Anda di halaman 1dari 25

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Crude oil atau Minyak mentah
Crude oil minyak mentah adalah merupakan cairan kental, berwarna coklat
gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa
area

di kerak bumi.

Minyak

bumi

terdiri

dari

campuran

kompleks

dari

berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan,
komposisi, dan kemurniannya. Sifat-sifatnya amat bervariasi dari ladang minyak yang
satu ke ladang yang lain, bahkan dari sumur yang satu ke sumur yang lain meskipun
dalam satu ladang. Karena crude oil mempunyai komposisi kimia yang praktis
jumlahnya tak terhingga, maka didalam mengklasifikasikan crude oil hingga saat ini
dilakukan dengan menggunakan metoda pendekatan. Adapun metoda yang biasa
digunakan adalah seperti berikut:
Klasifikasi Crude Oil
2.2 Klasifikasi berdasarkan API gravity
Metoda ini digunakan karena ada kecenderungan bahwa jika API (American
Petroleoum Institute) gravity crude oil tinggi maka crude oil tersebut mengandung
fraksi ringan dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu crude oil yang mempunyai API
gravity yang tinggi harga pasarannya lebih tinggi, sebab banyak mengandung fraksi
ringan (seperti gasoline dan kerosene) sedangkan residunya relative sedikit.
Berdasarkan API gravity,

maka crude oil dibagi dalam 5 jenis:


Jenis API Gravity
Ringan > 39,0
Ringan-sedang 39,0 - 35,0
Berat-sedang 35,0 - 32,1
Berat 32,1 - 24,8
Sangat berat < 24,8
2.3 Klasifikasi berdasarkan kandungan parafin dan aspal
Menurut klasifikasi ini maka crude oil dibagi menjadi 4 golongan seperti berikut:
- Crude oil dasar parafin
- Crude oil dasar aspal
- Crude oil dasar campuran
- Crude oil dasar aromatik.
Sifat-sifat umum minyak bumi
Walupun crude oil mempunyai komposisi yang berbeda, tetapi berdasarkan golongan
tertentu didapat sifat-sifat umumnya seperti berikut:
Sifat-sifat Dasar parafin Dasar naften
API gravity Tinggi Rendah
Kandungan nafta Rendah Tinggi
Angka oktan Rendah Tinggi
Titik asap kerosene Tinggi Rendah
Angka cetan solar Tinggi Rendah

Titik tuang minyak pelumasTinggi Rendah


Indeks viskositas Tinggi Rendah

2.4 Pengolahan Crude oil


Minyak bumi biasanya berada 3-4 km di bawah permukaan. Di Indonesia
penambangan minyak terdapat di berbagai tempat, misalnya Aceh, Sumatera Utara ,
Kalimantan , dan Irian Jaya. Minyak mentah (crude oil) berbentuk cairan kental hitam
dan berbau kurang sedap. Minyak mentah belum dapat digunakan sebagai bahan bakar
maupun untuk keperluan lainnya, tetapi harus diolah terlebih dahulu. Minyak mentah
(cruide oil) mengandung sekitar 500 jenis hidrokarbon dengan jumlah atom C-1
hinggga 50, karena titik didih karbon telah meningkat seiring bertambahnya jumlah
atom C dalam molekulnya. Oleh karena itu, pengolahan (pemurnian = refining) minyak
bumi dilakukan melalui distilasi bertingkat, dimana minyak mentah dipisahkan ke
dalam kelompok-kelompok (fraksi) dengan titik didih yang mirip. Mula-mula minyak
mentah

pada

suhu

sekitar

400C,

kemudian

dialirkan

ke

dalam

menara

fraksionasi. Komponen yang titik didihnya tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke
bawah,sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian
atas melalui sungkup- sungkup yang disebut sungkup gelembung. Makin ke atas, suhu
dalam menara fraksionasi itu semakin rendah. Sehingga setiap kali komponen dengan
titik didih lebih tinggi akan mengembun dan terpisah, sedangkan komponen yang titik
didihnya lebih rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian selanjutnya
sehingga komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen yang pada suhu

kamar berupa gas. Komponen yang berupa gas ini disebut gas petroleum, kemudian
dicairkan dan disebut LPG (Liquified Petroleum Gas).

