Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

KOMPETENSI PENATA ANESTESI NASIONAL DAN INTERNASIONAL


Di Susun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etik dan Aspek Legal
Semester VII Prodi D-IV Keperawatan

Oleh:
Alvionita Rosa Novitasari

P07120213002

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A

LATAR BELAKANG
Dibidang pelayanan kesehatan, sudah menjadi tuntutan masyarakat
terhadap akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan terstandar, sehingga
sudah menjadi kelazimam apabila sebagian masyarakat mencari pelayanan
kesehatan secara lintas negara ataupun lintas benua untuk dapat
menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terstandar, tidak cukup
hanya dengan penyedian sarana dan prasarana kesehatan yang lengkap dan
modern. Salah satu hal yang paling rumit justru berupa penyediaan sumber
daya manusia sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan tersebut. Oleh
karena itu dalam menghadapapi globalisasi ini, perlu dipersiapkan tenaga
kesehatan yang betul-betul profesional dengan kompetensi berstandar
internasional. Dalam rangka meningkatkan profesionalisme tenaga
kesehatan, harus dimulai dengan pemberdayaan organisasi profesi, karena
organisasi profesi memiliki fungsi dan tanggung jawab penuh baik terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi dalam bidang profesinya, maupun
terhadap pembinaan profesionalisme para anggotanya.
Eksistensi Profesi Perawat Anestesi di Indonesia sudah berjalan cukup
lama dan mendapat pengakuan dari masyararakat. Ikatan Perawat Anestesi
Indonesia sebagai wadah profesi perawat anestesi dalam menghadapi
berbagai issue profesi baik dalam lingkungan internal dan eksternal maupun
dalam skala lokal dan global memerlukan legislasi profesi yang bertujuan
melindungi profesi dan masyarakat dari pelayanan kesehatan yang
substandar. Legislasi profesi kesehatan hanya dapat diberikan kepada
profesi yang telah memiliki standar profesi yang disahkan oleh Menteri
Kesehatan.

RUMUSAN MASALAH
1; Apa pengertian dari perawat anestesi?
2; Bagaimana Visi, Misi dan tujuan dari organisasi perawat anestesi?

3; Apasajakah ruang lingkup dari keperawatan anestesi?


4; Apasajakah kompetensi yang harus dimiliki perawat anestesi di Indonesia

dan Internasional?
C

TUJUAN
Makalah ini dibuat bertuajuan agar mahasiswa dapat memeahami apa perawat
anestesi itu dan apasajakah kompetensi yang harus dimiliki perawat anestesi
di Indonesia dan di Internasional.

BAB II
PEMBAHASAN
A; Definisi Perawat Anestesi

Anestesi adalah suatu keadaan narkosis, analgesia, relaksasi dan


hilangnya reflek. Definisi anestesiologi yang ditegakkan oleh The American

Board of Anesthesiology pada tahun 1089 ialah mencakup semua kegiatan


profesi atau praktek yang meliputi :
1 Menilai, merancang, menyiapkan pasien untuk anestesi.
2 Membantu pasien menghilangkan nyeri pada saat pembedahan, persalinan
atau pada saat dilakukan tindakan diagnostik terapeutik.
3 Memantau dan memperbaiki homeostasis pasien perioperatif dan pada
4
5
6
7

pasien dalam keadaan kritis.


Mendiagnosis dan mengobati sindroma nyeri.
Mengelola dan mengajarkan resusitasi jantung paru (RJP).
Membuat evaluasi fungsi pernafasan dan mengobati gangguan pernafasan.
Mengajarkan, memberi supervisi dan mengadakan evaluasi tentang
penampilan personil paramedik dalam bidang anestesi, perawatan

pernafasan dan perawatan pasien dalam keadaan kritis.


8 Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untuk
menjelaskan dan memperbaiki perawatan pasien terutama tentang fungsi
fisiologi dan respon terhadap obat.
9 Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit. Pendidikan kedokteran
dan fasilitas rawat jalan yang diperlukan untuk implementasi pertanggung
jawaban.
Ikatan Perawat Anestesi Indonesia adalah organisasi profesi perawat
anestesi yang bebas pajak, dibentuk atas keinginan perawat anestesi sebagai
wadah untuk mengelola kepentingan untuk anggotanya atau sebagai
mandataris dari perawat anestesi di seluruh Indonesia.
Perawat anestesi adalah perawat yang telah diberi pendidikan formal
secara teoritis dan praktek dalam bidang anestesi dan berkompetensi untuk
melakukan pelayanan dalam pelayanan anestesi.
Anggota biasa adalah perawat anestesi yang telah Lulus Program
Pendidikan Perawat Anestesi seperti Akademi Anestesi, Program DIII
Keperawatan Anestesi, Program Ahli Madya Perawat Anestesi dan memenuhi
semua peraturan, pedoman, standar-standar atau kualifikasi lainnya sesuai
dengan anggaran dasar dan rumah tangga organisasi.
Anggota luar biasa adalah perawat yang telah mendapat pelatihan
anestesi atau berpengalaman dan bekerja dalam bidang anestesi serta
memenuhi semua peraturan, pedoman, standar-atandar atau kualifikasi
lainnya sesuai dengan anggaran dasar dan rumah tangga organisasi

Perawat Anestesi memberikan pelayanan anestesi dan reanimasi


dalam 4 (empat) kategori umum yaitu :
1 Persiapan dan evaluasi pra-anestesi.
2 Induksi, pemeliharaan, dan emergence anestesi.
3 Perawatan pasca anestesi.
4 Fungsi bantuan klinis dan perianestesi.
Perawat anestesi melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya pada
keadaan:
1 Pemberian anestesi pada operasi / tindakan diagnostik elektif :
Pasien status fisik ASA 1 dan 2. dengan penyakit penyerta minimum.
Pembedahan yang diramal tidak sulit.
Pembedahan bukan pada rongga dada dan rongga kepala.
2

Pemberian anestesi pada operasi darurat.


Pembedahan untuk penyelamatan nyawa.
Pasen tidak mungkin dirujuk.
Status fisik tidak dibatasi.
Unit Emergensi.
Resource Person untuk tindakan Resusitasi Kardio-Pulmonal.
Berpartisipasi dalam tindakan gawat darurat yang lain.
Supervisi dalam tindakan perawatan emergensi.
Unit Perawatan Intensive / Recovery Room.
Supervisi pada perawatan intensive bedah.
Supervisi dalam perawatan diruangan recovery.

