Anda di halaman 1dari 22

A.

IDENTITAS PASIEN
Identitas Pasien

Identitas Suami

No RM

: 130.59.46

Nama

: Tn. AM

Nama

: Ny. M

Usia

: 29 tahun

Usia

: 28 tahun

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Pekerjaan

: Karyawan Appanel

Suku / bangsa : Indonesia / jawa

Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis tanggal 10 Januari 2017 Pukul 20.15 WIB
Keluhan utama
Keluar flek flek berwarna coklat dari jalan lahir
Riwayat Penyakit Sekarang
Wanita berusia 28 tahun, hamil 13 minggu, datang ke IGD Rumah Sakit
Islam Sultan Agung dengan keluhan keluar flek-flek berwarna coklat dari jalan
lahir sejak 1 hari SMRS. Tidak ada gumpalan darah. Keluar flek disertai dengan
nyeri perut. Nyeri perut dirasakan seperti diremas remas. Riwayat trauma
disangkal. Riwayat pijat disangkal. Riwayat minum obat atau jamu disangkal.
Mual, muntah dan panas badan disangkal pasien.
Ini merupakan kehamilan pertama. Pasien memiliki riwayat menstruasi
teratur. Pasien memiliki HPHT 5 Oktober 2016, saat ini pasien hamil 13 minggu.
Riwayat Kehamilan
Pasien melakukan ANC di bidan. Tidak ada masalah yang ditemukan.
Riwayat Haid
Menarche

: 14 tahun

Siklus

: 28 hari

Lama

: 7 hari

Dismenorrhea

: (-)

Leukorrhea

: (-)

Menopause

: (-)

HPHT

: 5 Oktober 2016

HPL

: 12 juli 2017

- Perkawinan 1 kali
- Menikah usia

: 27 tahun

- Lama menikah

: 1 tahun

- Riwayat KB

:-

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi.

Tidak pernah menderita penyakit jantung, kencing manis, asma dan alergi.

Pasien tidak memiliki riwayat operasi sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit jantung, darah tinggi,
kencing manis, asma dan alergi.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84x/menit

Pernafasan

: 20x/menit

Suhu

: 36,5oC

Mata

: Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik -/-

Telinga

: Tidak tampak kelainan

Hidung

: Tidak tampak kelainan

Mulut/gigi

: Tidak tampak kelainan

Leher

: Tidak tampak pembesaran KGB dan tiroid

Jantung

: BJ I-II reguler murni, gallop (-), murmur (-)

Thorak

: Suara napas dasar vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Nyeri tekan suprapubik (+)


2

Ekstremitas

: Edema -/-

Status Ginekologi
Pemeriksaan Luar
Darah merah segar (-), prongkolan (-), vulva oedem (-), pus(-),
ulkus(-)
Periksa Dalam
Dinding vagina licin dalam batas normal, massa (-), rugae (-).
Porsio licin, kenyal, pembukaan OUE (-), teraba jaringan (-), nyeri
goyang (-)
Cavum douglass menonjol (-)
Corpus uteri antefleksi, bentuk dan konsistensi lebih kecil dari
umur kehamilan 13 minggu (sebesar telur bebek).
Adneksa paramaetrium dalam batas normal, massa (-), nyeri tekan
Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin
-

Golongan Darah / Rh

O/Positif

Hemoglobin

12. 5 gram/dL

Leukosit

10. 9ribu

Hematokrit

36,2%

Trombosit

338 ribu

Imunoserologi
HbsAg

Negatif

Ringkasan/Resume
Wanita berusia 28 tahun, hamil 13 minggu, datang ke IGD Rumah Sakit
Islam Sultan Agung dengan keluhan keluar flek-flek berwarna coklat dari jalan
lahir sejak 1 hari SMRS. Tidak ada gumpalan darah. Keluar flek disertai dengan
nyeri perut. Nyeri perut dirasakan seperti diremas remas. Riwayat trauma
disangkal. Riwayat pijat disangkal. Riwayat minum obat atau jamu disangkal.
Mual, muntah dan panas badan disangkal pasien.