Gambar 2.1 Pengolahan Minyak Mentah Menggunakan Heat Exchanger


(Sumber : http://www.titanmf.com/)
PROSES PERALATAN
1. Heat Exchanger
Heat Exchanger berfungsi sebagai alat penukar panas antara minyak mentah
yang akan masuk ke furnace dengan residu yang akan masuk ke cooler sehingga
panas yang terkandung dalam residu dapat dimanfaatkan untuk menaikkan suhu
minyak mentah dan beban furnace menjadi lebih ringan. Jenis HE yang
digunakan adalah Shell and Tube Heat Exchanger.

2. Furnace
Furnace merupakan dapur pemanas yang berfungsi untuk memanaskan minyak
mentah sampai suhu tertentu. Di sini maksimal suhu yang diperbolehkan adalah
350oC, karena bila lebih dari 350oC dapat terjadi proses cracking atau rengkahan
yang besar pada minyak bumi tersebut.

Gambar 2.2 dapur pemanas crude oil


(Sumber : http://heat-transfer-industrial-systems.com/ )
3. Evaporator
Evaporator berfungsi sebagai alat pemisah antara fraksi ringan dan fraksi berat yang
tercampur di dalam minyak mentah dengan cara penguapan yang sebelumnya telah
mendapat pemanasan di dalam furnace. Fraksi ringan di sini berbentuk uap dan fraksi
berat berbentuk cair. Fase uap akan keluar melalui bagian puncak evaporator sebagai
campuran minyak bumi sedangkan fase cair keluar melalui bagian dasar evaporator
sebagai

residu.

Evaporator dipasang vertikal. Untuk memudahkan pemisahan dengan cara penguapan


maka dapat disuntikkan steam dari bagian bawah evaporator. Penyuntikan steam ini

10

berfungsi untuk menurunkan tekanan parsial komponen-komponen hidrokarbon


sehingga penguapan lebih mudah.
2.5 Hasil-hasil pengolahan Crude Oil
Dari pengolahan crude oil dihasilkan berbagai macam produk yang berupa minyak
cair maupun gas. Minyak dan gas hasil pengolahan didapatkan dari rentetan prosesproses pengolahan dan proses pencampuran untuk mendapatkan produk minyak sesuai
spesifikasi

dengan

yang

telah

ditentukan

oleh

sarat-sarat

penggunaannya.

Adapun produk yang dihasilkan dari pengolahan crude oil adalah:


a.

Liquified Petroleum Gas


Liquified Petroleum Gas (LPG) pada umumnya terdiri dari komponen-komponen

utama propana dan butana yang dicairkan pada suhu kamar dan tekanan sedang (95 psi).
LPG mengandung sejumlah kecil zat aroma yang sengaja diberikan untuk mengetahui
adanya kebocoran.
LPG banyak digunakan untuk:
- Bahan bakar rumah tangga dan industri.
- Bahan bakar mesin-mesin internal combustion.
- Bahan baku industri petrokimia.

11

b. Motor gasolin
Motor gasolin atau biasa disebut bensin adalah campuran kompleks senyawa
hidrokarbon yang mempunyai titik didih antara 40 - 200 oC dan dipergunakan sebagai
bahan bakar motor-motor yang menggunakan busi (spark ignation engines).
Di Indonesia menghasilkan 2 macam gasoline:

Bensin premium dengan angka oktan minimum 87 dan diberi warna kuning
sebagai warna pengenalnya.