B; Visi dan Misi Organisasi IPAI


1

Visi IPAI
Menjadi organisasi profesi perawat anestesi yang mampu mengemban
tugas pelayanannya dan diakui oleh masyarakat dan profesi lain baik
dalam bidang pelayanan kesehatan maupun di luar bidang kesehatan, baik
secara nasional maupun internasional,serta melaksanakan tujuan
organisasi untuk kepentingan masyarakat dalam bidang pelayanan
kesehatan, khususnya melalui pelayanan anestesi yang berkualitas dan
aman, dan memberikan tuntunan dan kesejahteraan bagi anggotanya.
Misi IPAI

Melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan tujuan


organisasi.
b Memelihara dan meningkatkan kualitas pelayanan dari perawat
anestesi demi kepentingan masyarakat
c Merumuskan dan menetapkan berbagai pernyataan posisi, pedoman
praktik dan standar praktik serta Kode Etik Profesi Perawat Anestesi
dan ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan hal tersebut,
termasuk pendidikan berkelanjutan untuk perawat anestesi
d Berpartisipasi dan berperan aktif dalam usaha peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan secara nasional maupun internasional khususnya
dalam pelayanan anestesi oleh perawat anestesi.
3 Tujuan
a

a
b
c
d
e

f
g
h
i

Meningkatkan kualitas pelayanan anestesi yang bermutu tinggi


terhadap pelayanan pada klien secara terus-menerus.
Meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan anestesiologi.
Mengembangkan dan meningkatkan standar pendidikan dalam bidang
perawat anestesi.
Mengembangkan dan meningkatkan standar praktek dalam bidang
pelayanan anetesi.
Menciptakan kerjasama yang efektif antara perawat anestesi, dokter
ahli anestesi, profesi keperawatan, rumah sakit, dan pihak lain yang
mewakili kepentingan masyarakat terhadap perawat anestesi.
Menerbitkan jurnal ilmu pengetahuan, bulletin, dan lainnya yang
berhubungan dengan organisasi.
Mengakses berbagai sumber data informasi untuk pengembangan
profesi
Mendukung pengembangan SDM perawat anestesi untuk pendidikan
lanjutan dalam bidang anestesi.
Memberikan petunjuk dan arahan kepada para anggota berkenaan
dengan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan legislasi dan
regulasi.
Memperjuangkan kesejahteraan bagi para anggotanya.

C; Ruang Lingkup Keperawatan Anestesi

Ruang lingkup keperawatan anestesi meliputi pelayanan keperawatan anestesi


pada pelayanan :
1; Pra anestesi / pembedahan
Perawatan pra anestesi dimulai saat pasien berada di ruang perawatan,
atau dapat juga dimulai pada saat pasien diserahterimakan di ruang
opersai dan berakhir saat pasien dipindahkan ke meja operasi. Tujuan :
a; Menciptakan hubungan yang baik dengan pasien, memberikan
penyuluhan tentang tindakan anestesi.
b; Mengkaji, merencanakan dan memenuhi kebutuhan pasien.
c; Mengetahui akibat tindakan anestesi yang akan dilakukan.
d; Mengantisipasi dan menanggulangi kesulitan yang mungkin timbul.
Dalam menerima pasien yang akan menjalani tindakan anestesi,
Perawat anestesi wajib memeriksa kembali data dan persiapan anestesi,
diantaranya:
a; Memeriksa:
1; Identitas pasien dan keadaan umum pasien.
2; Kelengkapan status / rekam medik.
3; Surat persetujuan operasi dari pasien / keluarga.
4; Data laboratorium, rontgent, EKG dan lain-lain.
5; Gigi palsu, lensa kontak, perhiasan, cat kuku, lipstik dan lain-lain.
b; Mengganti baju pasien.
c; Membantu pasien untuk mengosongkan kandung kemih.
d; Mencatat timbang terima pasien.
Perawat anestesi juga bertugas memberikan pre-medikasi berdasarkan
instruksi tertulis dari dokter Spesialis Anestesiologi atau dokter lain yang
berwenang. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
a; Memeriksa kembali nama pasien sebelum memberikan obat.
b; Mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita.
c; Mengetahui riwayat alergi terhadap obat-obatan.
d; Memeriksa fungsi vital (tensi,nadi,suhu,nafas) sebelum memberikan
premedikasi dan sesudahnya.
e; Memberikan obat pre-medikasi sesuai instruksi dokter dan kemudian
mencatat nama obat, dosis obat, cara dan waktu pemberian, tanda
tangan dan nama jelas perawat yang memberikan obat.
2; Selama anestesi / pembedahan

Perawatan selama anestesi dimulai sejak pasien berada diatas meja


operasi sampai dengan pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar.
Tujuannya mengupayakan fungsi vital pasien selama anestesi berada
dalam kondisi optimal agar pembedahan dapat berjalan lancar dengan
baik. Sebelum dilakukan tindakan anestesi, perawat anestesi wajib :
a; Memeriksa kembali nama pasien, data, diagnosa dan rencana operasi.
b; Mengenalkan pasien kepada dokter spesialis anestesiologi, dokter ahli
bedah, dokter asisten dan perawat instrumen.
c; Memberikan dukungan moril, menjelaskan tindakan induksi yang
akan dilakukan dan menjelaskan fasilitas yang ada di sekitar meja
operasi.
d; Memasang alat-alat pemantau (antara lain tensimeter, EKG dan alat
lainnya sesuai dengan kebutuhan).
e; Mengatur posisi pasien bersama-sama perawat bedah sesuai dengan
posisi yang dibutuhkan untuk tindakan pembedahan.
f; Mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan.
Selama tindakan anestesi perawat anestesi wajib :
a; Mencatat semua tindakan anestesi.
b; Berespon dan mendokumentasikan semua perubahan fungsi vital
tubuh pasien selama anestesi / pembadahan. Pemantauan meliputi
sistem pernafasan, sirkulasi, suhu, keseimbangan cairan, perdarahan
dan produksi urine dan lain-lain.
c; Berespon dan melaporkan pada dokter spesialis anestesiologi bila
terdapat tanda-tanda kegawatan fungsi vital tubuh pasien agar dapat
dilakukan tindakan segera.
d; Melaporkan kepada dokter yang melakukan pembedahan tentang
perubahan fungsi vital tubuh pasien dan tindakan yang diberikan
selama anestesi.
e; Mengatur dosis obat anestesi atas pelimpahan wewenang dokter.
f; Menanggulangi keadaan gawat darurat.
Pengakhiran anestesi :
a; Memantau tanda-tanda vital secara lebih intensif.
b; Menjaga jalan nafas supaya tetap bebas.
c; menyiapkan alat-alat dan obat-obat untuk pengakhiran anestesi dan
atau ekstubasi.

