Anda di halaman 1dari 38

3

Juwita, cerpen
Di Tepi Kolam Cinta
karya Widya Arum, cerpen
Hamili Aku Yo
karya Bonari Nabonenar, cerpen
Ibu Kembali Padamu, Nak
karya Jaladara,
cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku, Jalan Pilihan, Lambaian Tangan Laki
lakiku
, dan cerpen
Gadis Kayu Putih
karya Indira Margareta.
Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri
yang dibantu
dengan tabel pengumpul data
. Peran peneliti dalam penelitian
ini adalah
sebagai
figur utama dalam semua proses penelitian.
P
eneliti bertindak sebagai instrumen
dan pengumpul data
yang
berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih

sumber data, melakukan pengumpulan data


menggunakan tabel pengumpul data
,
menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat
kesimpulan
atas temuan.
Prosedur yang d
i
laksanakan untuk mengumpulkan data adalah
membaca cerpen yang diteliti secara intensif dan berulang
ulang, mendaftar data
ya
n
g diperoleh, kodifika
si pada unit teks yang berkaitan de
n
gan karakteristik
dan penokohan, dan mengklasifikasikan data berdasarkan fokus
penelitian
,
yaitu
karakteristik tokoh dan penokohan
dalam cerpen karya BMI di Hong Kong
.
Data
penelitian ini
adalah berupa unit teks yang be
rhubu
ngan dengan karakteristik
tokoh dan penokohan yang digunakan pengarang dalam
menggambarkan
tokohnya
.
Teknik analisis data adalah proses mengatur urutan data
yang terdiri
atas

reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau


verifikasi.
Agusta
(2003:
10) menjelaskan bahwa reduksi data (
data reduction
) adalah proses
pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan data ya
n
g didapat dalam
proses pengumpulan data.
Penyajian data merupakan kegiatan menyajikan data
yang telah terpilih dan tel
ah dikodekan untuk mempermudah proses analisis data
terpilih
.
Penarikan kesimpulan adalah menggambarkan secara singkat sebuah
penelitian yang telah dilakukan peneliti
.
Keabsahan data digunakan untuk membuktikan bahwa data yang
dihasilkan merupakan data yan
g valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari
konsep
kesahihan data (
validitas
) dan keandalan (
c
reabilitas
) menurut aliran
positivism
e
(Yusidaimran:
2010). Untuk menetapkan keabsahan (
trustworthiness
) data
diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksa

na
an teknik pemeriksaan didasarkan atas
sejumlah kriteria tertentu.
Keabsahan data dilakukan dengan meningkatkan
ketekunan dalam membaca cerpen dan menganalisis
data
. Meningkatkan
ketekukan dibarengi dengan memb
aca data
data
tambahan
tentang karakteristik
tokoh, penokohan, cerpen
cerpen karya BMI, dan tentang kehidupan BMI yang
digunakan sebagai acuan dalam menulis dan menggambarkan
tokohnya.
HASIL
Paparan
hasil penelitian tentang
k
arakteristik tokoh
dan peno
kohan
dalam cerpen karya BMI di Hong Kong
adalah sebagai berikut
.
Karakteristik Tokoh
dalam Cerpen Karya Buruh Migran Indonesia
Tokoh merupakan unsur terpenting dalam karya sastra.
Melalui tokoh,
pembaca akan menem
ukan gambara
n tokoh lain, gambaran peristiwa, dan
gambaran cerita secara utuh. Tokoh merupakan pelaku yang dapat
menjadikan

peristiwa
peristiwa dalam cerpen menjadi terangkai dan memiliki alur.
4
Karakteristik tokoh mencakup tiga indikator yaitu karakteristik fisik, sos
ia
l
, dan
psikologi
s
.
Penggambaran fisik tokoh berguna untuk memberikan imaji kepada
pembaca tentang bagaimana wujud fisik tokoh, karena bentuk fisik
akan
dihubungkan dengan karakter tokoh dalam cerita.
Pada
cerpen
cerpen karya
buruh migran tidak selalu men
ggambarkan fisik tokoh secara utuh, melainkan
lebih mementingkan esensi cerita.
Karakteristik fisik banyak digambarkan
melalui
jenis kelamin dan usia
serta
tida
k
banyak digambarkan melalui postur
tubuh, rambut, dan mata.
Keterangan jenis kelamin tokoh terdapat dalam cerpen
karya BMI meliputi jenis kelamin perempuan dan laki
laki.
J
enis kelamin
perempuan terdapat dalam cerpen

Ibu Kembali Padamu, Nak.