Premix sebagai pengganti bensin super dengan angka oktan minimum 98 dan
diberi warna merah sebagai warna pengenalnya.

c.Kerosene
Kerosene adalah fraksi minyak bumi yang lebih berat dari pada bensin dan mempunyai
daerah titik didih 150 - 250 oC. Kerosene dipakai sebagai bahan bakar lampu
penerangan dan bahan bakar kompor untuk rumah tangga. Karena penggunaa utamanya
untuk bahan bakar lampu penerangan, maka kerosene harus memberikan intensitas
nyala yang baik dan sedikit mungkin timbulnya asap.
Minyak
Minyak diesel adalah fraksi minyak bumi yang mempunyai trayek titik didih antara 200
- 350 oC dan digunakan untuk bahan bakar mesin diesel. Mesin diesel sistem
penyalaannya tidak menggunakan busi, tetapi penyalaannya terjadi karena suhu tinggi
yang dihasilkan dari pemampatannya dengan udara didalam silinder mesin. Oleh karena
itu mesin diesel dirancang dengan perbandingan kompresi (compression ratio) yang
tinggi (diatas 12 : 1). Tekanan kompresi bisa mencapi 400 - 700 psi dan suhu udara

12

setelah dimampatkan mencapai 1000 oF atau lebih. Supaya bahan bakar diesel dapat
masuk kedalam silinder yang berisi udara bertekanan tinggi, maka bahan bakar harus
ditekan dengan pompa injektor sampai 20000 psi.
d. Aspal
Aspal adalah bitumen setengah padat atau padat yang berwarna hitam yang berasal
dari minyak bumi. Aspal terdiri dari partikel-partikel koloid yang disebut aspalten yang
terdispersi didalam resin dan konstituen minyak. Aspal dapat dipisahkan dengan jalan
melaritkan nafta. Aspalten yang tidak larut akan mengendap sebagai serbuk berwarna
coklat atau hitam. Aspal mempunyai sifat adhesif/lengket dan kohesif (melawan
tarikan), tahan terhadap air, tidak terpengaruh oleh asam maupun basa. Aspal digunakan
untuk perekat pada konstruksi pengerasan jalan, untuk atap, melapisi saluran pipa
sebagai bahan pelindung.
e. Bahan-bahan Petrokimia
Banyak bahan petrokimia yang dapat dihasilkan untuk menunjang industri-industri
lain seperti textil, pertanian dan lain sebagainya
2.6 Heat Exchanger
Heat Exchanger adalah alat penukar panas yang berfungsi untuk mengubah
temperatur dan fasa suatu jenis fluida. Proses tersebut terjadi dengan memanfaatkan
proses perpindahan kalor dari fluida bersuhu tinggi menuju fluida bersuhu rendah.
Di dalam dunia industri peran dari heat exchanger sangat penting. Misal dalam
industri pembangkit tenaga listrik, heat exchanger berperan dalam peningkatan efisiensi
sistem. Contohnya adalah ekonomizer, yaitu alat penukar kalor yang berfungsi
memanaskan feed water sebelum masuk ke boiler menggunakan panas dari exhaust gas
(gas buang). Selain itu heat exchanger juga merupakan komponen utama dalam sistem
mesin pendingin, yaitu berupa evaporator dan condenser.

13

Kemampuan untuk menerima panas suatu heat exchanger dipengaruhi oleh 3 hal :

