK.

Masripatin N, K. Ginoga, A. Wibowo, W.S. Dharmawan,


C.A. Siregar, M. Lugina, Indartik, W. Wulandari,
N. Sakuntaladewi, R. Maryani, G. Pari, D.
Apriyanto, B. Subekti, D. Puspasari, & A.S.
Utomo. 2010. Pedoman Pengukuran Karbon
untuk mendukung Penerapan REDD+ di
Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perubahan Iklim dan Kebijakan. Kampus
Balitbang Kehutanan, Bogor.

Peter, H. 2014. Fire and haze in Riau: Looking


beyond the hotspots. CIFOR. <http://blog.
cifor.org/18944/fire-and-haze-in-riau-lookingbeyond-the-hotspots#> retrieved on 15 April
2015

Millennium Ecosystem Assessment. 2005. Ecosystems


and Human Well-being: Synthesis. Island Press,
Washington, DC.

Purwanto, Y., B. Prasetya & C. Ningrum (eds.). 2013.


Pengelolaan Terpadu dan Berkelanjutan Cagar
Biosfer Tanjung Puting. ICIAR-LIPI, Bogor.

Mittermeier, R.A., P.R. Gil & C.G. Mittermeier. (eds.). 1997.


Megadiversity: Earths Biologically Wealthiest
Nations. CEMEX, Monterrey, Mexico.

Qodrina, L., R.Hamidy & Zulkarnaini. Valuasi Ekonomi


Ekowistem Mangrove di Desa Teluk Pambang
Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis
Provinsi Riau. Jurnal Ilmu Lingkungan. Program
Studi Ilmu Lingkungan PPS Universitas Riau.

Mittermeier, R.A., N. Myers, P.R. Gil & C.G. Mittermeier


(eds.). 1999. Hotspots: Earths Biological Richest
and Most Endangered Terrestrial Ecoregions.
Cemex, Monterrey, Mexico.
Mukhamadun, T.Efrizal & S.Tarumun. 2008. Valuasi
Ekonomi Hutan Ulayat Buluhcina Desa
Buluhcina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten
Kampar. Jurnal Ilmu Lingkungan. Program Studi
Ilmu Lingkungan PPS, Universias Riau.
Myers, N., R.A. Mittermeier, C.G. Mittermeier, G.A.B. da
Fonseca & J. Kent. 2000. Biodiversity Hotspots
for Conservation Priorities. Nature. Vol. 403,
853-858.
Nash, S.V. & A.D. Nash. (undated). A checklist of the
forest and forest edge birds of the PadangSugihan Wildlife Reserve, South Sumatra.
Kukila (2): 5159.
Newton, A.C. & N. Tejedor (Eds.). 2011. Principles and
Practice of Forest Landscape Restoration: Case
studies from the drylands of Latin America.
IUCN, Gland, Switzerland.

Phillips, A. 2002. Management Guidelines for IUCN


Category V Protected Areas: Protected
Landscapes/
Seascapes.
IUCN
Gland,
Switzerland and Cambridge, UK.

Rijanta, R. & M. Baiquni. 2003. Otonomi Daerah,


Transisi Masyarakat dan Konflik Pengelolaan
Sumber daya (pemahaman teoritis dan
pemaknaan empiris).
Prosiding Lokakarya
Nasional Menuju Pengelolaan Sumber daya
Wilayah Berbasis Ekosistem untuk Mereduksi
Potensi Konflik Antar Daerah. Fakultas Geografi
UGM, 30 Agustus 2003.
Robbins, S.P . 2001. Organizational Behaviour. 9th
edition. Prentice Hall, New Jersey.

Scale Up. 2012. Laporan Tahunan (Ringkasan) Konflik


Sumber Daya Alam di Riau Tahun 2008, 2009,
2010, 2011. Pekanbaru.
Shepherd, G. 2004. The Ecosystem Approach:
Five Steps to Implementation. IUCN, Gland,
Switzerland and Cambridge, UK.
Silvius, M.J. & W.J. Verheugt. 2011. The birds of Berbak
Game Reserve, Jambi Province, Sumatra. Kukila
(2): 7684.
Society for Ecological Restoration. 2002. The SER
primer on ecological restoration. Science &
Policy Working Group. www.ser.org/primer.pdf.
Soekanto, S. & S. Mamudji. 1985. Penelitian Hukum
Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Rajawali
Press, Jakarta.
Strayer, D.L., M.E. Power, W.F. Fagan, S.T.A. Pickett &
J. Belnap. 2003. A Classification of Ecological
Boundaries. BioScience 53 (28): 723-729.
Sugardiman, R.A. 2010. Defining Refference Emission
Level. REL for RED: National Carbon Accounting
and Sub-National Implementation. Materi
Presentasi disampaikan pada 2nd Technical
Roundtable on MRV In search of setting-up
appropriate Reference Emission Level (REL) for
Indonesia di Jakarta 19 Agustus 2010.
Suharjito, D. 2014. Devolusi Pengelolaan Hutan dan
Pembangunan Masyarakat Pedesaan. Orasi
Ilmiah Guru Besar IPB, IPB. Auditorium Rektorat,
03 Mei 2014.
Taman Nasional Kutai.2013. Statistik Taman Nasional
Kutai 2013. Balai Taman Nasional Kutai.
The Zoological Society. Evolutionarily Distinct and
Globally Endangered (EDGE) species. <http://
w w w.e d g e ofex i s te n ce.o rg /a b o u t /e d g e _
science.php.>. Retrieved on 12 April, 2015.
Tropenbos International. 2009. Forest Landcape
Restoration. Bahan Prensetasi Workshop
Restorasi di Wanagama 7-8 Desember 2008.
United Nations. 2014. The Millennium Development
Goals Report 2014. UN, New York
UNEP.

2012. Global Environmental Outlook 5.


Environment for the future we want. UNEP,
Nairobi

Royana, R. 2014. Peran sektor kehutanan dalam


pembangunan
nasional
dan
regional.
Bappenas.

UNESCO. 1996. Biosphere Reserves: The Seville


Strategy and the Statutory Framework of the
World Network. UNESCO, Paris.

Sayer, J., T. Sunderland, J.Ghazoul, J.L. Pfund, D. Sheil,


E. Meijaard, M.Venter, A.K.Boedihartono, M.Day,
C. Garcia, C.van Oosten & L.E.Buck. 2013.
Ten Principles of for a landscape approach
to reconciling agriculture, conservation, and
other competing land uses. Proceeding of the
National Academy of Science 110 (21): 83498356.

UNESCO. 2011. Preparing World Heritage Nominations.


UNESCO, Paris
Wahyunto, S.R. & H.Subagjo. 2003. Peta Luas Sebaran
Lahan Gambut dan Keandungan Karbon
di Pulau Sumatera 1990-2002. Wetlands
International-Indonesia Programme & Wildlife
Habitat Canada (WHC).

Walker, B., C. S. Holling, S. R. Carpenter, & A.


Kinzig. 2004. Resilience, adaptability and
transformability in socialecological systems.
Ecology and Society 9 (2): 5.
Walker, L.R., Walker, J. & Hobbs, R.J. (eds.) 2007.
Linking restoration and ecological succession.
Springer, New York, NY, US.
Wells, P. 2007. The Senepis Tiger Conservation
Area, the Current Status of Tigers and Future
Conservation Options. Unpublished Report to
Sinar Mas Forestry.
Wiratno. 2014. Hutan kemasyarakatan dan hutan
desa: Solusi konflik, pengentasan kemiskinan,
dan penyelamatan habitat dan perlindungan
keanekaragaman hayati. Dalam: Hakim, I & L.R.
Wibowo (eds.). 2014. Hutan untuk Rakyat: Jalan
terjal reforma agraria sektor kehutanan. LKISYogyakarta dan Puspijak-Bogor.
Wu, J. 2008. Landscape ecology. In: S. E. Jorgensen
(ed.). Encyclopedia of Ecology. Elsevier, Oxford:
2103-2108.
WWF. 2001. WWFs Global Conservation Priorities.
WWF, Gland, Switzerland.
Yunus, M. 2008. Annual Report PKHS/STTCP 2008.
PKHS/STTCP Bukit Tigapuluh.
Zonneveld, I.S. & R.T.T. Forman. 1990. Changing
Landscape: An Ecological Perspective. Springer
Verlag, New York.

195

196

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

LAMPIRAN

Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) di sebuah kawasan


hutan bakau di pesisir timur Sumatera, November 2007.
(Foto: Rolf M. Jensen)

197

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1
Kompilasi rencana aksi yang diusulkan para pihak di tingkat lanskap

198

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

199

200

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

201

202

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

203

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Lampiran 2
Matriks hambatan, tantangan, dan peluang konservasi lanskap

204

205

206

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

207

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 3
Kompilasi jumlah spesies vertebrata yang dilindungi di dalam lanskap

208

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

209

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Lampiran 4
Area padat hotspot berdasarkan wilayah administratif (satuan hektar)

210

211

212

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

213

214

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

215

216

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

217

218

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

219

220

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

221

222

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

223

LAMPIRAN-LAMPIRAN

5.3. Tren pertumbuhan penduduk kabupaten di Provinsi Jambi 2013-2018

5.2. Tren pertumbuhan penduduk kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan 2013-2018

5.1 Tren pertumbuhan penduduk di dalam lanskap tahun 2013-2018

Lampiran 5
Tren pertumbuhan penduduk di dalam lanskap tahun 2013-2018

224
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

225

LAMPIRAN-LAMPIRAN

5.5. Tren pertumbuhan penduduk kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur 2013-2018

5.4. Tren pertumbuhan penduduk kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat 2013-2018

226
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

227

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 6
Konflik sosial yang terjadi di beberapa wilayah lanskap

228

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

229

230

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

231

232

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

233

234

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

235

236

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

237

238

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

239

240

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

241

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Lanskap Senepis
Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Lampiran 7
Pengaruh dan kepentingan para pihak

242
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

243

Tinggi

Sedang
Tinggi

Tinggi
Tinggi

Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (MAB-CB GSK BB )


Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli
BPDAS Indragiri Rokan
PB2HP Pekanbaru
PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera
Dinas Kehutanan Provinsi Riau
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau
KPHP Minas Tahura
Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis
Dinas Kehutanan Kabupaten Siak
Dinas Kehutanan Kabupaten Kampar
Badan Pertanahan Nasional Wilayah Riau
Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hilir
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kota Dumai
BAPPEDA Riau
Dinas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Dumai
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Siak

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Sedang

Sedang

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

BPKH Wilayah XII Tanjungpinang

Tinggi

Keterangan

Pengaruh
BKSDA Riau

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)
1

No

Nilai

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

2. Lanskap GSKBB
Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Berdasarkan kuadran di samping, yang menunjukkan posisi para


pihak pada kuadran II, maka strategi pelibatannya adalah dengan
kolaborasi para pihak dalam rencana aksi yang terkait pengelolaan
lanskap.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak di lanskap Senepis

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran


dan hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran II
seperti pada gambar di samping.

244
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

245

Sedang
Sedang

Kepolisian Resort Rokan Hilir


Kepolisian Resort Bengkalis
Kepolisian Resort Siak

24
25
26

Sedang

23

The Forest Trust/TFT


Ekologika

44
45

Berdasarkan kuadran di samping, maka strategi pelibatan para pihak


di kuadran I adalah dengan melakukan konsultasi/diskusi dengan
para pihak terkait rencana pengembangan lanskap. Para pihak di
kuadran II dapat melakukan strategi pelibatan dengan berkolaborasi
dalam rencana aksi bersama antarpara pihak yang terkait dalam
pengelolaan lanskap. Sedangkan para pihak di kuadran IV dapat
melakukan strategi dengan melibatkan para pihak tersebut untuk
pengelolaan lanskap ke depannya.

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Rendah

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Sedang

Tinggi

Rendah

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak di lanskap GSK-BB

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran I, II, dan
IV seperti pada gambar di bawah ini.

Siak Cerdas

43

Greenpeace

39

Scale Up

FKKM Riau

38

42

WWF Riau

37

Jikalahari

Universitas Islam Riau (UIR)

36

Yapeka

Universitas Riau (UNRI)

35

41

PT Dexter Perkasa Indonesia

34

40

Sinar Mas Forestry (SMF)

33

Sedang

PT Bukit Batu Hutani Alam


Asia Pulp and Paper (APP)

31

PT Balai Kayang Mandiri

30
32

Sedang

PT Sekato Pratama Makmur

29

Sedang

PT Arara Abadi
PT Satria Perkasa Agung

27
28

Sedang

Sedang

Sedang

Kepolisian Daerah Riau


Kepolisian Resort Dumai

22

246
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

247

Sedang

Sedang
Sedang

Kepolisian Daerah Riau


Kepolisian Resort Pelalawan
Kepolisian Resort Siak
PT Arara Abadi
PT Triomas FDI
WWF Riau
Jikalahari
FFI

15
16
17
18
19
20
21
22

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran II yang
dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini.