Ini merupakan kehamilan pertama. Pasien memiliki riwayat menstruasi


teratur. Pasien memiliki HPHT 5 Oktober 2016, saat ini pasien hamil 13 minggu.
Status Ginekologi : Pemeriksaan Luar: Darah merah segar (-), prongkolan (-),
vulva oedem (-), pus(-), ulkus(-), Periksa Dalam:Dinding vagina licin dalam batas
normal, massa (-), rugae (-). Porsio licin, kenyal, pembukaan OUE (-), teraba
jaringan (-), nyeri goyang (-), Cavum douglass menonjol (-),Corpus uteri
antefleksi, bentuk dan konsistensi lebih kecil dari umur kehamilan 13 minggu
(sebesar telur bebek), Adneksa paramaetrium dalam batas normal, massa (-), nyeri
tekan
Pada pemeriksaan laboraturium darah dalam batas normal.

Riwayat Haid
Menarche

: 14 tahun

Siklus

: 28 hari

Lama

: 7 hari

HPHT

: 5 Oktober 2016

HPL
: 12 Juli 2017
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi
: 84x/m
Pernapasan : 20x/m
: 36,5oC

Suhu

Diagnosis Kerja
G1 P0 A0 28 tahun hamil 13 minggu dengan abortus imminens
Tatalakasana

Rawat inap

Bedrest total

Pengawasan : KU, vital sign

Terapi Medikamentosa :
a. Uterogestan tab 2 x 200mg
4

b. Infus RL + Duvadilan 1 Amp 16 tpm


Follow Up
11 Januari 2017, pukul 05.00 WIB
S : keluar flek coklat ada namun sudah tinggal sedikit
O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
TD

: 110/60 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,7C

Mata

: sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)

Jantung

: BJ I-II regular murni, gallop (-), murmur (-)

Abdomen

: membuncit, nyeri tekan (-), bekas operasi (-), bising usus

(+), normal
Thorax

: SN (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

PPV

: (+) Flek coklat

A : G1P0 A0, umur 28 tahun, dengan abortus immenes


P : Terapi teruskan

12 januari 2017 pukul 05.00 WIB


S : (-)
O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
TD

: 100/60 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,8C

Mata

: sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)

Jantung

: BJ I-II regular murni, gallop (-), murmur (-)

Thorax

: SN (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

: membuncit, nyeri tekan (-), bekas operasi (-), bising usus

(+), normal
5

PPV

: (-) Flek coklat

A : G1P0 A0, umur 28 tahun, dengan abortus immenes


P : terapi tetap
13 Januari 2017, pukul 05.00 WIB
S : (-)
O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
TD

: 110/60 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5C

Mata

: sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)

Jantung

: BJ I-II regular murni, gallop (-), murmur (-)

Thorax

: SN (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

: membuncit, nyeri tekan (-), bekas operasi (-), bising usus

(+), normal
PPV

: (-)

A : G1P0A0, umur 28 tahun, dengan abortus immenes


P :Bed rest
Boleh pulang
Edukasi :

Kontrol kehamilan setiap bulan ke pelayanan kesehatan

Istirahat yang banyak dan jangan terlalu lelah

TINJAUAN PUSTAKA
ABORTUS
Abortus merupakan suatu proses berakhirnya suatu kehamilan dimana janin
belum mampu hidup di luar rahim (belum viable); dengan kriteria usia kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Klasifikasi abortus
1. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis
maupun mekanis.
2. Abortus buatan, (Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) yaitu:
a. Abortus buatan menurut kaidah ilmu (Abortus provocatus artificialis atau
abortus therapeuticus). Indikasi abortus untuk kepentingan ibu, misalnya
adalah penyakit jantung, hipertensi esensial, dan karsinoma serviks.
Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli yang terdiri dari dokter ahli
kebidanan, penyakit dalam dan psikiatri atau psikolog.
b. Abortus buatan kriminal ( Abortus provocatus criminalis) adalah
pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang
tidak berwenang dan dilarang oleh hukum, atau dilakukan olehyang tidk
berwenang.
Secara klinis abortus dibedakan menjadi : 1) abortus immens (keguguran
mengancam),