1. Koefisien overall perpindahan panas (U)


Menyatakan mudah atau tidaknya panas berpindah dari fluida panas ke fluida
dingin dan juga menyatakan aliran panas menyeluruh sebagai gabungan proses
konduksi dan konveksi.
2. Luas bidang yang tegak lurus terhadap arah perpindahan panas
3. Selisih beda temperatur rata-rata logaritmik (T LMTD)
LMTD merupakan perbedaan temperatur yang dipukul rata-rata setiap bagian HE.
Karena perbedaan temperatur di setiap bagian HE tidak sama.
Alat ini menjalankan dua fungsi yaitu :
1. memanfaatkan fluida dingin
2. menggunakan fluida panas yang didinginkan
Hampir tidak ada panas yang hilang di dalam perpindahan panas. Tipe heat exchanger
yang banyak digunakan adalah
1). Tipe shell and tube
Tipe ini mempunyai luas penampang perpindahan panas yang besar jika dibandingkan
dengan tipe double pipe. Oleh karena itu tipe ini banyak digunakan dalam industri
minyak dan gas bumi.
2). Tipe double pipe
Tipe ini dipergunakan bila aliran fluida tidak terlalu banyak (luas perpindahan panasnya
tidak terlalu besar). Tipe ini akan lebih efektif bila digunakan dengan memakai sirip
(fin), apabila fluida berbentuk vapor atau viscous.
a. Mekanisme perpindahan panas :
1. Konduksi : perpindahan panas melalui suatu benda oleh perpindahan momentum
dari molekul atau atom tanpa proses pencampuran.

14

Contoh : aliran panas melalui dinding pipa


2. Konveksi : perpindahan panas dari fluida panas kebagian yang dingin degan
pengadukan.
Contoh : memasak air
3. Radiasi : proses aliran panas dari fluida yang bersuhu tinggi ke fluida yang
bersuhu rendah bila fluida tersebut terpisah dalam suatu ruang tanpa
menggunakan medium.
b.

Alat penukar panas :

Alat yang difungsikan untuk mengakomodasikan perpindahan panas dari fluida panas
ke fluida dingin dengan adanya perbedaan temperatur.
Karena panas yang dipertukarkan terjadi dalam sebuah sistem maka kehilangan panas
dari suatu benda akan sama dengan panas yang diterima benda lain.
2.7 Shell and Tube Heat Exchanger
Shell and Tube Heat Exchanger merupakan salah satu jenis heat exchanger. Jika
aliran yang terjadi sangat besar, maka digunakan shell and tube heat exchanger, dimana
exchanger ini adalah yang biasa digunakan dalam proses industri.
Exchanger ini memiliki aliran yang terus menerus. Banyak tube yang dipasang
secara paralel dan di dalam tube-tube ini fluida mengalir. Tube-tube ini disusun secara
paralel berdekatan satu sama lain di dalam sebuah shell dan fluida yang lain mengalir di
luar tube-tube, tetapi masih dalam shell.

15

2.8 Bagian bagian Shell and Tube Heat Exchanger

Gambar 2.3 Komponen Heat Exchanger Sheel and Tube


(Sumber : http://korogroup.darkbb.com/)

Secara keseluruhan komponen utama penyusun shell and tube heat exchanger
adalah:

1. Shell
Biasanya berbentuk silinder yang berisi tube bundle sekaligus sebagai wadah
mengalirnya zat.
2. Head stationer
Head stationer merupakan salah satu bagian ujung dari penukar panas. Pada
bagian ini terdapat saluran masuk fluida yang mengalir ke dalam tube.
3. Head bagian belakang
Head bagian belakang ini terletak diujung lain dari alat penukar panas
4. Sekat (baffle)
Sekat digunakan untuk membelokkan atau membagi aliran dari fluida dalam
alat penukar panas. Untuk menentukan sekat diperlukan pertimbangan teknis
dan operasional.

16

Macam-macam baffle yaitu:


a) Horizontal cut baffle
Baik untuk semua fase gas atau fase liquid dalam shell.
Baik ada dissolves gas dalam liquid yang dapat dilepaskan dalam
heat exchanger maka perlu diberi notches dalam baffle.
b) Vertical cut baffle
Baik untuk liquid yang membawa suspended matter atau yang heavy
fouling fluida.
c) Disc and doughtnut baffle
Fluida harus bersih, bila tidak akan terbentuk sediment dibelokkan
doughtnut
Kurang baik, sebab bila ada dissolved gas yang terlepas, bisa
dilepaskan melalui top dari doughtnut, bila ada kondensat liquid
tidak dapat di drain tanpa large ports pada doughtnut.
d) Baffle dengan annular orifice
Baffel ini jarang digunakan kerena terdiri dari full circular plate
dengan lubang-lubang untuk semua tube.
e) Longitudinal baffle
Digunakan pada shell side untuk membagi aliran shell side menjadi
dua atau beberapa bagian untuk memberikan kecepatan yang lebih
tinggi untuk perpindahan panas yang lebih baik.
5. Tube
Tube merupakan pemisah dan sebagai pengantar panas yang berbeda
suhunya diantara dua zat yang berada di dalam suatu alat. Pemilihan tube ini
harus sesuai dengan suhu, tekanan, dan sifat korosi fluida yang mengalir.
Tube ada dua macam, yaitu tube polos (bare tube) dan tube bersirip (finned
tube)
6. Tube sheet
Berfungsi sebagai tempat duduk tube bundle pada shell

17

7. Channel and pass partition


Channel merupakan tempat keluar masuknya fluida pada tube, sedangkan
pass partition merupakan pembatas antara fluida yang masuk dan keluar
tube.
8. Shell cover and channel cover
Shell cover and channel cover adalah tutup yang dapat dibuka pada saat
pembersihan.

2.9 Konstruksi dari heat exchanger jenis ini sangat banyak, antara lain :
1. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi pipa U (U tube type).
2. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi dua pipa (double pipe
type). Pada jenis ini setiap tabung berisi berkas pipa masing-masing.
3. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi floating tube sheet
artinya salah satu pelat pemegang pipa-pipa pada kedua ujung pipa dapat
bergerak relatif terhadap satunya karena tidak terjepit oleh flens
(mengambang).
4. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi fixed tube sheet artinya
pelat pemegang pipa-pipa pada kedua ujung pipa, keduanya memiliki
konstruksi yang tetap (tidak dapat bergeser secara aksial dalam arah sumbu
tabung relative antara satu sisi dengan sisi lainnya).
Pergerakan relative ini dimaksudkan sebagai kompensasi akibat pertambahan
panjang bila terjadi perubahan temperatur pada pipa sehingga tidak memberikan
tambahan beban gaya pada baut pengencang flens tabung di luar pipa. Hal ini selain
untuk alasan kekuatan bahan juga dimaksudkan untuk keamanan dalam hal menghindari
kebocoran.
Pada heat exchanger diameter tabung tidak sama sepanjang penukar kalor.
Pebesaran diameter dimaksudkan untuk menampung perubahan fasa dari fluida yang
berada di luar pipa dan di dalam tabung. Alat ini diaplikasikan untuk proses penguapan
atau pendidihan fluida di luar pipa. Jenis ini sering disebut dengan jenis ketel (kettle).

18

2.10 Penentuan fluida dalam shell atau tube :


1. Fluida bertekanan tinggi dialirkan di dalam tube karena tube standar cukup
kuat menahan tekanan yang tinggi.
2. Fluida berpotensi fouling dialirkan di dalam tube agar pembersihan lebih
mudah dilakukan.
3. Fluida korosif dialirkan di dalam tube karena pengaliran di dalam shell
membutuhkan bahan konstruksi yang mahal yang lebih banyak.
4. Fluida bertemperatur tinggi dan diinginkan untuk memanfaatkan panasnya
dialirkan di dalam tube karena dengan ini kehilangan panas dapat
dihindarkan.
5. Fluida dengan viscositas yang lebih rendah dialirkan di dalam tube karena
pengaliran fluida dengan viscositas tinggi di dalam penampang alir yang
kecil membutuhkan energi yang lebih besar.
6. Fluida dengan viskositas tinggi ditempatkan di shell karena dapat digunakan
baffle untuk menambah laju perpindahan.
7. Fluida dengan laju alir rendah dialirkan di dalam tube. Diameter tube yang
kecil menyebabkan kecepatan linier fluida (velocity) masih cukup tinggi,
sehingga menghambat fouling dan mempercepat perpindahan panas.
8. Fluida yang mempunyai volume besar dilewatkan melalui tube, karena
adanya cukup ruangan.