Sedang

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Siak

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

14

KPHP Tasik Besar Serkab

Sedang

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pelalawan

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau

Tinggi

13

Dinas Kehutanan Provinsi Riau

Tinggi

BPN Wilayah Riau

PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera

Sedang

12

BP2HP Pekanbaru

Tinggi

Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan

BPDAS Indragiri Rokan

Sedang

Dinas Kehutanan Kabupaten Siak

Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli

Tinggi

11

BPKH Wilayah XII Tanjungpinang

Tinggi

Keterangan

Pengaruh

10

BKSDA Riau

(Organisasi/Kelompok)

No

Nama Para Pihak

3. Lanskap Semenanjung Kampar


Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Berdasarkan kuadran di samping, yang


menunjukkan posisi para pihak pada kuadran
II, maka strategi pelibatannya adalah dengan
kolaborasi para pihak untuk mengembangkan
rencana aksi dan implementasi bersama
pemerintah, perusahaan, dan LSM dalam
pengelolaan lanskap Semenanjung Kampar.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak


di lanskap Semenanjung Kampar

Nilai

Kepentingan

248
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

249

Sedang

BPDAS Indragiri Rokan


BP2HP Pekanbaru
PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera
Dinas Kehutanan Provinsi Riau
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau
KPHP Tasik Besar Serkab
Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan
Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir
Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hulu
BPN Wilayah Riau
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pelalawan
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indragiri Hilir
Kepolisian Daerah Riau
Kepolisian Resort Pelalawan
Kepolisian Resort Indragiri Hilir
Kepolisian Resort Indragiri Hulu
PT Arara Abadi
PT Riau Indo Agropalma
PT Satria Perkasa Agung
PT Bina Duta Laksana
WWF Riau

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Nilai

Berdasarkan kuadran di samping, yang menunjukkan


posisi para pihak pada kuadran II, maka strategi
pelibatannya adalah dengan kolaborasi para
pihak untuk mengembangkan rancana aksi dan
implementasi bersama pemerintah, perusahaan, dan
LSM dalam pengelolaan lanskap Kerumutan.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak di


lanskap Kerumutan

Nilai

Kepentingan

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran II seperti pada
gambar di bawah ini.

Sedang

Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli

Tinggi

BPKH Wilayah XII Tanjungpinang

Tinggi

BKSDA Riau

Keterangan

Pengaruh

(Organisasi/Kelompok)

Nama Para Pihak

No.

4. Lanskap Kerumutan
Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

250
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

251

Sedang
Sedang

Tinggi
Tinggi

Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli


Balai Penelitian Kehutanan Palembang
BP2HP Wilayah III Pekanbaru
BP2HP Wilayah IV Jambi
BPDAS Indragiri Rokan
BPDAS Batanghari

3
4
5
6
7
8

Tinggi
Sedang

Dinas Kehutanan Provinsi Riau


BAPPEDA Provinsi Jambi
Dinas Kehutanan Kabupaten Tebo
Dinas Kehutanan Kabupaten Tanjungjabung Barat
Dinas Kehutanan Kabupaten Bungo
BPN Wilayah Riau
BPN Wilayah Jambi
Kepolisian Daerah Riau

13
14
15
16
17
18
19
20

Sedang
Sedang

Sedang
Sedang

Sedang
Sedang

Kepolisian Resort Tanjung Jabung Barat


Kepolisian Resort Bungo
PT Wirakarya Sakti
PT Rimba Hutani Mas
PT Tebo Multi Agro
PT Lestari Asri Jaya (LAJ)
WWF Riau
FZS
Warsi
Walhi
Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera/PKHS
AMAN
Suku Anak Dalam
Pokja REDD Komda Jambi
APHI
PT Agrowiyana
PT Aneka Pura Mukti Kerta
PT Palma Abadi

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

berpengaruh

Tidak

Sedang

Tinggi

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Kepolisian Resort Tebo

Sedang

Kepolisian Daerah Jambi

21

Keterangan

Pengaruh

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Nilai

Nilai

berkepentingan

Tidak

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Nilai

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

22

(Organisasi/Kelompok)

Nama Para Pihak

Tinggi

Dinas Kehutanan Provinsi Jambi

12

No.

Tinggi

BPKH Wilayah XIII Pangkalpinang

11

Tinggi

PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera


BPKH Wilayah XII Tanjung Pinang

9
10

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Balai TN Bukit Tigapuluh

Tinggi

Keterangan

Pengaruh

BKSDA Jambi

(Organisasi/Kelompok)

Nama Para Pihak

No.

5. Lanskap Bukit Tigapuluh


Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

252
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

253

Tinggi
Sedang

Tinggi
Tinggi

Balai Taman Nasional Sembilang


Balai Taman Nasional Berbak
Balai Penelitian Kehutanan Palembang
PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera
BPDAS Batanghari
BPDAS Musi
BPKH Wilayah II & XIII (Pangkalpinang)
BP2HP Wilayah IV Jambi
BP2HP Wilayah V Palembang
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan
BAPPEDA Provinsi Sumatera Selatan
BAPPEDA Provinsi Jambi
KPHP Meranti
KPHP Lalan Mangsang Mendis
BLH Kota Jambi
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Muaro Jambi
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tanjungjabung Timur
Dinas Kehutanan Kabupaten Banyuasin
Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Banyuasin

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

BKSDA Sumatera Selatan

Tinggi

BKSDA Jambi

Keterangan

Pengaruh

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Nilai

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Nilai

Berdasarkan kuadran di samping, yang


menunjukkan posisi para pihak pada kuadran I, II,
dan III, maka strategi pelibatannya adalah sebagai
berikut. Pada kuadran I dilakukan konsultasi/
diskusi dengan para pihak yang terkait rencana
pengembangan lanskap. Pada kuadran II, yang
ditempati oleh sebagian besar para pihak, strategi
pelibatannya adalah dengan kolaborasi para
pihak tersebut untuk implementasi bersama dalam
pengelolaan lanskap. Pada kuadran III strategi yang
dilakukan adalah dengan pemberitahuan kepada
para pihak yang terkait pengelolaan lanskap.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak di


lanskap Bukit Tigapuluh

LAMPIRAN-LAMPIRAN

No

6. Lanskap Berbak Sembilang


Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran I, II, dan III
seperti pada gambar di bawah ini.

254
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

255

Pengaruh

Sedang
Sedang

Sedang
Sedang

Sedang
Sedang

Sedang
Tinggi

Kepolisian Daerah Jambi


Kepolisian Daerah Sumatera Selatan
Kepolisian Resort Tanjung Jabung Timur
Kepolisian Resort Musi Banyuasin
Kepolisian Resort Banyuasin
Kepolisian Resort Muaro Jambi
PT Wirakarya Sakti
PT Rimba Hutani Mas
PT BPP
APP
SMF
PT Putra Duta
PT REKI
WWF
Warsi
Walhi
Forum Harimau Kita
Walestra
ZSL/Zoological Society of London
Burung Indonesia
Wahana Bumi Hijau/WBH
AMAN
The Forest Trust/TFT

29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51

Sedang
Sedang

PT Ekologika
GIZ
Universitas Jambi
Universitas Batanghari
Universitas Sriwijaya

54
55
56
57
58

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Nilai

Nilai

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Keterangan

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Kepentingan

Nilai

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Rendah

Gita Buana Club


Gita Buana

53

Keterangan

Pengaruh

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

52

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Sedang

BPN Wilayah Sumatera Selatan

28

No

Sedang

BPN Wilayah Jambi

27

Sedang

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Musi Banyuasin

26

Sedang

Keterangan

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

25

No

256
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

257

Tinggi
Tinggi

Tinggi
Tinggi

Balai Penelitian Kehutanan Palembang


PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera
BPDAS Batanghari
BPDAS Musi
BPKH Wilayah II dan XIII (Pangkalpinang)
BP2HP Wilayah IV Jambi
BP2HP Wilayah V Palembang
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan
BAPPEDA Provinsi Sumatera Selatan
BAPPEDA Provinsi Jambi
KPHP Meranti
KPHP Unit III Lalan Mangsang Mendis
KPHP Unit IV Lakitan
Dinas Kehutanan Kabupaten Muaro Jambi
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sarolangun
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuasin
Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Banyuasin
Dinas Kehutanan Musi Rawas
BPN Wilayah Jambi
BPN Wilayah Sumatera Selatan
Kepolisian Daerah Jambi

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

BKSDA Jambi

Tinggi

BKSDA Sumatera Selatan

Keterangan

Pengaruh
1

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Nilai

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Nilai

Berdasarkan kuadran di samping, yang menunjukkan posisi


para pihak pada kuadran I dan II, maka strategi pelibatannya
untuk kuadran I adalah dengan melakukan konsultasi/
diskusi dengan para pihak tentang bagaimana pengelolaan
lanskap ke depan. Sedangkan untuk kuadran II adalah
dengan kolaborasi para pihak tersebut.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak di lanskap


Berbak Sembilang

LAMPIRAN-LAMPIRAN

No.

7. Lanskap Dangku-Meranti
Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran I dan II seperti
pada gambar di samping.

258
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

259

Pengaruh

Sedang
Sedang

Kepolisian Resort Musi Banyuasin


Kepolisian Resort Banyuasin

27
28

Sedang
Sedang

PT Wirakarya Sakti
PT Tripupa Jaya
PT Rimba Hutani Mas

31
32
33

Sedang
Sedang

SMF
PT Sumber Hijau Permai

36
37

Tinggi
Sedang

PT Sentosa Mulia Bahagia (Haji Alim)


PT REKI
Burung Indonesia

40
41
42

ZSL/Zoological Society of London


Wahana Bumi Hijau/WBH
AMAN
The Forest Trust/TFT
Gita Buana Club

47
48
49
50
51

Gita Buana
Ekologika
GIZ
Kobar 9

52
53
54
55

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Tinggi

Walestra

46

No.

Sedang

Forum Harimau Kita

45

Rendah

Rendah

Nilai

Nilai

Rendah

Tinggi

Tinggi

Sedang

Keterangan

Sedang

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Kepentingan

Nilai

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Sedang

Rendah

Keterangan

Pengaruh

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Wetland
Walhi

43
44

Sedang

Sedang

Sedang

PT Putra Duta Indah Wood


PT Sentosa Bahagia Bersama (Haji Alim)

38
39

Sedang

Sedang

PT BPP/Bumi Persada Permai


APP

34
35

Sedang

Sedang

Sedang

Kepolisian Resort Sarolangun


Kepolisian Resort Musi Rawas

29
30

Sedang

Sedang

Kepolisian Resort Muaro Jambi

26

Sedang

Keterangan

Kepolisian Daerah Sumatera Selatan

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

25

No.

260
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

261

Tinggi
Sedang

BPKH Wilayah XIII Pangkalpinang


BP2HP Wilayah V Palembang
Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan
BAPPEDA Provinsi Sumatera Selatan
BLHD Provinsi
Dinas Kehutanan Kabupaten Banyuasin
KPHL Banyuasin (Unit I)
Dinas Kehutanan Kabupaten Ogan Komering Ilir
Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kota Palembang
BPN Wilayah Sumatera Selatan
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ogan Komering Ilir
Kepolisian Daerah Sumatera Selatan
Kepolisian Resort Palembang
Kepolisian Resort Banyuasin
Kepolisian Resort Ogan Komering Ilir
PT Sebangun Bumi Andalas
PT Bumi Mekar Hijau
PT. Bumi Andalas Permai
WCS Indonesia
Walhi

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

PUSDALBANGHUT Regional I-Sumatera


BPDAS Musi

Sedang
4

Balai Penelitian Kehutanan Palembang

Tinggi

Keterangan

Pengaruh

BKSDA Sumatera Selatan

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Nilai

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Nilai

Kuadran di samping menunjukkan bahwa


para pihak berada di kuadran I, II, dan III.
Strategi pelibatan yang mungkin dilakukan
ialah dengan konsultasi untuk para pihak
di kuadran I, melakukan kolaborasi
para pihak untuk mengembangkan
rencana aksi dan implementasi dalam
pengelolaan lanskap yang berada di
kuadran II, sedangkan di kuadran III
dengan memberitahu para pihak untuk
ikut terlibat dalam pengelolaan.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para


pihak di lanskap Dangku-Meranti

LAMPIRAN-LAMPIRAN

No.

8. Lanskap Padang Sugihan


Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran I, II, dan III
seperti pada gambar di samping.

262
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

263

Sedang
Tinggi

BP2HP Wilayah X Pontianak


Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru
PUSDALBANGHUT Regional III-Kalimantan

4
5
6

Tinggi

Tinggi
Tinggi

BAPPEDA Provinsi Kalimantan Barat


BLHD Provinsi Kalimantan Barat

9
10

Sedang
Sedang

Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang


Dinas Kehutanan Kabupaten Kuburaya
Dinas Kehutanan Kabupaten Sanggau
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kuburaya
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ketapang
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara
Kepolisian Daerah Kalimantan Barat
Kepolisian Resort Kayong Utara
Kepolisian Resort Kuburaya
Kepolisian Resort Ketapang
Kepolisian Resort Sanggau

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Dinas Kehutanan Kabupaten Kayong Utara


KPHP Kendawangan

11
12

Tinggi

Sedang

Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat


Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat

7
8

Sedang

Sedang

Tinggi

BPKH Wilayah III Pontianak


BPDAS Kapuas

Tinggi

Keterangan

Pengaruh

BKSDA Kalimantan Barat

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Nilai

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

No.

9. Lanskap Kubu
Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak
berpengaruh/berkepentingan, 2 :rendah, 3: sedang, 4 : tinggi

Berdasarkan kuadran di samping, para


pihak berada di kuadran II, sehingga
strategi
pelibatannya
ialah
dengan
melakukan kolaborasi para pihak untuk
mengembangkan rencana aksi dan
implementasi dalam pengelolaan lanskap
ke depannya bersama para pihak yang ada.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para


pihak di lanskap Padang Sugihan

Selanjutnya, data dari tabel di atas


dimasukkan dalam kuadran dan hasilnya
para pihak yang dipetakan masuk dalam
kuadran II seperti pada gambar di
samping.

264
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

265

Sedang

PT Mayangkara Tanaman Industri


PT Wana Subur Lestari
APP
SMF
WWF
FFI
Titian
Wetland
Forum Orangutan Indonesia
Ekologika
IDH
IFC
Universitas Tanjung Pura

27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Selanjutnya, data dari tabel di atas dimasukkan dalam kuadran dan


hasilnya para pihak yang dipetakan masuk dalam kuadran I, II, dan III
seperti pada gambar di bawah ini.

Sedang

PT Asia Tani Persada

26

Rendah

Rendah

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

PT Daya Tani Kalbar

25

Sedang

Keterangan

Pengaruh

PT Kalimantan Subur Permai

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

24

No.