S
emua tokoh
dalam cerpen tersebut
memiliki jenis kelamin perempuan
,
yaitu
tokoh Rini dan
tokoh Tommy atau Sutemi.
Selain dalam cerpen
Ibu Kembali Padamu, Nak
,
jenis kelamin perempuan juga terdapat dalam cerpen
Bayang Tua, Akhir
Keputusanku
dan dalam cerpen
Jalan Pilihan
yang
semua tokohnya berjenis
kelamin perempuan.
Selain jeni
s kelamin perempuan, ada
juga jenis kelamin
laki
laki. J
enis kelamin laki
laki tidak sebanyak tokoh perempuan dalam
cerpen
karya BMI di Hong Kong. Berdasarkan s
embilan cerpen yang dijadikan sumber
data, hanya ada tiga tokoh laki
laki yaitu tokoh Yoga dalam
cerpen
Di Tepi

Kolam Cinta
, tokoh Pak Tua dalam cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku
, dan
tokoh Baba dalam cerpen
Gadis Kayu Putih
.
Karakter
istik
fisik tokoh juga digambarkan dengan usia tokoh.
Pada
cerpen karya B
MI
ditemukan tiga kelas usia, yaitu usia remaja, usia dewasa, dan
usia tua. Keterangan usia remaja
tergambar pada
tokoh Tiara dan Tari dalam
cerpen
Di Tepi Kolam Cinta
dan untuk menggambarkan usia tokoh Khulud Al
Farisi dalam cerpen
Gadis Kayu Putih
.
Keteran
gan usia dewasa tergambar pada
tokoh Rini dalam cerpen
Ibu Kembali Padamu, Nak
, tokoh Aku dalam cerpen
Jalan Pilihan
, dan pada tokoh Baba Al Farisi dalam tokoh
Gadis Kayu Putih
.
Keterangan usia tua tergambar pada tokoh Pak Tua dalam cerpen
Bayang Tua,
Akhir Keputusanku
dan pada tokoh Nenek Asuh dalam cerpen
Jalan Pilihan

.
Karakter fisik tokoh tidak banyak digambarkan dengan postur tubuh,
rambut, dan mata. Gambaran postur tubuh tokoh hanya tergambar
pada tokoh
Pak Tua dengan postur tubuh bun
gkuk dalam cerpen
Bayang Tua, Ak
hir
Keputusanku
, tokoh Nenek Asuh dengan postur tubuh kurus dalam cerpen
Jalan
Pilihan
, dan pada tokoh Mbak Yem dengan p
ostur tubuh kurus tidak terawat
dalam cerpen
Bukan Yem
.
Gambaran rambut hanya tergambar pada tokoh
Tommy
atau Sutemi dengan rambut cepak dalam cerpen
Ibu Kembali Padamu,
Nak
, pada tokoh Sundari dengan rambut pendek dalam cerpen
Seharusnya
Berjudul Celana Dalam
, dan pada tokoh Nenek Asuh dengan model rambut
berponi dalam cerpen
Jalan Pilihan
.
G
ambaran mata juga tidak banyak
digunakan untuk mengg
ambarkan karakter fisik tokoh. G
ambaran mata hanya
tergambar pada tokoh
majikan dengan mata bulat dalam cerpen
Bayang Tua,

Akhir Keputusanku
, pada tokoh majikan dengan mata sipit dalam cerpen
Seharusnya B
erjudul Celana Dalam
, dan pada tokoh Khulud Al Farisi dengan
mata hitam dalam cerpen
Gadis Kayu Putih
.
Karakteristi
k
sosial
tokoh
digambarkan dengan latar belakang
kebangsaan, latar belakang pendidikan, status sosial, dan status
ekonomi.
Ada
tiga kebangsa
an yang melatarbelakangi kebangsaan tokoh
dalam cerpen karya
BMI
,
yaitu Indonesia
,
Jazirah Arab dan Hong Kong.
Latar belakang kebangsaan
5
Indonesia
disandang oleh tokoh Rini (B
anyuwangi) dan Tommy atau Sutemi
(Indramayu) dalam cerpen
Ibu Kembali Padamu, Nak
,
disandang juga oleh
tokoh Breta dengan etnik Jawa
Timur
dalam cerpen
Hamili Aku, Yo

.
Kebangsaan
Jazirah Arab disandang oleh tokoh Baba Al Farisi dalam cerpen
Gadis Kayu
Putih
.
Kebangsaan Hong Kong
di
sandang oleh
tokoh
majikan lama dalam
cerpen
Jalan Pili
han
.
Karakter sosial juga digambarkan dengan latar belakang pendidikan.
Latar belakang pendidikan tidak banyak ditemukan dalam cerpen
karya BMI di
Hong Kong, tetapi ada beberapa yang mencantumkan latar belakang
pendidikan
secara tersirat
,
yaitu pada tokoh Tiara, Tari, dan Yoga dalam cerpen
Di Tepi
Kolam Cinta
dan
pada tokoh Sonji dan Bella dalam
cerpen
Lambaian Tangan
Laki
lakiku.
Kedua cerpen yang memuat latar belakang pendidikan tokoh
merupakan cerpen yang memiliki tema yang berbeda, yai
tu tidak memiliki tema
BMI
.

