Anda di halaman 1dari 15

KESELAMATAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

PENYAMAKAN KULIT
DAN DAMPAKNYA TERHADAP INGKUNGAN

Oleh
Muhammad Uun Sanusi
TPK-C/1501071
KEMENTRIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
Keselamatan, Kesehatan Kerja di Industri Penyamakan Kulit
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima
kasih
kepada
semua
pihak
yang
telah berkontribusi
dalam
pembuatanmakalahini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa
masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalahilmiahini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah
dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat
maupun
inpirasi
terhadap
pembaca.

Yogyakarta, 17 November 2016

Muha
mmad Uun Sanusi

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kondisi
keselamatan
dan
kesehatan
kerja
(K3)
perusahaan di Indponesia secara umum diperkirakan termasuk
rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang
buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.
Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing
perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat
rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena
mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja
(produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan
perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya.
Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga
perlu
memfasilitasi
dengan
peraturan
atau
aturan
perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nuansanya
harus bersifat manusiawi atau bermartabat.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat
kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan,
sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan
kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat
mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada
masyarakat luas.
Salah satu contohnya adalah industri penyamakan kulit
yang merupakan industri yang menggunakan bahan bahan
kimia berbahaya serta mesin mesin untuk mengolah kulit.
Industri Penyamakan Kulit dengan segala kelengkapan
peralatan dan bahan kimia merupakan tempat berpotensi
menimbulkan bahaya kepada para penggunanya jika para
pekerja di dalamnya tidak dibekali dengan pengetahuan
mengenai kesehatan dan keselamatan kerja. Keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi
pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat

sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan


tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh
perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan
menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident).

B. Maksud dan Tujuan


Makalah ini bermaksud untuk menganalisis dampak yang
ditimbulkan adanya industri penyamakan kulit dari proses soaking
sampai dengan finishing beserta solusinya mulai dari bahan dan alat
alat pelindung diri guna meningkatkan keselamatan dan kesehatan
kerja agar diri kita terhindar dari kecelakaan dalam bekerja.
Tujuan umum dari K3 adalah menciptakan tenaga kerja yang
sehat dan produktif. Agar tenaga kerja dan setiap orang berada di
tempat kerja selalu dalam keadaan sehat dan selamat serta a g a r
su m be r -su mbe r p rod u k s i
t a n p a a d a n y a hambatan

dapat

berjalan

secara

lancar

C. Kegunaan dan Manfaat


Peraturan perundangan menyatakan bahwa Perusahaan wajib
melaksanakan Undang-Undang 1/70 dan peraturan pelaksanaannya
pada PERMENAKER no 505/MEN/1996 tentang Sistem Management
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3). Memperkerjakan tenaga
lebih dari 25 orang, menyelenggarakan proyek lebih dari tiga bulan
atau pekerjaan mengandung potensi bahaya karena karakteristik
proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan
kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit
akibat

kerja

wajib

memiliki

satu

orang

Ahli

Kesehatan

Keselamatan Kerja (K3)


Manfaat Menjalankan Sertifikasi K3 Umum
Bagi Perusahaan adalah :
* Meningkatkan produktifitas
* Fleksibelitas yang lebih jelas
* Mengurangi kesalahan kerja
* Komitmen terhadap kualitas
* Mempermudah seleksi penerimaan karyawan
* Mengembangan standar dan operasi kerja karyawan

dan

* Sebagai syarat wajib untuk mengikuti tender


* Memiliki tenaga kerja yang berdaya saing,

terampil

termotivasi
Bagi Karyawan adalah :
* Jenjang karir dan promosi yang lebih baik
* Meningkatkan akses untuk berkembang dalam profesinya
* Pengakuan terhadap kompetensi yang dimiliki
* Mempunyai nilai lebih dalam pasar dunia kerja
Bagi Pencari Kerja adalah :
* Meningkatkan kredibilitas
* Bukti pengakuan atas kompetensi
* Syarat mencari kerja
* Menambah nilai jual bagi pencari kerja
* Adanya ukuran atas keahlian dan pengetahuan yang dimiliki
* Kesempatan berkarir yang lebih besar

dan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembahasan
Proses Penyamakan Kulit :
I. SOAKING
Maksud perendaman ini adalah untuk mengembalikan sifatsifat kulit mentah menjadi seperti semula, lemas, lunak dan
sebagainya. Kulit mentah kering setelah ditimbang, kemudian
direndam dalam 800- 1000 % air yang mengandung 1 gram/ liter
obat pembasah dan antiseptic, misalnya tepol, molescal, cysmolan
dan sebagainya selama 1- 2 hari. Kulit dikerok pada bagian dalam
kemudian diputar dengan drum tanpa air selama 1/ 5 jam, agar
serat kulit menjadi longgar sehingga mudah dimasuki air dan kulit
lekas menjadi basah kembali. Pekerjaan perendaman diangap
cukup apabila kulit menjadi lemas, lunak, tidak memberikan
perlawanan dalam pegangan atau bila berat kulit telah menjadi
220- 250% dari berat kulit mentah kering, yang berarti kadar
airnya mendekati kulit segar (60-65 %). Pada proses perendaman
ini, penyebab pencemarannya ialah sisa desinfektan dan kotorankotoran yang berasal dari kulit.
Alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
Solusi :

Drum
perendam
an
(soaking)/p
addle/bak
perendam
an
Timbangan
Alat ukur
volume air
Trolley

Gayung
Pengad
uk
Alat
ukur
baume
meter
Pisau
Corong

Ember
Kertas
pH/pH
meter
Termomet
er

Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap


seperti :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

Air buangan dari soaking harus di tampung di IPAL terlebih


dahulu dan diolah

II.