Nilai

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Kuadran di samping menunjukkan


bahwa para pihak yang dipetakan
masuk dalam kuadran I, II, dan III.
Strategi pelibatannya untuk kuadran
I melalui konsultasi/diskusi dengan
para pihak tersebut bagaimana
pengelolaan lanskap ke depannya,
strategi pelibatan kuadran II dengan
kolaborasi para pihak tersebut,
sedangkan pada kuadran III dengan
pemberitahuan upaya pengelolaan
lanskap kepada para pihak terkait.

Tingkat pengaruh dan kepentingan


para pihak di lanskap Kubu

Sedang

Rendah

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

266
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

267

Pengaruh

WWF
BOS
TNC
Universitas Mulawarman

24
25
26
27

No.

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

Kepolisian Resort Bontang

20

PT Sumalindo Hutani Jaya

Kepolisian Resort Kutai Kertanegara

19

23

Sedang

Kepolisian Daerah Kalimantan Timur

Kepolisian Resort Kutai Timur

Badan Pertanahan Nasiolan Wilayah Kalimantan Timur

17
18

PT Surya Hutani Jaya

Sedang

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kutai Kertanegara

16

21

Sedang

Dinas Kelautan dan Perikanan Bontang

15

22

Sedang

Dinas Kehutanan Bontang

14

Tinggi

Sedang

Sedang

Nilai

Nilai

Sedang

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Keterangan

Kepentingan

Kepentingan

Nilai

Nilai

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Sedang

Sedang

Keterangan

Pengaruh

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tinggi

Tinggi

KPHP Meratus
Dinas Kehutana Samarinda

Tinggi

Tinggi

Sedang

Sedang

Tinggi

13

Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Timur

11

Tinggi
Sedang

12

BLHD Kutai Kertanegara

10

Tinggi

Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

7
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur

PUSDALBANGHUT Regional III-Kalimantan

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur

BPDAS Mahakam

BP2HP Wilayah XIII Samarinda

Sedang

BPKH Wilayah IV Samarinda

Tinggi

Balai Taman Nasional Kutai

Tinggi

Keterangan

BKSDA Kalimantan Timur

Nama Para Pihak


(Organisasi/Kelompok)

No.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak: Nilai = 1: tidak


berpengaruh/berkepentingan, 2 : rendah, 3 : sedang, 4 : tinggi

10. Lanskap Kutai

268
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

269

Penyebab
kerusakan

Kondisi
sebelum

Status
kawasan /
lahan

Tujuan

Kegiatan

Mengembalikan
fungsi hutan

Tambak

Kebun

Illegal logging

Kebakaran
hutan

Semak belukar

Alang-alang,

Lahan kosong,

Hutan lindung

Kebakaran hutan
Illegal logging
Kebun
Tambak

Illegal logging
Kebun
Tambak

Lahan kritis (lahan


yang kondisinya
rusak/tidak ada
pohon)

Kebakaran hutan

Hutan dan
lahan yang
produktivitasnya
kurang

Hutan hak

Di hutan hak,
hutan kota atau di
semua lahan kritis
(berada dalam
beberapa wilayah
DAS)

Di luar kawasan
hutan

Memulihkan dan
meningkatkan
produktivitas lahan
yang kondisinya
rusak agar dapat
berfungsi secara
optimal
Memperbanyak
keragaman
tanaman guna
meningkatkan
produktivitas lahan
dan hutan

Reboisasi

Hutan rawang,
baik di hutan
produksi, hutan
Hutan produksi
lindung, maupun
hutan konservasi,
Hutan
kecuali pada
konservasi
cagar alam dan
(kecuali CA
zona inti taman
dan zona inti
nasional.
TN)

Penghijauan

Pengayaan
Tanaman

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Bencana alam.

Kepentingan
pertahanan
keamanan

Kepentingan religi

Instalasi jaringan
listrik, telepon,
instalasi air

Pertambangan

Lahan dan vegetasi


hutan yang rusak

Semua kawasan
hutan akibat bencana
alam (kecuali CA dan
zona inti TN)

Kawasan hutan yang


telah mengalami
perubahan
permukaan tanah
dan perubahan
penutupan tanah.

Memperbaiki atau
memulihkan kembali
lahan dan vegetasi
hutan yang rusak agar
dapat berfungsi secara
optimal sesuai dengan
peruntukannya

Reklamasi Hutan

Kebun

Illegal logging

Kebakaran hutan

Kawasan hutan yang


tutupan vegetasinya
sangat jarang, semak
belukar, perladangan,
dan tanah kosong.

Hutan produksi

Mengembalikan unsur
biotik (flora-fauna) dan
unsur abiotik (tanah,
iklim dan topografi)
di hutan produksi,
sehingga tercapai
keseimbangan hayati

Restorasi Ekosistem

RESTORASI

Rehabilitasi
Memulihkan
struktur, fungsi,
dinamika
populasi, serta
keanekaragaman
hayati dan
ekosistemnya

Memulihkan
struktur, fungsi,
dinamika
populasi, serta
keanekaragaman
hayati dan
ekosistemnya

Restorasi

Kebakaran
hutan
Illegal logging
Perambahan
kawasan
Penggembala-an liar

Kebun

Illegal logging

Kebakaran hutan

Kebun

Illegal logging

Kebakaran hutan

Ekosistem yang mengalami kerusakan fungsi berupa berkurangnya penutupan lahan, kerusakan badan air atau bentang
alam laut

Taman wisata alam

Taman hutan raya

Suaka margasatwa

Cagar alam

Taman nasional

Melindungi dan
mengamankan
proses alami

Mekanisme Alam

Pemulihan Ekosistem

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Tipe

Lampiran 8
Perbandingan kegiatan restorasi untuk pemulihan hutan dan lahan

Kuadran di samping menunjukkan bahwa


para pihak yang dipetakan masuk dalam
kuadran II. Maka untuk strategi pelibatannya
dilakukan kolaborasi para pihak tersebut
dengan pemerintah, perusahaan, dan LSM.

Tingkat pengaruh dan kepentingan para


pihak di lanskap Kutai

Selanjutnya, data dari tabel di atas


dimasukkan dalam kuadran dan hasilnya
para pihak yang dipetakan masuk dalam
kuadran II seperti pada gambar di samping.

270
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

271

Di hutan lindung
dan hutan
produksi yang
dikelola Badan
Usaha Milik
Negara, atau
diberikan izin
pemanfaatan
hutan/ izin
penggunaan
kawasan hutan
dilaksanakan
oleh pemegang
hak/izin

DI hutan lindung
dan hutan
produksi yang
tidak dibebani
hak dilaksanakan
oleh pemerintah
kabupaten/kota

Penghijauan

pembibitan

Persemaian/

Revegetasi dan
pengamanan
(perlindungan
hutan dan
penanaman
dengan jenis
tanaman hutan
unggulan
setempat dan
permudaan alam)

Pengelolaan
lapisan tanah

Pengendalian
erosi dan
sedimentasi

Pengaturan
bentuk kawasan
hutan

Penyiapan
kawasan hutan

Penghijauan

Perusahaan pemilik izin


(pemegang konsesi RE)

Perusahaan pemegang
izin restorasi ekosistem
di kawasan hutan
produksi atau Izin
Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan KayuRestorasi Ekosistem
(IUPHHK-RE)

Penjagaan
Patroli
Pengawasan dan
Pelaporan

Di kawasan hutan
produksi yang kurang
produktif dengan
jenis tanaman hutan
dan permudaan alam.

DI kawasan hutan
produksi yang tidak
produktif dengan
jenis tanaman hutan
unggulan setempat
dan permudaan alam.

Perlindungan dan
pengamanan
Penanaman
Pengayaan jenis
Pembinaan populasi

Restorasi Ekosistem

RESTORASI
Reklamasi Hutan

Sejauh mungkin menghindari jenis tumbuhan eksotis atau jenis tumbuhan asing

Tumbuhan dapat bersifat monokultur atau campuran, dan

Jenis tumbuhan yang sesuai dengan fungsi hidrologis

Di hutan lindung dan hutan produksi

Berbagai jenis tanaman hutan

Tumbuhan yang sesuai keadaan habitat setempat, dan

Jenis tumbuhan asli setempat

Di hutan konservasi :

pendukung

Pemelihara-an Penanaman
tanaman
Pemeliharaan
Pengamanan
tanaman dan
pengamanan
Kegiatan

Penanaman

Persemaian/
pembibitan

Reboisasi

Pengayaan
Tanaman

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Pemegang hak atau izin untuk kawasan hutan yang telah dibebani hak atau izin

Pemerintah provinsi atau kabupaten/kota untuk taman hutan raya

Pemerintah kabupaten/kota atau kesatuan pengelola hutan untuk kawasan hutan


produksi dan hutan lindung

Pemegang izin
penggunaan
kawasan hutan
(untuk kegiatan di
luar kehutanan)

Pemerintah dan
pemerintah daerah
(untuk semua
kawasan hutan
karena bencana
alam)

Restorasi Ekosistem

RESTORASI
Reklamasi Hutan

Catatan :
1 = PP No 76 tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan
2 = PP No.6 tahun 2007 dan Permenhut SK 159 tahun 2004 tentang Restorasi Ekosistem di Kawasan Hutan Produksi
3 = PP No 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestaraian Alam

Jenis bibit
tanaman

Pemegang hak/
izin

Pemerintah
Kabupaten/Kota

Pengayaan
Tanaman

Pemerintah untuk kawasan hutan konservasi

Di Tahura
dilaksanakan
oleh Pemprov/
Pemkab/kota

Di hutan
konservasi
dilaksanakan
oleh
pemerintah
pusat kecuali
Tahura

Reboisasi

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Badan usaha

Unit pengelola

Rehabilitasi

Badan usaha

Unit pengelola

Restorasi

Perlindungan
dan pengamanan;
Pembinaan
habitat, ruang
jelajah atau
pembinaan
objek wisata
alam
Penanaman
Pembinaan
populasi.

Mekanisme Alam

Tanaman asli

Kegiatan pendukung

Pengamanan

Pemeliharaan tanaman

Penanaman

Persemaian/pembibitan

Rehabilitasi

Pemulihan Ekosistem
Restorasi

Sumber dana lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan

Pemerintah provinsi atau kabupaten/kota untuk taman hutan


raya (APBD)

Pemerintah untuk kawasan hutan konservasi (APBN)

Unit pengelola

Mekanisme Alam

Pemulihan Ekosistem

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Kegiatan

Kegiatan

Tipe

Sumber
dana

Pelaksana

Kegiatan

Tipe

272
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

273

274

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Lampiran 9.
Program percontohan untuk diterapkan di dalam lanskap target

10.1. Program Model pusat pembelajaran


konservasi, lingkungan hidup, dan
pemberdayaan masyarakat
(Learning Center)

A. Tujuan APL (Arena Pembelajaran
Lingkungan)
1. Secara umum. Untuk meningkatknan
efektifitas dan efisiensi kegiatan proses
belajar mengajar di alam, dengan
menyediakan berbagai obyek dengan
menggunakan metode tradisional (alami)
dan non-tradisional (menggunakan alat
peraga), untuk memudahkan peserta dalam
mengikuti belajar mengajar di alam bebas.
2. Secara khusus.
APL mempunyai peranan yang
menentukan dalam meningkatkan
efektifitas dan efisiensi proses belajar
mengajar. Oleh karena itu APL bukan
semata-mata suatu tempat belajar
mengajar, namun diperlukan obyek
yang sesuai dengan tujuan utama,
yaitu lokasi pembelajaran konservasi
alam dengan berbagai obyek alam.
APL
mempunyai
visi
terutama
sebagai pusat sumber belajar untuk
pengembangan
pengetahuan
konservasi,
sehingga
diperlukan
sarana pendukung seperti bahan
bacaan, pelayanan informasi di
lapangan. Hal ini dimaksudkan
untuk mencapai keberhasilan dalam
pelaksanaan misi tersebut.

B. Komponen pembelajaran:
1. Pesan. Informasi atau pengetahuan
konservasi yang akan disampaikan
kepada peserta agar peserta mengetahui,
memahami dan harapanya melakukan aksi
dalam kegiatan konservasi.
2. Penyampai pesan (pendidik lapang/
interpreter). Penyampai pesan harus
benar-benar memahami apa yang perlu
disampaikan, agar peserta dapat mengerti
pesan apa yang akan disampaikan.

3. Materi. Pengatahuan alam yang yang


menjadi obyek pembelajaran yang perlu
diketahui, dipelari dan dipahami oleh
peserta.
4. Alat peraga. Perangkat apa yang dapat
membantu dalam meyampaikan pesan,
dalam hal ini diperlukan bahan-bahan atau
langsung bersentuhan dengan obyek.
5. Metode pembelajaran. Metode pembelajran
ini sangat penting artinya, dimana sangat
diperlukan seorang interpreter memberikan
metode yang mudah dimengerti, mudah
dipahami oleh peserta. Metode yang
umum digunakan di dalam pembelajaran
mengenai konservasi adalah simulasi dan
permainan alam.
6. Arena
pembelajaran/
lingkungan.
Lingkungan yang digunakan dalam
pembelajaran ini adalah di alam terbuka
atau outdoor, sehingga diperlukan sebuah
jalur interpretasi
agar semua peserta
tertarik untuk mengikuti.

C. Manfaat :
1. Masyarakat umum dapat belajar berbagai
tehnologi tepat guna seperti pertanian
organik, peternakan, perikanan, energy
terbarukan.
a. Siswa sekolah dan atau komunitas
pendidikan, dapat belajar berbagai
demplot yang disediakan sabagai
pembelajaran mengenai lingkunga
untuk menunjang pelajaran di sekolah.
b. Sebagai arena eisata pendidikan
untuk belajar mengenai lingkungan.
c. APP memberikan bantuan untuk
kegiatan pembelajaran lingkungan
untuk
menunjang
program
perlindungan dan restorasi sejuta
hektar.