Status sosial tokoh


juga digunakan untuk menggambarkan karakter sosial
tokoh dalam cerpen karya BMI di Hong Kong. Status sosial tokoh
yang
ditemukan dalam cerpen karya BMI meliputi pembantu atau
Kung Yan
, majikan,
ibu, anak, dan
suami istri. Status sosial sebagai pembantu disandang oleh tokoh
Sundari dalam cerpen
Seh
arusnya Berjudul C
elana Dalam
, tokoh Aku dalam
cerpen
Bukan Yem
, sedangkan status sosial sebagai majikan disandang oleh
majikan dalam cerpen
Jalan Pilihan
, tokoh ma
jikan dalam cerpen
Bayang Tua,
Akhir Keputusanku
yang sekaligus berperan sebagai ibu dari tokoh anak
majikan.
Status sosial sebagai suami
istri disandang oleh tokoh Aryo dan Breta
dalam cerpen
Hamili Aku, Yo
.
Indikator terakhir dari status sosial adalah s
tatus ekonomi
. Status
ekonomi tokoh dalam cerpen karya BMI di Hong Kong meliputi kaya
dan
miskin. Status ekonomi kaya disandang oleh majikan

dalam cerpen
Bayang Tua,
Akhir Keputusanku
dan disandang oleh majikan Baba dalam cerpen
Gadis Kayu
Putih
.
Status ekonomi miskin disandang oleh tokoh majikan dalam cerpen
Jalan
Pilihan
dan tokoh Khulud Al Farisi dalam cerpen
Gadis Kayu Putih
.
Psikologis tokoh digunakan pengarang untuk menggambarkan
karakter
tokoh dalam cerpen karya BMI di Hong Kong.
Ciri
ciri psikolog
i
s tokoh dilihat
dari p
andangan hidup
dan sikap hidup tokoh.
merupakan salah satu indikator
dari ciri
ciri psikologis tokoh.
Ciri
ciri psikologis tokoh terdapat pada tokoh Rini
dalam cerpen
Ibu Kembali Padamu, Na
k
,
tokoh Aku
dalam cerpen

Bayang
Tua, Akhir Keputusanku
,
dan tokoh Aku dalam cerpen
Bukan Yem
.
Pandangan
hidup tokoh merupakan dasar sikap hidup yang dilakukan tokoh.
Penokohan dalam Cerpen Karya Buruh Migran Indonesia
Penokohan
dalam
cerpen
karya Buruh Migran Indonesia
(BMI)
di Hong
Kong
dilakukan dengan menggunakan teknik naratif dan teknik dramatik.
Jadi,
semua teknik penokohan digunakan
oleh pengarang,
tetapi untuk
tujuan ya
ng
berbeda
.
Teknik naratif digunakan untuk menggambarkan fisik, si
fat, dan sedikit
untuk m
enggambarkan psikologis tokoh. Penokohan dengan teknik naratif
yang
berfungsi untuk menggambarkan fisik terdapat dalam cerpen
Hamili Aku, Yo
,
cerpen
Jalan Pilihan
, dan cerpen
Bukan Yem

.
T
eknik naratif dalam
cerpen
H
amili
A
ku
Y
o
digunakan untuk menggambarkan fisik Aryo yaitu
kurus sekali
atau kerempeng.
Penggambaran fisik kerempeng Aryo disampaikan langsung
oleh pengarang menggunakan sudut pandang objektif atau
objective point of
6
view
. Teknik naratif
dalam
cerpen
J
alan
P
ilihan
dig
unakan untuk
meng
gambaran fisik tokoh Nenek Asuh.
Teknik naratif dalam cerpen
Bukan
Yem
di
gunakan
untuk menggambarkan fisik Mbak Y
em yang diungkapkan
langsung oleh pengarang dengan menggunakan sudut pandang

omniscient point
of view
atau pengarang serba tahu.
Teknik naratif yang berfungsi menggambarkan sifat tokoh terdapat
dalam cerpen
Bayang Tua
,
Akhir Keputusanku
, cerpen
Seharusnya Berjudul
Celana Dalam
, cerpen
Jalan Pilihan
, dan dalam cerpen
Gadis Kayu Putih
.
Teknik naratif dalam
cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku
digun
akan untuk
menggambarkan sifat anak m
ajikan yang pendendam dan tidak mudah
member
maaf. Teknik naratif dalam cerpen
Seharusnya Berjudul Celana Dalam
digunakan untuk menggambarkan sifat Sundari yang pasrah terhadap
apa yang
sedang terjadi. Teknik naratif dalam cerpen
Jalan Pilihan
digunakan untuk
menggambarkan sifat Majikan Lama yang baik hati dan pekerja keras.
Teknik
naratif dalam cerpen
Gadis Kayu P
utih
digunakan untuk menggambarkan sifat

Khulud Al Farisi yang pantang menyerah.