2)

abortus

insipiens

(keguguran

berlangsung),

abortus

inskompletus (keguguran tidak lengkap), abortus kompletus (keguguran lengkap),


abortus tertunda (missed abortion), abortus habitualis (keguguran berulang). 1
Abortus Iminens
Threatenes abortion, ancaman keguguran
Didiagnosis bila seseorang wanita hamil < 20 minggu mengeluarkan darah
sedikit per vaginam. Pendarahan dapat berlanjut beberapa hari atau dapat
berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah
7

seperti saat menstruasi. Setengah dari abortus iminens akan menjadi abortus
komplet atau inkomplet, sedangkan pada sisanya kehamilan akan terus
berlangsung. Beberapa kepustakaan menyebabkan adanya risiko untuk terjadinya
prematuritas atau gangguan pertumbuhan dalam rahim ( intrauterine growth
retardation) pada kasus seperti ini.
Pendarahan sedikit pada hamil muda mungkin disebabkan oleh hal-hal lain,
misalnya placental sign ialah perdarahan dari pembuluh-pembuluh darah sekitar
plasenta.
Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dan beberapa jam
sampai beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut.
Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis; nyeri dapat
berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di
panggul; atau rasa tidak nyama atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis.
Pencitraan dengan USG berguna untuk menentukan kesejahteraan janin. 2
Terapi dengan bed rest total, obat hormonal, antispasmodika. Observasi
kehamilan.

Gambar 1. Abortus imminens

Abortus Insipien

Abortus insipien (abortus sedang berlangsung) didiagnosis apabila wanita


hamil sebelum 20 minggu ditemukan perdarahan banyak, kadang-kadang keluar
gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan
adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat
teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan
jaringan yang tertinggal dapat menyebakan infeksi sehingga evakuasi harus segera
dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada
keadaan ini merupakan indikasi kontra.
Terapinya berprinsip pada dilakukan evakuasi atau pembersihan kavum
uteri (DK atau suction curretage ) sesegera mungkin. 2

Gambar 2. Abortus insipien

Abortus Inkomplet
Abortus inkomplet proses abortus dimana sebagian hasil konsepsi telah
keluar melalui jalan lahir tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta).
Abortus inkompletus ditangani hampir sama dengan abortus insipien, kecuali jika
pasien dalam keadaan syok karena perdarahan banyak. Perdarahan biasanya terus
berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena
masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing. Oleh karena
itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi
sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada abortus insipien. Pada
beberapa kasus perdarahan tidak banyak dan bila dibiarkan serviks akan menutup
kembali. 2

Pengelolaan dengan memperbaiki keadaan umum: bila syok atasi syok


harus dilakukan resusitasi cairan (bahkan mungkin perlu tranfusi); bila Hb < 8 gr
% tranfusi. Evakuasi, uretonik dan antibiotik selama tiga hari. DK (dilatasi dan
kuretase dapat dilakukan setelah syok teratasi. 2

Abortus Kompletus
Abortus kompletus adalah proses abortus dimana keseluruhan hasil
konsepsi telah keluar melalui jalan lahir. Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu
dilakukan. Pengamatan (minimal 1 jam) adanya perdarahan lebih lanjut mungkin
sudah memadai. Jika terdapat hasil konsepsi, harus diperiksa kelengkapannya dan
dapat diserahkan untuk keperluan analisis genetik atau pemeriksaan patologis
lainnya. Pada kasus-kasus yang meragukan, pencitraan uterus dengan USG akan
merinci hasil konsepsi tersisa. Setelah pengamatan selesai, pasien yang
mengalami abortus komplit dapat pulang ke rumah dengan intruksi untuk
mempertahankan adanya tanda-tanda infeksi (demam, mengigil, nyeri),
mengamati adanya perdarahan per vaginam dan jangan melakukan hubungan
seksual atau pencucian vagina sampai pemeriksaan ulang dalam waktu sekitar 2
minggu untuk menentukan ada tidaknya kekurangan penutupan serviks atau
kelainan lainnya.2
Terapi tidak memerlukan tindakan DK, mungkin perlu tranfusi dan
pengobatan suportif laiinya untuk anemianya.