D. Kelompok sasaran :
1. Masyarakat umum.
2. Komunitas sekolah.
3. Perguruan tinggi,

4. Lembaga pemerintahan yang terkait.


5. LSM yang mempunyai kegiatan serupa.
6. Staf dan petugas lapangan perusahaan.

E. Lokasi pembangunan model :


Dari 10 lanskap yang diinisiasi oleh APP,
tersebar di beberapa provinsi al :
1. Provinsi Riau : Sinepis, Giam Siak,
Semenjanjung Kampar, Kerumutan,
sebagian Bukit Tigapuluh.
2. Provinsi Jambi : Sebagian bukit Tigapuluh
dan TN Berbak.
3. Provinsi Sumatera Selatan : TN
Sembilang, Padang Sugihan dan Dangku.
4. Provinsi Kalimantan Barat : Kubu Raya.
5. Provinsi Kalimantan Timur : Kutai.
Dilihat
sebaranya,
maka
lokasi
pembangunan Model arena Pembelajaran
Lingungan adalah :
1. Provinsi Riau ada 4 bentang alam, dan
diusulkan di Tahura Minas/Giam Siak.
2. Jambi dan Sumatera Selatan, diusulkan
di Padang Sugihan
3. Kalimantan Barat di Hutan Lindung Padu
Banjar, Kab. Kayong Utara.
4. Kalimantan Timur di Taman Nasional
Kutai.

F. Fasilitator Pembelajaran:
Dalam memanfaatkan obyek pengetahuan
yang berbasis alam itu, seorang fasilitator
lapangan, mempunyai tanggung jawab
untuk membantu peserta agar lebih
mudah untuk memahami pengetahuan
yang
menjadi
obyek
pembelajaran
mengenai alam. Oleh karena itu di dalam
pengembangan
Pusat
Pembelajaran
Lingkungan ini, perlu fasilitator lapang yang
mampu dalam :
1. Menggunakan obyek dari alam dalam
kegiatan belajar di alam.
2. Memilih obyek belajar sesuai dengan
target peserta.
3. Mengenalkan dan menyajikan sumber
pengetahuan itu kepada peserta.
4. Menerangkan peranan sumber belajar
itu dalam kehidupan sehari hari.

5. Menjelaskan hubungan timbal balik


antara sumber belajar yang satu dengan
yang lain.
6. Memberikan simulasi bila obyek itu tidak
ada atau musnah atau rusak.

G. Materi pembelajaran :
Sumber belajar selain dari alam, juga
dapat diciptakan, dibuat atau didesain
sesuai dengan kebutuhan. Sumber belajar
yang diciptakan ini, merupakan inovasi
untuk mendukung kegiatan sehari-hari,
atau sengaja dibuat agar peserta dapat
mencontoh atau melakukan kegiatan di
tempat tinggal mereka, baik kelompok
ataupun individu.

H. Sumber belajar yang sengaja


dibuat atau disiapkan adalah :
1. Demplot pertanian.
2. Demplot perikanan.
3. Demplot peternakan.
4. Demplot energi terbarukan.
5. Demplot
pembibitan
disesuaikan
dengan kondisi alam.
6. Demplot ujicoba penanaman jenis-jenis
tumbuhan di masing-masing bentang
alam.

275

276

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

I. Arahan Program Pengembangan APL.


J. Peranan para pihak.
No

Program

Kegiatan

Pusat Informasi yang berfungsi sebagai :





Memberikan pelayanan/informasi kepada pengunjung.


Menyediakan aneka buku pengetahuan
Menyediakan display mengenai arena pembelajran
Tempat penyampaian informasi berupa audio visual, seperti pemutran film,
diskusi dsb.

Jalur interpretasi. Jalur interpretasi ini sumber belajarnya dari alam seperti flora fauna,
bentang alam, ekosistem, habitat



Menentukan jalur interpretasi yang mewakili ekosistem di sebuah


landscape.
Membuat jalur interpretasi, berupa loop trail ( jalur melingkar) dengan jarak
pendek, menengah dan panjang disesuaikan dengan tingkatan peserta.
Menentukan titik point of interest (daya tarik) sebagai sumber belajar di
alam.
Membuat peta jalur interpretasi.

Demplot terpadu pengembangan ekonomi kreatif berbasis sumber daya alam lokal.
Demplot ini merupakan sumber belajar yang diciptakan sebagai obyek pembelajaran
peserta.
3.1. Demplot pertanian
Membuat petak-petak pertanian
3.2. Demplot peternakan
Membuat beberapa kandang dengan beberapa ternak (sapi, kambing, bebek)
3.2. Demplot perikanan
Membuat kolam dengan berbaagai jenis ikan darat.
3.4. Demplot energi terbarukan
Membangun degester bogas.
Membangun pemanfaatan ampas biogas untuk pertanian/pupuk
organik.
Membangun pencontohan pemanfaatan ampas biogas untuk pakan
ternak.
Membangun pemanfaatan biogas untuk kebutuhan energi (kompor/lampu).
3.5. Demplot restorasi berdasarkan kondisi alam setempat.
Demplot penanaman tumbuhan pada lahan gambut.
Demplot penanaman pada lahan non gambut.
Buku Panduan lapangan
Menyusun buku panduan mengenal berbagai jenis Flora dan fauna.
Menyusun buku-buku panduan untuk kegiatan berdasarkan demplot yang
dibuat.
Menyusun buku panduan mengenai tehnik restorasi di setiap bentang alam.

3.
4.
5.
6.

Peranan para pihak dalam melakukan pendidikan


lingkungan dan atau pembangunan arena
pembelajaran konservasi alam ini, tentu tidak
dapat dilakukan oleh salah satu pihak saja. Akan
tetapi diperlukan para pihak agar kegiatan ini
dapat dilakukan bersama, sehingga tercapai
tujuanya dan meringankan dalam pembiayaan.
1. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(TN/BKSDA)
2. Pemerintah Daerah (Dinas Kehutanan, Dinas
Pendidikan, Dinas Pariwisata).
LSM local dan internasional.
Peneliti.
Kelompok bisnis.
Kelompok masyarakat.

277

278

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

K. Perkiraan dana pembuatan demplot


pembelajaran

No

Program

Kegiatan

A.

Pembangunan Pusat Informasi yang berfungsi sebagai :

B.

Dana/106 (IDR)

Menentukan jalur interpretasi yang mewakili


ekosistem di sebuah landscape.
Membuat jalur interpretasi, berupa loop
trail ( jalur melingkar) dengan jarak pendek,
menengah dan panjang disesuaikan dengan
tingkatan peserta.
Menentukan titik point of interest (daya tarik)
sebagai sumber belajar di alam.
Membuat peta jalur interpretasi.

No

Perkiraan
membuat 1
bangunan
beserta
isinya(display
dan audio
visual)

300
Membuat jalur
interpretasi
atau jalan
setapak
dengan
beberapa
papan nama

Demplot terpadu pengembangan ekonomi kreatif berbasis sumber daya alam lokal. Demplot ini
merupakan sumber belajar yang diciptakan sebagai obyek pembelajaran peserta, biaya termasuk
SDM.
Demplot pertanian
Membuat petak-petak pertanian

100

Demplot peternakan
Membuat beberapa kandang dengan
beberapa ternak (sapi, kambing, bebek),
termasuk pembelian beberapa ternak.

150

Demplot perikanan
Membuat kolam dengan berbagai jenis
ikan darat (termasuk jenis-jenis ikan dan
pakan)

150

Program

Kegiatan

PIC

Demplot energi terbarukan


Membangun degester bogas.
Membangun pemanfaatan ampas biogas
untuk pertanian/pupuk organik.
Membangun pencontohan pemanfaatan
ampas biogas untuk pakan ternak.
Membangun pemanfaatan biogas untuk
kebutuhan energi (kompor/lampu).

1,500

Pembangunan Jalur interpretasi. Jalur interpretasi ini sumber belajarnya dari alam seperti flora
fauna, bentang alam, ekosistem, habitat. Kegiatan yang perlu dilakukan dalam penyiapan jalur ini
adalah :

C.

Memberikan pelayanan/informasi kepada


pengunjung.
Menyediakan aneka buku pengetahuan
Menyediakan display mengenai arena
pembelajran
Tempat penyampaian informasi berupa audio
visual, seperti pemutran film, diskusi dsb.

PIC

Demplot restorasi berdasarkan kondisi alam


setempat.
Demplot penanaman tumbuhan pada lahan
gambut.
Demplot penanaman pada lahan non gambut.
D.

Dana/106 (IDR)
150
Membuat
1 degester
biogas
dengan
beberapa alat
pendukung/
satu paket
150

Buku Panduan lapangan

Menyusun buku panduan mengenal berbagai


jenis Flora dan fauna.

150

Menyusun buku-buku panduan untuk kegiatan


berdasarkan demplot yang dibuat.

150

Menyusun buku panduan mengenai tehnik


restorasi di setiap bentang alam.

150
2,950

10. 2. Program model pengembangan


pengelolaan hutan berbasis
masyarakat (PHBM)
Program pengelolaan hutan berbasis masyarakat
(PHBM) dapat dilakukan pada wilayah-wilayah
hutan yang ada dalam kawasan hutan maupun
di luar kawasan hutan. Di Indonesia bentukbentuk PHBM cukup beragam, baik yang
dilakukan secara mandiri oleh masyarakat
maupun melalui program kemitraan dengan
pihak lain. Pengelolaan hutan adat oleh
masyarakat setempat secara tradisional, Hutan
Kemasyarakatan (Hkm), Hutan Desa (HD), Hutan
Tanaman Rakyat (HTR), hutan kemitraan, dan
sebagainya adalah istilah-istilah yang mengacu
pada konsep PHBM. Perbedaan-perbedaan
antara suatu bentuk PHBM dengan lainnya
cenderung berada pada aspek legal di mana
pada kawasan hutan, kawasan lindung, atau
status hutan yang berbeda memiliki peraturan
perundangan yang juga berbeda.

Inti dari program ini adalah pemberian dan


pengakuan hak dan akses masyarakat dalam
mengelola dan melestarikan suatu wilayah
hutan, baik untuk kepentingan peningkatan
kesejahteraan mereka, perlindungan habitat,
maupun
restorasi
ekosistem.
Dengan
demikian, apapun bentuk dan penamaan dari
sebuah pengelolaan hutan dapat dikatakan
sebagai bagian dari konsep PHBM sejauh
memenuhi substansi di atas. Adapun dari
segi
implementasi
pengelolaan
sangat
bergantung pada tujuan PHBM, fungsi hutan
serta karakteristik sosial ekonomi masyarakat
yang akan menjadi pengelola. Kegiatan PHBM
dapat saja ditujukan semata-mata peningkatan
ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,
misalnya dalam pengelolaan HTR. Akan tetapi,
PHBM dapat juga dilakukan murni untuk
menjaga ekosistem yang diharapkan memberi
manfaat jangka panjang, misalnya perlindungan
hutan lindung sebagai bagian dari konservasi
sumber mata air bagi penduduk. Namun,
integrasi antara kepentingan pelestarian dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat lebih
banyak dikembangkan mengingat keduanya
memiliki hubungan saling mempengaruhi.

279

280

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Dengan demikian prinsip kemaslahatan bagi


masyarakat setempat tetap menjadi titik berat
dari pengembangan sebuah PHBM.
Untuk kepentingan pengelolaan KPL ini,
model pengembangan PHBM sangat mungkin
dilakukan di tiap lanskap sejauh kejelasan status
lokasi PHBM, tujuan serta potensi keterlibatan
masyarakat setempat teridentifisi dengan baik.
Sebuah model PHBM dapat diarahkan sebagai
strategi dalam upaya-upaya proteksi habitat,
restorasi ekosistem, serta pemberdayaan
masyarakat.

Arahan PHBM model

Arahan model PHBM yang akan dikembangkan


dapat disesuaikan dengan tipe ekosistem,
bentuk-bentuk ancaman, serta karakteristik
masyarakat setempat. Beberapa arahan yang
dapat menjadi panduan antara lain:
1. PHBM ditujukan untuk mendukung proteksi
pada kawasan konservasi, kawasan
lindung, dan habitat-habitat satwa langka
dan dilindungi.
2. PHBM ditujukan untuk memperkuat
proses restorasi suatu ekosistem yang
menekankan pada partisipasi masyarakat.
3. PHBM ditujukan untuk pengembangan
nilai tambah sumberdaya hutan bagi
kesejahteraan penduduk setempat.
Berikut ini gambaran pemberdayaan masyarakat
terhadap PHBM di dalam dan sekitar kawasan :
Model PHBM dalam KPL dapat diintegrasikan
dengan program-program restorasi dan
pemberdayaan yang diusulkan dalam MP ini,
misalnya pengembangan koridor orangutan

dan bekantan di TN Kutai dan SM Muara Kaman


di lanskap Kutai, atau pengembangan Learning
Center di tempat lain.

Tahapan pengembangan
Apapun bentuknya beberapa langkah berikut
ini mungkin dapat menjadi acuan dasar
pengembangan model PHBM di dalam KPL oleh
berbagai pihak, yaitu:

1. Persiapan
Dalam proses persiapan, sebuah tim kerja
dapat dibentuk terdiri dari orang-orang yang
memiliki kemampuan dalam melakukan
pemetaan, kajian biofisik, hukum dan sosial
ekonomi.
Pemetaan untuk menentukan batasbatasnya serta lokasi-lokasi indikatif
terkait dengan aktivitas pemanfaatan,
keberadaan satwa tertentu, pemukiman
penduduk,
atau
hal
lain
yang
mempengaruhi kondisi hutan.
Kajian biofisik untuk melihat kondisi fisik,
tipe ekosistem, nilai jasa lingkungan, serta
keanekaragaman hayatinya.
Kajian hukum untuk memahami status
lokasi berdasarkan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
Identifikasi pula bentuk-bentuk dan status
hukum penguasaan oleh berbagai pihak
pada lokasi tersebut.
Kajian sosial ekonomi untuk melihat
kondisi
demografis
dan
ekonomi
masyarakat di dalam dan sekitar lokasi,
tingkat ketergantungan terhadap lokasi,
serta kelembagaan yang berkembang

dalam masyarakat. Identifikasi pula adanya


peluang atau keinginan masyarakat untuk
melakukan pengelolaan terhadap wilayah
hutan yang akan dikembangkan untuk
PHBM.
Kajian program untuk melihat opsi-opsi
bentuk PHBM yang dapat dikembangkan
dengan melihat kondisi biofisik, status
hukum dan karakteristik sosial ekonomi.

2. Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses komunikasi
tentang rencana PHBM kepada berbagai
pihak terkait, terutama masyarakat yang
berpontensi untuk menjadi pelaku utama
PHBM.
Bentuk
komunikasi
tersebut
dapat dilakukan dalam kegiatan seminar,
workshop atau pertemuan kampung dengan
penduduk di sekitar lokasi. Langkah yang
dapat dilakukan di antaranya:
Menyampaikan nilai penting hutan lokasi
PHBM bagi masyarakat
Pemaparan hasil kajian terhadap lokasi
calon PHBM
Opsi pengelolaan hutan yang dapat
dilakukan masyarakat dan pihak lain
Komitmen dan inisiatif dari masyarakat
serta pihak lain sangat dibutuhkan
sebelum menentukan apakah PHBM akan
dikembangkan di lokasi tersebut. Tanpa
keinginan dari masyarakat, PHBM tentu saja
tak mungkin dilakukan. Pemaksaan terhadap
PHBM hanya akan menyebabkan kegiatan
kurang mendapat dukungan masyarakat.
Sebanyak apapun sumberdaya yang dimiliki
akan sulit mencapai tujuan PHBM secara
berkelanjutan. Prinsip-prinsip FPIC perlu
digunakan dalam proses sosialisasi ini.

3. Perencanaan program

Skema pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan


(Ditjen. RLPS, 2009 dalam Hakim et al, 2011)

Perencanaan program dilakukan ketika telah


terjadi komitmen dari satu atau beberapa
masyarakat untuk mengembangkan PHBM
pada hutan yang telah diidentifikasi.
Perencanaan program dilakukan bersama
masyarakat dengan melibatkan pihak terkait,
misalnya: LSM, universitas, dinas kehutanan
setempat, BKSDA atau Balai Taman Nasional,
perusahaan yang tertarik pengembangan
PHBM, dan sebagainya. Dalam perencanaan
program masyarakat dan pendamping perlu:
Menetapkan tujuan PHBM,
Mengidentifikasi
ancaman
untuk
mencapai tujuan tersebut dan solusi yang
dapat dilakukan,
Menentukan opsi status hukum atau
dukungan kebijakan pada lokasi dan
kegiatan PHBM,

Menentukan
bentuk
kegiatan
untuk
mencapai
tujuan,
misalnya:
pengembangan
ekonomi
berbasis
sumberdaya hutan non-kayu, pembuatan
instalasi
air
bersih,
ekowisata,
pengembangan
learning
center,
pelaksanaan patroli hutan, pelatihan
monitoring kondisi hutan, dan sebagainya.
Menghitung
sumberdaya
yang
dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan
serta mengidentifikasi sumber-sumber
potensial, misalnya: pendanaan, tenaga
ahli dan pendampingan, infrastrusktur,
dan sebagainya. Perlu pula didiskusikan
suamberdaya yang dapat disediakan
secara mandiri oleh masyarakat.
Membentuk kelompok pelaksana PHBM.
Perlu diperhatikan aspek representasi
dari kelompok-kelompok sosial dalam
masyarakat setempat, kepemimpinan,
serta keberadaan kelompok serupa yang
mungkin telah ada dan dapat dioptimalkan
perannya dalam PHBM.
Menyusun dan menyepakati aturan dan
penegakannya. Perlu dicermati pula
konsekuensi-konsekuensi negatif dari
penegakan aturan tersebut, misalnya
konflik dalam masyarakat.
Menentukan strategi kemitraan dengan
pihak lain. PHBM yang sepenuhnya
dijalankan oleh masyarakat sangat sulit
terjadi, terutama pada lokasi hutan
dengan permasalahan yang sangat
kompleks. Akan tetapi prinsip kolaborasi
tetap
harus
mementingkan
unsur
kemandirian dan kedaulatan pengelolaan
oleh masyarakat setempat. Proses-proses
negosiasi secara tebuka dan adil dalam
menentukan hak dan tanggungjawab
dalam kolaborasi.
Langkah-langkah di atas bersifat umum
dan fleksibel, situasi spesifik pada lokasi
dan masyarakat tertentu memungkinkan
adanya modifikasi atau perbedaan. Akan
tetapi, beberapa faktor mendasar dari
keberhasilan sebuah PHBM mungkin
perlu dijadikan rujukan pada wilayah
manapun. Meminjam pemikiran Agrawal
dan Anglesen (2009: 205), setidaknya ada
4 faktor yang menentukan karakteristik
keberhasilan
program
pengelolaan
hutan dan sumberdaya alam berbasis
masyarakat, termasuk kegiatan restorasi,
sebagaimana dalam tabel berikut:

281

282

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Kluster

Faktor berpengaruh terhadap keberhasilan


- Luasan area tidak besar sehingga mudah dikelola dan dimonitor.

Ekosistem
biophysical

- Batas-batas jelas (clean and clear) atau bebas dari konflik


penguasaan (lahan).
- Manfaat dapat diidentifikasi

3. Provinsi Kalimantan Timur. Model PHBM


dalam KPL dapat dilakukan dengan
program restorasi dan pemberdayaan
masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Sebagai contoh pengembangan koridor
satwa liar (orangutan dan bekantan) yang
berada di TN Kutai dan SM Muara Kaman
di lanskap Kutai.

mangsa yang secara alami pernah ada atau


jenis satwa asli setempat yang populasinya
terancam punah, introduksi berbagai jenis
tumbuhan asli atau pernah tumbuh secara
alami untuk memperbaiki tempat hidup,
tempat pakan, tempat bersarang, dan tempat
penjelajahan satwa liar; dan relokasi satwa liar
dan atau eradikasi.

- Nilai sumberdaya ( jasa lingkungan) jelas dan penting


- Relatif kecil atau tidak banyak sehingga memudahkan komunikasi,
fasilitasi dan koordinasi.
Kelompok pengelola dan pemanfaat
user group

- Saling bergantung sehingga kerjasama terjadi


- Memiliki kepentingan terhadap manfaat yang dihasilkan
- Memiliki pengetahuan dan pengalaman
pengelolaan hutan/sumberdaya alam

dalam

kegiatan

- Aturan mudah dipahami dan dijalankan masyarakat


- Aturan bersifat lokal
Pengaturan
institutional arrangement

- Aturan dapat mengatasi konflik


- Sanksi efektif bagi penegakan aturan
- Jaminan atas kepastian tenurial
- kemampuan menghalangi (exclude) pihak lain yang menghambat
program
- Kebijakan pemerintah mendukung dan konsisten

Context
Demografi, sistem pasar, politik makro

- Jaminan pemasaran ( jika ada nilai tambah secara ekonomi dari


sumberdaya alam yang dikelola)
- Pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan mendukung
pengelolaan
- Persoalan demografi teratasi, tidak ada tekanan dari pertambahan
penduduk, misalnya: pendatang meningkat.

Lokasi Pengembangan Model


Pengembangan model PHBM ini dapat diterapkan
di seluruh provinsi pada lanskap tersebut, namun
secara prioritas dapat dilakukan di :
1. Provinsi Riau : Provinsi ini memiliki wilayah
4 laskap meliputi Senepis, Semenanjung
Kampar, Kerumutan, dan GSKBB.
Model
pengembangan ini dapat dilakukan di lanskap
GSKBB dengan pertimbangan sebaran
penduduk yang tinggi berada disekitar GSKBB,
sehingga pengurangan tekanan terhadap
kawasan hutan dapat dilakukan melalui
skema PHBM. Hal ini dapat menjadi jawaban
terhadap bagaimana masyarakat memiliki
akses dalam pengelolaan hutan di kawasan
mereka. Program yang dilakukan di Riau dapat
diintegrasikan dengan Learning Center.

2. Provinsi Jambi. Provinsi Jambi memiliki


kawasan di lanskap Berbak Sembilang
yang salah satu kawasannya yaitu Tanjung
Jabung Timur. Model PHBM tersebut dapat
diterapkan karena Pemerintah Kabupaten
memiliki inisiatif untuk pengembangan
pengelolaan hutan skema PHBM. Komitmen
juga tertuang dari Pemerintah Provinsi
dalam RPJMD 2011-2015 yaitu pelaksanaan
pembangunan dengan konsep green
economy yang memiliki kepedulian dengan
lingkungan. Disisi lain, pengembangan
hutan berbasis masyarakat juga mendapat
dukungan dari LSM sehingga inisiatif
tersebut
dapat menjadi pintu masuk
implementasi PHBM desa-desa di sekitar
wilayah tersebut.

10.3. Program model restorasi koridor


habitat di lanskap Kutai
Restorasi habitat merupakan bagian dari
kegiatan restorasi ekosistem melalui kegiatan
pemeliharaan,
perlindungan,
penanaman,
pengkayaan jenis tumbuhan dan satwa liar,
atau pelepasliaran satwa liar hasil penangkaran
atau relokasi satwa liar dari lokasi lain. (PP 28
tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan
Suaka Alam dan Kawasan Pelestaraian Alam,
Pasal 29 ayat 5). Dan menurut Permenhut No
P48 tahun 2014 tentang tata cara pelaksanaan
pemulihan ekosistem pada kawasan suaka alam
dan kawasan pelestaraian alam, Pasal 38 ayat 3
dikatakan bahwa, pembinaan populasi dilakukan
dengan meningkatkan jumlah populasi hidupan
liar melalui : pelepasliaran satwa dan satwa

Lanskap Kutai seperti tampak pada gambar


peta dibawah ini memiliki 2 (dua) kawasan
konservasi yang letaknya cukup berjauhan,
kedua kawasan konservasi tersebut adalah
Taman Nasional Kutai dan Cagar Alam Muara
Kaman Sedulang. Keberadaan kedua kawasan
konservasi ini sangat penting artinya bagi
pelestarian satwa, khususnya mamalia yang
dilindungi yang ditemukan dan masih tersebar
di kawasan hutan tanaman perusahaanperusahan pemilik konsesi yang ada diantara
kedua kawasan tersebut, seperti PT Surya
Hutani Jaya, PT Hamparan Sentosa dan PT Agri
East Borneo Kencana, sehingga pada beberapa
area perusahaan-perusahaan tersebut masih
sering dijumpai beberapa satwa liar yang
sedang mencari makan yang masih dapat
bertahan hidup.

283

284

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Daerah sempadan sungai, khusunya pada


sempadan Sungai Menamangkanan dan Sungai
Ngajau yang dapat menjadi kawasan koridor
habitat Bekantan, Orangutan dan satwa liar
lainnya dapat diperbaiki kawasannya yang telah
rusak atau dipertahankan keberadaannya yang
masih baik. Hal ini sangat penting bagi lalu lintas
satwa liar ke kawasan konservasi, atau sebagai
tempat mengungsi, tempat bersembunyi
maupun sebagai tempat tidur berbagai jenis
satwa liar. Berdasarkan informasi dari pihak
PT Surya Hutani Jaya pada saat pelaksanaan
FGD Inisiatif Konservasi (Perlindungan dan
Restorasi) Lanskap Kutai pada tanggal
01 April 2015 di Hotel Amaris-Samarinda, bahwa
perjumpaan dengan Bekantan, Orangutan
serta satwa liar lainnya sering ditemui oleh
beberapa pegawainya di sempadan sungai atau
kawasan berhutan pada area konsesinya. Pihak
Surya Hutani Jaya, telah menetapkan kawasan
lindung yang dianggap perlu dijadikan kawasan
konservasi, seperti daerah sempadan sungai,
yang dijadikan kawasan koridor bagi satwa
yang ada dalam kawasan konsesinya menuju
Taman Nasional Kutai.
Beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh
PT Surya Hutani Jaya dalam merestorasi
habitat Bekantan, Orangutan serta satwa liar
lainnya adalah dengan merestorasi daerahdaerah yang rusak di sempadan sungai dengan
tanaman-tanaman jenis asli dan jenis lainnya

yang merupakan sumber pakan bekantan dan


mempunyai kemapuan untuk memperkuat tepi
sungai. Pihak Surya Hutani Jaya juga melibatkan
masyarakat dalam kegiatan tersebut, khususnya
pada dearah-daerah target restorasi yang
berdekatan dengan wilayah pemukiman atau
wilayah kerja (tempat beraktifitas) mereka.
Kegiatan restorasi di sepanjang Sungai
Menamangkanan dan Sungai Santan, yakni
selebar 500 meter kanan-kiri sungai dan luas
areanya sekitar 12.988 ha ini diperuntukan
sebagai wilayah HCV (High Conservation
Value).
Kawasan sempadan sungai yang telah
ditetapkan oleh pihak Surya Hutani Jaya,
difungsikan sebagai koridor dan refugia (tempat
pelarian) bagi satwa-satwa yang berasal dari
kawasan hutan Taman Nasional Kutai. Beberapa
satwa, khususnya mamalia seperti Bekantan
dan Orangutan dapat memanfaatkan kedekatan
posisi kawasan tersebut untuk tempat pelarian,
mencari makan dan aktivitas-aktivitas lainnya.
Seperti yang kita ketahui, Bekantan adalah
salah satu primata yang hanya ditemukan di
daratan Kalimantan. Umumnya mereka hidup
berkelompok, dengan jantan dominan (single
male) dan multi male, atau dalam kelompok itu
semua jantan muda.