T
eknik naratif juga digunakan untuk menggambarkan psikologis tokoh
dalam cerpen karya BMI di Hong Kong.
Teknik naratif yang menggambarkan
psikologis tokoh
ditemukan
dalam cer
pen
Jalan Pilihan
dan cerpen
Bayang Tua,
Akhir Keputusanku
.
Teknik naratif dalam cerpen
Jalan Pilihan
berfungsi untuk
menggambarkan psikologis tokoh Aku yang tidak tetap atau
pendirian yang
masih bisa goyah. Teknik naratif dalam cerpen
Bayang Tua,
Akhir
K
eputusanku
berfungsi untuk menggambarkan psikologis tokoh Cece atau Aku
yang tetap
dan tidak mudah goyah
walau tidak searah dengan
pemikiran
majikan
.
T
eknik dramatik digunakan
pengarang
untuk menggambarkan
karakter

tokoh melalui teknik cakapan, pikiran dan perasaan, arus kesadaran,


reaksi
tokoh, reaksi tokoh lain, dan pelukisan latar.
Teknik dramatik berbentuk cakapan
digunakan untuk menggambarkan usia tokoh Mbak Yem dalam
cerpen
Bukan
Yem
. Teknik dramatik berbentuk
pikiran dan perasaan digunakan pengarang
untuk menggambarkan sikap tokoh Aku dalam cerpen
Bayang Tua, Akhir
Keputusanku
. Teknik dramatik berbentuk a
rus kesadaran digunakan pengaran
g
untuk menggambarkan perasaan Aku
yang diungkapkan melalui kata hati
dalam cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku
dan ungkapan hati Sonji dalam
cerpen
Lambaian Tangan Laki
lakiku
.
Teknik Dramatik berbentuk reaksi tokoh
digunakan pengarang untuk meggambarkan sikap Cece
atas
perlakuan majikan
terhadap dirinya dalam cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku
.
Teknik
dramatik berbentuk reaksi tokoh lain digunakan pengarang untuk
menggambarkan sikap
tokoh

Yoga terhadap sikap Tiara dalam cerpen


Di Tepi
Kolam Cinta
dan digunakan untuk menggambarkan tangg
apan majikan baru
terhadap permintaan Aku yang dianggap merugikan majikan baru
dalam
cerpen
Jalan Pilihan
.
Teknik dramatik berbentuk pelukisan latar digunakan
pengarang untuk me
n
ggambarkan sifat
tokoh
Aku yang lema
h
lembut dan
sabar terhadap sikap Nenek Asuhnya yang idiot dalam cerpen
Jalan Pilihan
.
Selain dalam cerpen
Jalan Pilihan
, teknik pelukisan latar juga digunakan untuk
menggambarkan sifat
tokoh
Sonji yang manja dalam cerpen
Lambaian Tangan
Laki
lakiku
.
7
PEM
BAHASAN
Pembahasan
hasil penelitian

tentang karakteristik tokoh dan penokohan


dalam cerpen karya BMI di Hong Kong adalah sebagai berikut.
Karakteristik Tokoh
dalam Cerpen Karya Buruh Migran Indonesia
Berdasarkan hasil penelitian
ditemukan bahwa karakteristik tokoh
dalam cerpen karya BMI di Hong Kong dipengaruhi oleh kehidupan
pribadi
pengarang itu sendiri.
Dimulai dari jenis kelamin tokoh dalam cerpen karya
BMI, ditemukan banyak tokoh yang berjenis kelamin perempuan.
Temuan ini
di
hubungkan dengan banyaknya BMI berjenis kelamin perempuan
daripada
BMI laki
laki yang menulis cerpen.
Karakter tokoh yang digambarkan BMI meliputi tiga keadaan
,
yaitu
keadaan
fisik, sosial, dan psikologis. Tiga keadaan tersebut sesuai dengan
pendapat Dew
an
(2013)
bahwa ada tiga keadaan yang dapat digunakan
pengarang dalam menggambarkan tokoh. Keadaan fisik digunakan
BMI untuk
menggambarkan jenis kelamin, usia, postur tubuh, rambut, dan mata.
Jenis
kelamin dan usia tokoh dipengaruhi juga oleh kepribadian t
okoh. Hal ini
dibuktikan dengan data
I
nternational
O

rganisation of
M
igran
tahun 2008 (IOM,
2008:2), bahwa BMI yang berangkat ke luar neger
i di
dominasi oleh perempuan.
Menurut keterangan
Indira Margareta, penulis yang berstatus sebagai BMI, batas
minimal
usia calon BMI adalah 20. Angka 20 dalam kategori usia merupakan
angka yang sudah menunjukkan kedewasaan. Jadi, tidak heran ketika
tokoh
dalam cerpen karya BMI banyak yang berusia dewasa daripada
remaja dan tua.
Indikator postur tubuh tokoh
yang dimiliki
Mbak Yem dalam cerpen
Bukan Yem
karya Etik Juwita merupakan gambaran kehidupan nyata yang
dihadapi oleh kebanyakan BMI. BMI
sering dikatakan sebagai
pahlawan devisa,
tetapi kenyataannya BMI mendapat banyak masalah dan menjadi
korban
kekerasa
n yang dilakuka
n oleh majikan. S
eperti yang dialami tokoh Mbak Yem
dalam cerpen
Bukan Yem
. Indikator rambut pada tokoh Sundari yang cepak dan
tidak rapi merupakan bentuk tekanan batin Sundari yang diungkapkan
oleh
Marni. Indikator mata sipit banyak disandang oleh majikan
yang domina
n