2.11 Keuntungan shell & tube exchanger :


1. Memiliki permukaan perpindahan panas persatuan volume yang lebih besar.
2. Mempunyai susunan mekanik yang baik dengan bentuk yang cukup baik
untuk operasi bertekanan.
3. Tersedia dalam berbagai bahan konstruksi
4. Prosedur pengopersian lebih mudah
5. Metode perancangan yang lebih baik telah tersedia
6. Pembersihan dapat dilakukan dengan mudah

19

2.12 Shell and tube heat exchanger ( Penukar panas cangkang dan buluh )
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang
). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain
mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua
ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk
meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas
cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat
turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun
pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban
kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

Gambar 2.4 Penukar panas jenis cangkang dan buluh ( shell and tube heat
exchanger )
(Sumber : http://artikel-teknologi.com/ )

20

2.13 Cara kerja Shell and Tube Heat Exchanger


Untuk 1-1 counterflow exchanger (gambar 2.4), atau 1 shell pass dan 1 tube
pass, fluida dingin masuk dan mengalir di dalam tube-tube. Fluida dingin masuk pada
ujung yang lain dan mengalir secara counterflow di bagian luar tube tetapi masih di
dalam shell. Baffle-baffle digunakan agar fluida dapat mengalir secara bertahap
melewati tube dan tidak mengalir secara paralel dengan tube.
T2

t1

T1

t2

Gambar 2.5 Shell & tube heat exchanger 1 shell pass and 1 tube pass (1-1 exchanger)
(Sumber : https:// http://korogroup.darkbb.com/)

Dalam suatu shell and tube heat exchanger terdapat tiga tahap perpindahan
panas, yaitu konveksi sisi shell, konduksi pada dinding tube dan konveksi sisi tube.
Jika dua fluida memasuki exchanger pada dua ujung yang sama dan mengalir
dengan arah yang sama, alirannya disebut parallel atau cocurrent flow. Untuk aliran
parallel, T2 = T1 t1 dan T1 = T2 t2.

21

(Sumber : https://www.academia.edu)
Gambar 2.5 Kurva temperatur pada aliran concurrent

Ketika dua fluida memasuki exchanger pada dua ujung yang berbeda dan
melewati exchanger unit dengan arah yang berlawanan, aliran tipe ini biasa disebut
counterflow atau countercurrent flow. Untuk aliran countercurrent, T2 = T1 t2 dan
T1 = T2 t1.

(Sumber : https://www.academia.edu)

Gambar 2.6 Kurva temperatur pada aliran countercurrent

Ada 2 jenis mekanisme perpindahan panas yang terjadi dalam Heat Exchanger, yaitu:
a. Konduksi
Mekanisme perpindahan panas ini adalah mekanisme yang berhubungan
dengan interakasi molekuler. Transfer energi konduksi ini terjadi melalui 2 cara,
yaitu mekanisme interaksi molekuler dimana dalam mekanisme ini gerakan
lebih besar yng dilakukan oleh suatu molekul yang berada pada tingkat yang
lebih rendah. Serta

mekanisme melalui elektron-elektron bebas. Karena

22

konduksi panas pada

initnya

merupakan

fenomena

molekuler,

dapat

diperkirakan bahwa persamaan dasar yang digunakan untuk menggambarkan


proses ini akan serupa dengan persamaan yang digunakan dalam transfer
momentum molekuler. Persamaan Fourier :
qx /A = -k dT/dt

b. Konveksi molekuler
Tranfer panas yang disebabkan konveksi melibatkan pertukaran energi
antara suatu permukaan dengan fluida di dekatnya. Persamaan laju untuk
transfer panas ini pertama kali dinyatakan oleh newton pada tahun 1701
q /A = h T

2.14 Klasifikasi Heat Exchanger berdasarkan Standar TEMA.


TEMA (Tubular Exchanger Manufacturing Assosiation), mengklasifikasikan HE
berdasarkan perencanaan dan pembuatannya menjadi tiga kelas yaitu:
1.