FLESHING
Merupakan
proses
yang
bertujuan
untuk
menghilangkan daging yang masih menempel di kulit. Dari
proses ini akan menghasilkan limbah padat yang berupa
daging dan lemak yang dapat menyumbat saluran air dan
menjadi sarang bakteri. Alat alat yang dibutuhkan adalah
sebagai berikut :
Mesin buang daging (fleshing)
Sikat plastik
Gayung
Selang air
Ember
Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara
lengkap seperti :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

Dalam

saluran

air

harus

terdapat

saringan,

untuk

menyaring limbah ada agar tidak langsung masuk ke IPAL


Limbah padat dapat di manfaatkan sebagai pakan ikan.
III.

LIMING
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan bulu rambut
pada kulit dan komponen komponen kulit yang tidak
dibutuhkan dalam proses penyamakan. Dampak yang
ditimulkan dari proses ini adalah sisa air kapur akan
menyebabkan pencemaran lingkungan, yaitu Ca(OH)2,

Na2S, dan Bulu Rambut. Alat-alat yang digunakan dalam


proses liming adalah sebagai berikut :

Drum/paddle/bak pengapuran(liming)
Alat ukur volume air
Ember
Gayung
Pengaduk
Pisau
Corong
Kertas pH/pH meter

Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap
yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung
Penerapan Clean Production
Air sisa kapur harus di tampung di IPAL untuk diolah sebelum
dibuang
Sisa sisa bulu rambut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos
IV.

SPLITTING
Untuk pembuatan kulit atasan dari kulit mentah yang tebal
(kerbau-sapi) kulit harus ditipiskan menurut tebal yang
dikehendaki dengan jalan membelah kulit tersebut menjadi
beberapa lembaran dan dikerjakan dengan mesin belah
( Splinting Machine). Belahan kulit yang teratas disebut bagian
rajah (nerf), digunakan untuk kulit atasan yang terbaik. Belahan
kulit dibawahnya disebut split, yang dapat pula digunakan
sebagai kulit atasan, dengan diberi nerf palsu secara dicetak
dengan mesin press (Emboshing machine), pada tahap
penyelesaian akhir. Selain itu kulit split juga dapat digunakan
untuk kulit sol dalam, krupuk kulit, lem kayu dll. Untuk
pembuatan kulit sol, tidak dikerjakan proses pembelahan karena
diperlukan seluruh tebal kulit. Alat alat yang digunakan dalam
proses ini, yaitu
Mesin splitting
Pengait kulit
Sikat plastik
Gayung
Selang air
Ember
Pisau
Solusi :

Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap


yaitu :

V.

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

DELIMING

Oleh karena semua proses penyamakan dapat dikatakan


berlangsung dalam lingkungan asam maka kapur didalam kulit
harus dibersihkan sama sekali. Kapur yang masih ketinggalan
akan mengganggu proses- proses penyamakan.
Misalnya :
1) Untuk kulit yang disamak nabati, kapur akan bereaksi
dengan zat penyamak menjadi Kalsium Tannat yang
berwarna gelap dan keras mengakibatkan kulit mudah pecah.
2) Untuk kulit yang akan disamak krom, bahkan kemungkinan
akan menimbulkan pengendapan Krom Hidroksida yang
sangat merugikan.
Pembuangan kapur akan mempergunakan asam atau garam
asm, misalnya H2SO4, HCOOH, (NH4)2SO4, Dekaltal dll.
Karena pada proses deliming ini juga menggunakan bahan
bahan kimia berbahaya maka limbah cair sisa proses juga
harus ditampung dan diolah dulu. Alat alat yang digunakan
yaitu,
Drum/paddle
Alat ukur volume air
Ember
Gayung
Pengaduk
Pisau
Corong
Kertas pH/pH meter
Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap
yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

Air sisa proses harus ditampung dan diolah dulu sebelum


diproses.
Menerapkan Clean Production
VI.

BATING

Proses ini menggunakan enzim protese untuk


melanjutkan pembuangan semua zat- zat bukan collagen
yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran antara
lain:
1) Sisa- sisa akar bulu dan pigment.
2) Sisa- sisa lemak yang tak tersabunkan.
3) Sedikit atau banyak zat- zat kulit yang tidak diperlukan
artinya untuk kulit atasan yang lebih lemas membutuhkan
waktu proses bating yang lebih lama.
4) Sisa kapur yang masih ketingglan.
Dalam proses ini juga menggunakan bahan kimia yang
dapat mencemari lingkungan. Alat alat yang digunakan
dalam proses ini yaitu
Drum/paddle
Timbangan
Alat ukur volume air
Ember
Gayung
Pengaduk
Corong
Kertas pH/pH meter
Termometer
Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap
yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

Penerapan Clean Production


VII.