Gambar 3. Abortus Kompletus


10

Abortus Tertunda (Missed Abortion)


Abortus tertunda (Missed abortion) adalah berakhirnya suatu kehamilan
sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil konsepsi ini tertahan dalam uterus
selama 8 minggu atau lebih. Dengan pemeriksaan USG tampak janin tidak utuh,
dan membentuk gambaran kompleks, diagnosis USG tidak selalu harus tertahan
8 minggu.
Sekitar kematian janin kadang-kadang ada perdarahan pervaginam sedikit
sehingga menimbulkan gambaran abortus iminen. Selanjutnya rahim tidak
membesar bahkan mengecil karena absorpsi air ketuban dan maserasi janin. Buah
dada mengecil kembali. Gejala-gejala lain yang penting tidak ada, hanya amenore
berlangsung terus. Abortus spontan biasanya berakhir selambat-lambatnya 6
minggu setelah janin mati.
Penatalaksanaan terbaru missed abortion adalah induksi persalinan dengan
suposutoria prostaglandin E2, jika perlu diperkuat dengan oksitosin encer. 3
Risiko utama missed abortion adalah kemungkinan hipofibrinogenemia. Karena
jika hasil konsepsi tertahan lebih dari 4 minggu setelah kematian janin,
pemantauan ketat fibrinogen serum merupakan keharusan. 3
Abortus Habitualis
Bila abortus spontan terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih. Kejadiannya
jauh lebih sedikit daripada abortus spontan (kurang dari 1%), lebih sering terjadi
pada primi tua. Penyebab abortus habitualis yang paling mungkin adalah kelainan
genetik, kelainan anatomis saluran reproduksi, kelainan hormonal, infeksi,
kelainan faktor imunologis atau penyakit sistemik. Namun pada sepertiga kasus
abortus habitualis penyebabmya tetap tidak diketahui.
Inkompetensia servik bertanggung jawab untuk abortus yang terjadi pada trimester
II. Tindakan cervical cerclage Shirodkar atau McDonald pada beberapa kasus
memperlihatkan hasil yang positif.
11

Pengelolaan abortus habitualis bergantung pada etiologinya. 1

Blighted Ovum
Blighted Ovum atau yang dikenal sebagai kehamilan tanpa embrio atau
kehamilan kosong. Pada saat terjadi pembuahan, sel-sel tetap membentuk kantung
ketuban, plasenta, namun telur yang telah dibuahi (konsepsi) tidak berkembang
menjadi sebuah embrio. Pada kondisi blighted ovum kantung kehamilan akan
terus berkembang, layaknya kehamilan biasa, namun sel telur yang telah dibuahi
gagal untuk berkembang secara sempurna, maka pada ibu hamil yang mengalami
blighted ovum, akan merasakan bahwa kehamilan yang dijalaninya biasa-biasa
saja, seperti tidak terjadi sesuatu karena memang kantung kehamilan berkembang
seperti biasa. Pada saat awal kehamilan, produksi hormon HCG tetap meningkat,
ibu hamil ketika dites positif, juga mengalami gejala seperti kehamilan normal
lainnya, mual muntah, pusing-pusing, sembelit dan tanda-tanda awal kehamilan
lainnya. Namun ketika menginjak usia kehamilan 6-8 minggu, ketika ibu hamil
penderita blighted ovum memeriksakan kehamilan ke dokter dan melakukan
pemeriksaan USG maka akan terdeteksi bahwa terdapat kondisi kantung
kehamilan berisi embrio yang tidak berkembang. jadi gejala blighted ovum dapat
terdeteksi melalui pemeriksaan USG atau hingga adanya perdarahan layaknya
mengalami gejala keguguran mengancam (abortus iminens) karena tubuh
berusaha mengeluarkan konsepsi yang tidak normal.
Untuk penanganan kehamilan blighted ovum tidak ada jalan lain kecuali
mengeluarkan hasil konsepsi dari dalam rahim. Caranya bisa dilakukan dengan
kuretase atau dengan menggunakan obat. Namun kuretase dianggap memiliki
kelebihan karena dapat mencegah terjadinya infeksi dan juga pemeriksaan
kromosom.