Melakukan pengakhiran anestesi dan atau ekstubasi sesuai dengan


kewenangan yang diberikan.
3; Pasca anestesi / pembedahan
Perawatan pasca anestesi / pembedahan dimulai sejak pasien
dipindahkan ke ruang pulih sadar sampai diserahterimakan kembali kepada
perawat di ruang rawat inap. Jika kondisi pasien tetap kritis pasien
dipindahkan ke ICU.
Tujuan :
a; Mengawasi kemajuan pasien sewaktu masa pulih.
b; Mencegah dan segera mengatasi komplikasi yang terjadi.
c; Menilai kesadaran dan fungsi vital tubuh pasien untuk menentukan
pemindahan / pemulangan pasien.
d;

4; Perawatan gawat darurat


5; Perawatan intensif
6; Semua pelayanan yang memerlukan perawatan anestesi.
D; Kompetensi Penata Anestesi Indonesia

Kompetensi Penata Anestesi (Sesuai Permenkes No. 31 Tahun 2013)


1 ASUHAN KEPERAWATAN PRE ANESTESI
a Pengkajian keperawatan pra-anestesia;
b Pemeriksaan dan penilaian status fisik pasien;
c Pemeriksaan tanda-tanda vital;
d Persiapan administrasi pasien;
e Analisis hasil pengkajian dan merumuskan masalah pasien;
f
Evaluasi tindakan keperawatan pra-anestesia, mengevaluasi secara
mandiri maupun kolaboratif;
g Mendokumentasikan hasil anamnesis/pengkajian.
h Persiapan mesin anestesia secara menyeluruh setiap kali akan
digunakan dan memastikan bahwa mesin dan monitor alam keadaan
baik dan siap pakai.
i
Pengontrolan persediaan obat-obatan dan cairan setiap hari untuk
memastikan bahwa semua obat-obatan baik obat anestesia maupun
obat emergensi tersedia sesuai standar rumah sakit.

Memastikan tersedianya sarana prasarana anestesia berdasarkan


jadwal, waktu dan jenis operasi tersebut.

2 Melakukan Kolaborasi Dengan Dokter Spesialis Anestesi


a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k

Menyiapkan peralatan dan obat-obatan sesuai dengan perencanaan


teknik anestesia;
Membantu pelaksanaan anestesia sesuai dengan sesuai instruksi
dokter spesialis anestesi;
Membantu pemasangan alat monitoring non invasif;
Membantu dokter melakukan pemasangan alat monitoring invasif;
Pemberian obat anestesi;
Mengatasi penyulit yang timbul;
Pemeliharaan jalan napas;
Pemasangan alat ventilasi mekanik;
Pemasangan alat nebulisasi;
Pengakhiran tindakan anestesia;
Pendokumentasian semua tindakan yang dilakukan agar seluruh
tindakan tercatat baik dan benar.

3 Melakukan Asuhan Keperawatan Pasca Anestesi :


a
b
c
d
e
f
g

E;

Merencanakan tindakan keperawatan pasca tindakan anestesia;


Pelaksanaan tindakan dalam manajemen nyeri;
Pemantauan kondisi pasien pasca pemasangan kateter epidural dan
pemberian obat anestetika regional;
Evaluasi hasil pemasangan kateter epidural dan pengobatan anestesia
regional;
Pelaksanaan tindakan dalam mengatasi kondisi
Pendokumentasian pemakaian obat-obatan dan alat kesehatan yang
dipakai.
Pemeliharaan peralatan agar siap untuk dipakai pada tindakan
anestesia selanjutnya.

Kompetensi Perawatan Anestesi Indonesia


KOMPETENSI PERAWAT ANESTESI (Di susun oleh Dr. Joko Murdiyanto,
Sp.An)

KOMPETENSI 1 : SEBAGAI PELAKSANA


KOMPETENSI 1.1. (Kompetensi Khusus)
1; Melakukan anamnesis riwayat kesehatan klien
2; Melakukan pemeriksaan dan penilaian status fisik klien
3; Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
4; Melakukan pengecekan persiapan administrasi klien
5; Melakukan analisis hasil pengkajian dan merumuskan masalah / diagnosis
keperawatan
6; Menyusun rencana tindakan keperawatan pre anestesi
7; Melaksanakan tindakan perawatan mandiri maupun kolaborasi pre anestesi
KOMPETENSI 1.2. (Kompetensi Umum)
1; Membuat atau berpartisipasi untuk menerapkan rencana anestesi
2; Melakukan atau berpartisipasi dalam pelaksanaan teknik anestesi lokal,

regional dan general


3; Memasangkan atau berpartisipasi memasang alat-alat monitoring invasif
maupun non-invasif guna mengetahui data fisiologis dari penderita.
4; Memberikan atau berpartisipasi untuk memberikan obat anestesi atau obat
tambahan dan cairan yang diperlukan untuk penatalaksanaan anestesi,
untuk memelihara keseimbangan fisiologis dan mengoreksi gangguan
yang mungkin timbul akibat anestesi atau pembedahan

KOMPETENSI 1.3. (Kompetensi Umum)


1 Melepas atau memindahkan penderita dari ruang pulih dan melakukan
evaluasi dan tindak lanjut pasca anestesi guna mencegah dan mengatasi
efek samping atau komplikasi.
2 Memberikan atau berpartisipasi dalam pengobatan untuk mengatasi rasa
sakit dengan cara memberikan obat-obatan, atau cara lain yang dapat
digunakan untuk mengatasi rasa sakit.
3 Merespon terhadap keadaan gawat darurat dengan melakukan manajemen
jalan nafas, memberikan obat emergensi dan cairan atau melakukan teknik
resusitasi basic support atau advanced cardiac life support.
4 Menyiapkan dan menerapkan rencana perawatan anestesi yang tepat.

5 Partisipasi dalam pendidikan kepada pasien dan anggota masyarakat

lainnya
KOMPETENSI 1.3. (Kompetensi Khusus)
1; Menentukan kebutuhan perawatan lanjutan pasca anestesi regional
2; Menentukan kebutuhan perawatan lanjutan pasca anestesi umum
3; Melakukan tindakan kolaborasi dalam manajemen nyeri dengan obatobatan
4; Melakukan tindakan kolaborasi dalam manajemen nyeri dengan anestesi
regional
5; Melakukan tindakan kolaborasi maupun mandiri dalam mengatasi
kondisi gawat darurat di meja operasi
6;
7;
8;
9;
10;

11;
12;
13;
14;

Melakukan tindakan kolaborasi maupun mandiri dalam mengatasi


kondisi gawat darurat di ruang perawatan di rumah sakit
Melakukan tindakan kolaborasi maupun mandiri dalam mengatasi
kondisi gawat darurat di ruang perawatan di masyarakat
Melakukan perawatan pasca anestesi pada klien dengan tindakan anestesi
regional
Melakukan perawatan pasca anestesi pada klien dengan tindakan anestesi
umum
Mengidentifikasi kebutuhan posisi fisiologi normal selama tindakan
pembedahan untuk mencegah komplikasi gangguan akibat posisi yang
salah
Mempertahankan posisi klien selama dilakukan anestesi dan pembedahan
dengan memperhatikan fungsi respirasi dan neurovaskuler
Mengidentifikasi tingkat pengetahuan klien dan keluarga
Mempersiapkan klien dan keluarga dalam pelaksanaan pendidikan
kesehatan
Pelaksanaan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga

KOMPETENSI 2 : SEBAGAI PENGELOLA


KOMPETENSI 2.1.
1 Menciptakan komunikasi yang efektif dengan tim perawatan dan petugas
lainnya dalam kelompok kerjanya.