Peta gambaran koridor orangutan pada konsesi PT Surya Hutani Jaya

Bekantan mengkonsumsi hampir semua bagian


tumbuhan. Komposisi pakannya terdiri dari lebih
dari 50% daun muda, sekitar 40% buah, sisanya
bunga dan biji, serta beberapa jenis serangga.
Bekantan berstatus satwa dilindungi baik
secara nasional maupun internasional. Secara
nasional bekantan dilindungi berdasarkan
Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999.
Secara internasional Bekantan termasuk dalam
Appendix I CITES (Convention on International
Trade in Endangered Species of Wild Fauna
and Flora), dan sejak tahun 2000 masuk dalam
kategori endangered species berdasarkan
Red Book IUCN (International Union for
Conservation of Nature and Natural Resources)
(Meijaard et al., 2008).
Orangutan merupakan salah satu hewan yang
terancam punah. Di Indonesia, hewan ini hanya
ada di sebagian pulau sumatera dan sebagian
pulau kalimantan. Orangutan berperan sebagai
pengendali ekosistem dengan fungsinya
sebagai herbivora terestrial terbesar yang
ada. Jenis Orangutan yang terdapat di
sekitar areal PT Surya Hutani Jaya termasuk
ke dalam sub spesies Pongo pygmaeus morio.
Perjumpaan karyawan PT Surya Hutani Jaya
dengan orangutan di dalam areal konsesi
biasanya tersebar dan tidak merata (patchy).
Keterpisahan populasi orangutan tersebut,
tentunya akan berpengaruh terhadap viabilitas
(kemampuan bertahanan hidup) jenis ini dalam
jangka panjang. Pembentukan koridor habitat
Orangutan akan dapat meminimalkan potensi
ancaman tersebut.
Dengan telah dimulainya kegiatan perlindungan
di sempadan sungai oleh pihak PT Surya Hutani
Jaya dalam program restorasi habitat Bekantan,
Orangutan dan satwa liar lainnya, tentunya
saat ini tinggal melanjutkan saja kegiatan yang
serupa di sempadan Sungai Menamangkanan
dan Sungai Ngajau yang belum terestorasi agar
dapat menyambungkan jalur habitat Bekantan
dan Orangutan serta satwa liar dari kawasan
Taman Nasional Kutai ke kawasan Cagar Alam
Muara Kaman Sedulang atau sebaliknya.
Dari peta lanskap Kutai diatas dapat diketahui
pula bahwa Sungai Menamangkanan dan
Sungai Ngajau masuk didalam administrasi
Desa Sedulang dan Desa Menamangkiri
serta sedikit masuk di Desa Menamangkanan,
Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Kedua sungai tersebut menghubungkan antara


batas konsesi PT Surya Hutani Jaya dengan
Cagar Alam Muara Kaman Sedulang.
Di dalam Peta Sebaran Perkebunan Besar
Swasta Tahun 2012 Kabupaten Kutai
Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Sungai
Menamangkanan dan Sungai Ngajau yang
menghubungkan antara konsesi PT Surya
Hutani Jaya dengan Cagar Alam Muara Kaman
terdapat beberapa area konsesi perusahaan
perkebunan, seperti PT Hamparan Sentosa dan
PT Agri East Borneo Kencana.
Kedua perusahaan yang bergerak dalam bidang
perkebunan sawit ini tentunya dapat diajak
untuk mengikuti kegiatan restorasi habitat
bekantan yang telah dilakukan oleh pihak
PT Surya Hutani Jaya dengan melakukan
restorasi daerah-daerah yang rusak di
sempadan Sungai Menamangkanan dan
Sungai Ngajau hingga masuk dalam kawasan
Cagar Alam Muara Kaman Sedulang.
Pihak Pemerintah dalam hal ini Kementerian
Pertanian, Pemerintah Provinsi Kalimantan
Timur dan Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara, perlu mendukung rencana
ini dengan mengarahkan kepada pihak
PT Hamparan Sentosa dan PT Agri East Borneo
Kencana selaku perusahaan perkebunan sawit
agar dapat memiliki sertifikat ISPO (Indonesian
Sustainable Palm Oil System) dan melakukan
kegiatan restorasi daerah di sempadan Sungai
Menamangkanan dan sempadan Sungai Ngajau
hingga batas kawasan Cagar Alam Muara Kaman
Sedulang. Dengan melakukan kegiatan restorasi
di sempadan Sungai Menamangkanan dan
sempadan Sungai Ngajau hingga batas kawasan
Cagar Alam Muara Kaman Sedulang, tentunya
kedua perusahaan perkebunan sawit tersebut
dapat mendukung pengurangan gas rumah
kacaserta memberi perhatian terhadap masalah
lingkungan yang menjadi tujuan besar dari ISPO
(Indonesian Sustainable Palm Oil System).
Pihak Pemerintah juga dapat mendorong
kedua perusahaan perkebunan sawit tersebut,
yakni PT Hamparan Sentosa dan PT Agri East
Borneo Kencana untuk dapat melindungi dan
melestarikan sempadan sungai yang berada di
dalam area konsesinya, sesuai dengan arahan
yang ada pada Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai,
khususnya pada Pasal 10 dan Pasal 54.

285

286

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

Peta gambaran Sungai Menamangkanan dan Sungai Ngajau

Pelibatan masyarakat, khususnya masyarakat


dari Desa Sedulang dan Desa Menamangkiri
serta Desa Menamangkanan, Kecamatan Muara
Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi
Kalimantan Timur, dalam program restorasi ini
tentunya menjadi prioritas. Program restorasi
yang dimaksud adalah mulai dari perencanaan
dan pelaksanaan kegiatan restorasi hingga
pengamanan area sempadan sungai nya.
Sosialisai program ini juga sebaiknya dilakukan
kepada masyarakat Desa Sedulang, Desa
Menamangkiri dan Desa Menamangkanan
serta kepada pihak Muspika Kecamatan Muara
Kaman maupun Muspida Kabupaten Kutai
Kartanegara. Selain para pihak dan stakeholder
yang ada disekitar lokasi sempadan sungai
dapai mengetahui kegiatan tersebut, dukungan
mereka juga dapat memperlancar program ini.

Dengan mengacu pada acuan biaya restorasi


yang ada pada buku Pedoman Tata Cara
Restorasi, JICA-RECA dan Dirtjen PHKAKementerian Kehutanan, Januari 2014, kita
dapat mengetahui bahwa perkiraan biaya yang
dibutuhkan bagi Model Restorasi Habitat di
Koridor Taman Nasional Kutai dan Cagar Alam
Muara Kaman Sedulang dengan luas area
sekitar 316 ha (tiga ratus enam belas hektar)
adalah sebagai berikut:
Biaya Restorasi

No

Tahap

Persiapan dan Perencanaan

Pelaksanaan Penanaman

Evaluasi

Tahun I

Sub Total
Peta sebaran para pihak konsesi kehutanan dan perkebunan besar swasta
di Kabupaten Kutai Kartanegara (2012)

Berdasarkan analisa GIS, panjang sungai antara


batas area konsesi PT Surya Hutani Jaya dengan
batas Cagar Alam Muara Kaman Sedulang
diperkirakan berjarak 15,8 Km. Jumlah ini didapat
dari panjang Sungai Menamangkanan ditambah
dengan panjang Sungai Ngajau. Apabila program
restorasi habitat ini memerlukan lebar kiri-kanan
sungainya seluas 200 m, maka dapat diperkirakan
luas area restorasi habitat tersebut adalah 316 ha.

Tahun 2

Tahun 3

1.327.200.000

1.485.200.000

1.643.200.000

4.202.800.000

4.676.800.000

5.403.600.000

94.800.000

94.800.000

126.400.000

5.624.800.000

6.256.800.000

7.173.200.000

Total

19.054.800.000

287

Millennium Challenge Account - Indonesia (MCA-Indonesia)


Hibah
Program Compact bertujuan membantu mengurangi kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Proyek utama
adalah kemakmuran hijau, kesehatan dan gizi berbasis masyarakat, dan modernisasi pengadaan.
Hibah untuk komunitas dan pinjaman untuk sektor swasta
US $ 332,5 juta untuk proyek Kemakmuran Hijau/Green Prosperity Project saja
Hingga 2018
http://mca-indonesia.go.id/
Jambi (Merangin, Muaro Jambi, Kerinci, Tanjung Jabung Timur), Sumatera Barat (Solok Selatan, Pesisir Selatan), Kalimantan Barat
(Kapuas Hulu, Sintang) Kalimantan Utara (Malinau), Kalimantan Timur (Mahakam Ulu, Berau)
Proyek kemakmuran hijau untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dengan
memperluas penggunaan energi terbarukan dan mengurangi emisi gas rumah kaca berbasis pengelolaan lahan, dengan
memperbaiki praktik penggunaan lahan dan pengelolaan sumber daya alam.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi
Kelayakan
Jumlah
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) - Aksi Nyata Konservasi Hutan Tropis Sumatera - Yayasan
KEHATI, CI-Indonesia
Hibah. Pengajuan pendanaan melalui mekanisme call for concept paper atau call for proposal.
Pelaksanaan skema pengalihan utang untuk lingkungan (Debt for-Nature Swap) antara pemerintah Amerika Serikat dan
Pemerintah Indonesia yang memfasilitasi pendanaan hibah bagi program restorasi dan konservasi kawasan dengan prioritas
wilayah kerja di Sumatera.
Universitas yang fokus pada upaya pelestarian dan restorasi hutan Sumatera, LSM lokal, kelompok masyarakat.
USD 30 juta
Komitmen 8 tahun (2009-2018)

http://www.tfcasumatera.org
(1) Lanskap Sumatera Bagian Utara terdiri dari Hutan Warisan Ulu Masen/Seulawah, Taman Nasional Gunung Leuser dan
Ekosistem Leuser, Taman Nasional Batang Gadis, Ekosistem Angkola, Batang Toru, dan Daeran Aliran Sungai Toba Barat; (2)
Lanskap Sumatera Bagian Tengah terdiri dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Semenanjung Kampar - Senepis, Ekosistem Tesso
Nilo, Ekosistem KerinciSeblat, dan Taman Nasional Siberut & Mentawai; dan (3) Lansekap Sumatera Bagian Selatan terdiri dari
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas, Sembilang Berbak.
(1) Restorasi, perlindungan dan pemeliharaan kawasan konservasi; (2) Pemulihan populasi, perlindungan dan pemanfaatan
berbagai spesies tumbuhan dan satwa liar secara berkelanjutan; (3) Pengembangan dan penerapan sistem pengelolaan
ekosistem dan lahan; (4) Pelatihan untuk meningkatkan kapasitas ilmiah, manajerial dan teknis bidang konservasi, baik pada
tingkat individu maupun organisasi; (5) Penelitian dan identifikasi tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk menanggulangi
penyakit dan hal lain yang berhubungan dengan kesehatan; (6) Pengembangan dan dukungan bagi mata pencaharian
masyarakat lokal yang hidup di sekitar kawasan konservasi yang mampu menjamin kelestarian sumber daya alam.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan
Jumlah
Periode aplikasi

Website
Daerah prioritas

Kegiatan prioritas

Pemerintah Amerika Serikat (USAID) dan Pemerintah Indonesia (Kementrian Kehutanan)


Tropical Forest Conservation Action for Kalimantan (TFCA-Kalimantan) - Aksi Nyata Konservasi Hutan Tropis Kalimantan Yayasan KEHATI, TNC, WWF-Indonesia, dan Yayasan KEHATI (administrator)
Hibah
TFCA kesepakatan pertama telah diimplementasi melalui program TFCA Sumatera. Untuk pelaksanaaan kesepakatan TFCA
tahap kedua dilaksanakan melalui program TFCA-Kalimantan. Program ini merupakan bagian dari skema pengalihan hutang
untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dengan tujuan melindungi keanekaragaman hayati secara global, melindungi
karbon hutan, pemanfaatan lestari sumber daya alam, mengurangi emisi jangka panjang dan meningkatkan sumber mata
pencaharian masyarakat dengan cara melindungi hutan Kalimantan secara konsisten.
Pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil (seperti LSM, Ormas, KSM, dan lain-lain), tingkat lokal, dan pihak swasta yang
terkait di kabupaten target.
Hingga 2019
http://tfcakalimantan.org/
4 Kabupaten : Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Mahakam Ulu di Kalimantan Timur; serta Kabupaten Kapuas
Hulu di Kalimantan Barat.

Sumber dana
Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas

LAMPIRAN-LAMPIRAN

C. Tropical Forest Conservation Action for Kalimantan (TFCA-Kalimantan)

Pemerintah Amerika Serikat (USAID) dan Pemerintah Indonesia (Kementrian Kehutanan)

Sumber dana

B. Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera)

Pemerintah Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia (tax reimbursement)

Sumber dana

A. Millennium Challenge Account - Indonesia (MCA-Indonesia)

Donor Tunggal

Peluang dan potensi sumber pendanaan

Lampiran 10.

288
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

289

Kegiatan prioritas

(1) Mendukung pengembangan green economy pada aspek-aspek terkait hutan (2) Perencanaan tata ruang berbasis ekosistem
(3) Pengelolaan sumber daya alam komunitas yang berkelanjutan (4) Pengembangan institusional (5) Produksi yang berkelanjutan
(6) Strategi mendukung spesies kunci (6) Ekowisata berbasis masyarakat (7) Pengembangan kebijakan jangka panjang
(8) Produksi yang berkelanjutan (9) Perikanan air tawar (10) Produk hutan non-kayu (11) Pengelolaan sumber daya alam (12)
Managemen perlindungan hutan.