berkebangsaan Hong Kong atau M


andarin. Berdasarkan karakter fisik dalam
pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh dalam
cerpen karya
BMI ber
bentuk manusia. Sudjiman (1991:
16) menjelaskan bahwa tokoh dapat
berbentuk apa saja. Tok
oh dapat berupa manusia, hewan, atau benda yang
dimanusiakan bergantung pada penggambaran karakteristik
tokohnya. Sesuai
dengan penggambaran tokoh yang dijelaskan di atas, tokoh dalam
cerpen karya
BMI adalah berbentuk manusia. Tidak ada bentuk tokoh lain s
elain manusia.
Keadaan sosial dimunculkan pengarang dalam menampilkan latar
belakang kebangsaan, latar belakang pendidikan, status sosial, dan
latar
belakang ekonomi. Keadaan sosial ini selaras dengan mendapat
Minderop
(Mulyadi, 2007:
33)
bahwa penggambar
an karakter tokoh dapat melalui
penampilan tokoh. Penampilan tokoh dapat digunakan untuk
menampilan status
sosial tokoh.
Pada
cerpen
Bukan Yem
ditemukan bahwa tokoh Mbak
Yem
berpenampilan tidak terawat
dengan badan kurus, kuku tidak terpotong rata,
mata ce
kung, dan dada kempot. Hal tersebut menggambarkan penampilan
Mbak

Yem yang berstatus sosial sebagai pembantu


yang tidak diperlakukan baik oleh
majikannya
.
8
Latar belakang kebangsaan merupa
kan indikator dari subfokus cir
i
ciri
sosial tokoh dalam cerpen karya BMI. Latar belakang kebangsaan
tokoh dalam
cerpen karya BMI didominasi oleh tokoh dengan kebangsaan
Indonesia dan
Hong Kong.
International Labour Organisation
(ILO)
(2008:
4)
mendefinisikan
buruh migran sebagai orang y
ang bermigrasi ke negara lain dengan harapan
mendapat pekerjaan di tempat tujuan. Jadi, Buruh Migran Indonesia
(BMI) di
Hong Kong adalah orang ya
n
g bermigrasi dari Indonesia ke Hong Kong dengan
harapan mendapat pekerjaan. Cerpen karya BMI merupakan karya y
ang dibuat
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan BMI, sehingga latar
belakang
kebangsaan tokoh berkutat a
ntara Indonesia dan Hong Kong. L
atar belakang
kebangsaan Indonesia disandang oleh pembantu atau BMI dan tokoh
dengan
latar belakang kebangsaan Hong Ko

ng atau negara lain disandang oleh majikan.


Latar belakang pendidikan tidak banyak terdapat dalam cerpen karya
BMI. ILO
(2008:
5)
mengungkapkan bahwa pendidikan yang rendah membuat
kekerasan kerap terjadi pada BMI. Rendahnya pendidikan berdampak
pada tida
k
adanya profesionalitas dalam bekerja, sehingga Penyalur Jasa
Tenaga Kerja
Indonesia (PJTKI) perlu memberikan prapendidikan bekerja untuk
bekal bekerja
di luar negeri.
I
ndikator latar belakang pendidikan tidak begitu ditonjolkan
dalam cerpen karya BMI
kar
ena tema yang digunakan tidak mengandalkan pada
cerita pendidika
n, tetapi ditonjolkan pada aspek
pendidikan moral dan
kehidupan.
Subfokus psikologis
tokoh dalam cerpen karya BMI berhubungan
dengan pandangan hidup dan sikap hidup yang dilakukan tokoh
terhadap
masalah yang dihadapi. Hal ini selaras dengan Dewan
(2013)
, bahwa keadaan
psikologis tokoh dapat digunakan untu menggambarkan karakter
tokoh dala
m
cerpen karya BMI. Keadaan psikologis dijelaskan melalui sikap dan
prilaku
tokoh dalam menghadapi sesuatu.
t

okoh Aku
dalam cerpen
Bayang Tua, Akhir
Keputusanku
memiliki pandangan bahwa hidup harus saling tolong menolong
agar hidup dapat mudah untuk dijalani. Pandangan tersebut sesuai
dengan sikap
hidup yang dilakukan Aku, yaitu Aku berani melawan perintah
majikan
ketika majikan melarangnya mendekati pak tua p
enjual ikan yang kotor dan
kumuh. Aku merasa harus menolong dan membeli ikan yang dijual
pak tua
dengan harapan ada yang menolong nenek dan adiknya di kampung
halaman.
Namun majikan dan anak majikan berbeda pendapat. Berbeda
pendapat tersebut
membuat Ak
u mengunduran diri dan mencari majikan yang baik hati dan
sejalan dengannya. Berbeda dengan tokoh Aku dalam cerpen
Jalan Pilihan
.
Aku menyikapi hidup tanpa prinsip.
H
asutan dari temannya
yang
sesama
BMI
membuat tokoh
Aku memilih meninggalkan majikan
baik hati yang miskin dan
mencari majikan yang ketus tetapi kaya. Majikan ketus tersebut
membuat Aku
tidak betah dan ingin kembali menjemput kedamaian di rumah
majikan baik hati
dan miskin. P
e