Heat exchanger kelas R umumnya digunakan untuk industri minyak dan


peralatan untuk proses tersebut

2.

Heat exchanger kelas C umumnya digunakan untuk keperluan komersil

3.

Heat exchanger kelas B umumnya digunakan untuk proses kimia.

Klasifikasi heat exchanger berdasarkan jenis alirannya:


1.

Heat exchanger counter current (aliraran berlawanan arah)


Jika aliran kedua fluida yang mengalir dalam HE berlawanan arahnya

23

2.

Heat exchanger co-current (aliran searah)


Jika aliran fluida yang didinginkan dengan media pendinginnya searah.

3.

Heat exchanger cross current (aliran silang)


Jika aliran fluida yangmengalir dalam HE saling memotong arah

Alat Penukar Panas Dilihat dari arah Aliran dan Tube Layout
Apabila ditinjau aliran fluida alat penukar panas ini dibagi dalam tiga macam aliran,
yaitu:
1.

Aliran sejajar

2.

Aliran berlawanan arah

3.

aliran kombinasi

Susunan tube (tube layout) akan mempengaruhi baik buruknya perpindahan panas.
Disamping itu, pemilihan harus mempertimbangkan sistem pemeliharaan yang akan
dilakukan. Pembersihan tube dengan mekanikan atau secara kimiawi akan
mempengaruhi pemilihan dari tube. Selain susunannya yang terjadi, aliran laminar atau
turbulen, bersih atau kotor fluida yang mengalir. Susunan tube terdiri dari:
1.

Tube dengan susunan bujur sangkar (In-line square pitch)

2.

Tube dengan susunan segitiga sama sisi (Triangular pitch)

3.

Tube dengan susunan berbentuk belah ketupat (Diamond square pitch)

4.

Tube dengan susunan segitiga diputar 60o (Rotated triangular pitch)

24

2.15 Tipe Susunan Tube


Tube merupakan pipa kecil yang tersusun di dalam shell. Aliran di dalam tube
sering dibuat melintas lebih dari 1 kali dengan tujuan untuk memeperbesar koefisisen
perpindahan panas lapisan film fluida dalam tube.

Gambar 2.7 Jenis susunan tube


(www.hydrocarbonprocessing.com)

1. Susunan Bujur sangkar (Square Pitch)


- Keuntungan :

Bagus untuk kondisi yang memerlukan pressure drop rendah.

Baik untuk pembersihan luar tube secara mekanik.

Baik untuk menangani fluida fouling.

25

- Kerugian :

2.

Film koefisiennya relatif rendah

Susunan Segitiga sisi (Triangular Pitch).


- Keuntungan :

Film koeffisien lebih tinggi daripada square pitch.

Dapat dibuat jumlah tube yang lebih banyak sebab susunannya


kompak.

- Kerugian :

Pressure drop yang terjadi antara menengah ke atas.

Tidak baik untuk fluida fouling

Pembersihan secara kimia

3. Susunan Bujur sangkar yang Diputar 45o (Diamond Square Pitch).


- Keuntungan :

Film koefisiennya lebih baik dari susunan square pitch, tetapi tidak
sebaik triangular pitch dan rotated triangular pitch.

Mudah untuk pembersihan dengan mekanik

Baik untuk fluida fouling.

- Kerugian :

Film koeffisisen relatif rendah

Pressure drop tidak serendah square pitch

4. Susunan Segitiga Diputar 30o (Rotated Triangular Pitch)


- Keuntungan :

Film koeffisisennya tidak sebesar susunan triangular pitch, tetapi


lebih besar dari susunan square pitch.

26

Dapat digunakan pada fluida fouling

- Kerugian :

Pressure drop yang terjadi antara menengah ke atas.