PICKLING
Proses ini dikerjakan untuk kulit samak dan krom atau
kulit samak sintetis dan tidak dikerjakan untuk kulit samak
nabati atau kulit samak minyak. Maksud proses
pengasaman untuk mengasamkan kulit pada pH 3- 3,5
tetapi kulit kulit dalam keadaan tidak bengkak, agar kulit

dapat menyesuaikan dengan pH bahan penyamak yang


akan dipakai nanti. Karena juga menggunakan bahan
kimia terutama asam, proses ini juga menghasilkan limbah
yang berbahaya. Alat alat yang digunakan meliputi,

Drum
Sepatu boot
Gayung
Selang air
Ember
Baumemeter
Pisau
Kertas pH/pH meter

Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara
lengkap yaitu :

VIII.

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

Penerapan Clean Production


TANNING
Bahan penyamak yang sering digunakan saat ini
adalah krom valensi 3. Karena krom valensi 3 ini tidak
terlalu berbahaya untuk lingkungan. Sementara untuk
krom valensi 6 sangat berbahaya bahkan bersifat
karsinogenik dan krom valensi yang lain tidak memiliki
kemampuan untuk penyamak. Di samping krom juga
terdapat bahan penyamak yang lain yaitu Al, Zr,
ataupun zat penyamak Nabati. Oleh karena itu proses
penyamakan inilah yang paling banyak menghasilkan
limbah berbahaya yang dapat merusak lingkungan.
Adapun alat alat yang digunakan yaitu,

Drum tanning/paddle
Timbangan
Alat ukur volume air
Ember
Gayung
Pengaduk
Kuda-kuda
Pisau
Corong

Kompor
Panci
Baumemeter
Kertas pH/pH meter
Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara
lengkap yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung
ear plug

Penerapan Clean Production


IX.

PENGETAMAN (SHAVING)
Kulit yang telah masak ditumpuk selama 1-2 hari
kemudian diperah dengan mesin atau tangan untuk
menghilangkan sebagian besar airnya, lalu diketam
dengan mesin ketam pada bagian daging guna mengatur
tebal kulit agar rata. Kulit ditimbang guna menentukan
jumlah khemikalia yang akan diperlukan untuk prosesproses selanjutnya, selanutnya dicuci dengan air mengalir
jam. Dampak yang ditimbukan pada proses ini adalah
mudah nya terjadi kebakaran terutama pada kulit kering.
Dikarenakan percikan api dari mesin gerinda. Alat alat
yang digunakan pada proses ini meliputi,
Sikat
Mesin shaving
Alat ukur ketebalan kulit (thickness gauge)
Gunting/pisau/cutter
Bedak/china clay

Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara
lengkap yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung

ear plug

Selalu tersedia alat pemadam kebakaran di mesin


shaving
X.

NETRALISASI
Hanya dikerjakan untuk kulit samak krom. Kulit samak
krom dilingkungannya sangat asam ( pH 3-4) maka kulit
perlu dinetralkan kembali agar tidak mengganggu dalam
proses selanjutnya. Penetralan biasanya mempergunakan
garam alkali misalnya NaHCO3, Neutrigan dll. Karena juga
menggunakan bahan bahan kimia berbahaya maka limbah
sisa netralisasi juga dapat mencemari lingkungan. Alat alat
yang digunakan dalam proses ini meliputi,
Drum netralisasi/paddle
Timbangan
Alat ukur volume air
Trolley
Ember
Gayung
Pengaduk
Pisau
Corong
Kertas pH
Indikator BCG
Solusi :

Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara


lengkap yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung
ear plug

Penerapan Clean Production


XI.

PENGECATAN DASAR/DYEING
Tujuan pengecetan dasar ialah untuk memnberikan
warna dasar pada kulit agar pemakaian cat tutup nantinya
tidak terlalu tebal sehingga cat tidak mudah pecah.
Cat dasar yang dipakai untuk kulit ada 3 macam:
1). Cat direct, untuk kulit samak krom.
2). Cat asam, untuk kulit samak krom dan nabati.

3). Cat basa, untuk kulit samak nabati. Dampak yang di


timbulkan adalah sisa sisa pengecatan juga akan
menyebabkan pencemaran lingkungan. Alat alat yang
digunakan pada proses ini meliputi,

Drum pewarnaan dasar


Timbangan
Alat ukur volume air
Trolley
Ember
Gayung
Pengaduk
Kuda-kuda
Pisau
Corong
pH meter
Dryer
Pemanas air
Thermometer
Grey scale
Lampu penerangan

Solusi :
Pekerja harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara
lengkap yaitu :

masker
sepatu boot
sarung tangan
celemek plastik
kaca mata pelindung
ear plug
Penerapan Clean Production