2 Memprakarsai perubahan-perubahan di lingkungannya secara efektif

dalam kaitannya sebagai pembaharu sesuai dengan lingkup tugas dan


tanggungjawabnya sebagai perawat mahir anestesi reanimasi.
3 Menggunakan
strategi pendidikan kesehatan dan kemahiran
berkomunikasi keperawatan yang efektif untuk mempengaruhi individu
dan kelompok untuk mencapai tujuannya.
4 Menerapkan ketrampilan manajemen keperawatan dan manajemen konflik
dalam kegiatan yang dilaksanakan sebagai pengelola bidang keperawatan
anestesi reanimasi

KOMPETENSI 2.2.
1; Berperan serta dalam pelayanan kesehatan individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat sebagai anggota tim kesehatan dalam konteks keperawatan
anestesi reanimasi.
2; Menciptakan komunikasi yang efektif, baik dalam tim keperawatan
maupun dengan anggota tim kesehatan lain dalam konteks anestesi
reanimasi.
3; Menyesuaikan diri dengan keadaan konflik peran dan kesulitan lingkungan
untuk memberikan pelayanan kesehatan secara efektif dalam konteks
anestesi reanimas
KOMPETENSI 2.3.
1; Menciptakan komunikasi yang efektif dengan sejawat dan petugas lainnya
dalam penanganan anestesi reanimasi.
2; Memprakarsai perubahan di lingkungannya secara efektif dalam kaitan
dengan peranannya sebagai pembaharu, sesuai lingkup dan
tanggungjawabnya sebagai perawat mahir anestesi reanimasi.
3; Menggunakan strategi yang tepat untuk mempengaruhi individu dan
kelompok dalam menetapkan dan mencapai tujuan dalam konteks
keperawatan anestesi reanimasi.
4; Menerapkan ketrampilan manajemen dalam merawat klien anestesi
reanimasi secara menyeluruh
KOMPETENSI 2.4.

1; Merumuskan atau menyusun alat ukur sesuai dengan keberhasilan upaya

layanan asuhan keperawatan anestesi reanimasi.


2; Melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan sesuai dengan keberhasilan
asuhan keperawatan anestesi reanimasi.
3; Mengidentifikasi dan memodifikasi perubahan yang perlu diadakan sesuai
dengan hasil analisis masalah keperawatan yang dihadapi
KOMPETENSI 3 : SEBAGAI PENDIDIK
KOMPETENSI 3.1.
1; Mengidentifikasi dan mengumpulkan data tentang pengetahuan, sikap dan
perilaku masyarakat dalam ilmu keperawatan anestesi reanimasi.
2; Menentukan tujuan pendidikan dan latihan keperawatan serta tujuan
komunikasi terapeutik keperawatan pada klien dalam konteks keperawatan
anestesi reanimasi.
3; Menentukan materi pendidikan keperawatan pada klien maupun dalam
pendidikan dan pelatihan pada institusi dan mahasiswa keperawatan.
4; Menentukan metode dan teknik proses belajar keperawatan yang sesuai
baik pada institusi maupun pada klien dalam konteks keperawatan anestesi
reanimasi
KOMPETENSI 3.2
1; Merencanakan pendidikan dan pelatihan dengan metode dan teknik
komunikasi yang tepat, efektif dan memadai baik ditujukan pada klien
maupun institusi dan mahasiswa keperawatan.
2; Melaksanakan pendidikan dan pelatihan dengan metode dan teknik
komunikasi yang tepat, efektif dan memadai baik ditujukan pada tingkat
individu, kelompok maupun institusi dan mahasiswa keperawatan.
3; Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di
bidang keperawatan anestesi reanimasi baik kepada tingkat individu,
kelompok maupun institusi dan mahasiswa keperawatan
KOMPETENSI 4 : SEBAGAI PENELITI
KOMPETENSI 4.1.

1; Mengidentifikasi data yang berkaitan dengan permasalahan kesehatan atau


2;
3;
4;
5;
6;

keperawatan.
Merencanakan kegiatan pengumpulan data kesehatan atau keperawatan.
Melaksanakan pengumpulan data kesehatan atau keperawatan.
Menganalisis data dan menyusun kesimpulan tentang kesehatan atau
keperawatan
Menginterpretasikan hasil penelitian khususnya dalam konteks
keperawatan anestesi reanimasi.
Mempublikasikan hasil penelitian khususnya dalam konteks keperawatan
anestesi reanimasi

KOMPETENSI 4.2.
1; Membuat usulan kegiatan pelaksanaan penelitian sesuai dengan masalah

yang dihadapi pada area keperawatan.


2; Melaksanakan kegiatan penelitian sederhana dalam bidang kesehatan atau
keperawatan.
3; Menerapkan dengan tepat hasil-hasil penelitian yang terkait dengan bidang
tugasnya dalam lingkup keperawatan anestesi reanimasi
F;

Kompetensi Perawat Anestesi Internasional


Domain 1: Assessmen Preansestesi
Kompetensi:
1; Dapat melakukan asesmen anamnase preansestesi dengan memunculkan
riwayat kesehatan yang komprehensif dan dapat melakukan pemeriksaan
fisik berdasarkan keluhan dan tanda gejala pasien
2; Dapat melakukan asesmen dan mengevaluasi multipel variabel berupa
obat yang telah atau sedang dikonsumsi, riwayat penyakit, alergi, riwayat
anestesi sebelumya yang mungkin dapat berpengaruh terhadap prosedur
anestesi, dan mengidentifikasi potensial resiko demi keselamatan pasien
3; Memformulasikan perawatan pembiusan berdasarkan pengetahuan,
konsep, bukti ilmiah dan prinsip keperawatan
4; Dapat memberikan informasi yang akurat dan dapat dimengerti kepada
pasien dalam bentuk informed consent
Domain 2: Manajemen Anestesi