Multi Stakeholder Forestry Program (MFP) fase 3


Hibah
Tujuan dana hibah adalah mendorong partisipasi dan/atau kolaborasi masyarakat Indonesia, membangun dan meningkatkan
kapasitas kelompok swadaya masyarakat dan organisasi swadaya masyarakat untuk pencapaian rencana dan pelaksanaan
program MFP3 di tingkat nasional maupun lokal, melalui berbagai proses yang lebih partisipatif dan terbuka, seperti
perencanaan, anggaran dan layanan.
Institusi atau organisasi dengan status legal di Indonesia yang mencakup masyarakat sipil atau organisasi massa, lembaga
penelitian atau kebijakan, universitas, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, organisasi kebudayaan, asosiasi profesi, lembaga
pemerintahan, serikat buruh atau serikat pekerja di sektor kehutanan.
Maksimum 3 juta poundsterling
Hingga September 2016, program hibah dilaksanakan selama dan tidak lebih dari 2 tahun.
http://mfp.or.id
Proposal yang diajukan harus memenuhi setidaknya satu sasaran dan prinsip MFP3 yaitu: Memiliki hasil yang diharapkan dan
terhubung dengan sasaran-sasaran MFP3; memiliki komponen cost-share dari sisi pemohon; diserahkan oleh organisasi yang
layak; dan memiliki rekening bank atas nama lembaga.
Legalitas kayu, pengembangan wirausaha kehutanan, akses masyarakat ke hutan.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan

Jumlah
Periode aplikasi
website
Dukungan persiapan
proposal
Kegiatan prioritas

Hibah
Selandia Baru berkomitmen NZD 10.5 juta pada kegiatan peningkatan dan transformasi peningkatan kegiatan panas bumi di
Indonesia. Kegiatan tambahan dengan bantuan senilai NZD 2 juta berupa identifikasi untuk proyek-proyek baru terkait panas
bumi di Indonesia.
Saat ini bekerja sama dengan World Bank, PT. Pertamina, dan Universitas Gajah Mada

NZD 10.5 juta untuk peningkatan dan transformasi peningkatan kegiatan panas bumi di Indonesia selama 5 tahun; NZD 2
juta identifikasi proyek-proyek baru terkait panas bumi di Indonesia; NZD 3 juta dengan program Community Resilience and
Economic Development (CaRED).
http://www.aid.govt.nz/
Sejak 2012, sebanyak 103 industri dan staf universitas menerima pelatihan mengenai panas bumi dari GNS Science dan
Universitas Gajah Mada, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dibidang panas bumi. Program Community Resilience
and Economic Development (CaRED) sedang diimplementasi dengan Universitas Gajah Mada dengan mitra-mitra Selandia Baru,
berfokus pada pengembangan ekonomi secara berkelanjutan, energi terbarukan, managemen risiko bencana, dan pencegahan
konflik.

Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan

Jumlah

Website
Kegiatan prioritas

Pemerintah Amerika Serikat USAid


Indonesia Forest and Climate Support (IFACS) - USAid
Hibah
IFACS adalah project pengelolaan hutan berkelanjutan yang dibentuk untuk membantu Pemerintah Indonesia mengurangi
emisi GHG dari degradasi hutan. Kegiatan ini membantu mitigasi perubahan iklim dan membangun ketahanan lokal terhadap
variabilitas iklim.
Bekerja sama dengan pemerintah lokal, grantees, subkontraktor, dan implementasi secara langsung untuk menjalankan
program.
http://www.ifacs.or.id/
Wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Wilayah kerja di Kalimantan termasuk bentang daratan Ketapang, Kalimantan Timur,
Bentang Daratan Katingan, Kalimantan Tengah.
Kegiatan dan tema project IFACS di Indonesia termasuk diantaranya: (1) Hutan dan dukungan pada iklim: Mengurangi emisi
melalui pengelolaan hutan berkelanjutan (Forest and Climate Support: Reducing Emissions through Sustainable Forest
Management) (2) Konservasi keanekaragaman hayati: perlindungan satwa, tanaman dan ekosistem (Biodiversity Conservation:
Preserving Wildlife, Plants, and Ecosystems) (3) Kajian Lingkungan Hidup Strategis: Menuju pengembangan emisi rendah
(Strategic Environmental Assessments: Moving Toward Low-Emission Development) (4) Praktik pengelolaan terbaik:
Bagaimana bisnis bisa memperoleh keuntungan dari konservasi (Best Management Practices: How Businesses can Benefit
from Conservation) (5) Forum para pihak: platform untuk memberikan masyarakat arahan terhadap kebutuhan mereka di masa
datang (Multi Stakeholder Forums: A Platform to Give People a Say in their Future) (6) Program konservasi kawasan (Landscape
Conservation Plans: A Roadmap to a Sustainable Future).

Sumber dana
Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

LAMPIRAN-LAMPIRAN

F. Indonesia Forest and Climate Support (IFACS) - USAid

Pemerintah Selandia Baru

Sumber dana

E. New Zealand Aid Programme NZAid

Department for International Development (DFID)

Sumber dana

D. Multi Stakeholder Forestry Program (MFP) fase 3

11

290
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

291

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS)/World Bank-Kementrian PU, Kemenkes, Kemndagri,
Bappenas, STBM-Indonesia.
Hibah
Program PAMSIMAS adalah program dan aksi pemerintah pusat dan daerah dengan dukungan Bank Dunia untuk meningkatkan
penyediaan air minum, sanitasi, dan meningkatkan derajat kesahatan masyarakat dalam menurunkan angka penyakit diare dan
lainnya yang ditularkan melalui air dan lingkungan.
US$ 104 juta (AUSAid)
Hingga 2018
http://dfat.gov.au/geo/indonesia/development-assistance/Pages/infrastructure-assistance-in-indonesia.aspx dan http://new.
pamsimas.org/
seluruh Indonesia
Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan lokal, peningkatan kesehatan dan perilaku higienis dan
pelayanan sanitasi, penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum, insentif untuk desa/kelurahan, kabupaten/kota dan
dukungan pelanksaan dan manajemen proyek.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Jumlah
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Program Investasi Kehutanan Proyek I, Strategic Climate Fund


Hibah
Membantu pemerintah Indonesia dalam menyiapkan rencana investasi kehutanan. Kegiatan ini merupakan investasi khusus
berbasis masyarakat untuk mengatasi deforestasi dan degradasi hutan, serta bagaimana kontribusi terhadap penurunan emisi
nasional.
Fokus pada masyarakat desa
US$ 17 juta
5 tahun mulai Juli tahun 2015
Kegiatan terfokus pada 10 desa yang terpilih pada 3 KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) di Kapuas Hulu dan Sintang, Kalimantan
Barat.

Upaya meningkatkan mata pencaharian masyarakat setempat (desa), melalui usaha ekonomi yang berkelanjutan, baik dalam
bentuk kegiatan land-base dan non-land base, untuk mengurangi tekanan terhadap hutan dan menumbuhkan kesadaran
pentingnya menjaga kelestarian hutan bagi semua; membantu upaya provinsi dalam mencapai target pengurangan emisi GRK
dengan cara meningkatkan kapasitas pemerintah Kabupaten dan provinsi di Kalimantan Barat, mempromosikan pengelolaan
hutan lestari, meningkatkan simpanan karbon serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penanggulangan
kemiskinan, peningkatan kualitas hidup untuk masyarakat di sekitar hutan dan perlindungan hak kepemilikan lahan masyarakat
adat, serta meningkakan konservasi keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan
Jumlah
Periode aplikasi
Daerah prioritas

Kegiatan prioritas

Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) - UNDP bertindak sebagai interim fund manager
(1) Innovation Fund: Hibah untuk executing agency dan implementeing agency; (2) Climate partnership fund (CPF) untuk
memfasilitasi proyek-proyek NAMAs (National Apropriate Mitigation Actions) yang dilakukan melalui kemitraan pemerintah,
swasta, dan investor; proyek terintegrasi dengan kerangka kebijakan mitigasi.
ICCTF dibentuk untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia dan pihak terkait dalam penurunan emisi gas rumah kaca,
melindungi pembangunan ekonomi rendah karbon dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. ICCTF bertujuan
mendapatkan, mengatur, dan memobilisasi dana dari berbagai pihak dan menyelaraskannya dengan anggaran Pemerintah
Indonesia.
Institusi pelaksana: pemerintah pusat

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan

Deskripsi

Kelayakan

Hingga 2020 dan akan terus berlanjut


http://www.icctf.or.id
Indonesia
Mitigasi berbasis lahan, energi, adaptasi dan ketahanan

Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Netherlands Minister for Foreign Trade and Development Cooperation, SECO, DANIDA
IDH - The Sustainable Trade Initiative
Co-funding berbentuk hibah.

Sumber dana
Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan

C. IDH-The Sustainable Trade Initiative

Fase awal US$ 10.922.587,65 & SEK 1,000,000

Jumlah

Badan pelaksana: pemerintah pusat dan daerah, LSM, kelompok masyarakat, swasta, universitas, dan lembaga penelitian nonpemerintah.

DFID, AusAID, SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency). Proyeksi sumber dana selanjutnya akan berasal
dari APBN, proyek bersama (co-finance) dengan pihak swasta, CSR, International Climate Funds (seperti Adaptation Fund dan
Green Climate Fund)

Sumber dana

LAMPIRAN-LAMPIRAN

B. Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)

Asian Development Bank (ADB), World Bank, dan International Finance Corporation (IFC)

Sumber dana

A. Program Investasi Kehutanan Proyek I, Strategic Climate Fund

Multidonor

Hibah AUSAid dan APBN-Rupiah murni. Setelah pendanaan selesai, daerah diharapkan melanjutkan dengan dana APBD.

Sumber dana

G. Pendanaan Pemerintah Australia AUSAid (bidang sosial)

292
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

293

IDH bekerja sama dengan partner seperti LSM, Universitas, Badan pemerintah, dan institusi riset.
155 juta co-funding dari Pemerintah Belanda, Swiss, dan Denmark, serta pihak swasta yang terlibat.
Kelapa sawit (2012 2020). N/A untuk sektor lain.
http://www.idhsustainabletrade.com/
Kelapa sawit (Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat). Tambang timah (Bangka-Belitung) Coklat
(Sumatera Barat).
IDH bekerja pada sektor kelapa sawit, teh, pulp dan kertas, cokelat, dan timah.

Kelayakan
Jumlah
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Transforming the Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes/Implementing agency: UNDP;
Implementing partner: Ditjen PHKA, Kemenhut Indonesia. Executing agency/leading partner: Sumatran Tiger Conservation
Forum (HarimauKita), Wildlife Conservation Society (WCS), Fauna & Flora International (FFI), dan Zoological Society of London
(ZSL).
Hibah
Kegiatan ini bertujuan pada isu-isu institusional untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati dengan prioritas
kawasan Sumatera dengan mengadopsi praktik-praktik managemen yang terbaik di kawasan konservasi dan kawasan produksi
di sekitarnya, dengan menggunakan pemulihan harimau sebagai indikator kesuksesan kunci.
US$ 9 Juta
Dalam proses inisiasi kegiatan
https://www.thegef.org/
Kegiatan fokus pada empat taman nasional (Kerinci Seblat, Bukit Barisan Selatan, Leuser, dan Berbak-Sembilang) dan kawasan di
sekitar (5.49 juta hektar), serta kawasan Kampar-Kerumutan (0,98 juta hektar).

Proyek ini fokus pada tiga tingkatan aktivitas: (1) masing-masing kawasan konservasi akan menerima training dan dukungan
untuk penguatan managemen secara institusional (teknis, administrasi, dan finansial), dan prioritas terhadap aktivitas inti mereka;
(2) pada kawasan sekitar akan ditargetkan untuk peningkatan kordinasi dan kerja sama antara pemerintah dan organisasi
masyarakat untuk secara bersama menghadapi pelanggaran terhadap sumber daya alam, terutama perdagangan satwa ilegal,
dan; (3) dukungan secara nasional akan diberikan untuk koordinasi implementasi proyek secara efektif.

Nama pendanaan/Institusi

Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Jumlah
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas

Kegiatan prioritas

Sustainable Management of Petland Ecosystems in Indonesia (2014-2018)/Implementing agency: IFAD; implementing partner:
KemenLH, sekretariat ASEAN, Global Environment Centre, dan pemerintah lokal.
Hibah
Kegiatan ini berfokus pada konservasi dan secara signifikan akan mengurangi emisi GHG di kawasan lahan gambut melalui
pengelolaan kawasan gambut secara berkelanjutan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang menetap di
kawasan sekitar.
US$ 4.766.756
Dalam proses inisiasi kegiatan
https://www.thegef.org/
Provinsi Riau (Kabupaten Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Dumai, dan Bengkalis)
Kegiatan fokus pada peningkatan kapasitas untuk managemen lahan gambut yang lebih berkelanjutan, mengurangi degradasi
lahan gambut dan kebakaran lahan untuk mengurangi polusi asap dan emisi GHG, dan manajemen kawasan lahan gambut
secara berkelanjutan yang terintegrasi.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Jumlah
Periode aplikasi
website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Corporate Social Responsibility Wilmar


Sustainability/Wilmar
Hibah, penyediaan fasilitas
Menerapkan strategi no deforestation, no peat, dan no exploitation policy pada perusahaan
Pemerintah daerah, LSM
http://www.wilmar-international.com/sustainability/
Kawasan HCV milik Wilmar dan kawasan sekitar operasional perusahaan

Sumber dana
Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi
Kelayakan
Website
Daerah prioritas

A. Corporate Social Responsibility Wilmar

Corporate Social Responsibility

GEF (Global Environment Facility) Trust Fund

Sumber dana

LAMPIRAN-LAMPIRAN

E. Sustainable Management of Petland Ecosystems in Indonesia (2014-2018)

GEF (Global Environment Facility) Trust Fund

Sumber dana

D. Transforming the Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes

IDH adalah kemitraan publik dan swasta untuk menyatukan kepentingan public, yaitu penanggulangan kemiskinan/pertumbuhan
ekonomi, perlindungan lingkungan, dan akses geopolitik kepada sumber-sumber daya, dan kepentingan pihak swasta,
seperti perizininan pengoperasian dan akses terhadap suplai. Hal ini diarahkan untuk menghasilkan komoditas produksi yang
berkelanjutan. Kerja sama publik dan swasta ini membawa dana, entrepreneurship, hukum, legislasi/perundang-undangan,
regulasi, keterampilan teknis (know-how), jaringan, keahlian lokal, dan kredibilitas pada program-program yang dikembangkan.