12

Gambar 4. USG Blighted ovum

Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik


Abortus infeksiosus adalah suatu abortus yang telah disertai komplikasi
berupa infeksi, baik yang diperoleh dari luar RS maupun yang terjadi setelah
tindakan di RS. Tandanya amenore, perdarahan, keluar jaringan.

Abortus septik adalah keguguran yang disertai dengan infeksi berat,


penyebaran kuman sampai peredaran darah/ peritonium. Tandanya sakit berat,
panas tinggi, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun, syok. Pada pemeriksaan
kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan, tanda infeksi genital.

13

Gambar 2. Klasifikasi abortus

Pengobatan meliputi rawat inap, terapi antibiotik IV dosis tinggi (sesuai dengan
organisme yang dicurigai), pemberian cairan dan elektrolit dan pemantauan ketat
tanda-tanda vital serta pengeluaran urin. Uterus harus dikosognkan dan ini harus
dikerjakan dengan DK segera setelah pasien stabil. Semua hasil konsepsi harus
dikeluarkan meskipun kuretase menyeluruh uterus yang terinfeksi akan sangat
memperbesar risiko sinekia uteri *sindrom Asherman).3

Tabel 1. Perbedaan abortus

14

ABORTUS IMMINENS
Definisi
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dengan hasil konsepsi masih dalam uterus dan
viabel, dan serviks tertutup. 1

Penyebab
1. Kelainan pertumbuhan hasil komsepsi, menyebabkan kematian janin atau
cacat, penyebab antara lain:
a. Kelainan kromosom, misalnya trisomi, poliploidi dan kelainan kromosom
seks. Abnormalitas dari kromosom adalah etiologi paling sering
menyebabkan abortus, 50% angka kejadian pada trimester pertama, lalu
insiden menurun pada trimester kedua sekitar 20-30% dan 5-10% pada
trimester ketiga.2
b. Endometrium kurang sempurna, biasanya terjadi pada ibu hamil saat usia
tua, dimana kondisi abnormal uterus dan endokrin atau sindroma ovarium
polikistik
15

c. Pengaruh eksternal, misalnya radiasi, virus, obat-obatan dan sebagainya


dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya
dalam uterus, disebut teratogen.
2. Kelainan

plasenta,

menyebabkan

misalnya

oksigenasi

endarteritis

plasenta

terjadi

terganggu,

dalam
sehingga

vili

korlales

mengganggu

pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini dapat terjadi sejak kehamilan
muda misalnya karena hipertensi menahun.
3. Penyakit ibu, baik yang akut seperti pneumonia, tifus abdominalis,
pielonefritis, malaria dan lain-lain, maupun kronik seperti, anemia berat,
keracunan laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti
brusellosis, mononukleosis infeksiosa, toksoplasmosis.
4. Kelainan traktus genetalia, misalnya retroversio uteri, mioma uteri, atau
kelainan bawaan uterus. Terutama retroversio uteri gravidi inkarserata atau
mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain keguguran
dalam trimester dua ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh
kelemahan bawaan pada serviks berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan
serviks yang luas yang tidak dijahit.1,2

Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi pendarahan desiduabasalis, diikuti dengan
nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap
benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
benda asing tersebut. Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi akibat pendarahan
subdesidua menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan mengawali adanya
proses abortus.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Selain itu
Embiro rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan vili
korialis cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di canalis servikalis. Pada
16

kehamilan 8-14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak
dilepaskan sempurna dan menimbulkan pendarahan. Ini terjadi dapat diawali
dengan pecahnya selaput ketuban terlebih dahulu dan diikuti dengan pengeluaran
janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam cavum uteri. Ini sering
menimbulkan pendarahan pervaginam banyak.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu
daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong
amnion atau benda asing yang tidak jelas bentuknya (bligtes ovum), janin lahir
mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus
papiraseus.2,3

Tanda dan gejala


Adanya pendarahan pada awal kehamilan melalui ostium uteri eksternum,
disertai nyeri perut ringan atau tidak sama sekali.
Adanya gejala nyeri perut dan punggung belakang semakin bertambah
buruk dengan atau tanpa kelemah dan uterus membesar sesuai usia kehamilan.3

Dasar diagnosis
1. Anamnesis pendarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada
atau ringan.
2. Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar
uterus sesuai dengan umur kehamilan
3. Pemeriksaan penunjang USG dapat menunjukkan
a. Buah kehamilan masih utuh, ada tanda kehidupan janin.
17

b. Meragukan. Jika hasil meragukan pemeriksaan dapat diulang 1-2


minggu kemudian
c. Buah kehamilan tidak baik, janin mati.
4. Tes kehamilan positif
kadar human chorionic gonadotropin (hCG). Kadar HCG serum wanita
hamil yang mengalami keguguran diawali dengan gejala abortus imminens
pada trimester pertama lebih rendah dibandingkan wanita hamil dengan
gejala abortus imminens yang kehamilannya berlanjut atau dengan wanita
hamil tanpa gejala abortus imminens. Nilai batas hCG bebas 2ng/ml
untuk norma (kontrol dan abortus imminen namun kehamilan berlanjut)
dan abnormal (abortus imminens yang mengalami keguguran dan
kehamilan tuba). 1,3

Komplikasi
Pendarahan, perforasi syok adan infeksi. Pada missed abortion dengan retensi
lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.3

Penatalaksanaan
Efektivitas penatalaksanaan aktif masih dipertanyakan karena umumnya
penyebab abortus imminens adalah kromosom abnornal pada janin. Messkipun
banyak penelitian menyatakan tidak ada terapi yang efektif untuk abortus
imminens. Penatalaksanaan aktif terdiri atas:

1. Tirah baring

18

Tirak baring merupakan unsur penting karena cara ini menyebabkan


bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
Dosisnya 24-28 jam diikuti dengan tidak melakukan aktivitas berat, namun tidak
perlu membatasi aktivitas ringan sehari-hari.
2. Abstinensia
Abstinensia sering kali dianjurkan dalam penanganan abortus imminens, karena
pada saat berhubungan seksual, oksitosin disekresi oleh puting atau akibat
stimulasi klitoris, selain itu prostaglandin E dalam semen dapat mempercepat
pematangan serviks dan meningkatkan kolonisasi mikroorganisme di vagina.
3. Progesteron
Progesteron merupakan substansi yang memiliki aktivitas progestasional atau
memiliki efek progesteron diresepkan pada 13-40% wanita dengan abortus
imminens. Progesteron merupakan produk utama korpus luteum dan berperan
penting pada persiapan uterus untuk implantasi, mempertahankan serta
memelihara kehamilan. Sekresi progesteron yang tidak adekuat pada awal
kehamilan diduga sebagai salah satu penyebab keguguran sehingga suplementasi
progesteron sebagai terapi abortus imminens disuga dapat mencegah keguguran,
karena fungsinya diharapkan dapat menyokong defisiensi korpus luteum
gravidarum dan membuat uterus relaksasi. Kadar< 5-10 nanogram.
Salah satu preparat progestogen adalah dydrogesterone, Penelitian dilakukan pada
154 wanita yang mengalami perdarahan vaginal saat usia kehamilan kurang dari
13 minggu. Persentase keberhasilan mempertahankan kehamilan lebih tinggi
(95,9%) pada kelompok yang mendapatkan dosis awal dydrogesterone 40 mg
dilanjutkan 10 mg dua kali sehari selama satu minggu dibandingkan kelompok
yang mendapatkan terapi konservatif 86,3%.
4. hCG (Human Chorionic Gonadotropin)
hCG diproduksi plasenta dan diketahui bermanfaat dalam mempertahankan
kehamilan. Karena itu hCG digunakan pada abortus imminens untuk
mempertahankan kehamilan. Namun hasil tiga penelitian tidak ada cukup bukti
19