Kompetensi :
1; Selalu berada di ruangan selama prosedur anestesi
2; Mengadministrasikan dan/atau berpartisipasi dalam proses baik general

maupun regional anestesi pada pasien baik pada prosedur operasi maupun
tindakan medis yng terkait, prosedur operasi, menunjukkan
3; Menyiapkan,mengatur dan menggunakan bilaperlu anestesi medikasi
sesuai dengan riwyat penyakit, mendemonstrasikan pengetahuan tingkat
lanjut mengenai tubuh manusia, farmakologi, prosedur opersi, dan
prosedur anestesi.
4; Memberikan support psikologi untuk membantu pasien melewati proses
operasi sesuai kebutuhan pasien.
5; Menggunakan berbagai teknik dengan cakupan yang luas, agen anestesi,
obat tembahan, obat asesoris dan peralatan ketika memberikan anestesic
care dan kontol nyeri
Domain 3: Manjemen resiko
Kompetensi:
1; Menggunakan sefety precaution yang sesuai termasuk didalamnya

prisnsipdokumentasi demi keamanan perawatan dan administrasi anestesi


2; Menyiapkan perencanaan anestesi, peralatan dan obat obatan sesuai SOP
3; Mengetahui dan mengambil tindakan yang tepat selama prosedur
manjemen anestesi, dengan secara cepat menilai kondisi psien dan
memprioritaskan tindakan berdasarkan riwayat dan data yang ada, selalu
mendemonstrsikan pengetahuan dan pengalaman selama bekerja, Perawat
dapat mendemonstrasikan kepercayaan diri sesuai dengan pengetahuanya
untuk mengidentifikasi kondisi normal dan abnormal dalam proses
pembiusan
4; Ikut andil dalam pengembangan pedoman , SOP dan ceklist dalam
penggunaan obat
Domain 4 :Monitoring
Kompetensi:

1; Memonitor, menganalisis, dan menggunakan data yanf didapat dari

tindakan monitoring invasif dan noninfasive menggunakan cara befikir


kritis dan penilaian klinis, secara cepat mengidentifikasi prioritas
berdasarkan konteks yang spesik dan secara akurat mengidentifikasi
parameter demi keamanan pasien untuk memastikan keputusan yang
dibaut sesai dengan konteks yang tepat. Dapat berespon terhadap situasi
yang selalu berubah tidak terduga, dan mengembangkan pendekatan
kteatif yang fleksibel untuk mengahdapi sutuasi klinis yang menantang.
Domain 5: Bantuan hidup lanjut
Kompetensi:
1; Mengambil tindakan korektif untuk mempertahankan atau menstabilkan

kondisi pasien dan memberikan bantuan hidup lanjut


2; Menilai dan memberikan dukungan kehidupan canggih yang memadai .
Menggunakan keterampilan komunikasi canggih untuk menginformasikan
tim interdisipliner , mengatur dan berkolaborasi dengan ahli yang sesuai
dalam memberikan bantuan hidup lanjut
2;

Memberikan pendidikan reguler di bidang bantuan hidup dasar

dan

prosedur resusitasi lanjutan untuk


3;

Tenaga kesehatan professional sesuai kebutuhan.

4;

Mematuhi pedoman internasional terbaru dan menerima tanggung jawab


sesuai dengan kemampuan dalam memberikan bantuan hidup lanjut

Domain 6: Peralatan
Kompetensi:
1. Memilih,mempersiapkan, menggunakan dan membersihkan peralatan yang
sesuai dalam situasi rutin dan situasi kritis
Domain 7:Terminasi anestesi
Kompetensi:
1; Menilai, menganalisis, dan mengevaluasi kecukupan kondisi pasien

sebelum mentransfer. Mengevaluasi respon pasien untuk kesiapan pindah

ke tingkat berikutnya dengan cara mengidentifikasi situasi pasien , dan


mengambil tindakan yang tepat dan segera dalam periode pasca operasi
2; Melaporkan semua data penting mengenai periode perioperatif
komprehensif secara utuh kepada penanggung jawab tingkat perawatan
berikutnya.
Domain 8:Perawatan pasca operasi dan manajemen nyeri
Kompetnsi:
1; Melayani sebagai narasumber dalam manajemen nyeri dan perawatan

pasca operasi yang memadai


2; pengetahuan dalam farmakologi dan farmakokinetik analgesik obat dalam
menilai dan memberikan manajemen nyeri
3; Menilai dan mengelola komplikasi pasca operasi umum seperti
pernapasan, hemodinamik , disfungsi neurologis , dan mual dan muntah
pasca operasi
4; Mengembangkan atau berpartisipasi dalam mengembangkan dan merevisi
prosedur operasi standar untuk semua personil meliputi perawatan pasca
operasi.
Domain 9: Kontrol infeksi
Kompetensi:
1; Menerapkan

praktik seperti kebersihan tangan yang benar dan


pembersihan atau sterilisasi peralatan
2; Mempertahankan pengetahuan dan mematuhi standar nasional dan / atau
kelembagaan kontrol infeksi untuk melindungi pasien dan kesehatan
pekerja dari penyakit menular .
3; Beradaptasi atau berpartisipasi dalam adaptasi dan revisi standar
pengendalian infeksi untuk semua prosedur anestesi , dan mematuhi
standar nasional untuk menyimpan , menangani , resep , dan memberikan
obat-obatan .

Domain 9: Dokumentasi
Kompetensi:

1; Memberikan infomasi yang cepat , lengkap , dan akurat mengenai

informasi yang relevan dan tindakan perawatan pada catatan pasien .


2; Memfasilitasi , melalui rekaman akurat , perawatan pasien yang
komprehensif. Menyediakan informasi untuk retrospektif dan data
penelitian , dan membuat catatan medis hukum

Domain 10: Komunikator


Kompetensi:
1; Berkomunikasi dalam pendekatan yang tenang, percaya diri, dan efektif

membawa kenyamanan dan dukungan emosional kepada pasien dan


keluargapasien, dan menciptakan suasana yang mendukung saling
keterlibatan dan menetapkan kemitraan dengan pasien.
2; Terlibat dalam komunikasi interpersonal dan interprofessional efektif
menggunakan maju keterampilan komunikasi yang cocok untuk domain
interdisipliner tempat kerja.
3; Menciptakan kesadaran fungsi spesifik dan tumpang tindih dan potensi
ketegangan interdisipliner dan menunjukkan strategi manajemen konflik,
jika perlu.
4; keterampilan intervensi krisis layar ketika diperlukan dan memastikan
pemahaman pasien, hormat, empati, dan kepercayaan dengan
mempertahankan kerahasiaan dan kebijaksanaan
Domain 11: Kolaborasi
Kompetensi
1; Berkolaborasi dengan orang lain untuk mengidentifikasi solusi inovatif

untuk masalah klinis dan sistem. Memajukan standar perawatan pasien


melalui kemitraan dengan tim kesehatan interdisipliner anggota dalam
kegiatan penelitian dan pendidikan.
2; Menerapkan teknologi baru yang meningkatkan perawatan pasien dan
mempromosikan tujuan keselamatan pasien.
3; Menetapkan efektif, hubungan kolegial dengan profesional kesehatan
lainnya yang mencerminkan kepercayaan kontribusi perawat ahli anestesi
membuat ke sistem.