Deskripsi

294
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

295

(1) Memasang camera trap di perkebunan Wilmar di Indonesia dan Malaysia untuk survei spesies di HCV Wilmar. Training kepada
staf untuk kemampuan menggunakan kamera tersebut; (2) Memasang penampang lintang (transects) di seluruh kawasan HCV
milik Wilmar untuk memonitor populasi orangutan dan mengurangi dampak risiko terhadap populasi tersebut ; (3) Kolaborasi
dengan Borneo Orangutan Survavival Foundation (BOSF) dan Gubernur Kalimantan Tengah untuk mengembangkan praktik
managemen terbaik untuk konservasi orangutan di kawasan perkebunan kelapa sawit yang berakhir 31 desember 2012;
(4) Bekerja sama dengan Orangutan Land Trust, organisasi non-profit dengan fokus mendukung pelestarian, restorasi dan
perlindungan lahan di mana orangutan hidup atau pernah hidup di masa lalu; (5) Bekerja sama dengan Zoological Society of
London dalam program Biodiversity and Agricultural Commodities Programme (BACP) di Kalimantan Tengah dan Sumatera; (6)
Program rehabilitasi gibbon di Sumatera bersama Yayasan Kalaweit Indonesia yang mensurvei 2.200 hektar HCV milik Wilmar di
perkebunan di Padang, Sumatera sebagai lahan untuk melepas-liar gibbon.

Corporate Social Responsibility PT Sarana Multi Infrastruktur


Tipe pendanaan: Bantuan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur melalui program kemitraan dan bina lingkungan,
dengan salah satu fokus : pelestarian alam/environmental preservation.
Hibah, penyediaan fasilitas
PT Sarana Multi Infrastruktur berdiri pada tahun 2009 dengan 100% saham milik Pemerintah Republik Indonesia melalui
Kementrian Keuangan. PT SMI berperan sebagai katalis dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia dengan
kegiatan utama jasa pembiayaan dan investasi, jasa konsultasi, dan jasa pengembangan proyek untuk proyek-proyek
infrastruktur di Indonesia.
Program CSR dapat dilakukan melalui pihak ketiga
www.ptsmi.co.id
Seluruh Indonesia
Kegiatan pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan pelestarian alam, bencana alam, peningkatan kesehatan, sarana
dan prasarana umum, pendidikan dan pelatihan, serta sarana ibadah.

Nama pendanaan/Institusi

Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

CSR Chevron
Hibah, penyediaan fasilitas

Prinsip CSR dengan memberikan energi secara bertanggung jawab sekaligus melindungi alam, dan bekerja sama dengan mitramitra memperkuat komunitas.
Bekerja sama dengan pihak ketiga untuk implementasi
http://www.chevron.com/corporateresponsibility/
Kegiatan dilakukan di sekitar kawasan eksplorasi dan produksi Chevron Indonesia beroperasi di Rokan Sumatera serta lepas
pantai Kalimantan Timur. Serta project eksplorasi panas bumi Darajat dan Salak di wilayah Jawa Barat.
(1) Bekerja sama dengan majalah nasional Geographic Indonesia memproduksi peta wisata untuk mempromosikan ekosistem
laut di Kepulauan Berau, dimana kawasan ini termasuk Pulau Derawan, rumah bagi penyu hijau yang terancam punah; (2)
Rehabilitasi Taman Kota Balikpapan Telaga Sari dengan membangun Pusat Pendidikan hutan dan melakukan penanaman pohon;
(3) Bekerja sama dengan Yayasan KEHATI mengembangkan ekowisata di Pulau Maratua (Marine Ecotourism and Sustainable
Small Island) sejak Januari 2015

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan

Deskripsi
Kelayakan
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Corporate Social Responsibility ConocoPhillips


Hibah, penyediaan fasilitas
Konsep CSR ConocoPhillips terkait pembangunan berkelanjutan berarti melakukan usaha untuk mempromosikan
pengembangan perekonomian, lingkungan yang sehat, dan masyarakat yang giat.
Program dapat dilakukan pihak ketiga
http://www.conocophillips.com/sustainable-development/
Sekitar kawasan operasional di Sumatera
(1) ConocoPhillips bekerja sama dengan Conservation International (CI) untuk mendampingi mitra-mitra di Indonesia bagian
barat dengan ilmu pengetahuan, sistem managemen, dan keterampilan untuk melestarikan secara efektif dan mengelola
ekosistem Kepulauan Natuna dan Anambas (2) Salah satu program Action Plan 2014 2016 adalah memperbaharui index
pemetaan sensitivitas lingkungan pada wilayah operasi di lepas pantai dan dalam kawasan daratan di Indonesia (3) Melakukan
pengembangan ekonomi di Sumatera Selatan, Jambi, dan Kepulauan Riau dengan mengimplementasi program penanaman
karet untuk petani lokal dan pengembangan pada program di sektor perikanan.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi
Kelayakan
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Pemerintah Denmark melalui DANIDA


Environmental Support Program (ESP3)

Sumber dana
Nama pendanaan/Institusi

A. Environmental Support Program (ESP3) DANIDA

REDD+

Program CSR ConocoPhillips

Sumber dana

LAMPIRAN-LAMPIRAN

D. Corporate Social Responsibility ConocoPhillips

Program CSR Chevron

Sumber dana

C. Corporate Social Responsibility - Chevron Indonesia

Laba perseroan yang dilokasi untuk program CSR PT SMI

Sumber dana

B. Corporate Social Responsibility PT Sarana Multi Infrastruktur

Kegiatan prioritas

296
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

297

Kegiatan yang bertujuan meminimalisir perubahan iklim dan mempersiapkan Indonesia dalam menghadapi konsekuensi
pemanasan global. ESP3 bertujuan untuk mendukung pengelolaan lingkungan, energi, dan sumber daya alam pada masyarakat
lokal. Kegiatan inti adalah transfer, adopsi, dan adaptasi pengetahuan dengan identifikasi, analisis, presentasi, dan diseminasi
informasi para pihak dan multisektor yang kompleks.
Pemerintah pusat (kementrian) dan daerah, serta LSM.
DKK 270 Juta (US$ 50 Juta)
Hingga 2017
http://www.esp3.org/
Tingkat nasional dan tingkat daerah di Sumatera dan Kalimantan
(i) Meningkatkan kapasitas pemerintah pusat dan daerah agar dapat memenuhi tugas mereka dalam mengimplementasi,
promosi, dan kordinasi pada isu-isu lingkungan di berbagai sektor; (ii) Energy Efficiency and Conservation Clearing House
(EECCH) pada tingkat nasional, serta identifikasi untuk implementasi pada tingkat lokal; (iii) Kerja sama langsung dengan LSM
atau melalui Kementrian PPN/Bappenas dan Kementrian Kehutanan. Kegiatan diantaranya: mendukung tujuan Rainforest
bersama Burung Indonesia, aksi mitigasi lokal yang tepat bersama World Agroforestry Center (ICRAF), fasilitas dukungan REDD+
bersama World Bank, FSC sertifikasi skala besar bersama Borneo Initiatives, dan dukungan program investasi hutan Indonesia
bersama World Bank.

Deskripsi

Kelayakan
Jumlah
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas
Kegiatan prioritas

Forests and Climate Change Program (FORCLIME)/GIZ dengan Kemenhut


Hibah
Program ini bertujuan untuk mengurangi emisi GHG dari sektor kehutanan dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
miskin di kawasan perdesaan Indonesia. Program ini membantu Pemerintah Indonesia untuk mendesain dan mengimplementasi
aspek hukum, kebijakan, dan reformasi institusional untuk konservasi dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan di tingkat
lokal, provinsi, dan nasional. Salah satu aktivitas kuncinya adalah mendukung para pengambil kebijakan dengan pengalaman
bagaimana REDD+ diimplementasi di level paling dasar.
Mendukung Pusdiklat Kementrian Kehutanan, berkolaborasi dengan LSM, dan sektor swasta.
20 Juta
Hingga 2020
http://www.forclime.org
Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Malinau (Kalimantan Utara), dan Berau (Kalimantan Timur)

(1) Kerangka kebijakan tingkat nasional dan sub-nasional (kebijakan bidang kehutanan) untuk melengkapi sektor kehutanan dan
perencanaan jangka menengah guna memenuhi persyaratan pengurangan emisi GHG, tata kelola hutan, dan pengembangan
berkelanjutan; (2) Pengembangan Forest Management Unit (FMU) pada level lokal dan nasional; (3) Pengelolaan hutan yang
berkelanjutan (SFM), bekerja sama dengan sektor swasta asosiasi pemegang konsesi hutan untuk meningkatkan kesadaran
akan pentingnya hutan dalam konteks REDD+ dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan (SFM); (4) Green economy; dan (5)
Pengembangan kapasitas manusia dengan membantu pengembangan kapasitas sumber daya manusia pada level nasional dan
sub-nasional untuk mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Kelayakan
Jumlah
Periode aplikasi
Website
Daerah prioritas

Kegiatan prioritas

Funds for REDD+ Indonesia (FREDDI)


Hibah untuk program, proyek, dan aktivitas, pinjaman (loan), investasi (equity investment), performance base, serta perantara
dagang (trade intermediary).
Berperan sebagai sumber pendanaan kunci bagi implementasi strategi nasional REDD+, saat ini sedang dalam proses untuk
memulai kegiatan. Pelaksanaan REDD+ dan strategi nasional memiliki 5 landasan: Kelembagaan dan proses, kerangka peraturan
dan regulasi, program strategis, pergeseran paradigma dan budaya kerja, dan keterlibatan para pihak.
USD 10 milyar
Dalam proses pembuatan
11 provinsi dengan Kalimantan Tengah sebagai provinsi pilot. Provinsi lainnya berperan sebagai provinsi mitra dengan
mendukung pengembangan strategi REDD+ dan rencana aksi serta pemetaan di masing-masing Provinsi (mulai dari Jambi,
Sumsel, Riau, Kaltim, Papua, Sumbar, dan Sulawesi Tengah).
Fokus kegiatan untuk hibah adalah kesiapan, infrastruktur, pengingkatan kapasitas. Kegiatan yang akan didanai termasuk inisiatif
nasional dan keadaan darurat, serta inisiatif subnasional yang akan diseleksi secara kompetitif.

Nama pendanaan/Institusi
Mekanisme pendanaan
Deskripsi

Jumlah
Website
Daerah prioritas

Kegiatan prioritas

Institutional donors: Adessium Foundation, IDH, National Postcode Loterij; corporate donors; housing corporations fund.
The Borneo Initiatives International Platform for SVLK/PHPL and FSC Forest Certification Initiatives in Indonesia

Subsidi dalam bentuk cicilan, berdasarkan tiga tahap: The scoping phase, certification phase, dan surveillance phase, tidak dibayarkan langsung
kepada pihak penerima bantuan tapi kepada pihak ketiga penyedia jasa terkait.

Sumber dana
Nama
pendanaan/
Institusi
Mekanisme
pendanaan

The Borneo Initiatives

PES

Mobilisasi pendanaan: Norway USD 1 milyar, sektor publik lain USD 2 milyar, dan swasta USD 7 milyar.

Sumber dana

LAMPIRAN-LAMPIRAN

C. Funds for REDD+ Indonesia (FREDDI)

Bank Pembangunan Jerman KfW dengan dana dari The Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ)

Sumber dana

B. Forests and Climate Change Program (FORCLIME)

Hibah

Mekanisme pendanaan

298
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KONSERVASI BENTANG ALAM SKALA BESAR DI SUMATERA DAN KALIMANTAN

299

The Borneo Initiatives memiliki misi mencegah deforestasi atau degradasi hutan tropis karena eksploitasi yang berlebihan. Target TBI adalah
meningkatkan kawasan hutan yang bersertifikat di Indonesia dari 1.1 juta hektar tahun 2009 dan 4 juta hektar pada akhir 2013; hingga 5 juta hektar
pada akhir 2014 dan 9 juta hektar pada 2016. TBI menawarkan subsidi pada pengusahaan hutan (misal pemilik konsesi hutan); pengusaha hutan
dapat menggunakan pendanaan tersebut untuk membayar sertifikasi tertentu. TBI menghubungkan pemain pada dua ujung rantai pemasaran
yang memerlukan kolaborasi untuk memobilisasi rantai komoditas, yaitu pemasok kayu di Indonesia dan pengguna akhir produk kayu tropis di
Eropa atau Amerika Serikat.

TBI memberikan prioritas kepada pengusahaan hutan dengan luas kawasan pengelolaan menengah hingga luas dengan cakupan kawasan
> 75.000 hektar. Menawarkan dukungan finansial untuk perusahaan pengelola hutan sebesar US$ 2 per hektar. Batasan maksimum bantuan
sebanyak US$ 300.000. Jika ada perusahaan dengan wilayah 150.000 hektar atau lebih, bantuan maksimum tetap US$ 300.000. TBI juga akan
mempertimbangkan bantuan dengan basis US$ 3 per hektar dengan maksimum bantuan US$ 150.000 per kasus tertentu dengan perusahaan
yang memiliki areal 35.000 75.000 hektar.

US$ 2 per hektar maksimum US$ 300.000 untuk areal > 75.000 hektar; dan US$3 per hektar maksimum US$ 150.000 untuk areal 35.000
75.000 hektar.

http://www.theborneoinitiative.org/

Kalimantan, Indonesia

Membantu mitra-mitra untuk mendapatkan dan mempertahankan SVLK/PHPL dan sertifikasi pengelolaan kawasan hutan FSC (dengan program
ForCES Forest certification for ecosystem services).

Deskripsi

Kelayakan

Jumlah

Website

Daerah
prioritas

Kegiatan
prioritas

300
LAMPIRAN-LAMPIRAN