tentang

efektivitas

penggunaan

hCG

pada

abortus

imminens

untuk

mempertahankan kehamilan.
5. Antibiotik hanya jika ada tanda infeksi
Penelitian retrospektif pada 23 wanita dengan abortus imminens pada usia awal
trimester kehamilan, mendapatkan 15 orang (65%) memiliki flora abnormal
vagina. Tujuh dari 16 orang mendapatkan amoksisilin ditambah klindamisin
mengalami perbaikan, tidak mengalami nyeri abdomen dan pendarahan vaginal
tanpa kambuh. Disimpulkan bahwa antibiotik dapat digunakan sebagai terapi dan
tidak menimbulkan anomali bayi.
6. Relaksan otot uterus
Bupherine hydrochloride merupakan vasidilator yang juga digunakan sebagai
relaksan otot uterus, pada penelitian RCT menunjukkan hasil yang tidak baik
dibandingkan penggunaan plasebo, namun metode penelitian ini tidak jelas, dan
tidak ada penelitian lain yang mendukung pemberian tokolisis pada awal
terjadinya abortus imminens. Namun untuk keefektivitasan penggunanaan
relaksan otot uterus dalam mencegah abortus imminens belum banyak bukti yang
cukup.
7. Profilaksis Rh (rhesus)
Konsesus menyarankan pemberian imunoglobulin anti-D pada kasus perdarahan
setelah 12 minggu kehamilan atau kasus dengan perdarahan gejala berat
mendekati 12 minggu. 3

Pencegahan
1. Vitamin
Mengonsumsi vitamin sebelum atau selama awal kehamilan dapat mengurangi
risiko keguguran, namun dari 28 percobaan yang dilakukan ternyata hal tersebut
tidak terbukti.

20

2. Antenatal care (ANC)


Merupakan intervensi lengkap pada wanita hamil yang bertujuan untuk mencegah
atau mengidentifikasi dan mengobati kondisi mengancam kesehatan fetus/ bayi
baru lahir dan atau ibu, dan membantu wanita dalam menghadapi kehamilan
dankelahiran sebagai pengalaman yang menyenangkan. Pada penelitian Herbst,
dkk (2003) ibu hamil yan tidak melakukan ANC memiliki risiko dua kali lipat
untuk mengalami risiko kehamilan prematur. 3
Prognosis
Abortus immines merupakan salah satu faktor risiko keguguran, kelahiran
prematur, BBLR, pendarahan anterpartum, KPD dan kematian prenatal. Prognosis
menjadi kurang baik bila perdarahan berlangsung lama, nyeri perut yang disertai
pendataran serta pembukaan serviks.
Tabel 1. Faktor-faktor yang memengaruhi prognosis abortus imminens

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Sastrawinata S. Ilmu kesehatan reproduksi obstetri patologi. Edisi ke-2.
Jakarta: EGC; 2004.h.1-9.
2. Hadijanto B. Dalam ilmu kebidanan Sarwono Prawirohardjo: Pendarahan pada
kehamilan muda. Edisi ke-4. Cetakan ke-4. Jakarta: Bina pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2014.h.461-74.
3. Sucipto N. Abortus imminens: upaya pencegahan, pemeriksaan, dan
penatalaksanaan. CDK-206. Volume 40 no.7; 2013. Diunduh
http://www.kalbemed.com/Portals/6/06_206Abortus%20Imminens-Upaya
%20Pencegahan%20Pemeriksaan%20dan%20Penatalaksanaan.pdf . 29
October 2014.
4. Manuaba IBG. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : EGC; 2007.h. 396-400.

22