4; Mendorong hubungan kerjasama antara perawat ahli anestesi, anestesi

dokter, dan anggota lain dari profesi medis, profesi keperawatan, rumah
sakit, dan lembaga yang mewakili komunitas yang menarik di perawat
anestesi.
5; Menghormati peran dan kompetensi anggota tim lain dan menunjukkan
pengambilan keputusan bersama keterampilan untuk mencapai hasil
terbaik pasien mungkin.
6; Memberikan umpan balik dan konstruktif membahas kekuatan tim dan
kelemahan, mendengarkan orang lain, dan memastikan arus informasi
yang konsisten untuk pasien dan rekan.
7; Menunjukkan solusi efektif untuk masalah yang menyangkut masalah tim.

Domain 12: Pengelola


Kompetensi
1; Mengantisipasi dan membuat keputusan di muka untuk tantangan dengan

mengalokasikan waktu yang tepat frame, pengorganisasian staf yang tepat,


dan menyiapkan peralatan dan bahan.
2; Menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien dengan
merancang atau berpartisipasi dalam merancang strategi berbasis bukti
untuk memenuhi kebutuhan beragam pasien.
3; Pertimbangkan implikasi fiskal dan anggaran dalam pengambilan
keputusan mengenai praktek dan sistem modifikasi
4; Mengatur dan merencanakan untuk penanganan ekologi yang benar dari
limbah seperti gas, obat-obatan, benda tajam, dan bahan menular.
5; Mengevaluasi dan mengoptimalkan penggunaan dan dampak produk, jasa,
dan teknologi di kualitas tinggi perawatan pasien.
6; Mengukur atau berpartisipasi dalam mengukur kepuasan pasien, biaya,
hasil klinis, perawat kepuasan, dan retensi dengan menerapkan metode
jaminan kualitas dan perbaikan.
7; Foster pendekatan interdisipliner untuk peningkatan kualitas, praktik
berbasis bukti, penelitian, dan transisi dari penelitian ke dalam praktek
Domain 13: Health advocate
Kompetensi

1; Mempertimbangkan dan mengevaluasi berbagai pengaruh pada status

kesehatan pasien. mendeteksi kesehatan terkait dan faktor risiko anestesi


melalui penilaian anestesi, dan mempromosikan kesehatan individu
dengan mengatasi perubahan perilaku.
2; Berpartisipasi dalam pendidikan pasien, anggota lain dari tim kesehatan
dan anggota masyarakat sebelum, selama, dan setelah masa operasi.
3; Desain atau informasi kesehatan pilih dan tepat pendidikan pasien untuk
perkembangan tingkat, kesehatan, tingkat melek huruf, kebutuhan
belajar, kesiapan untuk belajar, gaya belajar yang disukai, dan nilai-nilai
dan keyakinan budaya.
4; Memfasilitasi pasien dan pemahaman keluarga tentang risiko, manfaat,
dan hasil diusulkan rejimen anestesi untuk mempromosikan informasi
pengambilan keputusan.
5; Mendukung dan melindungi hak-hak pasien untuk privasi dengan
melindungi informasi dari Sifat rahasia dari mereka yang tidak
memerlukan informasi tersebut untuk perawatan pasien. Mendukung
hak-hak pasien untuk kemerdekaan berekspresi, keputusan, dan tindakan.
Domain 14: Scholar
Kompetensi
1; Berkomitmen untuk pengembangan profesional berkelanjutan.
2; Menerima tanggung jawab dan akuntabilitas untuk praktek dan terlibat
dalam profesional seumur hidup kegiatan pendidikan.
3; Terlibat dalam proses evaluasi diri formal, mencari umpan balik
mengenai mereka sendiri berlatih dari pasien, rekan-rekan, rekan-rekan
profesional, dan lain-lain. mengembangkan dan menerapkan strategi
untuk belajar sepanjang hayat.
4; Apakah menyadari dan mengatasi kebutuhan individu untuk penyelidikan
klinis melalui terus menerus kegiatan pengembangan profesional.
5; Menunjukkan pengetahuan dan kepatuhan terhadap peraturan hukum
nasional, menerima tanggung jawab masing-masing dan akuntabilitas
perawat anestesi dan lain-lain.
6; Menggabungkan teknik berbasis bukti dan pengetahuan, serta
internasional pedoman dan standar kinerja klinis.

7; Melindungi hak-hak pasien atau hewan yang terlibat dalam proyek-

proyek penelitian dan melakukan proyek menurut penelitian dan


pelaporan etika standar.
8; Memfasilitasi dan mengajar berdasarkan standar nasional dan
internasional pendidikan dan praktek.
9; Berkontribusi pengalaman untuk semua profesional dan mahasiswa
belajar dalam bidang mereka pengaruh, dan berinteraksi dengan rekanrekannya di lokal, nasional, pemerintah, dan tingkat regulasi untuk
meningkatkan praktek profesional.
10; Membantu profesional kesehatan dalam mengidentifikasi kebutuhan
pendidikan mereka terkait dengan anestesi dan kebutuhan perawatan
akut.
11; Memberikan rekan-rekan, kolega, mahasiswa, dan staf dengan umpan

balik yang konstruktif mengenai berlatih dengan tujuan memfasilitasi


hasil yang lebih baik dan pengembangan profesional.
Domain 15: Ahli
Kompetensi
1; Memberikan perawatan yang aman dan berpusat pada pasien berdasarkan
bukti yang tersedia. Perawat anestesi mengakui tanggung jawab praktek
profesional dan mempertahankan tinggi tingkat kualitas pengetahuan,
penilaian, keterampilan teknologi, dan nilai-nilai profesional prasyarat
untuk memberikan perawatan pasien berpusat.
2; Terima tanggung jawab dan benar mendelegasikan tanggung jawab
kepada anggota tim lain atau profesional kesehatan.
3; Menunjukkan aktivitas penilaian diri.
4; Mengidentifikasi peluang untuk menghasilkan dan menggunakan
penelitian dan / atau terus menerus profesional kegiatan pembangunan.
5; Menunjukkan kepemimpinan dengan hasil menyebarluaskan praktik
anestesi perawat melalui presentasi dan publikasi dan partisipasi dalam
perawat lokal dan nasional organisasi anestesi. Mempromosikan dan
memfasilitasi kesadaran publik dan masalah kebijakan profesional yang
mempengaruhi praktek anestesi perawat. Sajikan sebagai panutan untuk
praktek perawat anestesi dan mendorong dan staf pendukung di
profesional medali.