rilaku Aku dalam cerpen


Jalan Pilihan
ini menandakan bahwa
Aku memiliki karakter yang tidak tegas.
Bahasan terkait masalah karakteristik tokoh dalam cerpen karya BMI
di
atas menghasilkan temuan bahwa karakteristik tokoh dalam cerpen
karya BMI
dipengaruhi oleh kehidupan pribadi pengarang itu sendiri. Diawali de
ngan
karakter fisik yang berbentuk manusia dewasa, karakter sosial yang
banyak
berstatus pekerja migran yang miskin, dan psikologi yang berbeda
dari setiap
pengarang.
9
Penokohan
dalam Cerpen Karya Buruh Migran Indonesia
Berdasarkan hasi
l
penelitian
tentang
penokohan dalam cerpen karya
BMI
, ditemukan bahwa teknik penggambaran tokoh yang digunakan BMI
dalam
cerpen yang dikarangnya adalah berkaitan dengan apa yang
digambarkan.
Teknik naratif merupakan teknik uraian atau penggambaran karakter
tokoh
dengan menggu
nakan deskripsi, bukan di
alog tokoh (Nurgiyantoro, 2005:
194).
Teknik ini digunakan BMI untuk menggambarkan karakter tokoh
melalui fisik,
sifat, dan psikologis. Hal ini sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro

(2005:
195)
bahwa
teknik naratif digunakan pengarang dengan tidak berbelit
belit,
melainkan langsung berupa deskripsi yang berupa sikap, sifat, watak,
tingkah
laku, atau bahkan ciri fisik.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan tujuan
penelitian yang kedua
,
yaitu mengetah
ui teknik penokohan yang digunakan BMI
dalam menggambarkan tokohnya.
Teknik n
aratif adalah teknik nonverbal yang digunakan untuk
menggambarkan segala hal tentang tokoh dalam cerita. Teknik naratif
yang
digunakan BMI dalam cerpennya digunakan untuk menjel
askan karakter tokoh
yang meliputi fisik, sifat, dan psikologi
s
. Teknik naratif dalam cerpen karya
BMI tidak disampaikan langsung oleh pengarang, melainkan banyak
yang
diungkapkan dari tokoh lain. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat
Minderop
(Mulyadi, 200
7:
35)
bahwa metode langsung atau teknik naratif merupakan
teknik penggambaran tokoh yang diungkapkan langsung oleh
pengarang.
Penokohan yang terdapat dalam paparan data memiliki karakteristik
untuk tokoh
manusia. Keterangan ini sesuai dengan pendapat Sudji

man
(1991:
16)
bahwa
tokoh dapat berbentuk apa saja, termasuk manusia.
Berdasarkan hasil penelitian
,
ditemukan bahwa teknik naratif digunakan untuk menggambarkan
fisik, sosial,
dan psikologis tokoh. Teknik ini banyak digunakan oleh pengarang
untuk
menggamba
rkan fisik dan sosial lebih daripada untuk menggambarkan
psikologis tokoh. Teknik naratif tidak banyak digunakan untuk
menggambarkan
psikologis tokoh. Perkembangan psikologis tokoh hanya terdapat
dalam cerpen
Jalan Pilihan
dan cerpen
Bayang Tua, Akhir Kepu
tusanku
. Hal ini selaras
dengan pendapat Dewan
(2013)
terkait keadaan yang dapat digunakan untuk
menggambarkan karakter tokoh yaitu keadaan fisik, sosial, dan
psikologis tokoh.
Berdasarkan hasil penelitian,
ditemukan bahwa teknik
dramatik
diterapkan melalui teknik cakapan, pikiran dan perasaan, arus
kesadaran, reaksi
tokoh, reaksi tokoh lain, dan pelukisan latar. Hal ini tidak selaras
dengan teknik
dramatik yang dirancang oleh Nurgiyantoro
(2005:
201)