Pembersihan secara kimia

2.16 Prinsip dan Teori Dasar Perpindahan Panas


Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat
ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu
proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau
perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang
panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan
secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak
berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah. Pada umumnya
perpindahan panas dapat berlangsung melalui 3 cara yaitu secara konduksi, konveksi,
dan radiasi.
a.

Konduksi (hantaran)
Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan

antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekulmolekul tersebut secara fisik. Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat
dibandingkan molekul-molekul benda yang berada dalam keadaan dingin. Getarangetaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya
sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat maka akan memberikan panas.
Panas dipindahan sebagai energi kinetik dari suatu molekul ke molekul lainnya, tanpa
molekul tersebut berpindah tempat. Cara ini nyata sekali pada zat padat.

27

Daya hantar panas konduksi (k) tiap zat berbeda-beda. Daya hantar tinggi
disebut penghantar panas (konduktor panas) dan yang rendah adalah penyekat panas
(isolator panas ).
Q =

(T1-T2)

X ....(2.1)
sumber(Practical Thermal Design of Shell & Tube Heat Exchanger)
A : luas bidang perpindahan panas
X : Panjang jalan perpindahan panas(tebal)
Q ; panas yang dipindahkan
b. Konveksi (aliran/edaran)
Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan
partikel atau zat tersebut secara fisik.
Panas dipindahkan oleh molekul-molekul yang bergerak (mengalir). Oleh karena
adanya dorongan bergerak. Disini kecepatan gerakan (aliran) memegang peranan
penting. Konveksi hanya terjadi pada fluida
Q = h

(T2

T1) ..(2.2)
Sumber: (Practical Thermal Design of Shell & Tube Heat Exchanger)

h = koefisien perpindahan panas suatu lapisan fluida.


Q = panas yang dipindahkan
A = luas perpindahan panas
Dalam melaksanakan operasi perpindahan panas, perlu diperhitungkan:

28

jumlah panas yang dipindahkan (Q)

perbedaan suhu (T)

tahanan terhadap perpindahan panas (R).

Persamaan utama yg menghubungkan besaran besaran diatas adalah::


Q = A * (T2 T1) / R = U * A * (T2
T1) .....(2.3)
Sumber : (Practical Thermal Design of Shell & Tube Heat Exchanger)

Q = jumlah panas yang dipindahkan


R = tahanan terhadap perpindahan panas
U = 1/R = Koefisien perpindahan panas keseluruhan, gabungan antara konduksi dan
konveksi (k.W / m2. C )
Harga U atau R tergantung pada :

Jenis zat (daya hantar)

Kecepatan aliran

Ada tidaknya kerak.

c.

Radiasi (pancaran)
Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi

dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang
dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini
akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain.
d. Isolasi Panas
Mencegah kehilangan panas alat alat, pipa-pipa steam/gas yang bersuhu tinggi
ke sekeliling yang suhunya lebih rendah, atau sebaliknya.

29

Untuk alat-alat dengan suhu rendah, isolasi mencegah masuknya panas karena suhu
sekitarnya yang lebih tinggi.Isolasi juga mencegah bahaya yang dapat timbul bila orang
menyentuh permukaan benda yang panas atau dingin sekali.
Bahan Isolasi:

- daya hantar panas rendah


- dapat menahan arus konveksi
- disesuaikan dengan suhu

Permukaan datar: makin tebal, makin sedikit panas yang hilang

e. Perbedaan Suhu Rata-rata


Dalam perpindahan panas perbedaan suhu mengendalikan laju pemindahan panas.
Suhu fluida dalam alat sering tidak tetap. Untuk perhitungan digunakan perbedaan suhu
rata-rata.
T =

)(

)/(

)
)

.(2.4)

Sumber : (Practical Thermal Design of Shell & Tube Heat Exchanger)


Perbedaan suhu ini disebut perbedaan suhu rata-rata logaritma (log mean temperature
diffrence) disingkat LMTD
Q = U * A *( T) LMTD
Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua
fluida pada temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung
ataupun tidak langsung.