6; Gunakan kualitas, kepuasan, dan data biaya untuk memodifikasi

perawatan pasien, praktek anestesi perawat, dan sistem. Menerima


akuntabilitas untuk kesalahan sendiri. Mengidentifikasi dan menangani
insiden kritis dengan memasukkan mereka ke dalam sistem pelaporan
insiden kritis.
7; Mempertahankan identitasnya di perawat anestesi, sebagaimana
diamanatkan oleh undang-undang nasional atau peraturan.
8; Menghormati kerahasiaan informasi tentang pasien belajar dalam
hubungan klinis, menunjukkan rasa hormat secara keseluruhan, dan
mempertahankan hak-hak dasar pasien, menunjukkan perhatian martabat
pribadi dan hubungan manusia.
9; Apakah menyadari perbedaan individu, etnis, budaya, dan agama, dan
memberikan perawatan yang tepat untuk memberikan yang terbaik hasil
pasien mungkin.

STANDAR PENGAWASAN
Domain 1: Kompetensi Pemantauan
1; Bekerja sama dalam seleksi dan evaluasi peralatan anestesi dan bahan-

bahan untuk memastikan pengiriman yang aman dari anestesi dan


pemantauan terus menerus dari fungsi vital. Semua peralatan termasuk
peralatan hisap diperiksa sesuai dengan standar operasional prosedur dan
pemeriksaan didokumentasikan sebelum setiap anestesi.
2; Siapkan peralatan yang sesuai dan lengkap, bahan, dan fasilitas, yang
memadai baik kuantitas dan kualitas, di mana pun jenis anestesi atau
sedasi dan pemulihan dari itu dilakukan. Ini termasuk luar suite ruang
operasi rumah sakit tradisional seperti departemen pencitraan, fasilitas
rawat jalan, atau kantor.
3; Menerima tanggung jawab penuh untuk pelatihan in-service yang
memadai dan teratur dan verifikasi kemampuan individu untuk
menggunakan bagian tertentu peralatan atau bahan benar dan aman.
4; Pastikan bahwa tempat kerja mereka menyediakan cara sertifikasi formal
sebagai dokumentasi kegiatan pelatihan atau mengembangkan atau
bekerja sama dalam mengembangkan format dokumentasi tersebut.

5; Mengakui, menerapkan, dan mematuhi standar nasional dan internasional

yang relevan untuk peralatan, monitor, dan bahan.


6; Mengatur dan menyiapkan anestesi yang tepat, resusitasi, dan obat
adjuvant untuk setiap jenis prosedur anestesi.
7; Berkomitmen untuk pengamatan diandalkan terus menerus klinis,
penilaian, dan kewaspadaan, di selain penggunaan teknologi pemantauan,
karena peralatan tidak dapat mendeteksi klinis kerusakan secepat seperti
yang ditunjukkan oleh seorang profesional yang terampil. terutama
mereka perhatian adalah kewaspadaan konstan selama semua prosedur
anestesi.
8; Pastikan bahwa setiap pasien diselidiki, dinilai, anesthetically dievaluasi,
dan informasi tentang periode perioperatif oleh profesional anestesi
9;
10;
11;

12;
13;
14;

sebelum administrasi anestesi.


Siapkan semua peralatan yang diperlukan dan obat-obatan, dan
memeriksa fungsi yang benar sebelum induksi anestesi.
Patuhi daftar periksa yang tepat dari sistem anestesi, fasilitas, peralatan,
dan persediaan sebelum memulai setiap daftar operasi dan dokumen.
Menerima tanggung jawab untuk membangun atau mengambil bagian
dalam membangun daftar periksa peralatan di masing-masing lembaga
kesehatan yang menyediakan layanan anestesi. Checklist harus
berdasarkan bukti dan pedoman nasional dan / atau internasional yang
relevan asosiasi.
Mengidentifikasi peralatan dan kegagalan sistem dan menunjukkan
pemecahan masalah yang memadai keterampilan.
Terapkan dan mematuhi komponen yang relevan dari World Health
Organization Aman Bedah Checklist.
Menilai praktek interdisipliner untuk kolaborasi dan penggunaan bukti
berdasarkan terbaik pedoman praktek.

Domain 2: Perawatan Intraoperatif


Kompetensi
1; Buat catatan dari semua rincian dipantau dan diamati setiap anestesi dan

memastikan diawetkan dengan rekam medis pasien. catatan ini juga


mencakup semua rincian penilaian pra operasi dan pasca operasi saja.

2; Mengumpulkan dan / atau advokat untuk pengumpulan data anestesi

kumulatif untuk memfasilitasi peningkatan progresif dari keamanan,


efisiensi, efektivitas, dan kesesuaian perawatan anestesi.
3; Memantau, menilai, mengevaluasi, dan beradaptasi kecukupan saluran
napas dan ventilasi terus menerus setidaknya dengan observasi dan
auskultasi dada. Ketika bernapas sirkuit yang digunakan, kantong waduk
harus diamati untuk fungsi normal dan memadai langkah-langkah yang
diambil jika fungsi dinilai abnormal.
4; Menerima tanggung jawab untuk ventilasi yang cukup dengan memantau
pada volume pernapasan setidaknya, kapnografi dan alarm untuk
konsentrasi oksigen inspirasi yang rendah. penilaian klinis mungkin juga
termasuk penilaian berkelanjutan dengan stetoskop prekordial atau
5;

6;

7;
8;
9;
10;

11;