,
yaitu ada delapan
teknik, sed
angkan dalam cerpen karya BMI hanya ada enam
teknik
. Dua teknik
dramatik yang tidak digunakan pengarang untuk menggambarkan
tokohnya
adalah
teknik tingkah laku dan pelukisan fisik.
T
eknik naratif
digunakan
pengarang dalam cerpen karya BMI
untuk menggambark
an tingkah laku dan
penggambaran fisik tokoh daripada menggunakan teknik dramatik.
Teknik
dramatik lebih
banyak
digunakan untuk menggambarkan psikologis, pikiran dan
perasaan tokoh.
Teknik dramatik
berbentuk
cakapan merupakan proses penggambaran
tokoh de
ngan menggunakan cakapan atau dialog a
ntar tokoh (Nurgiyantoro,
2005:
201). Minderop
(Mulyadi, 2007:
37)
menyebut teknik dramatik cakapan
dengan karakterisasi tokoh melalui dialog. Teknik damatik cakapan ini
hanya
digunakan dalam sebagian cerpen
Bukan Yem

,
yaitu untuk menjelaskan usia
10
Aku.
Teknik dramatik berbentuk
perasaan dan pikiran yang terdapat dalam
cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku
. Teknik ini menjelaskan sifat penolong
Aku karena Aku berpikir bahwa dengan menolong orang lain, maka
sama
denga
n menolong keluarganya di rumah. Sifat penolong tersebut ternyata
bertentangan dengan perasaan majikan. Majikan merasa dikhianati
karena Aku
lebih menolong kakek daripada mendampingi majikan.
Teknik dramatik selanjutnya adalah teknik arus kesadaran. Tek
nik ini
terdapat dalam cerpen
Bayang Tua, A
k
hir Keputusanku
yang memuat kata hati
Aku. Aku mengeluh dalam hati terhadap sikap majikan yang
berlebihan.
Begitu juga dalam cerpen
Lambaian Tangan Laki
lakiku
yang memuat kata hati
Aku atau Sonji.
Tokoh
A
ku merasa seperti gadis dungu karena telah
menunggu orang yang tidak akan pernah datang. Teknik ini biasanya
berbentuk

kata hati tokoh yang menyatakan kesadarannya atau mengungkapkan


hal lain.
Teknik dramatik selanjutnya adalah teknik reaksi tokoh. Minde
rop
(Mulyadi, 2007:
37)
menyebut teknik dramatik reaksi tokoh ini dengan sebutan
karakterisasi kualitas mental dan perilaku tokoh. Teknik ini ada dalam
cerpen
Bayang Tua, Akhir Keputusanku
yang
digunakan untuk menggambarkan reaksi
tokoh utama terhadap peril
aku tokoh lain. Majikan dan anak majikan memiliki
sifat yang sama yaitu tidak memiliki hati yang baik. Hanya karena
menolong
seorang kakek, Aku dilaporkan ke agensi.
Tokoh
Aku berusaha menegakkan
keadilan. Aku memberanikan diri berbicara kepada anak
majikan yang saat itu
sedang menggerutu tentang kesalahan Aku. Setelah Aku
mengungkapkan apa
yang dirasakan, anak majikan marah dan akhirnya Aku dipecat. Aku
lebih
memilih meringkuk di rumah agensi, meskipun sebenarnya majikan
memintanya
untuk kemb
ali bekerja.
Teknik dramatik kelima adalah teknik reaksi tokoh lain. Teknik ini
terdapat dalam cerpen
Di Tepi Kolam Cinta
.
Pada cerpen ini diceritakan sikap
Aku
yang sedang melamun dengan memandang
kolam,

sehingga
Yoga merasa
penasaran dan akhirnya mendekati
Aku
untuk mencari tahu apa yang sedang
dilihat Aku dalam kolam.
Berdasarkan gambaran tersebut
, dapat diketahui
bahwa Aku memiliki sifat suka melamun, sedangkan tokoh Yoga
memiliki
sifat ingin tahu.
Teknik
dramatik keenam adalah teknik pelukisan latar. Sudjiman
(1991:
44)
mengungkapkan bahwa latar adalah keterangan, petunjuk,
pengacuan yang
berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya cerita
yang
dapat
digunakan untuk menggambarkan fisik atau kejiw
aan tokoh.
T
eknik pelukisan
latar terdapat dalam cerpen
Jalan Pilihan
. Melalui teknik ini, dapat diketahui
bahwa Aku memiliki sifat yang penyayang dan lemah lembut.
Sifat tokoh
Aku terbukti dari
usaha
Aku dalam
menenangkan hati Nenek Asuh yang
mulai
merajuk.
Teknik dramatik berbentuk pelukisan latar juga
terdapat dalam

cerpen
Lambaian Tangan Lak
lakiku
.
Penggunaan
teknik ini,
digunakan untuk
menggambarkan sifat
tokoh Aku
yaitu,
manja. Sifat manja diutarakan langsung
oleh Carlo dan didukung dengan su
asana kekanak
kanakan yang ditandai dengan
balon warna
warni. Teknik dramatik yang digunakan pengarang tidak sebanyak
teknik dramatik dalam kajian Nurgiyantoro
(2005:201)
yaitu
,
delapan
teknik
,
sedangkan teknik yang diguna
kan BMI dalam cerpen hanya ada
ena
m teknik.
Pembahasan di atas menghasilkan temuan tentang penokohan dalam
cerpen karya BMI yaitu bahwa teknik penggambaran tokoh yang
digunakan
11
BMI dalam cerpen yang dikarangnya adalah berkaitan dengan apa
yang
digambarkan. Karakter fisik, sosial banyak di

gambarkan dengan teknik naratif,


sedangkan karakter psikologis tokoh dalam cerpen karya BMI banyak
digambarkan dengan menggunakan teknik dramatik dan sedikit
menggunakan
teknik naratif.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Simpulan hasil pembahasan tentang kara
kteristik tokoh dan penokohan
dalam cerpen karya BMI di Hong Kong adalah sebagai berikut.
Pertama
, tentang k
arakteristik tokoh dalam cerpen k
arya BMI di Hong
Kong
.
Berdasarkan hasil pembahasan
,
ditemukan bahwa karakteistik tokoh
dalam cerpen karya BMI di H
ong Kong merupakan gambaran dari kehidupan
pribadi pengarang.
Hal ini dapat dilihat
melalui gambaran karakteristik fisik,
sosial, dan psikologis.
Karakteristik fisik tokoh dig
ambarkan melalui jenis
kelamin, usia, postur tubuh, rambut, dan mata. Karakteristik sosial
tokoh
digambarkan melalui latar belakang kebangsaan, latar belakang
pendidikan,
status sosial, dan status ekonomi tokoh. Karakteristik psikologis tokoh
digambarkan m
elalui pandangan hidup dan sikap hidup tokoh.
Kedua
, tentang
p

enokohan dalam cerpen k


arya BMI di Hong Kong
.
Berdasarkan hasil
pembahasan tentang penokohan yang digunakan BMI dapat
disimpulan bahwa
teknik naratif dan teknik dramatik digunakan oleh BMI denga
n tujuan yang
berbeda. Teknik n
aratif dalam cerpen karya BMI di
gunakan untuk
menggambarkan
fisik, sifat
,
dan sedikit tentang psikologis
tokoh
, sedangkan
teknik dramatik tokoh digunakan untuk menggambarkan psikologis
tokoh
melalui teknik cakapa
n
, arus kesa
daran, pikiran dan perasaan, reaksi tokoh
reaksi tokoh lain, dan pelukisan latar.
Saran
Berdasarkan simpulan, maka saran yang diajukan
dapat
dirumuskan
sebagai berikut
.
Pertama
, kepada g
uru
,d
isarankan untuk
menjadikan
karakter yang

digun
akan BMI sebagai contoh dalam
mengajarkan cara membuat karakter
tokoh dalam pembelajaran menulis cerpen
yang dibuat berdasarkan
pengalaman
pribadi. Guru juga dapat menjadikan
penokohan yang digunakan BMI sebagai
contoh
dalam
mengajarkan cara menggambarkan
karakter tokoh dalam cerpen
yang dibuat berdasarkan pengalaman pribadi
.
Kedua
, kepada peneliti s
elanjutnya
,d
isarankan untuk mengembangkan
kembali rumusan masalah
terkait karya
karya BMI
.
DAFTAR RUJUKAN
Agusta, I.
Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Kualitatif
, (Online),
(
http://www.anneahira.com/teknik
analisis
data
penelitian
-

kualitatif.htm
), diakses 10 April 2013.
Cha
r
iri, A. 2009.
Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif
.
Paper
Disajikan pada Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan
12
Kualitatif. Laboratorium Pengembangan Akuntansi (LPA), Fakultas
Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang, 31 Juli
1Agustus 2009.
Dewan, D. 2013.
Tokoh Cerita
, (Online),
(
http://dewanku02.blogspot.com/2013/02/tokoh
cerita.html
), diakses 27
Juli 201
3.
Intern
a
tional Labour Organisation
(ILO)
.
2008.
Penghapusan Kerja Paksa dan
Perdagangan Manusia pada Pekerja Migran Indonesia
. Jakarta: ILO.
International Organisation of Migrant (IOM). 2008.
Migrasi Di Indonesia: Fakta
Dan Angka
, (Online),

(
http://w
ww.iom.or.id/mainweb/Migration%20Fakta%20dan%20Angka
%20
%20Mei2008%20(bhs).pdf)
, diakses 30 Maret 2013.
Mulyadi, B. 2007.
Karakter Tokoh Utama Novel Utsukushita To Kanashimi To
Karya Kawabata Yasunari
. Semarang: Universitas Diponegoro.
Nurgiyantoro, B.
2005.
Teori Pengkajian Fiksi
. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Sudjiman, P. 1991.
Memahami Cerita Rekaan
. Jakarta: Pustaka Jaya
Wijaya, S. 2010.
Penokohan
, (Online),
(
http://blog.unsri.ac.id/download/12651.pdf
), diakses 16 Maret 2013.
Yusidaimran. 2010.
Kriteria Dan Teknik Keabsahan Data
, (Online),
(
http://yusidaimr
an.wordpress.com/2010/12/15/kriteria
dan
teknik
keabsahan

data/
), diakses 8 April 2013.