12;

esofagus.
Konfirmasi benar penempatan tabung endotrakeal atau perangkat saluran
napas lainnya, menilai kecukupan ventilasi dengan terus menerus tampilan
kapnografi pengukuran, dan mempertahankan interpretasi yang
berkesinambungan dari karbon dioksida kadaluarsa.
Mengatur "alarm putuskan" selama periode ventilasi mekanis ketika
ventilasi mekanis digunakan. Jika memungkinkan, inspirasi dan / atau gas
ekspirasi volume dan konsentrasi agen volatil diukur terus menerus.
Memantau dan menilai kecukupan oksigenasi jaringan terus-menerus oleh
oksimetri pulsa.
Amati warna kulit, warna darah di bidang bedah, dan gas darah arteri dan
menganalisis seperti ditunjukkan
Pastikan pencahayaan dan eksposur pasien setiap kali layak memadai.
Memeriksa dan memverifikasi integritas dari suplai oksigen. konsentrasi
oksigen terinspirasi terus dipantau sepanjang masing-masing anestesi
dengan instrumen dilengkapi dengan rendah oksigen alarm konsentrasi.
Pastikan bahwa kegagalan alarm pasokan oksigen dan perangkat
melindungi terhadap pengiriman campuran gas hipoksia berada di tempat
dan berfungsi dengan baik. sistem dengan interlock (tangki belenggu,
koneksi selang, dll) harus digunakan untuk mencegah salah sumber gas.
Pemantau dan menilai sirkulasi dengan setidaknya 3 dari langkah-langkah
berikut: warna kulit, pengisian kapiler, palpasi denyut nadi, auskultasi

13;
14;

15;
16;

17;
18;
19;
20;

21;
22;
23;
24;
25;

26;

suara jantung, tekanan darah, denyut nadi oksimetri, dan monitoring


tekanan intra-arteri terus menerus, jika diindikasikan.
Ukur, menilai, dan mencatat tekanan darah dan detak jantung setidaknya
setiap 5 menit dan terus memantau elektrokardiogram selama anestesi.
Monitor, menilai, dan menafsirkan tingkat jantung dan irama, gelombang
pulsa dengan pulsa oksimeter, dan gelombang capnographic terus
menerus. Beradaptasi dan mengontrol jalannya anestesi sesuai.
Pastikan bahwa defibrillator tersedia setiap saat.
Terapkan sarana yang memadai dari pengukuran suhu tubuh selama setiap
umum dan anestesi regional, pada anak-anak, dan ketika ditunjukkan pada
semua pasien lainnya.
Monitor pada pasien yang perubahan diantisipasi, dimaksudkan, atau
dicurigai terus menerus. pengukuran elektronik dianjurkan.
Periksa, memelihara, dan benar menggunakan tubuh dan pemanasan cairan
perangkat.
Menilai dan menginterpretasikan perubahan suhu tubuh dan menyesuaikan
pemanasan atau pendinginan rejimen yang sesuai.
Kenali gejala dan tanda-tanda hipertermia ganas, dan segera memulai
prosedur yang benar dan pengobatan. Memastikan bahwa protokol darurat
yang relevan dan obat untuk pengobatan hipertermia ganas sudah tersedia,
dan semua yang terlibat personil mengetahui lokasi obat dan diperintahkan
dalam penerapan protokol pengobatan.
Ukur, menilai, dan skor fungsi neuromuskular oleh monitor neuromuscular
(jika tersedia) ketika neuromuscular blocking agen yang digunakan.
Menilai dan mengevaluasi fungsi neuromuskuler, juga dengan pegangan
tangan atau kepala berkelanjutan atau angkat kaki.
Menilai dan mengevaluasi kedalaman anestesi (derajat ketidaksadaran)
secara teratur oleh pengamatan klinis dan memodifikasinya, jika perlu.
Menerapkan pengukuran kontinyu konsentrasi terinspirasi dan kadaluarsa
obat bius gas dan agen volatil, jika tersedia.
Pertimbangkan penerapan perangkat elektronik dimaksudkan untuk
mengukur fungsi otak, terutama dalam kasus-kasus dengan risiko tinggi
kesadaran di bawah anestesi umum.
Hadir, menilai, dan mengevaluasi pasien secara klinis dan teknis sampai
perawatan dapat dipindahkan ke profesional kesehatan lain yang

memenuhi syarat. pengamatan klinis terus menerus dan kewaspadaan


adalah pilar keamanan anestesi.
27; Memantau dan menilai posisi pasien untuk memastikan fungsi fisiologis
optimal dan keselamatan pasien dengan menggunakan bahan-bahan yang
memadai, teknik posisi, dan pelindung langkah-langkah.
Domain 3: Perawatan post anestesi
1; Menilai, menganalisis , dan skor tingkat perawatan yang diperlukan ,
secara klinis dan teknologi , dan memastikan bahwa semua pasien yang
telah mendapat obat bius yang mempengaruhi fungsi neurologis dan / atau
hilangnya refleks pelindung tetap terbius hingga pulih atau diangkut
dengan aman ke lokasi khusus ditujukan untuk pemulihan postanesthesia.
2; Pastikan bahwa semua pasien yang diamati , dipantau, dan dinilai dengan

cara yang tepat dengan memastikan fungsi neurologis , tanda-tanda vital ,


dan kondisi medis dengan penekanan pada kecukupan oksigenasi ,
ventilasi , sirkulasi , dan suhu.
3; Berusaha agar semua pasien menerima obat yang sesuai dan modalitas
untuk mencegah dan mengurangi rasa sakit pasca operasi
4; Memantau, mengevaluasi , dan mengelola rasa sakit tanpa penundaan
setiap mereka bertemu pasien , dan mengantisipasi kebutuhan mereka
untuk manajemen nyeri setelah operasi dan discharge , serta kebutuhan
transportasi mobilisasi

BAB III
PENUTUP

A; Kesimpulan

Perawat anestesi adalah perawat yang telah diberi pendidikan formal


secara teoritis dan praktek dalam bidang anestesi dan berkompetensi untuk
melakukan pelayanan dalam pelayanan anestesi. Perawat Anestesi sendiri
memiliki wadah organisasi untuk Indonesia bernama IPAI (Ikatan Perawt
Anestesi Indonesia) dan untuk Internasional bernama IFNA (International
Federation of Nurse Anesthetists). Organisasi IPAI sendiri memiliki visi,
misi serta tujuan yang diharapkan dapat menjadikan organisasi IPAI itu
sendiri mampu menjadi organisasi yang terarah dan mampu meningkatkan
pelayanan pada masyarakat khususnya dalam bidang keperawatan anestesi
dan bidang kesehatan pada umumnya. Sebagai suatu profesi perawat
anestesi memiliki ruang lingkup kerjanya tersendiri yang meliputi
perewatan pra anestesi, selama anestesi, pasca anestesi, Perawatan gawat
darurat, perawatan intensif, semua pelayanan yang memerlukan perawatan
anestesi. Selain itu sebagai perawat anestesi juga harus memiliki
kompetensi dimana kompetensi tersebut berbeda dengan kompetensi
perawat umum, kompetensi perawat anestesi berdeda dalam setiap tahap
tindakan anestesi. Dimana kompetensi tersebut tidak hanya kompetensi
secara nasional namun juga ada kompetensi secara internasional jika
seorang perawat akan bekerja diluar negeri.